Chapter
6
Sendai Itu Beda dari Siapa pun
“Rasanya aneh ya, udah September tapi masih liburan musim panas,” kata Maika sambil sedikit melamun.
Dia baru balik dari rumah orang tuanya setelah hampir sebulan
di sana. Kulitnya agak kecokelatan, bikin dia kelihatan sehat banget.
“Liburan musim panas anak kuliahan emang panjang, ya.”
“Iya sih, panjang. Tapi hampir semuanya aku habisin di rumah,
jadi nggak ngapa-ngapain yang ‘anak kuliahan banget’. Padahal kan aku ngekos,
eh kamar ini jadi nggak kepake sama sekali.”
Maika langsung menjatuhkan diri ke lantai. Tapi bukannya
keliatan sengsara, dia malah kayak anjing laut yang lagi santai berjemur di
pantai. Kalau dilihat-lihat malah kayak lagi bersenang-senang.
Aku mengalihkan pandangan dari Maika ke meja.
Di atasnya ada dua gelas berisi mugicha dingin dan sebungkus
keripik kentang. Aku ambil gelasku, yang penuh embun di permukaannya, lalu
meneguk sedikit untuk membasahi tenggorokan.
Kamar ini nggak panas, tapi juga nggak dingin. Pas banget
buatku.
“Masih liburan, jadi sekarang pun bisa lah ngelakuin hal-hal
anak kuliahan,” kataku.
“Hal-hal anak kuliahan tuh yang kayak gimana?” tanya Maika
cepat.
“Hmm, entahlah.”
Udah hampir setengah tahun jadi mahasiswa, tapi hidupku nggak
jauh beda sama waktu SMA. Jadi, aku juga bingung harus jawab apa.
Kalau soal beginian, kayaknya lebih cocok tanya ke Sendai-san.
Tapi kalau Maika beneran bilang mau hubungin Sendai-san, aku pasti jadi nggak
enak hati. Jadi aku tahan aja.
Akhirnya, kami cuma nyebut hal-hal yang “kelihatan anak
kuliahan” lalu saling bantah, nggak menghasilkan apa-apa.
“Shiori, kalau liburan ke mana gitu?”
“Ribet,” jawabku pendek.
Begitu aku ngomong gitu, Maika langsung bangun dari lantai,
balik jadi manusia.
“Oh iya, Ami bilang kamu harus pulang pas libur musim dingin.”
“Aku udah bilang ke Ami kalau libur musim dingin juga nggak
bakal pulang.”
Di akhir Agustus kemarin, Ami sempat nanya soal rencana
liburan musim dingin, dan aku udah bilang kalau aku nggak pulang. Itu nggak
bakal berubah.
“Katanya aku disuruh bujuk kamu. Tahun baruan juga nggak
pulang?”
“Nggak.”
“Orang tua kamu nggak bawel?”
“Orang tuaku tipenya cuek, kok.”
Ayah lebih sibuk kerja daripada ngurus aku. Malah bisa
dibilang, dia nggak terlalu peduli.
Toh dia juga jarang ada di rumah, makanya aku nggak pulang pas
liburan musim panas kemarin.
“Enaknya. Aku juga pengen liburan musim dingin tetep di sini.
Tapi ya mau gimana, harus pulang. Apalagi ada angpao juga, hehe.”
“Wih, enak tuh dapet angpao.”
“Shiori juga pulang aja, Ami pasti seneng.”
“Aku juga pengen ketemu Ami, sih.”
Kalimat itu bukan bohong. Tapi jujur aja, aku nggak kepengen
balik ke rumah yang kosong.
“Nanti pas tahun baru, orang-orang pada pulang kan. Nggak
bosen sendirian?” kata Maika.
Nada suaranya kayak nyuruh aku ikut pulang juga, walau dia
nggak bilang langsung.
“Aku rasa Sendai-san juga nggak pulang, jadi nggak bakal
sendirian.”
Aku belum nanya langsung ke dia, tapi kupikir kemungkinan
besar begitu. Jadi mending aku tetap di sini daripada balik ke rumah yang sepi.
“Oh, Sendai-san juga nggak pulang. Ngomong-ngomong, dia juga
nggak pulang pas liburan musim panas, kan?”
“Dia ada di rumah.”
“Kalian sempet jalan bareng nggak?”
“Ya, sempet sih.”
Wajar kalau dia nanya.
Kalau aku jadi Maika, aku juga bakal penasaran.
“Ke mana aja?” tanyanya santai.
Aku tahu dia nggak ada maksud lain, dan kalau aku bilang
‘jalan-jalan’, pasti ujung-ujungnya ditanya tujuannya. Itu normal.
“Akuarium.”
Aku jawab singkat, lalu minum mugicha.
“Hah, nggak nyangka. Kukira Sendai-san bakal ngajak ke tempat
lain. Tapi ke akuarium tuh kayak... kencan, ya.”
“Bukan kencan.”
Pergi sama teman sekamar itu wajar.
Dan walaupun tempatnya akuarium, itu tetap wajar.
Bisa aja ke sana sama teman biasa, bukan cuma pasangan. Jadi
aneh aja kalau Maika nyebutnya kencan.
Meskipun, aku juga sadar diriku suka kepikiran aneh-aneh kalau
udah cerita soal Sendai-san ke orang lain. Karena ya, kami emang sering
ngelakuin hal-hal yang jelas bukan cuma sekadar “teman sekamar”.
“Haha, yaudah deh, bercanda kok. Tapi aku jadi pengen juga,
pengen
diajak main.”
“Kalau gitu, mau jalan bareng aku?”
“Mau, dong. Ke mana, ya? …Eh, bentar, Shiori. Bulan ini kan
ulang tahunmu, kan? Kita rayain aja bareng waktu itu.”
“Ah, ulang tahun tuh...”
Aku langsung kaku begitu dia nyebut ulang tahun.
Dulu, tiap tahun yang ngerayain ulang tahunku cuma Maika dan
Ami.
Tapi tahun ini beda.
“Kenapa? Jangan-jangan udah ada rencana?”
Dia keliatan bingung.
Aku agak susah ngomongnya, tapi akhirnya kuputuskan buat
jujur.
“...Aku ada janji.”
“Oh, gitu.”
“Sama Sendai-san.”
“Berdua aja?”
“Kurang lebih begitu.”
“Eeeh, padahal aku tadinya pengen ngajak kamu keluar berdua
tahun ini...”
Maika ngomongnya lebay, lalu senyum tipis.
“...Tapi ya udah deh. Tahun lalu juga kita nggak
ngapa-ngapain. Jadi ulang tahun kali ini aku kasih ke Sendai-san aja.”
“Maaf...”
Aku tahu dia lagi berusaha ngalah. Jadinya aku malah ngerasa
bersalah.
Harusnya aku bisa ngajak dia juga, biar bertiga. Tapi... aku
nggak bisa.
“Tenang aja, bukan masalah kok. Eh iya, ulang tahunnya
Sendai-san kapan?”
“Agustus.”
“Udah lewat, dong. Kalian ngapain waktu itu?”
“Ya, ada lah dikit.”
Sebenernya nggak bisa dibilang ‘ngapa-ngapain’. Tapi
setidaknya, aku udah coba bikin suasana kayak ulang tahun.
Cuma... soal hadiah yang aku kasih, sampai sekarang aku masih
ragu.
Dia memang bilang seneng, tapi Sendai-san bukan tipe yang
gampang nolak. Jadi aku nggak tahu apakah itu jujur atau cuma basa-basi.
Aku pengen bisa bales kebaikan dan perhatian dia, tapi rasanya
kemarin itu belum berhasil sepenuhnya.
“Shiori, enak banget ya liburanmu. Aku iri.”
“Kan kamu juga main sama Ami. Itu udah cukup, kan?”
“Iya sih... tapi aku pengen juga puas-puasin di sini.”
Maika mengomel kayak anak kecil, lalu rebahan lagi di lantai,
balik jadi ‘anjing laut’ di pantai.
Aku jadi keinget obrolanku sama Sendai-san soal bedanya anjing
laut sama singa laut. Sambil mikirin itu, aku dan Maika lanjut ngobrol soal
liburan musim panas yang masih berlanjut meski udah masuk September.
Akhirnya kami sepakat buat ketemu lagi dan jalan bareng
sebelum kuliah mulai. Setelah makan malam, aku pun pulang naik kereta.
Naik tangga ke lantai tiga, buka pintu apartemen, dan kulihat
sepatu Sendai-san ada di depan. Katanya tadi dia nggak mau ke mana-mana, dan
ternyata bener dia ada di rumah.
Begitu masuk ke ruang bersama, dia keluar dari kamarnya.
“Okaeri,” sapanya.
“Tadaima,” jawabku.
“Utsunomiya, sehat-sehat?”
Sendai-san kali ini agak murung, beda dari biasanya yang lebih
ceria selama liburan.
“Sehat. Kulitnya jadi agak gosong, malah keliatan lebih
segar.”
“Kalau gitu baguslah.”
“Oh iya, ini oleh-oleh. Katanya dimakan berdua.”
Aku kasih oleh-oleh dari Maika. Dia sempat nanya, “Mau dimakan
sekarang?”
Tapi aku masih kenyang, jadi jawab, “Besok aja.”
Dia pun duduk, kayak pengen ngobrol lebih lama.
“Miyagi, kamu hari ini seneng?”
“Iya. Bisa ketemu Maika lagi. Kami juga udah janji mau main
lagi sebelum kuliah mulai.”
“Itu kapan?”
“Belum ditentuin.”
“Begitu ya.”
Sendai-san bergumam pelan lalu berusaha bangkit dari kursi
yang baru saja ia duduki. Aku sebenarnya nggak punya topik penting untuk
dibicarakan, tapi entah kenapa aku nggak mau dia langsung kembali ke kamarnya,
jadi aku membuka mulut.
“Sendai-san, liburan musim dingin nanti kamu pulang ke rumah
nggak?”
“Nggak. Aku lagi mikirin buat ambil kerja paruh waktu khusus
musim dingin aja.”
Jawaban itu sebagian sesuai dugaanku, tapi sebagian lain bikin
aku agak kaget. Aku mengepalkan tangan erat-erat di pangkuanku.
“Terus, les privatnya gimana?”
“Aku tetep jalanin. Kerja paruh waktunya ya di luar itu.”
“...Kamu mau nambah kerjaan lagi?”
Aku menatap Sendai-san yang dengan santai saja ngomong soal
menambah kerja.
“Ya, gitu rencananya. Miyagi sendiri nggak mau kerja paruh
waktu?”
Dia ngomongnya seakan hal biasa. Tapi buatku, masalah itu
bukan hal sepele. Les privat itu selalu bikin aku resah—muridnya terlalu
mengingatkanku pada masa laluku sendiri. Walaupun aku tahu Sendai-san nggak
bakal melakukan hal yang sama seperti dulu, tetap saja rasanya sesak. Aku
bahkan berharap dia berhenti. Kupikir kalau kerjaannya jenis lain, mungkin aku
bisa nerima. Tapi nyatanya, kayaknya aku nggak bisa terima Sendai-san kerja
paruh waktu apa pun.
“Enggak.”
Aku nggak mau kerja paruh waktu. Dan jujur aja, aku juga
ngerasa Sendai-san nggak seharusnya kerja paruh waktu.
“Kalau rumah? Kamu pulang?” tanya dia sambil menatapku.
“Nggak.”
“Kalau gitu, liburan musim dingin nanti kita pergi bareng
lagi, gimana?”
“Kalau kamu nambah kerja, kan nggak ada waktu.”
“Bukan berarti aku bakal sibuk banget sampe nggak bisa jalan
sama sekali, kok.”
Sendai-san tersenyum kecil. Senyum itu bikin aku tiba-tiba
pengin menciumnya tanpa alasan jelas.
Kenapa sih?
Kenapa aku jadi pengin ngelakuin hal-hal yang nggak masuk
akal?
Padahal dia cuma roommate. Tapi kalau sama Sendai-san, aku
selalu pengin nyentuh. Pengin ngelakuin hal-hal yang nggak kulakuin sama siapa
pun.
“Liburan musim panas aja belum selesai, aku nggak mau bahas
liburan musim dingin sekarang.”
Musim panas tahun lalu, aku dan dia sering berciuman tanpa
alasan. Dan kurasa, karena liburan musim panas ini masih belum berakhir, aku
pun boleh melakukannya lagi tanpa alasan.
Aku mengulurkan tangan, menyentuh bibirnya dengan jariku.
Menekan sedikit lebih kuat, dan Sendai-san otomatis memejamkan mata.
Aku mendekatkan bibirku. Bahkan sebelum benar-benar menyentuh,
aku sudah bisa merasakan hangatnya. Dengan sengaja aku menyingkirkan logika
dari kepalaku, lalu menggigit bibirnya.
Sendai-san sempat menahan tubuhku, mencengkeram lenganku. Aku
menekan gigitan lebih kuat, dan genggamannya juga ikut menguat.
Aku sebenarnya nggak berniat melukainya. Tapi, aku ingin
meninggalkan tanda—sebuah jejak yang akan terlihat siapa pun, tanda yang bilang
dia milikku, meski kenyataannya dia bukan milikku.
Kulepaskan setelah menggigit cukup keras.
“...Sakit banget, tahu nggak,” keluhnya sambil mengusap bibir
dengan jari. Dia memastikan nggak ada darah, lalu menghela napas kecil.
“Marah aja kalau mau,” kataku.
Aku sadar aku jahat. Aku ngomong gitu karena tahu dia nggak
bakal benar-benar marah.
“Aku udah terbiasa sama tingkah aneh kamu, Miyagi.”
Sendai-san mendesah pasrah lalu bangkit berdiri, tapi nggak
kembali ke kamarnya.
“Kamu lagi bad mood ya?” tanyanya sambil iseng menarik sedikit
poni depanku.
“Enggak.”
Aku nggak bohong. Untuk membuktikan itu, aku menciumnya sekali
lagi.
Selamat datang dan aku pulang.
Beberapa hari setelah aku menggigit bibir Sendai-san, aku baru
pulang dari jalan-jalan. Seperti biasa kami saling bertukar sapaan di ruang
bersama. Aku meletakkan kantong kecil di atas meja.
“Ini puding. Ada buat kamu juga, Sendai-san.”
“Dari Utsunomiya?” tanyanya sambil meletakkan mangkuk.
“Bukan. Aku yang beli.”
“Kamu?”
“Kenapa? Salah?”
“Bukan salah sih... cuma kaget aja.”
Sebenarnya tadi aku baru keluar sama Maika. Kami nonton film,
makan bareng, terus mampir toko. Pas lewat, aku lihat ada puding yang katanya
enak, jadi kubeli. Tapi entah kenapa aku kepikiran, mungkin aja Sendai-san
nggak suka.
“Yaudah, aku taruh di kulkas aja. Kalau pengin, makan aja
nanti.”
“Makasih.”
Biasanya dia bakal bilang, makan bareng yuk nanti. Tapi kali
ini, dia diam saja. Pagi tadi sih dia biasa aja, tapi mungkin ada sesuatu yang
bikin mood-nya turun pas aku lagi pergi.
Aku berbalik, mau kembali ke kamarku. Tapi sebelum aku sempat
buka pintu, dia manggil.
“Di sini aja.”
Suaranya datar. Aku menoleh. “Kenapa?”
“Aku bentar lagi selesai makan.”
Mataku sempat menangkap tatapan ke arah tempat sendok
istirahat berbentuk kucing calico yang kupilih buat dia. Itu hadiah ulang
tahunku kemarin, dan ternyata dia pakai terus tiap hari. Tapi sendok istirahat
itu kan sebenarnya nggak terlalu penting. Aku sempat kepikiran—mungkin aku
salah pilih hadiah.
“Kalau gitu, panggil aku aja kalau udah selesai.”
Aku berbalik lagi. Tapi terdengar suara sendok ditaruh ke
tempatnya.
“Udah selesai. Makasih makanannya,” katanya, lalu berdiri
mencuci piring.
Air mengalir, bunyi piring beradu. Suara bercampur tapi tanpa
obrolan darinya. Aku jadi ragu, harus tetap di sini atau kembali ke kamarku.
Aku bersandar ke pintu. Masih terngiang di kepalaku
kata-katanya tadi: Di sini aja. Jadi akhirnya aku memutuskan tetap tinggal.
“Kalau kamu nyuruh aku di sini, ngobrol dong. Katanya kita mau
ngomongin hal-hal remeh.”
Aku mengingatkan janji di ulang tahunku kemarin. Dia menjawab
datar dari dapur.
“Tadi katanya nonton film. Film apa?”
“Film yang aku yakin kamu nggak bakal tonton.”
“Seru?”
“Biasa aja. Maika juga bilang agak zonk.”
“Oh gitu.”
Jawaban singkatnya bikin aku kesal. Kan dia sendiri yang minta
kita ngobrol santai, harusnya dia lebih perhatian. Kalau cuma dijawab dingin
gitu, aku mending nggak usah cerita.
“Aku balik kamar aja deh.”
Kulempar kata itu ke punggungnya sambil menghentak ujung kaki
ke lantai.
“Maaf. Kalau lagi cuci piring, suara airnya nutupin suara
kamu. Aku bentar lagi kok selesai. Duduk dulu aja, ya?”
Dia buru-buru menjelaskan. Tapi aku nggak menjawab. Beberapa
saat kemudian, dia menoleh dan bilang, “Lima menit aja.”
“Yaudah, lima menit,” kataku.
Aku akhirnya duduk, tanpa repot ngitung waktunya. Aku tahu
kalau lewat lima menit, dia pasti bakal nambah waktu lagi.
“Eh, Sendai-san, kamu suka puding nggak?” tanyaku setelah
beberapa saat.
“Nanti aku makan.”
“Bukan itu maksudku. Kamu suka atau enggak?”
Aku yakin dia nggak benci, soalnya pernah makan bareng
sebelumnya.
“Kamu sendiri gimana?” Dia balik tanya.
“Mana mungkin aku beli makanan yang aku benci.”
“Kalau gitu, aku juga suka.”
Dia tersenyum manis.
Tapi senyumnya itu malah bikin aku kesal. Seolah-olah semua
sikap dinginnya tadi dilupakan begitu saja hanya dengan satu senyuman.
Aku berdiri, menggenggam lengannya dengan tangan kiri. Dengan
ibu jari tangan kanan, aku menyentuh bibirnya.
“Miyagi,” panggilnya.
“Kalau mau gigit, jangan bibir ya,” katanya pelan.
“Aku kan nggak bilang mau gigit.”
“Tapi wajah kamu keliatan kayak mau gigit. Kalau mau, gigit
aja bagian lain. Nggak apa-apa kalau ninggalin bekas dikit.”
Begitu bilang begitu, Sendai-san menggenggam tanganku.
Kata “bekas” langsung bikin aku ingat kejadian sebelum ulang
tahunnya.
Waktu dia pulang dalam keadaan basah kuyup, aku ninggalin
bekas di tubuhnya.
Terus aku bilang, kalau bekasnya hilang kasih tahu aku. Tapi
sampai sekarang dia nggak pernah ngabarin apa-apa. Ya, sebenarnya itu bukan
janji juga sih, jadi dia nggak wajib laporan. Tapi tetep aja, sikap cueknya itu
bikin aku sebel, dan aku jadi pengen ngecek sendiri.
Tapi nggak boleh.
Nggak boleh ngecek, nggak boleh ninggalin bekas baru.
Itu jelas udah kelewatan batas seorang roommate. Kalau aku
terus ngulangin hal itu, mungkin aja Sendai-san bakal nuntut aku ngasih nama
baru buat hubungan ini.
"Aku nggak bakal ngapa-ngapain, jadi lepasin, ya"
Memang aku kepikiran buat gigit dia, dan kata “bekas” itu
bikin aku agak goyah, tapi aku nggak mau lakuin persis kayak yang dia bilang.
Aku akhirnya melepaskan lengannya.
"Beneran nggak ngapa-ngapain?"
"Nggak"
Aku menatap matanya dan jawab dengan tegas.
Tapi dia malah nggak ngelepas tanganku. Sebaliknya, Sendai-san
malah mendekat dan ngecup bibirku.
Ringan, cuma sekilas, terus dia menjauh lagi.
Abis itu nyium lagi, dan aku pun reflek ngegigit bibirnya
pelan.
"Sakit"
Begitu aku lepas, dia ngomong dengan nada lebay sambil
ngeliatin aku.
"Nggak kugigit sampe sakit kok"
"Tetep sakit"
Aku mendekat ke lehernya dan kali ini bener-bener gigit agak
keras, sampai bisa ninggalin bekas.
Hari ini pun aku penuh kontradiksi.
Kalau sama Sendai-san, aku nggak bisa jadi diriku yang
biasanya.
"Miyagi. Itu beneran sakit, tau"
Aku nggak jawab, malah makin nancepin gigitan. Dia langsung
nyekel lenganku erat-erat. Gigi nancep di kulit lembut lehernya, bibirku
nempel, dan panas tubuhnya kerasa jelas. Semakin aku nambahin tekanan,
genggamannya di lenganku makin kuat juga.
Waktu aku akhirnya ngelepas, dia masih belum melepaskan
tanganku.
"Aku nggak pernah bilang boleh gigit segitunya"
"Kan yang bilang boleh ninggalin bekas itu Sendai-san
sendiri"
"Tapi kan ada batasnya juga"
"Kalau ada batas, dari awal bilang aja"
Sendai-san ngeluarin napas kecil, akhirnya ngelepas lenganku,
dan tangannya naik ke lehernya sendiri.
Jarinya ngeraba bekas gigitan itu pelan-pelan, bolak-balik
berkali-kali.
Aku jadi pengen ngegigit lagi, tapi sebelum sempet, dia mulai
ngomong.
"Miyagi, libur musim panas udah tinggal dikit. Kamu
seneng nggak sejauh ini?"
"Kok tiba-tiba?"
"Ingat nggak, dulu aku bilang kalau ada hal yang
nyenengin, kasih tau aku"
Aku masih inget percakapan itu, di jalan pulang dari akuarium.
Aku menarik napas panjang, terus jawab sambil menepati janji
lama itu.
"... Lumayanlah, cukup nyenengin"
Liburan musim panas tahun ini beda banget dari biasanya.
Biasanya, libur panjang itu aku selalu sendirian. Tapi tahun
ini, karena ada Sendai-san, aku jarang sendirian. Tahun lalu aku juga ketemu
dia, tapi cuma tiga kali seminggu. Nggak kayak sekarang, tinggal bareng.
Aku nggak bisa bayangin roommate selain dia. Dan ternyata,
libur panjang yang diisi bareng orang lain itu nggak buruk juga.
"Kalau gitu, Miyagi. Mulai sekarang kita bikin acara
sleepover"
Sendai-san tiba-tiba bilang dengan senyum cerah. Aku sama sekali nggak ngerti gimana dia bisa nyambung dari “seneng” ke “sleepover”. Lagian, buat apa coba? Kita kan udah tinggal bareng.
"Kita udah satu rumah, loh"
"Iya, tapi kan nggak tidur sekamar"
"Ya sih, tapi—"
"Ini kayak penutup liburan musim panas. Kita ngobrol
hal-hal konyol biar makin deket. Di kamar kamu"
"Kenapa di kamarku?"
Aku melotot ke arah dia yang wajahnya keliatan santai banget.
Sejak ulang tahunnya, dia memang udah beberapa kali masuk ke
kamarku. Tapi kalau alasan sleepover? Rasanya beda.
"Kan kamu udah pernah nginep di kamarku. Jadi sekarang
gantian"
"Nggak mau"
"Ayolah, seru-seruan dikit"
"Aku yakin kamu ada niat aneh"
"Aku udah bilang kan, aku bakal nunggu. Nggak bakal lebih
dari ciuman sampai kamu sendiri yang bilang oke"
"Aku nggak percaya"
"Aku sumpah demi tindikan ini"
Dia tiba-tiba nyentuh tindik di telingaku, lalu nyium tepat di
atasnya.
"Aku bakal nunggu sampe kamu bilang iya"
Aku tahu dia bakal nepatin sumpah itu. Tapi tetep aja, aku
ragu apa aku bisa sepenuhnya percaya sama “naluri” Sendai-san.
"Kalau kamu khawatir banget, ya udah kita begadang
aja"
"... Jadi, kamu tadinya emang mau tidur di kasurku?"
"Kamu juga tidur di kasurku waktu itu"
"Sempit, tahu. Kalau mau nginep, bawa futonmu
sendiri"
"Ribet. Mending sekalian tidur bareng. Kalau nggak mau
tidur ya gampang, kita melek aja. Jadi udah diputusin, ya"
Dia langsung menepuk tangannya, seolah ngebahas udah kelar.
Aku melirik pintu kamarku.
Sekarang aku masih belum ngantuk.
Sekali dua kali begadang sih nggak masalah.
Jadi aku pun setuju.
---
Malam itu, Sendai-san datang ke kamarku, dan kami makan bareng
puding yang katanya enak banget.
"Ini kamu pilih bareng Utsunomiya?"
Dia nanya sambil ngeliatin wadah puding imut-imut yang jauh
lebih fancy dari versi minimarket.
"Aku yang pilih"
Padahal aku beli bareng Maika, tapi yang milih puding ini
memang aku, bukan dia.
"Rasanya rich banget, enak"
"Syukurlah"
Puding itu memang terasa creamy dan kental, tapi teksturnya
halus banget. Sampai aku ngerasa bisa makan dua sekaligus.
Dan bisa sama-sama bilang “enak” itu bikin aku seneng.
Aku nanya sambil nyendok lagi.
"Yang spesial kayak gini oke, tapi yang dijual di
minimarket juga aku suka"
"Dua-duanya enak sih"
"Dua-duanya"
Jawabannya singkat, terus dia balas menatap aku sambil nyendok
pelan.
"Ini Utsunomiya yang beli?"
"Nggak. Dia nggak beli"
"Oh gitu"
Dia lanjut makan tenang-tenang, dan kami menghabiskan puding
itu sampai wadahnya kosong.
Habis itu, kami gantian mandi, lalu balik kumpul di kamarku.
Sekarang Sendai-san udah nggak lagi datar kayak tadi di ruang
tengah, juga bukan yang diam-diam ngeraba bekas gigitan di lehernya.
Di meja, ada tablet yang sengaja dia bawa dari kamarnya. Dan
mungkin efek dari puding enak tadi, suasananya jadi lebih ringan, kayak
kejadian barusan itu cuma mimpi.
Tapi anehnya, dia nggak buru-buru pake tabletnya. Dia malah
santai minum teh di sampingku.
"Eh, sleepover itu bukannya nonton film bareng?"
Aku nanya sambil liat dia yang cuma pakai T-shirt buat tidur.
Dia naruh cangkirnya, terus menatapku.
"Film itu opsional. Kalau kamu mau begadang, baru kita
nonton."
"Ya udah, aku mau begadang. Jadi ayo nonton"
"Kan tadi kamu udah nonton film sama Utsunomiya. Nanti
aja lah"
"Nggak. Sekarang"
Aku buru-buru mau ngambil tabletnya, tapi dia langsung nyambar
duluan.
"Filmnya nanti. Kalau udah kehabisan bahan ngobrol. Kan
aku bilang, kita ngobrol hal-hal konyol dulu biar makin deket"
Dia senyum cerah, terus naruh tabletnya di atas kasur.
"Tapi aku nggak ada bahan ngobrol"
"Roti bakar sama mentega plus selai"
"Lumayan"
"Mending bahas yang lain atau langsung nonton aja"
Tapi dia malah tiba-tiba bilang dengan suara ceria:
Aku bengong, nggak nyangka.
Aku refleks keluarin batu. Dia keluarin kertas. Terus ketawa
puas.
"Aku menang. Jadi filmnya nanti"
Dan begitu aja, kami mulai ngobrol random hal-hal konyol
sesuai maunya Sendai-san.
"Nggak"
Kalau aku nggak kerja part-time, bukan berarti aku bakal
dipaksa balik ke rumah kosong itu. Selama nggak ada kemungkinan kayak gitu, aku
juga nggak kepikiran buat kerja. Lagi pula, ayahku udah ngasih cukup bekal
supaya aku bisa jalani kuliah tanpa perlu part-time.
“Eh, kemarin aku sempat bilang ya, aku mau nambah shift
part-time pas libur musim dingin. Itu… gimana kalau kita barengan aja, Miyagi?”
“Sendiri aja, Sendai-san.”
Aku nggak bisa nerima kalau dia kerja part-time.
Aku nggak mau dia pergi ke tempat yang aku nggak tahu, atau
ketemu orang yang aku nggak kenal. Tapi itu bukan berarti aku mau kerja bareng
dia.
“Kan kamu nggak pulang kampung. Jadi libur panjang juga bakal
punya banyak waktu, kan?”
“Walaupun ada waktu, aku tetap nggak bakal kerja part-time.”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak cocok.”
Kalau aku kerja bareng Sendai-san yang selalu bisa ngelakuin
apa aja, aku pasti bakal dibanding-bandingin. Aku bukan orang yang serba bisa
kayak dia, apalagi pinter cari akal.
Kalau kami kerja di tempat yang sama, pasti aku cuma keliatan
jelek di depan dia.
Bukan berarti aku pengen keliatan keren juga sih, tapi aku
juga nggak ada alasan buat sengaja nunjukin sisi payahku. Lagi pula, kalau ada
orang lain di sekitar, aku sering bingung harus bersikap gimana sama
Sendai-san. Jadi ya jelas, kerja bareng dia itu mustahil.
“Setelah lulus kuliah kamu juga bakal kerja kan? Anggap aja
part-time itu latihan dulu.”
“Kalau pun latihan, aku tetap nggak mau bareng Sendai-san.”
“……Terus, kalau sama Utsunomiya kamu mau?”
Nada suaranya jadi lebih rendah.
Suasana enak gara-gara pudding tadi langsung hilang, dan
Sendai-san balik lagi ke nada datarnya.
“Maika nggak ada hubungannya di sini.”
“Kalau mau kerja part-time, ya sama aku.”
“Aku bilang nggak. Aku nggak bakal kerja part-time sama kamu,
dan aku juga nggak bakal kerja part-time sama sekali.”
Sebenarnya, lebih baik kalau Sendai-san aja yang berhenti
kerja.
Daripada nyuruh aku part-time, lebih cepat kalau dia aja yang
berhenti. Nggak usah nambah shift, bahkan berhenti jadi guru les privat juga
nggak apa-apa, terus santai aja di rumah.
Tapi jelas, dia nggak bakal mikir kayak gitu. Dia cuma buang
napas kesal, terus memalingkan badan ke arahku.
“Aku ulang sekali lagi ya. Libur musim dingin nanti, ayo kita
kerja part-time bareng. Aku yang bakal cariin tempatnya.”
“Udah aku bilang, aku nggak bakal kerja bareng kamu.”
Kalau dia nekat nyariin kerja buat aku, itu malah bikin
masalah. Jadi aku harus tegas nolak.
Mau dia bilang berkali-kali pun, aku nggak bakal berubah
pikiran.
“Beneran nggak mau?”
“Beneran.”
“…Miyagi.”
Dia nyebut namaku dengan suara pelan.
Aku diam, tapi tiba-tiba dia naro tangan di pundakku.
“Miyagi, kamu harusnya mikirin aku sedikit lebih banyak, tau.”
“……Aku udah beliin pudding, kan?”
“Bukan itu maksudku. —Aku bilang aku bisa sakit hati, loh.”
Tangannya di pundakku mulai ngasih tekanan, pelan-pelan tapi
pasti. Aku hampir terdorong rebah, sampai buru-buru aku dorong balik bahunya
biar ada jarak.
“Sakit hati? Maksudnya kenapa?”
“Kalau kamu nggak ngerti ya udah.”
Abis bilang gitu, Sendai-san langsung nyium aku kayak itu hal
paling biasa di dunia.
Bibirmu ditekan kuat, tangannya melingkar ke punggungku.
Lewat kaos tipis ini, jari-jarinya nyusuri tulang belikatku
terus turun makin ke bawah. Pas bajuku agak tersingkap, aku dorong tubuhnya
menjauh. Tapi dia lagi-lagi nyium, kali ini lebih dalam.
Lidahnya berusaha masuk, aku lawan dengan gigi, nyoba usir
dia. Tapi dia tetap nggak mau lepas. Lidah yang jelas bukan milikku, nekat mau
bersatu sama aku.
Tangan itu menyusuri tulang punggungku, lalu bergerak naik.
Aku yang sudah teralihkan oleh lidahnya—yang entah sejak kapan
jadi terasa begitu akrab—baru sadar kalau kaitan bra-ku sudah terbuka. Aku
langsung mendorong tubuh Sendai-san kuat-kuat, mengusir tangannya yang sudah
masuk ke dalam T-shirt.
“Suasananya bukan buat kayak gini.”
Ciuman masih oke lah, tapi jelas tadi bukan momen buat
ngelepasin pakaian dalam.
Dan lagi, ini bukan sesuai janji.
“Lagian, kamu sendiri yang bilang bakal nunggu sampai aku
bilang ‘iya’, kan?”
Itu bukan janji yang aku paksa.
Sendai-san sendiri yang ngucapin, bahkan sebelum datang ke
kamar ini dia janji di depan antingnya sendiri.
“Aku ngajakin nginep bareng bukan buat hal kayak gini… ini
salahnya Miyagi juga.”
“Aku nggak salah apa-apa. Dan kalaupun aku salah, kamu tetep
harus tepati janji.”
“Aku bakal tepati janji. Tapi kalau Miyagi bilang ‘iya’, aku
nggak perlu nunggu lagi, kan?”
Sendai-san ngomong seakan itu hal yang wajar. Dia coba masukin
tangannya lagi ke bajuku, jadi aku buru-buru dorong pundaknya.
Ini kebalik.
Harusnya dia tanya dulu, boleh atau nggak, sebelum ngelakuin
apa pun.
“Miyagi, kalau nggak mau ya bilang ‘nggak’. Kalau gitu, aku
berhenti.”
“……Nggak.”
“Kenapa?”
“Udah pernah aku bilang.”
“Soal takut nggak ngerti apa-apa lagi, kalau ngelakuin itu?”
Itu memang kalimat yang pernah aku ucapin, tapi dengar dari
mulutnya bikin aku malu setengah mati. Rasanya pengen ngapus masa laluku yang
nyebutin hal itu.
“Miyagi.”
Aku diam, lalu dia elus pipiku. Aku akhirnya cuma bisa jawab
pelan,
“Iya.”
“Kalau pun nanti nggak ngerti lagi, ya udah lah. Besok juga
libur, jadi santai aja, biarin diri kamu kebawa.”
Tangannya turun dari pipi ke leher, lalu jari-jarinya sentuh
tulang selangkaku. Aku buru-buru pegang tangannya.
“Sendai-san, kamu udah pernah bilang hal mirip kayak gini.
Tapi aku beneran nggak bisa.”
Aku lepasin tangannya dari tubuhku, dorong balik ke arahnya.
“Kalau gitu, aku bakal lakuin secukupnya aja. Nggak sampai
bikin kamu bingung.”
Suara itu terdengar di telingaku, lalu bibirnya nempel di
leherku.
Dihisap pelan, digigit ringan. Bukan sakit, tapi geli sampai
aku kehilangan tenaga sebentar.
Tau-tau punggungku udah nempel ke lantai.
“Sendai-san!”
Aku manggil dia keras, tapi bibirku ditutup lagi.
Tangannya masuk dengan mulus ke dalam T-shirt.
Dari perut, pelan-pelan naik ke atas. Bra yang udah kebuka
langsung digeser tanpa ragu. Aku gigit bibirnya, jadi dia sempat mundur
sedikit, tapi tangannya tetap nutupin dadaku.
Aku terpaksa menarik napas tajam.
Tapi selain itu, dia nggak gerak lagi.
Tangannya diam, cuma ngasih rasa hangat. Kalau terus begini, aku mungkin masih bisa tenang. Tapi kalau dilanjutin…
“Aku belum bilang ‘iya’.”
Aku genggam tangannya di atas T-shirt.
“Kamu nggak mau, kan?”
“Kalau udah ngerti, geser dong tanganmu.”
“Aku pengen hargain perasaanmu, Miyagi. Dari dulu juga aku
berusaha gitu.”
“…Sekarang nggak, kan?”
“Sekarang juga aku masih pengen hargain. Jadi, coba deh bikin
alasan yang lebih kuat dari sekadar ‘takut bingung’. Alasan yang bener-bener
bisa bikin aku berhenti. Alasan yang bikin aku nggak bisa ngapa-ngapain lagi.”
Dia ngomong dengan nada yang kedengerannya logis, padahal
jelas nggak.
“Kalau gitu, kamu jawab dulu. Kenapa sih kamu pengen ngelakuin
ini?”
Dia menatapku lama.
Tangannya yang kugenggam malah turun sendiri, jadi aku tekan
tangannya di atas perutku biar nggak ke mana-mana.
“…Aku boleh jawab?”
Kali ini nadanya ragu, nggak percaya diri.
Dia menunduk, suasana kamar jadi berat. Jantungku berdetak
nggak karuan, kayak kaca jendela yang dihantam hujan. Nafas jadi sesak, padahal
udah jelas udara di sini nggak kurang.
Saat dia mau buka mulut, aku potong cepat.
“Nggak usah jawab.”
“Tapi Miyagi yang nanya.”
“Iya, tapi nggak usah jawab.”
“Kalau gitu, aku diem aja. …Tapi kamu tetap harus bilang
kenapa kamu nggak mau.”
Dia akhirnya tarik keluar tangannya dari T-shirt.
Keheningan langsung turun di antara kami.
Sunyi itu bikin risih.
Aku pengen balik ke waktu pas kita masih makan pudding bareng tadi. Tapi aku nggak bisa. Yang harus kupikirin sekarang adalah alasan buat berhentiin Sendai-san. Tapi otakku kayak jam kehabisan baterai—jarum detik berhenti, waktu nggak jalan.
Aku refleks nyentuh bagian lehernya, tempat bekas tanda yang
dulu pernah kutinggalkan dan sekarang mungkin sudah hilang.
Dia janji bakal nunggu sampai aku bilang ‘iya’.
Janji itu masih belum dilanggar. Baru hampir, tapi belum.
Kalau aku bisa kasih alasan yang cukup kuat, janji itu bakal
tetap terjaga. Tapi aku nggak punya. Bikin alasan juga bukan hal gampang.
“Miyagi, alasannya apa?”
Suara tenangnya bikin aku mau nggak mau buka mulut.
“…Kamu sendiri pernah bilang kan, ciuman itu nggak butuh
alasan. Jadi, nolak juga nggak perlu alasan.”
Aku tahu itu bukan jawaban yang bisa bikin dia mundur.
“Kalau alasannya cuma gitu, aku tetap bisa lanjut.”
Tangannya kembali mengusap lenganku.
Lembut, pelan.
“Serius kamu mau terus?”
Suara itu lembut, tapi dia nggak nunggu jawabanku. Bibirnya
nempel lagi di leherku. Ciuman ringan berulang-ulang, lalu tangannya kembali
masuk ke T-shirt dari bawah.
Ujung jarinya menyusuri pinggangku.
Leherku digigit manja.
Ini salah.
Aku tahu harus berhenti. Tapi sentuhan tangannya dan bibirnya
bikin kepalaku nggak bisa mikir.
Tangannya naik, akhirnya berhenti di dadaku.
Aku hampir mau narik dia biar mukanya nggak kelihatan.
Kamar ini terlalu terang.
Semua sisi diriku keliatan jelas.
Tangannya mulai bergerak pelan, ngeraba garis bentuk tubuhku,
sampai berhenti di tengah. Aku refleks pegang tangannya lagi. Tapi genggamanku
justru bikin tangannya makin nempel erat, bikin wajahku panas.
Aku palingin pandangan.
“Berhenti…”
Aku nggak sanggup lihat wajahnya sekarang.
“Kenapa?”
Aku nggak bisa jawab.
Dia gigit telingaku, bikin aku kehilangan tenaga.
“Kalau nggak bisa ngomong, biarin aja.”
Bisikan di telingaku bikin tubuhku lemes.
Tangannya lepas dari genggamanku, terus bebas bergerak lagi.
Rasanya kayak dialiri listrik. Aku gigit bibir, menahan suara.
“Enak, kan?”
Aku pengen bilang ‘nggak’, tapi lidahku nggak bisa gerak.
Takut keluar suara yang lain.
“Jawab aku, Miyagi.”
Sentuhannya dan suaranya campur aduk di kepalaku.
Aku tahu ini nggak boleh. Tapi hangat tubuhnya bikin aku
pengen deket terus.
Aku berusaha ngumpulin sisa logika. Aku genggam lagi
tangannya. Tatap matanya, dan akhirnya bisa keluar suara kecil:
“…Aku nggak mau.”
“Kalau nggak mau, kasih aku alasan.”
Tatapannya lurus, bikin aku kaku.
“Karena terang. Semua kelihatan jelas.”
Aku melotot, geser tangannya keluar dari T-shirt.
“Tapi aku pengen lihat kamu, Miyagi.”
“Dan aku nggak mau dilihat.”
“Hanya itu alasannya?”
Dia tahu itu alasan yang lemah.
Aku diam. Dia malah pegang tanganku.
“Kalau malu dilihat, tutup aja mataku.”
Dia taruh tanganku di matanya, lalu bilang, “Nah, sekarang aku
nggak bisa lihat.”
“Bukan begitu maksudku.”
Aku tarik tanganku, tapi genggamannya kuat.
“Kalau gitu, kamu cuma nggak mau jadi satu-satunya yang
disentuh? Kalau gitu, Miyagi juga boleh nyentuh aku.”
Tanganku dipaksa diletakkan di atas dadanya.
Dari balik kaos tipis itu, aku bisa merasakan hangat tubuhnya.
Tapi lewat kain aja rasanya nggak cukup.
Aku pengen menyentuh lebih jauh.
Kayak waktu itu… waktu aku sendiri yang berani menyentuh
Sendai.
Bukan.
Ini cuma Sendai yang berusaha ngealihin aku.
Bukan soal “nggak mau kalau aku doang yang disentuh” kayak
yang dia bilang.
Tadi kita bicara hal lain, tapi gara-gara ulah Sendai, aku
malah pengen terus nyentuh dia.
“Sekarang kondisinya sama, kan?”
“Enggak sama.”
“Kalau kamu pengen langsung nyentuh, yaudah. Aku juga bakal nyentuh kamu.”
Tanganku digiring masuk ke balik kaosnya, dan aku hampir aja
kebawa arus.
Tanganku ditempatkan tepat di bawah dadanya. Rasanya hangat,
nyaman, bikin rasionalitasku nggak sempat nyusul.
Tanganku meraba pelan punggungnya, naik sedikit, lalu
menyentuh kaitan bra.
“Boleh kok dibuka,” katanya ringan.
Jantungku rasanya berdentum dua kali lebih keras.
Aku membuka kait itu, lalu menyentuhnya langsung.
Sekilas, aku inget kejadian dulu.
Waktu itu aku malah nyesel matiin lampu.
Karena aku pengen lihat wajah Sendai. Pengen tahu ekspresinya.
Sekarang aku bisa lihat.
Kupanggil namanya, “Sendai,” dan dia menatap balik.
Pipinya merah, bibirnya sedikit terbuka, dan dari sana keluar
lirih suaraku: “Miyagi.”
Tangannya balas menyentuhku.
Jemarinya pelan menelusuri dadaku, seakan menghafal bentuknya.
Hangat. Melekat. Nggak mau lepas.
Tubuhku terasa jauh lebih panas, sampai napasku terlepas.
Aku merangkul punggungnya, menariknya lebih dekat.
Lalu leherku disentuh bibirnya. Lidahnya.
Sisa-sisa akal sehatku berteriak. Aku yang barusan narik dia, tapi aku juga yang harus berhentiin dia.
Tapi panas tubuhnya terus mengalir masuk, bikin aku nggak bisa
mikir.
Tangannya menjelajah, bikin emosiku kebawa arus.
Dalam kepingan-kepingan rasionalitasku yang runtuh, aku hampir
melihat sesuatu yang seharusnya nggak kulihat.
Sesuatu yang ada jauh di dalam hati.
Sesuatu yang bikin Sendai jadi “istimewa.”
Sesuatu yang seharusnya dikubur rapat-rapat, nggak boleh
tumbuh.
Itu pasti rapuh. Mudah hancur.
Sesuatu yang aku nggak seharusnya tahu.
Kalau sampai lulus kuliah aku masih tinggal bareng dia, yang
cukup buat kita hanyalah status roommate.
“Cuma hari ini aja?” aku bertanya sambil tangannya meluncur ke
pinggangku.
“Maksudmu?”
“Hal-hal kayak gini… cuma hari ini aja?”
“Aku pengen ngelakuin ini berkali-kali ke depannya.”
Nada suaranya lembut. Aku langsung menggenggam tangannya dan
menekannya ke tulang pinggangku.
“Itu udah nggak bisa disebut roommate lagi.”
Tapi dia tetap nggak melepas tangannya.
Kalau kayak gini kejadian terus-menerus, aku takut…
Aku takut nggak bisa lepas dari Sendai.
Kalau aku nempel terus sama dia, suatu saat pasti bakal sakit
banget kalau dipisahin.
Dan aku ragu bisa bertahan dari sakit itu.
“…Miyagi, kamu beneran nggak mau jadi lebih dari roommate?”
Sendai pengen berubah.
Pengen jadi sesuatu yang lebih.
Sementara aku masih belum bisa. Aku nggak bisa secepat dia.
“…Tetaplah jadi roommate dulu.”
Aku baru aja mulai terbiasa sama status itu.
Aku nggak bisa tiba-tiba digeser ke hubungan lain.
Aku jalannya lambat. Kadang berhenti, kadang mundur, dan cuma
bisa melangkah sepelan mungkin.
Kalau dia terlalu cepat, aku bisa-bisa nyerah ngejarnya.
Jadi tolong… biar aku bisa nyusul, jangan buru-buru.
Aku nggak mau Sendai pergi jauh.
Aku butuh dia tetap jadi roommate, sesuatu yang nggak bisa
diganti orang lain.
“Sendai…”
Aku menarik bajunya.
Dia menghela napas kecil.
“Baiklah. Untuk sekarang, jadi roommate aja. Aku berhenti
kok.”
Sendai melepaskan tangannya dariku, lalu menatap.
“Jadi, Miyagi… puji aku, dong.”
Suaranya goyah, bikin aku mengulurkan tangan, menyentuh
rambutnya, mengusap lembut.
“…Makasih.”
Mungkin itu bukan kata yang dia harapkan, tapi aku nggak punya
kata lain.
Aku menyisir rambut panjangnya yang terurai, menatapnya
dalam-dalam.
“Hmm… bukan kayak pujian, sih. Tapi ya sudahlah.”
Sendai tersenyum tipis, lalu duduk dan merapikan bajunya.
Aku berbalik, menutup kait bra-ku sendiri.
“Aku balik ke kamarku aja, ya.”
Aku langsung menoleh.
“Kan kamu sendiri yang bilang ini acara nginep bareng.”
Aku keceplosan, tapi dia malah senyum pahit.
“…Miyagi, hobi kamu itu ngetes kesabaran aku, ya?”
“Bukan gitu. Kamu sendiri yang janji sama antingmu. Kamu juga
yang ngajak acara nginep ini, Sendai.”
Aku tahu ini egois.
Tapi aku pengen dia tetap di sini.
Kalau dia pergi sekarang, rasanya aku takut dia nggak bakal
balik lagi.
“Sendai…”
Aku narik kaosnya. Dia tetap melangkah. Aku narik lebih kuat
sampai kainnya ketarik dan dia jatuh duduk.
“Miyagi. Aku nggak bohong waktu bilang aku bisa nunggu. Tapi
aku rasa aku nggak bisa nunggu selamanya. Tadi aja aku udah sadar aku hampir
nggak bisa nahan.”
“Jangan nyerah, dong.”
“Hari ini aku bakal tidur manis. Jadi santai aja.”
“Tidur? Bukannya kamu masih melek?”
“Udah, aku mau tidur. Kamu aja kalau mau begadang.”
Dia ngelepas tanganku dari bajunya, lalu tanpa izin rebahan di
kasurku.
“Itu tempat tidurku, Sendai.”
“Masa kamu nyuruh aku tidur di lantai padahal kamu yang nahan
aku
barusan?”
Dia senyum, lalu nyodorin tabletku. Aku terima, lalu taruh di
meja.
Begitu aku tarik napas panjang, lampu kamarku udah dipadamkan.
“Kamu masih bangun, Miyagi?”
“Tidur.”
Aku mendorongnya ke sisi dinding, lalu membelakangi dia di
kasur.
Baru aja mataku merem, dia langsung memelukku dari belakang.
Tubuhku nempel rapat sama tubuhnya. Aku bisa ngerasain napasnya, dadanya yang
lembut.
Rasanya nyaman sekaligus bikin resah.
Aku pengen protes, tapi sebelum sempat, dia berbisik.
“Tadi aku udah nahan diri, jadi anggap aja ini hadiah kecil
buat aku, oke?”
Sendai yang maksa, tapi juga lembut, bikin aku nggak bisa
berkata apa-apa.
Aku nggak tahu masa depan kita bakal kayak gimana.
Aku cuma pengen sekarang ini bertahan selamanya.
Karena aku tahu, nggak ada yang bisa tetap sama selamanya.
Jadi untuk saat ini, aku pengen manja.
Aku pengen terus ngerasain hangat tubuhnya yang ada di
sampingku.
Aku menggenggam tangannya yang melingkari tubuhku.
Aku berdoa kecil dalam hati, lalu memejamkan mata.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.