Bab 4
"Gadis Kecil yang Memanipulasi Gadis Muda"
『Onii-chan
dan Lotty, tidak ada...』
Di saat Akihito
dan yang lainnya sedang asyik menikmati karyawisata, Emma menatap Kanon dan
Kaguya yang datang menjemputnya di preschool dengan mata berkaca-kaca
menahan kesedihan.
Dua orang
yang paling disayangi Emma itu tidak terlihat batang hidungnya sejak ia bangun
tidur pagi ini. Meskipun ia sudah diberi tahu sebelumnya bahwa mereka akan
pergi karyawisata, bagi Emma yang masih kecil, rasa kesepian jauh lebih
mendominasi perasaannya.
Melihat
Kanon dan Kaguya yang datang menjemputnya, ia semakin diselimuti kesedihan
karena menyadari bahwa Onii-chan dan Lotty benar-benar tidak ada.
『Emma-chan,
hari ini kita makan makanan yang enak, ya?』
Kanon,
yang mengerti bahwa Emma sedang dilanda kesedihan mendalam, sedikit membungkuk
untuk mensejajarkan pandangannya dengan gadis kecil itu. Ia lalu mengalihkan
pembicaraan ke menu makan malam untuk berusaha menghiburnya.
『Nn...』
Namun,
Emma hanya mengangguk kecil, sama sekali tidak terpancing oleh topik makanan
tersebut.
"Ketidakhadiran
mereka berdua sepertinya benar-benar berdampak besar, ya."
Kaguya
yang memperhatikan interaksi antara Kanon dan Emma, merasa dadanya sesak
melihat gadis kecil itu tampak begitu murung.
Ia sengaja
berbicara dalam bahasa Jepang karena jika ia menggunakan bahasa Inggris, Emma
akan mengerti dan justru akan semakin menyadari fakta bahwa kedua orang
kesayangannya sedang tidak ada di sini.
"Kita
sudah menduga hal ini akan terjadi. Tidak ada pilihan lain selain berusaha
keras untuk menghiburnya."
Di mata
siapa pun, Emma memang sudah sangat lengket dengan kakak perempuan dan kakak
laki-lakinya itu. Jadi, mereka sudah tahu Emma pasti akan murung jika Akihito
dan Char pergi.
Tentu
saja, Kanon dan Kaguya tidak lupa mempersiapkan diri untuk menghadapi hal itu.
『Emma-chan,
ayo kita pulang ke rumah, ya?』
Sambil
masih dalam posisi membungkuk, Kanon merentangkan kedua tangannya seakan
berkata, 《Sini kugendong?》
Melihat
hal itu, Emma――
『Nn...』
――Mengangguk
kecil, lalu berjalan gontai melewati Kanon begitu saja.
Ia
mengabaikannya.
"
"............" "
Kanon dan
Kaguya seketika mematung melihat tindakan tak terduga dari gadis kecil itu.
Namun, Emma tanpa ragu terus berjalan hingga berhenti tepat di depan Kaguya.
Lalu――merentangkan
kedua tangannya.
『Gendong...』
Sebuah
tindakan yang polos dan tanpa niat buruk dari Emma.
Namun,
tindakan itu baru saja menorehkan luka yang tak dapat diperbaiki pada hubungan
tuan dan pelayan yang biasanya selalu akur dan saling memahami tersebut.
"Nona
muda, ini...!"
"Tidak
perlu beralasan, Kaguya. Berani-beraninya kau merebut malaikat
kecilku...?"
Melihat
Kanon yang bangkit berdiri dengan tubuh terhuyung-huyung, Kaguya segera mencoba
menenangkannya. Namun, seolah tak membiarkan pelayannya itu mengelak, Kanon
menatapnya dengan tatapan yang diliputi kecemburuan.
Padahal,
Kanon sangat menantikan hari ini.
Biasanya
perhatian gadis kecil itu selalu tersita oleh Akihito dan Charlotte sehingga ia
hampir tidak punya kesempatan untuk berinteraksi dengannya. Namun sekarang
karena mereka berdua tidak ada, ia berpikir akhirnya bisa memonopoli sang
malaikat kecil.
Sayangnya,
sang malaikat justru memilih pelayan pribadinya.
Walaupun
sebenarnya sudah mulai menyadarinya dari kemarin-kemarin, tapi hari ini Kanon
benar-benar ditampar oleh kenyataan bahwa Emma lebih lengket dengan Kaguya
ketimbang dirinya.
"Sewaktu
libur Tahun Baru, Nona Muda sedang tidak ada di sini. Selain itu, sebenarnya
saat Presdir Bennett masih tinggal di sini, Emma-sama kadang terbangun di malam
hari, keluar dari ranjang Presdir Bennett, lalu berjalan menelusuri rumah
menuju kamar Akihito-sama...! Di saat-saat seperti itulah saya sering
membantunya, makanya beliau jadi sedikit membuka hati pada saya...!"
Untuk
pertama kalinya dalam hidupnya, Kaguya berbicara dengan sangat cepat, merangkai
kata demi kata untuk menjelaskan situasinya kepada sang majikan.
Kenyataannya,
ini bukanlah sebuah kebohongan. Emma, yang sering kali tertidur di mana saja
dan tanpa sadar sudah dipindahkan ke ranjang ibunya, memiliki semacam insting
liar yang membuatnya terbangun di tengah malam dan berjalan mencari kamar Akihito
dan Charlotte.
Namun,
menelusuri lorong yang gelap gulita untuk mencari kamar mereka adalah hal yang
sangat sulit bagi Emma yang masih kecil. Kebetulan, saat Emma melakukan
pencarian pertamanya, Kaguya memergokinya dan akhirnya membantunya membaringkan
Emma di ranjang Akihito dan Charlotte.
Sejak saat
itu, karena khawatir Emma akan berkeliaran lagi di jam-jam tersebut, Kaguya
rutin melakukan patroli. Setelah beberapa kali menemukan Emma dan mengantarnya
ke kamar Akihito, Emma pun sepenuhnya mencap Kaguya sebagai 'orang baik' dan
membuka hatinya.
"Tidak
peduli apa pun alasannya, fakta bahwa kau telah merampas kesenanganku tidak
akan berubah."
Meski
terlihat mudah akrab, Emma sebenarnya cukup pemilih. Jika ada orang selain
orang yang dimintanya mencoba menggendongnya, ia sering kali menolaknya.
Kanon
sangat memahami sifat itu. Karena itulah, ia merasa kesal karena peran yang
seharusnya menjadi miliknya justru direbut oleh Kaguya.
Itulah
sebabnya Kanon merajuk, sebuah pemandangan yang sangat langka.
"Meskipun
Nona berkata demikian kepada saya...!"
"Waktu
pertama kali bertemu dengan Charlotte-san, Emma juga lebih tertarik padamu
daripada padaku, kan? Kau benar-benar pandai mencari muka, ya."
"Nona
biasanya tidak pernah melontarkan sindiran seperti itu, kan!? Tolong jangan
merajuk, Nona Muda...!"
Kaguya
yang biasanya selalu memberikan kesan sebagai wanita dewasa yang dingin dan cool,
kini terlihat panik dan kalang kabut, sebuah pemandangan yang sangat jarang
terjadi.
Seandainya
Akihito ada di sini, ia mungkin akan meragukan apakah ini Kaguya yang sama.
『Gendong...』
Dan Emma,
yang tidak mengerti bahasa Jepang, meski samar-samar menyadari bahwa Kaguya
sedang panik, rasa kesepiannya karena ketiadaan Akihito membuatnya tidak peduli
akan hal itu. Ia kembali menarik-narik baju Kaguya.
Berkat
itu, Kaguya secara tak sadar semakin tersudut.
"Silakan,
gendonglah dia."
Kanon
mempersilakannya sambil tersenyum, namun tubuhnya diselimuti aura hitam pekat
yang persis seperti aura Charlotte saat sedang marah pada Akihito.
Jika
Kaguya berani menggendongnya sekarang, kecemburuan Kanon pasti akan semakin
menjadi-jadi.
Akan
tetapi, Kaguya tidak kuasa menolak permintaan gadis kecil itu.
Terjebak
di posisi serba salah, Kaguya――sambil membatin, 'Apakah seperti ini rasanya
menjadi Akihito-sama saat terjepit di antara Charlotte-sama dan Emma-sama...'――akhirnya
menggendong Emma.
Tentu
saja, tak perlu ditanya lagi, setelah itu ia harus menerima rentetan kalimat
sindiran tajam dari majikan yang sangat dihormatinya.
◆
『Emma-chan,
meski sedikit terlalu awal, bagaimana kalau kita pergi makan ramen?』
Menjelang
sore, melihat Emma yang sedang menonton video kucing sendirian menggunakan
ponsel cerdas Kaguya, Kanon menyapanya dengan senyuman lembut yang memancarkan
aura keibuan.
Melihat
tingkah majikannya itu, Kaguya yang sedari tadi mengawasi hanya bisa membatin, (Nona
benar-benar sedang berusaha keras mencari muka...), sembari berdoa agar
Emma mau luluh pada Kanon.
『Ramen!?
Mau makan...!』
Emma yang
sangat menyukai ramen, akhirnya memamerkan senyumannya untuk pertama kalinya
hari ini.
Melihat
reaksi itu, Kanon tersenyum lega dan gembira, sementara Kaguya diam-diam
mengembuskan napas lega.
『Apakah
kamu sudah lapar?』
『Nn...!
Emma, bisa makan ramen...!』
Saat Kanon
memiringkan kepalanya bertanya, Emma menganggukkan kepala kecilnya kuat-kuat.
Karena
Emma sudah siap untuk makan, sesuai rencananya, Kanon mengulurkan tangannya
pada Emma.
『Kalau
begitu, ayo kita pergi?』
Meski
menggendongnya gagal, kalau hanya bergandengan tangan, harusnya bisa terjadi
secara natural――begitulah pikir Kanon. Emma menatap lekat-lekat tangan Kanon
yang terulur.
Dan
kemudian――ia kembali berjalan melewatinya begitu saja.
『Gendong...!』
Tanpa
memedulikan Kanon yang mematung karena syok berat, gadis kecil yang selalu
berjalan di jalurnya sendiri itu kembali meminta gendong pada Kaguya.
Seumur
hidupnya, Kanon belum pernah diabaikan sampai sejauh ini.
Sekali
lagi, ia disadarkan betapa tingginya tingkat kesulitan untuk menaklukkan hati
gadis kecil bernama Emma ini.
Malahan,
sebelum Akihito dan keluarganya berdamai dulu, Emma masih menunjukkan sikap
yang lebih bersahabat kepadanya.
Alasan
mengapa Emma sekarang sama sekali tidak mengindahkannya, kemungkinan besar
adalah karena ada sosok lain yang jauh lebih disukainya telah muncul.
Dengan
kata lain, ini semua adalah salah Kaguya, pelayannya sendiri.
"............"
"Nona
Muda!? Meskipun Anda menatap saya dengan tatapan seperti itu, tidak ada yang
bisa saya lakukan...!"
Mendapat
tatapan tajam dari Kanon yang sedang mengambek, Kaguya menggelengkan kepalanya
kuat-kuat, menyatakan ketidakbersalahannya.
Pada
kenyataannya, Kaguya memang tidak berbuat salah. Semua ini murni bergantung
pada perasaan Emma, jadi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Tentu saja
Kanon mengerti hal itu――namun meski logikanya paham, perasaannya menolak untuk
menerima.
Setidaknya,
kesempatan baginya untuk dimanja oleh Emma hanya ada di dua hari ini.
Jika ia
melewatkan kesempatan ini, Emma akan kembali bermanja-manja pada Akihito dan
Charlotte, dan Kanon tidak akan pernah dilirik lagi.
Karena
itulah, bagi Kanon, ia harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga dengan
cara apa pun.
"...Kaguya,
sepertinya aku khawatir dengan keadaan Akihito dan yang lainnya. Bagaimana
kalau kita pergi menyusul ke Hokkaido sekarang juga?"
"Nona
Muda!? Tolong jangan menganggap saya sebagai pengganggu dengan sejelas
itu...!!"
Pelayan
kompeten yang dengan peka menangkap niat terselubung di balik kalimat
majikannya itu, menggelengkan kepalanya dengan panik.
Pernahkah
Kaguya tersudut sampai sejauh ini sebelumnya?
Kanon
adalah gadis yang cerdas, selalu baik kepada siapa pun, dan memiliki kedewasaan
jauh melampaui usianya.
Tentu saja
ia selalu bersikap baik pada Kaguya yang merupakan pelayannya... namun,
kehadiran seorang malaikat kecil telah memicu rasa cemburu Kanon hingga
mengubahnya seolah menjadi orang lain.
Bagi
Kaguya saat ini, Emma tidak lagi terlihat seperti malaikat, melainkan layaknya
iblis kecil.
Akan
tetapi――
『Gendong...』
――Saat
berhadapan langsung dengannya, Kaguya tetap saja melihatnya sebagai malaikat
kecil yang tak berdosa.
Kalah oleh
tatapan memelas yang memancing naluri melindunginya, Kaguya dengan lembut
mengangkat dan menggendong Emma.
Dan ketika
Emma menyandarkan wajahnya ke ceruk leher Kaguya dengan ekspresi lega――
"Fufu...
nikmatilah selagi bisa, ya?"
――Kanon
yang berdiri di depannya tersenyum penuh makna, membuat Kaguya berpikir bahwa
mungkin hari ini adalah hari terakhirnya hidup di dunia ini.
◆
『Tomat,
ramen...!』
Setibanya
di kedai ramen yang sudah tak asing baginya, Emma yang berada di gendongan
Kaguya menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan riang.
Sepertinya
ia benar-benar mengingat ramen yang pertama kali dimakannya waktu itu.
Alasan
Kanon memilih kedai ini adalah untuk menghindari kemungkinan sekecil apa pun
Emma akan disajikan ramen yang tidak cocok dengan seleranya.
Jika
suasana hati Emma hancur di sini, memulihkannya dalam sisa dua hari ini――atau
lebih tepatnya, membuat Emma lebih menyukainya daripada Kaguya, akan menjadi
hal yang sangat mustahil.
Karena
itulah ia memutuskan untuk memberikan ramen yang sangat disukai oleh Emma.
"――Oh,
Nona, sudah lama tidak kemari. Hari ini si Anak Laki-Laki tidak ikut?"
Karena
mereka datang sebelum jam sibuk makan malam, kedai itu masih sepi.
Pemilik
kedai yang sedang luang menyapa mereka, dan Kanon membalasnya dengan senyuman.
"Mulai
hari ini dia sedang pergi karyawisata. Pacarnya juga ikut bersamanya."
"Karyawisata,
ya... Jadi teringat masa lalu... Bagiku itu sudah cerita puluhan tahun yang
lalu..."
Mendengar
kata karyawisata, sang pemilik kedai menatap ke luar jendela dengan pandangan
menerawang jauh.
Kanon
tidak tahu berapa umur pastinya, tapi mengingat kedai ramen ini sudah ada sejak
Kanon masih kecil, ia yakin itu memang cerita dari masa lalu yang sangat jauh.
"Silakan
sebelah sini."
Seorang
pelayan wanita mengarahkan mereka ke meja. Menghentikan Kaguya yang kedua
tangannya sedang sibuk menggendong Emma, Kanon menarik kursi dan duduk sendiri.
Kaguya
lalu menurunkan Emma untuk duduk di sebelah Kanon. Melihat hal itu, Emma tampak
sedikit tidak puas.
Sepertinya
ia ingin duduk di sebelah Kaguya, tapi dari sudut pandang Kaguya, jika ia
membiarkan Emma duduk di sebelahnya, ia sudah bisa menebak dengan jelas apa
yang akan terjadi padanya nanti.
Karena
itu, Kaguya memalingkan wajahnya dari tatapan protes Emma.
『Emma-chan,
mau pesan ramen yang mana?』
Meski
menyadari ekspresi tidak puas Emma, Kanon sengaja tidak menyinggungnya dan
menyodorkan buku menu.
『Yang
ini...!』
Emma yang
masih mengingat dengan jelas ramen yang dimakannya waktu itu, langsung menunjuk
ramen tomat klasik.
Sudah
kuduga, dia memang tipe anak yang ingin memakan makanan yang sudah ia ketahui
dan ia sukai, pikir Kanon.
Kanon,
yang akhir-akhir ini selalu mengamati Emma sejak mereka tinggal bersama, telah
menyadari kebiasaan Emma yang lebih suka mengulang-ulang makanan atau barang
favoritnya ketimbang mencoba hal baru.
Jika ia
ingin mencoba hal baru, biasanya itu karena Akihito memakannya, sehingga ia
menjadi penasaran dan ingin ikut mencobanya.
Dan karena
saat ini Akihito tidak ada di sini――fakta bahwa Emma memilih ramen tomat
berjalan persis seperti rencana Kanon.
Dengan
ini, ia yakin telah berhasil mendulang "Poin Emma" sedikit demi
sedikit.
Akan
tetapi――tiba-tiba, mata Emma terpaku pada foto menu Tsukemen (mi celup)
versi ramen tomat.
Padahal
biasanya dia tidak tertarik pada hal baru... Kanon merasa keheranan.
『Sebenarnya
waktu itu bukan ramen tomat, tapi saat libur Tahun Baru kemarin Emma-sama
sempat berkesempatan memakan Tsukemen. Mungkin karena itulah beliau
penasaran melihatnya.』
Orang yang
memberikan jawaban atas rasa penasaran Emma pada menu Tsukemen itu tak
lain adalah Kaguya.
Mendengar
hal itu, Kanon menyunggingkan seringai usil.
"Itu
terjadi saat aku sedang sibuk berkeliling memberi salam dan bekerja, kan?
Syukurlah kalau kalian bisa bersenang-senang bersama Akihito dan
Charlotte-san."
"Nona
Muda sendiri kan yang memerintahkan saya untuk tetap tinggal...!"
Kaguya
yang lagi-lagi merusak suasana hati majikannya, memanfaatkan situasi kedai yang
sedang sepi untuk membalas ucapan Kanon, mengabaikan fakta bahwa ia sendiri
pernah menegur Livy karena hal serupa di masa lalu.
"Padahal
aku juga sebenarnya ingin tetap di rumah dan bermain bersama Akihito dan yang
lainnya."
Berbeda
dari sikapnya yang biasanya selalu terlihat dewasa, Kanon kini menunjukkan
ekspresi merajuk yang sesuai dengan usianya.
Pada
kenyataannya, ia hanya berusaha bersikap dewasa karena posisinya, namun sebagai
seorang gadis muda, Kanon juga memiliki keinginan untuk bermain.
Terlebih
lagi, ini tentang adik laki-lakinya yang sangat berharga yang selama ini seolah
terpisah darinya, ditambah tunangan adiknya yang sekaligus menjadi adik
perempuan barunya.
Belum lagi
ada gadis kecil super menggemaskan layaknya malaikat yang saat ini duduk di
sebelahnya. Tentu saja Kanon ingin menghabiskan liburan Tahun Baru bersama
mereka.
Meski itu
adalah situasi yang tak bisa dihindari, tetap saja ia memiliki penyesalan.
『............』
Emma, yang
suasana hatinya sudah membaik berkat ramen, menatap lekat-lekat interaksi
keduanya dari samping.
Meskipun
ia tidak mengerti bahasa Jepang, selama itu bukan kata-kata dari Akihito, Emma
merasa tidak masalah meskipun ia tidak memahaminya.
Akan
tetapi, ada hal-hal yang bisa dipahami hanya dari ekspresi wajah――dan dari
sudut pandang Emma, Kanon terlihat seolah sedang menindas Kaguya.
Akibatnya,
tanpa disadari oleh Kanon, bukannya bertambah, 'Poin Emma'-nya justru malah
menurun sedikit.
『Emma-chan,
apakah kamu juga ingin mencoba Tsukemen ini? Kalau kamu mau, kita bisa
membaginya berdua, bagaimana?』
Kanon tahu
bahwa khusus untuk urusan ramen, Emma mampu menghabiskan satu porsi penuh
sendirian.
Karena
itulah, demi mendulang Poin Emma, Kanon menawarkan untuk berbagi ramen dan Tsukemen
berdua.
Dengan
begini, Emma bisa makan ramen sekaligus Tsukemen dan pastinya akan
merasa sangat senang――begitulah pikir Kanon.
『Nn,
tidak usah... tomat, ramen saja...』
Namun
sayang, rencana Kanon meleset. Emma berkata ia hanya ingin makan ramen saja.
Di balik
penolakan itu, sebenarnya ada perasaan Emma yang tidak ingin berbagi makanan
dengan orang yang telah menindas Kaguya. Tentu saja, Kanon yang perhatiannya
sedang terpecah sama sekali tidak menyadari hal itu.
Kanon
hanya menelan mentah-mentah ucapan Emma dan berpikir, 'Yah, ada kalanya juga
seperti ini,' lalu menyerah untuk kali ini.
『――Biar
aku yang lakukan, ya.』
Begitu
ramen pesanan mereka tiba, Kanon juga meminta mangkuk kecil khusus anak-anak,
lalu dengan sigap memindahkan sebagian porsi ramen Emma ke mangkuk tersebut.
Melihat
Kanon yang dengan inisiatif mengambil alih tugas yang biasanya dilakukan Akihito,
Emma――memberikan senyuman manis sebagai bentuk ucapan 《Terima kasih》.
『...!
Silakan dimakan...』
Mendapat
senyuman tak terduga dari sang malaikat kecil, Kanon merasakan dadanya berdebar
kencang. Ia berusaha sekuat tenaga mempertahankan akal sehatnya dan membalas
senyuman itu seraya menyodorkan mangkuknya.
『Makasih...!』
Emma
mengucapkan terima kasih dengan sopan dan menerima mangkuk tersebut.
Poin Emma
untuk Kanon sedikit meningkat.
(Meskipun
dia cukup pemilih, pada dasarnya dia anak yang sangat polos, ya...)
Kaguya,
yang melirik Emma sedang menyeruput ramennya dengan asyik, menatap tuannya yang
sedang berusaha keras menahan agar sudut bibirnya tidak melengkung lebar karena
kegirangan.
Dari luar
pun terlihat jelas bahwa penilaian Kanon di mata Emma sedang naik. Melihat
perkembangan ini, Kaguya merasa lega, berpikir bahwa dengan kecepatan ini, Emma
pasti akan segera lebih menyukai Kanon daripada dirinya.
Namun――.
『Gendong...!』
Saat
mereka selesai makan dan hendak keluar dari kedai, orang yang diminta Emma
untuk menggendongnya ternyata masih Kaguya.
Akibatnya,
Kaguya kembali mendapat senyuman dari Kanon di mana matanya sama sekali tidak
ikut tersenyum.
『――Emma-chan,
bagaimana kalau kita pergi membeli mainan? Aku juga akan membelikanmu banyak
camilan manis, lho?』
Begitu
mereka masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Kaguya, Kanon langsung melancarkan
taktik yang jauh lebih to the point dibandingkan dengan mentraktir
ramen.
(Nona
Muda, sepertinya Anda benar-benar sudah kehilangan akal sehat... Memanfaatkan
ketidakhadiran Charlotte-sama untuk membeli hati Emma-sama habis-habisan...)
Dalam
situasi normal, jika ada yang hendak membelikan mainan dan camilan dalam jumlah
banyak untuk Emma, Charlotte pasti akan menghentikannya.
Namun,
Charlotte yang biasanya menjadi rem tersebut sekarang tidak ada.
Itu
artinya, Kanon bisa membelikan mainan dan camilan sepuasnya sampai Emma merasa
puas. Dan jika Emma mendapat banyak hadiah, ia pasti akan senang――itulah
rencana Kanon.
Tetapi――sekali
lagi, ekspektasi Kanon harus dipatahkan.
『Nn,
tidak mau...』
Emma, yang
seharusnya sangat menyukai mainan dan camilan, menggelengkan kepalanya menolak,
《Tidak mau》.
『Kamu
tidak mau mainan...?』
『Onii-chan,
tidak ada...』
Menghadapi
Kanon yang bertanya dengan tubuh gemetar karena syok, Emma kembali
menggelengkan kepalanya dengan ekspresi sedih.
『Apakah
maksudmu karena tidak ada Akihito yang bisa diajak bermain?』
『Nn...』
Sepertinya
maksud Emma adalah, percuma saja dibelikan mainan kalau Akihito yang biasanya
menjadi teman bermainnya sedang tidak ada.
Sejak
datang ke Jepang, Akihito selalu menjadi teman bermainnya. Bahkan untuk
permainan yang bisa dimainkan sendiri pun, Emma selalu memainkannya sambil
duduk di pangkuan Akihito.
Dampak
buruk dari ketidakhadiran Akihito kini benar-benar menghantam rencana Kanon
tanpa ampun.
『Lalu,
kenapa kamu juga tidak mau camilan...?』
『Perut
Emma, kenyang...』
『Ugh.』
Sebuah
kelalaian yang sangat mendasar dan sepele.
Meskipun
Emma biasanya sangat rakus, kapasitas perutnya tidaklah terlalu besar.
Satu-satunya
makanan yang bisa ia habiskan satu porsi penuh hanyalah ramen.
Tapi itu
bukan berarti perutnya tiba-tiba membesar khusus untuk ramen. Itu lebih kepada
tekadnya yang merasa 'Kalau ramen, aku pasti bisa menghabiskannya,'
sehingga ia memakannya dengan sedikit memaksakan diri.
Akibatnya,
saat ini perut Emma sudah sangat penuh dan buncit, membuatnya bahkan merasa
enggan hanya untuk melihat makanan.
Ditawari
camilan dalam kondisi seperti itu tentu saja sama sekali tidak menarik bagi
Emma.
"Tidak
mungkin... padahal biasanya untuk makanan manis itu ada ruang tersendiri di
perut..."
"Nona
Muda, camilan anak-anak itu beda konsepnya dengan dessert makanan
manis..."
"Apa
kau sedang mencari masalah denganku, Kaguya? Biasanya aku tidak akan
repot-repot membelinya, tapi untuk kondisiku yang sekarang, aku dengan senang
hati akan membelinya, tahu?"
Ketika
Kaguya tanpa sadar menanggapi gerutuan Kanon yang sengaja menggunakan bahasa
Jepang agar tidak dimengerti Emma, Kanon tersenyum bak menemukan sasaran empuk
untuk melampiaskan rasa frustrasinya.
Merasakan
aura dingin yang mencekam, Kaguya langsung meminta maaf dan mulai melajukan
mobil seolah tidak terjadi apa-apa.
『Ngangguk...』
Melihat
Kaguya yang mengemudi sambil bercucuran keringat dingin dari kaca spion, kepala
Emma mulai terangguk-angguk ke depan dan ke belakang.
Karena
perutnya sudah kenyang, rasa kantuk mulai menyerangnya.
Jika sudah
begini, operasi pendulangan Poin Emma milik Kanon harus berakhir――Sadar bahwa
mengganggu tidurnya hanya akan membuatnya dibenci, Kanon pun menundukkan
bahunya dengan lesu.
"Nona
Muda..."
"Seumur
hidupku, baru kali ini aku berhadapan dengan tembok pertahanan yang begitu
kokoh..."
Kecuali
masalah mengenai apa yang dilakukan ayahnya pada Akihito di masa lalu,
kehidupan Kanon selalu berjalan mulus tanpa hambatan.
Nilainya
memuaskan, parasnya menawan, dan kepribadiannya luhur――ia selalu dicintai oleh
semua orang.
Bagi Kanon
yang seperti itu――ini pasti pertama kalinya ia menghadapi seseorang yang begitu
sulit untuk ditaklukkan.
"Mau
bagaimana lagi... Sebenarnya aku berencana untuk mulai mengoperasikannya nanti
dan menunjukkannya saat Akihito dan yang lainnya juga ada jika tidak ada
masalah――tapi, aku akan menggunakan senjata pamungkasku."
"Nona
Muda, jangan-jangan maksud Anda..."
"Kaguya,
ubah tujuan kita. Tolong segera hubungi anak-anak yang lain. Aku sudah tidak
peduli lagi pada gengsi. Aku akan membuat Emma-chan senang dengan seluruh
kemampuanku."
Melihat
mata majikannya yang bersinar penuh ambisi dari kaca spion, Kaguya hanya bisa
meratap dalam hati yang tak bisa diungkapkan pada siapa pun, (Nona Muda...
akal sehatnya benar-benar telah dirusak oleh gadis kecil itu...)
◆
『Emma-chan,
kita sudah sampai. Ayo bangun.』
Kanon
menepuk pelan bahu Emma yang sedang tertidur di kursi anak di jok belakang
mobil.
Emma, yang
memang memiliki mood buruk saat bangun tidur, membuka matanya dengan
sangat tidak senang karena tidurnya diganggu.
Hal
pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah wajah Kanon yang sedang
tersenyum lembut padanya. Emma pun menggembungkan pipinya dan menggumamkan, 《Muu...》
Fakta
bahwa Emma tidak meronta-ronta dan mengamuk bisa dibilang sebagai bukti dari
kedewasaannya yang telah berkembang.
――Tentu
saja bukan itu alasannya, melainkan karena orang yang membangunkannya adalah
seseorang yang belum terlalu akrab dengannya.
Jika itu Akihito,
Emma pasti sudah merengek sambil meronta-ronta, dan jika itu Charlotte, ia
pasti akan menolak dengan keras sambil marah.
Masih
dikuasai rasa kantuk yang berat, Emma menatap mata Kanon seolah bertanya, 《Ada urusan apa?》
『Maaf
ya sudah membangunkanmu. Ayo, sini.』
Setelah
melepaskan sabuk pengaman kursi anak, Kanon merentangkan kedua tangannya
bersiap untuk menggendong Emma.
Diperlakukan
seperti ini saat mood bangun tidurnya sedang buruk, biasanya Emma akan
menolak mentah-mentah――namun, karena ia merasa terlalu malas untuk berjalan
kaki dan tidak punya cukup energi untuk memanggil Kaguya, ditambah lagi karena
Kanon tadi telah membantunya memisahkan ramen, Emma pun memutuskan untuk pasrah
dan membiarkan dirinya digendong.
"Ugh!
Kaguya, lihatlah...! Aku berhasil menggendong Emma-chan...!"
Kanon yang
sebelumnya mengira bahwa ia akan ditolak lagi, merasa sangat kegirangan dan
memamerkannya pada Kaguya karena di luar dugaan ia berhasil menggendong gadis
kecil itu.
"Nona
Muda, kalau Anda berisik nanti Emma-sama bisa marah...!"
Tepat
seperti peringatan Kaguya, Emma langsung mengerutkan alisnya dengan sangat
tidak suka saat Kanon berteriak tepat di sebelah telinganya.
Pada
dasarnya Emma memang tidak suka suara berisik, jadi wajar saja ia makin kesal
jika ada yang berteriak di dekat telinganya.
Mengingat
Kaguya ada di belakangnya, Emma berpikir untuk meminta Kaguya saja yang
menggendongnya――namun saat ia menoleh ke belakang, Kaguya telah menghilang dari
pandangannya dalam sekejap mata.
Kaguya
yang menyadari bahwa Emma akan meminta gendong padanya, langsung kabur secepat
kilat.
Karena
situasinya sudah begini, Emma tidak bisa meminta gendong pada Kaguya. Dan
karena Kanon juga sudah kembali tenang, Emma pun menyerah dan kembali
menyandarkan tubuhnya pada Kanon.
Dengan
begitu, ia berniat untuk kembali melanjutkan tidurnya.
Namun,
tepat pada saat itu.
Sebuah
suara yang seketika membuat mata Emma terbuka lebar terdengar.
"Nyaa~!"
『Kucing!?』
Bereaksi
terhadap suara meongan itu, Emma langsung menegakkan tubuhnya dan menoleh ke
belakang.
Tanpa ia
sadari, ia telah dibawa masuk oleh Kanon ke dalam sebuah bangunan yang asing
baginya. Di dalam sana, terdapat lima ekor kucing yang sedang bersantai di atas
meja dan lantai.
『Kucingnya,
ada banyak...!』
Emma yang
sangat menyukai kucing, seketika melupakan rasa kantuknya dan wajahnya langsung
berseri-seri.
『Fufu,
tempat ini adalah Kafe Kucing, lho. Sebenarnya tempat ini belum resmi dibuka,
tapi hari ini adalah pengecualian. Tempat ini disewa khusus untuk Emma-chan,
jadi silakan bermain sepuasnya dengan kucing-kucing ini, ya.』
Melihat
tingkah Emma yang kegirangan, Kanon tersenyum lembut lalu menurunkannya
perlahan ke lantai.
Seketika
itu juga, salah satu kucing yang sudah sangat jinak menghampiri Emma dan
menggesekkan badannya, seolah meminta untuk dielus.
『Fwaa...!』
Karena
kucing itu mendekat dengan sendirinya, Emma mengeluarkan suara kegirangan yang
tak terlukiskan dengan kata-kata seraya mengelus punggung kucing tersebut.
Saat
dielus dengan lembut, kucing itu pun berguling terlentang di lantai.
Melihat
hal itu, antusiasme Emma semakin memuncak――dan saat ia sedang asyik mengelus
kucing tersebut, kucing-kucing lainnya pun ikut berdatangan menghampirinya.
『Kucingnya,
banyak banget...!』
Berbeda
dengan maknanya yang tadi, kali ini Emma berusaha menyampaikan pada Kanon bahwa
banyak kucing yang berkumpul mengelilinginya, meski dengan kosa kata yang
terbatas.
『Wah,
sepertinya Emma-chan sangat populer di kalangan kucing-kucing, ya.』
『Nn...!』
Dibilang
disukai oleh kucing-kucing, Emma mengangguk puas.
Setelah
itu, ia terus-menerus mengelus kucing-kucing yang mendekatinya secara
bergantian tanpa henti.
"Syukurlah,
pendidikan para kucing berjalan dengan lancar."
Kaguya,
yang mengetahui seluruh seluk-beluk rencana ini, berbicara pada Kanon sembari
memandangi Emma yang sedang bermain riang dengan para kucing.
"Kalau
kau menggunakan kata 'pendidikan', nanti bisa menimbulkan kesalahpahaman, tahu.
Katakanlah bahwa kita membesarkan kucing-kucing liar dan telantar ini agar
menjadi jinak dan ramah pada manusia."
Kucing-kucing
yang ada di sini adalah kucing-kucing buangan atau kucing liar yang telah
diselamatkan oleh Kanon sejak lama.
Awalnya ia
hanya menampung mereka karena keadaan mendesak, namun akhir-akhir ini jumlah
kucing yang diselamatkannya semakin banyak. Kanon menyadari bahwa jika ia hanya
mengandalkan dirinya sendiri dan para pelayannya untuk mengurus mereka semua,
itu akan menjadi sangat merepotkan di masa depan.
Bukan
karena masalah biaya, melainkan murni karena kurangnya tenaga kerja dan
kekhawatiran bahwa tidak semua kucing yang diselamatkan akan mendapat perhatian
yang cukup.
Karena
itulah ia mencetuskan ide untuk menempatkan kucing-kucing yang sudah jinak di
sebuah Kafe Kucing, dan jika memungkinkan, mencarikan mereka orang tua asuh
yang bersedia mengadopsi.
Mengingat
ini adalah Kafe Kucing, tentu saja akan ada pemasukan, namun seluruh
keuntungannya akan dialokasikan untuk biaya makan dan perawatan para kucing.
Pada
dasarnya, tempat ini didirikan sebagai wadah untuk mencarikan majikan baru bagi
kucing-kucing tersebut.
Saat ini
memang baru ada lima ekor kucing, namun ke depannya kucing-kucing jinak lainnya
juga akan dibawa ke kafe ini, sehingga jumlahnya pasti akan terus bertambah.
Mengetahui
bahwa bukan hanya Akihito, tetapi Charlotte dan Emma juga sangat menyukai
kucing, Kanon awalnya berencana untuk membawa mereka semua ke kafe ini sebagai
sebuah kejutan. Namun, demi menaikkan posisinya di mata Emma, Kanon tak ragu
membuang rencana kejutan untuk Akihito dan Charlotte tersebut.
Sebagai
informasi tambahan, para calon pengadopsi kucing akan diseleksi dengan sangat
ketat. Selain harus memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk merawat
kucing, kepribadian mereka juga menjadi faktor penentu. Jika ada yang
mengajukan adopsi, para pelayan Kanon akan melakukan penyelidikan latar
belakang secara rahasia untuk memastikan bahwa kucing-kucing tersebut akan
hidup bahagia bersama keluarga baru mereka.
"Kalau
begitu, karena ini adalah kafe, apakah kita akan menyajikan minuman untuk
Emma-sama?"
Dalam
situasi normal, karyawan yang dipekerjakan untuk kafe kucing inilah yang akan
menyajikan minuman dan makanan ringan. Namun karena kafe ini belum resmi
beroperasi, belum ada satu pun karyawan yang bekerja.
Oleh
karena itu, tugas mengurus kucing-kucing tersebut ditangani langsung oleh Kanon
dan pelayan-pelayan pribadinya――meski begitu, Kanon sama sekali tidak berniat
menyerahkan tugas menyajikan minuman untuk Emma kepada orang lain.
『Emma-chan,
apakah ada minuman yang ingin kamu pesan?』
『Nn?』
Saat Kanon
bertanya, Emma yang sedang asyik memeluk salah satu kucing yang pasrah
digendongnya, menoleh ke arah Kanon dengan kepala dimiringkan.
Lalu, Emma
kembali menatap kucing di pelukannya.
Saling
bertatapan dengan mata kucing yang bulat dan lucu, Emma pun――
『Susu
sapi...!』
――Meminta
sesuatu yang sama sekali tidak terduga.
(Susu
sapi... apakah selama ini Emma-chan pernah meminumnya...?)
Biasanya,
selain teh, Emma selalu meminum jus jeruk atau minuman manis lainnya yang
disukai anak-anak. Kanon tidak ingat pernah melihat Emma minum susu sapi.
Merasa
heran, Kanon menoleh ke arah Kaguya.
"Apakah
kita punya persediaan susu sapi?"
"Tidak
ada... Jika sampai kucing-kucing ini tak sengaja meminumnya, itu akan menjadi
masalah besar, jadi kita memang tidak pernah berencana untuk menyediakannya...
Lagipula, meskipun pembukaannya sebentar lagi, kita harus mempertimbangkan masa
kedaluwarsanya..."
"Benar
juga, ya..."
Kaguya
memaparkan masalahnya, dan Kanon yang sedari awal sudah menduga bahwa tidak ada
susu sapi di sini, hanya bisa mengangguk pasrah.
Kalau
begini terus, ia akan membuat Emma kecewa.
Karena ia
harus menghindari hal itu terjadi dengan cara apa pun, Kanon berniat menyuruh
salah satu pelayannya yang sedang menganggur untuk pergi membelinya――namun
tiba-tiba, ia menyadari sesuatu.
Susu sapi
yang diminta Emma itu, kemungkinan besar bukan untuk diminum oleh Emma sendiri.
"Kaguya,
tolong perintahkan pelayan yang bisa bergerak cepat untuk segera pergi ke
peternakan kambing dan membeli susu kambing."
( (
(Kenapa tiba-tiba minta susu kambing...?) ) )
Para
pelayan yang bersembunyi di balik bayang-bayang agar tidak mengganggu majikan
mereka, memiringkan kepala kebingungan mendengar instruksi Kanon.
Hanya
Kaguya seorang yang langsung memahami maksud Kanon. Dengan kecepatan yang tak
bisa diikuti mata, jari-jarinya menari di atas layar ponsel, mengirimkan
instruksi kepada pelayan yang sedang berada di dekat peternakan kambing.
"Akan
tiba dalam waktu sekitar 30 menit."
"30
menit... lumayan lama, ya..."
Karena
tidak ada peternakan kambing di sekitar kafe kucing ini, perjalanan menggunakan
mobil pun tetap akan memakan waktu.
『Emma-chan,
minumannya akan memakan waktu sedikit lama, apa kamu mau menunggu?』
『Nn.
Sama kucing, nunggu.』
Kanon
bertanya dengan perasaan was-was takut Emma akan marah, namun Emma yang sedang
dalam mood sangat baik karena bisa bermain dengan kucing, menurut tanpa
protes sedikit pun.
Bahkan, ia
juga menyuruh kucing di pangkuannya untuk ikut menunggu.
Kanon
merasa lega dan berpikir ini tidak akan menjadi masalah――lalu ia pun menyajikan
segelas jus jeruk untuk Emma.
『Makasih...!』
Meski
bukan susu, Emma tetap menerimanya dengan senyuman dan langsung meminum habis
dalam sekejap.
Bukan
karena ia sedang kehausan, melainkan karena ia ingin cepat-cepat kembali
bermain dengan para kucing.
Begitu
Emma meletakkan gelas kosongnya di atas meja, seorang pelayan yang bersembunyi
di balik bayangan melesat keluar dan mengamankan gelas tersebut dalam hitungan
detik.
(Anak-anak
itu... sepertinya mereka ingin melihat Emma-sama dari jarak dekat, ya...)
Kaguya
yang memahami perasaan para bawahan pelayannya, hanya bisa bersimpati. Namun di
sisi lain, Kanon yang kesempatannya direbut oleh bawahannya sendiri berusaha
sekuat tenaga menyembunyikan kekesalannya, meski aura ketidakpuasan tak bisa
ditutupi dari tubuhnya.
Seolah
majikannya sedang berkata, 《Beraninya
kalian ikut campur...》. Kaguya
hanya bisa tersenyum masam.
Sembari
Kanon dan Kaguya mengawasi Emma yang terus bermain dengan para kucing――susu
pesanan Emma akhirnya tiba.
『Nah,
Emma-chan, ini dia.』
Kanon
menyodorkan sebotol susu kambing beserta lima buah wadah――yang bukan gelas
untuk manusia, melainkan wadah minum yang biasa digunakan oleh para kucing.
Emma
menerimanya dengan senyum lebar, lalu menyusun kelima wadah tersebut secara
sejajar. Ia kemudian menuangkan susu kambing itu ke dalam masing-masing wadah
dengan takaran yang sama rata.
Karena
satu botol ternyata tidak cukup, ia meminta botol tambahan dari Kanon dan
kembali menuangkannya dengan rata――setelah merasa jumlahnya sudah pas, Emma
meletakkan wadah-wadah berisi susu tersebut di hadapan masing-masing kucing.
『Kucing-kucing,
nih.』
Melihat
uluran tangan Emma, para kucing itu pun langsung mulai meminum susu tersebut
dengan lahap.
Fakta
bahwa mereka tidak langsung meminumnya sebelum diberi aba-aba adalah bukti dari
keberhasilan pelatihan yang mereka terima.
"Fufu...
meminta susu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk diberikan pada
kucing-kucing ini... Emma-chan benar-benar gadis yang sangat baik hati,
ya..."
Melihat
Emma yang tersenyum sangat bahagia mengamati kucing-kucing yang sedang
menikmati susu mereka, hati Kanon terasa sangat damai.
Rasanya ia
ingin terus memandangi pemandangan ini selamanya――perasaan itulah yang kini
memenuhi dadanya.
"Yah...
untung saja Nona Muda segera menyadarinya... Kalau tadi Anda menuruti
permintaannya dan memberikan susu sapi biasa, bisa-bisa terjadi bencana besar
di sini..."
Kaguya
yang sedari tadi berdiri di sebelah Kanon dan ikut mengawasi Emma beserta para
kucing, tersenyum masam.
Nada
bicaranya terdengar seolah ia baru saja lolos dari jurang malapetaka.
"Meskipun
kita bisa mencegah kucing-kucing itu meminumnya, Emma-chan pasti akan menangis
kalau kita tiba-tiba melarangnya tanpa alasan yang jelas. Tapi yah, karena
usianya yang masih sangat kecil, wajar saja kalau ia tidak tahu dan berniat
memberikan susu sapi pada mereka."
Jika
kucing meminum susu sapi biasa, mereka bisa mengalami gangguan pencernaan
seperti diare dan masalah kesehatan lainnya.
Kanon
memang sudah mengetahuinya sebagai bagian dari wawasan dasarnya, namun wajar
jika Emma yang masih sekecil ini tidak memahaminya.
Apalagi,
ia pasti sering melihat adegan kucing meminum cairan putih mirip susu di
televisi atau anime, jadi ia hanya meniru apa yang dilihatnya.
Kanon
tidak bisa menyalahkannya, dan karena ia sudah menyadarinya sebelum Emma
memberikannya pada kucing-kucing itu dan menggantinya dengan susu kambing, maka
tidak ada masalah sama sekali.
Nanti,
Kanon berniat memberi tahu Emma secara halus bahwa memberikan susu sapi biasa
pada kucing itu tidak diperbolehkan.
Yah, meski
pada akhirnya, kemungkinan besar Akihito-lah yang akan mengajarkan hal itu
padanya nanti.
『Kucing-kucing,
sudah minum semua...? Kalau gitu, ayo main lagi...!』
Setelah
memastikan kelima kucing itu telah menghabiskan susu kambing mereka, Emma
menjauhkan wadah-wadah kosong itu dari hadapan mereka, meletakkannya di atas
meja, lalu kembali bermain.
Dan
kemudian――wadah-wadah kosong itu kembali lenyap dalam sekejap mata karena
diamankan oleh para pelayan bayangan. Kanon yang melihatnya langsung
memancarkan aura hitam pekat meski wajahnya tetap tersenyum manis, sementara
Kaguya hanya bisa meratap dalam hati, (Bawahan saya sama sekali tidak
bersalah, lho...)
◆
『Emma-chan,
bagaimana kalau kita berpamitan pada kucing-kucing ini sekarang?』
Sekitar
dua jam berlalu setelah Emma bermain sepuasnya. Mengingat mereka masih harus
pulang dan memandikan Emma agar ia tidak terlambat dari jam tidurnya, Kanon pun
mengajak Emma untuk pulang.
『Sama
kucing-kucing, sudah tidak bisa main lagi...?』
Namun,
Emma yang masih ingin terus bermain dengan kucing-kucing itu, menatap Kanon
dengan mata berkaca-kaca yang menyiratkan kesedihan.
Padahal
seharusnya ia sudah sangat mengantuk, tapi karena terus bermain dengan antusias
bersama para kucing, rasa kantuknya seolah menguap entah ke mana.
『Kamu
bisa datang bermain kapan pun kamu mau, kok. Nanti kita ke sini lagi, ya?』
Pemilik
dari kafe kucing ini tak lain dan tak bukan adalah Kanon sendiri.
Jika Emma
bilang ingin datang, ia pasti akan mengantarnya, bahkan Kanon rela meliburkan
kafe ini demi membiarkan Emma memonopolinya jika perlu.
"Tolong
hindari meliburkan kafe secara mendadak, karena itu akan mengecewakan pelanggan
yang lain."
Tentu
saja, pelayan pribadinya yang sangat kompeten itu tidak akan membiarkan
majikannya bertindak egois.
"Kalau
begitu, haruskah aku membangun kafe kucing yang eksklusif hanya untuk
Emma-chan?"
"Kalau
sampai sejauh itu, bukankah sudah tidak perlu lagi disebut kafe kucing...? Akan
lebih masuk akal kalau Anda membeli rumah biasa lalu memelihara kucing di
sana..."
"Kaguya,
kau selalu saja membantah ucapanku, ya?"
"Saya
hanya menyampaikan fakta yang paling logis dan rasional..."
Menghadapi
tatapan tajam majikannya, Kaguya hanya bisa membalas dengan senyuman masam.
Lagipula,
mengingat Akihito dan Charlotte pernah membicarakan keinginan mereka untuk
memelihara kucing saat kencan waktu itu, suatu saat nanti mereka pasti akan
memeliharanya sendiri.
Daripada
memaksakan diri menyewa seluruh kafe kucing, Kaguya merasa jauh lebih baik jika
Kanon membiarkan mereka segera memelihara kucing. Itu akan lebih menguntungkan
bagi Akihito dan yang lainnya, serta lebih membahagiakan bagi Emma.
『Kucing-kucing,
daa-daah...』
Sementara
Kaguya dan Kanon berdebat, Emma mengucapkan perpisahan pada para kucing.
Baju Emma
kini dipenuhi bulu kucing, sehingga para pelayan pun langsung bergerak cepat
membawakan lint roller (alat pembersih bulu) untuk membersihkan baju
Emma.
"Astaga!?
Tolong berhentilah mencuri start terus-menerus...!"
Karena
lagi-lagi keduluan oleh para pelayan, Kanon yang kesal akhirnya benar-benar
meluapkan amarahnya, padahal Kaguya sama sekali bukan pelakunya.
Tentu saja
hal itu membuat para pelayan terkejut, namun yang paling terkejut adalah Emma.
Bagi Emma,
orang-orang asing yang tidak dikenalnya tiba-tiba muncul dan menyentuh bajunya
tanpa permisi.
Untuk
ukuran Emma yang pemalu dan sangat takut pada orang asing, ini adalah
pelanggaran zona nyaman tingkat fatal.
Alhasil――
『Waaaaa...!』
――Seakan
menghancurkan seluruh usaha keras Kanon dari tadi, Emma langsung menangis
sejadi-jadinya.
Sudah bisa
ditebak, kemurkaan Kanon dan Kaguya seketika menyambar para pelayan
tersebut――dan mereka pun meminta maaf habis-habisan dengan posisi sujud memohon
ampun di hadapan Emma.
Akan
tetapi――setelah tangisannya mereda, Emma yang masih sesenggukan langsung
memeluk Kanon yang berada di dekatnya. Mendapat pelukan itu, Kanon langsung
berubah mood menjadi sangat gembira seraya menggendong Emma dalam
dekapannya.
◆
『――Onii-chan
sama yang lain, pulangnya kapan...?』
Di dalam
mobil dalam perjalanan pulang, Emma yang suasana hatinya sudah membaik bertanya
pada Kanon yang duduk di sebelahnya.
『Setelah
kamu tidur tiga kali di malam hari, mereka akan pulang, lho.』
Karena
karyawisata Akihito dan yang lainnya berlangsung selama empat hari tiga malam,
Kanon menggunakan perumpamaan yang mudah dipahami oleh Emma.
Dengan
pola pikirnya yang polos, untungnya Emma tidak merespons dengan, 'Kalau
begitu aku akan tidur dan bangun tiga kali sekarang juga'. Ia hanya
menganggukkan kepalanya pelan dengan raut wajah kesepian.
Melihat
Emma yang seperti itu, Kanon tersenyum dengan penuh kasih sayang, lalu dengan
lembut mengelus kepala Emma.
『Tidak
apa-apa, kamu akan segera bertemu dengan mereka, kok. Lagipula, aku sudah
menyusun rencana untuk itu.』
Saat Kanon
mengatakan hal itu sembari terus mengelus kepalanya, Emma memiringkan kepalanya
bingung, sementara Kaguya yang sedang menyetir di depan tak kuasa menahan
senyum getirnya.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.