Chapter
2
Hal-Hal yang Pengen Kulakukan Sama Sendai,
Tanpa Alasan Khusus
Seharian penuh, pandanganku nggak pernah lepas dari sosok
Sendai-san.
Memang sih, salah satu alasannya karena kami tinggal serumah.
Tapi sejak libur musim panas dimulai, dia lebih sering di rumah, dan aku juga
banyak habisin waktu di kamarnya. Waktu yang kuhabiskan bareng dia jelas lebih
banyak dibandingkan pas Golden Week kemarin.
Singkatnya, sejak libur musim panas dimulai, Sendai-san terasa
jauh lebih dekat.
Sekarang aja, padahal tadi kami lagi main game bareng, tapi
dia udah naruh controller begitu aja terus nyender ke pundakku. Padahal game
itu udah repot-repot dia bawa ke kamarnya. Jujur aja, aku ngerasa dia bosenan
banget. Tapi ya... karena kami bersentuhan, rasanya bikin tenang. Jadi aku juga
nggak pengin menjauh.
“Sendai-san, kamu nggak main sama teman-temanmu gitu?”
Aku kira, selain kerja part-time jadi tutor, dia juga pasti
ada main sama temannya. Jadi agak heran aja dia lebih banyak ngabisin waktu di
rumah sejak liburan dimulai.
“Nggak. Kamu sendiri, Miyagi? Nggak ada rencana?”
“Udah aku bilang sebelumnya, nggak ada.”
“Aku juga sama. Satu-satunya rencanaku ya main sama kamu.”
Dia ngomong kayak gitu, entah bercanda entah serius. Terus
badannya makin nempel aja ke aku. Bahu dan lengan yang tadinya udah bersentuhan
jadi makin rapet, bikin bagian tubuh yang bersentuhan itu panas.
“Sendai-san, kamu nggak kepanasan tuh?”
Padahal biasanya kamar ini dingin banget. Malah lebih
tepatnya, buatku tuh kadang kedinginan. Tapi beberapa hari terakhir, suhu
AC-nya emang agak dinaikin.
“Aku kan pakai baju adem, jadi nggak masalah.”
Sambil ngomong gitu, dia selonjorin kakinya yang putih.
Aku jadi ngangguk kecil. Pantesan. Dia kan pakai short pants,
beda banget sama aku yang masih nutupin kaki pakai celana panjang sampai mata
kaki. Aku iseng ngeraba pahanya yang terbuka itu, dan tubuhnya refleks bergetar
dikit.
“Kamu nggak kedinginan, Miyagi?”
“Ini kan kamarmu. Sesuaiin aja sama suhu yang kamu suka.”
Biasanya aku pasti udah protes atau langsung naikin suhu AC
tanpa izin. Tapi sekarang... karena ini kamarnya dia, aku pikir sebaiknya nurut
aja.
Tanganku yang ada di pahanya kugerakin pelan. Nggak jelas itu
tanganku yang hangat atau kulitnya yang emang anget, tapi yang jelas rasanya
bikin deg-degan.
“Kalau gitu, biarin aja kayak gini.”
Dia bilang lembut, lalu malah genggam tanganku yang ada di
pahanya. Rasa panasnya makin kerasa.
“Terus, gamenya gimana?” tanyaku sambil ngelirik controller
yang masih tergeletak.
“Udah. Nyerah, aku nggak bisa menang.”
“Kalau gitu, ayo kita lakuin hal lain.”
“Hal lain apaan?”
“Kamu aja yang tentuin, Sendai-san.”
Aku coba tarik tanganku balik, tapi dia malah makin ngegenggam
erat. Pas aku menoleh, sebelum sempat ngomel, bibirku langsung dia rebut.
Ciuman dalam, sampai batas antara aku dan dia rasanya hilang. Setelah beberapa
detik, dia akhirnya ngelepasin.
Sejak libur musim panas dimulai, dia sering banget tiba-tiba
nyium aku, kayak itu hal biasa. Aku nggak keberatan, bahkan pernah bilang kalau
“asal bukan berlebihan, ciuman nggak apa-apa.” Tapi ya... aku rasa dia agak
kebablasan.
“Hal lain yang aku maksud tuh bukan ini. Kenapa sih kamu suka
banget tiba-tiba nyium?”
“Kamu nggak mau?” dia tanya dengan suara tenang.
“Aku nggak suka cara nanyanya begitu.”
“Kalau gitu aku bilang gini: soalnya aku pengin cium kamu,
Miyagi.”
“Itu juga bukan jawaban yang tepat.”
“Terus, maunya aku bilang apa?”
“Ya ampun... kenapa sih kamu suka banget ngomong aneh-aneh?”
“Kan kamu yang nanya duluan.”
“Iya, tapi bukan itu yang aku maksud!”
Aku kesel, terus ikut selonjorin kaki dan nendang pelan
pergelangan kakinya.
“Aduh, sakit,” katanya lebay.
Padahal aku nggak nendang keras-keras. Karena dia lebay, aku
tendang lagi buat protes. Eh, tanganku malah ditarik makin kuat.
Pas aku nengok, dia udah siap nyium lagi. Dan emang bener,
bibirnya langsung nempel ke punyaku, meski cuma sebentar. Setelah itu, dia
nggak nyium lagi.
Aku akhirnya berhasil narik tanganku, terus nendang kakinya
sekali lagi, tapi pelan.
Jujur aja, sekarang jarak antara aku dan Sendai-san udah jadi
sesuatu yang natural. Bersentuhan pun kayak udah hal biasa. Anehnya, aku bahkan
kepikiran pengin ngurung dia di dalam pandangan mataku, biar nggak lepas.
Mungkin itu karena sikapnya, yang terus-terusan bikin aku
ngerasa kayak gitu. Aku nggak mau ngaku kalau aku yang berubah.
Tapi... barusan, aku kepikiran kalau aku juga pengin nyium dia
lagi. Semua gara-gara Sendai-san yang bikin ciuman terasa kayak hal biasa.
Kalau dilihat dari caranya, dia udah ngajarin aku kalau nyari alasan buat
ciuman itu nggak penting.
Sendai-san terlalu banyak memengaruhi hidupku.
Perasaan pengin dicium, rasa nyaman dari kehangatan tubuh
orang lain, rumah ini, hubungan “teman sekamar,” sampai tindikan di telinga...
semua itu aku punya karena dia.
“Miyagi.”
Dia manggil dengan suara lembut.
“Apay?”
“Mau gandengan tangan?”
“Nggak mau.”
Aku jawab ketus. Dia cuma nyender ke ranjang, bikin jarak
seukuran satu cover tisu berbentuk platypus di antara kami. Tiba-tiba, sisi
tubuhku yang tadi bersentuhan jadi terasa kosong.
Dia tuh bener-bener bikin sebel. Biasanya kan suka maksa
gandengan atau tiba-tiba nempel, tapi pas aku nolak, dia malah gampang banget
pergi dan nggak balik lagi.
Kadang aku beneran nggak ngerti apa yang ada di pikirannya.
“Sendai-san.”
Aku iseng nepuk punggung tangannya yang ada di lantai.
“Apa?”
“...nggak jadi.”
Sejak Maika (temanku) tau kalau Sendai-san adalah teman
sekamarku dan datang main ke rumah, pikiranku jadi makin sering kebayangin hal
aneh tentang Sendai-san. Misalnya: gimana kalau dia jadi deket sama Maika
sampai ketemuan berdua, atau kalau dia tiba-tiba bawa orang lain ke rumah ini.
Aku benci mikirin hal-hal sepele kayak gitu.
Tanganku akhirnya kembali kutaruh di pahanya.
“Miyagi?”
Hari itu, waktu aku melakukan sesuatu yang jelas nggak bisa
disebut hal wajar antar-teman sekamar... saat aku pertama kali nyentuh dia,
semua rasa cemas seakan hilang. Tapi sekarang, kecemasan itu muncul lagi dan
bikin akar baru di dalam diriku.
Mungkin kalau aku bisa lebih kenal Sendai-san, rasa itu bakal
hilang lagi. Aku pengin tahu dia lebih dalam, karena selama ini dia udah
terlalu banyak campur tangan di hidupku.
“...tangan.”
Aku berbisik pelan.
Apa yang kupikirin nggak akan nyampe kalau nggak diucapin.
Jadi meskipun nggak bisa semuanya, aku berusaha ngomong sebagian. Walau begitu,
aku juga sadar aku nggak terlalu jago dalam hal ini.
Bahkan sekarang pun, bahuku tegang, kepalaku berat kayak lagi
ditimpa batu, sampai agak sesak napas.
Hal yang gampang kalau sama orang lain, justru jadi susah
banget kalau lawannya Sendai-san. Rasanya kayak game level dewa yang mustahil
ditamatin.
“Kayak gini maksudmu?”
Dia tiba-tiba genggam tanganku, terus nyium pipiku tanpa
diminta.
“Miyagi.”
Dengan suara yang seakan membawa kehangatan tubuhnya, Sendai
memanggilku. Dari tangan yang saling menggenggam, hangat tubuhnya merambat
lewat kulitku, sampai rasanya darah yang mengalir pun ikut jadi panas.
Pelan-pelan aku menoleh padanya, lalu untuk kesekian kalinya
hari ini, bibir kami bertemu.
Tapi ciumannya cepat terlepas, sementara tangannya masih
terasa panas di genggamanku. Jemarinya bergerak pelan, seperti menggelitik
punggung tanganku. Aku pun menggenggam balik, dan dia menjawab dengan
menempelkan lagi ciuman singkat, sekali, dua kali, berkali-kali.
Aku memang bilang kalau dia boleh menciumku “selama bukan
lebih dari itu”, dan itu bukan bohong. Tapi aku juga nggak tahu sampai batas
mana aku harus mengizinkannya. Karena aku belum pernah benar-benar menarik
garis tegas, aku jadi terus-terusan bimbang: setengah diriku ingin membiarkan
dia terus, setengahnya lagi ingin cepat menghentikan.
Belakangan ini, garis batas antara aku dan Sendai terasa makin
samar—seperti garis putus-putus yang bisa dengan mudah dia lewati. Dan yang
membuat celah itu, mungkin ya perasaanku sendiri. Sebenarnya, aku pengen garis
itu tetap nyambung, jadi satu garis lurus lagi. Tapi aku tahu, itu susah.
Aku mendorong pelan bahunya.
“Udah, cukup.”
Aku bilang jelas begitu, dan tiba-tiba dia malah nyeletuk,
“Eh, pengin es krim nggak?” sambil menatapku.
“Kemarin udah makan, jadi cukup.”
“Maksudku, ayo beli ke konbini.”
Sambil melepas genggaman, dia berdiri.
“Kalau pengin, ya kamu aja yang beli.”
“Yah, ayolah, bareng aja.”
Dia membungkuk, langsung meraih lagi tanganku.
“Nanti kepanasan.”
“Hitam dikit juga nggak apa-apa, kayaknya cocok deh sama
kamu.”
“Ngasal banget ngomongnya.”
“Mau kupinjemin sunblock?”
“Nggak usah.”
“Yaudah, berangkat yuk.”
Cuma bawa tas kecil sama dompet, tanpa persiapan apa pun, dia
udah jalan ke pintu. Aku belum sempat ambil HP, tapi ujung-ujungnya ikut
terseret juga.
Kami menuruni tangga, aku menatap kaki putih Sendai yang
menjulur dari celana pendeknya, lalu berjalan di bawah sinar matahari yang
panasnya kayak bisa masak telur ceplok. Aku jadi kepikiran: kalau kakinya kena
matahari begini, nanti jadi merah gosong, atau malah cokelat?
Sambil mikir aneh-aneh itu, aku nyesel juga.
—Harusnya tetap di rumah aja.
Tapi jelas Sendai nggak merasa begitu.
“Hey, Miyagi, jalannya cepetan dikit dong.”
Dia berhenti dan menoleh. Suaranya enteng, kayak lagi seneng
banget jalan-jalan panas-panasan gini.
“Kalau jalan cepat malah makin panas.”
“Kalau lelet, makin lama di luar, jadi lebih panas juga.”
Dia menarik lenganku supaya aku jalan lebih cepat. Aku
ngikutin, tapi langkahku tetap santai. Dia akhirnya menggenggam tanganku
erat-erat, jadinya kami otomatis jalan sambil bergandengan.
Tiba-tiba aku jadi ingat waktu nganter Mai ke stasiun. Saat
itu, Maika bilang: ‘Kalau kalian tinggal bareng, apa pun yang dilakukan berdua
pasti kelihatan kayak kencan.’ Padahal yang dia maksud jelas “tinggal bareng
sebagai pasangan”, bukan cuma “teman sekamar” kayak aku sama Sendai. Tapi
anehnya, sekarang jalan begini memang agak terasa kayak kencan.
“Sendai, aku bisa jalan sendiri kok. Lepasin tangannya.”
Aku bukan karena kepikiran kata-kata Mai. Hanya aja… ya entah
kenapa, aku nggak mau gandengan lama-lama. Jadi aku goyangkan tangan yang masih
dipegang.
“Nggak usah dilepas, nggak apa-apa kok.”
Di jalan menuju konbini, suara serangga musim panas
berdengung, udara lembap nempel di kulit, dan bayangan pepohonan terlalu tipis
buat jadi pelindung. Aku menggoyang lagi tangan yang masih digenggam, tapi
malah digenggam lebih kuat. Pas aku mau protes, Sendai tiba-tiba berhenti.
“Eh, itu Mikenya.”
“Mike?”
“Kucing belang tiga yang pernah aku ceritain. Tuh, datang ke
sini.”
Aku ikutin arah pandangnya, dan bener, seekor kucing calico
muncul, persis yang dulu aku lihat sama Maika.
“Kucing itu namanya Mike?”
“Ya, soalnya belang tiga. Aku asal aja sih, manggilnya
begitu.”
Sambil ngomong, dia langsung lepasin tanganku—yang tadi susah
banget kulepas—dan jongkok di pinggir trotoar.
“Mike-chan, sini~”
Kucing itu jalan pelan, lalu berhenti di depan Sendai,
mengeong pendek, dan seolah cuma dia yang kelihatan di mata si kucing. Sendai
mengulurkan tangannya, mengelus, bicara lembut. Suara dengkuran kucing
terdengar puas, dan dia bahkan sampai telentang minta dielus perutnya.
Sendai terus mengelus, seakan aku nggak ada di situ. Dan entah
kenapa, lihat itu bikin dadaku agak sesak.
“Hey, Sendai, sampai kapan mau elus-elus kucing?”
Aku nyebut namanya, mungkin agak terdengar kesal.
“Kenapa nggak kamu juga coba elus?”
Yang pengen kueelus tuh bukan kucingnya… tapi jelas aku nggak
bisa ngomong begitu. Jadi aku coba merunduk, ulurkan tangan. Tapi sebelum
sempat menyentuh, kucingnya kabur.
“Sendai…”
Nada suaraku jadi kayak nyalahin dia, meski bukan salahnya.
“Hmm, mungkin dia merasa sejenis sama kamu.”
“Aku kan bukan kucing.”
“Tapi aku tetap rasa kamu mirip kucing.”
Sendai—yang jelas lebih mirip anjing tinggi elegan—bicara
sambil tersenyum.
“Aku nggak mirip.”
Aku berdiri dan menarik tangannya.
“Ayo pergi, panas banget.”
“Oke, oke.”
Dia bangkit, dan kucing pun menghilang dari pandangan. Begitu
fokusnya balik lagi padaku, hatiku jadi lebih tenang.
Akhirnya kami cepat-cepat jalan, beli es krim tiga hari sekaligus, dan balik ke rumah. Pas nyampe kulkas, esnya udah mulai berkeringat karena hampir cair.
“Sendai, aku masukin semua ke freezer ya.”
Belum sempat dia jawab, aku udah taruh semua es. Tapi dia
buru-buru buka freezer lagi.
“Kenapa? Kita makan sekarang aja.”
Dia langsung ambil es rasa soda dan stroberi.
“Kan udah agak cair, mendingan dinginin lagi bentar.”
“Nggak parah kok, masih oke.”
Akhirnya aku ikut balik ke kamarnya dengan dua es di tangan.
Kami duduk bersandar di kasur, dan dia mengangkat dua es itu ke arahku.
“Miyagi, mau yang mana?”
“Kamu suka yang mana?”
Meskipun kesel dipaksa panas-panasan barusan, aku masih cukup
baik buat kasih dia pilihan dulu.
“Dua-duanya aku suka. Kamu pilih dulu.”
“Kalau gitu aku ambil soda.”
Aku sobek bungkus es berwarna biru muda, langsung gigit.
“Tuh kan, bener harusnya masuk freezer dulu.”
Aku protes setelah gigitan kedua. Rasanya enak, tapi esnya
agak lembek.
“Ah, nggak apa-apa, masih segar juga kok.”
"Nggak bagus. Rasanya kayak mau lepas dari stik
gitu"
"Ya udah, cepetan abisin aja"
Sendai bilang begitu lalu langsung gigit es loli dengan mulut
besar.
Banyak hal yang pengen aku omelin, tapi aku juga diam-diam
ikut menggigit es loli. Di luar panas banget, tapi sambil makan es begini, aku
merasa keputusan buat pergi beli tadi lumayan juga. Saat menoleh ke samping,
aku lihat wajah puas Sendai, dan tanpa sadar aku menatapnya lama.
"Miyagi, mau coba satu gigitan?"
Aku sebenarnya nggak minta, tapi es loli stroberi yang harum
itu disodorin ke depan wajahku. Aku melirik es loli merah yang udah kepotong
sepertiga, lalu balik menatap Sendai.
"Miyagi?"
Namaku dipanggil, aku malah nangkep lengannya. Tapi bukannya
menggigit es loli, aku malah menjilat bibirnya.
Manis.
Tapi rasanya cuma begitu, aku nggak bisa pastiin itu stroberi
atau bukan. Jadi aku ulangi lagi, jilatin bibirnya sekali lagi, sekadar
memastikan.
"Sendai, dingin"
Tetep aja, aku masih nggak yakin es itu beneran rasa stroberi
atau bukan.
"…Ya wajar lah, kan lagi makan es. Tapi yang aku maksud
‘mau coba’ tuh esnya, bukan aku"
"Kalau cuma nyicip rasa, makan es atau nyium bibir kan
sama aja"
"Ya beda lah. Lagian yang bilang ‘udah cukup ciuman’ itu
Miyagi sendiri lho. Lupa, ya?"
"Tadi itu bukan ciuman, cuma nyicip rasa"
Iya, ini bukan ciuman. Jadi nggak apa-apa kalau aku nyentuh
bibirnya.
Lagipula, meski itu dianggap ciuman, yang bilang “udah cukup”
kan cuma Sendai, bukan aku.
"Kalau gitu, aku juga mau nyicip rasa"
"Nggak boleh"
Aku tempelin es loli yang udah kugigit ke lehernya.
Sendai jerit lebih kenceng dari yang kubayangin dan buru-buru
menjauh.
Aku nggak mau dia kabur lebih jauh, jadi aku gigit lehernya.
Leher yang udah berkali-kali kugigit itu gampang ditembus
gigi, tapi aku atur biar nggak terlalu sakit. Lalu aku tekan lidahku ke
kulitnya.
Leher yang dingin karena AC rasanya manis, kayak bukan kulit
manusia. Padahal tadi aku udah tempelin es rasa soda, tapi yang terasa malah
aroma Sendai bercampur keringat, jadi rasanya lain sama sekali.
"Miyagi"
Pundakku ditepuk, aku lepas bibirku sebentar. Tapi langsung
kugigit lagi, menjilat pelan ke arah tulang selangka.
Sendai kali ini nggak ngeluarin suara seperti hari itu.
Tapi aku ingat jelas hari pertama aku berani nyentuh Sendai.
Suaranya, panas tubuhnya, bahkan basah di jariku, semua masih
melekat tajam di ingatan.
Aku pengen dia lihat aku lagi, cuma aku.
Dan aku juga pengen dia nyentuh aku sama besarnya.
Tapi aku juga tahu, itu terlalu jauh, dan nggak seharusnya
diulang berkali-kali.
"Hei, Miyagi"
Kali ini dia nepuk pundakku lebih keras.
Jadi aku balas dengan gigit pundaknya lebih keras juga.
Es loli di tanganku mulai meleleh, tetesannya bikin tanganku
basah biru.
"Miyagi, esnya! Nanti netes ke lantai"
Aku dengar, tapi pura-pura nggak dengar.
Sendai akhirnya ambil esku dan manggil aku lagi. Aku terpaksa
angkat wajah dan menatapnya.
"Buka mulut"
Suaranya rendah. Aku patuh buka mulut, lalu es loli yang
setengah leleh itu dimasukin paksa. Aku telan cepat-cepat, lalu ambil tisu buat
bersihin tangan.
"Lengket deh"
Tapi karena cuma tisu biasa, es yang nempel nggak benar-benar
hilang.
"Ya jelas lah. Lagian gara-gara ulah kamu, aku juga jadi
lengket"
Sendai mendengus, habis ngabisin esnya.
"Aku kan kucing. Kucing boleh ngejilat, kan"
"Kucing apaan?"
"Waktu ke konbini, kamu bilang aku mirip kucing"
"Aku emang bilang, tapi kenapa pas lagi makan es malah
kayak gini"
"Hal kayak gini nggak butuh alasan, kan. Lagi pula kalau
aku diem aja, pasti kamu duluan yang nyoba, jadi mending aku duluan"
"Ya ampun, Miyagi tuh emang bodoh ya. Kalau mau begitu,
jangan pas lagi makan es lah"
Sendai ngomong gitu sambil deketin bibirnya ke leherku.
Nafasnya yang lembap bikin geli, enak rasanya.
Tapi kalau aku biarin, pasti nggak cuma berhenti di ciuman.
Jadi aku dorong tubuhnya pelan.
"Kalau Miyagi boleh ngejilat karena mirip kucing, aku
juga boleh dong. Soalnya aku kan anjing, dan anjing juga suka ngejilat"
Dia ngomong pakai logika ngawur gitu sambil nyengir.
"Sendai emang bodoh"
Aku balikin kata-kata yang baru aja dia pakai ke aku. Tapi dia
nggak protes, malah tiba-tiba tanya:
"Miyagi, lusa kamu kosong nggak?"
"Kosong, sih"
"Oke, jadi janji kita buat jalan bareng kemarin, gimana
kalau lusa aja?"
"Boleh, tapi ke mana?"
"Rahasia. Nanti pas hari-H baru tahu"
Suara Sendai terdengar riang, lalu dia ketawa seneng banget.
Hari itu pun tiba.
Naik kereta, turun kereta, aku cuma terus jalan di samping
Sendai.
Soalnya bahkan sampai pagi ini, tujuan kita masih “kejutan”.
Aku udah sempet protes.
Aku bilang nggak tahu mau ke mana tuh bikin susah pilih baju.
Tapi dia malah ngasih aku rok, terus bilang, "Udah, pake ini. Habis ganti,
ke kamarku."
Dan akhirnya aku didandani tipis-tipis sama dia.
Jadi pagi-pagi udah kayak kencan, padahal aku bahkan nggak
tahu kita mau ke mana.
"Belum nyampe juga?"
Aku nanya sambil jalan di sampingnya.
"Dikit lagi kok"
"‘Dikit lagi’ tuh seberapa?"
"Ya dikit lagi itu ya dikit lagi"
Dia jalan santai tapi pasti, kayak udah tahu jalannya.
Hari itu dia pakai blouse sama rok warna adem, keliatan cantik
banget. Mungkin aku cuma ngerasa begitu karena suasananya beda, atau karena
tempatnya asing buatku. Tapi tetap saja, aku agak gugup.
Waktu itu kita masih SMA, dan sempet nonton film bareng.
Padahal bajunya biasa aja, tapi di mataku dia keliatan menonjol.
Singkatnya, dia selalu bisa bikin hal biasa keliatan indah.
"Miyagi, abis naik ini kita nyampe"
Sendai berhenti di depan lift.
"Tujuannya… aquarium, ya?"
"Benar! Wah, kok bisa nebak?"
Begitu dia jawab dengan suara ceria, lift datang, dan kita
masuk ke dalam kotak kecil itu.
"Soalnya tadi sempet lihat papan petunjuk, ada tulisan
aquarium. Tapi kenapa dirahasiain?"
Di dalam lift yang dicat biru, dia cuma bilang “hmm” pelan,
lalu diam.
Suasana agak rame karena ada banyak anak-anak liburan musim
panas, tapi dia tetap nggak jawab.
Begitu sampai, baru dia buka mulut:
"Soalnya aku takut kamu bilang nggak mau ikut"
Kalau Sendai yang keren, pintar, dan kelihatan nggak takut apa
pun sampai bilang kayak gitu… rasanya susah percaya. Tapi nada suaranya serius.
"Kenapa aquarium?"
Aku tanya lagi waktu kita ngantri tiket.
Setahuku, dia nggak pernah bilang suka ikan. Biasanya aquarium
tuh buat keluarga, turis, atau… ya, kencan.
Ah, aku jadi keinget kata-kata Maika lagi, tentang kencan.
"Soalnya Miyagi suka hewan, kan"
Aku langsung melotot.
"…Aquarium tuh isinya ikan, lho"
"Ya bagus. Aku kira kamu bakal bilang isinya
jerapah"
"Bukan itu maksudnya! Kalau suka hewan biasanya dibawa ke
kebun binatang, kan"
"Ikan juga hewan, jadi sama aja. Lagian, di aquarium
adem. Kalau di kebun binatang, panas banget."
Aku nggak bisa bantah soal itu.
Akhirnya aku bilang, "Ya udah, aquarium aja".
Dan gitu aja, rencana kita buat musim panas berikutnya juga ke-lock: jalan bareng lagi, kali ini ke kebun binatang.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.