Shuu ni Ichido Kurasumeito wo Kau Hanashi V7 Chap 7

N-Chan
0

Chapter 7

Perasaan yang Tertuju pada Miyagi


Begitu mataku terbuka, wajah Miyagi sudah ada tepat di depanku.


Tadi malam, yang menahan aku waktu mau balik ke kamarku dan membatalkan acara sleepover itu Miyagi, tapi yang memutuskan tidur di ranjangnya tetap aku sendiri. Aku juga jelas ingat kalau dia tidur membelakangiku. Tapi sekarang, aku bisa lihat wajahnya dengan jelas. Entah sejak kapan Miyagi balik badan menghadap ke arahku, tapi rasanya bikin senang.

 

Aku iseng nyolek pipinya.

 

Miyagi tidur pulas, sama sekali nggak bereaksi.

 

Padahal dulu, waktu kami pernah tidur bareng sampai pagi, dia selalu bangun duluan. Jadi sekarang, lihat dia sama sekali nggak bergerak agak bikin kaget.

 

Mungkin karena kemarin dia habis jalan sama Utsunomiya, jadi capek banget.

 

Aku elus rambutnya.

 

Padahal kemarin aku nggak berniat sampai kelewatan begitu.


Rencananya, setelah ngajak Miyagi kerja part-time bareng pas libur musim dingin nanti, aku cuma mau habiskan waktu dengan nonton film atau drama, atau main game favoritnya. Tapi karena dia pulangnya telat habis sama Utsunomiya, aku malah kebayang mereka pasti asik bareng, dan itu bikin sesak. Lalu, pas aku coba nenangin diri dengan puding yang enak banget, dia malah nyeletuk: “Aku nggak mau kerja part-time bareng Sendai-san.” Rasanya kayak ditusuk. Jadi aku nggak bisa berhenti dan akhirnya kebablasan.

 

Tanganku menyentuh anting Miyagi.

 

Janji yang dulu aku ucapkan lewat itu… jujur aja, aku nggak yakin bisa bilang kalau aku benar-benar menjaganya.

 

Kalau lihat hasil akhirnya sih, aku memang nggak melanggar. Tapi kalau ingat prosesnya, aku cuma bisa bilang keajaiban kalau Miyagi nggak sampai ngusir aku malam itu.

 

Ya, meski jujur aja, keajaiban itu cukup menyakitkan juga.

 

Aku pengen terus ada di samping Miyagi. Pengen tidur bareng di ranjang yang sama.

 

Selalu.

 

Tapi setelah apa yang terjadi semalam, sebenarnya akan lebih gampang kalau aku balik ke kamarku sendiri.

 

Tidur dengan tenang setelah kejadian kayak gitu tuh butuh usaha besar. Nggak gampang mindahin perasaan. Dan Miyagi, dengan seenaknya, memaksa aku buat tahan diri. Jahat banget, tapi aku tahu itu juga bentuk kepercayaannya ke aku. Makanya aku tahan, aku belokin arah perasaanku, dan akhirnya berhasil tidur kayak nggak ada apa-apa.

 

Tetap saja, begitu bangun, aku langsung kepikiran soal semalam.

Rasa tubuhnya.

 

Panasnya kulitnya.

 

Napasnya yang nggak teratur.

 

Tangan yang malah menarikku lebih dekat.

 

Semuanya kayak tanda kalau dia sebenarnya nerima aku. Bukannya nahan. Dan jujur aja, kalau aku terus nyiumin dia, terus nyentuh dia, lalu ngedorong perasaan ini tanpa kasih dia waktu buat mikir, aku yakin Miyagi bakal terus ngalah. Tapi… kalau aku ambil dia dengan cara sepihak, tanpa persetujuan, apalagi di kamar terang-benderang kayak semalam, Miyagi pasti udah kabur.

 

Dan kalau dia sampai pergi, aku nggak yakin bisa nemuin dia lagi.

 

Dia pasti akan menghilang ke tempat yang bahkan Utsunomiya pun nggak tahu.

 

Jadi ya, semalam aku benar dengan nahan diri.

 

Aku puas bisa dengar langsung kata-kata Miyagi, bisa tahu apa yang dia pikirkan.


Tapi sekarang, lihat dia tidur tenang di depanku, aku jadi nggak sabaran lagi. Miyagi selalu abu-abu. Kayak bisa kugapai, tapi selalu meleset. Itu bikin dada sesak.

 

Aku tarik napas pelan, lalu iseng narik poni depannya.

 

Dia tetap nggak gerak.

 

“Tidur nyenyak banget sih, kamu…”

 

──seakan nggak peduli sama perasaanku.

 

Kalau memang mau nahan aku, seharusnya dia berani pakai kata-kata yang lebih tegas.

 

Jangan cuma bilang, “Masih jadi roommate dulu, ya.”

 

Itu setengah-setengah. Jadinya sekarang, aku malah makin nggak tahan buat nyentuh dia.

 

Kata “masih” itu sendiri… entah sampai kapan. Bisa aja selamanya, bisa juga sebentar lagi dia setuju buat jadi lebih dari roommate.

 

Yang jelas, dia nggak keberatan tinggal bareng aku. Itu artinya, ada perasaan—meski kecil—yang bisa berkembang jadi sama kayak yang aku rasain.

 

Aku nggak berani bilang pasti kalau Miyagi suka aku.

 

Tapi setidaknya, aku ngerasa dia makin mikirin aku.

 

Dan kata “masih” itu, sekecil apa pun, tetap ngasih aku harapan besar. Sampai rasanya aku takut kalau perasaan ini bakal tumpah sendiri.

 

Kalau aku nekat bilang terus terang ke Miyagi sekarang, bisa-bisa dia nggak mau lihat aku lagi.

 

Tapi kalau cuma Miyagi yang lagi tidur… mungkin aku masih boleh bilang “aku suka kamu.”

 

Tapi entah kenapa, aku punya firasat justru di momen kayak gini dia bisa tiba-tiba bangun.

 

Miyagi itu selalu bertindak beda dari apa yang aku harapkan.

 

Aku telan kembali kata-kata itu, lalu bisikkan hal lain.

 

“…Shiori.”

 

Kalau cuma segini, seharusnya nggak apa-apa.

 

Kalau pun dia kebangun, paling cuma sebel sebentar. Nggak bakal jadi masalah besar.

 

Aku sisir pelan rambut hitamnya, usap pipinya.

 

Sekali lagi aku panggil pelan, “Shiori,” lalu kasih kecupan kecil di bibirnya.

 

Jarinya kuselipkan ke tanganku, kugenggam, lalu kukecup ujung jarinya. Terakhir, aku lagi-lagi menyentuh bibirnya.

 

Dan akhirnya, Miyagi mulai gerak.

 

Tangannya coba kabur, tapi aku pegang lebih erat.

 

Aku tarik pinggangnya lebih dekat, sampai dia buka mata.

 

“Pagi,” sapaku.

 

“…Sendai-san?” suaranya masih serak, setengah tidur.

 

Aku biarin jariku geser ke bibirnya, lalu bilang kata yang pengen kudengar keluar dari mulutnya.

 

“Hazuki.”

 

“Hmm? Hazuki?”

 

“Iya. Bilang sekali lagi.”

 

Tapi ya, Miyagi tetap Miyagi.

 

Baru bangun pun, dia langsung balik jadi dirinya yang biasa—dan jelas nggak nurut.

 

“…Kenapa sih kamu menghadap ke sini?”

 

Tangannya malah nyabut genggaman dan melepas pelukanku.

 

“Wah, udah sadar beneran, ya,” aku cemberut.

 

Dasar pelit.


Dia nggak pernah mau kasih aku mimpi indah agak lama.

 

“Jangan bilang yang aneh-aneh,” katanya.

 

Di bawah selimut, kakinya nendang kakiku.

 

“Nyebut nama orang dibilang aneh? Jahat banget.”

 

“Bukan jahat. Dan panas, jadi minggir.”

 

Dia dorong bahuku kuat-kuat. Pas aku tahan tangannya, dia malah gigit jariku.

 

Sakit. Lumayan keras, meski masih ditahan.


Aku pun akhirnya mundur dikit.

 

“Dasar pelit. Emangnya salah kalau kita nempel dikit?”

 

“Aku mau bangun,” katanya sambil duduk.

 

Aku tarik kausnya biar nggak jadi.

 

“Biarin dulu, santai sebentar.”

 

“Kamu mau tidur sampai kapan?”

 

“Sampai siang.”

 

Aku memang nggak butuh apa-apa, tapi cuma pengen sedikit lebih lama ngerasain hangatnya di sebelahku.

 

“…Nanti siang, kamu yang masak, Sendai-san,” katanya dengan nada ketus.

 

Dia akhirnya rebahan lagi, tapi membelakangiku.


Yang kelihatan cuma punggungnya.

 

“Oke. Aku bikinin yang enak.”

 

“Enak gimana maksudnya?”

 

“Ya udah, kita pikirin bareng-bareng.”

 

Aku menarik lengannya, dan akhirnya Miyagi menoleh ke arahku.

 

◇◇◇

 

Tidur satu ranjang sama Miyagi itu jarang banget terjadi. Sejak hari itu—hari di mana kami malas-malasan di ranjang sampai siang—kami nggak pernah tidur bareng lagi.

 

Di depan kulkas, aku bergumam pelan, “Hmm…”

 

Nggak kerasa, liburan musim panas sudah mau habis, dan ulang tahun Miyagi sudah di depan mata.


Aku jadi mikir, gimana soal kue?

 

Kalau bisa sih aku pengin bikin sendiri. Tapi masalahnya, aku nggak pernah sekalipun bikin kue seumur hidupku. Jadi kalau langsung nekat bikin tanpa coba-coba dulu, kayaknya bakal gagal. Paling banter aku pernah bikin cokelat buat Valentine teman-teman, tapi kue? Nggak pernah. Dan jujur aja, aku juga nggak pernah punya orang yang pengin aku buatin kue.

 

Sebenarnya, aku tahu sih, nggak ada kewajiban harus bikin kue.


Tapi entah kenapa, aku tetap beli alat-alat sama bahan buat coba bikin. Hanya saja, sampai liburan mau habis gini, aku belum juga sempat nyobain.

 

“Kalau coba bikin sih nggak masalah, tapi…”


Masalahnya, orang yang pengin aku kasih kue itu tinggal satu rumah sama aku.

 

Aku nggak masalah kalau Miyagi tahu aku lagi bikin kue. Aku bukan pengin bikin kejutan rahasia. Tapi kalau aku bikin versi percobaan, lalu siapa yang harus makan? Aku nggak mungkin habisin sendiri, Miyagi pasti bakal kebagian. Dan kalau di hari ulang tahunnya aku kasih kue yang sama lagi, rasanya jadi agak aneh.

 

“Kayaknya mending beli aja deh.”


Yang penting buat ulang tahun Miyagi itu bukan kuenya harus buatan tangan, tapi biar kami berdua makan kue bareng. Pokoknya jangan sampai dia ngerayain sendirian, atau ada sisa kue ulang tahun yang akhirnya diem di kulkas.

 

Aku buang napas panjang lalu duduk di kursi.

 

Tapi kue aja belum cukup. Masalah besarnya, aku juga belum mutusin hadiah apa yang mau aku kasih.

 

Aku jadi keingat ulang tahunku kemarin: kue yang dia pilih khusus buatku, sama tatakan sumpit berbentuk kucing yang dia kasih keesokan harinya. Dua-duanya kelihatan banget kalau dia mikirin aku waktu milih. Jadi aku juga pengin mikirin Miyagi sebaik itu, biar ulang tahunnya jadi istimewa.

 

Mataku melirik ke arah pintu kamar Miyagi.


Hari ini dia bilang bakal ngerjain tugas yang tersisa, jadi selain pas makan, dia belum keluar kamar.

 

Aku ragu, harusnya aku ketok pintunya atau nggak.


Kalau aku nggak jadi bikin kue, setidaknya aku bisa masak sesuatu dari bahan yang sudah keburu aku beli. Dan kalau bisa, aku penginnya bareng Miyagi. Tapi aku juga nggak mau ganggu dia yang lagi serius ngerjain tugas.

 

Akhirnya aku berdiri, ambil gelas dari lemari piring, lalu tuang teh dingin. Baru aja aku minum seteguk, pintu kamar kebuka, dan Miyagi keluar.

 

“Tugasnya udah selesai?” tanyaku.

 

Dia nggak jawab, cuma langsung buka kulkas dan ambil soda. Setelah itu baru menjawab datar, “Udah.”

 

“Kalau kamu, lagi ngapain?” tanyanya sambil menuang soda ke gelas.

 

“Lagi mikirin mau masak apa buat malam ini,” jawabku, tanpa berani bilang aku tadi sebenarnya mikirin kue.

 

“Kan baru aja makan siang.”

 

“Itu kan udah lebih sejam yang lalu. Nggak bisa dibilang ‘baru aja’ dong.”

 

“Ya sih…”

 

Obrolan ini receh banget, tipe obrolan yang bisa berhenti kapan aja. Dan benar aja, setelah balikkin botol soda ke kulkas, Miyagi langsung ambil gelasnya dan muter badan, siap pergi lagi.

 

“Terus abis ini kamu mau ngapain?” tanyaku cepat-cepat.

 

“Nggak ngapa-ngapain.” Dia masih nggak mau menatapku.

 

Kalau mau, aku sebenarnya bisa ngikutin dia balik ke kamarnya. Kayaknya dia juga nggak bakal nolak. Tapi kali ini, aku lebih pengin ngelakuin sesuatu yang lain.

 

“Kalau gitu, bikin kue kering yuk?” kataku.

 

“...Kue kering?”

 

“Iya. Aku pengin bikin bareng kamu.”

 

“Enggak mau.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku nggak suka kue kering.”

 

“Hah? Padahal kita udah sering makan bareng kue kering, kan?” Aku heran, soalnya setahuku dia bukan tipe orang yang benci kue. Bahkan waktu Utsunomiya main, dia juga pernah nyediain kue kering.

 

“Sekarang aku nggak suka lagi.” katanya pelan sambil meneguk soda.

 

Aku nyoba nebak alasannya, dan ingat sesuatu. Pas ulang tahunku kemarin, aku dapat kue kering hadiah dari murid lesku, Kikyō-chan. Aku sempat nawarin ke Miyagi, tapi dia menolak dengan nada nggak enak. Ditambah lagi, setiap kali aku bahas kerja part-time, dia memang kelihatan nggak suka. Bahkan pernah nyuruh aku berhenti.

 

“Emang kenapa bisa tiba-tiba nggak suka?” tanyaku pelan.

 

“...Nggak ada alasannya.” jawabnya datar, jelas lagi bad mood.

 

Aku sempat mikir, jangan-jangan… itu karena dia nggak suka aku dapat kue dari orang lain. Kayak aku yang suka cemburu kalau dia sama Utsunomiya. Kalau iya… berarti ada sebagian perasaan dia yang mulai berubah, jadi bukan sekadar ‘teman sekamar’.

 

“Terus kenapa tiba-tiba kepikiran bikin kue kering?” katanya lagi, suaranya jelas makin nggak senang.

 

“Entah, pengin aja.” jawabku santai.

 

Aku tahu kalau aku paksa gali alasannya lebih dalam, Miyagi bakal kabur. Dan benar aja, dia udah keliatan siap balik ke kamar. Aku buru-buru pegang tangannya, lalu menempelkan bibirku ke ujung jarinya. Eh, dia langsung nginjek kakiku pelan.

 

“Kalau cuma iseng, nggak usah bikin.”

 

“Yaudah, kalau kamu nggak suka kue kering, kita bisa bikin yang lain. Kamu pengin bikin apa?”

 

Aku coba kasih opsi, asal jangan sampai dia pergi.

 

“Pokoknya, ayo lakuin bareng. Soalnya nanti kalau kuliah mulai lagi, kita pasti nggak bisa sering bareng kayak gini.” Aku tersenyum kecil, lalu nekat minum soda yang dia taruh di meja.

 

Rasanya nggak enak, dingin dan terlalu berkarbonasi. Aku memang nggak suka soda, tapi demi bikin suasana agak cair, aku minum lagi seteguk.

 

Akhirnya, dengan suara kecil dia berkata, “...Terus, cara bikinnya gimana?”

 

“Bentar, aku cari resep di HP.”

 

Aku langsung ambil ponsel, masih pegang tangannya biar dia nggak kabur. Setelah cari “resep kue kering”, aku tunjukin layar penuh pilihan ke dia.

 

“Mau yang mana?” tanyaku.

 

“Aku kan udah bilang nggak mau makan kue kering.”

 

“Kalau gitu aku pilih aja, ya?”

 

Aku pilih resep yang lumayan gampang, terus mulai siapin mangkuk sama spatula. Buka kulkas, ambil butter, terus ukur sesuai resep. Tepung juga aku timbang, lalu kasih ke Miyagi saringan tepung.

 

“Ini buat apa?” tanyanya.

 

“Buat nyaring tepung.”

 

“Ribet banget. Nggak bisa langsung dipakai aja?”

 

“Katanya sih nggak boleh. Biar lebih enak gitu.”

 

Sambil mecahin telur aku jawab asal.

 

“Sendai-san tuh emang suka ngasal ya.”

 

“Ya udah, kalau males, taruh aja sini, aku yang lakuin.”

 

“...Yaudah, aku lakuin.” katanya akhirnya.

 

Dengan suara malas, tepung terigu pun diayak.


Hanya ada kami berdua di ruang bersama.


Sambil melihat tepung jatuh ke dalam mangkuk, aku kepikiran sesuatu.

 

Sehari setelah ulang tahunku, waktu makan kue kering yang dikasih Kikyō-chan, aku sempat mikir, “andai aku bisa bikin kue kering bareng Miyagi.”


Dan sekarang hal itu beneran kejadian.

 

Liburan musim panas ini rasanya penuh hal-hal menyenangkan. Sampai-sampai aku ngerasa kayak udah nyolong jatah keberuntungan buat tahun depan. Pas ke akuarium waktu itu, aku bilang sama diri sendiri kalau pasti masih ada hal yang lebih menyenangkan lagi. Tapi karena kejadian seru terus berdatangan, aku malah jadi agak khawatir sama diriku di tahun depan.

 

Bukan berarti aku percaya kalau “kesenangan dan kesusahan jumlahnya harus imbang,” tapi kalau terlalu banyak hal baik, aku suka takut bakal ada sesuatu yang jelek buat nutupin keseimbangannya. Itu semua pasti gara-gara Miyagi yang biasanya terlalu cuek sama aku.

 

"Sendai-san, jangan melamun, kerjain yang bener dong."


Miyagi berhenti mengayak tepung dan melotot ke arahku.

 

Muka kesalnya seolah mau nambahin dua tiga protes lagi, tapi faktanya dia tetap ikut bikin kue kering bareng aku. Itu udah bikin situasinya beda dari biasanya.


Aku nggak tahu Miyagi besok bakal seperti apa, tapi semoga dia tetap jadi Miyagi yang meski agak judes, tetap milih buat ada di sisiku kayak sekarang.


Aku pengin, bahkan setelah liburan selesai, hal-hal menyenangkan ini terus berlanjut.

 

"Oke, aku serius kok. Nah, gula tolong kamu yang ayak, ya."


Aku kasih dia gula sesuai takaran, terus masukin mentega ke mangkuk dan mulai ngaduk pake whisk. Nggak ngerti juga kenapa harus diaduk begitu, tapi aku ikutin aja resepnya. Setelah itu gula yang udah diayak Miyagi aku tambahin, lalu pelan-pelan masukin telur yang udah dikocok.

 

Adonan di mangkuk mulai kelihatan agak fluffy. Aku masukin tepung terigu yang tadi diayak Miyagi, terus diaduk santai pakai spatula, lalu bungkus pakai plastik wrap dan simpan di kulkas.

 

"Adonannya harus didiemin bentar."


Aku kasih tahu Miyagi, dan dia sambil melirik kulkas nanya:


"Bentar itu berapa lama?"


"Tertulis sih 30 menit sampai 1 jam. Jadi ya, cukup 30 menit aja."


"Sendai-san bohong. Tiga puluh menit tuh nggak bisa dibilang sebentar."


"Ya bisa lah."


"‘Sebentar’ itu harusnya lebih singkat."

 

Suara Miyagi terdengar agak rendah. Aku langsung pegang tangannya biar dia nggak balik ke kamarnya.

 

"Tangan ini maksudnya apa?"


Dia melirik ke tangan kami yang nyambung.

 

"Kukira kamu mau balik ke kamar."


"Aku nggak balik, jadi lepasin."

 

Aku langsung nurut, dan Miyagi duduk di kursi. Kayaknya dia emang mau tetap di ruang bersama sampai adonan siap.

 

Aku pun berbalik buat cuci peralatan yang tadi dipakai. Pas lagi nyuci, Miyagi manggil pelan:


"Sendai-san."


"Apa?"


Aku tetap cuci spatula sambil jawab.


"Kamu emang dari tadi udah kepikiran mau bikin kue kering?"


"Nggak juga, kenapa?"


"Soalnya bahannya udah ada."


"Kebetulan aja ada. Bahan buat kue kering kan nggak aneh-aneh juga."


"Iya sih, tapi…"

 

Suaranya menggantung, terus cuma ada suara air dari wastafel.


Biasanya kalau gini, Miyagi lagi nahan sesuatu buat diomongin. Aku sendiri juga tipe yang suka nelen kata-kata, tapi dia jauh lebih sering.

 

"Kalau ada yang mau kamu bilang, ya bilang aja."


Aku tahu jawabannya mungkin nggak ada, tapi tetap aku tanyain.


"Nggak ada."


Seperti dugaan, jawabannya pendek.

 

Kami udah bisa ngobrol hal-hal kecil sekarang, tapi untuk kata-kata yang lebih dalam, dia masih suka ragu. Aku juga begitu sih, jadi aku nggak maksain.

 

Aku cepat-cepat beresin cucian, terus tarik kursi buat duduk di sampingnya.


"Sendai-san, kenapa sih harus pindah duduk ke sini?"


"Soalnya aku lebih suka kalau deket."

 

Aku cuma pengin dia tetap dalam jarak yang bisa kusentuh. Tapi karena lagi nggak ada topik, ya kami cuma duduk bareng.

 

Bikin kue kering ternyata banyak nunggu-nunggunya. Abis ini pun masih harus nunggu adonan dipanggang sekitar 15 menit.


Kalau bikin sesuatu kayak tahun lalu—French toast, misalnya—pasti lebih rame karena ada kegiatan terus.

 

Aku jadi keinget kejadian tahun lalu. Waktu itu aku tiba-tiba ngajak Miyagi belanja bahan buat French toast, cuma gara-gara aku pengin lari dari keinginan buat nyentuh dia.

 

"Kenapa diem aja?"


Miyagi ngomel sambil nginjek kakiku pelan.


"Aku lagi inget liburan tahun lalu. Kita bikin French toast bareng kan."


"…Waktu itu, kenapa tiba-tiba ngajak beli bahannya?"


Ternyata dia masih inget dan malah nanya hal yang aku paling males jawab.


"Entahlah, aku udah lupa."


Aku jawab seenteng mungkin, terus genggam tangannya.

 

Setahun lebih berlalu, hubungan kami udah berubah.


Sekarang aku bisa menggenggam tangannya kapan pun aku mau.

 

"Miyagi."


Aku belum bisa panggil namanya Shiori, tapi sekedar memanggil begitu dan menggenggam erat pun dia nggak marah atau kabur. Aku tarik pelan tangannya, mendekatkan wajahku. Miyagi emang nggak pernah nyosor duluan, tapi kali ini pun dia otomatis merem.


Aku cium sebentar bibirnya lalu langsung lepas.

 

Miyagi udah berubah.


Pelan, tapi jelas beda dari dulu.


Dan aku suka perubahan itu.


Jadi aku pengin dia terus berubah sesuai keinginanku.


Semakin cepat, semakin baik.

 

"Sendai-san, udah tiga puluh menit belum?"


Dia masih menggenggam tanganku sambil nanya.


Aku cek HP, ternyata belum sampe tiga puluh menit.


"Belum, masih dikit lagi."


"Kalau tinggal dikit, ya udah cukup lah."

 

Miyagi langsung berdiri, buka kulkas, dan ngeluarin adonan tanpa nungguin aku bilang oke.


"Sendai-san, habis ini ngapain?"


Dia tanya sambil ngeremehin resep. Aku baru kepikiran kalau kita nggak punya rolling pin.


"Harusnya adonan digilas… bentar ya, aku cari penggantinya."

 

Sambil buka HP, aku bilang:


"Miyagi, ambilin selai deh."


"Selai?"


"Iya."

 

Dengan wajah bingung, dia ngeluarin selai dari kulkas. Aku bungkus botolnya pakai plastik wrap dan pakai itu buat gilas adonan.

 

"Harusnya kan pakai rolling pin?"


"Kalau nggak punya ya pake yang ada. Lagian kita juga nggak punya cetakan kue kering."

 

Miyagi bergumam kecil:


"…Ternyata kamu beneran nggak niat bikin kue kering dari awal."


"Hehe, iya."

 

Aku potong adonan yang udah digilas jadi kotak-kotak pake pisau. Bentuknya emang nggak imut, tapi rasa pasti sama aja.

 

Pas aku lagi motong, Miyagi nyelonong ambil sepotong adonan di pinggir.


"Boleh aku ambil bagian ini?"


"Boleh aja, tapi buat apa?"


"Aku mau bentuk sesuka hati."


Aku kasih satu baris adonan ke dia, sementara sisanya aku potong kotak. Nggak lama, aku lirik ke samping, dia malah lagi mainin adonan kayak plastisin.


Dibentuk kayak boneka salju, terus ditambahin telinga kecil di atasnya.

 

"…Kucing, ya?"


Aku hampir nyeletuk “kucing bikin kucing”, tapi langsung kutahan.


"Bisa juga dibilang anjing."

 

Kalau dibilang anjing juga mirip-mirip, tapi lebih condong ke kucing.


Masalahnya, bentuk bulat tebal gitu kayaknya susah mateng.

 

"Kayaknya itu nggak bakal mateng dalemnya."


Aku nyoba ngasih tahu dengan halus.

 

"Terus harus gimana?"

 

"Dibuat lebih tipis."

 

"Nggak mau."

 

"Kalau nggak mau, nanti nggak bisa dimakan. Kasih sini deh."

 

Dengan enggan, Miyagi nyerahin “kucing”-nya. Aku langsung gabungin adonan itu ke adonan lain biar rata.

 

"Sendai-san jahat banget, tau."

 

Aku bisa dengar suara penuh keluhan darinya, tapi tetap saja aku membagi gumpalan adonan bulat yang tadinya berbentuk kucing jadi dua bagian. Satu kuberikan ke Miyagi, satunya lagi kupipihkan jadi bulat lalu kutambahin telinga dan mata. Melihat itu, Miyagi juga bikin wajah kucing serupa, dan aku pun memasukkan semua adonan ke oven yang sudah dipanaskan.

 

Waktu tunggunya sekitar lima belas menit.

 

Aku duduk di kursi, sementara Miyagi masih berdiri menatap oven tanpa bergeming.

 

“Seru dilihat?”

 

“Biasa aja.”

 

Jawaban singkat dan datar terdengar.


Kalau cuma “biasa aja”, harusnya dia menoleh ke arahku, bukannya terus menatap oven.

 

“Miyagi.”

 

“Apa?”

 

Seperti kuduga, dia tetap nggak menoleh.


Aku berdiri, lalu memeluknya dari belakang.

 

“Jangan nempel gitu. Panas tau.”

 

Tanganku yang melingkar di perutnya ditepuk pelan.

 

“Ya biarin aja.”

 

“Nggak biarin.”

 

Miyagi dengan kasar melepaskan tanganku, lalu duduk di kursi.

 

...Ya sudahlah.

 

Kalau “bonus time” ini kebanyakan, aku malah jadi resah.

Mungkin memang segini pasnya buat menutup hari terakhir libur musim panas.

 

Aku pun kembali duduk di sebelah Miyagi, sama seperti tadi

 

◇◇◇

 

Akhir September mendekat.

 

Di bawah terik matahari yang masih kelewat semangat meski bukan lagi puncak musim panas, aku berjalan untuk menepati janji.

 

Hari ini ulang tahun Miyagi.


Aku sudah pesan kue tar kecil berbentuk bulat di toko yang katanya enak banget, dan tadi baru saja kuambil. Sebenarnya aku pengin nanya dulu ke Miyagi kue apa yang dia mau, tapi dia pasti bakal jawab, “Apa aja boleh,” atau malah lebih parah, “Nggak usah.”

 

Jadi, aku siapin kue bulat ini.

 

Hujan badai sekalipun, ini adalah hal yang harus kulakukan hari ini, no excuse.

 

Biar lebih yakin, kemarin aku sudah bilang ke Miyagi buat tetap di rumah. Sebelum berangkat tadi pun aku ulangi lagi.

 

Aku berjalan melewati jalan yang kadang ada Mii-chan kadang nggak, menuju rumah.

 

Meskipun panas, langkahku terasa ringan. Rasanya kayak punya sayap.

 

Supaya kuenya nggak goyang, aku melangkah mantap, dan rumah terasa makin dekat.

 

Begitu masuk rumah, kulihat sepatu Miyagi ada di genkan.

 

Artinya dia beneran nggak pergi seharian ini.

 

Aku lepas sepatu, taruh kue di kulkas, lalu mengetuk pintu kamarnya.


Tok, tok. Dua kali pelan.

 

Miyagi keluar sedikit membuka pintu.


Aku bilang, “Aku pulang,” dan dia jawab, “Selamat datang.”

 

“Aku beli kue.”

 

“...Sebenernya nggak perlu juga.”

 

Seperti yang sudah kuduga, jawabannya datar.

 

“Kan udah janji. Di ulang tahunmu, kita berdua bakal habisin kue bulat bareng-bareng.”

 

Itu salah satu janji waktu ulang tahunku.

 

Hari ini, janji itu akhirnya ditepati.

 

Miyagi memang nggak mau aku sumpah pakai anting, tapi janji ini nggak mungkin kulanggar. Karena kalau sampai kulanggar, rasanya aku kehilangan nilainya sendiri. Justru karena nggak ada sumpah di balik janji ini, aku makin nggak boleh mengkhianatinya.

 

“Nggak nyangka kamu beneran beli.”

 

Suaranya kecil banget, sampai aku refleks menatapnya. Tapi dia langsung mengalihkan pandangan.

 

Meski nadanya agak rendah, wajahnya nggak kelihatan sebal.


Lebih mirip datar tanpa ekspresi, seolah emosinya entah ditaruh di mana.

 

Apa ulang tahun buat Miyagi bukan sesuatu yang menyenangkan, ya?


Atau malah hari yang nggak pengin dia rayakan.

 

“Tenang aja. Aku nggak bakal batalin. Hari ini aku nggak ada shift, dan nggak akan keluar kalau ada temen tiba-tiba ngajak nongkrong.”

 

Aku genggam tangannya, sambil mengusir pikiran buruk barusan.

 

Waktu itu, aku memang merasa dia nggak percaya kalau aku bakal nepatin janji ini.

 

Makanya aku putusin, nggak peduli apa pun, aku harus buktikan.

 

“Nggak bakal ada gangguan.”

 

Miyagi sedikit berusaha tarik tangannya, tapi aku genggam lebih erat.

 

“Soalnya kamu sempet khawatir aku nggak selesai kerja atau tiba-tiba dipanggil temen, kan?”

 

“Aku nggak khawatir, dan nggak pernah bilang gitu juga.”

 

“Ya udah kalau gitu, seneng dong. Ini ulang tahunmu, lho.”

 

Kupikir, Miyagi cuma takut.

 

Masih kebayang hari-hari ulang tahunnya yang dilewati sendirian, masih belum bisa lepas. Dia takut kuenya tersisa di kulkas, takut ditinggal sendirian lagi.

 

“Tanpa kue pun, ulang tahun ya tetep ulang tahun.”

 

Dia bergumam pelan.

 

“Beda dong. Ulang tahunmu harus ada kue, terus kamu harus seneng.”


“...Tapi waktu ulang tahunmu, kamu juga nggak kelihatan seneng.”

 

Dia menatapku dalam, bikin aku langsung keinget 23 Agustus.

 

Hari itu memang nggak seru karena Miyagi pergi sama temennya. Tapi begitu malamnya dia masuk kamarku dan ngasih kejutan, semua rasa berat di dadaku langsung hilang.

 

“Bukan gitu.”

Aku buru-buru menyangkal.

 

“Tapi bener. Kamu nggak kelihatan bahagia.”

 

“Itu cuma karena aku kaget. Aku nggak nyangka kamu bakal ngelakuin sesuatu di ulang tahunku. Padahal aku seneng banget waktu itu.”

 

Itu ulang tahun paling bahagia dalam hidupku.


Kalau aku keliatan datar, itu karena kejutanmu terlalu nggak masuk akal sampai rasa kagetnya lebih kelihatan daripada rasa senengnya.

 

Tapi sekarang, aku nggak peduli soal diriku.


Yang penting perasaan Miyagi.

 

“Miyagi sendiri, kamu sebenernya nggak suka dirayain?”

 

“...Aku nggak tau. Soalnya nggak pernah ada orang kayak kamu, yang beliin kue bulat dan ngajak habisin bareng.”

 

Suaranya pelan banget, seakan nggak yakin sama dirinya sendiri.

 

“Paling nggak pernah dapet hadiah dari temen, gitu?”

 

“Hadiah sih pernah, tapi... ulang tahun rame-rame aku nggak suka.”

 

“Kenapa?”

 

“Soalnya setelah selesai, rasanya... nggak enak aja.”

 

“‘Nggak enak’ gimana?”

 

Pasti alasannya sama kayak kenapa dia nggak suka kue bulat: takut tersisa sendirian.

 

“Eh, tadi kamu bilang mau minta aku bantu sesuatu, kan? Apa yang harus aku kerjain? Cepetan bilang.”

 

Dia potong topikku dengan nada cepat, jelas nggak mau jawab lebih jauh.

 

“Oh iya, aku mau minta kamu bantu masak.”

 

Aku akhirnya sebut isi “bantuan” yang kumaksud sebelum pergi tadi.


Aku nggak mau bikin dia kebawa kenangan buruk. Hari ini seharusnya cuma diisi hal-hal menyenangkan. Jadi aku tarik tangannya, ngajak ke dapur.

 

“Masak? Buat makan malam ini?”

 

“Iya. Emang bukan pesta sih, tapi kita bikin yang vibes-nya kayak gitu.”

 

“Ulang tahun aku, tapi aku juga disuruh masak? Aneh banget.”

 

“Justru bagus. Jadi kenangan bareng. Lagian, lebih seru kalau bareng.”

 

“Seru sih buat kamu doang kayaknya.”

 

Walau ngomongnya malas begitu, dia tetap ngikutin aku ke dapur.

 

Aku pengin mengganti memori ulang tahunnya dengan sesuatu yang baru—sesuatu yang manis, yang cuma ada aku di dalamnya. Supaya dia percaya kalau ulang tahun ke depannya bakal selalu sama: aku ada di sana.

 

“...Kita bikin apa?”

 

“Karaage.”

 

“Kamu emang suka karaage, ya.”

 

“Ya iyalah, enak banget kan. Terus kita bikin mini pizza pakai kulit gyoza...”

 

Aku nggak mau bikin masakan ribet. Yang penting enak dan berkesan.


Ditambah kue bulat di kulkas, rasanya cukup untuk jadi malam yang nggak akan dia lupa.

 

Aku pun membuka kulkas, siap mulai masak.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !