Bab 5
"Sisi Lain dari Kakak Perempuan yang Polos dan Manis"
Hari
pertama karyawisata――meski sempat ada insiden tak terduga, setelah berdamai
dengan Umikawa-san, semuanya berjalan lancar tanpa masalah berarti, dan kini
malam pun tiba.
Setelah
menyantap hidangan lezat di hotel dan mandi sendirian dalam sepi, aku sedang
berjalan kembali ke kamar yang kugunakan bersama teman-teman laki-laki
sekelasku, namun――
"Ah,
Aoyagi-kun."
――Aku
berpapasan dengan Sasagawa-sensei yang tersenyum manis seolah berkata, 《Ketemu mangsa bagus!》.
Aku tahu
dia ikut dalam karyawisata ini sebagai wakil wali kelas... tapi karena
perasaanku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, aku langsung berbalik arah.
"Hei,
hei!? Kenapa kamu malah putar balik!? Tadi kamu sengaja mau pura-pura tidak
lihat, kan!?"
Namun
sayangnya aku gagal kabur karena Sasagawa-sensei dengan cepat mencengkeram
bahuku dari belakang.
Bukannya
aku membencinya, malah beliau adalah guru yang sangat populer di kalangan siswa
laki-laki dan sesama guru pria. Hanya saja, orang ini selalu memancarkan aura
merepotkan.
Sebisa
mungkin aku tidak ingin berurusan dengannya.
Apalagi
mengingat ada Char.
"Tidak,
saya baru ingat ada barang yang tertinggal, jadi saya mau kembali ke pemandian
umum..."
"Ya
ampun, kamu bohong, kan? Kamu sudah bawa baju gantimu dengan rapi, dan semua
perlengkapan mandi seperti sampo sudah tersedia lengkap di pemandian hotel ini.
Kalau cuma kebohongan level segitu, aku juga bisa menebaknya, lho."
Meski
Sasagawa-sensei terkenal dengan kesan santai dan polosnya, ia dengan mudah
mematahkan alasanku.
Ternyata,
gelar sebagai teman masa kecil Miyu-sensei bukanlah isapan jempol belaka...
"Bahkan
kalau Sensei memakan saya, rasanya tidak enak, lho...?"
"Sayang
sekali, aku ini spesialis perempuan."
Karena
merasa bersalah telah berbohong, aku mencoba berkelit dengan bercanda, tapi
balasan yang kuterima malah diucapkan dengan nada serius.
Bahkan
sepertinya, kata 'memakan' yang kumaksud ditafsirkan ke arah yang berbeda
olehnya.
Padahal
maksudku murni mengibaratkan serigala yang akan memakan anak babi...
"Sekarang
kamu sedang senggang, kan? Toh, setelah ini cuma waktu bebas sambil menunggu
jam tidur."
"Dibilang
senggang ya mungkin iya, tapi saat ini saya sedang dalam perjalanan kembali ke
kamar..."
Memang aku
tidak punya rencana apa-apa setelah ini.
Menurut
manga atau anime favorit Char, biasanya saat karyawisata seperti ini adalah hal
yang wajar bagi karakter laki-laki untuk menyusup ke kamar perempuan. Namun,
kalau aku berani-berani masuk ke kamar Char, aku sudah bisa membayangkan
Shimizu-san dan Kiriyama-san yang sekamar dengannya akan dengan senang hati
menjadikanku bulan-bulanan bersama Char.
Karena
itulah, aku hanya berencana bersantai di kamarku.
"Soal
baju dingin... ya, aku bawa mantel, jadi ini, pakai."
Sambil
berkata begitu, beliau menyodorkan sebuah mantel tebal khusus pria untuk
kupakai.
Ah,
hangat...
batinku sesaat, tapi anehnya, ukurannya sangat pas di badanku.
Tunggu,
ini...
"Sejak
awal, Sensei memang sudah menungguku, kan...? Lagipula, sejak pertama kali kita
berpapasan tadi Sensei sudah memakai mantel, berarti Sensei sudah sangat siap
untuk pergi ke luar..."
Seperti
yang beliau katakan sendiri tadi, target romantis Sasagawa-sensei adalah
perempuan, bukan laki-laki.
Jadi,
fakta bahwa beliau membawa mantel pria saja sudah aneh, dan kemungkinan
ukurannya pas di badanku karena kebetulan sangatlah kecil.
Entah apa
tujuannya, tapi kemungkinan besar beliau memang sudah berniat membawaku ke luar
dan sengaja mencegatku di sini.
Asalkan
tahu nomor kamarku, beliau pasti tahu bahwa aku akan pergi ke pemandian umum,
jadi beliau hanya perlu menungguku di sudut lorong yang tak mencolok.
"Aku
sering dengar cerita tentangmu dari Miyu-chan, dan ternyata intuisimu memang
tajam, ya~. Baguslah, dengan begini kita bisa langsung ke intinya. Ayo
jalan."
Meskipun
niatnya mencegatku sudah terbongkar, Sasagawa-sensei tanpa rasa bersalah
menarik tanganku dan menuntunku berjalan seolah itu hal yang wajar.
"T-Tunggu
sebentar, Sensei!? Kalau sampai ada yang lihat ini bakal gawat, atau lebih
tepatnya, seorang guru membawa muridnya keluar di malam hari itu melanggar
aturan, kan...!?"
"Tena~ng
saja, tena~ng. Kalaupun ada yang lihat, tidak akan ada murid yang mikir kalau
kita ini pacaran, kok~."
Alasannya
sudah jelas; hampir seluruh murid di sekolah ini tahu kalau Sasagawa-sensei
hanya tertarik pada sesama perempuan.
Masalahnya,
aku ini laki-laki normal yang menyukai perempuan, jadi tetap saja ada
kemungkinan besar tindakannya ini akan memicu kesalahpahaman bahwa akulah yang
menaruh hati padanya.
Malahan,
kalau Char sampai melihat kami berjalan sambil berpegangan tangan (atau
setidaknya terlihat seperti itu), aku bisa langsung divonis selingkuh di
tempat.
"Bagi
Sensei mungkin tidak masalah, tapi bagi saya ini gawat...!"
"Kalau
begitu, kita jalan lebih cepat, ya~. Omong-omong, untung saja tadi Aoyagi-kun
sedang berjalan sendirian, jadi aku mudah mendekatimu~. Sifat penyendirimu
ternyata belum sembuh, ya."
"Eh!?
Kenapa tiba-tiba saya yang dihina!? Terus, tolong berhenti bicara seolah saya
ini memang penyendiri dari sananya!? Dulu saya sering menghabiskan waktu
bersama Akira, kan!?"
"Kalau
tidak ada Saionji-kun, kamu itu loner alias penyendiri, kan~."
"Ugh...!"
Itu fakta
yang tak bisa kubantah.
Kenyataannya,
karena Akira tidak ikut karyawisata kali ini, aku tidak punya teman laki-laki
untuk diajak berjalan bersama dan akhirnya berujung sendirian.
"Padahal
aku yakin pasti ada banyak murid laki-laki yang ingin berteman denganmu~.
Kenapa kamu malah membangun tembok pembatas seperti itu~?"
Tanpa
menoleh sedikit pun, Sasagawa-sensei terus menarikku sambil melangkah dengan
santai. Namun, pertanyaan yang ia lontarkan benar-benar sulit untuk dijawab.
Meski
bukan pertanyaan yang benar-benar menusuk titik lemahku, tapi aku menyadari
bahwa di balik penampilannya yang santai, beliau benar-benar memperhatikan para
muridnya.
"Karena
awalnya saya sudah tidak akrab dengan mereka, jadi rasanya canggung kalau
tiba-tiba sok akrab sekarang..."
"Bilang
saja, alasan sebenarnya karena kamu tidak ingin ada yang mendekati
Charlotte-san, kan~? Di antara para murid laki-laki, banyak lho yang menyukai
Charlotte-san, dan meski dia sekarang sudah punya pacar, pasti masih ada yang
diam-diam mengincarnya, kan~?"
Ya ampun,
orang ini... entah kenapa hari ini dia tanpa ragu menginjak area privasiku...
Mungkin
karena selama ini aku jarang berinteraksi dengannya sehingga aku tidak tahu
sifat aslinya, atau mungkin memang beginilah karakternya... jujur saja, beliau
cukup sulit dihadapi.
"Selain
itu, Aoyagi-kun sekarang sudah jadi pusat perhatian di sekolah, apalagi kamu
lumayan populer di kalangan siswi kelas satu, kan~? Pasti banyak murid
laki-laki yang ingin memanfaatkanmu sebagai batu loncatan untuk bisa dekat
dengan para gadis itu, kan~?"
"Saya
tidak merasa diri saya populer di kalangan adik kelas. Tapi, kalau Sensei sudah
tahu sedetail itu, kenapa harus repot-repot bertanya pada saya...?"
"Hmm~,
aku kan cuma mau memastikan~."
Sasagawa-sensei
mengelak dengan nada bicara santainya yang khas.
Sekarang
aku sedikit mengerti kenapa Miyu-sensei sering kerepotan menghadapinya.
Di balik
penampilan dan sikapnya yang terlihat polos, beliau sebenarnya tidak sepolos
itu; beliau adalah wanita yang perhitungan.
Kasarnya,
kesan bahwa beliau adalah orang yang "lamban dan ceroboh" seketika
luntur dari benakku.
Pada
akhirnya, aku diseret keluar dari hotel begitu saja.
"――Ugh...
Malam hari di Hokkaido benar-benar dingin, ya~."
Sambil
berjalan menuju bukit kecil di dekat hotel, Sasagawa-sensei menggigil
kedinginan.
Sejujurnya,
tak ada orang waras yang mau berjalan-jalan di luar pada malam sedingin ini...
"Hati-hati
jangan sampai kena masuk angin setelah mandi, ya. Kalau Sensei sampai demam di
hari pertama, Sensei bakal menghabiskan sisa karyawisata ini dengan rebahan di
hotel saja, lho."
"Kalau
Sensei sudah tahu, tolong jangan seret saya keluar..."
"Ah,
ayo duduk di sini."
Saat aku
menatapnya dengan pandangan yang sedikit memprotes, Sasagawa-sensei
mengabaikannya dengan anggun lalu duduk di atas padang rumput di puncak bukit.
Beliau
benar-benar orang yang berjalan di temponya sendiri...
"Jadi,
kenapa Sensei membawa saya keluar?"
"Itu
sudah pasti karena aku ingin bicara denganmu. Kalau di sekolah kan
Charlotte-san selalu menempel padamu, belum lagi ada anak-anak lain. Kalau
tidak dengan cara begini, kita tak akan bisa bicara berdua saja."
Artinya,
beliau ingin membicarakan suatu rahasia.
Kalau
beliau sampai sejauh ini, hal yang ingin dibicarakannya denganku pasti ada
hubungannya dengan Miyu-sensei...
"Lihat,
bulannya indah, ya."
"――Eh!?"
Tepat
setelah aku duduk di sebelah Sasagawa-sensei, kata-katanya yang tiba-tiba
membuatku refleks menoleh ke arah wajahnya.
Dan saat
aku menoleh, kulihat Sasagawa-sensei sedang tersenyum lebar――dengan seringai
jahil yang kentara.
"Ini
bukan pernyataan cinta, lho~?"
"Sensei
sengaja memancing saya, kan...!"
"Yep."
Tanpa rasa
bersalah, Sasagawa-sensei mengiyakannya dengan cepat.
Sudah
kuduga, aku memang sangat kewalahan menghadapi orang ini...
"Tapi,
sungguhan indah, lho. Langit malamnya cerah tanpa awan sedikit pun, dan bulan
purnamanya bersinar terang, makanya terlihat sangat jelas. Tentu saja,
bintang-bintang yang bertaburan memenuhi langit juga."
Sasagawa-sensei
sepertinya menyukai hal-hal yang romantis.
Mungkin
bisa dibilang ini sisi femininnya. Ia menatap langit malam yang bertabur
bintang dengan wajah yang berseri-seri bahagia.
"Tapi,
Sensei mengajak saya kemari bukan cuma untuk melihat bintang, kan?"
Berada di
bawah langit sedingin ini setelah selesai mandi benar-benar bisa membuatku
masuk angin, jadi aku memutuskan untuk segera membawa pembicaraan ini ke topik
utamanya.
"Duh,
Aoyagi-kun ini benar-benar perusak suasana, ya."
Meski
sudah dewasa, Sasagawa-sensei menggembungkan pipinya kesal layaknya anak kecil.
"Kalau
seorang guru dan muridnya membangun suasana romantis, itu justru gawat,
kan..."
"Cih."
Begitu
kubalas dengan fakta logis, ia merajuk sesaat, lalu kembali menatap langit
malam.
Kemudian――dengan
senyuman yang hangat dan lembut, ia perlahan membuka mulutnya.
"Syukurlah.
Soal keluargamu, sepertinya semuanya sudah selesai dengan baik, ya."
"――Hah."
Tak
menyangka beliau akan mengungkit masalah keluargaku, aku kembali menatap
Sasagawa-sensei dengan terkejut.
"Fufu,
jangan kaget begitu. Apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa?"
"Lebih
tepatnya, fakta bahwa Sensei tahu justru yang membuat saya terkejut... Apakah
Miyu-sensei yang memberitahukannya pada Anda?"
Miyu-sensei
bukanlah tipe orang yang tidak bisa menjaga rahasia.
Namun,
mengingat Sasagawa-sensei adalah teman masa kecilnya, mungkin saja Miyu-sensei
menceritakan hal itu padanya.
"Bukan,
aku cuma menebak-nebak saja."
"Orang
ini, benar-benar..."
Menghadapi
Sasagawa-sensei yang tertawa senang, kepalaku rasanya jadi pening.
Ternyata
bukan Miyu-sensei yang buka mulut, malah aku sendiri yang tak sengaja
membeberkan semuanya melalui reaksiku tadi.
"Soalnya
akhir-akhir ini Miyu-chan kelihatan bahagia, dan aku juga tahu kalau keluarga
Aoyagi-kun itu sedang bermasalah. Jadi aku berasumsi, ah, masalahnya pasti
sudah selesai~."
"Jadi
Sensei tahu kalau keluarga saya bermasalah, ya..."
"Tentu
saja. Ingat, aku ini teman masa kecil Miyu-chan, lho? Aku tahu semua hal
tentangnya."
Eh,
bukankah yang baru saja dibahas itu masalahku...?
Mungkin
maksudnya karena Miyu-sensei ikut terlibat di dalamnya?
Orang ini,
jangan-jangan dia selama ini membuntuti Miyu-sensei...?
Kalau
mengingat karakternya, kemungkinan itu cukup menakutkan karena sepertinya ia
sangat mampu melakukannya.
"Nah,
sekarang aku punya pertanyaan untuk Aoyagi-kun. Tentu saja, selesainya masalah
keluargamu itu adalah berkat kerja kerasmu sendiri, kan? Tapi, itu bukan cuma
berkat usahamu seorang diri, kan? Kau sadar tidak, kalau semua ini juga berkat
Miyu-chan yang sudah banyak membantumu di balik layar?"
Meski nada
bicaranya masih terkesan main-main, Sasagawa-sensei menatap mataku dengan sorot
yang serius.
Sepertinya
inilah inti dari pembicaraannya.
"Ya,
saya sadar kalau Miyu-sensei selama ini peduli pada saya di sekolah. Dan
sepertinya beliau juga punya suatu hubungan dengan orang yang seperti kakak
perempuan saya itu... Saya sangat berterima kasih kepadanya."
Meskipun
aku tidak tahu apa tujuan Sasagawa-sensei menanyakan hal ini, aku menjawabnya
dengan jujur.
Mendengar
jawabanku, Sasagawa-sensei tersenyum puas, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan
dan memiringkan kepalanya seolah mengintip wajahku dari bawah.
"Baguslah
kalau begitu, ini akan mempercepat pembicaraan kita. Setelah apa yang
dilakukannya, apa kau tak berniat membalas budi pada Miyu-chan?"
"Apa
maksud Anda...?"
"Apakah
kau benar-benar berpikir bahwa kebetulan Kanon-chan kenal dengan Miyu-chan?
Apakah kau juga yakin kalau Kanon-chan menyuruhmu masuk ke SMA ini hanya karena
kebetulan Miyu-chan mengajar di sini? Apakah kau benar-benar percaya semua itu
hanyalah kebetulan semata?"
"............"
Mendapat
pertanyaan tajam dari Sasagawa-sensei yang menyipitkan matanya seolah sedang
mengujiku, aku menahan napas.
Sebenarnya,
kemungkinan itu juga pernah terlintas di pikiranku.
Saat aku
mengetahui bahwa ada semacam benang takdir yang mengikat Kanon-san dan
Miyu-sensei, aku sempat menduga bahwa alasan Kanon-san menyuruhku masuk ke SMA
ini adalah murni karena ada Miyu-sensei di sini.
Tapi
karena kurasa itu terlalu jauh, aku memutuskan untuk tidak memikirkannya
lagi... Namun, mendengar cara Sasagawa-sensei bertanya, dugaanku sepertinya
benar; Kanon-san memang sengaja memasukkanku ke SMA ini karena keberadaan
Miyu-sensei.
"Ternyata,
Anda juga tahu nama Kanon-san, ya...?"
"Soalnya,
waktu anak itu datang menemui Miyu-chan, aku kebetulan sedang ada di
sana."
"Kapan
kejadiannya...?"
"Saat
kamu kelas 2 SMP."
Dengan
kata lain, Kanon-san pergi menemui Miyu-sensei tepat setelah kejadian di mana
ayahku mengurungku sehingga aku tidak bisa mengikuti turnamen nasional...
Jika
kejadiannya terjadi sebelum itu, beliau tidak perlu repot-repot memberikan
penekanan khusus pada kalimat 《Saat kamu
kelas 2 SMP》.
"Seperti
yang kau ketahui, Kanon-chan bukan siswi di sekolah ini, dan meskipun saat itu
dia kelas 3 SMP, dia sama sekali tidak berencana masuk ke sekolah ini. Jadi,
tak mungkin dia menemui Miyu-chan karena mendengar reputasinya lalu datang
untuk meminta bimbingan akademis, kan? Lalu, kenapa Kanon-chan sampai harus
datang dan meminta bantuan pada Miyu-chan?"
"Skenario
yang paling masuk akal adalah mereka berdua memang sudah saling kenal
sebelumnya..."
"Kenal
dari mana?"
Mungkin
karena ia tidak mau memberikan jawabannya secara cuma-cuma, Sasagawa-sensei
mulai melontarkan pertanyaan pancingan agar aku sendiri yang menyimpulkannya.
Wanita ini
benar-benar penuh perhitungan.
"Entahlah,
sejak kecil saya memang sering menghabiskan waktu bersama Kanon-san, tapi saya
belum pernah sekalipun melihatnya bertemu dengan Miyu-sensei."
"Sungguh?
Kau benar-benar tidak bisa menebaknya?"
Sasagawa-sensei
semakin mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat mataku dari jarak yang sangat
dekat.
Ugh,
ini... tergantung dari sudut mana orang melihatnya, ini benar-benar terlihat
seperti adegan orang mau berciuman. Sumpah, tolong hentikan...
Sadar
bahwa jika Char melihat ini aku akan tertimpa kesalahpahaman yang maha dahsyat,
aku segera menjauhkan wajahku.
Seandainya
murid laki-laki lain yang melihat pemandangan ini, mereka pasti sudah
berteriak, 《Woi, tukeran posisi
dong!!》.
Meskipun
aku berusaha menghindar, bukan berarti pikiranku kosong. Aku sudah punya
bayangan mengenai titik temu antara Miyu-sensei dan Kanon-san.
Meskipun
sifat mereka saling bertolak belakang dan usia mereka juga terpaut lumayan
jauh――ada satu hal yang mengganjal pikiranku.
"Tidak,
saya benar-benar tidak tahu."
Namun, aku
merasa bahwa ini bukanlah ranah di mana aku bisa ikut campur begitu saja, jadi
aku memilih untuk pura-pura bodoh.
Sasagawa-sensei
menatap wajahku lamat-lekat, lalu mendesah panjang dengan raut wajah seolah
telah menyerah.
"Kau
ini, licik sekali, ya..."
"Maksud
Anda apa, ya?"
"Ah,
sudahlah, lupakan saja. Lagipula aku sudah membulatkan tekad sebelum datang
kemari. Maaf, aku akan memaksamu terlibat dalam masalah ini――kau tahu,
Miyu-chan itu sebenarnya adalah kakak perempuan Kanon-chan."
Aku
benar-benar telah meremehkan wanita ini.
Dengan
tulus, aku mengakuinya.
Tanpa
memberiku kesempatan untuk kabur atau mengalihkan pembicaraan, ia dengan sukses
menyeretku masuk ke dalam pusaran masalah ini.
"............"
"Kau
sama sekali tidak kaget, ya?"
Melihatku
yang terdiam kehilangan kata-kata, Sasagawa-sensei menyunggingkan senyum
kemenangan seolah berkata, 《Rasakan
itu》.
Miyu-sensei
pasti akan sangat marah jika ia tahu Sasagawa-sensei membocorkan rahasia ini
kepadaku secara sepihak――tapi sepertinya, Sasagawa-sensei berada di sini dengan
kesiapan penuh untuk menanggung amarah sahabatnya itu.
"Yah...
mengingat Sasagawa-sensei sampai repot-repot berbicara dengan nada seserius
itu, kemungkinan yang paling logis adalah ini menyangkut masalah
keluarga..."
Sulit
membayangkan Kanon-san berselisih paham dengan orang yang sama sekali tidak
dikenalnya, begitu pula dengan Miyu-sensei; jika ada masalah, ia pasti akan
mengurusnya sendiri.
Melihat
fakta bahwa dua orang yang begitu mandiri ini saling berbenturan, aku bisa
menebak bahwa akar masalahnya berasal dari hubungan yang sudah ada sejak mereka
lahir.
Namun, aku
belum pernah mendengar cerita bahwa Kanon-san punya kakak perempuan, dan
mengingat jarak usia mereka yang cukup jauh, sepertinya hubungan persaudaraan
mereka tidaklah sesederhana itu.
Dan
sepertinya, hal rumit itulah yang menjadi alasan Sasagawa-sensei bersikeras
menyeretku ke dalam masalah ini.
"Jadi,
meskipun Anda akan dimarahi Miyu-sensei, Anda merasa ada gunanya menceritakan
semua ini pada saya...?"
"Iya.
Jujur saja, Miyu-chan mungkin berpikir bahwa dia sudah memutus hubungannya
dengan masa lalu. Tapi nyatanya, dia masih menyimpan luka itu, dan tali
persaudaraan mereka belum sepenuhnya terputus. Kalau dibiarkan begitu saja,
bukan hanya Miyu-chan yang akan menderita, Kanon-chan pun akan bingung harus
berbuat apa. Karena itulah aku ingin mengandalkanmu. Kau adalah satu-satunya
jembatan yang mungkin bisa menyatukan mereka berdua."
Meskipun
gambaran utuhnya masih belum begitu jelas, intinya hubungan antara Miyu-sensei
dan Kanon-san saat ini tidaklah dalam kondisi yang baik.
Namun,
kalau kuingat kembali reaksi Miyu-sensei saat aku menyebut nama Kanon-san tempo
hari, aku tidak melihat adanya kebencian atau permusuhan di wajahnya.
Dan
melihat fakta bahwa Kanon-san justru meminta bantuan Miyu-sensei untuk mengurus
masalahku, perselisihan mereka tampaknya tidak didasari oleh perasaan saling
benci, melainkan oleh masalah status dan posisi mereka yang rumit.
Setelah
itu, Sasagawa-sensei menceritakan detail mengenai hubungan Miyu-sensei dan
Kanon-san, serta kisah tentang ibu kandung Miyu-sensei.
Secara singkat,
Miyu-sensei dan Kanon-san adalah saudara tiri beda ibu.
Ibu
kandung Miyu-sensei dan ayah Kanon-san rupanya adalah sepasang kekasih sejak
mereka masih di bangku sekolah.
Namun,
karena tuntutan kebijakan Konglomerat Himeiragi, sang ayah dipaksa untuk
melakukan pernikahan politik, yang otomatis membuatnya harus memutuskan
hubungannya dengan ibu Miyu-sensei secara paksa.
Jika
ceritanya hanya sampai di situ, mungkin itu adalah tragedi klasik yang sudah
biasa terjadi di kalangan konglomerat.
Masalahnya,
saat mereka dipaksa berpisah――ibu Miyu-sensei sedang mengandung Miyu-sensei.
Terjebak
dalam situasi itu, Konglomerat Himeiragi hanya bisa menempatkan ibu Miyu-sensei
dalam posisi sebagai wanita simpanan, sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh
segelintir orang di keluarga tersebut.
Tentu
saja, bagi Konglomerat Himeiragi, eksistensi ibu Miyu-sensei adalah duri dalam
daging. Akibatnya, ia diperlakukan dengan sangat buruk di sana――dan pada
akhirnya, saat Miyu-sensei masih sangat kecil, sang ibu meninggal dunia akibat
kelelahan fisik dan mental.
Oleh
karena tragedi itulah, Miyu-sensei menyimpan dendam mendalam terhadap ayah
Kanon-san. Alih-alih tinggal di bawah asuhan Konglomerat Himeiragi, ia memilih
untuk diasuh oleh kakek-nenek dari pihak ibunya.
Kabarnya,
Sasagawa-sensei dan Miyu-sensei mulai saling mengenal sejak saat itu.
Pikiranku
melayang pada saat kami membahas tentang ayahku sebelumnya, dan aku teringat
akan ucapan Miyu-sensei.
《Mengenai kondisi keluargamu... Jujur saja,
aku mengerti kenapa kau tak ingin membicarakannya. Ayahmu itu... cukup
eksentrik. Secara pribadi, aku membencinya.》
Awalnya
aku sempat heran bagaimana bisa seorang guru berbicara segamblang itu tentang
orang tua muridnya... tapi sekarang aku paham, ucapan itu adalah cerminan dari
perasaannya terhadap ayahnya sendiri.
"Lalu,
apakah saat Kanon-san datang untuk memohon bantuan demi saya, itu adalah
pertemuan pertama antara beliau dan Miyu-sensei?"
"Bukan.
Pertama kali mereka bertemu... kurasa saat Kanon-chan masih di preschool,
ya? Dia datang menemui Miyu-chan dengan ditemani oleh seorang pelayan yang
usianya sebaya dengan kami."
Orang itu
pasti Kaguya-san.
Entah dari
mana Kanon-san mengetahuinya, tapi begitu sadar bahwa ia memiliki seorang kakak
perempuan, ia pasti sangat ingin menemuinya.
Sejak
kecil, Kanon-san selalu mendambakan sosok saudara.
"Tentu
saja, mengingat apa yang telah diperbuat ayah mereka, Miyu-chan menolak untuk
berurusan dengannya dan menganggapnya sebagai orang asing. Sejak saat itu,
sambil beranjak dewasa, Kanon-chan sudah beberapa kali datang berkunjung――namun
Miyu-chan selalu mengabaikannya. Tapi kurasa, seiring berjalannya waktu,
Miyu-chan tak lagi membenci Kanon-chan. Dia hanya bersikap dingin agar
Kanon-chan tidak punya alasan untuk berhubungan lebih jauh dengannya."
Begitu
ya... Miyu-sensei pasti berpikir bahwa jika ia bersikap layaknya seorang kakak
perempuan, hal itu justru hanya akan membawa penderitaan dan kesulitan bagi
Kanon-san di masa depan. Karena itulah, ia dengan sengaja menjaga jarak
darinya.
Jika
mengingat bagaimana Kanon-san mengangkatku menjadi adik laki-lakinya secara
sepihak, kalau itu adalah kakak perempuan kandungnya (meskipun beda ibu), ia
pasti akan berusaha melakukan segala cara untuk membawa Miyu-sensei kembali ke
Konglomerat Himeiragi.
Tetapi,
orang-orang di sekitarnya tidak akan pernah menyetujui kembalinya anak dari
seorang wanita simpanan――Miyu-sensei yang menyadari hal itulah yang akhirnya
memilih untuk bersikap dingin.
Namun,
Kanon-san memiliki intuisi yang luar biasa dalam menilai seseorang.
Ia pasti
sudah menyadari bahwa sikap dingin Miyu-sensei itu bukanlah berasal dari
hatinya yang terdengar.
Karena
keyakinan itulah, ia tak pernah menyerah dan terus mengunjunginya.
"Tapi
sejak Miyu-chan menjadi guru dan sibuk dengan pekerjaannya, anak itu sudah
tidak pernah datang lagi, sih."
"Mungkin
dia merasa sungkan karena Miyu-sensei sibuk."
"Mungkin
juga. Yah, aku sempat berpikir kalau dia akhirnya menyerah... tapi bayangkan
betapa terkejutnya aku saat melihat Kanon-chan berdiri di depan pintu apartemen
Miyu-chan sambil menangis memohon bantuannya waktu itu. Oh iya, apartemenku
letaknya persis di sebelah apartemen Miyu-chan, lho."
Lagi-lagi,
Sasagawa-sensei menyelipkan informasi dengan nada santai yang seolah
mengonfirmasi kecurigaanku: 《Jangan-jangan,
orang ini betulan penguntit Miyu-sensei...?》.
Apa lebih
baik kusarankan pada Miyu-sensei untuk mengecek apakah ada alat penyadap di
kamarnya?
"Setelah
pertemuan itu, ini bukan cuma soal Miyu-chan dan Kanon-chan lagi, tapi juga
berkaitan denganmu――Miyu-chan menerima permohonan Kanon-chan, dan berjanji akan
melindungimu dari murid-murid lain selama kau bersekolah di sini."
"Itukah
alasannya kenapa Miyu-sensei sampai repot-repot mengancam murid-murid yang
menyebarkan gosip tentangku untuk tutup mulut..."
Tepat
setelah aku masuk ke sekolah ini, beberapa mantan anggota klub sepak bola dari
SMP-ku dan murid-murid yang membaca rumor tentangku di internet mulai membuat
keributan, dan gosip itu menyebar ke seluruh sekolah dalam sekejap.
Banyak
murid yang mencibirku di belakang, dan tidak sedikit pula yang terang-terangan
mencari gara-gara denganku.
Dan orang
yang menghentikan semua perundungan itu adalah Miyu-sensei.
"Yah,
tindakan mereka saat itu memang sudah kelewat batas, sih. Lagipula, alasan
kenapa Miyu-chan terus memperhatikanmu sampai sekarang bukan cuma karena janji
dengan Kanon-chan, tapi juga karena kau ini memang murid bermasalah yang tak
bisa dibiarkan begitu saja, tahu?"
"...Saya
sadar kalau dulu saya sering mengasingkan diri di kelas..."
Dulu,
Miyu-sensei sudah sering memperingatkanku.
Namun,
karena aku terus mengabaikan nasihatnya, wajar saja jika aku dicap sebagai
murid bermasalah.
"Omong-omong,
aku sedikit cemburu lho melihat Miyu-chan yang selalu mengurusi
masalahmu♡"
Di saat
aku sedang merenungkan betapa besarnya hutang budiku pada
Miyu-sensei――Sasagawa-sensei melontarkan kalimat bernada riang dengan senyuman
lebar, yang sama sekali tak selaras dengan ancaman implisit yang terkandung di
dalamnya.
"............"
"Asal
tahu saja, kalau kau berani memasukkan Miyu-chan ke dalam anggota harem-mu,
aku siap membalas dendam dengan seluruh kemampuanku♡"
Melihatku
yang membeku setelah mendengar pengakuannya yang tiba-tiba, Sasagawa-sensei
kembali melancarkan serangan lanjutannya.
Orang
ini... sungguhan sinting...
"Bukan
begitu, rasa cemburu Anda itu salah alamat karena saya dan Miyu-sensei sama
sekali tidak punya hubungan semacam itu. Lagipula, dari awal saya ini sama
sekali tidak berniat membangun harem apa pun!?"
"Hee~,
kau berani bilang begitu~? Padahal akhir-akhir ini di sekelilingmu selalu
dipenuhi gadis-gadis, kan~? Shinonome-san lah, Kousaka-san lah~? Banyak siswi
kelas satu yang juga ingin dekat denganmu, kan~? Belum lagi para siswi kelas
dua dan tiga, kalau bukan karena ada Charlotte-san, mereka pasti sudah
melancarkan aksinya~? Dan bukti nyatanya, lihat saja anggota kelompok bebasmu
di karyawisata ini, semuanya perempuan kecuali kau sendiri, kan~?"
Tunggu
dulu, Karin itu adikku, Kousaka-san cuma junior dari masa SMP, para siswi kelas
satu lainnya murni mendukung hubunganku dan Char, dan aku sama sekali tidak
tahu-menahu soal niat siswi kelas dua maupun kelas tiga...!
Ada begitu
banyak hal yang ingin kubantah sampai-sampai aku bingung harus mulai dari mana.
Sayangnya,
aku tidak bisa membeberkan fakta bahwa Karin adalah adikku.
Dan untuk
soal anggota kelompok bebas, ya... aku harus mengakui kalau dari sudut pandang
orang luar, kondisinya memang terlihat sangat mencurigakan.
"Charlotte-san
pasti sering cemburu, kan~? Bisa dibilang, Aoyagi-kun itu seperti musuh alami
para gadis~?"
"Anu,
tolong berhentilah menyudutkanku dengan rentetan asumsi itu... Sumpah, hatiku
ini hanya untuk Char seorang..."
Itu adalah
kebenaran yang tak terbantahkan.
"Fufu,
baiklah, kurasa melampiaskan kekesalanku hari ini sudah cukup sampai di
sini."
Sasagawa-sensei
tersenyum puas, bangkit berdiri, lalu membersihkan rerumputan di bagian
belakang roknya.
"Aku
tak menuntutmu untuk segera memikirkan solusi atas masalah Miyu-chan dan
Kanon-chan sekarang juga, jadi renungkanlah baik-baik. Kalau itu kau, sang 《Penguasa
Lapangan》, kau pasti bisa menyelesaikannya
dengan baik, kan?"
"Hah!?
Dari mana Anda tahu julukan memalukan itu!?"
Itu adalah
masa lalu kelamku!!
Lagipula,
aku sama sekali tidak menyebut diriku seperti itu. Orang-orang di sekitarkulah
yang memberiku julukan konyol itu secara sepihak, dan aku sudah sangat
membencinya sejak pertama kali mendengarnya!!
Tolonglah,
jangan sampai julukan itu menyebar luas lagi, kumohon!
"Julukan
《Penguasa Lapangan》
kedengarannya keren, lho~. Mulai sekarang, boleh tidak kalau aku memanggilmu
'Sang Penguasa'~?"
"Saya
memohon dari lubuk hati saya yang terdalam, tolong jangan lakukan itu! Saya
berjanji akan memikirkan cara untuk membantu Miyu-sensei dan Kanon-san!!"
"Fufu,
karena kau sudah berjanji, aku akan menagihnya nanti, lho~. Kalau begitu, kau
harus segera kembali ke hotel sebelum masuk angin, ya? Selamat malam~."
Setelah
mengatakan semua yang ingin disampaikannya, Sasagawa-sensei berjalan turun
menuruni bukit, meninggalkanku sendirian untuk kembali ke hotel terlebih
dahulu.
Pulang
terpisah memang lebih baik daripada berjalan berdua dan memicu kesalahpahaman
jika ada yang melihat. Namun sungguh, tak kusangka wanita ini bisa selicik dan
seberbahaya ini.
Selama
ini, citranya di kepalaku tak lebih dari sekadar "kakak perempuan kikuk
yang lamban dan polos".
Bisa
disimpulkan, perempuan adalah makhluk yang tak boleh diremehkan... Sepertinya
tak ada malam lain di mana aku disadarkan akan fakta itu lebih dari malam ini.
Tapi yang
paling mengejutkan, Miyu-sensei dan Kanon-san ternyata adalah saudara, ya...
Mengingat
betapa dewasanya pola pikir mereka berdua, masalah ini seharusnya tidak akan
membesar menjadi konflik yang serius... tapi justru karena kedewasaan itulah
mereka tak kunjung berbaikan sampai sekarang, kan...
Mengingat
aku berhutang budi pada mereka berdua, kurasa ini adalah masalah yang memang
harus kuhadapi secara langsung.
[TLN:
Akhirnya ada chapter yang enak dibaca, gak embel” ngewe atau apalah]
◆
"
"――Ah, itu dia!" "
Saat aku
sedang berjalan menyusuri lorong menuju kamarku sembari memikirkan masalah
Miyu-sensei, kulihat Kiriyama-san dan Shimizu-san yang sudah mengenakan yukata
berlari menghampiriku.
Firasat
buruk kembali menghantamku, dan aku pun refleks memutar balik langkahku――
"Memangnya
kamu pikir kami akan membiarkanmu kabur?"
――Tentu
saja, Shimizu-san langsung mencengkeram kerah belakang bajuku dengan sigap.
Ya, kalau
bisa aku memang sangat ingin dibiarkan kabur...
"Kenapa
kamu bawa-bawa mantel? Habis keluar, ya?"
Agar tak
mencolok, aku memang sudah melepas mantelku saat memasuki lobi hotel. Namun
karena tak mungkin dimasukkan ke dalam saku, aku terpaksa menentengnya, dan
Kiriyama-san dengan cepat menyoroti hal itu.
"Yah...
aku ingin melihat bintang, jadi aku keluar sebentar."
"Sendirian?
Tanpa mengajak Charlotte-san? Dan yang melakukannya adalah Aoyagi-kun yang
terkenal kaku ini?"
Karena aku
tak mungkin menceritakan soal Sasagawa-sensei, aku pun berkelit dengan alasan
seadanya. Namun Shimizu-san dengan akurat menusuk kejanggalan dalam ceritaku.
Di
saat-saat seperti ini, anak ini benar-benar musuh yang tangguh.
"Sekali-sekali,
aku juga butuh waktu untuk menyendiri..."
"Bohong
banget. Ya sudahlah, tidak penting. Ayo kita pergi sekarang."
Meski
masih mencurigaiku, Shimizu-san sepertinya memutuskan untuk tak
mempermasalahkannya lebih lanjut dan mulai menarikku ke suatu tempat.
"Pergi?
Memangnya kita mau ke mana...?"
"Tentu
saja, ke kamar kami."
Hah,
kenapa dia mengatakannya dengan nada seolah itu adalah hal yang paling wajar di
dunia?
Bukannya
anak laki-laki yang menyusup ke kamar perempuan itu adalah pelanggaran keras?
"Tolong
lepaskan aku, kalau ketahuan guru kita bisa dimarahi habis-habisan..."
"Jam
malam masih lama, dan peraturan sekolah tidak menyebutkan larangan untuk masuk
ke kamar lawan jenis, kan? Sama sekali tak ada masalah, apalagi di sana ada
Charlotte-san juga, kok."
Memang
benar, peraturan karyawisata sama sekali tidak menyinggung soal larangan
kunjungan antarkamar beda gender.
Para guru
baru akan mulai berpatroli di lorong saat jam malam tiba. Dengan kata lain,
sebelum waktu itu tiba, kami bebas melakukan apa saja.
Akan
tetapi――melihat Char tidak ikut serta menjemputku saat ini, itu artinya mereka
berniat membawaku ke kamar mereka tanpa sepengetahuan Char.
Terlebih
lagi, di tanganku saat ini ada mantel pria milik Sasagawa-sensei yang tak
pernah kulihat sebelumnya. Jika Char melihatnya, sudah bisa dipastikan ia akan
curiga.
Intinya,
jika aku pasrah diseret oleh mereka berdua sekarang, aku hanya akan menuai
bencana.
"Aph
aku punya hak untuk menolak...?"
"Kalau
kamu tidak keberatan jika aku menceritakan pada Charlotte-san soal kamu yang
kelayapan sendirian di luar malam-malam begini, silakan tolak saja."
Shimizu-san
dengan tepat membaca kecemasanku dan tahu bahwa aku sangat ingin menyembunyikan
fakta bahwa aku habis dari luar.
Ternyata,
alasan kenapa dia tak memaksaku menjawab soal mantel tadi adalah karena dia
ingin menyimpannya sebagai senjata ancaman.
"Setidaknya,
biarkan aku mengembalikan mantel ini ke kamarku dulu, ya...? Kalau dibawa-bawa
terus malah merepotkan."
"Kamu
tidak bakal alasan kabur dan tidak balik lagi, kan?"
"Kau
sadar kan, kalau kau tidak punya pilihan untuk kabur?"
Saat aku
memohon keringanan, Shimizu-san menyunggingkan senyuman iblis tanpa mengucapkan
sepatah kata pun.
Sudah
pasti, kalau aku sampai berani mangkir, dia tak akan ragu membeberkan semuanya
pada Char.
"Aku
berjanji pasti akan datang, jadi tolong tunggu aku di kamar..."
Setelah
mengucapkan janji tersebut, aku akhirnya dilepaskan dan segera bergegas menuju
kamarku untuk meletakkan mantel sialan ini.
Entah
teman-teman sekamarku sedang kelayapan ke kamar lain atau bagaimana, yang jelas
kamar kami sedang kosong melompong.
Ini adalah
waktu yang tepat, karena jika mereka ada dan tahu aku akan pergi ke kamar
perempuan, mereka pasti akan heboh minta ikut, dan aku juga tak perlu
repot-repot menjelaskan soal mantel ini.
Setelah
itu, aku berjalan menuju kamar Char sesuai dengan nomor kamar yang sudah
diberitahukannya padaku sebelum keberangkatan tadi.
"Nah,
ini dia tersangkanya. Secured~"
Begitu
pintu terbuka, Kiriyama-san dengan sigap langsung meraih tanganku dan menarikku
masuk ke dalam.
Di dalam
kamar itu, sudah ada Kiriyama-san, Shimizu-san, dan Karin.
"Lho,
Char ke mana?"
"Paling
sebentar lagi juga balik. Sini, duduk di sebelah sini."
Sesuai
instruksi Shimizu-san, aku dipaksa duduk tepat di bagian tengah ruangan.
Jangan
bilang ini adalah awal dari sesi interogasi soal masalah di bukit tadi...?
Saat aku
sedang waspada mengawasi sekeliling, pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar.
"Maaf
membuat kalian menunggu."
Yang masuk
adalah Char, dan di belakangnya――mengekor Umikawa-san yang terlihat sangat
canggung.
Keduanya
sudah berganti pakaian menjadi yukata, menandakan mereka berdua baru
saja selesai mandi bersama... Apa mungkin Char yang sengaja menjemput
Umikawa-san kemari?
"Eh,
A-kun!? Kenapa kamu ada di sini!?"
Tebakanku
benar, Char sama sekali tak tahu-menahu soal rencana pemanggilanku. Begitu
melihatku duduk di tengah ruangan, ia langsung memekik kaget.
Detik
berikutnya――.
"Kenapa
ada cowok di kamar perempuan!?"
Umikawa-san
yang saat masuk tadi terlihat kalem, seketika wajahnya memerah dan langsung
memarahiku.
Mengingat
sifatnya yang kaku dan teladan, wajar saja kalau dia marah melihat keberadaan
siswa laki-laki di kamar siswi perempuan.
"Tentu
saja itu untuk menginterogasinya soal detail hubungannya dengan Charlotte-san,
dong."
"Ngobrolin
soal cinta-cintaan itu adalah acara wajib setiap kali menginap bersama
teman-teman, kan~?"
Shimizu-san
dan Kiriyama-san menjawab pertanyaan Umikawa-san dengan kompak.
Keduanya
menyeringai lebar dengan tatapan jahil, jelas-jelas menunjukkan niat mereka
untuk menjadikanku dan Char sebagai bulan-bulanan di malam ini.
Sudah
kubilang, kan, firasatku memang tidak pernah salah... aku benci situasi ini...
"Ki-kita
kan tidak punya cerita menarik untuk dibahas..."
Char yang
memang pada dasarnya pemalu, langsung duduk merapat di sebelahku dengan tatapan
memelas ke arah mereka untuk menghindar.
Namun dari
gerak-geriknya, sepertinya ia justru sangat ingin bercerita.
...Semoga
saja ia tidak asal ceplos mengatakan hal yang tak seharusnya...
"Hmph,
aku ke sini bukan untuk mendengarkan cerita pamer kemesraan orang lain,
tahu."
Sambil
melontarkan kalimat sinis khas dirinya, Umikawa-san berjalan menuju sudut
ruangan――memilih tempat duduk yang cukup jauh dariku dan Char.
Akan
tetapi, entah kenapa ia menyibakkan rambutnya ke belakang telinga di sisi yang
mengarah pada kami, seolah sengaja mengekspos telinganya agar bisa mendengar
dengan lebih jelas.
Hei,
bukankah tingkahmu itu menunjukkan kalau kamu sangat tertarik untuk mendengar!!
"Deg-degan...!"
Dan soal
Karin, entah karena ini adalah pertama kalinya ia berkesempatan ikut acara
"Ngobrol Cinta-Cintaan" bersama teman-temannya atau karena hal lain,
ia mengayun-ayunkan tubuhnya dengan raut wajah penuh ekspektasi. Meskipun yang
akan dikuliti habis-habisan di sini adalah urusan asmara kakak kandungnya
sendiri.
Mengerikan,
formasi pengepungan macam apa yang tanpa sadar telah terbangun ini...
Bahkan
Shimizu-san sengaja mengambil tempat duduk tepat di depan pintu masuk, menutup
rapat satu-satunya jalan keluar bagiku.
"Kalau
begitu, mari kita mulai saja! Apa yang biasanya kalian lakukan saat
berkencan!?"
Menyadari
antusiasme semua orang, Kiriyama-san yang secara ajaib berhasil membaca suasana
(padahal di saat-saat seperti ini dia tidak perlu melakukannya!) mengacungkan
tangan kanannya dan melontarkan pertanyaan pertama.
Serangannya
yang sangat frontal membuatnya pantas disebut sebagai kapten pasukan penyerang.
"Kencan,
ya... Kita hampir tak pernah melakukannya, kan?"
Mendapat
pertanyaan tajam dari Kiriyama-san, Char menoleh ke arahku. Meskipun aku yakin
ia tak punya niat buruk, di tengah situasi seperti ini, pertanyaannya itu
justru terdengar seperti sebuah sindiran telak: 《Memangnya
selama ini kita pernah kencan?》
Tentu
saja, ekspresi Char sendiri sebenarnya lebih terlihat seperti kebingungan
layaknya orang yang sedang mengingat-ingat. Namun masalahnya ada pada
Shimizu-san dan Kiriyama-san――malahan, tatapan Umikawa-san pun ikut menajam ke
arahku.
"Punya
pacar semanis ini tapi tidak pernah diajak kencan...?"
"Aku
sih udah tahu, tapi Aoyagi-kun, kamu beneran harus lebih menghargai
Charlotte-san."
"............"
Kiriyama-san
menatapku dengan raut wajah tak terima.
Shimizu-san,
yang sebenarnya sudah mengetahui situasi kami, ikut menceramahiku dengan pesan
tersirat, 《Bukan cuma mengurus
adikmu yang masih kecil, perhatikan juga pacarmu!》
Dan
Umikawa-san... tolong dong, alih-alih cuma memelototiku dengan seram, katakan
sesuatu padaku...
"Ah,
ta-tapi, kami kan selalu menghabiskan waktu bersama di rumah. Selain itu...
A-kun juga... selalu menyayangiku, kok..."
Sadar
bahwa ucapannya tadi tanpa sengaja membuatku dipojokkan, Char yang panik
langsung berusaha meralatnya.
Akan
tetapi, bagian akhir dari penjelasannya itu diucapkan dengan wajah yang
memerah, tubuh yang bergeliat malu-malu, dan mata yang berkaca-kaca, sehingga
maknanya terdengar sangat, sangat ambigu.
"I-itu
artinya...!"
"Kalian
berdua tinggal serumah...!?"
Kiriyama-san
dan Umikawa-san yang tak tahu-menahu soal kehidupan serumah kami, wajahnya
seketika ikut memerah karena terkejut.
Shimizu-san
hanya bisa tersenyum pasrah sambil memegangi dahinya, seolah berkata 《Duh, keceplosan deh》. Sementara Karin hanya memiringkan kepalanya bingung
seolah membatin, 《Kenapa mereka berdua
kaget begitu?》.
Padahal
selama ini aku berusaha merahasiakannya dari orang-orang selain lingkaran
terdekat kami agar tidak memicu keributan...
"Ah...
m-maafkan aku..."
Sadar
bahwa ia baru saja membocorkan rahasia negara, Char menatapku dengan raut wajah
penuh rasa bersalah.
Yah,
sebenarnya sejak awal aku sudah melihat gelagatnya yang kegirangan, jadi ini
juga salahku karena tidak menghentikannya dari awal.
"Tak
perlu minta maaf. Shimizu-san, Shinonome-san, Kiriyama-san, Umikawa-san,
kumohon, tolong rahasiakan hal ini, ya?"
Aku
sengaja menyebut nama mereka satu per satu saat memohon.
Alasan aku
turut menyebut nama Shimizu-san dan Karin adalah untuk menghindari kecemburuan.
Meskipun ini cuma masalah pertemanan, bisa saja Kiriyama-san atau Umikawa-san
membatin, 《Kenapa cuma dia yang
tahu dari awal padahal aku tidak!?》
"Memang
sih aku tidak punya kewajiban buat menuruti permintaan Aoyagi-kun, tapi kalau
ini sampai menyebar, Charlotte-san juga yang bakal repot. Oke, aku janji bakal
tutup mulut."
Yang
merespons pertama kali dengan tenang adalah Shimizu-san.
Di sekolah
ini, mungkin tak banyak anak yang seahli dirinya dalam hal membaca situasi dan
menempatkan diri.
"Yaaah,
padahal ini berita super sensasional, lho...?"
Namun
sebaliknya, yang sama sekali tak bisa membaca suasana (dan ini sudah bisa
ditebak) adalah Kiriyama-san.
Tetapi――.
"Oh,
jadi kamu berniat menjadikan aku dan Charlotte-san sebagai musuhmu?"
"――Hah!?
T-Tentu saja tidak...!"
Hanya
dengan satu senyuman miring dari Shimizu-san, Kiriyama-san langsung bertekuk
lutut dan membelot.
Ternyata
dia tidak sebodoh itu untuk mencari gara-gara dengan dua sosok yang berada di
pusat hierarki siswi di kelas kami.
Karin,
yang tentu saja akan menuruti permintaan kakaknya, mengangguk kecil kuat-kuat.
Dan yang
terakhir, Umikawa-san, tampak memasang wajah yang rumit.
"Tidak
boleh, ya?"
Saat aku
bertanya, Umikawa-san menatapku dengan wajah yang masih sedikit merona.
"Bukannya
aku berniat ikut campur urusan asmara orang lain, tapi... kalian masih pelajar,
tapi sudah tinggal serumah..."
"Yah...
ada alasan khusus kenapa kami harus melakukannya..."
"...Aku
yakin begitu. Mengingat kau sendiri yang setuju dengan hal itu."
Seperti
dugaanku, Umikawa-san memang sosok yang bisa diajak berdiskusi.
Mendengar
bahwa aku memiliki alasan khusus, sepertinya ia memutuskan untuk tidak
mencecarku lebih jauh.
Namun,
entah kenapa Shimizu-san dan Char malah menatapku dengan tatapan seolah aku ini
adalah makhluk yang patut dicurigai.
"Eh,
kenapa menatapku begitu...?"
"Tidak
apa-apa... aku cuma berpikir kalau A-kun ini benar-benar tidak bisa
diremehkan..."
"Kira-kira,
sudah berapa banyak gadis yang menangis di belakang karena perbuatanmu..."
"Tolong
ya, aku merasa tidak pernah melakukan hal-hal yang pantas dikutuk seperti
itu!?"
Jangankan
di belakang, di depan layar pun aku tak pernah membuat gadis mana pun menangis.
Kenapa tiba-tiba aku dituduh dengan hal-hal keji semacam ini...
Kalau
kuingat-ingat, Sasagawa-sensei juga tadi menuduhku dengan gosip murahan seputar
kedekatanku dengan banyak gadis...
"Fakta
bahwa kamu tidak menyadarinya itu yang bikin makin parah."
"Iya,
setuju banget! Meskipun orang-orang bilang aku ini tidak peka, tapi aku yakin
aku masih jauh lebih baik daripada Aoyagi-kun."
"Kalau
yang itu sih mustahil."
"Lho,
kenapa!?"
Kiriyama-san
yang baru saja ikut-ikutan Shimizu-san menghinaku langsung dijatuhkan balik
dalam sekejap mata.
Alhasil
Kiriyama-san langsung merengut kesal. Tapi sungguh, kupikir kepekaanku masih
jauh di atas Kiriyama-san, deh.
"Ngomong-ngomong...
sebenarnya apa tujuan utamaku dipanggil ke sini...?"
Mungkin
karena tak tahan dengan hawa canggung di ruangan ini, Umikawa-san akhirnya
bertanya dengan ragu-ragu.
Aku juga
sama sekali tidak tahu alasannya. Jangan-jangan Char membawa Umikawa-san kemari
tanpa menjelaskan tujuannya?
Mungkin
Char takut Umikawa-san akan kabur kalau ia menjelaskannya sejak awal.
"Ah..."
Char
melirik ke arah Shimizu-san.
Ternyata,
dalang utama di balik ini semua adalah Shimizu-san.
"Hmph...
Padahal aku masih mau mengulik lebih banyak soal kisah asmara Charlotte-san...
yah, kita bisa simpan itu buat nanti. Yang jelas――"
"Kumohon
hentikan."
"――Soal
pertengkaranmu dengan anggota kelompokmu itu, suasananya masih terasa canggung,
kan? Mulai besok, guru-guru pasti tak akan mengizinkanmu terus-terusan menempel
pada kelompok kami. Bukankah lebih baik kalau kau menyelesaikannya sekarang
juga?"
Shimizu-san
mengabaikan keluhanku dengan lihai dan menatap lurus pada Umikawa-san.
Gadis gyaru
ini... penampilannya memang terlihat cuek dan terkesan meremehkan banyak hal,
tapi ia sebenarnya punya kepedulian yang sangat tinggi...
Dia pasti
tak bisa membiarkan masalah Umikawa-san terus menggantung.
"Aku...
sama sekali tak berniat merepotkan kalian lebih dari ini, kok..."
Seolah itu
adalah topik yang tabu untuk dibahas, Umikawa-san memeluk lututnya,
menenggelamkan mulutnya di sela lutut walau ia sedang memakai yukata.
"Tidak
ada satu pun dari kami yang merasa direpotkan. Tapi, kami juga tak bisa
mengabaikanmu begitu saja."
Tepat
setelah Shimizu-san menegaskan bahwa kami tidak merasa direpotkan, Kiriyama-san
tiba-tiba membuka mulutnya, 《Eh――》. Detik itu juga, tangan Shimizu-san langsung menampar
mulut Kiriyama-san dengan kuat, lalu melanjutkan kalimatnya tanpa henti.
"Mungkin
ini terdengar sedikit memaksa, tapi sayang sekali kalau kau membiarkan suasana
yang tak nyaman ini terus menghantui di sisa perjalanan kita, bukan?"
Char
mengabaikan rengekan kesakitan Kiriyama-san dan tersenyum lembut pada
Umikawa-san.
"Lagipula...
aku kan tidak berbuat salah..."
Kini,
Umikawa-san benar-benar menenggelamkan seluruh wajahnya di antara lutut.
Dari sudut
pandangnya, yang bersalah adalah anggota kelompoknya yang melanggar aturan.
Karena itulah, ia merasa sangat keberatan jika harus meminta maaf lebih dulu.
Aku pun
berpendapat bahwa Umikawa-san tak perlu meminta maaf atas tindakannya yang
menegur mereka.
Seperti
yang ia katakan, pada saat itu, dialah pihak yang benar.
Tentu
saja, menelan mentah-mentah cerita dari satu pihak bukanlah hal yang bijak.
Namun, saat aku diam-diam bertanya pada Miyu-sensei tentang anggota kelompok
Umikawa-san sesampainya di hotel, beliau mendeskripsikan mereka dengan kalimat,
《Yah, kumpulan
anak-anak yang suka bertindak seenaknya》.
Artinya,
kemungkinan besar cerita Umikawa-san sama sekali bukan kebohongan.
"Kalau
kau merasa kesulitan, maukah aku yang menjadi penengah dan berbicara pada
mereka?"
Char
mengajukan diri untuk turun tangan menjadi mediator.
Mengingat
betapa populernya Char dan kebaikan hatinya yang dikenal luas, para anggota
kelompok Umikawa-san pasti akan langsung luluh dan berdamai dengan Umikawa-san.
Jika hanya
memikirkan penyelesaian instan untuk masalah saat ini, itu mungkin solusi yang
terbaik.
Akan
tetapi――.
"Kurasa
lebih baik ide itu dibatalkan."
Dengan
sebuah pemikiran di benakku, aku menghentikan tawaran Char sebelum Umikawa-san
sempat menjawabnya.
"A-kun...?
Apa maksudmu...?"
Mungkin
tak menyangka aku akan menentang idenya, Char bertanya dengan raut wajah
kebingungan.
"Kalau
Char yang jadi penengahnya, aku yakin kalian bisa langsung baikan saat itu
juga. Tapi, bukankah itu cuma menunda masalahnya saja? Setidaknya, kalau akar
permasalahannya belum tercabut, ada kemungkinan besar hal yang sama akan
terulang lagi selama empat hari ke depan."
Sesi waktu
bebas per kelompok tidak hanya ada hari ini.
Besok,
lusa, bahkan di hari terakhir pun, akan ada banyak waktu yang mereka habiskan
bersama kelompok mereka.
Jika
dibiarkan begitu saja, insiden seperti hari ini pasti akan kembali terulang.
"Akar
permasalahan, maksudnya?"
Entah
sengaja atau memang sifat polosnya kembali muncul, Kiriyama-san memiringkan
kepalanya dengan bingung.
"Meskipun
apa yang kamu sampaikan itu fakta yang benar, alasan kenapa orang-orang sering
kali menolaknya bukan cuma masalah hubungan antarpribadi, tapi cara
penyampaiannya. Kalau seseorang ditegur dengan nada merendahkan atau dijejali
dengan rentetan aturan tanpa peduli perasaan mereka, siapa pun pasti akan
merasa jengkel, kan?"
"Eh,
yang bener aja Aoyagi-kun ngomong gitu!?"
Saat aku
sedang berusaha keras merangkai kata sehalus mungkin dengan senyuman agar tidak
menyinggung perasaan Umikawa-san, Kiriyama-san tiba-tiba melayangkan pukulan
telak.
Duh, aku
paham kok kenapa kamu kaget.
Paham
banget... tapi tolonglah, jangan memotong pembicaraanku di saat yang tidak
tepat begini.
"Yah,
kesampingkan dulu soal diriku."
"Bisa-bisanya
kamu lepas tangan dari kesalahanmu sendiri?"
"Kei,
sudah cukup. Aoyagi-kun yang dulu itu melakukannya dengan sengaja karena dia
tahu dampaknya, sementara Umikawa-san melakukannya tanpa sadar karena dia tidak
bermaksud buruk. Itu adalah dua hal yang sangat berbeda, tahu."
Melihat
Kiriyama-san yang tak henti-hentinya memotong pembicaraan, Shimizu-san berusaha
menghentikannya dengan senyuman masam.
Namun,
Kiriyama-san pantang menyerah.
"Jadi
maksudmu selama ini Aoyagi-kun sengaja memilih cara bicara yang bikin
orang-orang benci padanya!? Pantesan akhir-akhir ini sifatnya berubah jadi baik
banget kayak orang lain. Tapi tetap aja, ngelakuin hal jelek dengan sengaja itu
jauh lebih parah daripada ngelakuin tanpa sadar, kan!?"
"Iya,
Kei, iya. Apa yang kau katakan itu benar sekali. Tapi karena ucapanmu itu bikin
Aoyagi-kun kesulitan, tolong tutup mulutmu sebentar, ya."
Karena
Kiriyama-san yang terus menyudutkanku dengan kepolosannya, Shimizu-san terpaksa
menyeretnya menjauh dari kelompok kami.
Sumpah,
anak itu benar-benar tidak cocok denganku.
Berkat
ucapannya barusan, aku jadi sangat canggung untuk kembali mengkritik
Umikawa-san.
"Eetto...
intinya, Umikawa-san adalah orang yang bisa menyadari mana yang benar dan mana
yang salah. Karena itu, bukankah akan jauh lebih baik kalau kau menyampaikan
hal-hal benar itu dengan cara yang lebih lembut? Daripada langsung marah atau
menghakimi mereka dari atas, cobalah berkomunikasi dengan cara yang mudah
diterima oleh mereka."
"Maksudmu,
seperti yang kau lakukan sekarang...?"
Meskipun
aku terlihat kesulitan merangkai kata, tampaknya niat baikku berhasil
tersampaikan pada Umikawa-san.
Walaupun
ia masih menatapku dari bawah seolah sedang mengevaluasi reaksiku, fakta bahwa
ia tidak menentang ucapanku membuatku lega.
Beberapa
orang justru akan langsung tersulut amarahnya hanya karena dikritik, terlepas
dari bagaimana cara menyampaikannya.
"Coba
perhatikan Shimizu-san. Mulutnya kadang lumayan tajam, dia suka menarik orang
sembarangan seperti tadi, bahkan tak segan melayangkan chop. Tapi
anehnya, teman-temannya tetap banyak, kan? Kau tahu kenapa?"
"Aoyagi-ku~n?
Meskipun aku sedang menjauhkan Kei, aku masih bisa mendengar ucapanmu dengan
sangat jelas, lho~?"
――Shimizu-san
langsung melayangkan tatapan membunuh dari belakangku, tapi aku mengabaikannya
dengan berani.
"Entahlah...
Mungkin karena sejak awal mereka memang sudah berteman...?"
"Itu
memang salah satu faktornya. Tapi, biarpun kalian sudah lama berteman, ada
kalanya hubungan pertemanan bisa retak di tengah jalan, kan? Lalu, apa rahasia
Shimizu-san sampai dia tak pernah dibenci? Jawabannya adalah, dia selalu
memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Dia tahu batasan, 'Oh, kalau dengan
anak ini, aku bisa bicara seperti ini', atau 'Kalau dengan anak itu, aku
harus menggunakan pendekatan ini agar pesanku tersampaikan'. Karena dia
sangat peka terhadap lawan bicaranya, meskipun kadang candaannya sedikit
kelewatan, tidak ada yang marah padanya. Itulah sebabnya dia dipercaya banyak
orang dan bisa berdiri di pusat perhatian para gadis di kelas."
Kenyataannya,
Shimizu-san bisa berteman dengan sangat akrab dengan Kousaka-san, gadis yang
amat sangat payah dalam bersosialisasi itu.
Meskipun
kalau dilihat dari luar mereka sering berdebat, orang yang tidak kenal pasti
akan mengira mereka adalah sepasang saudara yang sangat akrab.
Buktinya,
saat Shimizu-san mengajaknya pergi berbelanja waktu itu, Kousaka-san langsung
mengiyakannya. Itu membuktikan bahwa Kousaka-san sangat nyaman bersamanya.
Itu semua
karena Shimizu-san benar-benar memperhatikan Kousaka-san dan tahu cara
berkomunikasi yang paling pas dengannya.
Singkatnya,
dia adalah master di bidang komunikasi sosial.
Dan orang
hebat itu pulalah yang baru-baru ini melayangkan kritik pedas padaku tanpa
ampun.
"Hei,
barusan itu kamu lagi memujiku, atau ngajak ribut? Yang mana?"
"Tentu
saja dia sedang memujimu..."
Melihat
Shimizu-san kembali dan menunjukku dengan jarinya, Char mencoba membelaku
dengan tawa canggung. Tapi tak ada contoh yang lebih relevan dan mudah dipahami
selain dirinya, jadi mau bagaimana lagi.
Begitu
pembicaraan ini selesai, aku harus segera kabur ke kamarku sebelum aku dihajar
habis-habisan olehnya.
"Aku...
tidak yakin bisa melakukan hal sehebat itu..."
"Haha,
tentu saja aku tidak memintamu melakukan hal yang persis seperti Shimizu-san.
Jangankan kamu, aku dan Char saja belum tentu sanggup melakukannya. Karena
itulah, mari kita mulai dari hal yang paling aman; mengubah nada bicaramu
menjadi lebih lembut. Bagaimana kalau kamu memulainya dari situ dulu?"
Sepertinya,
sejak dulu Shimizu-san memang tipe orang yang suka mengamati sekitarnya.
Karena
itulah ia sangat peka terhadap perubahan emosi seseorang.
Kemampuan
observasi semacam itu tidak bisa dipelajari dalam semalam, dan sejujurnya,
Umikawa-san tak perlu sampai sehebat itu dalam bersosialisasi.
Cukup
pikirkan perasaan lawan bicara, lalu bersikaplah lebih lembut.
Hanya
dengan itu saja, frekuensi pertengkaran pasti akan jauh berkurang.
"Lembut...
ya... Aku ini kan gampang emosi..."
"Itu
artinya kamu kurang kalsiu――"
"Diam."
"Aduuuh...!"
Sementara
Shimizu-san kembali mendisiplinkan Kiriyama-san yang lagi-lagi hampir
melontarkan komentar tak penting, aku menyusun kata-kata di kepalaku.
"Menurutku,
Umikawa-san itu tipe orang perfeksionis yang selalu mencari ideal. Dan standar
ideal itu bukan cuma kamu terapkan pada dirimu sendiri, tapi juga pada orang
lain. Karena itulah, kamu sering merasa kesal saat melihat orang yang melenceng
dari standar idealmu itu, kan?"
Kesan yang
ia tinggalkan di mata teman-temannya adalah: gadis teladan yang kaku dan sulit
didekati.
Dan
puncaknya, ia sering marah.
Itu adalah
ciri khas dari orang yang bersikap keras baik pada dirinya sendiri maupun pada
orang lain.
Tapi aku
tidak pernah bilang kalau itu adalah hal yang buruk.
"Sayangnya,
di dunia ini tak ada manusia yang sempurna. Seperti pepatah, Jūnin Toiro
(Sepuluh orang, sepuluh warna), setiap manusia itu unik dan berbeda-beda.
Daripada langsung menyangkal pendapat orang yang berbeda darimu, atau marah
karena orang lain tak bisa melakukan hal yang menurutmu mudah... bagaimana
kalau kamu mencoba menerima perbedaan itu? 'Oh, ternyata ada juga ya, orang
yang berpikir seperti ini,' atau 'Ternyata ada juga ya, orang dengan
kemampuan seperti itu'. Hanya dengan mengubah sudut pandang dan
mentalitasmu, cara pandangmu terhadap orang lain bisa berubah drastis,
lho."
Begitu aku
menyelesaikan pesanku, Umikawa-san menutupi mulutnya dengan tangan dan mulai
tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Keputusan
selanjutnya ada di tangannya.
Jika ia
masih menolak untuk berubah, sejujurnya tak ada gunanya aku memberikan bantuan
lebih jauh.
Di saat
aku sedang berpikir begitu――.
"Kamu
benar, ya... Bahkan dalam hal nilai pun, aku tak pernah bisa menjadi nomor
satu... aku selalu kalah darimu... Menuntut orang lain untuk memiliki standar
yang sama denganku memang tindakan yang salah... Baiklah, aku akan mencoba
untuk lebih berhati-hati..."
Tampaknya,
kata-kataku telah berhasil mencapai hatinya.
"Syukurlah.
Kalau kamu masih mengalami kesulitan, jangan sungkan untuk mengandalkan kami,
ya. Kami semua ada di pihakmu, kok."
Sambil
menelan kembali frasa, 《Tentu
saja, kecuali satu orang di sini》, aku
tersenyum hangat padanya.
Meskipun
siang tadi Kiriyama-san berniat mengakrabkan diri dengan Umikawa-san, perpaduan
antara gadis ceroboh yang suka seenaknya melanggar aturan dan gadis teladan
yang disiplin ibarat mencampurkan air dan minyak...
Tapi tak
apalah, memaksakan diri berteman dengan orang yang tak cocok juga bukan pilihan
yang bijak.
Sambil
melamun memikirkan hal itu――.
"A-kun,
kamu dapat kartu merah."
Entah
kenapa, Char tiba-tiba memberiku hukuman diskualifikasi.
"Lho,
apanya!?"
Sama
sekali tak merasa bersalah dalam interaksi kami tadi, aku sontak memprotes.
"Sudah
kubilang sebelumnya, kan, aku tak akan pernah membiarkanmu membangun harem."
"Dari
tadi tidak ada yang niat bikin harem, lho!?"
Melihat
senyuman manis Char yang diselimuti aura hitam mencekam, keringat dingin mulai
bercucuran membasahi punggungku.
"Charlotte-san
ternyata lumayan posesif, ya?"
"Yaaah,
kalau yang ini sih fix Aoyagi-kun yang salah."
Entah
kenapa, dari kejauhan kudengar sayup-sayup bisikan Kiriyama-san dan Shimizu-san
yang sedang menggosipkanku. Apakah mereka bermaksud menyalahkanku juga...?
Di saat
kebingungan melandaku, tentu saja tak ada satu pun yang sudi memberiku jawaban.
Bahkan
Umikawa-san, entah kenapa, kini mematung dengan wajah memerah padam.
"A-kun,
ini benar-benar pelanggaran, lho."
"Iya,
aku paham...!"
――Begitulah,
aku harus menanggung beban tekanan dari senyuman manis Char malam itu, dan
entah butuh berapa lama bagiku untuk meyakinkannya bahwa aku tak bersalah.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.