Episode
6
Sendirian
Setelah Sekolah
Salah satu tugas
OSIS adalah membuat koran OSIS.
Ada dua jenis
koran di sekolah ini, yang diterbitkan oleh klub surat kabar dan OSIS.
Koran klub surat
kabar seperti majalah hiburan yang berfokus pada berita eksklusif dan hiburan.
Saat melihat
edisi-edisi lama yang disimpan, ada artikel yang mengungkap bahwa kepala
sekolah memakai wig. Mereka benar-benar bebas melakukan apa saja. Hebat sekali
koran itu tidak dilarang.
Sedangkan koran
yang diterbitkan oleh OSIS kebanyakan berisi hal-hal serius, seperti jadwal
acara sekolah dan wawancara dengan alumni.
Kami harus
membuatnya sebulan sekali.
"Eee, ini
digeser ke sini... Oke. Tampilannya jadi lebih bagus."
Aku sedang
membuat koran OSIS bulan depan dengan software DTP. Yuki menulis artikelnya,
dan aku yang mengerjakannya di komputer.
Artikel yang
ditulis Yuki memang tidak terlalu menarik, tapi tulisannya rapi dan mudah
dibaca. Hanya saja, dia suka menggunakan kata-kata sulit, jadi aku sedikit
mengeditnya.
"Oke.
Selesai."
Setelah
memeriksa tampilannya, aku menekan tombol enter.
Meskipun
software-nya lama dan agak sulit digunakan, hasilnya tidak terlihat seperti
buatan siswa.
"Bagus.
Kalian berdua hebat. Aku tidak percaya ini hasil karya pertama kalian."
Ketua OSIS tampak
sedikit terkejut saat aku menunjukkan koran OSIS yang sudah dicetak.
Wajar saja, aku
kan mantan pekerja kantoran. Membuat dokumen itu mudah bagiku.
Ketua OSIS
merapikan dokumen-dokumen itu dan berkata,
"Kalau
begitu, aku pulang dulu. Bisakah kalian mengunci pintunya?"
"Ah, baik.
Aku masih akan bekerja sebentar."
"Bekerja
keras itu bagus, tapi jangan berlebihan."
Ketua OSIS
pulang, dan tinggal aku dan Yuki berdua.
Wakil ketua OSIS
jarang datang, dia plin-plan.
Pekerjaannya
adalah mendamaikan orang-orang yang bertengkar dan mendengarkan keluh kesah
siswa, jadi saat dia tidak ada kerjaan, dia ikut bermain dengan berbagai klub.
Sugita-senpai
datang setiap hari, tapi dia selalu pulang pukul lima sore. Dia sangat disiplin
soal jam kerja.
Hari ini pun,
dia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan menghilang begitu saja.
Yang paling
sering di sini adalah ketua OSIS, dia biasanya yang terakhir pulang. Hari ini
dia pulang lebih dulu, mungkin karena pekerjaannya cepat selesai.
Jadi, ini
pertama kalinya aku dan Yuki hanya berdua di ruang OSIS.
"Kau tidak
pulang? Kau kan sudah tidak ada kerjaan."
"Ah, yah,
aku tidak ada kerjaan di rumah. Aku akan menunggu sampai Arisugawa
selesai."
"Tidak
perlu."
Meskipun Yuki
mengatakan itu, dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Suara ketikan
keyboard-nya bergema di ruang OSIS yang sunyi.
Sinar matahari
sore menembus jendela dan menyinari rambut perak Yuki. Aku menatap pemandangan
itu dengan saksama.
"Hei,
kenapa kau terus melihatku? Aku jadi tidak fokus."
Yuki berkata
dengan wajah kesal, mungkin menyadari tatapanku.
"Karena
menurutku kau imut."
"Ka..."
Yuki tersipu
sejenak mendengar jawabanku yang blak-blakan, lalu berkata dengan wajah kesal,
"Iya iya.
Kau pasti bilang begitu ke semua cewek."
Aku memang punya
kebiasaan memuji Yuki tanpa sadar, sama seperti diriku di masa depan.
Karena dia
memang imut.
"Aku tidak
bilang begitu ke semua cewek."
"Benarkah?
Kau tidak merayu cewek seperti itu sejak SMP?"
"Tidak, aku
tidak punya pacar saat SMP."
"Begitu
ya... Jadi kau selalu gagal... Turut berduka cita..."
Tiba-tiba
tatapan Yuki menjadi lembut.
Eh?
Jangan-jangan dia mengira aku orang menyedihkan yang selalu merayu cewek tapi
selalu gagal?
* * *
"Oke.
Selesai."
Saat matahari
sudah hampir terbenam dan hari mulai gelap, Yuki membaca sekilas dokumen yang
sudah selesai, lalu mematikan komputer.
"Oh. Kerja
bagus."
Karena tidak ada
kerjaan, aku browsing internet.
"Kau lagi
melihat apa?"
Yuki bertanya
saat melewatiku untuk mengembalikan dokumen ke rak.
"Hmm?
Twitter."
Layanan media
sosial yang juga terkenal di masa depan. Layanan ini baru diluncurkan di Jepang
tahun lalu, jadi penggunanya belum banyak, tapi cukup berguna.
"Twitter?
Apa itu?"
Yuki memiringkan
kepalanya sedikit, mungkin karena tidak tahu. Memang belum terkenal di zaman
ini.
"Bisa
dibilang itu forum online yang bisa berbagi informasi secara real-time. Kurasa
ini akan populer nanti."
"Hmm. Kau
pintar komputer ya. Kau juga terlihat mahir waktu membuat koran OSIS."
Oh. Apa dia
kagum?
Mungkin dia
sedikit terkesan padaku. Syukurlah aku bekerja dengan sungguh-sungguh...
"Kukira kau
lagi melihat situs porno."
Dia sama sekali
tidak terkesan padaku.
Eh? Apa image-ku
seperti itu!?
"Situs
porno ya... Aku tidak berani melihatnya waktu ada cewek di sebelahku."
"Jangan
lihat situs porno meskipun sendirian, bodoh. Nanti komputernya kena virus, bisa
gawat."
"Tenang
saja. Aku sudah berpengalaman selama bertahun-tahun, jadi aku sudah memasang
antivirus. Spyware, trojan, apa pun boleh datang."
"Sepertinya
aku tahu kenapa kau jadi pintar komputer."
Yuki menghela
napas dengan wajah kesal. Lalu, dia berkata...
"Ngomong-ngomong,
kakakku juga melihat hal yang mirip."
Dia bergumam.
"Lalu, apa
yang bisa dilakukan di Twitter itu?"
"Berbagi
informasi, promosi, dan lain-lain. Kita bisa langsung dapat berita terbaru,
jadi sangat berguna."
"Hmm. Bisa
dilihat di ponsel juga?"
"Di
ponsel... Sepertinya belum bisa."
Seingatku,
aplikasi Twitter untuk ponsel jadul dirilis sekitar tahun depan.
Aku ingin
mencarinya. Saat aku mengalihkan pandangan ke monitor komputer, ada tweet yang
muncul di timeline.
"Kereta di
Jalur Seiyo berhenti beroperasi karena kerusakan. Menyebalkan."
Jalur Seiyo
adalah jalur kereta yang melewati stasiun terdekat dari sekolah ini.
"Ada
apa?"
"Kereta di
Jalur Seiyo berhenti beroperasi."
Dan sepertinya
itu terjadi dua stasiun dari stasiun terdekat sekolah ini.
Aku tidak
masalah karena jalan kaki, tapi Yuki naik kereta.
"Kau bisa
tahu hal seperti itu juga?"
"Kebetulan,
orang yang kuikuti di Twitter mencuit tentang itu."
"Apa kau
tahu kapan keretanya akan beroperasi lagi?"
"Entahlah.
Tapi, mungkin satu atau dua jam lagi."
Sekarang sudah
lewat pukul setengah delapan malam. Sebentar lagi jam pulang sekolah wajib.
Kalau ini
terjadi lebih awal, kami bisa menghabiskan waktu di ruang OSIS.
"Tidak bisa
ditolong. Jalur Seta masih beroperasi, kan? Aku akan jalan kaki ke Stasiun
Ikehata meskipun agak jauh."
Yuki menghela
napas dan memakai tasnya.
"Stasiun
Ikehata ya..."
Memang, dari
sini kita bisa sampai ke Stasiun Ikehata dengan jalan kaki sekitar tiga puluh
menit.
Tapi, daerah
sekitar stasiun itu rawan kejahatan...
Kalau malam,
banyak berandalan yang nongkrong di sana, dan banyak calo dan laki-laki hidung
belang.
Aku tidak bisa
membiarkan Yuki pergi ke sana sendirian...
Kami mengunci
ruang OSIS dan keluar dari sekolah. Sepertinya sudah hampir tidak ada siswa di
sekolah.
"Hei,
bagaimana kalau kita tunggu sampai kereta di Jalur Seiyo beroperasi lagi?"
"Menunggu?
Di stasiun? Padahal kita tidak tahu kapan keretanya akan beroperasi lagi?"
"Kalau
begitu, kita karaoke untuk menghabiskan waktu."
"Mampir ke
tempat hiburan itu melanggar peraturan sekolah."
"Kalau
begitu, ke rumahku saja."
"Ti-tidak
mungkin aku ke sana."
Begitu ya.
"Kau aneh dari
tadi. Ada apa?"
"Yah,
karena daerah sekitar stasiun itu rawan kejahatan. Aku khawatir."
"Menurutku
lebih berbahaya kalau aku main ke rumahmu begitu saja."
Astaga. Dia
benar sekali.
Saat aku sedang
mencari ide lain, kami sampai di persimpangan tempat kami biasa berpisah.
"Kalau
begitu, sampai jumpa besok."
Yuki berkata
begitu dan mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan rumahku.
".................."
Ah! Aku
khawatir! Aku berbalik dan mengejar Yuki, lalu berjalan di sampingnya.
"Hei.
Kenapa kau mengikutiku?"
"Yah, aku
khawatir, jadi aku mau mengantarmu."
"Oh, jadi
begitulah stalker lahir. Aku jadi tahu."
"Arisugawa,
kau belum pernah ke Stasiun Ikehata, kan? Aku tahu jalan di sekitar sini."
"Aku bisa
pakai aplikasi GPS di ponselku. Lihat!"
Yuki menunjukkan
layar ponselnya padaku. Tapi, layarnya mati.
"Apa
ponselmu mati?"
"Eh?
Loh?"
Yuki menekan
tombol power agak lama, tapi ponselnya tidak merespons.
Sepertinya
baterainya habis. Karena dia jarang pakai ponsel, dia tidak sadar kalau
baterainya habis.
"Di sini
ada GPS manusia yang tidak perlu dicas, bagaimana?"
"........."
Yuki tampak
sedikit kesal, tapi mungkin karena tidak ada pilihan lain, dia berkata dengan
bibir mengerucut,
"Aku tidak
akan berterima kasih padamu karena kau yang memaksa ikut."
Justru aku yang
ingin berterima kasih padanya. Aku harus bayar kalau mau jalan-jalan di malam
hari berdua dengan siswi SMA yang imut.
Semakin dekat ke
stasiun, semakin ramai. Setelah melewati perumahan, mulai banyak bar dan tempat
hiburan.
"Kau benar,
daerah ini memang tidak terlalu aman."
"Kan?"
Hampir tidak ada
siswa lain selain kami. Ada calo, pekerja kantoran yang mau minum-minum,
pasangan yang sedang berkencan, dan berandalan.
Yuki menyipitkan
mata dan melihat sekeliling dengan waspada.
Rambut peraknya
sangat mencolok, jadi aku bisa melihat semua orang dewasa di sekitar melihat ke
arahnya.
"Hei, Nona,
kau tertarik jadi model?"
Seorang pria
berjas kurus berdiri di depan Yuki.
Mungkin dia
pencari bakat model majalah.
"Kau
cantik. Wajahmu seperti orang Jepang, jadi kau blasteran seperempat atau
setengah? Seragam itu, dari Akademi Shichibo? Kau pasti pintar."
Pria itu
mengeluarkan kartu nama dari saku dadanya dan mencoba memberikannya pada Yuki.
"Tenang
saja. Yang akan memotretmu adalah staf perempuan. Kau hanya perlu pakai baju
yang kami siapkan dan berfoto. Tidak akan butuh waktu lebih dari dua jam.
Bayarannya sepuluh ribu yen,
tapi untukmu,
aku bisa kasih dua kali lipat, dua puluh ribu yen. Bagaimana?"
"Tidak,
itu..."
"Kalau kau
sibuk hari ini, bisa di hari lain. Kalau kau pelajar, mungkin hari Sabtu atau
Minggu lebih baik?"
Pencari bakat
itu terus berbicara tanpa henti.
Yuki di masa
depan akan langsung menolak dan mengabaikannya, tapi Yuki di masa ini
sepertinya belum terbiasa menolak orang.
Sepertinya aku
harus menolongnya.
Aku menggenggam
tangan Yuki erat-erat dan berkata,
"Maaf,
orang tuanya sangat ketat."
Aku berbohong
tanpa pikir panjang dan membawanya ke jalan belakang yang sepi. Seharusnya kita
bisa sampai ke stasiun dari sini.
"Sudah
aman, jadi lepaskan tanganku."
"Ah,
i-iya."
Ketika aku
melepaskan tangannya, Yuki menatap tangannya yang tadi kugenggam sambil
termenung memikirkan sesuatu.
"Arisugawa?"
"Eh.
A-apa?"
"Tidak,
hanya saja kau tiba-tiba melamun. Apa kau ingin menjadi model?"
"Tidak
juga. Bukan begitu..."
Yuki di masa
depan bilang dia tidak tertarik menjadi model, tapi mungkin Yuki di masa
sekarang berbeda.
Tapi, meskipun
itu model pembaca yang sehat, aku tidak suka dia difoto.
"Mungkin
kalau lewat jalan ini, tidak akan ada pencari bakat..."
Saat mengatakan
itu, aku menyadari sesuatu.
"Ya
ampun..."
Di depan kami,
ada banyak hotel dengan papan neon merah muda yang menyala dengan aneh.
Gang belakang
ini, apa ini distrik cinta?!
Meskipun untuk
melarikan diri dari pencari bakat, aku malah membawa Yuki ke jalan ini.
Ini bisa
terlihat seperti aku mencoba membawanya ke hotel.
Haruskah aku
menjelaskannya sebelum Yuki mulai ribut? Saat aku mulai memikirkan tindakan
untuk melindungi diriku sendiri,
"Hotel
dengan warna aneh."
kata Yuki dengan
ekspresi bingung.
"…………………… Ee?"
Jangan bilang,
dia tidak tahu apa itu hotel cinta?
Tidak, mungkin
dia tahu konsepnya, tapi tidak mengenali ini sebagai hotel cinta.
"Kenapa kau
terkejut? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?"
"Eh, tidak,
itu..."
"Apa ini
bukan hotel? Tapi, ada tulisannya 'hotel'."
Yuki menatap
hotel cinta dengan neon ungu yang menyala paling dekat dengan tatapan
penasaran.
"All-in...
Sepertinya nama tokonya. All-in, itu kan, istilah saat bertaruh semua chip yang
dimiliki di poker, kan?"
Mungkin nama itu
plesetan dari all-in dan arti gaulnya.
"Apa ini
berbeda dengan hotel biasa? Sepertinya sempit..."
"Ehm, ini
hotel yang tidak boleh dimasuki anak-anak..."
"Hotel yang
tidak boleh dimasuki anak-anak...? Maksudnya tidak boleh berisik?"
"Bukan,
justru boleh berisik, maksudku, hotel tempat orang bisa ribut..."
"????????"
Yuki menatapku
dengan ekspresi "apa yang kau bicarakan?". Matanya murni dan tidak
ternoda. Jangan lihat aku. Jangan lihat aku dengan mata seindah itu....
"Kalian
anak sekolah tidak boleh masuk~"
Saat itu,
seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda berusia sekitar dua puluhan
tahun berjalan melewati kami sambil berpegangan tangan dan masuk ke hotel.
"Sepertinya
benar kalau anak-anak tidak boleh masuk. Apa mereka pasangan suami istri? Usia
mereka sepertinya terpaut jauh..."
Yuki bergumam
dan mulai menganalisis.
Dengan informasi
sebanyak ini, apa dia akan menyadarinya?
"..................!"
Rambut Yuki
berdiri, dan wajahnya semerah apel matang.
Sepertinya dia
akhirnya mengerti.
"Ko-kotor!"
"Kenapa aku
yang dimarahi? Aku tidak melakukan apa-apa."
"I-itu
memang benar, tapi..."
Yuki mendongak
dan menunjukku dengan wajah panik.
"Ja-jangan-jangan,
kau menarik tanganku tadi karena mau membawaku ke sini...?"
"Bukan,
bukan! Ini benar-benar kebetulan!"
Aku buru-buru
membela diri.
"Aku tidak
sengaja masuk ke sini! Eh? Alasanku jadi tidak meyakinkan."
"Kenapa kau
bicara sendiri?"
Yuki sepertinya
masih curiga, tapi dia akhirnya percaya padaku. Lalu, dia membetulkan tasnya
dan berkata,
"Ayo kita
cepat ke stasiun. Kalau ada yang melihat kita berdua di sini, bisa jadi
gosip..."
Aku tidak
masalah kalau ada gosip bahwa aku dan Yuki pacaran.
Tapi, aku tidak
mau ada gosip bahwa kami pergi ke hotel cinta. Kalau itu terjadi, kami akan
dipanggil guru.
Yah, tapi aku
rasa kemungkinan bertemu orang yang kita kenal di sini sangat kecil.
"Eh?
Yuki?"
Seorang pria
yang keluar dari pintu masuk hotel cinta di depan kami memanggil namanya.
Dia memiliki
rambut hitam dan kulit putih. Tubuhnya tinggi dan tegap dengan lengan berotot.
"Ka-kakak..."
Itu Arisugawa Yuuma.
Auranya sangat
berbeda dengan saat dia berpidato di rapat siswa kemarin.
Sama seperti
saat aku bertemu dengannya di masa depan. Wajahnya yang tampan dan karisma
alaminya masih sama. Tapi, kesan murid teladan sudah hilang sepenuhnya.
Rambutnya
disisir ke belakang, dan dia memakai kalung rantai emas di lehernya. Gayanya
seperti artis yang centil, sampai-sampai aku hampir tidak mengenalinya.
"Oh, kau
kenal Yuuma?"
Di belakangnya
ada seorang wanita cantik berkulit cokelat. Dia wanita berusia dua puluhan
tahun yang tinggi.
"Hmm? Ah,
ini adikku. Dia mirip denganku, wajahnya lumayan, kan?"
Yuuma menunjuk
Yuki sambil merangkul pinggang wanita cantik itu.
Bukan hanya
auranya. Cara bicaranya juga berbeda dengan saat di sekolah. Lebih mirip dengan
yang kuingat di masa depan.
"Meskipun
masih agak awal, aku akan mengantarnya pulang. Aku senang hari ini."
"Ya. Aku
juga. Sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ini."
Yuuma menarik
dagu wanita cantik itu dan menciumnya.
"Apa..."
Aku sudah
menduganya karena mereka keluar dari hotel cinta, tapi ternyata mereka memang
seperti itu.
Yuki yang
melihat dari dekat sampai melongo seperti ikan.
"Kalau
begitu, aku telepon lagi nanti malam."
"Ya. Sampai
jumpa."
Setelah
melambaikan tangan pada wanita cantik itu yang pergi ke arah stasiun, Yuuma
berkata dengan nada rendah,
"Menyebalkan.
Jangan sok jadi pacar cuma karena sudah tidur denganku sekali."
sambil
mengacak-acak rambutnya. Lalu, dia menoleh ke arah Yuki dan berkata,
"Kenapa kau
di sini?"
"Kereta di
Jalur Seiyo berhenti beroperasi, jadi aku jalan kaki ke stasiun ini."
"Bohong.
Kau tidak mungkin lewat jalan belakang ini. Jangan-jangan kau tertarik?"
"Jangan
samakan aku denganmu. Aku lewat sini karena ada pencari bakat aneh di jalan
utama."
Yuki memelototi
Yuuma dan berkata,
"Ngomong-ngomong,
wanita tadi... Dia bukan wanita yang waktu itu, apa kau sudah putus dengan yang
sebelumnya?"
"Yang
sebelumnya siapa? Misaki? Atau Haruka?... Lagipula, yang tadi itu bukan
pacarku."
"Bukan
pacar...?"
"Iya. Dia
guru les bahasa Inggrisku. Katanya dia sedang libur. Aku cuma iseng main-main
dengannya."
Yuuma berkata
dengan santai.
TLN: Anying playboy beneran.
"Main-main...
Kalian baru saja keluar dari... ho-hotel..."
"Hotel
cinta. Jangan heboh. Itu tempat tujuan akhir laki-laki dan perempuan."
Yuuma
mengacak-acak rambut Yuki dan berkata dengan nada mengejek,
"Aku selalu
bilang, kau harus hilangkan sifat kekanak-kanakanmu itu."
"..................!"
Wajah Yuki
memerah karena marah.
"Kenapa?
Wajahmu merah. Apa kau malu melihat kami berciuman? Kau masih belum kebal
terhadap laki-laki ya. Aku tidak menyuruhmu untuk langsung punya pacar, tapi
bagaimana kalau kau coba berteman dengan laki-laki dulu?"
"...punya..."
"Hah? Apa?
Aku tidak dengar karena suaramu kecil."
"A-aku
punya teman laki-laki!"
Mendengar itu,
Yuuma tertawa kecil dengan nada kasihan.
"Kau memang
selalu begitu dari dulu. Kebohonganmu yang sok keren itu mudah sekali
ketahuan."
"Aku tidak
bohong! Aku pulang bersamanya hari ini."
Yuki menarik
lenganku.
".........Serius?"
Yuuma akhirnya
menyadari keberadaanku dan melihat ke arahku.
"Hmm."
Setelah
menatapku dengan saksama, dia berkata,
"Senang
bertemu denganmu... mungkin? Aku Yuuma, kakak cewek ini."
Dia menyapaku
dengan sopan.
"Aku
Suzuhara Masaomi. Kau mantan ketua OSIS, kan? Aku melihatmu saat pidato
perpisahan."
Yuuma melirik
lencana Shichibo emas di dadaku dan berkata,
"Jadi, kau
juara kelas yang masuk OSIS tahun ini?"
"Iya."
"Oh. Kalau
kalian berteman, apa kalian sering pergi main bareng saat libur?"
"Itu..."
"Pasti
belum?"
Yuuma menepuk
punggungku sambil menyeringai, lalu menoleh ke arah Yuki dan berkata,
"Yuki.
Orang yang cuma kau temui di OSIS itu bukan teman. Mereka cuma teman sekelas
yang kebetulan ikut OSIS."
"Ugh!"
Wajah Yuki
memerah karena ketahuan.
Begitu ya. Jadi
dia selalu diejek seperti ini. Aku mulai mengerti kenapa Yuki membenci Yuuma.
"Ka-kami
sudah janji..."
"Eh?"
Yuki memelototi Yuuma
dengan mata berkaca-kaca dan berteriak,
"Kami sudah
janji untuk pergi main bareng saat liburan Golden Week nanti!"
Aku terdiam.
Bohong.
Kami tidak
pernah membuat janji seperti itu.
"......Bagaimana
menurutmu?"
Yuuma menatapku
dengan tatapan curiga.
"!"
Di belakangnya,
Yuki memelototiku dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya dia ingin aku
mengiyakannya.
Aku berdeham
agar suaraku tidak terdengar gemetar, lalu berkata,
"Benar.
Kami sudah berencana untuk menonton film bersama."
Aku berbohong.
"Serius?
Kukira Yuki akan menolak dengan bilang 'Aku tidak tertarik dengan film'."
"Dia sudah
menolakku berkali-kali. Dia bilang tidak tertarik dengan film romantis, dan
film animasi itu kekanak-kanakan. Aku kesulitan memilih filmnya."
"Hmm."
Apa tidak
apa-apa berbohong seperti ini? Aku baru saja mengarang alasan bahwa kami sudah
berjanji untuk menonton film bersama.
Yuuma masih
tampak curiga, tapi dia menghela napas dan berkata dengan santai,
"Yah, maaf
maaf. Memang benar sih. Baru satu bulan sejak masuk sekolah. Mungkin
nanti."
"Tapi,
pasti ramai saat Golden Week. Mau kuberi tahu tempat kencan lain?"
"I-ini
bukan kencan! Kami hanya teman!"
"Iya
iya."
Yuuma tampak
terkejut mendengar teriakan Yuki, lalu menepuk pundakku dan berkata,
"Suzuhara-kun,
kan? Bisakah kau mendekat?"
Dia berbisik
pelan agar Yuki tidak mendengarnya.
(Kau pasti
kesulitan mengiyakan kebohongan itu.)
Keringat dingin
mengucur di pipiku.
Dia tahu. Yah,
wajar saja kalau dia tahu.
Mungkin Yuuma tidak
membahasnya lebih lanjut karena dia pikir itu lebih menarik.
Vrrr. Vrrr.
Ponsel Yuuma
berbunyi.
"Oh, dari
Yuzu-chan. Aduh, aku lupa kalau aku sudah janji dengannya."
Yuuma mulai
berjalan ke arah stasiun.
"Kalau
begitu, sampai jumpa. Kalian berdua pulanglah sebelum kemalaman."
"Dia
sendiri yang bilang begitu padahal dia..."
Yuki bergumam
sambil melihat Yuuma yang semakin menjauh.
"Hei, soal
liburan tadi..."
"Ah, ee,
itu... anu..."
Aku tertawa
kecil melihat Yuki yang panik, lalu berkata dengan gembira,
"Kau ingat
ajakanku minggu lalu?"
"Eh?"
Yuki tampak
bingung.
"Minggu
lalu, sepulang sekolah, aku mengajakmu untuk menonton film saat Golden Week,
kan? Karena kau mengabaikanku, aku kira kau menolakku."
"Ee,
ee..."
Tentu saja aku
bohong. Aku tidak pernah mengajaknya.
Tapi, aku tidak
boleh melewatkan kesempatan ini.
Aku akan
memanfaatkan kebohongannya. Aku tersenyum jahat dalam hati.
TLN: Tukang ngibul semua wak.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.