Epilog
Cerita Tambahan.
Shijo dan yang
lain mengaku pada guru BK, dan diskors selama dua minggu.
Setelah itu,
kami mengajukan laporan polisi. Tidak butuh waktu lama sampai mereka ditangkap.
Katanya, anggota
Prejil itu juga memeras uang dari anak SMA selain dari SMA Shichibou.
Sepertinya ada laporan polisi lain, dan polisi sedang menyelidiki kasusnya.
Aku dan Yuki
dipanggil untuk dimintai keterangan, tapi karena kami hanya korban pemerasan,
bukan pelaku, urusan kami cepat selesai.
Hanya saja,
gara-gara itu, ketua OSIS jadi tahu kalau kami berdua terlibat, dan kami
dimarahi.
"Aduh.
Kalau ada masalah, tolong diskusikan."
"Maaf..."
"Yah, aku
paham rasanya ingin terlihat keren di depan gadis yang disukai..."
"Ahaha...
Lain kali aku akan berhati-hati."
Untuk sementara,
badai besar sudah berlalu. Meskipun masih ada banyak saran di kotak saran, tapi
itu bisa kami selesaikan pelan-pelan.
Yang jadi
masalah sekarang adalah.
"Arisugawa.
Apa kamu ada waktu istirahat? Aku ingin bicara soal—"
"Ma-maaf.
Aku sedang sibuk dengan permintaan lain."
Katanya sambil
keluar kelas.
Yuki mulai
menghindariku lagi.
"Ada apa
sih..."
Kalau ada banyak
orang, dia tidak masalah.
Tapi, begitu
kami berdua saja, dia selalu mencari alasan untuk pergi.
Ini berbeda
dengan saat dia cemburu pada Kaede.
Dia tidak
terlihat kesal, tapi lebih seperti malu saat berdua denganku...
Apa Kaede tahu
sesuatu?
"Kaede. Apa
kamu di sana?"
"? Ada
apa?"
Aku pergi ke
kelas sebelah, dan Kaede yang sedang mengobrol asyik dengan teman-teman
sekelasnya menoleh ke arahku.
Tidak ada jejak
Kaede yang kesepian dan kesulitan bergaul saat baru masuk sekolah.
Yah, dia memang
jago bergaul sih.
Saat kuceritakan
sikap Yuki padanya,
"Hmm. Kalau
cuma itu, aku tidak tahu alasannya."
Katanya sambil
memiringkan kepala.
"Iya ya.
Aku juga tidak tahu penyebabnya..."
Satu-satunya
yang kupikirkan adalah saat dia memelukku di kereta...
"Tapi, ada
satu hal yang bisa kupastikan."
Kaede menepuk
punggungku.
"Sudah
jelas kan, kalau ada cewek yang menghindar, cowoknya harus mengejar."
Katanya dengan
percaya diri.
"Itu lagi
nasihat dari orang yang belum pernah pacaran."
"Aku sudah
pernah pacaran tahu."
"Eh...?"
"Sudah ya,
aku sibuk."
Kaede
mendorongku keluar kelas.
"Kalau
tidak cepat mendekati—"
"?"
Entah apa yang
Kaede gumamkan.
Saat aku
menoleh, Kaede sudah kembali ke teman-temannya.
"Ada apa
sih dengannya? Aneh sekali..."
Kalau Kaede juga
tidak tahu, berarti aku harus bertanya langsung pada Yuki.
Aku akan mencoba
mengejarnya.
Ngomong-ngomong,
dia ke mana ya?
Setelah
menghindariku, dia selalu kembali setelah beberapa menit. Selama itu, dia pasti
ada di suatu tempat...
"............
Ketemu."
Aku mencari ke
seluruh sekolah, dan akhirnya menemukannya.
Dia berdiri di
tangga menuju atap gedung sekolah.
Cahaya masuk
dari jendela, menerangi tubuhnya seperti lampu sorot. Rambut peraknya jadi
berkilau.
Begitu
melihatku, wajah Yuki langsung berbinar.
"Akhirnya
kamu mengejarku..."
Katanya pelan.
Jangan-jangan,
dia memang menungguku?
"Kenapa
kamu di tempat seperti ini..."
"................................."
Dia tidak
menjawab. Sambil sedikit memerah, dia membuang muka.
Pintu menuju
atap tertutup, dan tidak ada apa pun di sini.
Hanya saja,
tempat ini sepi...
"Ngomong-ngomong..."
Tempat ini
adalah tempat pertama kali aku dan Yuki bicara dengan serius.
Aku meminjamkan
buku pelajaran pada Yuki yang lupa membawanya, dan dia salah paham mengira aku
bermaksud baik.
Dia memasang
ekspresi seperti ingin berkata, "Cepat nyatakan cintamu, aku akan langsung
menolakmu."
Tapi, sekarang
berbeda.
Yuki memainkan
rambutnya, terlihat gelisah.
Seolah sedang
menunggu sesuatu...
"Jangan-jangan..."
Apa dia
menungguku untuk menyatakan cinta?
Karena dia
selalu datang ke tempat ini, dia mungkin berpikir kalau aku akan menyatakan
cinta di sini.
Makanya, dia
selalu datang ke sini saat kami berdua saja.
Dia percaya aku akan
mengejarnya...
"Haaah..."
Aku memegangi
kepala dan menghela napas.
Benar-benar,
kenapa dia begitu canggung...
"................................."
Aku mengangkat
wajah dan menatap Yuki.
Aku membenahi
dasiku dan menarik napas dalam-dalam.
"Arisugawa..."
"A-ada
apa?"
Mata birunya
menatapku. Keringat mengalir di pipinya yang memerah.
Meskipun dia
berusaha terlihat tenang, jelas sekali dia gugup.
Pada Yuki yang
seperti itu, aku mengungkapkan perasaanku dengan jujur.
"Kamu mau
menolakku kan?"
"!? "
Matanya
terbelalak. Dia mundur selangkah, dua langkah.
"Ke-kenapa
kamu..."
Katanya pelan.
"Sudah
jelas. Aku sudah lama mengamatimu."
Sejak tadi di
tempat ini, Yuki terus menggigit bibir bawahnya.
Itu kebiasaannya
saat mencoba menahan rasa sakit.
Awalnya, dia
terlihat seperti sedang menunggu pernyataan cinta. Tapi, meskipun dia berusaha
menyembunyikannya, kebiasaan itu tidak bisa disembunyikan.
Dia pasti akan
mengatakan, "Maaf," atau "Aku butuh waktu untuk berpikir."
Karena janji
dengan ayahnya. Sampai dia mendapat kebebasan untuk jatuh cinta dengan siapa
pun yang dia mau.
Kalau begitu,
aku akan menunggu. Sampai dia puas. Sampai saat dia bisa dengan bangga
mengatakan suka padaku.
"Aku tidak
akan menyatakan cinta sekarang. Saat aku menyatakan cinta lagi, itu saat kamu
mengiyakan."
"................................."
Mendengar itu,
Yuki tertawa kecil.
"Apa itu?
Bukannya itu sama saja dengan menyatakan cinta..."
Kata Yuki sambil
tersenyum malu. Senyumnya persis seperti Yuki di masa depan.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.