Episode
7
Kencan
Pertama (Bukan Kencan)
(POV
Masaomi)
Pagi hari di
hari yang dijanjikan.
"Sepertinya
cukup."
Aku melihat
wajahku dari berbagai sudut di depan wastafel setelah merapikan alisku.
Aku sudah
berkaca selama tiga puluh menit.
Hari ini adalah
pertama kalinya aku pergi kencan dengan Yuki yang masih SMA, jadi wajar saja
aku bersemangat.
"Apa aku
harus menata rambutku dengan wax? Tapi, kalau terlalu niat, dia mungkin akan
ilfeel... Eh?"
Aku merasakan
kehadiran seseorang di belakangku dan menoleh, lalu melihat ibuku sedang
menyeringai.
"Kau
bersemangat sekali... Kau mau pergi kencan dengan perempuan?"
Menjijikkan. Kok
dia tahu?
"Dia bukan
pacarku, kami hanya pergi main."
"Tidak usah
malu. Iya, kamu sudah SMA. Tanpa kusadari, kamu sudah tumbuh besar... Ibu
terharu."
"................"
Kalau aku yang
dulu, aku pasti akan marah dan berkata, "Berisik, nenek sihir!" Tapi,
sekarang aku sudah dewasa.
Aku harus
bersikap dewasa dan tenang.
"Sudah
kubilang, dia hanya teman perempuan."
"Ah, jangan
berpikir yang aneh-aneh. Perempuan itu sensitif terhadap hal seperti itu.
Pertama-tama, kamu harus membuatnya..."
"Berisik,
nenek sihir!"
TLN: Ajg okawkawokaowkak
* * *
Tempat pertemuan
yang kami sepakati adalah di depan patung anjing di Stasiun Shibuna.
Tempat ini juga
ramai di tahun 2009.
Di masa depan,
Shibuya adalah kota pekerja kantoran dan orang asing, tapi di masa ini, Shibuya
adalah kota anak muda.
Banyak anak muda
bergaya berlalu-lalang, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa kota ini adalah
pusat mode.
Aku tiba tiga
puluh menit lebih awal dan menunggu Yuki sambil mengenang pemandangan itu.
"Oh, dia
datang."
Mungkin sekitar
sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan. Yuki keluar dari pintu keluar
stasiun.
Dia berjalan ke
arahku dengan langkah lambat sambil menarik perhatian anak-anak muda di
sekitarnya.
"Kau cepat
ya."
"Karena aku
tidak sabar."
Jadi ini pakaian
sehari-hari Yuki saat SMA.
Dia berpakaian
seperti laki-laki. Kemeja merah muda dengan jaket hitam. Bawahannya bukan rok,
melainkan celana jeans wanita. Dia juga memakai topi hitam.
Tingginya kurang
dari 160 cm, tapi kakinya panjang, jadi dia terlihat tinggi.
Mungkin semua
yang dia pakai adalah barang bermerek, tapi anehnya, saat dipakai Yuki,
baju-baju itu tidak terlihat mahal.
Entah kenapa,
karena Yuki sendiri seperti barang mewah, barang-barang yang dia pakai jadi
terlihat murah.
Mungkin karena
pantulan sinar matahari, aku melihat partikel cahaya kecil menari-nari di
sekelilingnya.
"Apa? Ada
yang salah dengan penampilanku?"
Yuki bertanya
dengan mata menyipit saat melihatku menatapnya.
"Tidak, aku
hanya berpikir, 'Oh, jadi ini pakaian sehari-hari Arisugawa'."
"Kau mau
bilang aku tidak cocok pakai baju ini?"
"Bukan,
bukan! Kau sangat cocok!"
"Begitu.
Syukurlah."
Yuki bergumam
pelan sambil memainkan rambutnya.
"........."
"Kenapa?
Tiba-tiba diam?"
"Tidak, aku
hanya berpikir kau akan mengomentari penampilanku."
"Komentar?"
Yuki melihatku
dari atas ke bawah, lalu berkata dengan nada datar,
"Biasa
saja."
"Tidak ada
pujian seperti 'dua kali lebih tampan dari biasanya'?"
"Apa pun
yang dikalikan dengan nol hasilnya tetap nol."
Kejam sekali.
Aku tersenyum kecut.
Aku yakin
penampilanku termasuk di atas rata-rata, tapi dibandingkan dengan Yuki, aku
seperti langit dan bumi.
"Jadi,
filmnya mulai jam berapa?"
"Jam dua
siang."
"Jam dua
siang? Masih ada hampir satu jam lagi. Seharusnya kita janjian lebih
siang..."
"Yah, untuk
berjaga-jaga kalau kereta terlambat atau ada kejadian tak terduga. Lagipula
bioskopnya dekat, jadi kita bisa jalan-jalan sambil menunggu."
Aku sengaja
datang lebih awal. Karena ini Yuki, dia mungkin akan langsung pulang setelah
menonton film.
Jadi, aku
memberinya waktu luang sebelum menonton film.
"Dari sini,
yang paling dekat adalah Seibu Department Store."
"Tunggu
dulu. Aku mau membuat beberapa kesepakatan dulu."
"Kesepakatan?"
Yuki berdiri di
depanku yang berbalik dan mengangkat tiga jari.
"Pertama,
jangan gunakan kata 'kencan'. Sekali lagi kukatakan, kita hanya teman."
"Kedua,
jangan beri tahu siapa pun soal kita pergi main bersama. Aku tidak mau ada
gosip aneh di sekolah."
"Ketiga,
terserah kau mau ke mana, tapi... jangan bawa aku ke tempat aneh."
"Tempat
aneh?"
Saat aku
memiringkan kepalaku, Yuki mengalihkan pandangannya dan bergumam,
"Seperti
ho-hotel cinta yang waktu itu."
Aku tidak akan
ke sana!
"Kau
terlalu waspada. Percayalah sedikit padaku."
"Entahlah.
Katanya semua laki-laki itu serigala."
Memang benar
sih. Aku tersenyum kecut.
Alasan Yuki
bersikap defensif mungkin karena dia sering melihat kakaknya yang playboy.
Karena itu, dia
tidak punya pengalaman pacaran sampai usia dua puluhan pertengahan di kehidupan
sebelumnya.
"Baiklah.
Aku akan menepati ketiga kesepakatan itu."
"Hmm. Baiklah."
Yuki bergumam
sambil memainkan rambutnya.
* * *
Seibu Department
Store ramai karena hari libur.
"Ngomong-ngomong,
berapa uang jajanmu, Arisugawa?"
"Satu bulan
sepuluh ribu yen. Tapi, aku hampir tidak pernah memakainya, jadi aku tabung
saja. Aku tidak tahu mau dipakai untuk apa."
Sepuluh ribu yen
ya. Sepertinya lebih banyak dari rata-rata anak SMA, tapi untuk anak orang
kaya, jumlah itu biasa saja.
"Kalau kau
berapa?"
"Aku juga
segitu. Kadang aku kerja sampingan juga."
"Kerja
sampingan? Menempel stiker?"
Ternyata image
Arisugawa tentang kerja sampingan seperti itu.
"Yah, kerja
sampingan yang mudah pakai komputer."
Aku mengalihkan
pembicaraan.
Kerja sampingan
yang kumaksud adalah trading saham.
Anak SMA tidak
punya banyak uang, tidak seperti saat aku sudah bekerja. Jadi, aku pinjam satu
rekening ayahku dan menghasilkan uang jajan dengan trading saham.
Di dompetku hari
ini ada lebih dari seratus ribu yen.
Aku membawanya
untuk berjaga-jaga karena aku tidak tahu seperti apa kebiasaan Yuki saat SMA
dalam menggunakan uang.
Aku memang tidak
berencana makan malam, tapi kalau-kalau kami jadi pergi ke restoran mahal, aku
tidak mau malu karena tidak punya uang.
Tapi, sepertinya
kekhawatiranku tidak beralasan. Kebiasaan Yuki dalam menggunakan uang tidak
jauh berbeda dengan anak SMA pada umumnya.
"Ngomong-ngomong,
setelah Golden Week, kita ganti seragam."
Aku berkata
sambil melihat baju-baju musim panas yang mulai dipajang di bagian pakaian.
"Iya. Aku
sudah menyiapkannya."
Seragam musim
panas Yuki. Aku tidak sabar untuk melihatnya. Dia selalu pakai stoking hitam
saat musim dingin, dan hari ini dia pakai celana panjang, jadi aku belum pernah
melihat kaki Yuki saat SMA.
Kalau ditanya
bagian tubuh Yuki yang paling kusuka, aku akan menjawab kakinya. Kakinya sangat
indah.
Kaki putih mulus
tanpa noda atau tahi lalat. Aku tidak terlalu tertarik dengan kaki perempuan
sebelum bertemu dengannya, tapi setelah melihat kaki Yuki, aku jadi suka kaki.
"Aku tidak
akan beli baju. Aku baru beli minggu lalu."
"Jangan-jangan
baju yang kaupakai sekarang juga baru?"
"Iya,
tapi... Ah, ti-tidak, ini baju tahun lalu."
Ah. Ini pasti
baju baru. Aku bisa tahu dari reaksi Yuki.
Yuki berbohong
karena dia tidak mau ketahuan kalau dia membeli baju baru untuk
"kencan" hari ini.
Begitu ya.
Setidaknya dia peduli padaku sampai-sampai membeli baju baru. Aku sedikit
senang.
"Aku juga
tidak akan beli baju. Aku lebih tertarik melihat yang itu."
"Yang
itu?"
Aku pergi ke
bagian aksesori yang menjual barang untuk pria dan wanita.
Kebanyakan yang
dijual di sana adalah aksesori dan parfum.
Harganya juga
tidak murah. Toko itu sepertinya menargetkan pekerja kantoran, bukan anak SMA.
"Kau pakai
parfum?"
"Sedikit
saja untuk menjaga kebersihan."
"Apakah itu
tidak melanggar peraturan sekolah?"
"Sepertinya
parfum yang tidak berbau menyengat boleh-boleh saja. Eau de cologne pasti tidak
masalah."
"Eau de...?
Apa itu? Merek parfum?"
"Itu jenis
parfum berdasarkan persentase kandungan pewanginya. Ada parfum, eau de parfum,
eau de toilette, dan eau de cologne. Eau de cologne adalah parfum yang paling
ringan."
"Begitu ya.
Kenapa kau tahu banyak tentang itu?"
"Itu..."
Aku tidak
mungkin bilang kalau aku tahu dari dirimu di masa depan.
"Ibuku
maniak parfum, jadi aku tahu dari dia."
Aku memutuskan
untuk mengarang alasan.
"Jadi,
tolong pilihkan untukku."
"Hah?
Kenapa aku yang harus memilih?"
"Karena kau
yang duduk paling dekat denganku di OSIS. Kau yang paling sering mencium
aromaku, jadi kau yang paling tahu, kan?"
"Jangan
bilang mencium aroma! Kalau kau bilang begitu, sepertinya aku ini mesum yang
sering mencium aromamu!"
Yuki berteriak
dengan wajah kesal sambil memerah.
Ngomong-ngomong,
kau di masa depan sering mencium aromaku. Saat kutanya apa kau suka aroma
tubuh, kau bilang, "Aku merasa tenang kalau mencium aromamu."
"Aku minta
yang paling bagus."
"Paling
bagus ya..."
Yuki
melihat-lihat parfum dengan wajah malas, lalu sepertinya dia menemukan sesuatu
dan bertanya sambil tersenyum nakal,
"Kau serius
mau yang paling bagus?"
"Iya."
"Kalau
begitu, yang ini."
Yuki menunjuk
label harga parfum merek terkenal yang sangat mahal, harganya tujuh puluh ribu
yen. Mungkin itu parfum pria termahal di toko ini.
"Eh? Kau
yakin yang ini?"
"Iya.
Aromanya enak. Menurutku ini yang paling bagus."
Hmm. Aku
memeriksa isi dompetku dan berkata,
"Oke. Kalau
begitu, aku beli yang ini."
"Eh?"
Yuki terkejut
saat aku mengambil label harga itu tanpa ragu dan pergi ke kasir.
"Kau lihat
harganya tidak!? Tujuh puluh ribu yen!?"
"Itu
setengah tahun uang jajanku. Tapi, demi Arisugawa..."
"Kau
terlalu siap. Aduh. Biar aku yang pilih! Sini!"
Mungkin karena
merasa tidak enak, Yuki buru-buru mengambil label harga itu dari tanganku dan
mengembalikannya.
".........Menurutku
yang ini bagus."
Setelah itu,
Yuki memilih parfum dengan aroma sabun yang lembut seharga tiga ribu yen.
"Oh. Ini
memang enak."
"Yakan?"
Setelah
membayar, aku berkata,
"Sekarang
giliranmu, Arisugawa."
"Eh?
A-aku?"
Yuki tampak
sedikit terkejut, lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak
butuh."
"Tapi,
sebentar lagi musim panas, kan? Bukannya lebih baik kau punya parfum?"
"...."
Yuki tampak
terkejut.
Yuki yang
memiliki darah Eropa Timur tidak tahan panas dan mudah berkeringat.
Meskipun tidak
bau, dia minder dengan hal itu, dan saat kencan, dia sering pergi ke toilet
untuk menyeka keringatnya dengan tisu basah.
Ngomong-ngomong,
dia tidak tahu kalau parfum tidak bisa menghilangkan bau keringat.
Yuki memegang
ujung bajunya dengan ekspresi cemas dan berkata,
"Ja-jangan-jangan
aku bau...?"
"Tidak,
sama sekali tidak. Justru kau wangi. Aku ingin mencium aromamu setiap
hari."
".........Aku
akan minta ketua OSIS untuk mengganti tempat dudukku."
Jangan. Nanti
aku dipindahkan karena pelecehan seksual.
"Bagaimana
kalau kau beli sekarang dan kau pakai nanti kalau butuh?"
"Memang...
itu ide yang bagus."
Aku
melihat-lihat parfum wanita, lalu mengambil sampel parfum bulat berwarna pink
muda dan berkata,
"Bagaimana
kalau yang ini?"
Parfum itu
beraroma dasar magnolia dan tidak terlalu menyengat.
"Ah,
aromanya memang enak."
Yuki tampak
menyukainya, dia menciumnya berkali-kali.
Wajar saja dia
menyukainya.
Karena ini
adalah parfum yang disukai Yuki di masa depan.
"Jadi, kau
mau beli yang ini?"
"Tu-tunggu
dulu. Aku mau coba yang lain."
Dia mencium
beberapa parfum lain, tapi sepertinya tidak ada yang lebih enak dari yang
kupilih, jadi akhirnya dia membeli parfum pilihanku.
* * *
Kami sampai di
gedung bioskop dan naik lift ke lobi.
"Ngomong-ngomong,
terakhir kali aku ke bioskop itu waktu SD."
"Aku
juga... waktu SMP."
Karena aku sudah
memesan tiketnya, aku mencetak dua tiket di mesin, lalu kembali ke Yuki yang
sedang menunggu di pojok.
"Aku baru
ingat, film apa yang akan kita tonton?"
Karena dia
menyerahkan pilihan filmnya padaku, aku memilihnya tanpa bertanya padanya.
"Film
Amerika. Awalnya komedi. Akhirnya mengharukan."
"Hmm."
Yuki menatap
judul yang tertulis di tiket.
Film yang akan
kami tonton ini sudah pernah kutonton sebelumnya.
Film ini adalah komedi mengharukan tentang sepasang suami istri yang memelihara seekor anak anjing nakal, menjalani hidup mereka dengan anjing itu sebagai pusatnya, dan akhirnya merawatnya sampai akhir hayatnya.
Seingatku, film
ini diadaptasi dari novel terkenal di Amerika.
"Ah, aku
belum bisa berhenti menangis."
"Aku juga
menangis sampai mataku bengkak."
Penonton dari
pertunjukan sebelumnya keluar.
Banyak yang
matanya merah dan bengkak, dan ada juga yang memegang sapu tangan.
"Sepertinya
filmnya bagus. Banyak yang menangis."
"Sepertinya
begitu."
Yuki melihat
mereka dan mendengus.
"Tapi, aku
tidak mengerti orang yang menangis di bioskop. Aku tidak bisa menangis kalau
ada banyak orang di sekitarku."
Eh? Benarkah?
Seingatku, dia menangis saat menonton film denganku.
"Layar 3.
Penonton dengan tiket untuk jam 2 siang, silakan masuk."
"Ayo
masuk."
"Hmm.
Jangan bangunkan aku meskipun aku tertidur di tengah film."
Yuki berkata
begitu sambil menguap kecil.
* * *
"Hiks...
hiks..."
Filmnya selesai.
Singkat cerita, Yuki menangis tersedu-sedu.
Yuki biasanya
tidak menangis saat menonton film mengharukan tentang kematian manusia. Dia
memang tersentuh, tapi tidak sampai menangis.
Yang tidak bisa
dia tahan adalah film tentang kematian hewan. Di film yang baru saja kami
tonton, ada adegan di mana anjing nakal itu dirawat di rumah sakit sampai akhir
hayatnya.
"Mau sapu
tangan?"
"Tidak
perlu! Aku tidak menangis!"
Meskipun dia
berkata begitu, lengan bajunya basah kuyup karena air mata.
"A-aku mau
ke toilet dulu."
Mungkin aku
harus memberinya waktu untuk menenangkan diri.
Aku pergi ke
toilet untuk merapikan rambutku dan bermain ponsel sebentar, lalu kembali ke
Yuki.
"Marley..."
Dia masih
menangis!
Yuki duduk di
sofa ruang tunggu sambil menyebut nama anjing yang mati itu dengan sedih.
Para pria hidung
belang pun tidak berani mendekatinya karena dia terlihat sangat sedih. Dia
bahkan tidak bisa mendengar orang yang menyapanya.
Ah. Aku tidak
menyangka suasananya akan semuram ini. Aku salah pilih film.
Yuki di masa
depan memang memuji film ini, tapi mungkin terlalu berat untuk Yuki di masa
ini.
Rencananya,
setelah ini kami akan mengobrol tentang film ini di kafe, tapi sepertinya tidak
mungkin dengan keadaannya sekarang. Dia bukan hanya sedih, tapi putus asa. Dia
sepertinya akan terus memikirkan kematian anjing itu selama dua tiga jam.
Tidak bisa
ditolong. Aku akan menggunakan senjata rahasiaku meskipun aku berencana
menggunakannya setelah kami lebih dekat.
"Hei, ada
tempat yang ingin kukunjungi, apa kau tidak apa-apa?"
"Di
mana...?"
Yuki mendongak
sambil terisak.
Cara terbaik
untuk menyembuhkan hati yang terluka karena hewan adalah...
dengan meminta
hewan untuk menyembuhkannya.
* * *
"Kafe
kucing...?"
"Iya.
Sepertinya baru buka di dekat sini, dan aku ingin ke sana."
"Aku pernah
dengar. Itu kafe tempat kita bisa bermain dengan kucing, kan?"
Di masa ini,
kafe kucing baru saja menyebar dan dikenal di seluruh Jepang.
Kafe kucing
pertama di Jepang ada di Osaka, kalau tidak salah tahun 2004, dan masuk ke
Tokyo setelah itu.
Di masa depan,
ada kafe kucing yang melarang pengunjung untuk menggendong kucing demi
mengurangi stres kucing, tapi di masa ini, kita bebas menyentuh, menggendong,
dan dicakar kucing sepuasnya.
"Kucing..."
Aku bisa melihat
ekspresi Yuki yang sedih menjadi sedikit lebih cerah.
Yuki di masa
depan sangat suka kucing.
Saat pertama
kali berkencan dengan Yuki yang sudah dewasa, aku mengajaknya ke berbagai
tempat.
Kebun binatang.
Bioskop. Pertandingan baseball. DisneySea.
Dia memang
terlihat senang, tapi aku merasa dia agak sungkan padaku.
Tapi, dia
langsung suka saat aku mengajaknya ke kafe kucing.
Saat dia
menemukan kucing favoritnya, dia bahkan pergi ke sana lima kali seminggu.
"Kau suka
kucing?"
"Kalau
disuruh pilih antara anjing dan kucing, aku pilih kucing."
Lagipula,
kepribadian Yuki juga seperti kucing. Dia egois dan tidak suka menjilat orang
lain.
"Be-begitu
ya. Sama sepertiku."
Melihatnya
gelisah, sepertinya Yuki di masa ini juga suka kucing.
Kafe kucing Mao
Mao terletak di lantai dua sebuah gedung kecil di gang sempit.
"Selamat
datang."
Saat kami masuk,
seorang pelayan muda menyambut kami.
"Apakah
Anda sudah menjadi anggota?"
"Belum, ini
pertama kalinya kami ke sini."
"Kalau
begitu, silakan duduk di meja itu, saya akan menjelaskan sistem kafe
kami."
"........."
"Arisugawa?"
"Eh? Ah,
iya, kita duduk di sana."
Pandangan Yuki tertuju
pada kucing-kucing di kafe itu.
Sepertinya Yuki
memang sudah suka kucing sejak dulu.
Setelah kami
duduk, pelayan itu mulai menjelaskan.
"Untuk saat
ini, hanya kucing ini, ini, dan ini yang boleh digendong. Untuk kucing yang
lain, hanya boleh dilihat atau diajak bermain dengan tongkat bulu."
Oh, meskipun ini
masih zaman dulu, kafe ini tampaknya sangat memperhatikan kucing. Pasti ini
kafe yang bagus.
Yuki
mendengarkan penjelasan dengan saksama.
"Di kafe
ini, Anda harus memesan minimal satu minuman. Silakan pesan jika sudah
siap."
"Eee, aku
pesan kopi Kucing Gunung."
"Ah...
a-aku juga sama."
"Baik."
Kafe kucing ini
memisahkan area minuman dan area bermain dengan kucing sepenuhnya.
Mungkin untuk
mencegah kucing salah minum minuman manusia.
Tapi, kita bisa
melihat kucing-kucing dari balik kaca di area minuman, jadi ini juga
menyenangkan.
Ada delapan ekor
kucing di sini. Sepertinya pelanggan lain hanya ada dua orang wanita muda.
"........."
Yuki tampak
gelisah, mungkin karena ingin segera bermain dengan kucing.
"Kita ke
tempat kucingnya setelah minumannya datang."
"A-aku
tahu."
Yuki
menggembungkan pipinya, mungkin kesal karena aku berbicara seperti sedang
menasihati anak kecil.
Lima menit
kemudian.
"Ini kopi
Kucing Gunung Anda."
cangkir
diletakkan di depan kami.
Aku memesan yang
paling murah, dan ternyata itu kopi hitam biasa.
Aku meminum
cairan hitam yang panas itu tanpa gula atau susu. Aku bisa merasakannya
mengalir melalui kerongkonganku ke perutku.
"Kau minum
kopi hitam?"
"Hmm? Ah,
aku tidak masalah minum kopi dengan atau tanpa gula. Kopi manis dan kopi hitam
punya kelebihan masing-masing."
"Hmm...
Jadi kau tidak sedang sok keren."
Yuki menuangkan
gula dan susu, lalu mengaduknya perlahan dengan sendok.
Dia menyesapnya,
tapi mungkin karena panas, dia mengerutkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
Sambil
melihatnya meniup kopinya, aku menghabiskan kopiku perlahan.
Setelah selesai
minum kopi, akhirnya tiba saatnya bertemu dengan kucing-kucing itu.
"Nyaa."
Begitu kami
masuk ke area bermain dengan kucing, ada dua ekor kucing yang mendekati kaki
Yuki.
Mereka adalah
Kuro-kun dan Shokola-chan, kucing-kucing yang boleh dipegang.
"!"
Yuki tampak
senang karena mereka langsung menghampirinya, dia mengelus mereka dengan tangan
gemetar.
Melihat mereka
mendengkur, wajah Yuki langsung berseri-seri.
"Ke-ke
sini."
Yuki duduk di
kursi dan menepuk lututnya. Kuro-kun melompat ke pangkuannya dan duduk dengan
kaki terlipat. Sepertinya dia ingin dielus lagi.
"Yah, mau
bagaimana lagi."
Yuki terus
mengelus kucing itu. Baiklah? Padahal dia sendiri yang memintanya untuk naik ke
pangkuannya, tidak masuk akal.
Yang jelas,
sepertinya dia sudah pulih dari kesedihan akibat film tadi.
"Aku mau ke
toilet dulu."
"Nn."
Mungkin karena
minum kopi, aku jadi ingin ke toilet. Saat aku pergi ke toilet di luar area
bermain, aku melihat kedua wanita itu sedang membayar.
"Terima
kasih. Totalnya 2.500 yen."
Jadi sekarang
cuma aku dan Yuki di sini.
Apa tidak
apa-apa cuma ada kami berdua di jam segini saat hari libur? Mungkin karena ini
kafe kecil, jadi biaya sewanya tidak terlalu mahal.
Tidak tidak.
Kenapa aku jadi berpikir seperti pengusaha? Sekarang aku hanya anak SMA.
Sambil
meyakinkan diriku sendiri, aku mencuci tangan dengan bersih dan hendak kembali
ke Yuki.
"!?"
Saat itu, aku
melihat sesuatu yang luar biasa.
Yuki yang sedang
berada di area bermain.
Dia menatap
kucing yang sedang digendongnya, lalu melihat sekeliling.
Setelah
memastikan tidak ada orang lain, dia berkata,
"Nyaa. Nyaa
nyaa."
Dia berbicara
dengan kucing itu dalam bahasa kucing.
"Nyaa? Nyaa
nyaa nyaa."
Yuki berbicara
dengan kucing itu dengan nada lembut seperti sedang berbicara dengan bayi.
Tentu saja, kucing itu tidak bisa bicara, dia hanya menikmati belaian Yuki dan
mendengkur.
"Hei,
kenapa kamu lucu sekali? Ah, jangan begitu."
Yuki tampak
senang saat pipinya dijilat kucing. Padahal kalau dijilat kucing, biasanya agak
bau, tapi sepertinya dia tidak peduli.
Dia menunjukkan
sisi lembutnya yang tidak pernah kulihat di masa depan.
Aku memutuskan
untuk mengamatinya sebentar.
Yuki menggendong
kucing-kucing itu bergantian, dan saat mereka mulai mendengkur, wajahnya
langsung berseri-seri.
Dia menepuk
pangkal ekor mereka dengan lembut, mengelus dagu mereka, dan menggunakan semua
tekniknya untuk membuat mereka senang.
Dan, dia sendiri
juga senang.
"Ekspresimu
itu curang..."
Aku hampir
pingsan karena dia terlalu imut. Gila. Yang imut sedang menggendong yang imut, mengeluarkan
suara yang imut, dan melakukan gerakan yang imut.
Aku ingin
melihat pemandangan ini lebih lama lagi. Aku ingin mengabadikannya di otakku.
Benar. Aku akan
memotretnya. Aku buru-buru mengeluarkan ponselku.
Tapi, ponsel
jadul di masa ini resolusinya jelek dan fungsi zoom-nya juga terbatas.
Untuk mengambil
foto dengan kualitas bagus, aku harus agak mendekat.
Aku mendekat
dengan mengendap-endap tanpa suara. Oke. Dua meter lagi...
"Nyaa? Kau
suka di sini, ya? Kalau begitu, aku elus lagi..."
Saat itu,
terdengar suara denting lonceng dan pelanggan baru masuk.
"!"
Yuki mendongak.
Dan, mata kami bertemu.
"........."
"........."
Mata Yuki
membelalak, dan wajahnya langsung memerah.
Aku buru-buru
menyimpan ponselku dan mulai mengelus Shokola-kun yang duduk di dekatku.
Aku pernah
melihat ekspresi Yuki seperti ini.
Seingatku, itu
terjadi sekitar setahun setelah kami menikah. Saat aku menemukan mainan dewasa
yang dia beli karena penasaran. Setelah itu, dia mengurung diri di kamar selama
dua hari.
Itu adalah
ekspresi wajahnya saat dia sangat malu.
".........Kau
dengar?"
"Dengar
apa?"
"Perkataanku
tadi..."
"Tidak, aku
baru saja kembali dari toilet."
"Be-beneran?"
"Benar.
Suzuhara tidak pernah bohong."
"Be-begitu.
Syukurlah."
"Nyaa? Nyaa
nyaa nyaa. (dengan suara yang sangat pelan)"
"Pasti kau
dengar!"
Yuki marah
dengan wajah memerah. Mungkin karena terkejut mendengar suara Yuki, kucing itu
lari.
"Ah..."
Yuki tampak
sedih karena kucing itu lari.
"Arisugawa.
Kau bisa bahasa kucing juga ya. Hebat sekali, multibahasa."
"Berisik!
Lupakan saja! Lagipula, kau jahat sekali karena menguping."
Tidak, kalau kau
tidak sadar saat aku mendekat sampai lima meter, itu sama saja kau memintaku
untuk menguping. Kau tidak waspada sekali.
"Tidak
perlu malu. Aku juga suka kucing. Aku juga ingin menggendong dan
mengelusnya."
"Be-begitu.
Kau juga..."
"Yah, tapi
aku tidak sampai mengajaknya bicara dengan bahasa kucing."
"Aku akan
membunuhmu."
Yuki menatapku
dengan tatapan membunuh jika aku menggodanya lagi.
* * *
"Hei, apa
kau tidak apa-apa pulang selarut ini?"
"Ti-tidak
apa-apa."
Dua jam
kemudian. Kami masih di kafe kucing. Aku sudah beberapa kali mengajak Yuki
pulang, tapi dia menolak dan bilang masih ingin di sini sebentar lagi.
"Kereta
terakhir jam 6.30 sore, kalau aku lari dari stasiun, aku pasti akan sampai di
rumah tepat waktu."
Lari? Dia sampai
segitunya ingin menghabiskan waktu dengan kucing?
Sepertinya dia
lebih cinta kucing daripada dirinya yang sudah dewasa.
"Aku senang
menuruti ajakanmu hari ini."
"Begitu
ya."
"Iya. Aku
bisa bertemu dengannya."
Sepertinya Yuki
paling suka dengan Milk-chan, seekor kucing belang tiga kecil.
Milk-chan juga
sepertinya suka pada Yuki, dia terus mendengkur di pangkuan Yuki.
Aku senang Yuki
senang, tapi aku merasa semua kenangan hari ini direbut oleh kucing.
Perasaanku jadi
campur aduk. Mungkin seperti ini rasanya saat istrimu direbut. Awas kau kucing.
"Wah,
jarang sekali. Dia biasanya tidak mau naik ke pangkuan orang."
Pelayan yang
tadi mengambil pesanan kami tampak terkejut.
"Benarkah?"
"Iya.
Sepertinya dia suka padamu."
"Suka
padaku... Ehehe."
Yuki tampak
senang.
"Ah, a-aku
akan datang lagi! Untuk menemuinya."
"Ah,
ee..."
Ada apa?
Ekspresi pelayan itu tiba-tiba berubah murung.
Pelayan itu
berpikir sejenak, lalu menghela napas pelan dan berkata,
"Karena
sudah diputuskan, mungkin tidak apa-apa kalau kubilang."
"Kucing itu
akan pindah ke cabang lain minggu depan."
"Eh?"
Pelayan itu
menunjuk seekor kucing tortoiseshell yang sedang tidur di sofa dengan wajah
angkuh.
"Dia punya
kakak laki-laki. Namanya Choco-kun, yang sedang tidur di sana. Mereka tidak
terlalu akur."
Dibandingkan
dengan Choco-kun, tubuh Milk-chan sedikit lebih kecil.
"Mereka
sering bertengkar. Jadi, diputuskan kalau lebih baik mereka dipisahkan."
"Kenapa...
yang dipindahkan malah yang dibully?"
"Hmm. Aku
juga sedih kalau kau bilang begitu..."
Pelayan itu
mengalihkan pandangannya dan berkata dengan suara pelan,
"Sebenarnya,
pelanggan lebih suka kakaknya."
"...."
"Choco-kun
lebih ramah dan punya banyak penggemar setia. Jadi, kalau harus memilih siapa
yang dipindahkan... ya Milk-chan..."
Melihat Yuki
terdiam, pelayan itu buru-buru berkata,
"Ah, jangan
khawatir. Cabang yang dituju juga bagus, dan aku yakin ini yang terbaik
untuknya."
Yuki menggigit
bibirnya dan berkata,
"Ee,
bolehkah aku memberinya camilan?"
Lalu dia membeli
camilan daging ayam (dengan biaya tambahan).
Yuki mengelus
kepala Milk-chan yang sedang makan camilan dengan lahap.
"Semoga kau
bahagia di tempat barumu."
Kucing betina
yang ditindas oleh kucing jantan yang populer.
Aku seperti
pernah mendengar kisah serupa. Pasti Yuki juga merasakan hal yang sama.
"Hei, soal
Yuuma-senpai... kakakmu itu... apa hubungan kalian memang buruk?"
"Buruk. Kau
kan sudah lihat sendiri waktu itu."
Dia tidak
bertanya kenapa aku tiba-tiba menanyakannya. Pasti dia juga sedang memikirkan Yuuma.
"Dia orang
yang buruk. Playboy, suka merendahkan orang lain, dan selalu mengejekku karena
aku canggung, tidak tahu dunia, dan bodoh."
Dia mengatakan
hal yang persis sama seperti Yuki di masa depan... Aku jadi sedikit tertawa.
"Kau anak
tunggal?"
"Iya. Kok
kau tahu?"
"Aku hanya
tahu."
Yuki selesai
memberi makan kucing itu, lalu mengelus Milk-chan yang sedang membersihkan diri
dengan ekspresi puas sambil berkata,
"Saat masuk
SMP, guru dan kakak kelas langsung tahu kalau aku adik Arisugawa Yuuma. Awalnya
aku senang. Aku bangga punya kakak yang hebat. Tapi, lama-kelamaan aku jadi
sedih. Ke mana pun aku pergi, aku selalu dibandingkan dengan kakakku. Aku kesal
karena tidak bisa mengalahkannya, apa pun yang kulakukan. Dan, aku mendengar
orang-orang di sekitarku kecewa karena aku 'hanya seperti ini'. Saat itulah aku
sadar. Mereka tidak melihatku. Mereka melihatku sebagai adik Arisugawa Yuuma."
Yuki terus
berbicara seolah-olah sedang meluapkan semua unek-uneknya.
"Aku adalah
aku. Aku ingin mereka melihatku sebagai Arisugawa Yuki. Untuk itu, aku harus
mengalahkan kakakku."
"Harus
mengalahkan... ya. Kalau kau tidak suka dibandingkan dengan kakakmu, kau bisa
saja masuk SMA lain."
"Memang aku
pernah memikirkan itu. Tapi..."
Yuki
menggembungkan pipinya dan berkata sambil mengalihkan pandangannya,
"Kalau
begitu, aku sama saja melarikan diri."
Aku sudah
menduganya. Aku tersenyum dalam hati.
Yuki tetaplah
Yuki. Baik saat kecil maupun dewasa, dia tetap tidak suka kalah.
"Apa Yuuma-senpai
sehebat itu?"
Aku belum
terlalu mengenalnya.
Yang kutahu
hanyalah dia pergi ke Amerika dan mendirikan Cross Streamers, dia tampan, dan
populer di kalangan wanita. Hanya itu.
"Meskipun
menyebalkan, dia jenius. Dia masuk sekolah ini dengan nilai tertinggi dan
selalu juara satu. Bukan hanya pintar, dia juga hebat dalam olahraga. Dia
pernah ikut turnamen basket nasional saat SMP."
Dia benar-benar
seperti karakter curang. Setelah melihatnya secara langsung, aku tidak punya
pilihan selain percaya.
"Apa dia
punya kekurangan?"
"Kepribadiannya
buruk. Dan dia playboy."
"Ah, itu
memang benar..."
Aku tersenyum
kecut sambil mengingat saat bertemu dengannya kemarin.
"Tapi,
suatu saat nanti aku pasti akan mengalahkannya."
"Mengalahkan?
Maksudmu dalam hal belajar?"
"Belajar
juga, tapi... Kau tahu ada festival sekolah namanya Wakaba Matsuri akhir
Mei?"
Wakaba Matsuri?
"Ah.
Ngomong-ngomong, aku ingat pernah menulisnya di jadwal saat menulis koran
OSIS."
"Setiap
klub mengadakan acara untuk menyambut siswa baru. Tidak seperti festival
budaya, festival ini diselenggarakan oleh OSIS, dan katanya ini adalah tempat
untuk menguji kemampuan OSIS baru."
"Oh. Kenapa
dengan itu?"
"Ketua OSIS
tahun lalu adalah kakakku, dan dia yang memimpin Wakaba Matsuri
sendirian."
Ah. Aku mengerti
sekarang.
"Jadi, kau
ingin mengadakan festival yang lebih meriah dari tahun lalu?"
"Iya."
Yuki mengangguk.
"Ngomong-ngomong,
para alumni juga datang ke Wakaba Matsuri. Tahun lalu, ketua Nanase Steel dan
mantan gubernur, Shigetomi-san, datang."
"Serius?"
Itu bukan
orang-orang yang datang ke festival sekolah biasa. Karena aku pernah dewasa,
aku tahu betapa anehnya itu.
Oke. Aku sudah
punya tujuan baru. Aku menepuk lututku dan berkata,
"Kalau
begitu, ayo kita kalahkan Yuuma-senpai bersama-sama."
Yuki tampak
senang sesaat, tapi kemudian dia berkata dengan ekspresi terkejut,
"Aku tidak
butuh bantuanmu. Tidak ada gunanya kalau aku tidak menang sendiri."
Dia
menggelengkan kepalanya.
"Anggap
saja aku sebagai sekutumu, tidak perlu sungkan. Toh, yang bertarung adalah kau
dan Yuuma-senpai."
"Sekutu?
Kenapa kau selalu berkata..."
"Tentu saja
aku akan mendukung orang yang kusuka, antara Yuuma-senpai dan kau."
"...."
Yuki memerah dan
bergumam pelan,
"Be-begitu.
Terserah kau saja."
* * *
Setelah Golden
Week berakhir, kami mengganti seragam.
Di masa depan,
hampir semua sekolah memiliki AC, tapi di timeline ini, tahun 2009, banyak
sekolah yang hanya punya AC di ruang guru.
Tapi, sekolah
kami memang sekolah elit. Ada dua AC yang terpasang di langit-langit kelas.
"........."
Hari pertama
ganti seragam.
Semua siswa
laki-laki di kelas menatap Yuki.
Yuki dengan
seragam musim panas terlihat lebih manis daripada saat memakai seragam musim
dingin.
Baju lengan
pendek dan rok tipis. Dan yang paling berbeda adalah kakinya.
Selama musim
dingin, dia selalu memakai stoking hitam.
Sekarang dia
tidak memakainya, dan kaki putihnya terlihat. Kakinya mulus sekali sampai aku
ingin mengelusnya.
"Lihat itu.
Itu curang."
"Apa dia
pakai tabir surya atau semacamnya?"
Para siswi
berbisik-bisik, mencoba mencari tahu rahasia kaki mulus Yuki yang seperti
sutra.
Yuki di masa ini
mungkin tidak tahu, tapi Yuki di masa depan memakainya.
Kelas berikutnya
adalah kelas berpindah. Yuki keluar kelas dengan membawa buku pelajaran.
Seorang siswa
laki-laki yang duduk di dekat tempat Yuki lewat berkata dengan semangat pada
teman di sebelahnya,
"Hei, hei,
aroma yang ditinggalkan Putri Mawar Putih sangat manis dan enak."
"Mungkin
aroma sampo? Tapi, aromanya seperti bunga."
"Aroma
mawar putih?"
"Mawar
tidak beraroma seperti itu."
Aroma tubuhnya
yang harum.
Mungkin hanya
aku yang tahu kalau itu aroma parfum yang kupilihkan.
Sambil menikmati
perasaan senang itu, aku mengeluarkan ponselku dan mulai mengetik pesan.
Pesan itu akan
kukirim ke Mikami Shizuka. Ketua OSIS.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.