Bab 3
"Perjalanan Sekolah Pertamaku dengan Tunanganku"
"......♪"
Beberapa
hari telah berlalu semenjak aku dan Char kembali bersatu, dan hari ini adalah
hari pertama karyawisata kami yang akan berlangsung selama empat hari tiga
malam.
Saat ini
kami sedang berada di dalam pesawat yang menuju tempat tujuan kami, yaitu
Hokkaido.
Berkat
kepedulian――atau lebih tepatnya, manipulasi di balik layar dari para gadis di
kelas kami, Char berhasil mengamankan kursi di sebelah kiriku, tepat di sebelah
jendela. Ia bersenandung riang dengan suasana hati yang sangat baik.
Karena
pada Hari Valentine kemarin pada akhirnya kami tidak bisa pergi ke luar, aku
tidak bisa membelikannya hadiah dan hanya menerima cokelat darinya secara
sepihak. Namun, karena suasana hati Char terlihat sangat bagus sejak hari itu,
kurasa itu tidak masalah.
Yah...
awalnya aku sempat khawatir apa yang akan terjadi setelah aku melakukannya
secara berlebihan waktu itu, tapi anak ini justru terlihat sangat puas dengan
hasilnya...
Sebagai
informasi, cokelat yang diberikan Char padaku adalah cokelat berbentuk hati
klasik dengan isian stroberi di dalamnya.
"――Charlotte-san,
kelihatannya kamu senang sekali..."
Pesawat
ini memiliki konfigurasi tiga kursi per baris. Karin, yang duduk di sebelah
kananku, menatap Char dan bergumam.
Adapun
alasan mengapa Karin duduk di sebelahku di pesawat adalah karena akhir-akhir
ini dia sudah mulai bisa sedikit mengobrol denganku, Char, dan belakangan ini
juga dengan Shimizu-san... kira-kira begitulah alasannya.
Yah,
sebenarnya bukan karena permintaanku, tapi lebih karena Char yang tidak ingin
cowok-cowok kelas duduk di dekatnya dan mencari-cari masalah, tapi di saat yang
sama ia juga tidak rela jika ada siswi perempuan lain yang duduk di sebelahku.
Karena itulah, bekerja sama dengan Shimizu-san, Char mengatur strategi agar
Karin-lah yang duduk di sebelahku.
Kalau
dipikir-pikir, bukankah lebih baik jika Char yang duduk di tengah? Namun,
tampaknya para siswi lain tidak akan membiarkan kursi di sebelah Char diduduki
oleh sembarang orang, dan Karin sendiri merasa lebih nyaman jika aku yang
berada di sebelahnya ketimbang Char. Jadi, Char dengan berbaik hati mengalah
untuknya.
"Ya
jelas, itu kan karena keseruan yang dia lakuin pas Hari Valentine kemarin, kan?
Dari semenjak Valentine berakhir aja suasana hatinya sudah bagus terus,
lho."
Cletukan
usil itu datang dari Shimizu-san yang duduk di kursi tepat di depan Char.
Sambil
menyeringai dengan senyuman yang sedikit menggoda, ia menoleh ke arah kami.
Ngomong-ngomong,
orang yang duduk di sebelah Shimizu-san adalah Kiriyama-san, dan di sebelahnya
lagi juga siswi perempuan.
Barisan
kursi di belakang kami juga diisi oleh para siswi――bisa dibilang, area ini
telah sepenuhnya dikepung oleh para gadis di kelas kami.
Alasannya
sudah jelas; mereka berlomba-lomba mengamankan kursi di sekitar Char.
Para cowok
di kelas kami sama sekali tidak punya celah untuk ikut campur.
"Ja-jangan
menggodaku, Shimizu-san... Pas Hari Valentine kemarin, kami cuma menghabiskan
waktu dengan bersantai berduaan saja, kok..."
Wajah Char
seketika memerah padam. Sambil memelintir ujung rambutnya, ia mencoba
menyangkalnya.
Namun
sayangnya, selain Karin, tak ada satu pun yang mempercayai ucapan Char.
Malahan――
"Tuh
kan, beneran cuma berduaan doang..."
"Dari
cara dia ngomong, kayaknya mereka seharian bareng terus, deh..."
"Ini
sih fix udah gol, kan...?"
――Terdengar
bisik-bisik gembira dari para gadis di sekitar kami. Tampaknya frasa 《Menghabiskan waktu dengan bersantai berduaan》 yang dilontarkan Char malah semakin memancing imajinasi
liar mereka.
"Ugh!"
Karena pendengarannya
yang tajam, Char tentu saja bisa mendengar bisik-bisik itu. Ia pun menutupi
wajahnya dengan kedua tangan seraya menggelengkan kepala tanda tak mau dengar.
Tentu
saja, reaksi itu hanya semakin memperkuat keyakinan mereka――Char benar-benar
telah terperosok ke dalam rawa tanpa dasar yang tak bisa ia hindari.
"Charlotte-san,
ada apa...?"
"Tidak
usah dipikirkan, dia cuma terlalu bersemangat karena ini acara
karyawisata."
Karin yang
masih polos dan lugu menjadi satu-satunya orang yang tidak mengerti arti di
balik tingkah Char dan hanya memiringkan kepalanya dengan bingung. Sebagai
kakaknya, aku benar-benar berharap adikku ini akan terus mempertahankan
kepolosannya.
"Aku
juga... sangat menantikan karyawisata ini..."
Setelah
meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada yang aneh dengan tingkah Char, Karin
menatap wajahku dengan senyuman imutnya.
Rasanya
aku ingin langsung mengelus kepalanya, namun banyak orang di sekitar kami yang
tidak tahu tentang hubungan darah antara aku dan Karin.
Jika aku
bertindak ceroboh dengan mengelusnya di sini, itu bisa memicu keributan atau
membuatku diinterogasi habis-habisan, jadi aku menahannya sekuat tenaga.
"Kamu
suka jalan-jalan?"
"Uhm...
Dulu aku tidak suka acara menginap seperti ini... Tapi sekarang..."
Karin
kembali tersenyum riang ke arahku.
...Tolong
dong, tatapan para gadis di sekeliling kita itu mengerikan, lho. Tolong jangan
hentikan kalimatmu di bagian yang bisa memicu kesalahpahaman seperti itu...
Lihat kan,
Kiriyama-san yang duduk tepat di depan kita sekarang sedang menatapku dengan
tatapan super tajam yang seolah ingin menghakimiku...
"Apa
karena sekarang kamu sudah punya teman ngobrol seperti Char dan
Shimizu-san?"
"Nn..."
Saat aku
sengaja memancingnya untuk mengucapkan alasannya dengan jelas, raut wajah Karin
melunak dan ia mengangguk kecil.
Berkat
itu, tatapan tajam para gadis di sekeliling kami pun berubah menjadi lebih
lembut.
――Syukurlah...
"Shinonome-san,
karena kita satu kelompok, nanti kita ngobrol yang banyak, ya?"
Kiriyama-san,
yang sedari tadi diam mendengarkan percakapanku dan Karin, ikut nimbrung dengan
senyum semringah.
Seperti
yang dia katakan, untuk sesi waktu bebas selama karyawisata kali ini,
Kiriyama-san berada di kelompok yang sama denganku dan Karin.
Hal ini
terjadi karena untuk sesi waktu bebas, kami diizinkan untuk membentuk kelompok
beranggotakan lima orang secara bebas.
Tentu
saja, hal pertama yang terjadi adalah perebutan Char.
Namun,
karena Char bersikeras ingin satu kelompok denganku, dua slot pun langsung
terisi.
Normalnya,
aku ingin mengajak Akira――namun sayangnya, karena ada jadwal pertandingan,
Akira tidak bisa ikut karyawisata kali ini.
Akibatnya,
tersisa tiga slot kosong. Di tengah riuhnya teman-teman sekelas yang saling
berebut, kulihat Karin menatap kami dengan raut wajah cemas dari balik
kerumunan. Karena itulah, aku langsung menarik Karin ke dalam kelompok kami.
Karena
kami memang sering makan siang bersama, dan ditambah dukungan dari Char, tidak
ada satu pun yang berani menentang.
Lalu,
bagaimana dengan dua slot yang tersisa? Shimizu-san yang melabeli dirinya
sendiri sebagai sahabat Char berhasil merebut salah satunya, sementara slot
terakhir berhasil diamankan oleh Kiriyama-san yang menyusup di saat-saat
terakhir.
Sebenarnya,
aku ingin memasukkan setidaknya satu cowok lagi... tapi sayangnya, belum ada
cowok yang bisa kupercayai sepenuhnya jika menyangkut soal Char, ditambah lagi
ada Karin di sini. Jadi, dengan pasrah aku menerima takdir sebagai satu-satunya
cowok di kelompok yang didominasi perempuan ini.
Meski
sepertinya Char merasa sedikit kurang sreg dengan bergabungnya Kiriyama-san, ia
tampaknya berpikir itu jauh lebih baik daripada memasukkan cowok lain, sehingga
ia tidak memprotes keputusanku.
"Nn...
mo-mohon bantuannya..."
Karin,
yang belum terbiasa dengan Kiriyama-san dan kurang nyaman dengan orang yang
terlalu aktif berbicara, menjawab dengan suara pelan sembari mencengkeram erat
ujung lengan bajuku.
"Waktu
di kafe kita emang sempet duduk semeja, tapi kita tidak banyak ngobrol, ya.
Tenang aja, aku tidak seseram Arisa-chan, kok."
Sembari
menatap lekat-lekat tangan Karin yang sedang mencengkeram ujung bajuku,
Kiriyama-san terus mempertahankan senyumnya untuk menenangkan Karin.
Meskipun
dia terkadang kurang peka membaca situasi, dia bukanlah anak yang buruk.
Memang
sih, dia sering melontarkan komentar pedas pada orang yang tak disukainya, tapi
kurasa sebagian besar orang juga begitu.
Setidaknya,
di dalam kelas ini, kepribadiannya masih tergolong lumayan mendingan.
Dan aku
juga setuju bahwa dia tidak seseram Shimizu-san.
Yah...
"Kei~?
Apa maksud ucapanmu barusan, ya~?"
Di
sebelahnya, Shimizu-san memunculkan urat kemarahan imajiner di dahinya.
Demi tidak
membuat Karin ketakutan, ia memang memaksakan senyum di wajahnya, namun nada
suaranya yang merendah dan sedikit bergetar jelas-jelas menunjukkan bahwa ia
sedang murka.
"I-Itu
cuma fakta, kok...!"
Bagi
Kiriyama-san, mungkin itu hanyalah candaan untuk mencairkan ketegangan Karin.
Namun, sepertinya ia tidak menyangka Shimizu-san akan semarah itu, sehingga ia
meresponsnya dengan memberi hormat kaku dan menggunakan bahasa formal.
Sayangnya,
karena ia menjawabnya dengan terlalu jujur, amarah Shimizu-san pun tak kunjung
reda.
"Oh
begitu, kalau begitu nanti aku harus benar-benar mengajarimu seberapa seramnya
diriku yang sebenarnya, ya~?"
"Hiiii!?
Arisa-chan, kamu tahu kan kalau aku cuma bercanda...! Serem tau, jangan gitu
dong...!"
Menghadapi
Shimizu-san yang menyeringai dengan mata yang sama sekali tidak ikut tersenyum,
Kiriyama-san memohon dengan mata berkaca-kaca.
Yah...
Shimizu-san pasti juga hanya bercanda mengikuti alurnya, tapi auranya itu lho,
benar-benar intimidatif.
Karin saja
sampai gemetar ketakutan sungguhan melihatnya.
"Salahmu
sendiri pakai namaku buat tameng."
"Habisnyaa,
aku juga pengen akrab sama Shinonome-san, tau...!"
Sambil
mendengarkan alasan Kiriyama-san, aku mengalihkan pandanganku kembali pada
Karin.
"Biarpun
kalian berteman baik, kalau kamu melakukan hal yang buruk, jadinya bakal
seperti itu."
"Nn..."
"Tunggu
dulu, Aoyagi-kun!? Bisa tidak berhenti ngomong seakan-akan aku habis ngelakuin
kejahatan besar!?"
Saat aku
sedang memberikan wejangan tentang interaksi sosial pada Karin, Kiriyama-san
langsung menyela dan protes.
Bukan
seakan-akan lagi, kamu memang habis melakukannya, kan.
Meski
batasan mana yang dianggap buruk mungkin berbeda-beda bagi tiap orang.
"Kamu
baru aja ngejelek-jelekin aku, kan."
"Aduh!"
Shimizu-san
mendaratkan chop (pukulan dengan sisi tangan) ringan di kepala
Kiriyama-san dari samping, membuat mata Kiriyama-san seketika berubah menjadi
bentuk 'X'.
Dua orang
ini benar-benar akrab, ya.
"............"
Saat aku
sedang asyik menonton interaksi kocak antara Kiriyama-san dan Shimizu-san, Char
yang akhirnya terbebas dari godaan para gadis menatapku dengan sorot mata penuh
harap.
"Char?"
"...Eip."
Saat aku
memanggilnya, Char tiba-tiba meraih tanganku dan menautkan jari-jemari kami
dengan erat.
Lalu, ia
meremas tanganku dengan lembut dan mulai bermanja-manja.
Padahal di
sekeliling kami banyak siswi lain, tapi ia benar-benar berani bertindak
agresif.
"Habisnya
Emma sedang tidak ada..."
Char
mendekatkan bibirnya ke telingaku, membisikkan kalimat itu dengan suara pelan,
lalu menatap wajahku penuh harap seraya terus menggenggam erat tanganku.
Biasanya
perhatianku selalu tersita oleh Emma-chan, jadi karena kali ini Emma-chan tidak
ikut karyawisata, Char pasti berpikir bahwa dia bisa memonopoliku seutuhnya.
Karena
itulah, dia jadi sangat ingin dimanja.
Yah――
"
" " " "............" " " " "
――Dengan
dikepung oleh para gadis dari segala penjuru dan ditatap secara intens seperti
ini, aku sama sekali tidak bisa melakukan tindakan yang macam-macam...
Bayangkan
saja, kalau aku berani-beraninya mencium Char di situasi seperti ini, sudah
pasti akan terjadi kehebohan besar.
"Ayo
kita nikmati karyawisata ini sepuasnya."
Aku
membalasnya dengan senyuman.
Meskipun
ini adalah acara karyawisata, jadwalnya tidak hanya diisi dengan kegiatan
kelompok besar, tetapi juga banyak waktu bebas untuk bereksplorasi sendiri.
Mungkin
maksud dari pihak sekolah adalah agar kami bisa melepaskan penat setelah lelah
belajar dan berlatih di klub setiap hari.
Soal
urusan finansial pun aku tidak perlu khawatir karena Kanon-san sudah
membekaliku dengan uang saku yang sangat banyak.
Tentu
saja, uang itu bukan hanya untukku, melainkan juga untuk Char, Karin, serta
Shimizu-san dan Kiriyama-san yang sekelompok dengan kami.
Karena
keadaan finansial keluarga Karin tidak terlalu berlebih, awalnya aku ingin
membiayai pengeluarannya――namun karena ada Kiriyama-san yang tidak mengetahui
fakta bahwa kami adalah saudara (kalau Shimizu-san sih sudah tahu), akan
terlihat aneh jika aku tiba-tiba membayari Karin.
Oleh
karena itu, Kanon-san menyuruhku untuk mentraktir seluruh anggota kelompok agar
tidak menimbulkan kecurigaan.
"Iya,
mari kita bersenang-senang."
"Aku
juga..."
Saat aku
dan Char saling bertatapan dan tersenyum, Karin menarik ujung bajuku dengan
raut wajah sedikit kesepian.
Meskipun
saat liburan musim dingin kemarin kami pernah pergi keluar bersama, namun ini
adalah pertama kalinya kami melakukan perjalanan jauh sebagai saudara.
Dalam
artian itu, ini adalah perjalanan yang sangat kunantikan.
"Aku
juga, aku juga!"
"Kamu
diam saja."
"Lho,
kenapa!? Jahat banget!"
Kiriyama-san
yang antusias ikut nimbrung dari kursi depan kembali mendapat hadiah chop
dari Shimizu-san. Tapi bagaimanapun juga, akan lebih baik jika kami semua bisa
bersenang-senang bersama.
Satu-satunya
hal yang kusesalkan adalah absennya Akira.
Sembari
membayangkan wajah sahabatku yang pasti saat ini sedang meratapi nasibnya
sendirian di sekolah, aku pun menghabiskan waktu perjalanan yang menyenangkan
bersama Char, Karin, dan teman-teman kelompokku yang lain, mengobrol santai
hingga akhirnya pesawat kami mendarat di Hokkaido.
◆
"Ah...
ternyata ada siswa dari sekolah lain juga yang sedang karyawisata, ya."
Begitu
kami tiba di Bandara New Chitose Hokkaido, Char yang melihat segerombolan siswa
dengan tas sekolah yang berbeda dari kami, menunjuk mereka dan berbicara
padaku.
"Itu
sudah pasti, ada banyak sekolah yang karyawisata. Tapi tas khas itu..."
Bukannya
itu sekolah yang ada di Okayama juga?
Meski
begitu, karena sekolah mereka terletak di Tsuyama (bagian utara prefektur
Okayama), kami sama sekali tidak pernah berpapasan dengan mereka di keseharian
kami.
Sekolah
itu terkenal sejak dulu dengan kekuatan tim sepak bola putra maupun putrinya.
Mungkin saja mereka sengaja menyusun jadwal karyawisatanya setelah Turnamen
Sepak Bola SMA Nasional usai agar para atletnya bisa ikut.
Sembari
mengamati mereka dengan pikiran seperti itu――
"Ah...♪"
――Kulihat
seorang gadis dari rombongan itu melambaikan tangannya kecil ke arah kami.
Aku yang
merasa familier dengan wajahnya, sontak membelalakkan mataku.
Oh iya,
aku ingat dia lebih memilih masuk tim SMA daripada masuk klub profesional...
Gadis yang
melambaikan tangannya padaku itu adalah sosok yang sangat terkenal di kalangan
pencinta sepak bola.
Pasalnya,
meski masih berstatus siswi SMA, kemampuannya yang di atas rata-rata telah
mengantarkannya terpilih masuk ke Timnas Senior, melampaui batasan usianya. Dia
benar-benar seorang manusia super.
Ditambah
lagi karena parasnya yang manis, ia juga sering menjadi bahan perbincangan di
internet.
Kudengar
bulan lalu timnya berhasil menjuarai Turnamen Sepak Bola SMA Putri. Aku bisa
membayangkan betapa stresnya tim lawan yang harus berhadapan dengan pemain
level Timnas...
"Muu...
A-kun, apa kamu mengenal orang itu?"
Saat aku
membalas lambaian tangannya dengan anggukan hormat, Char yang juga ikut
mengangguk hormat, menatapku dengan sorot mata yang sangat tidak puas.
Padahal
jangankan kenalan, baru pertama kali bertemu saja dia sudah menunjukkan
ekspresi seperti ini, tumben sekali.
"Bukan
kenalan kok. Aku juga tidak pernah ngobrol sama dia."
"Lalu
kenapa dia menyapa kamu duluan? Apa jangan-jangan kamu pernah bertemu dengannya
di turnamen sepak bola?"
"Eh,
kamu sadar ya kalau dia itu pemain sepak bola?"
"Tentu
saja, dia kan orang yang sering muncul di video yang ditonton Emma."
Seperti
yang diharapkan dari Char. Meskipun Emma-chan biasanya menonton video sambil
duduk di pangkuanku, ternyata Char benar-benar mengamati dan hafal apa yang
disukai oleh adik kecilnya itu.
Seperti
kata Char, gadis yang masih terus melambaikan tangannya ke arah kami itu adalah
pemain favorit Emma-chan saat ini.
Kalau
kuberitahu Emma-chan bahwa aku tak sengaja bertemu dengannya di bandara, dia
pasti akan sangat iri.
...Yah,
mungkin Emma-chan hanya menyukai permainannya saja, kalau disuruh mengobrol
langsung mungkin ceritanya bakal beda...
――Tepat di
saat aku memikirkan wajah Emma-chan.
Kulihat
teman perempuan yang berdiri di sebelah gadis itu mengatakan sesuatu padanya,
lalu dengan tatapan tajam, temannya itu memelototi wajahku!
"...A-kun,
apakah kamu benar-benar kenal dengannya?"
"Etidak,
aku beneran tidak kenal..."
"Tapi
dari kelihatannya... dia memelototi kamu, lho...?"
Melihat
wajah gadis yang seakan menyimpan dendam kesumat kepadaku itu, Char tersenyum
canggung seraya menatapku.
Sumpah,
aku benar-benar tidak mengenalnya.
Kapan dan
di mana aku pernah membuatnya dendam pun aku sama sekali tidak tahu.
"――Hei
Aoyagi, Charlotte. Ngapain kalian bengong di situ? Ayo jalan."
Saat kami
mematung ditatap sinis oleh gadis tak dikenal, tiba-tiba Miyu-sensei sudah
berdiri di belakangku dan mencengkeram bahuku dengan kuat.
Kalau
kuperhatikan, dia hanya menyentuh bahu Char dengan lembut, jadi perlakuan
kasarnya padaku ini jelas-jelas disengaja.
"A-Aduh,
sakit, Sensei..."
"Ya
jelas sakit, orang aku sengaja neken kuat-kuat, kok."
Saat aku
melayangkan protes, ia malah membalasnya dengan senyuman lebar yang sangat
mengerikan.
Orang ini
titisan iblis atau apa, sih.
Setelah
itu, aku pun diseret dengan setengah memaksa untuk menyusul barisan teman-teman
sekelasku.
◆
"――Waktu
bebas, asyikkkk!!"
Setelah
menikmati hidangan Jingisukan (daging domba panggang khas Hokkaido)
untuk makan siang, pihak sekolah memberikan kami waktu bebas, mungkin karena
mempertimbangkan bahwa kami pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh di
hari pertama ini.
Sembari
melirik Kiriyama-san yang meluapkan kegembiraannya dengan heboh seolah
energinya baru saja full charge, aku menoleh ke arah Char yang sedang
tersenyum manis dengan embusan napas yang mengepul putih di udara dingin.
"Kamu
beneran tidak apa-apa tidak milih rombongan yang pergi main ski?"
Karena
jadwal hari ini dibagi menjadi dua pilihan: mereka yang ingin bermain ski dan
mereka yang ingin berjalan-jalan di kota, aku pun menanyakan keputusannya.
"Iya...
soalnya, aku kurang jago meluncur..."
Char
tertawa malu-malu, lalu mengalihkan pandangannya pada Karin yang berdiri di
sebelahnya.
"Lagipula,
mumpung sudah jauh-jauh datang ke Hokkaido, kita harus puas-puasin jalan-jalan
wisata, kan?"
"Nn...
Soalnya, belum tentu kita bisa datang ke sini lagi..."
Saat Char
memiringkan kepalanya dengan senyuman manis, Karin mengangguk penuh semangat
dengan wajah gembira.
Meskipun
ekspresinya tidak seheboh Kiriyama-san, sepertinya Karin juga sangat antusias.
"Kalian
berdua, tidak kedinginan?"
"Tidak
kok, saat di Inggris aku sudah terbiasa dengan cuaca dingin, jadi ini tidak
masalah."
"Kalau
aku, kayaknya agak kedinginan..."
Karena ini
di Hokkaido, cuacanya jauh lebih dingin dibandingkan dengan Okayama. Bagi Char
yang sejak lahir sudah terbiasa dengan suhu dingin, ini bukanlah apa-apa. Namun
bagi Karin yang tidak terbiasa, udara dingin ini cukup menusuk tulang.
Meski
sudah memakai mantel... tetap saja dingin ya dingin.
Ngomong-ngomong,
Char saat ini sedang memakai topi rajut putih berbulu yang tebal yang ia
dapatkan sebagai hadiah ulang tahun dari Kaguya-san, dipadukan dengan sweater
putih berbulu pemberian Shimizu-san dan teman-temannya yang terlihat sangat
hangat.
Melihatnya
saja sudah membuat hatiku merasa hangat dan terobati.
"Pakai
saja syalku ini. Aku juga bawa beberapa heat pack (koyo penghangat), mau
kupakaikan?"
Aku
melepaskan syal yang melingkar di leherku dan melilitkannya ke leher Karin,
lalu mengeluarkan koyo penghangat dari dalam tasku.
"Char,
bisa tolong tempelkan ini?"
Meskipun
dia adikku sendiri, menyingsingkan bajunya dan menempelkan koyo di lapisan
pakaian dalamnya di tempat umum seperti ini jelas bukan ide yang bagus. Jadi,
aku bermaksud meminta tolong Char yang sesama perempuan.
Namun――entah
kenapa, Char malah terlihat sedikit merajuk.
"Ada
apa?"
"Bukan
apa-apa... aku cuma ingin A-kun yang memakaikannya untukku..."
Sepertinya,
Char merasa sedikit iri melihat Karin yang memakai syal yang baru saja
kugunakan.
Sifat
pencemburunya padahal sudah banyak berkurang, tapi tampaknya tindakanku barusan
tetap masuk kategori pelanggaran di mata Char.
"Ah,
m-maaf..."
Karin yang
panik langsung berusaha melepas syalku.
Melihat
hal itu, Char memasang ekspresi bersalah. Tiba-tiba saja wajahnya kembali
cerah, seolah baru saja mendapatkan sebuah ide brilian.
"Kalau
begitu, biar syalku saja yang kupakaikan ke Karin-chan, ya."
Char
melepas syalnya sendiri, lalu dengan lembut melilitkannya ke leher Karin.
Kemudian,
sembari memegang syalku yang baru saja dikembalikan oleh Karin, Char menatap
wajahku dengan penuh harap.
"Char,
sini pinjam syalnya."
Sadar
betul apa yang ia inginkan dariku, aku menerima syal itu dari tangan Char, yang
langsung menyerahkannya dengan senyum semringah layaknya anak anjing yang
sedang mengibaskan ekor.
Tanpa
banyak bicara, aku perlahan melilitkan syalku ke lehernya, berhati-hati agar
tidak mencekiknya.
"Ehehe..."
Begitu
syalku terpasang di lehernya, Char tersenyum manis seraya menenggelamkan
separuh wajahnya di balik rajutan syal tersebut.
Aduh,
melihatnya bersikap semanis itu sukses membuat punggungku geli sendiri.
"――Pemandangan
macam apa yang lagi kita tonton ini, ya...?"
"Orang
lagi mesra-mesraan, lah."
Kiriyama-san
menatap interaksi kami dengan tatapan tajam nan sinis, sementara Shimizu-san
hanya mengangkat bahunya seolah berkata 'Udah biasa, kebal aku tuh'.
Ya, aku
benar-benar melupakan keberadaan mereka berdua...
"Ngomong-ngomong,
Aoyagi-kun. Bukankah rasanya kurang pantas kalau seseorang yang sudah punya
pacar memakaikan syalnya sendiri ke gadis lain?"
"Ugh..."
Karena
bagiku Karin sudah sepenuhnya menjadi seorang adik, tindakan yang kulakukan
secara refleks dan kuanggap wajar itu justru ditegur oleh Kiriyama-san, dari
sekian banyak orang yang ada.
Melihat
reaksiku, Shimizu-san menyemburkan tawa kecil 《Pfft...!》, lalu menatapku dengan seringai usil seakan berkata, 《Ditegur oleh anak yang biasanya tidak bisa
membaca suasana ini, tindakanmu pasti sudah sangat kelewatan, kan?》.
Ya, aku
sendiri juga sedikit terkejut mendengarnya.
"A-kun
itu orangnya sangat baik, jadi dia tidak bisa mengabaikan orang yang sedang
kesusahan."
Mengetahui
bahwa aku berusaha menghindari membongkar hubungan asliku dengan Karin kepada
Kiriyama-san, Char dengan sigap langsung membelaku.
"Benar
juga. Terlebih lagi, Shinonome-san itu tipe gadis yang memancing naluri untuk
melindungi, jadi mau bagaimana lagi, kan?"
Dan
Shimizu-san, yang tampaknya masih ingin terus menggodaku, ikut menimpali
pembelaan Char.
Meskipun
Kiriyama-san masih terlihat kurang puas, ia tampak memutuskan untuk tidak
mempermasalahkannya lebih lanjut dengan bergumam, 《Yah, kalau
Charlotte-san sendiri tidak keberatan sih ya sudah...》
"Terima
kasih, ya."
"Hyuu...!
Ti-tidak, hal semacam ini hanyalah perkara kecil..."
Saat kami
kembali berjalan, aku berbisik pelan ke telinga Char. Merasa kegelian, Char
sedikit menggeliat, lalu tersenyum dengan rona merah tipis di pipinya.
Gawat, aku
hampir saja menyalakan 'tombol'-nya...
Aku segera
menjauhkan wajahku dan membalas senyumannya.
Karena
telinga adalah titik paling sensitif bagi Char, jika aku tidak berhati-hati,
'tombol'-nya bisa menyala di tengah keramaian kota seperti ini.
Kalau hal
itu sampai terjadi, bukan tidak mungkin dia akan menarikku dan mencari tempat
sepi dari pandangan mereka bertiga... jadi, aku harus benar-benar menjaga jarak
aman.
"...Duh,
melihat kalian begini aku juga jadi ingin punya pacar, deh."
"Berusahalah."
"Azusa-chan
saja bisa gonta-ganti pacar seenaknya, kenapa aku tidak bisa, ya...?"
"Setiap
orang punya ritmenya masing-masing, jadi sebaiknya jangan terlalu dipikirkan.
Buktinya, aku sendiri juga belum pernah punya pacar sampai sekarang."
Entah
kenapa, Kiriyama-san menatap kami dengan tatapan kosong, sementara Shimizu-san
berusaha menenangkannya. Ada apa dengan mereka berdua?
"...Nee
nee, Aoyagi-kun. Aku juga kedinginan, lho~?"
Entah apa
yang ada di pikirannya, Kiriyama-san tiba-tiba berlari kecil menghampiriku dan
menatapku dengan tatapan memelas dari bawah.
"――Eh!?"
Tentu
saja, Char menjadi orang pertama yang bereaksi.
Namun,
karena Kiriyama-san adalah temannya, ia terlihat ragu untuk mengatakan apa pun.
Apa
kuberikan saja koyo penghangatnya padanya, ya――saat aku sedang
mempertimbangkan hal itu.
"Heh...!!"
Shimizu-san
mendaratkan chop yang cukup keras ke kepala Kiriyama-san.
Bukan
pukulan bercanda seperti saat di pesawat tadi, melainkan pukulan sungguhan.
"Aduh!
A-Apa yang kamu lakukan, Arisa-chan...!"
"Bukan
'apa yang kamu lakukan'...! Dari sekian banyak cowok, kenapa kamu malah
menggoda cowok yang sudah punya pacar...!"
Sementara
Kiriyama-san mengeluh dengan mata berkaca-kaca, Shimizu-san mengapit pelipis
temannya itu dengan kedua kepalan tangan, lalu mulai memutarnya dengan kuat.
Serangan
yang biasa disebut 'Umeboshi'...
"Ittatatatata!
Sakit! Arisa-chan, sakit tahu!!"
"Memang
sengaja kubuat sakit, tentu saja...!"
"Waaaaaa!
Cha-Charlotte-san, tolong aku...!"
Sambil
menerima hukumannya, Kiriyama-san meminta pertolongan pada Char dengan mata
berlinang air mata.
Mendengar
itu Char mencoba menghentikan Shimizu-san, namun Shimizu-san menolak dengan
alasan 《Dia butuh diberi
pelajaran!》.
Setelah
terus-menerus dihukum selama beberapa menit, Kiriyama-san akhirnya menyerah dan
terduduk lemas di tanah.
"Kalau
sudah kapok, jangan diulangi lagi, mengerti?"
"Uuu...
Arisa-chan kejam seperti iblis~! Lagipula, aku sama sekali tidak berniat
merebut Aoyagi-kun dari Charlotte-san, tahu~! Lebih tepatnya, aku mana mungkin
bisa merebutnya~!"
Kiriyama-san
mengusap air matanya dengan sapu tangan, lalu menepuk-nepuk kotoran di roknya
dengan tangan.
Sepertinya
hukuman tadi benar-benar menyakitkan...
"Bukan
bermaksud begitu... tapi kalau Shinonome-san saja diizinkan untuk
bermanja-manja, kupikir aku juga boleh melakukannya~..."
Yah,
penampilan dan perawakan Kiriyama-san memang sedikit mirip dengan Karin.
Meski
tidak seimut Karin, ia bertubuh mungil, berwajah awet muda, dan memiliki sifat
yang kekanak-kanakan.
Namun――pada
dasarnya, sudut pandangku terhadapnya dan Karin sangatlah berbeda...
"Menyamakan
Shinonome-san yang memancing naluri melindungi dengan gadis bodoh sepertimu
justru membuat Shinonome-san terlihat menyedihkan, tahu."
"Kalau
begitu ceritanya, akulah yang paling menyedihkan di sini, Arisa-chan!!"
Mendapat
komentar pedas dari sahabatnya, Kiriyama-san langsung melayangkan protes.
Mereka
berdua benar-benar sangat akrab.
Sama
halnya dengan Kousaka-san, sepertinya Shimizu-san memang memiliki kecocokan
dengan orang-orang yang bersifat kekanak-kanakan.
Buktinya,
ia juga secara tidak langsung sering menjaga dan memperhatikan Karin.
"...A-kun."
Saat aku
sedang menyaksikan interaksi layaknya duo komedian tersebut, Char menarik ujung
lengan bajuku.
Sepertinya
ada sesuatu yang ingin ia katakan...
"Ada
apa?"
"Aku
mengerti perasaan ingin mengulurkan tangan saat digoda oleh gadis yang manis...
tapi, kamu benar-benar tidak boleh berselingkuh, ya...?"
"...Iya,
aku sangat mengerti..."
Kemungkinan
besar, Char menyadari niatku yang hendak memberikan koyo penghangat tadi, dan
salah paham mengira aku telah goyah oleh rengekan Kiriyama-san.
Karena
Kiriyama-san juga cukup populer di kalangan anak laki-laki dengan predikat
"imut", wajar saja jika Char merasa khawatir.
Hanya
saja... sungguh, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa padanya...
"Nah,
abaikan saja si bodoh itu, mari kita segera berangkat."
Seolah
sudah selesai berurusan dengan Kiriyama-san, Shimizu-san kembali menghampiri
kami dengan senyuman.
Di
belakangnya, Kiriyama-san masih menggembungkan pipinya karena merajuk, namun
karena ia adalah tipe anak yang cepat melupakan kekesalan, membiarkannya saja
seharusnya tidak akan menjadi masalah.
Dengan
demikian, saat kami mulai berjalan menuju tempat tujuan pertama kami――
"――Hiks..."
Entah
kenapa, di pinggir jalan, ada seorang gadis yang membawa tas sekolah SMA kami
sedang terduduk sendirian.
"Anak
itu..."
"Umikawa-san...?"
Sama
sepertiku, Shimizu-san dan Char tampaknya juga menyadarinya.
Meskipun
ia memiliki sifat yang keras, ia adalah siswi yang teladan. Melihatnya
sendirian di tengah waktu kegiatan kelompok ini sungguh aneh.
Situasinya
juga tidak terlihat seperti ia sedang menunggu anggota kelompok lain yang
sedang pergi ke toilet atau berbelanja.
Tentu
saja, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja...
"Eh,
yang benar saja...!? Tunggu dulu, Aoyagi-kun...!"
Saat aku
mulai melangkah menghampiri Umikawa-san, Kiriyama-san berseru panik dari
belakang.
"Ada
apa?"
"Sebaiknya
kita tidak usah ikut campur...! Anak itu sangat merepotkan, tahu...!"
Tampaknya,
Kiriyama-san sangat menentang ide untuk menyapa Umikawa-san.
Anak ini
sekelompok dengan Shimizu-san, jadi mungkin ia pernah berselisih paham dengan
Umikawa-san sebelumnya.
Bukannya
aku tidak mengerti alasan penolakannya, tapi...
"Dia
terlihat sedang menangis, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
Karena
tidak tahu apa yang terjadi, aku ingin mencari tahu situasinya terlebih dahulu.
Siapa tahu
dia sedang menghadapi masalah serius atau berada dalam bahaya, mengabaikannya
tentu bukan pilihan yang benar.
"Tapi...!"
"Menyerahlah,
Kei. Aoyagi-kun memang orang yang seperti itu."
"A-kun
tidak akan pernah bisa membiarkan orang yang sedang kesulitan, lho."
Saat
Kiriyama-san hendak melayangkan protes lagi, Shimizu-san dan Char
menghentikannya.
Sementara
itu, aku dan Karin yang sedari tadi hanya mengikuti dalam diam, melangkah
mendekati Umikawa-san.
"Ada
apa?"
"Eh...?"
Mendengar
suaraku, Umikawa-san perlahan mendongakkan wajahnya.
Air mata
tampak menggenang di pelupuk matanya, dan ekspresinya terlihat murung dan
suram.
Sudah
kuduga, dia memang sedang menangis.
"――Ugh.
A-Aoyagi-kun...!? I-Ini...!"
Namun,
begitu menyadari bahwa akulah yang memanggilnya, ia buru-buru mengusap matanya
dengan lengan bajunya.
Fakta
bahwa gadis seapik dirinya tidak menggunakan sapu tangan adalah hal yang tak
biasa.
"Terjadi
sesuatu, kan? Maukah kamu menceritakannya padaku?"
Menyadari
bahwa ia adalah gadis yang memiliki harga diri tinggi dan sedikit
temperamental, aku berhati-hati memilih nada suara dan kata-kataku selembut
mungkin.
"B-Bukan
hal yang penting, kok..."
Namun,
sepertinya ia enggan membicarakannya.
Yah, wajar
saja, orang yang sedang menangis biasanya kesulitan menceritakan masalahnya
karena emosinya masih meluap-luap...
"Ada
masalah apa?"
Saat aku
kebingungan mencari cara agar ia mau bercerita, Char yang sudah menyusul di
belakangku bertanya dengan senyum lembutnya.
Ketimbang
aku, Char yang sangat populer di kalangan siswi perempuan mungkin lebih pantas
menghadapinya.
Saat aku
berniat mundur dan menyerahkannya pada Char――
"Kan
sudah kubilang bukan hal yang penting, kan?"
――Reaksi
Umikawa-san pada Char justru jauh lebih ketus daripada padaku.
Char yang
tidak terbiasa menghadapi penolakan sekeras ini, berjengit kaget dan mundur
selangkah, seolah tertekan oleh auranya.
Umikawa-san
ini, apa dia benar-benar menganggap Char sebagai musuh bebuyutannya...?
"Sudah
biarkan saja dia, Charlotte-san, Aoyagi-kun...!"
Merasa tak
terima melihat sikap permusuhan Umikawa-san terhadap Char, Kiriyama-san menarik
lenganku dan lengan Char.
Gadis ini
memang mudah akrab dengan orang lain, tapi dia cukup temperamental terhadap
orang yang tidak disukainya...
Waktu di
acara penyambutan Char di kafe pun, dia melontarkan komentar-komentar yang
cukup pedas padaku.
...Ah
bukan, kalau yang itu karena aku sengaja memancing emosinya, ya.
"Tunggu
sebentar, Kei. Anak yang saking teladannya sampai bikin muak ini sendirian di
tengah kegiatan kelompok, itu jelas aneh, kan?"
Secara tak
terduga, Shimizu-san lah yang menyela tindakan Kiriyama-san.
Padahal ia
juga sepertinya menjaga jarak dengan Umikawa-san, tapi pada akhirnya, ia juga
tipe orang yang tak bisa mengabaikan orang yang sedang kesusahan.
Kupikir
Shimizu-san tidak punya hak untuk menceramahiku soal itu.
"Aku
tidak masalah kok kalau kalian tinggalkan."
Aku tidak
ingin berurusan dengan kalian.
Memancarkan
aura yang jelas-jelas menyiratkan pesan tersebut, Umikawa-san mempertahankan
sikap keras kepalanya.
Namun,
seperti yang dikatakan Shimizu-san, dengan kepribadian teladannya, Umikawa-san
tidak mungkin sengaja memisahkan diri dari kelompoknya.
Satu-satunya
kemungkinan yang paling masuk akal adalah ia bertengkar dengan anggota
kelompoknya.
Jika
dugaanku benar, wajar saja ia merasa enggan untuk menceritakannya.
"Berada
sendirian di tempat yang tidak kamu kenal itu berbahaya, lho. Mau bergabung dan
berkeliling bersama kami?"
Meskipun
Umikawa-san adalah gadis yang mandiri dan aku yakin dia akan baik-baik saja,
tidak ada salahnya berjaga-jaga.
Karena
itulah aku mengajaknya tanpa maksud lain――namun, raut wajah Char seketika
berubah masam.
Ekspresinya
itu bukan berarti ia canggung karena harus bersama orang yang bersikap ketus
padanya――melainkan ekspresi yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya
melihatku mengajak gadis lain.
"Charlotte-san,
yang ini lebih baik kamu biarkan saja."
"Uuu...
begitulah... A-kun ini memang selalu saja menancapkan 'flag' di
mana-mana..."
Shimizu-san
yang menyadari perubahan ekspresi Char, mencoba menenangkannya sebagai
penggantiku.
...Ya,
begitulah.
Entah itu
bisa disebut sebagai pembelaan atau bukan.
Malahan,
sepertinya Char justru sudah pasrah...
"Lagipula,
kenapa juga aku harus ikut berkeliling dengan kalian..."
Dan di
sisi lain, Umikawa-san sendiri tampak sangat keberatan dengan ide itu.
Jangankan
pada Char, sepertinya ia juga membenciku, jadi tidak mungkin ia akan mengangguk
begitu saja.
Tapi, aku
juga tidak mungkin meninggalkannya sendirian di sini.
"Umikawa-san,
mau bergabung bersama kami? Kami juga ingin berjalan-jalan menikmati kota ini
bersama Umikawa-san."
Meski
sempat menerima penolakan yang keras, Char tidak menyerah dan kembali mengajak
Umikawa-san dengan ramah.
Tersentuh
oleh niat baik Char, Umikawa-san memalingkan pandangannya dengan canggung.
Sikap
dinginnya barusan mungkin hanya dipicu oleh rasa malu karena ketahuan menangis
dan emosinya yang sedang tidak stabil, pada dasarnya ia bukanlah gadis yang
jahat.
"Tapi,
aku..."
"Sudah,
sudah, jangan banyak alasan, ayo jalan~"
Melihat
Umikawa-san yang ragu-ragu――Shimizu-san tiba-tiba melingkarkan lengannya ke
lengan Umikawa-san dan mulai menariknya dengan paksa.
"Tunggu
dulu!? Aku ini tidak punya hubungan sedekat itu sampai harus bergandengan
lengan denganmu, tahu!?"
Umikawa-san
yang sepertinya tidak terbiasa bergandengan dengan teman sebayanya,
meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Shimizu-san.
"Habisnya
kalau tidak begini kamu tidak mau ikut, kan? Tenang saja, tenang saja, aku ini
tipe orang yang gampang akrab dengan siapa saja, kok."
"Masalahnya,
aku yang bukan tipe seperti itu...! Kamu pasti sengaja melakukannya,
kan!?"
Di satu
sisi, ada Shimizu-san; seorang gyaru yang ceria, pandai membawa diri,
dan selalu menjadi pusat perhatian.
Di sisi
lain, ada Umikawa-san; gadis teladan yang memimpin dengan prestasi dan tak
segan mengkritik hal yang salah.
Yah, kalau
dua orang dengan kepribadian yang saling bertolak belakang ini disatukan, wajar
saja jadinya seperti ini.
"Anggap
saja ini nasib sialmu karena ketahuan menangis sendirian."
"Aku
tidak menangis!!"
Menghadapi
Shimizu-san yang sama sekali tak berniat meladeninya dengan serius, Umikawa-san
membantahnya dengan putus asa. Namun, menyangkal bahwa ia tidak menangis
jelas-jelas adalah sebuah kebohongan yang terlalu kentara.
Sikap
santai Shimizu-san dalam menanganinya ini kemungkinan besar karena ia sudah
terlalu sering menghadapi Kousaka-san.
Bagaimanapun
juga, sifat Umikawa-san yang sekarang sangat mirip dengan Kousaka-san.
Begitulah
ceritanya kami mendapatkan tambahan anggota baru.
Aku sempat
bertanya apakah ada tempat yang ingin dikunjungi Umikawa-san, namun ia menjawab
tidak ada.
Karena
itu, kami memutuskan untuk mengikuti rute yang sudah kami rencanakan sejak
awal, dan Umikawa-san pun tidak keberatan.
Malahan,
aku sempat mendengarnya menggumamkan sesuatu seperti, 《...mengikuti rencana awal itu hal yang
penting, tahu...》 dengan
nada yang seakan menyindir seseorang. Jika benar ia bertengkar dengan anggota
kelompoknya, kemungkinan besar hal itulah yang menjadi penyebabnya.
Kupikir
aku akan menanyakannya lebih lanjut saat suasana hatinya sudah lebih membaik
nanti.
Akan
tetapi――
"Tetap
saja, berkeliling bersama kelompok lain itu bukan ide yang bagus..."
――Sifat
teladan Umikawa-san yang perlahan mulai kembali tenang, kembali muncul ke
permukaan.
Karena
Umikawa-san sudah bersedia berjalan bersama kami, Shimizu-san akhirnya
melepaskan lengannya. Namun, hal itu justru membuatnya kembali mendapatkan
ketenangannya.
Kiriyama-san
menggumamkan 《Tuh kan,
merepotkan...》 dengan suara pelan,
namun aku mengabaikannya dan tersenyum pada Umikawa-san.
"Ini
kan karyawisata, ditambah lagi sekarang waktu bebas, jadi kamu tidak perlu
terlalu memikirkannya, lho?"
"Tidak
boleh, kalau begitu, pembagian kelompok ini jadi tidak ada artinya."
Dia
benar-benar gadis yang kelewat teladan...
Apa yang
diucapkannya memang benar, tapi terkadang kita juga harus fleksibel menghadapi
situasi.
Nah,
bagaimana cara membujuk anak ini――aku mencoba melirik ke arah anggota
kelompokku yang lain.
Pertama,
aku menatap Char, lalu Shimizu-san. Setelah berpikir sejenak, keduanya
tersenyum manis seolah berkata, 《Kami
serahkan padamu》.
Senyuman
yang penuh kepercayaan, seakan mengatakan bahwa akulah ahlinya dalam hal
membujuk orang.
Selanjutnya,
saat aku beralih menatap Karin, ia justru terlihat kebingungan dan hanya
menatap Umikawa-san dalam diam.
Sedangkan
Kiriyama-san――sudah bisa ditebak, ia memasang ekspresi sangat tidak puas.
Sepertinya,
memang hanya aku yang bisa menyelesaikannya.
Untuk
membujuk gadis dengan tipe seperti ini――.
"Kalau
begitu, jika guru-guru mengizinkannya, tidak masalah kan?"
"Eh?
E-Eh... yah... begitulah..."
Mungkin
tak menyangka aku akan membawa-bawa nama guru, mata Umikawa-san membulat
sebelum akhirnya ia mengangguk ragu.
Tanpa
membuang waktu, aku segera menelepon Miyu-sensei.
《Aoyagi?
Ada keadaan darurat?》
Mendapat
panggilan telepon yang tiba-tiba, Miyu-sensei merespons dengan nada khawatir.
"Tidak,
bukan hal yang terlalu serius, kok――"
Aku pun
menceritakan situasi yang sedang terjadi pada Miyu-sensei.
Mendengar
penjelasanku, Miyu-sensei tertawa kecil lalu bergumam dengan nada pasrah, 《Entah kenapa kau ini selalu saja terlibat
dalam masalah, atau lebih tepatnya, kau sendiri yang suka ikut campur》.
Padahal
kurasa aku tidak melakukan hal yang salah...
Intinya,
karena Miyu-sensei ingin bicara dengan Umikawa-san, aku menyalakan mode speaker
di ponselku.
《Umikawa,
aku tak tahu apa yang terjadi padamu, tapi berkeliaran sendirian itu tidak bisa
dibiarkan. Jika kau sedang bersama kelompok Aoyagi, tetaplah bersama mereka.
Aku yang akan mengabari wali kelasmu.》
"Baiklah..."
Karena
sudah mendapat persetujuan langsung dari Miyu-sensei, Umikawa-san pun menurut
dengan patuh.
Namun
setelah panggilan berakhir, ia menatapku dengan sorot mata yang penuh tanda
tanya.
"Ada
apa?"
"Kenapa
kau bisa begitu dipercaya sampai sejauh itu..."
"Dipercaya...?
Kurasa tidak sampai seperti itu, kok... Seperti yang dikatakan Miyu-sensei,
berjalan sendirian itu tidak aman, jadi dia menyuruhmu ikut bersama kami,
sesederhana itu."
Melihat
Umikawa-san yang masih tampak tak percaya, aku memiringkan kepalaku dan mencoba
menjelaskannya.
Pada
kenyataannya, siapa pun yang menelepon, Miyu-sensei pasti akan mengatakan hal
yang sama.
"Penyelesaiannya
terlalu mulus... Seolah-olah dia berpikir asalkan kau ada di sana, dia tak
perlu repot-repot bertanya lebih detail..."
"Kurasa
itu cuma perasaanmu saja?"
Mungkin
baginya, asalkan aku tidak membiarkan Umikawa-san berkeliaran sendiri, maka
tidak ada masalah.
Yah,
mengenai alasan mengapa Umikawa-san bisa sampai sendirian, mungkin Miyu-sensei
berencana untuk menginterogasinya nanti setelah kembali ke hotel.
Jika
ditanya sekarang, Umikawa-san pasti akan mengelak. Miyu-sensei mungkin juga
berpikir bahwa tidak baik jika Umikawa-san harus menjalani sisa waktu wisata
ini dengan perasaan tak nyaman, sehingga ia berbaik hati tak mempertanyakannya
lebih jauh di telepon.
"Nah,
nah, karena Miyu-sensei sudah memberi izin, kamu sudah tidak punya alasan untuk
protes, kan?"
"Eh...
yah, begitulah..."
Saat
Shimizu-san menepuk kedua bahu Umikawa-san dari belakang dengan senyuman lebar,
Umikawa-san mengangguk kecil pasrah.
Sepertinya,
ia bukannya tidak mau ikut berkeliling bersama kami, ia hanya terlalu
mencemaskan konsekuensi dari bertindak di luar rencana.
Setelah
itu, kami pun melangkah menuju destinasi kami, Taman Odori.
"――Sudah
kuduga, Festival Salju Sapporo memang belum dimulai, ya..."
Setibanya
di taman, Kiriyama-san menundukkan bahunya dengan kecewa lantaran tidak ada
satu pun patung salju atau pahatan es dari karakter populer maupun kastel megah
yang biasa dipamerkan.
Kalau saja
karyawisata ini diadakan seminggu lebih lambat, kami mungkin masih bisa
mengejarnya, tapi mau bagaimana lagi.
"――Aku
juga ingin melihatnya..."
Saat aku
dan Char sedang memperhatikan Shimizu-san yang berusaha menghibur Kiriyama-san,
Umikawa-san yang berdiri di sebelahku bergumam pelan.
Meski
terdengar seperti berbicara pada dirinya sendiri, gadis ini tampaknya memang
menyukai hal-hal yang berbau seni dan keindahan.
"Sayang
sekali, ya. Tapi masih banyak tempat menarik lainnya, ayo kita jalan-jalan
lagi."
Aku
tersenyum dan mengajaknya.
Tepat pada
saat itu, Char tiba-tiba menusuk-nusuk pinggangku dengan raut wajah tak puas.
Aku pun menoleh dan memberikan senyuman padanya.
Melihat
interaksiku itu, Karin bergumam pelan, 《Sudah
kuduga, Kakak pasti kerepotan...》.
◆
Setelah
mengelilingi Taman Odori, Sapporo TV Tower, dan Taman Soseigawa, waktu yang
berlalu perlahan membuat ekspresi Umikawa-san kembali cerah.
Melihat
perubahan itu, aku bertukar pandang dengan Char dan Shimizu-san. Setelah
memastikan mereka berdua mengangguk, aku membuka mulut dengan senyuman.
"Ngomong-ngomong,
Umikawa-san, apa mungkin kamu bertengkar dengan anggota kelompokmu?"
"――Hah!?
Ba-bagaimana kau bisa tahu...!?"
Karena
pertanyaanku yang tiba-tiba, Umikawa-san dengan mudahnya membenarkan dugaanku.
Ternyata
benar, ia memang bertengkar dengan anggota kelompoknya.
"Hanya
firasat saja, kok. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu, dan aku juga yakin
Umikawa-san tidak mungkin mengatakan hal yang salah. Jadi, kalau kamu tidak
keberatan, maukah menceritakannya pada kami?"
Sembari
menunjukkan kesediaanku untuk mendengarkan, aku memintanya dengan lembut.
Mungkin
karena merasa sungkan telah menyusup ke kelompok kami dan merasa (dari sudut
pandangnya sendiri) telah merepotkan, Umikawa-san tidak langsung menolak
permintaanku dan tampak sedikit bimbang.
"Ayo,
terkadang bercerita itu bisa membuat perasaanmu lebih lega, lho? Kami tidak
akan menghakimimu, jadi ceritakan saja."
Di saat
Char biasanya akan mengambil alih, Shimizu-san justru maju untuk mendorongnya
bercerita, mungkin demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan jika Char
yang melakukannya.
Kiriyama-san
masih tampak tidak setuju, namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sembari
menunggu Umikawa-san merangkai kata――perlahan, ia pun membuka mulutnya.
"Anu...
Kami kan sudah merencanakan rutenya sejak awal, tapi mereka tiba-tiba
mengabaikannya dan mau bertindak seenaknya, makanya aku marah... Lalu, kami pun
bertengkar..."
Begitu
ya...
Meskipun
namanya "waktu bebas", bukan berarti kami bisa benar-benar bertindak
bebas sesuka hati.
Setiap
kelompok diwajibkan menyusun rute perjalanan saat masih di sekolah dan harus
mendapat persetujuan dari wali kelas.
Anggota
kelompoknya pasti memiliki tempat lain yang ingin dituju di luar rute yang
disetujui, dan hal itu berujung pada perdebatan dengan Umikawa-san yang
berpegang teguh pada aturan.
Jujur
saja, jika berada di posisi Umikawa-san, aku mungkin akan melakukan hal yang
sama dan akhirnya berdebat dengan mereka...
"Itu
pasti menyedihkan, ya. Padahal ini adalah kesempatan langka untuk jalan-jalan
bersama teman-teman..."
"Aku
tidak peduli soal itu... Lagipula, kelompok itu hanyalah kumpulan orang-orang
sisa yang tidak mendapat tempat di kelompok mana pun..."
"
" "............" " "
Mendengar
kejujuran Umikawa-san yang terdengar tanpa niat untuk sok kuat, aku, Char, dan
Shimizu-san saling melempar pandang dengan canggung.
Dalam
acara sekolah yang mengharuskan pembentukan kelompok, hal semacam ini memang
sering terjadi.
Meskipun
Umikawa-san tampak seperti tipe orang yang selalu memimpin di depan, yah...
jika ia berada di kelas yang dipenuhi orang-orang yang tidak cocok dengannya,
kejadian seperti ini tak bisa dihindari.
Saat aku
memikirkan hal itu――
"Yah,
wajar saja kalau anak ini tidak punya teman. Dia kan terlalu kaku dan
cerewet."
――Seperti
biasa, Kiriyama-san yang tak bisa membaca suasana melepaskan bom tanpa rasa
bersalah.
Mendengar
kata-katanya, mata Umikawa-san seketika bergetar karena syok dan ia tertunduk
lesu.
"Kamu
ini, bisakah diam saja."
Shimizu-san
langsung melayangkan chop sebagai bentuk hukuman pada Kiriyama-san,
namun berkat ulah Kiriyama-san, suasana di antara kami menjadi semakin
canggung.
Di tengah
situasi tersebut――hanya Karin seorang yang menatap Umikawa-san dengan mata
berbinar, seolah baru saja menemukan kawan senasib.
Duh,
tolong jangan pasang wajah senang hanya karena kamu menemukan sesama orang yang
tidak punya teman...
Sebagai
kakaknya, aku mulai merasa sedikit khawatir.
"Aku
sangat sadar kalau aku ini tidak disukai... Tapi aku tidak masalah dengan
itu... Lagipula, aku ini berbeda dengan Bennett-san, aku hanyalah orang kaku
yang tidak bisa berkompromi..."
Komentar
pedas Kiriyama-san tentang dirinya yang tak punya teman rupanya membuat
Umikawa-san menjadi sangat rendah diri.
Alasannya
membandingkan dirinya dengan Char kemungkinan besar bukan karena ia menganggap
Char sebagai musuh bebuyutannya, melainkan karena Char sendiri memang sangat
populer di sekolah, baik di kalangan siswa maupun siswi.
Akan
tetapi, setiap orang memiliki keunikannya masing-masing. Bagiku, Umikawa-san
sama sekali tidak memiliki sifat buruk yang tak termaafkan.
"Tapi,
sifatmu yang teladan dan bertanggung jawab itu adalah kelebihanmu, Umikawa-san.
Menyalahkanmu karena kelebihan itu justru terdengar aneh, kan? Setidaknya
bagiku, aku menyukai sisi dirimu yang seperti itu, lho."
Pada
kenyataannya, tipe orang seperti Umikawa-san cenderung lebih mengutamakan
aturan daripada terbawa suasana. Di sekolah seperti sekolah kami, tipe ini
memang rentan berselisih paham dengan orang-orang di sekitarnya.
Andai saja
ia berada di lingkungan yang mayoritas dipenuhi orang-orang teladan sepertinya,
ceritanya mungkin akan berbeda. Tapi, menyesali hal itu sekarang tidak akan
mengubah apa pun.
Setidaknya,
posisiku saat ini sangat memungkinkanku untuk memahami perasaannya.
Karena
itulah aku mencoba memvalidasi perasaannya――namun, mata Umikawa-san seketika
membelalak kaget, wajahnya memerah padam, dan ia mematung di tempat.
Di saat
yang sama, Shimizu-san menepuk dahinya seolah kepalanya tiba-tiba pening.
Bahkan Kiriyama-san pun bergumam, 《Uwaa...》, dengan ekspresi yang seakan berkata, 《Orang ini baru saja melakukan kesalahan
besar...》.
Lalu
bagaimana dengan Char? Ia tersenyum sangat manis――dengan aura hitam pekat
menguar dari tubuhnya.
Ya...
sepertinya aku baru saja melakukan kesalahan besar...
Sadar
bahwa aku tanpa sengaja melontarkan kalimat yang sangat fatal, pandanganku
mendadak kosong.
Detik
berikutnya, Char mencengkeram tanganku kuat-kuat――
"A-kun,
tolong jangan mencoba membangun harem, ya. Kesabaranku sudah mencapai
batasnya, lho."
――Dengan
senyuman yang tak pudar dari wajahnya, ia memarahiku.
"M-Maafkan
aku..."
Tertekan
oleh aura mengerikan Char, aku hanya bisa meminta maaf.
Shimizu-san
yang menatap kami bergumam sambil tersenyum masam, 《Aoyagi-kun,
di masa depan sepertinya kau akan berada di bawah kendali Charlotte-san, ya?》, dan jujur saja, aku pun memikirkan hal yang sama.
"Haaah...
A-kun ini benar-benar tidak bisa dibiarkan..."
Pada
akhirnya, Char menghela napas panjang melihat tingkahku.
Melihat
anak ini sampai menghela napas, berarti tindakanku barusan memang sangat
kelewatan.
"Umikawa-san,
mulai sekarang kita adalah teman, ya? Buktinya, sekarang kita bisa
berjalan-jalan dan bersenang-senang bersama. Shimizu-san, A-kun, dan Karin-chan
juga berpikiran yang sama, kok."
Setelah
menghela napas, Char menoleh ke arah Umikawa-san yang masih mematung dengan
wajah memerah. Dengan senyuman penuh kasih sayang layaknya seorang Saintess,
Char menggenggam tangan Umikawa-san.
Fakta
bahwa nama Kiriyama-san tidak disebutkan, entah itu disengaja atau memang
kepolosan alaminya...
Namun yang
jelas, Kiriyama-san terlihat sedikit syok.
Yah,
karena Shimizu-san sudah memberinya penghiburan (jika kalimat 《Itu salahmu sendiri》 bisa disebut penghiburan), kurasa Kiriyama-san akan
baik-baik saja.
"Teman...?"
Umikawa-san
menatap balik wajah Char dengan ragu.
Wajar saja
ia merasa bingung, mengingat orang yang baru saja ia anggap sebagai musuh bebuyutan
tiba-tiba melontarkan kalimat seperti itu.
Char
sendiri masih mempertahankan senyum lembutnya dan mengangguk 《Iya》 tanpa ada
niat tersembunyi.
Umikawa-san
lalu memalingkan pandangannya dari Char, menatap wajah Shimizu-san, lalu
beralih menatapku.
Setelah
kami berdua mengangguk mengiyakan, pandangannya akhirnya jatuh pada Karin. Saat
Karin mengangguk kuat-kuat, senyum tipis, meski hanya sekejap, akhirnya
tersungging di bibir Umikawa-san.
"Padahal
kita baru sebentar bersama... aneh sekali, ya..."
"Waktu
tidak ada hubungannya dengan menjadi teman, kok."
"Begitu...
ya..."
Kemungkinan
besar, Umikawa-san merasa senang mendengarnya.
Seperti
yang ia katakan, meski kami baru menghabiskan waktu bersama selama beberapa
jam, ia telah sepenuhnya menyatu dengan kelompok kami.
Orang luar
yang melihat kami pasti akan mengira bahwa kami adalah teman baik, dan baik
Char maupun Shimizu-san sudah pasti menganggap Umikawa-san sebagai teman.
Adapun
alasan Karin mengangguk begitu keras hanyalah karena ia terlalu bersemangat
mendapatkan 《Teman baru...!》, sungguh usaha yang keras.
Sebagai
kakaknya, melihat lingkar pertemanan adiknya perlahan meluas membuatku merasa
sangat terharu.
Di tengah
rasa haru melihat perkembangan adikku tersebut――
"Aaah,
astaga! Iya, aku mengerti! Aku juga, teman kalian! Kita berteman, kan!"
――Merasa
dirinya diabaikan, Kiriyama-san tiba-tiba menyela pembicaraan dengan raut wajah
sedikit malu-malu.
Gadis ini,
ternyata dia juga punya sisi Tsundere, ya.
Saat aku
sedang membatin demikian, Shimizu-san dan Char tertawa kecil melihat
tingkahnya.
Namun
sebaliknya, Umikawa-san justru mematung dengan mulut sedikit terbuka.
Tampaknya
ia tidak bisa mengikuti perubahan emosi Kiriyama-san yang tiba-tiba.
"A-Ada
apa? Aku tidak mengatakan hal yang aneh, kan?"
Mendapat
tatapan kebingungan dari Umikawa-san, Kiriyama-san menunjukkan raut wajah cemas
layaknya anak kecil.
Kemudian,
Umikawa-san yang tampaknya baru saja kembali ke alam sadarnya, menutupi
mulutnya dengan tangan dan perlahan membuka mulut.
"Tidak...
begitulah... Kalau dengan Kiriyama-san, kurasa aku harus memikirkannya
lagi..."
――Balas
Umikawa-san dengan nada yang benar-benar serius.
Bukan
bermaksud menggoda, sepertinya ia benar-benar mengatakan isi hatinya――
"Kalau
begini ceritanya, malah aku dong yang jadi anak paling menyedihkan di
sini!!"
――Dan
Kiriyama-san pun hanya bisa meratapi nasibnya.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.