Shuu ni Ichido Kurasumeito wo Kau Hanashi V7 Chap 1

N-Chan
0

Chapter 1

Aku, Miyagi, dan Liburan Musim Panas


Hari setelah aku menyentuh Miyagi, dia tidak ada di rumah.

 

Tapi hari setelah Miyagi menyentuhku, dia ada di rumah.

 

Meskipun kelihatan agak canggung, setidaknya dia tetap di rumah. Aku sendiri bukan tipe yang bakal kabur dari rumah kayak Miyagi, jadi kami masih bisa sarapan bareng, bahkan sempat bikin janji buat pergi ke suatu tempat selama liburan musim panas ini.

 

Tidak lama setelah itu, liburan musim panas pun dimulai, dan sudah berjalan seminggu.

 

Janji itu… masih sebatas janji. Intinya, aku masih belum bisa mutusin mau ke mana.

 

Aku memang yang harus nentuin tujuan, dan sebenarnya sih ada beberapa pilihan. Tapi nggak ada satu pun yang terasa kayak, “Nah, ini dia tempatnya.”

 

“Miyagi.”

 

Dari atas ranjang, aku menarik pelan rambut Miyagi yang sedang duduk di lantai sambil baca manga. Tubuhku yang malas-malasan rebahan di kasur hanya terhubung sedikit dengan dia, tapi rasanya jantungku berdetak lebih cepat.

 

“Sendai-san, dari tadi maksudnya apa sih?”

 

Miyagi, yang sedang bersandar ke ranjang dengan membelakangiku, menepuk tanganku dengan kesal.

 

Aku paham banget perasaannya.


Soalnya sejak dia datang ke kamarku, sudah tiga kali dalam sepuluh menit aku iseng narik rambutnya.

 

“Cuma lagi bosen aja.”

 

Miyagi nggak menanggapi. Tatapannya tetap tertuju ke manga yang dia bawa dari kamarnya.

 

Aku bersyukur hari-hari ini terasa tenang, seolah drama kaburnya Miyagi sebelum liburan itu cuma mimpi. Tapi ya, kalau Miyagi terus begini, tenggelam di manga dan nggak ngelihat aku, rasanya agak nyebelin juga. Meski begitu, aku nggak mungkin bilang terang-terangan kalau aku lebih pengen dia lihat aku daripada bukunya. Lagi pula, mustahil aku bisa ngalahin manga soal mana yang lebih menarik buat dia.

 

“Kalau bosen, baca ini aja.”

 

Miyagi mengambil salah satu manga dari tumpukan di lantai dan menaruhnya di kasur.

 

“Yang ini udah pernah aku baca.”

 

Aku mendorong manga itu ke tepi ranjang lalu menyisir rambutnya dengan jemariku.

 

Aku nggak bisa bohong kalau agak kesal karena aku kalah prioritas dari manga. Aku juga nggak bisa bilang aku nggak pengen jadi nomor satu di hatinya. Tapi untuk sekarang, lebih baik aku nikmati keadaan di mana Miyagi mau datang ke kamarku tanpa alasan jelas. Soalnya, sejak jadi teman sekamar, dia hampir nggak pernah ngizinin aku masuk ke kamarnya.

 

Apalagi kalau aku ingat hari setelah kejadian pertama kali kami melakukan sesuatu yang jelas-jelas bukan hal biasa antara teman sekamar… aku makin nggak pengen dia kabur dari rumah lagi.

 

“Ya udah, baca ulang aja.”

 

Terdengar suara datar dari dia.

 

“Udah bosen baca. Mending kita pergi jalan-jalan, yuk.”

 

“Sendai-san, kamu dari tadi cuma pegangin rambut aku, bukannya baca. Jadi mana bisa bilang bosen.”

 

“Ah, detail kecil gitu nggak usah dipikirin. Lagi pula, kita kan udah janji bakal pergi pas liburan.”

 

“…Terus, udah mutusin mau ke mana?”

 

Akhirnya Miyagi menutup bukunya dan menoleh ke arahku.

 

“Ke onsen.”

 

“Sekarang juga?”

 

“Sekarang juga.”

 

“Kayaknya udah telat kalau mau langsung pergi, deh.”

 

“Kan bisa nginep.”

 

Sebenarnya masih agak kepagian buat disebut sore, tapi sudah cukup lama sejak makan siang tadi. Kalau sekarang berangkat ke onsen, jelas nggak bisa pulang hari. Pasti harus nginep.

 

“Aku nggak pernah dengar kalau perginya bakal sejauh itu sampai harus nginep.”

 

Miyagi mengerutkan alis, jelas-jelas nggak setuju.

 

“Kita kan nggak pernah mutusin jarak. Jadi meskipun agak jauh, kenapa nggak?”

 

“…Jangan-jangan kamu udah booking penginapan?”

 

“Belum sih. Tapi pasti ada lah tempat yang bisa langsung dipakai nginep.”

 

“Sendai-san tuh bener-bener asal banget. Lagi pula, meski ada, aku nggak bakal mau. Kalau tahu perginya harus nginep, aku nggak bakal bilang iya dari awal.”

 

“Tebakanku bener.”

 

Sejak awal aku udah tahu jawabannya bakal begitu. Tapi, berharap sedikit kalau Miyagi bilang “oke” kan nggak ada salahnya. Sayangnya, hari ini harapan itu nggak kesampaian.

 

“Sendai-san, tolong pikirin tempat yang bener. Dekat aja, jangan yang jauh-jauh.”

 

Nada protesnya makin kentara, sekaligus langsung kasih batasan.

 

“Sebenernya aku juga mikirin yang dekat, kok.”

 

“Contohnya?”

 

“Hmm… masih bingung. Kalau udah mutusin baru aku kasih tahu.”

 

Aku pengen tempat yang bisa bikin Miyagi senang. Tapi justru itu masalahnya—aku nggak tahu apa yang bakal bikin dia benar-benar senang. Film? Kami udah pernah nonton bareng, jadi kurang greget. Shopping? Beda selera. Museum? Nggak yakin dia bakal suka.

 

Sama sekali nggak gampang kalau yang diajak itu Miyagi.

 

“Ya udah, nggak usah ke mana-mana.”

 

Dia kembali membuka manga, nada suaranya terkesan males.

 

Aku buru-buru narik lagi rambutnya biar dia lihat ke arahku. Aku nggak bisa terima kalau janji yang udah dibuat akhirnya cuma jadi sia-sia.

 

“Masih awal liburan. Kita nggak perlu buru-buru mutusin. Sabar aja dulu.”

 

Sekarang kan aku bukan lagi anak SMA. Liburan musim panas baru selesai setelah masuk September, jadi masih banyak waktu.

 

“Sendai-san kan juga punya kerja sambilan. Jadi nggak usah maksain bikin acara jalan-jalan. Kerja aja udah cukup.”

 

Miyagi mendorong perutku sambil malas-malasan ngomong.

 

“Kerja sambilannya nggak banyak kok. Jadi aku lumayan senggang.”

 

Sebenarnya aku sempat kepikiran buat nambah kerjaan. Tapi, ujung-ujungnya aku sadar—yang aku butuhin bukan tambah kerja, tapi tambah waktu sama Miyagi.

 

“Kalau senggang, ya tambahin kerjaan aja. Aku mah mending di rumah. Panas banget soalnya.”

 

Dia bilang begitu sambil dorong perutku lagi, kayak aku ini boneka besar. Dan memang, panasnya musim panas kali ini benar-benar bikin malas keluar. Tapi kalau cuma karena alasan “panas” kami jadi nggak ke mana-mana, rasanya terlalu sia-sia.

 

“Pokoknya aku nggak mau nambah kerjaan. Lebih penting, Miyagi sendiri nggak ada tempat yang pengen dikunjungi?”

 

Aku tahu dia pasti nggak jawab, tapi tetap kucoba tanya.

 

“Kan udah jelas dari awal, yang mutusin kamu.”

 

“Iya, tapi kan kita pergi bareng. Jadi aku pengen dengar pendapatmu juga.”

 

“Tadi aku udah bilang pendapatku.”

 

“Yang mana?”

 

“Di rumah aja.”

 

Kali ini suaranya agak rendah, lalu dia mengusap perutku pelan.

 

Rasanya bener-bener kayak dia lagi ngeraba boneka, bukan manusia.

 

“Miyagi.”

 

Aku turun dari kasur, duduk di sebelahnya, lalu menyentuh rambutnya. Aku menempelkan bibirku sebentar ke antingnya.

 

“Emang ada perlu buat cium anting?”

 

“Perlu. Soalnya aku janji bakal mutusin tujuan, jadi aku sumpah ke antingmu biar nggak ngelanggar.”

 

“Itu kan bukan jenis janji yang perlu disumpahin.”

 

“Tapi lebih tenang kalau aku sumpah.”

 

Aku tersenyum, dan sebelum dia sempat ngomong sesuatu yang pastinya protes lagi, aku taruh jariku di bibirnya, mencuri kata-katanya.

 

Dia menatapku, lalu perlahan menutup mata.

 

Itu artinya aku boleh menciumnya.

 

Aku pun menempelkan bibirku ke bibirnya.

 

Lidahku mencari, dan Miyagi membiarkanku masuk tanpa perlawanan.

 

Miyagi saat musim panas… selalu lebih lembut.

 

Tahun lalu juga begitu. Dia membiarkanku menyentuhnya.

 

Aku benci panasnya musim panas, tapi kalau itu artinya Miyagi jadi lebih lembut, aku berharap musim ini nggak akan pernah berakhir.

 

Aku melepaskan bibirku sebentar, lalu mencium dia lagi—lebih dalam kali ini.

 

“Ciumanmu kebanyakan.”

 

Dia menggerutu pelan sambil sedikit menjauh dariku.

 

“Kalau kamu ngizinin aku cium terus, aku sih nggak keberatan kita nggak ke mana-mana.”

 

Aku menawarkan dengan nada main-main.

 

“‘Terus’ tuh maksudnya?”

 

Aku mengusap pipinya, jemariku turun ke lehernya.

 

“Bukan cuma hari ini, tapi sepanjang liburan musim panas.”

 

Aku menelusuri tulang selangkanya, mendekatkan wajahku ke lehernya. Tapi dia langsung mendorong bahuku.

 

“Kan kamu udah janji bakal mutusin tempat. Jadi tepati janji itu.”

 

Miyagi menatapku tajam.

 

“Dasar pelit.”

 

“Aku nggak pelit.”

 

“Pelit banget.”

 

“…Kalau nggak terlalu banyak, masih oke.”

 

Dia bergumam nyaris tak terdengar.

 

“Eh? Tadi kamu bilang apa?”

 

Aku jelas dengar, tapi tetap nanya ulang karena nggak percaya.

 

Aku menyebut namanya. Tapi dia tetap diam.

 

Jadi aku menciumnya lagi untuk memastikan.


Dan memang, dia tidak menolak.

 

Hanya saja, waktu aku mencoba menyentuh lehernya, dia menolakku.

 

“Hari ini udah cukup.”

 

Begitulah Miyagi saat musim panas: lembut, tapi juga licik.


Karena setiap kali dia mengizinkan hal-hal kecil seperti ini, aku jadi merasa dia benar-benar punya perasaan padaku.

 

Aku menimbang: lebih baik mempertahankan momen ini, atau mencoba memastikan perasaan Miyagi. Dan tanpa perlu pikir panjang, jelas momen ini jauh lebih berharga.

 

Suara kertas manga yang dibalik kembali terdengar.


Aku mengingat lagi dinginnya kulit tangannya tadi, lalu sedikit menaikkan suhu AC.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !