Chapter
4
Tiga kali seminggu dengan bayaran lima ribu yen.
Musim panas tahun lalu, tiba-tiba saja Sendai-san bilang
begitu, dan akhirnya dia yang ngajarin aku belajar.
Senin, Rabu, dan Jumat.
Waktu itu, hampir tiap hari sekali Sendai-san datang ke rumah.
Tapi tahun ini, dia ada di sebelahku setiap hari. Tanpa uang lima ribu yen,
tanpa alasan harus ngajarin belajar, dia tetap tinggal di rumah, bilang selamat
pagi dan selamat malam. Dia bukan keluarga, juga bukan teman, tapi sudah jadi
bagian dari hal-hal yang selalu aku lihat setiap hari. Hari ini pun, dia ada
dalam pandanganku.
“Hey, Miyagi, kita istirahat bentar, yuk?”
Sudah tiga jam lebih kami nonton serial drama luar negeri
bareng.
Dari sebelahku terdengar suara agak lelah—atau mungkin lebih
tepatnya, suara orang yang mulai bosan nonton.
“Lagi satu episode aja dulu.”
Tiga jam memang lama, tapi ini masih season 1, jadi ceritanya
masih panjang. Aku juga masih penasaran kelanjutannya, jadi rasanya terlalu
cepat kalau harus berhenti sekarang.
“Ya udah, kamu aja yang nonton, Miyagi.”
Padahal tadi dia sendiri yang bilang mau nonton bareng, eh
sekarang asal ngomong begitu sambil rebahan di kasur.
“Kalau gitu aku sendirian yang nonton, ceritanya jadi nggak
nyambung dong.”
“Nggak apa-apa. Nanti kan kamu bisa ceritain ke aku.”
Sendai-san bilang gitu dengan gaya seenaknya dari atas kasur.
Karena ini kamarnya dia, ya bebas aja kalau dia mau rebahan,
tapi kalau drama yang harusnya ditonton bareng malah ditinggalin ke aku
sendirian, itu sih keterlaluan.
“Nggak mau. Aku nggak bakal ceritain. Kamu sendiri yang harus
nonton biar ngerti.”
“Aku capek…”
“Bukan capek, bosan aja, kan.”
“Bukan bosan. Cuma duduk terus tuh bikin pegel. Eh, gimana
kalau kita keluar sebentar aja, buat ganti suasana?”
“Kamu tuh ya, Sendai-san, sukanya ngajak keluar mulu. Kita kan
baru aja ke akuarium kemarin. Nggak usah ke mana-mana lagi, cukup.”
Janji buat jalan bareng udah kami tepati beberapa hari lalu.
Kami juga sempat bikin janji buat ke kebun binatang dan ke akuarium sekali
lagi, tapi kebun binatang itu masih rencana buat musim gugur, dan ke akuarium
juga belum ditentukan kapan.
“Kan ini libur musim panas. Harusnya kita ngelakuin hal-hal
yang lebih ‘summer’ gitu. Lagi pula, pergi berdua tuh seru banget.”
“Ogah ah. Lagian, ‘hal-hal summer’ itu maksudnya apaan?”
Sekarang aja udah sore. Rasanya nggak ada tempat yang emang
perlu banget didatengin jam segini. Lagipula, libur musim panas bukan berarti
aku harus maksa ngelakuin hal-hal yang identik sama musim panas.
“Kayak pergi ke kolam renang, atau nonton kembang api gitu.”
“Sekarang udah bukan jamnya ke kolam renang. Terus, kembang
api juga nggak ada malam ini. Kemarin kamu juga sempat bilang mau liburan ke
onsen, padahal ngomongnya asal banget. Kalau beneran mau pergi, coba pikirin
yang bener deh.”
“Kalau gitu… beli es krim keluar bentar aja, gimana?”
“Itu juga kemarin udah kita lakuin.”
“Ya udah, kalau gitu makan di luar aja?”
Buatku, nggak ngapa-ngapain di kamar ini aja udah cukup. Aku
memang terbiasa sendirian, tapi bukan berarti aku suka kesepian. Dulu aku benci
liburan panjang karena rasanya sepi banget, tapi sekarang dengan Sendai-san ada
di sini, liburan panjang jadi terasa nggak jelek-jelek amat. Bahkan, rasanya
ada banyak hal menyenangkan yang mungkin terjadi.
Jadi, aku nggak merasa perlu keluar sekarang juga.
“Enggak. Aku mau baca komik. Kamu istirahat aja di situ,
Sendai-san.”
Aku nolak usulannya, lalu stop drama yang masih jalan, terus
ambil ponselku. Kubuka satu judul e-book, sandaran ke kasur, dan mulai baca.
Baru beberapa halaman, tiba-tiba rambutku ditarik pelan dari belakang.
“Miyagi.”
Suara Sendai-san turun tepat dari atas kepalaku.
Kayaknya dia udah berhenti goleran dan sekarang duduk.
“Apa?”
Aku jawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Bosan.”
“Kalau bosan, ya lanjut nonton aja, dong.”
“Nggak mau.”
Suaranya lemah, lalu rambutku ditarik lagi. Nggak cuma sekali.
Dia mainin rambutku, ngiket kecil kayak mau dikepang, lalu dilepas lagi.
Bolak-balik gitu.
“Kamu lagi ngapain sih?”
“Aku lagi ngekepang.”
Baru deh aku sadar, ternyata dia lagi bikin kepangan di
rambutku terus dilepasin lagi. Useless banget, tapi dia kayak enjoy sendiri.
“Asik, gitu?”
“Lumayan lah.”
Aku nggak ngerti bagian mananya yang asik, tapi toh nggak
ganggu aku baca, jadi ya udahlah.
Halaman demi halaman bergulir. Tapi makin lama, tangannya
Sendai-san nggak cuma main di rambut. Kadang nyentuh telinga, kadang leher.
Aku tetap fokus baca.
Tapi makin banyak halaman kubaca, makin sering tangannya
mampir ke telinga dan leherku. Hangat, terasa nyaman. Walau nggak kelihatan,
aku bisa merasakan keberadaan dia.
“Miyagi, ke sini deh.”
Kayaknya dia mulai bosan ngekepang, lalu tiba-tiba ngasih
kecupan kecil di ubun-ubunku.
“Enggak ah. Kalau deketan, nanti kamu malah ngelakuin hal
aneh.”
“Miyagi, kamu beneran nggak mau?”
“Nggak mau.”
Aku taruh ponsel di meja, tapi tetap membelakanginya.
“Kalau hari ini, boleh kan… meski jadi nggak jelas arahnya?”
Dia bisik di telingaku. Refleks, aku dorong kepalanya menjauh.
Itu curang banget—ngingetin aku ke kejadian tempo hari.
Aku tahan rasa ingin kabur.
Aku memang udah berusaha ngomong jujur soal apa yang kurasain
waktu di akuarium, tapi mungkin aku kebablasan. Kayaknya ada hal-hal yang
seharusnya nggak aku ucapin.
“Nggak boleh, lah.”
“Terus aku harus nunggu sampai kapan?”
Suara Sendai-san lembut, seakan membujuk.
“Selamanya nunggu aja.”
“Kamu pikir aku bisa sabar segitu lama?”
“Ya, usahain lah biar bisa.”
“Miyagi… sebenarnya kamu kan nggak benci kalau aku sentuh,
ya?”
Dia nembak pertanyaan baru.
Aku bener-bener nggak mau jawab.
Kalau aku bilang nggak benci, itu sama aja ngasih lampu hijau. Kalau aku bilang benci, dia mungkin nggak bakal nyentuh aku lagi. Dan aku… nggak mau dua-duanya.
“Miyagi…”
Tangannya kembali mengelus rambutku.
Jarinya menyusuri belakang telinga, turun ke leher.
“Sendai-san, nyebelin.”
Aku tepuk tangannya supaya berhenti. Dia nurut, tangannya
lepas, lalu terdengar suara thud kecil di belakangku—kayaknya dia rebahan lagi.
“Aku bakal nunggu, kok. Jadi tenang aja.”
Dia bilang gitu sambil senyum seakan mau bikin aku lega. Tapi
kenyataannya beda. Tangan yang harusnya berhenti malah nyusup lagi, nyentuh
daguku, turun pelan ke leher, lalu berhenti di tulang selangka.
“Lihat kan, kamu tuh nggak bener-bener nunggu.”
Aku tangkap tangannya sebelum makin jauh.
Dia mungkin bilang “nunggu,” tapi ini jelas artinya dia “mau
sekarang juga.”
“Aku cuma pengen nyentuh kamu aja. Selebihnya, aku nggak bakal
maksa sebelum kamu izinin.”
Sendai-san ngomong gitu dengan muka santai, tanpa rasa malu
sedikit pun.
Dia itu aneh.
Waktu itu juga, dia bisa ngomong blak-blakan soal hal-hal yang
biasanya orang nggak mungkin ngomong.
Gara-gara itu, kadang aku kepikiran hal-hal konyol. Kayak… apa
dia benar-benar melakukannya sendiri setelah omongannya waktu itu? Aku nggak
pernah berani nanya, tapi diam-diam aku penasaran juga.
“Udah ah. Jangan pegang aku. Aku mau baca.”
Aku lepas paksa tangannya dari tulang selangka.
“Aku dingin kalau nggak nyentuh kamu.”
Dia ngeles lagi, lalu coba ulurin tangan ke arahku. Aku
buru-buru nangkep dan tekan tangannya ke kasur supaya nggak gerak.
“Nggak dingin. Kamu malah kepanasan, kan.”
Suhu tangannya jelas lebih panas dari tubuhku.
Padahal dia biasanya suka kamar yang lebih dingin, tapi
akhir-akhir ini suhu ruangan selalu diset sesuai kenyamananku. Hari ini pun
suhunya pas buatku, jadi nggak mungkin dia kedinginan.
“Iya sih. Lagi panas. Eh, tolong ambilin remote AC deh. Biar
lebih dingin.”
“Bilangnya ‘dingin,’ bukan ‘sejuk.’ Biasanya orang normal
nyebutnya ‘sejuk’.”
“Biarin. Aku bikin suhunya dingin banget sampe kamu jadi
pengen nempel ke aku, Miyagi.”
“Sendai-san, ngomong aneh-aneh terus. Udah diem aja.”
Aku melepaskan tangan Sendai-san, lalu menyentuh bibirnya
dengan ujung jariku dan menekannya pelan.
Bukan berarti aku benar-benar membungkamnya, tapi Sendai-san
langsung jadi diam.
Bibirnya sedikit terbuka.
Saat aku menyelipkan jariku ke dalam, lidahnya melingkar di
sekitarnya.
Jariku basah, jelas terasa panas dari dirinya.
Di antara ruas pertama dan kedua, giginya menggigit pelan.
Hanya gigitan manja, jadi nggak sakit.
Tekanan itu datang dan pergi bergantian.
Hangat-lembap lidah yang menempel ditambah kerasnya gigi yang
terasa sesekali… rasanya aneh tapi enak.
Aku perlahan menarik jariku, lalu melihatnya.
Jari yang basah itu otomatis bikin ingatan waktu itu muncul
lagi.
Hari aku sendiri yang menyentuh Sendai-san.
Saat itu jari ini juga basah, tapi bukan karena ini.
“Miyagi.”
Suara Sendai-san terdengar.
Aku nggak jawab, dan dia turun dari ranjang lalu duduk di
sampingku.
“Aku lapin jarinya, ya.”
Katanya begitu, lalu dia mengambil tisu dari boneka platipus
dan mengusap jariku.
“Miyagi, tadi kamu mikirin yang mesum, ya?”
“Nggak.”
“Beneran?”
“Bener. Yang mesum itu Sendai-san, kan.”
Aku mengambil boneka platipus itu dan menepuk paha Sendai-san
dengan plak.
“Kalau gitu, tadi Miyagi mikirin apa?”
“Terus, maksudmu ‘yang mesum’ itu apa sih?”
“Boleh aku bilang?”
Sendai-san nyengir sambil menatapku.
Wajahnya jelas-jelas lagi mikir yang aneh-aneh, jadi aku
langsung bilang,
“Dasar mesum, diem aja deh,” sambil berdiri.
“Mau ke mana?”
“...Ngambil minum.”
Aku sebenarnya nggak masalah kalau dia selalu nempel, asalkan
dia bisa diem.
Tapi kalau terus-terusan bikin ulah begini, ya beda cerita.
Jadilah aku ninggalin dia dan keluar kamar.
Aku buka kulkas, ambil soda dan jus jeruk, lalu menuangnya ke
gelas.
Setelah menarik napas panjang, aku balik lagi ke kamar.
Sendai-san duduk bersandar di ranjang.
“Kalau kamu udah di situ, ayo lanjut nonton drama aja.”
Aku taruh dua gelas di meja dan duduk di sampingnya.
“Oke.”
Aku kira dia bakal protes, minta istirahat lagi, atau malah
minta ciuman sebagai syarat.
Tapi ternyata dia langsung nurut, bilang “makasih,” lalu
mengambil jus jeruknya dan meneguknya.
Setelah itu, dia menggenggam tanganku.
Genggamannya pas, agak hangat untuk musim panas, tapi nyaman
juga.
Aku mengulurkan tangan untuk memutar lagi drama di tablet.
Tapi sebelum sempat menyentuhnya, HP-ku bunyi.
Aku segera mengambilnya dan melepas genggaman Sendai-san.
Di layar, ada pesan dari Ami: ‘Hari ini Sendai-san ada di
rumah nggak?’
Aku langsung ngerasa nggak enak.
Ami itu temanku sejak SMA, sama kayak Maika.
Aku udah pernah cerita ke Maika soal aku dan Sendai-san
tinggal bareng, jadi aku nggak bisa nutupin dari Ami juga.
Walau agak males, aku tetap ceritain yang perlu aja.
Lagipula, kalau aku di posisi Ami yang tahu Maika sudah tahu
duluan, aku juga pasti nggak enak.
Aku ragu ngebales, lalu melirik Sendai-san.
Ami dari dulu pengen ngobrol sama Sendai-san sejak tahu soal
aku tinggal bareng dia.
Kalau aku jawab “ada,” aku bisa kebayang kelanjutannya.
Aku ketik “nggak ada,” lalu hapus lagi.
Sebisa mungkin aku nggak mau bohong.
Karena kalaupun lolos sekarang, nanti kejadian yang sama bakal
terulang.
Akhirnya, dengan tekad bulat, aku jawab: ‘Ada kok.’
Balasannya langsung masuk.
Kami tukeran pesan beberapa kali, sampai aku tahu kalau Ami lagi bareng Maika di kampung, dan mereka lagi heboh ngomongin Sendai-san.
Pesan terakhir yang datang bikin aku otomatis menghela napas
panjang.
“Ada apa?”
Sendai-san menggenggam tanganku lebih kencang.
“...Sekarang boleh video call nggak? Temenku pengen ngobrol
sama kamu.”
Di sisi Ami ada Maika juga, jadi aku yakin Sendai-san nggak bakal ngawur ngomong soal hubungan kami.
Aku ngerti itu.
Tapi tetap aja bikin deg-degan.
Kalau bisa, aku pengen dia bilang “nggak mau,” tapi dia jarang
banget nolak permintaanku.
“Boleh aja, tapi temenmu bukan Utsunomiya, kan?”
Sendai-san melepas genggaman tangannya.
Aku langsung jawab, “bukan, temen lain,” lalu mengirim pesan
ke Ami.
Nggak lama kemudian, HP-ku berdering, dan aku angkat
panggilannya.
“Beneran ada Sendai-san?!” suara Ami langsung heboh.
“Ada. Nih, lihat aja.”
Aku arahkan kamera ke Sendai-san.
“Asli ternyata.”
“Kayak ada versi palsu aja,” jawabnya sambil terkekeh.
“Ah, maaf ya dadakan gini. Soalnya aku udah sering denger dari
Shiori soal kamu, jadi pengen ngobrol langsung. Eh, aku harus kenalan dulu,
ya?”
Pas denger kata “kenalan,” aku baru sadar kalau aku sama
sekali belum ngenalin Ami ke dia.
Tapi, Sendai-san malah jawab seolah itu udah jelas:
“Nggak usah. Kamu Shirakawa Ami, kan?”
“Hah? Shiori udah cerita tentang aku?”
“Udah, dan aku juga udah tahu. Aku sering lihat kamu bareng
Miyagi di sekolah.”
Sendai-san ngomong kayak semua itu hal biasa, lalu dengan
santai mengambil HP dari tanganku.
Dia jawab semua pertanyaan Ami dengan tenang, bahkan kayak
udah temenan lama.
Aku cuma bisa mikir, kenapa sih orang ini selalu bisa ngadepin
apa aja dengan gampang gitu?
Dia cepat akrab sama Maika, dan sekarang sama Ami juga.
Kayak manusia yang beda dimensi sama aku.
Dari HP juga kedengeran suara Maika sesekali, kayaknya ikutan
seru.
Sendai-san, dengan gaya ramahnya yang nggak nyangka barusan
sempat godain aku, ngobrol lancar banget sama mereka berdua.
Sementara aku cuma bisa jawab seadanya pas dipanggil nama,
kayak boneka yang dipencet tombolnya.
Entah berapa lama kami ngobrol bertiga — atau berempat.
Bisa cuma beberapa menit, bisa juga udah setengah jam.
Akhirnya, panggilan selesai, dan HP kembali ke tanganku.
“Kalian akrab juga ya,” kata Sendai-san dengan suara sedikit
lebih rendah dari biasanya.
“Ya, namanya juga temen.”
“...Kalau aku?”
Nada suaranya hampir sama, tapi wajahnya kali ini serius.
Aku udah tahu apa jawabannya.
“Roommate, kan.”
Itu kata-kata yang dia sendiri kasih waktu kelulusan SMA.
Empat tahun tinggal bareng sampai lulus kuliah.
Selain itu, aku nggak punya sebutan lain buat hubungan kami.
“Selain itu?”
“Mantan teman sekelas.”
“Selain itu?”
“Mantan teman satu sekolah.”
“Selain itu?”
“Alumni SMA yang sama.”
“Selain itu?”
“...Kamu sebenernya pengen aku jawab apa sih?”
“Nggak ada. Cuma nanya aja.”
Kali ini dia ngomong dengan nada ceria, mirip pas ngobrol sama
Ami, lalu menggenggam tanganku lebih erat.
“Sendai-san, sakit.”
Tangannya menggenggamku begitu kuat sampai aku sempat mikir
tulangku bakal remuk. Aku coba tarik tanganku ke arahku, dia memang
mengendurkan genggamannya, tapi tetap nggak melepas.
Malah dia mendekat dan, seolah itu haknya, mengecup pipiku.
Ujung jarinya menelusuri bibirku, tepat saat itu ponselku berbunyi singkat.
Suaranya lumayan jelas, mustahil dia nggak dengar. Tapi dia malah mencoba
menempelkan bibirnya lagi, jadi aku buru-buru mendorong bahunya.
“Sebentar. Ponselku bunyi.”
“Nanti aja lah.”
Dia sempat merajuk dengan nada agak sebal sebelum sempat
menyegel bibirku. Cuma sebentar, bibirnya cepat menjauh. Tapi pas aku ulurin
tangan mau ambil ponsel, dia lagi-lagi nyosor buat nyium. Memang sih, nggak
darurat harus langsung dilihat, tapi justru karena diganggu, aku jadi makin
pengen ngecek.
“Tungguin bentar, oke?”
Aku dorong bahunya agak keras, lalu ambil ponsel. Di layar
muncul pesan dari Ami: “Tadi makasih ya. Sampaikan juga ke Sendai-san.” Aku
balas cepat, lalu menoleh ke arahnya.
“Ami bilang makasih buat tadi.”
“Bilang aja, aku juga seneng ngobrol sama dia.”
“Bakal kusampaikan. Tapi kenapa sih kamu tadi gangguin aku pas
mau lihat ponsel?”
“Soalnya aku pengen cium kamu.”
Jawabannya keluar begitu aja, tanpa ragu. Jarinya lagi-lagi
mengusap lembut bibirku, lalu diganti dengan bibirnya sendiri yang menempel
lebih lama daripada tadi. Setelahnya, dia bahkan mengecup tangan yang tadi
masih memegang ponsel.
Di saat-saat kayak gini, Sendai benar-benar berubah. Beda
banget sama wajah ramah yang tadi ngobrol santai bareng Ami dan Maika. Sisi
dirinya yang ini cuma aku yang bisa lihat, dan aku nggak mau siapa pun selain
aku yang lihat.
“Hal kayak gini kan bisa ditunda juga.”
Aku memukul lengannya pelan.
“Tapi tadi aku nggak nyium kamu, jadi sekarang wajar dong.”
“Tadi tuh… waktu lagi video call sama Ami dan Maika?”
“Iya.”
“Dasar bodoh. Kalau kamu tiba-tiba cium aku waktu itu, aku
bakal ditanyain seumur hidup sama mereka, ‘sebenernya kamu sama Sendai itu
apa’.”
“Jawab aja: ‘roommate’.”
Dia nyengir lebar. Menyebalkan banget. Nada suaranya bahkan
agak nyelekit. Aku kesal, jadi kubalas dengan menggigit kuat lehernya.
Tapi dia nggak teriak, nggak juga minta berhenti. Gigiku
menekan kulit lembutnya, sementara tangannya melingkari punggungku erat, nggak
ngasih celah buat kabur. Aku akhirnya melepaskan gigitanku, tapi pelukannya
masih sekuat tadi.
“Sendai-san!”
Aku memanggil keras. Barulah lengannya sedikit mengendur.
“Kalau mau, kamu boleh gigit lebih keras lagi.”
“Udah cukup.”
Aku menjauh sedikit, bersandar ke sandaran tempat tidur.
“Kalau sekalian mau gigit, ya gigit yang ninggalin bekas
sepanjang liburan musim panas aja sekalian.”
Dia ngomongnya seenaknya. Tapi anehnya, aku nggak bisa marah.
Sendai-san nggak pernah bener-bener marah padaku, entah aku gigit sekuat apa,
entah aku ikat dengan handuk, atau aku sentuh bagian mana pun. Selalu aja, dia
cuma nerima.
Padahal, dia itu tipe orang yang bisa ngadepin apa pun dengan
sempurna, nggak butuh aku, tapi tetap aja dia milih terus ada di sisiku.
“Sendai-san, kamu itu mesum.”
Entah mesum beneran atau cuma aneh, yang jelas dia orang yang
aneh banget. Selalu baik ke aku, apapun yang terjadi. Sementara aku, cuma bisa
terus-terusan menghabiskan kebaikannya.
“Aku juga ngerasa gitu.”
Dia menghela napas kecil, lalu memanggilku.
“Miyagi.”
“Apa?”
“Roommate-mu… cukup aku aja, ya.”
“Lagian aku juga nggak mungkin tinggal sama orang lain.”
“Janji, ya.”
Dia meraih kelingkingku dan mengaitkannya dengan jarinya.
Hari ini bukan hari yang bagus.
Hujan turun, petir kayaknya sebentar lagi nyambar, dan
Sendai-san malah nggak ada di rumah karena kerja paruh waktu. Seandainya dia
libur hari ini, mungkin aku nggak bakal segalau ini. Tapi, kayak biasa, dia
pergi ke rumah muridnya. Buat dia, kerjaan les privat itu penting banget. Musim
panas atau liburan sama sekali nggak jadi alasan.
Sebenarnya aku udah tahu dia nggak bakal libur. Tapi pas
sendirian, aku jadi pengen ngeluh karena dia nggak ada.
Aku coba baca novel biar pikiran ke-distract, tapi isinya
nggak nempel di kepala. Main game juga nggak bisa fokus. Akhirnya malah
kepikiran terus, jangan-jangan cuaca bakal makin buruk.
Sekarang udah jam segini, harusnya dia udah bisa pulang. Tapi
suara “Tadaima” belum kedengaran juga.
Aku ambil boneka kucing hitam dari rak buku dan rebahan di
kasur. Semua—cuaca yang jelek, kepikiran yang nggak perlu—rasanya salahnya
Sendai.
Sambil mengelus punggung boneka itu, aku taruh di dadaku.
Beberapa hari ini, kata-katanya masih nyangkut di kepalaku:
“Aku, apa posisiku buatmu?”
Waktu ngobrol sama Ami dan Maika itu, dia kayak pengen dengar
jawaban lebih dari sekadar roommate. Tapi aku cuma bisa bilang roommate dan
sebutan masa lalu.
Padahal sebenarnya, aku dan Sendai itu nggak seharusnya ketemu
dekat. Dulu, walau satu kelas, rasanya kayak ada batas negara di antara tempat
dudukku dengan lingkaran pertemanannya. Kita nggak akan pernah deket, kalau
bukan kebetulan sekelas. Tapi sekarang kita udah hidup bareng, dan kata yang
mengikat kami ya cuma satu: roommate.
Ada “tadaima” dan “okaeri”. Ada makan bareng. Kadang juga
jalan berdua. Semua itu sudah cukup dijelaskan dengan kata roommate. Aku nggak
butuh sebutan lain.
Mungkin ada kata yang lebih pas, tapi aku nggak mau maksa
cari. Kalau sampai salah pilih kata dan nggak cocok, bisa-bisa semuanya runtuh.
Aku mengecup kepala boneka kucing itu lalu taruh di sisi
bantal, menutup mata. Tapi telingaku malah nangkep suara gemuruh dari luar.
Tubuhku menegang.
Aku nggak mau dengar, tapi malah fokus mendengar. Untungnya,
nggak ada bunyi petir lagi.
Aku menghela napas, lalu bangkit. Pas itu, terdengar suara
pintu, dan aku keluar kamar. Di sana, Sendai berdiri, baru pulang.
“Tadaima.” Suaranya lembut.
“Okaeri. Rambutmu basah. Ujannya parah banget?”
Aku menahan lengannya sebelum dia sempat masuk kamar. Tanganku
terasa lembap—rambutnya basah, badannya juga.
“Ujannya nggak deras sih, tapi anginnya kenceng banget.”
Rambutnya acak-acakan, makin jelas kelihatan karena dia nggak
mengepangnya hari ini. Mungkin suara mengerikan yang tadi kudengar itu suara
angin, bukan petir.
“Miyagi, udah makan?”
“Belum.”
“Aku ganti baju dulu, terus kita makan bareng.”
“Mending kamu mandi dulu aja. Makan bisa belakangan.”
Pakaiannya memang nggak basah kuyup, tapi tetap aja dia nggak
boleh kelamaan begitu.
“Aku udah lapar. Mandi nanti aja.”
“Nanti kamu masuk angin.”
Aku keingat musim panas tahun lalu, waktu dia basah kuyup
datang ke rumahku. Sekarang memang bukan seragam sekolah, tapi tetap blouse.
Situasi ini terasa mirip.
Waktu itu dia nggak sakit. Tapi kali ini mungkin beda. Dia
harus cepat mandi. Kalau nggak, jangan-jangan aku sendiri yang bakal nekat
bukain bajunya kayak waktu itu.
Eh, waktu SMA aku nggak sampai benar-benar bukain semua baju.
Tapi sekarang? Siapa tahu aku bisa aja…
Jangan. Itu kelewatan. Lebih baik dia mandi sendiri.
“Aku bakal keringin rambut kok, terus ganti baju. Nggak
apa-apa.”
“Mandi aja dulu.”
“Nggak basah banget juga, belum perlu buru-buru.”
Dia tersenyum, seolah mau nenangin aku. Aku genggam lengannya
lebih erat.
“Sendai-san.”
Aku sebut namanya tegas. Tapi dia malah menyingkirkan tanganku
dan bersandar ke pintu.
“Apa? Kalau aku nggak mau mandi sekarang, kamu mau paksa aku
lepas baju di sini? Kayak waktu itu?”
Ternyata dia juga inget.
“Kalau aku bilang iya?”
“Hm… kalau gitu aku juga bakal bukain bajumu.”
Dia mulai mengangkat ujung kaosku, hanya sedikit,
memperlihatkan pinggang. Lalu berhenti, nunggu reaksiku. Aku tahu dia bisa
serius, tapi kali ini aku juga pengen. Pengen ngebuka kancing blusnya kayak
tahun lalu. Tapi kali ini, sampai bra pun—
Stop. Nggak boleh. Kita udah terlalu jauh keluar dari batas
kata roommate. Aku nggak perlu sebutan lain, jadi aku nggak boleh lanjut.
“Mana mungkin aku buka baju kamu.”
Aku tahu itu kebohongan. Tanganku malah refleks bergerak,
menyentuh kancing paling atas blusnya yang sudah terbuka.
“…Tapi, aku bakal ninggalin bekas.”
Tanganku kembali bergerak, membuka satu kancing lagi.
“Di mana?”
Aku nggak jawab. Malah buka satu kancing lagi, memperlihatkan
bagian dadanya. Memang nggak semua kancing kulepas, tapi bra-nya kelihatan.
“Miyagi. Menurutmu ini bukan buka baju?”
“Tiga kancing doang yang kubuka. Jadi belum termasuk buka baju.”
Aku ini penuh dengan kontradiksi.
Apa yang lagi kulakukan sekarang, dan apa yang akan kulakukan
setelah ini, jelas sudah keluar jauh dari batasan kata “teman sekamar”. Tapi
batasan itu sendiri sudah lama digeser sama Sendai, jadi yang dulu terasa aneh
sekarang malah jadi standar baru buat kami. Lagipula, kami udah sering
melakukan hal-hal yang lebih “nggak pantas” dari ini.
Aku nggak perlu lagi pura-pura menyesuaikan kenyataan dengan
kata-kata.
Bahkan sebelum kami jadi teman sekamar pun, aku udah sering
ninggalin jejak di tubuh Sendai.
“...Miyagi. Kalau cuma mau ninggalin jejak, kamu nggak perlu
sampai buka kancing baju aku kan?”
“Berarti nggak masalah kalau aku taruh jejaknya di tempat yang
kelihatan?”
“Aku nggak bilang begitu juga.”
Dia memang nggak pernah benar-benar melarang.
Makanya aku menunduk dan mengecup kulit yang terbuka di balik
kerah bajunya.
Sendai sempat menarik rambutku pelan, tapi tenaganya lemah
banget.
Sama sekali nggak cukup buat menghentikan apa yang kulakukan.
Jadi aku makin kuat menempelkan bibir, menyedot kulitnya sampai akhirnya, waktu
kulepaskan, di sana muncul bekas merah mencolok di atas kulit putihnya.
“Serius deh, Miyagi tuh gampang banget ngelakuin hal-hal kayak
gini.”
Sendai mengelus bekas yang baru kubuat sambil bicara.
“Waktu itu kamu sendiri yang bilang boleh kok aku ninggalin
bekas sampai musim panas selesai. Jadi ini sama aja. Lagi pula aku taruh di
tempat yang murid lesmu nggak bakal lihat.”
“Ya, aku sih senang kamu masih mikirin itu. Tapi paling juga
pas aku kerja besok, bekasnya udah hilang.”
“Kalau hilang ya aku bikin lagi.”
Aku menyingkirkan tangannya dari bekas merah itu, lalu menutup
kembali kancing bajunya sampai rapat ke atas.
“Kalau kamu bilang bakal bikin lagi tiap kali hilang, ya
memang oke sih. Tapi masalahnya, karena posisinya ketutup kayak gini, kamu
sendiri nggak bakal tahu bekasnya udah hilang atau belum.”
“Kalau hilang, kasih tahu aku aja.”
“Kenapa nggak kamu sendiri yang ngecek?”
“Itu sistem laporan pribadi, jadi kamu yang bilang.”
“Kalau gitu… ya udah, anggap aja udah hilang.”
Sendai tersenyum lebar, jelas-jelas lagi ngeledek aku, sambil
menatap lurus ke arahku. Tatapan usil itu bikin aku gemas, sampai akhirnya aku
iseng nyenggol kakinya dengan kakiku sendiri.
“Mana mungkin hilang secepat itu.”
“Kalau nggak percaya, coba cek lagi.”
Dia malah membuka satu kancing yang baru saja kututup, lalu
menarik lenganku.
Barusan dia bilang “Miyagi selalu aja kayak gini”, tapi
sejujurnya, kalimat itu lebih cocok buat dia. Sendai selalu punya cara buat
ngegodain aku, dan selalu berusaha bikin status “teman sekamar” jadi sesuatu
yang makin nggak jelas.
Aku cepat-cepat menarik tanganku kembali.
“Udah lah. Aku tahu bekasnya belum hilang. Jadi sekarang kamu mending mandi atau ganti baju, deh. Aku yang repot kalau kamu sampai sakit.”
“Oke deh, oke. Aku ganti baju sekarang.”
Sendai bilang dengan suara yang lebih ringan daripada selembar
tisu, lalu membuka pintu kamarnya. Sepertinya dia belum ada niat buat mandi,
karena sambil melangkah pergi dia cuma bilang, “Aku makan duluan ya,” sebelum
menghilang dari ruang bersama. Aku kembali ke kamar, lalu ngobrol sama si
kucing hitam di rak bukuku.
“Sebenernya… apa sih artinya jadi teman sekamar?”
Tentu aja, kucing itu nggak jawab.
Hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh teman sekamar—itu jelas
bukan ciuman.
Bukan juga ninggalin bekas di kulit, bukan ngelepasin baju,
apalagi saling menyentuh tubuh.
Aku bukannya pengin melakukan hal-hal “seperti teman sekamar
pada umumnya.”
Tapi, setidaknya aku pengin melakukan hal-hal sederhana sebagai sesama manusia yang hidup di bawah atap yang sama.
Kayak, misalnya, ngelakuin sesuatu buat membalas kebaikan
Sendai yang terlalu sering memaafkanku.
Tapi… aku sendiri nggak tahu, itu sebenarnya apa.
Dengan pikiran itu, aku langsung nyebur ke kasur bersama si
kucing hitam.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.