Chapter
4
Jika Kau Mendukungku
Sejak
hari berikutnya, Tatsuya berhenti mengajakku bicara. Lebih tepatnya, Tatsuya
menjadi penyendiri. Dia tidak lagi berbaur dengan kami dan memilih untuk
mengisolasi diri.
Di
pagi hari, saat mata kami tak sengaja bertemu, dia langsung membuang muka.
Bahkan salam pun tidak ada. Tanganku yang baru saja hendak terangkat kehilangan
tujuannya dan menggantung hampa di udara. Reaksi Tatsuya itu sama persis dengan
kejadian di masa lalu.
Saat
Uta atau Hoshimiya mengajaknya bicara, dia memang menanggapi, tapi dia tidak
berusaha untuk menyambung percakapan. Aku kebingungan harus berbuat apa dan
memilih untuk memercayai saran Reita bahwa waktu yang akan menyelesaikan
segalanya.
"Kenapa
ya dia begitu..."
Tentu
saja, suasana di antara kami juga menjadi suram. Para gadis tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi. Mereka hanya terlihat bingung dan khawatir.
Namun,
Reita tidak berniat menceritakan apa pun. Karena itu, aku pun tidak bisa
mengatakan apa-apa. Mengingat ini berkaitan dengan orang yang disukai Tatsuya,
aku benar-benar terkunci.
"...Ah.
Pelajaran berikutnya mau dimulai."
Meski
hanya kehilangan satu orang, suasananya terasa begitu kelam. Aku baru menyadari
bahwa mood maker di grup ini bukan hanya Uta, tapi Tatsuya juga
mengemban peran itu.
Udaranya
terasa berat. Aku tidak bisa merasa senang sedikit pun.
Bahkan
saat semua orang mengobrol biasa, entah kenapa terasa ada kecanggungan yang
mengganjal.
——Aku
tidak akan pernah sudi mengatakan kalau hal seperti inilah masa remaja yang
kuidamkan.
*
Tatsuya
makan siang sendirian, dan begitu jam pulang sekolah tiba, dia langsung
menghilang ke klubnya.
Kami
pun entah bagaimana menjadi tercerai-berai. Hoshimiya dan Nanase pergi berdua,
sedangkan Uta yang punya banyak teman di kelas asyik mengobrol dengan berbagai
orang. Aku dan Reita hanya bisa memperhatikan Tatsuya dari jauh.
Hari-hari
seperti itu terus berlanjut hingga akhir pekan.
Hari-hari
yang membosankan. Dunia yang tadinya berwarna pelangi, kini terasa mulai
memudar. Pemandangan yang sudah tidak asing lagi mulai kembali. Masa remaja
abu-abu seolah sedang memanggilku pulang.
"—Hebat
banget ya, Natsu."
Melihat
nama-nama peraih nilai tertinggi ujian tengah semester yang ditempel di
koridor, Uta tersenyum padaku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat
senyum itu. Suara Uta tidak terdengar ceria, seolah dia sedang memaksakan diri.
"...Ah,
iya, terima kasih."
Aku
berhasil meraih peringkat ke-1 satu angkatan. Selisih nilaiku dengan peringkat
kedua sangat jauh. Lalu Nanase di peringkat ke-3, Reita di peringkat 11, dan
Hoshimiya di peringkat 49—dia nyaris masuk ke daftar peringkat atas. Jika
diperhatikan baik-baik, Miori juga berada di posisi ke-8. Tentu saja, nama Uta
dan Tatsuya tidak ada di sana.
"Uta
sendiri bagaimana?"
"Ehehe,
kalau aku, berkat Natsu, aku berhasil dapat peringkat 110!"
Uta
membusungkan dadanya. Mengingat total murid dalam satu angkatan adalah 240
orang, itu sudah di atas rata-rata. Jika mengingat kondisi awalnya yang kacau,
ini adalah pencapaian yang memuaskan. Setidaknya, dia lebih pintar daripada aku
yang dulu.
"Hei,
orang itu kan..."
"Wah,
wajahnya benar-benar tipeku..."
"Sudah
pintar pula ya..."
Mungkin
karena hasil ujian itu. Saat aku berdiri di koridor, aku merasakan beberapa
pasang mata memperhatikanku. Jika aku tidak terlalu percaya diri, sorot mata
itu mengandung rasa iri dan kekaguman. Terutama dari para siswi.
Bagi
aku yang sedang mengulang hidup, wajar saja jika bisa mengerjakan ujian semacam
ini, tapi bagi orang-orang di sekitar yang tidak tahu apa-apa, ini bukanlah hal
yang biasa.
——Orang
yang sempurna, ya?
Bagaimanapun
aku memikirkannya, kurasa julukan itu tidak pantas untukku. Lagipula, kalau aku
benar-benar sempurna, aku tidak akan melakukan kesalahan seperti ini. Aku tidak
akan menyesal dan berpikir "seharusnya tidak begini". Aku tidak akan
memendam keinginan untuk mengulang masa remajaku.
"...Hei,
Natsu. Hari Sabtu nanti, ayo kita semua main bareng. Siang hari aku luang
kok."
Uta
menarik ujung lenganku. Aku sempat tergoda dengan ajakan itu.
Sebab
sekarang aku sudah paham. Uta kemungkinan besar memiliki perasaan padaku. Itulah
penyebab utama Tatsuya iri padaku.
Tapi,
aku tidak bisa berbuat apa-apa soal itu. Namun, karena ini masalah perasaan,
Tatsuya pun pasti tidak bisa mengendalikannya. Karena itulah dia menjauh.
Kalau
begitu, itu masalah Tatsuya. Aku tidak perlu memikirkannya. Aku cukup bermain
bersama yang lain di hari libur untuk menyegarkan pikiran, masuk sekolah lagi
minggu depan, perlahan memperbaiki kecanggungan ini, dan kembali
bersenang-senang dengan yang lain. Meskipun tanpa Tatsuya.
Manusia
pasti akan terbiasa dengan lingkungan yang berubah. Dan Uta sedang menawarkanku
langkah pertama menuju ke sana.
"...Maaf,
Uta. Minggu ini aku ingin sendirian dulu."
Meski
tahu konsekuensinya, aku menggelengkan kepala. Aku tidak bisa menerima masa
depan yang seperti itu.
Memang
benar, meski aku gagal kali ini, mungkin aku sudah mendapatkan masa remaja yang
lebih baik daripada yang sebelumnya. Tapi, kegagalan ini fatal bagiku. Aku
tidak bisa menerimanya; ini adalah keruntuhan rencanaku.
Sebab,
alasanku kembali ke masa ini adalah untuk menjadi teman bagi Tatsuya.
*
Aku
pulang sendirian.
Hari
ini adalah hari di mana Hoshimiya juga pulang sendiri, tapi aku tidak
menyapanya. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun.
Setelah
cukup lama terguncang di dalam kereta, aku turun di stasiun terdekat dari
rumahku, dan ternyata hujan sedang turun.
Rintik
hujan yang tenang itu perlahan-lahan berubah menjadi hujan deras yang mengguyur
bumi. Seingatku, ramalan cuaca pagi tadi tidak mengatakan akan turun hujan. Aku
tidak membawa payung. Terpaksa, aku mulai berjalan menerjang hujan deras itu.
Tak butuh waktu lama sampai seluruh tubuhku basah kuyup.
Dari
stasiun terdekat ke rumah, aku harus berjalan kaki selama lima menit. Dengan
pakaian yang basah kuyup dan berat, aku terus melangkah gontai. Penampilan ini
sangat cocok dengan diriku yang sekarang.
"......Mengulang
masa remaja, ya?"
Benar-benar
lelucon yang konyol. Gara-gara belajar dari kegagalan sebelumnya dan berusaha
terlalu hati-hati, kali ini aku malah gagal karena dianggap terlalu sempurna.
Apakah bagi si bocah abu-abu, memang hanya dunia abu-abu yang menantinya?
Aku
menghentikan langkah. Menengadah menatap langit yang gelap. Air hujan menghujam
tubuhku.
"Aku
harus bagaimana......?"
Aku
tidak menemukan jawabannya. Apa pun yang kulakukan sekarang, rasanya aku sudah
berada di jalan buntu.
"Kalau
ujung-ujungnya bakal jadi begini......"
Seharusnya
aku tidak usah mengulanginya saja, gumamku. Atau kalaupun mengulanginya,
seharusnya aku tetap berjalan di jalur abu-abu seperti biasanya. Karena setiap
orang punya posisi yang sebanding dengan dirinya sendiri.
"—Ada
apa? Wahai si jenius peringkat satu angkatan?"
Terdengar
suara tepat dari belakangku. Tiba-tiba hujan berhenti. Bukan, bukan benar-benar
berhenti. Tapi, tubuhku tiba-tiba tidak lagi dihujam tetesan air. Saat aku
mendongak, sebuah payung telah terkembang di atasku.
"Kalau
terjadi sesuatu, sebagai teman masa kecil, aku bersedia kok mendengarkan
ceritamu."
Saat
aku menoleh, Miori ada di sana. Aku menertawakan diriku sendiri; betapa tidak
pekanya aku terhadap sekitar sampai-sampai tidak menyadari ada orang sedekat
ini di tengah hujan deras.
Miori
berdiri sangat dekat sampai bahu kami bersentuhan, tanpa sadar kami sudah
berada di bawah payung yang sama.
"......Sudahlah.
Aku sudah basah kuyup begini, percuma saja pakai payung sekarang."
"Ahaha,
benar juga ya—. Oke, aku lepas deh. Lagi galau tapi masih bisa ngeluarin
argumen logis yang aneh, lucu juga."
Miori
menjauh dariku dengan santai. Hujan kembali menghujam tubuhku.
"Ah,
tapi biar aku bawakan tasmu saja gimana? Kalau sampai makin basah, buku cetak
dan catatannya bisa gawat kan. Aku kan baik hati—."
Miori
bertanya begitu sambil langsung merampas tas dari tanganku tanpa menunggu
jawaban. Karena tidak ada celah untuk menolak, kurasa itu bukan lagi sebuah
pertanyaan.
"—Jadi,
ada masalah apa?"
Sambil
memutar-mutar payungnya, Miori bertanya dengan wajah tersenyum. Aku merasa
sedikit kesal dengan caranya yang lancang mencampuri urusanku tanpa basa-basi.
"Bukan
urusanmu, kan."
"Urusanku
banget tahu. Kan aku ini rekan kerja samamu dalam Proyek Masa Remaja
Pelangi?"
Ah,
benar juga, kami pernah membicarakan itu.
Sebagai
imbalan aku membantunya mendekati Reita, dia akan membantuku dengan rencanaku. Dan
memang benar, hari itu Miori sudah memberiku peringatan.
『—Di mataku,
sepertinya sedang terjadi masalah dalam rencanamu itu.』
Waktu
itu kereta langsung tiba, dan Miori dijemput orang tuanya. Tapi seharusnya aku
bisa saja menelepon atau mengirim pesan RINE jika aku ingin tahu alasannya.
Aku
terlalu optimis dan mengabaikan kata-katanya. Lebih tepatnya, aku melupakannya
sampai sekarang. Karena aku berpikir tidak mungkin ada masalah.
"......Kalau
begitu, hubungan kerja sama kita berakhir."
Aku minta maaf karena tidak bisa memanfaatkan peringatannya, tapi rencanaku toh sudah hancur sekarang.
*
Sesampainya
di rumah, aku langsung melepas seragam dan mandi. Setelah mengeringkan tubuh
dengan handuk dan berganti pakaian santai, aku kembali ke kamar.
"O-oh,
selamat datang kembali—."
Miori
sedang berbaring di tempat tidurku sambil melambai-lambaikan tangannya.
"......Oi,
kan sudah kubilang pulang sana."
"Sudahlah,
jangan begitu. Ngomong-ngomong, kamar ini nggak berubah ya—."
Miori
melihat sekeliling kamar sambil tetap berbaring. Hebat juga dia bisa sesantai
itu di rumah orang lain. Lagipula, tolong jangan menunjukkan pose tanpa
pertahanan begitu di kamar lawan jenis.
"......Nggak
berubah? Memangnya kamu pernah ke kamarku?"
"Pernah
pas zaman TK dulu. Ah, jangan-jangan kamu nggak ingat? Parah banget—."
"Itu
kan cerita zaman dulu. Aku nggak punya memori soal masa TK."
Serius,
aku tidak ingat. Apa karena secara mental aku sudah mahasiswa tingkat akhir?
Tapi seingatku saat SMA pun aku hampir tidak punya ingatan tentang masa TK.
"Lagian,
mau bagaimana pun pasti beda dengan zaman TK lah."
"Yah,
bukunya jelas makin banyak— mana tipe-tipe buku otaku lagi."
Aku
memang mulai hobi membaca light novel sejak kelas satu SMP dan
membelinya dalam jumlah banyak. Melihat deretan seri dengan sampul yang agak
seksi di samping tempat tidur, Miori terkekeh.
"Wah,
dasar laki-laki."
"......Berisik.
Jangan lancang melihat-lihat."
Aku
melangkah ke tempat tidur dan merampas novel itu dari tangan Miori. Karena
posisiku yang jadi seolah menindihnya, Miori malah menggerak-gerakkan kakinya
sambil tertawa riang, "Kyaa— aku mau diserang—."
"Heh,
mau benar-benar aku serang?"
"Halah,
nyali saja nggak punya. Nggak usah dipaksakan, dasar perjaka."
Miori
menyentil ujung hidungku dengan telunjuknya, lalu bangun dari tempat tidur.
Memang
benar aku masih perjaka, tapi apa ada masalah? Lagipula Miori juga pasti masih
perawan... Saat aku memikirkan itu, tiba-tiba aku tersadar.......
Eh,
emangnya iya? Jangan-jangan bukan? Apa anak SMA zaman sekarang sudah sejauh
itu? Aku penasaran, tapi karena tidak ingin tahu kenyataannya, aku memilih
untuk tidak bertanya.
Miori
berjalan ke pintu kamar lalu mengambil foto dengan kamera ponselnya.
"Hmm, yah, cuma rak bukunya saja yang nambah satu, tapi posisinya masih sama kan? Kayaknya."
"Yah,
memang sih...... eh, kenapa difoto? Jangan di-upload ke Minstagram ya."
Baru
saja aku menolak ajakan Uta dengan alasan ingin sendirian minggu ini. Kalau
ketahuan aku malah sedang berduaan dengan Miori, suasananya bakal canggung
sekali. Apalagi Uta dan Miori yang satu klub basket pasti berteman di
Minstagram.
"Aku
nggak akan posting kok, aku nggak mau dicurigai macam-macam sama Reita-kun. Ini
cuma buat kenang-kenangan karena sudah lama kita nggak begini."
"......Maksudnya?"
Aku
memiringkan kepala, lalu baru menyadarinya.
Benar,
Miori seharusnya berada di klub basket putri yang sama dengan Uta. Karena Uta
tadi pergi ke klub seperti biasa, harusnya hari ini bukan hari libur. Kenapa
dia bisa berpapasan denganku di jalan pulang?
"Ngomong-ngomong,
klubmu gimana?"
"Hmm,
aku bolos."
"Hah?"
"Aku
kan bukan anggota yang rajin seperti Uta—."
"Kenapa
bolos?"
"Habisnya
capek, sih. Seru, tapi merepotkan. Sesekali bolos nggak apa-apa, kan?"
"Bukannya
kemarin-kemarin itu masa dilarang berkegiatan klub?"
"Itu
beda lagi. Kan kemarin itu harus belajar. Padahal aku sudah begadang dan
berjuang keras, tapi cuma dapat peringkat 8. Ternyata level sekolah ini tinggi
juga ya—. Makanya, aku kaget banget waktu lihat namamu di peringkat 1. Ada apa
tiba-tiba jadi begitu?"
"......Yah,
aku cuma berusaha saja. Ya, semampuku."
"Demi
debut SMA, atau demi Proyek Masa Remaja Pelangi itu?"
Aku
mengangguk, dan Miori kembali duduk di tempat tidur sambil bergumam,
"Begitu ya—."
"—Yah,
alasan tadi itu cuma sekitar 20% saja, sih."
Aku
sempat bingung dia bicara soal apa, ternyata dia kembali ke topik alasan
membolos. Mengobrol dengan Miori memang terkadang membuat pembicaraan
melompat-lompat atau bolak-balik. Sepertinya dia memang tipe orang yang
mengikuti langkahnya sendiri.
"Terus,
80% sisanya?"
"Karena
gelagat Uta aneh banget, kelihatan jelas kalau ada sesuatu yang terjadi. Aku
sudah coba tanya tapi jawabannya nggak jelas. Sepertinya Uta juga nggak tahu
detailnya, jadi sebenarnya aku tadi memang mencarimu."
Miori
membentuk jarinya seperti pistol, mengarahkannya padaku, lalu bergumam,
"Bakiun~."
"Begitu
ya. Pantas saja kamu gigih sekali."
Kalau
teman sedang terpuruk, wajar saja jika merasa ingin melakukan sesuatu.
Mengingat
penyebabnya adalah aku, kupikir aku harus menjelaskan situasinya padanya.
"Gigih?
Kasar banget sih bahasamu. Aku kan benar-benar rekan kerja samamu, kan?"
"......Kan
sudah kubilang, rencananya sudah hancur."
"Aku
paham kalau kamu berpikir begitu. Makanya, ceritakan dulu padaku."
Miori
membujukku dengan lembut. Karena itu, aku pun terpikir untuk bercerita. Tapi
mulutku tidak mau bergerak. Saat aku terdiam, Miori mulai mengusap kepalaku.
"......Hentikan,
aku bukan anak kecil lagi."
"Tapi
dulu, aku sering lho menenangkanmu waktu kamu menangis."
Kilasan
pemandangan masa lalu terbayang di benakku. Memang benar, mungkin pernah ada
masa lalu seperti itu.
"......Tapi
itu kan cerita lama. Sekarang aku nggak merasa kita seakrab itu."
Kami
memang akrab sejak TK sampai SD. Penyebab kami menjauh saat SMP sebenarnya
adalah karena aku yang menjaga jarak darinya. Aku memendam rasa iri yang egois
terhadap Miori yang ramah, punya banyak teman, dan selalu menjadi pusat
perhatian.
Melihatku
yang seperti itu, Miori menyerah untuk berinteraksi denganku. Dan begitulah aku
berakhir menjadi penyendiri.
"Dasar
laki-laki berpikiran sempit—. Kamu masih memikirkan kejadian waktu SMP
itu?"
Dia
menatapku dengan mata setengah tertutup, membuatku memalingkan muka. Berbohong
rasanya kalau kubilang aku tidak memikirkannya.
"—Maaf
ya. Karena aku nggak bisa menolongmu."
Namun,
aku tidak menyangka dia akan meminta maaf seserius itu.
"Apa-apaan......
itu kan aku sendiri yang menjauh darimu. Bukan hal yang harus kamu mintai
maaf!"
Karena
itulah, aku mencoba mengubah diriku yang seperti itu. Daripada terus-menerus
iri pada Miori, aku ingin berdiri di panggung yang sama dengannya. Itulah yang
menjadi pemicu kenapa aku mencoba meraih masa remaja pelangi di kehidupan
SMA-ku yang pertama.
"Benar
juga ya—. Aku pun berpikir begitu. Sebenarnya aku nggak salah apa-apa, kan?
Jujur, tolong ampuni aku ya. Waktu itu aku cukup sakit hati tahu? Tiba-tiba
dibenci oleh teman masa kecil yang sudah akrab sejak lama. Mana mungkin aku
terpikir kalau kamu cuma sedang iri padaku, kan?"
Aku
terdiam seribu bahasa, tidak bisa membantah. Tadinya aku ingin bilang kalau
begitu jangan minta maaf dari awal, tapi kata-kata Miori memang ada benarnya.
"Kenapa
kamu bisa tahu? Kalau aku cuma iri padamu."
"Karena
kamu berusaha keras banget buat sukses debut SMA. Padahal aku tadinya mengira
kamu nggak suka suasana ala anak populer makanya aku mencoba maklum—. Tapi
ternyata dugaanku benar ya."
"Ternyata?
Jadi kamu tadi cuma memancingku ya."
Aku
menatap Miori dengan kesal, tapi si pelaku yang sedang duduk bersila di kasur
itu malah tertawa senang.
Kalau
dipikir-pikir, hubungan ini terasa mirip dengan hubunganku dengan Tatsuya
sekarang.
......Apakah
Tatsuya sedang memendam perasaan yang sama seperti yang kurasakan saat itu?
"Melihat
wajahmu yang seperti itu, pastinya kamu melakukan suatu kesalahan, kan?"
Tebakannya
tepat sasaran. Aku tidak bisa berkata-kata.
"Aku
paham kalau kamu nggak mau cerita. Mungkin itu kegagalan yang memalukan. Tapi,
aku sudah mengenalmu sejak lama. Aku mengenalmu sebelum kamu melakukan debut
SMA. Aku tahu betul kalau kamu nggak sekeren itu, kamu itu payah, dan nggak
jago bicara sama orang. Lagipula aku sudah tahu kalau nggak mungkin rencanamu
bakal berjalan mulus semuanya."
Miori
berkata begitu sambil menunjukkan foto lamaku yang terlihat menyedihkan dari
ponselnya.
"Jadi,
kamu nggak perlu berpura-pura kuat di depanku. Kamu nggak perlu menyembunyikan
dirimu yang sebenarnya."
Entah
kenapa keringat mulai keluar dari mataku. Aku tidak mau mengakuinya sebagai air
mata. Karena itu, aku menyalahkannya pada hujan deras yang mengguyur di luar.
*
Suara
hujan terdengar.
Sedikit
demi sedikit, aku mulai menyampaikan perasaanku yang tidak keruan. Apakah kamu
ingin bercerita lebih banyak tentang bagaimana perasaanmu terhadap Tatsuya,
atau justru merasa sedikit lega setelah Miori menenangkanmu?
Setelah
aku selesai menceritakan semuanya, keheningan sempat menyelimuti ruangan. Bahkan
bagi Miori sekalipun, ini adalah masalah yang sulit. Karena itulah sepertinya
dia sedang merenung.
“......Begitu
ya. Ternyata ada kejadian seperti itu ya,”
gumam Miori.
Lalu
tiba-tiba saja dia berdiri, dan—
“Nggak,
kamu itu benar-benar orang bodoh ya—!!”
Dia
melemparkan bantal sekuat tenaga ke arahku. Pandanganku seketika memutih.
Hidungku terkena dampaknya.
“Tadinya
aku mau diam saja mendengarkan, tapi kekonyolanmu ini sudah keterlaluan......”
“Ap—,
memang benar ini mungkin salahku, tapi kenapa kamu sampai—”
“Di
situ letak kesalahannya! Nggak ada satu pun alasan yang mengharuskanmu merasa
tertekan sampai begini tahu!”
Dia
menunjukku dengan tegas, membuat pikiranku terhenti sejenak.
“......Hah?”
“Kok
“Hah?”. Kan itu murni kesalahan si Tatsuya itu. Mau kamu bersikap seperti apa
dan mau berteman akrab dengan gadis mana pun, itu kan hakmu.”
“Ta-tapi
tetap saja, ujung-ujungnya akulah penyebabnya dan......”
“Haa—,
nggak nyangka cuma gara-gara ini kamu sampai pasang muka gelap begitu......”
Miori
menghela napas, lalu berkata kepadaku dengan nada bicara yang kuat.
“Dengar
ya? Kamu nggak salah, jadi seharusnya kamu bersikap biasa saja! Setidaknya kamu
nggak perlu terpuruk, apalagi sampai minta maaf! Malahan, kamu sama sekali
nggak boleh minta maaf!”
Bagian
pertama dari perkataannya sama dengan yang dikatakan Reita. Memang mungkin
benar begitu. Tapi, kenyataan bahwa Tatsuya menjauh dari kami tidak berubah.
Karena
"masa remaja pelangi" yang kucari tidak ada di sana, aku merasa harus
melakukan sesuatu.
“Natsuki
itu terlalu baik ya...... cuma bagian itu yang nggak berubah sejak dulu. Tapi,
meskipun kamu minta maaf, hal itu cuma akan membuat Tatsuya-kun merasa semakin
menyedihkan.”
Baru
saja aku hendak bertanya "kenapa", aku langsung menyadarinya. Jika
aku berada di posisi yang sama, hal yang paling tidak kusukai adalah dimintai
maaf.
Akulah
yang bersalah, sementara kamu tidak salah apa-apa. Aku pasti akan tersiksa oleh
penyesalan karena telah membuatmu meminta maaf.
“......Lalu,
aku harus bagaimana? Pada akhirnya, aku...”
Setelah
memastikan kembali situasinya, nyatanya tetap tidak ada yang terselesaikan. Aku
tidak bisa melakukan apa-apa. Lagipula, aku tetap tidak tahu harus berbuat apa.
Di
situ, aku teringat peringatan Miori tempo hari.
“......Ngomong-ngomong,
kamu pernah bilang sesuatu padaku, kan? Kayak 'ada masalah dalam rencanamu',
atau semacamnya.”
“Ah,
kalau itu, aku mengatakannya bukan karena menyangka hal seperti ini akan
terjadi kok.”
Miori
berkata begitu, lalu menempelkan tangan di mulutnya sambil berpikir keras.
“......Tapi,
itu juga nggak sepenuhnya meleset sih. Bagiku, kamu itu terlihat terlalu
memaksakan diri. Makanya aku jadi berpikir, apa kamu sendiri benar-benar merasa
puas dengan hal itu.”
Aku
mengernyitkan dahi mendengar kata-kata Miori.
Memang
benar aku selalu menjaga sikap. Aku berusaha bertindak hati-hati dan sopan. Sebab
jika aku menunjukkan diriku yang sebenarnya, sudah pasti aku akan dibenci
seperti sebelumnya.
“Kamu
memang sudah berjuang keras. Aku yang mengenalmu sejak dulu tahu betul soal
itu. Saking hebatnya sampai-sampai selain aku mungkin nggak ada yang bisa
menyadarinya. Makanya kurasa, kamu itu jadi terlalu sempurna sampai nggak punya
celah.”
Terlepas
dari penilaian pribadiku, belakangan ini aku mulai paham bahwa di mata orang
lain memang terlihat seperti itu.
“Bisa
dibilang nggak ada sisi manisnya, atau terlalu seperti orang sempurna
sampai-sampai memberi kesan sulit didekati. Padahal hal itu jauh banget dari
dirimu yang sebenarnya, kan? Tapi, pasti Tatsuya-kun juga berpikir begitu.”
Kalau
begitu, apa yang harus kulakukan.
“......Sulit
bagiku untuk mengubah diri lebih dari ini. Ini saja aku sudah melakukan
segalanya sekuat tenaga.”
Miori
menatap wajahku lekat-lekat saat aku menjawab seperti itu.
“......Sepertinya
aku terpikir satu solusi. Mungkin ini terlalu langsung untuk disebut sebagai
sebuah taktik.”
“Benarkah?”
Bagiku,
sudah tidak ada jalan keluar lagi.
“......Tolong,
Miori. Bantu aku.”
Namun,
jika itu Miori yang paling mengenalku, aku memutuskan untuk menggantungkan
harapan padanya.
“——Kalau
begitu, ayo tunjukkan dirimu yang sebenarnya kepada mereka semua.”
Aku
terdiam saat mencerna makna dari kata-kata yang diucapkannya dengan lembut itu.
Itu
tidak mungkin. Sebab, diriku yang sebenarnya adalah aku yang penyendiri. Laki-laki
yang tidak pandai bicara, selalu pesimis, tidak punya keberanian untuk menyapa
orang lain, iri pada Miori sampai menjaga jarak, namun di saat yang sama benci
kesepian—karakter yang menyedihkan. Seorang remaja yang menjalani masa remaja
abu-abu. Tidak akan ada orang yang menyukai diriku yang asli seperti itu.
Itulah
alasannya kenapa aku sekarang berusaha untuk mengubah diriku.
“Dengar
ya? ——Aku menyukaimu lho.”
Pernyataan
cinta yang tiba-tiba.
Awalnya
kupikir dia sedang menggodaku, tapi aku terperangkap oleh tatapan matanya yang
serius.
“Aku
suka kamu yang sedang berjuang keras, tapi aku juga suka dirimu yang apa
adanya.”
Nada
bicaranya pelan, seperti sedang menasihatiku. Karena itulah kata-kata itu
meresap ke dalam hatiku.
Aku
sadar pipiku mulai memanas. Mungkin karena itu juga, wajah Miori perlahan
memerah dan dia memalingkan muka.
“......Tapi,
jangan salah paham ya. Ini murni sebagai teman, sebagai hubungan teman masa
kecil yang nggak bisa dipisahkan, oke? Intinya, yang ingin kukatakan adalah
kamu nggak perlu menyembunyikan apa pun!”
“......Apa
benar tidak apa-apa?”
“Habisnya,
Natsuki menganggap mereka itu teman, kan?”
Saat
ditanya begitu, aku mengangguk.
Setidaknya
bagiku, mereka adalah teman.
“Apa
kamu menyebut orang yang membuatmu nggak bisa bersantai, orang yang nggak bisa
kamu ajak bicara jujur, sebagai seorang teman?”
Pikiranku
terhenti. Aku tidak tahu jawabannya. Namun, yang pasti sekarang aku sedang
berada dalam kondisi seperti itu.
“Dengan
hubungan yang seperti itu, apa kamu bisa mendapatkan apa yang kamu sebut masa
remaja pelangi itu?”
Apa
yang dikatakannya memang benar. Tapi, aku merasa seolah usahaku untuk berubah
sedang ditolak.
“......Lalu,
apa kamu mau bilang kalau usahaku untuk mengubah diri selama ini sia-sia?”
Aku
khawatir jika dia mengangguk. Jika usahaku selama ini ditolak, lalu bagaimana
aku harus menjalani hidup ke depannya? Apakah kamu ingin menanyakan lebih
lanjut kepada Miori mengenai rencananya untuk menunjukkan "dirimu yang
asli", atau masih merasa ragu karena takut kehilangan teman-temanmu yang
sekarang?
Menghadapi
diriku yang sedang bimbang seperti itu, Miori berkata dengan santai,
"Aku
kan tidak bilang begitu. Buktinya sekarang, kamu sudah bisa punya teman-teman
yang baik, kan?"
Hanya
saja, lanjut Miori.
"Mengubah
diri dan menyembunyikan diri itu berbeda. Tentu saja aku tidak bilang kalau
menyembunyikan diri itu sepenuhnya buruk, tapi kalau kamu terus-menerus
menutupi dirimu, orang lain akan merasakan adanya 'tembok'."
Miori
bilang, mungkin itu juga salah satu alasan kenapa Tatsuya-kun menjauhkan diri
dariku. Lalu, dia menudingkan jarinya tepat di depan hidungku.
"Tentu
saja, kalau kamu melakukan kesalahan, aku yang akan menegurmu. Jadi, jujurlah
pada dirimu sendiri."
Miori
mengatakannya dengan ekspresi bangga.
"Mungkin
itu saran terbaik dari aku, rekan kerja samamu?"
Aku
mencerna makna kata-kata itu.
Aku
tidak tahu apakah itu jawaban yang benar. Tapi, itu adalah kata-kata dari teman
masa kecil yang paling mengenalku. Jika kamu ada di sisiku untuk mendukungku,
mungkin masa remaja pelangi itu bisa tercapai.
Begitulah
pikirku. Aku memutuskan untuk percaya padanya. Aku mengakui Miori sebagai rekan
dalam Proyek Masa Remaja Pelangi ini.
——Karena
itu, aku memutuskan untuk bersikap jujur.
Tak
peduli seberapa takut atau mengerikannya hal itu, demi menjadi teman yang
sesungguhnya.
*
Hari
Senin di awal minggu. Begitu sampai di sekolah, aku masuk ke kelas dan langsung
berdiri tepat di depan Tatsuya. Dengan begini, Tatsuya mau tak mau harus
merespons. Dia mendongak menatapku dan bertanya.
"......Ada
apa, Natsuki?"
"Bisa
bicara sebentar?"
Aku
mengarahkan jempolku ke luar kelas.
Tatsuya
tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku menganggapnya sebagai jawaban
"ya". Saat aku mulai berjalan keluar kelas, Tatsuya sempat terlihat
ragu sejenak, tapi dia mengikutiku.
Tatapan
teman sekelas tertuju pada kami. Kami adalah grup paling mencolok di kelas ini.
Terlebih lagi Tatsuya yang sangat menonjol tiba-tiba menyendiri, tentu saja hal
itu menjadi bahan pembicaraan. Sekarang, karena kami akhirnya terlihat bicara
lagi, wajar jika kami menjadi pusat perhatian. Di antara tatapan itu, ada juga
Hoshimiya dan yang lainnya.
Suka
atau tidak, kami memang terlalu mencolok. Karena sepertinya kami tidak bisa
bicara dengan tenang di kelas atau di koridor, aku memutuskan untuk naik ke
atap.
Atap
sekolah ini secara formal dilarang untuk dimasuki, tapi karena kuncinya rusak,
kenyataannya tempat ini bisa diakses bebas, bahkan banyak murid yang biasa
makan siang di sana. Meski begitu, di jam pagi seperti ini seharusnya tidak ada
orang.
Saat
aku menaiki tangga, Tatsuya mengikutiku dengan patuh. Aku membuka pintu atap
yang hampir rusak. Aku berjalan sampai ke dekat pagar, lalu berbalik. Tatapanku
dan Tatsuya beradu. Dia memasang ekspresi canggung.
"......Ada
urusan apa?"
"Apa
maksudmu 'ada urusan apa'. Kamu dan aku kan teman?"
Tatsuya
membuang muka.
"......Sudah
kubilang, kan. Biarkan aku sendiri."
"Sampai
kapan? Ini sudah seminggu lho."
"Mungkin,
grup kalian lebih baik tanpa orang seperti aku. Jadi jangan dipikirkan."
"Kenapa
kamu berpikir begitu? Setidaknya aku tidak pernah berpikir seperti itu."
"Mungkin saja. Kamu memang begitu. Tapi belakangan ini aku selalu berpikir begitu. Karena aku sadar kalau ternyata aku ini orang yang jauh lebih payah dan sensitif daripada dugaanku."
Sosok
Tatsuya yang biasanya selalu berdiri dengan gagah, kini terlihat sangat
menyedihkan.
"Kamu
pasti paham, kan. Aku——aku merasa muak karena iri padamu. Rasanya sudah
melebihi batas 'iri' yang biasa. Aku tidak mau memendam perasaan seperti itu
kepada teman. Makanya aku harus menjaga jarak."
"......Apa
karena aku akrab dengan Uta?"
Aku
sempat ragu untuk menanyakannya. Tapi kalau tidak berani melangkah di sini,
lalu kapan lagi?
"......Ternyata
kamu sadar ya?"
"Tadinya
aku tidak tahu. Aku dengar dari Reita."
"Begitu
ya. Benar, aku menyukainya. Sejak SMP, terus-menerus."
Tatsuya
berjalan ke sampingku dengan wajah yang sedikit memerah. Dia menyandarkan
sikunya di pagar sambil menatap pemandangan di bawah.
"......Aku
sendiri kaget ternyata aku se-iri ini. Padahal, aku tidak punya cara apa pun
untuk merebut kembali perasaan Uta darimu. Tidak ada satu pun hal dariku yang
bisa mengalahkanmu. Bahkan basket yang jadi kebanggaan utamaku...... aku sudah
main sekuat tenaga, tapi kalah dengan mudah."
Sebenarnya
tidak semudah kelihatannya, tapi meski kukatakan begitu, Tatsuya pasti tidak
akan terima. Lagipula pada kenyataannya, mungkin aku akan tetap menang berapa
kali pun kami bertanding.
Memang
ada perbedaan kemampuan di sana.
"——Oi,
Tatsuya."
"Jangan
minta maaf ya," potong Tatsuya seolah ingin mendahuluiku.
"Yang
salah itu aku. Kamu tidak punya tanggung jawab apa-apa. Jadi, jangan minta
maaf."
Seolah
sudah puas hanya dengan mengatakan itu, Tatsuya hendak berbalik untuk pergi.
"......Sudah
cukup, kan. Ayo kembali ke kelas."
"Oi,
Tatsuya."
"Masih
ada lagi?"
Terhadap
Tatsuya yang menoleh dengan heran, aku berkata:
"Minta
maaf? Jangan bercanda ya, bodoh. Aku ke sini buat melayangkan protes padamu
tahu!"
"............Hah?"
Karena
aku sudah memutuskan untuk jujur, akan kuhantam dia dengan isi hatiku yang
sebenarnya.
Maksudku,
kalau dipikir-pikir secara tenang, aneh juga kalau aku yang minta maaf.
Lagipula, iri karena aku "terlalu sempurna" itu benar-benar tidak
masuk akal... ya, meski aku sendiri juga pernah merasakan iri yang tidak masuk
akal sih. Pokoknya, aku paham kenapa Miori mengejekku "bodoh". Aku
dan kamu, kita berdua sama-sama bodoh.
“Lagipula kamu itu, entah mau dibilang sensitif atau apa, intinya kamu itu cuma bodoh, tahu nggak.”
“......Tiba-tiba
ngomong apa sih. Kalau dilihat dari sudut pandangmu memang—”
“—Mata
kamu itu yang katarak. Coba pikir pakai logika, mana ada di dunia ini orang
yang benar-benar sempurna.”
Aku
menudingnya dengan tegas sambil bicara.
“Tapi,
kenyataannya kan......”
“Ah—,
aku tahu kamu mau bilang kalau kenyataannya di matamu aku ini sempurna. Kalau
begitu, coba kamu pikirkan sedikit perasaanku. Aku ini baru masuk sekolah dan
lagi pasang urat saraf tahu. Apa pun yang kulakukan, aku selalu berhati-hati,
teliti, dan melakukannya sambil menahan gugup. Ya wajarlah kalau sesekali
kelihatan sempurna.”
“Sambil
gugup......? Jangan bercanda deh.”
“Ini
sama sekali bukan bercanda. Di tempat yang nggak kelihatan olehmu, aku itu
berjuang mati-matian tahu. Nggak ada alasan buat kamu iri padaku. ——Jangan lari
dariku, Tatsuya. Hadapi aku dengan benar.”
“Satu
pun omonganmu nggak ada yang bisa kupercaya. Bagiku, kamu itu sama sekali nggak
kelihatan seperti orang yang begitu. Kamu selalu beresin apa pun dengan enteng,
sambil pasang muka seolah 'ah ini mah gampang'.”
“Itu
mah kata-kataku buat kamu, dasar power-type populer! Bisa akrab sama
macam-macam orang dengan gampangnya, terus menjalani masa remaja dengan wajah
tanpa beban. Padahal aku harus menguras mental setiap saat tahu!”
“......Hah?”
Malahan,
sambil bicara begini aku jadi makin kesal. Kenapa aku harus diiriin sama orang
yang jadi bentuk ideal dari anak populer seperti dia? Rasa iri itu seharusnya
aku yang rasakan kepadamu, tahu!
“Dengar
ya Tatsuya, pasang telingamu baik-baik. Akan kuhancurkan imajinasimu tentang
diriku.”
Aku
menuding Tatsuya dengan wajah angkuh. Memikirkan apa yang akan kuucapkan
setelah ini membuat pipiku terasa panas. Tapi, aku sudah memutuskan untuk
bicara jujur. Untuk itu, aku tidak peduli meski harus mempermalukan diri
sendiri.
“Namaku
Haibara Natsuki! Mantan Inkya otaku yang baru saja melakukan debut SMA! Salam
kenal!”
Setelah
gertakan yang terdengar keren, yang keluar justru pernyataan yang sangat tidak
keren.
Tatsuya
melongo dan bergumam, “......Hah?”.
Ya wajarlah reaksinya begitu.
“Aku
nggak bohong ya. Karena, inilah penampilanku waktu SMP!”
Aku
menunjukkan layar ponselku kepada Tatsuya. Di sana terpampang fotoku zaman dulu
saat masih gemuk, berkacamata, dan terlihat menjijikkan. Kalau kulihat lagi,
aku benar-benar tipikal bocah introvert yang suram. Saking
menjijikkannya sampai aku ingin menangis sendiri.
“Fuhaha,
ada masalah!?”
Aku
sadar kalau semangatku agak kacau sekarang, tapi tolong maafkan aku karena aku
baru saja membongkar rahasia yang kusimpan rapat-rapat sejak hari pertama
sekolah. Bisa dibilang, inilah diriku yang sebenarnya.
“Enggak,
aku nggak protes sih...... tapi, ini beneran kamu?”
“Kamu
pikir aku bohong? Tapi kalau dilihat baik-baik, struktur wajahnya sama, kan?”
“......Serius?
Eh, beneran nih?”
Tatsuya
memandangi foto di ponselku lekat-lekat, lalu mulai men-scroll
sesukanya. Alhasil, koleksi ensiklopedia gadis dua dimensi yang kusimpan di
ponsel pun terpampang nyata.
“Bodoh,
jangan! Berhenti ngelihatin istri-istriku sesukamu!”
“......Tadinya
aku nggak percaya, tapi setelah lihat ini, entah kenapa aku jadi mulai yakin.”
“Berhenti
deh pakai prasangka kalau otaku itu pasti identik sama anak kuper. Zaman
sekarang nggak selalu begitu, tahu.”
“......Lagian
kamu, nggak pernah cerita kalau kamu itu otaku?”
“Kan
sudah kubilang. Aku lagi pasang urat saraf...... atau lebih tepatnya, aku lagi
jaga gengsi.”
Aku
mengatakannya sambil memalingkan muka. Rasanya memalukan harus menjelaskan
sekali lagi kalau selama ini aku cuma berpura-pura kuat. Cobaan macam apa ini?
Memikirkan kalau aku melakukan semua ini demi orang di depanku ini membuatku
kesal. Benar-benar keterlaluan.
Tatsuya,
untuk pertama kalinya, tersenyum jahil.
“......Kamu
menyembunyikannya, berarti sebenarnya kamulah yang paling menganggap diri
sendiri begitu, kan?”
“Berisik!
Jangan membongkar psikologi terdalam seorang Inkya otaku!”
Yah,
memang benar begitu adanya. Waktu SMP aku sendirian, jadi wajar kalau aku jadi
sangat suka novel ringan atau anime. Aku selalu beralasan kalau aku diam saja
hanya karena tidak ada orang di grup ini yang seleranya cocok, tapi sebenarnya
aku menyembunyikannya karena itu terasa sangat "anak kuper banget".
Padahal
aku tahu zaman sekarang banyak anak populer yang terang-terangan mengaku otaku.
“Heeh,
jadi ini seleramu, dan ini dirimu yang dulu ya. Heeeh.”
Tatsuya
terus menggeledah foto-foto di ponselku tanpa izin. Meskipun aku menyuruhnya
berhenti, dia tidak mendengarkan.
“Gimana
ceritanya si otaku menjijikkan ini bisa jadi laki-laki tampan kayak kamu
sekarang?”
“Diam,
wajahku dari awal memang nggak buruk. Itu sudah dijamin sama teman masa
kecilku. Cuma karena dulu aku gendut dan nggak peduli penampilan, jadinya
begitu. Makanya pas liburan musim semi aku berjuang keras.”
“......Demi
debut SMA?”
“Iya!
Aku itu mengagumimu, orang seperti kamu!”
“Kamu,
mengagumiku?”
Tatsuya
melongo. Wajah tanpa dosanya itu benar-benar membuatku kesal.
“Makanya,
kata-kata itu seharusnya keluar dari mulutku!”
Aku
memajukan wajahku dan melotot padanya.
“Rasa
iri itu milikku. Kembalikan. Lagipula, orang yang kukagumi malah iri padaku itu
benar-benar kejutan yang nggak masuk akal. Semua gaya anak populerku ini kan
hasil meniru kamu dan Reita!”
“Gayamu
yang sesekali pakai bahasa formal yang sulit itu emang bau-bau anak kuper sih.”
“Jangan
mentang-mentang tahu aku ini hasil debut SMA terus kamu cari-cari kesalahanku
dong!?”
Saat
aku mulai berisik, Tatsuya menghela napas panjang yang dibuat-buat.
“Kamu
ini orang yang merepotkan ya.”
“Kamu
yang lebih merepotkan tahu! Aku nggak mau dibilang begitu sama kamu! Gara-gara
alasan sensitifmu itu, kamu malah bikin repot saja! Pokoknya balik sana!
——Semuanya menunggu.”
Aku
bicara sambil menatap matanya. Terlihat jelas keraguan di ekspresi Tatsuya. Karena
itu, aku menegaskan sekali lagi. Sambil berpikir kalau dia memang orang yang
sangat merepotkan.
“Jangan
lari, Tatsuya. Kalau kamu sesuka itu sama Uta, buktikan dengan merebutnya. Apa
kamu nggak malu takut sama orang hasil "rakitan" sepertiku? Padahal
akunya malah takut padamu tahu!?”
Entah
apa yang kubicarakan. Aku sendiri merasa kata-kataku aneh.
Aku
bicara terlalu terbawa suasana. Tapi aku lanjut terus. Karena memang ini adalah
kejutan kejujuranku.
“Kalau
kamu lari terus begini, Uta nggak akan melirikmu. Dengan begitu, kamu nggak
akan bisa menang dariku, kan?”
“......Wah,
sombong banget ya bicaranya, padahal cuma hasil debut SMA.”
“Kelihatannya
begitu, ya? Iya sih...... emang bener. Maaf.”
“Emosimu
nggak stabil ya!?”
“Berisik!
Aku lagi bingung harus pakai karakter apa karena tiba-tiba membongkar jati
diri!”
“......Kamu
beneran jaga gengsi banget ya selama ini.”
“Iya
lah! Nggak kayak kamu, kalau aku jadi diriku yang asli, aku nggak akan
dihargai, makanya aku belajar macam-macam hal! Aku ini cuma orang yang selevel
itu! Jauh dari kata sempurna! Jadi, berhenti melakukan hal payah kayak lari
ketakutan dari orang sepertiku!”
Aku
berteriak padanya.
“Orang
yang seperti itu——bukanlah sosok yang kukagumi.”
Angin
berhembus di atap. Di depanku, rambut pendek Tatsuya bergoyang.
“Tapi......
gimana aku menjelaskannya. Nggak mungkin aku tiba-tiba balik terus bilang 'aku
sudah kembali' begitu saja.”
“Ya
nggak ada pilihan lain selain jujur! Bilang saja: 『Sebenarnya aku suka
banget sama Uta-chan sampai-sampai aku iri sama Natsuki-kun yang belakangan ini
akrab dengannya, apalagi aku merasa nggak bisa menang darinya makanya aku lari
karena aku ini laki-laki yang payah banget』——begitu!”
“Nggak
perlu sampai segitunya juga kali!?”
“Itu
kan fakta!?”
“Meskipun
begitu, mana mungkin aku bisa ngomong begitu! Iya sih, emang bener! Tapi kalau
diomongin orang lain rasanya nggak terima! Lagian, aku nggak mau ketahuan sama
Uta!”
“Cih,
bener-bener laki-laki sensitif ya. Makanya kamu cinta bertepuk sebelah tangan
bertahun-tahun. Aku kecewa.”
“Mulutmu
kok jadi pedes banget sih!?”
“Soalnya
tadi aku takut padamu. Sekarang, aku sadar kalau kamu nggak perlu ditakuti.”
Aku
mengedikkan bahu dan mulai berjalan kembali ke kelas.
“Ayo,
pergi.”
Sudah
hampir waktunya wali kelas masuk. Aku tidak berniat bolos demi orang seperti
dia.
“Sialan......
bener-bener berasa nggak puas......”
Tatsuya
menyusulku sambil menggerutu. Sepertinya sudah tidak perlu khawatir lagi. Aku
penasaran bagaimana dia akan memberikan penjelasan nanti.
——Saat
aku sedang menyeringai puas sambil membuka pintu atap,
“Ah,
t-tunggu!?”
“Eh,
ee-ehh!?”
“Hikari!?
Tunggu, jangan tarik-tarik——”
Dosa-dosa-dosat!
Tiga orang gadis jatuh tersungkur ke lantai dengan suara berdebum yang cukup
keras.
Hah?
Apa-apaan ini? Pikiranku mendadak buntu. Tiga orang yang jatuh itu jelas-jelas
adalah Uta, Hoshimiya, dan Nanase. Eh, Nanase juga ikut?
Saat
aku menoleh kembali ke arah pintu, Reita hanya bisa tersenyum kecut.
“Yah,
aku sudah mencoba menghentikan mereka, sih. Tapi karena mereka bilang ingin
dengar apa pun yang terjadi—”
Perlahan
aku mulai memahami situasinya. Melihat cara mereka jatuh, sudah pasti ketiga
orang ini tadi sedang menyandarkan seluruh berat tubuh mereka ke pintu. Lebih
spesifiknya, mereka menempelkan telinga untuk mendengarkan suara dari atap
dengan jelas. Jadi, begitulah ceritanya.
“......Jadi,
apa jangan-jangan, kalian dengar semua pembicaraannya?”
“A-ah......”
Ketiganya
memasang wajah yang sangat sulit untuk menjawab. Yang terlihat paling canggung
adalah Uta. Saat aku menatap Tatsuya, wajahnya terlihat jauh lebih bengong
daripada aku. Aku pernah dengar kalau seseorang akan merasa tenang saat melihat
orang lain jauh lebih panik darinya, dan sepertinya itu benar.
“E-eerr......
iya, kami dengar. Maaf ya sudah menguping tanpa izin.”
Uta
meminta maaf setelah sempat ragu harus bicara apa. Ini pertama kalinya aku
melihat Uta bicara dengan tidak tegas. Mungkin karena ini masalah yang sangat
sensitif. Mata Uta dan Tatsuya beradu. Wajah Uta sedikit memerah, lalu dia
berkata:
“Anu......
soal itu, maaf ya, Tatsu? Aku sepertinya cuma bisa menganggap Tatsu sebagai
teman saja.”
Eh,
kok malah langsung dikasih serangan pamungkas begitu...... bahkan aku sendiri
pun sampai merinding melihatnya. Kenapa harus sekarang banget!?
Saat
aku melirik ke arah Tatsuya dengan was-was, dia terlihat seolah-olah akan
hancur menjadi debu putih dan menghilang.
“O-oi,
Tatsuya! Sadarlah!”
Aku
mengguncang bahunya, dan kepalanya bergoyang-goyang lunglai. Dia benar-benar
pasrah.
“Ufufu......
aku sudah tidak peduli lagi akan jadi apa nanti......”
Karakter
macam apa itu!?
Aku
menitipkan Tatsuya yang sedang linglung kepada Reita, lalu berbisik kepada Uta.
“Apa
yang kamu lakukan sih Uta, padahal aku sudah susah payah membujuknya......!?”
“A-ah,
maaf! Aku terlalu panik, jadi malah kejujuranku yang keluar......!?”
“Suaramu
terlalu keras!”
Gara-gara
suara Uta yang terlalu keras, Tatsuya malah terkena serangan tambahan.
“Aaakh,
maaf! Anu, maaf ya, Tatsu? Tapi, soal itu, gimana ya, aku sama sekali nggak
menyangka, ini terlalu di luar dugaan, tapi aku senang kok dengan perasaanmu......”
“......Uta,
tolong berhenti. Tatsuya sudah di batas kemampuannya.”
Reita
dengan wajah serius membungkam mulut Uta.
“Tapi
ngomong-ngomong, kupikir ada apa, ternyata cuma masalah yang sangat sepele ya.”
Kata-kata
yang dilontarkan bersamaan dengan helaan napas Nanase itu membuat punggung
Tatsuya semakin membungkuk.
“Yu-Yuino-chan,
jangan bicara begitu dong......”
“Masa?
Kalau aku jadi dia, aku malah lebih benci kalau orang-orang pura-pura tidak
tahu dan menjaga jarak dariku.”
Lalu
Nanase menyeringai dan menatapku.
“——Benar
begitu kan, wahai Si Debut SMA?”
Ah......
aku sudah tahu. Aku sudah tahu kok. Kalau pembicaraan tadi kedengaran, artinya
ya bakal jadi begitu!
Y-yah,
sejak awal aku bicara dengan Tatsuya, aku sudah siap kalau rahasia ini
terbongkar!?
Entah kenapa aku melirik ke arah Hoshimiya, dan dia membalasnya dengan senyum canggung yang ambigu.
“A-anu......
lebih baik jangan dibahas ya?”
“............Nggak
apa-apa kok. Aku juga memang berniat menceritakannya kepada kalian suatu saat
nanti.”
Aku
menjawab sambil menjatuhkan bahu karena pasrah. Lalu Nanase mendekat dengan
senyum geli di wajahnya.
“Kalau
begitu, aku ingin lihat foto yang tadi kamu tunjukkan kepada Nagiura-kun.”
Dia
melirik ke ponselku.
Aku
buru-buru menyembunyikannya di balik punggung. Benar-benar berat rasanya kalau
penampilanku yang dulu dilihat orang lain. Aku bisa menunjukkannya kepada
Tatsuya karena dia teman laki-laki, tapi kalau dilihat teman perempuan rasanya
sesak sekali.
“A-aku
juga mau lihat lho—.”
Hoshimiya
bersiul sambil bicara dengan nada yang dibuat-buat. Pandangannya terus
melirik-lirik ke arah ponselku.
“Hoshimiya
juga!?”
Melihatnya
dilihat oleh orang yang kusukai itu jauh lebih mustahil lagi.
Saat
aku sedang sibuk melarikan diri dari mereka berdua, Tatsuya sepertinya sedikit
pulih dan mulai berdiri sendiri.
“Kukuku......
sekarang aku sudah tidak takut apa-apa lagi.”
Dia
benar-benar kehilangan jati diri karakternya. Walaupun kata-katanya terdengar
berani, tapi ekspresi wajahnya masih terlihat menyedihkan.
Uta
dan Reita menatap Tatsuya dengan rasa khawatir. Tatsuya melotot ke arahku.
“Natsuki,
aku tidak akan memaafkanmu!”
“Bukannya
dari awal ini salahmu sendiri! Lagian kenapa aku jadi ikut terseret juga!?”
“Itu
kan salahmu sendiri karena nggak hati-hati!”
“Harusnya
aku yang bilang begitu, tahu!?”
“——Ya,
ya, sudah sampai di situ. Sebentar lagi wali kelas benar-benar akan masuk.”
Reita
menengahi aku dan Tatsuya yang sedang saling melotot sambil bertepuk tangan.
Benar
saja, saat melihat jam, waktu yang tersisa tinggal satu menit lagi. Semua orang
mulai panik karena kalau tidak lari ke kelas, kami bisa dianggap terlambat.
Sepertinya Nanase tidak mau menoleransi keterlambatan, dia langsung berlari
dengan gagah. Reita menyusul di belakangnya. Uta pun hendak mengikuti mereka,
tapi—
“Uta.”
Tatsuya
memanggilnya. Aku dan Hoshimiya melihat mereka dari posisi paling belakang.
“Hmm,
apa?”
“Aku
nggak akan menyerah ya.”
Tatsuya
menyatakan itu dengan wajah serius, lalu berjalan pergi begitu saja.
......Meski
dia laki-laki sensitif yang memendam cinta selama bertahun-tahun, ternyata dia
bisa juga bersikap keren ya.
Uta
berdiri terpaku dengan wajah yang merah padam.
Hoshimiya
bergumam “Kyaa—”
dengan suara pelan sambil merona lebih merah daripada Uta. Lalu mata kami
bertemu. Entah kenapa mata Hoshimiya terlihat berbinar-binar. Sepertinya dia
tipe yang sangat tertarik dengan urusan asmara seperti ini.
“Bagus
ya. Terasa seperti masa remaja.”
Mendengar
Hoshimiya bicara dengan nada senang, aku pun setuju. Sambil menghela napas dan
mengedikkan bahu.
“——Iya,
benar. Benar-benar terasa seperti masa remaja.”
Masa
remaja yang kini diwarnai oleh pelangi.
Pelangi
yang muncul setelah hujan itu terlihat indah, dan sepertinya itu memang benar
adanya.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.