Kanojo wo deresareru houhou wo, Shorau kekkon suru oredake ga shitteiru V1 EPS 7

N-Chan
0

Episode 7

Kencan Pertama (Bukan Kencan)


(POV Masaomi)

 

Pagi hari di hari yang dijanjikan.

 

"Sepertinya cukup."

 

Aku melihat wajahku dari berbagai sudut di depan wastafel setelah merapikan alisku.

 

Aku sudah berkaca selama tiga puluh menit.

 

Hari ini adalah pertama kalinya aku pergi kencan dengan Yuki yang masih SMA, jadi wajar saja aku bersemangat.

 

"Apa aku harus menata rambutku dengan wax? Tapi, kalau terlalu niat, dia mungkin akan ilfeel... Eh?"

 

Aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku dan menoleh, lalu melihat ibuku sedang menyeringai.

 

"Kau bersemangat sekali... Kau mau pergi kencan dengan perempuan?"

 

Menjijikkan. Kok dia tahu?

 

"Dia bukan pacarku, kami hanya pergi main."

 

"Tidak usah malu. Iya, kamu sudah SMA. Tanpa kusadari, kamu sudah tumbuh besar... Ibu terharu."

 

"................"

 

Kalau aku yang dulu, aku pasti akan marah dan berkata, "Berisik, nenek sihir!" Tapi, sekarang aku sudah dewasa.

Aku harus bersikap dewasa dan tenang.

 

"Sudah kubilang, dia hanya teman perempuan."

 

"Ah, jangan berpikir yang aneh-aneh. Perempuan itu sensitif terhadap hal seperti itu. Pertama-tama, kamu harus membuatnya..."

 

"Berisik, nenek sihir!"

TLN: Ajg okawkawokaowkak

 

 

* * *

 

 

Tempat pertemuan yang kami sepakati adalah di depan patung anjing di Stasiun Shibuna.

 

Tempat ini juga ramai di tahun 2009.

 

Di masa depan, Shibuya adalah kota pekerja kantoran dan orang asing, tapi di masa ini, Shibuya adalah kota anak muda.

 

Banyak anak muda bergaya berlalu-lalang, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa kota ini adalah pusat mode.

 

Aku tiba tiga puluh menit lebih awal dan menunggu Yuki sambil mengenang pemandangan itu.

 

"Oh, dia datang."

 

Mungkin sekitar sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan. Yuki keluar dari pintu keluar stasiun.

 

Dia berjalan ke arahku dengan langkah lambat sambil menarik perhatian anak-anak muda di sekitarnya.

 

"Kau cepat ya."

 

"Karena aku tidak sabar."


Jadi ini pakaian sehari-hari Yuki saat SMA.

 

Dia berpakaian seperti laki-laki. Kemeja merah muda dengan jaket hitam. Bawahannya bukan rok, melainkan celana jeans wanita. Dia juga memakai topi hitam.

 

Tingginya kurang dari 160 cm, tapi kakinya panjang, jadi dia terlihat tinggi.

 

Mungkin semua yang dia pakai adalah barang bermerek, tapi anehnya, saat dipakai Yuki, baju-baju itu tidak terlihat mahal.

 

Entah kenapa, karena Yuki sendiri seperti barang mewah, barang-barang yang dia pakai jadi terlihat murah.

 

Mungkin karena pantulan sinar matahari, aku melihat partikel cahaya kecil menari-nari di sekelilingnya.

 

"Apa? Ada yang salah dengan penampilanku?"

 

Yuki bertanya dengan mata menyipit saat melihatku menatapnya.

 

"Tidak, aku hanya berpikir, 'Oh, jadi ini pakaian sehari-hari Arisugawa'."

 

"Kau mau bilang aku tidak cocok pakai baju ini?"

 

"Bukan, bukan! Kau sangat cocok!"

 

"Begitu. Syukurlah."




Yuki bergumam pelan sambil memainkan rambutnya.

 

"........."

 

"Kenapa? Tiba-tiba diam?"

 

"Tidak, aku hanya berpikir kau akan mengomentari penampilanku."

 

"Komentar?"

 

Yuki melihatku dari atas ke bawah, lalu berkata dengan nada datar,

 

"Biasa saja."

 

"Tidak ada pujian seperti 'dua kali lebih tampan dari biasanya'?"

 

"Apa pun yang dikalikan dengan nol hasilnya tetap nol."

 

Kejam sekali. Aku tersenyum kecut.

 

Aku yakin penampilanku termasuk di atas rata-rata, tapi dibandingkan dengan Yuki, aku seperti langit dan bumi.

 

"Jadi, filmnya mulai jam berapa?"

 

"Jam dua siang."

 

"Jam dua siang? Masih ada hampir satu jam lagi. Seharusnya kita janjian lebih siang..."

 

"Yah, untuk berjaga-jaga kalau kereta terlambat atau ada kejadian tak terduga. Lagipula bioskopnya dekat, jadi kita bisa jalan-jalan sambil menunggu."

 

Aku sengaja datang lebih awal. Karena ini Yuki, dia mungkin akan langsung pulang setelah menonton film.

 

Jadi, aku memberinya waktu luang sebelum menonton film.

 

"Dari sini, yang paling dekat adalah Seibu Department Store."

 

"Tunggu dulu. Aku mau membuat beberapa kesepakatan dulu."

 

"Kesepakatan?"

 

Yuki berdiri di depanku yang berbalik dan mengangkat tiga jari.

 

"Pertama, jangan gunakan kata 'kencan'. Sekali lagi kukatakan, kita hanya teman."

 

"Kedua, jangan beri tahu siapa pun soal kita pergi main bersama. Aku tidak mau ada gosip aneh di sekolah."

 

"Ketiga, terserah kau mau ke mana, tapi... jangan bawa aku ke tempat aneh."

 

"Tempat aneh?"

 

Saat aku memiringkan kepalaku, Yuki mengalihkan pandangannya dan bergumam,

 

"Seperti ho-hotel cinta yang waktu itu."

 

Aku tidak akan ke sana!

 

"Kau terlalu waspada. Percayalah sedikit padaku."

 

"Entahlah. Katanya semua laki-laki itu serigala."

 

Memang benar sih. Aku tersenyum kecut.

 

Alasan Yuki bersikap defensif mungkin karena dia sering melihat kakaknya yang playboy.

 

Karena itu, dia tidak punya pengalaman pacaran sampai usia dua puluhan pertengahan di kehidupan sebelumnya.

 

"Baiklah. Aku akan menepati ketiga kesepakatan itu."


"Hmm. Baiklah."

 

Yuki bergumam sambil memainkan rambutnya.

 

 

* * *

 

 

Seibu Department Store ramai karena hari libur.

 

"Ngomong-ngomong, berapa uang jajanmu, Arisugawa?"

 

"Satu bulan sepuluh ribu yen. Tapi, aku hampir tidak pernah memakainya, jadi aku tabung saja. Aku tidak tahu mau dipakai untuk apa."

 

Sepuluh ribu yen ya. Sepertinya lebih banyak dari rata-rata anak SMA, tapi untuk anak orang kaya, jumlah itu biasa saja.

 

"Kalau kau berapa?"

 

"Aku juga segitu. Kadang aku kerja sampingan juga."

 

"Kerja sampingan? Menempel stiker?"

 

Ternyata image Arisugawa tentang kerja sampingan seperti itu.

 

"Yah, kerja sampingan yang mudah pakai komputer."

 

Aku mengalihkan pembicaraan.

 

Kerja sampingan yang kumaksud adalah trading saham.

 

Anak SMA tidak punya banyak uang, tidak seperti saat aku sudah bekerja. Jadi, aku pinjam satu rekening ayahku dan menghasilkan uang jajan dengan trading saham.

 

Di dompetku hari ini ada lebih dari seratus ribu yen.


Aku membawanya untuk berjaga-jaga karena aku tidak tahu seperti apa kebiasaan Yuki saat SMA dalam menggunakan uang.

 

Aku memang tidak berencana makan malam, tapi kalau-kalau kami jadi pergi ke restoran mahal, aku tidak mau malu karena tidak punya uang.

 

Tapi, sepertinya kekhawatiranku tidak beralasan. Kebiasaan Yuki dalam menggunakan uang tidak jauh berbeda dengan anak SMA pada umumnya.

 

"Ngomong-ngomong, setelah Golden Week, kita ganti seragam."

 

Aku berkata sambil melihat baju-baju musim panas yang mulai dipajang di bagian pakaian.

 

"Iya. Aku sudah menyiapkannya."

 

Seragam musim panas Yuki. Aku tidak sabar untuk melihatnya. Dia selalu pakai stoking hitam saat musim dingin, dan hari ini dia pakai celana panjang, jadi aku belum pernah melihat kaki Yuki saat SMA.

 

Kalau ditanya bagian tubuh Yuki yang paling kusuka, aku akan menjawab kakinya. Kakinya sangat indah.

 

Kaki putih mulus tanpa noda atau tahi lalat. Aku tidak terlalu tertarik dengan kaki perempuan sebelum bertemu dengannya, tapi setelah melihat kaki Yuki, aku jadi suka kaki.

 

"Aku tidak akan beli baju. Aku baru beli minggu lalu."

 

"Jangan-jangan baju yang kaupakai sekarang juga baru?"

 

"Iya, tapi... Ah, ti-tidak, ini baju tahun lalu."

 

Ah. Ini pasti baju baru. Aku bisa tahu dari reaksi Yuki.

 

Yuki berbohong karena dia tidak mau ketahuan kalau dia membeli baju baru untuk "kencan" hari ini.


Begitu ya. Setidaknya dia peduli padaku sampai-sampai membeli baju baru. Aku sedikit senang.

 

"Aku juga tidak akan beli baju. Aku lebih tertarik melihat yang itu."

 

"Yang itu?"

 

Aku pergi ke bagian aksesori yang menjual barang untuk pria dan wanita.

 

Kebanyakan yang dijual di sana adalah aksesori dan parfum.

 

Harganya juga tidak murah. Toko itu sepertinya menargetkan pekerja kantoran, bukan anak SMA.

 

"Kau pakai parfum?"

 

"Sedikit saja untuk menjaga kebersihan."

 

"Apakah itu tidak melanggar peraturan sekolah?"

 

"Sepertinya parfum yang tidak berbau menyengat boleh-boleh saja. Eau de cologne pasti tidak masalah."

 

"Eau de...? Apa itu? Merek parfum?"

 

"Itu jenis parfum berdasarkan persentase kandungan pewanginya. Ada parfum, eau de parfum, eau de toilette, dan eau de cologne. Eau de cologne adalah parfum yang paling ringan."

 

"Begitu ya. Kenapa kau tahu banyak tentang itu?"

 

"Itu..."

 

Aku tidak mungkin bilang kalau aku tahu dari dirimu di masa depan.

 

"Ibuku maniak parfum, jadi aku tahu dari dia."

 

Aku memutuskan untuk mengarang alasan.


"Jadi, tolong pilihkan untukku."

 

"Hah? Kenapa aku yang harus memilih?"

 

"Karena kau yang duduk paling dekat denganku di OSIS. Kau yang paling sering mencium aromaku, jadi kau yang paling tahu, kan?"

 

"Jangan bilang mencium aroma! Kalau kau bilang begitu, sepertinya aku ini mesum yang sering mencium aromamu!"

 

Yuki berteriak dengan wajah kesal sambil memerah.

 

Ngomong-ngomong, kau di masa depan sering mencium aromaku. Saat kutanya apa kau suka aroma tubuh, kau bilang, "Aku merasa tenang kalau mencium aromamu."

 

"Aku minta yang paling bagus."

 

"Paling bagus ya..."

 

Yuki melihat-lihat parfum dengan wajah malas, lalu sepertinya dia menemukan sesuatu dan bertanya sambil tersenyum nakal,

 

"Kau serius mau yang paling bagus?"

 

"Iya."

 

"Kalau begitu, yang ini."

 

Yuki menunjuk label harga parfum merek terkenal yang sangat mahal, harganya tujuh puluh ribu yen. Mungkin itu parfum pria termahal di toko ini.

 

"Eh? Kau yakin yang ini?"

 

"Iya. Aromanya enak. Menurutku ini yang paling bagus."

 

Hmm. Aku memeriksa isi dompetku dan berkata,

 

"Oke. Kalau begitu, aku beli yang ini."

 

"Eh?"

 

Yuki terkejut saat aku mengambil label harga itu tanpa ragu dan pergi ke kasir.

 

"Kau lihat harganya tidak!? Tujuh puluh ribu yen!?"

 

"Itu setengah tahun uang jajanku. Tapi, demi Arisugawa..."

 

"Kau terlalu siap. Aduh. Biar aku yang pilih! Sini!"

 

Mungkin karena merasa tidak enak, Yuki buru-buru mengambil label harga itu dari tanganku dan mengembalikannya.

 

".........Menurutku yang ini bagus."

 

Setelah itu, Yuki memilih parfum dengan aroma sabun yang lembut seharga tiga ribu yen.

 

"Oh. Ini memang enak."

 

"Yakan?"

 

Setelah membayar, aku berkata,

 

"Sekarang giliranmu, Arisugawa."

 

"Eh? A-aku?"

 

Yuki tampak sedikit terkejut, lalu menggelengkan kepalanya.

 

"Aku tidak butuh."

 

"Tapi, sebentar lagi musim panas, kan? Bukannya lebih baik kau punya parfum?"

 

"...."

Yuki tampak terkejut.

 

Yuki yang memiliki darah Eropa Timur tidak tahan panas dan mudah berkeringat.

 

Meskipun tidak bau, dia minder dengan hal itu, dan saat kencan, dia sering pergi ke toilet untuk menyeka keringatnya dengan tisu basah.

 

Ngomong-ngomong, dia tidak tahu kalau parfum tidak bisa menghilangkan bau keringat.

 

Yuki memegang ujung bajunya dengan ekspresi cemas dan berkata,

 

"Ja-jangan-jangan aku bau...?"

 

"Tidak, sama sekali tidak. Justru kau wangi. Aku ingin mencium aromamu setiap hari."

 

".........Aku akan minta ketua OSIS untuk mengganti tempat dudukku."

 

Jangan. Nanti aku dipindahkan karena pelecehan seksual.

 

"Bagaimana kalau kau beli sekarang dan kau pakai nanti kalau butuh?"

 

"Memang... itu ide yang bagus."

 

Aku melihat-lihat parfum wanita, lalu mengambil sampel parfum bulat berwarna pink muda dan berkata,

 

"Bagaimana kalau yang ini?"

 

Parfum itu beraroma dasar magnolia dan tidak terlalu menyengat.

 

"Ah, aromanya memang enak."

 

Yuki tampak menyukainya, dia menciumnya berkali-kali.

 

Wajar saja dia menyukainya.

 

Karena ini adalah parfum yang disukai Yuki di masa depan.

 

"Jadi, kau mau beli yang ini?"

 

"Tu-tunggu dulu. Aku mau coba yang lain."

 

Dia mencium beberapa parfum lain, tapi sepertinya tidak ada yang lebih enak dari yang kupilih, jadi akhirnya dia membeli parfum pilihanku.

 

 

* * *

 

 

Kami sampai di gedung bioskop dan naik lift ke lobi.

 

"Ngomong-ngomong, terakhir kali aku ke bioskop itu waktu SD."

 

"Aku juga... waktu SMP."

 

Karena aku sudah memesan tiketnya, aku mencetak dua tiket di mesin, lalu kembali ke Yuki yang sedang menunggu di pojok.

 

"Aku baru ingat, film apa yang akan kita tonton?"

 

Karena dia menyerahkan pilihan filmnya padaku, aku memilihnya tanpa bertanya padanya.

 

"Film Amerika. Awalnya komedi. Akhirnya mengharukan."

 

"Hmm."

 

Yuki menatap judul yang tertulis di tiket.

 

Film yang akan kami tonton ini sudah pernah kutonton sebelumnya.

 

Film ini adalah komedi mengharukan tentang sepasang suami istri yang memelihara seekor anak anjing nakal, menjalani hidup mereka dengan anjing itu sebagai pusatnya, dan akhirnya merawatnya sampai akhir hayatnya.

 

Seingatku, film ini diadaptasi dari novel terkenal di Amerika.

 

"Ah, aku belum bisa berhenti menangis."

 

"Aku juga menangis sampai mataku bengkak."

 

Penonton dari pertunjukan sebelumnya keluar.

 

Banyak yang matanya merah dan bengkak, dan ada juga yang memegang sapu tangan.

 

"Sepertinya filmnya bagus. Banyak yang menangis."

 

"Sepertinya begitu."

 

Yuki melihat mereka dan mendengus.

 

"Tapi, aku tidak mengerti orang yang menangis di bioskop. Aku tidak bisa menangis kalau ada banyak orang di sekitarku."

 

Eh? Benarkah? Seingatku, dia menangis saat menonton film denganku.

 

"Layar 3. Penonton dengan tiket untuk jam 2 siang, silakan masuk."


"Ayo masuk."

 

"Hmm. Jangan bangunkan aku meskipun aku tertidur di tengah film."

 

Yuki berkata begitu sambil menguap kecil.

 

 

* * *

 

 

"Hiks... hiks..."

 

Filmnya selesai. Singkat cerita, Yuki menangis tersedu-sedu.


Yuki biasanya tidak menangis saat menonton film mengharukan tentang kematian manusia. Dia memang tersentuh, tapi tidak sampai menangis.

 

Yang tidak bisa dia tahan adalah film tentang kematian hewan. Di film yang baru saja kami tonton, ada adegan di mana anjing nakal itu dirawat di rumah sakit sampai akhir hayatnya.

 

"Mau sapu tangan?"

 

"Tidak perlu! Aku tidak menangis!"

 

Meskipun dia berkata begitu, lengan bajunya basah kuyup karena air mata.

 

"A-aku mau ke toilet dulu."

 

Mungkin aku harus memberinya waktu untuk menenangkan diri.

 

Aku pergi ke toilet untuk merapikan rambutku dan bermain ponsel sebentar, lalu kembali ke Yuki.

 

"Marley..."

 

Dia masih menangis!

 

Yuki duduk di sofa ruang tunggu sambil menyebut nama anjing yang mati itu dengan sedih.

 

Para pria hidung belang pun tidak berani mendekatinya karena dia terlihat sangat sedih. Dia bahkan tidak bisa mendengar orang yang menyapanya.

 

Ah. Aku tidak menyangka suasananya akan semuram ini. Aku salah pilih film.

 

Yuki di masa depan memang memuji film ini, tapi mungkin terlalu berat untuk Yuki di masa ini.

 

Rencananya, setelah ini kami akan mengobrol tentang film ini di kafe, tapi sepertinya tidak mungkin dengan keadaannya sekarang. Dia bukan hanya sedih, tapi putus asa. Dia sepertinya akan terus memikirkan kematian anjing itu selama dua tiga jam.

 

Tidak bisa ditolong. Aku akan menggunakan senjata rahasiaku meskipun aku berencana menggunakannya setelah kami lebih dekat.

 

"Hei, ada tempat yang ingin kukunjungi, apa kau tidak apa-apa?"

 

"Di mana...?"

 

Yuki mendongak sambil terisak.

 

Cara terbaik untuk menyembuhkan hati yang terluka karena hewan adalah...

 

dengan meminta hewan untuk menyembuhkannya.

 

 

* * *

 

 

"Kafe kucing...?"

 

"Iya. Sepertinya baru buka di dekat sini, dan aku ingin ke sana."

 

"Aku pernah dengar. Itu kafe tempat kita bisa bermain dengan kucing, kan?"

 

Di masa ini, kafe kucing baru saja menyebar dan dikenal di seluruh Jepang.

 

Kafe kucing pertama di Jepang ada di Osaka, kalau tidak salah tahun 2004, dan masuk ke Tokyo setelah itu.

 

Di masa depan, ada kafe kucing yang melarang pengunjung untuk menggendong kucing demi mengurangi stres kucing, tapi di masa ini, kita bebas menyentuh, menggendong, dan dicakar kucing sepuasnya.


"Kucing..."

 

Aku bisa melihat ekspresi Yuki yang sedih menjadi sedikit lebih cerah.


Yuki di masa depan sangat suka kucing.

 

Saat pertama kali berkencan dengan Yuki yang sudah dewasa, aku mengajaknya ke berbagai tempat.

 

Kebun binatang. Bioskop. Pertandingan baseball. DisneySea.

 

Dia memang terlihat senang, tapi aku merasa dia agak sungkan padaku.


Tapi, dia langsung suka saat aku mengajaknya ke kafe kucing.

 

Saat dia menemukan kucing favoritnya, dia bahkan pergi ke sana lima kali seminggu.

 

"Kau suka kucing?"

 

"Kalau disuruh pilih antara anjing dan kucing, aku pilih kucing."

 

Lagipula, kepribadian Yuki juga seperti kucing. Dia egois dan tidak suka menjilat orang lain.

 

"Be-begitu ya. Sama sepertiku."

 

Melihatnya gelisah, sepertinya Yuki di masa ini juga suka kucing.

 

Kafe kucing Mao Mao terletak di lantai dua sebuah gedung kecil di gang sempit.

 

"Selamat datang."

 

Saat kami masuk, seorang pelayan muda menyambut kami.

 

"Apakah Anda sudah menjadi anggota?"

 

"Belum, ini pertama kalinya kami ke sini."

 

"Kalau begitu, silakan duduk di meja itu, saya akan menjelaskan sistem kafe kami."

 

"........."

 

"Arisugawa?"

 

"Eh? Ah, iya, kita duduk di sana."

 

Pandangan Yuki tertuju pada kucing-kucing di kafe itu.

 

Sepertinya Yuki memang sudah suka kucing sejak dulu.

 

Setelah kami duduk, pelayan itu mulai menjelaskan.

 

"Untuk saat ini, hanya kucing ini, ini, dan ini yang boleh digendong. Untuk kucing yang lain, hanya boleh dilihat atau diajak bermain dengan tongkat bulu."

 

Oh, meskipun ini masih zaman dulu, kafe ini tampaknya sangat memperhatikan kucing. Pasti ini kafe yang bagus.

 

Yuki mendengarkan penjelasan dengan saksama.

 

"Di kafe ini, Anda harus memesan minimal satu minuman. Silakan pesan jika sudah siap."

 

"Eee, aku pesan kopi Kucing Gunung."

 

"Ah... a-aku juga sama."

 

"Baik."

 

Kafe kucing ini memisahkan area minuman dan area bermain dengan kucing sepenuhnya.

 

Mungkin untuk mencegah kucing salah minum minuman manusia.

 

Tapi, kita bisa melihat kucing-kucing dari balik kaca di area minuman, jadi ini juga menyenangkan.

 

Ada delapan ekor kucing di sini. Sepertinya pelanggan lain hanya ada dua orang wanita muda.

 

"........."

 

Yuki tampak gelisah, mungkin karena ingin segera bermain dengan kucing.

 

"Kita ke tempat kucingnya setelah minumannya datang."

 

"A-aku tahu."

 

Yuki menggembungkan pipinya, mungkin kesal karena aku berbicara seperti sedang menasihati anak kecil.

 

Lima menit kemudian.

 

"Ini kopi Kucing Gunung Anda."

 

cangkir diletakkan di depan kami.

 

Aku memesan yang paling murah, dan ternyata itu kopi hitam biasa.

 

Aku meminum cairan hitam yang panas itu tanpa gula atau susu. Aku bisa merasakannya mengalir melalui kerongkonganku ke perutku.

 

"Kau minum kopi hitam?"

 

"Hmm? Ah, aku tidak masalah minum kopi dengan atau tanpa gula. Kopi manis dan kopi hitam punya kelebihan masing-masing."

 

"Hmm... Jadi kau tidak sedang sok keren."

 

Yuki menuangkan gula dan susu, lalu mengaduknya perlahan dengan sendok.


Dia menyesapnya, tapi mungkin karena panas, dia mengerutkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Sambil melihatnya meniup kopinya, aku menghabiskan kopiku perlahan.

 

Setelah selesai minum kopi, akhirnya tiba saatnya bertemu dengan kucing-kucing itu.

 

"Nyaa."

 

Begitu kami masuk ke area bermain dengan kucing, ada dua ekor kucing yang mendekati kaki Yuki.

 

Mereka adalah Kuro-kun dan Shokola-chan, kucing-kucing yang boleh dipegang.

 

"!"

 

Yuki tampak senang karena mereka langsung menghampirinya, dia mengelus mereka dengan tangan gemetar.

 

Melihat mereka mendengkur, wajah Yuki langsung berseri-seri.

 

"Ke-ke sini."

 

Yuki duduk di kursi dan menepuk lututnya. Kuro-kun melompat ke pangkuannya dan duduk dengan kaki terlipat. Sepertinya dia ingin dielus lagi.

 

"Yah, mau bagaimana lagi."

 

Yuki terus mengelus kucing itu. Baiklah? Padahal dia sendiri yang memintanya untuk naik ke pangkuannya, tidak masuk akal.

 

Yang jelas, sepertinya dia sudah pulih dari kesedihan akibat film tadi.

 

"Aku mau ke toilet dulu."

 

"Nn."

 

Mungkin karena minum kopi, aku jadi ingin ke toilet. Saat aku pergi ke toilet di luar area bermain, aku melihat kedua wanita itu sedang membayar.

 

"Terima kasih. Totalnya 2.500 yen."

 

Jadi sekarang cuma aku dan Yuki di sini.

 

Apa tidak apa-apa cuma ada kami berdua di jam segini saat hari libur? Mungkin karena ini kafe kecil, jadi biaya sewanya tidak terlalu mahal.


Tidak tidak. Kenapa aku jadi berpikir seperti pengusaha? Sekarang aku hanya anak SMA.

 

Sambil meyakinkan diriku sendiri, aku mencuci tangan dengan bersih dan hendak kembali ke Yuki.

 

"!?"

 

Saat itu, aku melihat sesuatu yang luar biasa.

 

Yuki yang sedang berada di area bermain.

 

Dia menatap kucing yang sedang digendongnya, lalu melihat sekeliling.

 

Setelah memastikan tidak ada orang lain, dia berkata,

 

"Nyaa. Nyaa nyaa."

 

Dia berbicara dengan kucing itu dalam bahasa kucing.

 

"Nyaa? Nyaa nyaa nyaa."

 

Yuki berbicara dengan kucing itu dengan nada lembut seperti sedang berbicara dengan bayi. Tentu saja, kucing itu tidak bisa bicara, dia hanya menikmati belaian Yuki dan mendengkur.

 

"Hei, kenapa kamu lucu sekali? Ah, jangan begitu."


Yuki tampak senang saat pipinya dijilat kucing. Padahal kalau dijilat kucing, biasanya agak bau, tapi sepertinya dia tidak peduli.

 

Dia menunjukkan sisi lembutnya yang tidak pernah kulihat di masa depan.

 

Aku memutuskan untuk mengamatinya sebentar.

 

Yuki menggendong kucing-kucing itu bergantian, dan saat mereka mulai mendengkur, wajahnya langsung berseri-seri.

 

Dia menepuk pangkal ekor mereka dengan lembut, mengelus dagu mereka, dan menggunakan semua tekniknya untuk membuat mereka senang.

 

Dan, dia sendiri juga senang.

 

"Ekspresimu itu curang..."

 

Aku hampir pingsan karena dia terlalu imut. Gila. Yang imut sedang menggendong yang imut, mengeluarkan suara yang imut, dan melakukan gerakan yang imut.

 

Aku ingin melihat pemandangan ini lebih lama lagi. Aku ingin mengabadikannya di otakku.

 

Benar. Aku akan memotretnya. Aku buru-buru mengeluarkan ponselku.

 

Tapi, ponsel jadul di masa ini resolusinya jelek dan fungsi zoom-nya juga terbatas.




Untuk mengambil foto dengan kualitas bagus, aku harus agak mendekat.

 

Aku mendekat dengan mengendap-endap tanpa suara. Oke. Dua meter lagi...

 

"Nyaa? Kau suka di sini, ya? Kalau begitu, aku elus lagi..."

 

Saat itu, terdengar suara denting lonceng dan pelanggan baru masuk.

 

"!"

 

Yuki mendongak. Dan, mata kami bertemu.

 

"........." "........."

 

Mata Yuki membelalak, dan wajahnya langsung memerah.

 

Aku buru-buru menyimpan ponselku dan mulai mengelus Shokola-kun yang duduk di dekatku.

 

Aku pernah melihat ekspresi Yuki seperti ini.

 

Seingatku, itu terjadi sekitar setahun setelah kami menikah. Saat aku menemukan mainan dewasa yang dia beli karena penasaran. Setelah itu, dia mengurung diri di kamar selama dua hari.

 

Itu adalah ekspresi wajahnya saat dia sangat malu.

 

".........Kau dengar?"

 

"Dengar apa?"

 

"Perkataanku tadi..."

 

"Tidak, aku baru saja kembali dari toilet."

 

"Be-beneran?"

 

"Benar. Suzuhara tidak pernah bohong."

 

"Be-begitu. Syukurlah."

 

"Nyaa? Nyaa nyaa nyaa. (dengan suara yang sangat pelan)"

 

"Pasti kau dengar!"

 

Yuki marah dengan wajah memerah. Mungkin karena terkejut mendengar suara Yuki, kucing itu lari.

 

"Ah..."

 

Yuki tampak sedih karena kucing itu lari.

 

"Arisugawa. Kau bisa bahasa kucing juga ya. Hebat sekali, multibahasa."

 

"Berisik! Lupakan saja! Lagipula, kau jahat sekali karena menguping."

 

Tidak, kalau kau tidak sadar saat aku mendekat sampai lima meter, itu sama saja kau memintaku untuk menguping. Kau tidak waspada sekali.

 

"Tidak perlu malu. Aku juga suka kucing. Aku juga ingin menggendong dan mengelusnya."

 

"Be-begitu. Kau juga..."

 

"Yah, tapi aku tidak sampai mengajaknya bicara dengan bahasa kucing."

 

"Aku akan membunuhmu."

 

Yuki menatapku dengan tatapan membunuh jika aku menggodanya lagi.

 

 

* * *

 

 

"Hei, apa kau tidak apa-apa pulang selarut ini?"

 

"Ti-tidak apa-apa."

 

Dua jam kemudian. Kami masih di kafe kucing. Aku sudah beberapa kali mengajak Yuki pulang, tapi dia menolak dan bilang masih ingin di sini sebentar lagi.

 

"Kereta terakhir jam 6.30 sore, kalau aku lari dari stasiun, aku pasti akan sampai di rumah tepat waktu."

 

Lari? Dia sampai segitunya ingin menghabiskan waktu dengan kucing?

 

Sepertinya dia lebih cinta kucing daripada dirinya yang sudah dewasa.

 

"Aku senang menuruti ajakanmu hari ini."

 

"Begitu ya."

 

"Iya. Aku bisa bertemu dengannya."

 

Sepertinya Yuki paling suka dengan Milk-chan, seekor kucing belang tiga kecil.

 

Milk-chan juga sepertinya suka pada Yuki, dia terus mendengkur di pangkuan Yuki.

 

Aku senang Yuki senang, tapi aku merasa semua kenangan hari ini direbut oleh kucing.

 

Perasaanku jadi campur aduk. Mungkin seperti ini rasanya saat istrimu direbut. Awas kau kucing.

 

"Wah, jarang sekali. Dia biasanya tidak mau naik ke pangkuan orang."

 

Pelayan yang tadi mengambil pesanan kami tampak terkejut.

 

"Benarkah?"

 

"Iya. Sepertinya dia suka padamu."

 

"Suka padaku... Ehehe."

 

Yuki tampak senang.

 

"Ah, a-aku akan datang lagi! Untuk menemuinya."

 

"Ah, ee..."

 

Ada apa? Ekspresi pelayan itu tiba-tiba berubah murung.

 

Pelayan itu berpikir sejenak, lalu menghela napas pelan dan berkata,

 

"Karena sudah diputuskan, mungkin tidak apa-apa kalau kubilang."

 

"Kucing itu akan pindah ke cabang lain minggu depan."

 

"Eh?"

 

Pelayan itu menunjuk seekor kucing tortoiseshell yang sedang tidur di sofa dengan wajah angkuh.

 

"Dia punya kakak laki-laki. Namanya Choco-kun, yang sedang tidur di sana. Mereka tidak terlalu akur."

 

Dibandingkan dengan Choco-kun, tubuh Milk-chan sedikit lebih kecil.

 

"Mereka sering bertengkar. Jadi, diputuskan kalau lebih baik mereka dipisahkan."

 

"Kenapa... yang dipindahkan malah yang dibully?"

 

"Hmm. Aku juga sedih kalau kau bilang begitu..."

 

Pelayan itu mengalihkan pandangannya dan berkata dengan suara pelan,

 

"Sebenarnya, pelanggan lebih suka kakaknya."

"...."

 

"Choco-kun lebih ramah dan punya banyak penggemar setia. Jadi, kalau harus memilih siapa yang dipindahkan... ya Milk-chan..."

 

Melihat Yuki terdiam, pelayan itu buru-buru berkata,

 

"Ah, jangan khawatir. Cabang yang dituju juga bagus, dan aku yakin ini yang terbaik untuknya."

 

Yuki menggigit bibirnya dan berkata,

 

"Ee, bolehkah aku memberinya camilan?"

 

Lalu dia membeli camilan daging ayam (dengan biaya tambahan).

 

Yuki mengelus kepala Milk-chan yang sedang makan camilan dengan lahap.

 

"Semoga kau bahagia di tempat barumu."

 

Kucing betina yang ditindas oleh kucing jantan yang populer.

 

Aku seperti pernah mendengar kisah serupa. Pasti Yuki juga merasakan hal yang sama.

 

"Hei, soal Yuuma-senpai... kakakmu itu... apa hubungan kalian memang buruk?"

 

"Buruk. Kau kan sudah lihat sendiri waktu itu."

 

Dia tidak bertanya kenapa aku tiba-tiba menanyakannya. Pasti dia juga sedang memikirkan Yuuma.

 

"Dia orang yang buruk. Playboy, suka merendahkan orang lain, dan selalu mengejekku karena aku canggung, tidak tahu dunia, dan bodoh."

 

Dia mengatakan hal yang persis sama seperti Yuki di masa depan... Aku jadi sedikit tertawa.


"Kau anak tunggal?"

 

"Iya. Kok kau tahu?"

 

"Aku hanya tahu."

 

Yuki selesai memberi makan kucing itu, lalu mengelus Milk-chan yang sedang membersihkan diri dengan ekspresi puas sambil berkata,

 

"Saat masuk SMP, guru dan kakak kelas langsung tahu kalau aku adik Arisugawa Yuuma. Awalnya aku senang. Aku bangga punya kakak yang hebat. Tapi, lama-kelamaan aku jadi sedih. Ke mana pun aku pergi, aku selalu dibandingkan dengan kakakku. Aku kesal karena tidak bisa mengalahkannya, apa pun yang kulakukan. Dan, aku mendengar orang-orang di sekitarku kecewa karena aku 'hanya seperti ini'. Saat itulah aku sadar. Mereka tidak melihatku. Mereka melihatku sebagai adik Arisugawa Yuuma."

 

Yuki terus berbicara seolah-olah sedang meluapkan semua unek-uneknya.

 

"Aku adalah aku. Aku ingin mereka melihatku sebagai Arisugawa Yuki. Untuk itu, aku harus mengalahkan kakakku."

 

"Harus mengalahkan... ya. Kalau kau tidak suka dibandingkan dengan kakakmu, kau bisa saja masuk SMA lain."

 

"Memang aku pernah memikirkan itu. Tapi..."

 

Yuki menggembungkan pipinya dan berkata sambil mengalihkan pandangannya,

 

"Kalau begitu, aku sama saja melarikan diri."

 

Aku sudah menduganya. Aku tersenyum dalam hati.

 

Yuki tetaplah Yuki. Baik saat kecil maupun dewasa, dia tetap tidak suka kalah.

 

"Apa Yuuma-senpai sehebat itu?"

 

Aku belum terlalu mengenalnya.

 

Yang kutahu hanyalah dia pergi ke Amerika dan mendirikan Cross Streamers, dia tampan, dan populer di kalangan wanita. Hanya itu.

 

"Meskipun menyebalkan, dia jenius. Dia masuk sekolah ini dengan nilai tertinggi dan selalu juara satu. Bukan hanya pintar, dia juga hebat dalam olahraga. Dia pernah ikut turnamen basket nasional saat SMP."

 

Dia benar-benar seperti karakter curang. Setelah melihatnya secara langsung, aku tidak punya pilihan selain percaya.

 

"Apa dia punya kekurangan?"

 

"Kepribadiannya buruk. Dan dia playboy."

 

"Ah, itu memang benar..."

 

Aku tersenyum kecut sambil mengingat saat bertemu dengannya kemarin.

 

"Tapi, suatu saat nanti aku pasti akan mengalahkannya."

 

"Mengalahkan? Maksudmu dalam hal belajar?"

 

"Belajar juga, tapi... Kau tahu ada festival sekolah namanya Wakaba Matsuri akhir Mei?"

 

Wakaba Matsuri?

 

"Ah. Ngomong-ngomong, aku ingat pernah menulisnya di jadwal saat menulis koran OSIS."

 

"Setiap klub mengadakan acara untuk menyambut siswa baru. Tidak seperti festival budaya, festival ini diselenggarakan oleh OSIS, dan katanya ini adalah tempat untuk menguji kemampuan OSIS baru."

 

"Oh. Kenapa dengan itu?"

 

"Ketua OSIS tahun lalu adalah kakakku, dan dia yang memimpin Wakaba Matsuri sendirian."

 

Ah. Aku mengerti sekarang.

 

"Jadi, kau ingin mengadakan festival yang lebih meriah dari tahun lalu?"

 

"Iya."

 

Yuki mengangguk.

 

"Ngomong-ngomong, para alumni juga datang ke Wakaba Matsuri. Tahun lalu, ketua Nanase Steel dan mantan gubernur, Shigetomi-san, datang."

 

"Serius?"

 

Itu bukan orang-orang yang datang ke festival sekolah biasa. Karena aku pernah dewasa, aku tahu betapa anehnya itu.

 

Oke. Aku sudah punya tujuan baru. Aku menepuk lututku dan berkata,

"Kalau begitu, ayo kita kalahkan Yuuma-senpai bersama-sama."

 

Yuki tampak senang sesaat, tapi kemudian dia berkata dengan ekspresi terkejut,

 

"Aku tidak butuh bantuanmu. Tidak ada gunanya kalau aku tidak menang sendiri."

 

Dia menggelengkan kepalanya.

 

"Anggap saja aku sebagai sekutumu, tidak perlu sungkan. Toh, yang bertarung adalah kau dan Yuuma-senpai."

 

"Sekutu? Kenapa kau selalu berkata..."


"Tentu saja aku akan mendukung orang yang kusuka, antara Yuuma-senpai dan kau."

 

"...."

 

Yuki memerah dan bergumam pelan,

 

"Be-begitu. Terserah kau saja."

 

 

* * *

 

 

Setelah Golden Week berakhir, kami mengganti seragam.

 

Di masa depan, hampir semua sekolah memiliki AC, tapi di timeline ini, tahun 2009, banyak sekolah yang hanya punya AC di ruang guru.

 

Tapi, sekolah kami memang sekolah elit. Ada dua AC yang terpasang di langit-langit kelas.

 

"........."

 

Hari pertama ganti seragam.

 

Semua siswa laki-laki di kelas menatap Yuki.

 

Yuki dengan seragam musim panas terlihat lebih manis daripada saat memakai seragam musim dingin.

 

Baju lengan pendek dan rok tipis. Dan yang paling berbeda adalah kakinya.

 

Selama musim dingin, dia selalu memakai stoking hitam.

 

Sekarang dia tidak memakainya, dan kaki putihnya terlihat. Kakinya mulus sekali sampai aku ingin mengelusnya.

 

"Lihat itu. Itu curang."

"Apa dia pakai tabir surya atau semacamnya?"

 

Para siswi berbisik-bisik, mencoba mencari tahu rahasia kaki mulus Yuki yang seperti sutra.

 

Yuki di masa ini mungkin tidak tahu, tapi Yuki di masa depan memakainya.

 

Kelas berikutnya adalah kelas berpindah. Yuki keluar kelas dengan membawa buku pelajaran.

 

Seorang siswa laki-laki yang duduk di dekat tempat Yuki lewat berkata dengan semangat pada teman di sebelahnya,

 

"Hei, hei, aroma yang ditinggalkan Putri Mawar Putih sangat manis dan enak."

 

"Mungkin aroma sampo? Tapi, aromanya seperti bunga."

 

"Aroma mawar putih?"

 

"Mawar tidak beraroma seperti itu."

 

Aroma tubuhnya yang harum.

 

Mungkin hanya aku yang tahu kalau itu aroma parfum yang kupilihkan.


Sambil menikmati perasaan senang itu, aku mengeluarkan ponselku dan mulai mengetik pesan.

 

Pesan itu akan kukirim ke Mikami Shizuka. Ketua OSIS.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !