Chapter
2
Hari-hari Bagai Mimpi
——Sekitar
satu minggu telah berlalu sejak upacara masuk sekolah.
Pertengahan
April. Hari Jumat di akhir pekan. Waktu di mana aku mulai sedikit terbiasa
dengan kehidupan sekolah.
Sebenarnya
bagi aku yang menjalani hidup untuk kedua kalinya, tidak perlu waktu untuk
membiasakan diri—aku ingin berkata begitu, tapi ternyata banyak hal yang
terlupakan di luar dugaan, sehingga aku menjalani hari-hari yang terasa segar.
Suara
datar guru matematika bergema di dalam kelas yang hening. Angin musim semi yang
tenang berembus masuk melalui jendela, terasa sangat nyaman. Saat aku melirik
sekeliling kelas, jumlah murid yang terkantuk-kantuk mulai bertambah.
Jam
pelajaran keenam. Karena ini pelajaran terakhir hari ini, sepertinya semua
orang sudah kelelahan.
"——Soal
ini jadi pekerjaan rumah. Hari ini cukup sampai di sini."
Tepat
saat guru matematika bicara sambil melihat jam, lonceng tanda berakhirnya
pelajaran berbunyi.
"Akhirnya
selesaaai!"
Uta,
yang duduk di depanku, berseru sambil meregangkan tubuhnya lebar-lebar.
"Kamu
semangat sekali ya, Uta."
Saat
aku bicara sambil menguap, Uta menopangkan sikutnya di atas mejaku dan berkata:
"Habisnya,
besok kan hari libur? Akhirnya! Yang dinanti-nanti! Aku sudah muak disuruh
belajar terus setiap hari! Dengan begini aku bisa fokus ke klub—!"
Uta
yang sedang kegirangan itu sudah resmi masuk ke klub basket putri pada hari
orientasi lalu.
"Lalu,
hari Senin besok hari-hari penuh belajar akan dimulai lagi," gumam Reita
yang duduk di belakangku sambil merapikan buku pelajarannya. Lidah tajamnya itu
sukses membuat Uta memegangi kepalanya.
"——Lagipula,
kamu nggak bakal bisa latihan klub, kan?"
Tatsuya,
yang datang dari kursinya yang agak jauh, mengernyitkan dahi dengan heran.
Uta
memasang ekspresi bingung.
"Eh,
maksudnya gimana?"
"Bukannya
sudah dibilang kalau besok dan lusa ada perbaikan aula olahraga, jadi semua
kegiatan klub di sana ditiadakan?"
"Wali
kelas juga bilang begitu saat homeroom tadi."
"O-oh
iya, benar juga—!? Tapi hari ini masih bisa latihan, jadi nggak apa-apa!"
Baru
saja memegangi kepala karena frustrasi, Uta langsung melakukan fist pump.
Gerak-geriknya benar-benar berisik.
"Tapi
kalau begitu, hari Sabtu dan Minggu jadi luang banget ya. Enaknya ngapain
ya?"
"——Kalau
begitu Uta-chan, ayo kita pergi main ke suatu tempat."
Tanpa
kusadari, Hoshimiya sudah ada di dekat kami dan mengajak Uta dengan senyuman
yang manis.
"Eh,
serius!? Ayo, ayo! Asyik, kencan bareng Hikarin!"
"Kalau
gitu, gimana kalau kita main bareng-bareng saja? Aku juga lagi senggang nih."
"Eeeh,
Tatsu nggak usah ikut deh. Kamu mau mengganggu kencanku sama Hikarin ya?"
"Sudah-sudah,
Uta-chan. Mumpung ada kesempatan, pasti lebih seru kalau kita main
bareng-bareng."
"Kalau
Hikari pergi, aku juga ikut. Hari Sabtuku kosong."
Ucap
Nanase yang mendekat dengan wajah tenang. Tangannya mengelus kepala Hoshimiya.
Selama seminggu ini aku mulai paham kalau Nanase memang sangat memanjakan
Hoshimiya.
Tatapan
Hoshimiya beralih padaku. Sesaat aku bingung, tapi aku segera sadar kalau dia
ingin tahu jadwal luangku.
"Aku
juga senggang kok. Karena nggak ikut klub, Sabtu-Minggu aku luang banget."
Ah,
bahaya. Alam bawah sadarku yang terbiasa tidak pernah diajak orang lain hampir
saja menghambatku untuk masuk ke percakapan ini... Kenapa nilai-nilai masa lalu
masih saja mengganggu diriku yang sekarang!
"......Kalau
begitu, tinggal Reita-kun ya?"
Mendengar
pertanyaan Hoshimiya, Reita melipat tangan dengan wajah serius.
"Sepertinya
aku baru bisa kalau Sabtu siang. Aku masih ada latihan klub seperti
biasa."
Perbaikan
aula olahraga hanya meliburkan klub yang kegiatannya di dalam gedung. Tentu
saja Reita yang anak sepak bola tidak termasuk di dalamnya.
"Omong-omong,
Hoshimiya nggak ada kegiatan klub? Kamu akhirnya masuk klub sastra, kan?"
Hoshimiya
mengangguk menjawab pertanyaan Tatsuya.
"Sudah
masuk, tapi kegiatannya cuma dua kali seminggu di hari biasa. Jadi hari libur
aku bebas kapan saja... Tapi kalau terlalu banyak main, nanti Ibu dan
Yuino-chan bisa marah, jadi ya secukupnya saja."
"Hikari
itu kalau dibiarkan bakal langsung anjlok nilainya, jadi harus terus diawasi."
Ucap
Nanase sambil mendengus dan melipat tangan. Uta tertawa lebar melihat tingkah
Nanase.
"Ahahaha!
Rasanya seperti ada dua orang ibu di sini!"
"......Setidaknya
panggillah aku 'kakak', ya?"
Nanase
mengerucutkan bibirnya.
Di
balik pembawaan dan nada bicaranya yang dewasa, ternyata dia bisa bertingkah
kekanak-kanakan juga. Itu manis.
"——Nah,
soal detailnya kita bicarakan nanti saja. Kita harus segera piket bersih-bersih
kalau tidak mau kena masalah."
Setelah
jam keenam adalah waktu piket. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan
area bersih-bersih yang sudah ditentukan.
Selagi
kami asyik mengobrol, teman sekelas yang lain sudah mulai bergerak. Tidak ada
anak nakal di sini, jadi tidak ada yang mencoba melempar tugas piket ke orang
lain. Atas instruksi Reita, perkumpulan kami pun bubar untuk sementara.
*
Sore
itu sepulang sekolah. Di saat semua orang menghilang menuju klub masing-masing,
diam-diam aku merasa sangat tegang.
——Hari
ini, aku berniat mengajak Hoshimiya pulang bareng.
Ini
bukan kencan. Hanya sekadar ajakan untuk pulang bersama. Bagi aku yang
menyandang gelar Inkya terkuat, berbicara dengan lawan jenis saja sudah
terasa seperti dunia mau kiamat, tapi bagi orang populer ini adalah hal biasa.
Kenapa
harus hari ini? Ada beberapa alasan.
Pertama,
sudah sekitar seminggu sejak upacara masuk sekolah, dan hubungan kami sudah
lumayan akrab. Awalnya aku hanya sanggup ikut dalam percakapan grup, tapi
sekarang aku sudah bisa mengobrol normal meski hanya berdua atau bertiga. Ini
berlaku untuk semuanya, bukan cuma Hoshimiya.
Kedua,
karena besok kami berencana main bareng, jadi ada topik pembicaraan yang sama.
Meski ini kebetulan, tapi ini kesempatan bagus untuk memperluas obrolan.
Ketiga
adalah soal waktu. Hoshimiya bergabung dengan klub sastra, dan di hari Selasa
serta Kamis dia ada kegiatan klub, sehingga waktunya tidak pas denganku yang
anak rumahan. Kalau aku sengaja menunggunya, itu malah akan terlihat
menyeramkan.
Lalu
pada hari Senin dan Rabu, dia biasanya pulang bersama Nanase. Bukannya tidak
bisa kalau aku ikut bergabung, tapi masuk di antara dua orang sahabat dari SMP
yang sama (apalagi sesama perempuan) rasanya punya rintangan yang terlalu
tinggi.
Tapi
di hari Jumat, Hoshimiya tidak ada kegiatan klub, dan karena Nanase punya
jadwal kursus di dekat sekolah, mereka berdua tidak pulang bersama. Dalam
seminggu ini, aku sudah menganalisis sampai sejauh itu. Jangan panggil aku
mesum ya. Demi mendapatkan masa muda yang berwarna pelangi, aku rela menjadi Inkya
yang paling niat. Itulah harga diriku.
"—Eh,
Hoshimiya, hari ini pulang sendirian?"
Aku
menyapa Hoshimiya yang sedang berjalan di koridor dari belakang. Seolah-olah
aku tidak tahu apa-apa. Hoshimiya menoleh dan saat menemukanku, dia tersenyum
lembut. Manis sekali. Bukan cuma aku, murid-murid lain yang berlalu-lalang di
koridor pun tampak terpesona oleh kecantikannya.
"Iya
nih—. Soalnya Yuino-chan ada urusan."
"Oh,
kalau begitu ayo pulang bareng. Seingatku kamu juga naik kereta, kan?"
Meski
aku merasa sangat gugup, aku berusaha sekuat tenaga menahannya agar tidak
terlihat di wajah. Apakah aku sudah mengajaknya dengan nada yang cukup santai?
"Iya,
boleh! Aku naik jalur Ryoumei sampai Takasaki. Kalau Natsuki-kun?"
Hoshimiya
mengangguk sambil tersenyum, membuatku merasa lega dari lubuk hati yang paling
dalam.
"Sampai
Takasaki kita searah kalau begitu. Aku dari sana ganti jalur Takasaki, agak
lebih jauh sedikit sih."
"Kamu
kan lulusan SMP Mizumi ya—. Jauh banget, kelihatannya melelahkan."
"Setelah
seminggu, aku sudah mulai terbiasa kok. Lagipula cuma sekitar satu jam."
"Ah,
kalau begitu ternyata waktu tempuh kita hampir sama. Soalnya setelah turun di
Takasaki, aku masih harus jalan kaki cukup jauh sampai rumah. Aku lagi terpikir
mau naik sepeda saja sampai stasiun."
Dari
topik yang ringan, obrolan pun mengalir dengan lancar. Saat aku dan Hoshimiya
berjalan berdampingan seperti itu, kami benar-benar menarik perhatian
orang-orang di sekitar.
Apakah
Hoshimiya setiap hari selalu dikerumuni tatapan seperti ini...? Rasanya agak
tidak nyaman ya. Apa ini semacam efek samping karena dia terlalu cantik? Atau
karena dia sedang bersama lawan jenis—yaitu aku—makanya jadi pusat perhatian?
Kalau dipikir-pikir begitu, rasanya banyak tatapan iri yang tajam tertuju
padaku.
Fuhahaha!
Rasanya kalian para Inkya! Kalian tidak akan bisa pulang bareng
Hoshimiya seperti ini! Sungguh rasa superioritas yang luar biasa! Inikah yang
dinamakan masa muda berwarna pelangi...?
"Hari
ini kok rasanya banyak yang memperhatikan kita, ya?"
Di
saat aku sedang merasa sangat bangga, Hoshimiya bergumam dengan wajah yang
tampak agak kurang nyaman.
"Benar
juga. Memang beda ya kalau ada Hoshimiya. Memang pantas disebut gadis tercantik
di sekolah."
"Jangan
telan mentah-mentah ucapan Yuino-chan dong! Lagipula, harusnya aku yang bilang
begitu, kan?"
"......Maksudnya?"
Aku
mengernyitkan dahi karena heran. Aku benar-benar tidak bisa menangkap maksud
kata-katanya.
"Aku
tidak pernah diperhatikan sampai segitunya kalau cuma sendirian. Aku kan bukan
idola. Yang diperhatikan itu bukan cuma aku, tapi Natsuki-kun juga."
"Aku?
Diperhatikan?"
......Tidak,
tidak, mana mungkin. Memang benar aku sudah berusaha mengubah penampilan dengan
angkat beban dan sebagainya, tapi pada akhirnya aku tetaplah aku.
"Mungkin
karena aku sedang bersamamu, makanya mereka membicarakanku yang jelek-jelek
ya?"
"Ah—apa
Natsuki-kun ini tipe orang yang nggak peka ya?"
"???"
"......Begitu
ya. Hmm, aku mulai paham tentang dirimu sedikit demi sedikit."
Gawat.
Aku tidak bisa mengikuti arah pembicaraannya.
Tapi
karena Hoshimiya tampak senang, jadi tidak apa-apa kan? Aku tahu dia sedang
membicarakan diriku, tapi aku benar-benar tidak paham apa maksudnya.
"Aku
tidak terlalu mengerti, tapi saat aku sendirian, aku tidak pernah menarik
perhatian sama sekali kok."
Yah,
sesekali ada siswi yang berbisik-bisik sih. Meskipun aku ini cuma Inkya
yang entah kenapa bisa menyelinap masuk ke grup orang populer, aku harap mereka
tidak membicarakan hal buruk di belakangku...
"Ternyata
benar-benar tidak peka ya......"
"Tidak
peka? Tidak, tidak, jarang ada orang yang se-sensitif aku, tahu."
Bahkan
aku pernah berpikir kalau teman sebangkuku menyukaiku hanya karena dia
mengambilkan penghapusku yang jatuh. Belakangan aku tahu kalau gadis itu
ternyata sudah punya pacar mahasiswa.
......Sepertinya
cerita ini tidak membuktikan kalau aku sensitif ya. Itu cuma salah paham saja.
"Fufu,
ya sudah, untuk hari ini kita anggap saja begitu."
Hoshimiya
tersenyum padaku. Wajahnya itu membuat jantungku berdebar kencang,
sampai-sampai aku tidak bisa memikirkan balasan yang bagus.
"Besok
kita bagaimana? Yang lain sudah pergi ke klub, jadi belum ada rencana yang
pasti, kan?"
Pengalihan
topik. Karena itu adalah topik yang juga ingin kubicarakan, aku sudah
menyiapkan jawabannya.
"Bagaimana
kalau nanti malam kita obrolkan di RINE?"
"Tapi,
kita belum buat grup RINE, kan?"
"—Ah,
benar juga. Aku kira sudah ada yang buat."
Aku
bicara begitu, padahal sebenarnya aku cuma tidak terpikir soal grup RINE.
Lagipula aku sudah terkenal (?) karena tidak pernah diundang bahkan ke grup
kelas...
"Aku
juga baru ingat," Hoshimiya tertawa kecil.
Sambil
mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, dia berkata, "Kalau begitu, ayo
kita buat sekarang. Grup chat untuk kita berenam."
Begitulah,
Hoshimiya mulai mengoperasikan ponselnya. Untuk pendaftaran teman di RINE
sendiri sudah kami lakukan saat hari upacara masuk sekolah, jadi setelah ini
tinggal buat grup dan mengundang yang lain...... kurasa. Aku tidak tahu karena
belum pernah membuatnya.
"Nama
grupnya apa ya?"
"Hmm,
apa saja boleh kok."
"Benar-benar
apa saja boleh sih sampai aku bingung sendiri. Natsuki-kun saja yang
tentukan."
"Kalau
begitu, 'Hoshimiya Fan Club' saja."
"Nggak
aneh apa kalau aku sendiri yang buat grup dengan nama begitu?"
"Benar
juga."
Mata
kami bertemu, lalu kami tertawa bersama.
"Kalau
begitu, kubuat jadi 'Natsuki-kun Fan Club' saja ya—"
"Mana
mungkin aku punya penggemar......"
"......Hmm.
Ya sudah, kubuat jadi 'Natsuki-kun Family' saja."
"Oi."
Meskipun
aku mencoba menolaknya, Hoshimiya tetap membuatnya. Saat aku membuka ponselku,
memang benar ada undangan masuk, jadi aku bergabung dengan patuh.
'Natsuki-kun
yang bergabung ke Natsuki-kun Family', apa-apaan ini coba.
"Undangannya
sudah masuk?"
"Iya,
aku sudah gabung."
"Ah,
benar. Yuino-chan juga sudah masuk. Yang lain masih ada kegiatan klub, mungkin
belum sadar ya?"
"Begitulah."
Ini
adalah grup pertamaku yang patut dirayakan (?). Semua orang di daftar kontakku
yang sedikit (tujuh orang) telah diundang, kecuali dua orang. Sebagai catatan,
dua orang sisanya adalah Ibu dan adik perempuanku. Mereka bahkan bukan teman.
"Natsuki-kun,
hadap sini."
Mendengar
kata-kata Hoshimiya, aku mengangkat wajah, dan pada saat itu juga terdengar
suara cekrek!
"Ehehe,
kena foto!"
"Buat
apa kamu memfotoku?"
"Tentu
saja untuk foto profil grup—! Kan namanya 'Natsuki-kun Family'!"
"Eeeh,
oi, oi."
Mulutku
mengeluh, tapi karena Hoshimiya yang sedang ceria itu terlalu manis,
kata-kataku jadi tidak bertenaga. Padahal aku sudah sangat berhati-hati menjaga
jarak, tapi gadis ini dengan begitu mudahnya mencuri hatiku.
Bukannya
seru kalau aku balas menjahilinya?
"Kalau
begitu Hoshimiya, hadap sini."
"Hm?"
Aku
mengaktifkan aplikasi kamera di ponsel, dan memotret Hoshimiya tepat saat dia
menoleh.
Sip,
fotonya bagus sekali. Bakal kujadikan harta karun... eh, bukan itu tujuanku.
Aku segera menyetel foto wajah Hoshimiya yang baru saja kuambil sebagai foto
profil 'Natsuki-kun Family'.
"Tu-tunggu—!?
Natsuki-kun!?"
"Pembalasan."
Dengan
alasan itu, aku berhasil mendapatkan foto Hoshimiya secara legal. Kalau sudah
begini, mau berontak bagaimanapun, akulah pemenangnya.
Hoshimiya
mengubahnya kembali menjadi fotoku, jadi aku membalas dengan mengubahnya lagi.
"Mumu,"
Hoshimiya melotot dengan imut. Karena sama sekali tidak menakutkan, aku malah
jadi tertawa.
"Ah,
benar juga! Kalau begitu kita ambil jalan tengah saja, pakai foto berdua!"
Hoshimiya
berkata begitu sambil memangkas jarak di antara kami. Aroma manis yang lembut
seketika menggelitik hidungku. Detak jantungku berpacu kencang dalam sekejap.
Belum
sempat kupikirkan apa yang akan dia lakukan, di jarak yang sedekat hingga
lengan kami bersentuhan—
"Ayo,
senyum, senyum—"
Cekrek!
Dia mengambil foto dengan ponselnya.
Meski
disuruh senyum,aku merasa wajahku tadi terlihat cukup konyol.
"Nah,
kalau begini tidak ada komplain lagi, kan!"
Ucap
Hoshimiya sambil mengubah foto profil grup menjadi foto tersebut.
Saat
aku melihatnya di RINE, itu memang benar-benar foto selfie berdua antara
aku dan Hoshimiya.
Hoshimiya
memasang senyum manis yang tampak terbiasa difoto, sedangkan aku memasang
senyum kaku dengan wajah yang memerah.
Hoshimiya
menghentikan langkahnya, memandangi grup chat yang sudah berubah gambarnya itu.
"......Nu,
nng, Hoshimiya."
"A,
apa!?"
"......Ini,
bukannya memalukan sekali ya?"
Mungkin
aku saja yang terlalu percaya diri, tapi foto ini terlihat seperti sedang
memamerkan kemesraan kami kepada yang lain.
"......Soalnya,
undangan grupnya kan bakal terkirim ke semua orang dengan foto profil ini,
kan?"
"......I-iya
ya. Memalukan sekali! Kita ganti saja yuk!"
Hoshimiya
sepertinya baru sadar dan wajahnya mulai memerah.
Aku
mulai paham sedikit demi sedikit tentang Hoshimiya. Dia tipe orang yang
bertindak mengikuti suasana lalu menyesal kemudian.
Setelah
kembali tenang, kami memotret deretan pohon sakura di jalan menuju stasiun yang
tampak aman, lalu mengubahnya. Karena belum ada yang bergabung selain Nanase,
kupikir kami sudah aman—tapi itu hanya sesaat.
Nanase
Yuino: 『Bisa
jangan bermesraan di RINE?』
Sepertinya
Nanase melihat seluruh kejadian tadi, dia langsung mengirim pesan ke grup. Aku
sebenarnya cukup senang dianggap bermesraan dengan Hoshimiya, tapi Hoshimiya
murni merasa malu.
Hoshimiya
Hikari: 『Nggak
bermesraan tahu!』
Nanase
Yuino: 『Tapi,
siapa pun yang melihatnya pasti mikir kalian lagi bermesraan...』
Natsuki:
『Kalau
soal ini, bukan salahku.』
Hoshimiya
Hikari: 『Kamu
mau bilang ini salahku!?』
Natsuki:
『Ya
iya dong.』
Nanase
Yuino: 『Kalian
kan lagi bareng, bisa nggak jangan berantem lewat RINE segala?』
Natsuki:
『Bener
banget.』
Hoshimiya
Hikari: 『Pokoknya,
tadi itu bukan lagi bermesraan ya!』
Nanase
Yuino: 『Iya,
iya.』
Ditolak
mentah-mentah begitu membuatku sedikit terluka. Meski tidak kuucapkan.
"Duh,
Yuino-chan ada-ada saja..."
Hoshimiya
yang kulit putihnya merona merah itu mengipasi wajahnya dengan tangan.
Sambil
melirik Hoshimiya, aku diam-diam memandangi foto selfie berdua yang
sudah kusimpan tadi. Bakal kujadikan harta karun keluarga.
"Yah,
Nanase juga tidak serius mengatakannya kok."
Selagi
kami melakukan obrolan tidak penting seperti itu, tanpa sadar kami sudah sampai
di stasiun. Tapi, obrolan tidak penting seperti inilah yang sebenarnya
kuinginkan. Dunia di mana aku berjalan bersama semua orang—bersama
Hoshimiya—terlihat begitu penuh warna pelangi. Berbeda dengan dunia abu-abu di
masa lalu. Aku baru benar-benar merasakannya belakangan ini.
"Grupnya
sudah jadi, tapi besok kita mau ngapain?"
"Karena
Reita ada latihan klub sampai siang, mungkin kita kumpul jam satu atau jam dua
siang?"
"Iya.
Tempat kumpulnya di depan stasiun saja ya? Soalnya ada tiga orang yang naik
kereta."
"Boleh
juga. Tinggal mau ngapainnya yang jadi masalah..."
"Karena
aku yang usul, aku merasa harus memikirkan setidaknya garis besar
rencananya."
"Hmm,
mau pergi ke mall?"
"Itu
juga asyik, aku juga ingin beli baju baru."
Meski
bilang begitu, Hoshimiya tampak belum terlalu sreg.
Aku
mencoba menyebutkan beberapa hal dari pengetahuan yang kudapat di situs semacam
'Tempat Main Anak SMA' yang ada di dekat stasiun. Karena ini di Gunma,
pilihannya cukup terbatas.
"Yang
terpikir di dekat stasiun sih paling Spocha di Round One, karaoke, atau game
center? Kalau ada rumah yang dekat, kumpul di sana juga bisa."
"Ah,
Spocha bagus tuh! Aku memang lagi ingin menggerakkan badan—"
Spocha
adalah fasilitas atraksi olahraga yang ada di taman hiburan terpadu Round One.
Di sana kita bisa mencoba berbagai olahraga seperti basket, pingpong, panahan, batting
cage, bulu tangkis, hingga tenis. Karena sistemnya adalah sistem masuk
berdasarkan waktu, sepertinya kita bisa mencoba atraksi apa pun sebanyak yang
kita mau selama masih dalam batas waktu. Yah, aku sendiri belum pernah
mencobanya, jadi ini murni pengetahuan dari internet.
"Kamu
ngomongnya kayak tante-tante yang kurang olahraga ya."
"Jangan
panggil tante dong! Uta-chan atau Tatsuya-kun juga pasti bakal suka. Mereka
bertiga kan selalu olahraga di klub, itu tandanya mereka memang suka
gerak."
Sambil
asyik mengobrol seperti itu, kami melewati gerbang tiket dan naik ke atas
kereta. Mungkin karena faktor jam pulang kerja, meskipun Gunma terkenal sebagai
wilayah yang sangat bergantung pada mobil, kereta tetap terasa cukup padat.
"Tinggal
masalahnya, apakah Reita masih punya stamina buat main di Spocha setelah
selesai latihan klub."
"Ah—yah,
soal itu tinggal didiskusikan nanti saja. Ini kan baru usul."
Di
dalam kereta yang berguncang berirama, aku melihat beberapa murid dengan
seragam yang sama. Ngomong-ngomong,
"Hoshimiya,
apa kamu jago olahraga?"
"Sama
sekali nggak bisa. Jadi, jangan berharap banyak ya?"
Benar
juga. Aku sudah tahu itu dari ingatanku di kehidupan sebelumnya, makanya aku
sempat heran dia setuju dengan usul Spocha.
"Meskipun
nggak jago, pasti ada kan hal yang kita suka? Makanya aku ingin mencoba."
Kata-kata
yang diucapkan Hoshimiya dengan santai itu seolah menusuk tepat di hatiku.
"......Iya,
benar juga."
Itu
benar-benar menggambarkan perasaanku saat ini.
Meskipun
tidak jago, tapi menyukainya.
Aku,
bagaimanapun aku mencoba menutupinya, pada dasarnya tetaplah seorang Inkya.
Aku tidak jago bersikap seperti orang populer (Youkya), dan itu
melelahkan mental. Tapi, hubungan manusia yang didapat dari perilaku seperti
itu terasa begitu berarti dan menyenangkan. Dunia yang dulu abu-abu saat aku
sendirian, kini terlihat penuh warna pelangi.
Itulah
sebabnya aku menyukainya.
Karena
aku menyukainya, makanya aku melakukan ini sekarang. Meskipun aku tidak jago,
meskipun mungkin ini tidak pantas untukku.
"—Terima
kasih ya, Hoshimiya."
Aku
merasa Hoshimiya seolah memberikan validasi atas sisi diriku yang
"pincang" itu.
"Hm?
Kamu bilang sesuatu?"
"......Nggak,
cuma merasa kalau sebentar lagi sampai Takasaki."
Seiring
dengan kata-kataku, kereta melambat dan berhenti, lalu pintunya terbuka.
"Ah,
sudah sampai ya. Kalau begitu Natsuki-kun, sampai besok!"
"Iya,
sampai besok."
Hoshimiya
melambaikan tangannya padaku sebagai salam perpisahan.
Sambil
meresapi kebahagiaan itu, aku mengantar kepergian Hoshimiya dengan pandanganku.
*
"......Umm."
Setelah
sampai di rumah, aku memasang wajah serius.
Sejujurnya
aku sedang bimbang. Bimbang yang cukup serius.
——Besok,
aku harus pakai baju apa?
Ya,
saat sekolah aku bisa bersembunyi di balik seragam, tapi kalau main di hari
libur tentu saja harus pakai baju biasa. Tapi, aku tidak ingin membuat mereka
ilfil karena memakai kaos norak dan celana kumal sisa zaman SMP.
"......Apa
aku beli baju saja ya?"
Bukannya
sombong, tapi aku memang tidak punya selera fashion. Meskipun begitu,
aku sudah melewati masa empat tahun kuliah dengan baju biasa. Dari pengalaman
itu, setidaknya aku tahu gaya berpakaian yang "aman". Yah, meskipun
aku cuma memakai baju yang persis seperti yang direkomendasikan YouTuber fashion
sih.
Masalahnya,
ini adalah dunia tujuh tahun yang lalu. Meskipun menurutku baju itu tidak
buruk, ada kemungkinan selera tujuh tahun lalu akan membuatnya terlihat norak.
......Aduh,
gimana ya.
Di
saat aku sedang bimbang, ponselku berbunyi. Telepon dari nomor yang tidak
terdaftar. Aku mencoba mengangkatnya.
"Halo?"
『Ah, Natsuki? Ini
aku.』
"......Miori?
Tumben banget. Lagipula dari mana kamu tahu nomorku?"
『Aku cuma tanya
Namika-chan kok.』
"Oh
iya, aku lupa kalau kamu akrab sama adikku......"
Itu
informasi yang benar-benar terlupakan. Memang benar Namika dan Miori sering
berhubungan di kehidupanku yang sebelumnya juga.
"Sampai
bela-belain tanya nomorku segala, ada urusan apa?"
『Aku cuma mau
mengumpulkan informasi sedikit. Tentang Reita-kun-ku.』
"Sejak
kapan dia jadi milikmu......"
『Nggak usah bahas
detailnya deh, kamu bisa keluar sebentar nggak?』
"Nggak
bisa lewat telepon saja?"
『Lewat telepon
juga bisa sih, tapi karena rumah kita dekat, lebih cepat bicara langsung kan.』
Benar
juga, pikirku sambil menyetujui dan keluar rumah. Aku hanya memakai baju
olahraga, tapi karena lawannya Miori, rasanya ini cukup. Lagipula, saat ini
memang cuma baju olahraga ini yang paling layak kupakai.
"Di
taman itu kan?"
『Iya. Aku sudah
sampai kok.』
Sambil
menelepon aku berjalan sebentar, dan segera tiba di taman terdekat. Di tengah
siraman cahaya matahari terbenam, Miori tampak duduk di ayunan. Deretan pohon
sakura di pinggir jalan sudah mulai berubah warna menjadi hijau.
"Uwa,
norak banget."
Itulah
gumaman pertama yang keluar dari mulut Miori saat dia mendongak.
"Baru
juga ketemu langsung ngomong gitu. Mana ada baju olahraga yang keren atau
norak."
Meskipun
aku membalasnya begitu, sejujurnya aku sedikit terluka. Mentalku ini terbuat
dari kaca, tahu!
"Masa
datang buat ketemu perempuan pakai baju olahraga sih?"
"Aku
nggak punya baju yang layak. Malah bisa dibilang ini yang paling
mendingan."
"Kamu
serius ngomong gitu?"
Wajah
Miori tampak sangat ilfil mendengar jawabanku, tapi aku harus mengakui kalau
baju biasa yang dia pakai terlihat sangat pas—meskipun gayanya santai. Dia
memakai blus putih feminin dengan aksen renda dan celana jins ketat.
......Tapi,
kalau diperhatikan lagi, anak ini memang cantik juga ya.
Karena
terbiasa melihatnya pakai seragam, mungkin perpaduan baju biasa ini memberikan
efek gap yang membuatnya terlihat manis. Mari anggap begitu saja. Padahal
saat SD dulu gaya rambut dan pakaiannya mirip laki-laki (alias bocah celana
pendek).
......Sepertinya
aku harus mengandalkan seleranya. Lagipula, memberikan informasi secara
cuma-cuma juga rasanya menyebalkan.
"Boleh
saja kalau mau bahas Reita, tapi ada syaratnya."
"Hm?
Tentu saja boleh, tapi apa kamu sudah dalam kesulitan?"
Miori
memiringkan kepalanya sedikit. Apa perlu menambahkan kata keterangan
"sudah" segala?
"Sebenarnya
besok aku mau pergi main dengan grup itu..."
"Ah,
aku sudah paham. Kamu tidak punya baju untuk dipakai, kan?"
Aku
mengangguk lesu di depan wajah Miori yang tampak jengah.
"Seleraku
tidak bisa diandalkan. Jadi, tolong bantu aku."
"Kalau
buat besok, berarti harus hari ini ya. Karena mendadak, paling kita cuma bisa
pilih di Unishiro dekat sini. Berarti, aku cuma bisa bantu kalau kamu mau gaya
yang 'aman' saja."
"Gaya
aman juga tidak apa-apa. Malah aku lebih suka yang aman-aman saja."
"Hmm.
Ya sudah, ayo berangkat sekarang. Aku juga tidak mau pulang kemalaman."
Aku
mulai berjalan berdampingan dengan Miori. Unishiro terdekat ada di depan
stasiun, jadi kalau jalan kaki dari sini mungkin sekitar sepuluh menit.
Kira-kira
dia akan langsung menanyakan soal Reita, tapi ternyata Miori sibuk berbalas
pesan RINE dengan seseorang lewat ponselnya. Selama itu, kami melangkah tanpa
ada percakapan khusus.
Miori
memperlakukanku sama seperti dulu, tapi aku kesulitan menentukan jarak
kedekatan kami. Miori yang dulu seperti pemimpin geng bocah, sekarang sudah
benar-benar menjadi seorang gadis. Lagipula, kekosongan selama tiga tahun masa
SMP itu terasa sangat besar.
Setidaknya,
cukup besar untuk membuat keheningan di antara kami berdua terasa
canggung—sesuatu yang dulu tidak pernah kupedulikan.
"Kita
tidak bisa langsung kembali seperti dulu lagi ya," gumam Miori, seolah
bisa membaca isi hatiku.
Aku
terkejut dan mendongak, ternyata Miori sudah sejak tadi menatap wajahku dengan
lekat.
"Tepat
sasaran ya? Kamu dari dulu memang gampang ditebak."
"......Kalau
lawannya kamu, aku jadi lengah."
Tanpa
sadar aku tadi tenggelam dalam lautan pikiran. Saat bersama Tatsuya dan yang
lain, aku selalu berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan seperti itu.
Soalnya kalau cuma diam saja, aku akan terlihat menyebalkan. Tapi di depan
Miori yang tahu masa laluku, aku tidak merasa perlu untuk jaga gengsi.
"Gimana?
Progres High School Debut-mu?"
"Jangan
meringkas kerja keras penuh air mataku dengan istilah singkat 'High School
Debut' dong."
Yah,
meski itu memang istilah yang paling tepat sih.
"Siapa
sangka Natsuki yang itu bisa masuk grup dengan orang-orang berkilau seperti
mereka—"
"......Aku
tahu kok kalau aku tidak pantas di sana."
Saat
aku mengerucutkan bibir, Miori menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak
juga kok. Natsuki yang sekarang juga terlihat berkilau dengan caranya
sendiri."
"............O,
oh......"
Jangan
memujiku tiba-tiba begitu, aku jadi salah tingkah tahu.
"Uwa,
reaksi itu menjijikkan. Sekarang kamu sama sekali tidak berkilau."
"Berisik.
Aku cuma tidak terbiasa dipuji."
Aku
membuang muka, sementara Miori tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Tanpa
kusadari, gerak-geriknya pun sudah sangat feminin. Sepertinya tiga tahun memang
cukup untuk mengubah seseorang.
"Yah,
melihatmu menjadi 'berkilau' itu sendiri sebenarnya lucu bagiku."
"......Makanya,
aku tidak mau satu SMA dengan orang dari SMP yang sama."
"Begitukah?
Bukannya kalau tidak ada orang yang tahu dirimu yang sebenarnya di dekatmu,
malah akan terasa menyesakkan?"
Aku
terdiam mendengar gumaman Miori yang diucapkan sambil menatap langit senja. Aku
belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Tapi, mungkin itu ada benarnya.
"Orang
yang bisa kamu andalkan apa adanya cuma aku, kan?"
Kata-katanya
yang penuh percaya diri itu memang menyebalkan, tapi karena faktanya aku sedang
minta tolong padanya untuk memilihkan baju, aku tidak punya kata-kata untuk
membalas. Memang benar, sepertinya aku hanya bisa meminta tolong pada Miori.
"Karena
itu, bagimu pun, aku adalah rekan kerja sama yang pas."
Miori
berputar dan berdiri tepat di depanku.
"......Rekan
kerja sama?"
"Kan
sudah kubilang sebelumnya. Aku ingin tahu tentang Reita-kun dan ingin akrab
dengannya. Jadi bantu aku. Akan lebih mudah kalau kamu yang satu grup dengannya
mau bekerja sama."
Miori
mengulurkan tangannya padaku. Sepertinya dengan menjabat tangan ini, aliansi
kami akan terbentuk.
"Sebagai
gantinya, kamu akan membantuku kalau aku ada masalah?"
"Tentu
saja. Aku akan menyukseskan rencana High School Debut-mu dan
menjadikanmu orang populer terkuat!"
"Aku
tidak berniat jadi orang populer terkuat juga sih......"
Aku
hanya ingin menjalani masa muda yang bisa kuterima sendiri. Spesifiknya,
mengubah warna masa muda yang dulu abu-abu menjadi pelangi. Itulah alasanku
mengulang kembali hidupku sekarang.
Tujuanku
menjadi populer adalah agar bisa berteman dengan Tatsuya, bisa pacaran dengan
Hoshimiya, dan punya teman akrab agar bisa menghabiskan hari dengan
menyenangkan seperti sekarang.
Aku
menceritakan hal semacam itu kepada Miori, tentu saja tanpa menyinggung soal
kembali ke masa lalu.
"—Dengar
ya, intinya mengincar High School Debut itu cuma sarana, bukan
tujuan."
"Humu
humu...... intinya kamu ingin punya pacar, kan?"
"Kamu
dengerin nggak sih?"
"Tujuan
High School Debut itu rata-rata ya buat cari pacar. Iya, iya, aku paham.
Aku juga ingin punya pacar tampan soalnya......Ingin punya pacar tampan, ingin
banget."
"Bisa
berhenti menyuarakan ambisi yang terlalu realistis itu tidak?"
Citra
suciku terhadap siswi SMA jadi hancur berantakan.
"Pokoknya,
kalau kamu membantuku, aku juga akan membantumu cari pacar. Pasti salah satu
dari tiga gadis itu, kan? Mereka semua cantik sih."
Ditanya
begitu, karena memang kenyataannya begitu, aku jadi sulit menjawab.
"—Da-daripada
itu, kamu ingin dengar soal Reita, kan?"
Saat
aku mengalihkan pembicaraan dengan terang-terangan, Miori bergumam "Kabur
ya......" dengan wajah tidak puas, lalu:
"Iya.
Dengan kamu membahas itu, berarti aliansi kita sepakat ya?"
"......Yah,
lagipula tidak ada ruginya juga buatku, jadi oke."
Sebenarnya,
aku merasa terbantu karena bisa meminta bantuan Miori. Tapi aku tidak akan
mengatakannya karena dia pasti akan besar kepala.
"Kalau
begitu, pertama-tama aku ingin tahu apa saja hal yang disukai Reita-kun—"
Setelah
itu, Miori yang tiba-tiba bersemangat terus mencecarku dengan berbagai
pertanyaan sampai tanpa sadar kami tiba di Unishiro. Rasanya semua yang
kuketahui sudah dikuras habis olehnya.
"Yah,
sudah kuduga sih, informasinya cuma sebatas ini ya—"
Miori
berkata sambil menghela napas panjang.
"Habisnya,
sekolah baru saja mulai. Aku baru tahu hal-hal yang di permukaan saja."
"Hm.
Kalau begitu, aku akan menaruh harapan untuk ke depannya ya."
"......Ngomong-ngomong,
apa kamu sesuka itu pada Reita?"
"Hm?
Aku memang penasaran, tapi belum sampai tahap suka kok. Aku cuma hobi
mengumpulkan informasi laki-laki tampan saja. Laki-laki berwajah indah itu
nggak bakal membosankan buat dipandang, jadi mereka itu asupan terbaik..."
Fufufufufu—Miori
bergumam sambil memasang senyum yang mencurigakan.
Gadis
SMA zaman sekarang agresif banget ya, menakutkan...
*
Begitulah,
aku dan Miori akhirnya memilih baju yang terlihat "aman" di Unishiro
terdekat. Alasan kenapa harus Unishiro, selain karena masalah waktu karena
besok sudah harus dipakai, alasan utamanya adalah aku tidak punya uang untuk
beli baju mahal. Bagi anak SMA, harga baju itu memang terasa berat di kantong.
"...Sepertinya
aku harus kerja sambilan," gumamku sambil menatap kemeja seharga beberapa
ribu yen.
"Kamu
nggak punya uang sama sekali?"
"Bukannya
nggak punya uang sama sekali, tapi kalau buat beli baju begini ya langsung
ludes."
"Yah,
benar juga sih—"
Aku
memang dapat uang saku bulanan, tapi jujur saja sulit dikatakan cukup. Lagipula
aku tidak ikut klub, jadi aku punya banyak waktu luang saat yang lain sedang
latihan. Kerja sambilan sepertinya pilihan yang masuk akal.
"Nah,
enaknya pakai yang mana ya?"
Miori
memandangi tubuhku dari atas ke bawah, menopang dagu dengan wajah serius.
"Hmm,
postur tubuhmu bagus, jadi kurasa gaya simpel bakal lebih cocok. Dari dulu kamu
memang tinggi, tapi aku nggak nyangka kamu bakal sekurus ini sampai punya otot
segala—"
Tanpa
aba-aba, Miori menyentuh pinggangku. Tubuhku tersentak kaget.
"He-hei,
apa-apaan kamu...!?"
"Kenapa?
Masa laki-laki risi disentuh begitu?"
Miori
tertawa kecil. Biar bagaimanapun statusnya teman masa kecil, aku tidak mungkin
tidak goyah kena body touch dari seorang gadis. Jam terbangku sebagai Inkya
itu lebih lama dari usiaku yang sekarang, tahu!
"Nah,
kalau begitu... coba ini, ini, dan... ini! Ayo ke ruang ganti!"
Miori
memilih beberapa potong baju dengan asal, lalu mendorong punggungku menuju
ruang ganti. Dia tampak sangat bersemangat. Apa karena dia perempuan, jadi dia
suka memilihkan baju?
"Menjadikan
orang lain sebagai boneka bongkar-pasang itu seru ya—"
"Boleh
saja menjadikanku boneka, tapi tolong pilihkan yang benar ya?"
"Serahkan
padaku. Bahan dasarnya sudah bagus kok, jadi hasilnya nggak bakal hancur-hancur
amat."
Meskipun
cemas, aku tidak punya pilihan selain menyerah pada Miori yang sedang asyik
bersenandung.
*
"—Terima
kasih. Silakan datang kembali—"
Saat
kami melangkah keluar toko diiringi suara pelayan, hari sudah benar-benar
gelap.
Kedua
tanganku terasa berat. Karena aku memilih beberapa stel tambahan untuk stok
selain untuk besok, totalnya melebihi sepuluh ribu yen. Dompet anak SMA-ku
menjerit. Menyakitkan sekali, tapi ini adalah biaya investasi yang diperlukan.
"Ternyata
beli banyak juga ya..."
"Haha,
tapi kamu kelihatan menikmati tadi."
Benar
kata Miori, aku cukup menikmati sesi coba baju tadi.
Dulu
aku pikir pakai baju apa saja sama saja, tapi karena postur tubuhku sekarang
sudah lebih atletis, baju apa pun jadi terlihat pantas dan itu membuatku
senang. Usaha kerasku untuk diet ternyata sepadan.
"Jadi,
besok kamu pakai ini kan?"
"Rencananya
begitu."
"Semangat
ya. Yah, meskipun cuma Unishiro dan nggak bakal terlihat fashionable
banget, setidaknya kamu bakal terlihat rapi. Sisanya tinggal postur dan
ekspresi wajah. Jangan membungkuk ya. Harus tegak!"
Miori
memukul punggungku dengan keras. Karena badanku tinggi, aku memang sering
refleks membungkuk. Aku harus berhati-hati.
"Lain
kali kalau ada kesempatan, aku bakal luangkan waktu buat pilihin baju yang
lebih keren lagi. Tapi ya harganya pasti lebih mahal. Kita main ke Shibuya atau
mana gitu juga boleh!"
"Uangnya
nggak ada.......Kerja sambilan apa ya yang bagus," gumamku pelan ke arah
langit malam.
Meski
sudah puncak musim semi, udara malam masih terasa cukup dingin.
"Minimarket,
kafe, restoran keluarga, karaoke... toko buku juga boleh."
Aku
memikirkan beberapa kandidat tempat kerja sambilan sambil berjalan pulang.
"Toko
pakaian?"
"Nggak
mungkin. Aku nggak punya selera, dan aku gugup kalau bicara dengan orang
asing."
"Terlepas
dari soal selera, bagian 'gugup' itu... inti sifat orang memang susah berubah
ya—"
"......Kalau
berubah semudah itu, aku nggak bakal susah payah begini."
Sambil
menjawab, aku berpikir. Kalau kerja di kafe atau restoran keluarga, aku sudah
punya pengalaman saat zaman kuliah dulu. Tapi daripada melakukan hal yang sama,
mencoba jenis pekerjaan baru sepertinya lebih menarik.
......Hmm,
enaknya apa ya.
Kerja
sambilan itu punya dunia "masa muda" tersendiri. Aku harus memilihnya
dengan hati-hati.
Sambil
memikirkan itu, aku dan Miori saling mengucapkan salam perpisahan.
*
Keesokan
harinya, jam satu siang.
Karena
gugup, aku sudah sampai tiga puluh menit sebelumnya dan menghabiskan waktu
sendirian. Teman-teman yang lain baru berkumpul sekitar sepuluh menit sebelum
waktu perjanjian. Yang terakhir sampai adalah Tatsuya, dua menit sebelum jam
satu.
"Aduh,
kupikir bakal telat, bikin panik saja."
Tatsuya
bicara sambil meminum air yang dibelinya dari mesin penjual otomatis. Dia
memakai kemeja bermotif dengan warna dasar abu-abu, dipadukan dengan celana
jins ketat model sobek-sobek (damaged jeans). Di lehernya melingkar
kalung perak. Gaya ini mungkin akan terlihat norak jika dipakai orang lain,
tapi sangat cocok bagi Tatsuya yang punya kesan berandalan di wajah dan gaya
rambutnya. Dia terlihat seperti mahasiswa yang agak nakal.
"Kenapa
janji siang hari saja bisa hampir telat?"
Nanase
mengernyitkan dahi dengan heran. Dia memakai blus sifon dan celana wide-leg
bermotif lipit. Di kepalanya tersemat baret putih kecil. Ternyata gaya baju
biasanya condong ke tipe imut.
Bisa
dibilang, ini adalah gaya berpakaian khas musim semi.
"Tatsu
itu dari dulu tipe orang yang bakal telat meskipun dia nggak bangun
kesiangan!"
Uta
tertawa renyah. Ia mengenakan shirt-dress motif kotak-kotak berwarna
gelap. Kesannya sangat kental dengan gaya vintage—perpaduan warna yang
justru kontras dengan kepribadiannya, namun potongannya yang mengekspos bahu
memberikan kesan dewasa dan menggoda. Meskipun Uta bertubuh pendek dan terlihat
kekanak-kanakan, gaya ini membuatnya tampak dewasa secara misterius. Tapi, itu
sangat cocok untuknya.
"Ah,
aku mungkin paham maksudmu. Dia tipe yang terlalu santai menikmati waktu sampai
akhirnya mepet, kan?"
Hoshimiya
menimpali sambil tertawa. Ia mengenakan blus putih dengan celana ramping—gaya
busana yang simpel dan agak androgini. Mengingat tinggi badannya yang rata-rata
untuk ukuran perempuan, terlihat jelas kalau kakinya sangat jenjang.
"Kamu
bilang begitu, tapi kamu sendiri tipe yang nggak pernah telat kan,
Hoshimiya-san?"
Reita
mengenakan kaos putih panjang yang ditumpuk dengan kaos polos berwarna krem
tua, dilapisi lagi dengan kemeja open-collar krem muda, serta mengenakan
skinny jeans hitam. Sepertinya gaya ini mengubah citra Reita yang tenang
dan ramah menjadi lebih keren.
"Sebaliknya,
aku malah sampai kepagian dan sempat menganggur tadi."
Aku,
yang sedari tadi asyik mengamati pakaian biasa mereka, akhirnya ikut masuk ke
percakapan. Tentu saja semuanya terlihat modis, tapi mereka tampak berkali-kali
lipat lebih menawan dari biasanya, sampai-sampai tanpa sadar aku sempat
terpesona.
Terutama
para perempuan. Semuanya punya gap yang terlalu jauh dari kesan
biasanya. Sepertinya mereka pun menyadari hal itu, karena ketiganya mulai asyik
membicarakan outfit masing-masing.
Tampaknya
Hoshimiya diam-diam suka gaya yang keren, Uta suka gaya yang dewasa, dan Nanase
justru suka gaya yang imut. Mungkin karena hari libur mereka juga memakai make-up,
karena mereka terlihat sangat bersinar.
"......Apa
mereka bertiga sadar kalau hari ini kita mau main di Spocha?"
Reita
mengedikkan bahu. Karena para perempuan sedang asyik mengobrol sendiri, kami
para laki-laki berkumpul jadi satu.
"Pakaian
mereka nggak kelihatan kayak mau olahraga ya. Walaupun cocok sih."
"Yah,
kita kan nggak bakal olahraga yang berat-berat banget, jadi nggak apa-apa
kan?"
Aku mencoba menenangkan mereka sambil tersenyum kecut, padahal aku sendiri belum pernah ke Spocha dan hanya bicara berdasarkan informasi internet. Sok tahu sekali aku ini.
"Benar
juga. Ya sudah, ayo berangkat."
Tatsuya
mulai melangkah, dan yang lain mengikuti di belakang sambil berbincang santai.
Karena ini pertama kalinya kami main bareng di hari libur, rasanya sangat
segar. Aku cukup bersemangat.
"......Hei
Natsuki-kun, baju itu beli di mana?"
Hoshimiya
tiba-tiba muncul di sampingku, bertanya sambil mendongak mengintip wajahku.
"Hm?
Ini cuma Unishiro biasa kok...... apa kelihatan norak?"
Saat
aku merasa khawatir, Hoshimiya tertawa kecil lalu menyangkalnya.
"Duh,
Natsuki-kun negatif banget sih. Padahal aku baru mau memujimu, lho?"
Mendengar
itu, dalam hati aku merasa lega. Sepertinya selera Miori memang benar. Kemeja
yang agak oversized dipadukan dengan celana slacks hitam yang
lebar. Desainnya longgar dan nyaman dipakai, dengan siluet yang bagus. Aku
benar-benar harus berterima kasih pada Miori yang sudah memilihkan ini.
"Ho,
Hoshimiya juga...... cocok kok. Baju itu kelihatan keren di kamu."
Karena
Hoshimiya sudah memuji bajuku, seharusnya wajar saja kalau aku memuji bajunya
balik. Saat mengatakannya aku sempat agak terbata, tapi syukurlah suaraku tidak
gemetar.
"Keren
ya. Bukan cantik?"
Hoshimiya
bergumam dengan nada sedikit kurang puas.
Apa
seharusnya aku bilang cantik saja? Tapi, itulah kesan jujurku.
"Ahaha,
bercanda kok. Aku sendiri memang lebih suka gaya busana yang androgini. Kalau
ada baju laki-laki yang kusuka, pasti kubeli juga. Aku senang kok kamu bilang
keren."
Hoshimiya
tertawa malu-malu. Senyum tersipunya itu benar-benar sangat manis tanpa celah.
Tepat saat percakapanku dengan Hoshimiya berakhir, Tatsuya bergumam,
"Sebentar lagi sampai."
"Di
mana tempatnya? Ini pertama kalinya bagiku," ucap Nanase sambil celingukan
ke sekeliling.
Sebenarnya
aku juga baru pertama kali, lho.
Saat
aku merasa punya kesamaan dengan Nanase, Uta menunjuk ke sebuah gedung besar di
dekat sana.
"Tuh,
di sana! Bahkan sudah kelihatan dari sini. Kami bertiga sering ke sini waktu
SMP dulu."
"Yah,
soalnya dekat dari SMP Oshima sih. Aku ingat dulu kita sempat berantem nggak
jelas soal mau karaoke, Spocha, atau bowling. Hari itu jarang-jarang Reita
nggak mau mengalah dan bersikeras mau bowling."
"Hari
itu aku memang lagi ingin main bowling."
"Rei
itu kadang-kadang bisa jadi sangat keras kepala. Kalau sudah begitu, jangan
coba-coba melawannya."
Hoshimiya
secara alami masuk ke dalam cerita kenangan tiga orang dari SMP yang sama itu.
"Hee—apa
kalian bakal menunjukkan sisi seperti itu juga pada kami?"
"Hoshimiya-san
pasti bakal mengalah sebelum jadi keributan, kan. Dua orang ini saja yang
aneh."
"Wah,
kalau begitu aku bakal jadi keras kepala deh," ucap Hoshimiya sambil
tersenyum ke arah Reita. Jarak mereka terasa sangat dekat.
......Kenapa
aku tidak peduli saat Uta atau Nanase bicara dengan lawan jenis, tapi kalau itu
Hoshimiya rasanya ada sesuatu yang mengganjal? Apa ini yang namanya cemburu?
Aku jadi benci pada diriku sendiri yang berhati sempit ini.
"Oi,
ayo cepat masuk."
Tatsuya
memanggil dari jauh di depan kami yang langkahnya melambat karena asyik
mengobrol. Sifatnya yang berjalan duluan sesuka hati benar-benar mencerminkan
sosok Youkya tipe kekuatan.
Yah,
kalau soal berjalan duluan sendirian, aku juga punya kepercayaan diri yang
tinggi. Karena sejak awal aku memang sendirian. Bedanya dengan Tatsuya cuma
satu: apakah orang-orang di sekitar bakal mengikuti atau tidak. Hahaha,
perbedaannya terlalu telak.
"Sudah
sampai ya."
"Natsuki,
apa ini pertama kalinya kamu ke Round One?"
Aku
sempat ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk jujur pada pertanyaan Reita.
"Iya.
Dulu sempat ada ajakan beberapa kali, tapi buat anak SMP harganya cukup
mahal."
Di saat seperti ini, rasanya tidak baik kalau harus jaga gengsi berlebihan. Bukan hal yang aneh juga kalau baru pertama kali ke Round One saat kelas satu SMA. Aku menilai risikonya lebih tinggi kalau ketahuan berbohong.
"Ahaha,
benar juga ya. Kami juga baru tiga atau empat kali ke sini."
Dari
stasiun ke Round One yang kami tuju hanya butuh waktu sekitar tiga menit jalan
kaki. Meski begitu, saat grup ini berkumpul lengkap, mata orang-orang yang
berpapasan benar-benar tertuju pada kami.
Yah,
isinya kan sekumpulan laki-laki tampan dan perempuan cantik. Mungkin ada yang
membatin, "Kalau dilihat baik-baik, terselip satu orang yang biasa saja
ya." Hei, aku sudah berusaha keras lho!
Terlepas
dari pembelaan diri Inkya yang penuh air mata ini, gerombolan orang
populer itu pun melangkah masuk ke dalam Round One.
Hebat
ya, mereka sama sekali tidak ragu saat masuk ke fasilitas sebesar ini. Seolah
tidak ada rasa takut, bahkan Tatsuya malah memasang wajah seakan-akan dialah
"bintang utama" di tempat ini.
"Oi,
waktunya mau berapa lama? Dua jam?"
"Eeeh?
Sebentar banget. Enam jam juga ayo!"
"I-itu
sih agak gimana ya. Rasanya aku nggak bakal sanggup gerak selama itu."
"Lagipula
kalau selama itu, selesainya jam tujuh malam. Bakal sulit buat Hikari yang
punya jam malam."
"Mumpung
bareng, kita juga ingin makan malam bareng, kan? Mungkin tiga jam saja sudah
cukup?"
Reita
dengan santai merangkum pendapat semua orang yang saling bersahutan. Setelah
melihat tidak ada sanggahan, dia mulai berbicara dengan pelayan.
Tolong,
berikan skill itu padaku... Reita ini terlalu sempurna sampai-sampai
tidak terlihat celah sedikit pun.
"—Nah,
ayo masuk."
Karena
Reita dan Tatsuya memimpin di depan, aku hanya mengikut dengan patuh.
"Uooo,
sudah lama banget! Mau main apa ya—? Main apa!? Main apa!?"
Uta
tampak sangat kegirangan, tapi aku yang baru pertama kali ke sini pun diam-diam
merasa bersemangat. Bagian dalamnya luas. Berbagai fasilitas olahraga terpasang
di sana, dan banyak orang yang sedang bermain.
Hee,
jadi begini rasanya. Aku sudah lama ingin masuk ke sini, tapi kalau tidak punya
teman rasanya cuma bakal hampa...
"Kumpul
di tempat yang kosong dulu yuk. Bagaimana kalau pingpong?"
Tempat
yang ditunjuk Reita adalah deretan meja pingpong, dan kebetulan ada dua meja
yang kosong.
"Boleh
tuh, pingpong! Ayo, ayo!"
"Ah,
kalau cuma pingpong aku lumayan bisa kok. Meskipun olahraga lain aku payah
semua ya."
Hoshimiya
melipat tangan dengan wajah bangga yang jenaka. Tatsuya menyeringai dan
berkata:
"Hee,
kalau begitu Hoshimiya. Akan kuperlihatkan smash-ku padamu."
"......Umm,
kayaknya aku nggak mau lawan Tatsuya-kun deh. Menakutkan banget."
Hoshimiya
sengaja menjauh dari Tatsuya yang berlagak sangar, lalu bersembunyi di belakang
Uta.
"Kalau
mau menyentuh Hikarin, langkahi dulu mayatku!"
"......Kenapa
aku jadi kayak bos penjahat begini?"
Tatsuya
tampak tidak terima, tapi dia langsung memulai pertandingan dengan Uta yang
sedang bersemangat.
Karena
merasa ini adalah kesempatan, aku pun mengajak Hoshimiya.
"Kalau
begitu Hoshimiya, ayo main santai di meja sebelah."
"Oke.
Tolong kasih ampun ya?"
Hoshimiya
tersenyum. Hanya dengan melihat ekspresi itu, aku merasa kedatanganku hari ini
sudah sepadan.
Untuk
sementara, Reita dan Nanase beristirahat dan kami memakai sistem bergantian.
Aku lawan Hoshimiya, Tatsuya lawan Uta, dan grup yang selesai duluan akan
bergantian pemain. Berharap saja meja ketiga segera kosong saat kami menunggu.
"Hikari,
semangat ya."
Nanase
yang duduk di bangku panjang barisan tunggu memberi semangat pada Hoshimiya
yang sudah memegang raket.
"Kalau begitu aku bakal dukung Natsuki deh. Sekalian saja kita buat sistem turnamen?"
"Ide
bagus! Seru tuh!"
Teriak
Uta yang sedang sibuk baku hantam bola dengan Tatsuya di meja sebelah.
Pertandingan tingkat tinggi. Melihat cara mereka mengayunkan raket dan rally
yang terus berlanjut, mereka jelas bukan amatir.
Orang
populer itu karena atletis, ya, jadi apa pun yang mereka lakukan pasti jago.
Iri rasanya. Padahal aku kalau jam olahraga cuma bisa mondar-mandir di pojokan!
Habisnya tidak ada yang memberiku operan bola sih.
......Itu
bukannya bukan masalah kemampuan atletis ya?
Aku
jadi sedih sendiri setelah menyindir diriku di dalam hati.
Terlepas
dari itu, kemampuan atletisku sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Aku sadar
tidak jago juga, tapi kalau pingpong, aku termasuk tipe yang lumayan bisa.
"Uwa,
kalian berdua hebat banget..."
Mataku
bertemu dengan Hoshimiya yang sedang melongo melihat meja sebelah, aku pun
tertawa kecut.
"Walaupun
ini pertandingan, kita main santai saja yuk."
"Benar
juga."
Pakon,
aku memukul bola pingpongnya. Bola itu memantul dengan kecepatan santai, dan
Hoshimiya hendak membalasnya—tapi,
"Lho!?"
Skat!
Raket Hoshimiya hanya mengayun di udara kosong.
Hmm?
Rasanya tadi jarak antara raket dan bolanya lumayan jauh ya?
"Ma,
maaf! Mungkin karena sudah lama nggak main?"
Wajah
Hoshimiya memerah sambil mengejar bola pingpong yang menggelinding.
......Ya,
ya sudahlah, mungkin karena sudah lama. Wajar kalau di awal dia belum
mendapatkan instingnya kembali.
Setelah
tiga kali mengayun kosong, Hoshimiya akhirnya mulai bisa membalas pukulan
dengan benar. Itu pun dengan syarat aku harus memukul bola pelan-pelan ke arah
tengah yang mudah dijangkau dengan ritme yang sama. Begitu meleset sedikit
saja, dia akan mengayun kosong atau bolanya terbang ke arah yang tidak jelas.
"......Begitu
ya, hmmm, jadi begitu ya?"
"A,
ahaha...... sepertinya hari ini aku lagi kurang fit ya? Sedikit saja kok?"
Sambil
tertawa seolah menutupi sesuatu, Hoshimiya mengipasi pipinya yang merah dengan
raket. Nanase yang duduk di bangku dekat sana bicara padaku sambil tertawa
kecil.
"......Kamu
boleh kok memberitahu dia kenyataannya."
"Hoshimiya......
dengan kemampuan begini, berani-beraninya kamu bilang lumayan bisa pingpong......"
"Ja,
jangan dibilang dong—! Setidaknya ini lebih mending dibanding olahraga lain!
Biarpun begini!"
Hoshimiya
membela diri dengan wajah malu. Sosoknya itu memang manis, tapi aku benar-benar
kaget karena dia ternyata seburuk itu. Kalau pingpong yang katanya
"lumayan bisa" saja begini, bagaimana dengan olahraga lain......?
"Satu-satunya
kekurangan Hikari itu, ya seperti yang kamu lihat, kemampuan atletisnya yang
buruk secara fatal."
"Lho?
Tapi bukannya yang usul ke Spocha tadi Hoshimiya-san?"
Reita
yang sedari tadi melihat kami sambil tersenyum tiba-tiba memiringkan kepalanya.
"Meskipun
nggak jago, aku tetap suka olahraga tahu! Ada masalah!?"
Melihat
Hoshimiya yang wajahnya memerah padam sambil mengayunkan tangan dengan heboh
terasa sangat segar dan manis.
Ah,
tapi Hoshimiya memang selalu manis sih kalau melakukan apa pun. Rasanya hari
ini isi kepalaku cuma "Hoshimiya manis" saja ya.
Setelah
itu pun, aku bukannya bertanding, tapi lebih seperti mengasuh Hoshimiya.
Faktanya,
Hoshimiya terlihat sangat senang. Sepertinya ucapannya soal menyukai olahraga
meski tidak jago itu jujur. Tentu saja mau seberapa pun aku mengalah, akulah
pemenangnya.
Sedangkan
di meja sebelah, setelah pertarungan sengit, sepertinya Tatsuya yang menang.
Uta tampak menghentak-hentakkan kaki karena kesal, sementara Tatsuya
memanas-manasinya dengan sekuat tenaga.
Pertandingan
antara Reita dan Nanase memperlihatkan bahwa keduanya memang memiliki kemampuan
atletis yang baik.
Menurutku
yang membedakan hasilnya adalah pengalaman. Reita sudah berkali-kali ke sini
bersama Tatsuya dan yang lain, sedangkan Nanase sepertinya hanya pernah bermain
saat pelajaran olahraga saja.
Tentu
saja hal yang sama berlaku untukku, jadi di babak kedua aku kalah telak dari
Reita. Berkat latihan rutin harian, pergerakan kakiku memang bagus, tapi aku
benar-benar kalah dalam hal teknik.
“Nah
Reita, saatnya kita selesaikan rivalitas bertahun-tahun ini......!”
“Bukannya
Tatsuya hampir tidak pernah menang melawanku?”
“Berisik!
Yang penting itu menang di saat ini, di detik ini!”
Bersamaan
dengan kalimat Tatsuya yang terdengar filosofis tapi dangkal itu, babak final
pun dimulai.
“——Serius!?
Yang begitu saja meleset!?”
Pertandingan
puncak antara Tatsuya yang mendapat bye dan Reita akhirnya dimenangkan
oleh Reita. Pertandingannya lumayan seru.
“Hyaaa,
hebat banget ya.”
“Sebenarnya
aku jauh lebih jago lho, aslinya ya!”
“Iya,
iya, Uta juga bisa sehebat mereka kok, kan? He-eh.”
“Tentu
saja!”
Sambil menenangkan Uta yang masih kesal, aku mengenang kembali pertarungan sengit tadi. Smash Tatsuya sangat kuat, tapi Reita berhasil menepis dan mengembalikannya dengan sempurna.
Jika
akurasi smash Tatsuya sedikit lebih baik, mungkin dia yang menang, tapi
menuntut lebih dari itu rasanya sudah masuk level anggota klub pingpong.
“Capeknya......
lanjut berikutnya yuk.”
“Lho,
bukannya kita mau istirahat dulu?”
Aku
mencoba menyindir Tatsuya yang sudah terkapar telentang di lantai.
“Bodoh!
Mana ada waktu buat istirahat kalau ada batas waktunya!?”
“Ka,
kamu semangat banget ya......?”
Karena
tiba-tiba diteriaki, jawabanku jadi agak gemetar karena ciut.
Tidak,
aku tahu Tatsuya tidak bermaksud jahat. Dasar sifatku yang Inkya
membuatku takut pada kata-kata dan suara yang keras...... tapi yang terutama,
aku masih terbayang ingatan dari masa lalu. Aku harus segera memperbaiki sifat
ini.
“Rasa
kesal ini harus dilampiaskan di batting cage! Ayo ke tempat batting!”
Ucap
Tatsuya sambil melangkah lebar-lebar dengan seenaknya.
“Yah,
aku juga sudah puas main pingpong, ayo ikuti Tatsuya saja. Meski dibiarkan juga
tidak apa-apa sih.”
“Jahat
banget!? Masa begitu caramu memperlakukan teman?”
“Teman
yang benar-benar akrab itu justru tidak masalah kalau dibiarkan saja.”
“......Kalimatmu
kedengaran mendalam, tapi sekaligus dangkal ya?”
“Aku
setuju. Itu tandanya hubungan kalian sudah tidak perlu lagi merasa sungkan satu
sama lain.”
Kata-kata
Reita itu sangat membekas di telingaku.
......Hubungan
tanpa rasa sungkan, ya. Selain keluarga, aku belum pernah membangun hubungan
seperti itu. Bahkan sekarang pun, Reita dan yang lain masih merasa sungkan
padaku.
Contohnya
Reita yang lidah tajamnya terasa lucu itu, dia baru menunjukkan sisi itu kepada
Tatsuya atau Uta saja. Tentu saja itu wajar karena kami baru kenal seminggu,
tapi suatu saat nanti aku ingin memiliki hubungan seperti itu dengan mereka.
Aku
ingin lebih akrab lagi dengan mereka berlima.
——Dan
dengan Hoshimiya, aku ingin jauh, jauh lebih akrab lagi.
Karena
di depan sana, aku yakin masa muda berwarna pelangi yang kuidamkan sedang
menunggu.
*
——Setelah
itu. Setelah mencoba berbagai hal mulai dari batting, bulu tangkis,
tenis, futsal, hingga dart dan biliar, kami beristirahat di area santai.
Tiga
orang anak klub olahraga tampak masih bertenaga, tapi Hoshimiya dan Nanase
sudah kelelahan. Berkat latihan rutin harian, aku sendiri masih merasa bugar.
Libur
musim semi kemarin jauh lebih berat dari ini. Meski begitu, saat melihat jam,
ternyata sudah dua jam berlalu. Tidak sangka kami bisa bergerak sebanyak ini.
“Siapa
pun, tolong belikan minuman olahraga dong......”
Ucap
Hoshimiya sambil terkapar di atas meja, jadi aku memutuskan untuk pergi
membelinya.
“Ada
lagi yang mau? Akan kubelikan sebanyak yang bisa kubawa.”
“Ah,
kalau begitu aku ikut. Sini, kumpulkan uangnya dulu.”
Setelah
mengingat pesanan minuman olahraga, teh, dan air mineral, aku menuju mesin
penjual otomatis berdua dengan Reita. Bergerak berdua dengan Reita belakangan
ini sudah menjadi hal yang biasa. Yah, karena kami sesama laki-laki di grup
yang sama.
“Tapi
Natsuki, kamu hebat ya.”
Gumam
Reita yang berjalan di sampingku dengan nada kagum.
“......Apanya?”
“Kamu
bisa mengimbangi kami yang anak klub olahraga dengan santai.”
“Ah,
ya kan kita tidak sedang main serius.”
Bagaimanapun
ini masih dalam ranah bermain. Tidak ada alasan untuk sampai merasa sangat
lelah.
......Hoshimiya
terlalu tidak atletis sehingga membuang tenaga yang tidak perlu, dan Nanase
sepertinya memang tidak punya stamina, makanya mereka sekelelahan itu.
Sejujurnya, aku masih sanggup main lima jam lagi. Malah, ini terasa sangat
menyenangkan.
Berkat
tubuh yang sudah terlatih, pergerakan kakiku terasa ringan dan tubuhku bergerak
sesuai keinginan. Meskipun kemampuan atletis dasarku tidak otomatis jadi hebat,
setidaknya aku bisa mengimbangi mereka semua.
“Tapi
saat bulu tangkis tadi semua main serius, dan Natsuki yang menang, kan?”
“Itu
karena aku berpasangan dengan Uta. Berkat dia kok.”
Di
bulu tangkis tadi, kami mengubah suasana dengan bermain ganda sistem kompetisi.
Aku
berpasangan dengan Uta, Nanase dengan Tatsuya, dan Reita dengan Hoshimiya. Aku
dan Uta berhasil menang dua kali.
“Lagipula
Reita sih, kakimu ditarik terus sama Hoshimiya......”
“Aku
tidak mau mengakui itu...... tapi memang benar sih.”
Reita
tertawa kecut. Jarang sekali orang ini bicara tidak lugas.
“Malah
menurutku hebat kamu bisa bertahan sejauh itu meski satu tim dengan Hoshimiya.
Aku sempat mengira bakal kalah tadi.”
Reita
memang terampil melakukan apa pun. Tatsuya dan aku lebih ke tipe yang
mengandalkan kekuatan fisik, tapi Reita sepertinya punya insting yang bagus.
Dia tampak mencari cara bergerak yang paling optimal dan beradaptasi secara
perlahan.
“Kalau
Tatsuya sih memang begitu, tapi kupikir aku bisa menang melawan kalian. Aku
tahu kemampuan Uta, tapi aku meremehkanmu. Untuk ukuran tinggi badanmu,
pergerakan kakimu terlalu lincah.”
Ucap
Reita sambil menyikut perutku dengan akrab.
Dipuji
kemampuan fisiknya oleh orang yang jenius olahraga seperti dia membuat kerja
kerasku terasa sepadan.
Andai
aku masih versi perut buncit yang dulu, aku pasti sudah mempermalukan diri
sendiri di sini.
Hoshimiya
itu perempuan, jadi meskipun kemampuan atletisnya buruk, dia tetap terlihat
manis. Tapi kalau orang sepertiku yang agak sok keren (setidaknya begitu
kelihatannya, padahal aslinya cuma payah berkomunikasi dan pendiam) menunjukkan
gelagat seperti itu, bukan cuma memalukan, tapi bisa-bisa aku jadi bahan olokan
setiap ada kesempatan. Kalau sampai begitu, posisiku di grup ini akan semakin
rendah. Mengingat posisiku yang sekarang saja sudah rendah, salah langkah
sedikit bisa-bisa aku ditendang dari grup ini.
"......Hm?
Ada apa, Natsuki?"
"Ah,
tidak, bukan apa-apa."
......Tentu
saja aku tahu kalau Reita dan yang lainnya bukan tipe orang yang akan mengusir
seseorang dari grup hanya karena hal sepele seperti itu, tapi aku sudah punya
pengalaman sekali dibenci dan diusir. Meskipun itu salahku sendiri jadi mau
bagaimana lagi, tapi trauma itu masih membekas.
"—Hei,
Natsuki."
Saat
kami sudah sampai di depan mesin penjual otomatis dan sedang membeli minuman
pesanan, suara Reita yang terdengar sangat serius menyapa telingaku. Aku
melirik ke samping, tatapan Reita tertuju lurus padaku.
"Hm?
Ada apa?"
Aku sengaja bertanya dengan nada santai karena merasakan firasat akan pembicaraan yang berat. Namun, aku tidak bisa menebak apa yang akan dibahas. Seingatku aku belum melakukan kesalahan apa pun... kurasa. Aku sudah bertindak sangat hati-hati sejauh ini. Karena itu, pertanyaan Reita benar-benar di luar dugaanku.
"—Kamu,
merasa tidak nyaman dengan Tatsuya, kan?"
Seketika,
aku tidak bisa menjawab.
Keheningan
itu seolah mengiyakan pertanyaan Reita.
"Sudah
kuduga," ucap Reita sambil tersenyum kecut. Sepertinya dia sudah tahu
sejak awal, dan ini hanyalah bentuk konfirmasi saja.
"......Kenapa
kamu berpikir begitu?"
"Bukan
hal besar sih, tapi entah kenapa aku merasa kamu cenderung menghindari Tatsuya.
Contohnya, kamu sering berduaan denganku, tapi hampir tidak pernah bergerak
berdua dengan Tatsuya, kan?"
"......Yah,
kalau dipikir-pikir mungkin benar begitu. Kamu jeli sekali ya."
"Haha,
dari dulu aku memang peka dengan keadaan sekitar.......Bahkan mungkin terlalu
peka. Awalnya kupikir kamu cuma belum terbiasa jadi kubiarkan saja, tapi hari
ini rasanya ada yang berbeda."
"Ada
yang berbeda? Memangnya di matamu kelihatannya seperti apa?"
"Kamu
kelihatan takut pada Tatsuya. Kuharap itu cuma perasaanku saja sih."
Tepat
sasaran. Aku jadi bingung harus menjawab apa. Karena dia bertanya dengan penuh
keyakinan seperti itu, rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk berkelit.
Shiratori Reita benar-benar jeli memperhatikan orang lain. Dia memang pantas
punya rasa percaya diri.
"......Memang
benar, seperti yang kamu bilang."
Akhirnya
aku membenarkan pertanyaan Reita. Aku bicara jujur.
"Tapi,
ini berbeda. Ini masalahku sendiri, bukan salah Tatsuya. Tatsuya tidak salah
apa-apa. Jadi tolong jangan katakan apa pun padanya. Sepertinya...... suatu
saat ini akan membaik sendiri."
Itu
hanyalah sebuah fakta. Ini karena trauma yang tertinggal di hatiku. Karena aku
tidak mungkin bilang kalau aku sedang mengulang masa muda, aku terpaksa
menyembunyikan bagian intinya, kuharap dia memaklumi itu.
"Baiklah.
Kalau begitu, aku tidak akan bilang apa-apa."
Reita
mengangguk sambil membuka tutup botol minuman olahraganya.
"Boleh
begitu?"
"Dari
awal aku tidak punya hak untuk ikut campur. Ini masalah kalian...... tidak,
selama Tatsuya yang tidak peka itu belum menyadarinya, ini bahkan belum bisa
disebut masalah. Aku cuma bertanya karena penasaran saja kok," ucap Reita
dengan tenang setelah meminum minumannya dengan lahap.
"Cuma——kita
ini teman, kan?"
Sambil
menyeringai, Reita menyenggol dadaku dengan botol minumannya. Laki-laki yang
merupakan puncak dari orang populer ini bukan cuma sering melakukan body
touch, tapi juga bisa mengucapkan kata-kata yang biasanya bikin malu dengan
wajah datar.
Hebatnya,
dia terlihat keren saat melakukannya. Pasti karena dia melakukannya dengan
penuh percaya diri.
"Aku
cuma bertanya karena mengira kamu sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak akan
tanya soal 'sesuatu' itu, tapi kalau kamu bilang akan menyelesaikannya sendiri,
aku percaya padamu."
Kata-kata
itu meresap jauh ke dalam dadaku. Dia menyadari bahwa aku tidak bisa
membicarakan bagian fundamentalnya.
Aku
jadi paham kenapa Reita sangat populer di kalangan perempuan. Laki-laki ini
benar-benar terlalu menyilaukan bagiku yang sekarang.
*
Saat
kami kembali membawa minuman, semuanya menyambut kami dengan gembira.Reita
menghidupkan suasana percakapan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Kalau
begitu, aku juga harus berjuang agar bisa menjawab kepercayaan Reita. Aku akan
menaklukkan trauma masa lalu itu dan berteman akrab dengan Tatsuya!
"Puh—berasa
hidup kembali—"
"Lama
tidak menggerakkan badan begini memang melelahkan ya......"
"Ahaha,
Yui-yui besok pasti bakal mengerang kesakitan karena pegal otot."
Tanpa
kusadari, Nanase pun sudah diberi nama panggilan aneh oleh Uta.
"Setidaknya
panggil Yui saja......"
Nanase
yang masih tampak lunglai menyempatkan diri untuk membalas dengan sisa
tenaganya.
Di
sekolah dia selalu memasang wajah anggun dengan postur tubuh yang tegak, jadi
pemandangan ini terasa sangat segar.
"Hari
ini aku bisa melihat sisi Nanase yang tidak terduga ya," ucapku, lalu
Hoshimiya menyahut sambil tersenyum lebar.
"Yuino-chan
kan selalu jaga gengsi kalau di sekolah. Ini bukti kalau dia sudah mulai
terbuka pada kita semua."
"Hee,
kalau begitu aku sedikit senang mendengarnya."
Aku
mencoba menggodanya. Seketika Nanase membuang muka karena malu.
"Lagipula,
aku bukannya sedang jaga gengsi......"
Duh,
imut banget sih.
Waduh,
aku yang sudah bertekad hanya pada Hoshimiya hampir saja goyah tadi......
Nanase
punya aura yang berbeda dari orang populer pada umumnya (tipe cantik anggun?),
dan karena dia bukan tipe yang suka heboh, diam-diam aku merasa ada kesamaan
dengannya, tapi daya hancurnya luar biasa.
"Nah,
ayo gerak lagi!"
Tepat
saat semua orang sudah selesai membasahi tenggorokan dan beristirahat sejenak,
Tatsuya tiba-tiba berdiri dengan semangat.
"Eeeeh,
istirahat bentar lagi dong."
"Lagipula,
sebenarnya kita sudah boleh keluar dari sini kok..."
Hoshimiya
dan Nanase melayangkan protes. Reita, sambil melirik jam tangannya, berkata:
"Yah,
kalau istirahat terus nanti waktunya habis. Hoshimiya-san dan yang lain boleh
kok tetap istirahat di sini."
Tanpa
memedulikan obrolan mereka bertiga, Tatsuya menunjuk ke arah kejauhan dengan
mantap.
"Kenapa
harus sekarang, itu karena—lapangan basketnya akhirnya kosong!"
"Ooh!
Akhirnya ya!"
Uta
berdiri dengan mata berbinar. Mereka berdua langsung berlari begitu saja.
Kami
sudah hampir menaklukkan semua atraksi olahraga, tapi hanya basket yang
kebetulan waktunya tidak pas karena selalu ada grup lain yang memakai lapangan.
Sepertinya Tatsuya tadi beristirahat sambil mengawasi lapangan sampai kosong.
"Dua
orang itu, bukannya kemarin juga habis main basket di klub...?"
Saat
aku kebingungan, Hoshimiya tertawa kecut.
"Mereka
memang sesuka itu ya sama basket."
"Main
di klub sama main buat senang-senang itu beda rasanya. Aku paham kok perasaan
mereka," ucap Reita setuju sambil berdiri.
"Kalau
begitu kami akan menonton dari dekat saja ya..."
"Itu
lebih baik. Lagipula Nanase kelihatannya sudah mau mati begitu."
"Aku
tadi terlalu bersemangat..."
"Gara-gara
senang bisa main bareng teman-teman, kan?"
"Hikari,
berisik ah."
Sambil
tertawa melihat Nanase dan Hoshimiya yang bercanda, kami pun mengikuti Tatsuya
dan yang lain. Mereka berdua sudah asyik memulai latihan shooting sesuka
hati.
"Nih,
Natsuki."
Aku
menerima operan dari Reita, dan tekstur bolanya terasa sangat familier. Bagaimanapun
juga, aku menyukai basket. Itulah kenapa aku terus memainkannya selama tiga
tahun masa SMA dulu. Bahkan setelah masuk kuliah pun, aku tidak pernah absen
latihan menembak sendirian. Yah, itu karena aku kurang kerjaan sih.
Dam,
aku melakukan dribble.
Sejak
aku mengulang waktu sampai hari ini, aku belum sekali pun menyentuh bola
basket, tapi jeda beberapa bulan tidak akan membuat insting dribble-ku
hilang. Bola itu terasa menempel pas di tanganku.
Hanya
saja, insting menembak itu beda cerita. Tidak seperti dribble, menembak
butuh perasaan yang sangat halus, dan itu bisa kacau hanya dengan tidak
berlatih dua-tiga hari. Meski aku sudah tujuh tahun terus menembak bola, aku
tidak punya kepercayaan diri bisa mencetaknya dengan mudah sekarang.
——Tidak
percaya diri. Tidak percaya diri, tapi... pemain basket punya insting khusus.
Begitu aku mendekati garis three-point dan menatap ke arah ring, aku langsung menyadarinya.
Ah,
hari ini kondisiku sedang sangat prima.
"Eh,
hebat banget!?"
Suara
terkejut Hoshimiya sampai ke telingaku.
Tembakan
yang kulepaskan bahkan dari jarak yang lebih jauh dari garis three-point
itu masuk dengan mulus tanpa menyentuh ring sedikit pun hingga menggetarkan
jaring. Sama sekali tidak terduga.
Saat
sedang benar-benar prima, aku tahu bola itu akan masuk tepat saat ia lepas dari
ujung jariku. Bola itu memantul dan kembali ke arahku.
"Bolanya
terasa ringan... bukan, tubuhku yang terasa ringan ya."
Mungkin
ini berkah dari latihan fisik yang intens, bolanya terasa sangat ringan.
Makanya aku bisa mengendalikannya dengan mudah.
Tembakan
three-point itu sulit karena harus menjangkau ring dengan bola yang
berat, sehingga perlu menekuk lutut dan menyalurkan seluruh tenaga tubuh ke
bola. Tapi hari ini, hanya dengan lompatan kecil dan ayunan lengan, bola itu
sudah sampai ke ring. Kekuatan fisik yang tangguh memang luar biasa ya.
Aku
menembakkan lagi bola yang kembali padaku. Dari gerakan yang santai, bola itu
lepas secara alami dari ujung jariku.
——Keyakinan
bahwa ini akan masuk.
Sesaat
kemudian, bola itu kembali menggetarkan jaring.
"Hmm."
Kalau
perbedaannya sejauh ini, seharusnya dulu saat masih aktif aku rajin latihan
beban.
Aku
jadi paham kenapa tim-tim kuat selalu fokus melatih fisik. Fisik yang tangguh
adalah fondasi bagi teknik. Aku benar-benar merasakannya sekarang.
"Ooooooh!?
Natsu, kamu jago banget ternyata!"
Aku
yang tadi tenggelam dalam pikiran sendiri baru sadar kalau semuanya sudah
heboh. Uta mendekatiku dengan mata berbinar-binar, dan yang lainnya pun tampak
terkejut.
"......He,
hebat ya, Natsuki. Kamu jago basket?"
Bahkan
Reita yang tenang pun sampai melongo. Kalau dipikir secara logis, wajar saja
mereka kaget. Seorang anak non-klub yang seharusnya tidak punya pengalaman
basket tiba-tiba mencetak three-point dua kali berturut-turut.
"Yah,
lumayanlah. Oh iya, sepertinya aku belum pernah bilang ya."
"Belum
pernah tahu! Hebat, hebat banget! Kenapa kamu nggak masuk klub basket
saja!?"
Uta
yang memujiku dengan heboh itu berdiri sangat dekat. Entah kenapa ada aroma
manis yang tercium, membuat jantungku berdegup kencang. Aku jadi tersadar kalau
Uta yang kekanak-kanakan ini pun ternyata benar-benar seorang gadis.
"Ah—yah,
aku belum pernah ikut klub sih..."
"Padahal
kamu sejago ini!? Kamu jenius ya!"
Seharusnya aku menyiapkan latar belakang ceritaku dengan lebih matang. Aku tidak bisa bicara soal masa sebelum aku mengulang waktu, tapi kemampuanku ini memang bukan level amatir. Namun, berbohong bilang aku ikut klub basket saat SMP juga akan ketahuan lewat Miori. Lagipula, Tatsuya pasti pernah beberapa kali bertanding melawan SMP-ku dulu, dan dia pasti tahu kalau aku tidak ada di tim basket SMP Mizumi saat itu.
"......Di
dekat taman ada ring basket, jadi aku sering main di sana."
Ini
bukan bohong. Memang ada ring di sana, dan sebelum mengulang waktu pun aku
sering latihan di situ. Karena aku tidak mau membohongi mereka, aku tidak punya
pilihan selain memilih kata-kata dengan hati-hati.
"Ini
sih harus kupaksa masuk ke klub basket sekarang juga! Iya kan, Tatsu! ......Tatsu?"
Uta
yang tadinya heboh tiba-tiba memiringkan kepalanya. Aku pun mengikuti arah
pandangannya, kulihat Tatsuya sedang menatapku dengan mata yang menyipit.
"......Ta,
Tatsuya, ada apa?"
Saat
aku bertanya, Tatsuya seolah tersadar dan langsung memasang senyumnya kembali.
"——Ah,
tidak, aku cuma terlalu kaget sampai bengong. Serius, kamu jago banget."
O-oh,
ternyata cuma kaget ya. Kupikir ada apa tadi. Bikin takut saja.
"Memang
benar, main lagi setelah sekian lama ternyata asyik juga."
Aku men-dribble bola mendekati ring dan melakukan lay-up. Karena kekuatan kakiku sudah terlatih, lompatanku jadi lebih tinggi dari perkiraan, sehingga lebih mudah mencetak angka.
Umm,
rasanya menyenangkan.
"Kan!?
Makanya ayo masuk klub basket! Sekarang juga!"
"U-umm......
klub basket ya. Tapi aku kan nggak punya pengalaman waktu SMP?"
"Kalau
Natsu pasti nggak apa-apa! Lagipula ini baru seminggu sekolah, kamu pasti bakal
cepat beradaptasi!"
Sambil
melangkah mundur menghindari Uta yang terus merangsek maju, aku berpikir.
Bagaimana
cara menolaknya ya? Soalnya klub basket itu... di kehidupanku yang dulu, tempat
itu seperti hamparan duri bagiku.
Aku
memang merasa sekarang bisa membawa diri dengan lebih baik, tapi pada dasarnya
aku cuma pemain cadangan yang tidak pernah main di pertandingan resmi......
"Ah—aku
rencananya mau mulai kerja sambilan, jadi kayaknya bakal sulit."
"Eeh,
benarkah? Padahal sayang banget lho. Iya kan, Tatsu?"
Menanggapi
pertanyaan Uta, Tatsuya memutar-mutar bola di ujung jarinya sambil berkata:
"Yah,
aku belum bisa bilang sebelum lihat permainannya lagi. Tentu saja buat ukuran
amatir ini hebat banget, tapi soal bisa masuk standar klub kami atau
tidak——begitu ya, mari kita buktikan."
Tatsuya melemparkan bolanya ke arah Uta, lalu menggerakkan jarinya untuk memprovokasiku.
"—Satu
lawan satu. Siapa cepat dapat tiga poin."
Tatsuya
tersenyum menantang. Senyum penuh percaya diri itu sangat cocok untuknya.
Kepercayaan diri itu berdasar pada kemampuan basketnya, karena faktanya Tatsuya
adalah ace klub basket Ryoumei.
Tapi,
itu adalah cerita saat dia kelas tiga nanti. Kalau kelas satu——apalagi Tatsuya
yang baru saja masuk sekolah ini——mungkin aku yang sekarang bisa menang.
Meskipun
cuma pemain cadangan, aku sudah menekuni basket selama tiga tahun, dan setelah
masuk kuliah pun aku tidak pernah absen latihan menembak selama empat tahun.
Dalam hal pengalaman, aku sudah melampaui Tatsuya yang baru mulai saat SMP.
"Kelihatannya
seru. Ayo lakukan."
Aku
menjawab dengan nada santai, meski secara insting hatiku merasa ciut. Ciut
karena harus berhadapan langsung dengan Tatsuya. Tapi, bukankah tadi aku baru
saja berjanji untuk menjawab kepercayaan Reita? Sudah saatnya aku melampaui
trauma masa lalu. Kalau terus begini, itu tidak sopan bagi Tatsuya yang
sebenarnya tidak salah apa-apa.
——Demi
itu juga, aku akan bertarung sekuat tenaga. Aku akan menang melawan Tatsuya di
sini.
Dam,
aku men-dribble bola. Dengan santai dan alami. Agar bisa melakukan pergerakan
kapan saja.
"Ayo,
Natsuuu! Kalahkan Tatsu!"
"Natsuki-kun,
semangaat!"
Dukungan
Uta dan Hoshimiya sampai ke telingaku. Semuanya menonton pertandingan kami.
"Oi
oi, masa nggak ada yang dukung aku sih?"
"Yah,
anggap saja itu handicap buat anak klub basket."
Aku
tertawa kecut menanggapi keluhan Tatsuya. Tatsuya menggaruk kepalanya sambil
bergumam, "Ya sudahlah."
Aku
melirik sebentar ke samping, dan mataku bertemu dengan Hoshimiya yang duduk di
bangku panjang luar lapangan. Dia tersenyum sambil mengepalkan tangan di depan
dada. Gerakan itu jelas-jelas menunjukkan kalau dia mendukungku.
——Kalau
begitu, aku harus menunjukkan aksi yang keren di sini.
"Aku
datang."
"Majulah."
Sudah
empat tahun aku tidak bertanding satu lawan satu dengan seseorang. Tapi
instingku masih mengingat sensasinya. Dan tubuhku sekarang jauh lebih kuat
dibanding dulu. Makanya aku bisa bergerak sesuai keinginan—tidak, malah lebih
cepat dari itu.
Crossover.
Peralihan dari diam ke gerak terjadi dalam sekejap bahkan bagiku sendiri. Aku
merangsek ke sisi kanan Tatsuya, melewatinya dengan tajam, dan melakukan lay-up.
"Oi
oi oi...... serius nih kamu?"
Kalau
unggul dalam pergerakan kaki (footwork), tidak butuh teknik yang
macam-macam. Drive (terobosan) adalah kebanggaan seorang forward,
dan senjata terkuatnya.
——Dulu
Tatsuya lah yang mengajariku hal itu.
Sepertinya
Tatsuya tadi mewaspadai tembakan three-point. Wajar saja karena aku baru
saja mencetaknya dua kali berturut-turut, tapi gara-gara itu jarak
pertahanannya terlalu rapat. Makanya aku mudah melewatinya.
"Berikutnya."
Gantian,
giliran ofensif Tatsuya.
Begitu
menerima bola, dia melakukan tipuan ke kanan lalu drive ke kiri. Tapi,
aku sudah membacanya. Itu pola favorit Tatsuya. Karena sudah tiga tahun latihan
bareng, aku tahu kebiasaannya. Saat dia melakukan tipuan ke kanan, aku sudah
menebak dia akan ke kiri, jadi aku menjulurkan tangan kiri tepat ke posisi bola
datang dan menepisnya. Bola yang lepas dari tangan Tatsuya pun berhasil
kuamankan.
"Hah......"
Tatsuya
terkejut. Wajar saja, karena jurus andalannya digagalkan sebelum sempat
digunakan.
"Kebetulan
ya?"
"Yah,
setengahnya mungkin insting."
Berikutnya
giliranku menyerang.
Aku
melakukan tipuan ke kanan, lalu leg-through untuk melangkah ke kiri,
tapi Tatsuya berhasil mengejar dengan kekuatan fisik kebanggaannya. Namun
sekarang, kalau soal fisik aku pun tidak kalah. Aku bisa saja terus mendesaknya
dengan power dribble, tapi aku sengaja memilih roll turn berputar
ke kanan dan melakukan hook shoot. Akurasi hook kananku
sebenarnya meragukan, tapi kali ini entah bagaimana bisa masuk.
Sekadar
info, akurasi hook kiriku lebih parah lagi, dan fadeaway adalah
jurus yang sangat tidak kukuasai sampai-sampai tidak masuk pilihan. Meskipun
fisik kami setara, aku kurang pengalaman dalam hal power dribble.
Intinya, poin kedua ini cukup mepet, tapi karena Tatsuya tidak tahu kelebihan
dan kekuranganku, dia jadi punya terlalu banyak pilihan untuk diwaspadai.
Makanya reaksinya terlambat satu langkah. Dan sebaliknya bagiku yang sudah
mengenal Tatsuya.
"Poin
kedua."
Aku
mengatakannya pada Tatsuya sambil tersenyum tipis.
......Ternyata
benar dugaanku. Kalau lawan Tatsuya versi kelas tiga, aku tidak akan berkutik,
tapi Tatsuya yang sekarang masih banyak celahnya. Orang yang tidak punya bakat
sepertiku pun bisa mengimbanginya dengan pengalaman dan membaca kebiasaan. Yah,
mungkin faktor besarnya juga karena Tatsuya memang kurang jago dalam bertahan (defense).
Tapi sebagai gantinya, penyerangannya——
"Nggak
bisa main-main lagi nih——aku bakal serius!"
——Cepat.
Lebih tepatnya, tajam. Dia melewatiku bahkan sebelum aku sempat bereaksi.
Meskipun aku tahu kebiasaannya dan sudah menebak dia akan datang dari kanan,
tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali. Drive dengan posisi pinggang
serendah mungkin adalah ciri khas Tatsuya...... hebat juga dia bisa
menggerakkan tubuh besarnya itu dengan sebebas itu.
Apa
dia secara tidak sadar menyadari kalau aku membaca kebiasaannya, lalu sengaja
merespons agar aku tidak bisa bereaksi meskipun sudah tahu? Kalau benar begitu,
dia memang pantas jadi ace. Bakatnya berbeda jauh dariku.
Tapi,
aku tidak akan menyerahkan kemenangan ini. Aku ingin pamer di depan
Hoshimiya——dan sesekali, aku ingin menang melawannya.
Di
klub basket dulu, aku selalu menjadi cadangan bagi Tatsuya yang bermain di
posisi yang sama sebagai forward, dan aku tidak pernah sekalipun main di
pertandingan resmi. Dalam kehidupan sehari-hari pun, Tatsuya tetap menjadi
temanku sampai akhirnya aku dibenci semua orang, dan dia terus membelaku meski
aku saat itu benar-benar menyebalkan. Bahkan setelah aku terisolasi, alasan
kenapa aku tidak dirundung dan bisa tetap bertahan di klub basket sampai akhir
adalah berkat Tatsuya.
Si
kapten yang merupakan ace ini tidak membiarkan siapa pun
menjelek-jelekkanku di belakang. Meskipun dia sendiri membenciku dan tidak akan
mengajakku bicara jika tidak ada urusan, dia tidak pernah sekalipun mencoba
mengusirku.
Masa
mudaku memang abu-abu. Tapi alasan kenapa warnanya cukup berhenti di abu-abu
adalah berkat Tatsuya. Tidak heran jika saat itu hidupku malah tertutup
kegelapan yang pekat. Karena itulah, aku berterima kasih kepada Tatsuya.
Rasa
terima kasih itu tidak bisa kusampaikan sekarang setelah mengulang waktu, tapi
aku ingin membalas budinya dengan benar.
"—Poin
ketiga. Aku datang, Tatsuya."
Alasanku
takut pada Tatsuya pasti bukan sekadar karena dialah orang yang menyaksikan
kegagalan High School Debut-ku, tapi karena bagiku, dia terlalu
menyilaukan.
"Yosya,
majulah! Bakal kuhentikan kau!"
Kapan
pun itu, Tatsuya selalu berada di atasku. Dia selalu lebih maju dariku. Aku
kalah dalam segala hal. Aku adalah kebalikan dari Tatsuya —si pembenci yang
membosankan, tidak bisa apa-apa, dan tidak bisa membaca situasi.
Itulah
kenapa dia terlalu menyilaukan, sampai aku tidak bisa menghadapinya dengan
lugas.
Aku
merasa kami tidak setara. Aku takut akan dibenci lagi. Dan mungkin itu bukan
hanya kepada Tatsuya. Aku merasakan hal yang sama kepada semua orang yang ada
di sini. Reita, Uta, Hoshimiya, dan Nanase—mereka semua jauh lebih baik, lebih
menarik, lebih keren, dan lebih manis dibandingkan aku; mereka semua terlalu
menyilaukan bagiku. Itulah sebabnya aku selalu merasa takut kepada teman-teman
yang sangat kusukai ini, dan ketakutan itu muncul paling nyata saat berhadapan
dengan Tatsuya.
Karena,
alasan kenapa aku begitu kuat berharap bisa mengulang masa mudaku, Alasan
kenapa aku berusaha keras mengincar posisi orang populer meski tahu itu tidak
pantas dan tidak cocok bagiku, adalah...
——Karena
kali ini, aku ingin menjadi temanmu. Karena aku percaya, dalam masa muda
pelangi yang ingin kuraih, pasti ada kau di sana.
Demi
itulah, aku akan menang melawan Tatsuya di sini dan sekarang, lalu melampaui
trauma masa lalu.
——Aku
menyerang. Leg-through dilanjut drive ke kanan. Begitu sadar dia
mengejar, aku berputar dan melakukan rocker motion untuk mengecohnya.
"Nah, serangan apa berikutnya—" saat aku baru berpikir begitu,
tubuhku sudah melayang di udara.
Saat
aku sadar tembakan ini akan masuk, aku sudah menembakkannya sebelum sempat
berpikir. Tembakan three-point yang dilepaskan dengan gerakan mengalir
itu menggetarkan jaring gawang tanpa menyentuh ring sedikit pun. Itu adalah
momen saat kewaspadaan Tatsuya teralihkan sepenuhnya ke arah drive.
"—Yosyaaa!"
Dengan
ini, aku menang. Karena sistemnya siapa cepat dapat tiga poin, giliran ofensif
Tatsuya sebagai pemain kedua sudah tidak berarti lagi. Bahkan jika dia masuk
pun, poinnya tetap saja cuma dua.
"Siaaalll!
Serius nih kamu...?"
Aku
dan Tatsuya ambruk di lapangan.
Padahal
seharusnya staminaku masih sisa banyak, tapi tanpa sadar aku sudah
terengah-engah. Ternyata pertandingan serius memang melelahkan ya. Keringat pun
mulai bercucuran deras seolah baru teringat untuk keluar.
"Hebat,
hebat! Natsu, kamu keren banget!"
Uta
berlari menghampiriku dengan semangat yang meluap-luap. Ia menggenggam kedua
tanganku dan mencoba menarikku berdiri, jadi aku pun bangkit mengikuti
tarikannya. Lalu, Uta tiba-tiba mengubah genggamannya menjadi seperti pegangan
tangan sepasang kekasih, lalu mulai mengayun-ayunkan tangan kami dengan heboh.
Rasanya seolah kami berdua sedang membentuk lingkaran kecil.
"Hore,
hore! Ieei! Menang! Kemenangan besar!"
"O-oh,
terima kasih."
Uta
sepertinya tulus merasa senang, tapi jantungku berdegup kencang saking
gugupnya. Orang-orang populer ini selalu saja jaraknya terlalu dekat,
benar-benar buruk bagi kesehatan jantungku.
Aku
pun ikut berputar-putar mengikuti kehebohan Uta yang masih menggenggam kedua
tanganku. Namun, di tengah jalan, Uta ditarik menjauh oleh Tatsuya.
Tatsuya
memegang kedua bahu Uta sambil berkata:
"Apa
kamu tidak punya rasa sedih sedikit pun melihat kekalahanku?"
"Tatsu
kalah sama amatir, memalukan banget—begitu sih, tapi aku nggak mikir gitu kok,
sumpah!"
"Apa
katamu!? Kalau begitu coba kamu sendiri yang lawan!"
"Eeeh,
tapi kan aku perempuan, aku ini gadis yang lemah lembut, jadi ada perbedaan
fisik, tahu—?"
"Cuma
kalau lagi butuh saja kamu sok jadi perempuan begitu ya..."
Tatsuya
berdecak lalu melepaskan Uta. Kemudian, ia menatapku dengan tatapan yang
serius. Aku membalas tatapan itu tanpa rasa takut. Aku berhasil menerimanya
dengan mantap.
Karena
duel satu-lawan-satu ini adalah sebuah ritual bagiku untuk menyadari bahwa aku
dan Tatsuya adalah teman yang setara.
......Tentu
saja pada akhirnya hampir tidak ada hal yang bisa melampaui Tatsuya, dan dalam
basket pun dengan bakatnya dia pasti akan segera menyalipku kembali. Tapi ini
adalah masalah persepsiku sendiri—bahwa aku bisa sedikit mengejar sosok Nagiura
Tatsuya yang terlalu menyilaukan ini—jadi begini saja sudah cukup.
"Jadi,
Natsuki. Kurasa kamu sudah sangat mumpuni...... apa kamu benar-benar tidak mau
masuk klub basket?"
"—Ahh,
maaf ya."
Aku
sudah tidak punya penyesalan lagi terhadap klub basket. Mungkin karena aku
sudah melampaui trauma masa lalu itu. Aku akan melangkah di masa muda yang baru
demi mengincar dunia yang berwarna pelangi. Aku tidak akan menempuh jejak yang
sama.
Seolah
menyadari keteguhan hatiku, Tatsuya tidak berkata apa-apa lagi.
"Hei
semuanya—sepertinya waktunya sudah mepet nih!"
Mendengar
seruan Hoshimiya, aku melihat ke arah jam dan ternyata sudah lewat jam empat.
Kami
masuk ke Round One sekitar jam satu lewat dengan paket tiga jam, jadi memang
sudah hampir waktunya selesai. Reita bertepuk tangan pelan untuk menarik
perhatian, lalu berkata:
"Kalau
begitu, maaf ya meski kalian berdua masih capek, ayo kita segera keluar dari
toko."
*
Saat
keluar, embusan angin yang cukup dingin terasa sangat nyaman. Hari ini cuacanya
agak dingin, dan itu terasa pas bagi tubuhku yang kegerahan. Aku membatin
sambil menghabiskan sisa minuman olahragaku.
"Wah—tadi
benar-benar banyak gerak ya!"
"Hikari
kelihatannya masih bertenaga sekali ya......"
"Sebaliknya,
kenapa Yuino-chan masih lunglai begitu!? Padahal kan kita terus istirahat di
sesi terakhir tadi?"
"Huh......
apa kamu pikir staminaku bakal pulih hanya dengan istirahat sebentar
begitu?"
"Kamu
tidak apa-apa, Nanase? Kok gayamu jadi agak aneh?"
Saat
aku bertanya karena benar-benar khawatir, wajah Nanase memerah.
"......Cuma
bercanda kok," ucapnya.
Hampir
saja kupikir dia kehilangan jati dirinya. Aku sendiri sering begitu sih, karena
aslinya aku kan Inkya yang membosankan dan pendiam.
"Kamu
itu padahal anak non-klub tapi staminanya terlalu banyak. Padahal kukira kita
satu tim."
Aku
membalas tatapan tajam Nanase dengan senyum kecut.
"Nah,
tidak baik kalau kita cuma berkerumun di depan toko, ayo pindah."
"Pindah
sih pindah, tapi ke mana?"
Tatsuya
memiringkan kepala menanggapi instruksi Reita.
"Kita
semua mau makan malam bareng, kan? Ayo cari tempat saja. Masih jam empat sih
jadi agak kepagian, tapi kan kita bisa mengobrol santai lebih lama?"
"Boleh
saja, tapi aku lagi nggak pegang banyak uang nih—"
"Ah,
aku ingin ke tempat yang ada drink bar-nya!"
Sambil
mempertimbangkan pendapat Tatsuya dan Uta, aku mencoba menunjuk ke seberang
jalan.
"Ke
restoran keluarga saja tidak apa-apa, kan? Murah, dan letaknya juga dekat dari
sini."
Tempat
yang kutunjuk adalah Saize, yang sudah terkenal murah. Aku sering memakai jasa
Saize saat zaman kuliah dulu. Murah, enak, tidak terasa aneh meski sendirian,
dan semuanya ada di sana.
"Boleh,
ayo ke sana."
Karena
Reita setuju, kami semua pun menuju ke Saize. Aku benar-benar merasa kalau hak
keputusan di grup ini ada di tangan Reita. Meskipun dia tidak memakai kata-kata
yang keras ataupun bersuara lantang. Apa karena timing bicaranya yang pas?
Tentu saja itu berdasar pada reputasinya, tapi Reita memang sangat memperhatikan orang lain. Dia tidak mencoba memaksakan usulan yang egois, melainkan merangkum pendapat semua orang, makanya secara alami jadi seperti itu.
Sambil
memikirkan hal itu, kami pun sampai di Saize. Mungkin karena masih sore,
tempatnya lumayan sepi. Setelah diantar ke kursi, kami masing-masing memesan
makan malam dan drink bar. Karena habis banyak bergerak aku merasa
sangat lapar, jadi aku memesan dua menu: Milano-style Doria dan Peperoncino.
Sebagai anak SMA yang sedang dalam masa pertumbuhan, porsi segini sih gampang
dihabiskan. Apalagi dua menu ini harganya cuma enam ratus yen! Benar-benar ciri
khas Saize.
Yah,
karena aku juga memesan drink bar, aslinya jadi lebih mahal sih. Tetap
saja bagi anak SMA ini adalah harga yang sangat membantu.
Tepat
saat semuanya kembali membawa minuman,
"Kalau
begitu, mari kita bersulang untuk merayakan masuk sekolah!"
Uta
mengangkat gelasnya, jadi kami terpaksa mengikutinya. Rasanya agak malu karena
dilihat orang sekitar, tapi yah, melihat anak SMA bersulang pakai drink bar
pasti cuma kelihatan lucu saja bagi mereka.
Reita
juga tertawa kecut sambil bertanya,
"Emangnya
acara ini punya tujuan sehebat itu ya?"
"Baru
kuputuskan barusan! Perayaan masuk sekolah! Dan juga, bukti kalau kita semua
yang ada di sini sudah jadi teman akrab!"
"......Kamu
hebat ya bisa bilang begitu tanpa malu, Uta-chan."
"Memangnya
nggak boleh ya?"
Uta
memiringkan kepala menanggapi senyum kecut Hoshimiya. Hoshimiya pun
mengelus-elus kepala Uta dengan lembut.
"Uun,
tidak apa-apa kok. Uta-chan manis banget sih."
"Hikari
juga tidak kalah manis, lho."
"......Eh,
tunggu sebentar, Yuino-chan!?"
Nanase
mengelus kepala Hoshimiya, yang sedang mengelus kepala Uta. Hmm...... apa ini
yang dinamakan yuri?
Rasanya
ada sesuatu yang hampir bangkit dalam diriku, tapi kalau itu sampai bangkit,
sepertinya aku tidak akan bisa pacaran dengan Hoshimiya, jadi aku buru-buru
sadar kembali. A-apa itu tadi......?
"Puh-haa!
Enak banget! Emang paling bener minum soda!"
Uta
berseru riang sambil menghabiskan melon sodanya. Setelah itu, seolah baru
teringat sesuatu, ia menatapku.
"Terus,
Natsu jadinya tetap nggak mau masuk klub basket?"
"Iya.
Maaf ya."
"Yah—sayang
banget, tapi mau gimana lagi!"
"Lagian,
kenapa kamu yang anak klub basket putri malah ngotot banget sih? Nggak ada
hubungannya sama kamu juga, kan."
Tatsuya
memiringkan kepala melihat Uta yang lesu.
"Ah!
Tatsu jahat! Padahal kita kan sesama teman basket!"
Uta
mendelik sebal ke arah Tatsuya. Sepertinya suasana bakal jadi tidak enak
gara-gara aku, jadi lebih baik aku ganti topik saja.
"Aku
nggak masuk klub, tapi aku berencana mau cari kerja sambilan.
Aku
lagi nggak punya uang. Tapi aku masih bingung mau kerja di mana. Ada saran
nggak?"
Aku
mengutarakan kegelisahanku saat ini—yah, bukan kegelisahan besar sih, cuma
salah satu hal yang sedang kupikirkan.
Meminta
saran dari orang sekitar seperti ini rasanya sangat segar bagiku. Selama ini
aku selalu berpikir dan memutuskan segalanya sendirian, karena aku tidak punya
tempat untuk berkonsultasi...
"Ah—kerja
sambilan ya. Aku belum pernah, jadi nggak tahu," gumam Tatsuya sambil
meminum colanya, dan aku mengiyakan.
"Secara
umum, pilihannya mungkin restoran keluarga seperti tempat ini?"
"Yang
langsung terpikir sih minimarket, karaoke, toko makanan cepat saji seperti
Misdo atau McD, kafe, bar, atau jaringan kedai gyudon seperti
Yoshigyu."
"Ah—memang
sekitaran itu ya."
Reita
dan Hoshimiya memberikan beberapa kandidat, tapi semuanya masih dalam jangkauan
pemikiranku.
Yah,
hal yang terpikirkan oleh mereka pasti sudah kupikirkan juga. Lagipula, berbeda
denganku yang punya pengalaman zaman kuliah, mereka kan belum pernah kerja
sambilan. Soal ini, lebih baik kupikirkan sendiri saja—
"Mau
coba datang ke tempat kerjaku?"
——Tepat saat aku berpikir begitu, Nanase berucap sambil mengaduk es di kopi hitamnya hingga berbunyi klenteng-klenteng. Kata-kata itu seketika membekukan suasana, sampai akhirnya Hoshimiya mengangkat tangan sambil memegang dahi.
"......H-hah?
Apa aku salah dengar? Yuino-chan, kamu kerja sambilan?"
"Iya.
Di sebuah kafe dekat sini."
"Aku
nggak pernah dengar!?"
"Wajar
saja. Aku memang tidak pernah bilang."
Nanase
mengatakannya dengan santai sambil mengelus kepala Hoshimiya yang tampak syok.
"Aku
sudah mulai sejak libur musim semi kemarin...... tapi aku malas menjelaskannya,
jadi aku diam saja."
"Alasannya
cuma itu!?"
"Habisnya
kalau Hikari tahu, kamu pasti bakal datang setiap hari, kan?"
"Nggak
bakal setiap hari juga kali! Uangku nggak cukup!"
"......Jawabanmu
seolah bilang kalau uangmu cukup, kamu bakal datang terus ya?"
Reita
tertawa kecut, sementara Hoshimiya terdiam seribu bahasa seolah rahasianya
terbongkar.
"Karena
aku ada les juga, aku cuma masuk seminggu dua kali. Pemilik kafe sedang bingung
karena kekurangan orang, jadi kupikir kalau Haibara-kun sedang senggang,
mungkin kamu mau coba melamar. Makanya aku menawarkannya."
"O-oh......
begitu ya. Tadi kafe di dekat sini, kan?"
"Iya,
namanya Kafe Mares. Belakangan ini hidangan penutupnya cukup populer."
"Ah,
aku pernah ke sana! Heee, Yui-yui kerja di sana!"
Aku
membuka ponsel dan mencari informasinya, ternyata kafenya punya suasana yang
cukup nyaman. Di kehidupan lamaku, aku sering masuk kafe sendirian untuk
membaca buku, jadi aslinya aku memang suka kafe. Lagipula, lewat pekerjaan ini
mungkin aku bisa jadi lebih akrab dengan Nanase, salah satu anggota grup kami.
Boleh juga.
"Hee,
kelihatannya bagus banget."
"Iya,
kan? Gaji per jam dan fasilitasnya juga tidak buruk menurutku."
Nanase
tersenyum bangga. Wajahnya yang terlihat sedikit senang itu manis juga.
"Kapan-kapan
aku akan mampir ke sana. Setelah itu baru aku putuskan mau minta dikenalkan
atau tidak."
Aku
memang tertarik, tapi ada rasa sungkan kalau melamar ke tempat yang belum
pernah kukunjungi sebagai pelanggan. Makanya aku menjawab begitu. Lagipula ini
bukan sesuatu yang harus segera diputuskan.
Terlepas
dari itu, Hoshimiya yang merasa dikhianati oleh Nanase tampak sedang melamun
hampa.
"Duh,
Hikari? Sampai kapan mau murung begitu?"
"......Habisnya,
ke aku dirahasiakan karena takut didatangi terus, tapi ke Natsuki-kun yang lagi
cari kerja malah dikasih tahu begitu saja. Aku nggak terimaaa."
Kalau
dibilang begitu, memang benar juga sih.
——Hah!?
J-jangan-jangan dia memberitahuku karena dia tertarik padaku......!?
"Cepat
atau lambat aku juga bakal bilang kok. Serius. Kebetulan saja tadi momennya
pas."
Nanase
menjawab dengan wajah tenang sambil memutar-mutar rambut hitamnya yang indah
dengan ujung jari. Tentu saja tidak ada gurat malu sedikit pun di wajahnya......
iya sih, benar juga. Aku kepedean. Maafkan aku.
"—Mohon
maaf sudah menunggu."
Tepat
saat itu, makan malam yang kami tunggu-tunggu akhirnya sampai di meja. Setelah
itu kami menghabiskan makanan sambil mengobrol santai soal pelajaran sekolah
dan hal lainnya.
Setelah
beristirahat sejenak, Hoshimiya berkata dengan nada merasa bersalah,
"Sepertinya aku harus pulang sekarang."
Ia
merapatkan kedua tangannya sambil meminta maaf.
"Maaf
ya, teman-teman. Rumahku jam malamnya agak ketat......"
"Nggak
terasa sudah lewat jam tujuh ya. Kaget aku."
Ternyata
kami mengobrol sampai tiga jam. Karena sangat menyenangkan, rasanya waktu
berlalu dalam sekejap. Meski aku sudah bilang ke orang tua kalau mau makan di
luar, kalau tidak pulang sekitar jam delapan mereka pasti bakal khawatir.
"Kalau
begitu, ayo pulang. Aku juga besok harus ikut kegiatan klub lagi."
Mendengar
ajakan Reita, hari libur yang menyenangkan ini pun berakhir.
——Aku
benar-benar berharap bisa main bareng mereka semua lagi.
*
Dalam
perjalanan pulang hari itu. Tepat saat aku turun dari kereta dan sedang
berjalan di dalam stasiun, nada dering ponselku bergema. Nomor yang muncul
tidak terdaftar, tapi aku mengenalinya.
"......Ada
perlu apa?"
『Wah, suaramu
suram banget ya, Natsuki. Jangan-jangan kamu gagal?』
Suara
itu milik orang yang baru saja bicara denganku kemarin. Motomiya Miori. Entah
dia penasaran dengan penilaian baju yang dia pilihkan, atau sepertinya dia cuma
ingin menjadikanku bahan tontonan saja.
Yah,
kalau ada orang di dekatku yang sedang berjuang melakukan High School Debut,
aku pun pasti akan merasa itu tontonan yang sangat menarik.
"Mana
ada orang mengangkat telepon dengan semangat membara," jawabku, berusaha
tetap tenang.
Kalau
aku terdengar senang saat ditelepon Miori, dia pasti akan langsung
mengolok-olokku.
『Dilihat dari
jawabanmu, sepertinya berjalan cukup lancar ya?』
"......Yah,
menyenangkan kok."
Aku
menjawab dengan perasaan campur aduk pada pertanyaan yang seolah bisa membaca
apa yang tersirat di balik kataku.
『Baguslah kalau
begitu. Kamu harus berterima kasih padaku!』
"Padahal
kalau kamu diam saja, aku bakal tulus berterima kasih. Tapi kalau sengaja
dibilang begitu, rasa terima kasihku malah hilang......"
『Ahaha, Natsuki
itu tipe yang bakal marah dan bilang "Baru mau kukerjakan!"
kalau disuruh belajar sama ibunya, kan?』
"Berisik!"
Benar-benar
terbaca sampai membuatku kesal ya?
"......Tapi,
yah, makasih ya. Berkat kamu, aku nggak perlu menanggung malu."
『Sama-sama.』
Saat
aku menyampaikan rasa terima kasih dengan tulus, Miori merespons dengan nada
lembut tanpa mengolok-olok. Itu malah membuatku merasa...... entahlah, rasanya
agak menggelitik.
『Sudah sampai
rumah?』
"Belum,
masih di jalan. Baru saja keluar stasiun."
『Ah, pas banget
kalau begitu. Tunggu di situ sekitar 10 menit ya.』
"Eh,
buatku ini nggak pas sama sekali—"
Belum
sempat aku memprotes, sambungan telepon sudah diputus. Dia cuma mengatakan apa
yang dia mau lalu menutupnya begitu saja.
Apa
perempuan ini tidak membayangkan opsi kalau aku akan menolaknya?
Terpaksa
aku menyandarkan punggung di pilar dekat gerbang tiket sambil memandangi arus
orang yang lewat.
"Ah,
itu dia. Ossu—"
Sosok
yang keluar dari gerbang tiket adalah seorang gadis dengan hoodie putih
dan rok mini hitam. Pakaiannya simpel tapi menonjolkan bentuk tubuhnya yang
bagus, sampai-sampai mataku tanpa sadar tertuju pada pahanya.
Bukannya
rok itu kependekan? Kalau aku ayahnya, aku nggak bakal kasih izin ya!
"......Oh,"
jawabku singkat sambil berusaha menekan gejolak di dalam hati.
"Apa
lihat-lihat? Kamu jadi suka lagi ya sama aku?"
Miori
bertanya dengan senyum menggoda. Lidahnya yang sedikit menjilat bibir terlihat
sangat menawan.
"Mau
'lagi' atau apa pun, nggak pernah ada masa-masa aku suka sama kamu tahu."
"Eh,
bohong. Masa sih?"
"Ngapain
juga aku bohong. Zaman itu kan kamu cuma anak nakal yang suka memerintah."
"Muu......
padahal kukira kamu bakal langsung takluk sama sisi maskulinku."
"Memangnya
aku ini perempuan apa."
"Ahaha,
bercanda, bercanda."
Miori
tertawa renyah lalu mulai berjalan, dan aku pun mengikutinya dari belakang.
"Ngomong-ngomong,
kamu tadi ngapain?"
"Klub
lagi libur, jadi aku main sama teman-teman SMP. Itu lho, Sayu sama Kana."
Aku
mengenali nama-nama itu. Mereka adalah jajaran kasta teratas yang sekelas
denganku dulu. Yah, pihak sana bahkan mungkin tidak ingat namaku, jadi tidak
bisa dibilang kenal juga sih.
"Fuu-n."
"......Kamu
sendiri yang tanya tapi kelihatannya nggak tertarik ya? Begitu sih nggak bakal
populer lho."
"Mugu......"
Aku
terdiam, ingin membalas tatapan tajam Miori tapi kata-kataku tersangkut.
Dulu
aku tidak peduli soal menjadi populer jadi aku bisa membalas apa saja, tapi
tujuanku sekarang adalah membuat Hoshimiya menyukaiku. Artinya, kalau aku tetap
tidak populer di mata perempuan, itu akan jadi masalah.
"Terus
harus gimana?"
"Kamu
harus memberi respons yang benar. Pakai nada yang seolah-olah kamu sangat
tertarik."
"Hmm......"
"Kalau
begitu memang terdengar tertarik, tapi tempo bicaranya nggak enak. Kamu harus
pakai tempo yang ceria seperti 'Heeh' atau 'Ah, aku paham!' atau 'Wah, bagus
tuh!' begitu."
"Heeh,
wah bagus tuh!"
"Kalau
responsnya malah nggak mendengarkan omongan orang, itu malah berefek sebaliknya
tahu! Benar-benar deh, padahal di depan semua orang kamu bisa bersikap benar,
tapi di depanku kamu tetap saja jadi orang yang sinis......"
Miori
mengangkat bahu sambil menghela napas.
"Memasang
topeng di depan orang yang tahu masa laluku itu cuma buang-buang energi."
"......Begitu
ya, cara berpikirmu begitu ya."
Miori
memberikan respons dengan nada yang terdengar serius, lalu menepuk-nepuk
bahuku. Meskipun itu kamu, Miori, tetap saja aku merasa gugup kalau disentuh
perempuan, jadi berhenti deh!
"Tuh,
mesin penjual otomatis."
Aku
menoleh ke arah yang ditunjuk Miori.
Rasanya
nostalgia. Itu mesin penjual otomatis yang jarang-jarang menjual jus di bawah
seratus yen, jadi dulu aku sering memakainya.
"Rumah
sudah dekat lho. Minum saja nanti kalau sudah sampai."
"Baju
itu kan hasil produksiku? Traktir dong♪"
Senyumnya
sangat cerah.
Yah,
kalau cuma segitu sih nggak masalah......
Begitu
aku memasukkan koin seratus yen ke mesin tua itu, Miori tanpa ragu memilih susu
stroberi kemasan kotak.
"Makasih—"
"Kamu
nggak berubah ya dari dulu, tetap beli itu."
Saat
aku mengatakannya, entah kenapa Miori tiba-tiba berhenti bergerak.
"......Eh?
Kenapa aku beli ini ya."
"Ngomong
apa sih dia ini."
Apa
kepalanya habis terbentur?
"Ya,
aku memang suka susu stroberi sih. Tapi belakangan ini aku nggak pernah minum
lagi. Rasanya suasananya seperti kembali ke masa lalu. Atau lebih tepatnya,
kebiasaan lamaku muncul lagi begitu?"
"Ah,
aku paham maksudmu," jawabku seadanya sambil membeli kopi hitam kalengan.
"Tunggu,
di bagian ini harusnya kamu juga menunjukkan kebiasaan lamamu, kan?"
"Aku
bahkan tidak ingat dulu biasanya minum apa."
Lagipula,
bagiku itu sudah lebih dari tujuh tahun yang lalu.
"Kamu
dulu selalu beli jus apel ini."
"......Benarkah?
Kamu ingat sekali ya."
"Habisnya,
padahal harganya sama-sama seratus yen, tapi cuma kaleng ini yang ukurannya
sedikit lebih besar. Kamu dulu bersikeras bilang kalau ini yang paling
menguntungkan. Lagian, kenapa cuma kamu yang ingat apa yang kubeli?"
Itu
memang terdengar seperti logika diriku saat masih kecil. Dulu uang seratus yen
terasa sangat berharga, sih.
"Kamu
kan, nggak cuma itu, pokoknya suka apa pun yang berhubungan dengan stroberi.
Cuma itu saja kok."
"......Entah
kenapa, aku merasa kesal."
"Kenapa?"
"Karena
cuma kamu yang minum kopi hitam, seolah-olah ingin pamer kalau sudah jadi orang
dewasa."
Kalau
cuma dengan minum kopi hitam bisa jadi orang dewasa, hidup ini tidak akan sulit......
tapi terlepas dari itu, gara-gara sering minum kopi saat zaman kuliah dulu,
entah kapan rasa pahitnya jadi tidak terasa lagi bagiku.
"Orang
memang bisa berubah ya," ucap Miori sambil sedikit menjauh dan mulai
memotretku dengan kamera ponselnya sesuka hati.
"Itu
juga kalimat yang ingin kuucapkan padamu."
Siapa
yang menyangka Miori yang dulu anak nakal tukang perintah dan selalu pakai
celana pendek bisa jadi gadis yang terlihat feminin begini?
"Lagian,
jangan asal potret dong."
"Nggak
apa-apa kan, ini kan baju hasil produksiku."
"Jangan
asal posting di Minsta atau semacamnya ya. Aku bakal tarik biaya royalti
lho."
"Ahaha,
baru jadi sedikit keren saja sudah merasa seperti model?"
"Dengar
ya......"
"Terus,
gimana tanggapan yang lain?"
"Nggak
ada reaksi yang gimana-gimana kok.......Yah, ada sih yang memuji sedikit."
Kejadian
saat dipuji Hoshimiya terlintas di benakku.......Ah, rasanya sudut bibirku mau
tersenyum sendiri.
"Hee,
bagus dong. Tadi kalian ke Spocha, kan?"
"Iya,
berkat latihan fisik, staminaku masih sangat cukup, jadi——"
Sambil
asyik mengobrol, tanpa sadar aku sudah sampai di depan rumahku.
......Eh?
Kenapa rasanya aku sudah menceritakan hampir semua kejadian hari ini ya?
Respons
Miori terlalu alami dan tepat sasaran, membuat kata-kata mengalir keluar dari
mulutku begitu saja.
"Kalau
begitu, sampai jumpa ya Natsuki. Hubungi aku lagi ya kalau ada acara menarik
lainnya?"
Miori
tersenyum manis lalu pergi menuju rumahnya sendiri.
Mi,
Miori...... Dia mungkin wanita yang lebih mengerikan daripada yang kubayangkan.
*
Lima
hari kemudian. Sore hari di hari Kamis.
"Kalau
begitu Haibara-kun, mari kita pergi."
Nanase
yang sudah selesai bersiap-siap pulang menghampiri mejaku. Gara-gara sikap dan
perkataannya itu, rasanya suasana kelas jadi sedikit gaduh, entah kenapa.
"Ah,
iya."
Aku
mengangguk, berdiri, lalu mulai berjalan berdampingan dengan Nanase.
Teman-teman yang lain langsung pergi ke klub masing-masing tepat setelah jam
pelajaran berakhir. Hoshimiya yang anggota klub sastra pun hari ini ada jadwal
klub.
"Katanya
sih tetap ada wawancara, tapi itu cuma formalitas saja."
Aku
dan Nanase berencana menuju Kafe Mares sekarang. Nanase untuk bekerja, dan aku
untuk wawancara. Dua hari setelah hari libur itu, aku sempat mengunjungi Kafe
Mares sendirian dan menyukai suasananya yang tenang. Makanya aku minta
dikenalkan oleh Nanase.
"Dengan
kepribadianmu, Haibara-kun, kurasa kamu akan lolos tanpa masalah."
"Yah,
syukurlah kalau begitu."
Dia
bilang "dengan kepribadianku", tapi sejauh mana Nanase memahami
kepribadianku yang sebenarnya? Sulit membayangkan diriku yang asli bisa lolos
wawancara. Meski aku merasa kalau cuma kerja sambilan pasti bisa diatasi,
ingatan saat berkali-kali ditolak waktu mencari kerja di tahun keempat kuliah
dulu terlintas di benak.
Waktu
ditolak oleh tiga puluh perusahaan, aku benar-benar sempat bimbang apakah ingin
mati saja atau tidak. Meski akhirnya dapat tawaran kerja, sekarang setelah aku
mengulang waktu, semuanya jadi tidak berarti. Walaupun aku tidak menyesalinya,
sih.
"Katanya
bagian dapur yang kekurangan orang ya?"
"Di
bagian depan juga kurang sih, tapi memang di dapur yang lebih parah."
"Nanase
di bagian mana?"
"Aku
di bagian depan. Bukannya mau pamer, tapi aku tidak bisa memasak."
"Itu
benar-benar bukan sesuatu yang bisa dipamerkan ya......"
"Kamu
kaget?"
"Yah,
habisnya Nanase kelihatannya bisa melakukan apa saja."
"Banyak
yang bilang begitu. Tapi aku ini gadis biasa saja, lebih dari yang orang-orang
bayangkan. Aku bisa upacara minum teh atau kaligrafi itu cuma karena dulu aku
les, jadi aku tahu tata caranya."
"Sepertinya
belakangan ini aku mulai paham soal itu."
"......Kalau
kamu langsung setuju begitu, entah kenapa aku jadi tidak terima."
"Sifatmu
merepotkan juga ya!?"
Saat
aku menyindirnya, Nanase terkekeh pelan. Cara tertawanya yang anggun dengan
menutup mulut menggunakan tangan menunjukkan didikan yang baik sekaligus
terlihat manis. Nanase, kamu ini...... benar-benar "layak didukung". Dia
berakting sebagai si cantik yang dingin, padahal aslinya dia cuma gadis biasa.
Apa ini atribut terkuat?
"Nah,
ayo berangkat...... eh, ada apa?"
Saat
aku sedang memandangi Nanase lekat-lekat, dia menyadari tatapanku dan
memiringkan kepalanya dengan bingung. Gerakan itu juga terasa imut karena
kontras dengan wajahnya yang tipe cantik elegan.
"Ah,
tidak, bukan apa-apa."
A-aman......
hampir saja aku ketahuan terlalu lama menatap.
Aku
mulai merasa seperti penggemar fanatik idola terhadap Nanase. Bukannya aku
ingin pacaran dengannya atau semacamnya. Bagaimana ya mengatakannya, intinya
Nanase itu benar-benar layak didukung. Rasanya aku cuma ingin dia hidup
bahagia, itu saja.
Aku
terus melanjutkan obrolan sambil berusaha agar isi pikiranku yang benar-benar
menjijikkan tadi tidak ketahuan.
"Haibara-kun
ingin di bagian dapur, kan?"
"Hmm,
yah, di bagian depan juga tidak apa-apa sih, tapi kalau di dapur lebih
kekurangan orang, aku di sana saja."
Sejujurnya
aku tidak keberatan di mana pun. Hanya saja, karena jati diriku sebagai Inkya
tidak berubah, aku merasa berbicara dengan orang asing jauh lebih menguras
tenaga mental dibandingkan memasak. Jadi, sepertinya bagian dapur memang lebih
cocok.
"Sejauh
mana kemampuan memasakmu?"
"Kalau
ditanya sejauh mana... agak sulit menjelaskannya ya..."
Soal
memasak, aku sudah mendalaminya saat hidup sendirian di zaman kuliah dulu
karena terlalu banyak waktu luang. Aku menonton berbagai video masak di
YouTube, mencari resep di internet, dan setiap hari mencoba berbagai kreasi.
Lagipula, karena aku tidak pernah keluar rumah selain untuk kuliah, aku bebas
melakukan riset masakan sesuka hati. Hahaha!
Orang
sering bilang masak itu merepotkan, tapi bagiku, keluar rumah jauh lebih
merepotkan. Malah, aku tidak ingin keluar rumah sama sekali. Hidupku sudah
cukup tuntas hanya di dalam rumah.
Nanase,
yang tentu saja tidak tahu sedikit pun soal pemikiran Inkya-ku itu,
mengangguk riang.
"Fufu,
benar juga ya."
"Yah,
kalau cuma level yang diminta di kafe, kurasa aku bakal baik-baik saja. Di
rumah pun aku lumayan sering memasak, dan karena sudah banyak melakukan
percobaan yang tidak perlu, biasanya masakan yang kubuat rasanya enak."
Lagipula,
aku punya pengalaman kerja sambilan di kafe saat zaman kuliah dulu. Aku bisa
membuat hampir semua menu, dan kurasa aku juga bisa menangani bagian depan.
"He~,
sepertinya kamu cukup percaya diri ya. Kalau begitu, aku akan menantikannya,
oke?"
"Memangnya
ada kesempatan bagiku untuk menyajikan masakan buatmu?"
"Aku
juga sering datang sebagai pelanggan kok. Mungkin aku akan datang saat kamu
sedang ada shift."
Ucap
Nanase sambil tersenyum jahil.
*
Setelah
itu, aku menjalani wawancara di Kafe Mares dan lolos tanpa masalah. Mengenai
jadwal kerja, aku masuk sekitar tiga kali seminggu, dari jam 6 sore sampai jam 10
malam setelah pulang sekolah. Untuk hari Sabtu dan Minggu, jadwalnya lebih
fleksibel.
"Kalau
begitu, mohon bantuannya mulai minggu depan ya."
Pemilik
kafenya adalah seorang kakek yang terlihat sangat baik. Senyum ramahnya sangat
cocok untuknya. Syukurlah dia bukan orang yang galak. Kalau bekerja di bawah
atasan yang menyeramkan, aku pasti akan terlalu ciut dan malah sering melakukan
kesalahan...
"Oh,
si laki-laki tampan ya. Anak baru?"
Seseorang
yang menyapa dengan nada santai saat masuk ke kafe adalah seorang wanita
berambut pirang. Mungkin mahasiswi. Melihatnya masuk ke balik konter dengan
santai, sepertinya dia pegawai di sini.
"Saya
Haibara Natsuki, mulai bekerja minggu depan. Mohon bantuannya."
"Natsuki-kun
ya, salam kenal—. Aku Kirishima Mika. Mahasiswi tahun pertama."
Karena
dia mengajak bersalaman dengan santai, aku langsung menyadari. Ini... adalah
gaya pendekatan orang populer!
"Ah,
ngomong-ngomong, Yuino pernah bilang ada seseorang yang ingin dia kenalkan
ya?"
"Iya.
Haibara-kun inilah orangnya."
Saat
aku hendak menjawab, Nanase yang sedang menyapu area depan menjawab lebih dulu.
Mika-san memandang Nanase dengan wajah penuh seringai jahil, lalu berbisik di
dekat telingaku.
"......Ngomong-ngomong,
pacarmu?"
"Kedengaran
lho. Bukan kok."
Nanase
memberikan teguran pada Mika-san dengan wajah jengah.
"Aku
kan tanya ke anak ini. Gimana, Natsuki-kun?"
"Sayangnya,
bukan pacar. Tapi kalau punya pacar seperti dia, aku pasti akan senang
sekali."
"Hee~.
Fu~un? Tuh denger, Yuino?"
Saat
aku mengangkat bahu, Mika-san memanggil Nanase dengan nada geli.
......Hm?
Tadi aku cuma jujur saja sih, tapi apa jangan-jangan itu terdengar menjijikkan?
"Sudahlah.
Tolong jangan mengolok-olok terus."
Nanase
menjawab dengan nada datar sambil membelakangi kami dan terus menyapu bagian
dalam kafe.
"Oi
Kirishima. Jangan mengerjai anak baru, cepat kerjakan tugasmu."
Saat
pemilik toko memanggil sambil tertawa kecut, Mika-san menjawab
"Iyaa—" dengan nada malas lalu menghilang ke ruang karyawan. Karena
Nanase juga lanjut bekerja, sebaiknya aku pulang sekarang.
"Kalau
begitu Nanase, sampai jumpa besok."
"......Iya,
sampai jumpa besok. Dan juga, mohon bantuannya untuk ke depannya ya."
Begitulah,
tempat kerja sambilanku sudah diputuskan, dan mulai minggu berikutnya kehidupan
sekolah dan kerja sambilanku pun dimulai.
*
Saat
awal-awal mulai hidup sendirian dulu, aku selalu makan di luar, tapi lama-lama
keluar rumah saja terasa merepotkan. Aku terus-terusan makan mi instan sampai
akhirnya bosan, dan terpaksa mulai memasak sendiri.
Memasak
itu mudah. Cukup potong bahan-bahannya, lalu rebus, panggang, atau goreng
secara asal, dan jadilah sesuatu yang kelihatan layak makan. Sisanya tinggal
memahami takaran bumbu dan pemilihan waktunya saja.
Tapi,
ceritanya jadi lain kalau harus menyajikannya di level yang layak diberikan
kepada orang lain. Kalau aku yang masak dan aku yang makan sendiri sih tidak
masalah kalau gagal, tapi di kerja sambilan dapur tidak bisa begitu. Selama
orang membayar uang untuk hidangan yang disajikan, aku merasa harus memberikan
sesuatu yang pantas. Karena itulah saat mulai kerja di dapur kafe di tahun
kedua kuliah dulu, aku sempat merasa terbebani dengan kesenjangan itu. Tentu
saja aku juga harus menyesuaikan diri dengan cara masak di kafe tersebut.
——Meski
begitu, setelah tiga bulan aku pun terbiasa. Pada dasarnya cara memasaknya
sudah baku, jadi tinggal dihafalkan saja, apalagi sedikit variasi masih
diperbolehkan, jadi terasa ada tantangannya. Ini menyenangkan.
"Natsuki-kuun.
Pesan satu Neapolitan ya."
"Oke,
oke."
Mendengar
suara Mika-san, aku mulai memasak.
Sambil
merebus mi dalam air garam, aku memotong bawang bombai, paprika, jamur, dan
bahan lainnya. Aku mencampur saus tomat dan bumbu lainnya, lalu menumis
bahan-bahan yang sudah dipotong di wajan. Setelah itu aku memasukkan mi yang
sudah ditiriskan, menambahkan saus bumbu rahasia versiku, dan menumisnya dengan
api besar sekaligus. Maka jadilah Neapolitan ala aku.
Yah,
cara buatnya sih standar, tapi bumbunya kubuat sesuai seleraku. Di Kafe Mares
ini, meski ada instruksi untuk setiap menu, aku punya kebebasan yang cukup
dalam memasak, jadi terasa sangat memuaskan. Menyenangkan sekali.
"Kirishima-san,
Neapolitan-nya sudah siap."
"Oh,
cepatnya! Biar aku yang antar!"
Sebenarnya
sebelum mulai bekerja di dapur, ada semacam tes memasak untuk pemilik kafe
sebelum hidangan boleh disajikan ke pelanggan. Aku lolos tanpa masalah (bahkan
dipuji habis-habisan), jadi di hari kedua kerja pun aku sudah jadi tenaga
tempur utama. Aku sudah hafal hampir semua pekerjaan.
"Tapi
Natsuki-kun, kamu hebat banget ya? Serius belum pernah kerja sambilan
sebelumnya?"
Mika-san
menghampiriku dengan riang setelah selesai mengantar pesanan.
Saat
ini hanya ada dua pelanggan di dalam kafe. Ada kalanya tempat ini sangat ramai,
tapi saat sepi seperti ini, tidak banyak yang bisa dikerjakan sehingga
mengobrol santai pun diperbolehkan. Sekarang adalah momen itu.
"Ah—yah,
karena aku sering masak di rumah, jadi..."
"Tetap
saja! Mana ada yang bisa bikin pemilik kafe mengakui kemampuannya di hari
pertama. Kamu benar-benar definisi tenaga siap pakai. Yuino, hebat juga kamu
bisa bawa jenius seperti dia ke sini? Kerja bagus!"
Nanase
yang diajak bicara sedang menghitung uang di mesin kasir.
"Aku
pun tidak menyangka kalau dia laki-laki yang semampu ini."
Nanase
menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Apa aku melakukan kesalahan?
"......Aku
butuh waktu 1 bulan hanya untuk menghafal pekerjaan di depan."
Tatapan
tajamnya seolah menusukku. Dia terlihat tidak puas, tapi menurutku itu
normal-normal saja, lho.
"Yuino
dulu juga cepat belajarnya kok! Natsuki-kun saja yang aneh!"
Aku
tahu itu maksudnya memuji, tapi dibilang "aneh" oleh mahasiswi
bergaya gyaru begini rasanya menusuk ke hati.
Benar,
aku ini memang siswa SMA Inkya yang aneh...... hufufu......
"Tidak,
Haibara-kun benar-benar bisa diandalkan. Mohon bantuannya terus ya."
Pemilik
kafe muncul dari bagian dalam dan menepuk bahuku pelan.
......Yah,
begitulah, semuanya memujiku habis-habisan. Tapi bagiku yang punya pengalaman
dua tahun kerja di kafe, aku hanya melakukan hal yang sudah seharusnya, jadi
rasanya agak menggelitik. Kalau aku cerita soal itu, jatuhnya malah bohong.
Kalau mereka cari tahu, pasti ketahuan juga.
"Yah,
begini saja sih sudah sewajarnya."
"Haibara-kun
selalu rendah hati ya. Kamu boleh lho sedikit lebih sombong."
Nanase
bilang begitu, tapi pamer hanya karena hal sekecil ini rasanya memalukan. Meskipun
aku ini si payah Inkya yang tidak berguna, karena aku sudah mengulang
hidup dan kembali tujuh tahun ke masa lalu, wajar saja jika ada bagian dari
diriku yang lebih unggul dari orang di sekitarku.
"Bukan,
ini bukan karena aku, tapi berkat orang yang mengajariku. Makanya aku bisa
memasak."
Karena
itulah, alih-alih merendah, aku hanya bisa tertawa kecut dengan jawaban yang
ambigu untuk berkelit.
Di
saat yang pas, lonceng pintu masuk berbunyi. Nanase segera menuju depan untuk
melayani pelanggan.
Nah,
lebih baik aku mencuci piring yang menumpuk saja—tepat saat aku berpikir
begitu...
"Yaho—
Yui-yui! Aku datang main nih!"
Terdengar
suara yang sangat kukenal. Suaranya kencang sekali lagi.
Sambil
merasakan firasat buruk, aku menoleh ke pintu masuk dan melihat tiga sosok yang
tidak asing. Pelanggan baru itu adalah Uta, Tatsuya, dan Reita.
"Oi
Nanase. Si Natsuki mana...... eh, dia di dapur?"
Tatsuya
yang celingukan mencari keberadaanku langsung membelalakkan mata saat
menyadarinya.
"......Mari
saya antar ke kursi. Silakan lewat sini."
Nanase
terlihat sedikit malu, tapi ia tetap melayani sesuai manual. Aku paham rasanya,
pasti bingung harus sejauh mana bersikap formal dan sejauh mana bicara santai
saat teman datang.
Tatsuya
dan Uta duduk di kursi meja dengan posisi bersandar dalam, seolah sedang
lunglai. Mereka pasti capek setelah latihan klub. Sambil tertawa kecut melihat
mereka berdua, Reita meminta maaf padaku dan Nanase.
"Tadi
siang aku dengar kalau jadwal shift kalian berdua berbarengan. Jadi kami
bertiga kepikiran, gimana kalau mampir mendadak sepulang latihan klub buat
bikin kejutan. Kalian kaget?"
"Kaget,
tahu. Lain kali kasih tahu dulu, ya?"
Nanase
mengerucutkan bibirnya sambil ditenangkan oleh Reita. Aku tetap melanjutkan
pekerjaanku di dapur, tapi...
"Bicaralah
dulu sebentar dengan mereka. Kalian kan berteman?"
"Eh,
boleh ya?"
"Hari
ini pengunjungnya memang lagi sepi kok," kata pemilik kafe pengertian.
"Terima
kasih banyak! Kalau begitu, saya permisi sebentar."
Karena
Manajer sudah berbaik hati, aku membungkuk sopan lalu melangkah menuju meja Uta
dan yang lainnya.
"Yo.
Kalian ke sini cuma mau nambahin kerjaanku ya?"
"Eeeh?
Kok ngomongnya gitu! Natsu, apa kamu nggak senang kami datang?"
"Mau
senang atau nggak, kan tadi kita baru saja barengan di sekolah..."
Saat aku menjawab dengan terlalu logis, Uta menggembungkan pipinya dengan kesal.
"Mumu!"
"Natsu,
sekarang kamu senang nggak!?"
"U-uh,
iya?"
Gila,
energinya kuat banget. Apalagi wajah Uta mendadak dekat sekali, membuatku
refleks mundur selangkah.
"Kamu
senang nggak bisa berteman sama aku?"
Pertanyaan
yang terlalu langsung itu membuatku refleks membuang muka, tapi akhirnya aku
mengangguk juga.
"Y-yah...
lumayanlah."
"Kehidupan
sekolah bareng kami seru nggak?"
"Tentu
saja seru."
"Berarti
sekarang Natsu lagi senang, kan!? Kamu senang kan aku datang!?"
"......H-hah?"
Secara
logika rasanya poin-poin itu nggak nyambung, tapi aku nggak tega menghilangkan
senyum cemerlang di wajah Uta saat ini, jadi aku akhirnya mengangguk saja.
Lemah banget sih aku ini.
"Yah,
begitulah. Oke, mari kita anggap begitu!"
"Ieeiii!"
"I-ieeiii!"
Karena
Uta mengangkat tangannya, aku berusaha menyesuaikan diri untuk melakukan high
five.
Gawat.
Aku nggak bisa ngejar tensinya! Ini nih, obrolan atmosferik khas orang populer!
"......Kalian
akrab sekali ya."
"Tentu
saja, aku dan Natsu itu sahabat sejati!"
Uta
berdiri dan merangkul bahuku.
Kan
sudah dibilang jaraknya terlalu dekat!?
Karena
dia mencoba merangkulku begitu saja, mau tak mau aku harus sedikit
membungkukkan punggungku agar tingginya pas. Tubuh Uta menempel. Terasa empuk.
Padahal kukira bagian dadanya sedatar papan, ternyata dia memang benar-benar
seorang gadis.
Ditambah
lagi, ada aroma harum yang tercium, padahal dia baru selesai latihan klub.
Uta,
yang sepertinya sama sekali tidak sadar betapa tegangnya aku, memberikan tanda peace
ke arah Nanase.
"Ieeiii!
Yui-yui, tolong fotoin!"
"Tunggu,
jang—"
Belum
sempat aku mencegah, bunyi cekrek kamera ponsel sudah terdengar.
Yah,
bukannya aku nggak suka sih! Tapi tolong kasih jantungku waktu buat istirahat! Lagipula
Nanase cepat banget geraknya? Rasanya dia sudah siap memegang kamera dari awal.
Menyadari
tatapanku, Nanase tersenyum tipis.
"Mau
kupasang di Minsta."
"Bisa
nggak pakai foto yang lebih normal? Kalau begini kan agak..."
"Agak
apa?"
Nanase
memasang senyum jahil.
Ya
habisnya, kalau begini kan... gimana ya... kelihatannya kayak orang pacaran,
kan? Apa aku yang terlalu kepedean? Apa di dunia orang populer hal begini itu
biasa saja?
"Eh,
anu, Yui-yui... pakai foto lain saja gimana? Ah, benar! Ayo foto bareng
semuanya!"
"Oh,
begitu? Yah, kalau Sakura-san yang bilang sih."
Saat
aku sedang panik sendiri, Nanase langsung setuju dengan usul Uta. Tapi Uta
bilang begitu bukan karena punya pemikiran sempit sepertiku, dia pasti cuma
ingin foto bareng-bareng saja.
"Ayo
semuanya, masuk ke sini!"
Uta
membalik kamera ponselnya dan menjulurkan tangannya jauh ke depan. Berada di
dalam jangkauan kamera itu membuatku kembali sangat dekat dengan Uta, tapi ya
sudahlah.
Setelah
semuanya masuk ke dalam frame, Uta mengambil foto, dan foto itu langsung
dikirim ke grup chat RINE. Aku pun membuka ponsel dan melihat foto itu.
Memang ada kami berlima di sana.
Entah
kenapa... hal seperti ini membuatku senang. Sudut bibirku tanpa sadar
tersenyum. Rasanya seperti kenangan menyenangkan yang terukir manis dalam satu
lembar foto. Dulu aku pikir berfoto itu tidak ada gunanya, tapi... ternyata
tidak begitu ya.
"Ah,
lihat-lihat! Ada pesan dari Hikarin!"
Mendengar
kata-kata Uta, aku mengalihkan layar dari foto kembali ke grup chat.
Hoshimiya mengirim pesan: 『Kalian
curang banget sih—!』
lengkap dengan stiker orang marah.
"Lho?
Ngomong-ngomong kenapa Hoshimiya nggak ikut?"
"Sudah
kuajak, tapi sepertinya jam malam di rumahnya cukup ketat. Ditambah lagi, meski
hari ini ada jadwal klub sastra, biasanya mereka selesai lebih awal daripada
klub olahraga, jadi waktunya nggak pas."
"Oh,
kalau begitu ya mau gimana lagi."
Uta
membalas pesan itu dengan kalimat 『Biarin, wlee!』. Pemandangan yang
sangat hangat.
"Aku
juga ingin mengunggahnya ke Minsta. Boleh kan?"
Nanase
meminta izin. Sambil mengangguk bersama yang lain, aku berkata:
"Oh
iya, aku belum terhubung dengan Minsta Nanase ya. Kasih tahu dong akunmu."
"Hah?
Memangnya kamu main Minsta?"
"Baru
mulai belakangan ini sih. Makanya pengikutnya masih nol."
"Kasihan
sekali. Baiklah, terpaksa aku akan mengikutimu."
"Ah,
aku juga, aku juga!"
"Aku
juga ya. Tatsuya, kamu nggak main ya?"
"Nggak,
aku cuma punya akun buat lihat-lihat saja. Malas posting apa-apa."
Begitulah,
akhirnya aku terhubung dengan semuanya di Minsta.
Aku
baru mulai beberapa hari yang lalu karena tidak sengaja tahu kalau cuma aku
yang belum terhubung, dan rasa keterasingan itu terasa agak sedih. Cuma sedikit
kok sedihnya. Sedikit saja.
Memang
ya, anak populer zaman sekarang semuanya pasti main Minsta. Dulu aku cuma pakai
Twister buat mem-follow konten-konten otaku saja...
Ngomong-ngomong,
karena sudah terhubung, aku mencoba melihat postingan Nanase yang baru saja
mengunggah foto tadi. Yang muncul di sana adalah foto kami berlima yang sedang
tersenyum, dan di bawahnya ada tulisan:
『Semuanya datang ke
tempat kerjaku♡
Makasih yaaa—!
#KafeMares』
"............Ini
siapa!?"
"A-apa.
Ada masalah?"
Nanase
membuang muka. Pipinya sedikit memerah.
"Ahaha,
karakter Yui-yui di Minsta beda banget ya, lucu!"
"Aku
sih sudah mulai terbiasa, tapi kalau baru pertama lihat pasti kaget ya."
Apa
kamu memang ingin mencoba mencari kerja sampingan juga untuk menambah
penghasilan atau sekadar ingin menghabiskan waktu bersama mereka?
Uta
tertawa terbahak-bahak, sementara Reita hanya bisa tersenyum kecut.
"Ah,
hei, hei, Yui-yui. Natsu di bagian dapur, kan?"
"Iya."
"Jadi
kalau sekarang aku pesan sesuatu, Natsu yang bakal masakin?"
"Begitulah."
"Oi,
oi, jangan malah nambah-nambahin kerjaanku dong."
"Aku
sudah telanjur kirim pesan ke Ibu kalau malam ini nggak makan di rumah. Bakal
repot nih kalau Natsu nggak masakin sesuatu buatku. Tolong buatin pasta ya, apa
saja yang paling kamu kuasai."
"Aku
makan malam di rumah, jadi mau yang ringan-ringan saja. Rekomendasi dari
Natsu!"
"Kalau
aku sih, apa saja asal porsinya banyak."
"Jangan
minta porsi bar-bar di kafe dong..."
Kecuali
kalau ini kedai Komeda, baru masuk akal. Aku kembali ke dapur sambil tertawa
kecut.
Saat
aku melirik ke arah Manajer, beliau mengangguk pelan dengan wajah tenang.
Padahal aku belum bilang apa-apa, tapi sepertinya beliau sudah paham maksudku.
Sepertinya aku diizinkan memasak dengan bebas kalau untuk teman sendiri.
Toko
yang dikelola sendiri begini memang enak karena lebih fleksibel. Malah, rasanya
jadi seru.
"Nah,
enaknya masak apa ya..."
Mumpung
menyajikan makanan untuk teman, aku ingin membuat sesuatu yang enak dan membuat
mereka senang.
Begitu
terpikirkan hal itu, aku malah jadi gugup. Aku sudah sering memasak untuk
pelanggan, tapi belum pernah sekalipun memasak untuk teman. Ya, alasannya jelas
karena aku tidak punya teman. Sebuah hukum alam yang mutlak.
"Mau
masak apa?"
"Lihat
saja nanti. Akan kutunjukkan keseriusanku."
"Aku
sih tidak keberatan, tapi jangan kelewatan sampai nanti dimarahi ya?"
Benar
juga, tidak baik kalau terlalu melenceng dari menu yang ada. Ada masalah
penentuan harga juga. Karena masih ada beberapa pelanggan lain, aku tidak bisa
menghabiskan waktu terlalu lama.
——Hmm,
rasanya kemampuanku sedang meronta ingin ditunjukkan.
*
Begitulah,
Nanase mengantarkan masakan yang sudah selesai kubuat ke meja mereka.
"Wah—
kelihatannya enak banget!"
Uta
berseru dengan nada sangat antusias. Suaranya agak keras, tapi karena pelanggan
lain sudah pulang saat aku sedang memasak tadi, jadi tidak masalah lah.
Untuk
Reita yang minta pasta, aku buatkan Seafood Soup Spaghetti. Untuk Uta
yang suka manis, aku buatkan Pancake dengan whipped cream yang
melimpah. Dan untuk Tatsuya yang mengutamakan porsi, aku buatkan Omurice
porsi besar.
Aku
hanya memberikan variasi pada menu yang sudah ada, tapi rasanya kubuat
benar-benar sesuai seleraku. Tinggal masalah apakah mereka bakal suka atau
tidak. Duh, aku jadi makin gugup.
Sambil
menahan napas, aku memperhatikan reaksi mereka. Pertama, Uta mengambil suapan
pertama. Lalu, dia mengerjapkan mata seolah terkejut, dan tanpa mengucap
sepatah kata pun, dia lanjut makan suapan kedua dan ketiga. Eh, mana
testimoninya!?
Saat
aku mulai tidak sabar, Tatsuya dan Reita juga mulai makan, jadi aku
memberanikan diri untuk bertanya.
"......G-gimana?"
Namun,
entah kenapa mereka bertiga tidak menjawab. Jangan-jangan... rasanya nggak
enak?
"E..."
"E?"
"Enak
bangeeeet!"
Uta
berseru kegirangan dengan suara yang sangat lantang. Melihat Uta yang tensinya
sedang mencapai puncak, Reita mencoba menenangkannya dengan lembut.
"Uta,
pelankan suaramu, nanti mengganggu toko. ......Tapi, aku setuju dengannya. Aku
nggak menyangka rasanya bakal seenak ini. Aku pernah ke sini sebelumnya, tapi
yang ini banyak variasinya ya?"
"Iya.
Ini kubuat pakai caraku sendiri, jadi aku mengabaikan cara standar toko.
Rahasia ya."
Aku
meletakkan jari di depan bibir.
Tentu
saja Manajer tidak akan marah, sih.
"Enak!
Beneran enak! Natsu hebat banget!"
Mungkin
karena sudah diperingatkan Reita, Uta berseru dengan volume yang lebih
tertahan.
Melihatnya
makan dengan sangat lahap begitu membuatku ikut senang. Rasanya memasak tadi
jadi tidak sia-sia. Tatsuya juga terus menyuap omurice-nya dengan lahap
sambil bergumam, "Enak."
"Aku
mau coba punya kalian berdua juga! Tatsu, minta satu suap!"
Uta
menatap omurice dengan mata berbinar-binar lalu membuka mulutnya.
......Apa
ini maksudnya dia minta disuapi oleh Tatsuya? Melakukan hal seperti itu di
depan umum... ah benar, mereka kan orang populer. Cuma aku saja yang merasa
aneh. Meski begitu, di antara orang populer pun ada yang masih tahu batasan.
Tatsuya
yang aslinya cukup punya tata krama itu sempat terdiam seribu bahasa sebelum
membuang muka dengan ekspresi kesal.
"Siapa
juga yang mau melakukan hal memalukan begitu. Kalau mau makan, ambil saja
sendiri."
Ucapnya
sambil meletakkan sendok di atas piring. Uta tidak terlihat keberatan dan
langsung mengambil sendok itu.
"Kalau
begitu, aku ambil ya! ......Wah, yang ini juga enak!"
Setelah
itu, mereka bertiga lanjut makan dengan rukun sambil saling mencicipi masakan
masing-masing. Sebenarnya menurutku pancake tidak cocok dimakan bareng
masakan lain, tapi ya sudahlah. Yang penting Uta terlihat senang.
Di
sebelahku, Nanase tampak menelan ludah. Apa dia juga ingin makan? Yah, aku juga
mulai merasa lapar. Coba kugoda sedikit ah. Oke... mari kita coba tantangan
ini.
Aku
menepuk bahu Nanase pelan, lalu menyeringai sambil bertanya.
"Mau
makan juga?"
"Y-yah...
tapi kan aku sedang kerja. Ah benar, nanti buatkan makanan karyawan untukku
ya."
"Tentu
saja, kalau cuma segitu serahkan padaku."
Aku
menepuk dadaku dengan kepalan tangan.
......Sip,
obrolannya seru. Dan kontak fisik yang natural pun berhasil kulakukan.
Hebat
ya orang populer, mereka bisa melakukan hal-hal begini seperti sedang bernapas
saja. Sementara aku, aku payah sekali dalam menentukan batasan tingkat kesukaan
orang untuk melakukan kontak fisik. Meski dengan Nanase yang sudah lumayan
akrab (setidaknya menurutku begitu), menepuk bahu saja sudah merupakan usaha
maksimal bagiku. Yah, daripada salah baca jarak lalu dianggap menjijikkan,
lebih baik bersikap terlalu hati-hati begini, kan.
Saat
sedang mengobrol dengan Nanase, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.......Kok
Tatsuya jadi agak pendiam ya?
"Ayo,
ayo, kalian agak berisik lho. Lagipula meski nggak ada pelanggan, masih banyak
pekerjaan yang harus dilakukan."
Saat
aku hendak mengajak Tatsuya bicara, Kirishima-san menepuk kepalaku pelan dari
belakang. Mungkin meski sedang sepi pelanggan, kami memang sudah agak terlalu
berisik.
"Iya,
iya," jawabku malas, lalu dengan enggan aku dan Nanase kembali bekerja.
"......Kamu
baru saja mulai kerja sambilan di toko ini, kan?"
Tatsuya
bertanya dengan nada datar saat aku sedang memunggungi mereka.
"Hm?
Oh, iya, benar."
"Padahal
begitu, tapi kamu sudah bisa sejauh ini......"
"Yah,
aslinya cuma karena dulu diajari masak sama orang tua saja kok," jawabku
sambil mengangkat bahu.
Tatsuya
melahap sisa omurice-nya dengan lahap, lalu bergumam:
"—Tetap
saja, kamu hebat. Kamu benar-benar bisa melakukan apa saja ya, Natsuki."
Dipuji
seperti itu membuatku merasa senang yang tulus.
Tepat
saat itu, terdengar bunyi lonceng di pintu masuk. Karena ada pelanggan lain
yang datang, aku dan Nanase meninggalkan meja Uta dan yang lainnya.
Setelah
itu kafe mendadak mulai ramai, jadi begitu selesai makan, Uta dan yang lainnya
langsung pamit pulang.
*
Sesampainya
di rumah setelah selesai kerja sambilan, waktu sudah menunjukkan hampir jam
sebelas malam.
Saat
aku sedang berpikir untuk segera mandi dan tidur, suara notifikasi ponsel
terdengar. Ketika melihat layarnya, ternyata dari Hoshimiya. Kukira di grup chat,
ternyata pesan pribadi.
Hoshimiya
Hikari: 『Beneran kamu masakin buat semuanya!?』
Kalau
diingat-ingat, hari ini Hoshimiya memang sempat mengomel di RINE karena merasa
ditinggal sendiri.
Aku
langsung membalas pesannya untuk mengonfirmasi. Yah, meski dibilang masakan
sendiri, aslinya itu cuma menu toko biasa sih.
Natsuki:
『Iya,
benar—』
Hoshimiya
Hikari: 『Eeeh, curang! Aku juga mau coba makan!』
Natsuki:
『Datang
saja ke tempat kerjaku, nanti kubuatkan sebanyak apa pun hahaha』
Hoshimiya
Hikari: 『Lain kali aku pasti ikut datang!』
Natsuki:
『Nggak
usah terlalu berekspektasi, bukan sesuatu yang wah banget kok hahaha』
Hoshimiya
Hikari: 『Eeeh, bohong— Aku lihat foto yang diposting
Uta-chan di Story, kelihatannya enak banget lho?』
Saat
membuka Minsta, memang ada foto masakan yang diambil Uta di Story-nya. Kapan
dia sempat memotretnya......?
Tapi
harus diakui, fotonya bagus. Benar-benar terlihat lezat.
Natsuki:
『Beneran
ya. Kapan dia foto itu』
Hoshimiya
Hikari: 『Gara-gara lihat itu aku jadi lapar』
Natsuki:
『Bener
banget lol Apa aku makan mi instan saja ya』
Hoshimiya
Hikari: 『Curang banget sih!? Padahal aku lagi diet
tahu!』
Natsuki:
『Oh
ya? Padahal kayaknya nggak perlu deh』
Hoshimiya
Hikari: 『Bagian yang nggak kelihatan itu bikin
kepikiran tahu!』
Natsuki:
『Makan
mi instan tengah malam itu enak lho?』
Rasanya
memang penuh dosa...... tapi meski bilang begitu, aku tidak benar-benar berniat
memakannya. Setelah susah payah membentuk tubuh agar layak dilihat orang, aku
tidak mau menambah lemak yang tidak perlu di sini.
Hoshimiya
Hikari: 『Natsuki-kun juga dilarang makan!』
Natsuki:
『Kok
nggak adil gitu sih』
Hoshimiya
Hikari: 『Karena itu buruk buat kesehatan』
Natsuki:
『Ya
sudahlah kalau begitu』
Setelah
membalas pesan itu, ada jeda beberapa menit.
Waktu-waktu
seperti ini biasanya membuatku merasa cemas. Apa aku salah membalas pesannya
tadi ya? Apa sebaiknya aku memberikan topik baru?
Bagi
aku yang ingin terus melanjutkan obrolan sebisa mungkin karena jarang-jarang
Hoshimiya mengirim pesan RINE duluan, aku mengetik sambil memikirkan banyak
hal, tapi Hoshimiya sepertinya cuma sekadar mengikuti suasana saja.
Tak
lama kemudian, statusnya menjadi terbaca, dan muncul balasan yang memutus
obrolan: 『Aku
tidur dulu ya! Sampai jumpa besok!』. Meski wajar jika melihat jamnya, aku
merasa sedikit sedih.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.