Interlude
III
Kata-kata
Janji (Masa Depan)
Mikami-san,
teman Yuki dan seniornya waktu SMA.
Kunjungannya
dijadwalkan pada malam akhir pekan.
Meskipun aku
sudah menyarankan untuk pergi ke bar atau restoran, entah kenapa permintaannya
adalah mengadakan pesta di rumah kami.
Teman Yuki ya...
Orang seperti
apa ya dia? Hari itu aku menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, dan buru-buru
pulang.
"Aku
pulang."
"Selamat
datang. Maaf, tolong bantu menata makanannya."
Saat pergi ke
dapur, aku melihat Yuki yang mengenakan celemek, dikelilingi banyak sekali
makanan.
"Ba-banyak
sekali."
"Ugh. Maaf.
Aku jadi mau membuat ini dan itu, dan tidak bisa berhenti."
Ini lebih
seperti perjamuan mewah daripada camilan untuk minum. Aku tersenyum pahit dan
membawa makanan ke meja.
Ding dong
"Datang!"
Tepat saat kami
selesai menata makanan, bel pintu berbunyi.
Aku dan Yuki
pergi ke pintu masuk, dan saat membuka pintu, seorang wanita cantik bergaya
Jepang mengenakan setelan berdiri di sana.
"Maaf.
Tiba-tiba ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Makanya aku langsung ke
sini."
"Tidak
apa-apa. Setelannya, biar saya simpan."
Memang benar.
Aku jadi mengerti kenapa Yuki bilang dia cantik.
Rambut hitam
semi-panjang yang rapi, wajah cantik seperti boneka.
Tubuhnya tinggi
dan ramping yang cocok dengan setelan. Tidak, dia tidak terlalu tinggi, tapi
karena wajahnya kecil dan tubuhnya bagus, dia terlihat lebih tinggi dari
aslinya.
"Kamu
pasti..."
Di sini, pertama
kalinya tatapan kami bertemu.
Dia tersenyum
kecil dan berkata,
"Perkenalkan.
Namaku Mikami Shizuka."
Dia membungkuk
dalam.
"A-aku
Suzuhara Masaomi."
Aku juga ikut
membungkuk dalam.
Karena gugup,
aku hampir menggigit lidahku.
Aku tidak pernah
bertemu orang tuanya, tapi entah kenapa hari ini rasanya seperti itu.
"Terima
kasih banyak sudah mengundangku hari ini. Ini, tidak seberapa, tapi..."
Dia menyerahkan
kantong kecil berisi makanan ringan atau semacamnya.
"T-tidak,
maaf merepotkanmu."
Kami berdua
membungkuk berulang-ulang, dan melihat itu, Yuki tertawa kecil.
"Kalian
berdua terlalu formal. Bersikap santai saja."
Dia berkata.
Ruang keluarga.
Saat Yuki
membawa masakan buatannya, Mikami-san memasang ekspresi senang.
"Aku senang
sekali bisa makan masakan Yuki-chan lagi."
"Masakanku
sudah lebih baik dari dulu. Nikmati ya."
Aku membuka
kulkas dan mengeluarkan beberapa minuman beralkohol yang sudah didinginkan.
"Mikami-san.
Mau minum apa?"
"Kalau
begitu, chuhai kaleng saja. Selain minuman dengan kadar alkohol tinggi, apa
saja boleh."
Katanya sambil
mengambil lemon high.
"Kalau
begitu, mari kita rayakan pernikahan Suzuhara-san dan Yuki-chan...
Bersulang!"
""Bersulang""
Seperti minum
bir, aku meneguk setengah ginger ale-ku. Hmm. Ini enak juga.
Setelah itu, aku
mendengarkan cerita nostalgia Mikami-san dan Yuki.
Awal mula
perkenalan mereka.
Kisah SMA Shichibou,
sekolah yang menjunjung tinggi prestasi akademik.
Kesulitan saat
ada siswi seangkatan Yuki yang tiba-tiba keluar dari OSIS, dan mereka harus
mencari anggota baru.
Kisah wakil
ketua OSIS yang tomboi. Kabarnya sekarang dia bekerja sebagai pembawa acara
lepas.
"Dia
benar-benar berbeda dari sekarang. Pasti kamu akan terkejut kalau melihatnya
waktu SMA."
"To-tolong
jangan bahas itu!"
Yuki
memukul-mukul punggung Mikami-san.
Karena Yuki
sangat mempercayainya, aku merasa dia pasti orang yang hebat.
"Funyuh..."
Mungkin sekitar
dua jam kemudian. Yuki pingsan.
Dia berbaring
dan mulai mendengkur halus.
"Aku
ambilkan selimut dulu."
Meskipun
pemanasnya menyala, dia bisa kedinginan. Aku mengambil selimut dari sofa dan
menyelimutinya.
Sepertinya dia
tidak akan bangun sampai pagi...
Dia memang tidak
kuat minum. Padahal, dia minum terus saat Mikami-san menawarinya.
"Hm?"
Eh? Mikami-san
pasti tahu kalau Yuki tidak kuat minum kan? Tapi, kenapa dia terus
menawarinya...
"Maaf. Aku
ingin bicara berdua denganmu sebentar."
Mikami-san
berkata dan duduk kembali.
Ternyata, dia
sengaja menawari Yuki minuman.
"Aku sudah
banyak mendengar tentangmu dari Yuki-chan. Dia selalu terlihat sangat senang
saat menceritakan tentangmu."
"Be-begitukah."
Entah kenapa,
aku jadi malu.
"Aku juga
percaya padamu. Tidak ada orang lain selain aku yang bisa dia buka hatinya
seperti itu..."
Mikami-san
dengan lembut membelai kepala Yuki yang mendengkur halus.
"Tapi, aku
tetap harus mengatakannya."
Mikami-san
menatap mataku dengan serius dan berkata dengan ekspresi serius.
"Suzuhara-san.
Apa kamu bersumpah akan membahagiakannya?"
Suaranya dingin,
berbeda dari sebelumnya, seolah alkohol yang diminumnya langsung menguap.
Tangannya
terkepal erat dan berkeringat.
Aku langsung
mengerti alasannya.
Benar... Dia
sudah melihatnya di depan matanya. Berpuluh-puluh kali lebih banyak dariku,
Yuki menderita.
Dia adalah teman
dan sosok kakak bagi Yuki.
Aku menggigit
bibir bawahku dan balas menatap mata Mikami-san.
"Tenang
saja. Aku pasti akan membahagiakan Yuki."
Mendengar itu,
"Aku senang
mendengar kata-kata itu."
Mikami-san
melepaskan ketegangan di tubuhnya. Bersamaan dengan itu, air mata mulai
menetes.
"Ma-maaf.
Aku tidak berniat menangis..."
Dia buru-buru
menyeka matanya dengan sapu tangan.
"Anak ini
sudah banyak menderita selama ini. Sudah waktunya dia bahagia. Makanya, tolong
bahagiakan dia sekuat tenaga. Buat dia banyak tertawa."
Aku menggigit
gigiku erat-erat.
"Ya.
Pasti..."
Aku mengangguk
dengan tegas.
"Oh ya.
Kalian berdua kan tidak berencana mengadakan upacara pernikahan? Kalau begitu,
bagaimana kalau kita mengucapkan janji pernikahan di sini?"
Janji
pernikahan? Ah, seperti saat pendeta bertanya, "Apakah kamu bersedia
mencintai selamanya?" di upacara pernikahan.
"Tapi,
pengantinnya sedang tidur nyenyak."
"Tidak
apa-apa. Pasti anak ini malu. Kita lakukan saja selagi dia tidur."
Eh? Apakah janji
pernikahan seperti itu? Tiba-tiba tercium bau kriminal.
"Kalau
begitu, kita mulai."
Mikami-san
berdeham.
"Pengantin
pria. Apakah kamu bersedia mencintai, menghormati, menyayangi, dan mendukung
Yuki yang ada di sini, baik di saat sakit maupun sehat, kaya maupun miskin,
sebagai istrimu?"
"...Aku
bersedia."
Mendengar
kata-kataku, Mikami-san mengangguk puas, lalu berdiri di depan Yuki.
"Pengantin
wanita. Apakah kamu bersedia mencintai, menghormati, menyayangi, dan mendukung
Masaomi yang ada di sini, baik di saat sakit maupun sehat, kaya maupun miskin,
sebagai suamimu?"
"Ngh...
ngh..."
Dia sedang tidur
nyenyak.
Mikami-san
mendekatkan telinganya ke mulut Yuki, lalu mengangguk.
"Dia bilang
'Aku bersedia'."
Dia mengacungkan
jempol.
Mikami-san.
Kesan pertamanya serius dan kompeten, tapi ternyata ada sisi polosnya juga?
Aku tersenyum
pahit.
"Baiklah.
Kalau begitu, mari berciuman janji."
"Ciuman...
yah, mencium saat dia sedang tidur itu... agak..."
"Eh-?
Bukannya kalian pasangan yang mesra?"
Ugh... Memang
benar kami sering berciuman, tapi aku tidak punya keberanian untuk melakukannya
di depan orang lain.
Mikami-san
memasang wajah kecewa, lalu menyesap chuhai-nya.
"Uuh. Aku
jadi mau menikah juga. Kalau ada orang baik di perusahaan Suzuhara-san, tolong
kenalkan ya."
"Tentu saja
boleh... Ngomong-ngomong, tipe pria Mikami-san seperti apa?"
"Hmm..."
Mikami-san
berpikir sejenak, lalu tersenyum padaku.
"Aku suka
pria seperti Suzuhara-san."
"Hahaha...
Tolong jangan membuatku berdebar. Apa yang kamu suka dariku?"
"Kamu tidak
selingkuh. Mantan pacarku dulu... hiks."
Ah, gawat.
Sepertinya aku mengungkit masa lalu yang menyakitkan.
Mikami-san
berkaca-kaca.
"Ngh...
Masaomi-san... aku suka..."
Tiba-tiba, Yuki
mengigau.
"..........................."
"..........................."
Aku dan
Mikami-san saling bertatapan beberapa saat, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana
kalau kita minum lagi sambil melihat wajah tidurnya yang imut ini?"
"Boleh
juga. Besok aku libur, jadi aku akan minum satu botol lagi. Tolong ceritakan
lebih banyak tentang masa lalu Yuki."
"Serahkan
padaku. Ada banyak cerita lho. Kalau begitu, mari kita mulai dengan kisah masa
kuliah..."



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.