Kanojo wo deresareru houhou wo, Shorau kekkon suru oredake ga shitteiru V1 EPS 4

N-Chan
0

Episode 4

OSIS dan Alasan Mendaftar


"Hei hei, apa mantan ketua OSIS itu kakak Arisugawa-san?"

 

Di kelas setelah rapat siswa.

 

Shinozaki, salah satu siswi populer di kelas, bertanya pada Yuki dengan semangat tinggi.

 

"Dia kakakku."

 

Yuki menjawab dengan suara datar tanpa mengalihkan pandangan dari buku referensinya.

 

"Benar! Apa dia punya pacar?"

 

"Entahlah. Aku tidak tahu apakah dia punya pacar sekarang."

 

"Ah. Jadi kadang dia punya pacar ya. Wajar saja, dia kan tampan. Kalau dia tidak punya pacar, aku mau daftar jadi pacarnya."

 

"Sebaiknya jangan."

 

Yuki bergumam pelan. Dia mengabaikan mereka yang hendak bertanya "Kenapa?" dan keluar dari kelas.

 

Arisugawa Yuuma.

 

Menurut Yuki, dia pintar, tapi kepribadiannya sangat buruk dan playboy.

Meski begitu, aku juga tidak terlalu mengenalnya.

 

Aku hanya bertemu dengannya sekali. Aku hanya tahu tentangnya dari cerita Yuki.

 

Melihatnya berpidato di rapat siswa hari ini, dia tidak terlihat seperti orang jahat.

 

Apa dia hanya berpura-pura baik? Atau Yuki yang melebih-lebihkan?

 

Hanya ada satu hal yang kutahu, yaitu dia adalah kunci untuk menaklukkan Yuki di masa ini.

 

"Aku berusaha keras karena ingin mengalahkannya... Tapi aku tidak bisa."

 

Begitu kata Yuki di masa depan.

 

Dari cerita Yuki, kakaknya, Yuuma, adalah tipe orang jenius.

 

Sedangkan Yuki adalah tipe orang pintar. Setelah menikah, aku baru tahu kalau dia punya banyak kekurangan.

 

Tapi, karena dia tidak suka kalah, dia bisa menyamai orang jenius dengan usaha yang luar biasa.

 

Dia tidak mau diajak bermain karena tidak punya waktu.

 

Dia minder karena tidak bisa mengalahkan kakaknya yang jenius.

 

Jika aku tidak menghilangkan rasa minder itu, dia tidak akan bisa menjalani kehidupan SMA yang menyenangkan seperti yang diinginkan Yuki di masa depan.

 

Hal pertama yang harus kulakukan.

 

Yaitu, membuat Arisugawa Yuuma mengalah.

 

 

* * *

 

 

"Hei, apa kau benar-benar mau ikut OSIS?"

 

"Iya. Mohon bantuannya mulai sekarang."

 

Sepulang sekolah. Aku mengikuti Yuki yang hendak pergi ke ruang OSIS.


Hari ini adalah hari perkenalan dengan siswa kelas dua di OSIS.

 

Aku tahu dia ikut OSIS dari Yuki di masa depan.

 

"Apakah undang-undang anti-stalking berlaku juga di sekolah?"

 

"Kejam sekali kau pada temanmu sendiri."

 

"Sejak kapan aku berteman denganmu?"

 

"Seorang tokoh hebat pernah berkata, 'Kita berteman tanpa sadar.'"

 

"Kata-kata siapa itu?"

 

"Tokugawa Ieyasu."

 

"Dia pasti tidak pernah mengatakan itu!"

 

Yuki menghela napas dengan wajah kesal.

 

Ah. Yuki di masa depan menertawakan leluconku seperti ini.

 

"Sudahlah, jangan begitu. Kita sama-sama punya sedikit teman, jadi ayo berteman."

 

"Jangan samakan aku denganmu. Aku punya teman! Hanya saja mereka tidak di sekolah ini..."

 

Bukankah itu masalah besar?

 

"Teman sekelasku tidak ada yang nyambung denganku! Kalau aku dekat dengan laki-laki, mereka langsung menyatakan cinta... Kalau perempuan, topiknya hanya tentang jalan-jalan, siapa yang disukai, dan hal-hal tidak penting lainnya. Belum lagi mereka suka bergosip di belakang orang lain... Intinya, mereka terlalu rendah levelnya, jadi aku tidak nyambung."


"................"

 

Terlalu rendah levelnya, jadi tidak nyambung... ya. Yuki di masa depan juga mengatakan itu.

 

Tapi, dia juga bilang dia menyesal.

 

Dia bilang seharusnya dia tidak sok kuat dan lebih banyak berteman.

Yuki di masa ini pun pasti kesepian sendirian.

 

Buktinya, dia tidak pernah bilang "Aku tidak butuh teman".

 

"Kalau begitu, kau tenang saja. Aku tidak akan membicarakan orang lain dan tidak akan membahas topik yang tidak bermutu."

 

"Apa kau tidak sadar kalau kau baru saja terus-menerus membahas topik yang tidak bermutu?"

 

Kau salah.

 

"Ngomong-ngomong, aku sudah lama ingin bertanya."

 

Yuki berhenti di tengah tangga dan menoleh ke arahku.

 

"Apa kita pernah bertemu di suatu tempat sebelum masuk sekolah ini?"

 

Mungkin dia ingat saat kita bertemu di jembatan menuju kota sebelah bulan Desember tahun lalu.

 

Karena kita hanya mengobrol sebentar, aku kira dia sudah lupa, tapi ternyata dia masih ingat sedikit.

 

"Jangan-jangan aku sedang dirayu?"

 

"Hah? Kenapa kau berpikir begitu?"

 

"Yah, aku kira itu kalimat rayuan yang terkenal."

 

"Sudahlah. Mungkin aku salah."


Yuki menghela napas dan kembali menaiki tangga.

 

Sebaiknya aku tidak usah cerita soal pertemuan kita musim dingin tahun lalu. Karena saat itu aku bertanya padanya tentang SMA yang akan dia masuki, aku tidak mau dia menganggapku stalker. Yah, memang aku stalker sih.

 

"Ngomong-ngomong, aku penasaran, kenapa banyak sekali yang mau ikut OSIS?"

 

Hanya tiga orang dari kelas satu yang bisa masuk OSIS, tapi katanya ada tujuh belas orang yang mendaftar.

 

Dalam situasi seperti ini, Akademi Shichibo yang menjunjung tinggi prestasi akademik akan memprioritaskan peringkat.

 

Akhirnya yang terpilih adalah aku yang peringkat pertama, Yuki yang peringkat kedua, dan seorang siswi bernama Niizuma yang peringkat ketiga.

 

Kata guruku, tiga besar tahun lalu juga masuk OSIS.

 

Kurasa pekerjaan OSIS hanya merepotkan.

 

"Astaga. Kau mencalonkan diri tanpa tahu hak istimewanya?"

 

"Hak istimewa?"

 

"Di Akademi Shichibo, ada pertemuan alumni beberapa bulan sekali, di mana para alumni yang sukses dikumpulkan. Bukan hanya presiden direktur perusahaan besar, tapi juga beberapa tokoh politik penting. Dan, anggota OSIS yang aktif bisa ikut serta."

 

"Jadi, kalau ikut OSIS, kita bisa membangun koneksi dengan orang-orang seperti itu?"

 

"Kau cepat mengerti."

 

Memang. Koneksi dengan orang-orang seperti itu akan menjadi keuntungan besar di masa depan.

 

Koneksi lebih penting daripada uang. Aku sangat merasakannya setelah menjadi pemimpin perusahaan.

 

"Kita bisa dapat tawaran kerja di perusahaan besar atau surat rekomendasi. Ini sangat membantu bagi orang-orang yang punya cita-cita."

 

"Hmm. Apa kau punya cita-cita, Arisugawa?"

 

"Aku..."

 

Yuki terdiam.

 

Universitas dan tempat kerjanya ditentukan oleh ayahnya yang brengsek itu.

 

Mungkin dia tidak punya sesuatu yang bisa disebut cita-cita.

 

Mungkin alasan dia ingin ikut OSIS adalah karena dia ingin menjadi ketua OSIS yang lebih hebat dari kakaknya.

 

"Ngomong-ngomong, cita-citaku adalah menemukan istri yang imut."

 

"Begitu. Semoga kau menemukan orang yang lebih baik selain aku."

 

"Kau sadar ya kalau kau imut."

 

"Berisik."

 

Yuki berkata begitu sambil berjalan cepat.

 

 

* * *

 

 

"Permisi. Saya Arisugawa Yuki, mulai hari ini saya akan bergabung dengan OSIS."

 

Saat kami masuk ke ruang OSIS, ada dua orang di sana.

 

Salah satunya adalah ketua OSIS, Mikami Shizuka.

 

Dia duduk di meja dekat jendela dengan papan nama ketua di atasnya, sedang menulis sesuatu.

 

Yang satunya lagi adalah seorang siswa laki-laki berkacamata. Dia duduk di meja di sudut kanan ruangan dengan papan nama bendahara di atasnya, sedang mengetik di laptop.

 

Ada banyak stiker anime di laptopnya, jadi aku langsung tahu dia seorang otaku.

 

"Wah, kalian cepat."

 

Ketua OSIS mengangkat wajahnya, melihatku dan Yuki bergantian, lalu berkata,

 

"Maaf. Risa... wakil ketua OSIS belum datang. Jadi, silakan minum teh sambil menunggu."

 

Dia membuatkan teh untuk kami. Aroma teh yang harum memenuhi ruang OSIS.

 

"Silakan duduk di kursi itu."

 

"Ah, permisi."

 

Yuki duduk di ujung sofa, sejauh mungkin dariku. Sedih.

 

"Panas..."

 

Yuki yang minum teh langsung kepanasan. Imut.

 

Sambil minum teh yang dibuatkan ketua OSIS, aku melihat-lihat ruang OSIS.

 

Ukurannya sedikit lebih kecil dari ruang kelas biasa. Ada enam meja eksekutif.

 

Di tengah ada meja besar, dan dua sofa saling berhadapan. Kami duduk di salah satu sofa itu. Mungkin sofa itu digunakan untuk tamu.

 

Di dinding ada piagam penghargaan. Dan, ada banyak plakat bertuliskan nama-nama ketua OSIS sebelumnya.

 

Di paling kanan ada plakat baru bertuliskan Ketua OSIS ke-69, Mikami Shizuka.

 

"Bagaimana rasa tehnya?"

 

"Enak. Lain kali biar kami yang membuatnya, ketua tidak perlu repot-repot..."

 

"Tidak apa-apa. Aku suka membuat teh. Lagipula, aku tidak terlalu suka hirarki, jadi kalian tidak perlu terlalu formal."

 

Ketua OSIS duduk di sofa di seberang kami dan menyesap tehnya dengan anggun.

 

Lalu, dia melihat ke arah Yuki dan berkata,

 

"Arisugawa, berarti kamu adik Yuuma-senpai ya?"

 

"Iya..."

 

Ekspresi Yuki sedikit murung.

 

"Seperti yang diharapkan dari kakak beradik. Kalian berdua pintar."

 

"Tidak, aku peringkat kedua... Kakakku yang peringkat pertama."

 

"Peringkat itu kan penilaian relatif. Itu tidak membuktikan kalau kamu lebih rendah darinya."

 

"Ba-baik..."

 

Yuki tampak sedikit lega karena ketua OSIS berbicara dengan lembut padanya.

 

Sepertinya ketua OSIS menyadari bahwa Yuki memiliki rasa minder.


Di masa depan, Yuki juga sangat mengaguminya seperti seorang kakak. Pasti mereka akan akrab mulai sekarang.

 

"Maaf! Aku terlambat!"

 

Pintu ruang OSIS terbuka dengan keras, dan seorang gadis berambut cokelat dengan gaya rambut side tail masuk.

 

Dia memakai kaos kaki longgar, sepatu sekolah yang tumitnya diinjak, dan kardigan yang diikatkan di pinggang.

 

Roknya pendek, hampir melanggar peraturan sekolah, dan tasnya dipenuhi gantungan kunci. Kulitnya kecokelatan karena terbakar sinar matahari.

 

Dia adalah gyaru khas era Heisei yang hampir punah di masa depan.

 

"Risa. Kau terlambat lima menit."

 

"Maaf. Klub atletik dan klub sepak bola sedang bertengkar, jadi aku pergi untuk mendamaikan mereka."

 

Dia duduk di meja wakil ketua OSIS, membuka kancing bajunya, dan mengipasi dirinya dengan tangan.

 

"Klub atletik dan klub sepak bola... Apa mereka bertengkar soal hak penggunaan lapangan?"

 

"Bukan, mereka bertengkar soal mana yang lebih enak, Kinoko no Yama atau Takenoko no Sato."


Perang Kinoko no Yama vs Takenoko no Sato ya.

 

"Aku bilang cokelat Godiva lebih enak, dan mereka langsung diam."

 

Itu curang! Dia orang yang unik.

 

"Jadi mereka siswa kelas satu tahun ini? Eh? Tapi kok cuma dua orang?"

 

"Ah, Niizuma-san memberi tahu kami kalau dia akan cuti sekolah untuk sementara waktu."

 

Cuti sekolah!? Padahal belum satu bulan sejak masuk sekolah.

 

"Apa dia sakit?"

 

"Bukan, saya dengar dari guru kalau dia seorang aktris. Seharusnya pertunjukannya selesai awal April, tapi ditunda satu bulan."

 

"Oh, aktris..."

 

Aku lebih terkejut karena dia bisa masuk sekolah ini dengan peringkat ketiga sambil menjadi aktris daripada karena dia seorang aktris.

 

"Tidak apa-apa? Menerima orang yang langsung bolos sekolah setelah masuk sekolah?"

 

"Dia bilang akan fokus belajar setelah pertunjukannya selesai, jadi tolong maafkan dia. Mungkin akan merepotkan kalian berdua, tapi aku akan membantu sebisa mungkin."

 

"Baiklah. Kami akan berusaha sebisa mungkin meskipun hanya berdua."

 

Mungkin karena dia pikir ini kesempatan untuk menunjukkan semangatnya, Yuki mengangguk dengan antusias.

 

"Jadi untuk sementara waktu hanya kita berdua."

 

"Jangan bicara yang aneh-aneh. Lagipula, ada para senpai juga, jadi bukan hanya kita berdua."


Yuki langsung membalas gumamanku.

 

"Kalau begitu, mari kita mulai perkenalan diri."

 

Ketua OSIS bertepuk tangan, meluruskan punggungnya, dan membungkuk.

 

"Saya Mikami Shizuka, ketua OSIS ke-69. Saya tidak akan memperkenalkan diri lagi karena sudah melakukannya saat pemilihan OSIS, tapi silakan tanya apa saja yang kalian ingin tahu."

 

Dia tersenyum sambil berkata begitu, dan aku merasa seperti ada cahaya di belakangnya.

 

Suaranya lembut dan senyumnya seperti bidadari. Aku mengerti kenapa dia populer.

 

"Ya! Saya punya pertanyaan! Apakah Anda punya pacar?"

 

Gadis yang dipanggil Risa itu mengangkat tangannya dengan wajah jahil.

 

"Ya. Anak bodoh ini adalah wakil ketua OSIS, Shimozono Risa. Kalau begitu, selanjutnya bendahara..."

 

"Tu-tunggu, jangan akhiri perkenalan diriku begitu saja! Aku akan melakukannya dengan serius!"

 

Wakil ketua OSIS buru-buru memohon pada ketua OSIS.

 

"Kamu bisa berjanji untuk tidak bercanda lagi?"

 

"Itu tidak mungkin. Menghilangkan candaanku sama saja seperti menghilangkan katsu dari katsu kare."

 

Dia sangat percaya diri. Dia punya potensi untuk bertarung tanpa katsu.

 

"Ah..." Ketua OSIS yang kesal menyingkir, dan wakil ketua OSIS mengedipkan mata sambil berkata,

 

"Halo halo. Saya Shimozono Risa, wakil ketua OSIS. Saya dan Shizuka adalah teman masa kecil, kami selalu bersama sejak SD. Kami sangat akrab."

 

Teman masa kecil. Aku terkejut karena kepribadian mereka sangat berbeda, tapi aku juga mengerti kenapa mereka bisa bercanda seperti itu.

 

"Saya baru bergabung dengan OSIS tahun ini, jadi saya tidak terlalu mengerti pekerjaannya, tapi saya akan menutupinya dengan bakat dan kharisma saya yang luar biasa. Jadi, para kouhai! Jangan tanya soal pekerjaan padaku!"

 

"................"

 

Aku melihat ke samping dan Yuki mengerutkan keningnya. Dia memang sepertinya tidak suka dengan orang seperti itu.

 

Ketua OSIS memegang kepalanya dan berkata,

 

"Kalau kalian kesulitan menghadapi dia, konsultasikan saja denganku. Dia akan langsung menurut kalau dipukul dua tiga kali."

 

Dia menunjukkan senyum jahat. Apa dia TV rusak?

 

Lalu, tinggal satu orang lagi.

 

Pria berkacamata yang duduk di kursi bendahara akhirnya membuka mulutnya untuk pertama kalinya hari ini.

 

"Aku Sugita Boutarou, bendahara."

 

Suaranya berat!

 

Suaranya bariton seperti pengisi suara.

 

"Menarik, kan? Dia seorang otaku, tapi punya suara yang bagus."

 

Wakil ketua OSIS tertawa terbahak-bahak sambil memukul punggung Sugita-senpai.

 

Saat pemilihan, dia bilang dia juga dipromosikan dari OSIS tahun lalu seperti ketua OSIS. Sepertinya dia juga bendahara tahun lalu.

 

"Yah... begitulah... Mohon bantuannya."

 

Sugita-senpai berkata begitu dan duduk. Apa dia pendiam? Berkebalikan dengan wakil ketua OSIS.

 

"Kalau begitu, bisakah kalian berdua juga memperkenalkan diri?"

 

Saat aku sedang berpikir siapa yang harus maju duluan, Yuki di sebelahku menyenggol perutku.

 

Sepertinya dia ingin aku yang maju duluan.

 

"Saya Suzuhara Masaomi. Mohon bantuannya. Eee... Apa yang harus saya katakan..."

 

Aduh. Aku belum memikirkan apa pun untuk perkenalan diri.

 

"Eee, apakah ada pertanyaan dari para senpai? Saya akan menjawabnya..."

 

"Kalau begitu, ya! Apakah kau punya paca- buk!"

 

Wakil ketua OSIS hendak mengatakan sesuatu, tapi dibungkam oleh ketua OSIS dengan sikutan.

 

Ah. Jadi ketua OSIS yang jadi peran penengah.

 

"Baiklah. Kalau begitu, ceritakan alasanmu mendaftar OSIS."

 

Ketua OSIS berkata sambil tersenyum dan menusukkan sikunya ke perut wakil ketua OSIS.


"Alasanku... karena saya tertarik dengan pekerjaan OSIS. Selain itu, saya pikir ini tempat yang tepat untuk mengembangkan diri..."

 

Untuk sementara, aku akan mengarang alasan. Saat aku sedang mengarang alasan,

 

"Astaga. Kau pandai sekali berbohong."

 

Yuki bergumam di sebelahku.

 

Hmm. Kalau begitu, apa aku harus mengatakan yang sebenarnya? Toh, pada akhirnya akan ketahuan juga. Tidak masalah kalau aku mengatakannya duluan.

 

"...Itu hanya alasan..."

 

"?"

 

Aku berdeham, melirik ke arah Yuki, dan berkata,

 

"Sebenarnya, aku suka Arisugawa, dan aku ingin bersamanya."

 

Ruang OSIS langsung hening.

 

"A-a-a-a-a-a-a..."

 

Wajah Yuki perlahan memerah.

 

Aku tahu rahasia Yuki yang tidak diketahui orang lain.

 

Sebenarnya, dia lemah terhadap serangan mendadak. Dia memang sudah biasa digoda, tapi itu karena dia tahu dia akan digoda.

 

Mungkin dia tidak menyangka akan digoda sekarang, apalagi di depan anggota OSIS lainnya.

 

Wajahnya yang cool memerah sampai ke telinga.

 

"Ahahahahahaha! Baru pertama kali aku lihat ada yang nembak di saat seperti ini!"

 

Wakil ketua OSIS tertawa terbahak-bahak. Ketua OSIS juga terdiam dengan ekspresi terkejut.

 

"Jangan-jangan, ini pertama kalinya kau menyatakan cinta?"

 

"Tidak, aku baru saja ditolak."

 

Sebenarnya, aku hanya bertanya apa yang akan terjadi jika aku menyatakan cinta, dan baru kali ini aku benar-benar menyatakan cinta.

 

"Kau sudah ditolak? Tapi kau tidak menyerah?"

 

"Kegigihanku yang tidak pernah menyerah adalah kekuatanku."

 

Eh? Jawabanku jadi seperti presentasi diri saat wawancara kerja.

 

"Lulus! Kukira kau orang yang membosankan, tapi aku jadi menyukaimu!"

 

Wakil ketua OSIS mengacungkan jempolnya dengan ekspresi puas. Sepertinya dia menyukaiku.

 

"Ini jadi masalah. Aku tidak masalah dengan hubungan lawan jenis selama tidak mengganggu, tapi ini pertama kalinya ada yang pacaran di OSIS."

 

"Tunggu dulu! Aku tidak punya perasaan apa pun pada orang ini!"

 

Yuki buru-buru mengoreksi ketua OSIS yang tampak bingung dan panik.

 

"Sekarang."

 

"Selamanya!"

 

Yuki menggulung buklet yang ada di dekatnya dan memukul kepalaku.

Hentikan. Aku bisa jadi bodoh.

 

"Kalau begitu, selanjutnya Arisugawa-san. Silakan perkenalkan diri."

 

"Ah, ba-baik."

 

Setelah itu, Yuki memperkenalkan diri, tapi dia gugup.

 

Karena dia Yuki, pasti dia sudah menyiapkan perkenalan diri yang bagus, tapi gara-gara aku, dia jadi lupa semuanya.

 

"Tunggu saja nanti..."

 

Yuki memelototiku dengan mata berkaca-kaca. Mungkin aku sedikit keterlaluan.

 

"Waa. Baru pertama kali aku lihat rambut silver. Lembut sekali."

 

Wakil ketua OSIS mendekati Yuki dan hendak menyentuh rambutnya.


Ah, gawat. Aku merasa seperti sedang melihat seseorang yang akan menyentuh binatang buas.

 

Tapi, Yuki tidak marah.

 

Atau lebih tepatnya, dia marah, tapi tidak menunjukkannya.

 

Wakil ketua OSIS adalah senpainya dan jabatannya lebih tinggi. Yuki pasti menahan diri.

 

Dia seperti apa ya... seperti kucing yang dielus oleh pemiliknya yang menyebalkan.

 

"Seperti tahun lalu, tahun ini juga banyak cewek cantik. Mungkin mereka akan debut sebagai idola?"

 

"Ah, benar juga. Kalian semua cantik dan punya karakter masing-masing, jadi mungkin saja."

 

"Iya, kan!"


Saat aku dan wakil ketua OSIS sedang asyik mengobrol, Yuki berkata dengan ekspresi kecewa,

 

"OSIS ini tidak seperti yang kubayangkan..."

 

Dia tampak kecewa.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !