Shuu ni Ichido Kurasumeito wo Kau Hanashi V7 Chap 3

N-Chan
0

Chapter 3

Aku Pengen Lebih Lama Lihat Miyagi


Aku kaget.

 

Miyagi benar-benar di luar dugaan.

 

Nggak nyangka dia tiba-tiba ngomongin soal “orang yang disuka” sekarang-sekarang ini.

 

Aku berusaha nenangin jantungku yang hampir berhenti, tarik napas dalam-dalam lalu buang pelan sambil tetap jalan.

 

Kayaknya salah juga waktu aku jawab jujur “ada kok” pas ditanya.

 

Kupikir aku berhasil kelihatan biasa-biasa aja, tapi dari tatapan Miyagi di punggungku, jelas banget dia nggak puas sama jawabanku.

 

Aku bisa ngerasain tatapan itu menusuk, dan kalau aku nengok sekarang, pasti bakal ditanyain lagi. Jadi aku buru-buru nunjuk ke depan.

 

"Miyagi, tuh… ada area ubur-ubur"

 

Aku nggak mau topik “orang yang kusuka” ini makin digali. Lebih baik dia fokus ke akuarium aja daripada ke aku.

 

Kami jalan ke depan akuarium besar, tempat ubur-ubur yang bercahaya lembut berenang ke sana-sini. Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang kubayangin. Mereka melayang-layang pelan, bikin suasana ruangan yang remang-remang jadi terasa kayak mimpi. Rasanya kayak tubuhku ikut melayang di antara mereka.

 

"Kalau kena sengat ubur-ubur sih sakit, tapi kalau dilihat gini… indah juga ya. Bikin tenang"

 

Aku ngomong sambil tetap lihat ke akuarium. Miyagi datang ke sampingku dan jawab pelan,

 

"Iya. Kayaknya bisa betah lihat terus"

 

Aku alihin pandangan dari akuarium ke dia. Miyagi sedang menatap ubur-ubur tanpa berkedip.

 

Andai tadi… aku nggak bilang “kucing Mikenya Maika” waktu ditanya soal orang yang kusuka, tapi langsung jawab “Miyagi”.

 

Atau bahkan sekarang, kalau aku tiba-tiba bilang “sebenarnya yang kumaksud itu kamu, Miyagi”…

 

Tapi aku nggak punya keberanian buat ngucapin itu.


Karena aku takut kalau aku ngomong, aku bisa kehilangan semua yang kita punya sekarang.

 

Aku suka Miyagi.

 

Aku juga yakin dia nggak benci aku, mungkin malah punya rasa sayang ke aku juga. Tapi rasa itu sebatas apa? Sama kayak aku, atau cuma sebatas teman dekat?

 

Kalau aja hatinya sama kayak hatiku…

 

Kita udah ngelakuin banyak hal yang kalau orang lain lihat, pasti bakal mikir kita pacaran. Biasanya, itu udah cukup bikin aku puas. Tapi kadang-kadang… aku juga pengen hatinya, bukan cuma tubuhnya.

 

Dan untuk dapetin itu, aku harus ngucapin kata-kata yang mungkin bikin semuanya hancur.

 

Jawabannya selalu sama: aku nggak berani.

 

Mungkin suatu hari aku bakal berubah. Tapi sekarang, aku cuma mau nikmatin momen ini, lihat Miyagi dengan perasaan bahagia aja.

 

"Miyagi, di atas ada anjing laut. Masih mau lihat ubur-ubur?"


Aku coba ubah suasana dengan nada ceria.

 

"Ke atas aja"

 

Suara Miyagi terdengar ringan, penuh semangat. Aku senyum kecil. Kayaknya keputusan ngajak dia ke aquarium ini tepat juga.

 

Padahal sebelumnya aku sempet mikir ngajak dia ke kebun binatang, soalnya kita punya banyak kenangan sama boneka platipus dan buaya itu. Tapi karena aku gampang banget kepanasan, kebun binatang jelas bukan pilihan. Lagi pula, platipus nggak ada di Jepang, buaya juga bukan hewan yang dia bakal minat banget. Jadi aku pilih makhluk air di aquarium, dan ternyata bener-bener keputusan bagus.


Meskipun, aku sempet ngerasa ragu ngajak dengan alasan takut kedengarannya kayak ngajak kencan. Makanya aku rahasiain tujuan sampai sekarang.

 

"Rasanya kayak masuk hutan tropis. Emang bener ada anjing laut di sini?"

 

Miyagi ngomong pelan waktu kami naik tangga.

 

Aku buka brosur dari tas buat ngecek.

 

"Kayaknya agak ke dalam lagi tempatnya. Mau langsung ke sana?"


"Nggak usah. Lihat aja satu-satu sesuai jalannya"

 

Kami jalan santai, lihat ikan besar sampai ikan kecil, ada kura-kura juga, ada iguana. Semua menarik. Akhirnya sampai juga ke area anjing laut, wajah Miyagi langsung cerah. Dia nggak teriak-teriak heboh, tapi waktu anjing laut mendekat, dia maju ke kaca hampir nabrak. Jadi kayaknya dia lebih suka mamalia daripada ikan.

 

Aku jarang lihat Miyagi seceria ini. Makanya, bukannya fokus ke anjing laut, mataku lebih sering ngeliatin dia.

 

Di rooftop nanti ada singa laut sama berang-berang kecil. Mungkin di sana aku bisa lihat Miyagi makin seneng lagi. Cuma mikirin itu aja udah bikin dadaku berdebar.

 

Aku lihat Miyagi… yang lagi lihat anjing laut. Andai aja sekarang cuma berdua, pasti lebih menyenangkan. Tapi aquarium musim panas rame banget.

 

Next time, aku pengen ke sini lagi sama dia, pas nggak terlalu rame.

 

Pas lagi asyik mikir gitu, Miyagi balik ngeliat aku.

 

"Sendai-san, kamu nggak lapar?"

 

Aku refleks neken perut. Nggak sampai bunyi, tapi jelas belum kenyang.

 

Oh iya, terakhir makan kan tadi pagi.

 

"…Lapar juga"

 

Aku baru nyadar. Soalnya saking senengnya sama waktu bareng Miyagi, aku lupa perut kosong.

 

Kuintip ponsel, ternyata udah lewat jam makan siang. Jadi mau nggak mau, kami harus pamit sama anjing laut.

 

"Di rooftop ada kafe. Kita makan di sana aja yuk"

 

Aku usul, dan Miyagi langsung jawab, "Oke."

 

Kami jalan sambil lihat ikan badut di antara anemon, terus lanjut ke rooftop. Singa laut dan berang-berang kecil kami tunda dulu, langsung masuk kafe. Pesan satu hotdog, satu es teh, plus satu pancake khusus yang katanya cuma ada di sini. Rencananya hotdog kita makan masing-masing, pancake dibagi dua.

 

Tanpa janjian, ucapan "Itadakimasu" kami keluar barengan. Terus dua-duanya langsung gigit hotdog. Karena udah kelaparan, dalam sekejap hotdog itu ludes.

 

Miyagi minum es teh pelan, lalu tatap pancake dengan wajah serius.


"Lucu, ya" katanya lembut, lebih banyak ngomong dari biasanya.

 

Pancakenya dihias wajah berang-berang, emang imut banget. Tapi mau nggak mau, biar bisa dimakan, wajah itu harus “dikorbankan”.

 

"Aku potongin, ya?"

 

"Boleh"

 

Aku iris pancake itu jadi dua pas di tengah wajah berang-berang. Miyagi sempet nyeletuk "Ah" kecil, tapi aku terus motong jadi potongan kecil.

 

"Sendai-san, kamu tega banget, nggak ada belas kasih"

 

Dia menghela napas panjang, tapi tetap ambil sepotong yang udah kupotongin dan makan.

 

"Ya mau gimana, mau nggak mau dia memang harus dimakan. Kalau kasihan, kamu nggak usah makan"

 

"…Tetep makan"

 

"Baguslah. Mau aku suapin?"

 

"Aku bisa makan sendiri"

 

"Sayang banget"

 

Akhirnya pancake juga habis, dan kami keluar dari kafe.

 

Di rooftop panas banget, beda jauh sama dalam ruangan. Tapi Miyagi tetap jalan dengan langkah ringan, penuh semangat. Aku lihat singa laut sebentar, lalu lihat Miyagi, lihat berang-berang kecil, terus balik lagi lihat Miyagi.

 

Dia nggak heboh, tapi aku bisa lihat jelas dia menikmati. Dan itu aja udah cukup bikin aku ikut seneng.

 

Tapi… sempat terlintas di kepalaku: gimana kalau Miyagi datang ke aquarium ini sama Utsunomiya? Mungkin dia bakal lebih banyak ketawa, lebih banyak ngomong “ayo lihat sana”, “ayo ke sini”. Lebih bebas daripada sama aku.

 

Aku cepat-cepat buang pikiran itu, menekan pelipis. Nggak ada gunanya mikirin hal yang cuma bikin hati tenggelam.


Aku usir nama Utsunomiya jauh-jauh dari kepalaku.

 

Miyagi ternyata paling betah di depan berang-berang kecil. Dia nggak bergeser sama sekali dari sana.




“Kamu nggak ngerasa kalau berang-berang kecil ini agak mirip sama platipus?”

 

Aku bertanya ke Miyagi sambil melihat berang-berang kecil yang tidur saling menempel.

 

“Sama sekali nggak mirip.”

 

“Serius?”

 

“Kalau kamu bisa lihat berang-berang kecil mirip platipus, mending periksa mata ke dokter deh.”

 

Miyagi ngomong ketus gitu lalu mulai jalan lagi. Kami terus ngikutin jalur sampai tiba-tiba suara Miyagi terdengar lebih kencang dari biasanya di sebelahku.

 

“Sendai-san, lihat! Banyak banget penguin!”

 

Dia nunjukin aku sebuah akuarium yang katanya dibuat mirip padang rumput. Dan benar saja, di situ ada banyak penguin.

 

“Katanya kalau jalan sedikit ke depan, kita bisa lihat penguin dari bawah,” aku kasih tahu hasil risetku sebelum ke sini.

 

“Dari bawah?”

 

“Iya. Jadi kayak penguinnya berenang di atas kepala kita.”

 

“Aku mau lihat! Di mana?”

 

Aku buka brosur, terus nunjukin arah. Miyagi langsung narik lenganku sambil bilang, “Ayo!”

 

Kami nggak gandengan tangan, tapi aku masih ditarik-tarik sambil jalan. Miyagi maju dengan rok yang berkibar, dan tak lama kemudian kami sampai di tempat penguin yang kelihatan kayak terbang di langit.

 

Tentu saja mereka nggak benar-benar terbang. Itu akuarium berbentuk kanopi, dan kalau masuk ke bawahnya, kita bisa lihat penguin berenang di atas kepala.

 

“Keren banget. Kayak penguin lagi terbang di langit.”

 

Miyagi melepas lenganku, terus menatap ke atas sambil ngomong gitu. Karena posisinya memang di rooftop, jadi makin kelihatan seolah penguin benar-benar terbang.

 

Tapi… aku nggak bisa berhenti menatap Miyagi.


Soalnya di depanku sekarang ada sesuatu yang jauh lebih langka daripada penguin yang terbang.

 

Dia senyum.

 

Miyagi.

 

Senyum yang kelihatan tulus banget.

 

Waktu SMA, dia memang kadang ketawa di sekolah atau kalau Utsunomiya main ke rumahnya. Tapi kalau cuma berdua sama aku, dia jarang sekali ketawa. Malah lebih sering keliatan jutek atau nggak mood.

 

Tapi sekarang, Miyagi senyum di depanku.


Senyum itu nggak ditujukan langsung buat aku, agak nyesek sih. Tapi tetap aja, bisa lihat Miyagi ketawa waktu lagi berdua gini bikin aku bahagia banget.

 

“Kamu suka penguin, ya?” aku nanya.

 

“Bukan suka banget sih. Cuma… lucu aja.”

 

Suaranya ceria banget, jelas-jelas kayak orang jatuh cinta sama penguin. Dia bahkan nggak sadar lagi senyum sambil ngeliatin penguin yang berenang.

 

“Miyagi.”

 

“Apa?”

 

“Lucu banget.”

 

“Penguinnya?”

 

Dia nanya tanpa melepas pandangan dari akuarium.

 

“Iya,” jawabku singkat.

 

Padahal yang lebih pengin aku bilang adalah: kamu lebih lucu daripada penguin.

 

Tapi aku tahan, soalnya takut kalau aku ngomong gitu, senyumnya langsung hilang.

 

Di bawah langit biru, perut putih penguin melintas berkali-kali. Aku pura-pura lihat penguin, padahal mataku cuma tertuju ke Miyagi.

 

Senyumnya yang jarang banget kelihatan itu bikin dia bersinar.


Meskipun panas, meskipun keringat netes, aku cuma mau terus lihat dia.

 

Miyagi ngomong sesuatu dengan suara ceria. Aku jawab tanpa benar-benar memperhatikan penguin.


Matanya tetap terpaku pada penguin, dan mataku tetap terpaku padanya.

 

Walaupun penguin yang dapat senyumnya, aku cuma berharap momen ini bisa bertahan lebih lama.

 

 

Tapi waktu bahagia yang bikin aku sampai pengin doa biar abadi, ternyata cuma sebentar.

 

Langit tetap biru, penguin tetap berenang, tapi waktu terus jalan. Kami akhirnya menjauh dari akuarium penguin. Meski begitu, keseruan hari ini belum habis.

 

Walaupun jalur waterpark ini terakhirnya memang penguin terbang tadi, Miyagi yang lagi semangat bilang pengin muter lagi ke rooftop sambil senyum-senyum.

 

Aku sampai mikir, hari ini aku bisa mati bahagia.

 

Senyum itu memang nggak ditujukan buat aku, tapi dia kelihatan jauh lebih bahagia daripada biasanya. Kalau begini, aku nggak keberatan muter-muter rooftop seharian.

 

Matahari makin terik, keringat ngucur di dahi, tapi aku nggak peduli.


Kami pamit sebentar ke singa laut dan berang-berang kecil, terus balik lagi ke penguin.

 

“Miyagi, di sana ada atraksi singa laut. Mau nonton?” tanyaku sambil lihat dia yang masih terpaku pada penguin.

 

“Gak usah. Sendai-san sendiri ada yang mau dilihat lagi?”

 

“Kayaknya nggak.”

 

Yang mau aku lihat cuma Miyagi.


Kalau dia nggak mau nonton singa laut, ya aku juga nggak usah.

 

“Kalau gitu, pulang.”

 

Dia akhirnya mengalihkan pandangan dari penguin dan ngomong singkat.

 

“Udah pulang aja? Kita nggak mampir dulu ke mana gitu?”

 

Aku sebenernya masih pengin bareng Miyagi lebih lama, bahkan sampai malam. Tapi dia langsung jawab ketus, “Gak perlu mampir.”

 

“Ya udah. Eh, kamu nggak mau beli boneka penguin? Kayaknya kamu suka banget tadi.”

 

Dia malah balik nanya dengan wajah heran,


“Sendai-san yang mau beli boneka penguin?”

 

“Bukan aku. Aku cuma kira kamu suka, jadi—”

 

“Gak perlu. Aku udah punya boneka kok.”

 

“Eh, kamu punya boneka penguin?”

 

Itu baru aku tahu. Soalnya dulu pas SMA, aku sering ke kamarnya, dan nggak pernah lihat boneka penguin. Kalau dia punya sekarang, berarti belinya pas kuliah.

 

Aku nggak masalah kalau dia beli sendiri. Tapi kalau boneka itu dikasih orang lain, aku nggak suka. Lebih nggak suka lagi kalau boneka itu dia taruh di kamarnya kayak barang penting.

 

Hati rasanya kayak ditetesin tinta hitam, terus noda itu makin lama makin menyebar. Sampai akhirnya suara ketus Miyagi nyamber,

 

“Bukan penguin. Kucing. Boneka kucing hitam yang kamu kasih pas Natal. Lupa?”

 

Hitamnya langsung hilang seketika.


Boneka kucing hitam yang mirip Miyagi itu—aku ingat jelas aku yang ngasih. Bahkan aku juga ingat ekspresi datarnya waktu itu.

 

“Ya aku ingat… Jadi boneka itu ikut pindahan ke rumah barumu?”

 

Dulu waktu SMA, boneka kucing itu ditaruh di rak bukunya. Tapi sejak dia pindah, aku nggak pernah masuk kamarnya lagi. Jadi aku nggak tahu boneka itu masih ada atau nggak. Kalau ternyata masih dia simpan, rasanya senang banget.

 

“Dibawa. Jadi aku nggak butuh boneka lagi.”

 

Alisnya agak berkerut, mungkin karena aku terlalu banyak tanya. Tapi dalam hati aku lega banget, bahkan pengin langsung meluk dia.

 

Ternyata boneka itu cukup dia sayang. Atau malah… cukup spesial buat dia sampai nggak mau punya boneka lain.

 

Aku jadi mikir, andaikan aku bisa jadi boneka kucing itu, pasti selalu ada di kamarnya.


Tapi kalau jadi boneka, aku nggak bisa jalan ke akuarium bareng dia atau cium dia. Jadi ya… mending tetap jadi manusia.

 

“Kalau gitu, ayo pulang. Tapi kita beli makan dulu, ya? Jujur aja aku males banget masak malam ini. Kecuali kamu mau masakin buat aku juga.”

 

“Aku juga lagi nggak mau masak.”

 

Akhirnya kami sepakat.

 

“Miyagi, kamu pengin makan apa?”

 

“Tadi udah makan roti, jadi aku pengin bekal aja.”

 

“Siap, sip!”

 

Aku rasanya pengen banget tinggal di sana selamanya, tapi karena barusan dengar sesuatu yang bikin hati senang, langkahku terasa ringan saat meninggalkan akuarium. Kerutan di antara alis Miyagi juga sudah hilang.

 

Kami berjalan santai menuju stasiun.

 

Biasanya aku dan Miyagi jarang punya bahan obrolan yang bisa bikin suasana rame, tapi hari ini beda. Topik pembicaraan kayaknya nggak akan ada habisnya.

 

“Eh, sebenarnya apa sih bedanya anjing laut sama singa laut?”

 

Aku bertanya sambil membayangkan dua hewan itu di kepalaku—jelas beda, tapi kalau harus jelasin perbedaannya, aku bingung.

 

“Bentuknya, mungkin?”

 

“Ya, kelihatan sih beda. Tapi kayaknya ada perbedaan yang lebih ‘resmi’ gitu, deh.”

 

“Mana aku tahu. Kalau penasaran ya tinggal cari aja, Sendai-san.”

 

“Mungkin nanti pas udah pulang aku bakal nyari deh.”

 

Obrolannya sepele banget, tapi karena Miyagi lagi banyak ngomong, aku jadi senang.

 

Kami terus ngobrol hal-hal nggak penting tapi buatku terasa penting.

 

Lalu entah kenapa, langkah kami perlahan melambat. Percakapan berhenti, suara keramaian kota jadi lebih terdengar jelas.

 

“...Sendai-san sering ke akuarium?”

 

Miyagi nanya tanpa menoleh padaku.

 

“Dulu waktu kecil pernah beberapa kali sama keluarga. Tapi setelah besar, ya nggak lagi. Kalau Miyagi?”

 

“Sama. Kayaknya cuma sekali waktu masih kecil... keluarga aku jarang jalan bareng.”

 

“Oh gitu...”

 

“Papa aku sibuk, jarang banget di rumah.”

 

Jarang banget Miyagi cerita soal keluarganya. Tatapannya nggak pernah beralih ke arahku, cuma lurus ke depan. Aku ragu mau nanya lebih jauh atau nggak. Biasanya sih dia nggak akan jawab. Tapi hari ini... mungkin beda.

 

“...Terus, ibumu?”

 

Waktu Miyagi mutusin buat tinggal bareng aku, orang tuanya sempat datang ke rumahku buat ketemu. Tapi yang datang cuma ayahnya.

 

Ibunya nggak pernah muncul, dan Miyagi juga nggak pernah nyebut soal ibunya.

 

“Nggak ada.”

Jawaban itu sesuai dengan yang aku duga.

 

Mungkin aku nggak seharusnya nanya, tapi aku juga pengen tahu lebih dalam.

 

Miyagi tetap nggak menoleh. Seolah-olah ada aturan tak tertulis bahwa dia cuma boleh menatap ke depan.

 

Aku nggak mau hari ini jadi kenangan buruk buat Miyagi.

 

Aku cuma pengen dia pulang dengan memori yang bahagia.

 

“...Begitu ya.”

 

Aku jawab pendek, sambil cari kata lain. Tapi jalan menuju stasiun cukup ramai. Bukan situasi yang cocok buat obrolan terlalu serius. Suara banyak orang bercampur jadi gumaman nggak jelas di telinga.

 

Aku tarik napas pelan, lalu buang.

 

Topik bagus buat nutup kenangan indah ini nggak juga kepikiran, jadi akhirnya aku cerita hal yang Miyagi belum tahu.

 

“Kamu pasti udah sadar, keluargaku juga nggak terlalu akur. Tapi waktu kecil sebenarnya kami lumayan dekat. Makanya dulu aku sering diajak ke akuarium atau kebun binatang.”

 

Kalau mau jujur sih, lebih tepatnya: “Aku aja yang nggak akur sama keluarga, sementara mereka baik-baik aja tanpaku.” Tapi buat ngejelasin itu butuh cerita panjang. Jadi aku cukup ngomong segini aja—anggaplah sebagai balasan setelah Miyagi cerita.

 

Saat itu, Miyagi akhirnya menoleh padaku.

 

“Kamu kan punya kakak cewek, ya?”

 

“Iya.”

 

“...Kalian nggak akur?”

 

“Bisa dibilang gitu. Nggak terlalu deket lah.”

 

Aku dan kakakku beda dua tahun. Nggak pernah ribut gede, tapi juga udah lama banget nggak ngobrol beneran. Buktinya, meski kuliah kami sama-sama merantau, kami nggak pernah saling kontak. Waktu liburan musim semi kemarin dia cuma ngirim satu pesan. Itu doang.

 

Sampai akhirnya, kami tiba di stasiun.

 

Melewati pintu tiket, Miyagi pelan-pelan manggil aku.

 

“Sendai-san.”

 

“Apa?”

 

“...Makasih buat hari ini. Akuarium seru banget.”

 

Aku dengar jelas, tapi otakku nggak langsung bisa proses. Jadi aku malah bengong, nggak bisa jawab apa-apa.

 

“Sendai-san?”

 

“Ah, maaf. Aku nggak nyangka kamu bakal bilang ‘seru’ gitu.”

 

Aku memang lihat sendiri dia tadi kelihatan seneng—senyum, ketawa, banyak ngomong. Aku juga pengen hari ini ditutup dengan kesan “hari yang menyenangkan.” Tapi aku bener-bener nggak nyangka Miyagi bakal ngomong langsung ke aku. Rasanya kayak musim semi tiba-tiba datang setelah musim panas.

 

“Sendai-san, sebenarnya kamu nganggep aku apa, sih? Masa aku nggak pernah bisa bilang ‘seru’?”

 

“Kalau gitu, mulai sekarang kalau kamu lagi seneng, kasih tahu aku juga ya.”


“Kenapa emang?”


“Soalnya aku pengen tahu hal-hal apa aja yang bisa bikin kamu bahagia.”

 

Kalau aku tahu bahkan hal kecil apa pun yang bisa bikin Miyagi senang, mungkin aku bisa bikin dia tersenyum lagi, kayak hari ini.

 

“...Kalau aku inget, aku bilang.”


“Itu aja udah cukup kok.”

 

Jawabannya emang nggak pasti, tapi itu udah kemajuan. Dia nggak langsung nolak.

 

“Eh, mau pegangan tangan?”

 

Aku coba usil, sambil senggol lengannya pakai sikuku.

 

“Nggak mau.”


Jawabannya sesuai dugaan. Kalau di rumah, mungkin aku udah kena tendang. Tapi ya... itu Miyagi banget.

 

Aku senggol lagi sedikit, cuma biar dia nengok.


Dan dia malah bilang dengan suara kecil:

 

“...Kapan kita ke kebun binatang?”

 

Aku hampir kelepasan bilang “Eh?”, tapi buru-buru telan kata-kataku. Kalau dia tiba-tiba bilang “Batal deh,” aku pasti nyesel banget.

 

“Mungkin pas musim gugur? Soalnya kalau musim dingin kayaknya terlalu dingin.”

 

“Baiklah, aku ingat.”

 

Jawabannya singkat, tapi cukup buat bikin aku bahagia.


Liburan musim panas ini masih panjang. Aku jelas masih pengen banyak-banyak bikin kenangan bareng Miyagi. Tapi, entah kenapa... aku juga jadi nggak sabar nunggu musim gugur datang.

 

 

◇◇◇

 

 

“Udah tahu belum bedanya anjing laut sama singa laut?”


Suara Miyagi terdengar. Aku masih fokus sama tablet di tanganku, lalu jawab:

 

“Hmm, katanya sih bedanya di cara berenang sama ada nggaknya telinga luar. Kurang lebih gitu.”

 

Setelah makan malam—bekal yang tadi kami beli sepulang dari akuarium—Miyagi, seperti biasa, masuk ke kamarku dan duduk di sebelahku tanpa ragu.

 

“Teliiinga... apa?”

 

Aku ngangkat wajah dari tablet, dan pandanganku ketemu sama matanya.

 

“Bagian telinga yang nongol ke luar ini loh.”

 

Aku ulurkan tangan, ngeraba garis telinganya, lalu narik sedikit cuping telinganya. Rasanya lembut, cuma kerasa keras di bagian anting. Aku lepas tanganku, terus nyoba ganti dengan kecupan, tapi Miyagi langsung manggil dengan nada agak rendah:

 

“Sendai-san.”

 

Dan dia nambahin:

 

“Telinga luar itu adanya di anjing laut apa singa laut?”

 

“Di singa laut. Nih, katanya mereka punya tonjolan kayak cuping telinga.”

 

Aku sodorin tablet ke dia, terus nyuri kesempatan buat nyium cuping telinganya.

 

“Ini nggak ada hubungannya sama telinga aku kan.”

 

Nada datarnya diiringi dorongan halus di pundakku.

 

“Ya gimana, di sini nggak ada singa laut asli.”

 

“Maksudmu kalau ada singa laut kamu bakal nyium telinganya juga?”


“Hmm, singa laut emang lucu, tapi nggak sampai segitunya sih. Eh, ngomong-ngomong soal itu, boleh aku skip aja baca perbedaan detailnya?”

 

Aku nunjuk tablet di tangannya. Miyagi mendengus kecil, lalu akhirnya bilang, “Lihat,” dengan wajah agak bete.

 

“Miyagi, gimana kalau kita balik lagi ke akuarium? Buat ngecek langsung bedanya anjing laut sama singa laut.”

 

“Bukannya kita udah mau ke kebun binatang?”

 

Dia jawab masih sambil natap layar.

 

“Ya ke kebun binatang juga, tapi ke akuarium lagi kan nggak ada salahnya. Kamu pengen lihat telinga singa laut langsung, kan?”

 

“Pengen sih. Tapi bukannya singa laut juga ada di kebun binatang?”

 

“Ya makin gampang dong. Kita lihat aja dua-duanya.”

 

“...Tapi, kamu beneran oke? Maksudku, kamu bukannya nggak terlalu suka ikan sampai pengen ke akuarium berkali-kali?”

 

 

Begitu aku bilang begitu, Miyagi mengangkat wajahnya dari tablet yang menampilkan gambar telinga anjing laut.


Dia kayaknya benar-benar mikirin soal apa aku suka atau nggak suka, dan aku jadi merasa itu agak jarang terjadi.

 

Sejak masuk liburan musim panas, Miyagi memang jadi lebih santai, tapi hari ini dia tambah aneh—terlalu jujur dan baik, sampai agak bikin takut. Rasanya kayak semua hal bagus dari liburan musim panas ditumpahin sekaligus ke hari ini. Jadi malah kerasa agak sayang, soalnya kalau hari ini udah kayak klimaks, sisa liburannya jadi terasa hambar.

 

Aku pengen kebahagiaan ini ditarik-tarik dikit biar lebih awet, bukan numpuk semua di satu hari.


Tapi mungkin itu juga artinya aku terlalu ngeremehin hari-hari yang bakal datang. Jadi, daripada mikirin hal aneh, aku pilih percaya kalau nanti juga bakal ada hal-hal bagus lagi, lalu aku jawab Miyagi.

 

“Kalau hari ini di akuarium aja udah seru banget, wajar dong aku jadi pengen ke sana lagi. Lagian Miyagi juga tadi bilang seneng, kan?”

 

Buat aku, akuarium sekarang udah jadi tempat spesial. Liat Miyagi keliatan seneng aja udah cukup bikin aku betah. Apalagi ada penguin kesukaan dia yang memang imut banget. Rasanya aku bisa ke sana berkali-kali. Jadi kalau Miyagi juga mikir hal yang sama, aku bakal super seneng.

 

“...Iya sih.”


“Kalau gitu, ayo kita ke akuarium lagi. Mau sebelum atau sesudah ke kebun binatang juga nggak masalah.”


“Ya udah, terserah.”

 

Miyagi memang nggak bilang “ayo” dengan jelas, tapi jawaban itu cukup bikin aku ngerti kalau dia nerima. Setelah bilang begitu, dia taruh tabletnya di meja.

 

“Sendai-san,” panggilnya pelan sambil menatapku.


“Apa?” tanyaku balik, nunggu kelanjutannya.

 

Waktu berjalan pelan. Tapi nggak ada suara lanjutan dari dia.


“Miyagi?” panggilku lagi.

 

Dia tetap diam, tapi kali ini pandangannya goyah lalu turun. Tiba-tiba tangannya nangkep lenganku, dan sebelum aku sempat nanya lagi, bibirnya nempel ke bibirku.

 

Aku nggak benci ciuman.


Baik aku yang mulai duluan, atau dia yang tiba-tiba nyamperin kayak gini, dua-duanya aku suka.


Cuma aja, aku nggak nyangka dia bakal cium aku di saat ini, jadi aku malah kepikiran, ciuman ini maksudnya apa ya?

 

Mungkin semacam ucapan terima kasih karena udah ngajak ke akuarium?


Sampai aku kepikiran itu, bibirnya udah lepas.

 

Mata kami bertemu.


Sebelum dia sempat ngomong apa pun, aku nutup mata. Terus, sekali lagi, dia nyium aku.

 

Aku makin ngerasa, wah, ini kayak semua hal bagus di liburan musim panas udah dipakai hari ini deh.


Saking kerennya hari ini, kayaknya terlalu bagus buat nyata.

 

Ciuman kedua selesai sebelum aku sempat nemuin maknanya. Tapi kali ini, genggamannya di lenganku makin kuat.


Aku perhatiin wajahnya—pipi Miyagi agak merah.

 

“Miyagi...” aku manggil namanya, padahal aku sendiri nggak yakin mau ngomong apa.

 

Tangannya yang tadi di lenganku geser ke pundakku. Dia kasih sedikit tekanan, dan aku tanpa melawan akhirnya jatuh terbaring.

 

Dari lantai yang dingin aku menatapnya. Mata kami ketemu lagi. Aku ulurkan tangan dan membelai pipinya yang memerah itu.

 

“Tutup mata,” ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan.


“Gak mau.”

 

Aku tau dia pasti mau nyium lagi, tapi sayang banget kalau aku harus merem.

 

Soalnya, Miyagi yang sekarang—nyium aku sambil pipinya merah, terus berani nge-push aku sampai jatuh gini—bisa jadi nggak bakal kelihatan lagi lain kali. Makanya aku cuma mau terus lihat dia selama mungkin.




Tapi Miyagi sama sekali nggak mau ngabulin keinginanku yang sederhana itu.

 

Padahal dia sendiri yang nekanin aku sampai jatuh, eh sekarang malah buru-buru mau bangun. Aku langsung nangkep lengannya.

 

“Cium aja terus kayak gini.”

 

Sebenarnya aku lebih pengen tau apa yang dia rasain sekarang daripada sekadar ciuman.


Tapi aku juga tau, kalau aku nanya itu, saat ini bakal langsung berakhir.


Makanya aku pilih ciuman—biar waktu ini nggak usah selesai dulu.

 

“Miyagi,” panggilku.


Dia nggak bergerak, jadi aku nambahin, “Tanpa nutup mata pun bisa kan ciuman?”

 

“Kalau nggak merem, aku nggak bisa,” jawab Miyagi tegas.

 

“Kalau gitu, yaudah kita lakuin hal lain.”


“Apa maksudnya?”


“Aku sih oke-oke aja.”

 

Tangan yang tadi nangkep lengannya aku geser ke lehernya, jari-jariku nelusurin tengkuknya. Begitu aku tarik dia sedikit mendekat, dia ngeluarin suara protes.

 

“Apa maksudmu ‘oke-oke aja’?”


“Soalnya kamu tadi nggak nolak waktu aku ditindihin. Artinya boleh kan kalau aku pengen lebih jauh?”


“Enggak. Aku nggak setuju.”


“Kalau gitu, ingat janji kita waktu itu, ya.”

 

Tanganku bergerak turun lewat sisi tubuhnya di balik kain, lalu nangkep ujung bawah T-shirtnya. Aku tarik perlahan ke atas.


Niatnya bukan buat ngelepas bajunya. Kalau aku beneran copot, pasti Miyagi langsung kabur. Bisa-bisa malah selamanya dia nggak bakal mau aku sentuh lagi.

 

Begitu kaosnya naik sampai bawah tulang rusuk, tubuhnya refleks sedikit gerak. Aku berhenti.

 

“Sendai-san, maksudnya janji apa?” suaranya jelas kesal.


“Waktu kamu yang mulai duluan, kamu sendiri bilang kalau nanti aku juga boleh, kan?”


“...Iya sih, aku pernah bilang.”


“Dan waktu aku bilang pengen gantian nyentuh, kamu cuma bilang ‘sekarang belum bisa’. Ingat?”


“...Aku ingat. Tapi bukan berarti hari ini boleh.”


“Ya udah, sekarang aja bolehin.”


“Enggak. Hari ini juga nggak bisa.”

 

Miyagi terus ngomel panjang lebar sambil coba nahan tanganku. Aku malah selipin tangan ke dalam kaosnya.


Jarinya menyentuh tulang rusuk, lalu ngerasain kulitnya yang halus. Aku berhenti tepat di bawah dadanya, lalu tanganku meluncur santai ke samping tubuhnya sampai akhirnya melingkar ke punggung.

 

Dulu aku juga pernah nyentuh langsung kayak gini. Bedanya waktu itu lampu mati, aku nggak bisa lihat wajahnya. Sekarang aku bisa jelas lihat pipinya makin merah. Bibirnya sedikit terbuka, kayak mau ngomong sesuatu.

 

Aku pengen banget nyium dia lagi, tapi di saat yang sama, aku juga pengen terus lihat wajah ini.


Begitu aku sentuh bagian tulang belakang di pinggangnya, tubuh Miyagi kaget seketika, alisnya berkerut.

 

“Aku bilang nggak mau!” suaranya ketus, tapi tangannya nggak benar-benar menyingkirkan punyaku.

 

Aku terus gerakin tanganku pelan ke atas sepanjang punggungnya.


“Sendai-san!” kali ini suaranya lebih keras.


“Aku nggak mau!”


“Jangan bilang gitu, izinin aja ya, sekali ini.”

 

Tanganku geser dan akhirnya nyentuh bagian atas bra-nya.


Jarinya ngeraba pengaitnya—aku sempat mikir buat buka, tapi nahan diri. Aku nggak mau bikin dia beneran marah hari ini.

 

“Boleh aku buka?” tanyaku.


“Enggak! Sama sekali nggak boleh!” jawabnya langsung.

 

...Yah, aku memang udah nyangka.


Aku nggak punya niat maksa. Tapi meskipun begitu, aku tetap usap dadanya pelan dari atas bra. Saat itu Miyagi langsung nangkep tanganku.

 

“Kenapa sih kamu nggak mau, baik nyentuh aku atau aku nyentuh kamu?” tanyaku sebelum dia sempat protes lagi.

 

Kalau memang dia bilang “nggak mau sekarang”, aku bisa nunggu. Tapi setidaknya kasih tau alasannya.


Tapi Miyagi diam.

 

“Alasannya dong, kasih tau.”


“Kalau kamu lepasin tanganmu dulu, aku jawab.” Suaranya berat banget, jelas-jelas nggak suka.


“Kalau gitu, kamu lepasin dulu tanganmu. Baru aku lepasin tanganku.”

 

Aku protes balik. Dia akhirnya ngelepas genggamannya, jadi aku juga lepasin tanganku.

 

“Udah gini cukup?” tanyaku.

 

Dia mengalihkan pandangan, lalu mulai ngomong pelan.


“...Soalnya, kalau kita kayak gitu, aku takut semuanya jadi nggak jelas. Kayak, hari ini ke akuarium pun jadi ikut kacau.”

 

Kata-kata itu nggak pernah aku duga. Aku malah jadi bingung.


Dari nadanya, jelas kalau dia ngerasain itu sesuatu yang menyenangkan—baik pas dia nyentuh atau disentuh. Tapi justru karena itu, dia takut kenangan hari ini ketimpa hal lain dan jadi berantakan.

 

Beneran itu yang dipikirin Miyagi?


Tapi kalau dia sendiri yang ngomong, berarti memang begitu.


Tetep aja, susah dipercaya.

 

“Kamu sadar nggak, barusan kamu ngomong sesuatu yang cukup ‘wow’ banget?” aku nanya, agak khawatir dia udah “hilang baut”.


“Aku sadar. Dan justru karena itu, tolong turunin lagi kaosku,” jawabnya judes sambil melotot.

 

...Iya, hari ini rasanya aku bisa mati kapan aja.

 

Sambil mikir begitu, aku nurutin dia, narik kaosnya lagi sampai nutup rapat.

 

Miyagi langsung bangkit dari posisinya.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !