Kanojo wo deresareru houhou wo, Shorau kekkon suru oredake ga shitteiru V2 Interlude VII

N-Chan
0

Interlude VII

Di Balik Layar Operasi dan Para Kolaborator


(POV Masaomi)

 

Rencana mengalahkan mahasiswa berandalan.

 

Dua hari sebelum eksekusi.

 

"...Bagaimana?"

 

Aku menceritakan semua situasinya pada Kaede, dan meminta bantuannya untuk mengajariku akting.

 

"Hmm. Sudah jauh lebih baik dari yang pertama, saat kamu membacanya dengan datar."

 

"Oh, begitu."

 

Rencan yang kubuat tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Aku harus banyak berlatih agar bisa berimprovisasi jika terjadi hal yang tak terduga.

 

"Kita istirahat dulu."

 

"Baiklah."

 

Aku membeli dua kopi kaleng dari mesin penjual dan memberikannya pada Kaede.

 

"Apa ada hal lain yang perlu diperhatikan?"


"Hmm. Sepertinya kamu harus lebih menyeramkan. Kita harus membuat mereka takut padamu."

 

"Menyeramkan ya... Lalu, bagaimana caranya?"

 

"Hmm... Katanya orang akan merasa takut kalau ada yang melakukan hal yang tidak bisa mereka pahami."

 

Kaede membuka kopi kalengnya, menyesapnya sedikit, lalu berkata,

 

"Misalnya, bagaimana kalau aku minum kopi ini dari hidung sambil berteriak aneh dan berlari ke sana?"

 

"Itu memang menakutkan... Aku tidak mau berurusan denganmu."

 

Perilaku yang tidak bisa dipahami ya...

 

Aku harus bicara sesingkat dan sejelas mungkin. Kalau terlalu banyak bicara, aku bisa keceplosan.

 

Kalau begitu, gerak-gerik...?

 

"Kenapa kamu terlihat bingung? Bukankah mudah untuk terlihat menyeramkan?"

 

Kaede membuang kopi kalengnya yang sudah habis ke tempat sampah, lalu meletakkan jari-jari kedua tangannya di pipi.

 

"Kamu cukup tersenyum."

 

Katanya sambil tersenyum.

 

"Tersenyum?"

 

"Rencana kita ini kan melakukan tindakan nekat, yaitu mencuri uang Yakuza. Pasti lebih menakutkan kalau ada orang yang mencuri uang Yakuza sambil tersenyum daripada orang yang ketakutan."


"Be-begitu ya..."

 

Tersenyum... ya.

 

"Seperti ini?"

 

"Senyummu terlalu kaku. Coba ekspresi yang lebih alami."

 

Kaede mencubit pipiku dengan kedua jarinya, dan mencoba memaksaku tersenyum.

 

"Geli geli."

 

"Jangan. Geli."

 

Saat aku mencoba menyingkirkan tangan Kaede,

 

"Ternyata kalian di sini."

 

Dari arah gedung administrasi, Sugeda-senpai datang.

 

"Ini yang kamu minta."

 

Katanya sambil menyerahkan perekam suara padaku.

 

"Terima kasih."

 

"Sejujurnya, aku tidak yakin ini akan berguna. Aku sudah berusaha sekuat tenaga..."

 

"Tidak, tidak ada orang yang lebih cocok dari Senpai."

 

"Iya. Aku sampai ingin menawarkan agensiku pada Senpai kalau kamu mau jadi pengisi suara."

 

"Tidak, terima kasih. Aku tidak mau lagi meniru Yakuza."

 

Sugeda-senpai memasang ekspresi jijik.

 

Aku meminta bantuannya untuk menjadi peran ayah Yakuza.

 

Awalnya aku berencana meminta dia berbicara langsung di telepon, tapi atas saran Kaede, kami mengubahnya jadi rekaman.

 

Katanya, kalau hanya berteriak, lebih baik direkam berkali-kali dan menggunakan rekaman yang paling bagus.

 

Aku memasang earphone dan memeriksa isinya.

 

"Hei! Masaomi! Apa maksudmu melakukan ini!?"

 

Suara rendah dan berat seperti petir yang menyambar, menusuk gendang telingaku.

 

"Ooh... Suaranya hebat..."

 

Aku pikir suara rendahnya cocok untuk peran ini, tapi ternyata lebih dari yang kubayangkan. Kalau dia berteriak, suaranya terdengar seperti Yakuza asli. Tidak ada yang menyangka itu suara anak SMA.

 

Ngomong-ngomong, Kaede yang mengajarinya akting. Mungkin karena harus mengulang berkali-kali, suara senpai jadi sedikit serak.

 

"Suzuhara... Sebagai gantinya aku sudah membantu..."

 

"Aku tahu. Aku tidak akan bilang pada siapa pun."

 

Sugeda-senpai awalnya enggan, tapi dia mau membantu dengan imbalan aku merahasiakan soal majalah doujin yang dibelinya di Akiba waktu itu.

 

"Ada apa? Kalian berdua bicara apa?"

 

"Ini urusan cowok."


"Kalau begitu, aku pergi dulu."

 

Sebelum Kaede bertanya lebih lanjut, Sugeda-senpai segera pergi.

 

"Oke, Kaede, aku serahkan aktingnya padamu."

 

"Siap! Kalau telepon masuk, aku tinggal memutar rekaman ini di depan mikrofon kan?"

 

Aku menyerahkan perekam suara pada Kaede. Dia menggenggamnya erat.

 

"Semoga berhasil ya...?"

 

Anehnya, dia terlihat cemas.

 

"Yang paling kutakutkan adalah kalau uangnya ketahuan palsu. Kalau itu terjadi, semuanya berantakan."

 

Tentu saja aku tidak bisa memberi tahu Kaede dan yang lain kalau uangnya palsu, jadi aku bilang kalau uang yang kubawa hanya sebagian yang asli, dan sisanya kertas.

 

"Kalau ketahuan, apa kamu akan dipukuli?"

 

"Yah, kalau aku saja yang dipukuli sih tidak masalah. Asalkan aku bisa melindungi Arisugawa."

 

"Apa? Kamu terlalu keren tahu."

 

"Cowok kan memang ingin terlihat keren di depan cewek yang disukai."

 

"Ahaha. Kamu bicara seolah sudah berpengalaman. Dasar kakek."

 

Berisik. Biarkan saja.

 

Kaede bersandar di mesin penjual otomatis dan menatap langit.


"Hei, Masayan, kenapa kamu bisa sesuka itu pada Arisugawa-san?"

 

Tanyanya.

 

"Kenapa tiba-tiba?"

 

"Aku kan pernah bilang, aku belum pernah jatuh cinta."

 

"Ah. Benar juga."

 

"Aku sudah lama memikirkannya. Soalnya aku kesulitan menghayati peran sebagai gadis yang jatuh cinta."

 

"Kamu tidak tahu perasaan gadis yang jatuh cinta?"

 

"Iya."

 

Kaede mengangguk.

 

"Aku terpikir untuk berakting seolah aku jatuh cinta pada Masayan, karena itu cocok untuk latihan."

 

"Oh, begitu. Tapi, menurutku aktingmu sudah bagus kok."

 

"Tidak juga. Aku cuma meniru adegan di manga komedi romantis. Aku rasa cinta yang sebenarnya tidak seperti itu."

 

Yah, memang sih.

 

Tindakan Kaede terlalu mirip dengan adegan di manga komedi romantis, dan sedikit berbeda dari gadis yang benar-benar jatuh cinta.

 

"Makanya aku mau tahu. Bagaimana rasanya menyukai seseorang... Perasaan saat jatuh cinta."

 

Ekspresinya yang serius membuatku merasa aku harus menjawabnya dengan baik.


"Alasan kenapa aku menyukai Yuki adalah..."

 

Aku teringat masa depan sebelum aku melakukan perjalanan waktu.

 

Apakah itu cinta pada pandangan pertama...? Tidak, sepertinya bukan hanya itu.

 

Yang membuatku menyayanginya adalah karena aku ingin membuat gadis yang menangis itu tersenyum.

 

Perasaan itu sama saat pertama kali kami bertemu, dan tidak berubah di era ini.

 

Kedua Yuki itu seolah meminta pertolongan, dan aku ingin mengulurkan tangan.

 

"Mungkin karena aku tidak bisa meninggalkannya..."

 

"!"

 

Mendengar jawabanku, Kaede memasang ekspresi terkejut.

 

Lalu, setelah beberapa saat terdiam, dia menggembungkan pipinya.

 

"Eieiei."

 

Dia mulai menendang tulang keringku.

 

"Aduh aduh! Kenapa sih!"

 

"Aku sedang menghukum pria hidung belang."

 

"? Maksudmu apa?"

 

"Bukankah itu kalimat yang sama dengan yang Masayan katakan saat kamu membantuku di SD?"

 

Eh. Serius?

 

Kalau tidak salah, saat aku membantu Kaede dari kelompok pengganggu, aku memang mengatakan sesuatu seperti itu...

 

Tapi, kenapa dia bisa mengingat hal seperti itu.

 

"Masayan. Boleh aku bertanya satu hal lagi?"

 

"Ada apa?"

 

"Kenapa aku menendang kakimu tadi..."

 

"Itu yang ingin kutanyakan!"

 

Dia tidak bercanda, sepertinya dia benar-benar tidak tahu.

 

Kaede sedikit memiringkan kepalanya, lalu meletakkan tangannya di dada.

 

"Saat aku tahu alasan Masayan membantu Arisugawa-san sama dengan alasan kamu membantuku waktu SD, dadaku terasa sesak. Aku baru pertama kali merasakan ini... Saat sadar, tubuhku sudah menendang kakimu..."

 

Dia meletakkan tangannya di dagu dan tampak berpikir keras.

 

"Kaede..."

 

"Diam sebentar! Aku sedang menganalisis diri!"

 

Dengan ekspresi serius, dia terus berpikir.

 

Lalu, setelah beberapa saat,

 

"!"


Seolah menyadari sesuatu, dia mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.

 

"Eh~~~~~~~~~~~~~~~~!"

 

Wajahnya perlahan memerah.

 

Itu ekspresi malu-malu seperti gadis yang sedang jatuh cinta, yang berbeda dari biasanya.

 

Aku pernah melihat ekspresi ini sekali. Kalau tidak salah, saat dia berakting menyatakan perang pada Yuki.

 

Tapi, kenapa sekarang dia menunjukkan ekspresi seperti itu...?

 

"Eh, bohong... Perasaan ini..."




Kaede menunduk dan bergumam sendiri.

 

"Kenapa tiba-tiba begini?"

 

"Uwaaa! Jangan mendekatiku!"

 

Saat aku mencoba mendekat, Kaede buru-buru menjauh.

 

"Kalau kamu mendekat, bisa gawat! Sekolah ini bisa meledak!"

 

"Eh!? Apa kamu punya bom di dalam dirimu!?"

 

Kaede mundur sambil menutupi mulutnya dengan tangan.

 

"Maaf. Aku akan kembali normal sebelum hari eksekusi rencana!"

 

Katanya lalu berlari pergi.

 

"Sebenarnya ada apa dengannya..."

 

Meskipun dia sering melakukan hal yang aneh, kali ini dia benar-benar aneh.

 

 

* * *

 

 

Malam hari setelah rencana berhasil.

 

Setelah kembali ke kamarku, aku mengeluarkan ponsel dan menekan tombol panggil.

 

Rencana kali ini bisa berhasil berkat bantuan banyak orang.

 

Ayah. Kaede, Sugeda-senpai, dan...

 

"Jadi, apa informasi dariku berguna?"

 

Suara Arisugawa Yuma terdengar dari speaker ponsel.

 

"Iya. Sangat berguna."

 

Ya. Aku meminjam kekuatannya untuk mencari tahu nama asli mereka.

 

Orang-orang itu selalu memanggil satu sama lain dengan nama samaran. Artinya, mereka pasti tidak ingin nama asli mereka diketahui.


Jadi, bagaimana kalau orang yang mereka kira hanya siswa SMA biasa ternyata tahu nama asli mereka?

 

Satu-satunya petunjuk adalah nama Prejil. Karena aku menduga itu nama perkumpulan mahasiswa, aku menghubungi Yuma.

 

Karena dia suka wanita yang lebih tua, kupikir dia mungkin kenal mahasiswi di perkumpulan itu.

 

Seperti dugaanku, dia pamer kenal lebih dari dua puluh mahasiswi.

 

Setelah kami menelusuri kenalannya, ternyata Prejil adalah perkumpulan minum-minum di Universitas Nazou.

 

Tentu saja, Yuma tidak mau membantuku tanpa imbalan. Tapi berkat dia, aku jadi tahu nama semua anggota perkumpulan itu.

 

"Ck. Yuki berisik sekali. Apa dia sedang memukuli kasurnya?"

 

"Eh. Ada apa dengannya?"

 

"Entahlah. Mungkin ada masalah."

 

Masalah...? Eh. Jangan-jangan gara-gara aku?

 

"Ngomong-ngomong, soal yang tadi, ternyata benar dugaan kita. Yuki bilang pada ayah kalau dia ingin jadi presiden OSIS, 'Kalau aku bisa jadi sehebat Onii-chan, bolehkah aku meneruskan Alice Core?'"

 

"Artinya..."

 

"Ah. Sepertinya dia tidak mau menikah dengan orang-orang di Alice Core."

 

"Eh..."

 

Begitu ya... Yuki... Perasaan senang meluap dalam diriku.

 

Itu adalah tindakan yang pasti tidak akan terjadi sebelum aku melakukan perjalanan waktu.

 

Dan aku sangat senang karena dia sendiri yang ingin melakukan itu.

 

"Ngomong-ngomong, kalau itu sampai terjadi, apa aku harus memanggilmu 'Kakak ipar'? Rasanya aneh."

 

"Aku juga tidak mau memanggilmu 'Adik ipar'."

 

"Hahaha. Kamu bisa bicara juga."

 

Yuma terlihat senang. Lalu, dengan suara serius dia berkata,

 

"Oh ya, soal lima puluh ribu yang kujanjikan sebagai biaya kerja sama. Sepertinya aku tidak perlu."

 

"Eh?"

 

"Sebagai gantinya, anggap saja kamu berhutang satu hal padaku."

 

Aku tersenyum pahit dan menatap langit-langit.

 

"Apa lima puluh ribu tidak cukup? Sejujurnya aku tidak mau berhutang padamu."

 

"Aku rasa lebih menguntungkan bagiku kalau kamu berhutang satu hal padaku daripada aku dapat uang lima puluh ribu."

 

"Jangan salahkan aku kalau harga sahamku anjlok."

 

"Tenang saja. Kalau itu terjadi, aku akan memanfaatkanmu di perusahaanku. Sebagai pekerja paruh waktu."

 

Kata Yuma sambil tertawa kecil.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !