Chapter
9
Aku selesai dandan, lalu menatap lama-lama telingaku di
cermin.
Anting yang kupakai ini adalah hadiah buat Miyagi di hari
ulang tahunya.
Tapi sebenarnya, itu juga sesuatu yang aku sendiri pengin.
Anting kenangan yang kuberikan waktu Miyagi ulang
tahun—sekarang menempel satu di kanan dan satu di kiri.
Rasanya aneh mengingat dulu, pas SMA, aku bilang bikin bekas
yang permanen di tubuh itu semacam “aturan terlarang.” Sekarang semua itu
terasa jauh banget.
Sudah dua hari sejak aku ditindik.
Anting kecil yang Miyagi pasangkan di telingaku ternyata jauh
lebih cocok dari yang kubayangkan. Itu bikin rasa sayangku ke Miyagi makin
jelas, makin kuat. Dan aku nggak pernah bosan ngeliatnya.
Aku menyentuh anting itu.
Rasanya nggak beda jauh dengan waktu jariku menyentuh telinga
Miyagi, sampai aku menghela napas kecil.
“Sebenernya ini kayak couple item juga, ya.”
Kalau aku ngomong gitu ke Miyagi, pasti dia nggak suka. Tapi
antingku ini sama dengan yang dulu pernah dipakai Miyagi. Akhir-akhir ini dia
cuma pakai anting berbentuk bunga plumeria yang aku kasih, tapi fakta kalau dia
pernah pakai anting yang sama denganku aja udah bikin hatiku seneng.
Aku jadi mikir, gimana nasib anting pertama yang aku pasangin
ke dia dulu.
Apa masih disimpan, atau sudah dibuang?
Aku pengin nanya, tapi takut banget kalau jawabannya “udah
dibuang.”
Kalau aku sih, nggak bakal buang anting ini. Bisa aja kupakai
terus selamanya. Tapi ya… aku juga kepikiran pengin coba pakai anting lain.
Misalnya, yang dipilih sama Miyagi sendiri.
“Kayaknya susah, ya…” aku menghela napas.
Jangankan ngajak dia pilih anting, bikin dia mau keluar bareng
aja udah ribet. Rasanya kayak ngajarin kucing liar buat nurut kayak anjing
peliharaan.
Nggak mungkin dalam sebulan—sampai lubang tindikku sembuh dan
Miyagi bisa gigit telingaku—dia bakal tiba-tiba berubah jadi nurut. Jadi, ya
paling kalau beli anting baru nanti, aku bakal pilih sendiri.
Tapi nggak usah buru-buru juga.
Toh baru dua hari aku pakai anting.
Sekarang aku cukup bersyukur karena udah punya harta baru ini.
Soal sebulan lagi, ya dipikirin sebulan lagi aja.
Kalau ada keajaiban, mungkin aja Miyagi jadi kayak kucing liar
yang bisa disuruh “tos” pas itu tiba.
Aku menarik lembut cuping telingaku yang sudah berhiaskan
anting, lalu melirik jam.
Masih kepagian untuk berangkat ke kampus.
Kupikir mending minum sesuatu dulu sebelum berangkat, jadi
kubuka pintu kamar dan menuju ruang bersama. Di sana ada Miyagi.
“Mau berangkat sekarang?” tanyaku.
Dia menoleh.
Dari kemarin, bahkan waktu lagi makan bareng, aku terus
ngerasa pandangannya sering jatuh ke telingaku. Dari malam ulang tahun itu,
Miyagi sudah banyak banget memperhatikanku.
“Iya.”
Dia nggak alihin pandangan sedikit pun.
Dengan terang-terangan, Miyagi menatap antingku.
Aku nggak nyangka anting punya “bonus efek” begini.
Cuma bikin lubang di telinga, segampang itu bisa bikin Miyagi
terus ngeliatin aku.
Dan aku jadi pengin lebih. Bukan cuma matanya. Kalau dengan
memberikan bagian tubuhku aku bisa bikin dia semakin dekat, aku rela kasih
semuanya. Apa pun yang dia mau, aku siap kasih.
Kalau sekarang aku nanya apa yang dia mau, kira-kira Miyagi
bakal jawab nggak, ya?
Pikiranku melayang ke arah yang nggak sehat, sampai suara
Miyagi bikin aku balik ke kenyataan.
“Sendai-san belum berangkat?”
Aku menghela napas kecil, kesal pada diriku sendiri yang
sempat mikirin hal aneh.
Aku bener-bener terlalu kebawa sama Miyagi. Dia sudah
menguasai terlalu banyak bagian dalam diriku, sampai aku takut suatu hari semua
yang ada di dalamku bakal jadi “Miyagi.” Kalau itu terjadi, aku bahkan nggak
tahu di mana aku sendiri berada.
“Sendai-san?”
Aku dipanggil lagi.
Pertanyaan sesimpel itu nggak mungkin kubiarkan tanpa jawaban.
Aku menatapnya sambil tersenyum.
“Belum. Aku masih mau pakaiin lipstik ke kamu.”
Bibirnya masih belum pernah tersentuh lipstik yang aku kasih.
“Udah nggak usah. Aku mau berangkat.”
Dia jelas-jelas nggak suka dengan jawabanku, wajahnya jadi
sebal.
“Kamu nggak mau pakai lipstik yang aku kasih?”
“Nggak harus sekarang, kan. Lagian waktu kamu kasih itu, aku
udah coba sekali.”
“Pakai tiap hari dong.”
Aku bakal senang banget kalau Miyagi benar-benar pakai hadiah
dariku.
Kayak boneka kucing hitam pemberianku yang selalu ada di
kamarnya—aku juga pengin lipstik itu dipakai.
“Nggak mau.”
“Kalau aku janji mau nurut sama satu permintaan kamu, kamu mau
pakai lipstiknya?”
Daripada kepikiran hal aneh soal “apa yang bisa aku kasih,”
mending kayak gini. Aku beneran pengin dia pakai lipstik itu.
“...Permintaan apa aja boleh?”
“Selama masih masuk akal, iya.”
Miyagi menatapku dengan ekspresi serius.
Padahal menurutku ini bukan hal besar, cuma lipstik doang.
Aku tahu standar “masuk akal” versi kita berdua mungkin beda,
tapi aku nggak mungkin melanggar janji ke dia. Jadi harusnya aman.
Tapi entah kenapa, dia mikir lama—hampir semenit—baru akhirnya
jawab.
“Kalau gitu, Sendai-san harus janji bener-bener nurut.”
“Aku janji. Jadi, ayo keluarin lipstiknya.”
Mukanya makin nggak enak, tapi akhirnya dia ambil lipstik dari
tasnya dan kasih ke aku.
Ternyata dia selalu bawa.
Aku hampir nyeletuk soal itu, tapi kutahan.
Kalau sampai kuomongin, bisa-bisa dia langsung rebut
lipstiknya dan kabur ke kampus.
“Terus, permintaan kamu apa?”
“Belum kepikiran. Nanti aja boleh?”
“Boleh. Kalau gitu, tutup mata sekarang.”
Dia menurut, menutup mata.
Sebenarnya tanpa tutup mata pun aku bisa pakaiin lipstik. Tapi
aku pengin dia nutup.
Aku menyentuh bibirnya dengan ujung jariku, bukan lipstik.
Jariku bergeser, menyentuh pipinya, lalu aku mencuri ciuman.
Tapi Miyagi langsung mendorong bahuku. Aku coba dalamin lagi, malah kakiku kena
tendang. Terpaksa aku mundur. Dia menendang kakiku sekali lagi sebelum ngomel.
“Katanya mau pakaiin lipstik.”
“Oh iya, lupa.”
Aku tersenyum, lalu membuka lipstik itu. Aromanya manis saat
kudekatkan ke bibirnya, dan Miyagi menutup mata lagi.
Perlahan, hati-hati, aku poleskan lipstik itu. Bibirnya yang
lembut kini berkilau manis.
“Udah.”
Sekarang Miyagi harum menggoda.
Aku pengin banget menciumnya lagi, tapi kalau kulakukan, dia
pasti nggak bakal mau lagi kupakaikan lipstik. Jadi kutahan.
“...Makasih. Aku berangkat dulu.”
Dia mengambil lipstik dari tanganku, menyimpannya ke dalam
tas, lalu langsung jalan keluar. Aku buru-buru menahan lengannya.
“Tunggu bentar, aku ikut.”
“Nggak usah. Aku duluan.”
“Eh, bentar lah.”
“Nggak mau.”
Dia menepis tanganku, keluar dari ruang bersama. Aku panik,
cepat-cepat balik ke kamar, ambil tas, lalu lari kecil ke pintu masuk. Saat aku
buka pintu, ternyata Miyagi masih di sana. Refleks aku teriak kecil, “Wah!”
“Kamu nungguin aku?”
“Enggak.”
Dia melirik ke telingaku, lalu mulai jalan.
Aku mengunci pintu cepat-cepat, dan segera mengejarnya.
“hazuki, pagi~.”
Di ruang kuliah yang agak ramai, aku lagi siapin buku catatan
dan pulpen sambil iseng nyentuh telinga, terus ada yang nyapa aku.
“Pagi.”
Mio, yang kelihatannya masih kelebihan energi, langsung duduk
di sebelahku dengan heboh. Beberapa orang di sekitar sempat nengok, tapi dia
sama sekali nggak peduli. Mio orangnya gampang akrab dan asyik buat diajak
main, tapi jujur aja dia lumayan ceroboh.
Kalau dipikir-pikir, kakaknya juga sama aja sih.
Kakak Mio ini yang ngenalin aku ke Kikyō-chan, dan dia tipe
orang yang janji kabarin tiga jam lagi tapi realisasinya bisa dua kali lipat
lebih lama.
“Hadzuki, ada apa sih? Kayaknya lagi happy ya?”
Mio nanya sambil senyum.
Aku refleks nyentuh anting kecilku.
Benda mungil itu nempel manis di cuping telinga. Padahal aku
yakin nggak mungkin jatuh pas berangkat kampus, tapi tetep aja lega rasanya
tiap kali memastikan dengan jari.
“Nggak ada apa-apa. Emang kenapa?”
Jawabku datar aja.
“Soalnya kamu senyum-senyum gitu. Kukira lagi ada kabar
bagus.”
Mio bilang sambil ketawa kecil.
Ya, sebenarnya ada sih hal bagus. Tapi kalau harus jelasin ke
dia “hal bagus” itu apa, malah ribet. Makanya tadi kujawab nggak ada. Padahal
hari ini emang dari pagi mood-ku bagus.
Soalnya Miyagi tadi mau aku olesin lipstik yang kubeliin buat
dia, terus kita juga sempet jalan bareng ke stasiun. Belum lagi aku pakai
anting hadiah dari Miyagi.
Tapi jelas nggak mungkin aku ceritain ke Mio.
“Hmm, mungkin karena ketemu Mike-chan di jalan ke stasiun tadi
kali.”
Aku lempar alasan aman sambil pasang senyum yang lebih jelas.
“Itu kucing yang pernah kamu ceritain itu ya?”
“Iya.”
Padahal sebenarnya Mike-chan jarang muncul pagi-pagi, biasanya
aku ketemu dia pas pulang. Tapi demi menjaga hubungan sosial yang adem ayem,
bohong kecil begini nggak masalah. Toh Miyagi sendiri kan mirip kayak kucing
liar, jadi ya nggak jauh beda lah.
“Kamu emang suka kucing banget ya.”
Mio nyeletuk pelan, terus tiba-tiba matanya membesar.
“Eh,
itu… kamu pakai anting?”
“Yap.”
“Kamu kan dulu bilang nggak tertarik anting sama sekali. Kok
jadi pakai? Ada apa?”
“Ya, cuma berubah pikiran aja.”
Aku jawab singkat.
Mio ngeluarin suara “Heeh~” kayak nggak yakin. Maklum sih,
soalnya dulu tiap kali dia nanya aku selalu bilang “nggak minat”.
Tatapannya masih nempel di telingaku.
Dan feeling-ku udah bener—arah obrolannya makin nggak enak.
“Aaa, ngerti aku. Pasti gara-gara cowok, ya?”
Mio senyum nakal.
“Bukan.”
“Ah, bohong. Pasti ada cowok. Soalnya akhir-akhir ini kamu
susah diajak main. Liburan musim panas kemarin juga tiap aku ajak, kamu bilang
sibuk.”
Tuh kan. Aku udah nebak.
Topik obrolan cewek tuh kebanyakan muter-muter soal cinta.
Dari SMA sampai kuliah, sama aja. Kayak kalau cewek dibelah dua, darahnya
keluar bukan merah tapi tulisan “cinta”.
Aku nggak masalah dengerin curhat orang soal cinta, tapi kalau
disuruh cerita balik… ribet.
Miyagi itu susah banget dijelasin.
Bukannya aku nggak percaya Mio, tapi aku juga nggak butuh
hubungan pertemanan yang sampai harus bongkar semua privasi.
“Itu karena aku beneran sibuk. Ada kerjaan part-time juga.”
Aku campurin fakta dengan setengah alasan biar gampang.
“Nggak usah bohong deh. Aku nggak bakal rebut cowokmu, kok.”
“Bukan gitu.”
“Ya udah, sini kasih liat.”
Mio tiba-tiba ulurin tangan kanannya.
“Itu maksudnya?”
“HP-mu. Aku pengen liat, siapa tahu wallpaper-mu foto pacar.”
“Serius, aku nggak punya pacar.”
Aku tepok pelan tangannya.
“Kalau gitu, ya udah. Tapi tolong sekali-kali ikut makan
bareng, ya. Ada cowok yang nitip suruh ajak kamu, aku jadi repot nih.”
“Jangan ngarang deh.”
“Beneran loh. Ayolah, sekali aja ikut nongkrong.”
“Nanti aku pikirin.”
“Nanti tuh sama aja kayak nggak bakal datang.”
“Ya, emang nggak sih.”
Aku ketawa, dan Mio pura-pura ngeluarin napas berat sebelum balik senyum lagi.
“Kalau gitu, gini aja. Gimana kalau kamu bantuin aku kerja
part-time di kafe? Cuma sebentar kok, buat nutupin jadwal sampai festival
kampus selesai.”
“Lho, kenapa tiba-tiba banget?”
“Udah lah, detailnya gampang. Soalnya aku sibuk persiapan
festival, jadi nggak bisa sering-sering ke kafe.”
Itu sih tipikal Mio banget, asal lempar ide tanpa pikir
panjang.
Aku akhirnya juga ikutan ngeluarin napas berat.
“Jadi kamu mau aku gantiin kerja?”
“Kira-kira gitu.”
“Emang boleh digantiin orang lain gitu?”
“Tenang aja, itu kan kafe punya keluargaku. Santai aja. Sampai
festival selesai doang. Lagian aku percaya sama kamu.”
Pas lagi ngomong santai gitu, dosen masuk kelas.
Festival kampus emang tinggal sebulan lagi.
Ikut persiapannya jelas nggak mungkin, tapi kerja part-time di
kafe… lumayan juga.
Sebenarnya aku sempat kepikiran nyoba part-time lain selain
ngelesin, tapi waktu itu aku milih lebih banyak ngabisin waktu sama Miyagi.
Sekarang pun aku nggak mau ngorbanin waktuku sama dia, tapi di sisi lain aku
juga butuh pengalaman dan tabungan buat masa depan.
Karena setelah lulus nanti, aku nggak bisa bergantung ke orang
tua. Aku juga nggak berencana pulang ke rumah. Bahkan kalau Miyagi suatu hari
bilang hubungan “teman serumah” ini selesai, aku tetap nggak bakal pulang. Yang
jelas, aku nggak mau lepasin hidup bareng Miyagi, entah dalam bentuk apa pun.
“Gimana, mau? Kalau nggak, aku tanya ke orang lain aja.”
Mio bisik kecil pas kuliah udah mulai.
“Nanti ceritain detailnya, ya.”
Aku juga jawab kecil.
“Okesip.”
Kerja part-time kayak gitu bisa jadi latihan bagus sebelum
libur musim dingin, saat aku emang niat nambah kerjaan.
Tapi masalahnya jelas: Miyagi.
Dia nggak pernah suka aku nambah kerjaan part-time.
Meski aku bisa aja nekat kerja tanpa minta izin dia, aku tahu
itu bakal bikin suasana nggak enak.
Tanganku otomatis nyentuh telinga lagi.
Aku usap pelan anting itu, terus buang napas pelan.
Suara dosen mulai terdengar, dan bunyi pulpen menari di atas
kertas.
Aku juga ikut menulis, meski setengah hati.
Karena sibuk mikir, waktu terasa cepat banget dan kuliah
selesai.
Aku denger penjelasan detail dari Mio, tapi jawabannya masih
kutahan.
Hari ini aku habiskan semua kelas sampai sore, lalu pulang.
Part-time di kafe itu gajinya bagus, pekerjaannya standar, dan
nggak ada alasan kuat buat nolak.
Cuma… ada Miyagi. Itu aja.
Biasanya aku gampang mutusin sesuatu.
Tapi sekarang, apa pun harus kupikirin dengan mempertimbangkan
Miyagi.
Aku sendiri heran, dia udah segitu besarnya di hidupku.
Naik kereta, lalu jalan sambil nyari Mike-chan. Tapi mungkin
karena tadi pagi aku sempat bohong bilang ketemu dia, akhirnya beneran nggak
muncul.
Sampai rumah, aku lihat sepatunya Miyagi udah ada di depan
pintu.
Aku tarik napas panjang, buka pintu, lepas sepatu, terus masuk
ke ruang tengah.
“Tadaima.”
Aku nyapa.
“Okaeri.”
Dia lagi tuang soda ke gelas.
Tatapannya langsung ke arahku.
Lipstik yang tadi pagi kupakaikan udah nggak ada
jejaknya—entah hilang sendiri atau sengaja dia hapus.
“Eh, habis makan nanti, bisa ke kamarku sebentar? Aku ada yang
mau dibicarain.”
“Apa?”
Nada suaranya agak rendah, kayak waspada.
“Nanti aku jelasin.”
“Sekarang nggak bisa?”
“Aku pengen ngobrolnya pelan-pelan. Jadi nanti aja, ya.”
Miyagi nggak jawab, cuma minum sodanya. Cairan bening itu
bergoyang sebentar lalu hilang ke tubuhnya.
Pas dia taruh gelas, matanya nempel ke antingku. Tatapan dia
beda banget sama tatapan Mio tadi. Telingaku langsung panas.
Aku hampir aja lupa soal part-time, saking terbius sama
caranya dia lihat aku.
Refleks aku tarik cuping telingaku, terus maju satu langkah.
Dia masih ngeliatin aku.
“...Oke.”
Dia akhirnya ngomong duluan sebelum aku tambah dekat. “Terus,
mau makan apa?”
“Aku masak sekarang.”
Aku jawab singkat, taruh tas dulu di kamar, terus balik buka
kulkas.
Hari ini aku nggak kepikiran masak ribet karena pikiranku udah
ke arah obrolan nanti.
“Aku bikin tumisan aja ya?”
“Biar aku bantuin.”
Aku keluarin daging babi dan selada, kasih dia tugas
cabik-cabik selada sementara aku marinasi daging. Kami masak bareng dengan
obrolan seadanya.
Akhirnya makan malam siap, tapi tetap aja suasananya agak
kaku. Selesai makan, Miyagi langsung berdiri.
“Aku yang cuci. Kamu duluan aja ke kamar. Nanti aku nyusul.”
Suaranya datar banget.
Aku cuma bisa jawab “Iya” pelan.
Udara di antara kami jelas nggak enak.
Padahal obrolannya belum mulai, aku udah merasa kalah duluan.
Aku duduk di kamar sambil bersandar di kasur. Beberapa menit
kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.
“Masuk aja.”
Aku jawab, dan pintu terbuka. Miyagi masuk, tapi kali ini
duduknya agak jauh, bukan di sebelahku.
Mukanya jelas nggak seceria biasanya.
“Mau aku bikinin soda dulu?”
Aku coba cairin suasana.
“Tadi kamu bilang ada yang mau dibicarain, kan?”
Nada suaranya dingin. Tatapannya nggak ke aku, tapi ke cover
tisu platypus di lantai.
“Ada.”
“Kalau gitu, cepat bilang.”
Suara dinginnya bikin tubuhku ikutan adem.
Sejak tadi aku belum nyebut kata “part-time”, tapi kayaknya
dia udah tahu topiknya bukan sesuatu yang menyenangkan.
Aku tarik napas dalam, keluarin pelan.
Dulu waktu cerita aku ambil kerjaan ngeles, gampang banget
ngomongnya.
Tapi sekarang aku ragu.
Mungkin karena aku udah makin takut kehilangan dia.
“Eh, jadi apa sih?”
Miyagi masih nunggu, matanya akhirnya naik sebentar ke arah
antingku.
Aku akhirnya buang napas panjang.
“...Soal kerja part-time.”
Aku akhirnya berhasil memaksa sebagian kata keluar dari
tenggorokan, sambil iseng nyolek tempat sumpit di meja dengan ujung jariku.
Kucing belang oranye di situ nggak mengeong, malah nempel ke kucing putih di
sampingnya, bikin bunyi kecil.
“Yang bimbel itu?”
“Bukan, ini kerjaan lain. Cuma sebulan doang, ditawarin kerja
part-time di kafe.”
“Terus kenapa bilang ke aku?”
“Soalnya aku pikir, lebih baik aku ngomong dulu.”
“Waktu mutusin mau ngajar les juga kamu bisa mutusin sendiri
kan?”
“Iya sih, tapi kali ini aku pengin kasih tau ke kamu dulu.”
“Udah denger. Terus?”
Nada suaranya nusuk banget ke telinga, makin lama makin
nyebelin, dan aku rasanya makin jatuh ke bawah. Dari lantai tiga, ke lantai
satu, terus amblas lagi ke bawah tanah sampai inti bumi. Kalau aku terus diem
aja gini, kayaknya aku bakal selamanya nggak bisa ngomong kata “kerja
part-time” lagi.
“Aku pengin tau kamu gimana kalau aku kerja.”
Aku ngomong jelas, terus menatap mata Miyagi yang duduk serong
di depanku.
“Patuhi janji pagi tadi.”
Suara dia makin nggak enak didengar.
“Janji pagi?”
“Kamu bilang kan, kalau aku bolehin kamu pake lipstik ke aku,
kamu bakal nurut sama apa yang aku bilang.”
“Iya, aku bilang gitu.”
“Kalau gitu, jangan kerja. Itu yang aku mau kamu nurutin.”
“Itu udah kelewatan batas wajar, tahu.”
Dan aku jadi keinget.
Hari waktu aku bilang mau ambil kerja les, kami bikin janji
kalau aku harus nurut satu hal darinya. Itu yang akhirnya bikin aku pasangin
anting di telinganya. Memang sekarang kondisinya beda, tapi rasanya mirip.
“Jadi maksudnya kamu tetep mau kerja?”
Kening Miyagi berkerut.
“Iya.”
“Kalau gitu, pendapat aku nggak ada gunanya dong.”
“Iya, tapi bukan gitu maksudnya.”
Aku tetap butuh izin dari dia.
Padahal aku jelas-jelas nggak berniat nurutin kalau dia bilang
jangan kerja, tapi entah kenapa aku pengin dia bilang “boleh”.
Makanya aku balik nanya,
“Kalau lulus nanti, kamu mau gimana?”
“Kita lagi bahas kerja part-time kan?”
“Itu nanti kebahas, jadi sekarang jawab dulu.”
“Ya... biasa aja. Cari kerja, kayak orang lain.”
Dia ngumpetin bagian penting yang aku pengin tahu. Aku nggak
tau sengaja atau nggak, jadi aku tanya lagi, “Maksudnya balik ke rumah orang
tua?”
“...Kalau kamu?”
“Aku sih nggak mau pulang, jadi rencananya cari kerja di sini.
Bahkan kalaupun kerjaannya nggak langsung dapet, aku tetep nggak mau balik.
Makanya aku harus nabung dari sekarang.”
Sebenarnya semua itu demi bisa terus tinggal bareng dia, apa
pun hubungan kami nantinya. Tapi aku nggak berani ngomong. Kalau aku
blak-blakan, aku takut dia malah pergi.
“Oh gitu.”
“Kalau kamu sendiri?”
“...Belum mutusin.”
Suaranya lemah, bikin aku pengin maksa dia jawab sekarang
juga. Tapi kalau aku nekan, dia pasti malah bilang mau pulang.
“Ya udah.”
Jawabku pendek, tapi dia langsung balas dengan suara nggak
puas,
“Terus intinya kamu mau aku ngapain? Kalau kamu emang ada
alasan buat kerja, ya udah kerja aja. Nggak usah mikirin aku.”
“Aku cuma pengin kamu bilang nggak apa-apa.”
“...Aku nggak mau.”
“Emang segitu nggak sukanya kamu?”
Miyagi langsung buang muka. Dia narik si platypus tisu itu,
terus dilempar ke arahku.
Bantal tisu itu kena kakiku.
“Kamu nggak pernah nurutin janji, makanya aku nggak suka.”
Dia ngomong kayak anak kecil ngambek, terus mau narik lagi
platypusnya. Tapi aku buru-buru pegang tangannya.
“Selain nyuruh aku berhenti kerja, kamu boleh minta apa aja
sekarang.”
“Beneran apa aja?”
“Sekarang iya, apa aja.”
Aku genggam tangannya, senyum tipis. Tapi pandangan Miyagi
muter-muter ke arah platypus itu lagi. Dia lama banget diem, bikin aku cemas.
“Miyagi?” panggilku.
Tangannya langsung kabur dari genggamanku. Matanya balik ke
arahku, tapi tetap nggak ngomong apa-apa.
Dia cuma tatap, alihin pandangan, terus balik tatap lagi.
Rasanya nggak enak.
“Apa... habis itu kamu pernah ngelakuin sendiri nggak?”
Suaranya kecil banget. Aku hampir nggak percaya apa yang baru
dia tanya. Tapi aku tahu persis maksudnya.
“Habis itu” jelas maksudnya hari dia pertama kali nyentuh aku.
Dan “ngelakuin sendiri” itu... ya jelas apa.
“...Kamu pikir aku bakal jawab?”
Aku susah payah nahan biar nggak ketawa kaku.
“Tapi kamu tadi bilang bakal nurut apa aja.”
“Kamu cuma mau bikin aku bingung kan.”
Pertanyaan beginian jelas bukan buat sekarang. Dan aku yakin
dia nggak segitunya pengin tau. Paling dia cuma nyari cara biar aku nyerah soal
kerjaan.
Kalau gitu, dia salah.
Karena untuk hal-hal lain, aku bisa nurut. Bahkan untuk hal
kayak gini pun, kalau dia bener-bener maksa, aku bisa jawab.
“Terserah alasannya apa, pokoknya jawab. Kalau kamu jawab, aku
janji nggak bakal larang kamu kerja.”
Dia bilang pelan, sambil ngegenggam tangan si platypus.
“Janji jangan ditarik lagi.”
“Iya.”
Suaranya tegas. Aku tarik napas panjang, buang perlahan, lalu
bilang sambil tetap nggak berani lihat dia.
“...Iya, pernah.”
Suaraku kecil banget, bikin aku makin malu setengah mati.
Rasanya tubuhku panas.
Dia diem aja.
Jantungku deg-degan, jadi aku nekat nengok ke dia. Dia lagi
bengong, kayak kaget aku beneran jawab.
“...Waktu itu kamu mikirin apa?”
Suaranya pelan tapi jelas.
Sampai segininya dia pengin tau. Padahal jelas ini bukan hal
yang harus aku jawab. Tapi dia tetap maksa.
“Yang aku bayangin... ya waktu sama kamu.”
Aku jawab cepat, biar selesai. Terus buru-buru nambahin, “Udah
ya. Selesai.”
“Tapi aku masih ada yang mau tanya.”
“Perjanjian kita cuma satu. Aku malah udah kasih dua jawaban.
Itu udah lebih dari cukup. Jadi ini dianggap aku udah nurutin, kan?”
Aku langsung geser duduk ke sampingnya. Dia nyenggol kakiku
pakai kakinya, kayak masih ngambek. Tapi dia nggak geser atau kabur.
“Ya... anggap aja gitu.”
Jawabannya nggak ikhlas, tapi lumayan.
“Nanti Oktober aku pasti sibuk, tapi kerja part-time ini cuma
sampai festival kampus. Kalau pulang malem, aku bakal kabarin.”
“Itu janji?”
“Janji. Demi anting ini.”
Aku cium telinganya pelan. Dia langsung dorong bahuku kenceng.
“Kalau ingkar janji, hukumannya berat.”
“Oke.”
Jawabku singkat. Miyagi malah milih genggam tangan si platypus
lagi, bukannya tanganku.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.