Kanojo wo deresareru houhou wo, Shorau kekkon suru oredake ga shitteiru V2 EPS 2

N-Chan
0

Episode 2

Ritus Peralihan Dewan Siswa


Note: Ritus adalah tata cara pelaksanaan upacara atau kegiatan yang bersifat seremonial dan tertata.

 

"Suzuhara-kun. Bagaimana perkembangan laporan kemajuan minggu depan?"

 

"Ah. Iya. Sudah sekitar setengah jadi, dan rencananya selesai lusa."

 

Dengan bergabungnya Kaede, keenam anggota OSIS berkumpul, dan OSIS baru mulai bergerak.

 

Pertama-tama, kami harus menjelaskan pekerjaan OSIS padanya.

 

"...begitulah. Setelah mendapat persetujuan dari ketua, persetujuan dari Mizuse-sensei juga diperlukan, jadi hati-hati."

 

"Baiklah. Aku mengerti."

 

Atas permintaan ketua, Yuki dan aku ditunjuk sebagai pengajar Kaede. Pertimbangan kami yang seangkatan mungkin dianggap paling tepat.

 

"Kalau begitu, selanjutnya kita akan mengatur komputer untuk keperluan pekerjaan, jadi nyalakan komputernya."

 

"Siap."

 

Yuki bersikap biasa saja pada Kaede. Seolah tidak pernah ada pernyataan perang.

 

Kaede juga sama, dia berinteraksi dengan Yuki dengan kepribadiannya yang ceria seperti biasa.

 

Kalau diperhatikan, keduanya memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang.

 

Kepribadian Yuki seperti kucing, tipe orang yang kurang pandai bergaul.

 

Sebaliknya, kepribadian Kaede seperti anjing, ramah pada siapa saja.

 

Untungnya, suasana OSIS tidak jadi tegang.

 

"Password-nya, sekolah yang mengelola. Nanti aku akan memberikan catatan berisi password-nya, jadi jangan sampai hilang."

 

"Tidak, tidak apa-apa. Aku tadi lihat dan sudah hafal kok."

 

"Hafal? Tidak mungkin bisa hafal secepat itu..."

 

"T5Cy318Gp9 kan?"

 

"............benar."

 

Yuki terkejut dengan ekspresi tidak percaya.

 

"Aku memang percaya diri soal daya ingatku dari dulu."

 

Kaede berkata sambil membusungkan dada besarnya.

 

"Dulu waktu lomba mengingat angka pi di SD juga hebat. Katanya dia hafal sampai 600 digit, tapi pihak penyelenggara hanya menyiapkan sampai 500 digit, jadi terjadi kejadian langka di mana tidak ada yang tahu apakah sisanya benar atau tidak."

 

"Ah. Nostalgia ya. Aku memang menang, tapi di piagamnya ada kalimat 'Kamu berhasil menghafal angka pi sampai digit', tapi bagian digitnya kosong."

 

Yuki berbisik padaku.

 

"Hei, hei, apa dia memang sehebat itu dari dulu?"

 

"Ah. Kaede itu yang terpintar di angkatanku."

 

"Begitu ya..."

 

Yuki menggigit bibir bawahnya dengan menyesal,

 

"Nee, bagaimana tadi kamu bisa mengingatnya? Apa ada tipsnya?"

 

Dia bertanya.

 

"Hmm. Sulit dijelaskan dengan kata-kata."

 

"Apa kamu bisa mengingat seperti gambar?"

 

"Ah. Apa itu photographic memory? Bukan, aku tidak punya kemampuan khusus seperti itu."

 

Kaede menggelengkan kepalanya Sedikit.

 

"Aku menghubungkan apa yang ingin kuingat dengan berbagai informasi di otak. Misalnya, password ini, aku mengingatnya bukan hanya huruf, tapi juga warna, aroma, dan jenis hurufnya. Lalu, yang penting adalah meyakinkan diri sendiri bahwa ini sesuatu yang penting."

 

Sambil menunjuk ke area lobus frontal,

 

"Aku membayangkan menggunakan bagian otak ini. Kalau sudah terbiasa, gampang kok."

 

"Gampang katanya..."

 

Yuki dan ketua OSIS sama-sama terkejut dengan ekspresi "tidak mungkin".

 

Aku sudah sedikit menduga, Kaede itu tipe jenius seperti Yuma.

 

Seharusnya aku sadar sejak awal, dia bisa masuk SMA ini dengan peringkat tiga sambil bekerja sebagai aktris.

 

"Yo. Wah, kalian semua sedang bekerja ya."

 

Wakil ketua OSIS datang dengan pakaian olahraga, mungkin dia baru selesai membantu kegiatan klub. Dia mengenakan handuk biru muda di lehernya, mungkin karena berkeringat.

 

"Ah. AC-nya dingin, sejuk sekali."

 

Dia berdiri di depan AC dan mengibaskan pakaian olahraganya. Aku dan Sugeda-senpai memalingkan muka agar tidak melihatnya.

 

"Kaede-chan. Bagaimana pekerjaannya? Apa ada yang tidak kamu mengerti?"

 

"Sejauh ini baik-baik saja."

 

"Jangan ragu untuk bertanya ya. Ke Shizuka."

 

"Bukannya ke Risa-senpai!"

 

"O! Memang gaya tsukkomi Osaka. Tajam ya."

 

"Terima kasih."

 

Wakil ketua OSIS dan Kaede langsung akrab. Sepertinya mereka berdua tipe yang cocok.


Mereka sudah saling memanggil nama, dan kemarin juga asyik membicarakan kosmetik.

 

"Setelah Niizuma-san bergabung, suasana jadi sangat ramai."

 

Ketua OSIS bergumam sambil melihat mereka.

 

"Haha. Maaf."

 

"Kenapa Suzuhara-kun yang minta maaf? Lagipula, aku lebih suka suasana yang ramai."

 

Ketua OSIS tersenyum. Aku merasa lega mendengarnya.

 

"Oh ya. Karena semua anggota kelas satu sudah lengkap, mari kita tentukan jabatan."

 

"Oh iya, jabatan kelas satu belum ditentukan ya. Apa saja yang tersisa?"

 

"Sekretaris, Humas, dan Administrasi Umum."

 

Jabatan ketua, wakil ketua, dan bendahara yang tanggung jawabnya besar dipegang oleh anggota kelas dua.

Tiga jabatan yang tersisa, maaf kalau terdengar kasar, seperti bonus.


"Ketua, aku ingin jadi sekretaris."

Yuki mengangkat tangan dengan semangat.

 

"Hmm. Kalau begitu, aku jadi Humas. Aku terkenal dengan suara keras."

 

"Apa kamu mengerti tugas Humas?"

 

"? Bukannya tugasnya menyampaikan berita penting lewat megafon dari atap sekolah?"


Bukan itu. Pakai ruang siaran. Kenapa pakai cara kasar begitu

.

"Kalau begitu, aku jadi Administrasi Umum."

 

Aku tidak punya preferensi khusus, jadi aku berniat mengambil jabatan yang tersisa.

 

Saat aku menyampaikan keputusan itu kepada ketua, dia tampak senang.

 

"Baguslah. Ini persis seperti penempatan yang kupikirkan."

 

Aku kira jabatan akan segera diputuskan, tapi

 

"Hei, apa kamu yakin mau jadi Administrasi Umum?"

 

Yuki bertanya padaku.

 

"? Kenapa?"

 

"Administrasi Umum itu seperti pekerjaan serabutan. Dibandingkan jabatan lain, posisinya lebih rendah..."

 

Ah, begitu rupanya.

 

"Kalau kamu mau jadi sekretaris atau humas, lebih baik kita diskusikan lagi..."

 

"Tidak, aku benar-benar tidak punya jabatan yang ingin kulakukan. Lagipula, Administrasi Umum juga pekerjaan yang bagus kan? Seperti orang yang mendukung dari belakang."

 

"Benar. Secara umum, posisi Administrasi Umum memang dianggap rendah, tapi menurutku tidak. Ini posisi yang mendukung semua pekerjaan, jadi butuh kemampuan beradaptasi yang fleksibel dan pengetahuan yang luas. Makanya, menurutku Suzuhara-kun yang perhatian ini cocok."


Ketua OSIS memberikan dukungan.

 

"Kalau kamu tidak keberatan..."

 

Yuki memainkan rambutnya dan membuang muka.

 

"Terima kasih. Sudah khawatir padaku."

 

Aku berbalik ke arahnya dan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum kecil.

 

"Bu-bukan apa-apa. Aku cuma tidak suka kalau orang yang hebat tidak dihargai dengan semestinya."

 

Bahkan orang lain pun tahu kalau dia sedang menutupi rasa malu.


Di sampingku, ketua OSIS tersenyum hangat.

 

 

* * *

 

 

"Sop buah dan, kentang goreng garing dan... lalu, enam minuman di drink bar ya."

 

Sore hari. Setelah pekerjaan OSIS hari itu selesai, kami pergi ke Saizeriya di dekat sekolah.

 

Wakil ketua OSIS mengusulkan untuk mengadakan pesta penyambutan Kaede.

 

Awalnya dia ingin pergi ke karaoke, tapi Yuki menolak karena karaoke sepulang sekolah melanggar peraturan sekolah. Saizeriya jadi solusi kompromi.

 

Karena dekat dari sekolah, setengah pengunjungnya adalah siswa.


Kami diantar ke meja paling ujung,


Ketua OSIS, wakil ketua OSIS, Sugeda-senpai.

 

Duduk berhadapan, Yuki, Kaede, dan aku.

 

Karena ini pesta penyambutan Kaede, dia duduk di tengah.

 

"Kalau begitu, kita ambil minumannya dulu."

 

Ugh... Aku ingin minum anggur.

 

Sambil melirik karyawan kantoran yang minum anggur dalam botol, aku menuangkan ginger ale ke dalam gelas di drink bar.

 

Ketua OSIS memastikan semua orang sudah dapat minumannya, lalu,

 

"Kalau begitu, mari kita sambut Niizuma-san, dan berdoa untuk kesuksesan OSIS di masa depan... Bersulang!"

 

""Bersulang!""

 

Seperti minum bir, aku meneguk setengah ginger ale-ku. Hmm. Ini juga enak.

 

Setelah memastikan semua makanannya sudah diantar, wakil ketua OSIS bertepuk tangan di atas kepala dan berkata dengan lantang,

 

"Kalau begitu, mari kita mulai. Ritual masuk OSIS. Permainan di mana Kaede-chan menjawab pertanyaan dari kami."

 

"Eh? Ada yang seperti itu?"

 

"Tentu saja. Kalau tidak melakukan ini, kamu tidak bisa menjadi anggota OSIS sejati!"

 

Wakil ketua OSIS. Kami berdua, aku dan Yuki, juga tidak melakukannya!

 

"Baiklah. Tanyakan apa saja!"

 

"Ooh, berani sekali. Kalau begitu, pertanyaan ringan dulu ya."

 

Wakil ketua OSIS tersenyum jahat.

 

"Waktu SMP, apa kamu punya pacar— Aw!"

 

Ketua OSIS memukul kepala wakil ketua OSIS dengan keras.

 

"Ri-sa-. Kita sudah janji kan, jangan menanyakan hal yang sulit dijawab pada kouhai."

 

"A-aku cuma bercanda. Wajahmu menakutkan sekali."

 

Ketua OSIS hanya tersenyum, tapi sepertinya itu terlihat sangat menakutkan bagi wakil ketua OSIS.

 

Wakil ketua OSIS buru-buru berkata,

 

"Ka-kalau begitu, pertanyaan lain. Anak SMP di Kansai, biasanya pergi ke mana sepulang sekolah? Saize atau?"

 

Pertanyaannya tiba-tiba jadi sopan sekali...

 

"Kalau tidak Saize... ya Magudo. Anak SMP kan tidak punya banyak uang, jadi biasanya cuma minum di drink bar."

 

"Ah. Ternyata sama saja di Kanto dan Kansai."

 

"Sepertinya begitu. Aku sibuk dengan teater, jadi aku cuma bisa bermain dengan teman-teman di sekolah. Makanya aku sangat ingin berkumpul dan mengobrol seperti ini."

 

"Ka-Kaede-chan... Ini, makanlah kentangku."

 

Wakil ketua OSIS berkaca-kaca dan menyodorkan kentang yang ada di depannya pada Kaede.

 

"Kalau begitu, pertanyaan selanjutnya aku oper ke Shizuka."

 

"Ah, aku?"

 

Karena tiba-tiba ditunjuk, ketua OSIS sedikit panik.

 

"Ka-kalau begitu... Apa kamu punya saudara?"

 

"Aku anak tunggal. Kalau senpai, bagaimana?"

 

"Aku juga anak tunggal," kata ketua OSIS.

 

"Aku punya satu adik laki-laki," kata wakil ketua OSIS.

 

Satu... Itu saja sudah cukup untuk membayangkan penderitaan adiknya.

 

"Aku punya empat adik perempuan," kata Sugeda-senpai.

 

""Eh!?""

 

Ketua OSIS dan wakil ketua OSIS terkejut. Sepertinya mereka juga tidak tahu.

 

"Eh. Adik perempuan beneran? Bukan khayalan?"

 

"Asli. Ada yang kelas tiga SMP, kelas satu SMP, dan kembar kelas lima SD."

 

"Heeeee. Orang tuamu hebat."

 

"Fakta yang luar biasa diungkapkan sekarang. Kenapa tidak bilang dari dulu?"

 

"Karena tidak ada yang bertanya."

 

Sugeda-senpai, orang yang penuh misteri...

 

Karena dia pendiam, informasi tentangnya hanya suaranya yang serak, dia seorang otaku, dan pekerjaannya selalu sempurna.

 

"Apa kamu dipanggil 'Oniichan' oleh adik-adikmu?"

 

"Panggilan mereka beda-beda. Onii-chan, Kakak, Nii-nii, Bocah Berkacamata Sialan."

 

Eh? Bukannya salah satu adik perempuannya tsundere?

 

"Cukup tentangku. Hari ini kita bertanya pada Niizuma."

 

"Ah. Benar juga. Kalau begitu, selanjutnya Big Brother, Sugeda-cchi."

 

"Hmm. Aku ya..."

 

Sugeda-senpai sepertinya tidak menyiapkan pertanyaan, jadi dia berpikir sejenak. Lalu,

 

"Apa ada anime atau manga favorit?"

 

"Aku suka manga shonen. Hampir semua yang terkenal sudah kubaca, dan aku juga suka anime. Dari dulu aku lebih suka karya untuk cowok. Aku lebih suka Kamen Rider daripada Pretty Cure."

 

"Begitu. Kalau aku, aku suka Pretty Cure. Gara-gara itu, aku jadi menyimpang. Tapi aku tidak menyesal."

 

Kamu sadar sudah menyimpang?

 

"Kalau begitu, selanjutnya Yuki-chan."

 

"..........................."


Yuki melihat ke arah Kaede di sebelahnya. Dia memiringkan kepalanya sedikit, menatap mata Kaede yang sedang menunggu pertanyaan, lalu

 

"Su... "

 

Dia mengatakan itu, tapi kemudian bergumam dan menggerakkan mulutnya.

 

"A-apa waktu SMP kamu ikut les atau punya guru privat?"

 

Dia bertanya.

 

Eh. Apa tadi dia mengubah pertanyaannya? Sepertinya aku mendengar namaku...

 

"Waktu kelas satu aku ikut les, tapi waktunya tidak cocok, jadi aku berhenti sebelum kelas dua. Sisanya aku belajar sendiri."

 

"Begitu ya. Lalu kamu dapat peringkat tiga... Hebat sekali..."

 

"Yah, masih banyak yang harus dipelajari. Sekolah ini, level pelajarannya tinggi sekali, beda jauh dari SMP. Ujian tengah semester sebentar lagi, jadi aku harus belajar serius."

 

"Ugh. Jangan sebut kata itu. Makananku jadi tidak enak."

 

Begitu kata "ujian tengah semester" disebutkan, wakil ketua OSIS mengerutkan wajah dan menjulurkan lidahnya.

 

Ketua OSIS berdeham.

 

"Anggota OSIS tidak boleh dapat nilai merah, jadi semuanya semangat ya."

 

Katanya sambil melihat ke arah wakil ketua OSIS.

 

"Kenapa kamu cuma menatapku!?"


Yah, berbeda dengan kami kelas satu yang masuk karena nilai, kelas dua dipilih lewat pemilihan.

 

Sepertinya nilai wakil ketua OSIS kurang baik. Yah, meskipun begitu, dia tidak mungkin bodoh karena bisa masuk sekolah ini.

 

"Terakhir aku..."

 

Aduh. Aku tidak kepikiran pertanyaan apa pun. Aku sudah tahu hampir semua tentang dia, dan yang belum kutahu tentang masa SMP-nya juga sudah kutanyakan di Maggu...

 

Saat aku sedang bingung, wakil ketua OSIS melihat ke arahku dan Kaede bergantian.

 

"Ngomong-ngomong, aku terkejut lho. Ternyata Suzuchi dan Kaede-chan teman masa kecil."

 

"Kami hanya satu SD. Apa itu bisa dibilang teman masa kecil?"

 

"Bagaimana ya? Definisi teman masa kecil kan kenal sejak kecil... Tergantung apakah masa SD bisa dibilang masa kecil atau tidak?"

 

Ketua OSIS memiringkan kepalanya sedikit.

 

"Bukan, bukan, ada cara membedakan yang lebih mudah."

 

Wakil ketua OSIS menggerak-gerakkan jarinya.

 

"Apakah kalian pernah berjanji, 'Nanti kalau besar, aku akan jadi istri ○○-kun'? Kalau pernah, berarti teman masa kecil, kalau tidak, berarti bukan teman masa kecil."

 

Teori ngawur dari mana itu?

 

"Begitu ya..."

 

Kaede mengangguk kecil, lalu dengan riang berkata,

 

"Kalau begitu, kami teman masa kecil."

 

"Uhuk! Uhuk!"

 

Yuki yang sedang minum jus apel tersedak.

 

Tidak, aku tidak ingat pernah membuat janji seperti itu.

 

Saat aku menoleh dengan wajah terkejut, Kaede mengedipkan mata.


Artinya, ini akting, ikuti saja.

 

"Eeeh! Ceritakan, ceritakan bagian itu!"

 

Wakil ketua OSIS yang suka gosip langsung tertarik.

 

"Itu janji waktu kecil. Aku sudah tidak ingat."

 

"Eeeh. Kamu pelupa sekali. Bagaimana dengan Kaede-chan? Apa kamu tidak punya perasaan suka pada Suzuchi yang sudah dewasa?"

 

Kaede melirik ke arahku, lalu

 

"Hmm... Kalau ditanya suka atau tidak, aku sangat suka."

 

Katanya dengan suara pelan dan malu-malu sambil wajahnya sedikit memerah.

 

"Kya kya kya."

 

Wakil ketua OSIS sangat senang. Suaranya seperti bayi yang kegirangan.


Namun, tiba-tiba dia memasang wajah serius.

 

"Eh? Tapi Suzuchi kan suka Yuki-chan... Kaede-chan suka Suzuchi... Lalu, Yuki-chan dan Kaede-chan teman OSIS... Wah! Cinta segitiga!"

 

Baru sadar sekarang?

 

"Hebat hebat. Ini seperti alur game yang sering Sugeda-cchi mainkan!"

 

"Game-ku itu romantis. Jangan samakan."

 

Sugeda-senpai membetulkan kacamatanya sambil menyangkal. Tidak, punyaku juga romantis.

 

"Jangan-jangan di OSIS kita akan ada drama siang... Suzuchi. Lebih baik kamu simpan majalah di perutmu."

 

"Apa aku akan ditusuk?"

 

"Kalau kamu dibunuh, serahkan padaku. Sebagai detektif SMA aktif, aku akan menemukan pelakunya. Kebenaran selalu ada satu!"

 

Ini Conan yang mana?

 

"Ngomong-ngomong, memangnya pacaran di dalam OSIS itu boleh?"

 

"Seharusnya boleh asal hubungannya baik-baik saja..."

 

Ketua OSIS tersenyum pahit sambil melihat ke arahku, Yuki, dan Kaede secara bergantian.

 

"Tapi mungkin lebih baik dilarang saja..."

 

"Eeeh! Tidak seru! Aku menolak larangan pacaran!"

 

"Benar! Cinta itu harus bebas!"

 

Wakil ketua OSIS dan Kaede cemberut dan memprotes.

 

Di samping mereka, Yuki entah kenapa wajahnya pucat dan bergumam,

 

"Harus bagaimana... harus bagaimana..."














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !