Shuu ni Ichido Kurasumeito wo Kau Hanashi V7 Chap 5

N-Chan
0

Bab 5

Liburan Musim Panas Miyagi


Aku menghela napas pelan sambil duduk di kereta yang bergoyang menuju rumah.

 

Hari ini Miyagi bilang dia ada janji sama temannya, jadi sebelum aku berangkat kerja part-time, dia sudah keluar duluan.

 

Sebenarnya, aku nggak masalah kalau dia nggak ada di rumah. Nggak masalah juga kalau dia punya janji dengan teman. Aku juga kalau diajak teman, kadang pergi keluar. Atau kayak hari ini, ada shift kerja. Tapi… rasanya nggak enak. Dan aku penasaran banget siapa temannya itu.

 

Siapa sih, sebenarnya?

 

Utsunomiya lagi pulang kampung dan belum balik. Aku tahu Miyagi punya teman selain dia, tapi aku belum pernah dengar ada teman yang cukup dekat sampai mau jalan bareng pas liburan musim panas.

 

──Padahal hari ini ulang tahunku.

 

Aku menoleh ke jendela.

 

Kalau saja tadi malam aku nggak dapat pesan “selamat ultah” dari seseorang, mungkin aku bahkan lupa kalau hari ini hari ulang tahunku. Ulang tahun bukan hal penting bagiku, nggak ada makna khusus dengan hari aku dilahirkan. Aku juga nggak pernah mengharap Miyagi bakal merayakan ulang tahunku. Bahkan aku yakin dia nggak ingat. Tapi… tahu kalau dia malah pergi dengan teman yang bahkan aku nggak tahu siapa, rasanya bikin hati tambah tenggelam.

 

Ulang tahun tuh beneran bukan hari yang enak.

 

Aku menarik napas panjang lalu turun dari kereta. Di bawah cahaya lampu jalan aku melangkah menuju apartemen.

 

Hari ini cuacanya cerah banget, malam pun langitnya terang.

 

Bekas tanda yang Miyagi tinggalkan di dadaku waktu aku pulang kehujanan dulu sudah hilang. Aku sempat ingin dia ninggalin tanda baru sebelum pergi tadi siang, tapi nggak berani bilang. Kalau aku terlalu maksa, bisa-bisa dia malah menjauh. Dan kalau itu terjadi pas hari ulang tahunku, aku pasti tambah hancur.

 

Teman Miyagi yang aku nggak tahu siapa, dan tanda yang udah hilang dari tubuhku.

 

Lebih baik sekarang jangan dipikirin terlalu jauh.

 

Miyagi bilang dia bakal pulang buat makan malam, jadi seharusnya sekarang dia sudah di rumah. Aku bakal segera ketemu dia. Tapi… kalau aku sampai nanya hal konyol kayak, “Teman yang kamu temui tadi siapa sih?” pasti suasana jadi nggak enak.

 

Tetap saja, aku kesal. Dari semua hari, kenapa harus hari ini dia pilih buat janji sama temannya? Aku tahu ini cuma kayak ngambek nggak jelas, tapi rasanya pengin ngomel seratus kali ke dia.

 

Kalau saja aku bisa mengelus Mike-chan (kucing kompleks), mungkin hatiku bakal lebih tenang. Tapi ya… hari begini justru Mike-chan nggak nongol. Memang sih, kalau dipikir lagi, jam segini jarang banget dia kelihatan.

 

Aku naik tangga ke lantai tiga dan membuka pintu. Di depan mataku, ada sepatu Miyagi.


Jadi dia beneran sudah pulang.

 

Aku melepas sepatu lalu menuju ruang bersama. Di sana, aku lihat Miyagi mondar-mandir gelisah di dapur.

 

“Aku pulang. Lagi ngapain?”

 

Aku menyapanya sambil berhenti di depan kulkas.

 

“Selamat datang. Nggak ngapa-ngapain.”

 

“Kalau nggak ngapa-ngapain, kenapa ada di sini?”

 

Biasanya Miyagi nggak bakal ada di ruang bersama kalau nggak ada keperluan. Dia juga nggak lagi masak, nggak lagi buka kulkas. Jadi aneh banget lihat dia ada di sini tanpa alasan jelas.

 

“Bukan apa-apa, jadi Sendai-san ke kamar aja—”

 

Tiba-tiba bel berbunyi, memotong kata-katanya. Aku refleks menoleh ke monitor interkom.

 

“Ada tamu.”


“Aku yang bukain, Sendai-san tunggu di kamar.”

 

“Nggak apa-apa, aku aja.”

 

“Enggak. Aku yang keluar. Kamu tunggu di kamar.”

 

Dengan wajah panik, Miyagi buru-buru mendekat dan mendorong pundakku. Lalu dia malah membuka pintu kamarnya sendiri dan mendorongku masuk ke sana.

 

“Eh? T-tunggu—”

 

Aku nggak siap sama sekali. Aku pikir “kamar” yang dia maksud adalah kamarku. Tapi ternyata aku didorong masuk ke kamar Miyagi sendiri. Sama sekali di luar dugaan.

 

“Duduk dan tunggu.”

 

“Duduk? Miyagi!”

 

Aku sempat protes, tapi dia langsung menutup pintu dengan cepat dan keluar lagi.

 

“……Nggak terlalu kasar gitu?”

 

Padahal aku sudah lama pengin masuk ke kamar ini. Sudah lama pengin tahu ada apa aja di dalamnya. Tapi sejak pindah ke sini, aku sama sekali nggak pernah punya kesempatan. Kamar Miyagi selalu jadi ruang misteri.

 

Dan sekarang, akhirnya aku masuk. Tapi caranya… bener-bener asal. Aku nggak minta perayaan khusus, tapi dilempar masuk gini rasanya salah aja. Setelah sekian lama, aku pengin paling nggak siap mental dulu. Rasanya bukan haru, tapi lebih kaget.

 

Tapi ya… mungkin emang beginilah kami.


Daripada dia tiba-tiba bilang resmi, “Silakan masuk ke kamarku,” mungkin cara ini lebih pas buat hubungan kami.

 

Aku berkeliling sebentar, lalu berhenti di depan rak buku.


Kamarnya nggak banyak beda sama suasana waktu SMA, cuma rak bukunya lebih kecil. Di atasnya ada boneka kucing hitam. Aku jadi ingat, waktu pulang dari akuarium, Miyagi bilang boneka itu ikut pindahan bersamanya. Dan sekarang aku bisa lihat langsung kalau itu benar. Rasanya senyumku hampir pecah sendiri.

 

Aku mengambil si kucing hitam, lalu mengelus kepalanya.


Sudah lama banget aku nggak pegang, jadi aku nggak yakin bulunya masih sama kayak dulu. Tapi rasanya lembut dan enak disentuh.

 

“Bagus ya.”

 

Aku bicara pada boneka yang kelihatan seperti disayang sama Miyagi, si gadis liar macam kucing jalanan. Aku bahkan mencium hidung boneka itu, lalu mengembalikannya ke tempat semula.

 

Tak lama, aku dengar pintu dibuka.

 

“Kenapa berdiri? Aku kan bilang duduk aja.”


“Maaf. Lagi lihat si kucing hitam.”


“Boneka nggak penting. Duduk sini.”

 

Miyagi menunjuk kursi di depan tempat tidurnya, lalu meletakkan dua gelas jus jeruk di meja.

 

“Jus? Kalau makan malam gimana?”

 

Aku duduk sambil nanya.

 

“Hari ini makan di sini. Aku bawain sekarang.”

 

“Di sini?”

 

Aneh banget. Selama ini kamarnya nggak boleh aku masuki, tapi sekarang malah ngajak makan bareng di sini. Rasanya kayak ada yang nggak beres.

 

“Kenapa? Nggak suka?”

 

Dia menatapku dengan wajah agak kesal.

 

“Bukan nggak suka sih.”

 

“Kalau gitu duduk manis.”

 

Nada suaranya dingin, bikin punggungku agak merinding. Situasi aneh ini bikin aku makin gelisah. Jadi, sebelum dia keluar kamar, aku buru-buru menahannya.

 

“Oh iya, Miyagi. Nanti mau makan kue kering nggak?”

 

“Kue kering?”


“Iya. Soalnya hari ini ulang tahunku, Kikyo-chan ngasih kado kue bikinan sendiri.”

 

Hanamaki Kikyo.

 

Murid les privatku yang sudah cukup dekat sampai saling panggil nama depan. Dia kasih kue buat ulang tahunku.

 

“……Aku nggak mau. Itu kan kado buat Sendai-san. Kamu makan aja sendiri.”

 

Miyagi menjawab dengan suara rendah, lalu keluar kamar.


Tapi sebentar kemudian dia balik lagi, membawa pizza besar dan nugget ayam, lalu duduk di depanku.

 

“Pizza ini… dari tadi yang bunyi bel itu?”

 

“Iya.”

 

“……Kenapa pizza?”

 

Aku langsung menanyakan hal yang melintas di kepalaku.

 

“Tadi kamu sendiri yang bilang.”

 

“Aku bilang apa?”

 

“Ulang tahun.”

 

“Ulang tahun?”

 

“Kan hari ini ulang tahunmu. Jadi aku pesen pizza.”

 

“Eh. ——Eh!?”

 

Kata-kata Miyagi benar-benar di luar dugaanku, aku sampai nggak bisa jawab.

 

“……Selamat ulang tahun.”

 

Dia berbisik pelan, dan aku cuma bisa menjawab kaku.

 

“……Makasih.”

 

Suasana jadi hening. Kami akhirnya bersamaan menggumamkan “itadakimasu” dan mulai makan pizza.

 

Tapi… kenapa?

 

Kenapa Miyagi repot-repot pesen pizza dan ngucapin selamat ulang tahun buatku?

 

Aku nggak ngerti.

 

Padahal wajar aja kalau dia tahu tanggal lahirku, tapi tetap aja aku nggak bisa percaya dia bakal bikin semacam kejutan gini. Rasanya aku benar-benar nggak tahu harus berekspresi gimana. Aku senang, tapi malah nggak bisa senyum.

 

Aku menggigit pizza penuh keju.

Enak.

 

──Kurasa enak. Tapi karena otakku masih kaget, rasanya jadi blur.

 

“Ada kue juga, kok.”

 

Miyagi menambahkan sesuatu yang sama sekali nggak ada di pikiranku.

 

Liburan musim panas kali ini, Miyagi bukan sekadar baik hati. Dia kayak berubah total.

 

Aku sampai curiga, jangan-jangan dia minum obat khusus biar jadi super manis sama aku.

 

“Kamu beli kue juga?”

 

Saking kagetnya, aku malah nanya hal obvious.

 

“Kan ulang tahun.”

 

“……Jadi, tadi kamu keluar itu buat beli kue?”

 

“……Iya.”

 

“Kenapa nggak bilang aja?”

 

“Emang nggak pengin bilang. Aku pengin pergi diam-diam. Tapi kamu malah di rumah terus, kerja juga baru sore.”

 

Dia menjawab dengan nada agak menyalahkan, lalu menggigit pizza.

 

“Terus, gimana dengan janji sama teman itu?”

 

“Itu cuma alasan biar gampang keluar. Aku pergi sendirian beli kue.”

 

Aku akhirnya lega karena bukan ada teman misterius yang aku nggak tahu.

 

“……Jadi kamu bikin alasan cuma buat beliin aku kue, ya?”

 

“……Kalau teman sekamar, wajar dong kalau minimal rayain ulang tahun.”

 

“Ya sih, tapi aku tetap kaget.”

 

“Kita ini teman sekamar. Nggak ada yang aneh.”

 

“Kamu kok terlalu menekankan kata ‘teman sekamar’, sih?”

 

Aku tahu, bagi Miyagi kata roommate itu penting. Tapi kalau dia terlalu sering menekankan itu, sisi diriku yang ingin melangkah lebih jauh dari sekadar roommate rasanya bakal muncul ke permukaan.

 

“Sendai-san, berisik. Jangan ribut soal hal kecil, makan aja.”


Miyagi ngomong datar, lalu ambil sepotong pizza lagi dan langsung lahap. Ekspresinya masih mirip bete, sama sekali nggak ada senyum.

 

Aku bukan penguin, jadi wajar kalau Miyagi nggak nganggap aku lucu atau menarik. Tapi kalau dia beneran mau ngerayain ulang tahunku, aku pengin lihat wajahnya yang lebih lembut, lebih bahagia sedikit aja.

 

“Aku makan kok. Tapi kalau bisa, aku pengin kamu kelihatan lebih seneng dikit.”


Aku coba ngomong keinginanku. Miyagi langsung berkerut di antara alisnya.

 

“Nggak bisa. Kalau bisa, aku udah lakuin dari tadi.”

 

“Ya… bener juga sih.”

 

Aku menatap Miyagi yang sama sekali nggak ramah. Di momen kayak gini, kalau dia tiba-tiba nyengir manis dan bilang “selamat ulang tahun” sambil tersenyum, malah terasa kayak bukan Miyagi. Jadi mungkin ekspresi datarnya ini justru pas. Dia ingat ulang tahunku, bahkan repot-repot pesen pizza sama beli kue. Nuntut lebih dari itu rasanya terlalu serakah.

 

Ulang tahun bakal datang lagi, tahun depan, tahun depannya lagi. Masih banyak kesempatan buat disimpan.

 

Aku menggigit pizza sambil tetap memperhatikan Miyagi yang nggak tersenyum itu.

 

“Makasih ya, Miyagi. Enak banget.”


Sekarang aku bisa ngerasain rasanya, beda banget sama beberapa menit lalu yang masih kacau banget pikiranku.

 

Cuma karena Miyagi yang nyiapin, pizza delivery biasa ini rasanya kayak makanan buatan chef terkenal.

 

“Menurutku biasa aja.”

 

“Enggak kok, enak banget.”

 

“Kalau gitu, makan yang banyak.”

 

Percakapan berhenti di situ, lalu kami makan dengan tenang.

 

Sepotong demi sepotong pizza habis, chicken nugget pun lenyap. Aku nggak ngerti kenapa Miyagi yang selalu keliatan dingin tiba-tiba mau ngerayain ulang tahunku, tapi rasanya seneng banget.

 

Waktu aku lagi menikmati setiap gigitan, Miyagi tiba-tiba manggil,

 

“Sendai-san.”


“Aku ambil kue sama teh, tunggu bentar.”

 

Dia keluar kamar, ninggalin aku sendirian. Aku pun sempat lihat-lihat sekeliling. Tempat tidurnya udah beda dari zaman SMA, begitu juga selimutnya. Ada barang-barang baru, tapi ada juga yang ikut pindah bareng dia, kayak cover tisu berbentuk buaya. Aneh, tapi bikin kamar ini jelas terasa kamar Miyagi. Nyaman juga rasanya.

 

Kalau ke depannya aku bisa sering masuk sini, pasti seneng banget. Tapi Miyagi selalu ngelakuin hal-hal yang nggak kebayang, jadi aku nggak bisa prediksi. Hari ini aja aku nggak nyangka dia bakal rayain ulang tahunku.

 

Aku meraih si buaya, temannya boneka kucing hitam itu. Aku elus-elus kepalanya dengan tangan, sampai suara Miyagi terdengar dari luar.


“Sendai-san, buka pintunya.”

 

Aku buru-buru buka, Miyagi masuk bawa nampan. Di atas meja, dia taruh kue dan teh.

 

“Ini… cheesecake ya?”

 

Di piringku ada potongan cheesecake dengan potongan rapi, segitiga sempurna. Jelas ini bukan hasil dia potong dari whole cake.

 

“Iya. Sendai-san suka kan?”

 

Miyagi duduk di hadapanku, nada suaranya agak ragu. Aku langsung jawab, “Iya.”

 

Kayaknya dia masih inget waktu aku pernah bawa pulang rare cheesecake buat alasan celebrating selesai ujian. Dan dia ingat aku suka. Itu aja udah bikin aku seneng banget.

 

Jujurnya, waktu itu aku beliin karena aku pikir Miyagi suka, bukan karena aku ada preferensi khusus. Aku juga pernah beli shortcake, strawberry tart, baked cheesecake… semuanya sama aja buatku. Tapi karena Miyagi sekarang beliin rare cheesecake dengan keyakinan aku suka, tiba-tiba aja jadi beneran favoritku.

 

“Boleh langsung makan?”

 

Aku ambil garpu dan nanya.

 

“Nggak usah nanya, makan aja.”

 

Suaranya datar. Aku jawab, “Itadakimasu,” lalu suap pertama.

 

Rasa asam lemon bercampur lembutnya cream cheese langsung nyebar di mulut. Dasar cookies yang renyah pas banget sama krimnya yang nggak terlalu manis.

 

“Enak. Makasih ya.”

 

Miyagi cuma mengerutkan kening, kayak bingung harus jawab apa.

 

Setelah aku habisin setengah, baru dia pelan-pelan bilang “Itadakimasu” dan mulai makan juga.

 

Karena ini kue yang dia pilih khusus buatku, rasanya sayang kalau buru-buru habisin. Rasanya pengin nyimpen selamanya, sebagai bukti kalau Miyagi inget hal-hal kecil tentangku dan repot-repot pergi beli ini.

 

Aku pengin terus jadi bagian dari ingatan Miyagi, ngisi ruang di kepalanya, sampai dia nggak bisa lepas dari pikiranku.

 

Aku pengin dia mikirin aku doang.

 

Aku pengin dia tau lebih banyak tentangku, sama kayak aku pengin tau lebih banyak tentang dia.

 

“Miyagi, kamu sendiri kalau ulang tahun nggak makan whole cake gitu? Yang bulat itu lho.”

 

Aku lempar pertanyaan ringan.

 

“Kurang suka kue bulat gitu.”

 

“Kenapa? Kan biasanya ulang tahun identik sama kue bulat.”

 

“Soalnya nggak ada kenangan bagus.”

 

Miyagi bilang pelan, lalu makan sepotong kue lagi.

 

Dia jarang banget cerita soal dirinya, apalagi tentang hal-hal pribadi. Jadi aku nggak yakin dia bakal jelasin, tapi aku penasaran kenapa.

 

“Boleh aku tahu ceritanya?”

 

Aku tanya pelan-pelan. Dia sempat lihat aku, lalu tatapannya jatuh ke kue. Garpunya berhenti.

 

Dia ragu. Aku hampir bilang “nggak apa-apa kalau nggak mau cerita,” tapi akhirnya dia bicara.

 

“……waktu kecil, ayahku selalu beliin kue bulat tiap ulang tahun. Tapi hampir selalu dia nggak bisa pulang karena kerja. Jadi akhirnya aku makan sendirian.”

 

Dia berhenti sebentar, minum teh, lalu melanjutkan dengan suara lirih.

 

“Kalau sendirian kan nggak mungkin habisin kue bulat besar gitu. Jadi pasti ada sisa banyak di kulkas. Terus besoknya pas buka kulkas, kue itu masih ada di dalam. …Lihat itu aja rasanya sepi banget. Makanya aku nggak suka.”

 

Aku terdiam. Ingatan masa SMA muncul: entah sore, liburan musim panas, atau musim dingin, aku nggak pernah ketemu keluarganya di rumah. Miyagi selalu sendiri. Jadi wajar kalau sisa kue di kulkas pun bikin dia merasa kesepian.

 

Tapi sekarang, nggak lagi.

 

“Nanti pas ulang tahunmu, aku yang bakal siapin whole cake buat kita.”

 

“……apa itu? Mau ngeledek aku?”

 

Miyagi mendongak, wajahnya keliatan bete.

 

“Bukan. Maksudku, kita makan bareng. Berdua pasti bisa habisin whole cake kecil kok.”

 

“……emangnya ulang tahunku nanti kamu pasti ada di rumah?”

 

Dia nanya kayak nggak percaya. Aku langsung jawab tegas:

 

“Ada dong. Pasti.”

 

“Kalau tiba-tiba ada urusan? Misalnya kerjaan part-time nggak kelar, atau ada temen yang manggil?”

 

“Temanku kan Kikyo-chan masih SMP, mana mungkin aku ngajar sampai tengah malam? Lagian, kalau pun ada yang ngajak, aku bakal pilih ulang tahunmu dulu. Jadi, di hari itu kita makan whole cake bareng, oke?”

 

Aku senyum lebar ke arahnya. Tapi Miyagi cuma diam.

 

“Janji ya.”

 

 

Aku nggak mungkin nggak ada di rumah ini pas ulang tahun Miyagi.


Masa depan itu memang nggak pasti, tapi janji yang satu ini nggak akan pernah aku bohongin.

 

Makanya, waktu aku coba nyentuh anting di telinganya Miyagi buat mengikat janji itu, dia malah refleks kaget dan buru-buru menghindar dari tanganku.

 

"…Aku nggak mau janji, soalnya kalau nanti dilanggar aku bakal benci."

 

Padahal anting itu kan semacam bukti janji, pengikat biar aku nggak pernah ngelanggar.


Itu juga Miyagi sendiri yang dulu bikin aku janjiin.


Harusnya dia tahu aku nggak pernah bohong soal itu. Kita juga udah sering banget janji ke satu sama lain. Aku pikir, pelan-pelan dia udah percaya sama aku. Tapi sekarang malah kelihatan kayak takut banget buat bikin janji sama aku.

 

Aku cuma bisa mandangin dia lama-lama.


Kalau sekarang aku biarin dia kabur gitu aja, aku pasti bakal nyesel.

 

"Tenang aja. Aku nggak bakal ngelanggar, entah aku sumpah sama anting atau nggak. Ulang tahunmu, aku pasti nemenin makan kue."

 

Ini janji yang kayaknya harus aku buat meskipun dia keberatan. Janji yang nggak boleh aku hianatin, apa pun yang terjadi.

 

"…Beneran?"

 

Suaranya pelan banget, kedengerannya kayak dia sebenernya pengen percaya.

 

"Beneran. Aku bakal cariin kue yang paling enak, terus kita makan bareng, ya."

 

Aku nggak tahu gimana caranya biar dia percaya sepenuhnya, tapi aku coba jawab sehalus mungkin. Terus aku nanya pelan, "Aku boleh duduk di sebelahmu nggak?"

 

"Biasanya kamu nggak pernah nanya kayak gitu."

 

Dia ngomong sambil nunduk.

 

"Hari ini aku pikir lebih baik aku nanya dulu."

 

"Jangan tiba-tiba ngomong aneh gitu, bikin nggak nyaman."

 

Nada suaranya agak rendah, tapi bukan berarti nolak. Jadi aku duduk di sampingnya dan nyium pipinya.

 

Begitu aku sentuh, dia lagi-lagi gemeteran.


Aku nggak nyentuh telinganya, tapi bibirnya.

 

"Makasih buat hari ini. Aku seneng banget. Aku boleh cium di sini juga?"

 

"Kenapa harus nanya?"

 

"Soalnya aku rasa lebih baik kalau nanya."

 

"Kalau ditanya gitu, jawabanku ya ‘nggak mau’."

 

Akhirnya, aku nggak ngomong apa-apa lagi dan langsung nempelkin bibirku ke bibirnya.


Rasanya nggak selembut krim kue keju sih, tapi entah kenapa tetap terasa selembut itu.

 

Tangan Miyagi nyangkut di bajuku.


Aku lepas sebentar, terus kasih kecupan ringan lagi.


Waktu aku mau nyium sekali lagi, sebelum bibir kami ketemu dia malah ngomong duluan.

 

"Soal hadiah ulang tahun… aku nggak tahu kamu pengen apa. Jadi aku mikir, sebagai gantinya aku bakal ngelakuin sesuatu yang kamu mau. Ciuman barusan, itu udah cukup kan?"

 

"Eh? Tunggu, nggak bisa gitu dong. Nggak cukup."

 

Dia ngomong cepet banget, kayak buru-buru. Aku nengok dan lihat pipinya agak merah. Kayaknya dia lagi malu.

 

"Kalau gitu, kamu maunya apa?"

 

Dia nggak kasih aku waktu mikir, malah langsung narik bajuku.


Tapi meski dia maksa, aku tetap nggak bisa mikir cepet.

 

Aku cuma bergumam "Hmm…" sambil pegang tangannya.

 

"Jadi, maksudmu apa pun yang aku minta bakal kamu lakuin?"

 

"Asal bukan hal aneh."

 

"‘Aneh’ menurut standar Miyagi, atau standarku?"

 

"Kalau pakai standarmu, yang aneh malah jadi nggak aneh. Jadi nggak bisa."

 

Dia ngomong nyolot gitu sambil nyeret tanganku makin kenceng. Aku balas genggam erat, dan akhirnya tangannya jadi lemes.

 

Aku pun bilang apa yang udah kupikirin.

 

"Kalau gitu, tahun depan tolong rayain ulang tahunku lagi."

 

"Cuma itu aja?"

 

"Iya. Tapi nggak cuma tahun depan. Tahun depannya lagi, dan seterusnya. Aku mau kamu terus lakuin itu."

 

Kalau aku bisa dapet hadiah ulang tahun, yang paling aku mau adalah masa depan yang sama kayak hari ini.


Satu hari aja tiap tahun.


Hari itu aku pengen nyimpen waktunya Miyagi buatku.

 

"Tapi kita kan cuma jadi roommate sampai lulus kuliah."

 

"Ulang tahun itu kan bisa dirayain meski kita bukan roommate."

 

"Ya sih… tapi yang bilang selamat ulang tahun ke kamu pasti banyak. Kayaknya nggak harus aku."

 

"Aku pengennya justru kamu yang bilang."

 

Ucapan selamat ulang tahun dari siapa pun pasti bikin seneng.


Tapi kalau itu keluar dari Miyagi, rasanya beda. Itu yang paling bikin aku bahagia.

 

"…Kalau kamu emang segitu pengennya, ya udah."

 

Dia ngomong pelan, sambil genggam tanganku lebih erat, kayak lagi nekenin kalau itu udah jadi ‘janji’.

 

Manusia tuh kalau satu keinginannya dikabulin, pasti jadi tambah rakus.


Aku pun nambah permintaan lagi.

 

"Terus… ceritain lebih banyak tentang kamu. Aku pengen tahu lebih banyak soal Miyagi."

 

"Aku udah nurutin satu permintaanmu barusan, kan."

 

"Tapi tadi kamu nggak bilang kalau cuma boleh satu. Jadi kamu harus nurutin juga yang ini."

 

"Kamu curang."

 

"Nggak apa-apa lah. Lagian gampang kan? Bukan hal susah."

 

"Gampang apanya. Emang harus cerita apa?"

 

Dia ngomong pasrah.

 

"Hal sepele aja. Misalnya warna favorit, makanan favorit. Obrolan receh kayak gitu. Kayak aku misalnya, pas ke akuarium jadi suka penguin."

 

"Itu kan cerita kamu."

 

"Iya. Aku beneran seneng ke sana, penguin lucu banget, jadi kepikiran harusnya beli bonekanya. Aku pengen ngobrol receh kayak gini sama kamu lebih sering. Dikit-dikit juga nggak apa-apa. Kan gampang?"

 

Kita udah bareng cukup lama, tapi obrolan receh gitu jarang banget ada.


Padahal justru hal kayak gitu penting.

 

Akuarium itu jadi kenangan manis buatku. Sampe sekarang masih kepikiran kalau harusnya aku beli boneka penguin. Hal simpel kayak gitu aja aku belum pernah aku bagi ke Miyagi.

 

Kenangan pahit dan dalam pun sebenarnya pengen aku tahu, tapi yang receh kayak gini aja dulu cukup.

 

"Kamu juga bakal cerita hal kayak gitu ke aku?"

 

"Ya jelas dong."

 

"…Kalau gitu, aku bakal cerita."

 

Kali ini dia jawab dengan suara lembut.

 

◇◇◇

 

Semakin bahagia, waktu rasanya makin cepat lewat. Pas aku bangun, ulang tahunku udah kelar.


Pagi pertama sebagai anak sembilan belas, aku bangun, duduk di ranjang, terus ngelunjurin tangan ke langit-langit.

 

Andai ulang tahun bisa terus berlangsung selamanya. Tapi mungkin karena cuma sehari, Miyagi jadi bener-bener mau rayain aku kemarin.

 

Aku yakin dia lumayan maksa dirinya.


Soalnya itu bukan gaya dia banget: pesen pizza, beli kue, bahkan bikin janji buat ke depannya.

 

Aku sebenernya nggak pengen dia terlalu maksa, tapi entah kenapa aku seneng banget. Rasanya kayak aku udah jadi orang yang cukup berarti buat dia.

 

Sambil nguap lebar, aku turun dari ranjang dan duduk di lantai.


Aku ambil kantong kertas kecil di meja—hadiah ulang tahun dari Kikyo-chan.

 

Isinya kue kering buatan tangan, tapi dibungkus rapi kayak kue toko beneran.

 

Sayang banget buat dibuka, tapi akhirnya aku lepas pitanya dan gigit sebiji.

 

"Enak banget."

 

Kemarin, gara-gara pizza dan kue, perutku udah terlalu penuh sampai akhirnya aku nggak sempat nyentuh kue kering itu. Bentuknya memang agak nggak rata, tapi rasanya jauh lebih enak daripada kue kering dari siapa pun yang pernah ngasih ke aku. Aku ambil satu lagi, lalu masukin ke mulut.

 

Waktu aku seumuran Kikyō, kelas tiga SMP, aku sibuk belajar terus. Kalau waktu itu aku punya sedikit saja kelonggaran buat mikirin bikin kue, mungkin aku bisa jadi anak seperti yang orang tuaku harapkan. Tapi kalau aku jadi versi diriku yang itu, aku mungkin nggak akan pernah ketemu Miyagi.

 

Karena ada aku yang nggak sempat mikirin bikin kue di masa SMP, sekarang ada aku yang bisa ngerasain ulang tahun dirayain Miyagi. Jadi, ternyata diriku yang dulu pun ada artinya juga.

 

Sekarang, kapan pun aku mau, aku bisa bikin kue. Dan rasanya, bikin kue bareng Miyagi juga seru sih.

 

“Walau kayaknya dia bakal bilang ‘nggak mau’...”

 

Aku bisa kebayang wajah Miyagi dengan dahi mengernyit, dan itu bikin bibirku otomatis melengkung. Pas lagi begitu, perutku bunyi keras. Aku pun berdiri, berniat cuci muka dulu lalu siapin sarapan.

 

Begitu aku buka pintu kamar, aku denger suara kecil. Pelan-pelan aku keluar, dan mataku langsung tertuju ke sebuah kantong yang tergantung di gagang pintu. Aku ambil dan lihat isinya.

 

Di dalam ada sebuah kotak yang kelihatan ramping, dibungkus rapi, plus satu kartu kecil. Aku masuk lagi ke kamar, lalu buka kartunya dulu. Ada gambar kucing dengan tulisan HAPPY BIRTHDAY.

 

“...Kartu ulang tahun?”

 

Padahal kemarin Miyagi sempat bilang kalau dia nggak nyiapin hadiah. Untuk sesaat aku sempat mikir jangan-jangan ini dari orang lain. Tapi kemudian aku inget, ini di dalam rumah. Kalau bener ada orang lain yang naruh hadiah di pintu kamarku, itu malah lebih serem. Jadi, ya jelas aja ini dari Miyagi.

 

Aku buka pelan-pelan bungkus kertasnya, dan dari dalam kotak tipis itu muncul lima ekor kucing kecil berjajar rapi.

 

“Ini… tempat sumpit ya?”

 

Ada kucing belang tiga, kucing hitam, kucing putih, kucing oren belang, dan kucing bermuka dua warna. Lucu banget sampai rasanya bisa dijadiin hiasan kamar.

 

Andai aja dia kasih ini kemarin. Kalau aku udah dapat ini, mungkin aku nggak bisa minta dua keinginan sebagai ganti hadiah. Tapi tetap aja… aku lebih suka kalau dia langsung ngasih dengan tangannya sendiri.

 

Walaupun wajahnya jutek atau nada suaranya datar, kalau hadiah ini dikasih langsung, aku pasti bakal narik dia ke pelukan, cium, dan… mungkin lebih dari itu.


Ya, meskipun dia pasti nggak bakal ngizinin.

 

Aku ambil kucing belang tiga dan kucing hitam, lalu taruh di telapak tangan.


“Kayaknya aku masak nasi aja, deh.”

 

Padahal tadinya niat sarapan roti panggang, tapi aku ganti menu biar bisa langsung pakai tempat sumpit ini.

 

Aku keluar kamar, taruh dua kucing kecil itu di meja ruang bersama. Setelah cuci muka dan ganti baju, aku mulai nyuci beras dan masukin ke penanak nasi. Masih terlalu pagi buat mulai masak lauk, jadi aku duduk di kursi, menatap dua kucing kecil di meja.

 

Saat itu, pintu kamar Miyagi terbuka. Dia keluar dengan T-shirt longgar dan celana training, jelas masih pakaian tidur. Aku sapa, “Pagi,” dan dia balas singkat, “Pagi.”

 

“Tempat sumpitnya… makasih. Ini hadiah ulang tahun, kan?” tanyaku sambil nunjuk dua kucing di atas meja.

 

“Kamu kan suka kucing, Sendai-san,” jawabnya singkat, tanpa nada, seakan-akan nggak mau membenarkan atau membantah.

 

“Iya, aku suka kucing. Jadi, aku seneng banget,” kataku.

 

“Aku nggak tahu kamu maunya apa, jadi aku pilih barang yang bisa kepake sehari-hari, tapi masih ada kucingnya,” ujarnya cepat, lalu buru-buru kabur ke kamar mandi.

 

Aku bisa aja narik tangannya supaya dia nggak kabur, atau langsung meluk dia biar nggak bisa lari. Tapi, dia nggak mungkin bersembunyi di kamar mandi selamanya. Lagian dia juga nggak bakal keluar rumah dengan baju itu. Jadi, kalau aku sabar nunggu, dia pasti balik lagi ke sini.

 

Jadi, aku duduk manis, nunggu Miyagi… bareng dua kucing kecilku.




Sesuatu yang bisa dipakai sehari-hari, ya.

 

Aku sempat bertanya-tanya kenapa dia pilih tempat sumpit, tapi dari kata-katanya tadi aku ngerti kalau Miyagi udah mikirin ini baik-baik sebelum mutusin.

 

Ternyata, ulang tahunku ini bisa bikin Miyagi ngabisin waktu dan pikirannya hanya buat aku.

 

Tanggal 23 Agustus yang biasanya gampang banget kelewat gitu aja di tengah liburan musim panas, sampai aku sendiri sering lupa, sekarang jadi tanggal yang bikin aku nggak sabar nunggu tahun depan.

 

Aku pengen ulang tahun berikutnya cepet datang.


Nggak bisa nggak mikirin itu.

 

Aku ambil si belang tiga dan si kucing hitam dari meja, lalu tempelin hidung keduanya biar kayak lagi ciuman.

 

“Sendai, lagi ngapain?”

 

Suara Miyagi terdengar setelah aku bikin dua kucing itu ‘cium-ciuman’ berkali-kali.

 

“Main sama tempat sumpit,” jawabku.

 

Begitu aku nengok ke arahnya, dia buru-buru buang muka. Aku taruh lagi dua kucing kecil itu di meja lalu berdiri, langsung nangkep lengannya sebelum sempat kabur.

 

“Lepasin,” katanya ketus.

 

“Aku lepas kalau kamu duduk dulu.”

 

“Aku mau ganti baju, jadi lepasiin deh.”

 

“Boleh aja ganti baju, tapi ngobrol bentar dulu, baru pergi.”

 

“...Ya udah. Tapi sebentar aja.”

 

Nada suaranya kayak lagi ngasih peringatan, jadi aku ngelepasin tangannya. Dengan wajah setengah malas, dia pun duduk di kursi.

 

“Sisa tempat sumpitnya mana?” tanyanya dingin.

 

Aku ikut duduk di hadapannya.

 

“Kucing putih, oren belang, sama kucing dua warna aku taruh di kamar, buat pajangan.”

 

“Dipakai aja lah.”

 

“Punya satu udah cukup kok. Lagi pula, yang dipakai udah aku keluarin di sini.”

 

Aku dorong kucing hitam ke arahnya. Dia cuma nyentuhnya dikit lalu mengernyit.

 

“Ini jadi kelebihan satu.”

 

“Yang kucing hitam itu buat kamu.”

 

“Tempat sumpit ini kan aku kasih ke kamu, Sendai-san.”

 

Suaranya rendah waktu balikin si kucing hitam ke arahku.

 

Aku tahu kok, jumlah lima ekor itu kebetulan aja, bukan berarti harus dipakai berdua biar kembaran. Tapi toh ada lima, jadi ngasih satu ke Miyagi kayaknya nggak ada salahnya.

 

“Gapapa lah. Ada lima, masa satu nggak boleh jadi punyamu?”

 

Aku dorong balik kucing hitam ke arahnya, tapi dia tetap nggak bilang mau dipakai.

 

“Aku yang dapat hadiah ini, dan aku yang minta kamu pakai. Jadi, pakai aja ya.”

 

“...Kenapa harus kucing hitam?” tanya Miyagi pelan sambil melirik aku.

 

“Entah. Soalnya rasanya pas banget sama kamu, sih.”

 

Dia nggak nolak, juga nggak ngedumel, tapi kelihatan kalau dia sendiri nggak ngerasa mirip kucing hitam.

 

“Kalau nggak suka, bisa ganti ke kucing lain. Gimana?”

 

“...Nggak usah. Kucing hitam aja.”

 

Dia bilang begitu lirih, lalu berdiri.

 

“Tunggu dulu. Aku masih mau nanya sesuatu.”

 

“Apa lagi?”

 

“Kalau ulang tahun, kamu ada sesuatu yang pengin?”

 

“Nggak ada.”

 

Aku udah menduga dia nggak bakal jawab jujur, tapi ternyata jawabannya malah super singkat, langsung nyelesaiin pertanyaanku tanpa diskusi.

 

“Kalau gitu, kasih tahu aja deh. Kamu lebih suka telur ceplok atau tamagoyaki?”

 

“Kenapa aku harus jawab hal gituan?”

 

“Karena aku pengin ngobrolin hal-hal receh. Kan aku udah bilang.”

 

Kemarin, aku janji sama Miyagi buat ngobrol hal-hal remeh tapi menyenangkan.


Ini langkah pertama, obrolan kecil yang mungkin sepele, tapi sebenarnya penting buat kita berdua.

 

“...Dua-duanya aku suka. Tapi hari ini, lagi pengin telur ceplok. Kalau kamu?”

 

“Aku juga. Telur ceplok.”


Aku senyum lebar. “Jadi, sarapannya telur ceplok, ya.”

 

Aku sempat dengar dia bergumam pelan, “Kalau gitu, bikinin yang setengah matang.”














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !