Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game V1 Chapter 3

N-Chan
0

Chapter 3

Bertindak Sempurna


Dua minggu telah berlalu sejak Uta dan yang lainnya mampir ke tempat kerja sambilan aku dan Nanase.

 

"—Karena itu, mulai hari ini adalah masa tenang kegiatan klub. Belajarlah dengan sungguh-sungguh."

 

Wali kelas yang tadinya bicara panjang lebar dan membosankan itu menutup jam wali kelas dengan kalimat tersebut.

 

Masa ujian tengah semester sudah dekat. Tepatnya, satu minggu lagi. Karena Ryoumei adalah SMA jalur akademik (sekolah unggulan), ujian tengah semester terdiri dari sembilan mata pelajaran umum seperti Bahasa Jepang Modern, Sastra Klasik, Sejarah Dunia, Sejarah Jepang, Matematika, Bahasa Inggris, Fisika, Biologi, dan Kimia.

 

Saat ujian akhir semester nanti, mata pelajaran seperti Pengolahan Informasi, Tata Boga, serta Olahraga dan Kesehatan akan ditambahkan, tapi untuk kali ini tidak ada hubungannya.

 

Sembilan mata pelajaran tersebut dibagi ke dalam tiga hari, dari Senin sampai Rabu, dengan tiga mata pelajaran yang diujikan setiap harinya. Artinya, selama masa ujian kami bisa pulang saat masih pagi. Dulu, aku akan pulang dengan penuh semangat lalu menghabiskan waktu dengan membaca light novel.

 

Dengan pemikiran "Mumpung waktu luang melimpah, tidak masalah kalau baca novel sebentar," tahu-tahu waktu sudah menunjukkan tengah malam, dan aku teringat memori pahit menghadapi ujian tanpa belajar sama sekali.

 

Saat itu aku merasa tenang karena orang-orang di sekitar berkata,

"Aduh gawat, aku sama sekali nggak belajar nih," atau "Aku juga—". Tapi kenyataannya, cuma aku yang nilainya di bawah standar. Itu adalah sejarah kelam. Belum pernah aku merasa dikhianati sedalam itu, tapi sebenarnya alih-alih dikhianati, masalah utamanya adalah kami bahkan bukan teman sejak awal. Hahaha.

 

"Wah—, benci banget sama ujian. Lagipula aku nggak paham apa-apa! Sama sekali!"

 

Uta mengeluh dari kursi di depanku.

 

"Jangan terlalu khawatir, masih ada satu minggu kok."

 

"Mana mungkin bisa diatasi dalam seminggu kalau selama ini aku nggak dengerin pelajaran!"

 

"Bukannya itu bukan hal yang patut dibanggakan ya......?"

 

Saat aku sedang menegur Uta, Reita yang duduk di kursi belakang ikut menimpali.

 

"Begini ya Uta, katanya ujian berkala di sekolah ini lumayan sulit lho. Kalau memang tidak mendengarkan pelajaran, kamu benar-benar harus belajar dengan serius, atau semua nilaimu bisa-bisa merah semua."

 

"Aaaa! Aku nggak mau dengar!"

 

Uta menutup kedua telinganya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan heboh.

 

Sebenarnya, apa yang dikatakan Reita ada benarnya. Aku yang dulu pun sangat kesulitan. Meskipun begitu, sekarang aku yang sudah mengalaminya sekali tentu punya banyak kelonggaran, jadi mungkin aku akan membantu menyokong yang lain.

"Akhirnya bebas dari kegiatan klub yang seperti neraka itu......!"

 

Tatsuya mendekat sambil berpose kemenangan.

 

"Eeeh? Kalau aku sih lebih mending klub daripada belajar! Tatsu, kayaknya gairahmu terhadap basket kurang deh? Bisa-bisanya masang muka sesenang itu!"

 

"Bodoh, itu karena kamu belum merasakan latihan klub basket putra makanya bisa sesantai itu. Kamu nggak tahu seberapa parahnya kami anak kelas satu digembleng...... Gawat, aku merinding kalau ingat lagi."

 

"Itu sih namanya sudah trauma."

 

Saat aku menyindir, Tatsuya memeluk kedua lengannya dengan wajah pucat.

 

"Aku nggak main-main tahu."

 

"Yah, aku tahu sih karena sering melihat dari lapangan sebelah, tapi kami juga latihannya lumayan keras lho?"

 

"Hah, oi, oi, latihan kalian itu cuma kayak mainan anak-anak tahu."

 

"Apa katamu!? Aku nggak bisa membiarkan ucapan itu lewat begitu saja!"

 

"Sudah, sudah, sampai di situ saja."

 

Tatsuya dan Uta yang saling melotot itu sebenarnya akrab atau tidak sih......

 

Yah, biasanya Reita yang akan menengahi dan masalah pun selesai seperti biasa.

 

Tatsuya menepukkan kedua tangannya seolah ingin mengubah suasana, lalu berkata dengan ceria.

 

"—Kalau begitu, ayo kita main, teman-teman!"

 

Saking cerianya, sampai rasanya dia tidak terlihat seperti Tatsuya.

 

Tatsuya tersenyum lebar, sementara kami semua terdiam membeku. Bahkan Uta pun hanya bisa tertawa kecut. Mewakili kami semua, Reita akhirnya angkat bicara dengan nada pasrah.

 

"......Nggak, kami nggak bakal pergi."

 

"Hah!? Bodoh kamu, emangnya kamu pikir libur ini buat apa!?"

 

"Bu-buat belajar, kan......?"

 

Hoshimiya yang entah sejak kapan sudah ada di samping kami berucap dengan ragu.

 

"Belajar......?"

 

Tatsuya mengulang kata itu dengan wajah serius. Apa-apaan reaksi itu, seolah dia baru saja mendengar sesuatu yang mustahil dipercaya......

 

"Jangan-jangan Tatsuya, kamu berpikir untuk menghadapi ujian tanpa belajar sama sekali?"

 

"Oi, oi Reita, jangan terlalu meremehkanku dong."

 

Tatsuya mendengus menanggapi pertanyaan Reita.

 

Ooh, semuanya pun merasa lega.

 

"—Aku pasti bakal baca buku paket kok di pagi hari saat hari-H nanti."

 

Ga-gawat, anak ini...... harus segera diselamatkan......

 

Ngomong-ngomong, dulu pun Tatsuya seperti ini, dan nilainya...... tidak, lebih baik jangan diingat lagi.

 

"Semuanya......"

 

Reita memandangi kami dengan wajah yang sangat serius.

 

"Ayo kita buat kelompok belajar. Maksudku, tolong temani aku. Aku mohon. Tolong ya."

 

Dia memohon dengan nada tragis yang belum pernah kudengar sebelumnya.

 

Aku, Hoshimiya, dan Nanase hanya bisa mengangguk meski sedikit merasa ngeri.

 

 

"—Nah, kalau begitu Uta dan Tatsuya, pertama-tama beri tahu bagian mana yang tidak kalian mengerti."

 

Setelah itu, kami meminjam ruang kelas yang kosong untuk memulai kelompok belajar. Anggotanya adalah enam orang yang seperti biasanya. Ya, yang "biasanya"...... termasuk aku...... hehehe.

 

Terlepas dari itu, kami menggabungkan enam meja dan duduk mengelilinginya. Aku sempat berpikir apa boleh memakai ruang kelas kosong sesuka hati, tapi sepertinya Reita sudah meminta izin. Seperti biasa, dia laki-laki yang sangat teliti. Yah, kalau di perpustakaan suasananya terlalu sepi jadi sulit untuk mengajari.

Mungkin dia mempertimbangkan kemungkinan Uta atau Tatsuya bakal diusir karena suara mereka yang keras.

 

"Kalau ditanya bagian mana yang nggak ngerti...... gimana ya?"

 

"Aku nggak ngerti bagian mana yang aku nggak ngerti sih!"

 

Bukan 'sih!' masalahnya. Itu adalah keputusasaan yang sangat segar.

 

Saat Reita dan yang lainnya sedang terlibat percakapan seperti itu, Hoshimiya dan Nanase belajar dengan tenang. Berbeda dengan Nanase yang mengerjakan soal matematika dengan lancar, Hoshimiya tampak berjuang keras bertarung dengan soal-soalnya. Pemandangan yang sangat hangat. Apa aku coba bantu saja demi mendapatkan poin kesukaan?

 

"Hoshimiya. Coba baca soalnya sekali lagi dengan teliti. Sebenarnya soal ini sedikit berbeda dengan soal sebelumnya."

 

"Eh......? Iya. Ee-to......"

 

Hoshimiya, yang sedang menghitung, kembali menatap soalnya sekali lagi. Aku teringat bahwa bagian yang membuat Hoshimiya tersendat adalah bagian yang sama saat aku kesulitan dulu. Karena itu, aku langsung tahu bagaimana cara menjelaskannya.

 

"Ah, begitu ya!"

 

"Iya, benar. Jadi di sini bukan begini, tapi——"

 

Begitu aku mengeluarkan buku cetak dan menjelaskan contoh soalnya, Hoshimiya menyadari cara penyelesaiannya. Setelah itu, ia menuliskan rumus perhitungannya dengan lancar dan akhirnya sampai pada jawaban yang benar.

 

"Bisa! Benar, kan?"

 

Hoshimiya memiringkan kepalanya dengan sedikit cemas meski terlihat senang. Aku mengangguk mantap padanya.

 

"Iya, jawabannya benar."

 

"Hore! Makasih ya, Natsuki-kun!"

 

.........................

 

Hah!? Ini di mana? Aku siapa!? T-tidak, tenanglah, tetap kalem!

 

"......Natsuki-kun?"

 

"Ah, tidak, bukan apa-apa kok."

 

"Begitu? Kalau gitu aku lanjut ya!"

 

A-aman......

 

Daya hancur senyum Hoshimiya terlalu besar, sampai-sampai pikiranku sempat berhenti bekerja.

 

Sebenarnya kalau cuma senyuman, di kehidupan sebelumnya pun aku sudah melihatnya berkali-kali. Tapi, senyum ini ditujukan kepadaku, dan terlebih lagi dia berterima kasih padaku. Wajar saja kalau aku sampai hampir hilang ingatan sesaat. Meskipun aku tidak boleh sampai lupa ingatan sih. Tidak akan kulupakan.

 

"Jangan-jangan, Natsu itu pintar ya?"

 

Uta bertanya sambil mencondongkan tubuhnya ke atas meja, sepertinya dia memperhatikan interaksi kami tadi.

 

"Entah pintar atau tidak, tapi setidaknya aku mendengarkan penjelasan di kelas."

 

"Eeeh! Curang!"

 

"Apanya yang curang? Itu kan cuma syarat dasar buat bisa mengerjakan soal......"

 

"Kalau gitu, kalau gitu! Soal yang ini kamu tahu nggak?"

 

"Coba kulihat......"

 

Begitu mengintip soal yang disodorkan Uta, aku membeku. Itu adalah soal dasar matematika. Soal yang seharusnya sudah dipelajari di hari kedua sekolah.

 

Gawat. Ini di luar dugaan......

 

Hoshimiya sudah paham dasarnya dan hanya tersendat di soal penerapan, jadi dia mirip denganku yang dulu. Sepertinya dia tipe yang mendengarkan penjelasan di kelas dengan baik, tapi jarang belajar di rumah. Karena kecerdasan alaminya tidak terlalu menonjol, dia tidak paham soal penerapan dan nilainya selalu berakhir di angka 70-an. Tapi Uta, kalau dia nekat maju begini, nilainya bisa nol. Soal dasar untuk mendulang poin saja dia tidak paham.

 

"Kalian berdua...... kalau kalian menghadapi ujian ini dengan gaya saat SMP dulu, kalian bakal mati lho?"

 

Reita bergumam sambil memijat pangkal hidungnya. Sepertinya Tatsuya mulai merasakan krisis setelah melihat keadaan kami. Dengan wajah serius, ia bertanya:

 

"Apa...... separah itu ya......? Ujian SMA itu......"

 

"Lagipula, Tatsuya dan Uta itu tipe yang nilai masuknya naik gara-gara dipaksa belajar buat ujian masuk, jadi dari awal kalian sudah tertinggal. Apalagi sekarang ketahuan kalau kalian bahkan nggak dengerin pelajaran."

 

"M-memang sih...... aku bisa diterima di sini juga cuma kebetulan......"

 

"Ahaha! Tatsu emang bego sih!"

 

"Jangan ngomong gitu kalau itu keluar dari mulutmu, Cebol. Aku masih mending daripada kamu yang bahkan nggak ngerjain PR......!"

 

Inilah yang namanya pertarungan antara dua orang yang sama-sama payah, tapi aku tidak mengucapkannya dengan lantang.

 

"Jangan malah berdebat, cepat belajar. Asal tahu saja, di sekolah kita ini, kalau dapat nilai merah, kalian harus ikut kelas tambahan, dan nggak boleh ikut klub sampai lulus ujian remedial, lho."

 

"Eh...... itu, serius?"

 

"Ahahaha...... nggak mungkin, pasti bercanda kan? ......Masa...... beneran begitu?"

 

Wajah mereka berdua memucat mendengar ucapan Reita.

 

"Pokoknya, kalau nggak dicicil dari sekarang, kalian nggak bakal keburu buat matematika dan......"

 

"Fisika, sama bahasa Inggris sepertinya. Kalau pelajaran hafalan, mungkin masih bisa diatasi dengan sistem kebut semalam."

 

Aku menambahkan berdasarkan pengalamanku dulu, dan Reita mengangguk setuju.

 

"Lagipula, jumlah tugas yang harus dikumpulkan sebelum ujian untuk mata pelajaran itu sangat banyak. Pertama-tama, ayo selesaikan tugas matematika dulu. Kalau nggak dikerjakan tiap hari, ini nggak bakal selesai tepat waktu."

 

Setelah ucapan Reita itu, semuanya mulai fokus belajar.

 

Tampaknya Tatsuya dan Uta punya kemampuan fokus yang baik jika sudah mulai belajar. Mereka terus mengerjakan tugas matematika meski sambil bertarung dengan buku paket.

 

Di sini terlihat bahwa memang benar mereka bisa diterima di sekolah ini berkat belajar mati-matian sebelum ujian masuk dulu.

 

Meskipun begitu, tentu saja saat mengerjakan tugas, mereka menemui soal yang tidak bisa diselesaikan sendiri. Reita mengajari Tatsuya, sementara Nanase mengajari Hoshimiya. Kalau begitu, apa aku harus menangani Uta?

 

Sebenarnya aku ingin mengajari Hoshimiya, tapi posisi itu sudah diambil oleh Nanase.

 

Yah, sepertinya mereka berdua memang sudah seperti itu sejak SMP. Rasanya ada "sejarah" dalam atmosfer hubungan mereka.

 

"Hmm......"

 

Sebenarnya aku cuma pura-pura mengerjakan tugas karena aku sedang luang. Terus terang saja, tidak ada bagian di matematika yang tidak kupahami. Pelajaran hafalan seperti Sejarah Jepang atau Sejarah Dunia malah lebih sulit buatku karena banyak bagian yang sudah terlupa. Tapi kurasa meninjau kembali semuanya dalam satu malam sudah cukup...... Saat sedang berpikir begitu, aku mendengar Uta mengerang "Uuuu—" sambil memegangi kepalanya, jadi aku mencoba menyapanya.

"Bagian mana yang nggak kamu mengerti?"

 

"Natsu, kamu mau ngajarin aku?"

 

"Tentu saja. Selama itu bagian yang aku mengerti ya."

 

Uta terlihat merasa bersalah, mungkin dia merasa tidak enak karena membuang waktu belajarku.

 

Kukira dia orang yang tidak peduli dengan jarak antarmanusia, ternyata dia bisa merasa sungkan di hal-hal yang tak terduga ya. Mungkin keseimbangan perasaan inilah yang membuatnya menjadi orang populer. Catat dalam otak.

 

"Nggak apa-apa kok. Mengajarimu juga sekalian jadi bahan tinjauan ulang buatku."

 

Aku mencoba tersenyum seramah mungkin untuk menenangkan Uta. Seketika, wajah Uta langsung cerah. "Begitu ya!"

 

Sejak dulu aku payah dalam membaca emosi orang, tapi Uta sangat mudah dibaca jadi itu sangat membantuku.

 

"Begini, bagian ini dan ini, aku nggak paham kenapa bisa nyambung......"

 

Yang membuat Uta bingung adalah contoh soal di buku paket. Apa kamu ingin mencoba memberikan penjelasan yang lebih sederhana atau mungkin memberikan contoh lain agar Uta lebih mudah mengerti?

 

Setelah melihat penjelasan soal dengan format yang sama seperti tugas, sepertinya Uta kesulitan karena tidak memahami alur perpindahan rumusnya.

 

Aku mengerti. Contoh soal di buku paket sering kali terlalu banyak

meringkas langkah penyelesaian, sehingga sering kali kita bingung kenapa hasilnya tiba-tiba jadi begitu. Mungkin dipotong demi efisiensi halaman.

 

"Persamaan ini lho, sebenarnya di tengah-tengahnya ada perhitungan ini yang disisipkan—"

 

Sambil menjelaskan, aku menuliskan langkah perhitungannya di buku catatan Uta.

 

Bagaimana ya cara agar dia lebih mudah paham?

 

Sama seperti saat menjelaskan pada Hoshimiya, aku mencoba memutar otak menggunakan metode yang dulu membuatku paham, lalu akhirnya selesai memberikan penjelasan. Nah, kira-kira apa Uta sudah benar-benar paham?

 

Saat aku menoleh untuk melihat wajahnya, pandangan kami bertemu dalam jarak yang sangat dekat, seolah ujung hidung kami hampir bersentuhan.

 

Aku terpesona oleh mata besarnya, dan pikiranku mendadak berhenti. Aku terpaku melihat wajahnya yang tertata cantik memenuhi seluruh pandanganku.

 

"......Eh?"

 

"Ah...... i-itu, maaf ya!"

 

Sudah berapa detik ya kami saling bertatapan?

 

Uta dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke buku catatan. Wajah samping dan telinganya memerah padam.

 

Apa dia...... malu? Jika dugaanku tidak salah.

Jangan-jangan Uta menyadariku sebagai lawan jenis......?

 

Tidak, tidak, tenanglah. Siapa pun bakal malu kalau tidak sengaja bertatapan dengan lawan jenis dalam jarak sedekat itu. Hanya saja, aku tidak menyangka Uta yang biasanya memang punya jarak pribadi yang dekat dengan orang lain bisa sampai memerah seperti itu hanya karena hal ini. Karena itulah, aku jadi ikut goyah karena perbedaan sikapnya. Cuma itu saja kok.

 

Jantungku mulai berdegup kencang, seolah baru tersadar dari keterkejutan. Rasanya canggung. Mendadak jadi sulit untuk mengajaknya bicara lagi, tapi kalau diam saja malah makin canggung. Jadi, aku mencoba memaksakan kata-kata keluar dari mulutku.

 

"A—...... itu, apa kamu sudah paham?"

 

"Etto! I-iya! Makasih ya!"

 

Rasanya suara Uta agak melengking.

 

"—Kalian berdua ya, kalau mau bermesraan lakukan saja berdua sana."

 

Sindiran Tatsuya yang terdengar muak itu jelas ditujukan kepada kami yang bersikap aneh. Terlepas dari apa faktanya, jika aku berada di posisi Tatsuya, aku pun pasti akan bicara begitu.

 

"Cuma diajari belajar kok? Ya kan?"

 

"A-ah...... iya, benar."

 

"Yah, terserah kalian saja lah."

 

Tatsuya menghela napas. Dengan sedikit kesal, ia kembali fokus belajar.

 

Yah, kalau lagi fokus belajar terus ada orang di dekat kita yang kelihatannya sedang bermesraan, wajar saja kalau kesal...... Ini salahku.

 

Aku melirik sedikit ke arah Hoshimiya, dia tampak fokus belajar seperti biasa. Sepertinya dia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang terjadi pada kami.

 

Tentu saja begitu ya. Iya...... Aku sempat berpikir sedikit, cuma sedikit saja lho, apa mungkin Hoshimiya bakal cemburu melihatku dan Uta, tapi ternyata aku cuma terlalu kepedean.

 

"......Kalau begitu, mau lanjut lagi?"

 

"Iya!"

 

Setelah itu aku mencoba mengalihkan fokus dan mengajari Uta dengan serius. Aku punya pengalaman dan cukup percaya diri dalam mengajar orang karena dulu pernah kerja sambilan sebagai guru privat.

 

Ternyata kecerdasan alaminya tidak buruk, bagaimanapun juga dia bisa lolos masuk Ryoumei. Aku mengajari Uta yang menyerap ilmu seperti spons dengan perasaan senang. Begitu Uta akhirnya mulai bisa memahami lingkup Bab 1 di buku paket, Reita bergumam sambil melihat jam.

 

"Wah, sudah jam segini ya."

 

Benar saja, tanpa sadar waktu sudah hampir menunjukkan pukul delapan. Di luar sudah gelap gulita.

 

"Iya ya. Hikari juga ada jam malam, jadi sebaiknya kita segera pulang."

 

"Ah— kalian kalau mau lanjut di sini juga nggak apa-apa kok? Aku saja yang pulang duluan."

 

"Aku juga sudah capek, jadi aku bakal berhenti dan pulang sekarang. Yang lain gimana?"

 

"Mumpung barengan, ayo kita pulang bareng saja?" usulku.

 

Yah, sebenarnya aku cuma ingin pulang bareng Hoshimiya saja sih.

 

"Aku sudah nggak sanggup...... aku nggak bakal mau belajar lagi seumur hidup......"

 

Tatsuya bangkit berdiri sambil berteriak "Ughaaa—!". Cara yang heboh buat melepas stres.

 

"Kalau aku, gara-gara Natsu aku jadi paham, jadi rasanya mulai seru sih...... Tapi kalau Natsu pulang, aku juga pulang deh. Soalnya kalau belajar sendiri aku nggak ngerti!"

 

"A-ah...... kalau begitu, syukurlah."

 

Aku mengangguk, merasa senang yang sederhana mendengar kata-kata Uta. Lalu, saat semuanya mulai bersiap-siap untuk pulang, aku baru tersadar.

 

——Hmm? Eh? Barusan itu jangan-jangan dia secara tersirat mengajakku......?

 

Kalimat "kalau Natsu pulang, aku juga pulang" berarti kalau aku tidak pulang, maka Uta pun tidak akan pulang, dan sebenarnya cara bicaranya tadi terdengar seperti dia masih belum ingin pulang. Karena semuanya pulang, jika aku bilang tidak akan pulang, maka aku akan berakhir belajar berdua saja dengan Uta.

 

Apa dia mengharapkan hal itu——ah, sepertinya aku saja yang berpikir terlalu jauh. Sepertinya dari tadi aku memang terlalu kepedean.

 

"Yosh! Berangkat menuju rumah!"

 

Uta mendorong punggung Hoshimiya dengan semangat saat keluar kelas, tidak menunjukkan gelagat seperti pemikiranku tadi. Ternyata memang cuma perasaanku saja. Lagipula aku tidak merasa Uta adalah tipe orang yang menuntut pembacaan situasi yang mendalam seperti itu.

 

"Wah, sudah gelap banget ya. Rasanya segar."

 

Ucap Hoshimiya yang keluar lebih dulu dari pintu depan sekolah.

 

"Masa?"

 

"Yah, karena kami kan setiap hari melihat sekolah di malam hari sepulang latihan klub."

 

"Ah— benar juga ya. Anak klub sastra nggak pernah sampai semalam ini di sekolah, makanya rasanya beda."

 

Hoshimiya terlihat agak bersemangat. Uta yang biasanya ikut heboh di saat seperti ini, malah terlihat asyik mengobrol dengan Nanase. Mungkin karena Uta sudah terbiasa melihat sekolah malam hari. Karena Hoshimiya terlihat sedikit kesepian, aku pun mencoba setuju dengannya.

 

"Paham kok. Sekolah malam hari itu rasanya seru ya."

 

"Kan! Bener kan! Hore, aku punya teman yang sepemikiran!"

 

Bagiku sih rasanya lebih ke arah nostalgia daripada segar.

Meskipun begitu, perasaan "seru" itu memang nyata. Itu pasti karena semuanya sedang bersama-sama.

 

"Mumpung suasananya pas, aku posting di Minsta ah."

 

Hoshimiya mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dan mencoba memotret menggunakan kamera depan.

 

"—Eh, kok nggak kelihatan sama sekali!?"

 

"Ya iyalah. Segelap ini kalau nggak pakai flash mana bisa kelihatan."

 

Gimana kalau kamu menawarkan diri untuk membantu mengambil foto atau menyarankan tempat yang pencahayaannya lebih baik agar foto mereka terlihat bagus?

 

Hoshimiya menatapku dengan tatapan sebal yang imut karena aku bicara terlalu logis, lalu dia mengunggah foto itu apa adanya ke Story.

 

Sekolah malam bareng semuanya! Segar banget ya~! Tapi nggak kelihatan apa-apa hahaha

 

Aku membuka Minsta di ponselku dan tertawa kecut. Ternyata hal semacam ini pun boleh diposting ya.

 

Yah, Minsta memang bukan tempat untuk mencari makna yang mendalam, jadi apa pun tidak masalah. Malah terasa agak lucu.

 

"Hei, bukannya tadi kamu bilang ada jam malam?"

 

"Ah, benar! Bukan waktunya buat begini! Ayo cepat pulang!"

 

Begitu aku mengingatkannya, Hoshimiya langsung berjalan terburu-buru seolah baru tersadar.

 

Entah kenapa, Hoshimiya ini orangnya agak pelupa di banyak hal ya. Tapi justru di situ letak keimutannya.

 

Sambil merasa hangat melihat tingkahnya, kami semua pun berjalan bersama menuju arah pulang.

 

 

Setelah itu, setiap hari sepulang sekolah, kami berkumpul di ruang kelas kosong untuk belajar bersama. Itu adalah minggu tenang sebelum ujian. Dari Senin sampai Jumat, kami meninjau pelajaran dengan sangat intens.

 

Karena aku tidak punya pekerjaan lain setelah menyelesaikan tugas, aku hampir selalu mendampingi Uta. Setidaknya sekarang aku merasa lega karena dia sudah berada di level yang aman dari nilai merah untuk semua mata pelajaran.

 

Melihat kondisi Reita, sepertinya Tatsuya masih berjuang mati-matian. Katanya dia paling payah di matematika.

 

Di akhir pekan, karena tidak tega melihat beban Reita, aku dan Nanase ikut membantu mengajari Tatsuya. Memang benar sih, kalau dia nekat ujian dengan pemahaman seperti itu, dia pasti bakal kena batunya. Dan sampailah di Jumat malam. Di jalan pulang dari sekolah yang sudah gelap gulita.

 

"Tolong, semuanya! Temani aku belajar di hari libur juga!"

 

Tatsuya merapatkan kedua tangannya dan membungkuk memohon kepada kami. Melihat pemandangan langka dari Tatsuya yang biasanya selalu sok kuat ini, kami semua berseru "Ooh—" karena terkejut.

 

"Tumben sekali kamu sampai seputus asa ini?"

 

"Gimana ya... karena aku mulai sedikit paham, aku malah jadi makin merasa terancam, gitu?"

 

"Ah, aku mengerti. Di saat kita benar-benar tidak paham, kita bahkan tidak tahu seberapa besar ketidaktahuan kita."

 

Aku malah memberikan penjelasan yang agak belit-belit.

 

"Awalnya aku nggak peduli soal nilai merah, tapi kalau sampai nggak boleh ikut latihan klub, itu ceritanya beda lagi... Mulai besok aku janji bakal dengerin pelajaran dengan benar, jadi tolong bantu aku kali ini saja! Nanti aku traktir minuman!"

 

"Aku juga kayaknya masih gawat, jadi tolong semuanya! Tatsu yang bakal traktir minumannya!"

 

"Oi, kok malah aku doang yang traktir. Kamu juga traktir dong, hei!"

 

"Ah— itu, soalnya belakangan ini aku terlalu banyak main jadi lagi bokek nih..."

 

"Makanya belajar, oi!"

 

Melihat tingkah Tatsuya dan Uta, kami hanya bisa saling berpandangan sambil tertawa kecut.

 

"Baiklah. Kalau begitu mumpung masih ada dua hari sebelum ujian, yang bisa kumpul mari kita kumpul di suatu tempat."

 

"Nggak usah traktir minuman segala, pakai saja uangnya buat beli minuman sendiri biar asupan gulamu terjaga."

 

Karena teman sedang kesulitan, tentu saja aku akan membantu. Lagipula ini adalah pengetahuan yang kubawa dari kehidupan sebelumnya. Kurasa inilah cara yang benar untuk memanfaatkannya.

"Natsu memang yang terbaik! Kamu baik banget ya!"

 

"Nggak juga kok. Tapi, ya karena kita teman."

 

Aku tidak butuh imbalan. Menurutku, teman adalah mereka yang saling membantu saat sedang kesulitan. Aku tidak tahu pasti karena dulu tidak punya teman, tapi aku ingin menjalin hubungan yang seperti itu dengan semuanya.

 

"......Natsu, kadang kamu bisa ngomong hal yang memalukan tanpa beban ya?"

 

"Eh, benarkah?"

 

Aku bingung mendengar ucapan Uta. Padahal menurutku, justru kalianlah yang sering bersikap begitu di mataku. Tapi, mungkin begitulah caraku terlihat di mata mereka.

 

"M-maaf. Apa itu menjijikkan?"

 

Saat aku meminta maaf dengan lesu, Uta menggelengkan kepalanya dan mendadak mendekatkan wajahnya ke arahku.

 

"......Menurutku, sisi Natsu yang seperti itu justru keren, kok."

 

Dia membisikkannya tepat di telingaku dengan suara yang manis. Aku terguncang, dan pikiranku sempat berhenti sesaat.

 

Di saat itu, Uta sudah kembali ke tempat yang lain dan mengobrol sambil memeluk Hoshimiya dari belakang. Dia tampak seperti sudah lupa kalau baru saja membisikkan kalimat tadi.

 

Tolong jangan permainkan jantungku dengan candaan begitu dong...... Apa dia aslinya tipe little devil?

 

Saat sedang berpikir begitu, Tatsuya yang menyusul dari belakang tiba-tiba merangkul bahuku.

 

"Akrab banget ya kalian belakangan ini."

 

"......Cuma karena aku mengajarinya, makanya kelihatan begitu kan?"

 

Entahlah, ya. Karena aku pun tidak paham, aku memberikan jawaban yang aman kepada Tatsuya.

 

"—Kamu suka sama Uta?"

 

"Eeeh!? Enggak, enggak, sama sekali bukan ke arah sana tahu!?"

 

Karena Tatsuya bertanya sambil merendahkan suaranya, aku membalasnya dengan nada terkejut yang juga tertahan.

 

"Apaan sih, nggak seru banget. Kalau gitu apa Hoshimiya? Atau Nanase?"

 

Aku bingung harus menjawab apa. Tapi aku dan Tatsuya adalah teman. Sejak dulu aku sangat mendambakan bisa membicarakan soal asmara dengan teman laki-laki. Karena itu, aku merasa harus bicara jujur lebih dulu, jadi aku pun berbisik pelan.




......Hoshimiya, kok.

 

Hooo. Begitu ya, begitu ya.

 

Tatsuya menyeringai sambil mengusap dagunya.

 

Kalau Tatsuya sendiri gimana?

 

......Aku? Yah, menurutmu gimana?

 

Malah ditanya balik, aku pun mencoba mengingat kembali tingkah laku Tatsuya selama ini. Uta, yang setiap hari kerjaannya cuma berantem dengannya, sepertinya tidak mungkin. Terhadap Hoshimiya dan Nanase pun, interaksinya terasa biasa-biasa saja.

 

Hmm...... entahlah.

 

Kan? Ya sudah, memang begitu adanya.

 

Eeh, oi, curang banget cuma aku yang kasih tahu!

 

Habisnya mau gimana lagi, kenyataannya memang begitu.

 

Saat kami sedang asyik berdebat, tiba-tiba Uta muncul begitu saja.

 

Lagi ngomongin apa sih?

 

Ah—rahasia buat Uta.

 

Aku belum mau perasaan sukaku pada Hoshimiya tersebar ke semuanya. Aku takut kalau sampai Hoshimiya tahu, dia malah bakal menjauhiku. Aku tidak akan sanggup. Masa remaja yang seperti itu terlalu berat buatku.

 

Eeeh! Kok rahasia-rahasiaan sih!?


Maaf ya Uta, ini masih terlalu dini buatmu. Ini obrolan orang dewasa, timpal Tatsuya yang sepertinya paham dan membantuku berkelit.

 

Obrolan orang dewasa...... jangan-jangan, obrolan mesum ya?

 

Uta bertanya sambil membuang muka, terlihat sedikit malu. Aku terperanjat dan baru saja hendak membantah dengan panik, tapi Tatsuya mendahuluiku.

 

Iya, benar. Masih terlalu pagi buat anak SD sepertimu, kan?

 

Si-siapa yang anak SD! Memang sih tinggi badanku mungkin kecil, tapi...

 

Oi, oi, yang kecil cuma tinggi badan doang?

 

Aku melihat Tatsuya yang mulai bicara terlalu jauh itu dengan perasaan waswas.

 

Uta yang awalnya melongo, perlahan mulai mengerti maksudnya lalu memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.

 

Dasar mesum! Yang boleh ngomong gitu cuma aku sendiri tahu!

 

Maaf ya, aku dan Natsuki lagi asyik ngobrolin itu nih. Sana, sana, pergi hus!

 

Tatsuya membuat gerakan seperti sedang mengusir binatang. Uta melotot ke arah Tatsuya dan aku bergantian dengan wajah memerah, lalu segera bergabung kembali dengan Hoshimiya dan yang lainnya di depan.......Kok rasanya aku jadi terseret-seret masalah ini ya?

 

Yah, kenyataannya kan urutannya memang Hoshimiya, Nanase, tembok yang tak terlampaui, baru Uta, kan?


Urutannya bukan itu, tahu......

 

Bodoh kamu, wajar dong laki-laki ngomongin ginian. Ya kan, Reita?

 

Menurutku sih, Nanase-san secara tak terduga 'punya' lho. Sekilas dia memang terlihat ramping dan biasa saja, tapi sepertinya dia tipe yang terlihat kurus saat pakai baju. Yah, kalau Hoshimiya-san sih memang sudah level mutlak, ujar Reita dengan wajah serius yang entah sejak kapan sudah merapat ke arah kami.

 

Karena lebar jalan yang terbatas, kami memang tidak bisa berjalan berjejeran semuanya, jadi obrolan di jalan pulang sering terbagi menjadi kelompok dua atau tiga orang...... tapi di luar itu, apa-apaan sih yang diomongkan Reita dengan muka seserius itu.

 

......Hm? Natsuki nggak tertarik sama yang begituan?

 

Nggak juga sih, ya bukannya nggak tertarik sama sekali, tapi......

 

Oi Natsuki, boleh nggak aku kasih tahu Reita saja?

 

Sejenak aku bingung apa maksudnya, tapi pasti soal orang yang kusukai. Setelah berpikir sejenak, aku menjawab:

 

Yah, asal jangan kasih tahu anak-anak perempuan...... awas ya kalau sampai bocor?

 

Tenang saja. Jangan khawatir.

 

Aku sudah bisa menebak arah pembicaraannya, dan aku ini tipe yang bisa jaga rahasia kok. Kalau Tatsuya sih entahlah.

 

Jangan 'kalau Tatsuya entahlah' dong, kan jadi repot......

 

—Oi Reita, katanya anak ini lagi ngincar dadanya Hoshimiya yang gede itu lho.

 

Serius? Begitu ya. Di sana memang tersimpan banyak impian, jadi aku sangat paham perasaanmu.

 

Dengar dulu, aku suka Hoshimiya bukan karena dia punya dada besar......

 

Saat aku sedang sibuk membela diri, tiba-tiba aku menyadari ada tatapan tajam yang tertuju ke arah kami. Tiga gadis yang berjalan di depan menoleh ke arah kami dengan tatapan dingin.

 

Suara kami kecil, jadi seharusnya isi obrolan tadi tidak terdengar, tapi mungkin Uta sudah menceritakan soal pembicaraan sebelumnya kepada mereka. Hoshimiya menggembungkan pipinya kesal, lalu kembali memunggungi kami.

 

Aku rasa nggak baik lho ngomongin yang kayak gitu—

 

Kenyataannya Hikari memang besar, jadi wajar saja kalau bikin penasaran. Aku pun penasaran kok, timpal Nanase santai.

 

Yuino-chan!? Jangan asal ngomong yang nggak-nggak dong!?

 

A-aku juga...... aku juga kan sudah rajin minum susu, kenapaaa—!?

 

Mendengar teriakan Uta itu, kami bertiga saling berpandangan sambil tertawa kecut. Meski rasanya agak tidak terima karena diseret-seret oleh Tatsuya, tapi karena ini terasa sangat "masa remaja banget", aku pun terpaksa memaafkannya.

 

Aku merasa harus memperbaiki toleransiku terhadap obrolan kotor. Mungkin karena tidak pernah punya pengalaman berbagi obrolan seperti itu dengan teman, aku jadi merasa sangat malu.

 

 

Keesokan harinya, hari Sabtu. Aku mengunjungi tempat kerja sambilanku, Kafe Mares.

 

Lonceng pintu berbunyi saat aku membukanya.

 

Oh, datang juga. Semuanya sudah kumpul lho—

 

Kirishima-san berlari kecil menghampiriku sambil menunjuk ke kursi bagian dalam. Begitu aku menoleh ke sana, Uta yang menyadari keberadaanku melambaikan tangannya dengan semangat.

 

Saat mendiskusikan di mana kami akan belajar bersama di hari libur, muncul berbagai kandidat seperti rumah salah satu dari kami, restoran keluarga, atau perpustakaan. Namun, akhirnya kami memutuskan kalau Kafe Mares adalah tempat terbaik.

 

Kalau di rumah, sepertinya tidak ada cukup ruang untuk enam orang belajar. Di restoran keluarga, sepertinya sulit mencari meja kosong saat hari libur, dan kalau di perpustakaan kami bakal susah mengobrol. Jadi, Kafe Mares yang merupakan tempat kerja aku dan Nanase—di mana kami bisa minta tolong untuk dipesankan meja—terasa paling pas.

 

Aku sudah mencoba bicara pada Manajer, dan beliau menyetujuinya dengan senang hati. Katanya, saat masa ujian memang biasanya pelanggan pelajar jadi lebih banyak. Asalkan kalian memesan minuman, tidak masalah kok, ujarnya sambil tertawa.

 

Saat aku berjalan menuju meja yang lain...... hmm? Kok sepertinya jumlah orangnya bertambah.

 

Yo Natsuki, lambat banget sih.

 

Tatsuya menyapaku sambil memutar-mutar pulpennya.

 

Maaf, tadi keretanya sempat berhenti sebentar...... tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu ada di sini?

 

Kenapa hayo? Emangnya aku nggak boleh ada di sini?

 

Miori, teman lama sekaligus "saingan" menyebalkanku, menyeringai jahat sambil terkekeh pelan.

 

"Kebetulan saja kok. Kami juga datang ke sini buat belajar, ya kan?"

 

Miori duduk di meja sebelah Tatsuya dan yang lainnya. Di hadapannya, duduk seorang gadis berambut pirang dengan banyak tindikan yang terlihat sangat bergaya gyaru. Gadis itu mengangguk pelan dengan wajah mengantuk.

 

"Iyap... Tapi Miori, temanmu banyak juga ya?"

 

"Kalau yang satu ini cuma teman lama dari SMP yang hubungannya nggak bisa diputus sih—"

 

Sambil mendengarkan percakapan mereka berdua, aku duduk di meja yang sama dengan Tatsuya.

 

Kursi yang kosong ada di ujung kanan dekat jendela. Di sebelah Uta, dan posisinya tepat bersebelahan dengan Miori yang duduk di meja sebelah kanan bagian jendela.......Apa jangan-jangan mereka sengaja mengosongkan tempat ini karena ingin membantuku?

 

"Natsu itu teman masa kecilnya Miorin, kan? Makanya tempat ini kami kosongkan khusus buatmu!"

 

Uta melipat tangannya dengan bangga.

 

Terserahlah, tapi ternyata dia juga memberi nama panggilan aneh buat Miori ya.

 

"Benar-benar bantuan yang tidak perlu..."

 

"Kok gitu!?"

 

Sejujurnya, aku tidak ingin berurusan dengan Miori saat sedang bersama teman-temanku yang sekarang. Walaupun kami sedang dalam hubungan kerja sama, aku merasa malu kalau aku yang sekarang dibandingkan dengan aku yang dulu.

 

"Hmm—?"

 

Tuh kan, dia memperhatikanku dengan tatapan penuh minat. Tolong ampuni aku. Aku memutuskan untuk mengabaikan tatapannya dan membuka buku catatan di meja.

 

"Uta. Poin-poin penting untuk ujian kali ini dan bagian-bagian yang sekiranya bakal membuatmu bingung sudah kurangkum di sini."

 

"Eh!? Apa ini, hebat banget!"

 

Uta membelalakkan matanya sambil membolak-balik halaman catatanku.

 

"Keren, kan? Kubuat tadi malam lho. Gara-gara ini aku jadi kurang tidur."

 

Aku menguap lebar. Alasan utamaku terlambat datang ke perkumpulan ini sebenarnya memang karena kurang tidur.

 

Karena selama seminggu ini aku sudah paham bagian mana yang tidak dikuasai Uta, aku merangkumnya agar lebih mudah dimengerti. Saking asyiknya mengerjakan, tahu-tahu waktu sudah lewat jam dua pagi.


Hoshimiya dan Reita juga terlihat tertarik.

 

"Boleh aku lihat sedikit?"

 

"Boleh banget. Lagipula ini memang niatnya mau kukasihkan ke Uta."

 

"Eh, beneran!?"

 

"Iya. Soalnya ini rangkuman khusus buat Uta kok."

 

"Ma-makasih ya..."

 

Suaranya terdengar pelan, tidak seperti biasanya.

 

Sambil menunggu, Hoshimiya dan yang lainnya membolak-balik catatanku.

 

"Wah... ini hebat ya. Gampang banget dimengerti."

 

"Iya, serius. Kalau tidak benar-benar paham materi, tidak mungkin bisa menulis rangkuman seperti ini."

 

Karena mereka berdua terus-terusan memujiku, aku pun menggaruk kepala. Dipuji itu memang senang, tapi aku bingung harus bereaksi bagaimana. Lagipula, selama hidupku pengalaman dipuji itu sangat minim... Hehehe...

 

"Buatku nggak ada yang khusus nih?"

 

Hoshimiya bertanya, membuatku mengusir pikiran gelap tadi untuk menjawabnya.

 

"Mau kubuatkan juga?"

 

Meski bilang begitu, sepertinya dia tidak benar-benar butuh.


Hoshimiya mahir di Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris, tapi payah di Matematika dan Fisika. Benar-benar tipe anak sastra sejati, tapi setidaknya dasarnya untuk IPA pun dia sudah bisa.

 

"Ahaha, bercanda kok. Nanti malah merepotkanmu. Kalau tugas Natsuki-kun makin nambah, nanti kamu malah nggak sempat belajar buat dirimu sendiri, kan?"

 

"Yah, benar sih. Ngurusin Uta saja sudah bikin kewalahan."

 

Saat aku mengangkat bahu, Uta terlihat lesu dan berkata, "Maaf ya... makasih."

 

Padahal niatnya tadi bercanda, tapi suasananya jadi agak aneh ya.

 

Sepertinya Uta cukup kepikiran karena merasa sudah menyita waktuku. Padahal dulu saat jadi guru privat aku sering membuat rangkuman begini, jadi tidak terlalu merepotkan.

 

"Karena Natsu sudah berjuang keras begini buatku, aku harus kasih hasil yang bagus!"

 

Uta mengepalkan kedua tangannya di depan dada dengan penuh semangat, lalu mulai belajar dengan serius.

 

"......Memangnya waktu SMP dulu otakmu seencer ini ya?"

 

"Berisik. Aku kan belajar mati-matian buat ujian masuk."

 

"Heeh— sampai di level bisa ngajarin orang lain ya... Begitu ya, begitu."

 

"......Ada masalah?"

 

"Enggak sih. Cuma merasa menarik saja."


Saat aku dan Miori saling berbisik agar tidak mengganggu yang lain belajar,

 

"Kalian benar-benar akrab ya?"

 

Sepertinya Reita melihat kami dan tertawa kecut. Miori dengan panik mendorong wajahku menjauh. Jangan menyingkirkan wajah orang pakai tangan dong.

 

"Enggak kok— Malah aku maunya akrab sama Reita-kun lho? Ah, benar juga. Ada bagian yang aku nggak ngerti nih, kalau boleh tolong ajari ya—?"

 

Miori menggeser kursinya mendekati Reita yang duduk di depanku. Inisiatifnya luar biasa. Rasanya dia benar-benar terang-terangan menunjukkan ingin akrab dengan Reita.

 

Miori menempelkan bahunya ke bahu Reita sambil menanyakan soal yang tidak ia mengerti.

 

"......Bukannya kamu itu pintar ya?"

 

Seingatku saat SMP dulu, dia tidak pernah keluar dari peringkat sepuluh besar satu angkatan.

 

"Eh? Yah, kalau dibanding kamu sih jelas aku merasa lebih pintar."

 

"Apa soal itu beneran kamu nggak tahu?"

 

Sekilas kulihat, itu soal matematika yang sangat biasa. Kelihatannya memang rumit, tapi sebenarnya tinggal masukkan ke rumus saja sudah selesai, tidak ada bagian yang sulit.

 

"Eeh, tentu saja aku nggak tahu makanya aku tanya (Jangan banyak omong ya, atau kubunuh kamu?)"


Tekanannya luar biasa, jadi aku memutuskan untuk tidak mengungkitnya lagi. Untungnya (?), Reita sedang sibuk mengerjakan soal yang disodorkan Miori dan tidak terlalu memedulikan kami.

 

Karena Miori hanya bicara dengan kami saja, aku sempat melirik gadis berambut pirang yang datang bersamanya. Kasihan juga dia ditinggal sendirian, tapi ternyata di balik penampilannya, dia belajar dengan sangat serius. Justru dia terlihat sulit diajak bicara, jadi aku sedikit paham kenapa Miori malah mengganggu kami.

 

......Yah, walau alasan utamanya pasti karena ingin mendekati Reita sih.

 

"Makasih ya, Reita-kun. Berkat kamu, sepertinya aku jadi paham!"

 

Miori mengucapkan terima kasih dengan senyum manis lalu kembali ke posisi awalnya. Melihat Miori yang tampak sangat senang, aku berbisik pelan padanya.

 

"......Ngomong-ngomong, ini beneran kebetulan, kan?"

 

"Kurang ajar. Ini beneran kebetulan lho. Aku mana tahu jadwal kalian."

 

"......Yah, benar juga sih."

 

"Daripada itu, kamu bakal bantu aku, kan? Kasih aku kesempatan dong buat makin akrab sama Reita-kun."

 

Bukankah daripada aku yang ikut campur, lebih baik kamu bicara sendiri saja?

 

Kalau terlalu agresif, dia bisa ilfeel tahu.

 

Tapi menurutku kamu sudah kelihatan sangat agresif lho.

 

Makanya, aku minta kamu buat bikin alur supaya aku bisa masuk. Yang alami, ya!

 

Permintaan yang mustahil...

 

Ini bukan level permintaan yang bisa dipenuhi oleh laki-laki yang baru saja melakukan debut SMA.

 

Hei Natsuki, boleh minta waktunya sebentar?

 

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Reita memanggilku dengan wajah serius.

 

Ada apa?

 

Yah, begitulah. Bagaimana ya mengatakannya...

 

Jarang-jarang Reita terlihat ragu-ragu seperti ini, rasanya cukup segar.

 

...Sepertinya, aku tidak berbakat mengajar orang lain.

 

Aaah— yah, aku mengerti sih...

 

Melihat responsmu itu, berarti Natsuki juga berpikir begitu ya...

 

Reita menghela napas. Sepertinya dia benar-benar kepikiran soal ini.

 

Yah, saat mendengar penjelasannya kepada Tatsuya tadi, aku memang sempat merasa sedikit aneh. Sejujurnya, penjelasannya tidak mudah dimengerti, atau lebih tepatnya, kurang cocok untuk pemula. Waktu mengajari Miori tadi juga rasanya kurang kena sasaran. Padahal Reita sendiri bisa menyelesaikan soalnya dengan sangat cepat. Yah, karena Miori aslinya sudah paham, jadi tidak masalah sih.

 

Menurutku, Reita itu tipe jenius. Dia bisa menyelesaikan masalah hanya dengan mengandalkan insting. Kecerdasan alaminya luar biasa. Tentu saja itu hal yang hebat, tapi...

 

Aku tidak begitu paham bagian mana yang Tatsuya tidak pahami... Aku tidak mengerti apa yang dia tidak mengerti... Semuanya terlihat mudah bagiku... Aku tahu kalau aku ini jenius, tapi tidak kusangka kejeniusanku malah merepotkan begini... Tingkat kecerdasan antara aku dan Tatsuya terlalu jauh berbeda.

 

Nggak perlu sampai ngomong gitu juga kali!?

 

Tatsuya tercengang mendengar kata-kata pedas Reita yang sedang merenung serius.

 

Sial! Kenapa aku harus sepintar ini!

 

Ada nggak sih kalimat yang lebih bikin emosi daripada itu di dunia ini?

 

Ahaha... Reita-kun memang punya sisi seperti itu ya. Tapi di situ lucunya sih.

 

Hoshimiya bergumam sambil tertawa kecut, mencoba mencairkan suasana.

 

Laki-laki tampan yang percaya diri, boleh juga ya... Pengen kujadikan pacar... Satu unit untuk satu rumah...

 

Aku pura-pura tidak mendengar gumaman Miori. Apaan coba maksudnya satu unit untuk satu rumah.

 

Makanya, maaf ya Natsuki, kalau Uta kelihatannya sudah aman, tolong bantu Tatsuya juga.

 

Alasannya tidak meminta bantuan Nanase mungkin karena Nanase sedang fokus belajar sendiri. Faktanya, sejak tadi dia terus menggerakkan pulpennya tanpa ikut campur percakapan sama sekali. Konsentrasi yang hebat.

 

Oh, tentu saja boleh. Lagipula aku lagi luang kok.

 

Sebenarnya aku sudah mengulang semua pelajaran di rumah, jadi tidak ada masalah. Tapi tetap saja, tidak menyangka dia payah dalam mengajar...

 

Ternyata Reita yang biasanya terlihat sempurna dan cekatan punya kekurangan yang tak terduga ya.

 

Di situ, aku mendapat ide bagus. Mari bantu Miori sedikit.

 

—Kalau begitu Reita, ayo tukar tempat duduk.

 

Hm? Oh, benar juga. Begitu akan lebih mudah buat mengajar.

 

Kalau tukar posisi dengan Reita yang duduk di depanku, aku akan lebih mudah mengajari Tatsuya yang ada di samping. Dengan begitu, saat Reita pindah ke kursiku, Miori yang duduk di sebelahnya akan lebih mudah mengajaknya bicara.

 

Aku baru saja hendak berdiri sambil membalas tatapan Miori yang seolah berkata "Kerja bagus!", tapi...

 

...Ah— nggak usah, Natsuki. Aku sudah cukup banyak diajari Reita kok, sisanya biar aku usahakan sendiri. Memang sih penjelasannya nggak begitu mudah dimengerti, tapi menyalahkan orang yang sudah mengajari itu nggak benar juga.

 

Tatsuya hanya mengatakan itu lalu kembali belajar.

 

...Apa jangan-jangan, dia merasa tidak enak pada Reita?


Bagaimanapun, tekadnya terlihat bulat, jadi aku duduk kembali.

 

Miori terlihat tidak puas, tapi mau bagaimana lagi kalau alurnya jadi begini. Aku dan Reita saling berpandangan sambil tertawa kecut, lalu kembali belajar.

 

Aku ke toilet sebentar ya!

 

Uta pamit dan meninggalkan tempat duduknya. Di saat itulah, Miori mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik, "Hei, hei." Aku menoleh dan melihat Miori sedang menatap punggung Uta yang berjalan menuju toilet.

 

Kamu tahu nggak? Akhir-akhir ini Uta cuma membicarakan soal kamu terus lho.

 

Miori berbisik dengan volume suara yang hanya bisa didengar olehku.

 

...Oh iya, kalian kan sama-sama di klub basket putri ya.

 

Iya benar, sepulang klub kami selalu pulang bareng. Akhir-akhir ini dia benar-benar mulai terlihat seperti gadis yang sedang jatuh cinta. Aku nggak tahu sihir apa yang kamu pakai padanya.

 

Jangan mengejekku ah.

 

Aku nggak lagi mengejek lho—

 

Memang aku merasa kami jadi lebih akrab, tapi aku tidak merasa melakukan sesuatu yang bisa membuatnya suka secara romantis, dan aku juga tidak merasa dia menunjukkan gelagat seperti itu... yah, sebenarnya ada sih, tapi Uta memang tipe orang yang jarak pribadinya dekat. Mungkin Miori hanya melebih-lebihkannya saja.

 

Kalimat "mulai terlihat seperti" itu kan masih ambigu.


Sama tidak bisa dipercayanya dengan kalimat "akan dipertimbangkan lebih lanjut".

 

Ini tawaran dariku sebagai rekan kerja samamu, tapi kalau sekarang, mungkin aku bisa menjodohkanmu dengan Uta lho? Bagaimana? Atau jangan-jangan, incaranmu bukan Uta?

 

Bisikan manis Miori sempat membuatku bimbang.

 

Aku menelan ludah.

 

——Sakura Uta itu imut. Dia pasti masuk dalam jajaran lima besar gadis tercantik di angkatan kami. Tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang terlihat kekanak-kanakan itu—meski dia sendiri mempermasalah -kannya—menurutku sangat manis. Ditambah lagi kepribadiannya yang selalu ceria dan penuh semangat, sosoknya itu sering memberiku semangat.

 

Seandainya aku bisa pacaran dengan Uta, betapa bahagianya aku.

 

Natsu?

 

Tiba-tiba orang yang baru saja ada di dalam lamunanku memanggil, membuat tubuhku tersentak kaget.

 

O-oh, Uta. Sudah kembali ya.

 

...Kamu ngobrol sama Miorin terus ya? Kalian lagi ngomongin apa sih?

 

Nada suara Uta terdengar agak rendah, tidak seperti biasanya.

 

Harus jawab apa ya. Tidak mungkin aku bilang kalau kami sedang membicarakannya... eh, atau boleh saja kalau kubilang begitu?

 

Etto, kami lagi membicarakanmu kok, Uta.


A-aku?

 

Iya. Aku penasaran bagaimana sosok Uta saat sedang di klub basket.

 

...Entah kenapa di sudut kanan pandanganku Miori mengacungkan jempolnya, tapi aku memutuskan untuk mengabaikannya.

 

Hmm. Begitu ya. Kalau itu sih nggak apa-apa.

 

Uta yang tadinya mengerucutkan bibir, langsung menundukkan kepalanya dan membuang muka setelah mendengar itu.

 

Uta memang ekspresif sehingga emosinya mudah dibaca, tapi kalau dia sudah membuang muka begini, aku jadi tidak tahu apa-apa.

 

"Jadi, bagian mana yang belum mengerti?"

 

"A-ah, iya. Di sini, di catatan yang kamu kasih sudah ada penjelasannya sih, tapi—"

 

Aku pun mulai menjelaskan soal penerapan fisika kepada Uta. Melihat dia bisa mengerjakan soal sampai sejauh ini, berarti dia sudah memahami dasarnya dengan baik.

 

Ini kemajuan pesat dibanding seminggu lalu. Jika di pelajaran fisika yang paling dia benci saja bisa begini, kurasa sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

 

 

Setelah itu kami makan siang, lanjut belajar lagi, dan tak terasa hari sudah sore.

 

"Besok gimana?"


"Ah, maaf, besok aku ada jadwal kerja sambilan."

 

"Eh, beneran? Padahal lusa sudah mulai ujian?"

 

Hoshimiya sedikit memiringkan kepalanya, jadi aku menjelaskan situasinya. Karena aku bilang tidak ada kendala dalam belajar, Manajer memintaku untuk masuk. Lagipula, karena staf di sini kebanyakan pelajar, sepertinya mereka kekurangan orang di musim ujian seperti ini.

 

"Kalau ada Natsu, besok aku boleh datang ke sini lagi? Aku nggak bisa konsentrasi kalau di rumah."

 

"Boleh saja, tapi karena aku sedang kerja, aku nggak bisa mengajarimu ya?"

 

"Nggak masalah! Berkat catatan ini, semuanya bakal beres!"

 

Uta mengangkat tanda peace ke udara. Melihat tingkahnya, aku tertawa kecut sambil memandangi yang lain.

 

"Yang lain gimana?"

 

"—Aku nggak usah. Mau belajar sendiri saja."

 

"Aku juga kayaknya nggak dulu deh. Orang tuaku bakal cerewet kalau aku terlalu sering belajar di luar."

 

"Iya ya. Ini hari terakhir sebelum ujian, aku juga mau belajar di rumah saja."

 

"Kalau gitu, aku juga sama. Sebenarnya uang jajan juga sudah mulai menipis sih."

 

Mereka menjawab satu per satu.


Hanya saja, aku sedikit terpikirkan soal nada suara Tatsuya yang terdengar kaku.

 

...Apa dia sedang kesal karena belajarnya tidak berjalan mulus?

 

Yah, apa pun itu, sepertinya lebih baik tidak diungkit.

 

Hari itu pun kami berakhir dengan membubarkan diri. Karena Miori dan temannya juga selesai di waktu yang sama, kami naik kereta pulang bersama-sama.

 

——Dan itu berarti, secara otomatis...

 

"Yah, akhirnya memang cuma berdua sama kamu ya. Soalnya rumah kita yang paling jauh."

 

"Mu, kamu nggak puas? Padahal lagi berduaan pulang sama gadis SMA secantik aku lho. Lihat tuh, orang-orang yang penampilannya mirip 'kamu yang dulu' sedang menatapmu dengan iri. Gimana? Rasanya menyenangkan?"

 

"Ucapanmu itu makian yang parah buatku dan orang-orang di sekitar tahu..."

 

"Yah, setelah kuperhatikan seharian ini, kemajuanmu lumayan juga, Natsuki."

 

"Terserahlah. Daripada itu, belajarlah sana."

 

Entah dia mendengarkan omonganku atau tidak, Miori terus bicara sesukanya.

 

"Aku sudah dengar kalau kamu melakukan debut SMA sebagai sarana untuk... apa tadi istilahnya, rencana meraih masa remaja berwarna pelangi? Rencana mengubah abu-abu menjadi pelangi? Begitulah."


"...Rasanya malu kalau didengar dari mulut orang lain, jadi hentikan."

 

Wajahku terasa sedikit panas. Melihatku seperti itu, Miori tersenyum jahil.

 

"Oke, kalau begitu mari kita namai 'Proyek Masa Remaja Pelangi'!"

 

Ucapnya dengan semangat. Dia benar-benar tipe wanita yang paling bahagia saat sedang menjahili orang. Sifatnya buruk sekali. Tapi, mau tidak mau aku harus mengakui kalau nama itu sangat cocok dengan situasiku sekarang. Meski rasanya kesal untuk mengakuinya.

 

"Nah, pokoknya begini, Natsuki."

 

"Apa? Kok tiba-tiba serius."

 

"Ini bukan maksudku mau ikut campur sih, anggap saja saran."

 

Miori mengernyitkan alisnya, lalu menodongkan jari telunjuknya tepat di depan hidungku.

 

"—Di mataku, sepertinya sedang terjadi masalah dalam rencanamu itu."

 

 

Setelah itu Miori langsung pulang begitu saja setelah berkata, "Pikirkanlah sendiri."

 

Sialan, anak itu. Bisa-bisanya meninggalkan kalimat penuh teka-teki seperti itu... Kan aku jadi kepikiran. Aku sempat berpikir mungkin dia cuma ingin membuatku bingung, tapi dia bukan tipe orang yang suka bicara omong kosong tanpa makna. Kalau begitu, berarti memang ada suatu masalah dalam rencanaku, tapi aku sama sekali tidak punya petunjuk.


Sesampainya di rumah, aku berbaring di tempat tidur sambil memikirkan arti kata-kata Miori.

 

Setelah cukup lama menatap langit-langit dengan perasaan gusar, ponsel di dekat bantal berbunyi pelan. Aku membalikkan badanku dan mengambil ponsel, ternyata ada notifikasi RINE.

 

Begitu menyadari pengirimnya adalah Hoshimiya, aku buru-buru membuka kunci ponsel untuk melihat pesannya, lalu langsung menyesal... sepertinya aku terlalu cepat memberi status Read. Rasanya jadi seperti aku memang sedang menunggu pesannya.

 

Aku jadi khawatir kalau dia merasa risih. Tidak mungkin sih dia risih cuma karena hal sepele begini... aku tahu logikanya begitu, tapi kalau RINE-an dengan perempuan, entah kenapa aku jadi memikirkan banyak hal.

 

Lagi apa sekarang?

 

Itulah pertanyaan dalam pesan Hoshimiya.

 

Sudah sampai rumah, lagi guling-guling di kasur.

 

Aku menjawab apa adanya, dan statusnya langsung berubah menjadi Read.

 

Aku juga haha

 

Awalnya aku ingin mengetik Ada perlu apa?, tapi aku mengurungkan niat itu. Walau itu yang ingin kutanyakan, rasanya kalimat itu terdengar sangat dingin... Tapi memangnya ada perlu apa?

 

Kalau dia mengirim pesan meski tidak ada keperluan penting, itu bukti kalau kami sudah cukup akrab, jadi aku merasa senang. Saat sedang asyik berpikir begitu, Hoshimiya mengirim pesan lagi.


Bisa telepon sebentar sekarang?

 

............Aku butuh waktu sekitar sepuluh detik untuk mencerna arti kalimat itu.

 

Telepon!? Aku, sama Hoshimiya!? Kenapa tiba-tiba!? Bentar-bentar, bukannya hal seperti itu sudah seperti... orang pacaran ya? (Logika macam apa ini?)

 

Saat aku sedang kebingungan, pesan lanjutannya masuk.

 

Nggak harus sekarang banget juga nggak apa-apa kok!

 

Gawat. Gara-gara aku terpaku menatap layar sambil kebingungan, sepertinya dia mengira aku enggan mengangkat teleponnya. Ini bukan waktunya meratapi kesalahan fatal. Aku buru-buru mengetik balasan.

 

Bisa kok!

 

Baru saja merasa lega setelah membalas pesan itu, di detik berikutnya telepon dari Hoshimiya langsung masuk.

 

Berikan aku waktu sedikit buat menenangkan diri dong, pikirku sambil mengangkat teleponnya. Jantungku sudah berdegup kencang dengan suara yang gaduh. Agar kegugupanku tidak ketahuan, aku mencoba mengeluarkan suara sepelan mungkin.

 

"Halo?"

 

Selamat malam, Natsuki-kun.

 

"A, ah...... selamat malam."

 

Fufu, baru sebentar ya sejak yang tadi.

 

Hoshimiya terkekeh pelan. Karena suaranya terdengar tepat di telingaku, boro-boro bisa ikut tertawa, aku malah makin tegang.

 

Serius deh, suara Hoshimiya kenapa bagus banget ya? Benar-benar nyaman di telinga.

 

"Iya, baru sebentar ya."

 

Lagi-lagi aku cuma membeo. Kemampuan bicaraku payah sekali lho...

 

Sudah makan malam?

 

"Belum. Ibu pulangnya agak telat. Perutku sudah lapar banget nih."

 

Aku melirik jam, ternyata sudah lewat pukul delapan. Bagi anak SMA yang sedang dalam masa pertumbuhan, ini sungguh menyiksa. Bisa saja sih aku masak sendiri, tapi karena hobi Ibu adalah memasak, aku tidak ingin merampas waktu bersantai sekaligus kegemarannya itu.

 

Begitu ya. Kalau aku sudah makan.

 

"Enak ya. Makan apa tadi?"

 

Hari ini menu makanannya Hamburg!

 

Suara Hoshimiya yang terdengar ceria itu membuat jantungku ikut bergetar.

 

"Hee—, masakan Ibumu?"

 

Iya! Mama sibuk banget, jadi jarang-jarang bisa masak, tapi sekalinya masak rasanya enak sekali—. Aku jadi makan terlalu banyak, sekarang jadi khawatir berat badanku naik atau nggak.

 

Hoshimiya memanggil Ibunya dengan sebutan Mama, ya. Manis sekali.


Karena Ibunya sibuk, apa mungkin kedua orang tuanya bekerja? Melihat betapa ketatnya jam malam dan auranya yang seperti terdidik dengan baik, aku sempat mengira dia adalah putri dari keluarga kaya raya.

 

"Hoshimiya kan langsing, jadi nggak perlu khawatir."

 

Kelihatannya mungkin begitu ya—, tapi sebenarnya gawat lho!

 

Bersamaan dengan gumaman "gawat lho", terdengar suara grasak-grusuk. Sepertinya dia sedang berguling-guling di tempat tidur.

 

"Masa sih."

 

Karena ini topik yang sensitif, aku tidak tahu seberapa jauh aku boleh ikut campur, jadi jawabanku agak ambigu.

 

Iya lho. Natsuki-kun enak ya, badannya ramping. Terus ada ototnya juga lagi.

 

"Habisnya aku nggak punya kerjaan lain selain latihan otot."

 

Jangan tiba-tiba ngomong hal yang sedih begitu dong. Nggak mungkin begitu, kan?

 

"Kenyataannya, anak klub rumahan kalau nggak kerja sambilan ya nggak ada kegiatan lain."

 

Mau tidak mau, pengembangan diri jadi fokus utama. Lagipula untuk menikmati hobi otaku pun, dunia ini masih tertinggal tujuh tahun dari zamanku.

 

Yah, benar juga sih. Biasanya kalau sudah sampai rumah kamu ngapain saja?

 

"Paling cuma nonton YouTube, main game, sisanya ya latihan otot."

 

Ahaha, aku juga hampir sama. Apa aku mulai latihan otot juga ya?

 

"Latihan otot itu bagus lho."

 

Karena otot tidak akan mengkhianatiku. Cuma ototlah yang bisa kupercayai tanpa syarat.

 

"Ah— tapi, aku nggak begitu ingin melihat Hoshimiya yang berotot kekar sih."

 

Nggak bakal sampai sekekar itu juga sih!? Tapi kalau begini terus, badanku terlalu lemah. Aku mungkin cuma kuat push-up lima kali.

 

"Cuma segitu?"

 

Aku sempat melontarkan candaan, tapi aku sendiri tidak bisa tertawa karena dulu aku pun begitu.

 

Hap! Satu, dua, tiga...!

 

Kenapa tiba-tiba dia bersuara keras begitu, ternyata dia benar-benar mulai push-up.

 

"Semangat—"

 

Em, pat... nnh... uugh...!

 

Anu. Maaf. Aku tarik kembali kata-kataku.

 

Bisa tolong dihentikan nggak ya...? Rasanya aku jadi berpikiran yang aneh-aneh...


Puhah, hah, hah, benar-benar nggak kuat deh—!

 

Suara napasnya yang terengah-engah terdengar jelas di telingaku. Tolong jangan buat jantungku mengamuk tanpa alasan.

 

Padahal dulu bisa lebih dari itu. Duh, padahal baru saja selesai mandi, malah jadi keringatan lagi deh.

 

Be-begitu ya. Hoshimiya yang sekarang ini baru selesai mandi ya...

 

............

 

Karena merasa jantungku tidak akan kuat lebih lama lagi, aku memutuskan untuk menanyakan inti pembicaraannya. Padahal kalau jantungku sanggup, aku ingin mengobrol santai dengannya selamanya...

 

"Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba telepon? Ada sesuatu kah?"

 

Begitu aku bertanya, Hoshimiya tiba-tiba terdiam. Sepertinya dia sedang memilih kata-kata.

 

... Etto, sebenarnya bukan masalah besar sih.

 

Nada suara Hoshimiya merendah. Sepertinya ini topik yang serius. Apa dia tadi sengaja mengajak mengobrol santai karena tidak ingin masuk ke topik utama?

 

Meski begitu, aku sama sekali tidak punya petunjuk.

 

Natsuki-kun, menurutmu bagaimana kondisi Tatsuya-kun belakangan ini?

 

"Bagaimana apanya?"

 

Pertanyaan yang benar-benar di luar dugaan.


Ada apa dengan Tatsuya? Lagipula, kenapa dia sampai mengkhawatirkan Tatsuya?

 

Hmm, entahlah, dia terlihat agak murung di mataku. Kalau itu cuma perasaanku saja sih syukurlah, tapi aku pikir mungkin kalau sesama laki-laki kalian tahu sesuatu.

 

"Tatsuya murung...?"

 

Memang ada beberapa kali dia terlihat sedang dalam suasana hati yang buruk, tapi dari awal dia memang tipe yang moody.

 

"Sepertinya nggak begitu sih. Aku juga nggak tahu apa penyebabnya."

 

Sambil menjawab begitu, kekhawatiran lain terlintas di benakku.

 

"...Hoshimiya, apa jangan-jangan kamu lagi naksir Tatsuya?"

 

Eh, gimana... Eeeh!? B-bukan lho! Aku cuma murni merasa khawatir saja...

 

Nada keterkejutan Hoshimiya terdengar sangat jujur, seolah pemikiran seperti itu sama sekali tidak pernah terlintas di kepalanya.

 

"I-iya ya, maaf. Kalau begitu syukurlah."

 

...Kalau begitu, syukurlah?

 

Aku menyadari kelalaianku yang mengucapkannya sambil mendesah lega, suaraku pun jadi agak melengking.

 

"A, ah, etto, maksudku, aku cuma berpikir apa perlu sampai segitunya mengkhawatirkan dia atau nggak."

 

Alasan yang bahkan aku sendiri tidak mengerti apa maksudnya itu

entah kenapa malah direspons oleh Hoshimiya dengan suara yang juga meninggi.

 

Be-begitu ya! Benar juga! Ahaha, aku jadi salah paham.

 

"Ya, ya pokoknya, di mataku dia terlihat seperti biasa kok."

 

Aku berdehem untuk menenangkan detak jantungku yang berdegup kencang, lalu berkata begitu.

 

......Hmm, kalau begitu, apa cuma perasaanku saja ya?

 

Nada bicara Hoshimiya terdengar sedikit bimbang, tapi untuk saat ini dia sepertinya sudah merasa yakin.

 

Setelah itu kami mengobrol sebentar tentang ujian, lalu mengakhiri panggilan. Kata-kata Hoshimiya memang membuatku kepikiran, tapi di saat seperti ini seharusnya tidak ada alasan bagi Tatsuya untuk merasa terpuruk.

 

Yah, mungkin karena belajar untuk ujian itu berat, makanya dia jadi terlihat seperti sedang murung.

 

Tanpa terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul sembilan. Saat aku menuju ruang tengah, makan malam untukku sudah ditutupi plastik warp. Di atas secarik kertas di depan makanan itu, ada pesan dari Ibu yang bertuliskan, Semangat ya teleponan sama gadis . Benar-benar perhatian yang berlebihan lho...

 

 

Keesokan harinya, aku menjalani kerja sambilan sambil mengobrol dengan Uta, dan akhirnya ujian tengah semester selama tiga hari pun tiba.

 

Di hari ujian, kami tidak mengadakan sesi belajar bersama atau semacamnya. Sebab meski niatnya serius, ujung-ujungnya pasti bakal tercampur dengan obrolan santai. Ditambah lagi, entah kenapa Tatsuya selalu langsung pulang begitu selesai. Dia sendiri bilang "ingin fokus ujian", tapi tetap saja kondisinya membuatku kepikiran.

 

Kata-kata Hoshimiya dan kata-kata Miori terngiang-ngiang kembali di otakku. Apa aku harus melakukan sesuatu? Tapi, aku tidak tahu alasan kenapa Tatsuya bersikap aneh. Menurutku, aku tidak boleh bertindak sembarangan kalau tidak tahu alasannya.

 

Yah, mungkin karena memang sedang musim ujian, dia benar-benar hanya ingin fokus belajar. Selagi aku berpikir, waktu berlalu dan hari ketiga ujian pun berakhir.

 

Ujiannya sendiri tidak ada masalah, aku bisa mengerjakannya dengan lancar. Sampai-sampai aku merasa khawatir (?) apa mungkin hasilnya bakal sempurna semua. Padahal aku tidak merasa belajar terlalu keras, tapi ternyata mengajari Uta secara tak terduga menjadi sesi pengulangan materi yang efektif bagiku.

 

"Selesaaaai—!"

 

Begitu ujian terakhir yaitu Matematika berakhir dan lembar ujian dikumpulkan, Uta melakukan peregangan besar.

 

Sebagai orang yang mengajarinya, aku pun menanyakan hasilnya. Aku lebih penasaran soal hasilnya daripada hasilku sendiri.

 

"Gimana tadi?"

 

"Berkat Natsu, aku bisa ngerjain lumayan banyak lho!"

 

"Begitu ya," jawabku merasa lega. Kalau melihat reaksinya, setidaknya dia tidak akan dapat nilai merah.


"Tapi tetap saja, aku sudah capek banget—. Untuk sementara aku nggak mau belajar dulu deh."

 

"Heh, terus janji mau dengerin pelajaran di kelas dengan benar itu ke mana?"

 

Saat aku sedang menasihati Uta sebagai tutornya (?), Hoshimiya ikut bergabung dalam percakapan.

 

"Ahaha, tapi aku paham kok perasaannya. Rasanya ingin bebas setidaknya seminggu saja."

 

"Kalau libur sampai seminggu, kayaknya kita bakal ketinggalan pelajaran ya..."

 

"Yuino-chan! Sekarang kita nggak butuh pendapat yang terlalu logis!"

 

Karena sudah jam pulang sekolah, anggota grup kami yang biasa mulai berkumpul satu per satu. Karena aku, Uta, dan Reita duduk berjejer lurus dari depan ke belakang, otomatis tiga orang lainnya berkumpul di sini.

 

"—Oit, Tatsuya. Gimana tadi?"

 

Aku bertanya saat Tatsuya mendekat dengan wajah serius.

 

"Hmm...... yah, aku inginnya sih menganggap kalau aku sudah lolos dari nilai merah."

 

Berarti bukannya tidak ada kemajuan, tapi dia juga sulit bilang kalau hasilnya memuaskan. Jika begitu, aku bisa mengerti ekspresi wajahnya. Tidak sampai harus pesimis, tapi bagi Tatsuya yang memfokuskan diri pada basket, kekhawatiran soal nilai merah yang bisa membuatnya dilarang ikut klub itu pasti masih membekas.

 

"Yah, tidak ada gunanya menyesali hal yang sudah berlalu, ayo santai saja!"

 

"......Aku iri dengan sikap optimismu itu."

 

"Apaaa—!? Padahal aku bermaksud menyemangati Tatsu—"

 

"—Yah, memang benar sih. Makasih ya."

 

Tatsuya menyipitkan matanya dan berkata begitu. Jarang-jarang dia memberikan ucapan terima kasih yang tulus.

 

"Ngomong-ngomong, kegiatan klub baru mulai besok lagi, jadi hari ini luang ya."

 

"Padahal mulai hari ini juga nggak apa-apa kan? Aku sudah ingin main basket nih—."

 

"Sepertinya banyak sekolah lain yang langsung memulai klub di hari terakhir ujian sih. Tapi katanya, karena ada beberapa orang yang pingsan saat latihan gara-gara begadang sehari atau dua hari sebelumnya, akhirnya kegiatan klub hari ini ditiadakan."

 

"Itu sih, bukannya salah mereka sendiri...?"

 

Aku tertawa kecut mendengar informasi dari Reita.

 

"Sebenarnya bagi aku sih ini menguntungkan. Karena ujian sudah selesai, aku ingin menyegarkan diri setidaknya setengah hari. Aku memang ingin ikut klub karena sudah lama tidak latihan, tapi rasanya capek."

 

"Oke kalau begitu, ayo kita semua pergi karaoke!"

 

Entah kenapa Uta mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi ke langit sambil mengumumkan hal itu dengan wajah ceria. Sepertinya karena ujian sudah selesai, semangatnya jadi berkali-kali lipat lebih tinggi dari biasanya, suaranya pun terdengar penuh energi.

 

"Boleh juga. Aku ingin ikut."

 

Waktu zaman kuliah dulu aku pernah ketagihan pergi karaoke sendiri sampai sering ke sana, tapi aku belum pernah pergi bareng teman. Aku jadi sedikit bersemangat. Aku benar-benar ingin mencoba pergi karaoke bersama semuanya.

 

"Kalau begitu, aku juga ikut deh."

 

Reita mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Hoshimiya dan Nanase.

 

"Oke—! Aku juga ikut!"

 

"......Kamu yakin? Hikari, bukannya kamu itu buta nada ya?"

 

"Berisiiik! Orang buta nada pun punya hak buat nyanyi tahu! Aku kan suka menyanyi!"

 

"Eh, benarkah?"

 

"Maksudnya bukan nama 'Uta'-chan! Eh, aku juga suka Uta-chan sih, tapi jadi membingungkan!"

 

Mungkin meski Uta tahu, dia sengaja melucu, dia tertawa terbahak-bahak.

 

"......Ngomong-ngomong Hoshimiya, sampai menyanyi pun kamu buta nada ya."

 

"Tunggu! Jangan bilang 'sampai' dong! Aku kan jadi kepikiran!"


Hoshimiya menggembungkan pipinya. Hmm, imutnya.

 

Begitu kelima orang sudah mengangguk setuju, pandangan semuanya kini tertuju pada Tatsuya. Uta berlari kecil mendekati Tatsuya, lalu mendongak menatap Tatsuya yang tinggi dari bawah.

 

"Tatsu, ayo ikut bareng? Daripada murung sendirian, lebih seru kalau kita nyanyi buat buang stres!"

 

"......Yah, mungkin benar juga."

 

Tatsuya tertawa kecut, dan sepertinya dia memutuskan untuk ikut.

 

Memang benar kalau dia terlihat agak kurang bersemangat, tapi tidak sampai bisa dibilang sangat aneh juga. Penyebabnya pun sudah jelas karena ujian. Untuk saat ini, lebih baik biarkan waktu saja yang bekerja. Tergantung orangnya sih, tapi kalau dalam kasusku, aku adalah tipe yang lebih suka dibiarkan sendiri saat sedang terpuruk.

 

Senang sih kalau ada yang khawatir, tapi kalau sampai terlalu dicampuri rasanya jadi risih. Jadi, aku harus berusaha untuk tidak melakukan hal yang tidak kusukai kepada orang lain.

 

Yah, walau dulu aku memang tidak punya teman yang bakal memedulikanku sih...

 

 

——Begitulah, akhirnya kami sekarang sedang bernyanyi di tempat karaoke depan stasiun. Mungkin karena ujian sudah berakhir, semuanya sedang dalam suasana hati yang sangat bersemangat. Bahkan Nanase pun ikut terbawa suasana. Malahan, dia menyanyikan lagu idola yang sedang tren lengkap dengan koreografinya.

 

O, oo—...


Hebat ya... Simpelnya, dia keren banget.

 

Yah, walau setelah selesai menyanyi dia terlihat malu-malu sih.

 

Ternyata Nanase suka idola ya. Kedengarannya mengejutkan... tapi tidak juga sih.

 

Wah, Yuino-chan memang hebat! Selanjutnya giliranku!

 

Hoshimiya berdiri dengan gagah.

 

Begitu Hoshimiya memegang mikrofon, dia benar-benar terlihat seperti idola sungguhan. Wajahnya sangat cocok jadi idola, dan aku merasa ada aura berkilauan yang terpancar darinya. Tidak, ini pasti cuma halusinasiku saja.

 

 

Aku tertawa kecut mendengar nada yang sulit dideskripsikan keluar dari suara imut Hoshimiya. Yah, asalkan dia terlihat senang, tidak masalah sih. Lagipula, kami tidak sedang lomba menyanyi. Meski begitu, aku ingin dianggap hebat kalau memang harus menyanyi. Aku ingin pamer di depan Hoshimiya.

 

Kalau begitu, selanjutnya aku—

 

Semuanya memasukkan lagu populer secara acak dan menyanyikannya sesuai giliran. Tergantung lagunya, terkadang ada yang berduet, tapi urutannya tidak berubah karena fokusnya tetap pada orang yang memilih lagu.

 

Awalnya aku tidak menyanyi, aku cuma mengamati sambil pura-pura bingung memilih lagu.

 

...Begitu ya. Jadi ini aturan main karaoke grup. Padahal tidak ada yang

mendiskusikannya, tapi alurnya mengalir begitu saja secara alami. Mungkin ini sudah jadi pengetahuan umum bagi mereka.

 

Tingkat kemahiran menyanyi mereka kira-kira urutannya: Uta, Nanase, Reita, Tatsuya, baru Hoshimiya. Selain Hoshimiya, yang lain tergolong mahir, tapi tidak sampai membuat tercengang. Kalau dikasih skor, mungkin antara 80 sampai 90 poin.

 

Aku jadi tahu detail begini gara-gara dulu di hitokara cuma kerjaan menatap layar skor saja. Awalnya aku diam-diam merasa ciut karena mengira anak-anak populer kalau karaoke pasti levelnya pro, tapi ternyata tidak juga. Kalau begini, aku tidak akan ditertawakan saat menyanyi nanti.

 

Masalah utamanya adalah pemilihan lagu. Bukan cuma karena aku tidak mendengar lagu tren terbaru, tapi bagiku semua lagu ini adalah lagu dari tujuh tahun lalu, jadi seleraku pasti bakal terlihat kuno.

 

Akhirnya, belakangan ini aku terus mendengarkan band J-Rock favoritku. Sebenarnya itu band yang agak minoritas, tapi lagu rock yang dinyanyikan Uta di awal tadi juga tidak bisa dibilang sangat populer. Jadi kurasa tidak masalah... mungkin. Aku pun bimbang menatap layar pilihan lagu di Denmoku.

 

Aku tidak merasa mereka tipe orang yang bakal langsung ilfeel cuma gara-gara tidak tahu lagunya. Tapi, karena ini lagu pertamaku, aku ingin berhati-hati... namun giliranku sudah tiba. Karena Tatsuya yang gilirannya sebelumku sudah selesai menyanyi, aku buru-buru memasukkan lagu.

 

Ahaha, Natsu lama banget masukin lagunya!

 

Iya nih, tadi sempat bingung mau nyanyi apa...

 

Begitulah, aku menjadi orang terakhir di putaran pertama.


Melihat judul lagu yang muncul di monitor, mata Uta membelalak.

 

Eh, lagu [Alexandros]!? Selera kita cocok banget ya, Natsu!

 

Ternyata selera musikku memang cocok dengan Uta. Wah, begitu aku berdiri, tatapan semua orang langsung menusuk.

 

Aku juga suka lagu ini, boleh aku ikut nyanyi bareng?

 

Uta bertanya sambil mengambil mikrofon kedua. Sepertinya dia tipe yang sama sekali tidak terpikir bakal ditolak ya, pikirku dalam hati sambil tertawa kecut.

 

Oh, boleh banget. Aku juga gugup kalau sendirian.

 

Malahan, aku ingin dia ikut menyanyi. Bagi seorang introvert, ditatap lima orang itu berat sekali. Apalagi aku belum pernah menyanyi di depan orang lain, jadi aku sangat tegang. Kalau perhatian mereka terbagi, aku sangat terbantu.

 

Ahaha, kamu pemula di karaoke ya!

 

Sebenarnya aku merasa sudah ahli, tapi memang benar aku pemula dalam karaoke grup.

 

Jangan-jangan, kamu nggak percaya diri sama suaramu?

 

Aku menjawab ambigu "Entahlah" kepada Uta yang sedang menyeringai jahil.

 

...Gimana ya. Kalau percaya pada fitur skor karaoke sih, aku merasa suaraku tidak buruk. Tapi di internet kan sering tertulis kalau skor tidak ada hubungannya dengan kemantapan suara.

 

Saat sedang memikirkan itu, lagunya dimulai.


Pikiranku sempat kosong saking tegangnya.

 

——Pokoknya, aku menyanyi sekuat tenaga.

 

 

Begitu lagu berakhir dan aku menghela napas, entah kenapa suasana ruangan malah hening seketika. Jangan-jangan aku melakukan kesalahan fatal? Aku tidak tahu alasannya, tapi tidak salah lagi kalau aku baru saja membuat suasana jadi beku. Apalagi di tengah lagu tadi Uta mendadak berhenti menyanyi dan duduk. Kenapa ya?

 

Tepat saat aku hendak membungkuk untuk minta maaf.

 

He... hebat banget! Natsu, kamu jago banget!

 

Eh?

 

Tadi aku sampai duduk karena takut malah mengganggumu!

 

I-iya, padahal aku inginnya kamu jangan berhenti! Aku kan gugup!

 

Gugup dengan suara sebagus itu sih, rasanya malah kayak lagi nyindir tahu.

 

Reita tertawa kecut.

 

Iya lho, tadi bagus banget. Aku sampai terhanyut dalam sisa nadanya.

 

Hoshimiya tersenyum dengan wajah puas.

 

...Bisa di-stan nih, gumam Nanase si pencinta idola dengan kalimat yang sedikit mencurigakan. Jangan-jangan dia suka idola pria juga?

 

Apapun itu, karena aku nge-fansi Nanase, aku ingin dia berhenti. Aku tidak mau kami malah saling nge-fans.

 

Kamu ini, padahal laki-laki tapi kok bisa ngeluarin suara tinggi begitu...

 

Tatsuya menatapku dengan tatapan benar-benar terkejut.

 

Yah, aku memang berlatih mati-matian teknik falsetto dan mixed voice. Aku teringat hari-hari di mana aku pergi ke hitokara untuk melatih suara perut, merekamnya, lalu memperbaikinya berulang kali meski tidak ada yang mendengarnya.

 

Etto, yah, kalau segini sih...

 

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi jawabanku agak canggung. Sepertinya suasana beku tadi bukan karena suaraku terlalu buruk.

 

Yah, sebenarnya aku pun merasa suaraku tidak seburuk itu sih, tapi karena suasananya mendadak hening, aku sempat mempertimbangkan kemungkinan kalau seleraku benar-benar berbeda jauh dari orang normal. Jangan bikin panik dong.

 

Jadi mereka cuma terkejut karena suaraku tak terduga cukup bagus ya. Syukurlah, aku menghela napas lega. Tadi aku tegang sekali.

 

Hei Natsu! Aku mau dengar lagu Natsu lagi! Yang ini bisa nggak!?

 

Uta mendekatkan tubuhnya untuk menunjukkan layar Denmoku padaku. Judul lagu yang muncul di layar itu adalah lagu populer dari band yang juga kusukai.

 

Ooh, boleh juga. Uta juga nyanyi bareng ya... eh, kok barusan terdengar kayak main plesetan kata ya?

 

Berisik! Lagian, boleh nih? Aku nggak sejago itu, apa nggak mengganggu?

 

Mana mungkinlah. Lebih seru kalau kita nyanyi bareng-bareng, kan? Biar makin ramai.




Itu adalah kejujuran yang murni dari lubuk hatiku. Daripada menyanyi sendirian, jauh lebih menyenangkan jika menyanyi bersama-sama. Mungkin karena ini pertama kalinya aku karaoke dalam grup, jadi rasanya sangat segar.

 

Ja-jadi... kalau lagu ini, atau yang ini, bisa nggak?

 

Uta menunjukkan layar Denmoku yang berisi daftar lagu band rock yang tidak bisa dibilang sangat populer. Aku sendiri sering mendengarnya, tapi sepertinya Hoshimiya dan yang lainnya tidak akan tahu.

 

Ternyata selera kita emang cocok banget ya, Uta.

 

Kan! Iya banget! Padahal kita jarang ngobrol soal musik ya! Aku seneng banget bisa punya teman yang bisa diajak ngobrol soal rock! Iyeaaay!

 

Uta yang semangatnya sedang berada di puncak menyenggol bahuku dengan bahunya. Wanginya harum sekali, dan aku jadi salah fokus karena sensasi sentuhan khas seorang gadis, jadi aku ingin dia berhenti. Aku selalu memikirkan hal ini setiap kali dia melakukan kontak fisik...

 

Tapi bagaimanapun, aku merasakan hal yang sama dengan Uta. Bisa membicarakan musik yang disukai bersama teman itu murni menyenangkan.

 

O-oke, ayo kita nyanyikan semuanya!

 

...Heeh!

 

Karena merasa sangat antusias, aku tersenyum ke arah Uta, dan dia pun mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya.

 

 

Setelah itu, setiap kali giliranku dan Uta tiba, kami berduet dan menyanyi dengan penuh semangat. Meskipun lagu-lagunya mungkin asing bagi yang lain, aku senang karena mereka tetap mencoba menyesuaikan suasana.

 

Berkat reaksi mereka juga, perlahan-lahan aku mulai percaya diri dengan kemampuan bernyanyiku. Sepertinya itu bukan sekadar basa-basi, aku benar-benar boleh merasa kalau suaraku bagus.

 

Yah, lagipula aku sudah latihan sekeras itu...

 

Dalam penilaian skor karaoke, aku pernah mencetak angka 97. Ternyata, skor penilaian itu tak disangka cukup bisa dipercaya ya.

 

Aku juga merasa jarakku dengan Uta semakin dekat. Bisa menjadi lebih akrab dengan teman daripada sebelumnya adalah hal yang membahagiakan.

 

——Menyenangkan sekali. Ah, benar-benar menyenangkan.

 

Aku benar-benar merasakan kalau inilah "masa remaja pelangi" yang selama ini kuidamkan. Memiliki lima orang teman baik, dan di antara mereka ada gadis yang kusukai. Mereka mau bermain bersamaku, tersenyum padaku. Mereka menyukaiku.

 

Hari-hari yang terasa seperti mimpi. Inilah hari-hari yang kunantikan. Inilah hari-hari yang kudambakan. Karena itulah, pada hari itu, aku memohon kepada Tuhan. Aku ingin mengulang masa remajaku yang berwarna abu-abu dan menulisnya ulang menjadi pelangi. Dan semuanya berjalan dengan sangat baik.

 

Aku benar-benar merasakan apa yang disebut dengan "berjalan mulus tanpa hambatan."


Tentu saja, aku tidak selalu bisa bersikap sempurna. Tapi aku sudah berusaha merapikan penampilan, mengatasi obesitas dengan berlari, melatih kemampuan fisik dengan latihan otot, berlatih ekspresi wajah seperti tersenyum, mempelajari fesyen masa kini, melakukan trial and error agar bisa membaur dalam percakapan, dan mengulang pelajaran dengan benar agar bisa mengajari orang lain—begitulah cara aku bisa berdiri di sini sekarang.

 

Aku merasa sudah melakukan upaya yang luar biasa. Karena itulah, aku bisa menerima kebahagiaan ini sekarang. Aku yakin kalau "Proyek Masa Remaja Pelangi" milik si bocah abu-abu ini sedang berjalan dengan sempurna.

 

Tepat pada saat itulah.

 

——Maaf ya, teman-teman. Aku... sepertinya mau pulang duluan saja.

 

Kata-kata itu terlontar secara tiba-tiba.

 

Tepat saat lagu aku dan Uta berakhir. Seolah menembus celah keheningan yang singkat, nada suara yang kaku itu menyayat atmosfer yang penuh kebahagiaan. Sumber suara itu adalah Tatsuya. Suasana di ruangan itu membeku.

 

Sebenarnya, ada apa?

 

Saat aku menatap wajah Tatsuya, dia memasang senyuman yang terlihat dipaksakan.

 

...Selamat bersenang-senang ya.

 

Hanya itu yang dikatakannya sebelum dia keluar dari ruangan karaoke. Tidak ada waktu bagi kami untuk menghentikannya. Keheningan menyelimuti, dan kami semua saling berpandangan. Sebenarnya sekarang adalah giliran Hoshimiya untuk menyanyi, tapi sepertinya suasananya sedang tidak mendukung, jadi dia meletakkan mikrofonnya. Meski begitu, lagunya tetap berjalan, sehingga melodi ceria yang terasa salah tempat itu mengalun hampa di udara.

 

...Tatsu kenapa ya?

 

Uta bergumam dengan nada khawatir. Hoshimiya juga menunjukkan wajah serius.

 

Hmm, nggak biasanya... maksudku, belakangan ini dia memang terlihat agak murung sih.

 

Hal itu juga membuatku kepikiran. Atau lebih tepatnya, mungkin semua orang di sini juga memikirkan hal yang sama.

 

Tadinya kupikir itu karena ujian, tapi apa memang benar begitu? Apakah Tatsuya yang biasanya cuek itu akan sehebat itu merasa terpuruk hanya karena gagal dalam ujian?

 

Tapi tidak ada faktor lain yang terlintas di pikiran. Kalau begitu, tidak ada pilihan lain selain bertanya langsung padanya.

 

——Aku akan menyusulnya.

 

Aku bergumam lalu berdiri.

 

Tatsuya adalah temanku. Aku sudah memutuskan untuk berteman dengannya. Jika dia sedang memikirkan sesuatu, aku ingin membantunya.

 

Tunggu sebentar, Natsuki...

 

Dengan wajah tegang, Reita meletakkan tangannya di bahuku. Langkahku yang hendak keluar dari ruangan itu terhenti.


Reita?

 

............Enggak, maaf. Mungkin itu cara yang paling cepat ya.

 

Gumamannya terasa agak tidak jelas maksudnya.

 

Pokoknya, sepertinya dia tidak benar-benar berniat menghentikanku. Kalau begitu aku harus bergegas. Aku tidak akan bisa mengejarnya kalau dia sudah telanjur naik sepeda.

 

 

——Tatsuya!

 

Aku berhasil menyusul Tatsuya tepat di depan tempat parkir sepeda.


Mendengar suaraku, Tatsuya berbalik perlahan.

 

Sinar matahari senja menyinarinya dari belakang, menyembunyikan ekspresi wajahnya dalam bayangan dan membuat bayangannya memanjang di tanah.

 

......Natsuki. Ada apa?

 

Apa maksudmu 'ada apa'. Kamu kelihatan aneh, jadi aku khawatir dan—

 

—Aku nggak apa-apa. Serius, nggak usah dipikirin.

 

Tatsuya memotong ucapanku. Meski cara bicaranya seperti biasa, nada suaranya terdengar datar. Aku tidak bisa membaca emosi yang ada di sana.

 

Apa jangan-jangan, kamu marah?

 

......Nggak marah kok. Emangnya ada alasan yang bikin aku harus marah sama kamu?

 

......Nggak ada sih. Tapi karena kelihatannya begitu, makanya aku tanya.

 

Suasana terasa mencekam.

 

Seolah-olah satu kesalahan kata saja bisa berakibat fatal. Pertukaran kata-kata yang terasa dingin. Ekspresi dan nada suara yang sulit dibaca. Namun, bahkan aku pun tahu kalau dia sedang menahan kekesalan. Karena dia tidak bisa menyembunyikan gejolak emosi di matanya.

 

Natsuki. Maaf, tapi hari ini jangan ganggu aku dulu.

 

Firasat buruk menyergapku.

 

Aku ingat betul suasana seperti ini dengan Tatsuya. Itu terjadi pada "hari itu" di kehidupanku yang sebelumnya. Saat kegagalan masa remajaku ditodongkan tepat di depan mataku.

 

Dengar Natsuki. Maaf ya, aku nggak bisa belain kamu lagi. Dan yang terpenting—aku muak sama kamu.

 

Rasanya sama persis dengan saat itu. Karena itulah, aku jadi takut jika harus berpisah dengan Tatsuya sekarang. Meski logikaku bilang ini saatnya untuk mundur, aku malah melangkah lebih dekat.

 

Tatsuya. Kalau ada yang sedang kamu pikirkan, aku—

 

Berisik! Kan sudah kubilang, biarkan aku sendiri!

 

Saat aku mendekat, ekspresi Tatsuya yang tadinya tertutup bayangan kini terlihat jelas.


Tatsuya benar-benar sedang melotot ke arahku. Dia mengarahkan emosi gelapnya kepadaku.

 

Ada saatnya aku merasa diriku sendiri sangat payah sampai-sampai aku ingin sendirian!

 

Aku tidak bisa mencerna makna kata-katanya. Langkahku yang hendak mendekati Tatsuya terhenti seketika.

 

Tatsuya... merasa payah? Dia berpikir begitu tentang dirinya sendiri? Tatsuya yang selalu terlihat percaya diri dan tertawa lantang sebagai sosok power-type yang populer itu?

 

Ini terlalu melenceng dari citranya, aku tidak bisa percaya begitu saja meski dia yang mengatakannya. Namun, dia tidak terlihat sedang berbohong. Ini bukan situasi untuk bercanda. Melihat wajahku yang mengernyit penuh kebingungan, Tatsuya mendengus.

 

Yah, buat orang yang sempurna sepertimu, mana mungkin paham......

 

Kali ini benar-benar... aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

 

Hah......?

 

Tidak mungkin dia bicara soal aku. Tidak ada satu pun hal yang sempurna dalam diriku. Kata-kata itu lebih cocok ditujukan untuk Reita, bukan aku. Tapi Reita tidak ada di sini.

 

Apa dia tiba-tiba mulai membicarakan Reita?

 

Meski tidak paham apa-apa, aku mencoba bertanya.

 

......Maksudmu Reita?

 

Kamu...... serius ngomong begitu?


Tatsuya menyipitkan mata menatapku.

 

Maksudnya gimana......?

 

Tapi sungguh, aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksud. Saat aku masih dalam kebingungan, Tatsuya membelakangiku.

 

......Bukan soal Reita. Dia memang bisa melakukan banyak hal dengan cekatan, tapi dia sama sekali tidak sempurna. Aku teman masa kecilnya, jadi aku tahu betul kekurangannya.

 

Sambil bicara begitu, dia membuka kunci sepedanya.

 

Bukan soal Reita......?

 

......Kalau begitu, maksudmu aku? Kamu benar-benar menganggapku orang yang sempurna?

 

Emangnya bukan, Natsuki? Setidaknya, di mataku kelihatannya begitu.

 

——Ingin rasanya aku tertawa dan mengejeknya betapa konyol pemikiran itu. Namun, sorot mata Tatsuya terlalu serius sehingga aku tidak sanggup melakukannya.

 

Kami saling bertatapan untuk beberapa saat. Tatsuya menghela napas panjang lalu meletakkan tangannya di bahuku.

 

......Maaf, Natsuki. Jangan dipikirin. Ini bukan salahmu.

 

Setelah berkata begitu, Tatsuya naik ke sepedanya dan pergi. Punggungnya terlihat sangat kecil.

 

Saat aku masih berdiri terpaku di sana, terdengar suara langkah kaki mendekat dari belakang.


......Maaf, Natsuki. Aku sudah menduga hal seperti ini mungkin akan terjadi.

 

Aku menoleh dengan wajah linglung, dan melihat Reita menatapku dengan ekspresi serius.

 

Menduga hal seperti ini akan terjadi......? Memangnya kenapa? Apa maksudnya ini semua?

 

Sampai di titik ini pun, aku masih tidak mengerti apa-apa. Satu-satunya yang kupahami hanyalah bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan.

 

——Kondisinya benar-benar sama persis dengan yang sebelumnya.

 

Tatsuya itu, sebenarnya iri padamu lho.

 

Hah......?

 

Menyusul Tatsuya, Reita pun mulai mengeluarkan kata-kata yang tidak masuk akal. Bahkan rasanya lebih masuk akal jika tiba-tiba semua orang muncul membawa papan bertuliskan "Prank Sukses". Rasa iri adalah sesuatu yang aku rasakan terhadap orang lain, bukan sesuatu yang orang lain rasakan terhadapku. Begitulah pikirku selama ini.

 

Iri padaku? Apanya yang bikin iri dari orang seperti aku?

 

Alasan kenapa kamu sangat peka terhadap perasaan orang lain yang ditujukan padamu adalah karena rasa kurang percaya dirimu yang tidak normal itu ya. Kemampuanmu dan rasa percaya dirimu benar-benar tidak seimbang...... itulah kenapa jadi tidak selaras, dan itu membuatku sedikit khawatir.

 

Memang benar aku kurang peka terhadap perasaan orang lain.


Kegagalan sebelumnya pun pada akhirnya disebabkan oleh hal itu. Aku menjadi sombong, lupa diri, dan tidak menyadari kalau aku mulai dianggap mengganggu dan mulai dibenci. Itu adalah rasa percaya diri berlebih yang tidak berdasar.

 

Makanya, ini aneh. Apa yang dikatakan Reita benar-benar berkebalikan dengan kegagalanku yang sebelumnya.

 

Kurang percaya diri......? Sebaliknya, aku ini orang yang sangat percaya diri lho. Aku adalah orang yang sangat sombong melebihi siapa pun.

 

Sebab, gara-gara itulah aku gagal. Setidaknya aku yakin soal itu.

 

Begitu ya...... sepertinya aku mulai sedikit paham dengan situasimu.

 

Reita menatapku dengan mata yang seolah bisa menembus isi hatiku.

 

Memang benar setelah kegagalan masa remaja sebelumnya, aku kehilangan kepercayaan diri, harapan, ekspektasi, dan segalanya. Namun sekarang, setelah mengulang masa remaja, perlahan-lahan aku mulai mendapatkan kembali kepercayaan diri itu. Hanya saja, belajar dari kegagalan sebelumnya, aku sudah berusaha menahan diri, tetap rendah hati, dan hidup dengan penuh kehati-hatian.

 

——Apakah Reita ingin mengatakan kalau hal itu justru sebuah kesalahan?

 

Aku ingin kamu jangan salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkanmu, Natsuki. Justru sebaliknya, kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.......Benar, tidak ada satu pun hal yang terjadi karena kesalahanmu.

 

Kalau begitu, aku harus bagaimana? Meski tidak sampai di level sempurna, aku merasa sudah menunjukkan sikap yang terbaik.


——Mungkinkah, justru itu masalahnya?

 

Awalnya mungkin soal basket. Kamu menang di bidang basket, yang merupakan identitas diri Tatsuya. Tentu saja itu murni karena kemampuanmu sendiri. Itu hal yang patut dibanggakan, dan bukan hal yang buruk sama sekali.

 

Reita bercerita. Dia mengarahkan pandangan matanya yang pernah dia bilang "bisa melihat orang lain terlalu jelas" itu ke arahku secara datar.

 

Selain itu juga...... saat kamu menyajikan masakan di tempat kerja sambilan, saat kamu mengajari pelajaran, bahkan saat kamu bernyanyi di karaoke tadi, kamu terlihat sempurna—dan Uta menatapmu dengan mata yang berbinar-binar karena itu.

 

Kenapa...... kenapa nama Uta tiba-tiba muncul di sini?

 

Itu hal yang sangat sederhana. Karena Tatsuya sangat menyukai Uta.

 

Reita mengatakannya dengan enteng. Nada bicaranya seolah sedang membicarakan sebuah premis yang sudah sewajarnya diketahui.

 

Aku sudah tahu dari awal, tapi kurasa Hoshimiya-san dan Nanase-san juga sudah menyadarinya.

 

Reita tertawa kecut, katanya itu karena Tatsuya orangnya mudah dibaca. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Karena, mereka kan selalu saja bertengkar mulut.

 

Waktu aku tanya tempo hari, dia bilang tidak punya orang yang disukai......

 

Yah, dia pasti bakal bilang begitu secara lisan. Apalagi di depanmu, Tatsuya itu tipe yang suka gengsi.

 

Aku terpaku. Aku tidak bisa percaya. Meski sulit dipercaya, jika aku mengesampingkan perasaanku dan mencocokkan kata-kata Reita secara objektif dengan situasi yang ada, rasanya semuanya memang selaras dengan ucapan Tatsuya tadi.

 

......Kenapa harus begini. Kenapa...... bagiku, Tatsuya adalah sosok yang kukagumi. Aku ingin menjadi orang yang ceria dan terlihat menyenangkan seperti dia, aku ingin berteman dengan orang seperti itu, aku ingin menghabiskan hari-hari yang menyenangkan bersamanya, karena itulah aku...... tapi kenapa, kenapa dia harus iri pada orang seperti aku.

 

Mendengar aku menumpahkan emosi yang tak bisa terlukiskan dengan kata-kata itu, Reita membelalakkan matanya karena terkejut.

 

......Begitu ya, ternyata memang begitu. Pokoknya, jangan terpuruk. Pasti waktu yang akan menyelesaikannya.

 

Kemudian Reita meletakkan tangannya di bahuku, lalu memasang senyum yang seolah berusaha menenangkanku.

 

Yang salah itu Tatsuya. Kamu tidak salah apa-apa. Dengar ya, kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.

 

——Kalau begitu, mungkin akulah yang memang bersalah.

 

Dulu maupun sekarang, aku tetap saja terlalu tidak peka terhadap perasaan orang lain. Hanya bagian itu yang tidak pernah berubah.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !