Kanojo wo deresareru houhou wo, Shorau kekkon suru oredake ga shitteiru V1 Epilog

N-Chan
0

Epilog 


(POV Masaomi)

 

Yuki bertingkah aneh. Aku menyadarinya saat istirahat siang setelah rapat siswa selesai.

 

Dia seperti itu saat sedang menyembunyikan sesuatu. Dulu, dia juga seperti itu saat memberiku kejutan di hari ulang tahunku.

 

"……………!"

 

Yuki keluar kelas dengan membawa kotak makan siangnya.

 

Apa dia mau makan di luar? Biasanya dia makan siang sendiri di kelas, jadi ini aneh. Jangan-jangan dia janjian makan siang dengan seseorang?

 

Aku akan tanya dia nanti. Saat aku hendak pergi ke kantin, ponsel di sakuku bergetar.

 

Ada email dari Yuki.

 

Hanya ada tulisan "Datang ke ruang OSIS sekarang juga."

 

Ruang OSIS? Kenapa saat istirahat siang?

 

Aku membalas, "Bolehkah aku ke sana setelah makan siang di kantin?" lalu dia langsung membalas, "Tidak boleh. Datang sekarang."

 

Sebenarnya ada apa? Padahal aku sudah menantikan menu makan siang hari ini, chicken nanban.

 

Saat aku membuka pintu ruang OSIS, Yuki berdiri di sana sambil bersandar di meja.

 

"Hmm."

 

Begitu melihatku masuk, Yuki langsung menyodorkan sebuah tas berisi kotak makan tanpa berkata apa-apa.

 

"Apa ini?"

 

"I-ini hadiah terima kasih karena kau sudah banyak membantu di Wakaba Matsuri."

 

"Hadiah?"

 

"Waktu itu, saat kita pergi berbelanja bersama, kau bilang kau ingin makan masakan gadis imut."

 

Eh!? Serius!?

 

Tas berisi kotak makan di depanku tampak berkilau keemasan.

 

"Aku kasih tahu dulu, ini cuma hadiah. Jangan bilang siapa-siapa... Eh, kenapa kau menangis!?"

 

"Aku terharu."

 

"Semalu itu!?"

 

Aku kan sudah tidak makan masakan Yuki selama hampir setengah tahun.




"Aku jadi takut kalau kau senang sekali."

 

Aku membuka bungkusan kotak makan yang diberikan Yuki.

 

Lalu, aku membuka kotak makan kecil itu, dan di dalamnya ada telur dadar, bayam rebus, dan perkedel mini. Semuanya lauk standar yang ditata dengan rapi.

 

"Kau tidak makan, Arisugawa?"

 

"Eh? Ah, iya, aku makan."

 

Yuki tidak membuka kotak makannya sendiri, dia hanya menatapku sambil memainkan rambutnya.

 

Itu adalah kebiasaannya saat gugup.

 

Apa dia khawatir masakannya tidak enak?

 

Aku tahu dia pintar memasak. Aku mencoba telur dadarnya dulu.

 

"........."

 

Eh?

 

Rasanya agak berbeda dengan yang kuingat.

 

Telur dadarnya terlalu matang dan keras, dan bayam rebusnya masih agak pahit, mungkin karena kurang lama direbus.

 

Bumbunya memang sama, tapi semuanya lebih rendah kualitasnya daripada di masa depan.

 

Kalau ditanya enak atau tidak, memang enak, tapi tidak sesuai ekspektasiku.

 

Jadi, kemampuan rumah tangga Yuki akan berkembang seiring waktu.

 

"Ba-bagaimana?"


"Rasanya seperti masa muda."

 

"Apa maksudmu? Kau memujiku atau mengejekku?"

 

Yuki mengerutkan kening sambil mencoba makanannya sendiri.

 

"Ah, terima kasih atas makanannya."

 

Porsinya memang kurang untuk anak SMA laki-laki, tapi mau bagaimana lagi. Mungkin dia tidak tahu seberapa banyak anak SMA laki-laki makan.

 

"Jadi, sekarang kita impas."

 

"Eh, aku masih mau tiga ratus porsi lagi."

 

"Kenapa kau meminta jatah makan setahun begitu saja? Satu porsi sudah cukup."

 

Yuki menghela napas, lalu melirik kotak makanku yang sudah kosong dan berkata,

 

"Ya-yah, karena kau selalu makan di kantin, mungkin aku akan bawakan untukmu kalau aku masak terlalu banyak."

 

Saat aku sedang menunggu Yuki selesai makan, dia bertanya,

 

"Nee, apa kau bisa membaca pikiran orang?"

 

"Tiba-tiba sekali kau bertanya seperti itu."

 

"Kau terkadang sangat tajam. Itu bisa menjelaskan kenapa nilaimu bagus."

 

"Apa kau curiga aku mencontek?"

 

Aku panik dalam hati. Aku bisa menebak dengan tepat karena aku tahu tentang dirinya di masa depan.

 

Mungkin dia tidak tahu kalau aku time leap, tapi dia pasti merasa ada yang aneh sampai-sampai menanyakan ini.

 

Yuki memutar kursinya menghadap ke arahku.

 

"Coba tebak apa yang sedang kupikirkan."

 

Katanya sambil menutup matanya.

 

"Mana mungkin..."

 

Aku menoleh ke arah Yuki sambil menggaruk pipiku dan berkata,

 

"Eee... 'Aku haus'?"

 

"Salah. Sama sekali tidak tepat."

 

"Kan aku sudah bilang aku bukan peramal. Maaf aku tidak bisa memenuhi harapanmu."

 

"Tidak apa-apa. Aku malah lega. Aku tidak mau pikiranku dibaca orang lain."

 

Yuki tampak puas dan mulai membungkus kotak makannya.

 

"Lalu? Apa yang sebenarnya kaupikirkan?"

 

"Itu..."

 

Entah kenapa, wajah Yuki memerah.

 

"Ti-tidak penting!"

 

"?"

 

Kenapa dia marah? Yuki di masa depan memang berbeda.

 

Yah, tidak apa-apa. Mencari tahu perbedaannya juga salah satu kesenangan dari masa mudaku yang kedua.


Karena aku ingin tahu tentang dirinya, baik yang kutahu maupun yang tidak kutahu.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !