Otonari Asobi V8 Epilog

N-Chan
0

Epilog


"Tapi sungguh... kau ini benar-benar orang yang terlalu baik, ya..."

Setelah aku berhasil lolos dari tekanan mematikan Char, Umikawa-san yang baru saja mendapatkan kembali kesadarannya menatapku dengan sorot mata seolah sedang melihat orang yang tak bisa tertolong lagi.

"Menurutku aku tidak sebaik itu, kok..."

"Masa, sih? Padahal aku selalu bersikap dingin padamu, tapi kau malah sangat peduli pada masalahku. Bukan hanya kau, Bennett-san dan Shimizu-san juga."

Mungkin karena perasaannya sudah jauh lebih lega setelah menceritakannya, senyuman akhirnya kembali menghiasi wajah Umikawa-san.

"Yah, itu karena mereka berdua memang baik hati. Lagipula, kita baru memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kamu masih harus berbicara baik-baik dengan anggota kelompokmu, kan?"

Diskusi tadi hanyalah tentang langkah untuk mencegah hal yang sama terulang di masa depan. Sedangkan untuk masalah pertengkarannya saat ini, sebenarnya belum ada tindakan nyata yang diambil.

Memang sih, cara yang paling cepat adalah membiarkan Char yang menjadi penengah, seperti yang ia tawarkan sebelumnya.

"Iya, aku mengerti. Aku akan mencoba bicara dengan mereka sendiri dulu."

Sepertinya Umikawa-san sudah memutuskan untuk menyelesaikannya dengan tangannya sendiri.

Jika pada akhirnya masih tidak berhasil, barulah kami akan meminta bantuan Char.

Di saat aku sedang berpikir begitu, Umikawa-san melangkah maju mendekati Char.

"Bennett-san, maafkan aku. Selama ini aku memendam perasaan yang tidak baik padamu, makanya aku selalu bersikap dingin."

Tiba-tiba saja, Umikawa-san membeberkan isi hati terdalamnya.

Karena terlalu mendadak, Char sampai terkejut.

"Duh, kenapa kamu jujur banget sampai ngomongin hal itu juga, sih...! Kamu ini beneran kaku banget, ya...!"

Melihat Umikawa-san yang terlalu teladan sampai-sampai membeberkan hal yang tak perlu diucapkan, Shimizu-san memegangi kepalanya yang terasa pening.

Yah, mungkin begitulah cara Umikawa-san untuk berdamai dengan perasaannya sendiri.

"Aku sama sekali tidak memikirkannya, kok, jadi Umikawa-san juga tidak perlu merasa bersalah. Aku justru akan sangat senang kalau mulai sekarang kita bisa berteman baik."

Char yang baik hati menerima permintaan maaf Umikawa-san dengan lapang dada.

Tampak sangat lega mendengarnya, Umikawa-san kemudian menundukkan kepalanya pada Shimizu-san juga.

Ngomong-ngomong, ia tidak menundukkan kepalanya padaku, jadi yah... kukira kami sudah sedikit mencair, ternyata itu cuma perasaanku saja.

Dan untuk Kiriyama-san... kurasa aku tidak perlu menjelaskannya.

"――Kalau begitu, aku akan kembali ke kamar sekarang."

Kemungkinan besar masalah Umikawa-san setelah ini akan menemui titik terang. Jika aku tetap berada di sini, Shimizu-san dan Kiriyama-san pasti akan kembali menjadikanku dan Char sebagai bahan bulan-bulanan. Terlebih lagi, kalau aku tidak hati-hati, Char bisa saja tanpa sadar membocorkan rahasia tentang hubungan dewasa kami. Jadi, jalan terbaik bagiku adalah kabur.

Selain itu, aku juga ingin cepat-cepat pergi sebelum Shimizu-san ingat soal sindiranku padanya tadi.

"A-kun, selamat malam."

"Selamat malam, Char."

Setelah mengucapkan selamat malam pada Char dan gadis-gadis yang lain, aku pun bergegas kembali ke kamarku――namun.

"Aoyagi-kun, tunggu."

Entah kenapa, Umikawa-san menyusulku dari belakang.

"Ada apa?"

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, hanya berdua saja..."

Kukira ia juga akan kembali ke kamarnya, tapi ternyata ia benar-benar mengejarku.

Meski aku merasa takut membayangkan reaksi Char kalau ia sampai melihat kami berduaan, aku sudah terlanjur ikut campur dalam masalahnya. Aku tidak mungkin menolaknya sekarang.

"Begitu ya, apa kamu masih mencemaskan sesuatu?"

"Bukan itu... Anu, aku ingin meminta maaf padamu secara pribadi... Selama ini aku selalu menganggapmu sebagai saingan..."

Umikawa-san berjalan menyejajarkan langkahnya denganku. Sambil sesekali melirik reaksiku dengan ragu, ia membeberkan perasaan yang selama ini ia pendam.

Maksudnya menganggapku sebagai saingan pasti berkaitan dengan urusan peringkat nilai ujian.

Aku dan dirinya selalu bersaing memperebutkan peringkat pertama, dan karena ia selalu berakhir di peringkat kedua, wajar saja jika ia menganggapku sebagai musuh.

"Sama seperti Char tadi, kamu tidak perlu repot-repot meminta maaf, lho."

"Bukan itu maksudku... Aku masih yakin kalau menganggapmu sebagai saingan itu bukanlah hal yang salah, dan aku berencana untuk terus menjadikanmu sainganku. Karena, aku sangat ingin mengalahkanmu dalam ujian, dan tekad itu akan mendorongku untuk terus meningkatkan nilaimu."

Berarti, yang ingin ia mintakan maaf adalah masalah lain.

Karena sifatnya yang teladan, ia pasti ingin menjelaskannya secara berurutan.

"Tapi, karena aku tak pernah bisa mengalahkanmu... Entah sejak kapan, rasa persaingan itu berubah menjadi rasa permusuhan... Karena itulah, aku ingin meminta maaf padamu."

Dengan langkah kecil, ia bergegas memosisikan dirinya tepat di depanku, merapatkan kedua tangannya di atas lutut, lalu membungkuk dalam-dalam.

Menghadapi sisi negatif dari diri sendiri adalah hal yang sangat sulit, apalagi mengakuinya di hadapan orang lain. Dibutuhkan keberanian yang besar untuk melakukannya.

Melihatnya mampu melakukan hal itu, aku kembali disadarkan bahwa ia memang gadis yang hebat.

"Jujur saja, aku sudah menyadarinya, kok."

"Begitu, ya..."

Mungkin mengira aku akan memarahinya, Umikawa-san mencengkeram erat ujung yukata-nya dengan kedua tangan.

Melihat hal itu, entah sudah yang keberapa kalinya untuk hari ini, aku tersenyum lembut padanya.

"Tapi, sama seperti Char, aku juga sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena itu, kuharap kamu juga tidak memikirkannya lagi."

"Apakah itu artinya... kau sama sekali tidak menganggapku ada...?"

"Bukan begitu. Bukankah fakta bahwa kamu datang menjelaskannya sendiri dan meminta maaf pada kami adalah bukti bahwa kamu sudah merenungi kesalahanmu?"

"Iya... tapi..."

"Kalau begitu, aku dan Char tidak punya alasan untuk mempermasalahkannya lagi. Kamu sudah bertekad untuk berubah, jadi bagi kami, masalah ini sudah selesai. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita membangun hubungan pertemanan yang baik ke depannya. Karena itulah kuminta kamu untuk tidak memikirkannya lagi."

Secara tak sadar aku juga mewakili perasaan Char, tapi intinya memang begitu.

Sekalipun Umikawa-san dulu bersikap dingin pada kami seolah menaruh dendam, Umikawa-san yang sekarang sedang berusaha untuk berubah.

Apalagi ia sudah meminta maaf, jadi jauh lebih baik jika ia melupakan masa lalunya dan move on.

Jika ia terus-terusan terbebani oleh rasa bersalah padahal kami sedang berusaha untuk akrab, ia hanya akan terus merasa canggung di dekat kami.

Kalau begitu terus, kami tidak akan pernah bisa menjadi teman yang sesungguhnya.

Jadi, demi bisa menjalin pertemanan tanpa ada ganjalan apa pun, aku memintanya untuk segera melupakan hal itu.

"...Kalian berdua ini, benar-benar orang yang terlalu baik, ya..."

Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, Umikawa-san tertawa kecil sambil mengusap sudut matanya dengan telunjuk.

"Menurutku tidak begitu, kok."

"Fufu, tidak, kalian memang begitu. ...Terima kasih."

Umikawa-san yang kembali berjalan di sampingku kini menunjukkan senyuman lepas, seolah beban berat yang selama ini membelenggunya telah sirna.

Karena setiap kali bertemu di sekolah ia selalu memasang ekspresi dingin, melihatnya tersenyum seperti ini membuatnya terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda.

Kalau dia tersenyum begini, dia pasti akan sangat populer di kalangan anak laki-laki...

Memang dasar gadis yang cantik... Pikirku sejenak, tapi karena takut pikiran ini akan disadap oleh radar Char, aku buru-buru mengosongkan pikiranku.

"Jujur saja, aku juga merasa sangat iri pada Charlotte-san."

"Ah, dia memang gadis yang sangat memukau tanpa cela sedikit pun, kan. Wajar saja kalau para cowok tergila-gila padanya dan para gadis menjadikannya sebagai sosok idaman."

Ugh!

"Hm...?"

Kudengar ada suara aneh?

Aku pun menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa.

Mungkin hanya perasaanku saja.

"Kalau kau dengan santainya memamerkan kemesraanmu begitu, wajar saja orang yang mendengarnya jadi kesal, tahu..."

"Ah, maaf."

Padahal aku hanya bermaksud menyetujui pernyataannya, tapi karena aku malah dihadiahi tatapan tajam, aku segera meminta maaf.

"...Waktu festival olahraga kemarin, dia membawa adik kecilnya, kan?"

"Kamu tahu, ya?"

"Ya iyalah, mereka itu sangat mencolok dan sempat jadi topik hangat, tahu."

Saat aku memiringkan kepala keheranan, Umikawa-san tersenyum masam.

Seperti yang ia katakan, bahkan tanpa kehadiran Emma-chan pun, warna rambut perak Char sudah sangat mencolok. Ditambah lagi dengan kehadiran anak kecil di area tenda siswa, sudah pasti itu akan menarik perhatian banyak orang.

Terlebih lagi karena Emma-chan sendiri luar biasa menggemaskan dan polos, semua mata pasti tertuju padanya.

Tidak heran jika mereka menjadi buah bibir di sekolah.

"Sebenarnya, aku juga punya adik laki-laki yang masih kecil."

"Hee, begitu ya."

Memiliki adik dengan jarak usia yang cukup jauh memang jarang, tapi bukan berarti tidak ada.

Char dan Emma-chan pun begitu, jadi hal itu tidak terlalu mengejutkan bagiku.

"Aku tidak kelihatan seperti tipe kakak perempuan yang baik, kan? Pada kenyataannya, aku memang bukan kakak yang baik."

Umikawa-san memaksakan senyum yang sarat akan penyesalan.

Sepertinya ada hal berat yang membebani pikirannya.

Kemungkinan besar, inilah benang merah yang menyambungkan topik tentang rasa irinya pada Char.

"Bukannya aku bermaksud mengatakannya seperti itu... tapi karena Umikawa-san itu orangnya teladan dan bisa diandalkan, tidak aneh rasanya kalau kau punya adik."

"――Ugh. B-Berhentilah mengatakan hal seperti itu dengan begitu santainya..."

Padahal aku mencoba untuk menghiburnya, tapi entah kenapa ia malah menundukkan wajahnya.

Sekilas dari samping, kulihat wajahnya terlihat jauh lebih memerah dibandingkan saat kami keluar dari kamar tadi...?

"Anu, begini... Aku sama sekali tak pernah punya waktu untuk bermain dengan adikku... Karena bahkan saat di rumah pun, aku selalu belajar... Di mata anak itu, aku pasti terlihat seperti kakak perempuan yang jahat. Aku bahkan pernah membentaknya untuk tidak menggangguku belajar..."

Kalau kuingat-ingat kembali, aura Umikawa-san saat baru masuk SMA dengan auranya yang sekarang memang sedikit berbeda.

Mungkin, titik di mana ia mulai menjadi temperamental dan mudah marah adalah sekitar paruh kedua kelas satu.

Melihat betapa banyak waktu yang ia korbankan untuk belajar namun tetap tak bisa menggeser posisiku dari peringkat pertama, wajar saja jika batinnya mulai tertekan dan ia kehilangan ketenangannya.

"Apa kamu cukup tidur setiap malam?"

"――Hah!?"

Saat aku sedikit mencondongkan tubuh untuk melihat wajahnya lebih jelas, wajah Umikawa-san seketika memerah padam.

Karena ia mungkin belum terbiasa berinteraksi sedekat ini dengan anak laki-laki, wajar saja ia kaget.

Namun, alih-alih memedulikan rasa malunya, fokus utamaku tertuju pada area di bawah matanya.

Sudah kuduga...

Selama ini aku tidak menyadarinya, tapi ternyata ia menutupi kantung matanya dengan riasan.

Fakta bahwa gadis seteladan dirinya memakai make-up di acara sekolah (meski ini karyawisata) membuktikan betapa ia sangat ingin menyembunyikan kantung mata itu dari siapa pun.

Bukan hanya hari ini, ia pasti juga selalu melakukannya saat di sekolah.

Terlebih lagi, ia bahkan repot-repot kembali memakai riasan setelah mandi. Itu sudah cukup untuk menjelaskan betapa putus asanya dia menyembunyikan kelelahannya.

"Berusaha keras untuk belajar itu memang bagus, tapi kalau kamu tidak cukup tidur, itu tidak baik, tahu? Tidak baik untuk kesehatanmu, dan otakmu juga tidak akan bisa bekerja maksimal. Alhasil, efisiensi belajarmu malah akan menurun."

Kalau Aoyagi di masa lalu mendengar petuah ini, dia pasti akan mencibir, 'Ngaca woi', tapi mari kita kesampingkan hal itu untuk saat ini.

Melihat kondisinya, sepertinya ia memaksakan diri jauh lebih parah daripada yang pernah kulakukan dulu.

"Waktuku... tidak cukup..."

"Tapi kalau hasil yang kau dapatkan belum memuaskan, bukankah kau harus mencoba mengubah cara belajarmu?"

Sadar betul bahwa ucapanku bisa saja membuatnya tersinggung, aku sengaja menembakkan fakta yang kejam itu secara langsung kepadanya.

Terlebih lagi, karena aku sendirilah pelaku utama yang membuatnya terjebak di peringkat dua, mendengar kritikan dariku pasti akan membuatnya makin kesal.

Walau begitu, aku merasa ini adalah hal yang harus kukatakan padanya.

"Aku tidak berniat menyangkal kerja kerasmu, tapi kalau usahamu belum membuahkan hasil, kau harus berani mencoba metode yang baru. Memaksakan diri dengan prinsip 'Lakukan terus sampai bisa' itu sangat tidak efisien, dan waktu yang kita punya juga terbatas. Dan yang paling penting, kalau kau sampai jatuh sakit, semua kerja kerasmu itu akan sia-sia, kan?"

Sembari membatin, Tumben dia tidak membalas argumenku...?, aku terus menyampaikan apa yang ingin kukatakan padanya.

Ia hanya terdiam mendengarkan kata-kataku.

Jujur, itu malah membuatku sedikit ngeri.

"Kebanyakan guru itu punya pola tertentu saat membuat soal ujian, jadi mencoba mencari tahu pola mereka dan menyusun strategi berdasarkan itu juga bisa jadi pilihan yang bagus, lho. Hanya dengan melakukan itu, efisiensi belajarmu akan jauh berbeda."

"Apakah kau... melakukan hal itu...?"

Barulah di titik ini ia akhirnya membuka suara.

Dari nada suaranya, sepertinya ia tidak marah, tapi...

"Tentu saja. Kalau dengan Char... aku sering mengajarinya soal pola itu saat kami belajar bersama, jadi bisa dibilang mirip-mirip lah. Yah, otak gadis itu memang cerdasnya tidak main-main, kemampuanku jauh di bawahnya, sih."

"...Curang."

Saat aku tanpa sadar memuji Char lagi, Umikawa-san menggumamkan sesuatu dengan suara yang sangat pelan.

"Eh?"

"Bisa diajari langsung oleh Aoyagi-kun... Charlotte-san itu benar-benar curang..."

Saat aku memiringkan kepalaku karena tak mendengarnya, Umikawa-san menggumamkan sesuatu lagi dengan suara yang tak kalah kecilnya.

Saking pelannya, kata-katanya sama sekali tak bisa kutangkap.

"Kamu bilang sesuatu?"

"Tidak... Bukan apa-apa, kok. Baiklah, mulai sekarang aku juga akan mencoba cara itu."

Saat kutanya, ia kembali memamerkan senyuman manis kepadaku.

Berbeda dari senyumannya yang biasa, kali ini senyumannya terlihat seperti topeng untuk menyembunyikan perasaan aslinya.

Duh, jangan-jangan dia beneran marah, ya...?

"Ngomong-ngomong, karena kalau kamu baru mulai mencari polanya sekarang, waktumu pasti akan terkuras habis, lebih baik kamu fokus mencari tahu polanya mulai dari tes berikutnya. Untuk ujian terdekat, aku bisa mengajarimu pola soal guru-guru kita saat ini, lho. Kita bisa mengadakan sesi belajar bersama asalkan Char juga ikut."

Kalau dia nekat mencari polanya sendiri sesuai saranku, waktunya untuk belajar materi utama justru akan berkurang, dan kalau nilainya anjlok, dia pasti akan dendam padaku.

Mengingat aku sudah tak punya ambisi untuk mempertahankan peringkat satu, aku memutuskan untuk tidak pelit ilmu dan mengajarinya secara langsung.

Tentu saja aku tidak akan mengalah saat ujian nanti, tapi kalau nilai kami sama-sama meningkat, bukankah itu hal yang bagus?

Kalau aku mengadakan sesi belajar berduaan saja dengan Umikawa-san, Char pasti akan mengamuk. Tapi kalau ia juga ikut, seharusnya ia tidak akan protes.

...Kayaknya.

...Kurasa lebih aman kalau pesertanya kutambah sedikit.

Tentu saja aku akan mengundang Karin, dan Kousaka-san pasti akan senang kalau kuajak. Lagipula Akira memang butuh sesi belajar agar nilainya selamat, dan kalau aku juga mengundang Shimizu-san yang berteman baik dengan Char... ya, harusnya aman.

Kayaknya...

"Membantu musuh yang sedang kesulitan... apakah kau yakin mau melakukan itu...?"

"Kita kan satu sekolah, kalau nilai kita sama-sama naik, itu hal yang bagus, kan?"

"...Seperti dugaanku, hatimu sangat lapang... Tapi, kalau belajar bersamaku, nilai Aoyagi-kun sendiri tidak akan bertambah, kan?"

"Siapa bilang? Dengan mengajari orang lain, kita bisa melihat materi dari sudut pandang yang berbeda, dan bukankah sudah jadi rahasia umum kalau mengajarkan materi pada orang lain itu adalah cara review yang paling ampuh ketimbang belajar sendirian?"

Yah, kalau memang jadi belajar kelompok, kemungkinan besar tempatnya di rumahku.

Mengingat ada Emma-chan, aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja.

Kalau kami sedang belajar, Emma-chan pasti akan ikut-ikutan belajar bahasa Jepang, jadi tak akan ada masalah.

...Tapi kalau Umikawa-san bilang dia mau membawa adiknya juga, aku harus mempertimbangkannya lagi.

Dari ceritanya, sepertinya adiknya seumuran dengan Emma-chan...

"Kalau begitu, bolehkah aku menerima tawaranmu itu...?"

Umikawa-san menatapku dari bawah dengan ragu, seolah mencoba membaca ekspresiku.

Melihat ia tampak buntu dengan masalah belajarnya, kuharap bantuanku ini bisa sedikit meringankan beban pikirannya.

"Tentu saja, jangan sungkan."

Sisanya, aku harus segera menjelaskannya pada Char sebelum rumor aneh sampai ke telinganya.

Kalau tidak, bisa-bisa dia salah paham lagi.

"Fufu... terima kasih. Ah, pembicaraan kita jadi melenceng jauh, ya."

Setelah kembali tersenyum lega, Umikawa-san baru menyadari bahwa topik yang dibicarakannya sudah melenceng dari awal.

"Maaf ya, gara-gara aku."

"Tidak apa-apa, aku malah bersyukur kau memberikan solusi yang sangat membantuku. Jadi begini... tadi aku bilang kalau aku tidak punya waktu untuk bermain dengan adikku, kan? Bagi orang sepertiku, melihat Charlotte-san dan adiknya yang terlihat sangat akrab saat festival olahraga itu membuatku berpikir, Ah, gadis ini pasti sangat telaten mengurus adiknya di rumah."

"Iya, di rumah dia memang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk Emma-chan."

Itu mutlak benar sebelum ia bertemu denganku. Bahkan setelah kami tinggal bersama dan Emma-chan terus menempel padaku, Char selalu menemani kami dengan senyuman lembut.

Ia baru benar-benar fokus belajar setelah Emma-chan tertidur, itupun karena aku yang mulai belajar duluan.

"Sudah kuduga... Karena itulah aku sangat syok saat melihat peringkatku kalah darinya di ujian kemarin. Bayangkan, aku yang menghabiskan hampir seluruh waktuku setiap harinya untuk belajar, dikalahkan oleh gadis yang mengorbankan waktu belajarnya demi mengurus adiknya."

Ah, jadi itu alasannya kenapa dia sangat memusuhi Char...

Dia pasti merasa sangat insecure dan rendah diri.

"Aku tahu ini adalah kebencian yang tidak beralasan... tapi aku benar-benar tak bisa menerimanya. Charlotte-san itu wajahnya sangat imut, selalu ramah pada siapa pun... dan dicintai oleh semua orang. Ditambah lagi, meskipun ia sibuk mengurus adiknya, ia tetap bisa mendapat nilai sempurna. Betapa tidak masuk akal dan tidak adilnya dunia ini... pikirku. Selain merasa sangat iri... aku juga merasa sangat cemburu..."

Ini pertama kalinya aku mendengar secara langsung perasaan sejati yang diarahkan pada Char.

Kemungkinan besar, ada banyak siswi lain di sekolah yang memiliki perasaan serupa dengan Umikawa-san.

Hanya saja kadar perasaannya berbeda-beda pada setiap orang, tapi rasa iri itu pasti selalu ada.

Bedanya, perasaan Umikawa-san jauh lebih kuat dari yang lain.

Selain itu, jika aku boleh jujur――bisa dipastikan, para siswi lain pasti akan berkomentar Bisa-bisanya kamu ngomong begitu pada Umikawa-san. Tapi sepertinya ia bukan tipe orang yang bisa menilai dirinya secara objektif.

Masalahnya, ia hanya merasa inferior karena terus-terusan membandingkan dirinya dengan Char. Padahal, ia sendiri juga memiliki wajah yang sangat cantik, dan dari segi nilai pun, meski sempat turun, ia masih berada di peringkat tiga paralel.

Bagi siswi-siswi lain, keberadaan Umikawa-san juga tak kalah tidak masuk akalnya dengan Char.

Bahkan kalau urusan olahraga, aku yakin Umikawa-san jauh lebih tangguh dari Char.

"Padahal Umikawa-san sendiri juga gadis yang sangat luar biasa, lho. Daripada terus membandingkan dirimu dengan Char, bukankah lebih baik kalau kamu fokus pada dirimu sendiri? Setiap orang punya kelebihannya masing-masing. Setidaknya bagiku, seperti yang kukatakan siang tadi, sifatmu yang teladan dan bertanggung jawab, serta dedikasimu yang tak kenal lelah seperti yang baru saja kau ceritakan, adalah pesona yang sangat luar biasa darimu. Aku yakin, kalau adikmu melihat kakak perempuannya sekeren itu, kelak dia pasti akan tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab dan――"

"――Hah!?"

Di saat aku sedang memuji kelebihan-kelebihannya demi membuatnya kembali bersemangat, tiba-tiba ia memotong ucapanku.

Ia mengeluarkan suara aneh dan wajahnya memerah sampai ke telinga, melebihi reaksi mana pun yang pernah kulihat darinya sejauh ini.

Eh... aku salah ngomong, ya...?

"Anu, yang barusan itu..."

"I-Itulah kenapa Charlotte-san sering marah padamu...! Kalau kau dimarahinya lagi gara-gara ini, aku tak mau tahu, ya...!"

Saat aku berniat meluruskan kesalahpahaman, Umikawa-san berbalik dan berlari secepat kilat, meninggalkan bunyi wusshh seperti peluru.

Anak itu refleks olahraganya beneran gila...

Saking cepatnya, aku sampai membatin begitu.

Apalagi ia bisa berlari secepat itu dengan memakai yukata...

"Yah... setidaknya dia sudah kembali bersemangat, jadi ini bisa dibilang bagus... kan?"

Meski aku masih sedikit khawatir apakah dia bisa berbicara dengan lancar pada teman kelompoknya dengan kondisinya yang meledak-ledak begitu, yah... aku hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja.

"――Apanya yang bagus, hmmm?"

"――Hah!?"

Hawa dingin yang mencekam mendadak menusuk punggungku.

Aku langsung berbalik dan mendapati Char berdiri di sana dengan senyuman yang teramat manis.

Di tangannya, entah kenapa, ia membawa sebuah mantel.

Tentu saja itu bukan mantel pria milik Sasagawa-sensei, melainkan mantel milik Char sendiri.

"Ch-Char...? Kamu ngikutin, ya...?"

"Begitu A-kun keluar kamar, Umikawa-san langsung berlari mengejarmu. Bukankah wajar kalau aku berpikir dia berniat menyusulmu?"

Dengan kata lain, karena khawatir Umikawa-san akan berbuat macam-macam padaku, ia diam-diam membuntuti kami.

Mengingat Char punya pendengaran yang luar biasa tajam.

Bahkan dari jarak jauh pun, ia pasti bisa mendengar percakapan kami dengan sangat jelas.

Termasuk... pujian yang kulontarkan tadi, yang sukses membuat Umikawa-san salah tingkah...

"A-Aku sama sekali tidak berniat macam-macam, lho..."

"Bagaimana kalau kita ngobrol sebentar di luar? Udara malam sangat dingin, jadi ayo kita ke kamarmu dulu untuk mengambil mantel."

Sambil terus mempertahankan senyuman mautnya, Char memberikan perintah tanpa menerima penolakan.

Yep, ini sudah fix dia lagi mode marah...

Sesuai perintahnya, aku pun melangkah ke kamarku bersama Char untuk mengambil mantel.

Syukurlah kamar masih kosong melompong, sepertinya teman-temanku masih asyik nongkrong di kamar lain.

"...Cih, sayang sekali. Kalau ketahuan saat mereka kembali nanti bakal merepotkan, ya..."

Sambil melihat ke sekeliling kamarku, Char menggumamkan sesuatu yang mengerikan. Hei, kamu tidak beneran niat mau ngelakuin itu mumpung kamarnya lagi kosong, kan...?

――Kekhawatiran itu sontak menghantuiku.

Sumpah, aku tidak rela tubuh Char dilihat oleh siapa pun.

Sembari berhati-hati agar tak ketahuan kalau aku menyimpan mantel Sasagawa-sensei, aku mengambil mantelku sendiri dari dalam lemari.

Dan ketika kami baru saja akan melangkah keluar dari hotel――

"Hei hei, mau ke mana kalian keluyuran di jam segini seolah itu hal yang biasa?"

――Kami tertangkap basah oleh Miyu-sensei.

Namun, ini mungkin sebuah anugerah.

Miyu-sensei yang kadang bisa bersikap sangat disiplin ini pasti akan melarang muridnya berkeliaran malam-malam, dan aku bisa selamat dari interogasi Char.

Syukurlah, nyawaku selamat――begitulah pikirku.

"Mumpung langit malamnya sangat indah, aku ingin melihatnya berdua bersama A-kun. Selain itu... ada yang ingin kubicarakan dengannya berdua saja."

Mendengar Char tersenyum penuh makna, Miyu-sensei seketika bungkam.

Setelah berpikir sejenak――.

"Yah, kalau kalian berdua, sepertinya aman-aman saja. Pokoknya kalian harus kembali sebelum jam tidur, mengerti?"

Dengan mudahnya, ia memberikan izin pada kami.

Sensei!?

Saat aku memprotesnya melalui tatapan mata, Miyu-sensei malah membalas dengan sorot mata yang seakan berkata, Aku tidak tahu dosa apa yang sudah kau buat, tapi selamat menikmati hukumanmu.

Guru ini, dia benar-benar telah membuangku...

"Kalau begitu ayo kita pergi, A-kun "

Ditarik oleh Char yang bersenandung riang, aku tak punya pilihan selain pasrah diseret ke tempat eksekusi.

"A-Anu, Char...?"

Setelah diseret kembali ke atas bukit, aku menatap wajah Char dengan perasaan was-was.

"A-kun ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Apakah kamu benar-benar berniat membangun harem?"

Char menatapku dengan tatapan tajam dan merajuk.

Seperti dugaanku, seluruh percakapanku dengan Umikawa-san telah terekam dengan jelas di telinganya.

"Mana mungkin aku berniat begitu. Kan sudah kubilang, hatiku cuma untuk Char seorang..."

"Tapi buktinya, kamu baru saja menggoda gadis lain."

"Aku sama sekali tidak menggodanya..."

"Fakta bahwa kamu tak menyadarinya justru membuat masalah ini jauh lebih parah."

"Ugh!?"

Pernahkah aku ditembak dengan kritikan setajam ini sebelumnya?

Sepertinya hari ini kemarahan Char jauh melampaui batas biasanya.

Saat aku sedang berpikir begitu――Char tiba-tiba mendaratkan dahinya dengan lembut ke dadaku.

Lalu, ia menggosok-gosokkan wajahnya di sana.

Sepertinya ia sedang meluapkan ketidakpuasannya.

Aku pun mendekap tubuhnya dengan lembut dan mengelus kepalanya perlahan untuk menenangkannya.

Dan kemudian――

"Andai saja ada tempat di mana kita benar-benar tak akan ketahuan oleh siapa pun..."

――Char menggumamkan kalimat yang luar biasa tak masuk akal.

Anak ini, bisa-bisanya dia minta 'jatah' di situasi seperti ini...!?

Aku memang sudah tahu kalau libidonya sangat tinggi, tapi ide ini jelas-jelas kelewat batas.

Atau lebih tepatnya, jujur saja aku takut kalau harus melakukannya saat dia sedang mode marah begini.

Bukan mustahil ia akan menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan seluruh kekesalannya dan "mengajarkanku" sebuah pelajaran.

――Saat aku sedang dilanda kebingungan dan kepanikan, untung saja Char tidak segila itu untuk nekat melakukannya di tempat terbuka yang berisiko ketahuan.

Setelah berhasil menenangkan diri, ia menatap lurus ke mataku dari jarak dekat.

"Karena kamu sudah memilihku, kumohon jangan pernah berpaling pada yang lain..."




"Iya, aku mengerti... Kan sudah kubilang, hatiku ini hanya untuk Char seorang..."

Aku tidak tahu bagaimana diriku terlihat di mata Char, tapi yang jelas aku sama sekali tidak memiliki perasaan romantis kepada siapa pun selain Char.

Hanya hal itulah yang bisa kukatakan dengan penuh sumpah.

"Berselingkuh tidak boleh, membuat harem tidak boleh, dan NTR balik juga tidak boleh... Karena, A-kun adalah pacarku, hanya milikku seorang..."

Sambil mengucapkan hal itu, ia mendorong dadaku dengan kedua tangannya.

Meski aku tidak paham apa maksud dari istilah terakhirnya itu, aku mengerti bahwa ia ingin aku berbaring. Sesuai keinginannya, aku sengaja merebahkan diri telentang di atas hamparan rumput.

Lalu, Char perlahan menjatuhkan dirinya, menindih tubuhku dengan lembut.

"Aku tak akan pernah menyerahkanmu pada siapa pun... Nn."

Saat aku berada dalam posisi menatap wajahnya dari bawah, Char mendaratkan ciumannya di bibirku.

Kemudian, ia dengan lembut membelitkan lidahnya.

Aku membiarkannya melakukan apa yang ia inginkan dan pasrah pada perlakuannya――namun sayang, begitu 'tombol'-nya menyala, ia tak bisa berhenti. Akibat tak kunjung kembali meski waktu sudah berlalu lama, Miyu-sensei pun terpaksa datang menyusul untuk memanggil kami.

Dan karena tertangkap basah sedang berciuman, kami pun mendapat omelan panjang dari Miyu-sensei yang wajahnya ikut memerah.

Yah... Karyawisata ini masih akan berlanjut besok, tapi... apakah aku bisa mengendalikan Char yang seperti ini?

Sejujurnya, aku mulai merasa sedikit cemas.


Kata Penutup


Pertama-tama, terima kasih banyak telah membaca dan membeli "Otonari Asobi" volume 8 ini. Tak lupa, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh staf dan pihak yang telah terlibat dan selalu membantu dalam proses produksi volume 8 ini. Meskipun saya selalu mengucapkan kata-kata yang sama setiap saat, sungguh berkat bantuan kalian semualah volume 8 ini bisa terbit. Sekali lagi, terima kasih banyak. Terutama kepada Editor saya dan Midorigawa-sensei (Ilustrator), terima kasih atas segala bimbingan dan bantuan kalian yang luar biasa.

Dan untuk kalian semua para pembaca. Maaf telah membuat kalian menunggu sangat lama. Sudah lebih dari satu tahun sejak volume 7 dirilis, ya. Terima kasih banyak telah tetap membeli dan membaca karya ini meskipun sudah dibuat menunggu selama itu!

Oh ya, selama jeda waktu tersebut, adaptasi manga dari ‘Maigo ni Natteita Youjo wo Tasuketara, Otonari ni Sumu Bishoujo Ryuugakusei ga Ie ni Asobi ni Kuru You ni Natta Ken ni Tsuite’ sudah terbit hingga volume 3, lho. Bahkan sebentar lagi volume 4-nya juga akan rilis. Seperti yang saya sampaikan di volume 7, Pentagon-sensei selaku mangaka dan editor manga-nya telah menyajikan adaptasi komik yang sangat luar biasa. Bagi kalian yang belum membacanya, tolong luangkan waktu untuk membacanya, ya! Sungguh, hasilnya sangat bagus dan imut banget. Nekokuro (nama pena penulis) sendiri juga selalu menantikan update terbarunya di Nico Nico Seiga. Malahan, saya sampai rela beli koin buat baca bab terbarunya duluan, lho. (Hahaha)

Ngomong-ngomong, penjualan manga-nya ternyata luar biasa meledak. Mengingat ini adalah kali pertama karya saya diadaptasi ke manga, saya benar-benar dibuat terkejut dan bergumam, ‘Aku emang udah denger rumornya sih, tapi penjualan manga kalau lagi laku tuh bener-bener gila banget...!’ Tentu saja, semua kesuksesan itu bisa diraih murni berkat kerja keras Pentagon-sensei dan para editor. Yah, jujur aja sih... karena light novel dan manga-nya udah selaris ini, di otak Nekokuro tuh rasanya kayak teriak, ‘Kapan nih dibikin animenya!?’ (Hahaha)

――Nah, mari kita beralih ke pembahasan isi volume 8 ini. Di volume 8, akhirnya kita memasuki Arc Karyawisata――tapi sebelum itu, kita disajikan interaksi yang sangat 'intim' antara Akihito dan Char yang sudah lama absen sejak volume 6, kan. Saya yakin pasti ada banyak pembaca yang sudah sangat menantikan adegan ini. Tapi kalau mau jujur, yang paling menanti-nantikan adegan ini kemungkinan besar adalah Char sendiri, sih. Anak ini rasanya udah nggak bisa direm, atau lebih tepatnya nggak mau berhenti. Mungkin karena ini efek rebound karena sebelumnya dia nggak pernah punya cowok yang disukai, jadi sekarang dia lagi dalam mode super-duper-bucin-mentok pada Akihito, ditambah rasa penasaran tingginya terhadap ‘hal-hal itu’. Di karya ini, mungkin dialah yang punya ‘itu’ yang paling kuat. (Saya sengaja menyensornya).

Apakah perseteruan pertahanan diri Akihito melawan godaan Char akan terus berlanjut? Atau jangan-jangan Akihito malah menyerah dengan mudah dan membiarkan Char menang? Nantikan saja kelanjutannya――eh tunggu, ini bukan cerita dengan genre yang kayak gitu, ya. (Hahaha) Tapi yang pasti, mulai sekarang Akihito akan terus dihadapkan pada penderitaan menyeimbangkan antara akal sehat dan hasratnya.

Lalu masuk ke arc karyawisata, kita kedatangan kawan baru (?), ya. Yah, walau yang satunya itu sebenarnya sudah muncul sejak volume 2 tapi jarang banget dapat screen time, sih. Saya harap anak-anak ini juga akan sering muncul dan terlibat di cerita ke depannya~.

...Dan Sasagawa-sensei juga rasanya udah lama banget nggak muncul, ya. (Hahaha) Kalian tahu, nggak? Sasagawa-sensei versi manga yang digambar sama Pentagon-sensei itu bwaaaanget-banget imutnya, lho! Saking imutnya, kalau misalnya diadakan polling popularitas karakter khusus versi manga-nya, saya yakin dia bakal masuk top 3. Seriusan, coba deh kalian cek sendiri. Soalnya beneran imut banget.

Dan, dan, dan, kehadiran karakter baru kita, Umikawa-san!! Bagi kalian yang sering membaca karya-karya Nekokuro, pasti sudah sangat familiar dengan heroine ber-archetype Kuudere (dengan campuran Tsundere) ini, kan! Ternyata, selama ini di "Otonari Asobi" belum pernah ada karakter utama dengan archetype Kuudere (campuran Tsundere), lho. Walau untuk Tsundere murni kita memang punya. Catatan: Kaguya-san itu beda kasus, ya. Menurut standar Kuudere versi Nekokuro, dia nggak masuk kategori itu. Padahal Nekokuro ini biasanya selalu memasukkan heroine Kuudere (campur Tsundere) hampir di semua karya yang ditulisnya, jadi ini fenomena yang lumayan langka... Bahkan di karya debut saya saja, heroine utamanya adalah si Kuudere. Untuk ke depannya, mungkin Umikawa-san akan sering dapat screen time, tapi mungkin juga nggak. Siapa yang tahu, kan...

Lalu untuk volume ini, saya menulis sesuatu yang lumayan langka; yaitu interaksi antara Emma-chan dan karakter lain saat Akihito tidak ada di sekitarnya. Bagi kalian yang selama ini mengikuti "Otonari Asobi", pasti ada yang terkejut, kan? Apalagi bagian itu ditulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sebenarnya, di masa lalu saya pernah menulis Short Story (SS) khusus yang berfokus pada Emma-chan dengan sudut pandang orang ketiga untuk sebuah event di toko buku tertentu. Ceritanya tentang Emma-chan yang diam-diam kabur dari ranjang ibunya di tengah malam karena mencari Akihito dan Char――karena pengalaman itu, kali ini saya jadi ingin mencoba menulis cerita dari sudut pandang orang ketiga yang berpusat pada Emma-chan saat Akihito tidak bersamanya. Omong-omong, menulis bagian itu bener-bener menyenangkan, lho. Kayaknya bagian itu deh yang proses penulisannya paling lancar dan mengalir di volume ini. Melihat sisi lain Kanon-san yang tidak pernah ia tunjukkan pada Akihito saat berhadapan dengan Emma-chan, dan lain sebagainya. Saya sangat menyukai interaksi kedua orang itu, atau lebih tepatnya saya suka melihat Kaguya-san yang ikut terseret ke dalam drama mereka. Kalau ada kesempatan, saya ingin menulisnya lagi. Siapa sangka Kaguya-san yang sekeren itu malah dapat peran sebagai karakter apes yang menyedihkan. (Hahaha) Soalnya, kepribadian dan cara seseorang bersikap itu memang bisa berubah drastis tergantung pada posisi lawan bicaranya. Pasti kalian semua juga pernah ngalamin hal yang sama, kan...!

Jujur saja, adegan interaksi antara Akihito dan Sasagawa-sensei juga mengalir dengan sangat lancar saat kutulis. Soal urusan ngerjain dan menjahili Akihito, kayaknya Miyu-sensei dan Sasagawa-sensei ini emang jagonya, deh. (Hahaha) Saya harap mereka akan terus mengerjai Akihito ke depannya.

Saya percaya "Otonari Asobi" masih akan terus berlanjut. Apalagi di volume ini, selain Umikawa-san, ada juga karakter baru lain yang muncul. Ada juga karakter lama yang saya harap bisa muncul lagi, jadi pokoknya saya sangat berharap seri ini bisa terus berjalan panjang. Oh iya, satu lagi, adaptasi Anime!! Kalau dilihat dari penjualannya sih, ini tuh bener-bener udah masuk kategori layak diadaptasi jadi anime. Makanya, saya selalu ngebatin, ‘Ayo dong jadiin anime!!’ (Walaupun aslinya saya nggak pernah ngomong pakai nada semenuntut ini, lho).

Omong-omong soal yang lain, sebenarnya tahun lalu saya merilis karya baru di penerbit yang sama, Dash X Bunko, yang berjudul ‘Kazukazu no Kokuhaku wo Futtekita Gakkou no Madonna ni Sotobori wo Umeraremashita’ (Madonna Sekolah yang Telah Menolak Banyak Pernyataan Cinta, Mengurungku Tanpa Jalan Keluar). Karya ini juga mencatat penjualan yang sangat bagus, sampai-sampai volume pertamanya langsung cetak ulang nggak lama setelah rilis. (Bahkan sampai sekarang masih sering nangkring di peringkat atas situs penjualan e-book, lho). Tentu saja, karena respons yang sangat positif, perilisan volume 2 juga sudah diputuskan! Jadi, bagi kalian yang membatin ‘Wah, aku nggak tahu soal itu!!’, tolong luangkan waktu untuk membacanya, ya! Setidaknya, saya yakin kalian yang bisa menikmati "Otonari Asobi" juga pasti akan menyukai karya yang satu ini. Alasannya kenapa? Kalian pasti akan langsung paham begitu membacanya, jadi mohon dukungannya! Ilustrasinya juga super duper imut, beneran sangat recommended! Saya harap karya yang ini juga bisa dapat adaptasi manga, dan pastinya ngincer adaptasi anime juga, dong! Untuk informasi lebih lanjut soal volume 2-nya, mohon ditunggu kabar selanjutnya, ya.

Nah, sedikit bicara tentang urusan pribadi, tahun kemarin saya lumayan pasif dan tenang-tenang saja. Karena itu, tahun ini saya berencana untuk lebih aktif dan melakukan berbagai macam hal. Tentu saja, saya ingin menerbitkan banyak buku, dan secara jadwal, Nekokuro berencana untuk merilis banyak karya tahun ini...! Yah, walau semuanya tergantung pada seberapa keras Nekokuro bekerja dan faktor lainnya, tapi saya bener-bener pengen ngerilis banyak buku. Dan tentu saja, seperti biasa, saya akan berjuang keras untuk mengejar mimpi mendapatkan adaptasi anime. Untuk mencapai hal itu, intinya saya ingin menghasilkan banyak karya~. Saya juga punya niat untuk menantang diri menulis High Fantasy dan Low Fantasy.

Sebenarnya, dan ini sering saya cuitkan di X (Twitter), saya punya segudang stok ide cerita yang numpuk! Beberapa di antaranya udah lumayan matang konsepnya di kepala saya――tapi sayangnya, manusia itu punya yang namanya "kapasitas". Karena batas kemampuan mengurus karya yang berjalan secara bersamaan itu terbatas, ujung-ujungnya saya jadi susah buat nulisnya! Dan di tengah kebingungan itu, eh tiba-tiba muncul ide romcom menarik di kepala, terus akhirnya saya malah nulis ide baru itu duluan――itulah siklus yang terus berulang selama beberapa tahun terakhir ini. (Hahaha) Aduh, pokoknya saya bener-bener pengen segera nyoba nulis High Fantasy atau Low Fantasy!! Padahal sekarang aja di kepala saya udah nongol dua ide romcom baru sambil mikir, ‘Ini romcom pasti gila banget serunya!! Aku yakin banget ini bakal populer!!’. Mungkin saat kalian membaca kata penutup ini, ceritanya udah mulai saya publish di situs web novel. (Hahaha) Tapi tetep aja, karena saya beneran pengen nulis High Fantasy atau Low Fantasy, mungkin tahun ini saya bakal coba nge-gas pake kuantitas. (Artinya, saya bakal nulis banyak-banyak).

Hanya saja, sedikit lebih dari setahun yang lalu, kondisi kesehatan saya sempat tumbang sampai harus dirawat di rumah sakit. Jadi, saya berencana untuk menjalani semuanya tanpa terlalu memaksakan diri. (Waktu itu, penyebabnya bukan cuma urusan naskah doang sih, tapi karena ada dua tenggat waktu yang udah mepet banget, saya maksa minta keluar dari RS dalam sehari, terus lanjut ngerjain naskah selama beberapa hari dalam kondisi yang paling parah... seriusan, memaksakan diri itu bener-bener nggak baik). Yah, begitulah kira-kira. Saya akan terus berusaha keras ke depannya, jadi saya akan sangat senang jika kalian mau terus menemani perjalanan saya! Tolong dukung terus versi manga dari "Otonari Asobi" dan juga karya baru saya "Kazukazu no Kokuhaku wo Futtekita Gakkou no Madonna ni Sotobori wo Umeraremashita" (singkatannya "Mado-bori"), ya!

Kalau begitu, jika tak ada halangan, mari kita bertemu lagi di "Otonari Asobi" volume 9. Bye-bye!













Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !