Kanojo wo deresareru houhou wo, Shorau kekkon suru oredake ga shitteiru V1 EPS 6

N-Chan
0

Episode 6

Sendirian Setelah Sekolah


Salah satu tugas OSIS adalah membuat koran OSIS.

 

Ada dua jenis koran di sekolah ini, yang diterbitkan oleh klub surat kabar dan OSIS.

 

Koran klub surat kabar seperti majalah hiburan yang berfokus pada berita eksklusif dan hiburan.

 

Saat melihat edisi-edisi lama yang disimpan, ada artikel yang mengungkap bahwa kepala sekolah memakai wig. Mereka benar-benar bebas melakukan apa saja. Hebat sekali koran itu tidak dilarang.

 

Sedangkan koran yang diterbitkan oleh OSIS kebanyakan berisi hal-hal serius, seperti jadwal acara sekolah dan wawancara dengan alumni.

 

Kami harus membuatnya sebulan sekali.

 

"Eee, ini digeser ke sini... Oke. Tampilannya jadi lebih bagus."

 

Aku sedang membuat koran OSIS bulan depan dengan software DTP. Yuki menulis artikelnya, dan aku yang mengerjakannya di komputer.

 

Artikel yang ditulis Yuki memang tidak terlalu menarik, tapi tulisannya rapi dan mudah dibaca. Hanya saja, dia suka menggunakan kata-kata sulit, jadi aku sedikit mengeditnya.

 

"Oke. Selesai."

 

Setelah memeriksa tampilannya, aku menekan tombol enter.

 

Meskipun software-nya lama dan agak sulit digunakan, hasilnya tidak terlihat seperti buatan siswa.


"Bagus. Kalian berdua hebat. Aku tidak percaya ini hasil karya pertama kalian."

 

Ketua OSIS tampak sedikit terkejut saat aku menunjukkan koran OSIS yang sudah dicetak.

 

Wajar saja, aku kan mantan pekerja kantoran. Membuat dokumen itu mudah bagiku.

 

Ketua OSIS merapikan dokumen-dokumen itu dan berkata,

 

"Kalau begitu, aku pulang dulu. Bisakah kalian mengunci pintunya?"

 

"Ah, baik. Aku masih akan bekerja sebentar."

 

"Bekerja keras itu bagus, tapi jangan berlebihan."

 

Ketua OSIS pulang, dan tinggal aku dan Yuki berdua.

 

Wakil ketua OSIS jarang datang, dia plin-plan.

 

Pekerjaannya adalah mendamaikan orang-orang yang bertengkar dan mendengarkan keluh kesah siswa, jadi saat dia tidak ada kerjaan, dia ikut bermain dengan berbagai klub.

 

Sugita-senpai datang setiap hari, tapi dia selalu pulang pukul lima sore. Dia sangat disiplin soal jam kerja.

 

Hari ini pun, dia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan menghilang begitu saja.

 

Yang paling sering di sini adalah ketua OSIS, dia biasanya yang terakhir pulang. Hari ini dia pulang lebih dulu, mungkin karena pekerjaannya cepat selesai.

 

Jadi, ini pertama kalinya aku dan Yuki hanya berdua di ruang OSIS.

 

"Kau tidak pulang? Kau kan sudah tidak ada kerjaan."

 

"Ah, yah, aku tidak ada kerjaan di rumah. Aku akan menunggu sampai Arisugawa selesai."

 

"Tidak perlu."

 

Meskipun Yuki mengatakan itu, dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Suara ketikan keyboard-nya bergema di ruang OSIS yang sunyi.

 

Sinar matahari sore menembus jendela dan menyinari rambut perak Yuki. Aku menatap pemandangan itu dengan saksama.

 

"Hei, kenapa kau terus melihatku? Aku jadi tidak fokus."

 

Yuki berkata dengan wajah kesal, mungkin menyadari tatapanku.

 

"Karena menurutku kau imut."

 

"Ka..."

 

Yuki tersipu sejenak mendengar jawabanku yang blak-blakan, lalu berkata dengan wajah kesal,

 

"Iya iya. Kau pasti bilang begitu ke semua cewek."

 

Aku memang punya kebiasaan memuji Yuki tanpa sadar, sama seperti diriku di masa depan.

 

Karena dia memang imut.

 

"Aku tidak bilang begitu ke semua cewek."

 

"Benarkah? Kau tidak merayu cewek seperti itu sejak SMP?"

 

"Tidak, aku tidak punya pacar saat SMP."

 

"Begitu ya... Jadi kau selalu gagal... Turut berduka cita..."

 

Tiba-tiba tatapan Yuki menjadi lembut.

Eh? Jangan-jangan dia mengira aku orang menyedihkan yang selalu merayu cewek tapi selalu gagal?

 

 

* * *

 

 

"Oke. Selesai."

 

Saat matahari sudah hampir terbenam dan hari mulai gelap, Yuki membaca sekilas dokumen yang sudah selesai, lalu mematikan komputer.

 

"Oh. Kerja bagus."

 

Karena tidak ada kerjaan, aku browsing internet.

 

"Kau lagi melihat apa?"

 

Yuki bertanya saat melewatiku untuk mengembalikan dokumen ke rak.


"Hmm? Twitter."

 

Layanan media sosial yang juga terkenal di masa depan. Layanan ini baru diluncurkan di Jepang tahun lalu, jadi penggunanya belum banyak, tapi cukup berguna.

 

"Twitter? Apa itu?"

 

Yuki memiringkan kepalanya sedikit, mungkin karena tidak tahu. Memang belum terkenal di zaman ini.

 

"Bisa dibilang itu forum online yang bisa berbagi informasi secara real-time. Kurasa ini akan populer nanti."

 

"Hmm. Kau pintar komputer ya. Kau juga terlihat mahir waktu membuat koran OSIS."

 

Oh. Apa dia kagum?

Mungkin dia sedikit terkesan padaku. Syukurlah aku bekerja dengan sungguh-sungguh...

 

"Kukira kau lagi melihat situs porno."

 

Dia sama sekali tidak terkesan padaku.

 

Eh? Apa image-ku seperti itu!?

 

"Situs porno ya... Aku tidak berani melihatnya waktu ada cewek di sebelahku."

 

"Jangan lihat situs porno meskipun sendirian, bodoh. Nanti komputernya kena virus, bisa gawat."

 

"Tenang saja. Aku sudah berpengalaman selama bertahun-tahun, jadi aku sudah memasang antivirus. Spyware, trojan, apa pun boleh datang."

 

"Sepertinya aku tahu kenapa kau jadi pintar komputer."

 

Yuki menghela napas dengan wajah kesal. Lalu, dia berkata...

 

"Ngomong-ngomong, kakakku juga melihat hal yang mirip."

 

Dia bergumam.

 

"Lalu, apa yang bisa dilakukan di Twitter itu?"

 

"Berbagi informasi, promosi, dan lain-lain. Kita bisa langsung dapat berita terbaru, jadi sangat berguna."

 

"Hmm. Bisa dilihat di ponsel juga?"

 

"Di ponsel... Sepertinya belum bisa."

 

Seingatku, aplikasi Twitter untuk ponsel jadul dirilis sekitar tahun depan.


Aku ingin mencarinya. Saat aku mengalihkan pandangan ke monitor komputer, ada tweet yang muncul di timeline.

 

"Kereta di Jalur Seiyo berhenti beroperasi karena kerusakan. Menyebalkan."

 

Jalur Seiyo adalah jalur kereta yang melewati stasiun terdekat dari sekolah ini.

 

"Ada apa?"

 

"Kereta di Jalur Seiyo berhenti beroperasi."

 

Dan sepertinya itu terjadi dua stasiun dari stasiun terdekat sekolah ini.

Aku tidak masalah karena jalan kaki, tapi Yuki naik kereta.

 

"Kau bisa tahu hal seperti itu juga?"

 

"Kebetulan, orang yang kuikuti di Twitter mencuit tentang itu."

 

"Apa kau tahu kapan keretanya akan beroperasi lagi?"

 

"Entahlah. Tapi, mungkin satu atau dua jam lagi."

 

Sekarang sudah lewat pukul setengah delapan malam. Sebentar lagi jam pulang sekolah wajib.

Kalau ini terjadi lebih awal, kami bisa menghabiskan waktu di ruang OSIS.

 

"Tidak bisa ditolong. Jalur Seta masih beroperasi, kan? Aku akan jalan kaki ke Stasiun Ikehata meskipun agak jauh."

 

Yuki menghela napas dan memakai tasnya.

 

"Stasiun Ikehata ya..."

 

Memang, dari sini kita bisa sampai ke Stasiun Ikehata dengan jalan kaki sekitar tiga puluh menit.

Tapi, daerah sekitar stasiun itu rawan kejahatan...

 

Kalau malam, banyak berandalan yang nongkrong di sana, dan banyak calo dan laki-laki hidung belang.

 

Aku tidak bisa membiarkan Yuki pergi ke sana sendirian...

 

Kami mengunci ruang OSIS dan keluar dari sekolah. Sepertinya sudah hampir tidak ada siswa di sekolah.

 

"Hei, bagaimana kalau kita tunggu sampai kereta di Jalur Seiyo beroperasi lagi?"

 

"Menunggu? Di stasiun? Padahal kita tidak tahu kapan keretanya akan beroperasi lagi?"

 

"Kalau begitu, kita karaoke untuk menghabiskan waktu."

 

"Mampir ke tempat hiburan itu melanggar peraturan sekolah."

 

"Kalau begitu, ke rumahku saja."

 

"Ti-tidak mungkin aku ke sana."

 

Begitu ya.

 

"Kau aneh dari tadi. Ada apa?"

 

"Yah, karena daerah sekitar stasiun itu rawan kejahatan. Aku khawatir."

 

"Menurutku lebih berbahaya kalau aku main ke rumahmu begitu saja."

 

Astaga. Dia benar sekali.

 

Saat aku sedang mencari ide lain, kami sampai di persimpangan tempat kami biasa berpisah.

 

"Kalau begitu, sampai jumpa besok."

 

Yuki berkata begitu dan mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan rumahku.

 

".................."

 

Ah! Aku khawatir! Aku berbalik dan mengejar Yuki, lalu berjalan di sampingnya.

 

"Hei. Kenapa kau mengikutiku?"

 

"Yah, aku khawatir, jadi aku mau mengantarmu."

 

"Oh, jadi begitulah stalker lahir. Aku jadi tahu."

 

"Arisugawa, kau belum pernah ke Stasiun Ikehata, kan? Aku tahu jalan di sekitar sini."

 

"Aku bisa pakai aplikasi GPS di ponselku. Lihat!"

 

Yuki menunjukkan layar ponselnya padaku. Tapi, layarnya mati.

 

"Apa ponselmu mati?"

 

"Eh? Loh?"

 

Yuki menekan tombol power agak lama, tapi ponselnya tidak merespons.

 

Sepertinya baterainya habis. Karena dia jarang pakai ponsel, dia tidak sadar kalau baterainya habis.

 

"Di sini ada GPS manusia yang tidak perlu dicas, bagaimana?"

 

"........."

 

Yuki tampak sedikit kesal, tapi mungkin karena tidak ada pilihan lain, dia berkata dengan bibir mengerucut,

 

"Aku tidak akan berterima kasih padamu karena kau yang memaksa ikut."

 

Justru aku yang ingin berterima kasih padanya. Aku harus bayar kalau mau jalan-jalan di malam hari berdua dengan siswi SMA yang imut.

 

Semakin dekat ke stasiun, semakin ramai. Setelah melewati perumahan, mulai banyak bar dan tempat hiburan.

 

"Kau benar, daerah ini memang tidak terlalu aman."

 

"Kan?"

 

Hampir tidak ada siswa lain selain kami. Ada calo, pekerja kantoran yang mau minum-minum, pasangan yang sedang berkencan, dan berandalan.

 

Yuki menyipitkan mata dan melihat sekeliling dengan waspada.

 

Rambut peraknya sangat mencolok, jadi aku bisa melihat semua orang dewasa di sekitar melihat ke arahnya.

 

"Hei, Nona, kau tertarik jadi model?"

 

Seorang pria berjas kurus berdiri di depan Yuki.

 

Mungkin dia pencari bakat model majalah.

 

"Kau cantik. Wajahmu seperti orang Jepang, jadi kau blasteran seperempat atau setengah? Seragam itu, dari Akademi Shichibo? Kau pasti pintar."

 

Pria itu mengeluarkan kartu nama dari saku dadanya dan mencoba memberikannya pada Yuki.

 

"Tenang saja. Yang akan memotretmu adalah staf perempuan. Kau hanya perlu pakai baju yang kami siapkan dan berfoto. Tidak akan butuh waktu lebih dari dua jam. Bayarannya sepuluh ribu yen,

tapi untukmu, aku bisa kasih dua kali lipat, dua puluh ribu yen. Bagaimana?"

 

"Tidak, itu..."

 

"Kalau kau sibuk hari ini, bisa di hari lain. Kalau kau pelajar, mungkin hari Sabtu atau Minggu lebih baik?"

 

Pencari bakat itu terus berbicara tanpa henti.

 

Yuki di masa depan akan langsung menolak dan mengabaikannya, tapi Yuki di masa ini sepertinya belum terbiasa menolak orang.

 

Sepertinya aku harus menolongnya.

 

Aku menggenggam tangan Yuki erat-erat dan berkata,

 

"Maaf, orang tuanya sangat ketat."

 

Aku berbohong tanpa pikir panjang dan membawanya ke jalan belakang yang sepi. Seharusnya kita bisa sampai ke stasiun dari sini.

 

"Sudah aman, jadi lepaskan tanganku."

 

"Ah, i-iya."

 

Ketika aku melepaskan tangannya, Yuki menatap tangannya yang tadi kugenggam sambil termenung memikirkan sesuatu.

 

"Arisugawa?"

 

"Eh. A-apa?"

 

"Tidak, hanya saja kau tiba-tiba melamun. Apa kau ingin menjadi model?"

 

"Tidak juga. Bukan begitu..."

 

Yuki di masa depan bilang dia tidak tertarik menjadi model, tapi mungkin Yuki di masa sekarang berbeda.

 

Tapi, meskipun itu model pembaca yang sehat, aku tidak suka dia difoto.

 

"Mungkin kalau lewat jalan ini, tidak akan ada pencari bakat..."

 

Saat mengatakan itu, aku menyadari sesuatu.

 

"Ya ampun..."

 

Di depan kami, ada banyak hotel dengan papan neon merah muda yang menyala dengan aneh.

 

Gang belakang ini, apa ini distrik cinta?!

 

Meskipun untuk melarikan diri dari pencari bakat, aku malah membawa Yuki ke jalan ini.

 

Ini bisa terlihat seperti aku mencoba membawanya ke hotel.

 

Haruskah aku menjelaskannya sebelum Yuki mulai ribut? Saat aku mulai memikirkan tindakan untuk melindungi diriku sendiri,

 

"Hotel dengan warna aneh."

 

kata Yuki dengan ekspresi bingung.

 

"…………………… Ee?"

 

Jangan bilang, dia tidak tahu apa itu hotel cinta?

 

Tidak, mungkin dia tahu konsepnya, tapi tidak mengenali ini sebagai hotel cinta.

 

"Kenapa kau terkejut? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?"

 

"Eh, tidak, itu..."


"Apa ini bukan hotel? Tapi, ada tulisannya 'hotel'."

 

Yuki menatap hotel cinta dengan neon ungu yang menyala paling dekat dengan tatapan penasaran.

 

"All-in... Sepertinya nama tokonya. All-in, itu kan, istilah saat bertaruh semua chip yang dimiliki di poker, kan?"

 

Mungkin nama itu plesetan dari all-in dan arti gaulnya.

 

"Apa ini berbeda dengan hotel biasa? Sepertinya sempit..."

 

"Ehm, ini hotel yang tidak boleh dimasuki anak-anak..."

 

"Hotel yang tidak boleh dimasuki anak-anak...? Maksudnya tidak boleh berisik?"

 

"Bukan, justru boleh berisik, maksudku, hotel tempat orang bisa ribut..."

 

"????????"

 

Yuki menatapku dengan ekspresi "apa yang kau bicarakan?". Matanya murni dan tidak ternoda. Jangan lihat aku. Jangan lihat aku dengan mata seindah itu....

 

"Kalian anak sekolah tidak boleh masuk~"

 

Saat itu, seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda berusia sekitar dua puluhan tahun berjalan melewati kami sambil berpegangan tangan dan masuk ke hotel.

 

"Sepertinya benar kalau anak-anak tidak boleh masuk. Apa mereka pasangan suami istri? Usia mereka sepertinya terpaut jauh..."

 

Yuki bergumam dan mulai menganalisis.

 

Dengan informasi sebanyak ini, apa dia akan menyadarinya?

 

"..................!"

 

Rambut Yuki berdiri, dan wajahnya semerah apel matang.

 

Sepertinya dia akhirnya mengerti.

 

"Ko-kotor!"

 

"Kenapa aku yang dimarahi? Aku tidak melakukan apa-apa."

 

"I-itu memang benar, tapi..."

 

Yuki mendongak dan menunjukku dengan wajah panik.

 

"Ja-jangan-jangan, kau menarik tanganku tadi karena mau membawaku ke sini...?"

 

"Bukan, bukan! Ini benar-benar kebetulan!"

 

Aku buru-buru membela diri.

 

"Aku tidak sengaja masuk ke sini! Eh? Alasanku jadi tidak meyakinkan."

 

"Kenapa kau bicara sendiri?"

 

Yuki sepertinya masih curiga, tapi dia akhirnya percaya padaku. Lalu, dia membetulkan tasnya dan berkata,

 

"Ayo kita cepat ke stasiun. Kalau ada yang melihat kita berdua di sini, bisa jadi gosip..."

 

Aku tidak masalah kalau ada gosip bahwa aku dan Yuki pacaran.

 

Tapi, aku tidak mau ada gosip bahwa kami pergi ke hotel cinta. Kalau itu terjadi, kami akan dipanggil guru.

 

Yah, tapi aku rasa kemungkinan bertemu orang yang kita kenal di sini sangat kecil.

 

"Eh? Yuki?"

 

Seorang pria yang keluar dari pintu masuk hotel cinta di depan kami memanggil namanya.

 

Dia memiliki rambut hitam dan kulit putih. Tubuhnya tinggi dan tegap dengan lengan berotot.

 

"Ka-kakak..."

 

Itu Arisugawa Yuuma.

 

Auranya sangat berbeda dengan saat dia berpidato di rapat siswa kemarin.

 

Sama seperti saat aku bertemu dengannya di masa depan. Wajahnya yang tampan dan karisma alaminya masih sama. Tapi, kesan murid teladan sudah hilang sepenuhnya.

 

Rambutnya disisir ke belakang, dan dia memakai kalung rantai emas di lehernya. Gayanya seperti artis yang centil, sampai-sampai aku hampir tidak mengenalinya.

 

"Oh, kau kenal Yuuma?"

 

Di belakangnya ada seorang wanita cantik berkulit cokelat. Dia wanita berusia dua puluhan tahun yang tinggi.

 

"Hmm? Ah, ini adikku. Dia mirip denganku, wajahnya lumayan, kan?"

 

Yuuma menunjuk Yuki sambil merangkul pinggang wanita cantik itu.

Bukan hanya auranya. Cara bicaranya juga berbeda dengan saat di sekolah. Lebih mirip dengan yang kuingat di masa depan.

 

"Meskipun masih agak awal, aku akan mengantarnya pulang. Aku senang hari ini."

 

"Ya. Aku juga. Sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ini."

 

Yuuma menarik dagu wanita cantik itu dan menciumnya.

 

"Apa..."

 

Aku sudah menduganya karena mereka keluar dari hotel cinta, tapi ternyata mereka memang seperti itu.

 

Yuki yang melihat dari dekat sampai melongo seperti ikan.

 

"Kalau begitu, aku telepon lagi nanti malam."

 

"Ya. Sampai jumpa."

 

Setelah melambaikan tangan pada wanita cantik itu yang pergi ke arah stasiun, Yuuma berkata dengan nada rendah,

 

"Menyebalkan. Jangan sok jadi pacar cuma karena sudah tidur denganku sekali."

 

sambil mengacak-acak rambutnya. Lalu, dia menoleh ke arah Yuki dan berkata,

 

"Kenapa kau di sini?"

 

"Kereta di Jalur Seiyo berhenti beroperasi, jadi aku jalan kaki ke stasiun ini."

 

"Bohong. Kau tidak mungkin lewat jalan belakang ini. Jangan-jangan kau tertarik?"

 

"Jangan samakan aku denganmu. Aku lewat sini karena ada pencari bakat aneh di jalan utama."

 

Yuki memelototi Yuuma dan berkata,

 

"Ngomong-ngomong, wanita tadi... Dia bukan wanita yang waktu itu, apa kau sudah putus dengan yang sebelumnya?"

 

"Yang sebelumnya siapa? Misaki? Atau Haruka?... Lagipula, yang tadi itu bukan pacarku."

 

"Bukan pacar...?"

 

"Iya. Dia guru les bahasa Inggrisku. Katanya dia sedang libur. Aku cuma iseng main-main dengannya."

 

Yuuma berkata dengan santai.

TLN: Anying playboy beneran.

 

"Main-main... Kalian baru saja keluar dari... ho-hotel..."

 

"Hotel cinta. Jangan heboh. Itu tempat tujuan akhir laki-laki dan perempuan."

 

Yuuma mengacak-acak rambut Yuki dan berkata dengan nada mengejek,

 

"Aku selalu bilang, kau harus hilangkan sifat kekanak-kanakanmu itu."

 

"..................!"

 

Wajah Yuki memerah karena marah.

 

"Kenapa? Wajahmu merah. Apa kau malu melihat kami berciuman? Kau masih belum kebal terhadap laki-laki ya. Aku tidak menyuruhmu untuk langsung punya pacar, tapi bagaimana kalau kau coba berteman dengan laki-laki dulu?"

 

"...punya..."

 

"Hah? Apa? Aku tidak dengar karena suaramu kecil."

 

"A-aku punya teman laki-laki!"

 

Mendengar itu, Yuuma tertawa kecil dengan nada kasihan.

 

"Kau memang selalu begitu dari dulu. Kebohonganmu yang sok keren itu mudah sekali ketahuan."

"Aku tidak bohong! Aku pulang bersamanya hari ini."

 

Yuki menarik lenganku.

 

".........Serius?"

 

Yuuma akhirnya menyadari keberadaanku dan melihat ke arahku.

 

"Hmm."

 

Setelah menatapku dengan saksama, dia berkata,

 

"Senang bertemu denganmu... mungkin? Aku Yuuma, kakak cewek ini."

 

Dia menyapaku dengan sopan.

 

"Aku Suzuhara Masaomi. Kau mantan ketua OSIS, kan? Aku melihatmu saat pidato perpisahan."

 

Yuuma melirik lencana Shichibo emas di dadaku dan berkata,

 

"Jadi, kau juara kelas yang masuk OSIS tahun ini?"

 

"Iya."

 

"Oh. Kalau kalian berteman, apa kalian sering pergi main bareng saat libur?"

 

"Itu..."

 

"Pasti belum?"

 

Yuuma menepuk punggungku sambil menyeringai, lalu menoleh ke arah Yuki dan berkata,

 

"Yuki. Orang yang cuma kau temui di OSIS itu bukan teman. Mereka cuma teman sekelas yang kebetulan ikut OSIS."

 

"Ugh!"


Wajah Yuki memerah karena ketahuan.

 

Begitu ya. Jadi dia selalu diejek seperti ini. Aku mulai mengerti kenapa Yuki membenci Yuuma.

 

"Ka-kami sudah janji..."

 

"Eh?"

 

Yuki memelototi Yuuma dengan mata berkaca-kaca dan berteriak,

 

"Kami sudah janji untuk pergi main bareng saat liburan Golden Week nanti!"

 

Aku terdiam.

 

Bohong.

 

Kami tidak pernah membuat janji seperti itu.




"......Bagaimana menurutmu?"

 

Yuuma menatapku dengan tatapan curiga.

 

"!"

 

Di belakangnya, Yuki memelototiku dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya dia ingin aku mengiyakannya.

 

Aku berdeham agar suaraku tidak terdengar gemetar, lalu berkata,

 

"Benar. Kami sudah berencana untuk menonton film bersama."

 

Aku berbohong.

 

"Serius? Kukira Yuki akan menolak dengan bilang 'Aku tidak tertarik dengan film'."

 

"Dia sudah menolakku berkali-kali. Dia bilang tidak tertarik dengan film romantis, dan film animasi itu kekanak-kanakan. Aku kesulitan memilih filmnya."

 

"Hmm."

 

Apa tidak apa-apa berbohong seperti ini? Aku baru saja mengarang alasan bahwa kami sudah berjanji untuk menonton film bersama.

 

Yuuma masih tampak curiga, tapi dia menghela napas dan berkata dengan santai,

 

"Yah, maaf maaf. Memang benar sih. Baru satu bulan sejak masuk sekolah. Mungkin nanti."

 

"Tapi, pasti ramai saat Golden Week. Mau kuberi tahu tempat kencan lain?"

 

"I-ini bukan kencan! Kami hanya teman!"

 

"Iya iya."

Yuuma tampak terkejut mendengar teriakan Yuki, lalu menepuk pundakku dan berkata,

 

"Suzuhara-kun, kan? Bisakah kau mendekat?"

 

Dia berbisik pelan agar Yuki tidak mendengarnya.

 

(Kau pasti kesulitan mengiyakan kebohongan itu.)

 

Keringat dingin mengucur di pipiku.

 

Dia tahu. Yah, wajar saja kalau dia tahu.

 

Mungkin Yuuma tidak membahasnya lebih lanjut karena dia pikir itu lebih menarik.

 

Vrrr. Vrrr.

 

Ponsel Yuuma berbunyi.

 

"Oh, dari Yuzu-chan. Aduh, aku lupa kalau aku sudah janji dengannya."

 

Yuuma mulai berjalan ke arah stasiun.

 

"Kalau begitu, sampai jumpa. Kalian berdua pulanglah sebelum kemalaman."

 

"Dia sendiri yang bilang begitu padahal dia..."

 

Yuki bergumam sambil melihat Yuuma yang semakin menjauh.

 

"Hei, soal liburan tadi..."

 

"Ah, ee, itu... anu..."

 

Aku tertawa kecil melihat Yuki yang panik, lalu berkata dengan gembira,

 

"Kau ingat ajakanku minggu lalu?"

"Eh?"

 

Yuki tampak bingung.

 

"Minggu lalu, sepulang sekolah, aku mengajakmu untuk menonton film saat Golden Week, kan? Karena kau mengabaikanku, aku kira kau menolakku."

 

"Ee, ee..."

 

Tentu saja aku bohong. Aku tidak pernah mengajaknya.

 

Tapi, aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini.

 

Aku akan memanfaatkan kebohongannya. Aku tersenyum jahat dalam hati.

TLN: Tukang ngibul semua wak.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !