Chapter
1
Rencana Masa Muda Berwarna-warni
"......Hah?"
Aku
tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Seharusnya
baru saja aku sedang bersantai sambil merokok di area merokok sebuah izakaya.
Tapi itu...... tahu-tahu aku sudah ada di rumah orang tuaku. Apa yang
sebenarnya terjadi?
Tak
peduli berapa kali aku melihat sekeliling, atau berapa kali aku mencubit
pipiku, ini benar-benar kamarku di rumah orang tuaku.
Aku
mulai hidup sendirian di Tokyo bersamaan dengan masuknya aku ke universitas. Izakaya
tempatku berada tadi terletak di dekat stasiun terdekat dari tempat tinggalku,
jadi tentu saja itu di Tokyo. Sedangkan rumah orang tuaku ada di Gunma.
Jaraknya sekitar dua jam perjalanan dengan kereta. Kalau tiba-tiba aku
terbangun di apartemenku, aku masih bisa paham. Tapi berada di rumah orang tua
adalah hal yang mustahil bagaimanapun aku memikirkannya.
Aku
sama sekali tidak punya ingatan tentang bagaimana aku bisa sampai ke sini. Lagipula,
hari ini aku tidak minum alkohol sampai mabuk berat hingga hilang ingatan. Rasanya
seperti aku baru saja melakukan teleportasi. Meski sudah kucoba merapikan
situasi dalam kepala, tetap saja tidak masuk akal.
Haruskah
aku mencoba bertanya pada orang tuaku?
Saat
aku berpikir demikian dan hendak menggerakkan tubuh—sebuah rasa janggal yang
luar biasa menyerangku. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke
lantai. Begitu mencoba bangkit, kepalaku terasa pening.
......Apa
ini? Rasanya berbeda dengan mabuk alkohol.
Bagaimana
mengatakannya ya, rasanya mual seperti mabuk perjalanan. Tubuhku tidak bergerak
sesuai keinginan. Rasanya seolah-olah jiwaku tertukar ke dalam tubuh orang
lain.
"Kedengarannya
ada suara berisik, kamu nggak apa-apa?"
Tiba-tiba
pintu kamar terbuka, dan sebuah suara bening menyapa telingaku.
Bernada
familier. Itu suara adikku. Karena aku jarang pulang ke rumah, mungkin sudah
setahun aku tidak mendengarnya.
Sambil
menahan rasa mual, aku mengalihkan pandangan ke arah pintu, dan di sana
berdirilah adikku yang mengenakan seragam SMP.
"......Hah?
Cosplay?"
Saking
terkejutnya, rasa mualku langsung terbang entah ke mana.
"......Hah?
Onii-chan ngomong apa sih?"
Adik
perempuanku, Haibara Namika, seharusnya tahun ini sudah jadi mahasiswi tahun
kedua. Dia jelas bukan di usia yang pantas untuk memakai seragam SMP. Namun,
sosok yang berdiri di sana jelas-jelas adalah Namika saat masih SMP.
Rambut
yang seharusnya sudah dicat pirang dan dikeriting kini kembali hitam lurus,
wajahnya yang seharusnya sudah terlihat dewasa kembali tampak polos, tubuhnya
mengecil, dan dadanya yang seharusnya sudah tumbuh pun kembali rata. Lagipula,
sejak masuk SMA, Namika memanggilku "Aniki", dan panggilan manis
seperti "Onii-chan seharusnya sudah dia tinggalkan sejak lulus SMP.
——Jangan-jangan,
pikirku.
Aku
teringat akan permintaan yang kuucapkan pada Tuhan tepat sebelum situasi ini
terjadi.
"Na,
Namika.......Tahun ini tahun berapa?"
"Hah?
Tahun 2014 lah...... emangnya kenapa?"
Salah.
Seharusnya tahun ini adalah tahun 2021.
Kalau
salah satu atau dua tahun mungkin masih bisa dimaklumi, tapi salah sampai tujuh
tahun itu tidak mungkin.
Namun,
ekspresi wajah Namika tampak sangat biasa saja. Dia memiringkan kepalanya
seolah ingin bilang, "Ngapain nanya hal yang sudah jelas."
Jika
itu benar, apa mungkin waktu benar-benar berputar kembali sejauh tujuh tahun......?
Konyol
sekali.
Sambil
berpikir begitu, aku berdiri di depan cermin yang ada di kamarku.
"Wah,
yang benar saja......"
——Di
sana, berdiri sosok yang bagaimanapun kulihat adalah diriku saat masih SMP. Aku
bisa tahu dari penampilannya. Lagipula, aku hanya memakai kacamata saat SMP.
Sejak
SMA, aku mulai sedikit peduli pada penampilan. Dan ini adalah penampilanku
sebelum itu. Rambut panjang berantakan yang menutupi mata, memakai kacamata
kuno yang norak, dan bentuk tubuh dengan perut yang agak buncit. Dilihat lagi
sekarang, penampilanku benar-benar menjijikkan. Sampai-sampai aku tidak sudi
mengakuinya sebagai diriku di masa lalu.
......Namika
bilang ini tahun 2014. Di tahun itu, aku adalah siswa kelas 3 SMP atau kelas 1
SMA.
Memang
benar, sangat cocok dengan penampilan ini. Lagipula Namika pun jelas-jelas
masih berwujud anak SMP. Satu-satunya penjelasan adalah waktu telah berputar
kembali.
Awalnya
kupikir ini semacam acara prank atau semacamnya, tapi tidak mungkin ada
orang yang niat berbuat sejauh ini hanya untuk bercanda. Lagipula, tidak ada
untungnya menjebakku dalam prank, usahanya terlalu besar, dan yang
paling penting, aku tidak punya teman yang akan melakukan hal seperti itu. Kupikir
ini mimpi lalu kucubit pipiku, tapi rasa sakit ini nyata.
"Onii-chan......
kamu kenapa sih?"
Namika
menatapku dengan curiga.
Di
masa ini, Namika masih polos dan baik. Yah, tentu saja dalam batasan hubungan
kakak-adik yang normal. Padahal saat SMA nanti, dia akan membenciku dengan
terang-terangan.
"......Enggak,
cuma merasa kurang enak badan saja."
Aku
tidak berbohong. Entah karena rasa janggal kembali ke tubuh lama, aku memang
merasa tidak enak badan.
Kapan
rasa mual seperti mabuk perjalanan ini akan hilang? Walau sekarang sudah
sedikit lebih baik dibanding tadi.
"Hmm,
kamu demam?"
"Kayaknya
enggak. Nanti juga sembuh sendiri."
"Yah,
untunglah sudah lewat acara kelulusan. Sudah sana, tidur yang tenang."
Namika
berkata demikian lalu berbalik. Dia berjalan santai kembali ke kamarnya
sendiri. Aku menutup pintu kamar, lalu duduk di tepi tempat tidur.
......Begitu
sendirian, aku mulai bisa berpikir tenang. Namun, meski sudah berpikir tenang
pun, situasi yang tidak masuk akal ini tetap tidak berubah.
Kembali
ke diri sendiri di masa lalu. Kalau tidak salah, di anime atau manga, fenomena
ini disebut sebagai Time Leap.
Sulit
dipercayai bahwa fenomena ajaib seperti itu benar-benar ada, tapi kenyataannya
aku sedang mengalaminya sekarang.
"......Haaah."
Aku
menghela napas panjang, dan mencoba mengubah pola pikirku. Meskipun dipikirkan
dalam-dalam, apa yang tidak dimengerti tetap tidak akan terjawab. Lagipula, aku
terlalu kekurangan informasi. Karena rasa mualku sudah mulai mereda, mari kita
selidiki berbagai hal.
Aku
mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, dan hal pertama yang tertangkap mata
adalah jam dinding.
10
Maret. Pukul 17:06.
Bicara
soal tanggal sepuluh, seingatku itu adalah hari kelulusan. Menimbang ucapan
Namika, "Untunglah sudah lewat acara kelulusan," sepertinya
"aku yang sekarang" merasuki tubuh ini tepat setelah
pulang
dari upacara kelulusan.
Selanjutnya,
pandanganku beralih ke rak buku. Benar saja, di sana hanya ada Manga dan novel
jadul.
Begitu
ya, kalau aku tidak bisa kembali ke masa depan, itu berarti aku tidak bisa
membaca kelanjutan seri-seri yang kunantikan selama tujuh tahun. Sebagai
seorang otaku berat, aku baru saja menyadari kenyataan yang cukup menyakitkan.
Tentu
saja, semua anime, manga, dan novel yang ada hanyalah karya yang eksis tujuh
tahun lalu. Karena aku sudah mengecek hampir semua karya menarik di masa ini,
jika aku ingin mencari sesuatu yang baru, aku harus mencarinya dari karya-karya
yang dulu sempat tidak kuminati.
...Aku
sudah menemukan satu kerugian dari time leap secepat ini.
Aku
memalingkan wajah dari kenyataan yang memberatkan itu, lalu melihat ponsel yang
tergeletak di atas meja. Model yang sangat jadul. Ini adalah model dari masa
awal ponsel pintar baru saja dirilis, yang dibelikan untukku saat kelas dua
SMP. Nostalgia sekali. Rasanya aku memakainya sampai aku masuk kuliah.
Kuambil
ponsel itu, lalu kumasukkan kata sandi yang sama dengan yang kugunakan di masa
depan, dan ternyata terbuka dengan mudah. Aku sempat khawatir jika aku lupa,
tapi aku memang bukan tipe orang yang suka mengganti-ganti kata sandi. Aku
sudah menyiapkan beberapa variasi yang kuingat, jadi salah satunya pasti bisa
membukanya.
Iseng-iseng
kubuka aplikasi chat "RINE", dan di kolom teman hanya ada
Namika dan Ibu.
Ah,
aku ingat ayah saat itu masih bersikeras memakai ponsel lipat.
Benar-benar
nostalgia.
Selanjutnya
kubuka "Twister", aplikasi SNS mirip blog untuk mengunggah
"ceracauan". Isinya hanya akun khusus pantau yang mem-follow banyak
akun resmi anime, manga, Mangaka, penulis novel, dan ilustrator favorit.
Selain
itu, ada beberapa social game dari masa lalu. Melihat daftar
aplikasinya, aku jadi teringat bahwa saat itu adalah masa kejayaan
"Pazutora". Dulu aku sangat kecanduan, tapi aku sama sekali tidak
menyentuhnya saat kuliah.
"Hmm..."
Kutaruh
kembali ponsel itu ke meja. Di atas meja bertumpuk buku pelajaran dan buku
tulis SMP, serta ijazah kelulusan yang tergeletak sembarangan. Saat aku sedang
menatap ijazah baru itu lamat-lamat, terdengar suara pintu depan terbuka.
Melihat
jamnya, sepertinya Ibu baru pulang kerja. Kedua orang tuaku bekerja, dan Ayah
tinggal sendirian di Tohoku karena mutasi kerja.
"Natsuki,
kamu ada? Selamat atas kelulusannya ya. Maaf Ibu nggak bisa datang ke upacara.
Padahal pas hari penting begini malah kerjaan numpuk... lho? Kok wajahmu pucat.
Apa kamu sakit?"
Begitu
membuka pintu kamar, Ibu langsung berceloteh panjang lebar. Masih sama seperti
dulu. Melihat kondisi Ibu yang tidak berubah sedikit pun dibanding tujuh tahun
mendatang, entah kenapa aku merasa tenang.
"Cuma
dikit kok. Boleh aku tidur sampai jam makan malam?"
"Iya,
iya. Sudah cek suhu tubuh? Di mana ya Ibu simpan plester kompres demam..."
"Nggak
usah terlalu dipikirkan kok."
Kuhalau
ibuku yang terlalu pencemas itu dengan lambaian tangan.
Kondisiku
memang sedang buruk, dan mungkin karena terlalu lelah akibat kebingungan ini,
aku mulai merasa mengantuk. Begitu merebahkan diri ke tempat tidur, rasa kantuk
semakin menyerang. Tanpa melawan arusnya, aku membiarkan diriku terlelap.
*
Bahkan
setelah terbangun, aku tidak kembali ke masa depan. Sepertinya ini benar-benar
bukan mimpi. Rasa janggal di tubuhku sudah sedikit membaik.
Mungkin
karena hari ini hari kelulusan, makan malam yang dibuat Ibu terasa lebih mewah
dari biasanya. Mungkin dulu aku pernah merasakannya, tapi aku tidak ingat
detail sekecil itu dari tujuh tahun yang lalu.
Karena
ditanya soal upacara kelulusan, aku menceritakan ingatan yang samar-samar
kepadanya, lalu kembali ke kamar.
Sekali
lagi aku bercermin, dan di sana tetap terlihat sosok seorang Inkya
sejati. Diriku tepat sebelum masuk SMA.
...Tak
ada gunanya memikirkan logika di balik semua ini. Aku tidak mungkin akan
mengerti. Karena itu, aku harus melihat hasilnya.
Kenyataannya
adalah, sekarang aku telah kembali ke dunia tujuh tahun yang lalu. Artinya,
mulai hari ini, aku akan mengulang kembali hidupku. Masa SMA yang dulu pernah
gagal, sekali lagi.
——Jika
memang bisa dikabulkan, aku ingin kesempatan untuk mengulang sekali lagi masa
muda itu.
Aku
telah memohon hal itu kepada Tuhan. Anggap saja permintaan ini telah
dikabulkan.
Aku
tidak ingin lagi menyeret penyesalan masa muda seumur hidup. Karena itu, kali
ini aku akan benar-benar serius menjalani masa muda.
Aku
akan menyukseskan High School Debut-ku, dan mengubah masa muda yang
abu-abu menjadi berwarna-warni.
Aku
bersumpah akan hal itu kepada diriku sendiri di depan cermin.
*
Nah,
hari ini adalah 10 Maret, saat upacara kelulusan SMP dilaksanakan. Upacara
masuk SMA adalah tanggal 8 April.
Masih
ada sekitar satu bulan liburan musim semi. Memang agak singkat, tapi aku akan
merombak diriku dalam periode ini.
Dulu,
meski aku bersemangat melakukan High School Debut, aspek penampilanku
sangat tanggung. Aku hanya kurusan sedikit dan mengganti kacamata menjadi lensa
kontak, jadi penampilanku bisa dibilang biasa-biasa saja.
Karena
itu, jika aku memperbaiki penampilan lebih dulu, mungkin sesuatu yang lain akan
berubah. Setidaknya, itu tidak akan membawa perubahan ke arah yang buruk.
Bagaimanapun, orang bilang penampilan menentukan sembilan puluh persen kesan
pertama.
Beruntung
time leap ini tidak terjadi tepat sebelum upacara masuk sekolah. Jika
hanya sekadar merapikan diri, beberapa hari saja cukup, tapi untuk melakukan
sesuatu pada tubuh yang agak tambun ini, setidaknya aku butuh waktu satu bulan.
——Maka
dari itu, sejak hari itu, aku mulai lari pagi di sekitar rumah.
Tubuh
yang kurang gerak ini memang cepat sekali lelah, tapi aku tidak punya waktu
untuk bersantai. Jadi, aku terus berlari sampai batas kemampuanku, pulang ke
rumah dalam keadaan basah kuyup oleh keringat, dan menghabiskan hari-hari
dengan tidur seperti orang pingsan.
Aku
berterus terang kepada Ibu bahwa aku sedang berdiet, dan memintanya membantu
mengelola asupan makanku.
Pagi
hari aku berlari sampai hampir pingsan, beristirahat, lalu berlari lagi.
Sore
harinya adalah waktunya latihan beban. Berfokus pada push-up, sit-up,
otot punggung, dan squat, aku mengulanginya berkali-kali dalam beberapa
set sambil diselingi istirahat dan peregangan.
Seiring
berjalannya hari, jumlah repetisinya pun kutambah. Karena tidak ada hal lain
yang bisa dilakukan, aku menghabiskan seluruh waktuku dalam sehari untuk
berdiet.
*
Setelah
menjalani hari-hari seperti itu selama tiga minggu, tanpa sadar berat badanku
sudah turun 15 kilogram.
Sebenarnya
aku sempat turun sekitar 20 kilogram, tapi perlahan-lahan ototku mulai terlihat
terbentuk, sehingga berat badanku justru sedikit naik kembali. Saat berdiri di
depan cermin, tujuanku sudah tercapai tanpa kendala.
Tiga
minggu lalu aku hanyalah seorang pria gendut yang bertubuh besar, tapi sekarang
aku terlihat seperti pria tinggi yang ramping. Sejak dulu, setidaknya tinggi
badan memang satu-satunya kelebihanku. Setelah itu, Ibu yang senang melihat
perubahanku menyarankanku untuk pergi ke tempat kebugaran, dan aku pun
mendaftar. Dengan menggunakan mesin latihan dan kolam renang, latihanku menjadi
jauh lebih efisien.
Meski
tidak sampai berotot kekar layaknya binaragawan, dadaku menjadi lebih tebal,
otot perutku mulai terbentuk (six-pack), serta otot-otot yang padat
mulai muncul di lengan dan kaki. Mungkin aku sudah bisa disebut sebagai tipe slim-muscular.
...Awalnya
memang berat, tapi di tengah jalan latihan beban ini jadi terasa menyenangkan,
sampai-sampai aku agak melenceng dari tujuan diet awalku... atau lebih
tepatnya, aku merasa sudah melampaui target.
Yah,
kurasa itu bukan hal yang buruk. Meski kalau terlalu kekar juga agak gimana
gitu. Bagaimanapun juga, selagi aku sibuk melakukan itu, tanpa terasa hari
upacara masuk sekolah tinggal dua hari lagi.
Aku
sudah sukses membentuk tubuh, tapi aku belum sempat merapikan penampilan luar. Karena
itu, aku bergegas memulai persiapan.
Pertama,
kuambil tabungan yang tersimpan di dasar laci dan membeli lensa kontak. Mengganti
kacamata dengan lensa kontak adalah langkah klasik untuk melakukan High
School Debut. Kalau ingin memberi kesan intelektual mungkin lebih baik
tetap memakainya, tapi dari awal kacamata memang tidak cocok denganku.
Begitu
mencoba memakai lensa kontak yang kubeli, kesan diriku langsung berubah drastis
menjadi tampak seperti atlet. Tidak buruk. Meski rambutku masih berantakan dan
terlalu panjang, tapi proporsi tubuhku menutupi kekurangan itu.
Selanjutnya
adalah salon. Berdasarkan pengalaman, karena seleraku dalam hal ini agak
kurang, lebih baik menyerahkan semuanya pada ahli di salon yang agak mahal.
Jadi,
aku pergi ke salon terkenal di depan stasiun.
Aku
merogoh kocek cukup dalam sebesar 10.000 yen—jumlah yang besar bagi seorang
siswa SMA—tapi hasilnya sempurna.
"Ooh..."
Aku
berubah menjadi sosok atlet yang tampak bersih dan rapi.
Bergantung
pada siapa yang melihat, mungkin levelnya sudah bisa dibilang tampan.
Jujur
saja, awalnya aku tidak percaya pada mataku sendiri. Bahwa si otaku gendut yang
tertutup itu bisa berubah hingga memiliki kesan yang bertolak belakang seperti
ini...
Khusus
hari ini, aku bisa menerima pujian dari penata rambut itu dengan lapang dada.
Hanya
saja, jika aku tidak menatanya dengan wax setiap hari, level ketampanan
ini mungkin tidak akan bertahan. Sebenarnya agak merepotkan, tapi aku sudah
bertekad untuk tidak menyia-nyiakan usaha demi masa muda yang terbaik. Hanya
pakaianku saja yang masih terlihat norak, tapi karena di SMA nanti memakai
seragam, akan kupikirkan lagi nanti jika memang diperlukan.
Begitu
pulang ke rumah, Namika yang sedang menonton TV di ruang tamu langsung
membelalakkan matanya.
"Onii-chan...
kan?"
"Ya
iyalah. Gimana menurutmu?"
"...Ya,
nggak buruk, sih? Nggak tahu juga."
Saat
kutanya langsung, dia memalingkan wajahnya... tapi sikap ini adalah pertanda
Namika sedang memuji. Karena Namika bukan orang yang jujur pada perasaannya (tsundere),
aku tahu dia akan bicara seolah tidak tertarik saat memuji orang lain.
"Wah,
Natsuki! Kamu jadi keren ya!"
Ibu
yang baru pulang kerja juga memujiku, dan aku cukup kesulitan untuk bersikap
biasa saja menanggapi mereka.
Melihat
reaksi mereka berdua, sepertinya ini bukan sekadar rasa percaya diriku yang
berlebihan. Aku memang benar-benar menjadi keren. Karena merasa agak percaya
diri, aku mencoba tersenyum lebar di depan cermin. Harusnya bayanganku adalah
senyum yang menyegarkan, tapi yang muncul malah seringai yang agak menjijikkan.
...Sepertinya
aku harus latihan tersenyum juga.
*
Keesokan
harinya, aku menghabiskan waktu dengan melihat situs web bertema "Tips
High School Debut" dan membeli peralatan tulis serta kebutuhan lainnya
hingga akhirnya hari upacara masuk sekolah pun tiba.
Semalam
aku merasa gugup hingga sulit tidur. Sekarang pun mataku masih terjaga meski
kurang tidur. Kurasa itu wajar mengingat hari ini adalah "panggung
utama"-nya.
Satu
bulan sejak time leap adalah masa persiapan. Tujuanku adalah menulis
ulang masa muda yang berakhir abu-abu menjadi berwarna-warni. Mulai hari ini
adalah pertunjukan yang sesungguhnya. Mengulang kembali masa muda. Aku tidak
yakin Tuhan akan mengabulkan permintaanku dua kali, jadi aku tidak boleh
berharap lebih.
Karena
itu, aku harus membawa diri dengan baik agar tidak gagal.
Aduh,
tiba-tiba perutku jadi sakit...
...Tidak,
ini tidak bagus, aku terlalu tegang. Persiapan sudah sempurna, mari bawa santai
saja. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, tapi sepertinya aku tidak bisa
tidur lagi. Lebih baik lari pagi saja.
Aku
berganti pakaian olahraga lalu keluar rumah. Langit biru yang indah terbentang
luas, dan angin musim semi yang tenang terasa sangat nyaman.
Setelah
pemanasan ringan, aku mulai berlari. Awalnya aku hanya sanggup lari beberapa
putaran di sekitar rumah, tapi sekarang jarak tempuhku sudah bertambah jauh. Tentu
saja karena hari ini upacara masuk sekolah, aku membatasinya sekadar untuk
merilekskan ketegangan, tapi meski aku lari sepuluh kali lipat dari jarak saat
pertama kali mulai pun rasanya masih akan sanggup.
Sambil
mendengarkan lagu baru dari grup band yang akan populer nanti lewat earphone,
aku terus menggerakkan kakiku. Area perumahan tempat tinggalku sangat tenang,
jarang ada mobil maupun orang yang lewat. Mungkin karena masih pagi juga, tapi
bagaimanapun ini sangat cocok untuk lari pagi.
Setelah
berputar satu kali di area perumahan, aku berhenti sejenak di taman dekat
rumah. Selain karena pas untuk beristirahat, ada alasan lain—bunga sakura yang
mekar penuh di sekeliling taman itu tampak sangat cantik.
Ini
adalah tempat wisata rahasia yang hanya diketahui oleh penduduk sekitar.
"...Natsuki?"
Saat
sedang asyik menikmati pemandangan bunga untuk sejenak, namaku dipanggil dari
belakang.
Begitu
berbalik, di sana berdirilah seorang gadis cantik berambut hitam. Wajah yang
sudah sangat kukenal sejak dulu.
"...Miori,
ya. Sudah lama tidak bertemu sejak kelulusan."
Motomiya
Miori.
Kami
bersekolah di SMP yang sama... bahkan sekolah dasar dan TK kami pun sama. Mungkin
dia bisa disebut sebagai teman masa kecil. Meski rumah kami tidak bersebelahan
dan keluarga kami juga tidak terlalu akrab.
Jika
benar-benar ada "teman masa kecil" seperti di anime, masa mudaku
tidak akan menjadi abu-abu.
Aku
dan Miori memang akrab dari TK sampai SD, tapi kami mulai menjauh sejak SMP.
Sejak kuliah, aku bahkan tidak tahu dia di mana dan melakukan apa. Hubungan
kami memang hanya sebatas itu.
"Eh,
itu, anu... kamu, berubah banyak ya?"
Miori
mengucek matanya sebentar, lalu menatapku lekat-lekat.
"Dilihat
berapa kali pun, hasilnya tetap sama, lho?"
"Enggak,
itu... kupikir aku sedang bermimpi."
"Kalau
sampai di level dianggap mimpi, hebat juga kamu masih bisa mengenalku...?"
"Yah,
soalnya kamu mirip dengan dirimu yang dulu. Waktu SD kamu kurus dan tidak pakai
kacamata... tapi tetap saja, ada apa denganmu? Perubahanmu sangat drastis
sampai aku curiga kamu memakai obat-obatan terlarang. Padahal baru satu bulan
sejak kelulusan."
"Aku
cuma latihan beban karena menganggur saat libur musim semi. Sekarang pun aku
sedang istirahat lari pagi."
"Hee..."
Miori
mengamati tubuhku dari atas sampai bawah dengan teliti.
"...Ini
bukan level biasa lagi, kan? Kamu mau melakukan High School Debut,
ya?"
Tujuanku
langsung terbongkar, membuat wajahku meringis.
"...Apaan
sih. Emangnya salah?"
"Enggak
salah, kok. Malah menurutku bagus, iya."
Miori
mengangguk berkali-kali, lalu melanjutkan,
"Lagipula
selama ini kamu memang terlalu culun, sih. Terus kegendutan. Padahal dasarnya
kamu tidak jelek, jadi kalau niat sebenarnya bisa saja. Ternyata penglihatanku
memang tidak salah, ya~"
Kata-katanya
menusukku bertubi-tubi seperti bilah pedang.
Jangan
cuma menyangkal diriku yang dulu dong, puji juga diriku yang sekarang.
"Ah,
kalau aku sedang mengajak anjing jalan-jalan. Memang selalu jam segini. Iya
kan, Ku-chan?"
Tanpa
ditanya, Miori menjelaskan alasannya berada di sini. Padahal aku juga bisa
lihat sendiri.
Merespons
panggilan Miori, seekor toy poodle putih di kakinya menggoyangkan
ekornya dengan lincah.
"Kamu
bangun pagi sekali, ya."
Waktu
menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Biasanya, itu adalah waktu di mana aku
baru saja membuka mata.
"Klub
olahraga di SMA kan ada latihan pagi. Jadi aku sedang membiasakan diri agar
bisa bangun pagi."
"Ngomong-ngomong,
kamu ikut klub basket, ya?"
"Iya.
Tentu saja di SMA nanti aku mau masuk klub itu lagi."
Miori
berpose pamer otot lengan. Untuk ukuran perempuan, ototnya lumayan juga. Tapi
kalau diperhatikan, setiap gerak-geriknya terasa sangat feminin. Berbeda jauh
dengan masa kecilnya yang seperti anak laki-laki. Meski dia sudah jadi secantik
ini, kesan Miori sebagai "bos anak-anak" waktu kecil dulu tidak bisa
hilang dari kepalaku.
"...Bagaimana
ya bilangnya, kamu pun sudah banyak berubah, kan?"
"Eh,
benarkah? ...Yah, waktu SMP kita kan memang tidak pernah bicara. Kita tidak
pernah sekelas, lagipula Natsuki kan tidak punya teman, jadi tidak ada
kesempatan untuk mengobrol."
"Berisik,
ah."
Aku
bukannya jadi penyendiri karena kemauanku sendiri.
Melihatku
merengut, Miori menutup mulutnya sambil tertawa kecil.
"Gara-gara
itu, kesanmu tentangku pasti masih tertahan di masa SD, kan? Sayangnya, sosok
Miori-chan yang keren dan kamu sukai dulu itu sudah tidak ada lagi. Maaf,
ya?"
"Keren?
Yang ada cuma bocah ingusan, tahu."
"Siapa
yang kamu panggil bocah! Aku cuma sedikit tomboi saja!"
Miori
menggembungkan pipinya karena aku tertawa mengejek. Namun, ternyata aku bisa
mengobrol dengannya secara normal. Padahal kami tidak bicara dengan layak
selama tiga tahun SMP (bagiku ditambah tujuh tahun lagi), kupikir suasananya
akan lebih canggung.
Tidak,
kalau aku yang dulu, aku pasti akan ciut dan menghindar karena aura populer-nya
Miori. Mungkin karena sekarang usia mentalku lebih dewasa, aku bisa
menanggapinya dengan tenang tanpa merasa takut.
"...Ngomong-ngomong,
Natsuki sekolah di mana?"
"Hm,
kamu tidak tahu?"
"Mana
mungkin aku tahu. Kita kan hampir tidak pernah bicara."
Benar
juga. Karena aku tidak punya teman, informasi tentangku tidak akan masuk ke
jaringan gosip teman-teman Miori.
Tapi,
aku tahu di mana Miori akan bersekolah. Aku mendengarnya dari selentingan
teman-teman sekelas dulu.
Sekolah
itu adalah sekolah unggulan dengan nilai rata-rata yang cukup tinggi di
prefektur ini, namun kegiatan klubnya pun sangat aktif.
Hanya
saja lokasinya agak jauh dari tempat tinggal kami, jadi tidak banyak lulusan
dari SMP kami yang masuk ke sana. Bahkan tahun ini hanya ada dua orang. Lebih
spesifiknya...
"Ryoumei.
SMA Ryoumei."
"Hah,
sebentar, apa!? Kamu satu sekolah denganku!?"
——Itulah
kami, aku dan Miori.
Tentu
saja ini bukan karena janjian, tapi benar-benar kebetulan belaka.
"Ah,
omong-omong aku sudah tahu. Soalnya aku dengar teman-teman sekelas
membicarakannya."
"Ih,
kenapa tidak bilang dari tadi!"
"Mau
bilang gimana, kita tidak punya kesempatan bicara, kan."
"...Ngomong-ngomong,
ada yang lain? Jangan-jangan cuma aku dan kamu?"
"Soal
itu harusnya kamu lebih tahu. Aku cuma dengar selentingan soal sekolah
pilihanmu saja."
Yah,
sebenarnya aku tahu, tapi akan terasa aneh kalau aku terlalu tahu detailnya.
"...Dari
yang kucari tahu, tadinya kupikir cuma aku sendiri."
"Kalau
begitu berarti memang cuma aku dan kamu."
"Eeeh...
ya sudahlah, tidak apa-apa sih. Tapi kenapa harus Natsuki, ya. Sampai SMA pun
barengan, ini sih sudah resmi jadi seperti 'teman masa kecil'. Sejujurnya, agak
malas juga."
"Heh,
kalau mau menjelek-jelekan orang, lakukan di saat aku tidak ada."
Mentalku
ini setipis tahu, tahu!
"Lagipula,
kenapa kamu repot-repot memilih Ryoumei?"
"Kalimat
itu mau kukembalikan mentah-mentah kepadamu, tahu."
"...Aku
cuma ingin masuk ke sekolah yang sekiranya tidak ada orang yang kukenal dari
SMP."
Miori
mengernyitkan alis dengan heran, namun sesaat kemudian dia tampak paham dan
menyeringai nakal.
"Aaah,
soalnya kalau mau melakukan High School Debut, bakal merepotkan kalau
ada orang dari SMP yang sama, ya?"
"...Yah,
kurang lebih begitu."
"Ahaha,
begitu ya. Oke deh, kalau kamu mau aku tutup mulut, akan kulakukan. Soalnya aku
kan baik hati."
"...Lalu,
kalau kamu? Aku sudah menjawab, lho."
Alasan
Miori memilih Ryoumei tidak ada dalam ingatanku yang sebelumnya. Sebab dalam
ingatan masa SMA-ku dulu, aku benar-benar tidak pernah bicara dengannya sekali
pun.
"Kamu
tahu tidak? Tim basket putri Ryoumei itu lumayan kuat, lho."
"...Begitu
ya, jadi kamu diajak bergabung?"
Miori
memang ace di klub basket putri saat SMP. Lagipula, sejak kecil kemampuan
motoriknya memang luar biasa. Pantas saja dia jadi bos anak-anak.
"Yah,
begitulah. Setelah kucari tahu, gedung sekolahnya baru, fasilitasnya bagus,
letaknya di depan stasiun, dan nilai standarnya juga pas. Kupikir cukup oke
meskipun agak jauh sedikit."
"Biarpun
hampir tidak ada orang dari SMP yang sama?"
"Yah,
aku tinggal cari teman baru saja. Tidak seperti kamu, aku kan punya kemampuan
komunikasi!"
"Guh..."
Sebagai
orang yang gagal dalam masa muda, aku tidak bisa membantah sedikit pun.
Saat
SMP, aku tidak punya keberanian untuk bicara dengan siapa pun. Lalu saat SMA,
meski awalnya berjalan lancar, karena aku kurang pengalaman dalam hubungan
antarmanusia, aku tidak bisa membaca situasi dan berakhir dibenci.
Sekarang
aku bisa bicara normal dengan gadis seumuran begini pun sebagian besar karena
faktor hubungan teman masa kecil. Jika ada kesempatan bicara dengan gadis yang
sama sekali asing, aku yakin aku pasti akan sangat gugup.
"Ngomong-ngomong,
karena kamu sudah berlatih fisik sampai sejauh itu, apa kamu mau masuk klub
olahraga?"
"...Tidak,
untuk saat ini aku belum terpikir ke sana."
Sesaat.
Aku terdiam karena memori masa lalu terlintas di benakku. Dulu, saat melakukan High
School Debut, aku masuk ke klub basket. Aku berpikir dangkal bahwa kalau
mau jadi orang populer, pilihannya kalau bukan klub sepak bola ya klub basket.
Karena aku tinggi, aku memilih basket.
Itu
adalah sebuah kesalahan.
Masuk
ke klub olahraga bagi orang yang tidak punya pengalaman sejak SMP saja sudah
berat, apalagi aku yang mantan anggota klub pulang sekolah dan tidak punya
latar belakang olahraga sama sekali. Aku benar-benar tidak bisa mengikuti
latihan. Akibatnya, anggota klub basket memperlakukanku seolah aku adalah
"barang pecah belah", dan setelah aku dibenci oleh teman sekelas,
mereka merasa tidak perlu lagi berpura-pura baik; tidak ada yang mengajakku
bicara kecuali ada urusan penting.
Mengingatnya
saja sudah membuatku sangat sesak sampai rasanya ingin berguling-guling di
tempat tidur.
"Eeeh,
sayang sekali. Padahal kamu tinggi, Natsuki juga harusnya main basket
saja."
"Bagi
orang yang waktu SMP cuma ikut klub pulang sekolah, itu beban yang terlalu
berat."
"Nggak
kok, kalau punya tinggi badan, semuanya bakal beres."
Persis
seperti jalan pikiranku saat masuk klub basket dulu...
Yah,
karena dulu aku tidak punya keberanian untuk keluar dan terus lanjut selama
tiga tahun, tanpa sadar aku memang jadi lumayan jago, jadi mungkin ucapannya
ada benarnya. Akhirnya, kurasa masalah utamanya memang hanya ada pada kemampuan
sosialku saja.
...Memikirkan
itu malah membuatku sedih... maafkan aku karena telah lahir ke dunia...
Saat
aku sedang terpuruk sendiri, Miori melirik jam tangannya sekilas.
"—Waduh,
sepertinya tidak ada waktu untuk mengobrol lama-lama. Hari ini kan upacara
masuk sekolah."
"Benar
juga. Apalagi sekolah kita cukup jauh."
Padahal
cuma lima stasiun dengan kereta, jadi sekitar satu jam dari pintu ke pintu.
"Kalau
begitu, sampai ketemu di sekolah ya. Ayo, Ku-chan."
Sambil
menarik anjingnya yang sudah menunggu dengan patuh, Miori berbalik dan berjalan
pergi.
Tentu
saja aku tidak merencanakannya, tapi lewat lari pagi ini, aku berhasil
membangun kembali hubungan dengan Miori—satu-satunya orang dari SMP yang sama.
Di titik ini, sejarah sudah berubah dari yang sebelumnya.
Sambil
memikirkan hal itu, aku pun melangkah pulang.
*
Sesampainya
di rumah, aku mandi, sarapan, dan berganti pakaian seragam.
"Wah,
kamu benar-benar jadi keren ya."
Sambil
mengabaikan pujian Ibu yang terdengar kagum, aku menuju pintu depan.
Akhir-akhir ini Ibu selalu memujiku di setiap kesempatan; kurasa itu sedikit
subjektif karena dia orang tuaku. Tepat sebelum keluar rumah, aku berpapasan
dengan Namika.
Namika
menatap sosokku yang berseragam selama sekitar tiga detik, lalu bergumam pelan.
"...Selamat
jalan."
"Ya,
aku berangkat."
Aku
menuju stasiun terdekat dengan sepeda, lalu naik kereta. Meski di Gunma yang
didominasi pengguna mobil, kereta di jam segini tetap saja penuh sesak. Aku
yakin Miori juga ada di kereta ini atau kereta sebelum/sesudahnya, tapi di
tengah kerumunan ini, akan sulit menemukannya. Lagipula, hubungan kami tidak
sedekat itu sampai harus berangkat bareng.
Meski
begitu, sensasi naik kereta menuju SMA terasa sangat bernostalgia. Aku
tersenyum pahit teringat hari-hari di mana aku terombang-ambing di dalam kereta
dengan mata yang tampak mati.
Tiba-tiba
aku merasakan sebuah tatapan, lalu menoleh ke kiri. Mataku bertemu dengan
seorang gadis yang juga mengenakan seragam baru sepertiku, dan dia segera
memalingkan wajahnya. Melihat wajahnya yang sedikit memerah, setidaknya itu
bukan tatapan benci.
Seragam
gadis itu sama denganku, SMA Ryoumei. Kalau aku orang populer, mungkin aku akan
mengajaknya bicara, tapi aku tetap tidak punya keberanian. Prinsipku adalah
melakukan persiapan matang dan memulai segala sesuatunya dengan hati-hati. Dalam
istilah RPG, aku adalah tipe yang menaikkan level lebih dari yang dibutuhkan
baru kemudian menamatkan gim dengan teliti. Tapi dulu aku tidak seperti itu,
jadi mungkin ini juga pengaruh dari kegagalan di masa SMA.
Saat
sedang memikirkan hal konyol, kereta tiba di tujuan. Dari stasiun ini ke
sekolah hanya butuh waktu lima menit berjalan kaki. Waktu masih banyak, aku
akan sampai di upacara masuk sekolah tepat waktu.
Jalan
menuju sekolah dari stasiun dihiasi oleh deretan pohon sakura. Di bawah bunga
sakura yang bermekaran penuh, banyak sekali siswa SMA yang memakai seragam yang
sama denganku berjalan kaki.
——Di
antara mereka, mataku terpaku pada seseorang.
"Ah..."
Suaraku
lolos begitu saja.
Gadis
itu sedang tersenyum di tengah kelompok yang terdiri dari sekitar enam orang. Rambutnya
yang berwarna kuning kecokelatan (flaxen) sebahu—aku pernah dengar kabar
bahwa itu warna rambut aslinya. Di bawahnya terdapat wajah cantik yang memesona
dengan fitur wajah yang tegas, namun tetap memancarkan aura polos.
Bukan
hanya aku. Banyak orang yang berjalan di jalur ini ikut terpesona olehnya.
Hoshimiya
Hikari.
Dia
adalah gadis yang membuat barisan bunga sakura yang mekar penuh itu tampak
seperti sekadar pemeran pembantu. Hoshimiya adalah orang yang membuatku jatuh
cinta di masa lalu, tempatku menyatakan cinta... dan orang yang menolakku.
Bahkan sampai sekarang, aku tidak bisa bilang kalau perasaan itu sudah hilang.
Meski
tujuh tahun telah berlalu, aku masih terus memikirkan Hoshimiya. Tentu saja, ia
tertawa persis seperti yang ada dalam ingatanku waktu itu.
Debaran
jantung yang sekali lagi memacu kencang seolah menegaskan kembali perasaanku
padanya.......Masa muda yang berwarna-warni. Tadinya kupikir itu hanyalah
target samar yang kurang spesifik, tapi di sini aku berhasil mendapatkan satu
arah yang jelas.
Aku
ingin disukai oleh Hoshimiya. Kali ini, aku ingin berkencan dengannya.
Untuk
sesaat, mata kami bertemu. Namun pada titik ini, kami hanyalah orang asing.
Aku
segera memalingkan wajah dengan lembut agar tidak terlihat tidak wajar. Saat
aku meliriknya sekali lagi, ternyata dia masih melihatku, dan mata kami bertemu
lagi.
Ah—gawat,
sepertinya dia juga memikirkan hal yang sama.
Dengan
ekspresi canggung, dia membuang muka dan menghadap ke depan lagi.
"Hikari,
ada apa?"
"E-nggak.
Bukan apa-apa. Lebih penting lagi, kita sudah sampai di sekolah!"
......Rasanya
ada yang janggal. Tadi di kereta juga begitu, tapi entah kenapa mata kami
sering sekali bertemu.
Seingatku
dulu tidak pernah begini. Aku merasa dia sangat memperhatikan penampilanku. Apa
ada sesuatu yang aneh menempel padaku?
Sambil
berjalan, aku mengeluarkan cermin saku untuk memastikannya...... hm, sepertinya
tidak ada masalah.
Rambut
sudah tertata rapi, dan seragamku pun kupakai dengan gaya yang sedikit santai
tapi tidak sampai terlihat berantakan.
——Kenapa
ya?
Sambil
memiringkan kepala kebingungan, aku pun tiba di gedung SMA. Untuk sementara,
aku mendekati kerumunan orang, sepertinya pengumuman pembagian kelas untuk
murid tahun pertama sedang dipajang. Meski aku sudah tahu dari ingatan masa
laluku, aku tetap memastikannya.
Mari
kita lihat...... Kelas 1-2, Haibara Natsuki. Ada, ada. Sekalian juga ada nama
Hoshimiya. Aku dan Hoshimiya memang sekelas saat kelas 1 dan 2, jadi sepertinya
tidak ada yang berubah dari sebelumnya. Lalu kulihat di kelas 1-1 di
sebelahnya, ada nama Miori. Ini juga sama seperti dulu.
Aku
juga mengecek nama-nama lainnya secara sekilas, sejauh yang kuingat, semuanya
sesuai memori.
Karena
sudah tujuh tahun berlalu, tentu aku tidak ingat detail kecilnya, tapi begitu
melihat namanya, aku langsung bergumam, "Oh, anak itu." Di antara
kerumunan orang di sekitar pun, ada cukup banyak wajah yang kukenali.
"—Ah,
lihat, lihat! Horeee! Rei dan Tatsu sekelas lagi denganku!"
Tiba-tiba,
di tengah hiruk-pikuk sekitar, sebuah suara yang sangat nyaring bergema di
belakangku.
"Nggak
usah teriak sekencang itu juga aku sudah tahu."
"Yah,
Uta kan baru saja masuk sekolah, jadi dia sedang semangat."
Begitu menoleh pelan, di belakangku ada tiga orang dari SMP yang sama sedang mengobrol. Bukan sekadar kenal—aku ingat betul tentang mereka. Karena mereka adalah orang-orang pertama yang kudekati saat aku merencanakan High School Debut dulu.
Tiga
orang laki-laki dan perempuan yang menjadi pusat di kelas 1-2. Dengan kata
lain, mereka adalah para penghuni kasta teratas yang kudambakan.
"Padahal
Tatsu juga senang kan! Kenapa sok keren begitu?"
Gadis
yang sejak tadi berteriak heboh itu adalah Sakura Uta. Tubuhnya yang
mungil bergerak lincah mengekspresikan kegembiraannya. Kepribadiannya ceria dan
energik, wajahnya manis, melihatnya saja membuat hati merasa hangat.
"Hah?
Ngapain juga aku harus senang sekelas sama kamu?"
Yang
menyangkal dengan suara berat sambil memasang wajah muak adalah Nagiura
Tatsuya. Tingginya lebih dariku, dengan perawakan yang tegap. Wajahnya
tampan tapi tatapan matanya tajam, memberikan kesan yang sangar. Singkatnya,
dia tipe "si tampan yang menakutkan". Kenyataannya, dia hanya benci
jika diremehkan, aslinya dia orang yang asyik dan baik hati.
"Tatsuya
itu kan tsundere. Padahal zaman sekarang sudah nggak tren lho."
Yang
menggoda Nagiura dengan suara lembut adalah Shiratori Reita. Dia tipe laki-laki
tampan yang ramping dan agak feminin, memberikan kesan yang berbanding terbalik
dengan Nagiura.
Berbeda
dengan Nagiura yang seleranya mungkin spesifik bagi orang tertentu, Shiratori
adalah tipe yang disukai semua orang; buktinya, banyak siswi di sekitar yang
mencuri pandang padanya. Kepribadiannya tenang, ramah, dan punya jiwa
kepemimpinan.
Saat
aku melakukan High School Debut dulu, Shiratori adalah sosok yang paling
mendekati "ideal" yang kucita-citakan.
"......Memangnya
pernah ada masa di mana laki-laki tsundere itu tren?"
"Kamu
kurang wawasan ya, Uta. Pengetahuanmu soal Manga shoujo masih
dangkal."
"Lagipula,
jangan ngobrol pakai kosakata yang orang nggak tahu dong. Apaan sih itu?"
"Tatsu
kan nggak pernah baca Manga."
"Jangan
ngeremehin ya. Aku pernah baca Two Piece tahu."
"Itu
kan aku yang pinjami. Di kamarmu nggak ada satu buku pun."
Shiratori
mengedikkan bahu, membuat Nagiura mendengus.
"Berisik
ah—bagiku yang penting ada basket, itu sudah cukup."
Sepertinya
Shiratori menyadari bahwa aku sedang memperhatikan mereka, lalu dia menyapaku.
"Maaf
ya. Mereka berisik sekali, kan?"
Aku
sempat goyah sesaat karena tindakan yang tidak ada dalam ingatan masa laluku
ini, tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang saat menjawab.
"Ah,
nggak kok, nggak apa-apa. Aku cuma merasa kalian terlihat akrab sekali."
Apa mungkin karena aku terlalu terang-terangan memperhatikan mereka? Kalau iya, ini adalah kesalahan fatal di awal.
Karena
merasa nostalgia, aku jadi tidak sengaja menatap terus. Tanpa mengetahui apa
yang ada di pikiranku, Shiratori bertanya dengan nada tenang.
"Soalnya
kami bertiga dari SMP yang sama. Kamu juga kelas 1-2?"
Hebat
juga dia bisa tahu—tapi dipikir-pikir, karena aku berdiri terus di depan papan
pengumuman kelas 1-2, wajar saja dia berasumsi begitu.
"Iya.
Aku Haibara Natsuki, salam kenal."
"Aku
Shiratori Reita. Ngomong-ngomong, yang kecil di sana itu Sakura Uta, dan yang
besar itu Nagiura Tatsuya."
Sadar
karena diperkenalkan, tatapan Nagiura dan Sakura beralih padaku. Mungkin mereka
tidak menyadarinya, tapi tubuhku sempat gemetar tanpa sengaja. Tatapan Nagiura
memang punya aura intimidasi.
"Dengar,
Natsuki. Maaf ya, aku sudah tidak bisa membelamu lagi. Dan yang terpenting—aku
sendiri muak padamu."
Sebab,
Nagiura adalah orang yang dulu melontarkan kegagalanku tepat di depan wajahku.
Tentu
saja yang salah bukan Nagiura, melainkan aku yang tidak tahu diri dan besar
kepala.
Meski
aku sudah paham akan hal itu, trauma yang tersisa di hati tidak bisa hilang
begitu saja.
——Tatapan
mata itu, masih terasa menakutkan bagiku.
"Hebat
ya Reita, sudah dapat teman baru?"
"Karena
sepertinya sekelas, jadi aku menyapa duluan."
Selagi
mereka berdua mengobrol, aku membuang napas perlahan untuk mengatur napas. Lalu,
tatapan Nagiura kembali menangkapku. Dia memperhatikanku dari atas ke bawah
seolah sedang menilaiku.
"Ngomong-ngomong,
badanmu oke juga ya. Kamu ikut kegiatan apa?"
"Maksudmu
klub? Aku tidak ikut klub apa pun dulu."
"Eh,
serius? Padahal rasanya badanmu terlatih sekali."
"Benar,
postur tubuhmu seperti atlet," Shiratori mengangguk menyetujui kata-kata
Nagiura.
Baguslah,
hasil dari pembentukan tubuhku langsung terlihat.
"Akhir-akhir
ini aku hobi latihan beban. Aku senang dengarnya—eh!?"
Tiba-tiba
perutku disentuh-sentuh, membuatku sangat terkejut.
Saat
aku refleks menunduk, Sakura yang bertubuh pendek sudah berada di jarak yang
sangat dekat sampai kulit kami hampir bersentuhan.
"Ooh!
Hebat, perutnya kotak-kotak!"
"Bikin
kaget saja..."
Begini
toh, jarak komunikasi orang populer...
Seingatku,
Sakura memang tipe yang tidak ambil pusing soal jarak dengan lawan jenis, tipe
yang sering membuat laki-laki salah paham. Padahal dia sendiri tidak tertarik
dengan urusan cinta, dan sering menolak laki-laki-laki-laki yang menembaknya.
Benar-benar tipe yang merepotkan.
"Dengar
ya Uta, jangan tiba-tiba menyentuh perut orang yang baru pertama kali bertemu."
Shiratori
menegurnya sambil menghela napas.
"Masa?
Maaf ya?"
"Nggak
apa-apa sih, cuma kaget saja."
"Tapi
hebat lho! Perutmu sama kerasnya dengan punya Tatsu!"
"Apa!?
Sampai selevel denganku!?"
"Nggak
mungkinlah, itu berlebihan. Dilihat saja perbedaannya sudah jelas."
Aku
menggelengkan kepala dengan kuat. Memang aku percaya diri dengan hasil
latihanku, tapi bagaimanapun ini hanyalah otot hasil latihan satu bulan.
Jika
dibandingkan dengan Nagiura, aku pasti kalah. Dia lebih tinggi dan badannya
jauh lebih tegap dariku.
Paling
tidak, aku merasa sedikit lebih berotot dibanding Reita yang tubuhnya
ramping... kurasa.
"Oh
iya, tadi sudah diperkenalkan oleh Reita, tapi biar kuulang sekali lagi. Aku
Nagiura Tatsuya."
"Aku
Sakura Uta! Panggil Uta saja ya!"
"Aku
Haibara Natsuki. Panggil Natsuki saja tidak apa-apa. Salam kenal."
Mencontoh
jarak kedekatan Sakura—maksudku, Uta—aku juga meminta untuk dipanggil nama
kecil. Rasanya hanya dengan saling memanggil nama saja, hubungan jadi jauh
lebih akrab. Perasaan seperti itu menurutku penting.
"Oke,
Natsuki. Panggil aku Tatsuya juga boleh."
"Kalau
begitu, panggil aku Reita juga ya."
Mereka
berdua langsung menyahut dengan akrab.
Hanya
dengan ini saja, bukankah hubungan kami sudah lebih baik dari sebelumnya?
Dulu,
kami semua saling memanggil dengan nama keluarga, dan aku pun dipanggil
begitu... Hanya Nagiura yang memanggilku dengan nama kecil—itu pun cuma sampai
pertengahan kelas satu.
"Anu...
Tatsuya, Reita, dan Uta, mohon bantuannya ya."
Kalau
lengah sedikit, nadaku bisa berubah jadi minder, jadi aku berusaha menjawab
dengan tegas. Agar tidak kalah dari aura populer mereka bertiga, aku pun
mengaktifkan skill [Senyum Menyegarkan].
Aku
sudah berlatih keras agar tidak menjadi senyuman menjijikkan khas Inkya!
"Nah,
perkenalannya sudah selesai, ayo kita masuk."
"Upacara
masuk sekolahnya sepertinya mau dimulai."
"Eeh?
Malas banget disuruh dengerin pidato panjang orang-orang penting."
"Ya
tapi bukan berarti kita bisa bolos, kan?"
"Tatsu,
jangan sok bijak deh, padahal tampangmu kayak berandalan."
"Kamu
mau bikin aku marah ya?"
——Tapi,
tentu saja mereka tidak menunjukkan reaksi khusus. Wajar saja. Meskipun aku
sudah merombak penampilan, paling mentok posisiku hanya di level
"lumayan".
Bisa
memicu reaksi hanya dengan senyuman itu kan hak istimewa orang-orang yang
memang tampan dari lahir.
*
Setelah
berhasil melewati upacara masuk sekolah yang membosankan, para murid baru
menuju kelas masing-masing.
Saat
itu pun aku masih bersama kelompok Reita, tapi sejujurnya agak sulit
menempatkan diri. Skemanya adalah mereka bertiga dari SMP yang sama sementara
aku sendirian, jadi meski mereka bertiga akrab, mereka tetap harus sedikit
sungkan padaku.
Wajar
jika pertemuan pertama terasa seperti sedang meraba-raba jarak, tapi karena
mereka bertiga sudah sangat kompak, rasanya agak sulit masuk. Topik pembicaraan
pasti berpusat pada mereka, dan mereka sesekali melempar umpan obrolan padaku
agar aku tidak merasa dikucilkan. Aku pun harus menjaga jawaban tetap aman
sambil mencoba melihat sejauh mana aku boleh ikut masuk ke obrolan mereka.
Tidak bisa dibilang canggung, tapi memang terasa agak kaku.
...Tapi,
mungkin begini lebih baik. Hubungan itu memang harus dibangun perlahan-lahan. Karena
ini pertemuan pertama, wajar jika kami saling sungkan. Itu alami. Kalau aku
terburu-buru mencoba mengakrabkan diri di sini——aku akan mengulangi kesalahan
yang sama seperti dulu.
"Oh,
ini dia kelasnya."
Tatsuya
bergumam sambil melihat papan bertuliskan 'Kelas 1-2'.
Kami
berempat keluar dari kerumunan murid baru di koridor dan masuk ke dalam kelas.
Di dalam sudah ada sekitar sepuluh orang. Di papan tulis tertempel selembar
kertas. Mungkin denah tempat duduk.
"W-wah,
ada perempuan cantik banget di sana!?"
——Saat
perhatianku teralihkan ke arah depan kelas, Uta menarik ujung bajuku. Begitu
aku melihat ke arah yang ditunjuk Uta, di sana ada gadis cantik luar biasa yang
kulihat tadi.
"E-eh...
apa yang dimaksud itu, aku ya?"
Hoshimiya
Hikari tersenyum kecil dengan wajah yang tampak agak canggung.
Gadis
berambut hitam panjang yang duduk di sebelahnya tertawa kecil ke arah
Hoshimiya.
"Kamu
sadar ya kalau kamu itu 'perempuan cantik banget'?"
Gadis
yang bertanya dengan nada menggoda itu bernama Nanase Yuino. Meskipun ia
sedikit tertutup oleh aura Hoshimiya yang luar biasa, penampilannya sendiri
sangat menawan. Mata yang tajam, hidung mancung, dan kulit putih tanpa noda.
Untuk
ukuran perempuan, dia cukup tinggi, dan bahkan saat duduk pun terlihat kalau
kakinya ramping dan panjang. Lebih cocok disebut elegan dan cantik daripada
sekadar imut.
"T-tapi...
soalnya dia menunjuk ke arahku."
Hoshimiya
yang dipojokkan oleh Nanase menjawab dengan wajah memerah.
"Iya,
benar! Kamu!"
Tanpa
sadar, Uta sudah berlari mendekati Hoshimiya dan yang lainnya. Tatsuya menghela
napas dan mengikuti di belakangnya. Reita dan aku pun ikut menyusul.
"Wah,
dilihat dari dekat pun benar-benar cantik sekali...!"
"A-ah,
terima kasih...?"
Uta
semakin mendekati Hoshimiya yang hanya bisa tersenyum kaku, hingga Hoshimiya
terpojok ke arah jendela.
"Aku
ingin menjadikanmu milikku!"
"E-eh,
itu agak berlebihan?"
"Sudah
Uta, cukup sampai di situ. Dia ketakutan, tahu."
Reita
memegang bahu Uta dengan mantap dan menariknya menjauh.
Wah,
meskipun akrab, hebat juga ya dia bisa menyentuh tubuh lawan jenis secara alami
begitu... apa pikiran seperti ini muncul karena jiwaku memang aslinya Inkya?
Uta sendiri tidak tampak keberatan, ia tetap bergumam sambil ditahan oleh
Reita.
"Habisnya,
dia imut banget sih..."
"Fufu,
benar kan? Hikari ini memang yang paling populer di SMP kami."
"Yuino-chan,
berhenti bicara begitu... paling populer apa, aku kan bukan idola."
"Hee!
Berarti kalian berdua dari SMP yang sama?"
"Benar.
Dari SMP Kasai. Kalau kalian?"
"Kami
dari SMP Oshima! Ah, tapi cuma Natsu yang beda sendiri ya?"
Tiba-tiba
pembicaraan beralih padaku. Diperhatikan oleh lima orang yang semuanya berwajah
rupawan begini membuatku tegang.
"Ah,
aku dari SMP Mizumi. Agak jauh dari sekolah ini."
"SMP
Mizumi itu kalau tidak salah... daerah Takasaki ya?"
"Iya.
Yah, tepatnya agak bergeser sedikit sih, tapi kurang lebih di Takasaki."
Karena
SMA Ryoumei berada di Maebashi, banyak murid yang berasal dari SMP di Maebashi,
termasuk SMP Oshima dan Kasai. Karena SMP Mizumi tempatku bersekolah berada di
pelosok yang lebih jauh dari Takasaki, wajar saja kalau ingatan Reita dan yang
lain agak samar... lagipula kalau ada yang bilang seluruh Prefektur Gunma itu
daerah pelosok, aku juga tidak bisa membantah sih.
"Jadi
kamu ke sini naik kereta?"
"Iya.
Ryoumei kan gampang diakses dengan kereta."
"Soalnya
sekolah ini tepat di depan stasiun, sih. Aku dan Hikari juga rencananya akan
berangkat naik kereta."
"Kalau
kami bertiga naik sepeda. Rumah kami semua dekat dari sini," jawab
Tatsuya, dan Nanase mengangguk setuju.
Seolah
menyadari kalau aku tidak punya gambaran tentang daerah sekitar sini, Reita
menjelaskan dengan santai.
"SMP
Oshima itu letaknya sangat dekat dengan Ryoumei. Mungkin cuma lima menit kalau
naik sepeda."
"Ah,
begitu ya. Wah, aku iri sekali."
Sebenarnya
aku sudah tahu, tapi aku berpura-pura terkejut seolah baru pertama kali
mendengarnya. Karena bagi 'aku yang dulu', ini adalah informasi yang belum
kuketahui pada titik waktu ini. Sebaiknya aku merespons berdasarkan standar
pengetahuanku yang lama.
"Eh,
boleh tahu nama kalian? Dari obrolan tadi aku sudah agak paham, tapi cuma mau
memastikan saja!"
Akhirnya,
Uta melontarkan topik yang paling mendasar.
"Iya,
benar juga. Aku Hoshimiya Hikari——"
"——Gadis
tercantik di sekolah, hobinya membaca dan menonton film, dan waktu SMP ikut
klub sastra."
"Itu...
Hei, bukan! Aku bukan gadis tercantik!"
Hoshimiya
membantah sambil mencengkeram lengan Nanase yang memotong bicaranya dengan nada
menggoda.
"......Kurasa
agak mustahil kalau bilang kamu bukan gadis cantik?"
Ah,
gawat. Apa yang kupikirkan malah keceplosan keluar dari mulut.
Hoshimiya
mengerjapkan matanya seolah terkejut dengan kata-kataku, lalu menunduk dengan
wajah merona malu.
"A-ah,
terima kasih......"
"Ah,
maaf. Tadi itu refleks, cuma jujur saja......"
Gara-gara
aku, suasananya jadi agak canggung.
Blunder
lagi. Aku benar-benar harus waspada.
...Tapi,
entah kenapa reaksi Hoshimiya juga terasa aneh. Seingatku, aku pernah
mengatakan hal serupa di masa lalu, tapi waktu itu dia hanya tersenyum kaku.
"Hee—,
jarang-jarang Hikari malu begini. Padahal biasanya dia sudah terbiasa dipanggil
gadis cantik."
"Aduh,
Yuino-chan! Lama-lama aku marah lho!"
"Iya,
iya——Namaku Nanase Yuino. Teman SMP Hikari, sekaligus sahabatnya."
"......Benar!
Ehehe, kami sahabat!"
Nanase
mencoba merayu Hoshimiya dengan klaim "sahabat" itu. Hoshimiya
ternyata lumayan gampang dibujuk ya...
Setelah
itu, suasana beralih ke sesi perkenalan diri masing-masing. Tepat saat aku
menyebutkan namaku, guru masuk ke kelas, sehingga obrolan kami berakhir untuk
sementara.
Di
sesi homeroom, setelah dijejali petuah panjang lebar tentang kesiapan
mental menjadi siswa SMA dan semacamnya, kami semua disuruh maju satu per satu
ke depan kelas sesuai urutan tempat duduk untuk memperkenalkan diri.
Ah,
kejadian seperti ini dulu juga ada.
Konyol
rasanya kalau aku harus gagal lagi gara-gara bertingkah berlebihan di sini,
jadi aku memilih bermain aman dan menyesuaikan diri dengan suasana sekitar.
......Gawat.
Kenangan memalukan dari perkenalan diriku yang dulu memenuhi kepalaku!
'Namaku
Haibara Natsuki! Hobiku membaca buku dan menonton film. Aku berencana masuk
klub basket, dan impianku adalah punya seratus teman! Aku ingin akrab dengan
kalian semua, ya? Mohon bantuannya!'
Berhenti,
berhenti! Jangan diputar ulang di otak!
Aku
merasa ingin berguling-guling di lantai sekarang juga, tapi kalau aku melakukan
tindakan aneh seperti itu, itu malah akan menjadi dark history yang
baru.
Ternyata
mengulang masa muda berarti harus siap berhadapan muka dengan masa lalu yang
memalukan...... begitulah filosofinya.
Selagi
aku memikirkan hal mendalam (?) seperti itu, wali kelas pun berakhir.
*
Murid
baru sudah boleh pulang hari ini setelah membeli buku pelajaran. Kami berenam
berkumpul kembali dan menuju aula tempat penjualan buku.......Meski begitu,
alurnya sudah sangat berbeda dari sebelumnya.
Dulu
aku tidak bergaul dengan kelompok Reita pada titik ini, dan Reita bertiga pun
sepertinya belum seakrab ini dengan Hoshimiya berdua...... kalau tidak salah.
Mungkin saja.
Apakah
tindakanku telah mengubah tindakan semua orang?
Yah,
selama tidak ada faktor lain yang mengubah sejarah selain aku, kurasa ini
memang gara-gara aku. Lain ceritanya kalau ada orang lain yang juga sedang
mengulang waktu, tapi kalau dipikirkan terus tidak akan ada habisnya.
"Uwah,
buku pelajarannya berat banget!"
Uta
mengerang sambil memeluk tumpukan buku.
"Oi,
oi, segitu saja sudah mengeluh? Katanya anggota klub basket. Lemah amat."
Uta
tampak kesal diejek Tatsuya, lalu sok kuat berkata, "Begini doang sih
enteng!"
"Memang
berat ya...... Hikari, kamu tidak apa-apa?"
"A-ahaha......
apa aku benar-benar bisa membawa ini pulang ya?"
Lengan
ramping Hoshimiya tampak gemetar.Dia tidak terlihat seperti tipe yang suka
olahraga, apalagi dia mantan anggota klub sastra.
"Kalau
dimasukkan ke tas mungkin lebih mudah dibawa, tapi kalau didekap begini memang
agak berat."
"......Hoshimiya,
kalau keberatan, mau kubantu bawakan?"
Aku
mendekap tumpukan bukuku sendiri dengan tangan kiri, lalu menjulurkan tangan
kanan ke arah Hoshimiya.
Hoshimiya
mengerjapkan matanya berkali-kali.
"......Haibara-kun,
kamu kuat juga ya."
"Panggil
Natsuki saja. Yah, kalau segini sih masih enteng."
"Ja-jadi,
Natsuki-kun...... kalau semuanya tidak enak, boleh minta tolong bawakan
setengahnya saja?"
"Oke."
Aku
yang berhasil membuatnya memanggil nama kecilku secara alami langsung melakukan
selebrasi fist pump dalam hati. Dengan nada santai yang sudah kusiapkan,
aku menerima setengah bukunya dan mendekapnya dengan tangan kanan.
......Berat.
Bilang
"enteng" tadi jelas cuma sok keren saja, tapi aku berpura-pura tenang
agar tidak ketahuan. Ini semua demi akrab dengan Hoshimiya. Malah, bisa
dibilang aku berlatih fisik memang untuk momen seperti ini.
Melihat
tindakanku, Reita juga ikut membawakan setengah buku milik Nanase. Tatsuya dan
Uta saling tatap, lalu saling melotot sebelum akhirnya membuang muka ke arah
berlawanan. Entah mereka akrab atau tidak.
Yah,
karena Uta ikut klub basket dan punya tenaga meski mungil, kurasa dia tidak ada
masalah.
Kami kembali ke kelas dan meletakkan buku-buku itu di meja Hoshimiya. Setiap bukunya tebal, dan jumlahnya benar-benar terlalu banyak.
"Membawa
pulang semua ini bakal bikin pegal...... repot juga, simpan di loker saja kali
ya."
Saat
aku mengusulkan itu, Reita menyahut.
"Aku
inginnya begitu, tapi apa meninggalkan buku di sekolah tidak akan dimarahi
guru?"
"Segini
doang harusnya nggak apa-apa. Toh besok dibawa ke sekolah lagi, cuma bikin
berat saja kalau dibawa pulang-pergi."
Tatsuya
mengedikkan bahu, lalu Nanase berkata sambil tersenyum kecut.
"Kalian
tidak punya pikiran untuk belajar atau mengulang pelajaran di rumah, ya?"
"Nanti
saja kalau pelajaran sudah resmi dimulai."
Nanase
menatap Tatsuya yang optimis itu dengan tatapan ingin memprotes, lalu menghela
napas.
"Hikari,
jangan sampai terpengaruh orang-orang buruk seperti mereka, ya."
"Eh?
Mereka orang buruk? Natsuki-kun dan Tatsuya-kun?"
Hoshimiya
tampak bingung.
Aku
menyambar ucapan Nanase dengan candaan, "Siapa yang kamu panggil orang
buruk, hah?"
......Aku
harus selalu sadar untuk berani masuk ke dalam percakapan seperti ini. Rintangan
pertama untuk masuk ke grup populer di kelas sudah kulewati.
Tugas
berikutnya adalah memantapkan posisiku di sini. Dulu aku tersandung di bagian
ini. Apalagi polanya adalah mereka bertiga dari SMP yang sama, mereka berdua
juga, sementara aku sendirian. Jika aku tidak membangun hubungan satu per satu
dengan sabar, aku bisa saja terisolasi sendiri.
"Tapi,
buku SMA ternyata setebal ini ya—"
Hoshimiya
membolak-balik buku Matematika I-A.
"Uwah......
isinya sama sekali tidak paham. Aku jadi merasa cemas."
"Nggak
usah khawatir. Dengerin penjelasan guru juga pasti paham," kata Tatsuya
optimis, tapi Reita langsung menyela.
"Entahlah.
Meskipun bukan yang nomor satu di prefektur, sekolah ini kan termasuk sekolah
unggulan."
Benar
kata Reita, ujian rutin di sekolah ini cukup sulit. Meski aku sudah pernah
menjalaninya sekali, aku tetap harus mengulang pelajaran dengan benar. Karena
ini sekolah unggulan, cara termudah untuk menunjukkan kapasitas diri adalah
lewat nilai akademik.
Aku
tidak punya kemampuan atletik yang luar biasa, tidak selucu itu saat bicara,
dan tidak punya bakat khusus. Jadi, setidaknya aku ingin terlihat unggul dalam
hal pelajaran. Apalagi aku punya pengalaman tujuh tahun di masa depan.
Dulu
di universitas jurusan sains, aku meneliti dengan cukup serius. Dalam
prosesnya, aku yakin sudah menguasai ilmu sains dan matematika.
Kalau
begitu, masalahnya mungkin ada di bidang bahasa atau sejarah.
"Yah,
selama ada Tatsu, kita nggak bakal jadi peringkat terakhir kok! Aman,
aman!"
"Oi,
oi, seberapa pun bodohnya aku, aku nggak bakal kalah darimu. Serius deh."
Melihat
Tatsuya dan Uta yang masih saling ejek, Reita menghela napas panjang.
"Kalian
berdua berhenti bertengkar. Toh level kalian sama saja, terlihat sangat bodoh
dan memalukan tahu."
"Sampai
segitunya!?"
Uta
terperanjat mendengar lidah tajam Reita yang diucapkan dengan wajah datar.
Aku
pun berpikiran sama. Anak ini, di balik wajah segarnya, kata-katanya tajam juga
ya...
Dulu,
karena aku masuk klub basket, aku jadi cukup akrab dengan Tatsuya dan Uta, tapi
aku tidak terlalu dekat dengan Reita. Jadi, ini terasa cukup segar bagiku.
Ternyata dia orang yang seperti ini.
"Kalau
kamu bilang begitu, berarti Shiratori-kun pintar belajar, ya?"
"Yah,
setidaknya lebih pintar dari dua orang ini. Meski sepertinya aku takkan bisa
menang melawan Nanase-san."
"Ara,
kenapa kamu berpikir begitu?"
"Kelihatan
dari tampangnya saja sudah pintar. Iya kan, Hoshimiya-san?"
"Iya.
Yuino-chan selalu jadi peringkat satu paralel, lho."
"Peringkat
satu paralel!? Wah, hebat banget..."
Aku
ikut nimbrung dalam obrolan sambil menunjukkan keterkejutan yang dibuat-buat.
Ya,
tentu saja aku memang terkejut beneran, tapi aku sengaja mengekspresikannya
secara berlebihan. Jika aku hanya bereaksi seperti biasanya, bakal terlihat
terlalu hambar.
Reaksi
berlebihan adalah kunci jadi orang populer...
begitulah analisisku.
"Benar!
Yuino-chan itu hebat sekali!"
"Kenapa
malah Hikari yang bangga? Ngomong-ngomong, Hikari sendiri peringkat berapa?
Enam puluh?"
"Nggak
usah bahas aku!"
"Ternyata
agak nanggung ya..."
"Reaksi
jujurmu itu menyakitkan, jadi hentikan!"
Hoshimiya
membalas gumamanku yang bernada mengejek itu dengan tsukkomi yang tepat,
dan aku diam-diam merasa senang. Menentukan jarak kedekatan memang sulit, tapi
kalau sebatas ini sepertinya masih aman, kan?
"Terus
kalau kamu gimana, Natsuki?"
Tiba-tiba,
ada guncangan di bahuku. Tatsuya merangkulku dan menumpukan berat badannya.
Apa
perlu sampai merangkul begini cuma buat nanya?—apa
pikiran seperti ini muncul karena aku seorang Inkya? Sepertinya aku
harus terbiasa dengan paksaan ala orang populer tipe bertenaga ini.
"Eh,
aku? Aku sih... ya, nggak buruk-buruk amat."
"Yah,
kalau buruk mana mungkin bisa masuk Ryoumei."
Nilai
saat SMP, ya.
Gimana
ya? Rasanya tidak bagus tapi tidak jelek juga. Tapi aku ingat pernah belajar
mati-matian setelah memutuskan ingin masuk Ryoumei demi melakukan High
School Debut.
"Aku
tipe yang berjuang keras saat ujian supaya bisa lolos, sih."
"Oh,
berarti sama denganku."
"Aku
juga komplotan kalian! Yeah!"
Uta
mengangkat tangannya.
Aku
sempat bingung, oh ternyata minta high-five. Aku pun mengangkat tangan
di depan Uta, dan dia menepuk tanganku dengan suara pashin yang nyaring.
Karena
Uta pendek, dia sampai harus melompat. Entah kenapa dia punya keimutan seperti
kucing.
"—Ah,
maaf. Ibuku sudah memanggil, sepertinya aku harus segera pulang."
Hari
itu pun berakhir setelah Hoshimiya mengucapkan kata-kata tersebut.
Aku
juga sudah ditunggu Ibu yang menghadiri pertemuan orang tua setelah upacara
masuk sekolah, jadi aku pun pulang dengan tenang naik mobil Ibu. Hari itu kami
makan yakiniku bersama. Enak sekali.
*
Keesokan
harinya. Pelajaran kurikulum normal pun dimulai. Karena ini hari pertama,
suasananya masih santai, hanya perkenalan guru dan penjelasan singkat tentang
pelajaran. Terasa ringan tapi membosankan. Aku harus berjuang sekuat tenaga
menahan kantuk. Lalu saat sepulang sekolah, kami berenam secara alami berkumpul
kembali.
Saat
aku melihat sekeliling kelas, ada banyak tipe orang: mereka yang sudah
membentuk grup seperti kami, mereka yang sedang mencari kesempatan untuk
menyapa seseorang, dan mereka yang langsung keluar kelas tanpa peduli sekitar.
Dulu
aku hanya memedulikan diriku sendiri, tapi ternyata mengamati begini cukup
menarik.
Di
dalam kelas sudah terbentuk sekitar lima grup, tapi suasananya masih terasa
kaku. Memang grup kamilah yang paling mencolok. Bagaimana ya... auranya berbeda
jauh... tentu saja, maksudku aura mereka selain aku. Kelima orang ini semuanya
rupawan, jadi aura berkilau mereka terpancar kuat. Grup lain pun sesekali
mencuri pandang ke arah kami. Aku bisa merasakan keinginan mereka untuk
bergabung ke sini.
Yah,
saat ini grup kamilah satu-satunya yang campuran laki-laki dan perempuan, itu
faktor yang besar juga sih.
Melihat
grup yang sudah akrab sejak awal memang bikin iri. Aku merasakan sedikit rasa
bangga sekaligus perasaan "salah tempat" yang luar biasa.
Mungkin
orang lain berpikir, "Kenapa orang culun kayak kamu bisa bareng
mereka?" ...Kalau benar begitu, aku tidak punya pembelaan apa pun. Meski
tujuanku jadi orang populer, apa aku benar-benar pantas ada di sini?
"—Oi,
Natsuki? Kenapa malah bengong?"
Suara
berat Tatsuya menyentuh telingaku, membuatku buru-buru kembali ke realitas. Kebiasaan
burukku adalah kalau sudah tenggelam dalam lautan pikiran, aku susah balik
lagi.
"Ah,
maaf. Bukan apa-apa."
"Gitu
ya. Kami mau keliling lihat klub, kamu ikut juga kan?"
Tanpa
sadar, lima pasang mata sudah menatapku. "Tentu saja," aku
mengangguk.
*
"Pokoknya
aku mau keliling lihat semua klub yang sedang aktif hari ini, boleh?"
Reita
bicara sambil melihat brosur klub yang dibagikan guru.
Hebat
ya, bisa memimpin dengan santai di saat seperti ini. Aku ingin menirunya. Ilmu
yang didapat dari internet saja ada batasnya. Karena mumpung ada contoh di
dekatku, aku harus melihat dan belajar.
Reita
melihat semua orang mengangguk, lalu mengajak kami, "Mulai dari klub
budaya dulu yuk."
Di
koridor lantai tiga tempat banyak klub budaya berkumpul, banyak murid baru yang
berlalu-lalang. Hoshimiya bergumam, mungkin merasakan hal yang sama denganku.
"Ramai
sekali ya?"
"Minggu
ini kan periode orientasi klub, apalagi ini hari pertama. Terlepas dari mau
masuk atau tidak, kurasa semua orang ingin coba keliling semuanya dulu. Kita
pun begitu, kan?"
Sekarang
semua klub sedang dalam mode menyambut anggota baru, mereka bahkan menyiapkan
kursi bagi pengunjung.
"Mumpung
begini, sekalian kita eksplorasi sekolah yuk!"
Sesuai
usulan Uta, kami berkeliling sekolah dengan santai sambil sesekali mampir ke
beberapa klub budaya.
Di
klub kaligrafi, kami diajak untuk mencoba menulis. Meski kami yang lain
menolak, Yuino dengan sigap menuliskan aksara yang luar biasa indah. Begitu
juga di klub upacara minum teh, Yuino menunjukkan tata krama yang sempurna.
Menyadari
tatapan kagum kami, Yuino memalingkan wajahnya dengan malu.
"—Dulu,
aku pernah belajar sedikit."
"Kurasa
itu sudah bukan di level 'sedikit' lagi..."
Saat
aku tersenyum kecut, entah kenapa Hoshimiya justru membusungkan dadanya dengan
bangga.
"Yuino-chan
memang ikut banyak kursus sejak kecil, lho."
"Aku
sebenarnya hanya ingin fokus pada pelajaran dan piano... tapi itu sudah menjadi
kebijakan orang tuaku."
"Kamu
bisa main piano juga? Padahal sudah peringkat satu paralel.
Hebat
banget, benar-benar genius sejati," ucap Tatsuya dengan nada gentar. Aku
pun merasakan hal yang sama.
Aku
tahu nilainya bagus saat SMA dulu, tapi aku tidak menyangka bakal se-level
ini... bisa dibilang, dia adalah sosok Yamato Nadeshiko yang sempurna.
...Eh,
kalau ada Yuino, bukankah aku jadi tidak bisa menjadikan "belajar"
sebagai kekuatanku? Tidak, tidak, aku hanya perlu mendapatkan nilai yang lebih
tinggi darinya. Lagipula usia mentalku tujuh tahun lebih tua... pasti bisa,
kan?
"Jadi
piano adalah keahlian utamamu?"
Menanggapi
pertanyaan Reita, Yuino menjawab dengan tenang.
"Iya.
Karena di SMA aku berniat fokus pada piano, aku tidak berencana masuk klub
sekolah."
"Waktu
SMP kamu ikut klub apa?"
"Secara
formal aku ikut klub panahan. Tapi karena jadwal kursus, aku jarang bisa
hadir."
"Wah,
panahan pasti cocok sekali denganmu," ucapku spontan. Apa yang kupikirkan
langsung kuutarakan.
Secara
sifat, aku cenderung memendam kesan di dalam hati, tapi situs web "Tips
High School Debut" menyarankan untuk lebih aktif berbicara. Katanya, itu
bisa membangun kesan ramah.
"Setuju
banget!"
"Beneran,
cocok parah."
Sepertinya
niatku berhasil; Uta dan Tatsuya langsung mengiyakan.
"Yuino-chan
yang memakai seragam panahan sambil memegang busur itu benar-benar keren, lho.
Mau lihat fotonya?"
"Eh,
ada!? Lihat, lihat!"
"Tu-tunggu,
Hikari!?"
Begitu
Hoshimiya mengeluarkan ponselnya, kami semua—dipimpin oleh Uta—langsung
merubung. Yuino tampak goyah dan itu terlihat manis, sementara Hoshimiya
tertawa nakal.
"Habisnya
Yuino-chan selalu menjahiliku, jadi ini pembalasan! ♪"
Selagi
kami asyik menikmati deretan foto Yuino di ponsel Hoshimiya, kami menyadari
kalau kami menghalangi jalan orang-orang di koridor, jadi kami bergegas pindah.
"Ah,
aku ingin mengintip klub sastra. Waktu SMP aku juga ikut klub sastra."
"Oke.
Sepertinya lokasinya di sebelah perpustakaan."
"Hikarin
bakal masuk klub itu lagi di SMA?"
Tanpa
sadar, Hoshimiya sudah diberi nama panggilan yang unik.
"Hmm,
tergantung suasananya sih. Masuk atau tidak, dua-duanya oke kok."
Setelah
melihat sekilas klub marching band di tengah jalan, kami tiba di depan
ruang klub sastra. Ada sekitar sepuluh orang laki-laki dan perempuan yang
sedang membaca buku atau mengerjakan sesuatu di laptop. Suasananya tenang, tapi
karena hari ini pintu dibuka lebar untuk pengunjung, rasanya jadi agak kurang
rileks. Apalagi karena kelompok kami yang mencolok ini datang, perhatian
langsung tertuju pada kami. Suasana mereka mirip denganku yang dulu.
Singkatnya, orang-orang yang pendiam.
Rasanya
agak kurang nyaman, dan mereka pun pasti merasakan hal yang sama. Lagipula
Tatsuya atau Uta, dari penampilan mereka, sama sekali tidak terlihat seperti
orang yang hobi membaca.
"—Halo.
Bolehkah kami melihat-lihat?"
Di
tengah suasana yang kaku itu, Hoshimiya tersenyum dengan sangat menawan.
"E-eh,
iya. Silakan."
Semua
orang di klub itu, baik laki-laki maupun perempuan, langsung terpesona.
Seseorang yang tampak seperti ketua klub pun buru-buru menjawab. Hanya dengan
itu, suasana canggung tadi langsung sirna.
"Benar
ini klub sastra, kan?"
"I-iya...
eh, maksudku, iya benar. Kamu murid baru, ya?"
"Ahaha,
iya. Saya murid baru."
Hoshimiya
mengajak bicara orang yang tampaknya ketua klub itu dengan nada yang tenang.
"Ternyata
anggotanya cukup banyak, ya?"
"Karena
hari ini jadwal kunjungan klub, jadi semua orang datang. Biasanya ini kegiatan
bebas, jadi mungkin hanya tiga atau empat orang yang hadir. Tentu saja di hari
penting seperti rapat majalah klub, semuanya wajib datang."
"Berarti,
apakah ini semua anggotanya?"
"Iya.
Ah, tapi sekarang ada satu orang yang tidak ada. Mungkin sedang ke
toilet."
"Ooh.
Jadi total sebelas orang ya. Omong-omong, kegiatannya berapa kali
seminggu—"
Siswa
berkacamata yang tampaknya ketua klub sastra itu terlihat jelas sedang salah
tingkah dan menjadi sangat cerewet saat menjelaskan. Hoshimiya pun menanggapi
dengan senyuman dan anggukan yang pas. Kemampuan komunikasinya benar-benar
tinggi. Dia bisa menyesuaikan diri dengan siapa pun, atau lebih tepatnya, dia
bisa memancing obrolan secara alami.
Memang
pantas menyandang gelar gadis tercantik di sekolah, Hoshimiya Hikari. Dia
adalah orang populer alami. Aku pernah dengar pepatah bahwa "Orang populer
sejati adalah mereka yang bisa bergaul dengan baik bahkan dengan orang
pendiam". Bahkan dulu, setelah aku gagal melakukan High School Debut,
Hoshimiya tetap menyapaku seolah tidak terjadi apa-apa.
Tentu
saja dia bersikap begitu kepada semua orang, bukan hanya aku, jadi aku tidak
sampai salah paham.
"Kayaknya
nggak enak kalau kita di sini terus, tunggu di luar saja yuk," usul
Tatsuya sambil menggaruk kepalanya. Meskipun sikapnya kasar, ternyata dia pria
yang peka dengan situasi.
...Tidak,
mungkin bukan "ternyata". Mana mungkin orang yang tidak peka bisa
menjadi pusat perhatian di kelas. Meski terlihat begini, Tatsuya pasti banyak
berpikir sebelum bertindak... atau lebih tepatnya, dia punya insting tajam
untuk merasakan suasana sekitar. Bisa dibilang itu adalah insting khas orang
populer.
Setidaknya,
itu adalah sesuatu yang tidak kumiliki.
"Benar
juga."
Uta
yang biasanya berisik pun mengangguk pelan. Kami pun menunggu di koridor sambil
mengobrol ringan. Tak sampai tiga menit, Hoshimiya sudah keluar dari ruangan.
"Sudah
selesai?"
"Iya.
Masa orientasi klub masih panjang, aku akan memikirkannya pelan-pelan.
Orang-orangnya baik semua, jadi tidak masalah kalau aku bergabung. Dua kali
seminggu juga pas, apalagi kehadirannya bebas."
"Hee,
klub kategori budaya ternyata bebas banget ya."
"Terutama
klub sastra, tugasnya paling cuma menerbitkan majalah klub. Sisanya ya membaca
buku."
"Klub
lain pun rata-rata dua sampai tiga kali seminggu. Dasarnya memang berbeda
dengan klub olahraga.”
"Yah,
tim basket kan latihannya tujuh hari seminggu, bahkan aku sudah dipaksa latihan
sejak libur musim semi kemarin..."
"Ah,
benar juga! Kalau tim putri baru dimulai setelah masuk sekolah sih!"
Uta
mengangguk setuju mendengar ucapan Tatsuya.
"Eh,
kalau begitu tidak apa-apa kamu tidak ikut latihan?"
Tatsuya
menggaruk kepalanya dan menjawab,
"Masa
hari pertama bolos saja dimarahi... iya kan?"
"Entahlah,
jangan tanya aku..."
Aku
mengedikkan bahu. Entah kenapa, sedari tadi Reita terus menatapku dengan lekat.
"Hm?
Berikutnya giliran klub olahraga, kan? Ayo cepat berangkat."
"...Iya,
benar. Aula olahraga agak jauh, jadi ayo kita kelilingi klub luar ruangan
dulu."
Rasanya
tadi itu tatapan yang aneh, tapi mungkin cuma perasaanku saja. Aku pun
mengikuti punggung Reita yang memimpin jalan.
*
Sambil
berjalan menyusuri lapangan sekolah, kami melihat sekilas klub bisbol, tenis,
sepak bola, dan lainnya.
Meskipun
Ryoumei adalah sekolah unggulan, mereka cukup serius dalam kegiatan
ekstrakurikuler. Semua klub olahraga tampak berlatih dengan sungguh-sungguh.
Terutama klub sepak bola yang anggotanya sangat banyak; kudengar mereka cukup
tangguh di tingkat daerah.
"Reita,
kamu mau masuk klub sepak bola, kan?"
Reita
mengangguk.
"Rencananya
begitu."
"Rei,
kamu tidak perlu menyapa senior atau semacamnya? Tadi banyak sekali lho yang
sedang berkunjung!"
"Hampir
semuanya sudah kukenal sejak SMP. Urusan begitu bisa nanti saja setelah resmi
mendaftar."
"Hampir
semuanya...? Memangnya kalian dari SMP yang sama?"
"Yang
dari SMP Oshima cuma aku saja, tapi rata-rata mereka berasal dari klub sepak
bola di distrik yang sama. Kami sering melakukan pertandingan persahabatan
waktu SMP dulu, jadi semuanya cukup akrab."
Aku
terdiam seribu bahasa mendengar jawaban santai Reita.
Memangnya
orang bisa seakrab itu hanya karena pernah tanding bareng?
Begitu
ya... ternyata mencari teman bisa semudah itu...
Saat
aku sedang minder sendiri, sekelompok orang yang sedang melihat klub sepak bola
memanggilnya.
"Bukankah
itu Shiratori! Jadi kamu masuk sekolah ini juga!"
"Kapten
SMP Oshima ya! Kamu pasti masuk klub sepak bola juga, kan?"
"Yo,
sudah lama ya! Masih ingat wajahku tidak!?"
Disapa
seperti itu, Reita menjawab dengan tenang dan ramah tanpa rasa canggung.
"Wah,
ternyata Tiga Sekawan Bodoh dari SMP Fuji. Halo, sudah lama ya."
"Siapa
yang kamu panggil Tiga Sekawan Bodoh!"
"Yang
bodoh cuma anak ini saja tahu."
"Yang
bilang orang lain bodoh, dialah yang sebenarnya bodoh..."
"Sebenarnya
ini rahasia, tapi dalang yang menyebarkan julukan Tiga Sekawan Bodoh itu aku,
lho."
"""Apaaa
katamu!?"""
Lidah
tajam yang keluar dari pembawaan yang lembut—benar-benar luar biasa. Reita
memang orang populer sejati. Aku menaruh rasa hormat pada kemampuan
komunikasinya.
"—Kalau
begitu, teman-temanku sudah menunggu. Sampai nanti ya."
Hebatnya
lagi, dia memutus pembicaraan di waktu yang tepat demi kami.
Memang
benar, dialah 'sosok ideal' bagiku untuk mewujudkan masa muda terbaik... orang
yang berdiri paling dekat dengan tujuanku adalah Shiratori Reita. Aku harus
mengamatinya baik-baik dan belajar dari sikapnya.
*
Setelah
itu, kami berkeliling melihat klub di dalam aula olahraga. Karena tidak ada
anggota yang tertarik dengan pingpong atau bola voli, kami hanya lewat begitu
saja.
Perhatian
kami tertuju pada klub basket putra dan putri yang menggunakan dua sisi
lapangan di bagian dalam. Wajar saja, karena Uta dan Tatsuya adalah anak
basket. Tatsuya sudah resmi bergabung, tapi bagi Uta ini adalah kunjungan
pertamanya.
Uta
bangkit dari kursi pengunjung, matanya berbinar-binar penuh semangat.
Hoshimiya
tersenyum kecil melihatnya.
"Seperti
anak kecil saja."
"Muu,
apa kamu baru saja menyindir tinggi badanku!?"
"Sepertinya
bukan ke arah sana deh—"
"Kalau
begitu soal dada!? Asal tahu saja, ini masih bisa tumbuh lho! Malah cuma ada
ruang untuk berkembang. Benar, dadaku punya potensi yang tak terbatas..."
"Kenapa
kamu malah jadi sedih sendiri sambil menjelaskan begitu?"
Tatsuya
melontarkan tsukkomi dengan wajah heran. Uta tampak merana sambil
memegang dadanya sendiri dengan kedua tangan. Ternyata dia cukup peduli soal
itu ya. Memang rata sih, tapi tetap saja.
"Eh,
e-tto... benar! Aku juga berpikir begitu, Uta-chan!"
Hoshimiya
yang berusaha menyemangati itu sebenarnya memiliki "bukit kembar"
yang ukurannya lebih dari cukup. Uta menatap sesuatu yang tidak ia miliki itu
dengan penuh rasa iri, lalu tiba-tiba berputar ke belakang Hoshimiya dan
meremasnya.
"Uhyah!?"
"O-oh...
hoou... fumu..."
"Haibara-kun,
jangan mulai berpikiran mesum begitu. Dan kamu, berbalik sana."
"M-maaf!"
Aku
dipaksa berbalik membelakangi mereka, sementara...
"Bodoh,
jangan mengamuk di tempat seperti ini, nanti jadi pusat perhatian tahu."
"Uta,
hentikan."
Tatsuya
dan Reita yang sedang menarik Uta agar lepas dari Hoshimiya malah tidak ditegur
sama sekali.
Ini
tidak adil. Apa wajahku tadi memang semengerikan itu? Ya, aku memang berpikir
itu seksi sih.
Tanpa
sadar, pandangan anggota klub basket yang sedang latihan tertuju pada kami.
Tatsuya membungkuk meminta maaf berkali-kali.
"Nagiuraaa!
Kalau cuma mau main-main, mending ikut latihan sana!"
"Eeeh!?
Ini kan hari pertama orientasi, boleh dong kalau saya mau keliling dulu!?"
"Melihat
klub lain itu tidak ada gunanya. Paham?"
"I-iya
juga sih... sebenarnya saya juga sudah gatal ingin latihan kok! Benar! Memang
cuma basket yang terbaik. Eh, k-kenapa!? Jangan melotot begitu dong!?"
Tatsuya
yang pandai mencari muka itu ternyata cukup disayangi oleh seniornya.
Melihat
Tatsuya yang menciut begitu adalah pemandangan yang cukup langka bagi yang
lain, sehingga kami saling bertukar pandang dan tertawa.
"Ahahaha!
Tatsu, memalukan sekali!"
...Padahal
bagiku, ini adalah pemandangan yang sangat akrab.
Karena
dulu, aku pun anggota klub basket.
Tapi
aku tidak pernah disayangi seperti Tatsuya. Itu karena aku orang yang
membosankan. Mereka merasa aku tidak layak untuk diajak bercanda.
Tatsuya
itu orang yang menarik. Makanya, orang-orang berkumpul di sekitarnya, bahkan
para kakak kelas sekalipun.
"Dasar
tukang bolos. Syukurin deh kalau dimarahi habis-habisan," ucap Reita
sambil mengangkat bahu.
Tatsuya
menuju ruang klub, sepertinya untuk berganti pakaian. Ternyata dia benar-benar
ikut latihan pada akhirnya. Suara teriakan "Maaf!" yang menggelegar
terdengar dari kejauhan, membuat kami tertawa makin keras.
—Saat
itulah.
Dari
pintu masuk aula olahraga, aku melihat sosok yang kukenal masuk. Mata kami
bertemu. Kami berdua refleks bergumam "Ah" secara bersamaan. Mengikuti
arah pandanganku, semua orang pun serentak menoleh ke belakang.
"......Miori."
Di
sana berdirilah gadis teman masa kecilku itu.
Aku
malah bertemu orang yang paling ingin kuhindari di situasi begini. Dia
menatapku, lalu melihat orang-orang di sekelilingku, dan tersenyum menyeringai.
Nah,
kan. Aku sudah tahu dia pasti akan bereaksi begini. Kumohon, jangan katakan hal
yang aneh-aneh.
"Yaho,
Natsuki. Kelihatannya berjalan cukup lancar ya?"
"Berisik.
Diamlah."
"Ah,
jahatnya—. Padahal aku mengkhawatirkanmu lho... eh maaf, kayaknya nggak juga
deh."
"Kalau
mau bohong tolong konsisten sampai akhir dong?"
Kalau
tidak, hatiku bisa terluka, tahu. Hatiku ini kan terbuat dari kaca.
Miori
didampingi oleh tiga orang siswi lainnya. Sepertinya dia juga sedang
berkeliling melihat klub bersama teman-temannya.
"Kenalanmu?"
tanya Reita, dan aku mengangguk pasrah.
"Kami
dari SMP yang sama."
"Hee,
kelihatannya akrab ya."
"Nggak
juga—"
"—Sama
sekali nggak akrab kok. Beneran, nggak ada akrab-akrabnya sedikit pun."
Miori
memotong kata-kataku yang baru mau menyangkal dengan santai.
Ya,
aku memang berniat menyangkalnya juga, tapi apa perlu menekankan kalau kami
tidak akrab sampai segitunya? Nggak perlu, kan?
"Natsuki
dan yang lain juga sedang lihat-lihat klub?"
"Iya—ngomong-ngomong,
kamu mau masuk klub basket kan?"
"Iya,
rencananya begitu. Makanya aku datang berkunjung."
"Eh,
benarkah!?"
Uta
merespons dengan penuh semangat saat mendengar percakapan kami.
"Aku
Sakura Uta! Aku juga rencananya mau masuk klub basket!"
"Eh,
serius? Berarti kita sama. —Aku Motomiya Miori dari kelas 1. Salam kenal
ya."
"Yeah!"
Keduanya melakukan high-five. Orang populer memang cepat sekali akrab.
"Eh,
kamu bukan calon manajer tim putra, kan?"
"Bukan,
bukan. Aku pemain tim putri kok. Karena Sakura-san bertanya begitu, berarti
kamu juga tim putri kan?"
"Ah,
bener banget! Aku lebih suka main daripada cuma menonton!"
"Ahaha,
rasanya aku bisa paham."
"Oh
ya? Kenapa?"
"Karena
Uta itu meluap-luap dengan energi, kelihatan kok cuma dengan melihatnya
saja," gumam Reita dengan senyum lembut.
Uta
tampak tidak menyadarinya dan hanya memiringkan kepala kebingungan.
"Uta
kan nggak bisa kalau disuruh mendukung orang lain?"
"Jahat
banget!?"
Uta
tampak terpukul mendengar lidah tajam Reita.
Menarik
sih, tapi ejekan tajam Reita ini adalah sesuatu yang ada karena mereka sudah
sangat akrab.
Sebagai
orang yang masih belum stabil dalam menentukan jarak kedekatan, sepertinya ini
bukan sesuatu yang boleh kutiru. Meski begitu, tidak enak juga kalau cuma diam,
jadi aku mencoba menimpali dengan aman. Aku mencoba bertanya pada Uta seolah
melanjutkan topik tadi.
"Sebenarnya
gimana?"
"Yah,
kayaknya jadi manajer memang mustahil bagiku!"
"Ah—sudah
kuduga?"
"Jangan
bilang 'sudah kuduga' dong! Kalau berjuang pasti bisa kok, kalau
berjuang!"
"Ahaha,
sebaliknya, Reita-kun sepertinya ahli dalam hal-hal seperti itu," sahut
Miori.
"Aku?
Yah, aku kan memperhatikan seluk-beluk perasaan orang dengan baik. Tidak
seperti Uta."
"Bisa
nggak berhenti mengejekku terus-menerus!?"
Melihat
reaksi berlebihan Uta yang seperti komedi panggung, Miori tertawa kecil.
"Ahaha,
kalian berdua lucu sekali.......Namamu Reita-kun ya?"
"Hm,
iya. Maaf perkenalannya terlambat. Aku Shiratori Reita, salam kenal."
"Aku
Miori! Boleh panggil Reita-kun kan? —Omong-omong, kamu ganteng banget ya!"
......Hmm?
Entah kenapa cara Miori memperpendek jarak terasa sangat agresif.
"Terima
kasih, aku boleh panggil Miori-chan juga? Atau kamu tidak suka dipanggil pakai
'-chan'?"
"Aku
nggak keberatan, tapi panggil nama saja juga boleh kok—"
Hanya
menyebutkan nama tanpa nama keluarga, jangan-jangan supaya dipanggil dengan
nama kecilnya...?
Lagipula
jarak fisiknya dengan Reita dekat sekali. Jelas sekali dia tertarik pada Reita.
Yah,
laki-laki setampan Reita memang jarang ditemukan meski sudah mencari ke seluruh
sekolah. Berbeda dengan Tatsuya yang punya kesan sangar, Reita adalah tipe
tampan murni yang disukai semua orang. Dia tipe yang cocok jadi center
di grup idola.
Sambil
melirik Reita dan Miori yang sedang asyik mengobrol, aku mengamati sekeliling. Hoshimiya
dan Nanase sedang berbincang dengan tiga siswi yang sepertinya teman sekelompok
Miori. Pembicaraan mereka mengalir alami tanpa jeda—namun, tiba-tiba seorang
siswi berambut pirang bergaya gyaru memanggil Miori.
"Miori,
ayo berangkat sekarang?"
"Ah,
benar juga! Oke. Kalau begitu Reita-kun, Sakura-san, sampai nanti!"
Miori
berlari kecil hendak kembali ke ketiga temannya—tapi di tengah jalan, seolah
baru teringat sesuatu, dia malah berlari ke arahku.
"Masih
ada urusan?"
Saat
aku mengernyitkan dahi, dia berbisik tepat di telingaku.
"......High
School Debut-mu sukses besar, kan?"
"Biarkan
aku sendiri."
"Hmm,
sepertinya aku nggak bisa begitu saja. Aku naksir Reita-kun, jadi bantu aku
ya?"
"Eh......"
Saat
wajahku mengerut karena merasa direpotkan, Miori tersenyum manis.
"Sebagai
gantinya, kalau ada apa-apa aku akan membantumu kok."
Setelah
bicara sepihak, Miori pun pergi bersama ketiga siswi tadi. Aku bahkan belum
mengiyakan atau menolaknya...... tapi dia sepertinya menganggap aku sudah
menerima tawarannya.
"Ternyata
kalian benar-benar akrab ya?"
"Dia
memang tipe yang bisa akrab dengan siapa saja kok."
"Hmm......
kalau begitu dia mirip denganku ya. Tadi terakhir kalian bicara apa?"
—Tentu
saja aku tidak bisa bilang kalau kami membicarakanmu.
Aku
juga tidak mau menyinggung soal High School Debut dan semacamnya.
Habisnya malu, tahu.
"Bukan
hal penting. Cuma soal masa SMP," aku berbohong seadanya sambil mengangkat
bahu. Reita hanya tersenyum sambil bergumam "Begitu ya."
Selagi
kami mengobrol, tanpa sadar Tatsuya sudah bergabung dalam latihan basket.
Melihat
Tatsuya yang terengah-engah digembleng oleh seniornya, kami semua tertawa
bersama.
Untuk
saat ini, aku merasa sudah berhasil melebur ke dalam lingkaran pertemanan ini
tanpa masalah...... setidaknya menurut penilaianku sendiri.
—Kata-kata
Miori bahwa "High School Debut-mu sukses besar" terngiang di
benakku.
Jika
di mata Miori saja terlihat seperti itu, setidaknya untuk saat ini aku boleh
merasa bahwa semuanya berjalan lancar, kan?
Namun,
masalahnya dimulai dari sini. Aku baru saja berdiri di garis start. Tindak-tandukku
mulai sekaranglah yang akan menentukan warna dari masa mudaku yang kedua ini.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.