Interlude
II
Sejarah
Kelam Yuki (Masa Depan)
"Aku
pulang."
Saat pulang
kerja, aku tidak mendengar jawaban Yuki seperti biasanya.
Apa dia sedang
keluar? Tapi, lampu ruang keluarga menyala.
Dia juga tidak
ada di kamar tidur, kamar mandi, atau toilet. Aku khawatir dia pingsan atau
sesuatu, jadi aku buru-buru mencari di seluruh rumah.
"Yuki...?"
Ketemu.
Dia ada di kamar
kosong yang kami gunakan sebagai gudang.
Dia duduk di
depan kardus yang terbuka, seperti sedang melamun, melihat kertas yang
dipegangnya.
Kertas... bukan,
foto?
"Lagi
apa?"
"Eh. Ah,
se-selamat datang."
Saat aku
menyapanya, dia buru-buru menyembunyikan foto yang dipegangnya di belakang
punggung.
"Itu, foto
lama?"
"I-iya.
Foto waktu SMA... foto grup OSIS."
Yuki waktu SMA!?
A-aku ingin melihatnya...
"Boleh aku
lihat fotonya?"
"Tidak
boleh!"
Dia menolak
dengan sangat keras, dan aku terkejut. Melihat reaksiku, Yuki buru-buru
berkata,
"Ah, maaf.
Aku... aku membentak."
"Tidak, aku
yang salah. Aku tidak tahu kamu akan sangat menolak..."
"Aku tidak mau
kamu melihatku waktu SMA. Aku sangat berbeda dari diriku yang sekarang..."
Sangat
berbeda...?
Apa dia sangat
gemuk dulu? Tapi, dia pernah bilang kalau dia sulit gemuk...
Saat aku
mengamati Yuki dengan seksama, dia menggaruk pipinya dan berkata,
"Emm,
Masaomi-san, apa kamu pernah teringat kegagalan di masa lalu dan ingin
berteriak 'Aaaah!'?"
"Eh. Ya,
pernahlah."
"Masa
SMA-ku seperti itu."
"Semuanya!?"
Yuki menunduk
malu.
"Ingat kan?
Dulu aku pernah cerita kalau aku berusaha keras untuk mengalahkan
kakakku?"
"Ah.
Kakakmu yang menyebalkan itu kan?"
"Iya...
Tapi, caraku berusaha itu salah... Aku hanya berusaha keras belajar, tidak
punya teman, tidak populer... Akibatnya, aku kalah dalam pemilihan
OSIS..."
Awan gelap mulai
menggantung di atas kepala Yuki. Gawat. Aku mungkin sudah menekan tombol
trauma.
"Eh? Tapi,
bukannya kamu bilang itu foto OSIS?"
"Ah. Itu
foto waktu kelas satu. Waktu kelas satu, siapa pun bisa masuk OSIS asal
nilainya bagus, tapi kelas dua ditentukan lewat pemilihan OSIS... ah..."
Yuki mengangkat
wajahnya seolah teringat sesuatu,
"Oh iya,
Mikami-senpai bilang, 'Aku mau sekali melihat suamimu'."
"Mikami-senpai
itu siapa?"
"Ah, emm,
ketua OSIS waktu aku kelas satu. Aku pernah curhat banyak hal padanya."
"Curhat?
Apa ada masalah?"
"Ah, tidak,
itu, itu urusanku!"
Yuki memerah dan
melambaikan tangannya di depan wajahnya.
"Kalau
begitu, lain kali kita ajak dia ke rumah?"
Mikami-san ya...
Aku juga ingin
bertemu dan menyapanya sekali. Lagipula, aku mungkin bisa mendengar cerita
tentang Yuki di masa lalu.
"..........................."
Namun, entah
kenapa Yuki terlihat ragu.
Hah!
Jangan-jangan, dia tidak mau mengenalkanku? Maaf. Suami yang tidak keren ini.
Aku duduk
bersimpuh di sudut ruangan.
"Emm...
kurasa, tidak perlu mengenalkanku juga tidak apa-apa..."
"Eh!?
Kenapa tiba-tiba!?"
"Ka-karena,
sepertinya kamu ragu... Kupikir kamu tidak mau mengenalkanku."
"Tentu saja
tidak. Aku akan dengan bangga mengenalkan orang yang sudah membantuku."
"Yu-Yuki..."
Entah kenapa, dia
hampir menangis.
"Maaf. Aku
ragu karena aku egois."
"Egois?"
"Iya.
Mikami-senpai itu, cantik sekali... Dia punya daya tarik dewasa yang tidak
kupunya... makanya, aku sedikit khawatir kalau kamu akan berpaling..."
Yuki memasang
ekspresi terkejut, lalu buru-buru berkata,
"Ah,
bukannya aku meragukanmu ya? Tapi, dia orang yang sangat menarik, jadi..."
Dia menggenggam
ujung bajuku erat-erat dan menatapku dari bawah.
"Aku
sedikit khawatir kalau kamu akan direbut... auu..."
Imut! Makhluk
imut apa ini!
"Ittai nan
zhe ke'ai shengwu bao meng zun si bu ke bi" (Makhluk imut ini terlalu
imut, aku bisa mati)
"Eh? Kenapa
tiba-tiba pakai bahasa Mandarin?"
Ah, maaf. Aku
terlalu gemas sampai otakku error.
Aku menggenggam
erat tangannya. Karena aku baru pulang dari luar, tanganku mungkin sedikit
dingin. Aku menatap matanya,
"Tenang
saja. Aku pasti tidak akan selingkuh."
Kataku dengan
lembut.
"I-iya. Aku
tahu..."
Yuki memasang
ekspresi lega, dan pipinya sedikit merona.
"Tapi,
sampai segitunya kamu bilang, orang seperti apa sih dia sebenarnya?"
"Emm, bukan
cuma penampilannya, tapi kepribadiannya juga hebat. Dia nomor satu di angkatan
dalam pelajaran, dan berbeda denganku, dia juga populer..."
Sambil matanya
berbinar, dia mulai menjelaskan dengan semangat daya tarik Mikami-senpai.
"Sejak SMA,
dia selalu memperhatikanku... Orang yang paling kupercaya..."
Paling...
Melihatnya
mengatakan itu dengan tegas, aku merasa sedikit cemburu.
"..........................."
Mungkin itu
sedikit terlihat di wajahku. Entah dia menyadari kecemburuanku atau tidak,
"Aku juga
mempercayaimu kok..."
Katanya sambil
tersenyum kecil.
"B-begitu
ya. Aku sangat senang."
Entah kenapa,
rasanya sangat malu kalau diucapkan dengan kata-kata...
Sepertinya Yuki
juga merasakan hal yang sama.
Sambil wajah
kami benar-benar merah, kami saling mengalihkan pandangan.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.