Bonus
Berenang
Efektif untuk Diet {Masa Depan}
"Akh."
Awal Februari.
Aku mengerutkan kening saat melihat hasil pemeriksaan kesehatan.
Berat badanku
naik lima kilo dari tahun lalu.
"Makan
malam siap!"
Yuki berjalan
dari dapur.
Alasan berat
badanku naik, ada di piring yang dia bawa.
"Hari ini
aku coba bikin ayam nanban. Aku lihat video cara bikin saus yang enak..."
Sepiring besar
ayam nanban diletakkan di meja makan. Ayam goreng yang terlihat renyah dan saus
asam yang menggugah selera.
Aku menelan
ludah.
"Boleh
nasinya dikurangi sedikit?"
"Eh. Apa
kamu sakit?"
Yuki yang hendak
menuangkan nasi banyak-banyak, menatapku khawatir.
"Tidak, aku
cuma mau diet sedikit."
Saat ini sih,
perubahannya belum terlalu terlihat. Perutku mungkin agak buncit?
Tapi, ini baru
tiga bulan sejak aku menikahinya. Kalau begini terus, bisa gawat tahun depan.
Aku mengambil
setengah porsi nasi, dan duduk di meja makan.
"Selamat
makan."
Lima belas menit
kemudian...
"Aku...
lemah! (kemauanku)"
Aku meratap di
depan mangkuk nasi yang kosong.
Pada akhirnya,
aku nambah nasi dua kali. Ayam nanban buatan Yuki terlalu enak, jadi tidak bisa
dimakan tanpa nasi.
"Gimana?
Enak kan?"
Melihatku
seperti itu, dia membusungkan dada dengan bangga. Imut sekali.
Rencana
mengurangi nasi gagal...
"Kalau
begitu, aku harus olahraga."
Aku membuka
ponsel dan mencari gym di dekat rumah.
"Hei, kalau
kamu mau gym, boleh aku ikut?"
"Eh?"
"Aku juga
mungkin agak gemukan dari sebelumnya..."
Katanya sambil
menyentuh perutnya. Padahal menurutku tidak...
"Boleh aku
menyentuhnya?"
"Tidak
boleh."
Saat aku mencoba
menyentuh perutnya dengan jari, dia menangkap jariku dan mencoba menekuknya ke
arah yang salah. Aduh aduh aduh.
Padahal di kasur
dia bilang, "Sentuh aku lagi"...
"Oh.
Bagaimana kalau yang ini?"
Jika Yuki ikut,
lebih baik ke gym mewah dengan keamanan yang tinggi.
Ada gym yang
bagus sekitar lima belas menit jalan kaki dari rumah kami.
"Oh. Ada
kolam renang air hangat juga."
"Hee. Gym sekarang
canggih ya..."
"Kamu jago
berenang, Yuki?"
"Tidak jago
sih, tapi kalau 25 meter sih gampang."
"Begitu ya.
Kalau begitu, kita ke sini saja. Dekat dari rumah juga."
Kolam renang ya.
Aku membayangkan Yuki mengenakan baju renang.
Bikini hitam
pasti cocok untuknya. Saat aku sedang berpikir begitu,
"Kamu pasti
mikir yang mesum ya."
Yuki menatapku
dengan mata sayu.
"Ke-kenapa
kamu berpikir begitu?"
"Insting
wanita. Aku tahu kamu pasti mikir, 'Asyik, aku bisa lihat Yuki pakai baju
renang', kan?"
"T-tidak
kok..."
"Matamu
bergerak-gerak tuh."
Serius? Apa
mataku bergetar?
Yuki mulai
membereskan peralatan makan dengan wajah pasrah.
"Aku cukup
pakai treadmill. Lagipula, aku tidak punya baju renang."
* * *
"Jadi, ini
yang kubeli dari Am*zon."
Keesokan
harinya.
Saat aku
menunjukkan kardus berisi baju renang dengan wajah gembira, Yuki memegangi
kepalanya.
"Bohong
kan... Secepat ini..."
"Aku pesan
semalam. Panggil aku pria yang cepat kerja."
"Salah,
kamu itu pria mesum."
Ngomong-ngomong,
aku membeli dua baju renang. Baju renang tipe one-piece yang bisa menutupi
perut, dan bikini hitam.
Aku berlutut dan
memberikan kardus itu padanya seperti mempersembahkan sesuatu.
"Hadiah
untukmu."
"Ini hadiah
paling tidak menyenangkan yang pernah kuterima..."
Yuki menghela
napas pasrah, tapi tetap menerimanya.
Lalu, dia
membuka kardus itu dan mengeluarkan baju renang.
"Wah. Ini
lumayan imut..."
Syukurlah.
Sepertinya dia suka.
"Tapi, apa
ukurannya pas..."
"Ya, coba
saja dipakai..."
Aku tahu ukuran
dadanya, tapi aku tidak tahu angka pastinya. Jadi, aku membeli yang kira-kira
ukurannya segitu.
Saat aku
menatapnya dengan penuh harap,
"Baiklah..."
Dia sedikit
memerah dan masuk ke ruang ganti kamar mandi.
Katanya malu
kalau ganti baju di sini.
Aku menunggu di
lorong sampai dia selesai ganti baju. Penasaran.
"Bagaimana?"
"............
Sempurna sekali sampai bikin kesal..."
Pintu terbuka,
dan Yuki keluar.
Di sana ada
malaikat... eh, iblis yang jatuh.
Dia mengenakan
bikini hitam yang kontras dengan kulit putihnya, dan terlihat gelisah sambil
memainkan rambut sampingnya.
Kainnya tidak
terlalu minim. Malah, pakaian dalamnya lebih terbuka.
Kalau pakaian
dalam terlihat mesum, pakaian renang ini terlihat imut dan seksi.
Aku mengangkat
tangan.
"Boleh aku
berkomentar?"
"............
Silakan..."
"Imut
banget."
"............
Terima kasih."
Tapi, pakaian
renang ini lebih cocok untuk pantai atau night pool.
Baju renang
one-piece lebih sopan, dan mungkin lebih baik.
Apalagi...
"Kenapa
kamu memegangi kepala?"
Saat aku sedang
bingung, Yuki bertanya dengan penasaran.
"Bagaimana
kalau kita tidak jadi ke kolam renang air hangat...?"
"Eh?
Kenapa?"
"Aku tidak
mau ada cowok lain yang melihatmu pakai baju renang seseksi ini..."
"Kamu
sendiri yang memilih baju renang ini!"
Yuki berkata
dengan wajah merah, lalu memukulku dengan handuk di dekatnya.
Kata
Penutup
Novelku yang
berjudul "Kano Dere" volume 1 sudah diterbitkan, dan aku mendapat
banyak komentar dari teman-teman, seperti "Aku sudah baca~" dan
"Seru~".
Di antara
komentar-komentar itu, ada komentar dari temanku yang sudah menikah.
"Gambaran
kehidupan pengantin baru, terlalu indah sih~ Kenyataannya lebih
menyedihkan."
Hmm. Ada
benarnya juga sih.
Tapi, aku sudah
menyiapkan alasan yang tepat untuk menyanggah komentar itu.
"Novel itu
kan untuk memberikan mimpi. Kalau begitu, novel komedi romantis SMA juga tidak
realistis dong. Apa kamu berpacaran dengan cewek imut waktu SMA?"
Lalu, sepuluh detik
kemudian, dia membalas.
"Istriku
sekarang adalah pacarku waktu SMA."
Aku diam-diam
mengubah nama LINE temanku menjadi "Orang yang Memukul dengan
Kebenaran".
TLN: aokwaoawakaokw
Halo semuanya.
Atau, lama tidak
jumpa. Namaku Nakamura Hiro (masih lajang).
Tolong jangan
ada yang bilang, "Pantas saja kamu tidak bisa menikah, sifatmu
menyebalkan."
Ngomong-ngomong,
kali ini, karena munculnya rival? Yuki mencoba memastikan perasaannya sendiri.
Tingkat dere
Yuki saat ini seperti kucing liar yang bilang, "Boleh deh dielus
kepalanya."
Ya. Dia hampir
jatuh hati.
Mungkin suatu
hari nanti, dia akan mengizinkanku menepuk pangkal ekornya. Semoga saja.
Ucapan terima
kasih—
Terima kasih
banyak kepada Yuga-sama yang telah menggambar ilustrasi yang luar biasa.
Terima kasih
sudah mendesain Kaede, tokoh utama wanita yang unik dengan sifat
"berpura-pura jatuh cinta pada tokoh utama, padahal sebenarnya dia sangat
menyukai tokoh utama". Ilustrasinya selalu yang terbaik! (Aku kekurangan
kosakata)
Juga, terima
kasih sebesar-besarnya kepada editor, proofreader, dan semua orang yang
terlibat dalam penerbitan novel ini!!
Dan yang
terpenting, terima kasih kepada para pembaca yang sudah membeli novel ini!!
Sambil
membungkuk memberi hormat kepada semua orang, aku akan mengakhiri tulisanku
kali ini.
Terima kasih
banyak!



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.