Shuu ni Ichido Kurasumeito wo Kau Hanashi V7 Ekstra

N-Chan
0

Ekstra

Kenangan Jauh, Hari Ini Saat Ada Sendai


Di depan pintu rumah, aku mengeluarkan kunci dari tas sekolah dan membuka pintu.

 

“ Aku pulang.”

 

Aku menyalakan lampu, melepas sepatu, tapi tidak ada jawaban.


Bukan berarti aku akan memanggil, “Ayah.”

 

Pekerjaan Ayah tidak pernah selesai pas aku pulang sekolah. Hari ini pun dia sudah bilang kalau akan pulang larut. Dan karena Ibu sudah tidak ada, memanggil pun percuma.

 

Rumah ini memang selalu kosong. Bahkan di hari ulang tahunku yang kesembilan ini pun, tetap saja tidak ada siapa-siapa.

 

Aku merapikan sepatu, menyalakan lampu di lorong, lalu masuk ke kamarku.

 

Meletakkan tas di meja, mengeluarkan buku pelajaran dan catatan untuk PR besok, juga lembaran yang harus kuberikan pada Ayah. Setelah itu, aku pergi ke ruang tamu.

 

Ayah memang belum pulang, tapi katanya dia akan berusaha sampai sebelum ulang tahunku berakhir. Dia bahkan janji mau beli kue. Tapi… Ayah selalu bilang akan pulang, dan akhirnya tidak pernah benar-benar pulang.

 

“Lembarannya taruh sini.”

 

Meski tidak ada orang, aku tetap bilang begitu lalu meletakkan kertas itu di atas meja.

 

Ruang tamu cukup terang karena tirainya terbuka, jadi aku tidak menyalakan lampu dan kembali ke kamar. Biasanya aku langsung mengerjakan PR, tapi karena hari ini ulang tahunku, aku memutuskan boleh santai dulu dengan baca manga. Setelah tiga buku, aku bosan dan beralih main game.

 

Karena ulang tahun, aku ingin main di TV besar di ruang tamu. Jadi aku membawa konsol ke sana dan menyalakannya. Begitu asyik main, waktu terasa cepat sekali berjalan. Saat masih terang pun aku sudah menyalakan lampu agar bisa terus main. Aku menang dan kalah berkali-kali dalam balapan mobil, sampai bel interkom berbunyi. Aku pun buru-buru lari.

 

Aku menekan layar interkom. Bukan Ayah, tapi wajah kakak perempuan yang biasanya datang untuk membantu masak dan bersih-bersih. Aku menggenggam tanganku erat. Karena sejak awal aku memang tidak berharap itu Ayah, aku baik-baik saja.

 

Aku menjinjit untuk menekan tombol bicara. “Ya?”

 

“Selamat sore. Ini Shiori-chan, ya?”

 

Aku menjawab, “Iya.”

 

“Sebetulnya hari ini bukan jadwalku datang, tapi Ayahmu titip pesan. Aku bawain kue, lho.”

 

“Baik, saya bukakan.”

 

Aku membukakan kunci pintu masuk, lalu segera bel berbunyi lagi. Aku membuka pintu rumah.

 

“Shiori-chan, selamat sore,” sapa Kakak itu ceria, sambil membawa kotak kue.

 

“Selamat sore,” balasku.

 

“Hari ini Ayahmu sibuk sekali, jadi nggak sempat pulang pas ulang tahunmu.”

 

“Saya mengerti.”

 

“Maaf, ya. Tapi Ayahmu bilang, ‘Selamat ulang tahun.’”

 

“Terima kasih.”

 

Entah kenapa ucapanku terdengar seperti mengucapkan terima kasih langsung pada Ayah. Padahal sebenarnya ditujukan pada Kakak yang menyampaikan pesan itu. Rasanya aneh. Aku pun menundukkan pandangan ke kakinya, bukan wajahnya.

 

“Shiori-chan, selamat ulang tahun! Ini hadiah dariku.”

 

Aku mendongak. Dia mengulurkan sebuah kantong kecil yang sudah dibungkus cantik.

 

“Terima kasih banyak.”

 

Aku menunduk sopan.

 

“Kuemasukkan kue besar ke kulkas, ya. Oh, aku juga mau masak makan malam, boleh?”

 

“Masih ada lauk yang Kakak masak kemarin di freezer.”

 

“Memang, tapi ini hari ulang tahunmu. Aku pengen masak sesuatu. Boleh ya?”

 

“…Baik. Terima kasih.”

 

Setelah itu Kakak mengunci pintu, melepas sepatu, lalu masuk. Aku mengikutinya.

 

“Masakannya omurice aja, ya?”

 

“Iya.”

 

“Oke, tunggu sebentar ya.”

 

“Boleh saya tunggu di kamar?”

 

“Boleh. Nanti kalau sudah selesai, aku panggil.”

 

“Baik.”

 

Aku membawa hadiah darinya dan konsol game yang tadi kutinggal di ruang tamu kembali ke kamarku. Di meja, ada PR yang belum kusentuh.

 

Aku sebenarnya tidak suka sendirian. Tapi juga tidak terlalu nyaman ada orang lain di rumah—apalagi orang yang tidak begitu dekat. Meski Kakak itu baik, bisa masak dan bersih-bersih, keberadaannya tetap membuatku sesak. Seperti menahan napas di dalam air.

 

Jadi aku membuka buku, mulai menulis kanji satu per satu. Bukan karena suka PR, tapi karena lebih nyaman begitu. Tidak lama, semua kanji selesai, jadi kulanjutkan PR matematika. Saat sedang serius menghitung, terdengar ketukan pintu.

 

“Shiori-chan.”


Aku menjawab, “Iya,” lalu membuka pintu.

 

“Omurice sudah ada di meja. Aku juga sudah bikin beberapa lauk tambahan untuk disimpan. Aku pulang dulu, ya. Kamu nggak apa-apa sendirian?”

 

“Nggak apa-apa.”


Aku mengikutinya sampai pintu. Dia menyalakan lampu lorong, lalu memakai sepatu.

 

“Jangan lupa kunci pintunya.”

 

“Iya. Terima kasih banyak untuk hari ini.”

 

Aku menunduk. Kakak itu tersenyum dan berkata, “Sampai ketemu lagi.”

 

Aku mengunci pintu, lalu kembali ke kamarku dengan semua lampu rumah dibiarkan menyala. Kemudian aku membawa hadiah ke ruang tamu. Tirainya sudah ditutup, tapi lampunya terang. Aku menyalakan lampu dapur yang sempat dimatikan, karena aku tidak suka ada sudut gelap—takut muncul hantu.

 

Di meja ada omurice berwarna kuning cerah. Lembaran PR yang tadi sudah dipindahkan ke samping.

 

Andai ada anjing besar seperti di rumah temanku, mungkin aku tak akan merasa sendirian begini. Anjing bisa menemaniku ke toilet, tidur di sampingku, atau menggonggong kalau ada hantu. Tapi Ayah bilang, anak kecil tidak bisa merawat anjing sendirian, jadi aku tidak boleh memeliharanya.

 

Anak-anak itu membosankan.

 

Aku ingin cepat jadi orang dewasa.

 

Kalau sudah dewasa, mungkin hantu tidak menakutkan lagi. Kalau begitu, aku mungkin tidak perlu anjing. Entah benar atau tidak, tapi aku yakin semua ini salahku karena aku masih anak-anak.

 

Hari ini aku genap sembilan tahun. Tahun depan sepuluh, lalu sebelas. Setiap ulang tahun artinya aku makin besar, makin dekat ke dewasa. Jadi ulang tahun itu menyenangkan. Bahkan kalau dirayakan sendirian sekali pun.

 

Aku pun menghabiskan omurice dengan rapi, lalu mencuci piring. Dari kulkas, aku mengeluarkan kotak kue. Sebelum memotong kue, aku membuka hadiah Kakak tadi. Isinya adalah sebuah pouch cantik berhias renda. Terlalu imut untukku. Aku masukkan lagi ke kantongnya.

 

Kue itu lebih besar dari tahun lalu. Putih, bundar, dihias stroberi merah, dan sebuah papan cokelat bertuliskan “Selamat ulang tahun, Shiori-chan.” Aku menancapkan lilin, tapi tidak menyalakannya. Anak kecil tidak boleh bermain api.

 

Aku tidak mematikan lampu. Tidak ada lagu ulang tahun.


“Halo, Shiori-chan, selamat ulang tahun,” kataku pada diri sendiri.

 

Aku pura-pura meniup lilin, lalu memotong sepotong kue.


Satu suapan manis. Dua suapan, masih manis. Tiga suapan, tetap manis, terlalu manis. Tapi aku terus makan. Aku makan sampai perut terasa penuh sesak. Setelah menghabiskan seperempat kue, aku menyerah. Tapi masih kugigit beberapa stroberi, krim, dan potongan sponge cake sebelum akhirnya memasukkan sisa kue ke kulkas.

 

Kue yang tersisa membuat ulang tahunku terasa belum selesai. Seolah-olah selama kue itu masih ada, ulang tahun akan terus berlanjut, dan Ayah tidak akan pernah pulang.

 

──Aku nggak mau.

 

Lebih baik ulang tahunku cepat berakhir.

 

Aku menutup kotak kue dengan keras, lalu bergumam, “Cepat habis.”

 

Semua lampu rumah masih menyala ketika aku kembali ke kamar. Meski belum mengantuk, aku menarik selimut dan bersembunyi di bawahnya.

 

◇◇◇

 

Suara alarm jauh di telinga. Aku meraba kanan-kiri, lalu menggenggam sesuatu. Saat membuka mata, ternyata yang kupegang adalah boneka kucing hitam, bukan ponsel. Aku buru-buru mencari ponsel di dekat bantal dan mematikan alarm.

 

──Ngantuk banget.

 

Aku taruh boneka kucing itu di sisi bantal, mengucek mata. Jari-jariku basah. Saat kuangkat ke arah cahaya, terlihat ada sedikit air. Sepertinya aku menangis dalam tidur. Aku mencoba mengingat mimpi tadi.

 

“Kayaknya barusan mimpi sesuatu, tapi… apa ya?”

 

Aku menguap, lalu duduk. Tapi kenangannya sudah terkubur jauh di dalam kepala. Yang tersisa hanya rasa lelah. Mungkin karena kemarin aku sibuk merayakan ulang tahun Sendai.

 

Aku beli kue, lalu sebelum dia pulang aku sempat pesan pizza, dan—yang paling bikin deg-degan—aku untuk pertama kalinya mengajaknya masuk ke kamarku sejak pindah ke sini. Ditambah aku sudah lama pusing mikirin hadiah apa yang cocok untuknya. Wajar kalau hari ini tubuhku rasanya capek banget.

 

Aku menoleh ke meja. Di atasnya ada sebuah kantong.

 

“…Gimana, ya.”

 

Di dalam kantong itu ada sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi dan selembar kartu ucapan. Isinya, seperangkat tempat sumpit berbentuk kucing. Itu sebenarnya hadiah ulang tahun untuk Sendai, tapi kemarin aku tidak jadi memberikannya.

 

“…Kayaknya nggak kepake, deh.”

 

Aku tidak pernah kasih kado ulang tahun pada orang seperti Sendai, jadi bingung harus beli apa. Akhirnya, setelah ragu berhari-hari, aku malah membeli hal yang terasa aneh: tempat sumpit.

 

Aku sempat kepikiran barang bertema anjing, karena wajah Sendai agak mirip borzoi. Tapi dia sering kasih aku boneka kucing, sering cerita soal kucing calico yang dia lihat sepulang kuliah, bahkan waktu ditanya siapa yang dia suka di akuarium, dia malah nyebut “Mikeneko” itu. Jadi aku pilih kucing. Tapi pada hari H, aku malah jadi merasa konyol memberi hadiah ulang tahun berupa tempat sumpit. Jadi kucing-kucing keramik itu akhirnya masih terkurung di kantong.

 

Aku menepuk kedua pipiku pelan, lalu meregangkan tangan ke atas.


Bangkit dari ranjang, mengambil boneka kucing hitam, dan menaruhnya di rak buku.

 

Aku tidak boleh terlalu mikir.


Hadiah ulang tahun itu harusnya dikasih, apapun isinya.

 

Aku menggenggam kantong berisi hadiah, lalu keluar kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Aku berdiri di depan pintu kamar Sendai, menggantung kantong itu di gagang pintunya, lalu mundur perlahan.

 

Sejujurnya, mungkin dia tidak butuh barang itu. Apalagi isinya lima biji sekaligus. Tapi aku benar-benar tidak tahu apa lagi yang bisa kuberikan. Untuk seseorang seperti Sendai, hadiah yang tepat mungkin tidak akan pernah bisa kupikirkan.

 

Yang penting, hadiah itu sudah berada di tempat seharusnya.

 

Aku kembali ke kamar tanpa suara.

 

“Udah kukasih, kok,” kataku pada boneka kucing hitam di rak.


Lalu aku mengelus kepalanya pelan.





Penutup


Terima kasih sudah mengambil “Cerita Membeli Teman Sekelas Seminggu Sekali” volume 7. 🌸

 

Sesuai dengan musim panas, isi dari volume 7 ini banyak bercerita tentang liburan musim panas. Ilustrasi berwarna kali ini menampilkan Miyagi dan Sendai saat berada di akuarium! Saya rasa, kalian yang sedang membaca buku ini pasti lagi menikmati betapa kerennya Miyagi dan Sendai versi ilustrasi yang digambar U35-sensei. Saat menulis kata penutup ini, saya sendiri juga lagi super excited menunggu hasil ilustrasi mereka berdua dari U35-sensei. Oh ya, akuarium yang dikunjungi Miyagi dan Sendai terinspirasi dari Sunshine Aquarium. 🐠✨

 

Di interlude dan cerita ekstra kali ini, saya akhirnya bisa menulis tentang masa kecil Miyagi dan Sendai—sesuatu yang sudah lama ingin saya tulis. Ke depannya, semoga saya bisa kembali menghadirkan cerita-cerita yang menyinggung masa lalu mereka.

 

Sekarang, izinkan saya berbagi beberapa kabar.

 

Pertama soal TsugiLano. Novel ini, “Cerita Membeli Teman Sekelas Seminggu Sekali”, berhasil meraih peringkat 4 di kategori Bunko dalam “Next Light Novel Award 2024”! Selain itu, juga masuk ke peringkat berdasarkan pembaca per generasi serta voting pembaca wanita. Terima kasih banyak buat semua yang sudah memberikan suara 🙏✨. Karena ini adalah tahun terakhir Shuukura bisa ikut serta, rasanya sangat bahagia bisa menembus Top 5.

 

Lalu, pada bulan Februari saya menghadiri acara tanda tangan di Taiwan. Jujur, saya sama sekali nggak menyangka kalau event pertama saya bakal langsung diadakan di luar negeri. Waktu pertama kali ditawari, saya bener-bener kaget: “Eh, saya beneran bisa???” 😅 Apalagi acaranya lumayan besar, jadi sempat ragu. Tapi ternyata banyak orang datang, dan saya lega sekaligus senang bisa ngobrol langsung dengan para pembaca di sana.

 

Satu kabar lagi: editor yang menangani karya saya sekarang berganti menjadi M-san. Dengan semangat baru, saya akan terus berusaha lebih baik lagi!

 

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang sudah membaca volume 7, yang sudah mendukung lewat web, U35-sensei, editor M-san, serta semua orang yang terlibat dalam karya ini. Terima kasih juga untuk sahabat saya, “Nya”. Beberapa bulan terakhir benar-benar penuh kejadian, jadi saya bersyukur banget punya teman yang selalu ada.

 

Semoga kita bisa ketemu lagi di kata penutup volume 8!

— Haneda Usa














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !