Chapter
3
Bertindak Sempurna
Dua
minggu telah berlalu sejak Uta dan yang lainnya mampir ke tempat kerja sambilan
aku dan Nanase.
"—Karena
itu, mulai hari ini adalah masa tenang kegiatan klub. Belajarlah dengan
sungguh-sungguh."
Wali
kelas yang tadinya bicara panjang lebar dan membosankan itu menutup jam wali
kelas dengan kalimat tersebut.
Masa
ujian tengah semester sudah dekat. Tepatnya, satu minggu lagi. Karena Ryoumei
adalah SMA jalur akademik (sekolah unggulan), ujian tengah semester terdiri
dari sembilan mata pelajaran umum seperti Bahasa Jepang Modern, Sastra Klasik,
Sejarah Dunia, Sejarah Jepang, Matematika, Bahasa Inggris, Fisika, Biologi, dan
Kimia.
Saat
ujian akhir semester nanti, mata pelajaran seperti Pengolahan Informasi, Tata
Boga, serta Olahraga dan Kesehatan akan ditambahkan, tapi untuk kali ini tidak
ada hubungannya.
Sembilan
mata pelajaran tersebut dibagi ke dalam tiga hari, dari Senin sampai Rabu,
dengan tiga mata pelajaran yang diujikan setiap harinya. Artinya, selama masa
ujian kami bisa pulang saat masih pagi. Dulu, aku akan pulang dengan penuh
semangat lalu menghabiskan waktu dengan membaca light novel.
Dengan
pemikiran "Mumpung waktu luang melimpah, tidak masalah kalau baca novel
sebentar," tahu-tahu waktu sudah menunjukkan tengah malam, dan aku
teringat memori pahit menghadapi ujian tanpa belajar sama sekali.
Saat
itu aku merasa tenang karena orang-orang di sekitar berkata,
"Aduh
gawat, aku sama sekali nggak belajar nih," atau "Aku juga—".
Tapi kenyataannya, cuma aku yang nilainya di bawah standar. Itu adalah sejarah
kelam. Belum pernah aku merasa dikhianati sedalam itu, tapi sebenarnya
alih-alih dikhianati, masalah utamanya adalah kami bahkan bukan teman sejak
awal. Hahaha.
"Wah—,
benci banget sama ujian. Lagipula aku nggak paham apa-apa! Sama sekali!"
Uta
mengeluh dari kursi di depanku.
"Jangan
terlalu khawatir, masih ada satu minggu kok."
"Mana
mungkin bisa diatasi dalam seminggu kalau selama ini aku nggak dengerin
pelajaran!"
"Bukannya
itu bukan hal yang patut dibanggakan ya......?"
Saat
aku sedang menegur Uta, Reita yang duduk di kursi belakang ikut menimpali.
"Begini
ya Uta, katanya ujian berkala di sekolah ini lumayan sulit lho. Kalau memang
tidak mendengarkan pelajaran, kamu benar-benar harus belajar dengan serius,
atau semua nilaimu bisa-bisa merah semua."
"Aaaa!
Aku nggak mau dengar!"
Uta
menutup kedua telinganya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan heboh.
Sebenarnya,
apa yang dikatakan Reita ada benarnya. Aku yang dulu pun sangat kesulitan. Meskipun
begitu, sekarang aku yang sudah mengalaminya sekali tentu punya banyak
kelonggaran, jadi mungkin aku akan membantu menyokong yang lain.
"Akhirnya
bebas dari kegiatan klub yang seperti neraka itu......!"
Tatsuya
mendekat sambil berpose kemenangan.
"Eeeh?
Kalau aku sih lebih mending klub daripada belajar! Tatsu, kayaknya gairahmu
terhadap basket kurang deh? Bisa-bisanya masang muka sesenang itu!"
"Bodoh,
itu karena kamu belum merasakan latihan klub basket putra makanya bisa sesantai
itu. Kamu nggak tahu seberapa parahnya kami anak kelas satu digembleng......
Gawat, aku merinding kalau ingat lagi."
"Itu
sih namanya sudah trauma."
Saat
aku menyindir, Tatsuya memeluk kedua lengannya dengan wajah pucat.
"Aku
nggak main-main tahu."
"Yah,
aku tahu sih karena sering melihat dari lapangan sebelah, tapi kami juga
latihannya lumayan keras lho?"
"Hah,
oi, oi, latihan kalian itu cuma kayak mainan anak-anak tahu."
"Apa
katamu!? Aku nggak bisa membiarkan ucapan itu lewat begitu saja!"
"Sudah,
sudah, sampai di situ saja."
Tatsuya
dan Uta yang saling melotot itu sebenarnya akrab atau tidak sih......
Yah,
biasanya Reita yang akan menengahi dan masalah pun selesai seperti biasa.
Tatsuya
menepukkan kedua tangannya seolah ingin mengubah suasana, lalu berkata dengan
ceria.
"—Kalau
begitu, ayo kita main, teman-teman!"
Saking
cerianya, sampai rasanya dia tidak terlihat seperti Tatsuya.
Tatsuya
tersenyum lebar, sementara kami semua terdiam membeku. Bahkan Uta pun hanya
bisa tertawa kecut. Mewakili kami semua, Reita akhirnya angkat bicara dengan
nada pasrah.
"......Nggak,
kami nggak bakal pergi."
"Hah!?
Bodoh kamu, emangnya kamu pikir libur ini buat apa!?"
"Bu-buat
belajar, kan......?"
Hoshimiya
yang entah sejak kapan sudah ada di samping kami berucap dengan ragu.
"Belajar......?"
Tatsuya
mengulang kata itu dengan wajah serius. Apa-apaan reaksi itu, seolah dia baru
saja mendengar sesuatu yang mustahil dipercaya......
"Jangan-jangan
Tatsuya, kamu berpikir untuk menghadapi ujian tanpa belajar sama sekali?"
"Oi,
oi Reita, jangan terlalu meremehkanku dong."
Tatsuya
mendengus menanggapi pertanyaan Reita.
Ooh,
semuanya pun merasa lega.
"—Aku
pasti bakal baca buku paket kok di pagi hari saat hari-H nanti."
Ga-gawat,
anak ini...... harus segera diselamatkan......
Ngomong-ngomong,
dulu pun Tatsuya seperti ini, dan nilainya...... tidak, lebih baik jangan
diingat lagi.
"Semuanya......"
Reita
memandangi kami dengan wajah yang sangat serius.
"Ayo
kita buat kelompok belajar. Maksudku, tolong temani aku. Aku mohon. Tolong
ya."
Dia
memohon dengan nada tragis yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku,
Hoshimiya, dan Nanase hanya bisa mengangguk meski sedikit merasa ngeri.
*
"—Nah,
kalau begitu Uta dan Tatsuya, pertama-tama beri tahu bagian mana yang tidak
kalian mengerti."
Setelah
itu, kami meminjam ruang kelas yang kosong untuk memulai kelompok belajar. Anggotanya
adalah enam orang yang seperti biasanya. Ya, yang "biasanya"......
termasuk aku...... hehehe.
Terlepas
dari itu, kami menggabungkan enam meja dan duduk mengelilinginya. Aku sempat
berpikir apa boleh memakai ruang kelas kosong sesuka hati, tapi sepertinya
Reita sudah meminta izin. Seperti biasa, dia laki-laki yang sangat teliti. Yah,
kalau di perpustakaan suasananya terlalu sepi jadi sulit untuk mengajari.
Mungkin
dia mempertimbangkan kemungkinan Uta atau Tatsuya bakal diusir karena suara
mereka yang keras.
"Kalau
ditanya bagian mana yang nggak ngerti...... gimana ya?"
"Aku
nggak ngerti bagian mana yang aku nggak ngerti sih!"
Bukan
'sih!' masalahnya. Itu adalah keputusasaan yang sangat segar.
Saat
Reita dan yang lainnya sedang terlibat percakapan seperti itu, Hoshimiya dan
Nanase belajar dengan tenang. Berbeda dengan Nanase yang mengerjakan soal
matematika dengan lancar, Hoshimiya tampak berjuang keras bertarung dengan
soal-soalnya. Pemandangan yang sangat hangat. Apa aku coba bantu saja demi
mendapatkan poin kesukaan?
"Hoshimiya.
Coba baca soalnya sekali lagi dengan teliti. Sebenarnya soal ini sedikit
berbeda dengan soal sebelumnya."
"Eh......?
Iya. Ee-to......"
Hoshimiya,
yang sedang menghitung, kembali menatap soalnya sekali lagi. Aku teringat bahwa
bagian yang membuat Hoshimiya tersendat adalah bagian yang sama saat aku
kesulitan dulu. Karena itu, aku langsung tahu bagaimana cara menjelaskannya.
"Ah,
begitu ya!"
"Iya,
benar. Jadi di sini bukan begini, tapi——"
Begitu
aku mengeluarkan buku cetak dan menjelaskan contoh soalnya, Hoshimiya menyadari
cara penyelesaiannya. Setelah itu, ia menuliskan rumus perhitungannya dengan
lancar dan akhirnya sampai pada jawaban yang benar.
"Bisa!
Benar, kan?"
Hoshimiya
memiringkan kepalanya dengan sedikit cemas meski terlihat senang. Aku
mengangguk mantap padanya.
"Iya,
jawabannya benar."
"Hore!
Makasih ya, Natsuki-kun!"
.........................
Hah!?
Ini di mana? Aku siapa!? T-tidak, tenanglah, tetap kalem!
"......Natsuki-kun?"
"Ah,
tidak, bukan apa-apa kok."
"Begitu?
Kalau gitu aku lanjut ya!"
A-aman......
Daya
hancur senyum Hoshimiya terlalu besar, sampai-sampai pikiranku sempat berhenti
bekerja.
Sebenarnya
kalau cuma senyuman, di kehidupan sebelumnya pun aku sudah melihatnya
berkali-kali. Tapi, senyum ini ditujukan kepadaku, dan terlebih lagi dia
berterima kasih padaku. Wajar saja kalau aku sampai hampir hilang ingatan
sesaat. Meskipun aku tidak boleh sampai lupa ingatan sih. Tidak akan kulupakan.
"Jangan-jangan,
Natsu itu pintar ya?"
Uta
bertanya sambil mencondongkan tubuhnya ke atas meja, sepertinya dia
memperhatikan interaksi kami tadi.
"Entah
pintar atau tidak, tapi setidaknya aku mendengarkan penjelasan di kelas."
"Eeeh!
Curang!"
"Apanya
yang curang? Itu kan cuma syarat dasar buat bisa mengerjakan soal......"
"Kalau
gitu, kalau gitu! Soal yang ini kamu tahu nggak?"
"Coba
kulihat......"
Begitu
mengintip soal yang disodorkan Uta, aku membeku. Itu adalah soal dasar
matematika. Soal yang seharusnya sudah dipelajari di hari kedua sekolah.
Gawat.
Ini di luar dugaan......
Hoshimiya
sudah paham dasarnya dan hanya tersendat di soal penerapan, jadi dia mirip
denganku yang dulu. Sepertinya dia tipe yang mendengarkan penjelasan di kelas
dengan baik, tapi jarang belajar di rumah. Karena kecerdasan alaminya tidak
terlalu menonjol, dia tidak paham soal penerapan dan nilainya selalu berakhir
di angka 70-an. Tapi Uta, kalau dia nekat maju begini, nilainya bisa nol. Soal
dasar untuk mendulang poin saja dia tidak paham.
"Kalian
berdua...... kalau kalian menghadapi ujian ini dengan gaya saat SMP dulu,
kalian bakal mati lho?"
Reita
bergumam sambil memijat pangkal hidungnya. Sepertinya Tatsuya mulai merasakan
krisis setelah melihat keadaan kami. Dengan wajah serius, ia bertanya:
"Apa......
separah itu ya......? Ujian SMA itu......"
"Lagipula,
Tatsuya dan Uta itu tipe yang nilai masuknya naik gara-gara dipaksa belajar
buat ujian masuk, jadi dari awal kalian sudah tertinggal. Apalagi sekarang
ketahuan kalau kalian bahkan nggak dengerin pelajaran."
"M-memang
sih...... aku bisa diterima di sini juga cuma kebetulan......"
"Ahaha!
Tatsu emang bego sih!"
"Jangan
ngomong gitu kalau itu keluar dari mulutmu, Cebol. Aku masih mending daripada
kamu yang bahkan nggak ngerjain PR......!"
Inilah
yang namanya pertarungan antara dua orang yang sama-sama payah, tapi aku tidak
mengucapkannya dengan lantang.
"Jangan
malah berdebat, cepat belajar. Asal tahu saja, di sekolah kita ini, kalau dapat
nilai merah, kalian harus ikut kelas tambahan, dan nggak boleh ikut klub sampai
lulus ujian remedial, lho."
"Eh......
itu, serius?"
"Ahahaha......
nggak mungkin, pasti bercanda kan? ......Masa...... beneran begitu?"
Wajah
mereka berdua memucat mendengar ucapan Reita.
"Pokoknya,
kalau nggak dicicil dari sekarang, kalian nggak bakal keburu buat matematika
dan......"
"Fisika,
sama bahasa Inggris sepertinya. Kalau pelajaran hafalan, mungkin masih bisa
diatasi dengan sistem kebut semalam."
Aku
menambahkan berdasarkan pengalamanku dulu, dan Reita mengangguk setuju.
"Lagipula,
jumlah tugas yang harus dikumpulkan sebelum ujian untuk mata pelajaran itu
sangat banyak. Pertama-tama, ayo selesaikan tugas matematika dulu. Kalau nggak
dikerjakan tiap hari, ini nggak bakal selesai tepat waktu."
Setelah
ucapan Reita itu, semuanya mulai fokus belajar.
Tampaknya
Tatsuya dan Uta punya kemampuan fokus yang baik jika sudah mulai belajar.
Mereka terus mengerjakan tugas matematika meski sambil bertarung dengan buku
paket.
Di
sini terlihat bahwa memang benar mereka bisa diterima di sekolah ini berkat
belajar mati-matian sebelum ujian masuk dulu.
Meskipun
begitu, tentu saja saat mengerjakan tugas, mereka menemui soal yang tidak bisa
diselesaikan sendiri. Reita mengajari Tatsuya, sementara Nanase mengajari
Hoshimiya. Kalau begitu, apa aku harus menangani Uta?
Sebenarnya
aku ingin mengajari Hoshimiya, tapi posisi itu sudah diambil oleh Nanase.
Yah,
sepertinya mereka berdua memang sudah seperti itu sejak SMP. Rasanya ada
"sejarah" dalam atmosfer hubungan mereka.
"Hmm......"
Sebenarnya
aku cuma pura-pura mengerjakan tugas karena aku sedang luang. Terus terang
saja, tidak ada bagian di matematika yang tidak kupahami. Pelajaran hafalan
seperti Sejarah Jepang atau Sejarah Dunia malah lebih sulit buatku karena
banyak bagian yang sudah terlupa. Tapi kurasa meninjau kembali semuanya dalam
satu malam sudah cukup...... Saat sedang berpikir begitu, aku mendengar Uta
mengerang "Uuuu—" sambil memegangi kepalanya, jadi aku mencoba
menyapanya.
"Bagian
mana yang nggak kamu mengerti?"
"Natsu,
kamu mau ngajarin aku?"
"Tentu
saja. Selama itu bagian yang aku mengerti ya."
Uta
terlihat merasa bersalah, mungkin dia merasa tidak enak karena membuang waktu
belajarku.
Kukira
dia orang yang tidak peduli dengan jarak antarmanusia, ternyata dia bisa merasa
sungkan di hal-hal yang tak terduga ya. Mungkin keseimbangan perasaan inilah
yang membuatnya menjadi orang populer. Catat dalam otak.
"Nggak
apa-apa kok. Mengajarimu juga sekalian jadi bahan tinjauan ulang buatku."
Aku
mencoba tersenyum seramah mungkin untuk menenangkan Uta. Seketika, wajah Uta
langsung cerah. "Begitu ya!"
Sejak
dulu aku payah dalam membaca emosi orang, tapi Uta sangat mudah dibaca jadi itu
sangat membantuku.
"Begini,
bagian ini dan ini, aku nggak paham kenapa bisa nyambung......"
Yang
membuat Uta bingung adalah contoh soal di buku paket. Apa kamu ingin mencoba
memberikan penjelasan yang lebih sederhana atau mungkin memberikan contoh lain
agar Uta lebih mudah mengerti?
Setelah
melihat penjelasan soal dengan format yang sama seperti tugas, sepertinya Uta
kesulitan karena tidak memahami alur perpindahan rumusnya.
Aku
mengerti. Contoh soal di buku paket sering kali terlalu banyak
meringkas
langkah penyelesaian, sehingga sering kali kita bingung kenapa hasilnya
tiba-tiba jadi begitu. Mungkin dipotong demi efisiensi halaman.
"Persamaan
ini lho, sebenarnya di tengah-tengahnya ada perhitungan ini yang
disisipkan—"
Sambil
menjelaskan, aku menuliskan langkah perhitungannya di buku catatan Uta.
Bagaimana
ya cara agar dia lebih mudah paham?
Sama
seperti saat menjelaskan pada Hoshimiya, aku mencoba memutar otak menggunakan
metode yang dulu membuatku paham, lalu akhirnya selesai memberikan penjelasan.
Nah, kira-kira apa Uta sudah benar-benar paham?
Saat
aku menoleh untuk melihat wajahnya, pandangan kami bertemu dalam jarak yang
sangat dekat, seolah ujung hidung kami hampir bersentuhan.
Aku
terpesona oleh mata besarnya, dan pikiranku mendadak berhenti. Aku terpaku
melihat wajahnya yang tertata cantik memenuhi seluruh pandanganku.
"......Eh?"
"Ah......
i-itu, maaf ya!"
Sudah
berapa detik ya kami saling bertatapan?
Uta
dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke buku catatan. Wajah samping
dan telinganya memerah padam.
Apa
dia...... malu? Jika dugaanku tidak salah.
Jangan-jangan
Uta menyadariku sebagai lawan jenis......?
Tidak,
tidak, tenanglah. Siapa pun bakal malu kalau tidak sengaja bertatapan dengan
lawan jenis dalam jarak sedekat itu. Hanya saja, aku tidak menyangka Uta yang
biasanya memang punya jarak pribadi yang dekat dengan orang lain bisa sampai
memerah seperti itu hanya karena hal ini. Karena itulah, aku jadi ikut goyah
karena perbedaan sikapnya. Cuma itu saja kok.
Jantungku
mulai berdegup kencang, seolah baru tersadar dari keterkejutan. Rasanya
canggung. Mendadak jadi sulit untuk mengajaknya bicara lagi, tapi kalau diam
saja malah makin canggung. Jadi, aku mencoba memaksakan kata-kata keluar dari
mulutku.
"A—......
itu, apa kamu sudah paham?"
"Etto!
I-iya! Makasih ya!"
Rasanya
suara Uta agak melengking.
"—Kalian
berdua ya, kalau mau bermesraan lakukan saja berdua sana."
Sindiran
Tatsuya yang terdengar muak itu jelas ditujukan kepada kami yang bersikap aneh.
Terlepas dari apa faktanya, jika aku berada di posisi Tatsuya, aku pun pasti
akan bicara begitu.
"Cuma
diajari belajar kok? Ya kan?"
"A-ah......
iya, benar."
"Yah,
terserah kalian saja lah."
Tatsuya
menghela napas. Dengan sedikit kesal, ia kembali fokus belajar.
Yah,
kalau lagi fokus belajar terus ada orang di dekat kita yang kelihatannya sedang
bermesraan, wajar saja kalau kesal...... Ini salahku.
Aku
melirik sedikit ke arah Hoshimiya, dia tampak fokus belajar seperti biasa. Sepertinya
dia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang terjadi pada kami.
Tentu
saja begitu ya. Iya...... Aku sempat berpikir sedikit, cuma sedikit saja lho,
apa mungkin Hoshimiya bakal cemburu melihatku dan Uta, tapi ternyata aku cuma
terlalu kepedean.
"......Kalau
begitu, mau lanjut lagi?"
"Iya!"
Setelah
itu aku mencoba mengalihkan fokus dan mengajari Uta dengan serius. Aku punya
pengalaman dan cukup percaya diri dalam mengajar orang karena dulu pernah kerja
sambilan sebagai guru privat.
Ternyata
kecerdasan alaminya tidak buruk, bagaimanapun juga dia bisa lolos masuk Ryoumei.
Aku mengajari Uta yang menyerap ilmu seperti spons dengan perasaan senang.
Begitu Uta akhirnya mulai bisa memahami lingkup Bab 1 di buku paket, Reita
bergumam sambil melihat jam.
"Wah,
sudah jam segini ya."
Benar
saja, tanpa sadar waktu sudah hampir menunjukkan pukul delapan. Di luar sudah
gelap gulita.
"Iya
ya. Hikari juga ada jam malam, jadi sebaiknya kita segera pulang."
"Ah—
kalian kalau mau lanjut di sini juga nggak apa-apa kok? Aku saja yang pulang
duluan."
"Aku
juga sudah capek, jadi aku bakal berhenti dan pulang sekarang. Yang lain
gimana?"
"Mumpung
barengan, ayo kita pulang bareng saja?" usulku.
Yah,
sebenarnya aku cuma ingin pulang bareng Hoshimiya saja sih.
"Aku
sudah nggak sanggup...... aku nggak bakal mau belajar lagi seumur hidup......"
Tatsuya
bangkit berdiri sambil berteriak "Ughaaa—!". Cara yang heboh buat
melepas stres.
"Kalau
aku, gara-gara Natsu aku jadi paham, jadi rasanya mulai seru sih...... Tapi
kalau Natsu pulang, aku juga pulang deh. Soalnya kalau belajar sendiri aku
nggak ngerti!"
"A-ah......
kalau begitu, syukurlah."
Aku
mengangguk, merasa senang yang sederhana mendengar kata-kata Uta. Lalu, saat
semuanya mulai bersiap-siap untuk pulang, aku baru tersadar.
——Hmm?
Eh? Barusan itu jangan-jangan dia secara tersirat mengajakku......?
Kalimat
"kalau Natsu pulang, aku juga pulang" berarti kalau aku tidak pulang,
maka Uta pun tidak akan pulang, dan sebenarnya cara bicaranya tadi terdengar
seperti dia masih belum ingin pulang. Karena semuanya pulang, jika aku bilang
tidak akan pulang, maka aku akan berakhir belajar berdua saja dengan Uta.
Apa
dia mengharapkan hal itu——ah, sepertinya aku saja yang berpikir terlalu jauh.
Sepertinya dari tadi aku memang terlalu kepedean.
"Yosh!
Berangkat menuju rumah!"
Uta
mendorong punggung Hoshimiya dengan semangat saat keluar kelas, tidak
menunjukkan gelagat seperti pemikiranku tadi. Ternyata memang cuma perasaanku
saja. Lagipula aku tidak merasa Uta adalah tipe orang yang menuntut pembacaan
situasi yang mendalam seperti itu.
"Wah,
sudah gelap banget ya. Rasanya segar."
Ucap
Hoshimiya yang keluar lebih dulu dari pintu depan sekolah.
"Masa?"
"Yah,
karena kami kan setiap hari melihat sekolah di malam hari sepulang latihan klub."
"Ah—
benar juga ya. Anak klub sastra nggak pernah sampai semalam ini di sekolah,
makanya rasanya beda."
Hoshimiya
terlihat agak bersemangat. Uta yang biasanya ikut heboh di saat seperti ini,
malah terlihat asyik mengobrol dengan Nanase. Mungkin karena Uta sudah terbiasa
melihat sekolah malam hari. Karena Hoshimiya terlihat sedikit kesepian, aku pun
mencoba setuju dengannya.
"Paham
kok. Sekolah malam hari itu rasanya seru ya."
"Kan!
Bener kan! Hore, aku punya teman yang sepemikiran!"
Bagiku
sih rasanya lebih ke arah nostalgia daripada segar.
Meskipun
begitu, perasaan "seru" itu memang nyata. Itu pasti karena semuanya
sedang bersama-sama.
"Mumpung
suasananya pas, aku posting di Minsta ah."
Hoshimiya
mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dan mencoba memotret menggunakan kamera
depan.
"—Eh,
kok nggak kelihatan sama sekali!?"
"Ya
iyalah. Segelap ini kalau nggak pakai flash mana bisa kelihatan."
Gimana
kalau kamu menawarkan diri untuk membantu mengambil foto atau menyarankan
tempat yang pencahayaannya lebih baik agar foto mereka terlihat bagus?
Hoshimiya
menatapku dengan tatapan sebal yang imut karena aku bicara terlalu logis, lalu
dia mengunggah foto itu apa adanya ke Story.
『Sekolah malam bareng
semuanya! Segar banget ya~! Tapi nggak kelihatan apa-apa hahaha』
Aku
membuka Minsta di ponselku dan tertawa kecut. Ternyata hal semacam ini pun
boleh diposting ya.
Yah,
Minsta memang bukan tempat untuk mencari makna yang mendalam, jadi apa pun
tidak masalah. Malah terasa agak lucu.
"Hei,
bukannya tadi kamu bilang ada jam malam?"
"Ah,
benar! Bukan waktunya buat begini! Ayo cepat pulang!"
Begitu
aku mengingatkannya, Hoshimiya langsung berjalan terburu-buru seolah baru
tersadar.
Entah
kenapa, Hoshimiya ini orangnya agak pelupa di banyak hal ya. Tapi justru di
situ letak keimutannya.
Sambil
merasa hangat melihat tingkahnya, kami semua pun berjalan bersama menuju arah
pulang.
*
Setelah
itu, setiap hari sepulang sekolah, kami berkumpul di ruang kelas kosong untuk
belajar bersama. Itu adalah minggu tenang sebelum ujian. Dari Senin sampai
Jumat, kami meninjau pelajaran dengan sangat intens.
Karena
aku tidak punya pekerjaan lain setelah menyelesaikan tugas, aku hampir selalu
mendampingi Uta. Setidaknya sekarang aku merasa lega karena dia sudah berada di
level yang aman dari nilai merah untuk semua mata pelajaran.
Melihat
kondisi Reita, sepertinya Tatsuya masih berjuang mati-matian. Katanya dia
paling payah di matematika.
Di
akhir pekan, karena tidak tega melihat beban Reita, aku dan Nanase ikut
membantu mengajari Tatsuya. Memang benar sih, kalau dia nekat ujian dengan
pemahaman seperti itu, dia pasti bakal kena batunya. Dan sampailah di Jumat
malam. Di jalan pulang dari sekolah yang sudah gelap gulita.
"Tolong,
semuanya! Temani aku belajar di hari libur juga!"
Tatsuya
merapatkan kedua tangannya dan membungkuk memohon kepada kami. Melihat
pemandangan langka dari Tatsuya yang biasanya selalu sok kuat ini, kami semua
berseru "Ooh—" karena terkejut.
"Tumben
sekali kamu sampai seputus asa ini?"
"Gimana
ya... karena aku mulai sedikit paham, aku malah jadi makin merasa terancam,
gitu?"
"Ah,
aku mengerti. Di saat kita benar-benar tidak paham, kita bahkan tidak tahu
seberapa besar ketidaktahuan kita."
Aku
malah memberikan penjelasan yang agak belit-belit.
"Awalnya
aku nggak peduli soal nilai merah, tapi kalau sampai nggak boleh ikut latihan
klub, itu ceritanya beda lagi... Mulai besok aku janji bakal dengerin pelajaran
dengan benar, jadi tolong bantu aku kali ini saja! Nanti aku traktir minuman!"
"Aku
juga kayaknya masih gawat, jadi tolong semuanya! Tatsu yang bakal traktir
minumannya!"
"Oi,
kok malah aku doang yang traktir. Kamu juga traktir dong, hei!"
"Ah—
itu, soalnya belakangan ini aku terlalu banyak main jadi lagi bokek
nih..."
"Makanya
belajar, oi!"
Melihat
tingkah Tatsuya dan Uta, kami hanya bisa saling berpandangan sambil tertawa
kecut.
"Baiklah.
Kalau begitu mumpung masih ada dua hari sebelum ujian, yang bisa kumpul mari
kita kumpul di suatu tempat."
"Nggak
usah traktir minuman segala, pakai saja uangnya buat beli minuman sendiri biar
asupan gulamu terjaga."
Karena
teman sedang kesulitan, tentu saja aku akan membantu. Lagipula ini adalah
pengetahuan yang kubawa dari kehidupan sebelumnya. Kurasa inilah cara yang
benar untuk memanfaatkannya.
"Natsu
memang yang terbaik! Kamu baik banget ya!"
"Nggak
juga kok. Tapi, ya karena kita teman."
Aku
tidak butuh imbalan. Menurutku, teman adalah mereka yang saling membantu saat
sedang kesulitan. Aku tidak tahu pasti karena dulu tidak punya teman, tapi aku
ingin menjalin hubungan yang seperti itu dengan semuanya.
"......Natsu,
kadang kamu bisa ngomong hal yang memalukan tanpa beban ya?"
"Eh,
benarkah?"
Aku
bingung mendengar ucapan Uta. Padahal menurutku, justru kalianlah yang sering
bersikap begitu di mataku. Tapi, mungkin begitulah caraku terlihat di mata
mereka.
"M-maaf.
Apa itu menjijikkan?"
Saat
aku meminta maaf dengan lesu, Uta menggelengkan kepalanya dan mendadak
mendekatkan wajahnya ke arahku.
"......Menurutku,
sisi Natsu yang seperti itu justru keren, kok."
Dia
membisikkannya tepat di telingaku dengan suara yang manis. Aku terguncang, dan
pikiranku sempat berhenti sesaat.
Di
saat itu, Uta sudah kembali ke tempat yang lain dan mengobrol sambil memeluk
Hoshimiya dari belakang. Dia tampak seperti sudah lupa kalau baru saja
membisikkan kalimat tadi.
Tolong
jangan permainkan jantungku dengan candaan begitu dong...... Apa dia aslinya
tipe little devil?
Saat
sedang berpikir begitu, Tatsuya yang menyusul dari belakang tiba-tiba merangkul
bahuku.
"Akrab
banget ya kalian belakangan ini."
"......Cuma
karena aku mengajarinya, makanya kelihatan begitu kan?"
Entahlah,
ya. Karena aku pun tidak paham, aku memberikan jawaban yang aman kepada
Tatsuya.
"—Kamu
suka sama Uta?"
"Eeeh!?
Enggak, enggak, sama sekali bukan ke arah sana tahu!?"
Karena
Tatsuya bertanya sambil merendahkan suaranya, aku membalasnya dengan nada
terkejut yang juga tertahan.
"Apaan
sih, nggak seru banget. Kalau gitu apa Hoshimiya? Atau Nanase?"
Aku
bingung harus menjawab apa. Tapi aku dan Tatsuya adalah teman. Sejak dulu aku
sangat mendambakan bisa membicarakan soal asmara dengan teman laki-laki. Karena
itu, aku merasa harus bicara jujur lebih dulu, jadi aku pun berbisik pelan.
“......Hoshimiya,
kok.”
“Hooo.
Begitu ya, begitu ya.”
Tatsuya
menyeringai sambil mengusap dagunya.
“Kalau
Tatsuya sendiri gimana?”
“......Aku?
Yah, menurutmu gimana?”
Malah
ditanya balik, aku pun mencoba mengingat kembali tingkah laku Tatsuya selama
ini. Uta, yang setiap hari kerjaannya cuma berantem dengannya, sepertinya tidak
mungkin. Terhadap Hoshimiya dan Nanase pun, interaksinya terasa biasa-biasa
saja.
“Hmm......
entahlah.”
“Kan?
Ya sudah, memang begitu adanya.”
“Eeh,
oi, curang banget cuma aku yang kasih tahu!”
“Habisnya
mau gimana lagi, kenyataannya memang begitu.”
Saat
kami sedang asyik berdebat, tiba-tiba Uta muncul begitu saja.
“Lagi
ngomongin apa sih?”
“Ah—rahasia
buat Uta.”
Aku
belum mau perasaan sukaku pada Hoshimiya tersebar ke semuanya. Aku takut kalau
sampai Hoshimiya tahu, dia malah bakal menjauhiku. Aku tidak akan sanggup. Masa
remaja yang seperti itu terlalu berat buatku.
“Eeeh!
Kok rahasia-rahasiaan sih!?”
“Maaf
ya Uta, ini masih terlalu dini buatmu. Ini obrolan orang dewasa,”
timpal Tatsuya yang sepertinya paham dan membantuku berkelit.
“Obrolan
orang dewasa...... jangan-jangan, obrolan mesum ya?”
Uta
bertanya sambil membuang muka, terlihat sedikit malu. Aku terperanjat dan baru
saja hendak membantah dengan panik, tapi Tatsuya mendahuluiku.
“Iya,
benar. Masih terlalu pagi buat anak SD sepertimu, kan?”
“Si-siapa
yang anak SD! Memang sih tinggi badanku mungkin kecil, tapi...”
“Oi,
oi, yang kecil cuma tinggi badan doang?”
Aku
melihat Tatsuya yang mulai bicara terlalu jauh itu dengan perasaan waswas.
Uta
yang awalnya melongo, perlahan mulai mengerti maksudnya lalu memeluk tubuhnya
sendiri dengan kedua tangan.
“Dasar
mesum! Yang boleh ngomong gitu cuma aku sendiri tahu!”
“Maaf
ya, aku dan Natsuki lagi asyik ngobrolin itu nih. Sana, sana, pergi hus!”
Tatsuya
membuat gerakan seperti sedang mengusir binatang. Uta melotot ke arah Tatsuya
dan aku bergantian dengan wajah memerah, lalu segera bergabung kembali dengan
Hoshimiya dan yang lainnya di depan.......Kok rasanya aku jadi terseret-seret
masalah ini ya?
“Yah,
kenyataannya kan urutannya memang Hoshimiya, Nanase, tembok yang tak
terlampaui, baru Uta, kan?”
“Urutannya
bukan itu, tahu......”
“Bodoh
kamu, wajar dong laki-laki ngomongin ginian. Ya kan, Reita?”
“Menurutku
sih, Nanase-san secara tak terduga 'punya' lho. Sekilas dia memang terlihat
ramping dan biasa saja, tapi sepertinya dia tipe yang terlihat kurus saat pakai
baju. Yah, kalau Hoshimiya-san sih memang sudah level mutlak,”
ujar Reita dengan wajah serius yang entah sejak kapan sudah merapat ke arah
kami.
Karena
lebar jalan yang terbatas, kami memang tidak bisa berjalan berjejeran semuanya,
jadi obrolan di jalan pulang sering terbagi menjadi kelompok dua atau tiga
orang...... tapi di luar itu, apa-apaan sih yang diomongkan Reita dengan muka
seserius itu.
“......Hm?
Natsuki nggak tertarik sama yang begituan?”
“Nggak
juga sih, ya bukannya nggak tertarik sama sekali, tapi......”
“Oi
Natsuki, boleh nggak aku kasih tahu Reita saja?”
Sejenak
aku bingung apa maksudnya, tapi pasti soal orang yang kusukai. Setelah berpikir
sejenak, aku menjawab:
“Yah,
asal jangan kasih tahu anak-anak perempuan...... awas ya kalau sampai bocor?”
“Tenang
saja. Jangan khawatir.”
“Aku
sudah bisa menebak arah pembicaraannya, dan aku ini tipe yang bisa jaga rahasia
kok. Kalau Tatsuya sih entahlah.”
“Jangan
'kalau Tatsuya entahlah' dong, kan jadi repot......”
“—Oi Reita, katanya anak ini lagi ngincar dadanya Hoshimiya yang gede itu lho.”
“Serius?
Begitu ya. Di sana memang tersimpan banyak impian, jadi aku sangat paham
perasaanmu.”
“Dengar
dulu, aku suka Hoshimiya bukan karena dia punya dada besar......”
Saat
aku sedang sibuk membela diri, tiba-tiba aku menyadari ada tatapan tajam yang
tertuju ke arah kami. Tiga gadis yang berjalan di depan menoleh ke arah kami
dengan tatapan dingin.
Suara
kami kecil, jadi seharusnya isi obrolan tadi tidak terdengar, tapi mungkin Uta
sudah menceritakan soal pembicaraan sebelumnya kepada mereka. Hoshimiya
menggembungkan pipinya kesal, lalu kembali memunggungi kami.
“Aku
rasa nggak baik lho ngomongin yang kayak gitu—”
“Kenyataannya
Hikari memang besar, jadi wajar saja kalau bikin penasaran. Aku pun penasaran
kok,” timpal Nanase santai.
“Yuino-chan!?
Jangan asal ngomong yang nggak-nggak dong!?”
“A-aku
juga...... aku juga kan sudah rajin minum susu, kenapaaa—!?”
Mendengar
teriakan Uta itu, kami bertiga saling berpandangan sambil tertawa kecut. Meski
rasanya agak tidak terima karena diseret-seret oleh Tatsuya, tapi karena ini
terasa sangat "masa remaja banget", aku pun terpaksa memaafkannya.
Aku
merasa harus memperbaiki toleransiku terhadap obrolan kotor. Mungkin karena
tidak pernah punya pengalaman berbagi obrolan seperti itu dengan teman, aku
jadi merasa sangat malu.
*
Keesokan
harinya, hari Sabtu. Aku mengunjungi tempat kerja sambilanku, Kafe Mares.
Lonceng
pintu berbunyi saat aku membukanya.
“Oh,
datang juga. Semuanya sudah kumpul lho—”
Kirishima-san
berlari kecil menghampiriku sambil menunjuk ke kursi bagian dalam. Begitu aku
menoleh ke sana, Uta yang menyadari keberadaanku melambaikan tangannya dengan
semangat.
Saat
mendiskusikan di mana kami akan belajar bersama di hari libur, muncul berbagai
kandidat seperti rumah salah satu dari kami, restoran keluarga, atau
perpustakaan. Namun, akhirnya kami memutuskan kalau Kafe Mares adalah tempat
terbaik.
Kalau
di rumah, sepertinya tidak ada cukup ruang untuk enam orang belajar. Di
restoran keluarga, sepertinya sulit mencari meja kosong saat hari libur, dan
kalau di perpustakaan kami bakal susah mengobrol. Jadi, Kafe Mares yang
merupakan tempat kerja aku dan Nanase—di mana kami bisa minta tolong untuk
dipesankan meja—terasa paling pas.
Aku
sudah mencoba bicara pada Manajer, dan beliau menyetujuinya dengan senang hati.
Katanya, saat masa ujian memang biasanya pelanggan pelajar jadi lebih banyak. “Asalkan
kalian memesan minuman, tidak masalah kok,”
ujarnya sambil tertawa.
Saat
aku berjalan menuju meja yang lain...... hmm? Kok sepertinya jumlah orangnya
bertambah.
“Yo
Natsuki, lambat banget sih.”
Tatsuya
menyapaku sambil memutar-mutar pulpennya.
“Maaf,
tadi keretanya sempat berhenti sebentar...... tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu
ada di sini?”
“Kenapa
hayo? Emangnya aku nggak boleh ada di sini?”
Miori,
teman lama sekaligus "saingan" menyebalkanku, menyeringai jahat
sambil terkekeh pelan.
"Kebetulan
saja kok. Kami juga datang ke sini buat belajar, ya kan?"
Miori
duduk di meja sebelah Tatsuya dan yang lainnya. Di hadapannya, duduk seorang
gadis berambut pirang dengan banyak tindikan yang terlihat sangat bergaya gyaru.
Gadis itu mengangguk pelan dengan wajah mengantuk.
"Iyap...
Tapi Miori, temanmu banyak juga ya?"
"Kalau
yang satu ini cuma teman lama dari SMP yang hubungannya nggak bisa diputus
sih—"
Sambil
mendengarkan percakapan mereka berdua, aku duduk di meja yang sama dengan
Tatsuya.
Kursi
yang kosong ada di ujung kanan dekat jendela. Di sebelah Uta, dan posisinya
tepat bersebelahan dengan Miori yang duduk di meja sebelah kanan bagian
jendela.......Apa jangan-jangan mereka sengaja mengosongkan tempat ini karena
ingin membantuku?
"Natsu
itu teman masa kecilnya Miorin, kan? Makanya tempat ini kami kosongkan khusus
buatmu!"
Uta
melipat tangannya dengan bangga.
Terserahlah,
tapi ternyata dia juga memberi nama panggilan aneh buat Miori ya.
"Benar-benar
bantuan yang tidak perlu..."
"Kok
gitu!?"
Sejujurnya,
aku tidak ingin berurusan dengan Miori saat sedang bersama teman-temanku yang
sekarang. Walaupun kami sedang dalam hubungan kerja sama, aku merasa malu kalau
aku yang sekarang dibandingkan dengan aku yang dulu.
"Hmm—?"
Tuh
kan, dia memperhatikanku dengan tatapan penuh minat. Tolong ampuni aku. Aku
memutuskan untuk mengabaikan tatapannya dan membuka buku catatan di meja.
"Uta.
Poin-poin penting untuk ujian kali ini dan bagian-bagian yang sekiranya bakal
membuatmu bingung sudah kurangkum di sini."
"Eh!?
Apa ini, hebat banget!"
Uta
membelalakkan matanya sambil membolak-balik halaman catatanku.
"Keren,
kan? Kubuat tadi malam lho. Gara-gara ini aku jadi kurang tidur."
Aku
menguap lebar. Alasan utamaku terlambat datang ke perkumpulan ini sebenarnya
memang karena kurang tidur.
Karena
selama seminggu ini aku sudah paham bagian mana yang tidak dikuasai Uta, aku
merangkumnya agar lebih mudah dimengerti. Saking asyiknya mengerjakan,
tahu-tahu waktu sudah lewat jam dua pagi.
Hoshimiya
dan Reita juga terlihat tertarik.
"Boleh
aku lihat sedikit?"
"Boleh
banget. Lagipula ini memang niatnya mau kukasihkan ke Uta."
"Eh,
beneran!?"
"Iya.
Soalnya ini rangkuman khusus buat Uta kok."
"Ma-makasih
ya..."
Suaranya
terdengar pelan, tidak seperti biasanya.
Sambil
menunggu, Hoshimiya dan yang lainnya membolak-balik catatanku.
"Wah...
ini hebat ya. Gampang banget dimengerti."
"Iya,
serius. Kalau tidak benar-benar paham materi, tidak mungkin bisa menulis
rangkuman seperti ini."
Karena
mereka berdua terus-terusan memujiku, aku pun menggaruk kepala. Dipuji itu
memang senang, tapi aku bingung harus bereaksi bagaimana. Lagipula, selama
hidupku pengalaman dipuji itu sangat minim... Hehehe...
"Buatku
nggak ada yang khusus nih?"
Hoshimiya
bertanya, membuatku mengusir pikiran gelap tadi untuk menjawabnya.
"Mau
kubuatkan juga?"
Meski
bilang begitu, sepertinya dia tidak benar-benar butuh.
Hoshimiya
mahir di Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris, tapi payah di Matematika dan Fisika.
Benar-benar tipe anak sastra sejati, tapi setidaknya dasarnya untuk IPA pun dia
sudah bisa.
"Ahaha,
bercanda kok. Nanti malah merepotkanmu. Kalau tugas Natsuki-kun makin nambah,
nanti kamu malah nggak sempat belajar buat dirimu sendiri, kan?"
"Yah,
benar sih. Ngurusin Uta saja sudah bikin kewalahan."
Saat
aku mengangkat bahu, Uta terlihat lesu dan berkata, "Maaf ya...
makasih."
Padahal
niatnya tadi bercanda, tapi suasananya jadi agak aneh ya.
Sepertinya
Uta cukup kepikiran karena merasa sudah menyita waktuku. Padahal dulu saat jadi
guru privat aku sering membuat rangkuman begini, jadi tidak terlalu merepotkan.
"Karena
Natsu sudah berjuang keras begini buatku, aku harus kasih hasil yang
bagus!"
Uta
mengepalkan kedua tangannya di depan dada dengan penuh semangat, lalu mulai
belajar dengan serius.
"......Memangnya
waktu SMP dulu otakmu seencer ini ya?"
"Berisik.
Aku kan belajar mati-matian buat ujian masuk."
"Heeh—
sampai di level bisa ngajarin orang lain ya... Begitu ya, begitu."
"......Ada
masalah?"
"Enggak
sih. Cuma merasa menarik saja."
Saat
aku dan Miori saling berbisik agar tidak mengganggu yang lain belajar,
"Kalian
benar-benar akrab ya?"
Sepertinya
Reita melihat kami dan tertawa kecut. Miori dengan panik mendorong wajahku
menjauh. Jangan menyingkirkan wajah orang pakai tangan dong.
"Enggak
kok— Malah aku maunya akrab sama Reita-kun lho? Ah, benar juga. Ada bagian yang
aku nggak ngerti nih, kalau boleh tolong ajari ya—?"
Miori
menggeser kursinya mendekati Reita yang duduk di depanku. Inisiatifnya luar
biasa. Rasanya dia benar-benar terang-terangan menunjukkan ingin akrab dengan
Reita.
Miori
menempelkan bahunya ke bahu Reita sambil menanyakan soal yang tidak ia
mengerti.
"......Bukannya
kamu itu pintar ya?"
Seingatku
saat SMP dulu, dia tidak pernah keluar dari peringkat sepuluh besar satu
angkatan.
"Eh?
Yah, kalau dibanding kamu sih jelas aku merasa lebih pintar."
"Apa
soal itu beneran kamu nggak tahu?"
Sekilas
kulihat, itu soal matematika yang sangat biasa. Kelihatannya memang rumit, tapi
sebenarnya tinggal masukkan ke rumus saja sudah selesai, tidak ada bagian yang
sulit.
"Eeh,
tentu saja aku nggak tahu makanya aku tanya (Jangan banyak omong ya, atau
kubunuh kamu?)"
Tekanannya
luar biasa, jadi aku memutuskan untuk tidak mengungkitnya lagi. Untungnya (?),
Reita sedang sibuk mengerjakan soal yang disodorkan Miori dan tidak terlalu
memedulikan kami.
Karena
Miori hanya bicara dengan kami saja, aku sempat melirik gadis berambut pirang
yang datang bersamanya. Kasihan juga dia ditinggal sendirian, tapi ternyata di
balik penampilannya, dia belajar dengan sangat serius. Justru dia terlihat
sulit diajak bicara, jadi aku sedikit paham kenapa Miori malah mengganggu kami.
......Yah,
walau alasan utamanya pasti karena ingin mendekati Reita sih.
"Makasih
ya, Reita-kun. Berkat kamu, sepertinya aku jadi paham!"
Miori
mengucapkan terima kasih dengan senyum manis lalu kembali ke posisi awalnya. Melihat
Miori yang tampak sangat senang, aku berbisik pelan padanya.
"......Ngomong-ngomong,
ini beneran kebetulan, kan?"
"Kurang
ajar. Ini beneran kebetulan lho. Aku mana tahu jadwal kalian."
"......Yah,
benar juga sih."
"Daripada
itu, kamu bakal bantu aku, kan? Kasih aku kesempatan dong buat makin akrab sama
Reita-kun."
“Bukankah
daripada aku yang ikut campur, lebih baik kamu bicara sendiri saja?”
“Kalau
terlalu agresif, dia bisa ilfeel tahu.”
“Tapi
menurutku kamu sudah kelihatan sangat agresif lho.”
“Makanya,
aku minta kamu buat bikin alur supaya aku bisa masuk. Yang alami, ya!”
“Permintaan
yang mustahil...”
Ini
bukan level permintaan yang bisa dipenuhi oleh laki-laki yang baru saja
melakukan debut SMA.
“Hei
Natsuki, boleh minta waktunya sebentar?”
Pucuk
dicinta ulam pun tiba, Reita memanggilku dengan wajah serius.
“Ada
apa?”
“Yah,
begitulah. Bagaimana ya mengatakannya...”
Jarang-jarang
Reita terlihat ragu-ragu seperti ini, rasanya cukup segar.
“...Sepertinya,
aku tidak berbakat mengajar orang lain.”
“Aaah—
yah, aku mengerti sih...”
“Melihat
responsmu itu, berarti Natsuki juga berpikir begitu ya...”
Reita
menghela napas. Sepertinya dia benar-benar kepikiran soal ini.
Yah,
saat mendengar penjelasannya kepada Tatsuya tadi, aku memang sempat merasa
sedikit aneh. Sejujurnya, penjelasannya tidak mudah dimengerti, atau lebih
tepatnya, kurang cocok untuk pemula. Waktu mengajari Miori tadi juga rasanya
kurang kena sasaran. Padahal Reita sendiri bisa menyelesaikan soalnya dengan
sangat cepat. Yah, karena Miori aslinya sudah paham, jadi tidak masalah sih.
Menurutku, Reita itu tipe jenius. Dia bisa menyelesaikan masalah hanya dengan mengandalkan insting. Kecerdasan alaminya luar biasa. Tentu saja itu hal yang hebat, tapi...
“Aku
tidak begitu paham bagian mana yang Tatsuya tidak pahami... Aku tidak mengerti
apa yang dia tidak mengerti... Semuanya terlihat mudah bagiku... Aku tahu kalau
aku ini jenius, tapi tidak kusangka kejeniusanku malah merepotkan begini...
Tingkat kecerdasan antara aku dan Tatsuya terlalu jauh berbeda.”
“Nggak
perlu sampai ngomong gitu juga kali!?”
Tatsuya
tercengang mendengar kata-kata pedas Reita yang sedang merenung serius.
“Sial!
Kenapa aku harus sepintar ini!”
“Ada
nggak sih kalimat yang lebih bikin emosi daripada itu di dunia ini?”
“Ahaha...
Reita-kun memang punya sisi seperti itu ya. Tapi di situ lucunya sih.”
Hoshimiya
bergumam sambil tertawa kecut, mencoba mencairkan suasana.
“Laki-laki
tampan yang percaya diri, boleh juga ya... Pengen kujadikan pacar... Satu unit
untuk satu rumah...”
Aku
pura-pura tidak mendengar gumaman Miori. Apaan coba maksudnya satu unit untuk
satu rumah.
“Makanya,
maaf ya Natsuki, kalau Uta kelihatannya sudah aman, tolong bantu Tatsuya juga.”
Alasannya tidak meminta bantuan Nanase mungkin karena Nanase sedang fokus belajar sendiri. Faktanya, sejak tadi dia terus menggerakkan pulpennya tanpa ikut campur percakapan sama sekali. Konsentrasi yang hebat.
“Oh,
tentu saja boleh. Lagipula aku lagi luang kok.”
Sebenarnya
aku sudah mengulang semua pelajaran di rumah, jadi tidak ada masalah. Tapi
tetap saja, tidak menyangka dia payah dalam mengajar...
Ternyata
Reita yang biasanya terlihat sempurna dan cekatan punya kekurangan yang tak
terduga ya.
Di
situ, aku mendapat ide bagus. Mari bantu Miori sedikit.
“—Kalau
begitu Reita, ayo tukar tempat duduk.”
“Hm?
Oh, benar juga. Begitu akan lebih mudah buat mengajar.”
Kalau
tukar posisi dengan Reita yang duduk di depanku, aku akan lebih mudah mengajari
Tatsuya yang ada di samping. Dengan begitu, saat Reita pindah ke kursiku, Miori
yang duduk di sebelahnya akan lebih mudah mengajaknya bicara.
Aku
baru saja hendak berdiri sambil membalas tatapan Miori yang seolah berkata
"Kerja bagus!", tapi...
“...Ah—
nggak usah, Natsuki. Aku sudah cukup banyak diajari Reita kok, sisanya biar aku
usahakan sendiri. Memang sih penjelasannya nggak begitu mudah dimengerti, tapi
menyalahkan orang yang sudah mengajari itu nggak benar juga.”
Tatsuya
hanya mengatakan itu lalu kembali belajar.
...Apa
jangan-jangan, dia merasa tidak enak pada Reita?
Bagaimanapun,
tekadnya terlihat bulat, jadi aku duduk kembali.
Miori
terlihat tidak puas, tapi mau bagaimana lagi kalau alurnya jadi begini. Aku dan
Reita saling berpandangan sambil tertawa kecut, lalu kembali belajar.
“Aku
ke toilet sebentar ya!”
Uta
pamit dan meninggalkan tempat duduknya. Di saat itulah, Miori mendekatkan
wajahnya ke telingaku dan berbisik, "Hei, hei." Aku menoleh dan
melihat Miori sedang menatap punggung Uta yang berjalan menuju toilet.
“Kamu
tahu nggak? Akhir-akhir ini Uta cuma membicarakan soal kamu terus lho.”
Miori
berbisik dengan volume suara yang hanya bisa didengar olehku.
“...Oh
iya, kalian kan sama-sama di klub basket putri ya.”
“Iya
benar, sepulang klub kami selalu pulang bareng. Akhir-akhir ini dia benar-benar
mulai terlihat seperti gadis yang sedang jatuh cinta. Aku nggak tahu sihir apa
yang kamu pakai padanya.”
“Jangan
mengejekku ah.”
“Aku
nggak lagi mengejek lho—”
Memang
aku merasa kami jadi lebih akrab, tapi aku tidak merasa melakukan sesuatu yang
bisa membuatnya suka secara romantis, dan aku juga tidak merasa dia menunjukkan
gelagat seperti itu... yah, sebenarnya ada sih, tapi Uta memang tipe orang yang
jarak pribadinya dekat. Mungkin Miori hanya melebih-lebihkannya saja.
Kalimat
"mulai terlihat seperti" itu kan masih ambigu.
Sama
tidak bisa dipercayanya dengan kalimat "akan dipertimbangkan lebih
lanjut".
“Ini
tawaran dariku sebagai rekan kerja samamu, tapi kalau sekarang, mungkin aku
bisa menjodohkanmu dengan Uta lho? Bagaimana? Atau jangan-jangan, incaranmu
bukan Uta?”
Bisikan
manis Miori sempat membuatku bimbang.
Aku
menelan ludah.
——Sakura
Uta itu imut. Dia pasti masuk dalam jajaran lima besar gadis tercantik di
angkatan kami. Tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang terlihat kekanak-kanakan
itu—meski dia sendiri mempermasalah -kannya—menurutku sangat manis. Ditambah
lagi kepribadiannya yang selalu ceria dan penuh semangat, sosoknya itu sering
memberiku semangat.
Seandainya
aku bisa pacaran dengan Uta, betapa bahagianya aku.
“Natsu?”
Tiba-tiba
orang yang baru saja ada di dalam lamunanku memanggil, membuat tubuhku
tersentak kaget.
“O-oh,
Uta. Sudah kembali ya.”
“...Kamu
ngobrol sama Miorin terus ya? Kalian lagi ngomongin apa sih?”
Nada
suara Uta terdengar agak rendah, tidak seperti biasanya.
Harus
jawab apa ya. Tidak mungkin aku bilang kalau kami sedang membicarakannya... eh,
atau boleh saja kalau kubilang begitu?
“Etto,
kami lagi membicarakanmu kok, Uta.”
“A-aku?”
“Iya.
Aku penasaran bagaimana sosok Uta saat sedang di klub basket.”
...Entah
kenapa di sudut kanan pandanganku Miori mengacungkan jempolnya, tapi aku
memutuskan untuk mengabaikannya.
“Hmm.
Begitu ya. Kalau itu sih nggak apa-apa.”
Uta
yang tadinya mengerucutkan bibir, langsung menundukkan kepalanya dan membuang
muka setelah mendengar itu.
Uta
memang ekspresif sehingga emosinya mudah dibaca, tapi kalau dia sudah membuang
muka begini, aku jadi tidak tahu apa-apa.
"Jadi,
bagian mana yang belum mengerti?"
"A-ah,
iya. Di sini, di catatan yang kamu kasih sudah ada penjelasannya sih,
tapi—"
Aku
pun mulai menjelaskan soal penerapan fisika kepada Uta. Melihat dia bisa
mengerjakan soal sampai sejauh ini, berarti dia sudah memahami dasarnya dengan
baik.
Ini
kemajuan pesat dibanding seminggu lalu. Jika di pelajaran fisika yang paling
dia benci saja bisa begini, kurasa sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
*
Setelah
itu kami makan siang, lanjut belajar lagi, dan tak terasa hari sudah sore.
"Besok
gimana?"
"Ah,
maaf, besok aku ada jadwal kerja sambilan."
"Eh,
beneran? Padahal lusa sudah mulai ujian?"
Hoshimiya
sedikit memiringkan kepalanya, jadi aku menjelaskan situasinya. Karena aku
bilang tidak ada kendala dalam belajar, Manajer memintaku untuk masuk.
Lagipula, karena staf di sini kebanyakan pelajar, sepertinya mereka kekurangan
orang di musim ujian seperti ini.
"Kalau
ada Natsu, besok aku boleh datang ke sini lagi? Aku nggak bisa konsentrasi
kalau di rumah."
"Boleh
saja, tapi karena aku sedang kerja, aku nggak bisa mengajarimu ya?"
"Nggak
masalah! Berkat catatan ini, semuanya bakal beres!"
Uta
mengangkat tanda peace ke udara. Melihat tingkahnya, aku tertawa kecut
sambil memandangi yang lain.
"Yang
lain gimana?"
"—Aku
nggak usah. Mau belajar sendiri saja."
"Aku
juga kayaknya nggak dulu deh. Orang tuaku bakal cerewet kalau aku terlalu
sering belajar di luar."
"Iya
ya. Ini hari terakhir sebelum ujian, aku juga mau belajar di rumah saja."
"Kalau
gitu, aku juga sama. Sebenarnya uang jajan juga sudah mulai menipis sih."
Mereka
menjawab satu per satu.
Hanya
saja, aku sedikit terpikirkan soal nada suara Tatsuya yang terdengar kaku.
...Apa
dia sedang kesal karena belajarnya tidak berjalan mulus?
Yah,
apa pun itu, sepertinya lebih baik tidak diungkit.
Hari
itu pun kami berakhir dengan membubarkan diri. Karena Miori dan temannya juga
selesai di waktu yang sama, kami naik kereta pulang bersama-sama.
——Dan
itu berarti, secara otomatis...
"Yah,
akhirnya memang cuma berdua sama kamu ya. Soalnya rumah kita yang paling
jauh."
"Mu,
kamu nggak puas? Padahal lagi berduaan pulang sama gadis SMA secantik aku lho.
Lihat tuh, orang-orang yang penampilannya mirip 'kamu yang dulu' sedang
menatapmu dengan iri. Gimana? Rasanya menyenangkan?"
"Ucapanmu
itu makian yang parah buatku dan orang-orang di sekitar tahu..."
"Yah,
setelah kuperhatikan seharian ini, kemajuanmu lumayan juga, Natsuki."
"Terserahlah.
Daripada itu, belajarlah sana."
Entah
dia mendengarkan omonganku atau tidak, Miori terus bicara sesukanya.
"Aku
sudah dengar kalau kamu melakukan debut SMA sebagai sarana untuk... apa tadi
istilahnya, rencana meraih masa remaja berwarna pelangi? Rencana mengubah
abu-abu menjadi pelangi? Begitulah."
"...Rasanya
malu kalau didengar dari mulut orang lain, jadi hentikan."
Wajahku
terasa sedikit panas. Melihatku seperti itu, Miori tersenyum jahil.
"Oke,
kalau begitu mari kita namai 'Proyek Masa Remaja Pelangi'!"
Ucapnya
dengan semangat. Dia benar-benar tipe wanita yang paling bahagia saat sedang
menjahili orang. Sifatnya buruk sekali. Tapi, mau tidak mau aku harus mengakui
kalau nama itu sangat cocok dengan situasiku sekarang. Meski rasanya kesal
untuk mengakuinya.
"Nah,
pokoknya begini, Natsuki."
"Apa?
Kok tiba-tiba serius."
"Ini
bukan maksudku mau ikut campur sih, anggap saja saran."
Miori
mengernyitkan alisnya, lalu menodongkan jari telunjuknya tepat di depan
hidungku.
"—Di
mataku, sepertinya sedang terjadi masalah dalam rencanamu itu."
*
Setelah
itu Miori langsung pulang begitu saja setelah berkata, "Pikirkanlah
sendiri."
Sialan,
anak itu. Bisa-bisanya meninggalkan kalimat penuh teka-teki seperti itu... Kan
aku jadi kepikiran. Aku sempat berpikir mungkin dia cuma ingin membuatku
bingung, tapi dia bukan tipe orang yang suka bicara omong kosong tanpa makna. Kalau
begitu, berarti memang ada suatu masalah dalam rencanaku, tapi aku sama sekali
tidak punya petunjuk.
Sesampainya
di rumah, aku berbaring di tempat tidur sambil memikirkan arti kata-kata Miori.
Setelah
cukup lama menatap langit-langit dengan perasaan gusar, ponsel di dekat bantal
berbunyi pelan. Aku membalikkan badanku dan mengambil ponsel, ternyata ada
notifikasi RINE.
Begitu
menyadari pengirimnya adalah Hoshimiya, aku buru-buru membuka kunci ponsel
untuk melihat pesannya, lalu langsung menyesal... sepertinya aku terlalu cepat
memberi status Read. Rasanya jadi seperti aku memang sedang menunggu
pesannya.
Aku
jadi khawatir kalau dia merasa risih. Tidak mungkin sih dia risih cuma karena
hal sepele begini... aku tahu logikanya begitu, tapi kalau RINE-an dengan
perempuan, entah kenapa aku jadi memikirkan banyak hal.
『Lagi apa
sekarang?』
Itulah
pertanyaan dalam pesan Hoshimiya.
『Sudah sampai rumah, lagi
guling-guling di kasur.』
Aku
menjawab apa adanya, dan statusnya langsung berubah menjadi Read.
『Aku juga haha』
Awalnya
aku ingin mengetik 『Ada
perlu apa?』,
tapi aku mengurungkan niat itu. Walau itu yang ingin kutanyakan, rasanya
kalimat itu terdengar sangat dingin... Tapi memangnya ada perlu apa?
Kalau
dia mengirim pesan meski tidak ada keperluan penting, itu bukti kalau kami
sudah cukup akrab, jadi aku merasa senang. Saat sedang asyik berpikir begitu,
Hoshimiya mengirim pesan lagi.
『Bisa telepon
sebentar sekarang?』
............Aku
butuh waktu sekitar sepuluh detik untuk mencerna arti kalimat itu.
Telepon!?
Aku, sama Hoshimiya!? Kenapa tiba-tiba!? Bentar-bentar, bukannya hal seperti
itu sudah seperti... orang pacaran ya? (Logika macam apa ini?)
Saat
aku sedang kebingungan, pesan lanjutannya masuk.
『Nggak harus
sekarang banget juga nggak apa-apa kok!』
Gawat.
Gara-gara aku terpaku menatap layar sambil kebingungan, sepertinya dia mengira
aku enggan mengangkat teleponnya. Ini bukan waktunya meratapi kesalahan fatal.
Aku buru-buru mengetik balasan.
『Bisa kok!』
Baru
saja merasa lega setelah membalas pesan itu, di detik berikutnya telepon dari
Hoshimiya langsung masuk.
Berikan
aku waktu sedikit buat menenangkan diri dong, pikirku sambil mengangkat
teleponnya. Jantungku sudah berdegup kencang dengan suara yang gaduh. Agar
kegugupanku tidak ketahuan, aku mencoba mengeluarkan suara sepelan mungkin.
"Halo?"
『Selamat malam,
Natsuki-kun.』
"A,
ah...... selamat malam."
『Fufu, baru
sebentar ya sejak yang tadi.』
Hoshimiya
terkekeh pelan. Karena suaranya terdengar tepat di telingaku, boro-boro bisa
ikut tertawa, aku malah makin tegang.
Serius
deh, suara Hoshimiya kenapa bagus banget ya? Benar-benar nyaman di telinga.
"Iya,
baru sebentar ya."
Lagi-lagi
aku cuma membeo. Kemampuan bicaraku payah sekali lho...
『Sudah makan
malam?』
"Belum.
Ibu pulangnya agak telat. Perutku sudah lapar banget nih."
Aku
melirik jam, ternyata sudah lewat pukul delapan. Bagi anak SMA yang sedang
dalam masa pertumbuhan, ini sungguh menyiksa. Bisa saja sih aku masak sendiri,
tapi karena hobi Ibu adalah memasak, aku tidak ingin merampas waktu bersantai
sekaligus kegemarannya itu.
『Begitu ya. Kalau
aku sudah makan.』
"Enak
ya. Makan apa tadi?"
『Hari ini menu
makanannya Hamburg!』
Suara
Hoshimiya yang terdengar ceria itu membuat jantungku ikut bergetar.
"Hee—,
masakan Ibumu?"
『Iya! Mama sibuk
banget, jadi jarang-jarang bisa masak, tapi sekalinya masak rasanya enak
sekali—. Aku jadi makan terlalu banyak, sekarang jadi khawatir berat badanku
naik atau nggak.』
Hoshimiya
memanggil Ibunya dengan sebutan Mama, ya. Manis sekali.
Karena
Ibunya sibuk, apa mungkin kedua orang tuanya bekerja? Melihat betapa ketatnya
jam malam dan auranya yang seperti terdidik dengan baik, aku sempat mengira dia
adalah putri dari keluarga kaya raya.
"Hoshimiya
kan langsing, jadi nggak perlu khawatir."
『Kelihatannya
mungkin begitu ya—, tapi sebenarnya gawat lho!』
Bersamaan
dengan gumaman "gawat lho", terdengar suara grasak-grusuk. Sepertinya
dia sedang berguling-guling di tempat tidur.
"Masa
sih."
Karena
ini topik yang sensitif, aku tidak tahu seberapa jauh aku boleh ikut campur,
jadi jawabanku agak ambigu.
『Iya lho.
Natsuki-kun enak ya, badannya ramping. Terus ada ototnya juga lagi.』
"Habisnya
aku nggak punya kerjaan lain selain latihan otot."
『Jangan tiba-tiba
ngomong hal yang sedih begitu dong. Nggak mungkin begitu, kan?』
"Kenyataannya,
anak klub rumahan kalau nggak kerja sambilan ya nggak ada kegiatan lain."
Mau
tidak mau, pengembangan diri jadi fokus utama. Lagipula untuk menikmati hobi
otaku pun, dunia ini masih tertinggal tujuh tahun dari zamanku.
『Yah, benar juga
sih. Biasanya kalau sudah sampai rumah kamu ngapain saja?』
"Paling
cuma nonton YouTube, main game, sisanya ya latihan otot."
『Ahaha, aku juga
hampir sama. Apa aku mulai latihan otot juga ya?』
"Latihan
otot itu bagus lho."
Karena
otot tidak akan mengkhianatiku. Cuma ototlah yang bisa kupercayai tanpa syarat.
"Ah—
tapi, aku nggak begitu ingin melihat Hoshimiya yang berotot kekar sih."
『Nggak bakal
sampai sekekar itu juga sih!? Tapi kalau begini terus, badanku terlalu lemah.
Aku mungkin cuma kuat push-up lima kali.』
"Cuma
segitu?"
Aku
sempat melontarkan candaan, tapi aku sendiri tidak bisa tertawa karena dulu aku
pun begitu.
『Hap! Satu, dua,
tiga...!』
Kenapa
tiba-tiba dia bersuara keras begitu, ternyata dia benar-benar mulai push-up.
"Semangat—"
『Em, pat... nnh...
uugh...!』
Anu.
Maaf. Aku tarik kembali kata-kataku.
Bisa
tolong dihentikan nggak ya...? Rasanya aku jadi berpikiran yang aneh-aneh...
『Puhah, hah, hah,
benar-benar nggak kuat deh—!』
Suara
napasnya yang terengah-engah terdengar jelas di telingaku. Tolong jangan buat
jantungku mengamuk tanpa alasan.
『Padahal dulu bisa
lebih dari itu. Duh, padahal baru saja selesai mandi, malah jadi keringatan
lagi deh.』
Be-begitu
ya. Hoshimiya yang sekarang ini baru selesai mandi ya...
............
Karena
merasa jantungku tidak akan kuat lebih lama lagi, aku memutuskan untuk
menanyakan inti pembicaraannya. Padahal kalau jantungku sanggup, aku ingin
mengobrol santai dengannya selamanya...
"Ngomong-ngomong,
kenapa tiba-tiba telepon? Ada sesuatu kah?"
Begitu
aku bertanya, Hoshimiya tiba-tiba terdiam. Sepertinya dia sedang memilih
kata-kata.
『... Etto,
sebenarnya bukan masalah besar sih.』
Nada
suara Hoshimiya merendah. Sepertinya ini topik yang serius. Apa dia tadi
sengaja mengajak mengobrol santai karena tidak ingin masuk ke topik utama?
Meski
begitu, aku sama sekali tidak punya petunjuk.
『Natsuki-kun,
menurutmu bagaimana kondisi Tatsuya-kun belakangan ini?』
"Bagaimana
apanya?"
Pertanyaan
yang benar-benar di luar dugaan.
Ada
apa dengan Tatsuya? Lagipula, kenapa dia sampai mengkhawatirkan Tatsuya?
『Hmm, entahlah,
dia terlihat agak murung di mataku. Kalau itu cuma perasaanku saja sih
syukurlah, tapi aku pikir mungkin kalau sesama laki-laki kalian tahu sesuatu.』
"Tatsuya
murung...?"
Memang
ada beberapa kali dia terlihat sedang dalam suasana hati yang buruk, tapi dari
awal dia memang tipe yang moody.
"Sepertinya
nggak begitu sih. Aku juga nggak tahu apa penyebabnya."
Sambil
menjawab begitu, kekhawatiran lain terlintas di benakku.
"...Hoshimiya,
apa jangan-jangan kamu lagi naksir Tatsuya?"
『Eh, gimana...
Eeeh!? B-bukan lho! Aku cuma murni merasa khawatir saja...』
Nada
keterkejutan Hoshimiya terdengar sangat jujur, seolah pemikiran seperti itu
sama sekali tidak pernah terlintas di kepalanya.
"I-iya
ya, maaf. Kalau begitu syukurlah."
『...Kalau begitu,
syukurlah?』
Aku
menyadari kelalaianku yang mengucapkannya sambil mendesah lega, suaraku pun
jadi agak melengking.
"A,
ah, etto, maksudku, aku cuma berpikir apa perlu sampai segitunya
mengkhawatirkan dia atau nggak."
Alasan
yang bahkan aku sendiri tidak mengerti apa maksudnya itu
entah
kenapa malah direspons oleh Hoshimiya dengan suara yang juga meninggi.
『Be-begitu ya!
Benar juga! Ahaha, aku jadi salah paham.』
"Ya,
ya pokoknya, di mataku dia terlihat seperti biasa kok."
Aku
berdehem untuk menenangkan detak jantungku yang berdegup kencang, lalu berkata
begitu.
『......Hmm, kalau
begitu, apa cuma perasaanku saja ya?』
Nada
bicara Hoshimiya terdengar sedikit bimbang, tapi untuk saat ini dia sepertinya
sudah merasa yakin.
Setelah
itu kami mengobrol sebentar tentang ujian, lalu mengakhiri panggilan. Kata-kata
Hoshimiya memang membuatku kepikiran, tapi di saat seperti ini seharusnya tidak
ada alasan bagi Tatsuya untuk merasa terpuruk.
Yah,
mungkin karena belajar untuk ujian itu berat, makanya dia jadi terlihat seperti
sedang murung.
Tanpa
terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul sembilan. Saat aku menuju ruang
tengah, makan malam untukku sudah ditutupi plastik warp. Di atas secarik kertas
di depan makanan itu, ada pesan dari Ibu yang bertuliskan, 『Semangat ya teleponan
sama gadis ♡』. Benar-benar perhatian
yang berlebihan lho...
*
Keesokan
harinya, aku menjalani kerja sambilan sambil mengobrol dengan Uta, dan akhirnya
ujian tengah semester selama tiga hari pun tiba.
Di
hari ujian, kami tidak mengadakan sesi belajar bersama atau semacamnya. Sebab
meski niatnya serius, ujung-ujungnya pasti bakal tercampur dengan obrolan
santai. Ditambah lagi, entah kenapa Tatsuya selalu langsung pulang begitu
selesai. Dia sendiri bilang "ingin fokus ujian", tapi tetap saja
kondisinya membuatku kepikiran.
Kata-kata
Hoshimiya dan kata-kata Miori terngiang-ngiang kembali di otakku. Apa aku harus
melakukan sesuatu? Tapi, aku tidak tahu alasan kenapa Tatsuya bersikap aneh. Menurutku,
aku tidak boleh bertindak sembarangan kalau tidak tahu alasannya.
Yah,
mungkin karena memang sedang musim ujian, dia benar-benar hanya ingin fokus
belajar. Selagi aku berpikir, waktu berlalu dan hari ketiga ujian pun berakhir.
Ujiannya
sendiri tidak ada masalah, aku bisa mengerjakannya dengan lancar. Sampai-sampai
aku merasa khawatir (?) apa mungkin hasilnya bakal sempurna semua. Padahal aku
tidak merasa belajar terlalu keras, tapi ternyata mengajari Uta secara tak
terduga menjadi sesi pengulangan materi yang efektif bagiku.
"Selesaaaai—!"
Begitu
ujian terakhir yaitu Matematika berakhir dan lembar ujian dikumpulkan, Uta
melakukan peregangan besar.
Sebagai
orang yang mengajarinya, aku pun menanyakan hasilnya. Aku lebih penasaran soal
hasilnya daripada hasilku sendiri.
"Gimana
tadi?"
"Berkat
Natsu, aku bisa ngerjain lumayan banyak lho!"
"Begitu
ya," jawabku merasa lega. Kalau melihat reaksinya, setidaknya dia tidak
akan dapat nilai merah.
"Tapi
tetap saja, aku sudah capek banget—. Untuk sementara aku nggak mau belajar dulu
deh."
"Heh,
terus janji mau dengerin pelajaran di kelas dengan benar itu ke mana?"
Saat
aku sedang menasihati Uta sebagai tutornya (?), Hoshimiya ikut bergabung dalam
percakapan.
"Ahaha,
tapi aku paham kok perasaannya. Rasanya ingin bebas setidaknya seminggu
saja."
"Kalau
libur sampai seminggu, kayaknya kita bakal ketinggalan pelajaran ya..."
"Yuino-chan!
Sekarang kita nggak butuh pendapat yang terlalu logis!"
Karena
sudah jam pulang sekolah, anggota grup kami yang biasa mulai berkumpul satu per
satu. Karena aku, Uta, dan Reita duduk berjejer lurus dari depan ke belakang,
otomatis tiga orang lainnya berkumpul di sini.
"—Oit,
Tatsuya. Gimana tadi?"
Aku
bertanya saat Tatsuya mendekat dengan wajah serius.
"Hmm......
yah, aku inginnya sih menganggap kalau aku sudah lolos dari nilai merah."
Berarti
bukannya tidak ada kemajuan, tapi dia juga sulit bilang kalau hasilnya
memuaskan. Jika begitu, aku bisa mengerti ekspresi wajahnya. Tidak sampai harus
pesimis, tapi bagi Tatsuya yang memfokuskan diri pada basket, kekhawatiran soal
nilai merah yang bisa membuatnya dilarang ikut klub itu pasti masih membekas.
"Yah,
tidak ada gunanya menyesali hal yang sudah berlalu, ayo santai saja!"
"......Aku
iri dengan sikap optimismu itu."
"Apaaa—!?
Padahal aku bermaksud menyemangati Tatsu—"
"—Yah,
memang benar sih. Makasih ya."
Tatsuya
menyipitkan matanya dan berkata begitu. Jarang-jarang dia memberikan ucapan
terima kasih yang tulus.
"Ngomong-ngomong,
kegiatan klub baru mulai besok lagi, jadi hari ini luang ya."
"Padahal
mulai hari ini juga nggak apa-apa kan? Aku sudah ingin main basket nih—."
"Sepertinya
banyak sekolah lain yang langsung memulai klub di hari terakhir ujian sih. Tapi
katanya, karena ada beberapa orang yang pingsan saat latihan gara-gara begadang
sehari atau dua hari sebelumnya, akhirnya kegiatan klub hari ini ditiadakan."
"Itu
sih, bukannya salah mereka sendiri...?"
Aku
tertawa kecut mendengar informasi dari Reita.
"Sebenarnya
bagi aku sih ini menguntungkan. Karena ujian sudah selesai, aku ingin
menyegarkan diri setidaknya setengah hari. Aku memang ingin ikut klub karena
sudah lama tidak latihan, tapi rasanya capek."
"Oke
kalau begitu, ayo kita semua pergi karaoke!"
Entah kenapa Uta mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi ke langit sambil mengumumkan hal itu dengan wajah ceria. Sepertinya karena ujian sudah selesai, semangatnya jadi berkali-kali lipat lebih tinggi dari biasanya, suaranya pun terdengar penuh energi.
"Boleh
juga. Aku ingin ikut."
Waktu
zaman kuliah dulu aku pernah ketagihan pergi karaoke sendiri sampai sering ke
sana, tapi aku belum pernah pergi bareng teman. Aku jadi sedikit bersemangat.
Aku benar-benar ingin mencoba pergi karaoke bersama semuanya.
"Kalau
begitu, aku juga ikut deh."
Reita
mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Hoshimiya dan Nanase.
"Oke—!
Aku juga ikut!"
"......Kamu
yakin? Hikari, bukannya kamu itu buta nada ya?"
"Berisiiik!
Orang buta nada pun punya hak buat nyanyi tahu! Aku kan suka menyanyi!"
"Eh,
benarkah?"
"Maksudnya
bukan nama 'Uta'-chan! Eh, aku juga suka Uta-chan sih, tapi jadi
membingungkan!"
Mungkin
meski Uta tahu, dia sengaja melucu, dia tertawa terbahak-bahak.
"......Ngomong-ngomong
Hoshimiya, sampai menyanyi pun kamu buta nada ya."
"Tunggu!
Jangan bilang 'sampai' dong! Aku kan jadi kepikiran!"
Hoshimiya
menggembungkan pipinya. Hmm, imutnya.
Begitu
kelima orang sudah mengangguk setuju, pandangan semuanya kini tertuju pada
Tatsuya. Uta berlari kecil mendekati Tatsuya, lalu mendongak menatap Tatsuya
yang tinggi dari bawah.
"Tatsu,
ayo ikut bareng? Daripada murung sendirian, lebih seru kalau kita nyanyi buat
buang stres!"
"......Yah,
mungkin benar juga."
Tatsuya
tertawa kecut, dan sepertinya dia memutuskan untuk ikut.
Memang
benar kalau dia terlihat agak kurang bersemangat, tapi tidak sampai bisa
dibilang sangat aneh juga. Penyebabnya pun sudah jelas karena ujian. Untuk saat
ini, lebih baik biarkan waktu saja yang bekerja. Tergantung orangnya sih, tapi
kalau dalam kasusku, aku adalah tipe yang lebih suka dibiarkan sendiri saat
sedang terpuruk.
Senang
sih kalau ada yang khawatir, tapi kalau sampai terlalu dicampuri rasanya jadi
risih. Jadi, aku harus berusaha untuk tidak melakukan hal yang tidak kusukai
kepada orang lain.
Yah,
walau dulu aku memang tidak punya teman yang bakal memedulikanku sih...
*
——Begitulah,
akhirnya kami sekarang sedang bernyanyi di tempat karaoke depan stasiun. Mungkin
karena ujian sudah berakhir, semuanya sedang dalam suasana hati yang sangat
bersemangat. Bahkan Nanase pun ikut terbawa suasana. Malahan, dia menyanyikan
lagu idola yang sedang tren lengkap dengan koreografinya.
“O,
oo—...”
“Hebat
ya... Simpelnya, dia keren banget.”
Yah,
walau setelah selesai menyanyi dia terlihat malu-malu sih.
Ternyata
Nanase suka idola ya. Kedengarannya mengejutkan... tapi tidak juga sih.
“Wah,
Yuino-chan memang hebat! Selanjutnya giliranku!”
Hoshimiya
berdiri dengan gagah.
Begitu
Hoshimiya memegang mikrofon, dia benar-benar terlihat seperti idola sungguhan.
Wajahnya sangat cocok jadi idola, dan aku merasa ada aura berkilauan yang
terpancar darinya. Tidak, ini pasti cuma halusinasiku saja.
“~♪”
Aku
tertawa kecut mendengar nada yang sulit dideskripsikan keluar dari suara imut
Hoshimiya. Yah, asalkan dia terlihat senang, tidak masalah sih. Lagipula, kami
tidak sedang lomba menyanyi. Meski begitu, aku ingin dianggap hebat kalau
memang harus menyanyi. Aku ingin pamer di depan Hoshimiya.
“Kalau
begitu, selanjutnya aku—”
Semuanya
memasukkan lagu populer secara acak dan menyanyikannya sesuai giliran.
Tergantung lagunya, terkadang ada yang berduet, tapi urutannya tidak berubah
karena fokusnya tetap pada orang yang memilih lagu.
Awalnya
aku tidak menyanyi, aku cuma mengamati sambil pura-pura bingung memilih lagu.
...Begitu
ya. Jadi ini aturan main karaoke grup. Padahal tidak ada yang
mendiskusikannya,
tapi alurnya mengalir begitu saja secara alami. Mungkin ini sudah jadi
pengetahuan umum bagi mereka.
Tingkat
kemahiran menyanyi mereka kira-kira urutannya: Uta, Nanase, Reita, Tatsuya,
baru Hoshimiya. Selain Hoshimiya, yang lain tergolong mahir, tapi tidak sampai
membuat tercengang. Kalau dikasih skor, mungkin antara 80 sampai 90 poin.
Aku
jadi tahu detail begini gara-gara dulu di hitokara cuma kerjaan menatap
layar skor saja. Awalnya aku diam-diam merasa ciut karena mengira anak-anak
populer kalau karaoke pasti levelnya pro, tapi ternyata tidak juga. Kalau
begini, aku tidak akan ditertawakan saat menyanyi nanti.
Masalah
utamanya adalah pemilihan lagu. Bukan cuma karena aku tidak mendengar lagu tren
terbaru, tapi bagiku semua lagu ini adalah lagu dari tujuh tahun lalu, jadi
seleraku pasti bakal terlihat kuno.
Akhirnya,
belakangan ini aku terus mendengarkan band J-Rock favoritku. Sebenarnya itu
band yang agak minoritas, tapi lagu rock yang dinyanyikan Uta di awal tadi juga
tidak bisa dibilang sangat populer. Jadi kurasa tidak masalah... mungkin. Aku
pun bimbang menatap layar pilihan lagu di Denmoku.
Aku
tidak merasa mereka tipe orang yang bakal langsung ilfeel cuma gara-gara
tidak tahu lagunya. Tapi, karena ini lagu pertamaku, aku ingin berhati-hati...
namun giliranku sudah tiba. Karena Tatsuya yang gilirannya sebelumku sudah
selesai menyanyi, aku buru-buru memasukkan lagu.
“Ahaha,
Natsu lama banget masukin lagunya!”
“Iya
nih, tadi sempat bingung mau nyanyi apa...”
Begitulah,
aku menjadi orang terakhir di putaran pertama.
Melihat
judul lagu yang muncul di monitor, mata Uta membelalak.
“Eh,
lagu [Alexandros]!? Selera kita cocok banget ya, Natsu!”
Ternyata
selera musikku memang cocok dengan Uta. Wah, begitu aku berdiri, tatapan semua
orang langsung menusuk.
“Aku
juga suka lagu ini, boleh aku ikut nyanyi bareng?”
Uta
bertanya sambil mengambil mikrofon kedua. Sepertinya dia tipe yang sama sekali
tidak terpikir bakal ditolak ya, pikirku dalam hati sambil tertawa kecut.
“Oh,
boleh banget. Aku juga gugup kalau sendirian.”
Malahan,
aku ingin dia ikut menyanyi. Bagi seorang introvert, ditatap lima orang
itu berat sekali. Apalagi aku belum pernah menyanyi di depan orang lain, jadi
aku sangat tegang. Kalau perhatian mereka terbagi, aku sangat terbantu.
“Ahaha,
kamu pemula di karaoke ya!”
Sebenarnya
aku merasa sudah ahli, tapi memang benar aku pemula dalam karaoke grup.
“Jangan-jangan,
kamu nggak percaya diri sama suaramu?”
Aku
menjawab ambigu "Entahlah" kepada Uta yang sedang menyeringai jahil.
...Gimana
ya. Kalau percaya pada fitur skor karaoke sih, aku merasa suaraku tidak buruk.
Tapi di internet kan sering tertulis kalau skor tidak ada hubungannya dengan
kemantapan suara.
Saat
sedang memikirkan itu, lagunya dimulai.
Pikiranku
sempat kosong saking tegangnya.
——Pokoknya,
aku menyanyi sekuat tenaga.
*
Begitu
lagu berakhir dan aku menghela napas, entah kenapa suasana ruangan malah hening
seketika. Jangan-jangan aku melakukan kesalahan fatal? Aku tidak tahu
alasannya, tapi tidak salah lagi kalau aku baru saja membuat suasana jadi beku.
Apalagi di tengah lagu tadi Uta mendadak berhenti menyanyi dan duduk. Kenapa
ya?
Tepat
saat aku hendak membungkuk untuk minta maaf.
“He...
hebat banget! Natsu, kamu jago banget!”
“Eh?”
“Tadi
aku sampai duduk karena takut malah mengganggumu!”
“I-iya,
padahal aku inginnya kamu jangan berhenti! Aku kan gugup!”
“Gugup
dengan suara sebagus itu sih, rasanya malah kayak lagi nyindir tahu.”
Reita
tertawa kecut.
“Iya
lho, tadi bagus banget. Aku sampai terhanyut dalam sisa nadanya.”
Hoshimiya
tersenyum dengan wajah puas.
“...Bisa
di-stan nih,” gumam Nanase si
pencinta idola dengan kalimat yang sedikit mencurigakan. Jangan-jangan dia suka
idola pria juga?
Apapun
itu, karena aku nge-fansi Nanase, aku ingin dia berhenti. Aku tidak mau kami
malah saling nge-fans.
“Kamu
ini, padahal laki-laki tapi kok bisa ngeluarin suara tinggi begitu...”
Tatsuya
menatapku dengan tatapan benar-benar terkejut.
Yah,
aku memang berlatih mati-matian teknik falsetto dan mixed voice.
Aku teringat hari-hari di mana aku pergi ke hitokara untuk melatih suara
perut, merekamnya, lalu memperbaikinya berulang kali meski tidak ada yang
mendengarnya.
“Etto,
yah, kalau segini sih...”
Aku
tidak tahu harus menjawab apa, jadi jawabanku agak canggung. Sepertinya suasana
beku tadi bukan karena suaraku terlalu buruk.
Yah,
sebenarnya aku pun merasa suaraku tidak seburuk itu sih, tapi karena suasananya
mendadak hening, aku sempat mempertimbangkan kemungkinan kalau seleraku
benar-benar berbeda jauh dari orang normal. Jangan bikin panik dong.
Jadi
mereka cuma terkejut karena suaraku tak terduga cukup bagus ya. Syukurlah, aku
menghela napas lega. Tadi aku tegang sekali.
“Hei
Natsu! Aku mau dengar lagu Natsu lagi! Yang ini bisa nggak!?”
Uta
mendekatkan tubuhnya untuk menunjukkan layar Denmoku padaku. Judul lagu yang
muncul di layar itu adalah lagu populer dari band yang juga kusukai.
“Ooh,
boleh juga. Uta juga nyanyi bareng ya... eh, kok barusan terdengar kayak main
plesetan kata ya?”
“Berisik!
Lagian, boleh nih? Aku nggak sejago itu, apa nggak mengganggu?”
“Mana
mungkinlah. Lebih seru kalau kita nyanyi bareng-bareng, kan? Biar makin ramai.”
Itu
adalah kejujuran yang murni dari lubuk hatiku. Daripada menyanyi sendirian,
jauh lebih menyenangkan jika menyanyi bersama-sama. Mungkin karena ini pertama
kalinya aku karaoke dalam grup, jadi rasanya sangat segar.
“Ja-jadi...
kalau lagu ini, atau yang ini, bisa nggak?”
Uta
menunjukkan layar Denmoku yang berisi daftar lagu band rock yang tidak bisa
dibilang sangat populer. Aku sendiri sering mendengarnya, tapi sepertinya
Hoshimiya dan yang lainnya tidak akan tahu.
“Ternyata
selera kita emang cocok banget ya, Uta.”
“Kan!
Iya banget! Padahal kita jarang ngobrol soal musik ya! Aku seneng banget bisa
punya teman yang bisa diajak ngobrol soal rock! Iyeaaay!”
Uta
yang semangatnya sedang berada di puncak menyenggol bahuku dengan bahunya.
Wanginya harum sekali, dan aku jadi salah fokus karena sensasi sentuhan khas
seorang gadis, jadi aku ingin dia berhenti. Aku selalu memikirkan hal ini
setiap kali dia melakukan kontak fisik...
Tapi
bagaimanapun, aku merasakan hal yang sama dengan Uta. Bisa membicarakan musik
yang disukai bersama teman itu murni menyenangkan.
“O-oke,
ayo kita nyanyikan semuanya!”
“...Heeh!”
Karena
merasa sangat antusias, aku tersenyum ke arah Uta, dan dia pun mengangguk
dengan senyum lebar di wajahnya.
*
Setelah
itu, setiap kali giliranku dan Uta tiba, kami berduet dan menyanyi dengan penuh
semangat. Meskipun lagu-lagunya mungkin asing bagi yang lain, aku senang karena
mereka tetap mencoba menyesuaikan suasana.
Berkat
reaksi mereka juga, perlahan-lahan aku mulai percaya diri dengan kemampuan
bernyanyiku. Sepertinya itu bukan sekadar basa-basi, aku benar-benar boleh
merasa kalau suaraku bagus.
Yah,
lagipula aku sudah latihan sekeras itu...
Dalam
penilaian skor karaoke, aku pernah mencetak angka 97. Ternyata, skor penilaian
itu tak disangka cukup bisa dipercaya ya.
Aku
juga merasa jarakku dengan Uta semakin dekat. Bisa menjadi lebih akrab dengan
teman daripada sebelumnya adalah hal yang membahagiakan.
——Menyenangkan
sekali. Ah, benar-benar menyenangkan.
Aku
benar-benar merasakan kalau inilah "masa remaja pelangi" yang selama
ini kuidamkan. Memiliki lima orang teman baik, dan di antara mereka ada gadis
yang kusukai. Mereka mau bermain bersamaku, tersenyum padaku. Mereka
menyukaiku.
Hari-hari
yang terasa seperti mimpi. Inilah hari-hari yang kunantikan. Inilah hari-hari
yang kudambakan. Karena itulah, pada hari itu, aku memohon kepada Tuhan. Aku
ingin mengulang masa remajaku yang berwarna abu-abu dan menulisnya ulang
menjadi pelangi. Dan semuanya berjalan dengan sangat baik.
Aku
benar-benar merasakan apa yang disebut dengan "berjalan mulus tanpa
hambatan."
Tentu
saja, aku tidak selalu bisa bersikap sempurna. Tapi aku sudah berusaha
merapikan penampilan, mengatasi obesitas dengan berlari, melatih kemampuan
fisik dengan latihan otot, berlatih ekspresi wajah seperti tersenyum,
mempelajari fesyen masa kini, melakukan trial and error agar bisa membaur dalam
percakapan, dan mengulang pelajaran dengan benar agar bisa mengajari orang
lain—begitulah cara aku bisa berdiri di sini sekarang.
Aku
merasa sudah melakukan upaya yang luar biasa. Karena itulah, aku bisa menerima
kebahagiaan ini sekarang. Aku yakin kalau "Proyek Masa Remaja
Pelangi" milik si bocah abu-abu ini sedang berjalan dengan sempurna.
Tepat
pada saat itulah.
“——Maaf
ya, teman-teman. Aku... sepertinya mau pulang duluan saja.”
Kata-kata
itu terlontar secara tiba-tiba.
Tepat
saat lagu aku dan Uta berakhir. Seolah menembus celah keheningan yang singkat,
nada suara yang kaku itu menyayat atmosfer yang penuh kebahagiaan. Sumber suara
itu adalah Tatsuya. Suasana di ruangan itu membeku.
Sebenarnya,
ada apa?
Saat
aku menatap wajah Tatsuya, dia memasang senyuman yang terlihat dipaksakan.
“...Selamat
bersenang-senang ya.”
Hanya
itu yang dikatakannya sebelum dia keluar dari ruangan karaoke. Tidak ada waktu
bagi kami untuk menghentikannya. Keheningan menyelimuti, dan kami semua saling
berpandangan. Sebenarnya sekarang adalah giliran Hoshimiya untuk menyanyi, tapi
sepertinya suasananya sedang tidak mendukung, jadi dia meletakkan mikrofonnya.
Meski begitu, lagunya tetap berjalan, sehingga melodi ceria yang terasa salah
tempat itu mengalun hampa di udara.
“...Tatsu
kenapa ya?”
Uta
bergumam dengan nada khawatir. Hoshimiya juga menunjukkan wajah serius.
“Hmm,
nggak biasanya... maksudku, belakangan ini dia memang terlihat agak murung sih.”
Hal
itu juga membuatku kepikiran. Atau lebih tepatnya, mungkin semua orang di sini
juga memikirkan hal yang sama.
Tadinya
kupikir itu karena ujian, tapi apa memang benar begitu? Apakah Tatsuya yang
biasanya cuek itu akan sehebat itu merasa terpuruk hanya karena gagal dalam
ujian?
Tapi
tidak ada faktor lain yang terlintas di pikiran. Kalau begitu, tidak ada
pilihan lain selain bertanya langsung padanya.
“——Aku
akan menyusulnya.”
Aku
bergumam lalu berdiri.
Tatsuya
adalah temanku. Aku sudah memutuskan untuk berteman dengannya. Jika dia sedang
memikirkan sesuatu, aku ingin membantunya.
“Tunggu
sebentar, Natsuki...”
Dengan
wajah tegang, Reita meletakkan tangannya di bahuku. Langkahku yang hendak
keluar dari ruangan itu terhenti.
“Reita?”
“............Enggak,
maaf. Mungkin itu cara yang paling cepat ya.”
Gumamannya
terasa agak tidak jelas maksudnya.
Pokoknya,
sepertinya dia tidak benar-benar berniat menghentikanku. Kalau begitu aku harus
bergegas. Aku tidak akan bisa mengejarnya kalau dia sudah telanjur naik sepeda.
*
“——Tatsuya!”
Aku
berhasil menyusul Tatsuya tepat di depan tempat parkir sepeda.
Mendengar
suaraku, Tatsuya berbalik perlahan.
Sinar
matahari senja menyinarinya dari belakang, menyembunyikan ekspresi wajahnya
dalam bayangan dan membuat bayangannya memanjang di tanah.
“......Natsuki.
Ada apa?”
“Apa
maksudmu 'ada apa'. Kamu kelihatan aneh, jadi aku khawatir dan—”
“—Aku
nggak apa-apa. Serius, nggak usah dipikirin.”
Tatsuya
memotong ucapanku. Meski cara bicaranya seperti biasa, nada suaranya terdengar
datar. Aku tidak bisa membaca emosi yang ada di sana.
“Apa
jangan-jangan, kamu marah?”
“......Nggak
marah kok. Emangnya ada alasan yang bikin aku harus marah sama kamu?”
“......Nggak
ada sih. Tapi karena kelihatannya begitu, makanya aku tanya.”
Suasana
terasa mencekam.
Seolah-olah
satu kesalahan kata saja bisa berakibat fatal. Pertukaran kata-kata yang terasa
dingin. Ekspresi dan nada suara yang sulit dibaca. Namun, bahkan aku pun tahu
kalau dia sedang menahan kekesalan. Karena dia tidak bisa menyembunyikan
gejolak emosi di matanya.
“Natsuki.
Maaf, tapi hari ini jangan ganggu aku dulu.”
Firasat
buruk menyergapku.
Aku
ingat betul suasana seperti ini dengan Tatsuya. Itu terjadi pada "hari
itu" di kehidupanku yang sebelumnya. Saat kegagalan masa remajaku
ditodongkan tepat di depan mataku.
『Dengar Natsuki.
Maaf ya, aku nggak bisa belain kamu lagi. Dan yang terpenting—aku muak sama
kamu.』
Rasanya
sama persis dengan saat itu. Karena itulah, aku jadi takut jika harus berpisah
dengan Tatsuya sekarang. Meski logikaku bilang ini saatnya untuk mundur, aku
malah melangkah lebih dekat.
“Tatsuya.
Kalau ada yang sedang kamu pikirkan, aku—”
“Berisik!
Kan sudah kubilang, biarkan aku sendiri!”
Saat
aku mendekat, ekspresi Tatsuya yang tadinya tertutup bayangan kini terlihat
jelas.
Tatsuya
benar-benar sedang melotot ke arahku. Dia mengarahkan emosi gelapnya kepadaku.
“Ada
saatnya aku merasa diriku sendiri sangat payah sampai-sampai aku ingin
sendirian!”
Aku
tidak bisa mencerna makna kata-katanya. Langkahku yang hendak mendekati Tatsuya
terhenti seketika.
Tatsuya...
merasa payah? Dia berpikir begitu tentang dirinya sendiri? Tatsuya yang selalu
terlihat percaya diri dan tertawa lantang sebagai sosok power-type yang
populer itu?
Ini
terlalu melenceng dari citranya, aku tidak bisa percaya begitu saja meski dia
yang mengatakannya. Namun, dia tidak terlihat sedang berbohong. Ini bukan
situasi untuk bercanda. Melihat wajahku yang mengernyit penuh kebingungan,
Tatsuya mendengus.
“Yah,
buat orang yang sempurna sepertimu, mana mungkin paham......”
Kali
ini benar-benar... aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan.
“Hah......?”
Tidak
mungkin dia bicara soal aku. Tidak ada satu pun hal yang sempurna dalam diriku.
Kata-kata itu lebih cocok ditujukan untuk Reita, bukan aku. Tapi Reita tidak
ada di sini.
Apa
dia tiba-tiba mulai membicarakan Reita?
Meski
tidak paham apa-apa, aku mencoba bertanya.
“......Maksudmu
Reita?”
“Kamu......
serius ngomong begitu?”
Tatsuya
menyipitkan mata menatapku.
“Maksudnya
gimana......?”
Tapi
sungguh, aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksud. Saat aku masih
dalam kebingungan, Tatsuya membelakangiku.
“......Bukan
soal Reita. Dia memang bisa melakukan banyak hal dengan cekatan, tapi dia sama
sekali tidak sempurna. Aku teman masa kecilnya, jadi aku tahu betul
kekurangannya.”
Sambil
bicara begitu, dia membuka kunci sepedanya.
Bukan
soal Reita......?
“......Kalau
begitu, maksudmu aku? Kamu benar-benar menganggapku orang yang sempurna?”
“Emangnya
bukan, Natsuki? Setidaknya, di mataku kelihatannya begitu.”
——Ingin
rasanya aku tertawa dan mengejeknya betapa konyol pemikiran itu. Namun, sorot
mata Tatsuya terlalu serius sehingga aku tidak sanggup melakukannya.
Kami
saling bertatapan untuk beberapa saat. Tatsuya menghela napas panjang lalu
meletakkan tangannya di bahuku.
“......Maaf,
Natsuki. Jangan dipikirin. Ini bukan salahmu.”
Setelah
berkata begitu, Tatsuya naik ke sepedanya dan pergi. Punggungnya terlihat
sangat kecil.
Saat
aku masih berdiri terpaku di sana, terdengar suara langkah kaki mendekat dari
belakang.
“......Maaf,
Natsuki. Aku sudah menduga hal seperti ini mungkin akan terjadi.”
Aku
menoleh dengan wajah linglung, dan melihat Reita menatapku dengan ekspresi
serius.
“Menduga
hal seperti ini akan terjadi......? Memangnya kenapa? Apa maksudnya ini semua?”
Sampai
di titik ini pun, aku masih tidak mengerti apa-apa. Satu-satunya yang kupahami
hanyalah bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan.
——Kondisinya
benar-benar sama persis dengan yang sebelumnya.
“Tatsuya
itu, sebenarnya iri padamu lho.”
“Hah......?”
Menyusul
Tatsuya, Reita pun mulai mengeluarkan kata-kata yang tidak masuk akal. Bahkan
rasanya lebih masuk akal jika tiba-tiba semua orang muncul membawa papan
bertuliskan "Prank Sukses". Rasa iri adalah sesuatu yang aku rasakan
terhadap orang lain, bukan sesuatu yang orang lain rasakan terhadapku.
Begitulah pikirku selama ini.
“Iri
padaku? Apanya yang bikin iri dari orang seperti aku?”
“Alasan
kenapa kamu sangat peka terhadap perasaan orang lain yang ditujukan padamu
adalah karena rasa kurang percaya dirimu yang tidak normal itu ya. Kemampuanmu
dan rasa percaya dirimu benar-benar tidak seimbang...... itulah kenapa jadi
tidak selaras, dan itu membuatku sedikit khawatir.”
Memang
benar aku kurang peka terhadap perasaan orang lain.
Kegagalan
sebelumnya pun pada akhirnya disebabkan oleh hal itu. Aku menjadi sombong, lupa
diri, dan tidak menyadari kalau aku mulai dianggap mengganggu dan mulai
dibenci. Itu adalah rasa percaya diri berlebih yang tidak berdasar.
Makanya,
ini aneh. Apa yang dikatakan Reita benar-benar berkebalikan dengan kegagalanku
yang sebelumnya.
“Kurang
percaya diri......? Sebaliknya, aku ini orang yang sangat percaya diri lho. Aku
adalah orang yang sangat sombong melebihi siapa pun.”
Sebab,
gara-gara itulah aku gagal. Setidaknya aku yakin soal itu.
“Begitu
ya...... sepertinya aku mulai sedikit paham dengan situasimu.”
Reita
menatapku dengan mata yang seolah bisa menembus isi hatiku.
Memang
benar setelah kegagalan masa remaja sebelumnya, aku kehilangan kepercayaan
diri, harapan, ekspektasi, dan segalanya. Namun sekarang, setelah mengulang
masa remaja, perlahan-lahan aku mulai mendapatkan kembali kepercayaan diri itu.
Hanya saja, belajar dari kegagalan sebelumnya, aku sudah berusaha menahan diri,
tetap rendah hati, dan hidup dengan penuh kehati-hatian.
——Apakah
Reita ingin mengatakan kalau hal itu justru sebuah kesalahan?
“Aku
ingin kamu jangan salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkanmu,
Natsuki. Justru sebaliknya, kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.......Benar,
tidak ada satu pun hal yang terjadi karena kesalahanmu.”
Kalau
begitu, aku harus bagaimana? Meski tidak sampai di level sempurna, aku merasa
sudah menunjukkan sikap yang terbaik.
——Mungkinkah,
justru itu masalahnya?
“Awalnya
mungkin soal basket. Kamu menang di bidang basket, yang merupakan identitas
diri Tatsuya. Tentu saja itu murni karena kemampuanmu sendiri. Itu hal yang
patut dibanggakan, dan bukan hal yang buruk sama sekali.”
Reita
bercerita. Dia mengarahkan pandangan matanya yang pernah dia bilang "bisa
melihat orang lain terlalu jelas" itu ke arahku secara datar.
“Selain
itu juga...... saat kamu menyajikan masakan di tempat kerja sambilan, saat kamu
mengajari pelajaran, bahkan saat kamu bernyanyi di karaoke tadi, kamu terlihat
sempurna—dan Uta menatapmu dengan mata yang berbinar-binar karena itu.”
“Kenapa......
kenapa nama Uta tiba-tiba muncul di sini?”
“Itu
hal yang sangat sederhana. Karena Tatsuya sangat menyukai Uta.”
Reita
mengatakannya dengan enteng. Nada bicaranya seolah sedang membicarakan sebuah
premis yang sudah sewajarnya diketahui.
“Aku
sudah tahu dari awal, tapi kurasa Hoshimiya-san dan Nanase-san juga sudah
menyadarinya.”
Reita
tertawa kecut, katanya itu karena Tatsuya orangnya mudah dibaca. Aku sama
sekali tidak menyadarinya. Karena, mereka kan selalu saja bertengkar mulut.
“Waktu
aku tanya tempo hari, dia bilang tidak punya orang yang disukai......”
“Yah, dia pasti bakal bilang begitu secara lisan. Apalagi di depanmu, Tatsuya itu tipe yang suka gengsi.”
Aku
terpaku. Aku tidak bisa percaya. Meski sulit dipercaya, jika aku
mengesampingkan perasaanku dan mencocokkan kata-kata Reita secara objektif
dengan situasi yang ada, rasanya semuanya memang selaras dengan ucapan Tatsuya
tadi.
“......Kenapa
harus begini. Kenapa...... bagiku, Tatsuya adalah sosok yang kukagumi. Aku
ingin menjadi orang yang ceria dan terlihat menyenangkan seperti dia, aku ingin
berteman dengan orang seperti itu, aku ingin menghabiskan hari-hari yang
menyenangkan bersamanya, karena itulah aku...... tapi kenapa, kenapa dia harus
iri pada orang seperti aku.”
Mendengar
aku menumpahkan emosi yang tak bisa terlukiskan dengan kata-kata itu, Reita
membelalakkan matanya karena terkejut.
“......Begitu
ya, ternyata memang begitu. Pokoknya, jangan terpuruk. Pasti waktu yang akan
menyelesaikannya.”
Kemudian
Reita meletakkan tangannya di bahuku, lalu memasang senyum yang seolah berusaha
menenangkanku.
“Yang
salah itu Tatsuya. Kamu tidak salah apa-apa. Dengar ya, kamu tidak melakukan
kesalahan apa pun.”
——Kalau
begitu, mungkin akulah yang memang bersalah.
Dulu
maupun sekarang, aku tetap saja terlalu tidak peka terhadap perasaan orang
lain. Hanya bagian itu yang tidak pernah berubah.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.