Bab
5
Aku menghela napas pelan sambil duduk di kereta yang bergoyang
menuju rumah.
Hari ini Miyagi bilang dia ada janji sama temannya, jadi
sebelum aku berangkat kerja part-time, dia sudah keluar duluan.
Sebenarnya, aku nggak masalah kalau dia nggak ada di rumah.
Nggak masalah juga kalau dia punya janji dengan teman. Aku juga kalau diajak
teman, kadang pergi keluar. Atau kayak hari ini, ada shift kerja. Tapi… rasanya
nggak enak. Dan aku penasaran banget siapa temannya itu.
Siapa sih, sebenarnya?
Utsunomiya lagi pulang kampung dan belum balik. Aku tahu
Miyagi punya teman selain dia, tapi aku belum pernah dengar ada teman yang
cukup dekat sampai mau jalan bareng pas liburan musim panas.
Aku menoleh ke jendela.
Kalau saja tadi malam aku nggak dapat pesan “selamat ultah”
dari seseorang, mungkin aku bahkan lupa kalau hari ini hari ulang tahunku.
Ulang tahun bukan hal penting bagiku, nggak ada makna khusus dengan hari aku
dilahirkan. Aku juga nggak pernah mengharap Miyagi bakal merayakan ulang
tahunku. Bahkan aku yakin dia nggak ingat. Tapi… tahu kalau dia malah pergi
dengan teman yang bahkan aku nggak tahu siapa, rasanya bikin hati tambah
tenggelam.
Ulang tahun tuh beneran bukan hari yang enak.
Aku menarik napas panjang lalu turun dari kereta. Di bawah
cahaya lampu jalan aku melangkah menuju apartemen.
Hari ini cuacanya cerah banget, malam pun langitnya terang.
Bekas tanda yang Miyagi tinggalkan di dadaku waktu aku pulang
kehujanan dulu sudah hilang. Aku sempat ingin dia ninggalin tanda baru sebelum
pergi tadi siang, tapi nggak berani bilang. Kalau aku terlalu maksa, bisa-bisa
dia malah menjauh. Dan kalau itu terjadi pas hari ulang tahunku, aku pasti
tambah hancur.
Teman Miyagi yang aku nggak tahu siapa, dan tanda yang udah
hilang dari tubuhku.
Lebih baik sekarang jangan dipikirin terlalu jauh.
Miyagi bilang dia bakal pulang buat makan malam, jadi
seharusnya sekarang dia sudah di rumah. Aku bakal segera ketemu dia. Tapi…
kalau aku sampai nanya hal konyol kayak, “Teman yang kamu temui tadi siapa
sih?” pasti suasana jadi nggak enak.
Tetap saja, aku kesal. Dari semua hari, kenapa harus hari ini
dia pilih buat janji sama temannya? Aku tahu ini cuma kayak ngambek nggak
jelas, tapi rasanya pengin ngomel seratus kali ke dia.
Kalau saja aku bisa mengelus Mike-chan (kucing kompleks),
mungkin hatiku bakal lebih tenang. Tapi ya… hari begini justru Mike-chan nggak
nongol. Memang sih, kalau dipikir lagi, jam segini jarang banget dia kelihatan.
Aku naik tangga ke lantai tiga dan membuka pintu. Di depan
mataku, ada sepatu Miyagi.
Jadi dia beneran sudah pulang.
Aku melepas sepatu lalu menuju ruang bersama. Di sana, aku
lihat Miyagi mondar-mandir gelisah di dapur.
“Aku pulang. Lagi ngapain?”
Aku menyapanya sambil berhenti di depan kulkas.
“Selamat datang. Nggak ngapa-ngapain.”
“Kalau nggak ngapa-ngapain, kenapa ada di sini?”
Biasanya Miyagi nggak bakal ada di ruang bersama kalau nggak
ada keperluan. Dia juga nggak lagi masak, nggak lagi buka kulkas. Jadi aneh
banget lihat dia ada di sini tanpa alasan jelas.
“Bukan apa-apa, jadi Sendai-san ke kamar aja—”
Tiba-tiba bel berbunyi, memotong kata-katanya. Aku refleks
menoleh ke monitor interkom.
“Ada tamu.”
“Aku yang bukain, Sendai-san tunggu di kamar.”
“Nggak apa-apa, aku aja.”
“Enggak. Aku yang keluar. Kamu tunggu di kamar.”
Dengan wajah panik, Miyagi buru-buru mendekat dan mendorong
pundakku. Lalu dia malah membuka pintu kamarnya sendiri dan mendorongku masuk
ke sana.
“Eh? T-tunggu—”
Aku nggak siap sama sekali. Aku pikir “kamar” yang dia maksud
adalah kamarku. Tapi ternyata aku didorong masuk ke kamar Miyagi sendiri. Sama
sekali di luar dugaan.
“Duduk dan tunggu.”
“Duduk? Miyagi!”
Aku sempat protes, tapi dia langsung menutup pintu dengan
cepat dan keluar lagi.
“……Nggak terlalu kasar gitu?”
Padahal aku sudah lama pengin masuk ke kamar ini. Sudah lama
pengin tahu ada apa aja di dalamnya. Tapi sejak pindah ke sini, aku sama sekali
nggak pernah punya kesempatan. Kamar Miyagi selalu jadi ruang misteri.
Dan sekarang, akhirnya aku masuk. Tapi caranya… bener-bener
asal. Aku nggak minta perayaan khusus, tapi dilempar masuk gini rasanya salah
aja. Setelah sekian lama, aku pengin paling nggak siap mental dulu. Rasanya
bukan haru, tapi lebih kaget.
Tapi ya… mungkin emang beginilah kami.
Daripada dia tiba-tiba bilang resmi, “Silakan masuk ke
kamarku,” mungkin cara ini lebih pas buat hubungan kami.
Aku berkeliling sebentar, lalu berhenti di depan rak buku.
Kamarnya nggak banyak beda sama suasana waktu SMA, cuma rak
bukunya lebih kecil. Di atasnya ada boneka kucing hitam. Aku jadi ingat, waktu
pulang dari akuarium, Miyagi bilang boneka itu ikut pindahan bersamanya. Dan
sekarang aku bisa lihat langsung kalau itu benar. Rasanya senyumku hampir pecah
sendiri.
Aku mengambil si kucing hitam, lalu mengelus kepalanya.
Sudah lama banget aku nggak pegang, jadi aku nggak yakin
bulunya masih sama kayak dulu. Tapi rasanya lembut dan enak disentuh.
“Bagus ya.”
Aku bicara pada boneka yang kelihatan seperti disayang sama
Miyagi, si gadis liar macam kucing jalanan. Aku bahkan mencium hidung boneka
itu, lalu mengembalikannya ke tempat semula.
Tak lama, aku dengar pintu dibuka.
“Kenapa berdiri? Aku kan bilang duduk aja.”
“Maaf. Lagi lihat si kucing hitam.”
“Boneka nggak penting. Duduk sini.”
Miyagi menunjuk kursi di depan tempat tidurnya, lalu
meletakkan dua gelas jus jeruk di meja.
“Jus? Kalau makan malam gimana?”
Aku duduk sambil nanya.
“Hari ini makan di sini. Aku bawain sekarang.”
“Di sini?”
Aneh banget. Selama ini kamarnya nggak boleh aku masuki, tapi
sekarang malah ngajak makan bareng di sini. Rasanya kayak ada yang nggak beres.
“Kenapa? Nggak suka?”
Dia menatapku dengan wajah agak kesal.
“Bukan nggak suka sih.”
“Kalau gitu duduk manis.”
Nada suaranya dingin, bikin punggungku agak merinding. Situasi
aneh ini bikin aku makin gelisah. Jadi, sebelum dia keluar kamar, aku buru-buru
menahannya.
“Oh iya, Miyagi. Nanti mau makan kue kering nggak?”
“Kue kering?”
“Iya. Soalnya hari ini ulang tahunku, Kikyo-chan ngasih kado
kue bikinan sendiri.”
Hanamaki Kikyo.
Murid les privatku yang sudah cukup dekat sampai saling
panggil nama depan. Dia kasih kue buat ulang tahunku.
“……Aku nggak mau. Itu kan kado buat Sendai-san. Kamu makan aja
sendiri.”
Miyagi menjawab dengan suara rendah, lalu keluar kamar.
Tapi sebentar kemudian dia balik lagi, membawa pizza besar dan
nugget ayam, lalu duduk di depanku.
“Pizza ini… dari tadi yang bunyi bel itu?”
“Iya.”
“……Kenapa pizza?”
Aku langsung menanyakan hal yang melintas di kepalaku.
“Tadi kamu sendiri yang bilang.”
“Aku bilang apa?”
“Ulang tahun.”
“Ulang tahun?”
“Kan hari ini ulang tahunmu. Jadi aku pesen pizza.”
“Eh. ——Eh!?”
Kata-kata Miyagi benar-benar di luar dugaanku, aku sampai
nggak bisa jawab.
“……Selamat ulang tahun.”
Dia berbisik pelan, dan aku cuma bisa menjawab kaku.
“……Makasih.”
Suasana jadi hening. Kami akhirnya bersamaan menggumamkan
“itadakimasu” dan mulai makan pizza.
Tapi… kenapa?
Kenapa Miyagi repot-repot pesen pizza dan ngucapin selamat
ulang tahun buatku?
Aku nggak ngerti.
Padahal wajar aja kalau dia tahu tanggal lahirku, tapi tetap
aja aku nggak bisa percaya dia bakal bikin semacam kejutan gini. Rasanya aku
benar-benar nggak tahu harus berekspresi gimana. Aku senang, tapi malah nggak
bisa senyum.
Aku menggigit pizza penuh keju.
Enak.
“Ada kue juga, kok.”
Miyagi menambahkan sesuatu yang sama sekali nggak ada di
pikiranku.
Liburan musim panas kali ini, Miyagi bukan sekadar baik hati.
Dia kayak berubah total.
Aku sampai curiga, jangan-jangan dia minum obat khusus biar
jadi super manis sama aku.
“Kamu beli kue juga?”
Saking kagetnya, aku malah nanya hal obvious.
“Kan ulang tahun.”
“……Jadi, tadi kamu keluar itu buat beli kue?”
“……Iya.”
“Kenapa nggak bilang aja?”
“Emang nggak pengin bilang. Aku pengin pergi diam-diam. Tapi
kamu malah di rumah terus, kerja juga baru sore.”
Dia menjawab dengan nada agak menyalahkan, lalu menggigit
pizza.
“Terus, gimana dengan janji sama teman itu?”
“Itu cuma alasan biar gampang keluar. Aku pergi sendirian beli
kue.”
Aku akhirnya lega karena bukan ada teman misterius yang aku
nggak tahu.
“……Jadi kamu bikin alasan cuma buat beliin aku kue, ya?”
“……Kalau teman sekamar, wajar dong kalau minimal rayain ulang
tahun.”
“Ya sih, tapi aku tetap kaget.”
“Kita ini teman sekamar. Nggak ada yang aneh.”
“Kamu kok terlalu menekankan kata ‘teman sekamar’, sih?”
Aku tahu, bagi Miyagi kata roommate itu penting. Tapi kalau
dia terlalu sering menekankan itu, sisi diriku yang ingin melangkah lebih jauh
dari sekadar roommate rasanya bakal muncul ke permukaan.
“Sendai-san, berisik. Jangan ribut soal hal kecil, makan aja.”
Miyagi ngomong datar, lalu ambil sepotong pizza lagi dan
langsung lahap. Ekspresinya masih mirip bete, sama sekali nggak ada senyum.
Aku bukan penguin, jadi wajar kalau Miyagi nggak nganggap aku
lucu atau menarik. Tapi kalau dia beneran mau ngerayain ulang tahunku, aku
pengin lihat wajahnya yang lebih lembut, lebih bahagia sedikit aja.
“Aku makan kok. Tapi kalau bisa, aku pengin kamu kelihatan
lebih seneng dikit.”
Aku coba ngomong keinginanku. Miyagi langsung berkerut di
antara alisnya.
“Nggak bisa. Kalau bisa, aku udah lakuin dari tadi.”
“Ya… bener juga sih.”
Aku menatap Miyagi yang sama sekali nggak ramah. Di momen
kayak gini, kalau dia tiba-tiba nyengir manis dan bilang “selamat ulang tahun”
sambil tersenyum, malah terasa kayak bukan Miyagi. Jadi mungkin ekspresi
datarnya ini justru pas. Dia ingat ulang tahunku, bahkan repot-repot pesen
pizza sama beli kue. Nuntut lebih dari itu rasanya terlalu serakah.
Ulang tahun bakal datang lagi, tahun depan, tahun depannya
lagi. Masih banyak kesempatan buat disimpan.
Aku menggigit pizza sambil tetap memperhatikan Miyagi yang
nggak tersenyum itu.
“Makasih ya, Miyagi. Enak banget.”
Sekarang aku bisa ngerasain rasanya, beda banget sama beberapa
menit lalu yang masih kacau banget pikiranku.
Cuma karena Miyagi yang nyiapin, pizza delivery biasa ini
rasanya kayak makanan buatan chef terkenal.
“Menurutku biasa aja.”
“Enggak kok, enak banget.”
“Kalau gitu, makan yang banyak.”
Percakapan berhenti di situ, lalu kami makan dengan tenang.
Sepotong demi sepotong pizza habis, chicken nugget pun lenyap.
Aku nggak ngerti kenapa Miyagi yang selalu keliatan dingin tiba-tiba mau
ngerayain ulang tahunku, tapi rasanya seneng banget.
Waktu aku lagi menikmati setiap gigitan, Miyagi tiba-tiba
manggil,
“Sendai-san.”
“Aku ambil kue sama teh, tunggu bentar.”
Dia keluar kamar, ninggalin aku sendirian. Aku pun sempat
lihat-lihat sekeliling. Tempat tidurnya udah beda dari zaman SMA, begitu juga
selimutnya. Ada barang-barang baru, tapi ada juga yang ikut pindah bareng dia,
kayak cover tisu berbentuk buaya. Aneh, tapi bikin kamar ini jelas terasa kamar
Miyagi. Nyaman juga rasanya.
Kalau ke depannya aku bisa sering masuk sini, pasti seneng
banget. Tapi Miyagi selalu ngelakuin hal-hal yang nggak kebayang, jadi aku
nggak bisa prediksi. Hari ini aja aku nggak nyangka dia bakal rayain ulang
tahunku.
Aku meraih si buaya, temannya boneka kucing hitam itu. Aku
elus-elus kepalanya dengan tangan, sampai suara Miyagi terdengar dari luar.
“Sendai-san, buka pintunya.”
Aku buru-buru buka, Miyagi masuk bawa nampan. Di atas meja,
dia taruh kue dan teh.
“Ini… cheesecake ya?”
Di piringku ada potongan cheesecake dengan potongan rapi,
segitiga sempurna. Jelas ini bukan hasil dia potong dari whole cake.
“Iya. Sendai-san suka kan?”
Miyagi duduk di hadapanku, nada suaranya agak ragu. Aku
langsung jawab, “Iya.”
Kayaknya dia masih inget waktu aku pernah bawa pulang rare
cheesecake buat alasan celebrating selesai ujian. Dan dia ingat aku suka. Itu
aja udah bikin aku seneng banget.
Jujurnya, waktu itu aku beliin karena aku pikir Miyagi suka,
bukan karena aku ada preferensi khusus. Aku juga pernah beli shortcake,
strawberry tart, baked cheesecake… semuanya sama aja buatku. Tapi karena Miyagi
sekarang beliin rare cheesecake dengan keyakinan aku suka, tiba-tiba aja jadi
beneran favoritku.
“Boleh langsung makan?”
Aku ambil garpu dan nanya.
“Nggak usah nanya, makan aja.”
Suaranya datar. Aku jawab, “Itadakimasu,” lalu suap pertama.
Rasa asam lemon bercampur lembutnya cream cheese langsung
nyebar di mulut. Dasar cookies yang renyah pas banget sama krimnya yang nggak
terlalu manis.
“Enak. Makasih ya.”
Miyagi cuma mengerutkan kening, kayak bingung harus jawab apa.
Setelah aku habisin setengah, baru dia pelan-pelan bilang
“Itadakimasu” dan mulai makan juga.
Karena ini kue yang dia pilih khusus buatku, rasanya sayang
kalau buru-buru habisin. Rasanya pengin nyimpen selamanya, sebagai bukti kalau
Miyagi inget hal-hal kecil tentangku dan repot-repot pergi beli ini.
Aku pengin terus jadi bagian dari ingatan Miyagi, ngisi ruang
di kepalanya, sampai dia nggak bisa lepas dari pikiranku.
Aku pengin dia mikirin aku doang.
Aku pengin dia tau lebih banyak tentangku, sama kayak aku
pengin tau lebih banyak tentang dia.
“Miyagi, kamu sendiri kalau ulang tahun nggak makan whole cake
gitu? Yang bulat itu lho.”
Aku lempar pertanyaan ringan.
“Kurang suka kue bulat gitu.”
“Kenapa? Kan biasanya ulang tahun identik sama kue bulat.”
“Soalnya nggak ada kenangan bagus.”
Miyagi bilang pelan, lalu makan sepotong kue lagi.
Dia jarang banget cerita soal dirinya, apalagi tentang hal-hal
pribadi. Jadi aku nggak yakin dia bakal jelasin, tapi aku penasaran kenapa.
“Boleh aku tahu ceritanya?”
Aku tanya pelan-pelan. Dia sempat lihat aku, lalu tatapannya
jatuh ke kue. Garpunya berhenti.
Dia ragu. Aku hampir bilang “nggak apa-apa kalau nggak mau
cerita,” tapi akhirnya dia bicara.
“……waktu kecil, ayahku selalu beliin kue bulat tiap ulang
tahun. Tapi hampir selalu dia nggak bisa pulang karena kerja. Jadi akhirnya aku
makan sendirian.”
Dia berhenti sebentar, minum teh, lalu melanjutkan dengan
suara lirih.
“Kalau sendirian kan nggak mungkin habisin kue bulat besar
gitu. Jadi pasti ada sisa banyak di kulkas. Terus besoknya pas buka kulkas, kue
itu masih ada di dalam. …Lihat itu aja rasanya sepi banget. Makanya aku nggak
suka.”
Aku terdiam. Ingatan masa SMA muncul: entah sore, liburan
musim panas, atau musim dingin, aku nggak pernah ketemu keluarganya di rumah.
Miyagi selalu sendiri. Jadi wajar kalau sisa kue di kulkas pun bikin dia merasa
kesepian.
Tapi sekarang, nggak lagi.
“Nanti pas ulang tahunmu, aku yang bakal siapin whole cake
buat kita.”
“……apa itu? Mau ngeledek aku?”
Miyagi mendongak, wajahnya keliatan bete.
“Bukan. Maksudku, kita makan bareng. Berdua pasti bisa habisin
whole cake kecil kok.”
“……emangnya ulang tahunku nanti kamu pasti ada di rumah?”
Dia nanya kayak nggak percaya. Aku langsung jawab tegas:
“Ada dong. Pasti.”
“Kalau tiba-tiba ada urusan? Misalnya kerjaan part-time nggak
kelar, atau ada temen yang manggil?”
“Temanku kan Kikyo-chan masih SMP, mana mungkin aku ngajar
sampai tengah malam? Lagian, kalau pun ada yang ngajak, aku bakal pilih ulang
tahunmu dulu. Jadi, di hari itu kita makan whole cake bareng, oke?”
Aku senyum lebar ke arahnya. Tapi Miyagi cuma diam.
“Janji ya.”
Aku nggak mungkin nggak ada di rumah ini pas ulang tahun
Miyagi.
Masa depan itu memang nggak pasti, tapi janji yang satu ini
nggak akan pernah aku bohongin.
Makanya, waktu aku coba nyentuh anting di telinganya Miyagi
buat mengikat janji itu, dia malah refleks kaget dan buru-buru menghindar dari
tanganku.
"…Aku nggak mau janji, soalnya kalau nanti dilanggar aku
bakal benci."
Padahal anting itu kan semacam bukti janji, pengikat biar aku
nggak pernah ngelanggar.
Itu juga Miyagi sendiri yang dulu bikin aku janjiin.
Harusnya dia tahu aku nggak pernah bohong soal itu. Kita juga
udah sering banget janji ke satu sama lain. Aku pikir, pelan-pelan dia udah
percaya sama aku. Tapi sekarang malah kelihatan kayak takut banget buat bikin
janji sama aku.
Aku cuma bisa mandangin dia lama-lama.
Kalau sekarang aku biarin dia kabur gitu aja, aku pasti bakal
nyesel.
"Tenang aja. Aku nggak bakal ngelanggar, entah aku sumpah
sama anting atau nggak. Ulang tahunmu, aku pasti nemenin makan kue."
Ini janji yang kayaknya harus aku buat meskipun dia keberatan.
Janji yang nggak boleh aku hianatin, apa pun yang terjadi.
"…Beneran?"
Suaranya pelan banget, kedengerannya kayak dia sebenernya
pengen percaya.
"Beneran. Aku bakal cariin kue yang paling enak, terus
kita makan bareng, ya."
Aku nggak tahu gimana caranya biar dia percaya sepenuhnya,
tapi aku coba jawab sehalus mungkin. Terus aku nanya pelan, "Aku boleh
duduk di sebelahmu nggak?"
"Biasanya kamu nggak pernah nanya kayak gitu."
Dia ngomong sambil nunduk.
"Hari ini aku pikir lebih baik aku nanya dulu."
"Jangan tiba-tiba ngomong aneh gitu, bikin nggak
nyaman."
Nada suaranya agak rendah, tapi bukan berarti nolak. Jadi aku
duduk di sampingnya dan nyium pipinya.
Begitu aku sentuh, dia lagi-lagi gemeteran.
Aku nggak nyentuh telinganya, tapi bibirnya.
"Makasih buat hari ini. Aku seneng banget. Aku boleh cium
di sini juga?"
"Kenapa harus nanya?"
"Soalnya aku rasa lebih baik kalau nanya."
"Kalau ditanya gitu, jawabanku ya ‘nggak mau’."
Akhirnya, aku nggak ngomong apa-apa lagi dan langsung
nempelkin bibirku ke bibirnya.
Rasanya nggak selembut krim kue keju sih, tapi entah kenapa
tetap terasa selembut itu.
Tangan Miyagi nyangkut di bajuku.
Aku lepas sebentar, terus kasih kecupan ringan lagi.
Waktu aku mau nyium sekali lagi, sebelum bibir kami ketemu dia
malah ngomong duluan.
"Soal hadiah ulang tahun… aku nggak tahu kamu pengen apa.
Jadi aku mikir, sebagai gantinya aku bakal ngelakuin sesuatu yang kamu mau.
Ciuman barusan, itu udah cukup kan?"
"Eh? Tunggu, nggak bisa gitu dong. Nggak cukup."
Dia ngomong cepet banget, kayak buru-buru. Aku nengok dan
lihat pipinya agak merah. Kayaknya dia lagi malu.
"Kalau gitu, kamu maunya apa?"
Dia nggak kasih aku waktu mikir, malah langsung narik bajuku.
Tapi meski dia maksa, aku tetap nggak bisa mikir cepet.
Aku cuma bergumam "Hmm…" sambil pegang tangannya.
"Jadi, maksudmu apa pun yang aku minta bakal kamu
lakuin?"
"Asal bukan hal aneh."
"‘Aneh’ menurut standar Miyagi, atau standarku?"
"Kalau pakai standarmu, yang aneh malah jadi nggak aneh.
Jadi nggak bisa."
Dia ngomong nyolot gitu sambil nyeret tanganku makin kenceng.
Aku balas genggam erat, dan akhirnya tangannya jadi lemes.
Aku pun bilang apa yang udah kupikirin.
"Kalau gitu, tahun depan tolong rayain ulang tahunku
lagi."
"Cuma itu aja?"
"Iya. Tapi nggak cuma tahun depan. Tahun depannya lagi,
dan seterusnya. Aku mau kamu terus lakuin itu."
Kalau aku bisa dapet hadiah ulang tahun, yang paling aku mau
adalah masa depan yang sama kayak hari ini.
Satu hari aja tiap tahun.
Hari itu aku pengen nyimpen waktunya Miyagi buatku.
"Tapi kita kan cuma jadi roommate sampai lulus
kuliah."
"Ulang tahun itu kan bisa dirayain meski kita bukan
roommate."
"Ya sih… tapi yang bilang selamat ulang tahun ke kamu
pasti banyak. Kayaknya nggak harus aku."
"Aku pengennya justru kamu yang bilang."
Ucapan selamat ulang tahun dari siapa pun pasti bikin seneng.
Tapi kalau itu keluar dari Miyagi, rasanya beda. Itu yang
paling bikin aku bahagia.
"…Kalau kamu emang segitu pengennya, ya udah."
Dia ngomong pelan, sambil genggam tanganku lebih erat, kayak
lagi nekenin kalau itu udah jadi ‘janji’.
Manusia tuh kalau satu keinginannya dikabulin, pasti jadi
tambah rakus.
Aku pun nambah permintaan lagi.
"Terus… ceritain lebih banyak tentang kamu. Aku pengen
tahu lebih banyak soal Miyagi."
"Aku udah nurutin satu permintaanmu barusan, kan."
"Tapi tadi kamu nggak bilang kalau cuma boleh satu. Jadi
kamu harus nurutin juga yang ini."
"Kamu curang."
"Nggak apa-apa lah. Lagian gampang kan? Bukan hal
susah."
"Gampang apanya. Emang harus cerita apa?"
Dia ngomong pasrah.
"Hal sepele aja. Misalnya warna favorit, makanan favorit.
Obrolan receh kayak gitu. Kayak aku misalnya, pas ke akuarium jadi suka
penguin."
"Itu kan cerita kamu."
"Iya. Aku beneran seneng ke sana, penguin lucu banget,
jadi kepikiran harusnya beli bonekanya. Aku pengen ngobrol receh kayak gini
sama kamu lebih sering. Dikit-dikit juga nggak apa-apa. Kan gampang?"
Kita udah bareng cukup lama, tapi obrolan receh gitu jarang
banget ada.
Padahal justru hal kayak gitu penting.
Akuarium itu jadi kenangan manis buatku. Sampe sekarang masih
kepikiran kalau harusnya aku beli boneka penguin. Hal simpel kayak gitu aja aku
belum pernah aku bagi ke Miyagi.
Kenangan pahit dan dalam pun sebenarnya pengen aku tahu, tapi
yang receh kayak gini aja dulu cukup.
"Kamu juga bakal cerita hal kayak gitu ke aku?"
"Ya jelas dong."
"…Kalau gitu, aku bakal cerita."
Kali ini dia jawab dengan suara lembut.
Semakin bahagia, waktu rasanya makin cepat lewat. Pas aku
bangun, ulang tahunku udah kelar.
Pagi pertama sebagai anak sembilan belas, aku bangun, duduk di
ranjang, terus ngelunjurin tangan ke langit-langit.
Andai ulang tahun bisa terus berlangsung selamanya. Tapi
mungkin karena cuma sehari, Miyagi jadi bener-bener mau rayain aku kemarin.
Aku yakin dia lumayan maksa dirinya.
Soalnya itu bukan gaya dia banget: pesen pizza, beli kue,
bahkan bikin janji buat ke depannya.
Aku sebenernya nggak pengen dia terlalu maksa, tapi entah
kenapa aku seneng banget. Rasanya kayak aku udah jadi orang yang cukup berarti
buat dia.
Sambil nguap lebar, aku turun dari ranjang dan duduk di
lantai.
Aku ambil kantong kertas kecil di meja—hadiah ulang tahun dari
Kikyo-chan.
Isinya kue kering buatan tangan, tapi dibungkus rapi kayak kue
toko beneran.
Sayang banget buat dibuka, tapi akhirnya aku lepas pitanya dan
gigit sebiji.
"Enak banget."
Kemarin, gara-gara pizza dan kue, perutku udah terlalu penuh
sampai akhirnya aku nggak sempat nyentuh kue kering itu. Bentuknya memang agak
nggak rata, tapi rasanya jauh lebih enak daripada kue kering dari siapa pun
yang pernah ngasih ke aku. Aku ambil satu lagi, lalu masukin ke mulut.
Waktu aku seumuran Kikyō, kelas tiga SMP, aku sibuk belajar
terus. Kalau waktu itu aku punya sedikit saja kelonggaran buat mikirin bikin
kue, mungkin aku bisa jadi anak seperti yang orang tuaku harapkan. Tapi kalau
aku jadi versi diriku yang itu, aku mungkin nggak akan pernah ketemu Miyagi.
Karena ada aku yang nggak sempat mikirin bikin kue di masa
SMP, sekarang ada aku yang bisa ngerasain ulang tahun dirayain Miyagi. Jadi,
ternyata diriku yang dulu pun ada artinya juga.
Sekarang, kapan pun aku mau, aku bisa bikin kue. Dan rasanya,
bikin kue bareng Miyagi juga seru sih.
“Walau kayaknya dia bakal bilang ‘nggak mau’...”
Aku bisa kebayang wajah Miyagi dengan dahi mengernyit, dan itu
bikin bibirku otomatis melengkung. Pas lagi begitu, perutku bunyi keras. Aku
pun berdiri, berniat cuci muka dulu lalu siapin sarapan.
Begitu aku buka pintu kamar, aku denger suara kecil.
Pelan-pelan aku keluar, dan mataku langsung tertuju ke sebuah kantong yang
tergantung di gagang pintu. Aku ambil dan lihat isinya.
Di dalam ada sebuah kotak yang kelihatan ramping, dibungkus
rapi, plus satu kartu kecil. Aku masuk lagi ke kamar, lalu buka kartunya dulu.
Ada gambar kucing dengan tulisan HAPPY BIRTHDAY.
“...Kartu ulang tahun?”
Padahal kemarin Miyagi sempat bilang kalau dia nggak nyiapin
hadiah. Untuk sesaat aku sempat mikir jangan-jangan ini dari orang lain. Tapi
kemudian aku inget, ini di dalam rumah. Kalau bener ada orang lain yang naruh
hadiah di pintu kamarku, itu malah lebih serem. Jadi, ya jelas aja ini dari
Miyagi.
Aku buka pelan-pelan bungkus kertasnya, dan dari dalam kotak
tipis itu muncul lima ekor kucing kecil berjajar rapi.
“Ini… tempat sumpit ya?”
Ada kucing belang tiga, kucing hitam, kucing putih, kucing
oren belang, dan kucing bermuka dua warna. Lucu banget sampai rasanya bisa
dijadiin hiasan kamar.
Andai aja dia kasih ini kemarin. Kalau aku udah dapat ini,
mungkin aku nggak bisa minta dua keinginan sebagai ganti hadiah. Tapi tetap
aja… aku lebih suka kalau dia langsung ngasih dengan tangannya sendiri.
Walaupun wajahnya jutek atau nada suaranya datar, kalau hadiah
ini dikasih langsung, aku pasti bakal narik dia ke pelukan, cium, dan… mungkin
lebih dari itu.
Ya, meskipun dia pasti nggak bakal ngizinin.
Aku ambil kucing belang tiga dan kucing hitam, lalu taruh di
telapak tangan.
“Kayaknya aku masak nasi aja, deh.”
Padahal tadinya niat sarapan roti panggang, tapi aku ganti
menu biar bisa langsung pakai tempat sumpit ini.
Aku keluar kamar, taruh dua kucing kecil itu di meja ruang
bersama. Setelah cuci muka dan ganti baju, aku mulai nyuci beras dan masukin ke
penanak nasi. Masih terlalu pagi buat mulai masak lauk, jadi aku duduk di
kursi, menatap dua kucing kecil di meja.
Saat itu, pintu kamar Miyagi terbuka. Dia keluar dengan
T-shirt longgar dan celana training, jelas masih pakaian tidur. Aku sapa,
“Pagi,” dan dia balas singkat, “Pagi.”
“Tempat sumpitnya… makasih. Ini hadiah ulang tahun, kan?”
tanyaku sambil nunjuk dua kucing di atas meja.
“Kamu kan suka kucing, Sendai-san,” jawabnya singkat, tanpa
nada, seakan-akan nggak mau membenarkan atau membantah.
“Iya, aku suka kucing. Jadi, aku seneng banget,” kataku.
“Aku nggak tahu kamu maunya apa, jadi aku pilih barang yang
bisa kepake sehari-hari, tapi masih ada kucingnya,” ujarnya cepat, lalu
buru-buru kabur ke kamar mandi.
Aku bisa aja narik tangannya supaya dia nggak kabur, atau
langsung meluk dia biar nggak bisa lari. Tapi, dia nggak mungkin bersembunyi di
kamar mandi selamanya. Lagian dia juga nggak bakal keluar rumah dengan baju
itu. Jadi, kalau aku sabar nunggu, dia pasti balik lagi ke sini.
Jadi, aku duduk manis, nunggu Miyagi… bareng dua kucing
kecilku.
Sesuatu yang bisa dipakai sehari-hari, ya.
Aku sempat bertanya-tanya kenapa dia pilih tempat sumpit, tapi
dari kata-katanya tadi aku ngerti kalau Miyagi udah mikirin ini baik-baik
sebelum mutusin.
Ternyata, ulang tahunku ini bisa bikin Miyagi ngabisin waktu
dan pikirannya hanya buat aku.
Tanggal 23 Agustus yang biasanya gampang banget kelewat gitu
aja di tengah liburan musim panas, sampai aku sendiri sering lupa, sekarang
jadi tanggal yang bikin aku nggak sabar nunggu tahun depan.
Aku pengen ulang tahun berikutnya cepet datang.
Nggak bisa nggak mikirin itu.
Aku ambil si belang tiga dan si kucing hitam dari meja, lalu
tempelin hidung keduanya biar kayak lagi ciuman.
“Sendai, lagi ngapain?”
Suara Miyagi terdengar setelah aku bikin dua kucing itu
‘cium-ciuman’ berkali-kali.
“Main sama tempat sumpit,” jawabku.
Begitu aku nengok ke arahnya, dia buru-buru buang muka. Aku
taruh lagi dua kucing kecil itu di meja lalu berdiri, langsung nangkep
lengannya sebelum sempat kabur.
“Lepasin,” katanya ketus.
“Aku lepas kalau kamu duduk dulu.”
“Aku mau ganti baju, jadi lepasiin deh.”
“Boleh aja ganti baju, tapi ngobrol bentar dulu, baru pergi.”
“...Ya udah. Tapi sebentar aja.”
Nada suaranya kayak lagi ngasih peringatan, jadi aku
ngelepasin tangannya. Dengan wajah setengah malas, dia pun duduk di kursi.
“Sisa tempat sumpitnya mana?” tanyanya dingin.
Aku ikut duduk di hadapannya.
“Kucing putih, oren belang, sama kucing dua warna aku taruh di
kamar, buat pajangan.”
“Dipakai aja lah.”
“Punya satu udah cukup kok. Lagi pula, yang dipakai udah aku
keluarin di sini.”
Aku dorong kucing hitam ke arahnya. Dia cuma nyentuhnya dikit
lalu mengernyit.
“Ini jadi kelebihan satu.”
“Yang kucing hitam itu buat kamu.”
“Tempat sumpit ini kan aku kasih ke kamu, Sendai-san.”
Suaranya rendah waktu balikin si kucing hitam ke arahku.
Aku tahu kok, jumlah lima ekor itu kebetulan aja, bukan
berarti harus dipakai berdua biar kembaran. Tapi toh ada lima, jadi ngasih satu
ke Miyagi kayaknya nggak ada salahnya.
“Gapapa lah. Ada lima, masa satu nggak boleh jadi punyamu?”
Aku dorong balik kucing hitam ke arahnya, tapi dia tetap nggak
bilang mau dipakai.
“Aku yang dapat hadiah ini, dan aku yang minta kamu pakai.
Jadi, pakai aja ya.”
“...Kenapa harus kucing hitam?” tanya Miyagi pelan sambil
melirik aku.
“Entah. Soalnya rasanya pas banget sama kamu, sih.”
Dia nggak nolak, juga nggak ngedumel, tapi kelihatan kalau dia
sendiri nggak ngerasa mirip kucing hitam.
“Kalau nggak suka, bisa ganti ke kucing lain. Gimana?”
“...Nggak usah. Kucing hitam aja.”
Dia bilang begitu lirih, lalu berdiri.
“Tunggu dulu. Aku masih mau nanya sesuatu.”
“Apa lagi?”
“Kalau ulang tahun, kamu ada sesuatu yang pengin?”
“Nggak ada.”
Aku udah menduga dia nggak bakal jawab jujur, tapi ternyata
jawabannya malah super singkat, langsung nyelesaiin pertanyaanku tanpa diskusi.
“Kalau gitu, kasih tahu aja deh. Kamu lebih suka telur ceplok
atau tamagoyaki?”
“Kenapa aku harus jawab hal gituan?”
“Karena aku pengin ngobrolin hal-hal receh. Kan aku udah
bilang.”
Kemarin, aku janji sama Miyagi buat ngobrol hal-hal remeh tapi
menyenangkan.
Ini langkah pertama, obrolan kecil yang mungkin sepele, tapi
sebenarnya penting buat kita berdua.
“...Dua-duanya aku suka. Tapi hari ini, lagi pengin telur
ceplok. Kalau kamu?”
“Aku juga. Telur ceplok.”
Aku senyum lebar. “Jadi, sarapannya telur ceplok, ya.”
Aku sempat dengar dia bergumam pelan, “Kalau gitu, bikinin
yang setengah matang.”



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.