Epilog
"Tapi
sungguh... kau ini benar-benar orang yang terlalu baik, ya..."
Setelah
aku berhasil lolos dari tekanan mematikan Char, Umikawa-san yang baru saja
mendapatkan kembali kesadarannya menatapku dengan sorot mata seolah sedang
melihat orang yang tak bisa tertolong lagi.
"Menurutku
aku tidak sebaik itu, kok..."
"Masa,
sih? Padahal aku selalu bersikap dingin padamu, tapi kau malah sangat peduli
pada masalahku. Bukan hanya kau, Bennett-san dan Shimizu-san juga."
Mungkin
karena perasaannya sudah jauh lebih lega setelah menceritakannya, senyuman
akhirnya kembali menghiasi wajah Umikawa-san.
"Yah,
itu karena mereka berdua memang baik hati. Lagipula, kita baru memutuskan apa
yang harus dilakukan selanjutnya. Kamu masih harus berbicara baik-baik dengan
anggota kelompokmu, kan?"
Diskusi
tadi hanyalah tentang langkah untuk mencegah hal yang sama terulang di masa
depan. Sedangkan untuk masalah pertengkarannya saat ini, sebenarnya belum ada
tindakan nyata yang diambil.
Memang
sih, cara yang paling cepat adalah membiarkan Char yang menjadi penengah,
seperti yang ia tawarkan sebelumnya.
"Iya,
aku mengerti. Aku akan mencoba bicara dengan mereka sendiri dulu."
Sepertinya
Umikawa-san sudah memutuskan untuk menyelesaikannya dengan tangannya sendiri.
Jika pada
akhirnya masih tidak berhasil, barulah kami akan meminta bantuan Char.
Di saat
aku sedang berpikir begitu, Umikawa-san melangkah maju mendekati Char.
"Bennett-san,
maafkan aku. Selama ini aku memendam perasaan yang tidak baik padamu, makanya
aku selalu bersikap dingin."
Tiba-tiba
saja, Umikawa-san membeberkan isi hati terdalamnya.
Karena
terlalu mendadak, Char sampai terkejut.
"Duh,
kenapa kamu jujur banget sampai ngomongin hal itu juga, sih...! Kamu ini
beneran kaku banget, ya...!"
Melihat
Umikawa-san yang terlalu teladan sampai-sampai membeberkan hal yang tak perlu
diucapkan, Shimizu-san memegangi kepalanya yang terasa pening.
Yah,
mungkin begitulah cara Umikawa-san untuk berdamai dengan perasaannya sendiri.
"Aku
sama sekali tidak memikirkannya, kok, jadi Umikawa-san juga tidak perlu merasa
bersalah. Aku justru akan sangat senang kalau mulai sekarang kita bisa berteman
baik."
Char yang
baik hati menerima permintaan maaf Umikawa-san dengan lapang dada.
Tampak
sangat lega mendengarnya, Umikawa-san kemudian menundukkan kepalanya pada
Shimizu-san juga.
Ngomong-ngomong,
ia tidak menundukkan kepalanya padaku, jadi yah... kukira kami sudah sedikit
mencair, ternyata itu cuma perasaanku saja.
Dan untuk
Kiriyama-san... kurasa aku tidak perlu menjelaskannya.
"――Kalau
begitu, aku akan kembali ke kamar sekarang."
Kemungkinan
besar masalah Umikawa-san setelah ini akan menemui titik terang. Jika aku tetap
berada di sini, Shimizu-san dan Kiriyama-san pasti akan kembali menjadikanku
dan Char sebagai bahan bulan-bulanan. Terlebih lagi, kalau aku tidak hati-hati,
Char bisa saja tanpa sadar membocorkan rahasia tentang hubungan dewasa kami.
Jadi, jalan terbaik bagiku adalah kabur.
Selain
itu, aku juga ingin cepat-cepat pergi sebelum Shimizu-san ingat soal sindiranku
padanya tadi.
"A-kun,
selamat malam."
"Selamat
malam, Char."
Setelah
mengucapkan selamat malam pada Char dan gadis-gadis yang lain, aku pun bergegas
kembali ke kamarku――namun.
"Aoyagi-kun,
tunggu."
Entah
kenapa, Umikawa-san menyusulku dari belakang.
"Ada
apa?"
"Ada
sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, hanya berdua saja..."
Kukira ia
juga akan kembali ke kamarnya, tapi ternyata ia benar-benar mengejarku.
Meski aku
merasa takut membayangkan reaksi Char kalau ia sampai melihat kami berduaan,
aku sudah terlanjur ikut campur dalam masalahnya. Aku tidak mungkin menolaknya
sekarang.
"Begitu
ya, apa kamu masih mencemaskan sesuatu?"
"Bukan
itu... Anu, aku ingin meminta maaf padamu secara pribadi... Selama ini aku
selalu menganggapmu sebagai saingan..."
Umikawa-san
berjalan menyejajarkan langkahnya denganku. Sambil sesekali melirik reaksiku
dengan ragu, ia membeberkan perasaan yang selama ini ia pendam.
Maksudnya
menganggapku sebagai saingan pasti berkaitan dengan urusan peringkat nilai
ujian.
Aku dan
dirinya selalu bersaing memperebutkan peringkat pertama, dan karena ia selalu
berakhir di peringkat kedua, wajar saja jika ia menganggapku sebagai musuh.
"Sama
seperti Char tadi, kamu tidak perlu repot-repot meminta maaf, lho."
"Bukan
itu maksudku... Aku masih yakin kalau menganggapmu sebagai saingan itu bukanlah
hal yang salah, dan aku berencana untuk terus menjadikanmu sainganku. Karena,
aku sangat ingin mengalahkanmu dalam ujian, dan tekad itu akan mendorongku
untuk terus meningkatkan nilaimu."
Berarti,
yang ingin ia mintakan maaf adalah masalah lain.
Karena
sifatnya yang teladan, ia pasti ingin menjelaskannya secara berurutan.
"Tapi,
karena aku tak pernah bisa mengalahkanmu... Entah sejak kapan, rasa persaingan
itu berubah menjadi rasa permusuhan... Karena itulah, aku ingin meminta maaf
padamu."
Dengan
langkah kecil, ia bergegas memosisikan dirinya tepat di depanku, merapatkan
kedua tangannya di atas lutut, lalu membungkuk dalam-dalam.
Menghadapi
sisi negatif dari diri sendiri adalah hal yang sangat sulit, apalagi
mengakuinya di hadapan orang lain. Dibutuhkan keberanian yang besar untuk
melakukannya.
Melihatnya
mampu melakukan hal itu, aku kembali disadarkan bahwa ia memang gadis yang
hebat.
"Jujur
saja, aku sudah menyadarinya, kok."
"Begitu,
ya..."
Mungkin
mengira aku akan memarahinya, Umikawa-san mencengkeram erat ujung yukata-nya
dengan kedua tangan.
Melihat
hal itu, entah sudah yang keberapa kalinya untuk hari ini, aku tersenyum lembut
padanya.
"Tapi,
sama seperti Char, aku juga sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena itu,
kuharap kamu juga tidak memikirkannya lagi."
"Apakah
itu artinya... kau sama sekali tidak menganggapku ada...?"
"Bukan
begitu. Bukankah fakta bahwa kamu datang menjelaskannya sendiri dan meminta
maaf pada kami adalah bukti bahwa kamu sudah merenungi kesalahanmu?"
"Iya...
tapi..."
"Kalau
begitu, aku dan Char tidak punya alasan untuk mempermasalahkannya lagi. Kamu
sudah bertekad untuk berubah, jadi bagi kami, masalah ini sudah selesai. Yang
terpenting sekarang adalah bagaimana kita membangun hubungan pertemanan yang
baik ke depannya. Karena itulah kuminta kamu untuk tidak memikirkannya
lagi."
Secara tak
sadar aku juga mewakili perasaan Char, tapi intinya memang begitu.
Sekalipun
Umikawa-san dulu bersikap dingin pada kami seolah menaruh dendam, Umikawa-san
yang sekarang sedang berusaha untuk berubah.
Apalagi ia
sudah meminta maaf, jadi jauh lebih baik jika ia melupakan masa lalunya dan move
on.
Jika ia
terus-terusan terbebani oleh rasa bersalah padahal kami sedang berusaha untuk
akrab, ia hanya akan terus merasa canggung di dekat kami.
Kalau
begitu terus, kami tidak akan pernah bisa menjadi teman yang sesungguhnya.
Jadi, demi
bisa menjalin pertemanan tanpa ada ganjalan apa pun, aku memintanya untuk
segera melupakan hal itu.
"...Kalian
berdua ini, benar-benar orang yang terlalu baik, ya..."
Dengan
mata yang sedikit berkaca-kaca, Umikawa-san tertawa kecil sambil mengusap sudut
matanya dengan telunjuk.
"Menurutku
tidak begitu, kok."
"Fufu,
tidak, kalian memang begitu. ...Terima kasih."
Umikawa-san
yang kembali berjalan di sampingku kini menunjukkan senyuman lepas, seolah
beban berat yang selama ini membelenggunya telah sirna.
Karena
setiap kali bertemu di sekolah ia selalu memasang ekspresi dingin, melihatnya
tersenyum seperti ini membuatnya terlihat seperti orang yang sama sekali
berbeda.
Kalau dia
tersenyum begini, dia pasti akan sangat populer di kalangan anak laki-laki...
Memang
dasar gadis yang cantik... Pikirku sejenak, tapi karena takut pikiran ini akan
disadap oleh radar Char, aku buru-buru mengosongkan pikiranku.
"Jujur
saja, aku juga merasa sangat iri pada Charlotte-san."
"Ah,
dia memang gadis yang sangat memukau tanpa cela sedikit pun, kan. Wajar saja
kalau para cowok tergila-gila padanya dan para gadis menjadikannya sebagai
sosok idaman."
《Ugh!》
"Hm...?"
Kudengar
ada suara aneh?
Aku pun
menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa.
Mungkin
hanya perasaanku saja.
"Kalau
kau dengan santainya memamerkan kemesraanmu begitu, wajar saja orang yang
mendengarnya jadi kesal, tahu..."
"Ah,
maaf."
Padahal
aku hanya bermaksud menyetujui pernyataannya, tapi karena aku malah dihadiahi
tatapan tajam, aku segera meminta maaf.
"...Waktu
festival olahraga kemarin, dia membawa adik kecilnya, kan?"
"Kamu
tahu, ya?"
"Ya
iyalah, mereka itu sangat mencolok dan sempat jadi topik hangat, tahu."
Saat aku
memiringkan kepala keheranan, Umikawa-san tersenyum masam.
Seperti
yang ia katakan, bahkan tanpa kehadiran Emma-chan pun, warna rambut perak Char
sudah sangat mencolok. Ditambah lagi dengan kehadiran anak kecil di area tenda
siswa, sudah pasti itu akan menarik perhatian banyak orang.
Terlebih
lagi karena Emma-chan sendiri luar biasa menggemaskan dan polos, semua mata
pasti tertuju padanya.
Tidak
heran jika mereka menjadi buah bibir di sekolah.
"Sebenarnya,
aku juga punya adik laki-laki yang masih kecil."
"Hee,
begitu ya."
Memiliki
adik dengan jarak usia yang cukup jauh memang jarang, tapi bukan berarti tidak
ada.
Char dan
Emma-chan pun begitu, jadi hal itu tidak terlalu mengejutkan bagiku.
"Aku
tidak kelihatan seperti tipe kakak perempuan yang baik, kan? Pada kenyataannya,
aku memang bukan kakak yang baik."
Umikawa-san
memaksakan senyum yang sarat akan penyesalan.
Sepertinya
ada hal berat yang membebani pikirannya.
Kemungkinan
besar, inilah benang merah yang menyambungkan topik tentang rasa irinya pada
Char.
"Bukannya
aku bermaksud mengatakannya seperti itu... tapi karena Umikawa-san itu orangnya
teladan dan bisa diandalkan, tidak aneh rasanya kalau kau punya adik."
"――Ugh.
B-Berhentilah mengatakan hal seperti itu dengan begitu santainya..."
Padahal
aku mencoba untuk menghiburnya, tapi entah kenapa ia malah menundukkan
wajahnya.
Sekilas
dari samping, kulihat wajahnya terlihat jauh lebih memerah dibandingkan saat
kami keluar dari kamar tadi...?
"Anu,
begini... Aku sama sekali tak pernah punya waktu untuk bermain dengan adikku...
Karena bahkan saat di rumah pun, aku selalu belajar... Di mata anak itu, aku
pasti terlihat seperti kakak perempuan yang jahat. Aku bahkan pernah
membentaknya untuk tidak menggangguku belajar..."
Kalau
kuingat-ingat kembali, aura Umikawa-san saat baru masuk SMA dengan auranya yang
sekarang memang sedikit berbeda.
Mungkin,
titik di mana ia mulai menjadi temperamental dan mudah marah adalah sekitar
paruh kedua kelas satu.
Melihat
betapa banyak waktu yang ia korbankan untuk belajar namun tetap tak bisa
menggeser posisiku dari peringkat pertama, wajar saja jika batinnya mulai
tertekan dan ia kehilangan ketenangannya.
"Apa
kamu cukup tidur setiap malam?"
"――Hah!?"
Saat aku
sedikit mencondongkan tubuh untuk melihat wajahnya lebih jelas, wajah
Umikawa-san seketika memerah padam.
Karena ia
mungkin belum terbiasa berinteraksi sedekat ini dengan anak laki-laki, wajar
saja ia kaget.
Namun,
alih-alih memedulikan rasa malunya, fokus utamaku tertuju pada area di bawah
matanya.
Sudah
kuduga...
Selama ini
aku tidak menyadarinya, tapi ternyata ia menutupi kantung matanya dengan
riasan.
Fakta
bahwa gadis seteladan dirinya memakai make-up di acara sekolah (meski
ini karyawisata) membuktikan betapa ia sangat ingin menyembunyikan kantung mata
itu dari siapa pun.
Bukan
hanya hari ini, ia pasti juga selalu melakukannya saat di sekolah.
Terlebih
lagi, ia bahkan repot-repot kembali memakai riasan setelah mandi. Itu sudah
cukup untuk menjelaskan betapa putus asanya dia menyembunyikan kelelahannya.
"Berusaha
keras untuk belajar itu memang bagus, tapi kalau kamu tidak cukup tidur, itu
tidak baik, tahu? Tidak baik untuk kesehatanmu, dan otakmu juga tidak akan bisa
bekerja maksimal. Alhasil, efisiensi belajarmu malah akan menurun."
Kalau
Aoyagi di masa lalu mendengar petuah ini, dia pasti akan mencibir, 'Ngaca
woi', tapi mari kita kesampingkan hal itu untuk saat ini.
Melihat
kondisinya, sepertinya ia memaksakan diri jauh lebih parah daripada yang pernah
kulakukan dulu.
"Waktuku...
tidak cukup..."
"Tapi
kalau hasil yang kau dapatkan belum memuaskan, bukankah kau harus mencoba
mengubah cara belajarmu?"
Sadar
betul bahwa ucapanku bisa saja membuatnya tersinggung, aku sengaja menembakkan
fakta yang kejam itu secara langsung kepadanya.
Terlebih
lagi, karena aku sendirilah pelaku utama yang membuatnya terjebak di peringkat
dua, mendengar kritikan dariku pasti akan membuatnya makin kesal.
Walau
begitu, aku merasa ini adalah hal yang harus kukatakan padanya.
"Aku
tidak berniat menyangkal kerja kerasmu, tapi kalau usahamu belum membuahkan
hasil, kau harus berani mencoba metode yang baru. Memaksakan diri dengan
prinsip 'Lakukan terus sampai bisa' itu sangat tidak efisien, dan waktu
yang kita punya juga terbatas. Dan yang paling penting, kalau kau sampai jatuh
sakit, semua kerja kerasmu itu akan sia-sia, kan?"
Sembari
membatin, 《Tumben dia tidak
membalas argumenku...?》, aku
terus menyampaikan apa yang ingin kukatakan padanya.
Ia hanya
terdiam mendengarkan kata-kataku.
Jujur, itu
malah membuatku sedikit ngeri.
"Kebanyakan
guru itu punya pola tertentu saat membuat soal ujian, jadi mencoba mencari tahu
pola mereka dan menyusun strategi berdasarkan itu juga bisa jadi pilihan yang
bagus, lho. Hanya dengan melakukan itu, efisiensi belajarmu akan jauh berbeda."
"Apakah
kau... melakukan hal itu...?"
Barulah di
titik ini ia akhirnya membuka suara.
Dari nada
suaranya, sepertinya ia tidak marah, tapi...
"Tentu
saja. Kalau dengan Char... aku sering mengajarinya soal pola itu saat kami
belajar bersama, jadi bisa dibilang mirip-mirip lah. Yah, otak gadis itu memang
cerdasnya tidak main-main, kemampuanku jauh di bawahnya, sih."
"...Curang."
Saat aku
tanpa sadar memuji Char lagi, Umikawa-san menggumamkan sesuatu dengan suara
yang sangat pelan.
"Eh?"
"Bisa
diajari langsung oleh Aoyagi-kun... Charlotte-san itu benar-benar
curang..."
Saat aku
memiringkan kepalaku karena tak mendengarnya, Umikawa-san menggumamkan sesuatu
lagi dengan suara yang tak kalah kecilnya.
Saking
pelannya, kata-katanya sama sekali tak bisa kutangkap.
"Kamu
bilang sesuatu?"
"Tidak...
Bukan apa-apa, kok. Baiklah, mulai sekarang aku juga akan mencoba cara
itu."
Saat
kutanya, ia kembali memamerkan senyuman manis kepadaku.
Berbeda
dari senyumannya yang biasa, kali ini senyumannya terlihat seperti topeng untuk
menyembunyikan perasaan aslinya.
Duh,
jangan-jangan dia beneran marah, ya...?
"Ngomong-ngomong,
karena kalau kamu baru mulai mencari polanya sekarang, waktumu pasti akan
terkuras habis, lebih baik kamu fokus mencari tahu polanya mulai dari tes
berikutnya. Untuk ujian terdekat, aku bisa mengajarimu pola soal guru-guru kita
saat ini, lho. Kita bisa mengadakan sesi belajar bersama asalkan Char juga
ikut."
Kalau dia
nekat mencari polanya sendiri sesuai saranku, waktunya untuk belajar materi
utama justru akan berkurang, dan kalau nilainya anjlok, dia pasti akan dendam
padaku.
Mengingat
aku sudah tak punya ambisi untuk mempertahankan peringkat satu, aku memutuskan
untuk tidak pelit ilmu dan mengajarinya secara langsung.
Tentu saja
aku tidak akan mengalah saat ujian nanti, tapi kalau nilai kami sama-sama
meningkat, bukankah itu hal yang bagus?
Kalau aku
mengadakan sesi belajar berduaan saja dengan Umikawa-san, Char pasti akan
mengamuk. Tapi kalau ia juga ikut, seharusnya ia tidak akan protes.
...Kayaknya.
...Kurasa
lebih aman kalau pesertanya kutambah sedikit.
Tentu saja
aku akan mengundang Karin, dan Kousaka-san pasti akan senang kalau kuajak.
Lagipula Akira memang butuh sesi belajar agar nilainya selamat, dan kalau aku
juga mengundang Shimizu-san yang berteman baik dengan Char... ya, harusnya
aman.
Kayaknya...
"Membantu
musuh yang sedang kesulitan... apakah kau yakin mau melakukan itu...?"
"Kita
kan satu sekolah, kalau nilai kita sama-sama naik, itu hal yang bagus,
kan?"
"...Seperti
dugaanku, hatimu sangat lapang... Tapi, kalau belajar bersamaku, nilai
Aoyagi-kun sendiri tidak akan bertambah, kan?"
"Siapa
bilang? Dengan mengajari orang lain, kita bisa melihat materi dari sudut
pandang yang berbeda, dan bukankah sudah jadi rahasia umum kalau mengajarkan
materi pada orang lain itu adalah cara review yang paling ampuh
ketimbang belajar sendirian?"
Yah, kalau
memang jadi belajar kelompok, kemungkinan besar tempatnya di rumahku.
Mengingat
ada Emma-chan, aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja.
Kalau kami
sedang belajar, Emma-chan pasti akan ikut-ikutan belajar bahasa Jepang, jadi
tak akan ada masalah.
...Tapi
kalau Umikawa-san bilang dia mau membawa adiknya juga, aku harus
mempertimbangkannya lagi.
Dari
ceritanya, sepertinya adiknya seumuran dengan Emma-chan...
"Kalau
begitu, bolehkah aku menerima tawaranmu itu...?"
Umikawa-san
menatapku dari bawah dengan ragu, seolah mencoba membaca ekspresiku.
Melihat ia
tampak buntu dengan masalah belajarnya, kuharap bantuanku ini bisa sedikit
meringankan beban pikirannya.
"Tentu
saja, jangan sungkan."
Sisanya,
aku harus segera menjelaskannya pada Char sebelum rumor aneh sampai ke
telinganya.
Kalau
tidak, bisa-bisa dia salah paham lagi.
"Fufu...
terima kasih. Ah, pembicaraan kita jadi melenceng jauh, ya."
Setelah
kembali tersenyum lega, Umikawa-san baru menyadari bahwa topik yang
dibicarakannya sudah melenceng dari awal.
"Maaf
ya, gara-gara aku."
"Tidak
apa-apa, aku malah bersyukur kau memberikan solusi yang sangat membantuku. Jadi
begini... tadi aku bilang kalau aku tidak punya waktu untuk bermain dengan
adikku, kan? Bagi orang sepertiku, melihat Charlotte-san dan adiknya yang
terlihat sangat akrab saat festival olahraga itu membuatku berpikir, 《Ah, gadis ini pasti sangat telaten mengurus
adiknya di rumah》."
"Iya,
di rumah dia memang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk Emma-chan."
Itu mutlak
benar sebelum ia bertemu denganku. Bahkan setelah kami tinggal bersama dan
Emma-chan terus menempel padaku, Char selalu menemani kami dengan senyuman
lembut.
Ia baru
benar-benar fokus belajar setelah Emma-chan tertidur, itupun karena aku yang
mulai belajar duluan.
"Sudah
kuduga... Karena itulah aku sangat syok saat melihat peringkatku kalah darinya
di ujian kemarin. Bayangkan, aku yang menghabiskan hampir seluruh waktuku
setiap harinya untuk belajar, dikalahkan oleh gadis yang mengorbankan waktu
belajarnya demi mengurus adiknya."
Ah, jadi
itu alasannya kenapa dia sangat memusuhi Char...
Dia pasti
merasa sangat insecure dan rendah diri.
"Aku
tahu ini adalah kebencian yang tidak beralasan... tapi aku benar-benar tak bisa
menerimanya. Charlotte-san itu wajahnya sangat imut, selalu ramah pada siapa
pun... dan dicintai oleh semua orang. Ditambah lagi, meskipun ia sibuk mengurus
adiknya, ia tetap bisa mendapat nilai sempurna. Betapa tidak masuk akal dan
tidak adilnya dunia ini... pikirku. Selain merasa sangat iri... aku juga merasa
sangat cemburu..."
Ini
pertama kalinya aku mendengar secara langsung perasaan sejati yang diarahkan
pada Char.
Kemungkinan
besar, ada banyak siswi lain di sekolah yang memiliki perasaan serupa dengan
Umikawa-san.
Hanya saja
kadar perasaannya berbeda-beda pada setiap orang, tapi rasa iri itu pasti
selalu ada.
Bedanya,
perasaan Umikawa-san jauh lebih kuat dari yang lain.
Selain
itu, jika aku boleh jujur――bisa dipastikan, para siswi lain pasti akan
berkomentar 《Bisa-bisanya kamu
ngomong begitu》 pada
Umikawa-san. Tapi sepertinya ia bukan tipe orang yang bisa menilai dirinya
secara objektif.
Masalahnya,
ia hanya merasa inferior karena terus-terusan membandingkan dirinya dengan
Char. Padahal, ia sendiri juga memiliki wajah yang sangat cantik, dan dari segi
nilai pun, meski sempat turun, ia masih berada di peringkat tiga paralel.
Bagi
siswi-siswi lain, keberadaan Umikawa-san juga tak kalah tidak masuk akalnya
dengan Char.
Bahkan
kalau urusan olahraga, aku yakin Umikawa-san jauh lebih tangguh dari Char.
"Padahal
Umikawa-san sendiri juga gadis yang sangat luar biasa, lho. Daripada terus
membandingkan dirimu dengan Char, bukankah lebih baik kalau kamu fokus pada
dirimu sendiri? Setiap orang punya kelebihannya masing-masing. Setidaknya
bagiku, seperti yang kukatakan siang tadi, sifatmu yang teladan dan bertanggung
jawab, serta dedikasimu yang tak kenal lelah seperti yang baru saja kau
ceritakan, adalah pesona yang sangat luar biasa darimu. Aku yakin, kalau adikmu
melihat kakak perempuannya sekeren itu, kelak dia pasti akan tumbuh menjadi
anak yang bertanggung jawab dan――"
"――Hah!?"
Di saat
aku sedang memuji kelebihan-kelebihannya demi membuatnya kembali bersemangat,
tiba-tiba ia memotong ucapanku.
Ia
mengeluarkan suara aneh dan wajahnya memerah sampai ke telinga, melebihi reaksi
mana pun yang pernah kulihat darinya sejauh ini.
Eh... aku
salah ngomong, ya...?
"Anu,
yang barusan itu..."
"I-Itulah
kenapa Charlotte-san sering marah padamu...! Kalau kau dimarahinya lagi
gara-gara ini, aku tak mau tahu, ya...!"
Saat aku
berniat meluruskan kesalahpahaman, Umikawa-san berbalik dan berlari secepat
kilat, meninggalkan bunyi wusshh seperti peluru.
Anak itu
refleks olahraganya beneran gila...
Saking
cepatnya, aku sampai membatin begitu.
Apalagi ia
bisa berlari secepat itu dengan memakai yukata...
"Yah...
setidaknya dia sudah kembali bersemangat, jadi ini bisa dibilang bagus...
kan?"
Meski aku
masih sedikit khawatir apakah dia bisa berbicara dengan lancar pada teman
kelompoknya dengan kondisinya yang meledak-ledak begitu, yah... aku hanya bisa
berharap semuanya akan baik-baik saja.
"――Apanya
yang bagus, hmmm?"
"――Hah!?"
Hawa
dingin yang mencekam mendadak menusuk punggungku.
Aku
langsung berbalik dan mendapati Char berdiri di sana dengan senyuman yang
teramat manis.
Di
tangannya, entah kenapa, ia membawa sebuah mantel.
Tentu saja
itu bukan mantel pria milik Sasagawa-sensei, melainkan mantel milik Char
sendiri.
"Ch-Char...?
Kamu ngikutin, ya...?"
"Begitu
A-kun keluar kamar, Umikawa-san langsung berlari mengejarmu. Bukankah wajar
kalau aku berpikir dia berniat menyusulmu?"
Dengan
kata lain, karena khawatir Umikawa-san akan berbuat macam-macam padaku, ia
diam-diam membuntuti kami.
Mengingat
Char punya pendengaran yang luar biasa tajam.
Bahkan
dari jarak jauh pun, ia pasti bisa mendengar percakapan kami dengan sangat
jelas.
Termasuk...
pujian yang kulontarkan tadi, yang sukses membuat Umikawa-san salah tingkah...
"A-Aku
sama sekali tidak berniat macam-macam, lho..."
"Bagaimana
kalau kita ngobrol sebentar di luar? Udara malam sangat dingin, jadi ayo kita
ke kamarmu dulu untuk mengambil mantel."
Sambil
terus mempertahankan senyuman mautnya, Char memberikan perintah tanpa menerima
penolakan.
Yep, ini
sudah fix dia lagi mode marah...
Sesuai
perintahnya, aku pun melangkah ke kamarku bersama Char untuk mengambil mantel.
Syukurlah
kamar masih kosong melompong, sepertinya teman-temanku masih asyik nongkrong
di kamar lain.
"...Cih,
sayang sekali. Kalau ketahuan saat mereka kembali nanti bakal merepotkan,
ya..."
Sambil
melihat ke sekeliling kamarku, Char menggumamkan sesuatu yang mengerikan. Hei,
kamu tidak beneran niat mau ngelakuin itu mumpung kamarnya lagi kosong,
kan...?
――Kekhawatiran
itu sontak menghantuiku.
Sumpah,
aku tidak rela tubuh Char dilihat oleh siapa pun.
Sembari
berhati-hati agar tak ketahuan kalau aku menyimpan mantel Sasagawa-sensei, aku
mengambil mantelku sendiri dari dalam lemari.
Dan ketika
kami baru saja akan melangkah keluar dari hotel――
"Hei
hei, mau ke mana kalian keluyuran di jam segini seolah itu hal yang
biasa?"
――Kami
tertangkap basah oleh Miyu-sensei.
Namun, ini
mungkin sebuah anugerah.
Miyu-sensei
yang kadang bisa bersikap sangat disiplin ini pasti akan melarang muridnya
berkeliaran malam-malam, dan aku bisa selamat dari interogasi Char.
Syukurlah,
nyawaku selamat――begitulah pikirku.
"Mumpung
langit malamnya sangat indah, aku ingin melihatnya berdua bersama A-kun. Selain
itu... ada yang ingin kubicarakan dengannya berdua saja."
Mendengar
Char tersenyum penuh makna, Miyu-sensei seketika bungkam.
Setelah
berpikir sejenak――.
"Yah,
kalau kalian berdua, sepertinya aman-aman saja. Pokoknya kalian harus kembali
sebelum jam tidur, mengerti?"
Dengan
mudahnya, ia memberikan izin pada kami.
Sensei!?
Saat aku
memprotesnya melalui tatapan mata, Miyu-sensei malah membalas dengan sorot mata
yang seakan berkata, 《Aku tidak
tahu dosa apa yang sudah kau buat, tapi selamat menikmati hukumanmu》.
Guru ini,
dia benar-benar telah membuangku...
"Kalau
begitu ayo kita pergi, A-kun ♪"
Ditarik
oleh Char yang bersenandung riang, aku tak punya pilihan selain pasrah diseret
ke tempat eksekusi.
◆
"A-Anu,
Char...?"
Setelah
diseret kembali ke atas bukit, aku menatap wajah Char dengan perasaan was-was.
"A-kun
ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Apakah kamu benar-benar berniat membangun
harem?"
Char
menatapku dengan tatapan tajam dan merajuk.
Seperti
dugaanku, seluruh percakapanku dengan Umikawa-san telah terekam dengan jelas di
telinganya.
"Mana
mungkin aku berniat begitu. Kan sudah kubilang, hatiku cuma untuk Char
seorang..."
"Tapi
buktinya, kamu baru saja menggoda gadis lain."
"Aku
sama sekali tidak menggodanya..."
"Fakta
bahwa kamu tak menyadarinya justru membuat masalah ini jauh lebih parah."
"Ugh!?"
Pernahkah
aku ditembak dengan kritikan setajam ini sebelumnya?
Sepertinya
hari ini kemarahan Char jauh melampaui batas biasanya.
Saat aku
sedang berpikir begitu――Char tiba-tiba mendaratkan dahinya dengan lembut ke
dadaku.
Lalu, ia
menggosok-gosokkan wajahnya di sana.
Sepertinya
ia sedang meluapkan ketidakpuasannya.
Aku pun
mendekap tubuhnya dengan lembut dan mengelus kepalanya perlahan untuk
menenangkannya.
Dan
kemudian――
"Andai
saja ada tempat di mana kita benar-benar tak akan ketahuan oleh siapa
pun..."
――Char
menggumamkan kalimat yang luar biasa tak masuk akal.
Anak ini,
bisa-bisanya dia minta 'jatah' di situasi seperti ini...!?
Aku memang
sudah tahu kalau libidonya sangat tinggi, tapi ide ini jelas-jelas kelewat
batas.
Atau lebih
tepatnya, jujur saja aku takut kalau harus melakukannya saat dia sedang mode
marah begini.
Bukan
mustahil ia akan menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan seluruh
kekesalannya dan "mengajarkanku" sebuah pelajaran.
――Saat aku
sedang dilanda kebingungan dan kepanikan, untung saja Char tidak segila itu
untuk nekat melakukannya di tempat terbuka yang berisiko ketahuan.
Setelah
berhasil menenangkan diri, ia menatap lurus ke mataku dari jarak dekat.
"Karena
kamu sudah memilihku, kumohon jangan pernah berpaling pada yang lain..."
"Iya,
aku mengerti... Kan sudah kubilang, hatiku ini hanya untuk Char
seorang..."
Aku tidak
tahu bagaimana diriku terlihat di mata Char, tapi yang jelas aku sama sekali
tidak memiliki perasaan romantis kepada siapa pun selain Char.
Hanya hal
itulah yang bisa kukatakan dengan penuh sumpah.
"Berselingkuh
tidak boleh, membuat harem tidak boleh, dan NTR balik juga tidak
boleh... Karena, A-kun adalah pacarku, hanya milikku seorang..."
Sambil
mengucapkan hal itu, ia mendorong dadaku dengan kedua tangannya.
Meski aku
tidak paham apa maksud dari istilah terakhirnya itu, aku mengerti bahwa ia
ingin aku berbaring. Sesuai keinginannya, aku sengaja merebahkan diri telentang
di atas hamparan rumput.
Lalu, Char
perlahan menjatuhkan dirinya, menindih tubuhku dengan lembut.
"Aku
tak akan pernah menyerahkanmu pada siapa pun... Nn."
Saat aku
berada dalam posisi menatap wajahnya dari bawah, Char mendaratkan ciumannya di
bibirku.
Kemudian,
ia dengan lembut membelitkan lidahnya.
Aku
membiarkannya melakukan apa yang ia inginkan dan pasrah pada
perlakuannya――namun sayang, begitu 'tombol'-nya menyala, ia tak bisa berhenti.
Akibat tak kunjung kembali meski waktu sudah berlalu lama, Miyu-sensei pun
terpaksa datang menyusul untuk memanggil kami.
Dan karena
tertangkap basah sedang berciuman, kami pun mendapat omelan panjang dari
Miyu-sensei yang wajahnya ikut memerah.
Yah...
Karyawisata ini masih akan berlanjut besok, tapi... apakah aku bisa
mengendalikan Char yang seperti ini?
Sejujurnya,
aku mulai merasa sedikit cemas.
Kata Penutup
Pertama-tama,
terima kasih banyak telah membaca dan membeli "Otonari Asobi" volume
8 ini. Tak lupa, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh staf
dan pihak yang telah terlibat dan selalu membantu dalam proses produksi volume
8 ini. Meskipun saya selalu mengucapkan kata-kata yang sama setiap saat,
sungguh berkat bantuan kalian semualah volume 8 ini bisa terbit. Sekali lagi,
terima kasih banyak. Terutama kepada Editor saya dan Midorigawa-sensei
(Ilustrator), terima kasih atas segala bimbingan dan bantuan kalian yang luar
biasa.
Dan untuk
kalian semua para pembaca. Maaf telah membuat kalian menunggu sangat lama.
Sudah lebih dari satu tahun sejak volume 7 dirilis, ya. Terima kasih banyak
telah tetap membeli dan membaca karya ini meskipun sudah dibuat menunggu selama
itu!
Oh ya,
selama jeda waktu tersebut, adaptasi manga dari ‘Maigo ni Natteita
Youjo wo Tasuketara, Otonari ni Sumu Bishoujo Ryuugakusei ga Ie ni Asobi ni
Kuru You ni Natta Ken ni Tsuite’ sudah terbit hingga volume 3, lho. Bahkan
sebentar lagi volume 4-nya juga akan rilis. Seperti yang saya sampaikan di
volume 7, Pentagon-sensei selaku mangaka dan editor manga-nya
telah menyajikan adaptasi komik yang sangat luar biasa. Bagi kalian yang belum
membacanya, tolong luangkan waktu untuk membacanya, ya! Sungguh, hasilnya
sangat bagus dan imut banget. Nekokuro (nama pena penulis) sendiri juga selalu
menantikan update terbarunya di Nico Nico Seiga. Malahan, saya sampai
rela beli koin buat baca bab terbarunya duluan, lho. (Hahaha)
Ngomong-ngomong,
penjualan manga-nya ternyata luar biasa meledak. Mengingat ini adalah
kali pertama karya saya diadaptasi ke manga, saya benar-benar dibuat
terkejut dan bergumam, ‘Aku emang udah denger rumornya sih, tapi penjualan
manga kalau lagi laku tuh bener-bener gila banget...!’ Tentu saja, semua
kesuksesan itu bisa diraih murni berkat kerja keras Pentagon-sensei dan para
editor. Yah, jujur aja sih... karena light novel dan manga-nya
udah selaris ini, di otak Nekokuro tuh rasanya kayak teriak, ‘Kapan nih
dibikin animenya!?’ (Hahaha)
――Nah,
mari kita beralih ke pembahasan isi volume 8 ini. Di volume 8, akhirnya kita
memasuki Arc Karyawisata――tapi sebelum itu, kita disajikan interaksi yang
sangat 'intim' antara Akihito dan Char yang sudah lama absen sejak volume 6,
kan. Saya yakin pasti ada banyak pembaca yang sudah sangat menantikan adegan
ini. Tapi kalau mau jujur, yang paling menanti-nantikan adegan ini kemungkinan
besar adalah Char sendiri, sih. Anak ini rasanya udah nggak bisa direm, atau
lebih tepatnya nggak mau berhenti. Mungkin karena ini efek rebound
karena sebelumnya dia nggak pernah punya cowok yang disukai, jadi sekarang dia
lagi dalam mode super-duper-bucin-mentok pada Akihito, ditambah rasa penasaran
tingginya terhadap ‘hal-hal itu’. Di karya ini, mungkin dialah yang punya ‘itu’
yang paling kuat. (Saya sengaja menyensornya).
Apakah
perseteruan pertahanan diri Akihito melawan godaan Char akan terus berlanjut?
Atau jangan-jangan Akihito malah menyerah dengan mudah dan membiarkan Char
menang? Nantikan saja kelanjutannya――eh tunggu, ini bukan cerita dengan genre
yang kayak gitu, ya. (Hahaha) Tapi yang pasti, mulai sekarang Akihito akan
terus dihadapkan pada penderitaan menyeimbangkan antara akal sehat dan
hasratnya.
Lalu masuk
ke arc karyawisata, kita kedatangan kawan baru (?), ya. Yah, walau yang satunya
itu sebenarnya sudah muncul sejak volume 2 tapi jarang banget dapat screen
time, sih. Saya harap anak-anak ini juga akan sering muncul dan terlibat di
cerita ke depannya~.
...Dan
Sasagawa-sensei juga rasanya udah lama banget nggak muncul, ya. (Hahaha) Kalian
tahu, nggak? Sasagawa-sensei versi manga yang digambar sama
Pentagon-sensei itu bwaaaanget-banget imutnya, lho! Saking imutnya, kalau
misalnya diadakan polling popularitas karakter khusus versi manga-nya,
saya yakin dia bakal masuk top 3. Seriusan, coba deh kalian cek sendiri.
Soalnya beneran imut banget.
Dan, dan,
dan, kehadiran karakter baru kita, Umikawa-san!! Bagi kalian yang sering
membaca karya-karya Nekokuro, pasti sudah sangat familiar dengan heroine
ber-archetype Kuudere (dengan campuran Tsundere) ini, kan!
Ternyata, selama ini di "Otonari Asobi" belum pernah ada karakter
utama dengan archetype Kuudere (campuran Tsundere), lho. Walau
untuk Tsundere murni kita memang punya. Catatan: Kaguya-san itu beda
kasus, ya. Menurut standar Kuudere versi Nekokuro, dia nggak masuk kategori
itu. Padahal Nekokuro ini biasanya selalu memasukkan heroine Kuudere
(campur Tsundere) hampir di semua karya yang ditulisnya, jadi ini
fenomena yang lumayan langka... Bahkan di karya debut saya saja, heroine
utamanya adalah si Kuudere. Untuk ke depannya, mungkin Umikawa-san akan
sering dapat screen time, tapi mungkin juga nggak. Siapa yang tahu,
kan...
Lalu untuk
volume ini, saya menulis sesuatu yang lumayan langka; yaitu interaksi antara
Emma-chan dan karakter lain saat Akihito tidak ada di sekitarnya. Bagi kalian
yang selama ini mengikuti "Otonari Asobi", pasti ada yang terkejut,
kan? Apalagi bagian itu ditulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Sebenarnya, di masa lalu saya pernah menulis Short Story (SS) khusus
yang berfokus pada Emma-chan dengan sudut pandang orang ketiga untuk sebuah event
di toko buku tertentu. Ceritanya tentang Emma-chan yang diam-diam kabur dari
ranjang ibunya di tengah malam karena mencari Akihito dan Char――karena
pengalaman itu, kali ini saya jadi ingin mencoba menulis cerita dari sudut
pandang orang ketiga yang berpusat pada Emma-chan saat Akihito tidak
bersamanya. Omong-omong, menulis bagian itu bener-bener menyenangkan, lho.
Kayaknya bagian itu deh yang proses penulisannya paling lancar dan mengalir di
volume ini. Melihat sisi lain Kanon-san yang tidak pernah ia tunjukkan pada Akihito
saat berhadapan dengan Emma-chan, dan lain sebagainya. Saya sangat menyukai
interaksi kedua orang itu, atau lebih tepatnya saya suka melihat Kaguya-san
yang ikut terseret ke dalam drama mereka. Kalau ada kesempatan, saya ingin
menulisnya lagi. Siapa sangka Kaguya-san yang sekeren itu malah dapat peran
sebagai karakter apes yang menyedihkan. (Hahaha) Soalnya, kepribadian dan cara
seseorang bersikap itu memang bisa berubah drastis tergantung pada posisi lawan
bicaranya. Pasti kalian semua juga pernah ngalamin hal yang sama, kan...!
Jujur
saja, adegan interaksi antara Akihito dan Sasagawa-sensei juga mengalir dengan
sangat lancar saat kutulis. Soal urusan ngerjain dan menjahili Akihito,
kayaknya Miyu-sensei dan Sasagawa-sensei ini emang jagonya, deh. (Hahaha) Saya
harap mereka akan terus mengerjai Akihito ke depannya.
Saya
percaya "Otonari Asobi" masih akan terus berlanjut. Apalagi di volume
ini, selain Umikawa-san, ada juga karakter baru lain yang muncul. Ada juga
karakter lama yang saya harap bisa muncul lagi, jadi pokoknya saya sangat
berharap seri ini bisa terus berjalan panjang. Oh iya, satu lagi, adaptasi
Anime!! Kalau dilihat dari penjualannya sih, ini tuh bener-bener udah masuk
kategori layak diadaptasi jadi anime. Makanya, saya selalu ngebatin, ‘Ayo
dong jadiin anime!!’ (Walaupun aslinya saya nggak pernah ngomong pakai nada
semenuntut ini, lho).
Omong-omong
soal yang lain, sebenarnya tahun lalu saya merilis karya baru di penerbit yang
sama, Dash X Bunko, yang berjudul ‘Kazukazu no Kokuhaku wo Futtekita Gakkou
no Madonna ni Sotobori wo Umeraremashita’ (Madonna Sekolah yang Telah
Menolak Banyak Pernyataan Cinta, Mengurungku Tanpa Jalan Keluar). Karya ini
juga mencatat penjualan yang sangat bagus, sampai-sampai volume pertamanya
langsung cetak ulang nggak lama setelah rilis. (Bahkan sampai sekarang masih
sering nangkring di peringkat atas situs penjualan e-book, lho). Tentu
saja, karena respons yang sangat positif, perilisan volume 2 juga sudah
diputuskan! Jadi, bagi kalian yang membatin ‘Wah, aku nggak tahu soal itu!!’,
tolong luangkan waktu untuk membacanya, ya! Setidaknya, saya yakin kalian yang
bisa menikmati "Otonari Asobi" juga pasti akan menyukai karya yang
satu ini. Alasannya kenapa? Kalian pasti akan langsung paham begitu membacanya,
jadi mohon dukungannya! Ilustrasinya juga super duper imut, beneran sangat recommended!
Saya harap karya yang ini juga bisa dapat adaptasi manga, dan pastinya
ngincer adaptasi anime juga, dong! Untuk informasi lebih lanjut soal volume
2-nya, mohon ditunggu kabar selanjutnya, ya.
Nah,
sedikit bicara tentang urusan pribadi, tahun kemarin saya lumayan pasif dan
tenang-tenang saja. Karena itu, tahun ini saya berencana untuk lebih aktif dan
melakukan berbagai macam hal. Tentu saja, saya ingin menerbitkan banyak buku,
dan secara jadwal, Nekokuro berencana untuk merilis banyak karya tahun ini...!
Yah, walau semuanya tergantung pada seberapa keras Nekokuro bekerja dan faktor
lainnya, tapi saya bener-bener pengen ngerilis banyak buku. Dan tentu saja,
seperti biasa, saya akan berjuang keras untuk mengejar mimpi mendapatkan
adaptasi anime. Untuk mencapai hal itu, intinya saya ingin menghasilkan banyak
karya~. Saya juga punya niat untuk menantang diri menulis High Fantasy
dan Low Fantasy.
Sebenarnya,
dan ini sering saya cuitkan di X (Twitter), saya punya segudang stok ide cerita
yang numpuk! Beberapa di antaranya udah lumayan matang konsepnya di kepala
saya――tapi sayangnya, manusia itu punya yang namanya "kapasitas".
Karena batas kemampuan mengurus karya yang berjalan secara bersamaan itu
terbatas, ujung-ujungnya saya jadi susah buat nulisnya! Dan di tengah
kebingungan itu, eh tiba-tiba muncul ide romcom menarik di kepala, terus
akhirnya saya malah nulis ide baru itu duluan――itulah siklus yang terus
berulang selama beberapa tahun terakhir ini. (Hahaha) Aduh, pokoknya saya
bener-bener pengen segera nyoba nulis High Fantasy atau Low Fantasy!!
Padahal sekarang aja di kepala saya udah nongol dua ide romcom baru
sambil mikir, ‘Ini romcom pasti gila banget serunya!! Aku yakin banget ini
bakal populer!!’. Mungkin saat kalian membaca kata penutup ini, ceritanya
udah mulai saya publish di situs web novel. (Hahaha) Tapi tetep aja,
karena saya beneran pengen nulis High Fantasy atau Low Fantasy,
mungkin tahun ini saya bakal coba nge-gas pake kuantitas. (Artinya, saya bakal
nulis banyak-banyak).
Hanya
saja, sedikit lebih dari setahun yang lalu, kondisi kesehatan saya sempat
tumbang sampai harus dirawat di rumah sakit. Jadi, saya berencana untuk
menjalani semuanya tanpa terlalu memaksakan diri. (Waktu itu, penyebabnya bukan
cuma urusan naskah doang sih, tapi karena ada dua tenggat waktu yang udah mepet
banget, saya maksa minta keluar dari RS dalam sehari, terus lanjut ngerjain
naskah selama beberapa hari dalam kondisi yang paling parah... seriusan,
memaksakan diri itu bener-bener nggak baik). Yah, begitulah kira-kira. Saya
akan terus berusaha keras ke depannya, jadi saya akan sangat senang jika kalian
mau terus menemani perjalanan saya! Tolong dukung terus versi manga dari
"Otonari Asobi" dan juga karya baru saya "Kazukazu no Kokuhaku
wo Futtekita Gakkou no Madonna ni Sotobori wo Umeraremashita"
(singkatannya "Mado-bori"), ya!
Kalau
begitu, jika tak ada halangan, mari kita bertemu lagi di "Otonari
Asobi" volume 9. Bye-bye!



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.