Kanojo wo deresareru houhou wo, Shorau kekkon suru oredake ga shitteiru V1 EPS 5

N-Chan
0

Episode 5

Gadis yang Hilang


"Pa-payung plastik harganya dua ratus yen...?"

 

"Memangnya kenapa kalau segitu?"

 

Aku dan Yuki sedang berada di toko serba seratus yen dekat sekolah.

 

Ketua OSIS memberi kami masing-masing uang lima ribu yen dan berkata,

 

"Sebelum mulai bekerja di OSIS, belilah dulu barang-barang yang menurutmu perlu untuk bekerja. Oh ya, jangan lupa minta tanda terimanya."

 

"Kalian mau belanja? Kalau begitu, sekalian belikan barang-barangku."

 

Wakil ketua OSIS juga meminta kami untuk membelikan barang-barang untuknya. Isi catatannya adalah:

 

Permen dalam kemasan, sekotak cokelat, dan majalah Jump edisi minggu ini.

 

"Apa ini benar-benar boleh dibeli pakai uang OSIS?"

 

"Kalau permen dan cokelat mungkin tidak masalah, tapi yang terakhir pasti tidak boleh. Abaikan saja."

 

Yuki menghela napas dan pergi ke bagian alat tulis.

 

Sosok Yuki yang sedang berbelanja terlihat seperti Yuki di masa depan.

 

"Isi pensil mekanik... yang isi dua ini lebih murah."

 

Mungkin ini mengejutkan, tapi dia hemat.

Dia anak orang kaya dan seharusnya tidak pernah kesulitan uang sampai perusahaan keluarganya hampir bangkrut, tapi dia sangat memperhatikan harga saat berbelanja. Dia akan langsung pergi ke obral dan tanpa ragu memasukkan makanan siap saji yang ditempeli stiker diskon setengah harga ke keranjang belanja.

 

Saat kutanya kenapa, katanya itu kebiasaan dari ibunya.

 

Dia bilang semua keterampilan rumah tangga dan memasak yang dia miliki dipelajari dari ibunya.

 

Setahu ku, ibu Yuki meninggal karena sakit saat Yuki kelas enam SD.

 

Yuki bilang ibunya orang Polandia dan selalu ceria.

 

Apakah hidup Yuki akan berbeda jika ibunya masih hidup?

 

"Kenapa bengong?"

 

Yuki memukul kepalaku dengan kertas poster yang digulung.

 

"Tidak, aku hanya kagum karena kau pintar berbelanja."

 

Aku tidak bisa bilang kalau aku sedang membayangkan Yuki di masa depan. Aku mengalihkan pembicaraan.

 

"Tentu saja aku pintar. Aku yang bertugas memasak di rumah."

 

"Bertugas memasak?"

 

"Ibuku tidak ada, jadi aku yang memasak di rumah. Yah, meskipun ayahku sering makan di luar, dan kakakku selalu mengeluh soal rasa, jadi akhir-akhir ini aku hanya memasak untuk diriku sendiri."

 

"Mengeluh soal rasa? Padahal masakanmu enak sekali?"

 

Aku teringat masakan Yuki. Kemampuan memasaknya setara dengan koki restoran.

 

Apa lidah kakaknya rusak?

 

"Kau bicara apa? Kau kan belum pernah makan masakanku."

 

"Eh... ah."

 

Aduh. Aku keceplosan bicara soal masa depan.

 

"Tidak, itu hanya perumpamaan. Sepertinya Arisugawa pintar memasak."

 

"Apa aku terlihat seperti pintar memasak? Yah, aku yakin aku lebih pintar dari rata-rata orang."

 

Yuki bergumam dengan bangga.

 

"Aku akan senang kalau kau membuatkan bekal makan siang untukku..."

 

"Kenapa aku harus membuatkannya untukmu? Aku lebih baik memberikannya pada anjing liar daripada kau."

 

"Woof woof. Aku mau makan masakanmu."

 

"Apa kau tidak punya harga diri?"

 

"Aku lebih baik memberikannya pada anjing liar."

 

Semoga suatu saat nanti aku bisa makan masakannya lagi.

 

Entah kenapa, dia pintar memasak masakan Jepang. Terutama nikujaga dan buridaikon buatannya sangat enak.

 

"Daripada bicara yang aneh-aneh, apa kau sudah selesai belanja?"

 

"Iya. Aku sudah selesai."

 

Aku menunjukkan keranjang belanjaku padanya.


Alat tulis yang kubutuhkan dan barang-barang titipan wakil ketua OSIS sudah kubeli.

 

"Kalau begitu, ayo kita kembali. Kita harus cepat kembali dan menunjukkan bahwa kita bisa bekerja cepat."

 

"Kalau begitu, kau duluan saja. Aku mau mampir ke toko elektronik dulu."

 

"Toko elektronik? Mau beli apa?"

 

"Flashdisk. Aku mau pakai untuk backup data."

 

Sepertinya setiap anggota OSIS akan diberi satu laptop, tapi aku tidak tahu apakah pihak sekolah akan memulihkan datanya jika laptopnya rusak. Mungkin saja mereka hanya akan memberi laptop baru dan selesai.

 

Aku juga bisa mengunggahnya ke internet, tapi sebagai mantan pekerja kantoran, aku agak ragu. Flashdisk zaman ini mungkin cukup untuk file dokumen berukuran kecil.

 

"Begitu. Kalau begitu, aku duluan."

 

"Oke. Sampai jumpa nanti."

 

Setelah berpisah dengan Yuki, aku pergi ke toko elektronik terdekat.

 

"Ahahaha. Rasanya seperti sedang berada di toko barang antik."

 

Ada flashdisk berkapasitas 2 GB yang dijual, dan konsol game lama dipajang dengan megah sebagai produk terbaru.

 

Saat datang ke toko seperti ini, aku baru benar-benar merasa bahwa aku telah melakukan time leap.

 

Layanan cloud belum ada. Kecepatan internet juga lambat. Sebagai orang yang terbiasa dengan smartphone dan PC dengan spesifikasi tinggi, ini cukup merepotkan.

"Ah. Aku harus cepat kembali."

 

Meskipun aku sudah tahu apa yang ingin kubeli, aku malah asyik melihat-lihat isi toko.

 

Setelah selesai berbelanja dan hendak kembali ke sekolah, aku mendengar suara tangisan anak perempuan dari tempat parkir minimarket.

 

Karena penasaran, aku melihat ke sana, dan ternyata ada seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun yang sedang menangis tersedu-sedu.

 

Ada seorang siswi yang baru selesai berbelanja sedang mencoba menenangkannya.

 

"Yuki!?"

 

Bukankah dia seharusnya sudah kembali ke sekolah? Kenapa dia masih di sini?

 

"Hei, di mana ibumu...?"

 

"Huaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

 

"Apakah kamu tahu jalan pulang? Siapa namamu...?"

 

"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

 

Sepertinya dia tersesat. Tapi, dia tidak berhenti menangis.

 

"Bagaimana ini..."

 

Yuki menggigit bibirnya dengan wajah khawatir karena gadis kecil itu tidak juga berhenti menangis.

 

Orang-orang yang lewat juga tidak peduli, mungkin karena Yuki sudah menanganinya.

 

"Apa anak itu tersesat?"

 

"Suzuhara-kun."

 

Yuki tampak sedikit lega saat melihatku. Sepertinya dia merasa tidak nyaman sendirian.

 

"Sepertinya dia tersesat, tapi dia langsung menangis saat aku menyapanya..."

 

"Apakah dia terluka di suatu tempat?"

 

Tapi, aku tidak melihat luka di tubuh gadis kecil itu.

 

Aku berjongkok agar sejajar dengannya, lalu bertanya dengan lembut,

 

"Kenapa kamu menangis? Apakah ada yang sakit?"

 

Gadis kecil itu menatapku dengan mata berlinang air mata, lalu menunjuk Yuki dengan tangan kecilnya.

 

"Yuki Onna menakutkan!"

 

"Yu-Yuki Onna!?"

 

Yuki terkejut karena alasan gadis itu tidak berhenti menangis ternyata adalah dirinya sendiri. Dia tidak menyangka alasannya seperti itu.

 

"Yu-Yuki Onna..."

 

"Kenapa kau tertawa...?"

 

"Ti-tidak, ti-tidak apa-apa."

 

Saat aku berusaha menahan tawa, Yuki melotot padaku.

 

Memang sih. Yuki berambut perak dan berkulit putih. Wajar saja kalau dia dikira Yuki Onna.

Tapi, Putri Mawar Putih, Yuki Onna. Kenapa istriku punya banyak sekali julukan?

 

Pertama-tama, aku harus membuatnya berhenti menangis agar bisa bicara dengannya.

 

Aku mengambil beberapa permen buah dari tasku, meletakkannya di telapak tanganku, dan menyodorkannya ke gadis kecil itu.

 

"Mau makan permen? Kamu suka rasa apa?"

 

"...Stroberi."

 

Meskipun masih menangis, sepertinya dia ingin makan permen. Gadis kecil itu mengambil permen dengan tangannya yang kecil dan memasukkannya ke mulut.

 

"Bukannya itu permen titipan wakil ketua OSIS?"

 

"Tidak akan ketahuan kalau cuma satu atau dua."

 

Sepertinya itu berhasil. Gadis kecil itu menggulirkan permen di mulutnya dan berkata,

 

"Enak."

 

sambil tersenyum. Dia imut sekali.

 

"Begitu ya. Syukurlah."

 

Aku mengelus kepalanya dengan lembut dan berkata dengan nada menenangkan,

 

"Onee-chan ini bukan Yuki Onna."

 

"Ta-tapi, rambut dan kulitnya putih..."

 

"Kamu tahu orang asing? Rambut dan warna kulit orang asing itu berbeda lho."

"Aku tahu. Tapi, Onee-chan bicara bahasa Jepang terus. Orang asing itu bicara bahasa asing."

 

"Guh..."

 

Anak ini pintar berdebat.

 

"Aku punya darah Jepang, dan aku bisa bicara bahasa Jepang karena aku selalu tinggal di Jepang..."

 

"Aku tidak mengerti..."

 

Mungkin penjelasan Yuki terlalu sulit, gadis kecil itu menunduk dengan bibir mengerucut.

 

Hmm. Kalau begitu, aku coba cara lain.

 

"Yuki Onna itu seluruh tubuhnya dingin, kan?"

 

"Iya."

 

"Jadi, kalau tubuhnya hangat, berarti dia bukan Yuki Onna, kan?"

 

"...Iya."

 

"Kalau begitu, ayo kita pegang dan buktikan."

 

Aku mendorong gadis kecil itu untuk menyentuh Yuki.

 

".................. Hiks..."

 

Tapi, mungkin karena dia masih takut, dia bersembunyi di belakangku.

 

Baiklah. Aku yang akan jadi kelinci percobaan.

 

"Arisugawa. Pinjam tangan kirimu sebentar."

 

"Eh... tunggu..."

 

Aku menggenggam tangan Yuki.

 

"Lihat, tidak dingin, kan?"

 

Tubuh Yuki menegang karena terkejut, tapi aku tidak peduli dan menarik tangannya, lalu menunjukkannya pada gadis kecil itu.

 

"........."

 

Gadis kecil itu ragu-ragu, lalu menyentuh tangan Yuki dengan tangannya yang kecil.

 

"Benar. Hangat!"

 

Wajahnya tampak lega.

 

"Onee-chan benar-benar bukan Yuki Onna."

 

"Kan aku sudah bilang dari tadi..."

 

"Ah. Kalau dilihat lebih dekat, wajah Onee-chan tidak menakutkan. Merah."

 

"Eh..."

 

Wajahnya merah? Aku melihat wajah Yuki, dan benar saja, wajahnya merah padam.

 

Aku penasaran kenapa, tapi aku langsung mengerti alasannya.

 

Yuki memainkan tangannya yang tadi kupegang. Eh? Jangan-jangan, karena aku memegang tangannya, makanya dia jadi begitu?

 

"Ka-kalau mau pegang, bilang dulu. Aku kaget."

 

Dia bergumam pelan sambil mengerutkan kening.

 

Yuki di masa ini juga tidak kebal terhadap laki-laki, sama seperti di masa depan.

Karena dia tidak kebal di masa depan, wajar saja kalau dia juga tidak kebal di masa ini.

 

Ah, makhluk apa ini, imut sekali.

 

 

* * *

 

 

Setelah kesalahpahaman diselesaikan, kami menanyakan berbagai informasi dari gadis kecil itu.

 

Namanya Fujimiya Ayaka. Katanya dia berumur empat tahun.

 

Ayaka-chan datang ke supermarket bersama neneknya. Dia mencoba pulang sendirian, tapi tersesat.

 

"Kenapa kamu mencoba pulang sendirian?"

 

"Aku ingin dipuji karena bisa pulang sendiri..."

 

"Be-begitu ya...?"

 

Mungkin dia sedang di usia di mana dia senang dipuji karena bisa melakukan sesuatu sendiri.

 

Pasti neneknya sangat khawatir.

 

"Akan lebih mudah kalau dia bawa ponsel. Tapi, tidak mungkin dia punya ponsel."

 

"Memang, dia baru empat tahun... Dia pasti tidak punya ponsel anak-anak juga."

 

GPS tracker juga belum ada di zaman ini.

 

"Polisi? Atau kita coba ke supermarket?"

 

"Sebaiknya kita ke pusat informasi anak hilang di supermarket."

Pasti neneknya juga pergi ke sana.

 

"Kalau begitu, ayo kita kembali ke supermarket. Kamu ingat dari mana kamu datang?"

 

"Tidak tahu..."

 

Ayaka-chan menggelengkan kepalanya sambil menggumamkan sesuatu.

 

"Supermarket di sekitar sini cuma Daikaku atau Januko. Jaraknya sama-sama dekat dari sini."

 

"Kita tidak bisa bergerak kalau tidak tahu yang mana. Repot kalau kita salah jalan."

 

"Kita mungkin bisa tahu kalau ada ciri-cirinya. Supermarket yang kamu kunjungi tadi seperti apa?"

 

"Eee... eee..."

 

Ayaka-chan berpikir sejenak, lalu berkata dengan bangga,

 

"Banyak orang!"

 

Keduanya memang ramai.

 

"Dan, banyak permen yang dijual!"

 

Keduanya juga menjual banyak permen.

 

"Dan, resleting celana karyawan di bagian sayur terbuka."

TLN: Ppfffffttttt

 

Seharusnya kamu bilang langsung ke orangnya.

 

Tidak bisa. Tidak ada informasi yang berguna.

 

Lagipula, kedua supermarket itu mirip... Perbedaannya hanya ada tempat parkir atau tidak...


Eh? Tempat parkir...

 

"Oh ya. Tadi kamu naik apa ke supermarket? Kereta? Atau mobil?"

 

"Mobil. Aku naik mobil putih."

 

Bingo! Aku menjentikkan jariku.

 

"Daikaku dekat stasiun, jadi tidak ada tempat parkir. Hanya Januko yang punya tempat parkir."

 

Tidak mungkin orang pergi ke supermarket yang tidak punya tempat parkir kecuali ada alasan khusus.

 

"Di sana ada pusat informasi anak hilang, jadi kita bisa minta mereka untuk mengumumkannya."

 

"Benar juga. Kalau begitu, ayo kita ke sana."

 

Ngomong-ngomong, kalau dia datang naik mobil, berarti rumahnya lumayan jauh ya? Dia hebat sekali karena mencoba pulang jalan kaki.

 

"Ngomong-ngomong, apa kau tinggal di sekitar sini? Sepertinya kau tahu banyak tentang daerah ini."

 

"Iya. Aku tinggal di kota sebelah, jadi aku jalan kaki ke sekolah setiap hari."

 

"Begitu ya... Rumahku jauh, jadi aku iri padamu."

 

Karena tidak ada trotoar dan banyak mobil yang lewat, aku memutuskan untuk menggandeng tangan Ayaka-chan saat pergi ke Januko. Karena dia masih berumur empat tahun, dia berjalan lambat.

 

Kalau aku sendiri, sepuluh menit sudah cukup, tapi sepertinya akan butuh waktu dua kali lipat.

 

"Hmm..."

 

Setelah berjalan beberapa saat, Ayaka-chan berhenti.

 

"Aku lelah. Gendong."

 

Serius?

 

"Bisakah kamu bertahan sedikit lagi?"

 

"Tidak bisa. Aku akan dimarahi."

 

"Wah, gawat."

 

Anak ini tahu banyak kosakata sulit.

 

Ternyata Ayaka-chan hampir menangis. Aku tidak mau dia menangis lagi. Dengan berat hati, aku menggendongnya.

 

Mungkin kami sudah berjalan sekitar seratus meter. Ayaka-chan mengerutkan kening dan berkata,

 

"Onii-chan, gendongannya jelek."

 

"Guh."

 

Aku kan tidak tahu cara menggendong anak kecil.

 

"Tidak mau digendong di punggung?"

 

"Tidak mau. Perutku sesak."

 

Anak ini banyak maunya. Ayaka-chan turun dari gendonganku dan pergi ke Yuki, lalu merengek,

 

"Onee-chan. Gendong."

 

"Eh? A-aku?"

 

"Iya. Onii-chan itu keras. Aku mau yang empuk."


Dia merentangkan tangannya dan menatap Yuki dengan mata memohon agar digendong.

 

"Baiklah..."

 

Yuki menggendong Ayaka-chan dengan enggan. Sepertinya dia agak berat.

 

"Ba-bagaimana?"

 

"Iya. Onee-chan sedikit lebih empuk daripada Onii-chan."

 

Cuma sedikit?

 

"Ma-maaf. Dadaku tidak sebesar ibumu."

 

Yuki memeluk Ayaka-chan dengan wajah kesal.

 

Di masa depan, dia berdada E cup, tapi saat kelas satu SMA, paling besar cuma B cup.

 

"Hmm."

 

Ayaka-chan menggeliat, mencoba mencari posisi gendong yang nyaman.

 

"Ja-jangan banyak bergerak."

 

Yuki menggeliat karena geli.

 

Oh ya, Yuki di masa depan juga gelian. Terutama di sekitar tulang selangkangannya, kalau dielus dengan jari, reaksinya lucu sekali.

 

Saat aku memikirkan hal itu, Yuki yang sedang menggeliat tampak seksi di mataku.

 

 

* * *



"Ayaka-chan!"


Saat kami pergi ke pusat informasi anak hilang di Januko, ada seorang wanita tua berwajah khawatir duduk di kursi.

 

Begitu melihat Ayaka-chan, dia langsung berdiri dan berlari ke arahnya.

Tadi dia bilang itu neneknya, tapi dia terlihat sangat muda. Mungkin masih berusia lima puluhan.

 

Dia wanita anggun yang mengenakan pakaian bagus dan kalung mutiara. Seperti seorang nyonya.

 

"Terima kasih banyak. Di mana kalian menemukannya?"

 

"Di tempat parkir minimarket, sekitar sepuluh menit jalan kaki dari sini."

 

"Eh!? Kenapa dia bisa ada di sana...?"

 

"Sepertinya dia mau pulang sendiri."

 

Neneknya pun terdiam. Wajar saja, cucunya yang hilang di dalam toko malah ditemukan di luar toko, hampir satu kilometer jauhnya.

 

Baiklah, saatnya reuni yang mengharukan. Aku menepuk punggung Ayaka-chan.

 

Peluklah nenekmu sepuasmu.

 

"Nenek! Ayaka bisa pergi ke minimarket sendiri!"

 

Kami semua tercengang.

 

Anak ini! Dia tidak peduli dengan fakta bahwa dia tersesat dan malah mengklaim bahwa dia pergi ke minimarket sendirian!

 

Dia tidak tahu malu. Tapi, karena dia imut, dia tidak dimarahi. Anak yang mengerikan!

 

Kurasa dia akan jadi orang hebat di masa depan.

 

"Anak ini benar-benar..."

 

Neneknya tersenyum kecut sambil mengelus Ayaka-chan, lalu menoleh ke arah kami dan berkata,

 

"Terima kasih banyak kalian berdua."

 

sambil membungkuk dalam-dalam.

 

"Tidak apa-apa, ini sudah seharusnya."

 

"Oh, kalian siswa Shichibo ya?"

 

"Iya. Kami baru jadi siswa SMA musim semi ini."

 

"Oh ya? Kalian pacaran?"

 

"Iya." "Tidak! Kami hanya teman sekelas!"

 

Saat aku mengangguk, Yuki membantahnya dengan keras.

 

"Oh, hubungan yang rumit."

 

Nenek itu melihat lencana di dada kami dan berkata dengan kagum,

 

"Kalian berdua pasti pintar."

 

Sepertinya dia tahu tentang lencana Shichibo.

 

"Anda tahu banyak ya."

 

"Yah, begitulah. Dulu aku sering terlibat dalam berbagai acara..."

 

Dia berkata pelan dengan wajah mengenang masa lalu. Aku penasaran. Apakah anaknya dulu bersekolah di Akademi Shichibo?

 

"Oh ya. Setidaknya, izinkan aku mentraktir kalian sebagai ucapan terima kasih. Kalian suka makanan manis? Kalian kan masih muda, pasti suka?"

"Ti-tidak, tidak usah repot-repot."

 

"Jangan sungkan. Aku akan memesan tempat duduk bersama anak ini. Datanglah ke food court di lantai dua."

 

Dia tidak mendengarkan penolakan kami dan pergi bersama Ayaka-chan.

 

"Repot ya. Aku ingin cepat kembali ke sekolah..."

 

"Yah, kita bisa cepat kembali kalau makannya cepat."

 

"Hmm. Kita makan dan minum yang ditraktir, lalu cepat kembali."

 

Sambil mengobrol, kami pergi ke food court.

 

Duk.

 

Saat sampai di food court, ada dua parfait besar di atas meja. Itu adalah parfait jumbo yang paling mahal.

 

"Ah, kalian sudah datang. Ayo, makan sampai kenyang!"

 

Nenek Ayaka-chan melambaikan tangan dengan senyum lebar.

 

"Kenapa orang tua suka sekali mentraktir anak muda makan banyak?"

 

"Mungkin karena mereka sudah tidak bisa makan banyak, jadi mereka ingin kita yang makan."

 

Aku sendiri juga mulai kesulitan menghabiskan gyudon porsi besar setelah mendekati usia tiga puluh, dan jadi suka melihat anak-anak lulusan baru makan dengan lahap, jadi aku sedikit mengerti.

 

Kami pun duduk di depan parfait jumbo itu. Untunglah aku masih muda. Kalau aku yang sudah dewasa, parfait sebanyak ini pasti akan membuatku mulas.

 

"Enak... enak..."

Ayaka-chan makan crepe di sebelahku. Karena dia tidak bisa makan dengan rapi, wajah dan tangannya belepotan krim. Imut.

 

"Ah, anak ini... Aku ambilkan tisu dulu."

 

Neneknya tersenyum kecut dan pergi.

 

"Kita juga harus cepat makan dan kembali."

 

"Ah, iya."

 

Sambil melirik Yuki yang sedang makan parfait dengan mulut kecilnya, aku mengambil sendokku.

 

Eh, tunggu dulu.

 

Kalau dipikir-pikir, ini seperti pasangan ya?

 

Pulang sekolah lalu jajan di food court bersama perempuan. Ini tidak pernah terjadi di SMA-ku dulu.

 

"Kau tidak keberatan?"

 

"Eh? Ke-keberatan apa?"

 

Aduh. Apa dia tahu aku sedang berpikir yang aneh-aneh? Aku panik, tapi sepertinya bukan itu masalahnya.

 

"Maksudku... waktu bersamaku... itu... orang-orang melihat kita dengan penasaran."

 

"Eh... Ah..."

 

Aku baru menyadarinya setelah dia mengatakannya.

 

Pelanggan lain melirik ke arah kami.

 

Penampilan Yuki memang mencolok. Dia selalu dilirik orang saat berjalan.


Seperti yang dia katakan, setelah kami menikah di masa depan, tatapan seperti ini cukup mengganggu.

 

Terutama tatapan dari para pria sangat menusuk. Seolah-olah mereka berkata, "Kenapa orang sepertimu bisa menikahi wanita secantik itu?"

 

Tapi, manusia itu bisa terbiasa, dan lama-kelamaan aku tidak peduli lagi. Aku bahkan bisa membalas tatapan iri para pria dengan ekspresi sombong, seolah-olah berkata, "Iri ya? Mau?" Saking tebal mukaku.

 

"Yah, aku tidak terlalu peduli dengan hal seperti itu."

 

"Hmm... Kau ternyata berani juga."

 

"Lagipula, yang dilihat orang-orang itu kan kau, bukan aku. Apa kau tidak apa-apa?"

 

"Apa? Jangan-jangan kau mengkhawatirkanku...?"

 

Yuki berhenti menggerakkan sendoknya dengan ekspresi terkejut.

 

Saat aku mengangguk, dia berkata sambil menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan,

 

"Tidak perlu khawatir. Aku sudah terbiasa sejak kecil."

 

Oh, sepertinya dia senang.

 

Yuki punya kebiasaan menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan saat sedang senang. Seperti anjing yang mengibaskan ekornya saat senang.

 

Dan, dia tidak menyadarinya.

 

"Ngomong-ngomong, tadi kita sempat bicara soal Ayaka-chan yang tidak bawa ponsel, kan?"

 

"Iya."

 

"Bagaimana kalau kita tukeran nomor ponsel sekarang?"

 

Aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan pose siap.

 

Yuki berpikir sejenak, lalu memalingkan wajahnya dan berkata dengan suara seperti anak kecil,

 

"Tidak mau."

 

"Kenapa?"

 

"Karena kau pasti akan mengirimiku email tentang hal-hal tidak penting selain OSIS."

 

Kau yang bilang begitu? Aku tersenyum kecut.

 

Yuki di masa depan dan aku menggunakan LINE untuk berkomunikasi, tapi Yuki yang lebih sering mengirim pesan. Mungkin tiga kali lebih sering dariku.

 

Dia selalu mengirimiku pesan tentang hal-hal yang tidak terlalu penting, seperti "Aku menemukan gambar kucing yang lucu" atau "Aku menemukan kue yang enak".

 

Yah, itu juga lucu sih.

 

"Lagipula, aku tidak bawa ponsel ke sekolah."

 

".................."

 

Dia juga bilang begitu sebelumnya, tapi apa benar begitu?

 

Yuki memang serius, tapi dia juga tipe orang yang selalu siap.

 

Aku tidak percaya dia tidak membawa ponsel untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu.

 

Aku coba pancing dia sedikit.

 

"Arisugawa. Kau bawa ponsel?"

 

"Kenapa kau berpikir begitu?"

 

"Karena tadi tasmu bergetar. Mungkin ada telepon masuk."

 

"? Bohong. Aku sudah mematikan ponselku... Ah."

 

Setelah mengatakan itu, sepertinya Yuki menyadari kalau dia sudah terjebak.

 

Dia gemetar dan berkata,

 

"Kau menipuku... Kau menyebalkan!"

 

"Kau tahu bumerang? Benda yang akan kembali saat dilempar."

 

"Guh..."

 

Yuki terdiam dengan wajah memerah.

 

"Onee-chan, Onii-chan, kalian bertengkar?"

 

Ayaka-chan yang sudah selesai makan crepe bertanya sambil melihat kami berdua bergantian.

 

"Iya. Kami sedang bertengkar."

 

"Bertengkar dengan anjing Chihuahua?"

 

"Kenapa kau mengajari anak kecil hal yang aneh-aneh!"

 

Yuki menghela napas panjang, lalu pasrah dan mengeluarkan ponsel lipat putih dari tasnya.

 

"Aku akan mengabaikan email yang tidak penting."

 

"Baiklah. Aku akan memeriksa emailku dengan cermat sebelum mengirimkannya."

Begitulah caranya aku mendapatkan nomor ponsel Yuki.

 

Yuki tidak terbiasa bertukar nomor ponsel, jadi dia melakukannya sambil melihat layar ponselku, dan dia menyimpan nomorku dengan nama "Telepon Spam".

 

Kejam.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !