Bonus
1
Pendaftaran
pernikahan dan cincin pertunangan (Masa Depan)
"Ternyata
cepat selesai ya."
"Iya."
Di hari libur
pertama kami. Kami baru saja mendaftarkan pernikahan kami di kantor catatan
sipil.
Kukira akan ada
banyak prosedur, tapi ternyata cepat selesai setelah mereka memastikan tidak
ada masalah dengan dokumen kami.
Jadi sekarang
aku sudah menikah...
Aku melirik Yuki
yang berjalan di sampingku.
Wanita secantik
ini adalah istriku? Kalau aku menunjukkan ini pada diriku di masa lalu, pasti
dia akan memperingatkanku, "Itu jebakan. Hati-hati."
"Suzuhara
Yuki... Suzuhara Yuki..."
Yuki
menggumamkan sesuatu.
"Ada
apa?"
"Ah... Ee,
rasanya aneh nama keluargaku berubah."
"Maaf nama
keluargaku biasa saja..."
Nama keluarganya
adalah Arisugawa.
Sedangkan nama
keluargaku adalah Suzuhara.
Kalau
dibandingkan, nama keluargaku tidak terdengar keren dan tidak bergaya.
"Eh? Aku
tidak masalah sama sekali! Malah aku senang karena nama keluargaku bukan
Arisugawa lagi."
Yuki buru-buru
membantah.
"Aku lega
kamu bilang begitu..."
Prosedur di
pihakku sudah selesai, tapi Yuki masih harus mengurus perubahan nama
keluarganya.
"Ngomong-ngomong,
apa kamu yakin tidak mau mengadakan pesta pernikahan?"
"Iya. Aku
tidak mau."
Yuki tidak mau
mengadakan pesta pernikahan karena masalah ayahnya.
Aku sendiri
tidak terlalu peduli dengan pesta pernikahan, jadi tidak masalah...
Tapi, agak
sayang juga karena aku tidak bisa melihatnya memakai gaun pengantin.
Kami bisa saja mengadakan
upacara pernikahan kecil-kecilan berdua saja sambil berbulan madu, tapi
akhir-akhir ini kami sibuk bekerja, dan kami baru bisa cuti panjang nanti.
"Ah, tapi,
aku punya teman yang ingin kuceritakan soal pernikahan kita, bolehkah aku
mengajaknya bertemu denganmu?"
"Tentu
saja."
Ekspresinya jauh
lebih lembut daripada saat pertama kali kita bertemu. Aku berpikir begitu
sambil mengangguk.
Jadi sekarang
kami sudah menikah... Tapi, kami tidak mengadakan pesta pernikahan atau
berbulan madu.
Aku ingin
sesuatu untuk mengingat momen ini...
Saat berpikir
begitu, aku teringat sesuatu yang penting.
Eh? Apa aku
belum memberinya cincin kawin?
Wajahku langsung
pucat.
Aduh. Aku
terlalu fokus pada pesta pernikahan dan bulan madu sampai lupa soal cincin.
Bagaimana ini...
Biasanya cincin diberikan sebelum mendaftarkan pernikahan, kan?
"Kenapa?"
Yuki memiringkan
kepalanya melihatku memegang kepalaku.
"Bagaimana
kalau kita beli cincin?"
"Cincin?"
"Iya.
Cincin kawin... Maaf! Aku benar-benar lupa."
"Ah..."
Yuki menunjukkan
ekspresi seperti, "Oh ya, ada juga ya yang seperti itu." Eh?
Jangan-jangan Yuki juga lupa?
"Tidak
masalah kalau tidak ada."
"Eh..."
Tidak masalah?
Melihatku
terdiam, Yuki buru-buru berkata,
"Ah, aku
tidak marah karena kamu lupa! Aku juga lupa. Aku senang kalau kamu memberiku
hadiah, tapi tidak harus cincin..."
"Begitu ya?
Kukira semua wanita menginginkannya."
Semua mantanku
dulu suka perhiasan dan barang bermerek. Aku kira Yuki juga begitu.
"Hmm. Aku
lebih suka mesin cuci baru."
"Me-mesin
cuci..."
Entah kenapa.
Aku lega dia tidak marah, tapi aku juga merasa sedih karena dia bilang tidak
butuh.
Apa aku harus
senang karena dia istri yang suka mengurus rumah tangga?
Aku berpikir
sejenak.
Tidak ada pesta
pernikahan. Bulan madu juga tidak jadi.
Dan, kalau tidak
ada cincin kawin juga, kasihan sekali dia, kan?
Dia pasti tidak
sedang sungkan. Dia pasti benar-benar tidak membutuhkannya.
Tapi...
"Ah,
hujan... atau salju...?"
Salju yang
bercampur air mulai turun.
"Kita tidak
bawa payung, ayo kita pulang sebelum hujan deras."
Yuki berjalan
cepat ke arah rumah.
Aku menggenggam
tangan kirinya.
"Eh?"
Yuki menoleh
dengan ekspresi terkejut.
"Ayo kita
beli cincin kawin!"
"Ke-kenapa?
Aku tidak..."
Iya, ini memang keinginanku.
Keinginanku
untuk menunjukkan keseriusanku menikahinya.
"Jarimu itu
ramping dan cantik."
Aku menatap
tangan kirinya yang kugenggam. Tanganku dan tangannya sangat berbeda. Jarinya
ramping, halus, dan lembut.
"A-ada apa
tiba-tiba?"
Aku menangkupkan
tangannya yang terkena salju dengan kedua tanganku.
Lalu, aku
menatap matanya yang kebingungan dan berkata dengan sungguh-sungguh,
"Aku tidak
mau memberikan tangan ini, dirimu, pada orang lain. Aku ingin membeli cincin
kawin sebagai bukti."
"Ka-kalau
mau menyatakan kepemilikan, cincin nikah juga tidak masalah..."
Yuki mencoba
membantah dengan suara pelan, tapi dia berhenti di tengah kalimat.
Lalu, dia
menunduk dengan wajah sedikit memerah dan bergumam dengan suara yang lebih
pelan lagi,
"Ba-baik...
Jadikan aku... mi-milikmu..."
Eh?
Jangan-jangan dia suka pendekatan yang agresif seperti ini?
Tapi, aku tidak
terlalu pandai bersikap agresif...
Aduh, aku jadi
malu. Apa kata-kataku tadi berlebihan? Terlalu menjijikkan?
"Ka-kalau
begitu, ayo kita ke toko..."
"Kenapa kamu
tiba-tiba bicara dengan suara seperti itu?"
Dia tertawa
kecil, mungkin menyadari aku sedang malu.
"Kalau mau
sok keren, sok kerenlah sampai akhir, bodoh."
Dan dengan
tangannya yang kecil dan ramping, dia menepuk punggungku.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.