Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game V1 Chapter 2

N-Chan
0

Chapter 2

Hari-hari Bagai Mimpi


——Sekitar satu minggu telah berlalu sejak upacara masuk sekolah.

 

Pertengahan April. Hari Jumat di akhir pekan. Waktu di mana aku mulai sedikit terbiasa dengan kehidupan sekolah.

 

Sebenarnya bagi aku yang menjalani hidup untuk kedua kalinya, tidak perlu waktu untuk membiasakan diri—aku ingin berkata begitu, tapi ternyata banyak hal yang terlupakan di luar dugaan, sehingga aku menjalani hari-hari yang terasa segar.

 

Suara datar guru matematika bergema di dalam kelas yang hening. Angin musim semi yang tenang berembus masuk melalui jendela, terasa sangat nyaman. Saat aku melirik sekeliling kelas, jumlah murid yang terkantuk-kantuk mulai bertambah.

 

Jam pelajaran keenam. Karena ini pelajaran terakhir hari ini, sepertinya semua orang sudah kelelahan.

 

"——Soal ini jadi pekerjaan rumah. Hari ini cukup sampai di sini."

 

Tepat saat guru matematika bicara sambil melihat jam, lonceng tanda berakhirnya pelajaran berbunyi.

 

"Akhirnya selesaaai!"

 

Uta, yang duduk di depanku, berseru sambil meregangkan tubuhnya lebar-lebar.

 

"Kamu semangat sekali ya, Uta."

 

Saat aku bicara sambil menguap, Uta menopangkan sikutnya di atas mejaku dan berkata:

 

"Habisnya, besok kan hari libur? Akhirnya! Yang dinanti-nanti! Aku sudah muak disuruh belajar terus setiap hari! Dengan begini aku bisa fokus ke klub—!"

 

Uta yang sedang kegirangan itu sudah resmi masuk ke klub basket putri pada hari orientasi lalu.

 

"Lalu, hari Senin besok hari-hari penuh belajar akan dimulai lagi," gumam Reita yang duduk di belakangku sambil merapikan buku pelajarannya. Lidah tajamnya itu sukses membuat Uta memegangi kepalanya.

 

"——Lagipula, kamu nggak bakal bisa latihan klub, kan?"

 

Tatsuya, yang datang dari kursinya yang agak jauh, mengernyitkan dahi dengan heran.

 

Uta memasang ekspresi bingung.

 

"Eh, maksudnya gimana?"

 

"Bukannya sudah dibilang kalau besok dan lusa ada perbaikan aula olahraga, jadi semua kegiatan klub di sana ditiadakan?"

 

"Wali kelas juga bilang begitu saat homeroom tadi."

 

"O-oh iya, benar juga—!? Tapi hari ini masih bisa latihan, jadi nggak apa-apa!"

 

Baru saja memegangi kepala karena frustrasi, Uta langsung melakukan fist pump. Gerak-geriknya benar-benar berisik.

 

"Tapi kalau begitu, hari Sabtu dan Minggu jadi luang banget ya. Enaknya ngapain ya?"

 

"——Kalau begitu Uta-chan, ayo kita pergi main ke suatu tempat."

 

Tanpa kusadari, Hoshimiya sudah ada di dekat kami dan mengajak Uta dengan senyuman yang manis.

 

"Eh, serius!? Ayo, ayo! Asyik, kencan bareng Hikarin!"

 

"Kalau gitu, gimana kalau kita main bareng-bareng saja? Aku juga lagi senggang nih."

 

"Eeeh, Tatsu nggak usah ikut deh. Kamu mau mengganggu kencanku sama Hikarin ya?"

 

"Sudah-sudah, Uta-chan. Mumpung ada kesempatan, pasti lebih seru kalau kita main bareng-bareng."

 

"Kalau Hikari pergi, aku juga ikut. Hari Sabtuku kosong."

 

Ucap Nanase yang mendekat dengan wajah tenang. Tangannya mengelus kepala Hoshimiya. Selama seminggu ini aku mulai paham kalau Nanase memang sangat memanjakan Hoshimiya.

 

Tatapan Hoshimiya beralih padaku. Sesaat aku bingung, tapi aku segera sadar kalau dia ingin tahu jadwal luangku.

 

"Aku juga senggang kok. Karena nggak ikut klub, Sabtu-Minggu aku luang banget."

 

Ah, bahaya. Alam bawah sadarku yang terbiasa tidak pernah diajak orang lain hampir saja menghambatku untuk masuk ke percakapan ini... Kenapa nilai-nilai masa lalu masih saja mengganggu diriku yang sekarang!


"......Kalau begitu, tinggal Reita-kun ya?"

 

Mendengar pertanyaan Hoshimiya, Reita melipat tangan dengan wajah serius.

 

"Sepertinya aku baru bisa kalau Sabtu siang. Aku masih ada latihan klub seperti biasa."

 

Perbaikan aula olahraga hanya meliburkan klub yang kegiatannya di dalam gedung. Tentu saja Reita yang anak sepak bola tidak termasuk di dalamnya.

 

"Omong-omong, Hoshimiya nggak ada kegiatan klub? Kamu akhirnya masuk klub sastra, kan?"

 

Hoshimiya mengangguk menjawab pertanyaan Tatsuya.

 

"Sudah masuk, tapi kegiatannya cuma dua kali seminggu di hari biasa. Jadi hari libur aku bebas kapan saja... Tapi kalau terlalu banyak main, nanti Ibu dan Yuino-chan bisa marah, jadi ya secukupnya saja."

 

"Hikari itu kalau dibiarkan bakal langsung anjlok nilainya, jadi harus terus diawasi."

 

Ucap Nanase sambil mendengus dan melipat tangan. Uta tertawa lebar melihat tingkah Nanase.

 

"Ahahaha! Rasanya seperti ada dua orang ibu di sini!"

 

"......Setidaknya panggillah aku 'kakak', ya?"

 

Nanase mengerucutkan bibirnya.

 

Di balik pembawaan dan nada bicaranya yang dewasa, ternyata dia bisa bertingkah kekanak-kanakan juga. Itu manis.


"——Nah, soal detailnya kita bicarakan nanti saja. Kita harus segera piket bersih-bersih kalau tidak mau kena masalah."

 

Setelah jam keenam adalah waktu piket. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan area bersih-bersih yang sudah ditentukan.

 

Selagi kami asyik mengobrol, teman sekelas yang lain sudah mulai bergerak. Tidak ada anak nakal di sini, jadi tidak ada yang mencoba melempar tugas piket ke orang lain. Atas instruksi Reita, perkumpulan kami pun bubar untuk sementara.

 

 

Sore itu sepulang sekolah. Di saat semua orang menghilang menuju klub masing-masing, diam-diam aku merasa sangat tegang.

 

——Hari ini, aku berniat mengajak Hoshimiya pulang bareng.

 

Ini bukan kencan. Hanya sekadar ajakan untuk pulang bersama. Bagi aku yang menyandang gelar Inkya terkuat, berbicara dengan lawan jenis saja sudah terasa seperti dunia mau kiamat, tapi bagi orang populer ini adalah hal biasa.

 

Kenapa harus hari ini? Ada beberapa alasan.

 

Pertama, sudah sekitar seminggu sejak upacara masuk sekolah, dan hubungan kami sudah lumayan akrab. Awalnya aku hanya sanggup ikut dalam percakapan grup, tapi sekarang aku sudah bisa mengobrol normal meski hanya berdua atau bertiga. Ini berlaku untuk semuanya, bukan cuma Hoshimiya.

 

Kedua, karena besok kami berencana main bareng, jadi ada topik pembicaraan yang sama. Meski ini kebetulan, tapi ini kesempatan bagus untuk memperluas obrolan.


Ketiga adalah soal waktu. Hoshimiya bergabung dengan klub sastra, dan di hari Selasa serta Kamis dia ada kegiatan klub, sehingga waktunya tidak pas denganku yang anak rumahan. Kalau aku sengaja menunggunya, itu malah akan terlihat menyeramkan.

 

Lalu pada hari Senin dan Rabu, dia biasanya pulang bersama Nanase. Bukannya tidak bisa kalau aku ikut bergabung, tapi masuk di antara dua orang sahabat dari SMP yang sama (apalagi sesama perempuan) rasanya punya rintangan yang terlalu tinggi.

 

Tapi di hari Jumat, Hoshimiya tidak ada kegiatan klub, dan karena Nanase punya jadwal kursus di dekat sekolah, mereka berdua tidak pulang bersama. Dalam seminggu ini, aku sudah menganalisis sampai sejauh itu. Jangan panggil aku mesum ya. Demi mendapatkan masa muda yang berwarna pelangi, aku rela menjadi Inkya yang paling niat. Itulah harga diriku.

 

"—Eh, Hoshimiya, hari ini pulang sendirian?"

 

Aku menyapa Hoshimiya yang sedang berjalan di koridor dari belakang. Seolah-olah aku tidak tahu apa-apa. Hoshimiya menoleh dan saat menemukanku, dia tersenyum lembut. Manis sekali. Bukan cuma aku, murid-murid lain yang berlalu-lalang di koridor pun tampak terpesona oleh kecantikannya.

 

"Iya nih—. Soalnya Yuino-chan ada urusan."

 

"Oh, kalau begitu ayo pulang bareng. Seingatku kamu juga naik kereta, kan?"

 

Meski aku merasa sangat gugup, aku berusaha sekuat tenaga menahannya agar tidak terlihat di wajah. Apakah aku sudah mengajaknya dengan nada yang cukup santai?

 

"Iya, boleh! Aku naik jalur Ryoumei sampai Takasaki. Kalau Natsuki-kun?"

 

Hoshimiya mengangguk sambil tersenyum, membuatku merasa lega dari lubuk hati yang paling dalam.

 

"Sampai Takasaki kita searah kalau begitu. Aku dari sana ganti jalur Takasaki, agak lebih jauh sedikit sih."

 

"Kamu kan lulusan SMP Mizumi ya—. Jauh banget, kelihatannya melelahkan."

 

"Setelah seminggu, aku sudah mulai terbiasa kok. Lagipula cuma sekitar satu jam."

 

"Ah, kalau begitu ternyata waktu tempuh kita hampir sama. Soalnya setelah turun di Takasaki, aku masih harus jalan kaki cukup jauh sampai rumah. Aku lagi terpikir mau naik sepeda saja sampai stasiun."

 

Dari topik yang ringan, obrolan pun mengalir dengan lancar. Saat aku dan Hoshimiya berjalan berdampingan seperti itu, kami benar-benar menarik perhatian orang-orang di sekitar.

 

Apakah Hoshimiya setiap hari selalu dikerumuni tatapan seperti ini...? Rasanya agak tidak nyaman ya. Apa ini semacam efek samping karena dia terlalu cantik? Atau karena dia sedang bersama lawan jenis—yaitu aku—makanya jadi pusat perhatian? Kalau dipikir-pikir begitu, rasanya banyak tatapan iri yang tajam tertuju padaku.

 

Fuhahaha! Rasanya kalian para Inkya! Kalian tidak akan bisa pulang bareng Hoshimiya seperti ini! Sungguh rasa superioritas yang luar biasa! Inikah yang dinamakan masa muda berwarna pelangi...?

 

"Hari ini kok rasanya banyak yang memperhatikan kita, ya?"

 

Di saat aku sedang merasa sangat bangga, Hoshimiya bergumam dengan wajah yang tampak agak kurang nyaman.

 

"Benar juga. Memang beda ya kalau ada Hoshimiya. Memang pantas disebut gadis tercantik di sekolah."

 

"Jangan telan mentah-mentah ucapan Yuino-chan dong! Lagipula, harusnya aku yang bilang begitu, kan?"

 

"......Maksudnya?"

 

Aku mengernyitkan dahi karena heran. Aku benar-benar tidak bisa menangkap maksud kata-katanya.

 

"Aku tidak pernah diperhatikan sampai segitunya kalau cuma sendirian. Aku kan bukan idola. Yang diperhatikan itu bukan cuma aku, tapi Natsuki-kun juga."

 

"Aku? Diperhatikan?"

 

......Tidak, tidak, mana mungkin. Memang benar aku sudah berusaha mengubah penampilan dengan angkat beban dan sebagainya, tapi pada akhirnya aku tetaplah aku.

 

"Mungkin karena aku sedang bersamamu, makanya mereka membicarakanku yang jelek-jelek ya?"

 

"Ah—apa Natsuki-kun ini tipe orang yang nggak peka ya?"

 

"???"

 

"......Begitu ya. Hmm, aku mulai paham tentang dirimu sedikit demi sedikit."

 

Gawat. Aku tidak bisa mengikuti arah pembicaraannya.

Tapi karena Hoshimiya tampak senang, jadi tidak apa-apa kan? Aku tahu dia sedang membicarakan diriku, tapi aku benar-benar tidak paham apa maksudnya.

 

"Aku tidak terlalu mengerti, tapi saat aku sendirian, aku tidak pernah menarik perhatian sama sekali kok."

 

Yah, sesekali ada siswi yang berbisik-bisik sih. Meskipun aku ini cuma Inkya yang entah kenapa bisa menyelinap masuk ke grup orang populer, aku harap mereka tidak membicarakan hal buruk di belakangku...

 

"Ternyata benar-benar tidak peka ya......"

 

"Tidak peka? Tidak, tidak, jarang ada orang yang se-sensitif aku, tahu."

 

Bahkan aku pernah berpikir kalau teman sebangkuku menyukaiku hanya karena dia mengambilkan penghapusku yang jatuh. Belakangan aku tahu kalau gadis itu ternyata sudah punya pacar mahasiswa.

 

......Sepertinya cerita ini tidak membuktikan kalau aku sensitif ya. Itu cuma salah paham saja.

 

"Fufu, ya sudah, untuk hari ini kita anggap saja begitu."

 

Hoshimiya tersenyum padaku. Wajahnya itu membuat jantungku berdebar kencang, sampai-sampai aku tidak bisa memikirkan balasan yang bagus.

 

"Besok kita bagaimana? Yang lain sudah pergi ke klub, jadi belum ada rencana yang pasti, kan?"

 

Pengalihan topik. Karena itu adalah topik yang juga ingin kubicarakan, aku sudah menyiapkan jawabannya.


"Bagaimana kalau nanti malam kita obrolkan di RINE?"

 

"Tapi, kita belum buat grup RINE, kan?"

 

"—Ah, benar juga. Aku kira sudah ada yang buat."

 

Aku bicara begitu, padahal sebenarnya aku cuma tidak terpikir soal grup RINE. Lagipula aku sudah terkenal (?) karena tidak pernah diundang bahkan ke grup kelas...

 

"Aku juga baru ingat," Hoshimiya tertawa kecil.

 

Sambil mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, dia berkata, "Kalau begitu, ayo kita buat sekarang. Grup chat untuk kita berenam."

 

Begitulah, Hoshimiya mulai mengoperasikan ponselnya. Untuk pendaftaran teman di RINE sendiri sudah kami lakukan saat hari upacara masuk sekolah, jadi setelah ini tinggal buat grup dan mengundang yang lain...... kurasa. Aku tidak tahu karena belum pernah membuatnya.

 

"Nama grupnya apa ya?"

 

"Hmm, apa saja boleh kok."

 

"Benar-benar apa saja boleh sih sampai aku bingung sendiri. Natsuki-kun saja yang tentukan."

 

"Kalau begitu, 'Hoshimiya Fan Club' saja."

 

"Nggak aneh apa kalau aku sendiri yang buat grup dengan nama begitu?"

 

"Benar juga."

 

Mata kami bertemu, lalu kami tertawa bersama.

 

"Kalau begitu, kubuat jadi 'Natsuki-kun Fan Club' saja ya—"

 

"Mana mungkin aku punya penggemar......"

 

"......Hmm. Ya sudah, kubuat jadi 'Natsuki-kun Family' saja."

 

"Oi."

 

Meskipun aku mencoba menolaknya, Hoshimiya tetap membuatnya. Saat aku membuka ponselku, memang benar ada undangan masuk, jadi aku bergabung dengan patuh.

 

'Natsuki-kun yang bergabung ke Natsuki-kun Family', apa-apaan ini coba.

 

"Undangannya sudah masuk?"

 

"Iya, aku sudah gabung."

 

"Ah, benar. Yuino-chan juga sudah masuk. Yang lain masih ada kegiatan klub, mungkin belum sadar ya?"

 

"Begitulah."

 

Ini adalah grup pertamaku yang patut dirayakan (?). Semua orang di daftar kontakku yang sedikit (tujuh orang) telah diundang, kecuali dua orang. Sebagai catatan, dua orang sisanya adalah Ibu dan adik perempuanku. Mereka bahkan bukan teman.

 

"Natsuki-kun, hadap sini."

 

Mendengar kata-kata Hoshimiya, aku mengangkat wajah, dan pada saat itu juga terdengar suara cekrek!

"Ehehe, kena foto!"

 

"Buat apa kamu memfotoku?"

 

"Tentu saja untuk foto profil grup—! Kan namanya 'Natsuki-kun Family'!"

 

"Eeeh, oi, oi."

 

Mulutku mengeluh, tapi karena Hoshimiya yang sedang ceria itu terlalu manis, kata-kataku jadi tidak bertenaga. Padahal aku sudah sangat berhati-hati menjaga jarak, tapi gadis ini dengan begitu mudahnya mencuri hatiku.

 

Bukannya seru kalau aku balas menjahilinya?

 

"Kalau begitu Hoshimiya, hadap sini."

 

"Hm?"

 

Aku mengaktifkan aplikasi kamera di ponsel, dan memotret Hoshimiya tepat saat dia menoleh.

 

Sip, fotonya bagus sekali. Bakal kujadikan harta karun... eh, bukan itu tujuanku. Aku segera menyetel foto wajah Hoshimiya yang baru saja kuambil sebagai foto profil 'Natsuki-kun Family'.

 

"Tu-tunggu—!? Natsuki-kun!?"

 

"Pembalasan."

 

Dengan alasan itu, aku berhasil mendapatkan foto Hoshimiya secara legal. Kalau sudah begini, mau berontak bagaimanapun, akulah pemenangnya.

 

Hoshimiya mengubahnya kembali menjadi fotoku, jadi aku membalas dengan mengubahnya lagi.

 

"Mumu," Hoshimiya melotot dengan imut. Karena sama sekali tidak menakutkan, aku malah jadi tertawa.

 

"Ah, benar juga! Kalau begitu kita ambil jalan tengah saja, pakai foto berdua!"

 

Hoshimiya berkata begitu sambil memangkas jarak di antara kami. Aroma manis yang lembut seketika menggelitik hidungku. Detak jantungku berpacu kencang dalam sekejap.

 

Belum sempat kupikirkan apa yang akan dia lakukan, di jarak yang sedekat hingga lengan kami bersentuhan—

 

"Ayo, senyum, senyum—"

 

Cekrek! Dia mengambil foto dengan ponselnya.

 

Meski disuruh senyum,aku merasa wajahku tadi terlihat cukup konyol.

 

"Nah, kalau begini tidak ada komplain lagi, kan!"

 

Ucap Hoshimiya sambil mengubah foto profil grup menjadi foto tersebut.

 

Saat aku melihatnya di RINE, itu memang benar-benar foto selfie berdua antara aku dan Hoshimiya.

 

Hoshimiya memasang senyum manis yang tampak terbiasa difoto, sedangkan aku memasang senyum kaku dengan wajah yang memerah.

 

Hoshimiya menghentikan langkahnya, memandangi grup chat yang sudah berubah gambarnya itu.


"......Nu, nng, Hoshimiya."

 

"A, apa!?"

 

"......Ini, bukannya memalukan sekali ya?"

 

Mungkin aku saja yang terlalu percaya diri, tapi foto ini terlihat seperti sedang memamerkan kemesraan kami kepada yang lain.

 

"......Soalnya, undangan grupnya kan bakal terkirim ke semua orang dengan foto profil ini, kan?"

 

"......I-iya ya. Memalukan sekali! Kita ganti saja yuk!"

 

Hoshimiya sepertinya baru sadar dan wajahnya mulai memerah.

 

Aku mulai paham sedikit demi sedikit tentang Hoshimiya. Dia tipe orang yang bertindak mengikuti suasana lalu menyesal kemudian.

 

Setelah kembali tenang, kami memotret deretan pohon sakura di jalan menuju stasiun yang tampak aman, lalu mengubahnya. Karena belum ada yang bergabung selain Nanase, kupikir kami sudah aman—tapi itu hanya sesaat.

 

Nanase Yuino: Bisa jangan bermesraan di RINE?

 

Sepertinya Nanase melihat seluruh kejadian tadi, dia langsung mengirim pesan ke grup. Aku sebenarnya cukup senang dianggap bermesraan dengan Hoshimiya, tapi Hoshimiya murni merasa malu.

 

Hoshimiya Hikari: Nggak bermesraan tahu!

 

Nanase Yuino: Tapi, siapa pun yang melihatnya pasti mikir kalian lagi bermesraan...

 

Natsuki: Kalau soal ini, bukan salahku.

 

Hoshimiya Hikari: Kamu mau bilang ini salahku!?

 

Natsuki: Ya iya dong.

 

Nanase Yuino: Kalian kan lagi bareng, bisa nggak jangan berantem lewat RINE segala?

 

Natsuki: Bener banget.

 

Hoshimiya Hikari: Pokoknya, tadi itu bukan lagi bermesraan ya!

 

Nanase Yuino: Iya, iya.

 

Ditolak mentah-mentah begitu membuatku sedikit terluka. Meski tidak kuucapkan.

 

"Duh, Yuino-chan ada-ada saja..."

 

Hoshimiya yang kulit putihnya merona merah itu mengipasi wajahnya dengan tangan.

 

Sambil melirik Hoshimiya, aku diam-diam memandangi foto selfie berdua yang sudah kusimpan tadi. Bakal kujadikan harta karun keluarga.

 

"Yah, Nanase juga tidak serius mengatakannya kok."

 

Selagi kami melakukan obrolan tidak penting seperti itu, tanpa sadar kami sudah sampai di stasiun. Tapi, obrolan tidak penting seperti inilah yang sebenarnya kuinginkan. Dunia di mana aku berjalan bersama semua orang—bersama Hoshimiya—terlihat begitu penuh warna pelangi. Berbeda dengan dunia abu-abu di masa lalu. Aku baru benar-benar merasakannya belakangan ini.


"Grupnya sudah jadi, tapi besok kita mau ngapain?"

 

"Karena Reita ada latihan klub sampai siang, mungkin kita kumpul jam satu atau jam dua siang?"

 

"Iya. Tempat kumpulnya di depan stasiun saja ya? Soalnya ada tiga orang yang naik kereta."

 

"Boleh juga. Tinggal mau ngapainnya yang jadi masalah..."

 

"Karena aku yang usul, aku merasa harus memikirkan setidaknya garis besar rencananya."

 

"Hmm, mau pergi ke mall?"

 

"Itu juga asyik, aku juga ingin beli baju baru."

 

Meski bilang begitu, Hoshimiya tampak belum terlalu sreg.

 

Aku mencoba menyebutkan beberapa hal dari pengetahuan yang kudapat di situs semacam 'Tempat Main Anak SMA' yang ada di dekat stasiun. Karena ini di Gunma, pilihannya cukup terbatas.

 

"Yang terpikir di dekat stasiun sih paling Spocha di Round One, karaoke, atau game center? Kalau ada rumah yang dekat, kumpul di sana juga bisa."

 

"Ah, Spocha bagus tuh! Aku memang lagi ingin menggerakkan badan—"

 

Spocha adalah fasilitas atraksi olahraga yang ada di taman hiburan terpadu Round One. Di sana kita bisa mencoba berbagai olahraga seperti basket, pingpong, panahan, batting cage, bulu tangkis, hingga tenis. Karena sistemnya adalah sistem masuk berdasarkan waktu, sepertinya kita bisa mencoba atraksi apa pun sebanyak yang kita mau selama masih dalam batas waktu. Yah, aku sendiri belum pernah mencobanya, jadi ini murni pengetahuan dari internet.

 

"Kamu ngomongnya kayak tante-tante yang kurang olahraga ya."

 

"Jangan panggil tante dong! Uta-chan atau Tatsuya-kun juga pasti bakal suka. Mereka bertiga kan selalu olahraga di klub, itu tandanya mereka memang suka gerak."

 

Sambil asyik mengobrol seperti itu, kami melewati gerbang tiket dan naik ke atas kereta. Mungkin karena faktor jam pulang kerja, meskipun Gunma terkenal sebagai wilayah yang sangat bergantung pada mobil, kereta tetap terasa cukup padat.

 

"Tinggal masalahnya, apakah Reita masih punya stamina buat main di Spocha setelah selesai latihan klub."

 

"Ah—yah, soal itu tinggal didiskusikan nanti saja. Ini kan baru usul."

 

Di dalam kereta yang berguncang berirama, aku melihat beberapa murid dengan seragam yang sama. Ngomong-ngomong,

 

"Hoshimiya, apa kamu jago olahraga?"

 

"Sama sekali nggak bisa. Jadi, jangan berharap banyak ya?"

 

Benar juga. Aku sudah tahu itu dari ingatanku di kehidupan sebelumnya, makanya aku sempat heran dia setuju dengan usul Spocha.

 

"Meskipun nggak jago, pasti ada kan hal yang kita suka? Makanya aku ingin mencoba."

 

Kata-kata yang diucapkan Hoshimiya dengan santai itu seolah menusuk tepat di hatiku.


"......Iya, benar juga."

 

Itu benar-benar menggambarkan perasaanku saat ini.

 

Meskipun tidak jago, tapi menyukainya.

 

Aku, bagaimanapun aku mencoba menutupinya, pada dasarnya tetaplah seorang Inkya. Aku tidak jago bersikap seperti orang populer (Youkya), dan itu melelahkan mental. Tapi, hubungan manusia yang didapat dari perilaku seperti itu terasa begitu berarti dan menyenangkan. Dunia yang dulu abu-abu saat aku sendirian, kini terlihat penuh warna pelangi.

 

Itulah sebabnya aku menyukainya.

 

Karena aku menyukainya, makanya aku melakukan ini sekarang. Meskipun aku tidak jago, meskipun mungkin ini tidak pantas untukku.

 

"—Terima kasih ya, Hoshimiya."

 

Aku merasa Hoshimiya seolah memberikan validasi atas sisi diriku yang "pincang" itu.

 

"Hm? Kamu bilang sesuatu?"

 

"......Nggak, cuma merasa kalau sebentar lagi sampai Takasaki."

 

Seiring dengan kata-kataku, kereta melambat dan berhenti, lalu pintunya terbuka.

 

"Ah, sudah sampai ya. Kalau begitu Natsuki-kun, sampai besok!"

 

"Iya, sampai besok."

 

Hoshimiya melambaikan tangannya padaku sebagai salam perpisahan.


Sambil meresapi kebahagiaan itu, aku mengantar kepergian Hoshimiya dengan pandanganku.

 

 

"......Umm."

 

Setelah sampai di rumah, aku memasang wajah serius.

 

Sejujurnya aku sedang bimbang. Bimbang yang cukup serius.

 

——Besok, aku harus pakai baju apa?

 

Ya, saat sekolah aku bisa bersembunyi di balik seragam, tapi kalau main di hari libur tentu saja harus pakai baju biasa. Tapi, aku tidak ingin membuat mereka ilfil karena memakai kaos norak dan celana kumal sisa zaman SMP.

 

"......Apa aku beli baju saja ya?"

 

Bukannya sombong, tapi aku memang tidak punya selera fashion. Meskipun begitu, aku sudah melewati masa empat tahun kuliah dengan baju biasa. Dari pengalaman itu, setidaknya aku tahu gaya berpakaian yang "aman". Yah, meskipun aku cuma memakai baju yang persis seperti yang direkomendasikan YouTuber fashion sih.

 

Masalahnya, ini adalah dunia tujuh tahun yang lalu. Meskipun menurutku baju itu tidak buruk, ada kemungkinan selera tujuh tahun lalu akan membuatnya terlihat norak.

 

......Aduh, gimana ya.

 

Di saat aku sedang bimbang, ponselku berbunyi. Telepon dari nomor yang tidak terdaftar. Aku mencoba mengangkatnya.

 

"Halo?"

 

Ah, Natsuki? Ini aku.

 

"......Miori? Tumben banget. Lagipula dari mana kamu tahu nomorku?"

 

Aku cuma tanya Namika-chan kok.

 

"Oh iya, aku lupa kalau kamu akrab sama adikku......"

 

Itu informasi yang benar-benar terlupakan. Memang benar Namika dan Miori sering berhubungan di kehidupanku yang sebelumnya juga.

 

"Sampai bela-belain tanya nomorku segala, ada urusan apa?"

 

Aku cuma mau mengumpulkan informasi sedikit. Tentang Reita-kun-ku.

 

"Sejak kapan dia jadi milikmu......"

 

Nggak usah bahas detailnya deh, kamu bisa keluar sebentar nggak?

 

"Nggak bisa lewat telepon saja?"

 

Lewat telepon juga bisa sih, tapi karena rumah kita dekat, lebih cepat bicara langsung kan.

 

Benar juga, pikirku sambil menyetujui dan keluar rumah. Aku hanya memakai baju olahraga, tapi karena lawannya Miori, rasanya ini cukup. Lagipula, saat ini memang cuma baju olahraga ini yang paling layak kupakai.

 

"Di taman itu kan?"

 

Iya. Aku sudah sampai kok.

Sambil menelepon aku berjalan sebentar, dan segera tiba di taman terdekat. Di tengah siraman cahaya matahari terbenam, Miori tampak duduk di ayunan. Deretan pohon sakura di pinggir jalan sudah mulai berubah warna menjadi hijau.

 

"Uwa, norak banget."

 

Itulah gumaman pertama yang keluar dari mulut Miori saat dia mendongak.

 

"Baru juga ketemu langsung ngomong gitu. Mana ada baju olahraga yang keren atau norak."

 

Meskipun aku membalasnya begitu, sejujurnya aku sedikit terluka. Mentalku ini terbuat dari kaca, tahu!

 

"Masa datang buat ketemu perempuan pakai baju olahraga sih?"

 

"Aku nggak punya baju yang layak. Malah bisa dibilang ini yang paling mendingan."

 

"Kamu serius ngomong gitu?"

 

Wajah Miori tampak sangat ilfil mendengar jawabanku, tapi aku harus mengakui kalau baju biasa yang dia pakai terlihat sangat pas—meskipun gayanya santai. Dia memakai blus putih feminin dengan aksen renda dan celana jins ketat.

 

......Tapi, kalau diperhatikan lagi, anak ini memang cantik juga ya.

 

Karena terbiasa melihatnya pakai seragam, mungkin perpaduan baju biasa ini memberikan efek gap yang membuatnya terlihat manis. Mari anggap begitu saja. Padahal saat SD dulu gaya rambut dan pakaiannya mirip laki-laki (alias bocah celana pendek).

 

......Sepertinya aku harus mengandalkan seleranya. Lagipula, memberikan informasi secara cuma-cuma juga rasanya menyebalkan.

 

"Boleh saja kalau mau bahas Reita, tapi ada syaratnya."

 

"Hm? Tentu saja boleh, tapi apa kamu sudah dalam kesulitan?"

 

Miori memiringkan kepalanya sedikit. Apa perlu menambahkan kata keterangan "sudah" segala?

 

"Sebenarnya besok aku mau pergi main dengan grup itu..."

 

"Ah, aku sudah paham. Kamu tidak punya baju untuk dipakai, kan?"

 

Aku mengangguk lesu di depan wajah Miori yang tampak jengah.

 

"Seleraku tidak bisa diandalkan. Jadi, tolong bantu aku."

 

"Kalau buat besok, berarti harus hari ini ya. Karena mendadak, paling kita cuma bisa pilih di Unishiro dekat sini. Berarti, aku cuma bisa bantu kalau kamu mau gaya yang 'aman' saja."

 

"Gaya aman juga tidak apa-apa. Malah aku lebih suka yang aman-aman saja."

 

"Hmm. Ya sudah, ayo berangkat sekarang. Aku juga tidak mau pulang kemalaman."

 

Aku mulai berjalan berdampingan dengan Miori. Unishiro terdekat ada di depan stasiun, jadi kalau jalan kaki dari sini mungkin sekitar sepuluh menit.

 

Kira-kira dia akan langsung menanyakan soal Reita, tapi ternyata Miori sibuk berbalas pesan RINE dengan seseorang lewat ponselnya. Selama itu, kami melangkah tanpa ada percakapan khusus.


Miori memperlakukanku sama seperti dulu, tapi aku kesulitan menentukan jarak kedekatan kami. Miori yang dulu seperti pemimpin geng bocah, sekarang sudah benar-benar menjadi seorang gadis. Lagipula, kekosongan selama tiga tahun masa SMP itu terasa sangat besar.

 

Setidaknya, cukup besar untuk membuat keheningan di antara kami berdua terasa canggung—sesuatu yang dulu tidak pernah kupedulikan.

 

"Kita tidak bisa langsung kembali seperti dulu lagi ya," gumam Miori, seolah bisa membaca isi hatiku.

 

Aku terkejut dan mendongak, ternyata Miori sudah sejak tadi menatap wajahku dengan lekat.

 

"Tepat sasaran ya? Kamu dari dulu memang gampang ditebak."

 

"......Kalau lawannya kamu, aku jadi lengah."

 

Tanpa sadar aku tadi tenggelam dalam lautan pikiran. Saat bersama Tatsuya dan yang lain, aku selalu berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan seperti itu. Soalnya kalau cuma diam saja, aku akan terlihat menyebalkan. Tapi di depan Miori yang tahu masa laluku, aku tidak merasa perlu untuk jaga gengsi.

 

"Gimana? Progres High School Debut-mu?"

 

"Jangan meringkas kerja keras penuh air mataku dengan istilah singkat 'High School Debut' dong."

 

Yah, meski itu memang istilah yang paling tepat sih.

 

"Siapa sangka Natsuki yang itu bisa masuk grup dengan orang-orang berkilau seperti mereka—"

 

"......Aku tahu kok kalau aku tidak pantas di sana."

 

Saat aku mengerucutkan bibir, Miori menggelengkan kepalanya pelan.

 

"Tidak juga kok. Natsuki yang sekarang juga terlihat berkilau dengan caranya sendiri."

 

"............O, oh......"

 

Jangan memujiku tiba-tiba begitu, aku jadi salah tingkah tahu.

 

"Uwa, reaksi itu menjijikkan. Sekarang kamu sama sekali tidak berkilau."

 

"Berisik. Aku cuma tidak terbiasa dipuji."

 

Aku membuang muka, sementara Miori tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Tanpa kusadari, gerak-geriknya pun sudah sangat feminin. Sepertinya tiga tahun memang cukup untuk mengubah seseorang.

 

"Yah, melihatmu menjadi 'berkilau' itu sendiri sebenarnya lucu bagiku."

 

"......Makanya, aku tidak mau satu SMA dengan orang dari SMP yang sama."

 

"Begitukah? Bukannya kalau tidak ada orang yang tahu dirimu yang sebenarnya di dekatmu, malah akan terasa menyesakkan?"

 

Aku terdiam mendengar gumaman Miori yang diucapkan sambil menatap langit senja. Aku belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Tapi, mungkin itu ada benarnya.

 

"Orang yang bisa kamu andalkan apa adanya cuma aku, kan?"

 

Kata-katanya yang penuh percaya diri itu memang menyebalkan, tapi karena faktanya aku sedang minta tolong padanya untuk memilihkan baju, aku tidak punya kata-kata untuk membalas. Memang benar, sepertinya aku hanya bisa meminta tolong pada Miori.

 

"Karena itu, bagimu pun, aku adalah rekan kerja sama yang pas."

 

Miori berputar dan berdiri tepat di depanku.

 

"......Rekan kerja sama?"

 

"Kan sudah kubilang sebelumnya. Aku ingin tahu tentang Reita-kun dan ingin akrab dengannya. Jadi bantu aku. Akan lebih mudah kalau kamu yang satu grup dengannya mau bekerja sama."

 

Miori mengulurkan tangannya padaku. Sepertinya dengan menjabat tangan ini, aliansi kami akan terbentuk.

 

"Sebagai gantinya, kamu akan membantuku kalau aku ada masalah?"

 

"Tentu saja. Aku akan menyukseskan rencana High School Debut-mu dan menjadikanmu orang populer terkuat!"

 

"Aku tidak berniat jadi orang populer terkuat juga sih......"

 

Aku hanya ingin menjalani masa muda yang bisa kuterima sendiri. Spesifiknya, mengubah warna masa muda yang dulu abu-abu menjadi pelangi. Itulah alasanku mengulang kembali hidupku sekarang.

 

Tujuanku menjadi populer adalah agar bisa berteman dengan Tatsuya, bisa pacaran dengan Hoshimiya, dan punya teman akrab agar bisa menghabiskan hari dengan menyenangkan seperti sekarang.

 

Aku menceritakan hal semacam itu kepada Miori, tentu saja tanpa menyinggung soal kembali ke masa lalu.


"—Dengar ya, intinya mengincar High School Debut itu cuma sarana, bukan tujuan."

 

"Humu humu...... intinya kamu ingin punya pacar, kan?"

 

"Kamu dengerin nggak sih?"

 

"Tujuan High School Debut itu rata-rata ya buat cari pacar. Iya, iya, aku paham. Aku juga ingin punya pacar tampan soalnya......Ingin punya pacar tampan, ingin banget."

 

"Bisa berhenti menyuarakan ambisi yang terlalu realistis itu tidak?"

 

Citra suciku terhadap siswi SMA jadi hancur berantakan.

 

"Pokoknya, kalau kamu membantuku, aku juga akan membantumu cari pacar. Pasti salah satu dari tiga gadis itu, kan? Mereka semua cantik sih."

 

Ditanya begitu, karena memang kenyataannya begitu, aku jadi sulit menjawab.

 

"—Da-daripada itu, kamu ingin dengar soal Reita, kan?"

 

Saat aku mengalihkan pembicaraan dengan terang-terangan, Miori bergumam "Kabur ya......" dengan wajah tidak puas, lalu:

 

"Iya. Dengan kamu membahas itu, berarti aliansi kita sepakat ya?"

 

"......Yah, lagipula tidak ada ruginya juga buatku, jadi oke."

 

Sebenarnya, aku merasa terbantu karena bisa meminta bantuan Miori. Tapi aku tidak akan mengatakannya karena dia pasti akan besar kepala.

 

"Kalau begitu, pertama-tama aku ingin tahu apa saja hal yang disukai Reita-kun—"

 

Setelah itu, Miori yang tiba-tiba bersemangat terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan sampai tanpa sadar kami tiba di Unishiro. Rasanya semua yang kuketahui sudah dikuras habis olehnya.

 

"Yah, sudah kuduga sih, informasinya cuma sebatas ini ya—"

 

Miori berkata sambil menghela napas panjang.

 

"Habisnya, sekolah baru saja mulai. Aku baru tahu hal-hal yang di permukaan saja."

 

"Hm. Kalau begitu, aku akan menaruh harapan untuk ke depannya ya."

 

"......Ngomong-ngomong, apa kamu sesuka itu pada Reita?"

 

"Hm? Aku memang penasaran, tapi belum sampai tahap suka kok. Aku cuma hobi mengumpulkan informasi laki-laki tampan saja. Laki-laki berwajah indah itu nggak bakal membosankan buat dipandang, jadi mereka itu asupan terbaik..."

 

Fufufufufu—Miori bergumam sambil memasang senyum yang mencurigakan.

 

Gadis SMA zaman sekarang agresif banget ya, menakutkan...

 

 

Begitulah, aku dan Miori akhirnya memilih baju yang terlihat "aman" di Unishiro terdekat. Alasan kenapa harus Unishiro, selain karena masalah waktu karena besok sudah harus dipakai, alasan utamanya adalah aku tidak punya uang untuk beli baju mahal. Bagi anak SMA, harga baju itu memang terasa berat di kantong.


"...Sepertinya aku harus kerja sambilan," gumamku sambil menatap kemeja seharga beberapa ribu yen.

 

"Kamu nggak punya uang sama sekali?"

 

"Bukannya nggak punya uang sama sekali, tapi kalau buat beli baju begini ya langsung ludes."

 

"Yah, benar juga sih—"

 

Aku memang dapat uang saku bulanan, tapi jujur saja sulit dikatakan cukup. Lagipula aku tidak ikut klub, jadi aku punya banyak waktu luang saat yang lain sedang latihan. Kerja sambilan sepertinya pilihan yang masuk akal.

 

"Nah, enaknya pakai yang mana ya?"

 

Miori memandangi tubuhku dari atas ke bawah, menopang dagu dengan wajah serius.

 

"Hmm, postur tubuhmu bagus, jadi kurasa gaya simpel bakal lebih cocok. Dari dulu kamu memang tinggi, tapi aku nggak nyangka kamu bakal sekurus ini sampai punya otot segala—"

 

Tanpa aba-aba, Miori menyentuh pinggangku. Tubuhku tersentak kaget.

 

"He-hei, apa-apaan kamu...!?"

 

"Kenapa? Masa laki-laki risi disentuh begitu?"

 

Miori tertawa kecil. Biar bagaimanapun statusnya teman masa kecil, aku tidak mungkin tidak goyah kena body touch dari seorang gadis. Jam terbangku sebagai Inkya itu lebih lama dari usiaku yang sekarang, tahu!


"Nah, kalau begitu... coba ini, ini, dan... ini! Ayo ke ruang ganti!"

 

Miori memilih beberapa potong baju dengan asal, lalu mendorong punggungku menuju ruang ganti. Dia tampak sangat bersemangat. Apa karena dia perempuan, jadi dia suka memilihkan baju?

 

"Menjadikan orang lain sebagai boneka bongkar-pasang itu seru ya—"

 

"Boleh saja menjadikanku boneka, tapi tolong pilihkan yang benar ya?"

 

"Serahkan padaku. Bahan dasarnya sudah bagus kok, jadi hasilnya nggak bakal hancur-hancur amat."

 

Meskipun cemas, aku tidak punya pilihan selain menyerah pada Miori yang sedang asyik bersenandung.

 

 

"—Terima kasih. Silakan datang kembali—"

 

Saat kami melangkah keluar toko diiringi suara pelayan, hari sudah benar-benar gelap.

 

Kedua tanganku terasa berat. Karena aku memilih beberapa stel tambahan untuk stok selain untuk besok, totalnya melebihi sepuluh ribu yen. Dompet anak SMA-ku menjerit. Menyakitkan sekali, tapi ini adalah biaya investasi yang diperlukan.

 

"Ternyata beli banyak juga ya..."

 

"Haha, tapi kamu kelihatan menikmati tadi."

 

Benar kata Miori, aku cukup menikmati sesi coba baju tadi.

 

Dulu aku pikir pakai baju apa saja sama saja, tapi karena postur tubuhku sekarang sudah lebih atletis, baju apa pun jadi terlihat pantas dan itu membuatku senang. Usaha kerasku untuk diet ternyata sepadan.

 

"Jadi, besok kamu pakai ini kan?"

 

"Rencananya begitu."

 

"Semangat ya. Yah, meskipun cuma Unishiro dan nggak bakal terlihat fashionable banget, setidaknya kamu bakal terlihat rapi. Sisanya tinggal postur dan ekspresi wajah. Jangan membungkuk ya. Harus tegak!"

 

Miori memukul punggungku dengan keras. Karena badanku tinggi, aku memang sering refleks membungkuk. Aku harus berhati-hati.

 

"Lain kali kalau ada kesempatan, aku bakal luangkan waktu buat pilihin baju yang lebih keren lagi. Tapi ya harganya pasti lebih mahal. Kita main ke Shibuya atau mana gitu juga boleh!"

 

"Uangnya nggak ada.......Kerja sambilan apa ya yang bagus," gumamku pelan ke arah langit malam.

 

Meski sudah puncak musim semi, udara malam masih terasa cukup dingin.

 

"Minimarket, kafe, restoran keluarga, karaoke... toko buku juga boleh."

 

Aku memikirkan beberapa kandidat tempat kerja sambilan sambil berjalan pulang.

 

"Toko pakaian?"

 

"Nggak mungkin. Aku nggak punya selera, dan aku gugup kalau bicara dengan orang asing."

 

"Terlepas dari soal selera, bagian 'gugup' itu... inti sifat orang memang susah berubah ya—"

 

"......Kalau berubah semudah itu, aku nggak bakal susah payah begini."

 

Sambil menjawab, aku berpikir. Kalau kerja di kafe atau restoran keluarga, aku sudah punya pengalaman saat zaman kuliah dulu. Tapi daripada melakukan hal yang sama, mencoba jenis pekerjaan baru sepertinya lebih menarik.

 

......Hmm, enaknya apa ya.

 

Kerja sambilan itu punya dunia "masa muda" tersendiri. Aku harus memilihnya dengan hati-hati.

 

Sambil memikirkan itu, aku dan Miori saling mengucapkan salam perpisahan.

 

 

Keesokan harinya, jam satu siang.

 

Karena gugup, aku sudah sampai tiga puluh menit sebelumnya dan menghabiskan waktu sendirian. Teman-teman yang lain baru berkumpul sekitar sepuluh menit sebelum waktu perjanjian. Yang terakhir sampai adalah Tatsuya, dua menit sebelum jam satu.

 

"Aduh, kupikir bakal telat, bikin panik saja."

 

Tatsuya bicara sambil meminum air yang dibelinya dari mesin penjual otomatis. Dia memakai kemeja bermotif dengan warna dasar abu-abu, dipadukan dengan celana jins ketat model sobek-sobek (damaged jeans). Di lehernya melingkar kalung perak. Gaya ini mungkin akan terlihat norak jika dipakai orang lain, tapi sangat cocok bagi Tatsuya yang punya kesan berandalan di wajah dan gaya rambutnya. Dia terlihat seperti mahasiswa yang agak nakal.

 

"Kenapa janji siang hari saja bisa hampir telat?"

 

Nanase mengernyitkan dahi dengan heran. Dia memakai blus sifon dan celana wide-leg bermotif lipit. Di kepalanya tersemat baret putih kecil. Ternyata gaya baju biasanya condong ke tipe imut.

 

Bisa dibilang, ini adalah gaya berpakaian khas musim semi.

 

"Tatsu itu dari dulu tipe orang yang bakal telat meskipun dia nggak bangun kesiangan!"

 

Uta tertawa renyah. Ia mengenakan shirt-dress motif kotak-kotak berwarna gelap. Kesannya sangat kental dengan gaya vintage—perpaduan warna yang justru kontras dengan kepribadiannya, namun potongannya yang mengekspos bahu memberikan kesan dewasa dan menggoda. Meskipun Uta bertubuh pendek dan terlihat kekanak-kanakan, gaya ini membuatnya tampak dewasa secara misterius. Tapi, itu sangat cocok untuknya.

 

"Ah, aku mungkin paham maksudmu. Dia tipe yang terlalu santai menikmati waktu sampai akhirnya mepet, kan?"

 

Hoshimiya menimpali sambil tertawa. Ia mengenakan blus putih dengan celana ramping—gaya busana yang simpel dan agak androgini. Mengingat tinggi badannya yang rata-rata untuk ukuran perempuan, terlihat jelas kalau kakinya sangat jenjang.

 

"Kamu bilang begitu, tapi kamu sendiri tipe yang nggak pernah telat kan, Hoshimiya-san?"

 

Reita mengenakan kaos putih panjang yang ditumpuk dengan kaos polos berwarna krem tua, dilapisi lagi dengan kemeja open-collar krem muda, serta mengenakan skinny jeans hitam. Sepertinya gaya ini mengubah citra Reita yang tenang dan ramah menjadi lebih keren.

 

"Sebaliknya, aku malah sampai kepagian dan sempat menganggur tadi."

 

Aku, yang sedari tadi asyik mengamati pakaian biasa mereka, akhirnya ikut masuk ke percakapan. Tentu saja semuanya terlihat modis, tapi mereka tampak berkali-kali lipat lebih menawan dari biasanya, sampai-sampai tanpa sadar aku sempat terpesona.

 

Terutama para perempuan. Semuanya punya gap yang terlalu jauh dari kesan biasanya. Sepertinya mereka pun menyadari hal itu, karena ketiganya mulai asyik membicarakan outfit masing-masing.

 

Tampaknya Hoshimiya diam-diam suka gaya yang keren, Uta suka gaya yang dewasa, dan Nanase justru suka gaya yang imut. Mungkin karena hari libur mereka juga memakai make-up, karena mereka terlihat sangat bersinar.

 

"......Apa mereka bertiga sadar kalau hari ini kita mau main di Spocha?"

 

Reita mengedikkan bahu. Karena para perempuan sedang asyik mengobrol sendiri, kami para laki-laki berkumpul jadi satu.

 

"Pakaian mereka nggak kelihatan kayak mau olahraga ya. Walaupun cocok sih."

 

"Yah, kita kan nggak bakal olahraga yang berat-berat banget, jadi nggak apa-apa kan?"

 

Aku mencoba menenangkan mereka sambil tersenyum kecut, padahal aku sendiri belum pernah ke Spocha dan hanya bicara berdasarkan informasi internet. Sok tahu sekali aku ini.

 

"Benar juga. Ya sudah, ayo berangkat."

 

Tatsuya mulai melangkah, dan yang lain mengikuti di belakang sambil berbincang santai. Karena ini pertama kalinya kami main bareng di hari libur, rasanya sangat segar. Aku cukup bersemangat.

 

"......Hei Natsuki-kun, baju itu beli di mana?"

 

Hoshimiya tiba-tiba muncul di sampingku, bertanya sambil mendongak mengintip wajahku.

 

"Hm? Ini cuma Unishiro biasa kok...... apa kelihatan norak?"

 

Saat aku merasa khawatir, Hoshimiya tertawa kecil lalu menyangkalnya.

 

"Duh, Natsuki-kun negatif banget sih. Padahal aku baru mau memujimu, lho?"

 

Mendengar itu, dalam hati aku merasa lega. Sepertinya selera Miori memang benar. Kemeja yang agak oversized dipadukan dengan celana slacks hitam yang lebar. Desainnya longgar dan nyaman dipakai, dengan siluet yang bagus. Aku benar-benar harus berterima kasih pada Miori yang sudah memilihkan ini.

 

"Ho, Hoshimiya juga...... cocok kok. Baju itu kelihatan keren di kamu."

 

Karena Hoshimiya sudah memuji bajuku, seharusnya wajar saja kalau aku memuji bajunya balik. Saat mengatakannya aku sempat agak terbata, tapi syukurlah suaraku tidak gemetar.

 

"Keren ya. Bukan cantik?"


Hoshimiya bergumam dengan nada sedikit kurang puas.

 

Apa seharusnya aku bilang cantik saja? Tapi, itulah kesan jujurku.

 

"Ahaha, bercanda kok. Aku sendiri memang lebih suka gaya busana yang androgini. Kalau ada baju laki-laki yang kusuka, pasti kubeli juga. Aku senang kok kamu bilang keren."

 

Hoshimiya tertawa malu-malu. Senyum tersipunya itu benar-benar sangat manis tanpa celah. Tepat saat percakapanku dengan Hoshimiya berakhir, Tatsuya bergumam, "Sebentar lagi sampai."

 

"Di mana tempatnya? Ini pertama kalinya bagiku," ucap Nanase sambil celingukan ke sekeliling.

 

Sebenarnya aku juga baru pertama kali, lho.

 

Saat aku merasa punya kesamaan dengan Nanase, Uta menunjuk ke sebuah gedung besar di dekat sana.

 

"Tuh, di sana! Bahkan sudah kelihatan dari sini. Kami bertiga sering ke sini waktu SMP dulu."

 

"Yah, soalnya dekat dari SMP Oshima sih. Aku ingat dulu kita sempat berantem nggak jelas soal mau karaoke, Spocha, atau bowling. Hari itu jarang-jarang Reita nggak mau mengalah dan bersikeras mau bowling."

 

"Hari itu aku memang lagi ingin main bowling."

 

"Rei itu kadang-kadang bisa jadi sangat keras kepala. Kalau sudah begitu, jangan coba-coba melawannya."

 

Hoshimiya secara alami masuk ke dalam cerita kenangan tiga orang dari SMP yang sama itu.


"Hee—apa kalian bakal menunjukkan sisi seperti itu juga pada kami?"

 

"Hoshimiya-san pasti bakal mengalah sebelum jadi keributan, kan. Dua orang ini saja yang aneh."

 

"Wah, kalau begitu aku bakal jadi keras kepala deh," ucap Hoshimiya sambil tersenyum ke arah Reita. Jarak mereka terasa sangat dekat.

 

......Kenapa aku tidak peduli saat Uta atau Nanase bicara dengan lawan jenis, tapi kalau itu Hoshimiya rasanya ada sesuatu yang mengganjal? Apa ini yang namanya cemburu? Aku jadi benci pada diriku sendiri yang berhati sempit ini.

 

"Oi, ayo cepat masuk."

 

Tatsuya memanggil dari jauh di depan kami yang langkahnya melambat karena asyik mengobrol. Sifatnya yang berjalan duluan sesuka hati benar-benar mencerminkan sosok Youkya tipe kekuatan.

 

Yah, kalau soal berjalan duluan sendirian, aku juga punya kepercayaan diri yang tinggi. Karena sejak awal aku memang sendirian. Bedanya dengan Tatsuya cuma satu: apakah orang-orang di sekitar bakal mengikuti atau tidak. Hahaha, perbedaannya terlalu telak.

 

"Sudah sampai ya."

 

"Natsuki, apa ini pertama kalinya kamu ke Round One?"

 

Aku sempat ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk jujur pada pertanyaan Reita.

 

"Iya. Dulu sempat ada ajakan beberapa kali, tapi buat anak SMP harganya cukup mahal."

 

Di saat seperti ini, rasanya tidak baik kalau harus jaga gengsi berlebihan. Bukan hal yang aneh juga kalau baru pertama kali ke Round One saat kelas satu SMA. Aku menilai risikonya lebih tinggi kalau ketahuan berbohong.

 

"Ahaha, benar juga ya. Kami juga baru tiga atau empat kali ke sini."

 

Dari stasiun ke Round One yang kami tuju hanya butuh waktu sekitar tiga menit jalan kaki. Meski begitu, saat grup ini berkumpul lengkap, mata orang-orang yang berpapasan benar-benar tertuju pada kami.

 

Yah, isinya kan sekumpulan laki-laki tampan dan perempuan cantik. Mungkin ada yang membatin, "Kalau dilihat baik-baik, terselip satu orang yang biasa saja ya." Hei, aku sudah berusaha keras lho!

 

Terlepas dari pembelaan diri Inkya yang penuh air mata ini, gerombolan orang populer itu pun melangkah masuk ke dalam Round One.

 

Hebat ya, mereka sama sekali tidak ragu saat masuk ke fasilitas sebesar ini. Seolah tidak ada rasa takut, bahkan Tatsuya malah memasang wajah seakan-akan dialah "bintang utama" di tempat ini.

 

"Oi, waktunya mau berapa lama? Dua jam?"

 

"Eeeh? Sebentar banget. Enam jam juga ayo!"

 

"I-itu sih agak gimana ya. Rasanya aku nggak bakal sanggup gerak selama itu."

 

"Lagipula kalau selama itu, selesainya jam tujuh malam. Bakal sulit buat Hikari yang punya jam malam."

 

"Mumpung bareng, kita juga ingin makan malam bareng, kan? Mungkin tiga jam saja sudah cukup?"

 

Reita dengan santai merangkum pendapat semua orang yang saling bersahutan. Setelah melihat tidak ada sanggahan, dia mulai berbicara dengan pelayan.

 

Tolong, berikan skill itu padaku... Reita ini terlalu sempurna sampai-sampai tidak terlihat celah sedikit pun.

 

"—Nah, ayo masuk."

 

Karena Reita dan Tatsuya memimpin di depan, aku hanya mengikut dengan patuh.

 

"Uooo, sudah lama banget! Mau main apa ya—? Main apa!? Main apa!?"

 

Uta tampak sangat kegirangan, tapi aku yang baru pertama kali ke sini pun diam-diam merasa bersemangat. Bagian dalamnya luas. Berbagai fasilitas olahraga terpasang di sana, dan banyak orang yang sedang bermain.

 

Hee, jadi begini rasanya. Aku sudah lama ingin masuk ke sini, tapi kalau tidak punya teman rasanya cuma bakal hampa...

 

"Kumpul di tempat yang kosong dulu yuk. Bagaimana kalau pingpong?"

 

Tempat yang ditunjuk Reita adalah deretan meja pingpong, dan kebetulan ada dua meja yang kosong.

 

"Boleh tuh, pingpong! Ayo, ayo!"

 

"Ah, kalau cuma pingpong aku lumayan bisa kok. Meskipun olahraga lain aku payah semua ya."

 

Hoshimiya melipat tangan dengan wajah bangga yang jenaka. Tatsuya menyeringai dan berkata:

 

"Hee, kalau begitu Hoshimiya. Akan kuperlihatkan smash-ku padamu."

 

"......Umm, kayaknya aku nggak mau lawan Tatsuya-kun deh. Menakutkan banget."

 

Hoshimiya sengaja menjauh dari Tatsuya yang berlagak sangar, lalu bersembunyi di belakang Uta.

 

"Kalau mau menyentuh Hikarin, langkahi dulu mayatku!"

 

"......Kenapa aku jadi kayak bos penjahat begini?"

 

Tatsuya tampak tidak terima, tapi dia langsung memulai pertandingan dengan Uta yang sedang bersemangat.

 

Karena merasa ini adalah kesempatan, aku pun mengajak Hoshimiya.

 

"Kalau begitu Hoshimiya, ayo main santai di meja sebelah."

 

"Oke. Tolong kasih ampun ya?"

 

Hoshimiya tersenyum. Hanya dengan melihat ekspresi itu, aku merasa kedatanganku hari ini sudah sepadan.

 

Untuk sementara, Reita dan Nanase beristirahat dan kami memakai sistem bergantian. Aku lawan Hoshimiya, Tatsuya lawan Uta, dan grup yang selesai duluan akan bergantian pemain. Berharap saja meja ketiga segera kosong saat kami menunggu.

 

"Hikari, semangat ya."

 

Nanase yang duduk di bangku panjang barisan tunggu memberi semangat pada Hoshimiya yang sudah memegang raket.

 

"Kalau begitu aku bakal dukung Natsuki deh. Sekalian saja kita buat sistem turnamen?"

 

"Ide bagus! Seru tuh!"

 

Teriak Uta yang sedang sibuk baku hantam bola dengan Tatsuya di meja sebelah. Pertandingan tingkat tinggi. Melihat cara mereka mengayunkan raket dan rally yang terus berlanjut, mereka jelas bukan amatir.

 

Orang populer itu karena atletis, ya, jadi apa pun yang mereka lakukan pasti jago. Iri rasanya. Padahal aku kalau jam olahraga cuma bisa mondar-mandir di pojokan! Habisnya tidak ada yang memberiku operan bola sih.

 

......Itu bukannya bukan masalah kemampuan atletis ya?

 

Aku jadi sedih sendiri setelah menyindir diriku di dalam hati.

 

Terlepas dari itu, kemampuan atletisku sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Aku sadar tidak jago juga, tapi kalau pingpong, aku termasuk tipe yang lumayan bisa.

 

"Uwa, kalian berdua hebat banget..."

 

Mataku bertemu dengan Hoshimiya yang sedang melongo melihat meja sebelah, aku pun tertawa kecut.

 

"Walaupun ini pertandingan, kita main santai saja yuk."

 

"Benar juga."

 

Pakon, aku memukul bola pingpongnya. Bola itu memantul dengan kecepatan santai, dan Hoshimiya hendak membalasnya—tapi,

 

"Lho!?"


Skat! Raket Hoshimiya hanya mengayun di udara kosong.

 

Hmm? Rasanya tadi jarak antara raket dan bolanya lumayan jauh ya?

 

"Ma, maaf! Mungkin karena sudah lama nggak main?"

 

Wajah Hoshimiya memerah sambil mengejar bola pingpong yang menggelinding.

 

......Ya, ya sudahlah, mungkin karena sudah lama. Wajar kalau di awal dia belum mendapatkan instingnya kembali.

 

Setelah tiga kali mengayun kosong, Hoshimiya akhirnya mulai bisa membalas pukulan dengan benar. Itu pun dengan syarat aku harus memukul bola pelan-pelan ke arah tengah yang mudah dijangkau dengan ritme yang sama. Begitu meleset sedikit saja, dia akan mengayun kosong atau bolanya terbang ke arah yang tidak jelas.

 

"......Begitu ya, hmmm, jadi begitu ya?"

 

"A, ahaha...... sepertinya hari ini aku lagi kurang fit ya? Sedikit saja kok?"

 

Sambil tertawa seolah menutupi sesuatu, Hoshimiya mengipasi pipinya yang merah dengan raket. Nanase yang duduk di bangku dekat sana bicara padaku sambil tertawa kecil.

 

"......Kamu boleh kok memberitahu dia kenyataannya."

 

"Hoshimiya...... dengan kemampuan begini, berani-beraninya kamu bilang lumayan bisa pingpong......"

 

"Ja, jangan dibilang dong—! Setidaknya ini lebih mending dibanding olahraga lain! Biarpun begini!"

 

Hoshimiya membela diri dengan wajah malu. Sosoknya itu memang manis, tapi aku benar-benar kaget karena dia ternyata seburuk itu. Kalau pingpong yang katanya "lumayan bisa" saja begini, bagaimana dengan olahraga lain......?

 

"Satu-satunya kekurangan Hikari itu, ya seperti yang kamu lihat, kemampuan atletisnya yang buruk secara fatal."

 

"Lho? Tapi bukannya yang usul ke Spocha tadi Hoshimiya-san?"

 

Reita yang sedari tadi melihat kami sambil tersenyum tiba-tiba memiringkan kepalanya.

 

"Meskipun nggak jago, aku tetap suka olahraga tahu! Ada masalah!?"

 

Melihat Hoshimiya yang wajahnya memerah padam sambil mengayunkan tangan dengan heboh terasa sangat segar dan manis.

 

Ah, tapi Hoshimiya memang selalu manis sih kalau melakukan apa pun. Rasanya hari ini isi kepalaku cuma "Hoshimiya manis" saja ya.

 

Setelah itu pun, aku bukannya bertanding, tapi lebih seperti mengasuh Hoshimiya.

 

Faktanya, Hoshimiya terlihat sangat senang. Sepertinya ucapannya soal menyukai olahraga meski tidak jago itu jujur. Tentu saja mau seberapa pun aku mengalah, akulah pemenangnya.

 

Sedangkan di meja sebelah, setelah pertarungan sengit, sepertinya Tatsuya yang menang. Uta tampak menghentak-hentakkan kaki karena kesal, sementara Tatsuya memanas-manasinya dengan sekuat tenaga.




Pertandingan antara Reita dan Nanase memperlihatkan bahwa keduanya memang memiliki kemampuan atletis yang baik.

 

Menurutku yang membedakan hasilnya adalah pengalaman. Reita sudah berkali-kali ke sini bersama Tatsuya dan yang lain, sedangkan Nanase sepertinya hanya pernah bermain saat pelajaran olahraga saja.

 

Tentu saja hal yang sama berlaku untukku, jadi di babak kedua aku kalah telak dari Reita. Berkat latihan rutin harian, pergerakan kakiku memang bagus, tapi aku benar-benar kalah dalam hal teknik.

 

Nah Reita, saatnya kita selesaikan rivalitas bertahun-tahun ini......!

 

Bukannya Tatsuya hampir tidak pernah menang melawanku?

 

Berisik! Yang penting itu menang di saat ini, di detik ini!

 

Bersamaan dengan kalimat Tatsuya yang terdengar filosofis tapi dangkal itu, babak final pun dimulai.

 

——Serius!? Yang begitu saja meleset!?

 

Pertandingan puncak antara Tatsuya yang mendapat bye dan Reita akhirnya dimenangkan oleh Reita. Pertandingannya lumayan seru.

 

Hyaaa, hebat banget ya.

 

Sebenarnya aku jauh lebih jago lho, aslinya ya!

 

Iya, iya, Uta juga bisa sehebat mereka kok, kan? He-eh.

 

Tentu saja!

 

Sambil menenangkan Uta yang masih kesal, aku mengenang kembali pertarungan sengit tadi. Smash Tatsuya sangat kuat, tapi Reita berhasil menepis dan mengembalikannya dengan sempurna.

 

Jika akurasi smash Tatsuya sedikit lebih baik, mungkin dia yang menang, tapi menuntut lebih dari itu rasanya sudah masuk level anggota klub pingpong.

 

Capeknya...... lanjut berikutnya yuk.

 

Lho, bukannya kita mau istirahat dulu?

 

Aku mencoba menyindir Tatsuya yang sudah terkapar telentang di lantai.

 

Bodoh! Mana ada waktu buat istirahat kalau ada batas waktunya!?

 

Ka, kamu semangat banget ya......?

 

Karena tiba-tiba diteriaki, jawabanku jadi agak gemetar karena ciut.

 

Tidak, aku tahu Tatsuya tidak bermaksud jahat. Dasar sifatku yang Inkya membuatku takut pada kata-kata dan suara yang keras...... tapi yang terutama, aku masih terbayang ingatan dari masa lalu. Aku harus segera memperbaiki sifat ini.

 

Rasa kesal ini harus dilampiaskan di batting cage! Ayo ke tempat batting!

 

Ucap Tatsuya sambil melangkah lebar-lebar dengan seenaknya.

 

Yah, aku juga sudah puas main pingpong, ayo ikuti Tatsuya saja. Meski dibiarkan juga tidak apa-apa sih.

 

Jahat banget!? Masa begitu caramu memperlakukan teman?

 

Teman yang benar-benar akrab itu justru tidak masalah kalau dibiarkan saja.

 

......Kalimatmu kedengaran mendalam, tapi sekaligus dangkal ya?

 

Aku setuju. Itu tandanya hubungan kalian sudah tidak perlu lagi merasa sungkan satu sama lain.

 

Kata-kata Reita itu sangat membekas di telingaku.

 

......Hubungan tanpa rasa sungkan, ya. Selain keluarga, aku belum pernah membangun hubungan seperti itu. Bahkan sekarang pun, Reita dan yang lain masih merasa sungkan padaku.

 

Contohnya Reita yang lidah tajamnya terasa lucu itu, dia baru menunjukkan sisi itu kepada Tatsuya atau Uta saja. Tentu saja itu wajar karena kami baru kenal seminggu, tapi suatu saat nanti aku ingin memiliki hubungan seperti itu dengan mereka.

 

Aku ingin lebih akrab lagi dengan mereka berlima.

 

——Dan dengan Hoshimiya, aku ingin jauh, jauh lebih akrab lagi.

 

Karena di depan sana, aku yakin masa muda berwarna pelangi yang kuidamkan sedang menunggu.

 

 

——Setelah itu. Setelah mencoba berbagai hal mulai dari batting, bulu tangkis, tenis, futsal, hingga dart dan biliar, kami beristirahat di area santai.

 

Tiga orang anak klub olahraga tampak masih bertenaga, tapi Hoshimiya dan Nanase sudah kelelahan. Berkat latihan rutin harian, aku sendiri masih merasa bugar.


Libur musim semi kemarin jauh lebih berat dari ini. Meski begitu, saat melihat jam, ternyata sudah dua jam berlalu. Tidak sangka kami bisa bergerak sebanyak ini.

 

Siapa pun, tolong belikan minuman olahraga dong......

 

Ucap Hoshimiya sambil terkapar di atas meja, jadi aku memutuskan untuk pergi membelinya.

 

Ada lagi yang mau? Akan kubelikan sebanyak yang bisa kubawa.

 

Ah, kalau begitu aku ikut. Sini, kumpulkan uangnya dulu.

 

Setelah mengingat pesanan minuman olahraga, teh, dan air mineral, aku menuju mesin penjual otomatis berdua dengan Reita. Bergerak berdua dengan Reita belakangan ini sudah menjadi hal yang biasa. Yah, karena kami sesama laki-laki di grup yang sama.

 

Tapi Natsuki, kamu hebat ya.

 

Gumam Reita yang berjalan di sampingku dengan nada kagum.

 

......Apanya?

 

Kamu bisa mengimbangi kami yang anak klub olahraga dengan santai.

 

Ah, ya kan kita tidak sedang main serius.

 

Bagaimanapun ini masih dalam ranah bermain. Tidak ada alasan untuk sampai merasa sangat lelah.

 

......Hoshimiya terlalu tidak atletis sehingga membuang tenaga yang tidak perlu, dan Nanase sepertinya memang tidak punya stamina, makanya mereka sekelelahan itu. Sejujurnya, aku masih sanggup main lima jam lagi. Malah, ini terasa sangat menyenangkan.


Berkat tubuh yang sudah terlatih, pergerakan kakiku terasa ringan dan tubuhku bergerak sesuai keinginan. Meskipun kemampuan atletis dasarku tidak otomatis jadi hebat, setidaknya aku bisa mengimbangi mereka semua.

 

Tapi saat bulu tangkis tadi semua main serius, dan Natsuki yang menang, kan?

 

Itu karena aku berpasangan dengan Uta. Berkat dia kok.

 

Di bulu tangkis tadi, kami mengubah suasana dengan bermain ganda sistem kompetisi.

 

Aku berpasangan dengan Uta, Nanase dengan Tatsuya, dan Reita dengan Hoshimiya. Aku dan Uta berhasil menang dua kali.

 

Lagipula Reita sih, kakimu ditarik terus sama Hoshimiya......

 

Aku tidak mau mengakui itu...... tapi memang benar sih.

 

Reita tertawa kecut. Jarang sekali orang ini bicara tidak lugas.

 

Malah menurutku hebat kamu bisa bertahan sejauh itu meski satu tim dengan Hoshimiya. Aku sempat mengira bakal kalah tadi.

 

Reita memang terampil melakukan apa pun. Tatsuya dan aku lebih ke tipe yang mengandalkan kekuatan fisik, tapi Reita sepertinya punya insting yang bagus. Dia tampak mencari cara bergerak yang paling optimal dan beradaptasi secara perlahan.

 

Kalau Tatsuya sih memang begitu, tapi kupikir aku bisa menang melawan kalian. Aku tahu kemampuan Uta, tapi aku meremehkanmu. Untuk ukuran tinggi badanmu, pergerakan kakimu terlalu lincah.

 

Ucap Reita sambil menyikut perutku dengan akrab.


Dipuji kemampuan fisiknya oleh orang yang jenius olahraga seperti dia membuat kerja kerasku terasa sepadan.

 

Andai aku masih versi perut buncit yang dulu, aku pasti sudah mempermalukan diri sendiri di sini.

 

Hoshimiya itu perempuan, jadi meskipun kemampuan atletisnya buruk, dia tetap terlihat manis. Tapi kalau orang sepertiku yang agak sok keren (setidaknya begitu kelihatannya, padahal aslinya cuma payah berkomunikasi dan pendiam) menunjukkan gelagat seperti itu, bukan cuma memalukan, tapi bisa-bisa aku jadi bahan olokan setiap ada kesempatan. Kalau sampai begitu, posisiku di grup ini akan semakin rendah. Mengingat posisiku yang sekarang saja sudah rendah, salah langkah sedikit bisa-bisa aku ditendang dari grup ini.

 

"......Hm? Ada apa, Natsuki?"

 

"Ah, tidak, bukan apa-apa."

 

......Tentu saja aku tahu kalau Reita dan yang lainnya bukan tipe orang yang akan mengusir seseorang dari grup hanya karena hal sepele seperti itu, tapi aku sudah punya pengalaman sekali dibenci dan diusir. Meskipun itu salahku sendiri jadi mau bagaimana lagi, tapi trauma itu masih membekas.

 

"—Hei, Natsuki."

 

Saat kami sudah sampai di depan mesin penjual otomatis dan sedang membeli minuman pesanan, suara Reita yang terdengar sangat serius menyapa telingaku. Aku melirik ke samping, tatapan Reita tertuju lurus padaku.

 

"Hm? Ada apa?"

 

Aku sengaja bertanya dengan nada santai karena merasakan firasat akan pembicaraan yang berat. Namun, aku tidak bisa menebak apa yang akan dibahas. Seingatku aku belum melakukan kesalahan apa pun... kurasa. Aku sudah bertindak sangat hati-hati sejauh ini. Karena itu, pertanyaan Reita benar-benar di luar dugaanku.

 

"—Kamu, merasa tidak nyaman dengan Tatsuya, kan?"

 

Seketika, aku tidak bisa menjawab.

 

Keheningan itu seolah mengiyakan pertanyaan Reita.

 

"Sudah kuduga," ucap Reita sambil tersenyum kecut. Sepertinya dia sudah tahu sejak awal, dan ini hanyalah bentuk konfirmasi saja.

 

"......Kenapa kamu berpikir begitu?"

 

"Bukan hal besar sih, tapi entah kenapa aku merasa kamu cenderung menghindari Tatsuya. Contohnya, kamu sering berduaan denganku, tapi hampir tidak pernah bergerak berdua dengan Tatsuya, kan?"

 

"......Yah, kalau dipikir-pikir mungkin benar begitu. Kamu jeli sekali ya."

 

"Haha, dari dulu aku memang peka dengan keadaan sekitar.......Bahkan mungkin terlalu peka. Awalnya kupikir kamu cuma belum terbiasa jadi kubiarkan saja, tapi hari ini rasanya ada yang berbeda."

 

"Ada yang berbeda? Memangnya di matamu kelihatannya seperti apa?"

 

"Kamu kelihatan takut pada Tatsuya. Kuharap itu cuma perasaanku saja sih."

 

Tepat sasaran. Aku jadi bingung harus menjawab apa. Karena dia bertanya dengan penuh keyakinan seperti itu, rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk berkelit. Shiratori Reita benar-benar jeli memperhatikan orang lain. Dia memang pantas punya rasa percaya diri.

 

"......Memang benar, seperti yang kamu bilang."

 

Akhirnya aku membenarkan pertanyaan Reita. Aku bicara jujur.

 

"Tapi, ini berbeda. Ini masalahku sendiri, bukan salah Tatsuya. Tatsuya tidak salah apa-apa. Jadi tolong jangan katakan apa pun padanya. Sepertinya...... suatu saat ini akan membaik sendiri."

 

Itu hanyalah sebuah fakta. Ini karena trauma yang tertinggal di hatiku. Karena aku tidak mungkin bilang kalau aku sedang mengulang masa muda, aku terpaksa menyembunyikan bagian intinya, kuharap dia memaklumi itu.

 

"Baiklah. Kalau begitu, aku tidak akan bilang apa-apa."

 

Reita mengangguk sambil membuka tutup botol minuman olahraganya.

 

"Boleh begitu?"

 

"Dari awal aku tidak punya hak untuk ikut campur. Ini masalah kalian...... tidak, selama Tatsuya yang tidak peka itu belum menyadarinya, ini bahkan belum bisa disebut masalah. Aku cuma bertanya karena penasaran saja kok," ucap Reita dengan tenang setelah meminum minumannya dengan lahap.

 

"Cuma——kita ini teman, kan?"

 

Sambil menyeringai, Reita menyenggol dadaku dengan botol minumannya. Laki-laki yang merupakan puncak dari orang populer ini bukan cuma sering melakukan body touch, tapi juga bisa mengucapkan kata-kata yang biasanya bikin malu dengan wajah datar.


Hebatnya, dia terlihat keren saat melakukannya. Pasti karena dia melakukannya dengan penuh percaya diri.

 

"Aku cuma bertanya karena mengira kamu sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak akan tanya soal 'sesuatu' itu, tapi kalau kamu bilang akan menyelesaikannya sendiri, aku percaya padamu."

 

Kata-kata itu meresap jauh ke dalam dadaku. Dia menyadari bahwa aku tidak bisa membicarakan bagian fundamentalnya.

 

Aku jadi paham kenapa Reita sangat populer di kalangan perempuan. Laki-laki ini benar-benar terlalu menyilaukan bagiku yang sekarang.

 

 

Saat kami kembali membawa minuman, semuanya menyambut kami dengan gembira.Reita menghidupkan suasana percakapan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Kalau begitu, aku juga harus berjuang agar bisa menjawab kepercayaan Reita. Aku akan menaklukkan trauma masa lalu itu dan berteman akrab dengan Tatsuya!

 

"Puh—berasa hidup kembali—"

 

"Lama tidak menggerakkan badan begini memang melelahkan ya......"

 

"Ahaha, Yui-yui besok pasti bakal mengerang kesakitan karena pegal otot."

 

Tanpa kusadari, Nanase pun sudah diberi nama panggilan aneh oleh Uta.

 

"Setidaknya panggil Yui saja......"

 

Nanase yang masih tampak lunglai menyempatkan diri untuk membalas dengan sisa tenaganya.


Di sekolah dia selalu memasang wajah anggun dengan postur tubuh yang tegak, jadi pemandangan ini terasa sangat segar.

 

"Hari ini aku bisa melihat sisi Nanase yang tidak terduga ya," ucapku, lalu Hoshimiya menyahut sambil tersenyum lebar.

 

"Yuino-chan kan selalu jaga gengsi kalau di sekolah. Ini bukti kalau dia sudah mulai terbuka pada kita semua."

 

"Hee, kalau begitu aku sedikit senang mendengarnya."

 

Aku mencoba menggodanya. Seketika Nanase membuang muka karena malu.

 

"Lagipula, aku bukannya sedang jaga gengsi......"

 

Duh, imut banget sih.

 

Waduh, aku yang sudah bertekad hanya pada Hoshimiya hampir saja goyah tadi......

 

Nanase punya aura yang berbeda dari orang populer pada umumnya (tipe cantik anggun?), dan karena dia bukan tipe yang suka heboh, diam-diam aku merasa ada kesamaan dengannya, tapi daya hancurnya luar biasa.

 

"Nah, ayo gerak lagi!"

 

Tepat saat semua orang sudah selesai membasahi tenggorokan dan beristirahat sejenak, Tatsuya tiba-tiba berdiri dengan semangat.

 

"Eeeeh, istirahat bentar lagi dong."

 

"Lagipula, sebenarnya kita sudah boleh keluar dari sini kok..."

 

Hoshimiya dan Nanase melayangkan protes. Reita, sambil melirik jam tangannya, berkata:

 

"Yah, kalau istirahat terus nanti waktunya habis. Hoshimiya-san dan yang lain boleh kok tetap istirahat di sini."

 

Tanpa memedulikan obrolan mereka bertiga, Tatsuya menunjuk ke arah kejauhan dengan mantap.

 

"Kenapa harus sekarang, itu karena—lapangan basketnya akhirnya kosong!"

 

"Ooh! Akhirnya ya!"

 

Uta berdiri dengan mata berbinar. Mereka berdua langsung berlari begitu saja.

 

Kami sudah hampir menaklukkan semua atraksi olahraga, tapi hanya basket yang kebetulan waktunya tidak pas karena selalu ada grup lain yang memakai lapangan. Sepertinya Tatsuya tadi beristirahat sambil mengawasi lapangan sampai kosong.

 

"Dua orang itu, bukannya kemarin juga habis main basket di klub...?"

 

Saat aku kebingungan, Hoshimiya tertawa kecut.

 

"Mereka memang sesuka itu ya sama basket."

 

"Main di klub sama main buat senang-senang itu beda rasanya. Aku paham kok perasaan mereka," ucap Reita setuju sambil berdiri.

 

"Kalau begitu kami akan menonton dari dekat saja ya..."

 

"Itu lebih baik. Lagipula Nanase kelihatannya sudah mau mati begitu."

 

"Aku tadi terlalu bersemangat..."

 

"Gara-gara senang bisa main bareng teman-teman, kan?"

 

"Hikari, berisik ah."

 

Sambil tertawa melihat Nanase dan Hoshimiya yang bercanda, kami pun mengikuti Tatsuya dan yang lain. Mereka berdua sudah asyik memulai latihan shooting sesuka hati.

 

"Nih, Natsuki."

 

Aku menerima operan dari Reita, dan tekstur bolanya terasa sangat familier. Bagaimanapun juga, aku menyukai basket. Itulah kenapa aku terus memainkannya selama tiga tahun masa SMA dulu. Bahkan setelah masuk kuliah pun, aku tidak pernah absen latihan menembak sendirian. Yah, itu karena aku kurang kerjaan sih.

 

Dam, aku melakukan dribble.

 

Sejak aku mengulang waktu sampai hari ini, aku belum sekali pun menyentuh bola basket, tapi jeda beberapa bulan tidak akan membuat insting dribble-ku hilang. Bola itu terasa menempel pas di tanganku.

 

Hanya saja, insting menembak itu beda cerita. Tidak seperti dribble, menembak butuh perasaan yang sangat halus, dan itu bisa kacau hanya dengan tidak berlatih dua-tiga hari. Meski aku sudah tujuh tahun terus menembak bola, aku tidak punya kepercayaan diri bisa mencetaknya dengan mudah sekarang.

 

——Tidak percaya diri. Tidak percaya diri, tapi... pemain basket punya insting khusus.

 

Begitu aku mendekati garis three-point dan menatap ke arah ring, aku langsung menyadarinya.

 

Ah, hari ini kondisiku sedang sangat prima.

 

"Eh, hebat banget!?"

 

Suara terkejut Hoshimiya sampai ke telingaku.

 

Tembakan yang kulepaskan bahkan dari jarak yang lebih jauh dari garis three-point itu masuk dengan mulus tanpa menyentuh ring sedikit pun hingga menggetarkan jaring. Sama sekali tidak terduga.

 

Saat sedang benar-benar prima, aku tahu bola itu akan masuk tepat saat ia lepas dari ujung jariku. Bola itu memantul dan kembali ke arahku.

 

"Bolanya terasa ringan... bukan, tubuhku yang terasa ringan ya."

 

Mungkin ini berkah dari latihan fisik yang intens, bolanya terasa sangat ringan. Makanya aku bisa mengendalikannya dengan mudah.

 

Tembakan three-point itu sulit karena harus menjangkau ring dengan bola yang berat, sehingga perlu menekuk lutut dan menyalurkan seluruh tenaga tubuh ke bola. Tapi hari ini, hanya dengan lompatan kecil dan ayunan lengan, bola itu sudah sampai ke ring. Kekuatan fisik yang tangguh memang luar biasa ya.

 

Aku menembakkan lagi bola yang kembali padaku. Dari gerakan yang santai, bola itu lepas secara alami dari ujung jariku.

 

——Keyakinan bahwa ini akan masuk.

 

Sesaat kemudian, bola itu kembali menggetarkan jaring.

 

"Hmm."


Kalau perbedaannya sejauh ini, seharusnya dulu saat masih aktif aku rajin latihan beban.

 

Aku jadi paham kenapa tim-tim kuat selalu fokus melatih fisik. Fisik yang tangguh adalah fondasi bagi teknik. Aku benar-benar merasakannya sekarang.

 

"Ooooooh!? Natsu, kamu jago banget ternyata!"

 

Aku yang tadi tenggelam dalam pikiran sendiri baru sadar kalau semuanya sudah heboh. Uta mendekatiku dengan mata berbinar-binar, dan yang lainnya pun tampak terkejut.

 

"......He, hebat ya, Natsuki. Kamu jago basket?"

 

Bahkan Reita yang tenang pun sampai melongo. Kalau dipikir secara logis, wajar saja mereka kaget. Seorang anak non-klub yang seharusnya tidak punya pengalaman basket tiba-tiba mencetak three-point dua kali berturut-turut.

 

"Yah, lumayanlah. Oh iya, sepertinya aku belum pernah bilang ya."

 

"Belum pernah tahu! Hebat, hebat banget! Kenapa kamu nggak masuk klub basket saja!?"

 

Uta yang memujiku dengan heboh itu berdiri sangat dekat. Entah kenapa ada aroma manis yang tercium, membuat jantungku berdegup kencang. Aku jadi tersadar kalau Uta yang kekanak-kanakan ini pun ternyata benar-benar seorang gadis.

 

"Ah—yah, aku belum pernah ikut klub sih..."

 

"Padahal kamu sejago ini!? Kamu jenius ya!"

 

Seharusnya aku menyiapkan latar belakang ceritaku dengan lebih matang. Aku tidak bisa bicara soal masa sebelum aku mengulang waktu, tapi kemampuanku ini memang bukan level amatir. Namun, berbohong bilang aku ikut klub basket saat SMP juga akan ketahuan lewat Miori. Lagipula, Tatsuya pasti pernah beberapa kali bertanding melawan SMP-ku dulu, dan dia pasti tahu kalau aku tidak ada di tim basket SMP Mizumi saat itu.

 

"......Di dekat taman ada ring basket, jadi aku sering main di sana."

 

Ini bukan bohong. Memang ada ring di sana, dan sebelum mengulang waktu pun aku sering latihan di situ. Karena aku tidak mau membohongi mereka, aku tidak punya pilihan selain memilih kata-kata dengan hati-hati.

 

"Ini sih harus kupaksa masuk ke klub basket sekarang juga! Iya kan, Tatsu! ......Tatsu?"

 

Uta yang tadinya heboh tiba-tiba memiringkan kepalanya. Aku pun mengikuti arah pandangannya, kulihat Tatsuya sedang menatapku dengan mata yang menyipit.

 

"......Ta, Tatsuya, ada apa?"

 

Saat aku bertanya, Tatsuya seolah tersadar dan langsung memasang senyumnya kembali.

 

"——Ah, tidak, aku cuma terlalu kaget sampai bengong. Serius, kamu jago banget."

 

O-oh, ternyata cuma kaget ya. Kupikir ada apa tadi. Bikin takut saja.

 

"Memang benar, main lagi setelah sekian lama ternyata asyik juga."

 

Aku men-dribble bola mendekati ring dan melakukan lay-up. Karena kekuatan kakiku sudah terlatih, lompatanku jadi lebih tinggi dari perkiraan, sehingga lebih mudah mencetak angka.

 

Umm, rasanya menyenangkan.

 

"Kan!? Makanya ayo masuk klub basket! Sekarang juga!"

 

"U-umm...... klub basket ya. Tapi aku kan nggak punya pengalaman waktu SMP?"

 

"Kalau Natsu pasti nggak apa-apa! Lagipula ini baru seminggu sekolah, kamu pasti bakal cepat beradaptasi!"

 

Sambil melangkah mundur menghindari Uta yang terus merangsek maju, aku berpikir.

 

Bagaimana cara menolaknya ya? Soalnya klub basket itu... di kehidupanku yang dulu, tempat itu seperti hamparan duri bagiku.

 

Aku memang merasa sekarang bisa membawa diri dengan lebih baik, tapi pada dasarnya aku cuma pemain cadangan yang tidak pernah main di pertandingan resmi......

 

"Ah—aku rencananya mau mulai kerja sambilan, jadi kayaknya bakal sulit."

 

"Eeh, benarkah? Padahal sayang banget lho. Iya kan, Tatsu?"

 

Menanggapi pertanyaan Uta, Tatsuya memutar-mutar bola di ujung jarinya sambil berkata:

 

"Yah, aku belum bisa bilang sebelum lihat permainannya lagi. Tentu saja buat ukuran amatir ini hebat banget, tapi soal bisa masuk standar klub kami atau tidak——begitu ya, mari kita buktikan."

 

Tatsuya melemparkan bolanya ke arah Uta, lalu menggerakkan jarinya untuk memprovokasiku.

 

"—Satu lawan satu. Siapa cepat dapat tiga poin."

 

Tatsuya tersenyum menantang. Senyum penuh percaya diri itu sangat cocok untuknya. Kepercayaan diri itu berdasar pada kemampuan basketnya, karena faktanya Tatsuya adalah ace klub basket Ryoumei.

 

Tapi, itu adalah cerita saat dia kelas tiga nanti. Kalau kelas satu——apalagi Tatsuya yang baru saja masuk sekolah ini——mungkin aku yang sekarang bisa menang.

 

Meskipun cuma pemain cadangan, aku sudah menekuni basket selama tiga tahun, dan setelah masuk kuliah pun aku tidak pernah absen latihan menembak selama empat tahun. Dalam hal pengalaman, aku sudah melampaui Tatsuya yang baru mulai saat SMP.

 

"Kelihatannya seru. Ayo lakukan."

 

Aku menjawab dengan nada santai, meski secara insting hatiku merasa ciut. Ciut karena harus berhadapan langsung dengan Tatsuya. Tapi, bukankah tadi aku baru saja berjanji untuk menjawab kepercayaan Reita? Sudah saatnya aku melampaui trauma masa lalu. Kalau terus begini, itu tidak sopan bagi Tatsuya yang sebenarnya tidak salah apa-apa.

 

——Demi itu juga, aku akan bertarung sekuat tenaga. Aku akan menang melawan Tatsuya di sini.

 

Dam, aku men-dribble bola. Dengan santai dan alami. Agar bisa melakukan pergerakan kapan saja.

 

"Ayo, Natsuuu! Kalahkan Tatsu!"

 

"Natsuki-kun, semangaat!"


Dukungan Uta dan Hoshimiya sampai ke telingaku. Semuanya menonton pertandingan kami.

 

"Oi oi, masa nggak ada yang dukung aku sih?"

 

"Yah, anggap saja itu handicap buat anak klub basket."

 

Aku tertawa kecut menanggapi keluhan Tatsuya. Tatsuya menggaruk kepalanya sambil bergumam, "Ya sudahlah."

 

Aku melirik sebentar ke samping, dan mataku bertemu dengan Hoshimiya yang duduk di bangku panjang luar lapangan. Dia tersenyum sambil mengepalkan tangan di depan dada. Gerakan itu jelas-jelas menunjukkan kalau dia mendukungku.

 

——Kalau begitu, aku harus menunjukkan aksi yang keren di sini.

 

"Aku datang."

 

"Majulah."

 

Sudah empat tahun aku tidak bertanding satu lawan satu dengan seseorang. Tapi instingku masih mengingat sensasinya. Dan tubuhku sekarang jauh lebih kuat dibanding dulu. Makanya aku bisa bergerak sesuai keinginan—tidak, malah lebih cepat dari itu.

 

Crossover. Peralihan dari diam ke gerak terjadi dalam sekejap bahkan bagiku sendiri. Aku merangsek ke sisi kanan Tatsuya, melewatinya dengan tajam, dan melakukan lay-up.

 

"Oi oi oi...... serius nih kamu?"

 

Kalau unggul dalam pergerakan kaki (footwork), tidak butuh teknik yang macam-macam. Drive (terobosan) adalah kebanggaan seorang forward, dan senjata terkuatnya.


——Dulu Tatsuya lah yang mengajariku hal itu.

 

Sepertinya Tatsuya tadi mewaspadai tembakan three-point. Wajar saja karena aku baru saja mencetaknya dua kali berturut-turut, tapi gara-gara itu jarak pertahanannya terlalu rapat. Makanya aku mudah melewatinya.

 

"Berikutnya."

 

Gantian, giliran ofensif Tatsuya.

 

Begitu menerima bola, dia melakukan tipuan ke kanan lalu drive ke kiri. Tapi, aku sudah membacanya. Itu pola favorit Tatsuya. Karena sudah tiga tahun latihan bareng, aku tahu kebiasaannya. Saat dia melakukan tipuan ke kanan, aku sudah menebak dia akan ke kiri, jadi aku menjulurkan tangan kiri tepat ke posisi bola datang dan menepisnya. Bola yang lepas dari tangan Tatsuya pun berhasil kuamankan.

 

"Hah......"

 

Tatsuya terkejut. Wajar saja, karena jurus andalannya digagalkan sebelum sempat digunakan.

 

"Kebetulan ya?"

 

"Yah, setengahnya mungkin insting."

 

Berikutnya giliranku menyerang.

 

Aku melakukan tipuan ke kanan, lalu leg-through untuk melangkah ke kiri, tapi Tatsuya berhasil mengejar dengan kekuatan fisik kebanggaannya. Namun sekarang, kalau soal fisik aku pun tidak kalah. Aku bisa saja terus mendesaknya dengan power dribble, tapi aku sengaja memilih roll turn berputar ke kanan dan melakukan hook shoot. Akurasi hook kananku sebenarnya meragukan, tapi kali ini entah bagaimana bisa masuk.

 

Sekadar info, akurasi hook kiriku lebih parah lagi, dan fadeaway adalah jurus yang sangat tidak kukuasai sampai-sampai tidak masuk pilihan. Meskipun fisik kami setara, aku kurang pengalaman dalam hal power dribble. Intinya, poin kedua ini cukup mepet, tapi karena Tatsuya tidak tahu kelebihan dan kekuranganku, dia jadi punya terlalu banyak pilihan untuk diwaspadai. Makanya reaksinya terlambat satu langkah. Dan sebaliknya bagiku yang sudah mengenal Tatsuya.

 

"Poin kedua."

 

Aku mengatakannya pada Tatsuya sambil tersenyum tipis.

 

......Ternyata benar dugaanku. Kalau lawan Tatsuya versi kelas tiga, aku tidak akan berkutik, tapi Tatsuya yang sekarang masih banyak celahnya. Orang yang tidak punya bakat sepertiku pun bisa mengimbanginya dengan pengalaman dan membaca kebiasaan. Yah, mungkin faktor besarnya juga karena Tatsuya memang kurang jago dalam bertahan (defense). Tapi sebagai gantinya, penyerangannya——

 

"Nggak bisa main-main lagi nih——aku bakal serius!"

 

——Cepat. Lebih tepatnya, tajam. Dia melewatiku bahkan sebelum aku sempat bereaksi. Meskipun aku tahu kebiasaannya dan sudah menebak dia akan datang dari kanan, tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali. Drive dengan posisi pinggang serendah mungkin adalah ciri khas Tatsuya...... hebat juga dia bisa menggerakkan tubuh besarnya itu dengan sebebas itu.

 

Apa dia secara tidak sadar menyadari kalau aku membaca kebiasaannya, lalu sengaja merespons agar aku tidak bisa bereaksi meskipun sudah tahu? Kalau benar begitu, dia memang pantas jadi ace. Bakatnya berbeda jauh dariku.


Tapi, aku tidak akan menyerahkan kemenangan ini. Aku ingin pamer di depan Hoshimiya——dan sesekali, aku ingin menang melawannya.

 

Di klub basket dulu, aku selalu menjadi cadangan bagi Tatsuya yang bermain di posisi yang sama sebagai forward, dan aku tidak pernah sekalipun main di pertandingan resmi. Dalam kehidupan sehari-hari pun, Tatsuya tetap menjadi temanku sampai akhirnya aku dibenci semua orang, dan dia terus membelaku meski aku saat itu benar-benar menyebalkan. Bahkan setelah aku terisolasi, alasan kenapa aku tidak dirundung dan bisa tetap bertahan di klub basket sampai akhir adalah berkat Tatsuya.

 

Si kapten yang merupakan ace ini tidak membiarkan siapa pun menjelek-jelekkanku di belakang. Meskipun dia sendiri membenciku dan tidak akan mengajakku bicara jika tidak ada urusan, dia tidak pernah sekalipun mencoba mengusirku.

 

Masa mudaku memang abu-abu. Tapi alasan kenapa warnanya cukup berhenti di abu-abu adalah berkat Tatsuya. Tidak heran jika saat itu hidupku malah tertutup kegelapan yang pekat. Karena itulah, aku berterima kasih kepada Tatsuya.

 

Rasa terima kasih itu tidak bisa kusampaikan sekarang setelah mengulang waktu, tapi aku ingin membalas budinya dengan benar.

 

"—Poin ketiga. Aku datang, Tatsuya."

 

Alasanku takut pada Tatsuya pasti bukan sekadar karena dialah orang yang menyaksikan kegagalan High School Debut-ku, tapi karena bagiku, dia terlalu menyilaukan.

 

"Yosya, majulah! Bakal kuhentikan kau!"

 

Kapan pun itu, Tatsuya selalu berada di atasku. Dia selalu lebih maju dariku. Aku kalah dalam segala hal. Aku adalah kebalikan dari Tatsuya —si pembenci yang membosankan, tidak bisa apa-apa, dan tidak bisa membaca situasi.

 

Itulah kenapa dia terlalu menyilaukan, sampai aku tidak bisa menghadapinya dengan lugas.

 

Aku merasa kami tidak setara. Aku takut akan dibenci lagi. Dan mungkin itu bukan hanya kepada Tatsuya. Aku merasakan hal yang sama kepada semua orang yang ada di sini. Reita, Uta, Hoshimiya, dan Nanase—mereka semua jauh lebih baik, lebih menarik, lebih keren, dan lebih manis dibandingkan aku; mereka semua terlalu menyilaukan bagiku. Itulah sebabnya aku selalu merasa takut kepada teman-teman yang sangat kusukai ini, dan ketakutan itu muncul paling nyata saat berhadapan dengan Tatsuya.

 

Karena, alasan kenapa aku begitu kuat berharap bisa mengulang masa mudaku, Alasan kenapa aku berusaha keras mengincar posisi orang populer meski tahu itu tidak pantas dan tidak cocok bagiku, adalah...

 

——Karena kali ini, aku ingin menjadi temanmu. Karena aku percaya, dalam masa muda pelangi yang ingin kuraih, pasti ada kau di sana.

 

Demi itulah, aku akan menang melawan Tatsuya di sini dan sekarang, lalu melampaui trauma masa lalu.

 

——Aku menyerang. Leg-through dilanjut drive ke kanan. Begitu sadar dia mengejar, aku berputar dan melakukan rocker motion untuk mengecohnya. "Nah, serangan apa berikutnya—" saat aku baru berpikir begitu, tubuhku sudah melayang di udara.

 

Saat aku sadar tembakan ini akan masuk, aku sudah menembakkannya sebelum sempat berpikir. Tembakan three-point yang dilepaskan dengan gerakan mengalir itu menggetarkan jaring gawang tanpa menyentuh ring sedikit pun. Itu adalah momen saat kewaspadaan Tatsuya teralihkan sepenuhnya ke arah drive.


"—Yosyaaa!"

 

Dengan ini, aku menang. Karena sistemnya siapa cepat dapat tiga poin, giliran ofensif Tatsuya sebagai pemain kedua sudah tidak berarti lagi. Bahkan jika dia masuk pun, poinnya tetap saja cuma dua.

 

"Siaaalll! Serius nih kamu...?"

 

Aku dan Tatsuya ambruk di lapangan.

 

Padahal seharusnya staminaku masih sisa banyak, tapi tanpa sadar aku sudah terengah-engah. Ternyata pertandingan serius memang melelahkan ya. Keringat pun mulai bercucuran deras seolah baru teringat untuk keluar.




"Hebat, hebat! Natsu, kamu keren banget!"

 

Uta berlari menghampiriku dengan semangat yang meluap-luap. Ia menggenggam kedua tanganku dan mencoba menarikku berdiri, jadi aku pun bangkit mengikuti tarikannya. Lalu, Uta tiba-tiba mengubah genggamannya menjadi seperti pegangan tangan sepasang kekasih, lalu mulai mengayun-ayunkan tangan kami dengan heboh. Rasanya seolah kami berdua sedang membentuk lingkaran kecil.

 

"Hore, hore! Ieei! Menang! Kemenangan besar!"

 

"O-oh, terima kasih."

 

Uta sepertinya tulus merasa senang, tapi jantungku berdegup kencang saking gugupnya. Orang-orang populer ini selalu saja jaraknya terlalu dekat, benar-benar buruk bagi kesehatan jantungku.

 

Aku pun ikut berputar-putar mengikuti kehebohan Uta yang masih menggenggam kedua tanganku. Namun, di tengah jalan, Uta ditarik menjauh oleh Tatsuya.

 

Tatsuya memegang kedua bahu Uta sambil berkata:

 

"Apa kamu tidak punya rasa sedih sedikit pun melihat kekalahanku?"

 

"Tatsu kalah sama amatir, memalukan banget—begitu sih, tapi aku nggak mikir gitu kok, sumpah!"

 

"Apa katamu!? Kalau begitu coba kamu sendiri yang lawan!"

 

"Eeeh, tapi kan aku perempuan, aku ini gadis yang lemah lembut, jadi ada perbedaan fisik, tahu—?"

 

"Cuma kalau lagi butuh saja kamu sok jadi perempuan begitu ya..."

 

Tatsuya berdecak lalu melepaskan Uta. Kemudian, ia menatapku dengan tatapan yang serius. Aku membalas tatapan itu tanpa rasa takut. Aku berhasil menerimanya dengan mantap.

 

Karena duel satu-lawan-satu ini adalah sebuah ritual bagiku untuk menyadari bahwa aku dan Tatsuya adalah teman yang setara.

 

......Tentu saja pada akhirnya hampir tidak ada hal yang bisa melampaui Tatsuya, dan dalam basket pun dengan bakatnya dia pasti akan segera menyalipku kembali. Tapi ini adalah masalah persepsiku sendiri—bahwa aku bisa sedikit mengejar sosok Nagiura Tatsuya yang terlalu menyilaukan ini—jadi begini saja sudah cukup.

 

"Jadi, Natsuki. Kurasa kamu sudah sangat mumpuni...... apa kamu benar-benar tidak mau masuk klub basket?"

 

"—Ahh, maaf ya."

 

Aku sudah tidak punya penyesalan lagi terhadap klub basket. Mungkin karena aku sudah melampaui trauma masa lalu itu. Aku akan melangkah di masa muda yang baru demi mengincar dunia yang berwarna pelangi. Aku tidak akan menempuh jejak yang sama.

 

Seolah menyadari keteguhan hatiku, Tatsuya tidak berkata apa-apa lagi.

 

"Hei semuanya—sepertinya waktunya sudah mepet nih!"

 

Mendengar seruan Hoshimiya, aku melihat ke arah jam dan ternyata sudah lewat jam empat.

 

Kami masuk ke Round One sekitar jam satu lewat dengan paket tiga jam, jadi memang sudah hampir waktunya selesai. Reita bertepuk tangan pelan untuk menarik perhatian, lalu berkata:

 

"Kalau begitu, maaf ya meski kalian berdua masih capek, ayo kita segera keluar dari toko."

 

 

Saat keluar, embusan angin yang cukup dingin terasa sangat nyaman. Hari ini cuacanya agak dingin, dan itu terasa pas bagi tubuhku yang kegerahan. Aku membatin sambil menghabiskan sisa minuman olahragaku.

 

"Wah—tadi benar-benar banyak gerak ya!"

 

"Hikari kelihatannya masih bertenaga sekali ya......"

 

"Sebaliknya, kenapa Yuino-chan masih lunglai begitu!? Padahal kan kita terus istirahat di sesi terakhir tadi?"

 

"Huh...... apa kamu pikir staminaku bakal pulih hanya dengan istirahat sebentar begitu?"

 

"Kamu tidak apa-apa, Nanase? Kok gayamu jadi agak aneh?"

 

Saat aku bertanya karena benar-benar khawatir, wajah Nanase memerah.

 

"......Cuma bercanda kok," ucapnya.

 

Hampir saja kupikir dia kehilangan jati dirinya. Aku sendiri sering begitu sih, karena aslinya aku kan Inkya yang membosankan dan pendiam.

 

"Kamu itu padahal anak non-klub tapi staminanya terlalu banyak. Padahal kukira kita satu tim."

 

Aku membalas tatapan tajam Nanase dengan senyum kecut.

"Nah, tidak baik kalau kita cuma berkerumun di depan toko, ayo pindah."

 

"Pindah sih pindah, tapi ke mana?"

 

Tatsuya memiringkan kepala menanggapi instruksi Reita.

 

"Kita semua mau makan malam bareng, kan? Ayo cari tempat saja. Masih jam empat sih jadi agak kepagian, tapi kan kita bisa mengobrol santai lebih lama?"

 

"Boleh saja, tapi aku lagi nggak pegang banyak uang nih—"

 

"Ah, aku ingin ke tempat yang ada drink bar-nya!"

 

Sambil mempertimbangkan pendapat Tatsuya dan Uta, aku mencoba menunjuk ke seberang jalan.

 

"Ke restoran keluarga saja tidak apa-apa, kan? Murah, dan letaknya juga dekat dari sini."

 

Tempat yang kutunjuk adalah Saize, yang sudah terkenal murah. Aku sering memakai jasa Saize saat zaman kuliah dulu. Murah, enak, tidak terasa aneh meski sendirian, dan semuanya ada di sana.

 

"Boleh, ayo ke sana."

 

Karena Reita setuju, kami semua pun menuju ke Saize. Aku benar-benar merasa kalau hak keputusan di grup ini ada di tangan Reita. Meskipun dia tidak memakai kata-kata yang keras ataupun bersuara lantang. Apa karena timing bicaranya yang pas?

 

Tentu saja itu berdasar pada reputasinya, tapi Reita memang sangat memperhatikan orang lain. Dia tidak mencoba memaksakan usulan yang egois, melainkan merangkum pendapat semua orang, makanya secara alami jadi seperti itu.

 

Sambil memikirkan hal itu, kami pun sampai di Saize. Mungkin karena masih sore, tempatnya lumayan sepi. Setelah diantar ke kursi, kami masing-masing memesan makan malam dan drink bar. Karena habis banyak bergerak aku merasa sangat lapar, jadi aku memesan dua menu: Milano-style Doria dan Peperoncino. Sebagai anak SMA yang sedang dalam masa pertumbuhan, porsi segini sih gampang dihabiskan. Apalagi dua menu ini harganya cuma enam ratus yen! Benar-benar ciri khas Saize.

 

Yah, karena aku juga memesan drink bar, aslinya jadi lebih mahal sih. Tetap saja bagi anak SMA ini adalah harga yang sangat membantu.

 

Tepat saat semuanya kembali membawa minuman,

 

"Kalau begitu, mari kita bersulang untuk merayakan masuk sekolah!"

 

Uta mengangkat gelasnya, jadi kami terpaksa mengikutinya. Rasanya agak malu karena dilihat orang sekitar, tapi yah, melihat anak SMA bersulang pakai drink bar pasti cuma kelihatan lucu saja bagi mereka.

 

Reita juga tertawa kecut sambil bertanya,

 

"Emangnya acara ini punya tujuan sehebat itu ya?"

 

"Baru kuputuskan barusan! Perayaan masuk sekolah! Dan juga, bukti kalau kita semua yang ada di sini sudah jadi teman akrab!"

 

"......Kamu hebat ya bisa bilang begitu tanpa malu, Uta-chan."

 

"Memangnya nggak boleh ya?"

 

Uta memiringkan kepala menanggapi senyum kecut Hoshimiya. Hoshimiya pun mengelus-elus kepala Uta dengan lembut.


"Uun, tidak apa-apa kok. Uta-chan manis banget sih."

 

"Hikari juga tidak kalah manis, lho."

 

"......Eh, tunggu sebentar, Yuino-chan!?"

 

Nanase mengelus kepala Hoshimiya, yang sedang mengelus kepala Uta. Hmm...... apa ini yang dinamakan yuri?

 

Rasanya ada sesuatu yang hampir bangkit dalam diriku, tapi kalau itu sampai bangkit, sepertinya aku tidak akan bisa pacaran dengan Hoshimiya, jadi aku buru-buru sadar kembali. A-apa itu tadi......?

 

"Puh-haa! Enak banget! Emang paling bener minum soda!"

 

Uta berseru riang sambil menghabiskan melon sodanya. Setelah itu, seolah baru teringat sesuatu, ia menatapku.

 

"Terus, Natsu jadinya tetap nggak mau masuk klub basket?"

 

"Iya. Maaf ya."

 

"Yah—sayang banget, tapi mau gimana lagi!"

 

"Lagian, kenapa kamu yang anak klub basket putri malah ngotot banget sih? Nggak ada hubungannya sama kamu juga, kan."

 

Tatsuya memiringkan kepala melihat Uta yang lesu.

 

"Ah! Tatsu jahat! Padahal kita kan sesama teman basket!"

 

Uta mendelik sebal ke arah Tatsuya. Sepertinya suasana bakal jadi tidak enak gara-gara aku, jadi lebih baik aku ganti topik saja.

 

"Aku nggak masuk klub, tapi aku berencana mau cari kerja sambilan.


Aku lagi nggak punya uang. Tapi aku masih bingung mau kerja di mana. Ada saran nggak?"

 

Aku mengutarakan kegelisahanku saat ini—yah, bukan kegelisahan besar sih, cuma salah satu hal yang sedang kupikirkan.

 

Meminta saran dari orang sekitar seperti ini rasanya sangat segar bagiku. Selama ini aku selalu berpikir dan memutuskan segalanya sendirian, karena aku tidak punya tempat untuk berkonsultasi...

 

"Ah—kerja sambilan ya. Aku belum pernah, jadi nggak tahu," gumam Tatsuya sambil meminum colanya, dan aku mengiyakan.

 

"Secara umum, pilihannya mungkin restoran keluarga seperti tempat ini?"

 

"Yang langsung terpikir sih minimarket, karaoke, toko makanan cepat saji seperti Misdo atau McD, kafe, bar, atau jaringan kedai gyudon seperti Yoshigyu."

 

"Ah—memang sekitaran itu ya."

 

Reita dan Hoshimiya memberikan beberapa kandidat, tapi semuanya masih dalam jangkauan pemikiranku.

 

Yah, hal yang terpikirkan oleh mereka pasti sudah kupikirkan juga. Lagipula, berbeda denganku yang punya pengalaman zaman kuliah, mereka kan belum pernah kerja sambilan. Soal ini, lebih baik kupikirkan sendiri saja—

 

"Mau coba datang ke tempat kerjaku?"

 

——Tepat saat aku berpikir begitu, Nanase berucap sambil mengaduk es di kopi hitamnya hingga berbunyi klenteng-klenteng. Kata-kata itu seketika membekukan suasana, sampai akhirnya Hoshimiya mengangkat tangan sambil memegang dahi.

 

"......H-hah? Apa aku salah dengar? Yuino-chan, kamu kerja sambilan?"

 

"Iya. Di sebuah kafe dekat sini."

 

"Aku nggak pernah dengar!?"

 

"Wajar saja. Aku memang tidak pernah bilang."

 

Nanase mengatakannya dengan santai sambil mengelus kepala Hoshimiya yang tampak syok.

 

"Aku sudah mulai sejak libur musim semi kemarin...... tapi aku malas menjelaskannya, jadi aku diam saja."

 

"Alasannya cuma itu!?"

 

"Habisnya kalau Hikari tahu, kamu pasti bakal datang setiap hari, kan?"

 

"Nggak bakal setiap hari juga kali! Uangku nggak cukup!"

 

"......Jawabanmu seolah bilang kalau uangmu cukup, kamu bakal datang terus ya?"

 

Reita tertawa kecut, sementara Hoshimiya terdiam seribu bahasa seolah rahasianya terbongkar.

 

"Karena aku ada les juga, aku cuma masuk seminggu dua kali. Pemilik kafe sedang bingung karena kekurangan orang, jadi kupikir kalau Haibara-kun sedang senggang, mungkin kamu mau coba melamar. Makanya aku menawarkannya."

 

"O-oh...... begitu ya. Tadi kafe di dekat sini, kan?"


"Iya, namanya Kafe Mares. Belakangan ini hidangan penutupnya cukup populer."

 

"Ah, aku pernah ke sana! Heee, Yui-yui kerja di sana!"

 

Aku membuka ponsel dan mencari informasinya, ternyata kafenya punya suasana yang cukup nyaman. Di kehidupan lamaku, aku sering masuk kafe sendirian untuk membaca buku, jadi aslinya aku memang suka kafe. Lagipula, lewat pekerjaan ini mungkin aku bisa jadi lebih akrab dengan Nanase, salah satu anggota grup kami. Boleh juga.

 

"Hee, kelihatannya bagus banget."

 

"Iya, kan? Gaji per jam dan fasilitasnya juga tidak buruk menurutku."

 

Nanase tersenyum bangga. Wajahnya yang terlihat sedikit senang itu manis juga.

 

"Kapan-kapan aku akan mampir ke sana. Setelah itu baru aku putuskan mau minta dikenalkan atau tidak."

 

Aku memang tertarik, tapi ada rasa sungkan kalau melamar ke tempat yang belum pernah kukunjungi sebagai pelanggan. Makanya aku menjawab begitu. Lagipula ini bukan sesuatu yang harus segera diputuskan.

 

Terlepas dari itu, Hoshimiya yang merasa dikhianati oleh Nanase tampak sedang melamun hampa.

 

"Duh, Hikari? Sampai kapan mau murung begitu?"

 

"......Habisnya, ke aku dirahasiakan karena takut didatangi terus, tapi ke Natsuki-kun yang lagi cari kerja malah dikasih tahu begitu saja. Aku nggak terimaaa."

 

Kalau dibilang begitu, memang benar juga sih.

 

——Hah!? J-jangan-jangan dia memberitahuku karena dia tertarik padaku......!?

 

"Cepat atau lambat aku juga bakal bilang kok. Serius. Kebetulan saja tadi momennya pas."

 

Nanase menjawab dengan wajah tenang sambil memutar-mutar rambut hitamnya yang indah dengan ujung jari. Tentu saja tidak ada gurat malu sedikit pun di wajahnya...... iya sih, benar juga. Aku kepedean. Maafkan aku.

 

"—Mohon maaf sudah menunggu."

 

Tepat saat itu, makan malam yang kami tunggu-tunggu akhirnya sampai di meja. Setelah itu kami menghabiskan makanan sambil mengobrol santai soal pelajaran sekolah dan hal lainnya.

 

Setelah beristirahat sejenak, Hoshimiya berkata dengan nada merasa bersalah, "Sepertinya aku harus pulang sekarang."

 

Ia merapatkan kedua tangannya sambil meminta maaf.

 

"Maaf ya, teman-teman. Rumahku jam malamnya agak ketat......"

 

"Nggak terasa sudah lewat jam tujuh ya. Kaget aku."

 

Ternyata kami mengobrol sampai tiga jam. Karena sangat menyenangkan, rasanya waktu berlalu dalam sekejap. Meski aku sudah bilang ke orang tua kalau mau makan di luar, kalau tidak pulang sekitar jam delapan mereka pasti bakal khawatir.

 

"Kalau begitu, ayo pulang. Aku juga besok harus ikut kegiatan klub lagi."


Mendengar ajakan Reita, hari libur yang menyenangkan ini pun berakhir.

 

——Aku benar-benar berharap bisa main bareng mereka semua lagi.

 

 

Dalam perjalanan pulang hari itu. Tepat saat aku turun dari kereta dan sedang berjalan di dalam stasiun, nada dering ponselku bergema. Nomor yang muncul tidak terdaftar, tapi aku mengenalinya.

 

"......Ada perlu apa?"

 

Wah, suaramu suram banget ya, Natsuki. Jangan-jangan kamu gagal?

 

Suara itu milik orang yang baru saja bicara denganku kemarin. Motomiya Miori. Entah dia penasaran dengan penilaian baju yang dia pilihkan, atau sepertinya dia cuma ingin menjadikanku bahan tontonan saja.

 

Yah, kalau ada orang di dekatku yang sedang berjuang melakukan High School Debut, aku pun pasti akan merasa itu tontonan yang sangat menarik.

 

"Mana ada orang mengangkat telepon dengan semangat membara," jawabku, berusaha tetap tenang.

 

Kalau aku terdengar senang saat ditelepon Miori, dia pasti akan langsung mengolok-olokku.

 

Dilihat dari jawabanmu, sepertinya berjalan cukup lancar ya?

 

"......Yah, menyenangkan kok."

 

Aku menjawab dengan perasaan campur aduk pada pertanyaan yang seolah bisa membaca apa yang tersirat di balik kataku.

 

Baguslah kalau begitu. Kamu harus berterima kasih padaku!

 

"Padahal kalau kamu diam saja, aku bakal tulus berterima kasih. Tapi kalau sengaja dibilang begitu, rasa terima kasihku malah hilang......"

 

Ahaha, Natsuki itu tipe yang bakal marah dan bilang "Baru mau kukerjakan!" kalau disuruh belajar sama ibunya, kan?

 

"Berisik!"

 

Benar-benar terbaca sampai membuatku kesal ya?

 

"......Tapi, yah, makasih ya. Berkat kamu, aku nggak perlu menanggung malu."

 

Sama-sama.

 

Saat aku menyampaikan rasa terima kasih dengan tulus, Miori merespons dengan nada lembut tanpa mengolok-olok. Itu malah membuatku merasa...... entahlah, rasanya agak menggelitik.

 

Sudah sampai rumah?

 

"Belum, masih di jalan. Baru saja keluar stasiun."

 

Ah, pas banget kalau begitu. Tunggu di situ sekitar 10 menit ya.

 

"Eh, buatku ini nggak pas sama sekali—"

 

Belum sempat aku memprotes, sambungan telepon sudah diputus. Dia cuma mengatakan apa yang dia mau lalu menutupnya begitu saja.


Apa perempuan ini tidak membayangkan opsi kalau aku akan menolaknya?

 

Terpaksa aku menyandarkan punggung di pilar dekat gerbang tiket sambil memandangi arus orang yang lewat.

 

"Ah, itu dia. Ossu—"

 

Sosok yang keluar dari gerbang tiket adalah seorang gadis dengan hoodie putih dan rok mini hitam. Pakaiannya simpel tapi menonjolkan bentuk tubuhnya yang bagus, sampai-sampai mataku tanpa sadar tertuju pada pahanya.

 

Bukannya rok itu kependekan? Kalau aku ayahnya, aku nggak bakal kasih izin ya!

 

"......Oh," jawabku singkat sambil berusaha menekan gejolak di dalam hati.

 

"Apa lihat-lihat? Kamu jadi suka lagi ya sama aku?"

 

Miori bertanya dengan senyum menggoda. Lidahnya yang sedikit menjilat bibir terlihat sangat menawan.

 

"Mau 'lagi' atau apa pun, nggak pernah ada masa-masa aku suka sama kamu tahu."

 

"Eh, bohong. Masa sih?"

 

"Ngapain juga aku bohong. Zaman itu kan kamu cuma anak nakal yang suka memerintah."

 

"Muu...... padahal kukira kamu bakal langsung takluk sama sisi maskulinku."

 

"Memangnya aku ini perempuan apa."

 

"Ahaha, bercanda, bercanda."

 

Miori tertawa renyah lalu mulai berjalan, dan aku pun mengikutinya dari belakang.

 

"Ngomong-ngomong, kamu tadi ngapain?"

 

"Klub lagi libur, jadi aku main sama teman-teman SMP. Itu lho, Sayu sama Kana."

 

Aku mengenali nama-nama itu. Mereka adalah jajaran kasta teratas yang sekelas denganku dulu. Yah, pihak sana bahkan mungkin tidak ingat namaku, jadi tidak bisa dibilang kenal juga sih.

 

"Fuu-n."

 

"......Kamu sendiri yang tanya tapi kelihatannya nggak tertarik ya? Begitu sih nggak bakal populer lho."

 

"Mugu......"

 

Aku terdiam, ingin membalas tatapan tajam Miori tapi kata-kataku tersangkut.

 

Dulu aku tidak peduli soal menjadi populer jadi aku bisa membalas apa saja, tapi tujuanku sekarang adalah membuat Hoshimiya menyukaiku. Artinya, kalau aku tetap tidak populer di mata perempuan, itu akan jadi masalah.

 

"Terus harus gimana?"

 

"Kamu harus memberi respons yang benar. Pakai nada yang seolah-olah kamu sangat tertarik."


"Hmm......"

 

"Kalau begitu memang terdengar tertarik, tapi tempo bicaranya nggak enak. Kamu harus pakai tempo yang ceria seperti 'Heeh' atau 'Ah, aku paham!' atau 'Wah, bagus tuh!' begitu."

 

"Heeh, wah bagus tuh!"

 

"Kalau responsnya malah nggak mendengarkan omongan orang, itu malah berefek sebaliknya tahu! Benar-benar deh, padahal di depan semua orang kamu bisa bersikap benar, tapi di depanku kamu tetap saja jadi orang yang sinis......"

 

Miori mengangkat bahu sambil menghela napas.

 

"Memasang topeng di depan orang yang tahu masa laluku itu cuma buang-buang energi."

 

"......Begitu ya, cara berpikirmu begitu ya."

 

Miori memberikan respons dengan nada yang terdengar serius, lalu menepuk-nepuk bahuku. Meskipun itu kamu, Miori, tetap saja aku merasa gugup kalau disentuh perempuan, jadi berhenti deh!

 

"Tuh, mesin penjual otomatis."

 

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Miori.

 

Rasanya nostalgia. Itu mesin penjual otomatis yang jarang-jarang menjual jus di bawah seratus yen, jadi dulu aku sering memakainya.

 

"Rumah sudah dekat lho. Minum saja nanti kalau sudah sampai."

 

"Baju itu kan hasil produksiku? Traktir dong♪"

 

Senyumnya sangat cerah.

 

Yah, kalau cuma segitu sih nggak masalah......

 

Begitu aku memasukkan koin seratus yen ke mesin tua itu, Miori tanpa ragu memilih susu stroberi kemasan kotak.

 

"Makasih—"

 

"Kamu nggak berubah ya dari dulu, tetap beli itu."

 

Saat aku mengatakannya, entah kenapa Miori tiba-tiba berhenti bergerak.

 

"......Eh? Kenapa aku beli ini ya."

 

"Ngomong apa sih dia ini."

 

Apa kepalanya habis terbentur?

 

"Ya, aku memang suka susu stroberi sih. Tapi belakangan ini aku nggak pernah minum lagi. Rasanya suasananya seperti kembali ke masa lalu. Atau lebih tepatnya, kebiasaan lamaku muncul lagi begitu?"

 

"Ah, aku paham maksudmu," jawabku seadanya sambil membeli kopi hitam kalengan.

 

"Tunggu, di bagian ini harusnya kamu juga menunjukkan kebiasaan lamamu, kan?"

 

"Aku bahkan tidak ingat dulu biasanya minum apa."

 

Lagipula, bagiku itu sudah lebih dari tujuh tahun yang lalu.

 

"Kamu dulu selalu beli jus apel ini."


"......Benarkah? Kamu ingat sekali ya."

 

"Habisnya, padahal harganya sama-sama seratus yen, tapi cuma kaleng ini yang ukurannya sedikit lebih besar. Kamu dulu bersikeras bilang kalau ini yang paling menguntungkan. Lagian, kenapa cuma kamu yang ingat apa yang kubeli?"

 

Itu memang terdengar seperti logika diriku saat masih kecil. Dulu uang seratus yen terasa sangat berharga, sih.

 

"Kamu kan, nggak cuma itu, pokoknya suka apa pun yang berhubungan dengan stroberi. Cuma itu saja kok."

 

"......Entah kenapa, aku merasa kesal."

 

"Kenapa?"

 

"Karena cuma kamu yang minum kopi hitam, seolah-olah ingin pamer kalau sudah jadi orang dewasa."

 

Kalau cuma dengan minum kopi hitam bisa jadi orang dewasa, hidup ini tidak akan sulit...... tapi terlepas dari itu, gara-gara sering minum kopi saat zaman kuliah dulu, entah kapan rasa pahitnya jadi tidak terasa lagi bagiku.

 

"Orang memang bisa berubah ya," ucap Miori sambil sedikit menjauh dan mulai memotretku dengan kamera ponselnya sesuka hati.

 

"Itu juga kalimat yang ingin kuucapkan padamu."

 

Siapa yang menyangka Miori yang dulu anak nakal tukang perintah dan selalu pakai celana pendek bisa jadi gadis yang terlihat feminin begini?

 

"Lagian, jangan asal potret dong."


"Nggak apa-apa kan, ini kan baju hasil produksiku."

 

"Jangan asal posting di Minsta atau semacamnya ya. Aku bakal tarik biaya royalti lho."

 

"Ahaha, baru jadi sedikit keren saja sudah merasa seperti model?"

 

"Dengar ya......"

 

"Terus, gimana tanggapan yang lain?"

 

"Nggak ada reaksi yang gimana-gimana kok.......Yah, ada sih yang memuji sedikit."

 

Kejadian saat dipuji Hoshimiya terlintas di benakku.......Ah, rasanya sudut bibirku mau tersenyum sendiri.

 

"Hee, bagus dong. Tadi kalian ke Spocha, kan?"

 

"Iya, berkat latihan fisik, staminaku masih sangat cukup, jadi——"

 

Sambil asyik mengobrol, tanpa sadar aku sudah sampai di depan rumahku.

 

......Eh? Kenapa rasanya aku sudah menceritakan hampir semua kejadian hari ini ya?

 

Respons Miori terlalu alami dan tepat sasaran, membuat kata-kata mengalir keluar dari mulutku begitu saja.

 

"Kalau begitu, sampai jumpa ya Natsuki. Hubungi aku lagi ya kalau ada acara menarik lainnya?"

 

Miori tersenyum manis lalu pergi menuju rumahnya sendiri.

 

Mi, Miori...... Dia mungkin wanita yang lebih mengerikan daripada yang kubayangkan.

 

 

Lima hari kemudian. Sore hari di hari Kamis.

 

"Kalau begitu Haibara-kun, mari kita pergi."

 

Nanase yang sudah selesai bersiap-siap pulang menghampiri mejaku. Gara-gara sikap dan perkataannya itu, rasanya suasana kelas jadi sedikit gaduh, entah kenapa.

 

"Ah, iya."

 

Aku mengangguk, berdiri, lalu mulai berjalan berdampingan dengan Nanase. Teman-teman yang lain langsung pergi ke klub masing-masing tepat setelah jam pelajaran berakhir. Hoshimiya yang anggota klub sastra pun hari ini ada jadwal klub.

 

"Katanya sih tetap ada wawancara, tapi itu cuma formalitas saja."

 

Aku dan Nanase berencana menuju Kafe Mares sekarang. Nanase untuk bekerja, dan aku untuk wawancara. Dua hari setelah hari libur itu, aku sempat mengunjungi Kafe Mares sendirian dan menyukai suasananya yang tenang. Makanya aku minta dikenalkan oleh Nanase.

 

"Dengan kepribadianmu, Haibara-kun, kurasa kamu akan lolos tanpa masalah."

 

"Yah, syukurlah kalau begitu."

 

Dia bilang "dengan kepribadianku", tapi sejauh mana Nanase memahami kepribadianku yang sebenarnya? Sulit membayangkan diriku yang asli bisa lolos wawancara. Meski aku merasa kalau cuma kerja sambilan pasti bisa diatasi, ingatan saat berkali-kali ditolak waktu mencari kerja di tahun keempat kuliah dulu terlintas di benak.

 

Waktu ditolak oleh tiga puluh perusahaan, aku benar-benar sempat bimbang apakah ingin mati saja atau tidak. Meski akhirnya dapat tawaran kerja, sekarang setelah aku mengulang waktu, semuanya jadi tidak berarti. Walaupun aku tidak menyesalinya, sih.

 

"Katanya bagian dapur yang kekurangan orang ya?"

 

"Di bagian depan juga kurang sih, tapi memang di dapur yang lebih parah."

 

"Nanase di bagian mana?"

 

"Aku di bagian depan. Bukannya mau pamer, tapi aku tidak bisa memasak."

 

"Itu benar-benar bukan sesuatu yang bisa dipamerkan ya......"

 

"Kamu kaget?"

 

"Yah, habisnya Nanase kelihatannya bisa melakukan apa saja."

 

"Banyak yang bilang begitu. Tapi aku ini gadis biasa saja, lebih dari yang orang-orang bayangkan. Aku bisa upacara minum teh atau kaligrafi itu cuma karena dulu aku les, jadi aku tahu tata caranya."

 

"Sepertinya belakangan ini aku mulai paham soal itu."

 

"......Kalau kamu langsung setuju begitu, entah kenapa aku jadi tidak terima."

 

"Sifatmu merepotkan juga ya!?"

 

Saat aku menyindirnya, Nanase terkekeh pelan. Cara tertawanya yang anggun dengan menutup mulut menggunakan tangan menunjukkan didikan yang baik sekaligus terlihat manis. Nanase, kamu ini...... benar-benar "layak didukung". Dia berakting sebagai si cantik yang dingin, padahal aslinya dia cuma gadis biasa. Apa ini atribut terkuat?

 

"Nah, ayo berangkat...... eh, ada apa?"

 

Saat aku sedang memandangi Nanase lekat-lekat, dia menyadari tatapanku dan memiringkan kepalanya dengan bingung. Gerakan itu juga terasa imut karena kontras dengan wajahnya yang tipe cantik elegan.

 

"Ah, tidak, bukan apa-apa."

 

A-aman...... hampir saja aku ketahuan terlalu lama menatap.

 

Aku mulai merasa seperti penggemar fanatik idola terhadap Nanase. Bukannya aku ingin pacaran dengannya atau semacamnya. Bagaimana ya mengatakannya, intinya Nanase itu benar-benar layak didukung. Rasanya aku cuma ingin dia hidup bahagia, itu saja.

 

Aku terus melanjutkan obrolan sambil berusaha agar isi pikiranku yang benar-benar menjijikkan tadi tidak ketahuan.

 

"Haibara-kun ingin di bagian dapur, kan?"

 

"Hmm, yah, di bagian depan juga tidak apa-apa sih, tapi kalau di dapur lebih kekurangan orang, aku di sana saja."

 

Sejujurnya aku tidak keberatan di mana pun. Hanya saja, karena jati diriku sebagai Inkya tidak berubah, aku merasa berbicara dengan orang asing jauh lebih menguras tenaga mental dibandingkan memasak. Jadi, sepertinya bagian dapur memang lebih cocok.

 

"Sejauh mana kemampuan memasakmu?"

 

"Kalau ditanya sejauh mana... agak sulit menjelaskannya ya..."

 

Soal memasak, aku sudah mendalaminya saat hidup sendirian di zaman kuliah dulu karena terlalu banyak waktu luang. Aku menonton berbagai video masak di YouTube, mencari resep di internet, dan setiap hari mencoba berbagai kreasi. Lagipula, karena aku tidak pernah keluar rumah selain untuk kuliah, aku bebas melakukan riset masakan sesuka hati. Hahaha!

 

Orang sering bilang masak itu merepotkan, tapi bagiku, keluar rumah jauh lebih merepotkan. Malah, aku tidak ingin keluar rumah sama sekali. Hidupku sudah cukup tuntas hanya di dalam rumah.

 

Nanase, yang tentu saja tidak tahu sedikit pun soal pemikiran Inkya-ku itu, mengangguk riang.

 

"Fufu, benar juga ya."

 

"Yah, kalau cuma level yang diminta di kafe, kurasa aku bakal baik-baik saja. Di rumah pun aku lumayan sering memasak, dan karena sudah banyak melakukan percobaan yang tidak perlu, biasanya masakan yang kubuat rasanya enak."

 

Lagipula, aku punya pengalaman kerja sambilan di kafe saat zaman kuliah dulu. Aku bisa membuat hampir semua menu, dan kurasa aku juga bisa menangani bagian depan.

 

"He~, sepertinya kamu cukup percaya diri ya. Kalau begitu, aku akan menantikannya, oke?"

 

"Memangnya ada kesempatan bagiku untuk menyajikan masakan buatmu?"

 

"Aku juga sering datang sebagai pelanggan kok. Mungkin aku akan datang saat kamu sedang ada shift."

 

Ucap Nanase sambil tersenyum jahil.

 

 

Setelah itu, aku menjalani wawancara di Kafe Mares dan lolos tanpa masalah. Mengenai jadwal kerja, aku masuk sekitar tiga kali seminggu, dari jam 6 sore sampai jam 10 malam setelah pulang sekolah. Untuk hari Sabtu dan Minggu, jadwalnya lebih fleksibel.

 

"Kalau begitu, mohon bantuannya mulai minggu depan ya."

 

Pemilik kafenya adalah seorang kakek yang terlihat sangat baik. Senyum ramahnya sangat cocok untuknya. Syukurlah dia bukan orang yang galak. Kalau bekerja di bawah atasan yang menyeramkan, aku pasti akan terlalu ciut dan malah sering melakukan kesalahan...

 

"Oh, si laki-laki tampan ya. Anak baru?"

 

Seseorang yang menyapa dengan nada santai saat masuk ke kafe adalah seorang wanita berambut pirang. Mungkin mahasiswi. Melihatnya masuk ke balik konter dengan santai, sepertinya dia pegawai di sini.

 

"Saya Haibara Natsuki, mulai bekerja minggu depan. Mohon bantuannya."

 

"Natsuki-kun ya, salam kenal—. Aku Kirishima Mika. Mahasiswi tahun pertama."

 

Karena dia mengajak bersalaman dengan santai, aku langsung menyadari. Ini... adalah gaya pendekatan orang populer!

 

"Ah, ngomong-ngomong, Yuino pernah bilang ada seseorang yang ingin dia kenalkan ya?"

 

"Iya. Haibara-kun inilah orangnya."

 

Saat aku hendak menjawab, Nanase yang sedang menyapu area depan menjawab lebih dulu. Mika-san memandang Nanase dengan wajah penuh seringai jahil, lalu berbisik di dekat telingaku.

 

"......Ngomong-ngomong, pacarmu?"

 

"Kedengaran lho. Bukan kok."

 

Nanase memberikan teguran pada Mika-san dengan wajah jengah.

 

"Aku kan tanya ke anak ini. Gimana, Natsuki-kun?"

 

"Sayangnya, bukan pacar. Tapi kalau punya pacar seperti dia, aku pasti akan senang sekali."

 

"Hee~. Fu~un? Tuh denger, Yuino?"

 

Saat aku mengangkat bahu, Mika-san memanggil Nanase dengan nada geli.

 

......Hm? Tadi aku cuma jujur saja sih, tapi apa jangan-jangan itu terdengar menjijikkan?

 

"Sudahlah. Tolong jangan mengolok-olok terus."

 

Nanase menjawab dengan nada datar sambil membelakangi kami dan terus menyapu bagian dalam kafe.

 

"Oi Kirishima. Jangan mengerjai anak baru, cepat kerjakan tugasmu."

 

Saat pemilik toko memanggil sambil tertawa kecut, Mika-san menjawab "Iyaa—" dengan nada malas lalu menghilang ke ruang karyawan. Karena Nanase juga lanjut bekerja, sebaiknya aku pulang sekarang.

 

"Kalau begitu Nanase, sampai jumpa besok."

 

"......Iya, sampai jumpa besok. Dan juga, mohon bantuannya untuk ke depannya ya."

 

Begitulah, tempat kerja sambilanku sudah diputuskan, dan mulai minggu berikutnya kehidupan sekolah dan kerja sambilanku pun dimulai.

 

 

Saat awal-awal mulai hidup sendirian dulu, aku selalu makan di luar, tapi lama-lama keluar rumah saja terasa merepotkan. Aku terus-terusan makan mi instan sampai akhirnya bosan, dan terpaksa mulai memasak sendiri.

 

Memasak itu mudah. Cukup potong bahan-bahannya, lalu rebus, panggang, atau goreng secara asal, dan jadilah sesuatu yang kelihatan layak makan. Sisanya tinggal memahami takaran bumbu dan pemilihan waktunya saja.

 

Tapi, ceritanya jadi lain kalau harus menyajikannya di level yang layak diberikan kepada orang lain. Kalau aku yang masak dan aku yang makan sendiri sih tidak masalah kalau gagal, tapi di kerja sambilan dapur tidak bisa begitu. Selama orang membayar uang untuk hidangan yang disajikan, aku merasa harus memberikan sesuatu yang pantas. Karena itulah saat mulai kerja di dapur kafe di tahun kedua kuliah dulu, aku sempat merasa terbebani dengan kesenjangan itu. Tentu saja aku juga harus menyesuaikan diri dengan cara masak di kafe tersebut.


——Meski begitu, setelah tiga bulan aku pun terbiasa. Pada dasarnya cara memasaknya sudah baku, jadi tinggal dihafalkan saja, apalagi sedikit variasi masih diperbolehkan, jadi terasa ada tantangannya. Ini menyenangkan.

 

"Natsuki-kuun. Pesan satu Neapolitan ya."

 

"Oke, oke."

 

Mendengar suara Mika-san, aku mulai memasak.

 

Sambil merebus mi dalam air garam, aku memotong bawang bombai, paprika, jamur, dan bahan lainnya. Aku mencampur saus tomat dan bumbu lainnya, lalu menumis bahan-bahan yang sudah dipotong di wajan. Setelah itu aku memasukkan mi yang sudah ditiriskan, menambahkan saus bumbu rahasia versiku, dan menumisnya dengan api besar sekaligus. Maka jadilah Neapolitan ala aku.

 

Yah, cara buatnya sih standar, tapi bumbunya kubuat sesuai seleraku. Di Kafe Mares ini, meski ada instruksi untuk setiap menu, aku punya kebebasan yang cukup dalam memasak, jadi terasa sangat memuaskan. Menyenangkan sekali.

 

"Kirishima-san, Neapolitan-nya sudah siap."

 

"Oh, cepatnya! Biar aku yang antar!"

 

Sebenarnya sebelum mulai bekerja di dapur, ada semacam tes memasak untuk pemilik kafe sebelum hidangan boleh disajikan ke pelanggan. Aku lolos tanpa masalah (bahkan dipuji habis-habisan), jadi di hari kedua kerja pun aku sudah jadi tenaga tempur utama. Aku sudah hafal hampir semua pekerjaan.

 

"Tapi Natsuki-kun, kamu hebat banget ya? Serius belum pernah kerja sambilan sebelumnya?"


Mika-san menghampiriku dengan riang setelah selesai mengantar pesanan.

 

Saat ini hanya ada dua pelanggan di dalam kafe. Ada kalanya tempat ini sangat ramai, tapi saat sepi seperti ini, tidak banyak yang bisa dikerjakan sehingga mengobrol santai pun diperbolehkan. Sekarang adalah momen itu.

 

"Ah—yah, karena aku sering masak di rumah, jadi..."

 

"Tetap saja! Mana ada yang bisa bikin pemilik kafe mengakui kemampuannya di hari pertama. Kamu benar-benar definisi tenaga siap pakai. Yuino, hebat juga kamu bisa bawa jenius seperti dia ke sini? Kerja bagus!"

 

Nanase yang diajak bicara sedang menghitung uang di mesin kasir.

 

"Aku pun tidak menyangka kalau dia laki-laki yang semampu ini."

 

Nanase menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Apa aku melakukan kesalahan?

 

"......Aku butuh waktu 1 bulan hanya untuk menghafal pekerjaan di depan."

 

Tatapan tajamnya seolah menusukku. Dia terlihat tidak puas, tapi menurutku itu normal-normal saja, lho.

 

"Yuino dulu juga cepat belajarnya kok! Natsuki-kun saja yang aneh!"

 

Aku tahu itu maksudnya memuji, tapi dibilang "aneh" oleh mahasiswi bergaya gyaru begini rasanya menusuk ke hati.

 

Benar, aku ini memang siswa SMA Inkya yang aneh...... hufufu......

 

"Tidak, Haibara-kun benar-benar bisa diandalkan. Mohon bantuannya terus ya."

 

Pemilik kafe muncul dari bagian dalam dan menepuk bahuku pelan.

 

......Yah, begitulah, semuanya memujiku habis-habisan. Tapi bagiku yang punya pengalaman dua tahun kerja di kafe, aku hanya melakukan hal yang sudah seharusnya, jadi rasanya agak menggelitik. Kalau aku cerita soal itu, jatuhnya malah bohong. Kalau mereka cari tahu, pasti ketahuan juga.

 

"Yah, begini saja sih sudah sewajarnya."

 

"Haibara-kun selalu rendah hati ya. Kamu boleh lho sedikit lebih sombong."

 

Nanase bilang begitu, tapi pamer hanya karena hal sekecil ini rasanya memalukan. Meskipun aku ini si payah Inkya yang tidak berguna, karena aku sudah mengulang hidup dan kembali tujuh tahun ke masa lalu, wajar saja jika ada bagian dari diriku yang lebih unggul dari orang di sekitarku.

 

"Bukan, ini bukan karena aku, tapi berkat orang yang mengajariku. Makanya aku bisa memasak."

 

Karena itulah, alih-alih merendah, aku hanya bisa tertawa kecut dengan jawaban yang ambigu untuk berkelit.

 

Di saat yang pas, lonceng pintu masuk berbunyi. Nanase segera menuju depan untuk melayani pelanggan.

 

Nah, lebih baik aku mencuci piring yang menumpuk saja—tepat saat aku berpikir begitu...

 

"Yaho— Yui-yui! Aku datang main nih!"


Terdengar suara yang sangat kukenal. Suaranya kencang sekali lagi.

 

Sambil merasakan firasat buruk, aku menoleh ke pintu masuk dan melihat tiga sosok yang tidak asing. Pelanggan baru itu adalah Uta, Tatsuya, dan Reita.

 

"Oi Nanase. Si Natsuki mana...... eh, dia di dapur?"

 

Tatsuya yang celingukan mencari keberadaanku langsung membelalakkan mata saat menyadarinya.

 

"......Mari saya antar ke kursi. Silakan lewat sini."

 

Nanase terlihat sedikit malu, tapi ia tetap melayani sesuai manual. Aku paham rasanya, pasti bingung harus sejauh mana bersikap formal dan sejauh mana bicara santai saat teman datang.

 

Tatsuya dan Uta duduk di kursi meja dengan posisi bersandar dalam, seolah sedang lunglai. Mereka pasti capek setelah latihan klub. Sambil tertawa kecut melihat mereka berdua, Reita meminta maaf padaku dan Nanase.

 

"Tadi siang aku dengar kalau jadwal shift kalian berdua berbarengan. Jadi kami bertiga kepikiran, gimana kalau mampir mendadak sepulang latihan klub buat bikin kejutan. Kalian kaget?"

 

"Kaget, tahu. Lain kali kasih tahu dulu, ya?"

 

Nanase mengerucutkan bibirnya sambil ditenangkan oleh Reita. Aku tetap melanjutkan pekerjaanku di dapur, tapi...

 

"Bicaralah dulu sebentar dengan mereka. Kalian kan berteman?"

 

"Eh, boleh ya?"




"Hari ini pengunjungnya memang lagi sepi kok," kata pemilik kafe pengertian.

 

"Terima kasih banyak! Kalau begitu, saya permisi sebentar."

 

Karena Manajer sudah berbaik hati, aku membungkuk sopan lalu melangkah menuju meja Uta dan yang lainnya.

 

"Yo. Kalian ke sini cuma mau nambahin kerjaanku ya?"

 

"Eeeh? Kok ngomongnya gitu! Natsu, apa kamu nggak senang kami datang?"

 

"Mau senang atau nggak, kan tadi kita baru saja barengan di sekolah..."

 

Saat aku menjawab dengan terlalu logis, Uta menggembungkan pipinya dengan kesal.


"Mumu!"

 

"Natsu, sekarang kamu senang nggak!?"

 

"U-uh, iya?"

 

Gila, energinya kuat banget. Apalagi wajah Uta mendadak dekat sekali, membuatku refleks mundur selangkah.

 

"Kamu senang nggak bisa berteman sama aku?"

 

Pertanyaan yang terlalu langsung itu membuatku refleks membuang muka, tapi akhirnya aku mengangguk juga.

 

"Y-yah... lumayanlah."

 

"Kehidupan sekolah bareng kami seru nggak?"

 

"Tentu saja seru."

 

"Berarti sekarang Natsu lagi senang, kan!? Kamu senang kan aku datang!?"

 

"......H-hah?"

 

Secara logika rasanya poin-poin itu nggak nyambung, tapi aku nggak tega menghilangkan senyum cemerlang di wajah Uta saat ini, jadi aku akhirnya mengangguk saja. Lemah banget sih aku ini.

 

"Yah, begitulah. Oke, mari kita anggap begitu!"

 

"Ieeiii!"

 

"I-ieeiii!"

 

Karena Uta mengangkat tangannya, aku berusaha menyesuaikan diri untuk melakukan high five.

 

Gawat. Aku nggak bisa ngejar tensinya! Ini nih, obrolan atmosferik khas orang populer!

 

"......Kalian akrab sekali ya."

 

"Tentu saja, aku dan Natsu itu sahabat sejati!"

 

Uta berdiri dan merangkul bahuku.

 

Kan sudah dibilang jaraknya terlalu dekat!?

 

Karena dia mencoba merangkulku begitu saja, mau tak mau aku harus sedikit membungkukkan punggungku agar tingginya pas. Tubuh Uta menempel. Terasa empuk. Padahal kukira bagian dadanya sedatar papan, ternyata dia memang benar-benar seorang gadis.


Ditambah lagi, ada aroma harum yang tercium, padahal dia baru selesai latihan klub.

 

Uta, yang sepertinya sama sekali tidak sadar betapa tegangnya aku, memberikan tanda peace ke arah Nanase.

 

"Ieeiii! Yui-yui, tolong fotoin!"

 

"Tunggu, jang—"

 

Belum sempat aku mencegah, bunyi cekrek kamera ponsel sudah terdengar.

 

Yah, bukannya aku nggak suka sih! Tapi tolong kasih jantungku waktu buat istirahat! Lagipula Nanase cepat banget geraknya? Rasanya dia sudah siap memegang kamera dari awal.

 

Menyadari tatapanku, Nanase tersenyum tipis.

 

"Mau kupasang di Minsta."

 

"Bisa nggak pakai foto yang lebih normal? Kalau begini kan agak..."

 

"Agak apa?"

 

Nanase memasang senyum jahil.

 

Ya habisnya, kalau begini kan... gimana ya... kelihatannya kayak orang pacaran, kan? Apa aku yang terlalu kepedean? Apa di dunia orang populer hal begini itu biasa saja?

 

"Eh, anu, Yui-yui... pakai foto lain saja gimana? Ah, benar! Ayo foto bareng semuanya!"

 

"Oh, begitu? Yah, kalau Sakura-san yang bilang sih."

Saat aku sedang panik sendiri, Nanase langsung setuju dengan usul Uta. Tapi Uta bilang begitu bukan karena punya pemikiran sempit sepertiku, dia pasti cuma ingin foto bareng-bareng saja.

 

"Ayo semuanya, masuk ke sini!"

 

Uta membalik kamera ponselnya dan menjulurkan tangannya jauh ke depan. Berada di dalam jangkauan kamera itu membuatku kembali sangat dekat dengan Uta, tapi ya sudahlah.

 

Setelah semuanya masuk ke dalam frame, Uta mengambil foto, dan foto itu langsung dikirim ke grup chat RINE. Aku pun membuka ponsel dan melihat foto itu. Memang ada kami berlima di sana.

 

Entah kenapa... hal seperti ini membuatku senang. Sudut bibirku tanpa sadar tersenyum. Rasanya seperti kenangan menyenangkan yang terukir manis dalam satu lembar foto. Dulu aku pikir berfoto itu tidak ada gunanya, tapi... ternyata tidak begitu ya.

 

"Ah, lihat-lihat! Ada pesan dari Hikarin!"

 

Mendengar kata-kata Uta, aku mengalihkan layar dari foto kembali ke grup chat. Hoshimiya mengirim pesan: Kalian curang banget sih—! lengkap dengan stiker orang marah.

 

"Lho? Ngomong-ngomong kenapa Hoshimiya nggak ikut?"

 

"Sudah kuajak, tapi sepertinya jam malam di rumahnya cukup ketat. Ditambah lagi, meski hari ini ada jadwal klub sastra, biasanya mereka selesai lebih awal daripada klub olahraga, jadi waktunya nggak pas."

 

"Oh, kalau begitu ya mau gimana lagi."

 

Uta membalas pesan itu dengan kalimat Biarin, wlee!. Pemandangan yang sangat hangat.


"Aku juga ingin mengunggahnya ke Minsta. Boleh kan?"

 

Nanase meminta izin. Sambil mengangguk bersama yang lain, aku berkata:

 

"Oh iya, aku belum terhubung dengan Minsta Nanase ya. Kasih tahu dong akunmu."

 

"Hah? Memangnya kamu main Minsta?"

 

"Baru mulai belakangan ini sih. Makanya pengikutnya masih nol."

 

"Kasihan sekali. Baiklah, terpaksa aku akan mengikutimu."

 

"Ah, aku juga, aku juga!"

 

"Aku juga ya. Tatsuya, kamu nggak main ya?"

 

"Nggak, aku cuma punya akun buat lihat-lihat saja. Malas posting apa-apa."

 

Begitulah, akhirnya aku terhubung dengan semuanya di Minsta.

 

Aku baru mulai beberapa hari yang lalu karena tidak sengaja tahu kalau cuma aku yang belum terhubung, dan rasa keterasingan itu terasa agak sedih. Cuma sedikit kok sedihnya. Sedikit saja.

 

Memang ya, anak populer zaman sekarang semuanya pasti main Minsta. Dulu aku cuma pakai Twister buat mem-follow konten-konten otaku saja...

 

Ngomong-ngomong, karena sudah terhubung, aku mencoba melihat postingan Nanase yang baru saja mengunggah foto tadi. Yang muncul di sana adalah foto kami berlima yang sedang tersenyum, dan di bawahnya ada tulisan:


Semuanya datang ke tempat kerjaku Makasih yaaa! #KafeMares

 

"............Ini siapa!?"

 

"A-apa. Ada masalah?"

 

Nanase membuang muka. Pipinya sedikit memerah.

 

"Ahaha, karakter Yui-yui di Minsta beda banget ya, lucu!"

 

"Aku sih sudah mulai terbiasa, tapi kalau baru pertama lihat pasti kaget ya."

 

Apa kamu memang ingin mencoba mencari kerja sampingan juga untuk menambah penghasilan atau sekadar ingin menghabiskan waktu bersama mereka?

 

Uta tertawa terbahak-bahak, sementara Reita hanya bisa tersenyum kecut.

 

"Ah, hei, hei, Yui-yui. Natsu di bagian dapur, kan?"

 

"Iya."

 

"Jadi kalau sekarang aku pesan sesuatu, Natsu yang bakal masakin?"

 

"Begitulah."

 

"Oi, oi, jangan malah nambah-nambahin kerjaanku dong."

 

"Aku sudah telanjur kirim pesan ke Ibu kalau malam ini nggak makan di rumah. Bakal repot nih kalau Natsu nggak masakin sesuatu buatku. Tolong buatin pasta ya, apa saja yang paling kamu kuasai."

 

"Aku makan malam di rumah, jadi mau yang ringan-ringan saja. Rekomendasi dari Natsu!"

 

"Kalau aku sih, apa saja asal porsinya banyak."

 

"Jangan minta porsi bar-bar di kafe dong..."

 

Kecuali kalau ini kedai Komeda, baru masuk akal. Aku kembali ke dapur sambil tertawa kecut.

 

Saat aku melirik ke arah Manajer, beliau mengangguk pelan dengan wajah tenang. Padahal aku belum bilang apa-apa, tapi sepertinya beliau sudah paham maksudku. Sepertinya aku diizinkan memasak dengan bebas kalau untuk teman sendiri.

 

Toko yang dikelola sendiri begini memang enak karena lebih fleksibel. Malah, rasanya jadi seru.

 

"Nah, enaknya masak apa ya..."

 

Mumpung menyajikan makanan untuk teman, aku ingin membuat sesuatu yang enak dan membuat mereka senang.

 

Begitu terpikirkan hal itu, aku malah jadi gugup. Aku sudah sering memasak untuk pelanggan, tapi belum pernah sekalipun memasak untuk teman. Ya, alasannya jelas karena aku tidak punya teman. Sebuah hukum alam yang mutlak.

 

"Mau masak apa?"

 

"Lihat saja nanti. Akan kutunjukkan keseriusanku."

 

"Aku sih tidak keberatan, tapi jangan kelewatan sampai nanti dimarahi ya?"

 

Benar juga, tidak baik kalau terlalu melenceng dari menu yang ada. Ada masalah penentuan harga juga. Karena masih ada beberapa pelanggan lain, aku tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama.

 

——Hmm, rasanya kemampuanku sedang meronta ingin ditunjukkan.

 

 

Begitulah, Nanase mengantarkan masakan yang sudah selesai kubuat ke meja mereka.

 

"Wah— kelihatannya enak banget!"

 

Uta berseru dengan nada sangat antusias. Suaranya agak keras, tapi karena pelanggan lain sudah pulang saat aku sedang memasak tadi, jadi tidak masalah lah.

 

Untuk Reita yang minta pasta, aku buatkan Seafood Soup Spaghetti. Untuk Uta yang suka manis, aku buatkan Pancake dengan whipped cream yang melimpah. Dan untuk Tatsuya yang mengutamakan porsi, aku buatkan Omurice porsi besar.

 

Aku hanya memberikan variasi pada menu yang sudah ada, tapi rasanya kubuat benar-benar sesuai seleraku. Tinggal masalah apakah mereka bakal suka atau tidak. Duh, aku jadi makin gugup.

 

Sambil menahan napas, aku memperhatikan reaksi mereka. Pertama, Uta mengambil suapan pertama. Lalu, dia mengerjapkan mata seolah terkejut, dan tanpa mengucap sepatah kata pun, dia lanjut makan suapan kedua dan ketiga. Eh, mana testimoninya!?

 

Saat aku mulai tidak sabar, Tatsuya dan Reita juga mulai makan, jadi aku memberanikan diri untuk bertanya.

 

"......G-gimana?"


Namun, entah kenapa mereka bertiga tidak menjawab. Jangan-jangan... rasanya nggak enak?

 

"E..."

 

"E?"

 

"Enak bangeeeet!"

 

Uta berseru kegirangan dengan suara yang sangat lantang. Melihat Uta yang tensinya sedang mencapai puncak, Reita mencoba menenangkannya dengan lembut.

 

"Uta, pelankan suaramu, nanti mengganggu toko. ......Tapi, aku setuju dengannya. Aku nggak menyangka rasanya bakal seenak ini. Aku pernah ke sini sebelumnya, tapi yang ini banyak variasinya ya?"

 

"Iya. Ini kubuat pakai caraku sendiri, jadi aku mengabaikan cara standar toko. Rahasia ya."

 

Aku meletakkan jari di depan bibir.

 

Tentu saja Manajer tidak akan marah, sih.

 

"Enak! Beneran enak! Natsu hebat banget!"

 

Mungkin karena sudah diperingatkan Reita, Uta berseru dengan volume yang lebih tertahan.

 

Melihatnya makan dengan sangat lahap begitu membuatku ikut senang. Rasanya memasak tadi jadi tidak sia-sia. Tatsuya juga terus menyuap omurice-nya dengan lahap sambil bergumam, "Enak."

 

"Aku mau coba punya kalian berdua juga! Tatsu, minta satu suap!"

 

Uta menatap omurice dengan mata berbinar-binar lalu membuka mulutnya.

 

......Apa ini maksudnya dia minta disuapi oleh Tatsuya? Melakukan hal seperti itu di depan umum... ah benar, mereka kan orang populer. Cuma aku saja yang merasa aneh. Meski begitu, di antara orang populer pun ada yang masih tahu batasan.

 

Tatsuya yang aslinya cukup punya tata krama itu sempat terdiam seribu bahasa sebelum membuang muka dengan ekspresi kesal.

 

"Siapa juga yang mau melakukan hal memalukan begitu. Kalau mau makan, ambil saja sendiri."

 

Ucapnya sambil meletakkan sendok di atas piring. Uta tidak terlihat keberatan dan langsung mengambil sendok itu.

 

"Kalau begitu, aku ambil ya! ......Wah, yang ini juga enak!"

 

Setelah itu, mereka bertiga lanjut makan dengan rukun sambil saling mencicipi masakan masing-masing. Sebenarnya menurutku pancake tidak cocok dimakan bareng masakan lain, tapi ya sudahlah. Yang penting Uta terlihat senang.

 

Di sebelahku, Nanase tampak menelan ludah. Apa dia juga ingin makan? Yah, aku juga mulai merasa lapar. Coba kugoda sedikit ah. Oke... mari kita coba tantangan ini.

 

Aku menepuk bahu Nanase pelan, lalu menyeringai sambil bertanya.

 

"Mau makan juga?"

 

"Y-yah... tapi kan aku sedang kerja. Ah benar, nanti buatkan makanan karyawan untukku ya."

 

"Tentu saja, kalau cuma segitu serahkan padaku."

 

Aku menepuk dadaku dengan kepalan tangan.

 

......Sip, obrolannya seru. Dan kontak fisik yang natural pun berhasil kulakukan.

 

Hebat ya orang populer, mereka bisa melakukan hal-hal begini seperti sedang bernapas saja. Sementara aku, aku payah sekali dalam menentukan batasan tingkat kesukaan orang untuk melakukan kontak fisik. Meski dengan Nanase yang sudah lumayan akrab (setidaknya menurutku begitu), menepuk bahu saja sudah merupakan usaha maksimal bagiku. Yah, daripada salah baca jarak lalu dianggap menjijikkan, lebih baik bersikap terlalu hati-hati begini, kan.

 

Saat sedang mengobrol dengan Nanase, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.......Kok Tatsuya jadi agak pendiam ya?

 

"Ayo, ayo, kalian agak berisik lho. Lagipula meski nggak ada pelanggan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan."

 

Saat aku hendak mengajak Tatsuya bicara, Kirishima-san menepuk kepalaku pelan dari belakang. Mungkin meski sedang sepi pelanggan, kami memang sudah agak terlalu berisik.

 

"Iya, iya," jawabku malas, lalu dengan enggan aku dan Nanase kembali bekerja.

 

"......Kamu baru saja mulai kerja sambilan di toko ini, kan?"

 

Tatsuya bertanya dengan nada datar saat aku sedang memunggungi mereka.

 

"Hm? Oh, iya, benar."

 

"Padahal begitu, tapi kamu sudah bisa sejauh ini......"

 

"Yah, aslinya cuma karena dulu diajari masak sama orang tua saja kok," jawabku sambil mengangkat bahu.

 

Tatsuya melahap sisa omurice-nya dengan lahap, lalu bergumam:

 

"—Tetap saja, kamu hebat. Kamu benar-benar bisa melakukan apa saja ya, Natsuki."

 

Dipuji seperti itu membuatku merasa senang yang tulus.

 

Tepat saat itu, terdengar bunyi lonceng di pintu masuk. Karena ada pelanggan lain yang datang, aku dan Nanase meninggalkan meja Uta dan yang lainnya.

 

Setelah itu kafe mendadak mulai ramai, jadi begitu selesai makan, Uta dan yang lainnya langsung pamit pulang.

 

 

Sesampainya di rumah setelah selesai kerja sambilan, waktu sudah menunjukkan hampir jam sebelas malam.

 

Saat aku sedang berpikir untuk segera mandi dan tidur, suara notifikasi ponsel terdengar. Ketika melihat layarnya, ternyata dari Hoshimiya. Kukira di grup chat, ternyata pesan pribadi.

 

Hoshimiya Hikari: Beneran kamu masakin buat semuanya!?

 

Kalau diingat-ingat, hari ini Hoshimiya memang sempat mengomel di RINE karena merasa ditinggal sendiri.

 

Aku langsung membalas pesannya untuk mengonfirmasi. Yah, meski dibilang masakan sendiri, aslinya itu cuma menu toko biasa sih.


Natsuki: Iya, benar—

 

Hoshimiya Hikari: Eeeh, curang! Aku juga mau coba makan!

 

Natsuki: Datang saja ke tempat kerjaku, nanti kubuatkan sebanyak apa pun hahaha

 

Hoshimiya Hikari: Lain kali aku pasti ikut datang!

 

Natsuki: Nggak usah terlalu berekspektasi, bukan sesuatu yang wah banget kok hahaha

 

Hoshimiya Hikari: Eeeh, bohong— Aku lihat foto yang diposting Uta-chan di Story, kelihatannya enak banget lho?

 

Saat membuka Minsta, memang ada foto masakan yang diambil Uta di Story-nya. Kapan dia sempat memotretnya......?

 

Tapi harus diakui, fotonya bagus. Benar-benar terlihat lezat.

 

Natsuki: Beneran ya. Kapan dia foto itu

 

Hoshimiya Hikari: Gara-gara lihat itu aku jadi lapar

 

Natsuki: Bener banget lol Apa aku makan mi instan saja ya

 

Hoshimiya Hikari: Curang banget sih!? Padahal aku lagi diet tahu!

 

Natsuki: Oh ya? Padahal kayaknya nggak perlu deh

 

Hoshimiya Hikari: Bagian yang nggak kelihatan itu bikin kepikiran tahu!

 

Natsuki: Makan mi instan tengah malam itu enak lho?


Rasanya memang penuh dosa...... tapi meski bilang begitu, aku tidak benar-benar berniat memakannya. Setelah susah payah membentuk tubuh agar layak dilihat orang, aku tidak mau menambah lemak yang tidak perlu di sini.

 

Hoshimiya Hikari: Natsuki-kun juga dilarang makan!

 

Natsuki: Kok nggak adil gitu sih

 

Hoshimiya Hikari: Karena itu buruk buat kesehatan

 

Natsuki: Ya sudahlah kalau begitu

 

Setelah membalas pesan itu, ada jeda beberapa menit.

 

Waktu-waktu seperti ini biasanya membuatku merasa cemas. Apa aku salah membalas pesannya tadi ya? Apa sebaiknya aku memberikan topik baru?

 

Bagi aku yang ingin terus melanjutkan obrolan sebisa mungkin karena jarang-jarang Hoshimiya mengirim pesan RINE duluan, aku mengetik sambil memikirkan banyak hal, tapi Hoshimiya sepertinya cuma sekadar mengikuti suasana saja.

 

Tak lama kemudian, statusnya menjadi terbaca, dan muncul balasan yang memutus obrolan: Aku tidur dulu ya! Sampai jumpa besok!. Meski wajar jika melihat jamnya, aku merasa sedikit sedih.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !