Episode
8
Ketidaksabaran
dan Kegagalan
Kenapa jadi
begini...?
Saat istirahat
siang. Aku duduk di meja paling pojok di kantin sekolah. Meja ini terletak di
tempat paling mencolok di kantin, jadi jarang ada siswa yang mau memakainya.
Aku bisa
merasakan tatapan siswa-siswa lain.
Bukan hanya
karena aku duduk di meja yang mencolok ini.
"Jadi, ada
apa kau ingin bicara denganku?"
Di depanku duduk
ketua OSIS, Mikami Shizuka.
Rambut hitam
panjangnya yang lurus tergerai dengan indah.
Di dadanya yang
anggun terpasang lencana Shichibo emas yang menunjukkan bahwa dia adalah juara
kelas dua tahun ini.
Di depannya ada
pizza toast, salad, dan sup consommé.
Di depanku ada
nasi kare dengan katsu.
"Kau hanya
bilang ingin bicara, kenapa kita jadi makan siang bersama?"
"Oh, maaf.
Apa kau bawa bekal hari ini?"
"Tidak,
bukan begitu. Tapi, kita kan bisa bicara di ruang OSIS. Kenapa harus di
kantin..."
"Aku ingin
bicara denganmu berdua saja dengan santai. Aku sudah penasaran denganmu sejak
lama."
Ketua OSIS
tersenyum sambil menatapku dengan mata yang tulus.
Aku belum pernah
bicara berdua saja dengannya, bahkan di masa depan.
Karena Yuki akan
cemburu. Saat bicara dengannya, aku selalu mengajak Yuki, jadi kami bertiga.
"Shizuka-san
bilang dia penasaran!"
"Hei, anak
itu juara kelas satu. Dia pakai lencana emas di dadanya."
"Jadi dia
suka anak pintar!?"
"Seingatku,
dia ikut OSIS. Namanya... Suzuhara!"
Aku bisa
mendengar suara-suara iri dari para senpai di sekitar kami.
Sepertinya dia
idola para siswa kelas dua.
Mungkin aku
harus berhati-hati saat pulang malam nanti.
"Penasaran...
Jangan bicara yang aneh-aneh."
"Karena itu
benar."
"Apa yang
menarik dariku? Wajahku biasa saja, dan aku juga cuma kebetulan bisa jadi juara
kelas."
"Aku tidak
peduli dengan penampilan. Aku tertarik dengan kepribadianmu."
Dia mendekatkan
wajahnya dan berbisik agar hanya aku yang bisa mendengarnya.
"Kau
sengaja tidak mengerjakan tugas OSIS dengan sungguh-sungguh?"
"!"
Dia benar.
Aku tidak
mengerjakan tugasku dengan sungguh-sungguh agar Yuki tidak marah. Aku bahkan
pernah sengaja membuat kesalahan.
Yuki memang
pintar, tapi ada perbedaan besar antara orang dewasa dan anak-anak. Kalau aku
bekerja dengan serius, perbedaan itu akan terlihat jelas.
"Kok kau
tahu?"
"Feeling
perempuan."
Ketua OSIS
berkata begitu dan menjulurkan lidahnya sedikit.
"Aku tidak
akan mempermasalahkannya. Lagipula, kau mengerjakan tugasmu dengan baik."
"Terima
kasih."
"Jadi, ada
apa kau ingin bicara denganku?"
"Iya.
Tentang Arisugawa... dan kakaknya... Yuuma-senpai."
Aku berbicara
dengan suara pelan agar tidak terdengar orang lain.
Perselisihan
antara Yuki dan Yuuma.
Keinginan Yuki
untuk menyukseskan Wakaba Matsuri dan mengalahkan Yuuma tahun lalu.
Dan, sifat asli
Yuuma.
Ketua OSIS
mendengarkan semua ceritaku tanpa bicara.
"----- Itu
semua yang kutahu."
Aku menceritakan
ini karena aku ingin dia menjadi sekutuku.
Wakaba Matsuri
adalah festival yang diselenggarakan oleh OSIS, dan ini adalah ajang unjuk gigi
bagi OSIS baru.
Tapi, penanggung
jawabnya adalah ketua OSIS. Meskipun Yuki berusaha keras, dia tidak bisa
bergerak bebas tanpa izin ketua OSIS.
Aku tidak
memintanya untuk menyerahkan semuanya pada Yuki. Aku hanya memintanya untuk
memberi Yuki kesempatan agar usahanya diakui.
"Begitu ya.
Jadi begitu ceritanya."
"Meskipun
mungkin sulit dipercaya, sifat asli mantan ketua OSIS itu..."
"Aku tahu.
Aku tahu kalau kepribadiannya itu bengkok."
"Hah...?"
Ketua OSIS
menyesap tehnya dan berkata sambil tersenyum kecut,
"Karena aku
pernah satu tahun di OSIS yang sama dengannya."
"Bahkan,
kurasa semua anggota OSIS sebelumnya tahu. Hanya saja, tidak ada yang
mengatakannya karena dia tidak melakukan hal buruk. Ah, tapi aku pernah
menegurnya karena dia playboy."
"Benarkah...
Orang itu, dia juga suka mengganggu perempuan di sekolah..."
"Iya. Dia
pernah merayuku juga."
"Serius?"
"Aku
menolaknya dengan halus karena aku suka orang yang setia."
Syukurlah ketua
OSIS bukan wanita murahan. Aku menghela napas lega dalam hati.
Dia menyibakkan
rambutnya dan berkata,
"Baiklah.
Aku akan membantu sebisa mungkin."
"Benarkah!?"
"Iya.
Lagipula, aku lebih suka Arisugawa-san daripada Yuuma-senpai."
Ketua OSIS
mengangguk sambil tersenyum.
"Lalu,
bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Arisugawa-san?"
"Kenapa kau
menanyakan itu? Kami baru sampai tahap bertukar nomor ponsel."
"Sayang
sekali."
"Sayang
sekali? Apa ketua OSIS tidak masalah dengan hubungan lawan jenis di OSIS?"
"Sudah
kubilang, aku tidak masalah dengan hubungan lawan jenis selama tidak
mengganggu. Kurasa kalian cocok."
Ketua OSIS
tersenyum dengan tulus.
Aku pernah
melihat ekspresi seperti ini. Dia seperti kakak perempuan yang suka menjodohkan
anak muda.
Aku tersenyum
kecut dan berkata,
"Jangan-jangan,
kau sengaja menyuruh kami pergi bersama saat memberi tugas?"
"Entahlah?
Mungkin saja."
Ketua OSIS mulai
memotong pizza toast-nya dengan pisau dan garpu dengan wajah tanpa dosa.
Dia bisa melihat
bahwa aku tidak bekerja dengan sungguh-sungguh, dan dia selalu mengelak.
Sepertinya aku
tidak bisa mempermainkannya seperti Yuki.
Sambil
memikirkan hal itu, aku melahap nasi kare dengan katsu-ku.
* * *
Hari itu juga,
ada rapat tentang Wakaba Matsuri di OSIS.
"Ah. Oh ya,
sudah waktunya."
Wakil ketua OSIS
menggaruk kepalanya dengan malas.
"Tugas kita
adalah merencanakan acara, mengatur tempat, dan memberi instruksi kepada
anggota panitia. Pasti akan melelahkan, tapi ayo kita semangat."
Ketua OSIS
memegang banyak dokumen. Pasti itu semua dokumen yang dibutuhkan untuk
persiapan Wakaba Matsuri.
"Pertama-tama,
kita akan menentukan penanggung jawab utama. Tahun lalu, mantan ketua OSIS, Yuuma,
yang mengatur semuanya, tapi kali ini kita bagi menjadi dua, siang dan sore.
Aku yang akan bertanggung jawab atas acara siang. Arisugawa-san, bisakah
kupercayakan acara sore kepadamu?"
"Ba-baik.
Aku bisa!"
Yuki tampak
terkejut sesaat, tapi kemudian dia menjawab dengan gembira.
"Ta-tapi,
kenapa aku?"
"Karena kau
terlihat paling bertanggung jawab. Pasti akan melelahkan, tapi ini juga
kesempatan yang bagus untukmu berkembang. Bisakah kupercayakan padamu?"
"Ba-baik!
Aku pasti akan menyukseskannya!"
Yuki mengepalkan
tangannya dan bergumam pelan,
"Aku
tadinya mau meminta sendiri... tapi ketua OSIS malah menawarkannya
padaku..."
Ketua OSIS
mengedipkan mata ke arahku, seolah-olah berkata, "Tidak masalah."
Terima kasih,
ketua OSIS.
"Apa kita
bagi anggota yang lain juga menjadi tim siang dan sore?"
"Ya. Kita
bagi menjadi tiga orang untuk tim siang dan dua orang untuk tim sore. Karena
tim siang lebih banyak satu orang, tim siang yang akan mengurus
perlengkapan."
"Baik."
"Kalau
begitu, aku dan Arisugawa-san akan suit untuk menentukan tiga orang
sisanya."
Ketua OSIS dan
Yuki suit.
"Oh, aku
menang. Kalau begitu..."
Ketua OSIS
menunjuk dengan pelan. Bukan wakil ketua OSIS atau Sugita-senpai, tapi aku.
"Aku ambil
Suzuhara-kun."
"Eh?"
Terdengar suara
tertahan dari Yuki. Melihat reaksinya, ketua OSIS tertawa kecil dan berkata,
"Aku cuma
bercanda. Lebih baik kita bekerja dengan orang yang biasa kita ajak bekerja
sama. Aku ambil Risa dan Boutarou."
Ketua OSIS,
jangan-jangan kau sedang mempermainkan Yuki?
"Ah,
syukurlah. Aku kira persahabatan kita selama sepuluh tahun akan berakhir."
"Oh,
bagaimana kalau aku pilih Suzuhara-kun saja? Sepertinya dia tidak akan bekerja
dengan serius."
"Jangan!
Aku akan bekerja dengan serius, jadi jangan tinggalkan aku!"
Ketua OSIS dan
wakil ketua OSIS mulai bercanda, dan anggota yang lain tersenyum kecut.
"...
Lega... tidak diambil..."
Aku hampir tidak
bisa mendengar gumaman Yuki karena suara wakil ketua OSIS, tapi sepertinya dia
merasa lega.
* * *
Pertama-tama,
kami mulai dengan mencari tahu seperti apa Wakaba Matsuri tahun lalu.
Wakaba Matsuri
yang dipimpin oleh Yuuma disebut-sebut sebagai festival yang sangat sukses.
Kami ingin mencari tahu rahasia kesuksesannya.
Tapi, semakin
kami mencari tahu, semakin murung wajah kami.
"Hei hei.
Ini curang."
Aku memegang
kepalaku setelah melihat pamflet acara, laporan keuangan, dan laporan hasil
festival.
Acara-acaranya
sendiri biasa saja, seperti stan makanan yang dikelola oleh klub olahraga dan
pertunjukan dari klub budaya.
Tapi, acara
spesial yang diadakan di gymnasium saat sore hari.
Talk show dengan
aktor tampan yang sedang populer, Kaburagi Shoichi.
Live performance
dari tiga orang trainee ABK48.
Mereka
mengadakan acara luar biasa yang bisa dinikmati oleh siswa laki-laki dan
perempuan.
"Bagaimana
caranya? Ini tidak mungkin bisa dilakukan dengan anggaran kita."
"Mungkin
kakakku yang meminta mereka secara pribadi."
"Hah!?
Memangnya bisa!?"
"Iya.
Kakakku pernah menjadi model cilik saat SMP, jadi dia kenal dengan Kaburagi-san
yang menjadi pembicara di talk show itu, dan terkadang dia main ke rumah kami.
Karena koneksi itu, dia juga bisa mengundang trainee idola ABK. Bahkan ada
mantan pacarnya di antara mereka..."
Serius? Kukira
dia hanya tampan, ternyata dia punya koneksi di dunia hiburan juga.
"Kita tidak
bisa menggunakan cara curang seperti itu, jadi kita harus cari cara lain."
"Benar
juga. Pertama-tama, ayo kita tentukan anggaran untuk setiap acara."
Yuki meletakkan
dokumen anggaran di tengah meja dan mengetuknya dengan jari.
"Anggaran
yang diberikan sekolah adalah enam ratus ribu yen. Karena dibagi dua untuk
acara siang dan sore, kita punya tiga ratus ribu yen."
"Tiga ratus
ribu yen ya... Sedikit sekali."
"Iya. Aku
juga berpikir begitu."
Yuki mengangguk.
Tidak seperti
klub olahraga, ada dua puluh klub budaya, termasuk klub ekstrakurikuler. Jadi,
setiap klub hanya punya anggaran lima belas ribu yen.
"........."
Bagaimana
caranya agar bisa melampaui Wakaba Matsuri tahun lalu? Aku dan Yuki
memikirkannya bersama, tapi kami tidak langsung menemukan ide bagus.
Yang mengadakan
acara adalah klub-klub.
OSIS hanya bisa
membantu dalam hal pembagian anggaran, pengaturan tempat, dan penyediaan alat
dan perlengkapan.
"Ngomong-ngomong,
bagaimana caranya dia bisa memasukkan acara spesial itu tahun lalu? OSIS kan
hanya membantu, yang jadi peran utama adalah klub-klub, kan?"
"Talk show
itu diadakan oleh klub film. Live performance dari para trainee idola diadakan
oleh klub musik ringan."
"Begitu ya.
Dia pintar juga."
Bagaimana kalau
aku juga mengundang aktor tampan atau trainee idola seperti Yuuma tahun lalu?
Tidak, tidak
boleh.
Yang harus
mengalahkan Yuuma adalah Yuki, bukan aku. Aku hanya bisa membantu.
"Pertama-tama,
kita mulai dengan mencari tahu acara apa yang akan diadakan oleh
klub-klub."
"Oke."
Sepulang
sekolah, kami pergi ke klub-klub budaya yang sedang beraktivitas dan menanyakan
acara apa yang akan mereka adakan.
Yang jadi
masalah adalah ada beberapa klub yang santai dan bilang "Nanti kami
putuskan".
Meskipun kami
minta mereka untuk segera memutuskan karena hanya ada waktu dua minggu lagi,
mereka hanya menjawab, "Iya iya." Mungkin mereka meremehkan kami
karena kami masih kelas satu.
"Aku tidak
menyangka ini akan sesulit ini..."
Setelah
mengunjungi semua klub, Yuki kembali ke ruang OSIS dan merebahkan diri di sofa
sambil menatap langit-langit.
"Tinggal
pembagian anggaran dan pengaturan tempat."
"Aku akan
menyelesaikannya besok."
"Besok? Kau
mau mengerjakannya di rumah?"
Sekarang sudah
lewat pukul enam sore. Sebentar lagi jam pulang sekolah.
"Bagaimana
kalau besok saja? Kita masih punya waktu, kan?"
"Lebih
cepat menentukan anggaran lebih baik. Agar mereka punya lebih banyak waktu
untuk persiapan."
Yuki bergumam
sambil memasukkan dokumen ke dalam tasnya.
"Aku harus
berusaha sekeras ini untuk mengalahkan kakakku."
* * *
"Astaga,
serius?"
Keesokan
harinya. Aku mengerutkan kening saat melihat dokumen pembagian anggaran yang
dibuat Yuki.
Tahun lalu,
anggaran dibagi rata ke semua klub, tapi tahun ini, ada perbedaan anggaran
untuk setiap klub.
Misalnya, klub
teater mendapat lima puluh ribu yen. Tiga puluh ribu yen lebih banyak dari
tahun lalu.
Sedangkan
klub-klub kecil hanya mendapat dua atau tiga ribu yen, seperti uang jajan.
"Ini..."
"Kita tidak
bisa membuat semuanya bagus. Jadi, aku memutuskan untuk fokus pada beberapa
acara saja."
"Fokus?"
"Ya. Aku
memilih lima klub yang sepertinya akan mengadakan acara yang bagus, dan
memberinya lebih banyak dana. Lalu, kelima klub itu akan dipromosikan
habis-habisan. Aku akan mengatur tempatnya agar para siswa pasti akan datang ke
kelima acara itu."
"Apa
kualitas acara yang dananya dikurangi tidak akan menurun?"
"Aku akan
meminta mereka untuk mengubahnya menjadi acara yang tidak butuh banyak dana.
Sekarang semua klub masih dalam tahap perencanaan, jadi mereka pasti akan
sempat."
Apa yang dia
katakan tidak salah.
Ini sama seperti
manajemen perusahaan. Kita hentikan bisnis yang merugi, dan fokus pada bisnis
yang menjanjikan.
Jika tujuannya
hanya untuk sukses, strateginya adalah yang paling realistis.
Tapi—
"Aku tidak
setuju."
"Eh?"
Yuki mendongak
mendengar jawabanku.
Idenya hanya
memikirkan keuntungan.
Kita harus ingat
bahwa ini adalah acara sekolah, dan yang menjalankannya adalah anak-anak usia
belasan tahun.
"Kalau
perbedaannya sebesar ini, pasti akan ada klub yang protes."
"Mau
bagaimana lagi? Kalau tidak begitu, kita tidak akan bisa mengadakan acara yang
bagus. Lagipula, klub yang dananya kukurangi adalah klub-klub yang tidak
bersemangat saat wawancara."
Ada lingkaran
hitam yang besar di bawah mata Yuki.
Mungkin dia
begadang untuk memikirkan ini. Ada banyak bekas hapusan di draf dokumen
anggaran.
"Bukankah
seharusnya kau lebih memikirkan perasaan anggota klub? Kalau begini, mereka
akan merasa didiskriminasi."
"Lalu, apa
yang harus kulakukan!? Apa kau punya ide lain!?"
Yuki berteriak
sambil mengepalkan tangannya.
"Meskipun
agak sewenang-wenang, kalau kita punya kemampuan, kita bisa membungkam mereka.
Bukannya kakakmu juga begitu? Kalau Wakaba Matsuri sukses, mereka pasti akan
mengerti."
"........."
Akhirnya,
meskipun kami sedikit merevisinya, kami tetap mengajukan dokumen anggaran
dengan perbedaan yang besar untuk setiap klub.
Dan,
kekhawatiranku langsung menjadi kenyataan.
"Tahun lalu
kami dapat dua puluh ribu yen, kenapa tahun ini cuma sepuluh ribu yen?"
Sehari setelah
dokumen anggaran ditempel. Seorang siswi bermata sipit datang ke ruang OSIS.
Dia adalah
Kisaragi-senpai kelas tiga. Dia ketua klub upacara minum teh.
Acara klub
upacara minum teh adalah pengalaman upacara minum teh. Sepertinya setiap tahun
mereka mengadakan acara minum teh dan makan kue Jepang.
Tahun ini pun
mereka akan mengadakan acara yang sama, tapi mereka bingung karena tiba-tiba
anggarannya dikurangi setengah.
"Aku lihat
di laporan acara tahun lalu, ada sekitar empat puluh pengunjung, kan? Kalau
begitu, sepuluh ribu yen seharusnya cukup untuk membeli kue Jepang untuk semua
orang."
"Ta-tapi,
sudah tradisi klub kami untuk menyajikan kue monaka dari toko Marumi. Kami
tidak bisa menyediakan monaka untuk empat puluh orang dengan uang dua puluh
ribu yen."
"Kalau
begitu, ganti saja dengan kue Jepang yang lebih murah mulai tahun ini."
"Ti-tidak
mungkin..."
"Kalau
sulit, aku bisa mencarikan kue Jepang yang murah dan enak..."
"........."
Kisaragi-senpai
terdiam mendengar penjelasan Yuki yang lugas. Di balik kacamatanya, matanya
menunjukkan keterkejutan, seolah berkata, "Kau benar-benar anak kelas
satu?"
"Ba-baiklah...
Aku akan mencari kue Jepang yang bisa dibeli dengan sepuluh ribu yen..."
Dia berkata
begitu dan keluar ruangan dengan lesu.
Punggungnya
terlihat sangat menyedihkan sampai aku merasa kasihan padanya.
"Hei, apa
kau tidak keterlaluan? Kasihan sekali dia cuma dapat setengahnya..."
"Mau
bagaimana lagi? Acara klub upacara minum teh tidak populer tahun lalu. Karena
tahun ini mereka akan mengadakan acara yang sama, tidak ada pilihan lain."
Meskipun
terlihat dingin, Yuki juga merasa tidak enak.
Buktinya, dia
menggigit bibir bawahnya.
Semoga hanya dia
yang datang untuk protes. Tapi, keinginanku tidak terkabul, dan keesokan
harinya...
"Hei,
kenapa klub kami cuma dapat dua ribu yen!?"
Ketua klub tari,
Yoshino-senpai, datang sambil berteriak dengan wajah seperti ingin memukul.
Dia adalah gadis
berambut pirang jangkung yang seragamnya tidak rapi. Perbedaan tinggi badannya
dengan Yuki hampir tiga puluh sentimeter.
"Memangnya
tari butuh uang?"
"Kami mau
sewa lampu sorot! Ada lampu sorot dan tidak ada lampu sorot itu sangat
berpengaruh pada penampilan!"
Dia protes
sambil menggedor meja.
Kalau tidak
salah, anggota klub tari ada lima orang. Mereka seperti klub ekstrakurikuler
yang tidak ikut lomba. Salah satu klub terkecil di antara klub budaya.
"Katanya
klub teater dapat lima puluh ribu yen. Kenapa bedanya jauh sekali!?"
"Itu karena
perbedaan waktu tampil. Klub teater akan menampilkan drama empat puluh menit
sebanyak dua kali. Sedangkan klub tari hanya menampilkan tarian lima menit
sekali."
"Tetap saja
bedanya terlalu jauh!"
"Klub
teater pernah ikut turnamen nasional tahun lalu. Itu juga jadi
pertimbangan."
"Ja-jadi
maksudmu, kami dapat sedikit karena tidak punya prestasi!? Kau pikir kau
siapa!?"
Yoshino-senpai
menarik kerah baju Yuki.
"Ini demi
kebaikan Wakaba Matsuri. Mohon kerja samanya."
Tapi, Yuki tidak
gentar. Dia menjawab dengan tenang tanpa menunjukkan emosi. Itu malah
membuatnya semakin marah.
"Jadi, kau
tidak mau menuruti permintaan kami?"
Yoshino-senpai
menghela napas, lalu berkata dengan nada dingin,
"Aduh.
Kalau Yuuma-kaichou, dia pasti akan mendengarkan kami. Kenapa kalian berbeda
sekali padahal kakak beradik?"
"...."
Untuk pertama
kalinya, wajah Yuki yang selama ini tenang menunjukkan kemarahan.
"Oh? Kau
marah? Kukira kau seperti robot, ternyata kau tidak suka dibandingkan dengan
kakakmu?"
"Bukan
begitu..."
"Memang,
jarang ada orang yang sesempurna dia, jadi kau pasti minder."
"Ti-tidak
tahu apa-apa..."
Yuki mengepalkan
tangannya.
Gawat. Kalau
dibiarkan, mereka pasti akan bertengkar.
"Yo-Yoshino-senpai!"
Aku menengahi
mereka.
"Aku punya
ide."
"Ide?"
"Klub
teater juga pakai lampu sorot untuk pertunjukan mereka, kan? Apa kalian bisa
meminjamnya?"
"Klub
teater?"
"Iya.
Waktunya juga tidak bentrok. Lampu sorot itu seperti nyawa bagi teater. Kalian
bisa pinjam yang lebih bagus daripada sewa."
Yoshino-senpai
berpikir sejenak, lalu mengangguk.
"Memang.
Mungkin itu lebih baik..."
"Kami akan
meminta klub teater untuk meminjamkan lampu sorotnya. Apakah ada yang kalian
butuhkan lagi?"
"Tidak,
untuk sementara tidak ada... kurasa."
Bagus. Akhirnya
dia mau pulang. Aku melambaikan tangan ke Yoshino-senpai sambil mengingat saat
aku menangani komplain pelanggan saat kerja paruh waktu di universitas dulu.
Terdengar suara
keras, dan aku menoleh.
Itu suara Yuki
yang jatuh ke kursi.
"Aku payah
sekali... Aku bahkan tidak bisa memikirkan ide sederhana seperti meminjam dari
klub lain..."
Yuki memegang
dahinya dengan ekspresi lelah.
"Arisugawa.
Apa kau tidur kemarin?"
"Sekitar
tiga jam..."
Ada lingkaran
hitam tipis di bawah mata Yuki.
"Kau bisa
sakit. Wakaba Matsuri masih seminggu lagi. Kau tidak akan tahan kalau begini
terus."
"Iya. Aku
mau cuci muka dulu..."
Dia berkata
begitu dan berjalan ke koridor dengan langkah gontai.
"Arisugawa..."
Saat itu, aku
merasa ada yang aneh.
Biasanya, dia
akan kesal karena merasa tidak becus, tapi dia tidak menunjukkan kemarahan sama
sekali.
Apa karena dia
lelah? Begitu pikirku, tapi keesokan harinya—
Yuki tidak masuk
sekolah untuk pertama kalinya.
* * *
Di hari Yuki
tidak masuk sekolah, aku meneleponnya berkali-kali, tapi dia tidak pernah
mengangkatnya.
"Arisugawa?
Kudengar dia sakit."
"Begitu
ya."
Aku bertanya
pada guru karena kupikir Yuki sudah memberi tahu sekolah. Katanya, Yuki
menelepon pagi-pagi untuk memberi tahu bahwa dia sakit.
Memang dia
terlihat tidak sehat sejak kemarin.
Pasti karena
kurang tidur dan kelelahan.
"Bagaimana
kemajuan acara sore?"
Saat aku pergi
ke ruang OSIS, ketua OSIS bertanya dengan khawatir.
"Jujur
saja, ini tidak berjalan lancar."
"Apakah
Arisugawa-san tidak masuk hari ini?"
"Iya.
Sepertinya dia demam."
"Begitu ya.
Aku lega dia tidak sakit hati."
Ketua OSIS pasti
sudah tahu soal perselisihan antara Yuki dan klub-klub budaya.
Dia menghela
napas pelan sambil menerawang.
"Tidak
semua orang bisa bekerja seserius dia. Kebanyakan orang ingin bersantai dan
hanya memikirkan diri mereka sendiri."
Dia benar.
Pada dasarnya,
tujuan Yuki dan anggota klub budaya berbeda.
Yuki ingin
Wakaba Matsuri sukses.
Klub budaya
ingin membuat kenangan indah.
Karena tujuannya
berbeda, wajar saja kalau mereka berselisih saat kita ingin memaksakan pendapat
kita.
"Bagaimana
kalau aku bantu tim sore?"
Wakil ketua OSIS
mengangkat tangannya sambil mengunyah roti yakisoba yang dia beli di koperasi.
"Serahkan
saja padaku kalau soal mendamaikan orang. Aku percaya diri dengan kemampuan
sosialku. Bahkan, itu satu-satunya kemampuanku!"
Wakil ketua OSIS
tertawa sambil menyebarkan aura positifnya.
"Terima
kasih. Kami akan minta bantuanmu kalau tidak bisa mengatasinya sendiri."
"Serahkan
saja padaku."
"Konsultasikan
padaku secepatnya. Kalian kan masih kelas satu."
Ketua OSIS
berkata dengan suara lembut dan senyum seperti bidadari.
Nah, apa yang
harus kulakukan?
Aku menyandarkan
tubuhku ke sandaran kursi dan menatap langit-langit.
Jelas sekali
kalau kami akan kalah dari Wakaba Matsuri tahun lalu kalau begini terus. Yuki
juga tahu itu.
Dia jatuh sakit
pasti bukan hanya karena kelelahan.
Dia juga stres
karena tidak bisa mengalahkan Yuuma dan karena tidak bisa berkomunikasi dengan
baik dengan klub-klub budaya.
Adakah yang bisa
kubantu?
"Suzuhara.
Kau baik-baik saja?"
"Sugita-senpai?"
Sugita-senpai,
bendahara yang jarang bicara, menepuk pundakku. Suaranya masih berat dan keren.
Kalau dia bicara, semua orang langsung diam.
"Soal
penempatan stan klub budaya... Jangan tempatkan stan di sekitar sini."
Sugita-senpai
mengetuk bagian atas kertas yang berisi denah tempat stan.
"Dekat
gerbang utara? Kenapa..."
"Oh ya,
kalian kan anak kelas satu, jadi belum tahu."
Wakil ketua OSIS
menghampiri kami sambil memutar kursi kantornya.
"Sekolah
kita punya hubungan yang sangat buruk dengan asosiasi warga sekitar."
Dia menjelaskan
dengan singkat sambil memasang ekspresi seperti habis makan sesuatu yang pahit.
Awal mula
kejadiannya adalah lima tahun yang lalu, saat gedung sekolah baru dibangun.
Saat membangun
gedung baru, banyak warga sekitar yang protes. Suara konstruksi berisik,
jalanan jadi sempit karena banyak kendaraan konstruksi yang lalu lalang. Gedung
baru menghalangi sinar matahari, sehingga cucian mereka jadi sulit kering.
Tapi, sekolah
tidak mungkin menghentikan pembangunan, jadi mereka melanjutkannya.
Saat itu,
petinggi asosiasi warga dan pengurus sekolah kita bertengkar hebat.
"Asosiasi
warga yang marah menghentikan bantuan dana ke Akademi Shichibo. Acara relawan
yang bekerja sama dengan asosiasi warga juga dihentikan mulai tahun
berikutnya."
Ketua OSIS
menghela napas sambil memegang dahinya.
"Rumah
warga yang berselisih dengan sekolah ada di dekat gerbang utara. Jadi, kita
harus sebisa mungkin menghindari kontak dengan mereka. Kita tidak mau mereka
protes karena suara siswa berisik."
"Begitu ya.
Jadi karena itu kita tidak boleh mendirikan stan di area utara."
"Kita jadi
harus lari di lapangan sekolah saat lomba lari maraton juga karena itu. Katanya
kita akan mengganggu mobil kalau lari di luar."
Yah, aku bisa
mengerti kenapa mereka protes.
Sekolah ini
bukan sekolah yang bisa dimasuki hanya karena rumahnya dekat. Bagi warga
sekitar, mereka seperti dirugikan demi siswa yang bukan anak mereka.
"Sedih ya.
Padahal dulu hubungan kita sangat baik..."
"Hah? Apa
itu?"
"Koran OSIS
zaman dulu. Aku menemukannya saat bersih-bersih."
Wakil ketua OSIS
sedang melihat koran OSIS lima tahun lalu. Itu adalah aslinya.
Ada foto orang
dewasa dari asosiasi warga dan siswa sekolah kita sedang melakukan kegiatan
bersih-bersih bersama.
Sekarang semua
koran OSIS disimpan dalam bentuk data, tapi dulu mereka masih menggunakan mesin
tik dan menempelkan foto secara manual.
"Oh. Dulu
hubungan kita baik... Eh? Tu-tunggu, bolehkah aku melihat foto itu lebih
dekat?"
"Aduh, kau
kasar sekali."
Aku merebut
koran OSIS itu dari wakil ketua OSIS dan menatap foto di artikel itu dengan
saksama.
"Benar...
Aku tidak salah..."
Benar.
Pandanganku terlalu sempit.
Aku terlalu
terpaku pada pemikiran bahwa untuk melampaui Wakaba Matsuri tahun lalu, kita
harus membuat Wakaba Matsuri tahun ini lebih baik.
Wakaba Matsuri
adalah tempat untuk menguji kemampuan OSIS. Dan, para petinggi dari asosiasi
alumni juga akan datang.
"Mungkin
kita bisa..."
Aku menemukan
sesuatu.
"Ketua
OSIS! Apakah kau tahu guru yang terlibat dalam kegiatan relawan ini?"
"Ee,
sebentar..."
Ketua OSIS melihat
foto itu, lalu menunjuk sudut foto dan berkata,
"Sepertinya
yang ada di sini adalah Gonda-sensei, guru IPS."
"Terima
kasih!"
Aku mengambil
tasku dan berlari keluar dari ruang OSIS.
* * *
"Seperti
dugaanku, dia tidak mengangkatnya..."
Aku mencoba
menelepon sekali lagi, tapi Yuki tetap tidak mengangkatnya.
Aku harus segera
bicara dengannya.
Tidak ada
jaminan Yuki akan masuk sekolah besok. Lagipula, aku khawatir karena dia tidak
mengangkat teleponku.
Jadi, aku
memutuskan untuk langsung pergi ke rumahnya. Aku akan berpura-pura diminta guru
untuk mengantarkan dokumen.
Aku memang tahu
di mana rumahnya, tapi aku belum pernah masuk ke rumahnya.
Karena aku dan
Yuki sama-sama tidak mau bertemu ayahnya yang menyebalkan, kami selalu pergi ke
rumahku saat liburan musim panas dan tahun baru, dan tidak pernah ke rumahnya.
Aku hanya pernah
ke sana sekali, saat mengantarnya mengambil barang-barangnya sebelum menikah.
"Kalau
tidak salah... di sini..."
Aku pergi ke
rumahnya berdasarkan ingatanku di masa lalu... atau masa depan?
"Ketemu.
Ini dia."
Aku menemukan
rumah berlantai dua yang kukenal dan berhenti.
Meskipun tidak
bisa dibilang rumah mewah, tapi untuk rumah seluas ini di tengah kota, harganya
pasti lebih dari satu miliar yen hanya untuk tanahnya saja.
Aku menekan bel
di sebelah papan nama bertuliskan "Arisugawa".
"Ya."
Terdengar suara
laki-laki yang mengantuk dari interkom.
Kukira itu
ayahnya yang menyebalkan, tapi suaranya muda. Ini pasti—
"Oh? Kau
pacar Yuki, kan?"
Tak lama
kemudian, Arisugawa Yuuma keluar dengan mengenakan kaos dan celana pendek.
"Ee,
namaku... Suzuhara. Suzuhara Masaomi."
Aku terkejut dia
mengingatku. Bahkan dia ingat namaku. Padahal aku baru sekali menyebutkan
namaku padanya. Ingatannya bagus.
"Yuki
mengurung diri di kamarnya. Aku tidak tahu dia sudah bangun atau belum."
Yuuma menunjuk
ke arah dalam rumah.
"Bolehkah
aku bicara dengannya di depan kamarnya? Aku ada yang ingin kubicarakan
dengannya."
"Boleh
saja. Kau boleh menyerangnya kalau mau. Aku tidak akan bilang pada Ayah."
Yuuma merangkul
pundakku dan berbisik seperti iblis.
"Kau tidak
seharusnya berkata seperti itu sebagai seorang kakak."
"Kenapa?
Jangan serius."
Yuuma mengajakku
masuk ke rumah dengan ekspresi bosan.
"Kamarnya
di sebelah kanan setelah naik tangga. Masuk saja dan pulanglah sendiri."
Yuuma
mengantarku sampai tangga, lalu kembali ke ruang tamu.
Sepertinya dia
sedang menonton TV, aku bisa mendengar suara pembawa acara variety show.
"Yuuma-senpai.
Bolehkah aku bicara denganmu sebentar?"
"Hah?
Denganku?"
"Ada
beberapa hal yang ingin kutanyakan."
Yuuma
menyipitkan matanya, lalu berkata,
"Yah, boleh
saja karena aku sedang tidak ada kerjaan."
Dia pergi ke
ruang tamu dan mematikan TV.
"Ini. Teh
mahal."
Yuuma meletakkan
teh di depanku, lalu duduk dan menyesap tehnya.
"Jangan
sampai tumpah. Karpet di bawah ini harganya jutaan yen."
"Jutaan
yen?"
Aku menunduk dan
melihat label di karpet itu.
"Tidak, ini
memang barang bermerek, tapi paling mahal cuma ratusan ribu yen."
"Sial. Kau
tahu juga. Tapi, ratusan ribu yen itu juga lumayan mahal, seharusnya kau
sedikit takut."
Aku tahu karena
ada karpet merek yang sama di rumahku di masa depan.
"Jadi, apa
yang ingin kau tanyakan padaku? Warna celana dalam Yuki?"
"Lebih
menyenangkan kalau aku tanya langsung padanya soal warna celana dalamnya."
"Haha. Kau
mengerti juga."
"Yang ingin
kutahu adalah rencana masa depanmu."
"Rencana
masa depan?"
Yuuma
menyilangkan kakinya dengan ekspresi bingung.
"Kenapa kau
penasaran dengan rencana masa depanku?"
"Tidak, aku
hanya penasaran dengan rencana masa depanmu sebagai sesama juara kelas. Apa kau
akan kuliah di universitas ternama dan mewarisi perusahaan ayahmu?"
"Aku tidak
akan mewarisi perusahaan."
Yuuma
menyeringai sambil menopang dagunya.
"Aku akan
kuliah di universitas di Amerika dan menetap di sana."
Begitu ya. Dia
sudah memutuskan masa depannya sejak saat ini.
"Aku sudah
bicara dengan Ayah. Dia memberiku syarat untuk lulus dengan nilai tertinggi dan
mendapat rekomendasi ke universitas ternama di Amerika agar dia tidak
kehilangan muka."
"Kenapa
Amerika?"
"Aku ingin
mendirikan perusahaan. Kalau mau jadi pengusaha, lebih baik melakukannya di
negara dengan ekonomi terkuat di dunia, bukan di negara yang sedang menuju
kehancuran seperti ini."
"Kenapa kau
tidak mau jadi presiden direktur Alisco?"
"Tidak mau.
Aku tidak senang menerima warisan dari Ayah. Aku akan mendirikan perusahaan
dari nol dan mengembangkannya menjadi lebih besar dari Alisco."
Yuuma
menyombongkan diri sambil tersenyum percaya diri.
Matanya tidak
menunjukkan sedikit pun keraguan.
Kalau anak SMA
lain yang mengatakan itu, aku akan menertawakannya, tapi dia sepertinya memang
bisa melakukannya. Dia punya aura seperti itu.
Yah, memang dia
akan sukses. Aku teringat saat dia datang menemuiku sebagai CEO Cross
Streamers.
"Ini hanya
perumpamaan. Anggap saja kau mendirikan perusahaan di Amerika dan sukses besar.
Lalu, di saat yang sama, Alisco mengalami kesulitan keuangan dan butuh banyak
dana untuk bangkit. Apa kau akan membantu?"
Yuuma
menunjukkan ekspresi bingung sesaat, lalu berkata sambil mendengus,
"Tidak. Apa
untungnya bagiku?"
"Itu kan
kesalahan Ayah. Itu tidak ada hubungannya denganku, dan Ayah juga punya harga
diri. Dia tidak akan pernah memintaku untuk meminjaminya uang." Lanjutnya.
"Meskipun
itu membuat Yuki-san... adikmu, harus dijual?"
"Hah?
Dijual? Maksudmu pernikahan politik? Aku tidak peduli. Itu tidak ada
hubungannya denganku."
Mendengar
jawaban yang sesuai dugaanku, aku mengepalkan tanganku.
"Kau tidak
peduli dengan adikmu ya."
"Yah,
begitulah. Dia kan menyebalkan. Dia selalu membangkang padaku. Mungkin aku akan
lebih menyayanginya kalau dia lebih penurut."
Yuuma tertawa
kecil.
Yuki... jadi
selama ini dia tinggal di rumah seperti ini?
Ayahnya sampah.
Kakaknya juga egois.
Wajar saja kalau
dia tertekan. Aku teringat Yuki yang matanya kosong saat pertama kali bertemu
denganku di masa depan.
"Kau orang
yang menarik. Kau baru saja lulus SMP, tapi kau berani sekali dan mengajukan
pertanyaan aneh..."
Yuuma
menghabiskan tehnya, lalu menatapku dengan tajam seperti binatang buas dan
berkata,
"Tapi, aku
tahu satu hal. Kau membenciku?"
"Aku tidak
suka atau tidak suka..."
"Hentikan.
Aku lebih kesal kalau kau berbohong seperti itu."
"........."
Sepertinya aku
tidak bisa menyembunyikannya lagi. Lagipula, aku juga sudah mencapai batas
kesabaranku.
"Kalau
begitu, aku akan berkata jujur."
Aku menatap Yuuma
dengan tenang dan penuh amarah.
"Aku
membencimu. Aku membencimu yang selalu mengejek Yuki, aku membencimu yang
selalu menyakiti Yuki."
Yuuma terdiam
beberapa saat, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha!
Kau memang menarik! Ini kedua kalinya aku dibenci secara terang-terangan!"
"Yang
pertama pasti Yuki."
"Tentu
saja."
Yuuma bersandar
di sofa dan berkata sambil menyeringai,
"Kudengar
Yuki bertengkar dengan anak-anak klub budaya."
"Dia selalu
berusaha berbicara setara dengan orang yang lebih lemah darinya. Kalau dibilang
bagus, dia baik hati. Kalau dibilang buruk, dia terlalu lembek."
Yuuma mengambil
kue kering yang ada di atas meja dan meremasnya. Lalu, dia memasukkan
remah-remah kue itu ke mulutnya seperti ular yang menelan mangsanya
bulat-bulat.
"Tidak akan
berhasil kalau kau memohon pada orang lemah. Kau harus mengendalikan mereka.
Kau tidak akan berhasil kalau kau merendahkan diri atau mencoba setara dengan
orang yang lebih lemah darimu."
"Menurutku
itu kelebihannya."
Aku juga
mengambil kue kering, membuka bungkusnya dengan hati-hati, dan memakannya.
"Yuki pasti
akan melampauimu. Dia akan menjadi ketua OSIS yang lebih baik darimu."
Alis Yuuma
bergerak sedikit. Sepertinya aku membuatnya kesal.
"Tidak
mungkin. Kalau begini terus, Wakaba Matsuri pasti akan gagal."
"Memang
akan begitu kalau dia seperti sekarang."
Aku tersenyum
licik dan berkata dengan percaya diri,
"Karena
itu, aku yang akan membuatnya menang."
Inilah saatnya
bertaruh.
Arisugawa Yuuma.
Dia adalah penghalang dan kunci untuk menjalani masa muda yang menyenangkan
dengan Yuki.
Jika aku bisa
mengalahkannya, rasa minder Yuki akan hilang, dan dia pasti akan lebih
menyukaiku.
Tapi, itu saja
tidak cukup.
Kalau ada
kesempatan menang, kita harus bertaruh besar.
"Senpai.
Bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Bertaruh?"
"Kita adu
siapa yang bisa membuat Wakaba Matsuri lebih meriah, kau dan aku."
"... Kau
bodoh ya."
Yuuma terdiam
beberapa saat, lalu tertawa mengejek.
"Kau tahu
kenapa aku berusaha keras untuk memeriahkan Wakaba Matsuri tahun lalu?"
"Untuk
menunjukkan kemampuanmu sebagai ketua OSIS?"
"Yah, itu
salah satunya, tapi tujuan utamanya berbeda. Kau tahu Shigetomi Hideo?"
"Mantan
gubernur, kan? Dia juga alumni Akademi Shichibo."
"Benar.
Dan, dia juga ketua asosiasi alumni. Aku berusaha keras memeriahkan Wakaba
Matsuri tahun lalu karena kudengar dia selalu datang meninjau Wakaba Matsuri
setiap tahun. Aku harus menunjukkan bahwa aku orang yang kompeten agar para
alumni mau mendanai pendirian perusahaanku di Amerika."
Begitu ya. Aku
penasaran bagaimana dia mendapatkan modal karena katanya dia tidak akur dengan
ayahnya, ternyata dia mendapatkannya dari asosiasi alumni.
"Jadi, kau
yakin bisa mengalahkanku?"
"Ya."
Mendengar
jawabanku yang cepat, Yuuma menyilangkan kakinya dan berkata sambil tersenyum
licik,
"Boleh
juga. Apa taruhannya?"
"Hmm.
Karena kita punya keinginan masing-masing, kita buat yang simpel saja."
Aku menghabiskan
tehku dan berkata sambil tersenyum,
"Yang
menang boleh menyuruh yang kalah melakukan apa pun."
* * *
Kamar Yuki di
sebelah kanan setelah naik tangga, kan?
Aku naik tangga
dan mengetuk pintu kamarnya.
Aku menunggu
beberapa saat, tapi tidak ada jawaban.
Apa dia sedang
tidur? Aku akan mengetuk sekali lagi, dan kalau tidak ada jawaban, aku akan
meninggalkan pesan dan pulang.
Memang ini
penting, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau dia belum sembuh.
Saat itu, pintu
terbuka, dan Yuki keluar dengan mengenakan piyama.
"Kakak, ada
apa? Aku tidak lapar, jadi aku tidak mau makan malam..."
Mungkin karena
dia kepanasan akibat demam, kancing piyamanya terbuka sampai dada, dan karena
dia tidak memakai bra, dadanya yang putih mulus dan sedikit menonjol terlihat.
"Eh?"
Dia langsung
terdiam saat melihatku. Aku juga terdiam, dan kami bertatapan dari jarak dekat.
Tiga detik, atau
mungkin lima detik.
"!!!"
Dia menyadari
situasi ini dan wajahnya yang sudah merah karena demam semakin memerah. Dia
buru-buru menutupi dadanya, dan mencoba menutup pintu dengan tangannya yang
lain.
"Ah..."
Sepertinya aku
menggencet jari kelingking kakinya. Yuki kehilangan keseimbangan dan jatuh
terlentang ke lantai.
"Ka-kau
tidak apa-apa?"
"!!!"
Sepertinya itu
sakit sekali. Yuki tampak kesakitan, tapi mungkin karena tidak mau
memperlihatkan piyamanya lebih lama lagi, dia merangkak ke tempat tidur. Lalu,
dia membungkus dirinya dengan selimut dan berguling-guling kesakitan.
Aku akan
menunggu sampai rasa sakitnya mereda.
Kamarnya lebih
feminin dari yang kukira.
Tirai berwarna
pink muda. Ada tiga bantal yang berserakan di lantai kayu, sepertinya dia
memakainya sebagai pengganti alas duduk.
Di meja
belajarnya ada setumpuk buku pelajaran dan pengharum ruangan, aroma lavender
yang samar memenuhi ruangan.
".........Kenapa
kau di sini?"
Sepertinya rasa
sakitnya sudah mereda, aku bisa mendengar suaranya yang teredam dari balik
selimut.
"Aku datang
untuk menjengukmu..."
"Kalau kau
sampai datang ke sini, pasti ini ulah kakakku... Dia selalu saja melakukan hal
yang tidak kusukai..."
Aku bisa
mendengarnya mengomel dari balik selimut. Meskipun aku tidak bisa melihatnya,
aku bisa membayangkan dia sedang cemberut.
"Bagaimana
keadaanmu?"
"Demamku
sudah turun. Sepertinya besok aku sudah sembuh."
"Begitu ya.
Syukurlah."
Aku lega karena
dia hanya demam biasa.
"Aku punya
ide bagus untuk Wakaba Matsuri."
"........."
"Aku tidak
yakin ini akan berhasil, tapi tidak ada salahnya mencoba. Tapi, aku tidak bisa
melakukannya sendiri. Kita harus bekerja sama, aku dan Arisugawa."
"........."
"Arisugawa?"
Dia tidak
menjawab. Ada apa?
"Hei, apa
aku boleh menyerah saja..."
"......Eh?"
Suaranya lemah,
sangat berbeda dengan biasanya.
Aku tahu suara
ini.
Ini adalah suara
Yuki saat pertama kali aku bertemu dengannya di masa depan. Suaranya saat dia
putus asa dan patah hati.
"Sepertinya
aku memang tidak bisa mengalahkan kakakku. Aku baru menyadarinya kemarin. Aku
tidak bisa memimpin dengan baik, dan aku malah jatuh sakit... Padahal kakakku
bisa melakukan semuanya dengan mudah..."
"........."
"Ah, jangan
khawatir. Aku tidak akan menyerah sepenuhnya. Tapi, aku hanya berpikir untuk
melakukan sebisaku saja. Aku tidak akan berusaha menjadi yang terbaik seperti
dulu, aku hanya akan berusaha sesuai kemampuanku."
".................."
"Jujur
saja, aku lebih senang bermain denganmu daripada belajar sendirian. Aku tidak
boleh hanya belajar. Hei, ajari aku berbagai hal menyenangkan seperti waktu
itu. Kau kan tahu banyak hal."
Yuki berkata
dengan suara ceria yang dipaksakan.
"Aku boleh
menyerah saja, kan...? Aku sudah berusaha keras..."
"Arisugawa..."
Kalau dia gadis
biasa, mungkin aku harus menghiburnya dan berkata, "Iya, kau boleh
istirahat."
Tapi, Yuki
berbeda.
Aku tahu.
Dia tidak butuh
kata-kata hiburan.
Yang dia
inginkan adalah—
"Tidak
boleh. Bertahanlah sedikit lagi."
"Eh?"
Yuki berseru
kaget. Aku masuk ke kamarnya dan berkata,
"Aku baru
saja bertaruh dengan kakakmu."
"Bertaruh?"
"Kami
bertaruh Wakaba Matsuri mana yang lebih baik, tahun lalu atau tahun ini. Yang
kalah harus menuruti satu permintaan yang menang."
"A-apa yang
kau lakukan!?"
Yuki melompat
dari selimutnya. Dia sangat panik sampai-sampai tidak peduli lagi dengan
piyamanya.
"Menuruti
satu permintaan... Kau tahu betapa buruknya kepribadian kakakku!? Dia pasti
akan meminta hal yang aneh-aneh!"
"Tenang
saja. Tenang saja. Tidak masalah selama kita menang."
"Selama
kita menang? Ah, kepalaku jadi sakit..."
Yuki memegang
kepalanya dan tubuhnya bergoyang.
"Kau tidak
apa-apa? Apa karena demam?"
"Ini
salahmu!"
Yuki menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan ekspresi serius,
"Hei,
rencanamu itu... berapa persen kemungkinan kita bisa mengalahkan kakakku?"
"Hmm.
Sekitar delapan puluh persen kita bisa menang."
Aku menyeringai
dan mengangkat delapan jari.
"Se-sebanyak
itu?"
"... Tidak,
tunggu dulu. Mungkin tujuh... tidak, kalau ada kejadian tak terduga, enam...?
Kita hampir tidak punya waktu untuk persiapan, mungkin lima..."
"Kenapa kau
jadi tidak percaya diri!?"
Aku kan tidak
bisa menghitung persentase keberhasilannya.
"Yah, tapi
setidaknya ada tiga puluh persen! Aku jamin!"
"Tiga puluh
persen? Kemungkinan gagalnya lebih besar."
"Tapi,
bagaimana kalau ada yang bilang padamu kalau kau punya tiga puluh persen
kemungkinan untuk mengalahkannya?"
"Itu..."
Tubuh Yuki
menegang. Dia berpikir sejenak, lalu menggenggam selimutnya dan berkata dengan
mata berbinar seperti anak kecil yang melihat mainan,
"Aku jadi
bersemangat."
"Nah."
Cahaya kembali
ke mata Yuki. Dia tampak terkejut, lalu menunduk dengan malu-malu dan bergumam,
"Kenapa aku
jadi lemah seperti itu?"
Dia menepuk
kedua pipinya.
"Ah. Aku
jadi merasa bodoh karena mengkhawatirkan hal seperti itu."
"Begitu ya.
Itu karena aku."
"Memang...
Aku ingin berterima kasih, tapi..."
Yuki
memelototiku, lalu meraih bantal di belakangnya dan berkata,
"Keluar
dari kamarku sekarang!"
"Guh!"
Dia melempar
bantal ke wajahku, dan aku pun diusir dari kamarnya.
Bantalnya
beraroma sampo yang harum.
Saat aku sedang
duduk di koridor sambil merenung, aku mendengar suara gesekan pakaian dari
balik pintu.
Lalu, pintu
terbuka dengan keras, dan Yuki keluar dengan mengenakan pakaian sehari-hari.
Ekspresinya
tidak menunjukkan sedikit pun kelemahan. Dia adalah Yuki yang kukenal, penuh
percaya diri.
"Jelaskan
strategi itu padaku."



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.