Shuu ni Ichido Kurasumeito wo Kau Hanashi V7 Chap 8

N-Chan
0

Chapter 8

Kenangan Baru Bersama Sendai


Di depan mataku ada kue bulat dengan lilin yang sudah ditancapkan di atasnya.

 

Kalau aku gali ingatan lama, ada pemandangan yang mirip.

 

Di ulang tahun masa kecil, ayah sedang kerja jadi nggak ada di rumah, tapi masih ada foto yang ibu ambil waktu itu.

 

Lilin sesuai umurku, dan aku yang tersenyum ceria.

 

Foto itu tersimpan rapi di album yang sudah lama nggak pernah kubuka, tapi potongan kenangan itu—ulang tahun dan kue bulat—langsung ngeklik di kepalaku dan ingatan pun mengalir keluar.


Ibu yang menyanyikan lagu ulang tahun.

 

Ucapan selamat.

 

Kenangan manis itu muncul sebentar lalu menghilang, digantikan bayangan aku yang makan kue bulat sendirian—hal yang seharusnya kubiarkan tenggelam di dasar ingatan.

 

Aku buang napas, lalu mengangkat pandangan sebelum tenggelam lebih jauh.

 

Yang kulihat adalah kue putih dengan stroberi di atasnya, dihiasi lima lilin, dan di depannya berdiri Sendai-san.

 

Ini kamarnya dia. Dan kali ini aku nggak sendirian.

 

Tanganku menyentuh pipi sendiri, lalu ke sudut bibir.


Aku sekarang lagi pasang wajah kayak gimana, ya?


Nggak senyum, tapi juga nggak masam.

 

Sendai-san, bahkan waktu kami makan masakan yang tadi dibuat bareng atau waktu dia bawa masuk kue ini, nggak pernah nyuruh aku buat kelihatan senang.

 

Jadi mungkin, mungkin saja, aku nggak kelihatan seburuk itu sekarang.

 

"Kayaknya aku harusnya beli lilin angka aja, ya."


Suara Sendai-san terdengar serius, walau wajahnya kelihatan ceria.

 

"Nggak usah, ini aja cukup."

 

"Beneran? Nggak pengen ada angka 19 di tengah-tengahnya gitu"

 

"Nggak perlu."

 

Lima batang lilin biasa udah cukup. Nggak ada alasan buat repot-repot beli lilin angka.

 

"Oke deh. Kalau gitu, aku nyalain ya."

 

Sendai-san menyalakan satu per satu lilin.

 

Sampai kelimanya menyala, api kecil itu bergoyang pelan.

 

Aku memang sengaja nggak bikin rencana lain di ulang tahun kali ini karena udah janji sama dia, tapi sampai tadi pun aku masih nggak bisa percaya penuh kalau kami benar-benar bakal makan kue bulat bareng.

 

Bahkan waktu dia bilang mau ambil kue pesanan, aku sempat mikir jangan-jangan dia nggak balik.

 

Dan sekarang, kuenya ada di depan mata. Lilinnya juga udah menyala.

 

"Aku matiin lampu, ya."

 

Dia bersuara riang, tapi aku buru-buru menahan tangan Sendai-san yang mau meraih remote.

 

"Nggak usah."

 

"Kenapa? Aku sekalian nyanyi lagu ulang tahun juga lho."

 

"Nggak perlu nyanyi, lampu juga biarin aja."

 

"Padahal aku mau pamerin suara merduku, lho."

 

"Udah deh, langsung aku tiup aja sekarang."

 

Terlalu heboh. Aku juga udah bukan anak kecil yang bakal seneng disanyiin lagu ulang tahun.

 

Lagi pula, makin dia coba bikin suasana ulang tahun jadi “lengkap”, makin gampang kenangan lama muncul lagi.

 

"Silakan."

 

Sendai-san akhirnya berkata pelan.

 

Aku menarik napas dalam, lalu meniup lilin—seakan ingin meniup pergi kenangan lama.

 

Api di lima lilin padam, bau lilin terbakar menusuk ke hidung.


Aku bukan mau nangis, tapi pandangan terasa agak kabur. Jadi aku pejamkan mata rapat-rapat sebentar lalu buka lagi.


Sekilas sempat terpikir, “Kalau halaman album lamaku bisa kutambahin foto Sendai-san, jadi ada ulang tahun baru dengan memori baru, gimana ya…”

 

"Selamat ulang tahun."

 

"Makasih."

 

Aku jawab pelan, lalu Sendai-san membereskan lilin-lilin dari atas kue.

 

"Miyagi, kamu mau kuenya dipotong berapa bagian"

 

"Terserah kamu aja."

 

"Kita kan bakal habisin semuanya, jadi kalau dibelah dua sih bisa aja, tapi kayaknya terlalu barbar, ya."

 

Sambil bergumam “hmmm”, dia mikir mau potong jadi empat atau enam bagian.

 

Lalu sambil terus bergumam, dia bilang mau ambil pisau dan keluar kamar.




Aku mengusap mata, lalu menatap tempat sumpit berbentuk kucing yang ada di sudut meja.

 

Tiga ekor kucing kecil itu selalu berpindah-pindah setiap kali aku datang ke kamar ini, tapi belakangan mereka seperti sudah menemukan tempat tinggal tetap di atas meja.

 

Seperti si kucing belang tiga dan kucing hitam yang sudah terbiasa menemaniku makan di ruang bersama, tiga kucing kecil ini juga kelihatan makin cocok berada di kamar Sendai-san. Rasanya seperti bukti kalau hadiah yang kuberikan benar-benar dia suka—dan itu bikin aku lega.

 

Aku menyentuh kepala si kucing belang dengan ujung jariku.

 

Nggak lembut seperti boneka kucing hitam di rak bukuku, tapi keras

dan licin.

 

Aku lalu menyusun tiga kucing itu, membaringkannya, membaliknya.


Pas lagi main-main begitu, Sendai-san kembali, dan aku buru-buru menaruh tempat sumpit itu ke posisi semula.

 

"Kalau pisaunya dihangatin dulu, katanya bisa motong lebih rapi. Jadi aku hangatin tadi."

 

Dia duduk di hadapanku dengan wajah serius, menatap kue.

 

"Tadi di kotaknya juga ditulis, kuenya sebaiknya tetap dingin. Tapi ini udah agak lama dikeluarin, ya. Hmm… bisa rapi nggak ya motongnya."

 

Sendai-san mengambil pelat cokelat bertuliskan Selamat Ulang Tahun dari atas kue, lalu meletakkannya di piringku.

 

"Itu punyamu, Miyagi."

 

Dia bilang begitu, lalu tanpa ragu menusukkan pisau ke tengah kue.

 

"Eh, dari tengah gitu"

 

"Iya, di petunjuknya gitu."

 

Tanpa mengalihkan pandangan dari kue, dia menarik pisau dari tengah ke arah luar. Diulang empat kali, jadilah kue terbagi rata jadi empat bagian, masing-masing dua potong di atas piring.

 

"Ya, masih masuk akal lah."

 

Dia tersenyum puas.

 

Potongannya memang nggak sebersih kue yang dijual di toko, tapi dibanding aku waktu kecil yang asal potong, ini jauh lebih rapi.

 

"Itadakimasu."

 

Kami mengucapkannya hampir bersamaan, lalu menusukkan garpu ke kue dan mencicipi suapan pertama.

 

Krim lembut dan sponge yang empuk langsung meleleh di mulut, bercampur dengan rasa asam segar stroberi. Seketika bikin pengin nyuap lagi.

 

"Enak"

 

"Enak." Aku menjawab singkat, lalu meneguk sedikit iced tea.

 

"Syukurlah."

 

Suara lembut itu bikin aku tanpa sadar menoleh padanya.


Mata kami bertemu.

 

"Apa"

 

Kutanya, karena jelas dia barusan menatapku.

 

Sendai-san tersenyum kecil.

 

"Miyagi kelihatan seneng."

 

"Sendai-san juga malah kelihatan lebih seneng."

 

"Ya iyalah. Ulang tahun itu memang harusnya menyenangkan."

 

Dia masih tersenyum sambil memakan stroberi di atas kue, lalu pelan-pelan menghabiskan potongannya.

 

Aku pun menyusul, sampai akhirnya yang tersisa hanya pelat cokelat ucapan ulang tahun, yang kubagi dua dan kugigit setengahnya.

 

"…Sendai-san, waktu ulang tahunmu kemarin, kamu beneran seneng"

 

"Aku udah bilang tadi pas pulang, kan? Berkat kamu, aku seneng kok."

 

"Beneran"

 

"Beneran."

 

"Temen-temenmu juga ngerayain"

 

"Iya. Tapi kamu juga sama, kan?"

 

Benar juga. Kemarin aku dapat hadiah dari Maika—katanya “selamat duluan”—, Ami nelpon, bahkan teman-teman kampus juga sempat ngucapin.

 

Tapi aku yakin, jumlah orang yang ngerayain Sendai-san pasti dua kali lipat lebih banyak.

 

"Iya sih, sama aja. Tapi… yang ngerayain itu teman kampusmu, ya"

 

"Iya. Sama teman SMA juga."

 

"Ibaraki-san"

 

"Iya."

 

"Kamu masih kontak sama dia"

 

"Sama Umina Iya. Dia bilang pengin ketemu pas musim dingin nanti."

 

Itu pertama kalinya aku dengar.

 

Selama ini dia nggak pernah cerita.

 

Ya, wajar sih, dia nggak wajib ngabarin siapa saja yang masih dia hubungi. Aku juga nggak punya hak buat ikut campur urusan pertemanannya.

 

Mereka memang temenan, jadi kalau Ibaraki-san bilang pengin ketemu, itu hal biasa. Tapi tetap saja rasanya kayak aku dijatuhin ke laut dari tebing.

 

"…Kamu kan nggak pulang, kan"


Aku bertanya sambil menghancurkan kue di piring dengan garpu.

 

"Nggak lah. Kalau hubungan putus cuma gara-gara nggak ketemu sekali, ya berarti segitu doang nilainya."

 

Dia menjawab enteng, tanpa ragu sedikit pun.

 

Aku sebenarnya nggak mau dia milih pulang hanya buat ketemu Ibaraki-san. Tapi mendengar nada setegas itu, aku malah jadi sedikit kasihan pada Ibaraki-san.

 

Dulu mereka kelihatan deket banget di sekolah. Tapi sejak Sendai-san sering datang ke rumahku, aku sadar kedekatan itu ternyata cuma “kelihatan”. Memang mereka teman, tapi kedalamannya beda.

 

Dulu dia sering bawa majalah favorit Ibaraki-san ke kamarku, tapi nggak pernah benar-benar baca serius. Sekarang pun, dia udah nggak beli majalah itu lagi.

 

"Sendai-san."

 

"Hm"

 

"Dulu waktu SMA, kamu suka beli majalah yang Ibaraki-san suka, kan? Kamu udah nggak beli lagi"

 

"Nggak. Udah nggak perlu."

 

Dia menjawab begitu saja, seolah itu hal yang sangat wajar.


Sendai-san benar-benar tipe orang yang bisa memotong dan memilah dunia kayak lagi pilah sampah. Yang perlu dia simpan, disimpan. Yang nggak, langsung dibuang. Bahkan mengubah bentuk pun dia nggak keberatan—kayak kue bulat yang langsung dipotong jadi segitiga.

 

Aku ingat, di akuarium dulu, dia juga tanpa ragu memotong pancake bergambar berang-berang. Atau waktu bikin kue kering, dia bisa dengan gampang meremas adonan berbentuk kucing jadi bulat lagi.

 

Dia selalu bisa menghancurkan bentuk lama kalau memang perlu.


Dan aku jadi takut—takut kapan giliranku yang dihancurkan. Takut suatu hari dia bakal meninggalkanku.

 

Aku menarik napas kecil, lalu memasukkan sepotong kue ke mulut.


Krim putih, sponge kuning, stroberi merah. Manis dan enak.


Di hari ulang tahunku yang cuma sekali setahun ini, nggak seharusnya aku mikirin hal-hal nggak penting. Jadi kubiarkan rasa manis kue itu menekan bayangan suram yang merayap ke hati.

 

"Kalau kamu pengin baca, aku bisa beli lagi majalah itu buatmu."


Dia berkata lembut.

 

"Nggak usah. Aku juga nggak bakal baca."

 

Aku menyuap kue lagi, perlahan menikmatinya sampai setengah kue bulat plus pelat cokelat masuk ke perutku. Pas aku menoleh, kue di piring Sendai-san juga sudah habis.

 

Janji kami terpenuhi: kue bulat itu nggak kembali ke kulkas.


Satu pun remah nggak tersisa. Semuanya habis masuk perut.

 

Meja yang penuh makanan hangat, plus kue ulang tahun utuh.


Ulang tahun kali ini, dengan semua yang dimakan sampai tandas, terasa jauh lebih membahagiakan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

 

Nggak apa-apa.

 

Yang dia potong cuma kue, bukan aku.

 

Yang hilang dari meja juga bukan aku.

 

Jadi… nggak apa-apa.

 

"Miyagi, ulang tahun tahun depan kamu pengin kue kayak apa"

 

"Apa aja boleh."

 

"Kalau gitu, ukuran sama kayak hari ini ya—kue bulat utuh."

 

Sendai-san tersenyum tipis.


Jujur aja, tahun depan terasa terlalu jauh untuk benar-benar percaya pada janji itu.


Tapi… aku tetap ingin percaya kalau akan ada tahun depan yang sama seperti tahun ini.

 

“Terus, ini kado buat kamu.”


Dengan suara ringan, Sendai-san berkata begitu lalu mengambil sebuah kantong kecil dari bawah tempat tidur dan menyodorkannya padaku.

 

“Makasih.”


Jarang-jarang, Sendai-san ngasih sesuatu tanpa ribet, kantong sederhana tanpa pita atau hiasan. Aku pun menerimanya.

 

“Buka sekarang.”


Aku menuruti ucapannya, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam kantong. Tapi begitu melihat isinya, aku benar-benar bengong dan refleks menatap Sendai-san lekat-lekat.

 

“Ini… apa-apaan?”


“Lihat aja, masa nggak tahu?”


“Aku tahu ini apa. Yang aku nggak ngerti itu… maksudnya apa.”

 

Yang ada di dalam kantong itu…


Sesuatu yang pernah aku lihat, sesuatu yang pernah kubeli lalu kuberikan ke Sendai-san.


Benda yang punya kenangan penting, yang mustahil kulupakan.

 

Tapi, itu bukan barang yang Sendai-san butuhkan.


Bahkan dulu dia terang-terangan bilang nggak mau.

 

“Ini, aku kasih telinga aku ke kamu.”


Dengan nada ringan, Sendai-san menaruh benda itu di atas meja.

 

Itu—persis sama dengan alat yang dulu kupakai buat melubangi telingaku.


Piercer.

 

Otakku langsung merangkai potongan-potongan itu.


Kado ulang tahunku dari Sendai-san… adalah hak untuk melubangi telinganya sendiri. Dengan alat itu, aku bisa pasang anting di telinganya.

 

Dulu, waktu SMA, itu hal yang aku inginkan mati-matian.


Dan sekarang, meski sudah kuliah, aku masih menginginkannya.


Dan sekarang… hak itu ada di depan mata.

 

Tanganku refleks menyentuh telinga sendiri.


Meraba anting yang kupakai, lalu kembali menatap Sendai-san.

 

Dia selalu menerima hampir semua yang kuucapkan.


Kalau aku bilang nggak suka kadonya dan minta diganti, dia pasti akan nurut.


Kalau aku minta hak buat “memerintah” dia, dia pasti bakal kasih.


Bahkan kalau aku pakai hak itu buat nyuruh dia melakukan hal-hal aneh sekalipun, aku yakin dia bakal lakukan.

 

Tapi ada satu hal yang dulu dia benar-benar tolak mentah-mentah.

Itu: anting.

 

Aku meneguk sedikit es teh yang rasanya sudah agak hambar karena esnya mencair.

 

Kenapa tiba-tiba?

Kenapa sekarang dia mau melubangi telinganya, padahal dulu dia sempat bilang “absolut nggak mau”?

 

“Sendai-san, dulu kamu bilang nggak akan pakai anting, kan?”


“Iya, aku bilang gitu. Tapi aku juga bilang, kalau ada momen yang pantas dijadiin kenangan, aku bakal pertimbangkan. Kamu nggak inget?”


“…Inget sih.”

 

Aku menatap anting kecil berbentuk bunga di telingaku.


Waktu dia sendiri yang pasangin anting itu, aku pernah tanya kenapa dia nggak mau pakai anting.


Dan jawabannya waktu itu sama—enteng banget, seakan masa lalunya nggak penting lagi.

 

“Tapi, hari ini beneran pantas disebut momen kayak gitu?”


“Ya, pantas lah.”


“Momen apa coba?”


“Ya jelas, ulang tahun kamu. Itu momen.”

 

Sendai-san menjawab begitu gampangnya.

 

“Eh? Aneh banget, nggak sih? Orang biasanya bikin momen kayak gitu pas ulang tahunnya sendiri, bukan ulang tahun orang lain.”


“Kalau ulang tahun aku sendiri, nggak ada artinya.”


“Kenapa?”

 

Kalau aku yang dulu, pasti udah tanpa pikir panjang langsung melubangi telinganya.


Tapi sekarang aku pengen tahu, apa yang ada di kepalanya.


Kalau aku nggak tahu alasannya, rasanya tanganku nggak bisa bergerak buat ambil piercer itu.

 

“Aku pengen bersumpah lewat anting yang kamu pasang di telingaku. Sumpah kalau tahun depan, pas hari ulang tahunmu, kita bakal makan whole cake bareng lagi. Kemarin aku cuma janji buat tahun ini aja, kan.”

 

Kata-kata itu menusuk.


Yang dia janjikan itu persis hal yang aku mau—ulang tahun tahun depan yang sama dengan sekarang.


Tapi bersumpah… itu menakutkan.

 

Sumpah itu lebih berat dari sekadar janji.


Kalau suatu hari sumpah itu nggak ditepati, aku takut aku nggak akan bisa lagi percaya pada Sendai-san.


Takut banget sampai rasanya sesak.

 

“Gak usah bersumpah.”


Aku menggeleng.

 

“Kalau gitu, gimana kalau aku nggak ‘bersumpah’ tapi ‘berjanji’ lewat anting ini?”


“Kalau cuma janji, nggak perlu sampai buka lubang telinga segalanya.”

 

Aku nggak butuh hal serumit itu. Aku cuma mau dia selalu ada di sisiku.

 

“Ada bedanya. Aku pengen janji itu selalu kelihatan sama kamu, jadi nggak bisa pura-pura lupa.”


Nada suaranya lembut, tapi berat.

 

“Kenapa harus segitunya?”


“Karena aku pengen. Emang perlu alasan lain?”


“…nggak sih.”


“Jadi, biarin aku janji sama anting ini, ya? Bukan cuma buat tahun depan, kalau bisa buat tahun-tahun berikutnya juga.”

 

Di atas meja cuma ada piring kosong dan piercer itu.


Dan suara Sendai-san, lebih manis daripada biasanya.

 

“…nggak bisa.”


“Kenapa? Kamu kan sendiri janji bakal ngerayain ulang tahunku tahun depan, tahun depannya lagi, terus-terusan. Ini sama aja, kan?”

 

Suaranya lembut, kayak lagi nenangin anak kecil.

 

“Beneran… sama aja?”


“Iya, sama.”

 

Suaranya mengalun nyaman di telingaku.


Aku menatap wajahnya, dan entah kenapa aku merasa dia bilang, “jadi nggak apa-apa”.


Pelan-pelan, aku dorong keluar kata yang nyangkut di tenggorokan.

 

“Kalau cuma janji buat tahun depan… boleh.”


“Oke.”

 

Sendai-san tersenyum, lalu mengeluarkan kapas dan cairan antiseptik, meletakkannya di meja.

 

“…Sendai-san, kamu beneran nggak apa-apa?”


“Nggak apa-apa. Kamu bebas pilih bagian mana pun buat dilubangi.”

 

Aku mengambil piercer itu.

 

Sendai-san memanggilku, “Sini, deket aku.”


Aku duduk di sebelahnya, dan dia menyodorkan spidol kecil.

 

Caranya sudah aku hafal:

 

Bersihin telinga dengan antiseptik.

 

Kasih tanda dengan spidol.

 

Lalu pakai piercer.

 

Sesimpel itu.

 

Waktu telingaku dilubangi dulu juga gampang banget.


Tapi sekarang… terasa jauh lebih berat.

 

Aku letakkan dulu piercer itu, lalu menyentuh telinganya.

 

Lembut sekali, belum pernah tersentuh jarum atau luka.

 

Melubangi telinga ini berarti mengubah bentuk Sendai-san.

 

Bukan cuma telinganya—mungkin hubungan kami juga bisa berubah.

 

Aku menarik lembut daun telinganya, lalu melepasnya.

 

Kayak kue yang tadinya bulat lalu dipotong jadi segitiga—bentuknya berubah.

 

Perubahannya terasa menggoda, tapi juga menakutkan.

 

Jariku bergerak ke belakang daun telinganya.

 

Sendai-san sedikit meringis.

 

“Geli.”

 

Sendai-san berkata pelan sambil menggenggam pergelangan tanganku.


Telingaku dulu berubah karena keinginanku sendiri—dibuat lubang, lalu dihiasi bunga kecil yang dipilih Sendai-san. Telinga itu sekarang jadi sesuatu yang menyimpan janji.

 

Apa yang akan kulakukan sekarang sebenarnya nggak jauh beda.


Aku akan mengubah Sendai-san sesuai keinginannya, dan meninggalkan janji itu padanya.


Itu bukan sesuatu yang bakal bikin hubungan kami berubah drastis.


Semua akan baik-baik saja.


Hanya dengan melubangi telinga Sendai-san, status kami sebagai roommate nggak akan berubah begitu saja.

 

“Lepasin tangannya.”


Begitu ucapku sambil menarik lembut daun telinganya, dan genggaman di pergelangan tanganku akhirnya dilepaskan.


Aku mengusap perlahan telinganya, lalu melepasnya.

 

Telinga yang bentuknya indah itu terlihat jelas.


Begitu kupasangi anting, aku nggak akan pernah bisa lagi melihat telinga ini sama seperti sekarang.

 

Aku mendekatkan bibirku dan menyentuh pelan daun telinganya.


Sedikit dingin, lembut, dan rasanya menyenangkan.


Ketika kugigit ringan, tubuh Sendai-san sedikit tersentak.

 

Selama ini aku sering meninggalkan bekas dengan bibirku di tubuhnya, meski bukan di telinganya.


Tapi jejak itu cepat hilang, sama sekali nggak bertahan lama.


Makanya, aku selalu ingin meninggalkan tanda yang nggak akan hilang—sesuatu yang kelihatan jelas oleh siapa pun, dan aku tahu itu jejak yang kubuat sendiri.

 

Kalau aku bisa menaruh anting di telinganya, itu bukan sekadar tanda kepemilikan, tapi tetap akan terlihat orang lain, dan aku bisa yakin kalau itu bekasku.

 

Aku menyentuh pelan titik di telinganya dengan ujung lidah—tempat yang akan segera kutusuk—dan tiba-tiba punggungku ditepuk Sendai-san.

 

“Miyagi, udahan deh.”


Aku pura-pura nggak dengar, lalu menggigit telinganya sekali lagi.

 

Bibirku turun ke bawah, menempel di bagian bawah daun telinganya, sementara jariku merayap ke belakang telinganya.

 

“Eh, Miyagi, serius deh. Yang kayak gitu agak bahaya.”


Sendai-san langsung meraih pinggangku. Jari-jarinya menyentuh sisi tubuhku dan membuatku geli, jadi aku menjauh sedikit. Tapi dia malah mendorong bahuku.

 

“Udah jangan main-main, cepet lubangin.”


Dia menyerahkan cairan antiseptik dan kapas dengan agak maksa. Aku menerima, membasahi kapas itu, lalu membersihkan telinganya dengan dingin. Setelah menandai titik dengan pulpen, aku membuka kemasan alat penusuk.

 

Benda ringan keluar dari dalamnya.


Benda yang harusnya bisa meninggalkan bekas abadi di tubuh Sendai-san ternyata terasa sama sekali nggak berbobot.

 

── Apa waktu itu Sendai-san juga merasa seperti ini, saat dia melubangi telingaku?

 

“Udah siap?”


Aku bertanya pelan. “Siap,” jawabnya singkat.


Kukalungkan alat itu ke daun telinganya.

 

Tinggal tekan, dan lubang akan terbentuk.

 

Aku menarik napas panjang, lalu hembuskan.


Nggak apa-apa.


Waktu itu ternyata nggak sesakit yang kubayangin, bahkan terasa sepele.


Sendai-san juga pasti akan merasa sama.

 

Tapi anehnya, tanganku masih belum mau bergerak.

 

“Miyagi.”


Dia memanggil dengan suara lembut.

 

Suara itu mendorongku dari belakang.


Aku memang nggak selalu bisa berjalan seirama dengannya, tapi suara itu membuat tubuhku akhirnya bergerak.

 

Aku menekan kuat.


Dug-dug-dug, jantungku berdetak kencang sampai rasanya sesak.

 

Helaan napas kecil.


Aku menekan alat itu, batjiiing! suara khasnya terdengar, dan telinganya kini dihiasi anting.

 

Di saat yang sama, aku merasa ada suara berderak pelan di dalam diriku sendiri.

 

“Kukira bakal lebih sakit,” katanya lega, lalu menatapku.

 

“Sekarang yang sebelah, ya.”


Aku menyentuh telinga satunya.

 

“Oke.”


Aku ulangi langkahnya: bersihkan, tandai, tekan.


Batjiiing! lagi, dan satu lubang lagi terbentuk.

 

Sekarang di telinga kanan dan kiri, masing-masing ada satu.

Suara kecil dari dua kali tusukan itu rasanya seperti retakan halus pada cangkang yang selama ini membungkusku.

 

Aku menatap Sendai-san yang sekarang memakai anting dariku.


Retakan kecil itu membuatku merasa dunia jadi lebih terang, dan aku bisa melihat Sendai-san sedikit lebih jelas dari sebelumnya.

 

“Hmm, bagus juga.”


Sendai-san tersenyum puas, melihat pantulan dirinya di cermin kecil.

 

Padahal aku juga pakai anting, tapi anehnya aku merasa anting itu jauh lebih cocok padanya.

 

“Kamu gimana? Menurutmu gimana?”


Dia meletakkan cermin, lalu menatapku.

 

“Antingnya?”


“Iya.”

 

Itu anting yang dulu pernah kupakai juga. Nggak ada yang spesial sebenarnya, wajar kalau sama persis. Tapi entah kenapa, di telinganya, anting itu kelihatan jauh lebih indah.

 

“Kayaknya… jadi susah buat kugigit, ya.”


Kalimat itu lolos begitu saja.

 

“Hah, susah digigit doang. Tapi aku yakin kamu tetep bakal gigit meski ada antingnya, kan?”


“Ya wajar dong. Telinga Sendai-san kan punya aku, jadi nggak salah kalau kugigit.”

 

Aku menarik lembut bagian atas telinganya, lalu melepasnya.


Aku tahu aneh rasanya menyentuh anting yang baru dipasang.

 

“Woi, waktu kubilang kasih telingaku, bukan maksud kayak gitu, tahu. Kamu ngerti kan? Lagian aku nggak nanya itu barusan.”


Dia menggerutu, lalu jarinya menyentuh anting bunga kecil di telingaku.

 

Ujung jarinya mengusap lembut, menekan sedikit telingaku.


“Jawab serius, dong.”

 

Aku menarik napas kecil.

“…Antingnya, cocok banget sama kamu.”

 

Kata-kata itu keluar pelan, tapi cukup sampai membuatnya tersenyum lembut.

 

“Syukurlah.”

 

Anting itu benar-benar cocok di Sendai-san, seakan sudah ada di sana sejak dulu. Dari dulu pun, dia memang punya aura yang nggak aneh kalau sudah pakai anting sejak SMA. Rasanya, dia terlihat seperti

 

“Sendai-san yang asli.”

 

“Karena kamu udah muji, ini aku kasih hadiah satunya lagi. Bonus hadiah,” katanya sambil mengeluarkan kantong kecil yang lebih kokoh daripada bungkus alat tindik tadi, lalu meletakkannya di depanku.

 

“Kenapa ada dua hadiah segala?”

 

“Soalnya kamu juga kasih aku dua hadiah, kan? Nurut sama permintaanku, terus besoknya kamu kasih tatakan sumpit. Jadi aku juga kasih dua.”

 

Dia tersenyum manis, lalu menambahkan, “Coba deh buka.”

 

Di dalam kantong itu ada sebuah kotak kecil yang dibungkus rapi dengan pita. Bentuknya jelas-jelas “hadiah.”

 

Aku sebenarnya pengin bilang nggak mau.

 

Tapi aku tahu, kalau aku nolak pun, Sendai-san nggak akan dengar.

 

Meski begitu, aku lebih suka langsung balikin aja. Karena dari bentuk kotaknya, aku sudah bisa nebak isinya.

 

Kotak panjang dan ramping.

 

Nggak mungkin isinya lem stik.

 

Nggak mungkin juga baterai.

 

Pasti sesuatu yang jarang kupakai, dan agak asing buatku.

 

“Miyagi, buruan buka dong,” desaknya.

 

Mau nggak mau aku melepas pita dan kertas kado itu. Dari dalamnya keluar lipstik yang kelihatan mahal, bikin aku menarik napas panjang.

 

“Eh, jangan gitu dong. Mukanya kecewa banget,” ucapnya agak sebal.

 

“Soalnya aku kurang suka beginian.”

 

Aku memang nggak suka lipstik—rasanya lengket di bibir. Bahkan makeup secara umum aku nggak pernah suka, dan Sendai-san pasti tahu itu.

 

“Ya, aku udah duga kamu bakal ngomong gitu. Tapi yang ini beda. Aku yakin kamu bakal pengin make. Meski kamu nggak suka makeup, ini pasti cocok buat kamu,” katanya sambil tersenyum, mengingat beberapa kali dulu dia pernah maksa aku pakai makeup.

 

“Kayaknya tetap nggak bakal suka.”

 

“Nggak mungkin. Ini baunya enak, mirip buah manis gitu.”

 

“Strawberry gitu maksudnya?”

 

Meski nggak tertarik, aku tetap penasaran sama baunya. Baru mau buka tutupnya, tiba-tiba dia cepat-cepat merebut lipstik itu.

 

“Biar aku yang pakaikan.”

 

“Aku cuma mau cium baunya. Nggak perlu dipakaiin. Balikin.”

 

“Kalau cuma gitu boring banget.”

 

“Boring nggak apa-apa.”

 

“Sekali aja, coba pakai di depanku.”

 

“Nggak mau.”

 

“Aku aja masih pakai tatakan sumpit dari kamu, loh,” katanya dengan nada seolah ngambek, menatapku dengan mata sebal.

 

Itu jelas pura-pura.

 

Dia cuma akting manja biar aku nurut.

 

“Miyagi.”

 

Hari ini memang ulang tahunku, jadi harusnya aku nggak perlu ngalah.


Tapi dia sudah tepati janji makan kue utuh barengku, bahkan janji lagi kalau tahun depan bakal ngulang. Dia juga sudah kasih aku anting—tanda yang selama ini aku pengin.

 

Aku menarik napas panjang, lalu menoleh ke arahnya.


“Oke, tapi jangan macam-macam, ya.”

 

“Siap,” katanya sambil buka tutup lipstik. Tangannya menyentuh pipiku, lalu lipstik itu menyapu bibirku.

 

Sendai-san berada dekat denganku bukan hal langka. Duduk nempel bahu atau bahkan jarak dekat ke bibir pun sering. Tapi kali ini terlalu dekat. Aku nggak tahu harus lihat ke mana, jadi mataku terpejam.

 

Dalam gelap, sesuatu yang lembap menempel di bibirku.


Meski nggak lihat, aku bisa merasakan tatapan matanya ke bibirku.


Aroma manis seperti buah langsung tercium, tanpa perlu kucium dalam-dalam.

 

“Udah. Cantik banget hasilnya,” katanya.

 

Aku membuka mata, mendapati Sendai-san menatapku dalam-dalam. Aku buru-buru alihkan pandangan.

 

“Udah ah, jangan lebay.”

 

“Tapi beneran, kamu jadi cantik.”

 

“Sendai-san, ribut banget. Diam deh.”

 

Aku menepuk pahanya pelan, tapi dia malah nanya, “Harum kan?”

“Iya.”

 

Aku menjawab singkat, lalu menyentuh bibirku.


Aroma manis pindah ke jariku juga. Aku nggak bisa jelas menebak buah apa, tapi yang pasti wanginya enak.

 

“Katanya kalau dijilat rasanya manis juga,” katanya ceria.

 

“Maksudnya ‘katanya’ apa?”

 

“Ya aku belum pernah pakai, sih. Aku cuma pilih yang kira-kira kamu mau pakai, terus cobain baunya di toko. Rasanya belum pernah kucoba. Jadi, kamu aja coba.”

 

Aku menuruti, menjilat bibirku pelan. Benar saja, ada manis samar menempel di lidah.

 

“…Enak.”

 

“Serius?”

 

“Iya.”

 

“Kalau gitu, aku juga cobain.”

 

Sebelum sempat kugapai kata-kata, dia sudah mendekatkan wajahnya.

 

Refleks aku memejamkan mata, dan bibirnya menempel pada bibirku.

 

Lembut, hangat, dengan basah yang bukan sekadar “cicip rasa.”

 

Bukannya menjilat lipstik, justru lidahnya mencoba masuk ke dalam.

 

Aku memegang lengannya, dan ciuman itu terlepas sebentar. Tapi segera kembali, kali ini lebih dalam, lebih kuat. Lidahnya menempel dan melilit lidahku, rasanya lebih manis daripada lipstik atau kue.

 

Lidah kami saling menempel dan lepas lagi. Nafasku keluar pelan.

 

Sendai-san yang harusnya asing malah seolah menyatu denganku, jadi bagian dari tubuhku sendiri. Hangatnya terasa nyaman.

 

Ciuman itu akhirnya terlepas. Lidahnya sempat menjilat sisa lipstik di bibirku.

 

“Enak banget,” katanya sambil tersenyum.

 

“Lipstiknya malah hilang, tahu.”

 

“Ya biarin.”

 

Dia mendekat lagi dengan suara ringan. Aku mendorong bahunya.


“Serius, aku bilang hilang tuh.”

 

“Ah, dikit aja nggak bakal habis. Lagian masih ada banyak.”

 

“Bukan berarti bisa seenaknya cium banyak.”

 

“Miyagi pelit banget, sih. Biarin aja kan.”

 

“Yaudah aku pelit. Emang mau cium berapa kali sih?”

 

“Kayaknya lipstik doang nggak cukup ya,” jawabnya dengan wajah serius.

 

Dia selalu begini—ngomong hal-hal yang kukira bercanda, tapi ternyata serius dilakuin. Ciuman bukan hal yang kubenci, tapi cukup dulu untuk hari ini.

 

“Dasar bodoh…. Udahan, ah.”

 

Aku mendorongnya kuat.

 

Kupikir dia bakal protes, tapi ternyata dia nurut, lalu bersandar ke ranjang. Sesaat kemudian, dia memanggilku lagi.

 

“Oh iya, Miyagi.”

 

“Apa?”

 

“Sebulan lagi, kamu boleh gigit telingaku.”

 

“Maksudmu kalau lubang tindiknya udah sembuh?”


“Yup.”

 

Dia bilang begitu dengan suara tenang, lalu tersenyum manis.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !