Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game V1 Chapter 4

N-Chan
0

Chapter 4

Jika Kau Mendukungku


Sejak hari berikutnya, Tatsuya berhenti mengajakku bicara. Lebih tepatnya, Tatsuya menjadi penyendiri. Dia tidak lagi berbaur dengan kami dan memilih untuk mengisolasi diri.

 

Di pagi hari, saat mata kami tak sengaja bertemu, dia langsung membuang muka. Bahkan salam pun tidak ada. Tanganku yang baru saja hendak terangkat kehilangan tujuannya dan menggantung hampa di udara. Reaksi Tatsuya itu sama persis dengan kejadian di masa lalu.

 

Saat Uta atau Hoshimiya mengajaknya bicara, dia memang menanggapi, tapi dia tidak berusaha untuk menyambung percakapan. Aku kebingungan harus berbuat apa dan memilih untuk memercayai saran Reita bahwa waktu yang akan menyelesaikan segalanya.

 

"Kenapa ya dia begitu..."

 

Tentu saja, suasana di antara kami juga menjadi suram. Para gadis tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya terlihat bingung dan khawatir.

 

Namun, Reita tidak berniat menceritakan apa pun. Karena itu, aku pun tidak bisa mengatakan apa-apa. Mengingat ini berkaitan dengan orang yang disukai Tatsuya, aku benar-benar terkunci.

 

"...Ah. Pelajaran berikutnya mau dimulai."

 

Meski hanya kehilangan satu orang, suasananya terasa begitu kelam. Aku baru menyadari bahwa mood maker di grup ini bukan hanya Uta, tapi Tatsuya juga mengemban peran itu.

 

Udaranya terasa berat. Aku tidak bisa merasa senang sedikit pun.


Bahkan saat semua orang mengobrol biasa, entah kenapa terasa ada kecanggungan yang mengganjal.

 

——Aku tidak akan pernah sudi mengatakan kalau hal seperti inilah masa remaja yang kuidamkan.

 

 

Tatsuya makan siang sendirian, dan begitu jam pulang sekolah tiba, dia langsung menghilang ke klubnya.

 

Kami pun entah bagaimana menjadi tercerai-berai. Hoshimiya dan Nanase pergi berdua, sedangkan Uta yang punya banyak teman di kelas asyik mengobrol dengan berbagai orang. Aku dan Reita hanya bisa memperhatikan Tatsuya dari jauh.

 

Hari-hari seperti itu terus berlanjut hingga akhir pekan.

 

Hari-hari yang membosankan. Dunia yang tadinya berwarna pelangi, kini terasa mulai memudar. Pemandangan yang sudah tidak asing lagi mulai kembali. Masa remaja abu-abu seolah sedang memanggilku pulang.

 

"—Hebat banget ya, Natsu."

 

Melihat nama-nama peraih nilai tertinggi ujian tengah semester yang ditempel di koridor, Uta tersenyum padaku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat senyum itu. Suara Uta tidak terdengar ceria, seolah dia sedang memaksakan diri.

 

"...Ah, iya, terima kasih."

 

Aku berhasil meraih peringkat ke-1 satu angkatan. Selisih nilaiku dengan peringkat kedua sangat jauh. Lalu Nanase di peringkat ke-3, Reita di peringkat 11, dan Hoshimiya di peringkat 49—dia nyaris masuk ke daftar peringkat atas. Jika diperhatikan baik-baik, Miori juga berada di posisi ke-8. Tentu saja, nama Uta dan Tatsuya tidak ada di sana.

 

"Uta sendiri bagaimana?"

 

"Ehehe, kalau aku, berkat Natsu, aku berhasil dapat peringkat 110!"

 

Uta membusungkan dadanya. Mengingat total murid dalam satu angkatan adalah 240 orang, itu sudah di atas rata-rata. Jika mengingat kondisi awalnya yang kacau, ini adalah pencapaian yang memuaskan. Setidaknya, dia lebih pintar daripada aku yang dulu.

 

"Hei, orang itu kan..."

 

"Wah, wajahnya benar-benar tipeku..."

 

"Sudah pintar pula ya..."

 

Mungkin karena hasil ujian itu. Saat aku berdiri di koridor, aku merasakan beberapa pasang mata memperhatikanku. Jika aku tidak terlalu percaya diri, sorot mata itu mengandung rasa iri dan kekaguman. Terutama dari para siswi.

 

Bagi aku yang sedang mengulang hidup, wajar saja jika bisa mengerjakan ujian semacam ini, tapi bagi orang-orang di sekitar yang tidak tahu apa-apa, ini bukanlah hal yang biasa.

 

——Orang yang sempurna, ya?

 

Bagaimanapun aku memikirkannya, kurasa julukan itu tidak pantas untukku. Lagipula, kalau aku benar-benar sempurna, aku tidak akan melakukan kesalahan seperti ini. Aku tidak akan menyesal dan berpikir "seharusnya tidak begini". Aku tidak akan memendam keinginan untuk mengulang masa remajaku.

"...Hei, Natsu. Hari Sabtu nanti, ayo kita semua main bareng. Siang hari aku luang kok."

 

Uta menarik ujung lenganku. Aku sempat tergoda dengan ajakan itu.

 

Sebab sekarang aku sudah paham. Uta kemungkinan besar memiliki perasaan padaku. Itulah penyebab utama Tatsuya iri padaku.

 

Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa soal itu. Namun, karena ini masalah perasaan, Tatsuya pun pasti tidak bisa mengendalikannya. Karena itulah dia menjauh.

 

Kalau begitu, itu masalah Tatsuya. Aku tidak perlu memikirkannya. Aku cukup bermain bersama yang lain di hari libur untuk menyegarkan pikiran, masuk sekolah lagi minggu depan, perlahan memperbaiki kecanggungan ini, dan kembali bersenang-senang dengan yang lain. Meskipun tanpa Tatsuya.

 

Manusia pasti akan terbiasa dengan lingkungan yang berubah. Dan Uta sedang menawarkanku langkah pertama menuju ke sana.

 

"...Maaf, Uta. Minggu ini aku ingin sendirian dulu."

 

Meski tahu konsekuensinya, aku menggelengkan kepala. Aku tidak bisa menerima masa depan yang seperti itu.

 

Memang benar, meski aku gagal kali ini, mungkin aku sudah mendapatkan masa remaja yang lebih baik daripada yang sebelumnya. Tapi, kegagalan ini fatal bagiku. Aku tidak bisa menerimanya; ini adalah keruntuhan rencanaku.

 

Sebab, alasanku kembali ke masa ini adalah untuk menjadi teman bagi Tatsuya.

 

Aku pulang sendirian.

 

Hari ini adalah hari di mana Hoshimiya juga pulang sendiri, tapi aku tidak menyapanya. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun.

 

Setelah cukup lama terguncang di dalam kereta, aku turun di stasiun terdekat dari rumahku, dan ternyata hujan sedang turun.

 

Rintik hujan yang tenang itu perlahan-lahan berubah menjadi hujan deras yang mengguyur bumi. Seingatku, ramalan cuaca pagi tadi tidak mengatakan akan turun hujan. Aku tidak membawa payung. Terpaksa, aku mulai berjalan menerjang hujan deras itu. Tak butuh waktu lama sampai seluruh tubuhku basah kuyup.

 

Dari stasiun terdekat ke rumah, aku harus berjalan kaki selama lima menit. Dengan pakaian yang basah kuyup dan berat, aku terus melangkah gontai. Penampilan ini sangat cocok dengan diriku yang sekarang.

 

"......Mengulang masa remaja, ya?"

 

Benar-benar lelucon yang konyol. Gara-gara belajar dari kegagalan sebelumnya dan berusaha terlalu hati-hati, kali ini aku malah gagal karena dianggap terlalu sempurna. Apakah bagi si bocah abu-abu, memang hanya dunia abu-abu yang menantinya?

 

Aku menghentikan langkah. Menengadah menatap langit yang gelap. Air hujan menghujam tubuhku.

 

"Aku harus bagaimana......?"

 

Aku tidak menemukan jawabannya. Apa pun yang kulakukan sekarang, rasanya aku sudah berada di jalan buntu.

 

"Kalau ujung-ujungnya bakal jadi begini......"


Seharusnya aku tidak usah mengulanginya saja, gumamku. Atau kalaupun mengulanginya, seharusnya aku tetap berjalan di jalur abu-abu seperti biasanya. Karena setiap orang punya posisi yang sebanding dengan dirinya sendiri.

 

"—Ada apa? Wahai si jenius peringkat satu angkatan?"

 

Terdengar suara tepat dari belakangku. Tiba-tiba hujan berhenti. Bukan, bukan benar-benar berhenti. Tapi, tubuhku tiba-tiba tidak lagi dihujam tetesan air. Saat aku mendongak, sebuah payung telah terkembang di atasku.

 

"Kalau terjadi sesuatu, sebagai teman masa kecil, aku bersedia kok mendengarkan ceritamu."

 

Saat aku menoleh, Miori ada di sana. Aku menertawakan diriku sendiri; betapa tidak pekanya aku terhadap sekitar sampai-sampai tidak menyadari ada orang sedekat ini di tengah hujan deras.

 

Miori berdiri sangat dekat sampai bahu kami bersentuhan, tanpa sadar kami sudah berada di bawah payung yang sama.

 

"......Sudahlah. Aku sudah basah kuyup begini, percuma saja pakai payung sekarang."

 

"Ahaha, benar juga ya—. Oke, aku lepas deh. Lagi galau tapi masih bisa ngeluarin argumen logis yang aneh, lucu juga."

 

Miori menjauh dariku dengan santai. Hujan kembali menghujam tubuhku.

 

"Ah, tapi biar aku bawakan tasmu saja gimana? Kalau sampai makin basah, buku cetak dan catatannya bisa gawat kan. Aku kan baik hati—."

 

Miori bertanya begitu sambil langsung merampas tas dari tanganku tanpa menunggu jawaban. Karena tidak ada celah untuk menolak, kurasa itu bukan lagi sebuah pertanyaan.

 

"—Jadi, ada masalah apa?"

 

Sambil memutar-mutar payungnya, Miori bertanya dengan wajah tersenyum. Aku merasa sedikit kesal dengan caranya yang lancang mencampuri urusanku tanpa basa-basi.

 

"Bukan urusanmu, kan."

 

"Urusanku banget tahu. Kan aku ini rekan kerja samamu dalam Proyek Masa Remaja Pelangi?"

 

Ah, benar juga, kami pernah membicarakan itu.

 

Sebagai imbalan aku membantunya mendekati Reita, dia akan membantuku dengan rencanaku. Dan memang benar, hari itu Miori sudah memberiku peringatan.

 

—Di mataku, sepertinya sedang terjadi masalah dalam rencanamu itu.

 

Waktu itu kereta langsung tiba, dan Miori dijemput orang tuanya. Tapi seharusnya aku bisa saja menelepon atau mengirim pesan RINE jika aku ingin tahu alasannya.

 

Aku terlalu optimis dan mengabaikan kata-katanya. Lebih tepatnya, aku melupakannya sampai sekarang. Karena aku berpikir tidak mungkin ada masalah.

 

"......Kalau begitu, hubungan kerja sama kita berakhir."

 

Aku minta maaf karena tidak bisa memanfaatkan peringatannya, tapi rencanaku toh sudah hancur sekarang.

 

 

Sesampainya di rumah, aku langsung melepas seragam dan mandi. Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk dan berganti pakaian santai, aku kembali ke kamar.

 

"O-oh, selamat datang kembali—."

 

Miori sedang berbaring di tempat tidurku sambil melambai-lambaikan tangannya.

 

"......Oi, kan sudah kubilang pulang sana."

 

"Sudahlah, jangan begitu. Ngomong-ngomong, kamar ini nggak berubah ya—."

 

Miori melihat sekeliling kamar sambil tetap berbaring. Hebat juga dia bisa sesantai itu di rumah orang lain. Lagipula, tolong jangan menunjukkan pose tanpa pertahanan begitu di kamar lawan jenis.

 

"......Nggak berubah? Memangnya kamu pernah ke kamarku?"

 

"Pernah pas zaman TK dulu. Ah, jangan-jangan kamu nggak ingat? Parah banget—."

 

"Itu kan cerita zaman dulu. Aku nggak punya memori soal masa TK."

 

Serius, aku tidak ingat. Apa karena secara mental aku sudah mahasiswa tingkat akhir? Tapi seingatku saat SMA pun aku hampir tidak punya ingatan tentang masa TK.

 

"Lagian, mau bagaimana pun pasti beda dengan zaman TK lah."

 

"Yah, bukunya jelas makin banyak— mana tipe-tipe buku otaku lagi."

 

Aku memang mulai hobi membaca light novel sejak kelas satu SMP dan membelinya dalam jumlah banyak. Melihat deretan seri dengan sampul yang agak seksi di samping tempat tidur, Miori terkekeh.

 

"Wah, dasar laki-laki."

 

"......Berisik. Jangan lancang melihat-lihat."

 

Aku melangkah ke tempat tidur dan merampas novel itu dari tangan Miori. Karena posisiku yang jadi seolah menindihnya, Miori malah menggerak-gerakkan kakinya sambil tertawa riang, "Kyaa— aku mau diserang—."

 

"Heh, mau benar-benar aku serang?"

 

"Halah, nyali saja nggak punya. Nggak usah dipaksakan, dasar perjaka."

 

Miori menyentil ujung hidungku dengan telunjuknya, lalu bangun dari tempat tidur.

 

Memang benar aku masih perjaka, tapi apa ada masalah? Lagipula Miori juga pasti masih perawan... Saat aku memikirkan itu, tiba-tiba aku tersadar.......

 

Eh, emangnya iya? Jangan-jangan bukan? Apa anak SMA zaman sekarang sudah sejauh itu? Aku penasaran, tapi karena tidak ingin tahu kenyataannya, aku memilih untuk tidak bertanya.

 

Miori berjalan ke pintu kamar lalu mengambil foto dengan kamera ponselnya.

 

"Hmm, yah, cuma rak bukunya saja yang nambah satu, tapi posisinya masih sama kan? Kayaknya."

 

"Yah, memang sih...... eh, kenapa difoto? Jangan di-upload ke Minstagram ya."

 

Baru saja aku menolak ajakan Uta dengan alasan ingin sendirian minggu ini. Kalau ketahuan aku malah sedang berduaan dengan Miori, suasananya bakal canggung sekali. Apalagi Uta dan Miori yang satu klub basket pasti berteman di Minstagram.

 

"Aku nggak akan posting kok, aku nggak mau dicurigai macam-macam sama Reita-kun. Ini cuma buat kenang-kenangan karena sudah lama kita nggak begini."

 

"......Maksudnya?"

 

Aku memiringkan kepala, lalu baru menyadarinya.

 

Benar, Miori seharusnya berada di klub basket putri yang sama dengan Uta. Karena Uta tadi pergi ke klub seperti biasa, harusnya hari ini bukan hari libur. Kenapa dia bisa berpapasan denganku di jalan pulang?

 

"Ngomong-ngomong, klubmu gimana?"

 

"Hmm, aku bolos."

 

"Hah?"

 

"Aku kan bukan anggota yang rajin seperti Uta—."

 

"Kenapa bolos?"

 

"Habisnya capek, sih. Seru, tapi merepotkan. Sesekali bolos nggak apa-apa, kan?"


"Bukannya kemarin-kemarin itu masa dilarang berkegiatan klub?"

 

"Itu beda lagi. Kan kemarin itu harus belajar. Padahal aku sudah begadang dan berjuang keras, tapi cuma dapat peringkat 8. Ternyata level sekolah ini tinggi juga ya—. Makanya, aku kaget banget waktu lihat namamu di peringkat 1. Ada apa tiba-tiba jadi begitu?"

 

"......Yah, aku cuma berusaha saja. Ya, semampuku."

 

"Demi debut SMA, atau demi Proyek Masa Remaja Pelangi itu?"

 

Aku mengangguk, dan Miori kembali duduk di tempat tidur sambil bergumam, "Begitu ya—."

 

"—Yah, alasan tadi itu cuma sekitar 20% saja, sih."

 

Aku sempat bingung dia bicara soal apa, ternyata dia kembali ke topik alasan membolos. Mengobrol dengan Miori memang terkadang membuat pembicaraan melompat-lompat atau bolak-balik. Sepertinya dia memang tipe orang yang mengikuti langkahnya sendiri.

 

"Terus, 80% sisanya?"

 

"Karena gelagat Uta aneh banget, kelihatan jelas kalau ada sesuatu yang terjadi. Aku sudah coba tanya tapi jawabannya nggak jelas. Sepertinya Uta juga nggak tahu detailnya, jadi sebenarnya aku tadi memang mencarimu."

 

Miori membentuk jarinya seperti pistol, mengarahkannya padaku, lalu bergumam, "Bakiun~."

 

"Begitu ya. Pantas saja kamu gigih sekali."

 

Kalau teman sedang terpuruk, wajar saja jika merasa ingin melakukan sesuatu.


Mengingat penyebabnya adalah aku, kupikir aku harus menjelaskan situasinya padanya.

 

"Gigih? Kasar banget sih bahasamu. Aku kan benar-benar rekan kerja samamu, kan?"

 

"......Kan sudah kubilang, rencananya sudah hancur."

 

"Aku paham kalau kamu berpikir begitu. Makanya, ceritakan dulu padaku."

 

Miori membujukku dengan lembut. Karena itu, aku pun terpikir untuk bercerita. Tapi mulutku tidak mau bergerak. Saat aku terdiam, Miori mulai mengusap kepalaku.

 

"......Hentikan, aku bukan anak kecil lagi."

 

"Tapi dulu, aku sering lho menenangkanmu waktu kamu menangis."

 

Kilasan pemandangan masa lalu terbayang di benakku. Memang benar, mungkin pernah ada masa lalu seperti itu.

 

"......Tapi itu kan cerita lama. Sekarang aku nggak merasa kita seakrab itu."

 

Kami memang akrab sejak TK sampai SD. Penyebab kami menjauh saat SMP sebenarnya adalah karena aku yang menjaga jarak darinya. Aku memendam rasa iri yang egois terhadap Miori yang ramah, punya banyak teman, dan selalu menjadi pusat perhatian.

 

Melihatku yang seperti itu, Miori menyerah untuk berinteraksi denganku. Dan begitulah aku berakhir menjadi penyendiri.

 

"Dasar laki-laki berpikiran sempit—. Kamu masih memikirkan kejadian waktu SMP itu?"


Dia menatapku dengan mata setengah tertutup, membuatku memalingkan muka. Berbohong rasanya kalau kubilang aku tidak memikirkannya.

 

"—Maaf ya. Karena aku nggak bisa menolongmu."

 

Namun, aku tidak menyangka dia akan meminta maaf seserius itu.

 

"Apa-apaan...... itu kan aku sendiri yang menjauh darimu. Bukan hal yang harus kamu mintai maaf!"

 

Karena itulah, aku mencoba mengubah diriku yang seperti itu. Daripada terus-menerus iri pada Miori, aku ingin berdiri di panggung yang sama dengannya. Itulah yang menjadi pemicu kenapa aku mencoba meraih masa remaja pelangi di kehidupan SMA-ku yang pertama.

 

"Benar juga ya—. Aku pun berpikir begitu. Sebenarnya aku nggak salah apa-apa, kan? Jujur, tolong ampuni aku ya. Waktu itu aku cukup sakit hati tahu? Tiba-tiba dibenci oleh teman masa kecil yang sudah akrab sejak lama. Mana mungkin aku terpikir kalau kamu cuma sedang iri padaku, kan?"

 

Aku terdiam seribu bahasa, tidak bisa membantah. Tadinya aku ingin bilang kalau begitu jangan minta maaf dari awal, tapi kata-kata Miori memang ada benarnya.

 

"Kenapa kamu bisa tahu? Kalau aku cuma iri padamu."

 

"Karena kamu berusaha keras banget buat sukses debut SMA. Padahal aku tadinya mengira kamu nggak suka suasana ala anak populer makanya aku mencoba maklum—. Tapi ternyata dugaanku benar ya."

 

"Ternyata? Jadi kamu tadi cuma memancingku ya."


Aku menatap Miori dengan kesal, tapi si pelaku yang sedang duduk bersila di kasur itu malah tertawa senang.

 

Kalau dipikir-pikir, hubungan ini terasa mirip dengan hubunganku dengan Tatsuya sekarang.

 

......Apakah Tatsuya sedang memendam perasaan yang sama seperti yang kurasakan saat itu?

 

"Melihat wajahmu yang seperti itu, pastinya kamu melakukan suatu kesalahan, kan?"

 

Tebakannya tepat sasaran. Aku tidak bisa berkata-kata.

 

"Aku paham kalau kamu nggak mau cerita. Mungkin itu kegagalan yang memalukan. Tapi, aku sudah mengenalmu sejak lama. Aku mengenalmu sebelum kamu melakukan debut SMA. Aku tahu betul kalau kamu nggak sekeren itu, kamu itu payah, dan nggak jago bicara sama orang. Lagipula aku sudah tahu kalau nggak mungkin rencanamu bakal berjalan mulus semuanya."

 

Miori berkata begitu sambil menunjukkan foto lamaku yang terlihat menyedihkan dari ponselnya.

 

"Jadi, kamu nggak perlu berpura-pura kuat di depanku. Kamu nggak perlu menyembunyikan dirimu yang sebenarnya."

 

Entah kenapa keringat mulai keluar dari mataku. Aku tidak mau mengakuinya sebagai air mata. Karena itu, aku menyalahkannya pada hujan deras yang mengguyur di luar.

 

 

Suara hujan terdengar.

 

Sedikit demi sedikit, aku mulai menyampaikan perasaanku yang tidak keruan. Apakah kamu ingin bercerita lebih banyak tentang bagaimana perasaanmu terhadap Tatsuya, atau justru merasa sedikit lega setelah Miori menenangkanmu?

 

Setelah aku selesai menceritakan semuanya, keheningan sempat menyelimuti ruangan. Bahkan bagi Miori sekalipun, ini adalah masalah yang sulit. Karena itulah sepertinya dia sedang merenung.

 

......Begitu ya. Ternyata ada kejadian seperti itu ya, gumam Miori.

 

Lalu tiba-tiba saja dia berdiri, dan—

 

Nggak, kamu itu benar-benar orang bodoh ya—!!

 

Dia melemparkan bantal sekuat tenaga ke arahku. Pandanganku seketika memutih. Hidungku terkena dampaknya.

 

Tadinya aku mau diam saja mendengarkan, tapi kekonyolanmu ini sudah keterlaluan......

 

Ap—, memang benar ini mungkin salahku, tapi kenapa kamu sampai—

 

Di situ letak kesalahannya! Nggak ada satu pun alasan yang mengharuskanmu merasa tertekan sampai begini tahu!

 

Dia menunjukku dengan tegas, membuat pikiranku terhenti sejenak.

 

......Hah?

 

Kok “Hah?”. Kan itu murni kesalahan si Tatsuya itu. Mau kamu bersikap seperti apa dan mau berteman akrab dengan gadis mana pun, itu kan hakmu.

 

Ta-tapi tetap saja, ujung-ujungnya akulah penyebabnya dan......


Haa—, nggak nyangka cuma gara-gara ini kamu sampai pasang muka gelap begitu......

 

Miori menghela napas, lalu berkata kepadaku dengan nada bicara yang kuat.

 

Dengar ya? Kamu nggak salah, jadi seharusnya kamu bersikap biasa saja! Setidaknya kamu nggak perlu terpuruk, apalagi sampai minta maaf! Malahan, kamu sama sekali nggak boleh minta maaf!

 

Bagian pertama dari perkataannya sama dengan yang dikatakan Reita. Memang mungkin benar begitu. Tapi, kenyataan bahwa Tatsuya menjauh dari kami tidak berubah.

 

Karena "masa remaja pelangi" yang kucari tidak ada di sana, aku merasa harus melakukan sesuatu.

 

Natsuki itu terlalu baik ya...... cuma bagian itu yang nggak berubah sejak dulu. Tapi, meskipun kamu minta maaf, hal itu cuma akan membuat Tatsuya-kun merasa semakin menyedihkan.

 

Baru saja aku hendak bertanya "kenapa", aku langsung menyadarinya. Jika aku berada di posisi yang sama, hal yang paling tidak kusukai adalah dimintai maaf.

 

Akulah yang bersalah, sementara kamu tidak salah apa-apa. Aku pasti akan tersiksa oleh penyesalan karena telah membuatmu meminta maaf.

 

......Lalu, aku harus bagaimana? Pada akhirnya, aku...

 

Setelah memastikan kembali situasinya, nyatanya tetap tidak ada yang terselesaikan. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Lagipula, aku tetap tidak tahu harus berbuat apa.

 

Di situ, aku teringat peringatan Miori tempo hari.

 

......Ngomong-ngomong, kamu pernah bilang sesuatu padaku, kan? Kayak 'ada masalah dalam rencanamu', atau semacamnya.

 

Ah, kalau itu, aku mengatakannya bukan karena menyangka hal seperti ini akan terjadi kok.

 

Miori berkata begitu, lalu menempelkan tangan di mulutnya sambil berpikir keras.

 

......Tapi, itu juga nggak sepenuhnya meleset sih. Bagiku, kamu itu terlihat terlalu memaksakan diri. Makanya aku jadi berpikir, apa kamu sendiri benar-benar merasa puas dengan hal itu.

 

Aku mengernyitkan dahi mendengar kata-kata Miori.

 

Memang benar aku selalu menjaga sikap. Aku berusaha bertindak hati-hati dan sopan. Sebab jika aku menunjukkan diriku yang sebenarnya, sudah pasti aku akan dibenci seperti sebelumnya.

 

Kamu memang sudah berjuang keras. Aku yang mengenalmu sejak dulu tahu betul soal itu. Saking hebatnya sampai-sampai selain aku mungkin nggak ada yang bisa menyadarinya. Makanya kurasa, kamu itu jadi terlalu sempurna sampai nggak punya celah.

 

Terlepas dari penilaian pribadiku, belakangan ini aku mulai paham bahwa di mata orang lain memang terlihat seperti itu.

 

Bisa dibilang nggak ada sisi manisnya, atau terlalu seperti orang sempurna sampai-sampai memberi kesan sulit didekati. Padahal hal itu jauh banget dari dirimu yang sebenarnya, kan? Tapi, pasti Tatsuya-kun juga berpikir begitu.

 

Kalau begitu, apa yang harus kulakukan.


......Sulit bagiku untuk mengubah diri lebih dari ini. Ini saja aku sudah melakukan segalanya sekuat tenaga.

 

Miori menatap wajahku lekat-lekat saat aku menjawab seperti itu.

 

......Sepertinya aku terpikir satu solusi. Mungkin ini terlalu langsung untuk disebut sebagai sebuah taktik.

 

Benarkah?

 

Bagiku, sudah tidak ada jalan keluar lagi.

 

......Tolong, Miori. Bantu aku.

 

Namun, jika itu Miori yang paling mengenalku, aku memutuskan untuk menggantungkan harapan padanya.

 

——Kalau begitu, ayo tunjukkan dirimu yang sebenarnya kepada mereka semua.

 

Aku terdiam saat mencerna makna dari kata-kata yang diucapkannya dengan lembut itu.

 

Itu tidak mungkin. Sebab, diriku yang sebenarnya adalah aku yang penyendiri. Laki-laki yang tidak pandai bicara, selalu pesimis, tidak punya keberanian untuk menyapa orang lain, iri pada Miori sampai menjaga jarak, namun di saat yang sama benci kesepian—karakter yang menyedihkan. Seorang remaja yang menjalani masa remaja abu-abu. Tidak akan ada orang yang menyukai diriku yang asli seperti itu.


Itulah alasannya kenapa aku sekarang berusaha untuk mengubah diriku.

 

Dengar ya? ——Aku menyukaimu lho.

 

Pernyataan cinta yang tiba-tiba.


Awalnya kupikir dia sedang menggodaku, tapi aku terperangkap oleh tatapan matanya yang serius.

 

Aku suka kamu yang sedang berjuang keras, tapi aku juga suka dirimu yang apa adanya.

 

Nada bicaranya pelan, seperti sedang menasihatiku. Karena itulah kata-kata itu meresap ke dalam hatiku.

 

Aku sadar pipiku mulai memanas. Mungkin karena itu juga, wajah Miori perlahan memerah dan dia memalingkan muka.

 

......Tapi, jangan salah paham ya. Ini murni sebagai teman, sebagai hubungan teman masa kecil yang nggak bisa dipisahkan, oke? Intinya, yang ingin kukatakan adalah kamu nggak perlu menyembunyikan apa pun!

 

......Apa benar tidak apa-apa?

 

Habisnya, Natsuki menganggap mereka itu teman, kan?

 

Saat ditanya begitu, aku mengangguk.

 

Setidaknya bagiku, mereka adalah teman.

 

Apa kamu menyebut orang yang membuatmu nggak bisa bersantai, orang yang nggak bisa kamu ajak bicara jujur, sebagai seorang teman?

 

Pikiranku terhenti. Aku tidak tahu jawabannya. Namun, yang pasti sekarang aku sedang berada dalam kondisi seperti itu.

 

Dengan hubungan yang seperti itu, apa kamu bisa mendapatkan apa yang kamu sebut masa remaja pelangi itu?

 

Apa yang dikatakannya memang benar. Tapi, aku merasa seolah usahaku untuk berubah sedang ditolak.

 

......Lalu, apa kamu mau bilang kalau usahaku untuk mengubah diri selama ini sia-sia?

 

Aku khawatir jika dia mengangguk. Jika usahaku selama ini ditolak, lalu bagaimana aku harus menjalani hidup ke depannya? Apakah kamu ingin menanyakan lebih lanjut kepada Miori mengenai rencananya untuk menunjukkan "dirimu yang asli", atau masih merasa ragu karena takut kehilangan teman-temanmu yang sekarang?

 

Menghadapi diriku yang sedang bimbang seperti itu, Miori berkata dengan santai,

 

"Aku kan tidak bilang begitu. Buktinya sekarang, kamu sudah bisa punya teman-teman yang baik, kan?"

 

Hanya saja, lanjut Miori.

 

"Mengubah diri dan menyembunyikan diri itu berbeda. Tentu saja aku tidak bilang kalau menyembunyikan diri itu sepenuhnya buruk, tapi kalau kamu terus-menerus menutupi dirimu, orang lain akan merasakan adanya 'tembok'."

 

Miori bilang, mungkin itu juga salah satu alasan kenapa Tatsuya-kun menjauhkan diri dariku. Lalu, dia menudingkan jarinya tepat di depan hidungku.

 

"Tentu saja, kalau kamu melakukan kesalahan, aku yang akan menegurmu. Jadi, jujurlah pada dirimu sendiri."

 

Miori mengatakannya dengan ekspresi bangga.

 

"Mungkin itu saran terbaik dari aku, rekan kerja samamu?"


Aku mencerna makna kata-kata itu.

 

Aku tidak tahu apakah itu jawaban yang benar. Tapi, itu adalah kata-kata dari teman masa kecil yang paling mengenalku. Jika kamu ada di sisiku untuk mendukungku, mungkin masa remaja pelangi itu bisa tercapai.

 

Begitulah pikirku. Aku memutuskan untuk percaya padanya. Aku mengakui Miori sebagai rekan dalam Proyek Masa Remaja Pelangi ini.

 

——Karena itu, aku memutuskan untuk bersikap jujur.

 

Tak peduli seberapa takut atau mengerikannya hal itu, demi menjadi teman yang sesungguhnya.

 

 

Hari Senin di awal minggu. Begitu sampai di sekolah, aku masuk ke kelas dan langsung berdiri tepat di depan Tatsuya. Dengan begini, Tatsuya mau tak mau harus merespons. Dia mendongak menatapku dan bertanya.

 

"......Ada apa, Natsuki?"

 

"Bisa bicara sebentar?"

 

Aku mengarahkan jempolku ke luar kelas.

 

Tatsuya tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku menganggapnya sebagai jawaban "ya". Saat aku mulai berjalan keluar kelas, Tatsuya sempat terlihat ragu sejenak, tapi dia mengikutiku.

 

Tatapan teman sekelas tertuju pada kami. Kami adalah grup paling mencolok di kelas ini. Terlebih lagi Tatsuya yang sangat menonjol tiba-tiba menyendiri, tentu saja hal itu menjadi bahan pembicaraan. Sekarang, karena kami akhirnya terlihat bicara lagi, wajar jika kami menjadi pusat perhatian. Di antara tatapan itu, ada juga Hoshimiya dan yang lainnya.

 

Suka atau tidak, kami memang terlalu mencolok. Karena sepertinya kami tidak bisa bicara dengan tenang di kelas atau di koridor, aku memutuskan untuk naik ke atap.

 

Atap sekolah ini secara formal dilarang untuk dimasuki, tapi karena kuncinya rusak, kenyataannya tempat ini bisa diakses bebas, bahkan banyak murid yang biasa makan siang di sana. Meski begitu, di jam pagi seperti ini seharusnya tidak ada orang.

 

Saat aku menaiki tangga, Tatsuya mengikutiku dengan patuh. Aku membuka pintu atap yang hampir rusak. Aku berjalan sampai ke dekat pagar, lalu berbalik. Tatapanku dan Tatsuya beradu. Dia memasang ekspresi canggung.

 

"......Ada urusan apa?"

 

"Apa maksudmu 'ada urusan apa'. Kamu dan aku kan teman?"

 

Tatsuya membuang muka.

 

"......Sudah kubilang, kan. Biarkan aku sendiri."

 

"Sampai kapan? Ini sudah seminggu lho."

 

"Mungkin, grup kalian lebih baik tanpa orang seperti aku. Jadi jangan dipikirkan."

 

"Kenapa kamu berpikir begitu? Setidaknya aku tidak pernah berpikir seperti itu."

 

"Mungkin saja. Kamu memang begitu. Tapi belakangan ini aku selalu berpikir begitu. Karena aku sadar kalau ternyata aku ini orang yang jauh lebih payah dan sensitif daripada dugaanku."

 

Sosok Tatsuya yang biasanya selalu berdiri dengan gagah, kini terlihat sangat menyedihkan.

 

"Kamu pasti paham, kan. Aku——aku merasa muak karena iri padamu. Rasanya sudah melebihi batas 'iri' yang biasa. Aku tidak mau memendam perasaan seperti itu kepada teman. Makanya aku harus menjaga jarak."

 

"......Apa karena aku akrab dengan Uta?"

 

Aku sempat ragu untuk menanyakannya. Tapi kalau tidak berani melangkah di sini, lalu kapan lagi?

 

"......Ternyata kamu sadar ya?"

 

"Tadinya aku tidak tahu. Aku dengar dari Reita."

 

"Begitu ya. Benar, aku menyukainya. Sejak SMP, terus-menerus."

 

Tatsuya berjalan ke sampingku dengan wajah yang sedikit memerah. Dia menyandarkan sikunya di pagar sambil menatap pemandangan di bawah.

 

"......Aku sendiri kaget ternyata aku se-iri ini. Padahal, aku tidak punya cara apa pun untuk merebut kembali perasaan Uta darimu. Tidak ada satu pun hal dariku yang bisa mengalahkanmu. Bahkan basket yang jadi kebanggaan utamaku...... aku sudah main sekuat tenaga, tapi kalah dengan mudah."

 

Sebenarnya tidak semudah kelihatannya, tapi meski kukatakan begitu, Tatsuya pasti tidak akan terima. Lagipula pada kenyataannya, mungkin aku akan tetap menang berapa kali pun kami bertanding.


Memang ada perbedaan kemampuan di sana.

 

"——Oi, Tatsuya."

 

"Jangan minta maaf ya," potong Tatsuya seolah ingin mendahuluiku.

 

"Yang salah itu aku. Kamu tidak punya tanggung jawab apa-apa. Jadi, jangan minta maaf."

 

Seolah sudah puas hanya dengan mengatakan itu, Tatsuya hendak berbalik untuk pergi.

 

"......Sudah cukup, kan. Ayo kembali ke kelas."

 

"Oi, Tatsuya."

 

"Masih ada lagi?"

 

Terhadap Tatsuya yang menoleh dengan heran, aku berkata:

 

"Minta maaf? Jangan bercanda ya, bodoh. Aku ke sini buat melayangkan protes padamu tahu!"

 

"............Hah?"

 

Karena aku sudah memutuskan untuk jujur, akan kuhantam dia dengan isi hatiku yang sebenarnya.

 

Maksudku, kalau dipikir-pikir secara tenang, aneh juga kalau aku yang minta maaf. Lagipula, iri karena aku "terlalu sempurna" itu benar-benar tidak masuk akal... ya, meski aku sendiri juga pernah merasakan iri yang tidak masuk akal sih. Pokoknya, aku paham kenapa Miori mengejekku "bodoh". Aku dan kamu, kita berdua sama-sama bodoh.

 

Lagipula kamu itu, entah mau dibilang sensitif atau apa, intinya kamu itu cuma bodoh, tahu nggak.

 

......Tiba-tiba ngomong apa sih. Kalau dilihat dari sudut pandangmu memang—

 

—Mata kamu itu yang katarak. Coba pikir pakai logika, mana ada di dunia ini orang yang benar-benar sempurna.

 

Aku menudingnya dengan tegas sambil bicara.

 

Tapi, kenyataannya kan......

 

Ah—, aku tahu kamu mau bilang kalau kenyataannya di matamu aku ini sempurna. Kalau begitu, coba kamu pikirkan sedikit perasaanku. Aku ini baru masuk sekolah dan lagi pasang urat saraf tahu. Apa pun yang kulakukan, aku selalu berhati-hati, teliti, dan melakukannya sambil menahan gugup. Ya wajarlah kalau sesekali kelihatan sempurna.

 

Sambil gugup......? Jangan bercanda deh.

 

Ini sama sekali bukan bercanda. Di tempat yang nggak kelihatan olehmu, aku itu berjuang mati-matian tahu. Nggak ada alasan buat kamu iri padaku. ——Jangan lari dariku, Tatsuya. Hadapi aku dengan benar.

 

Satu pun omonganmu nggak ada yang bisa kupercaya. Bagiku, kamu itu sama sekali nggak kelihatan seperti orang yang begitu. Kamu selalu beresin apa pun dengan enteng, sambil pasang muka seolah 'ah ini mah gampang'.

 

Itu mah kata-kataku buat kamu, dasar power-type populer! Bisa akrab sama macam-macam orang dengan gampangnya, terus menjalani masa remaja dengan wajah tanpa beban. Padahal aku harus menguras mental setiap saat tahu!


......Hah?

 

Malahan, sambil bicara begini aku jadi makin kesal. Kenapa aku harus diiriin sama orang yang jadi bentuk ideal dari anak populer seperti dia? Rasa iri itu seharusnya aku yang rasakan kepadamu, tahu!

 

Dengar ya Tatsuya, pasang telingamu baik-baik. Akan kuhancurkan imajinasimu tentang diriku.

 

Aku menuding Tatsuya dengan wajah angkuh. Memikirkan apa yang akan kuucapkan setelah ini membuat pipiku terasa panas. Tapi, aku sudah memutuskan untuk bicara jujur. Untuk itu, aku tidak peduli meski harus mempermalukan diri sendiri.

 

Namaku Haibara Natsuki! Mantan Inkya otaku yang baru saja melakukan debut SMA! Salam kenal!

 

Setelah gertakan yang terdengar keren, yang keluar justru pernyataan yang sangat tidak keren.

 

Tatsuya melongo dan bergumam, ......Hah?. Ya wajarlah reaksinya begitu.

 

Aku nggak bohong ya. Karena, inilah penampilanku waktu SMP!

 

Aku menunjukkan layar ponselku kepada Tatsuya. Di sana terpampang fotoku zaman dulu saat masih gemuk, berkacamata, dan terlihat menjijikkan. Kalau kulihat lagi, aku benar-benar tipikal bocah introvert yang suram. Saking menjijikkannya sampai aku ingin menangis sendiri.

 

Fuhaha, ada masalah!?




Aku sadar kalau semangatku agak kacau sekarang, tapi tolong maafkan aku karena aku baru saja membongkar rahasia yang kusimpan rapat-rapat sejak hari pertama sekolah. Bisa dibilang, inilah diriku yang sebenarnya.

 

Enggak, aku nggak protes sih...... tapi, ini beneran kamu?

 

Kamu pikir aku bohong? Tapi kalau dilihat baik-baik, struktur wajahnya sama, kan?

 

......Serius? Eh, beneran nih?

 

Tatsuya memandangi foto di ponselku lekat-lekat, lalu mulai men-scroll sesukanya. Alhasil, koleksi ensiklopedia gadis dua dimensi yang kusimpan di ponsel pun terpampang nyata.

 

Bodoh, jangan! Berhenti ngelihatin istri-istriku sesukamu!

 

......Tadinya aku nggak percaya, tapi setelah lihat ini, entah kenapa aku jadi mulai yakin.

 

Berhenti deh pakai prasangka kalau otaku itu pasti identik sama anak kuper. Zaman sekarang nggak selalu begitu, tahu.

 

......Lagian kamu, nggak pernah cerita kalau kamu itu otaku?

 

Kan sudah kubilang. Aku lagi pasang urat saraf...... atau lebih tepatnya, aku lagi jaga gengsi.

 

Aku mengatakannya sambil memalingkan muka. Rasanya memalukan harus menjelaskan sekali lagi kalau selama ini aku cuma berpura-pura kuat. Cobaan macam apa ini? Memikirkan kalau aku melakukan semua ini demi orang di depanku ini membuatku kesal. Benar-benar keterlaluan.

 

Tatsuya, untuk pertama kalinya, tersenyum jahil.

 

......Kamu menyembunyikannya, berarti sebenarnya kamulah yang paling menganggap diri sendiri begitu, kan?

 

Berisik! Jangan membongkar psikologi terdalam seorang Inkya otaku!

 

Yah, memang benar begitu adanya. Waktu SMP aku sendirian, jadi wajar kalau aku jadi sangat suka novel ringan atau anime. Aku selalu beralasan kalau aku diam saja hanya karena tidak ada orang di grup ini yang seleranya cocok, tapi sebenarnya aku menyembunyikannya karena itu terasa sangat "anak kuper banget".

 

Padahal aku tahu zaman sekarang banyak anak populer yang terang-terangan mengaku otaku.

 

Heeh, jadi ini seleramu, dan ini dirimu yang dulu ya. Heeeh.

 

Tatsuya terus menggeledah foto-foto di ponselku tanpa izin. Meskipun aku menyuruhnya berhenti, dia tidak mendengarkan.

 

Gimana ceritanya si otaku menjijikkan ini bisa jadi laki-laki tampan kayak kamu sekarang?

 

Diam, wajahku dari awal memang nggak buruk. Itu sudah dijamin sama teman masa kecilku. Cuma karena dulu aku gendut dan nggak peduli penampilan, jadinya begitu. Makanya pas liburan musim semi aku berjuang keras.

 

......Demi debut SMA?

 

Iya! Aku itu mengagumimu, orang seperti kamu!

 

Kamu, mengagumiku?


Tatsuya melongo. Wajah tanpa dosanya itu benar-benar membuatku kesal.

 

Makanya, kata-kata itu seharusnya keluar dari mulutku!

 

Aku memajukan wajahku dan melotot padanya.

 

Rasa iri itu milikku. Kembalikan. Lagipula, orang yang kukagumi malah iri padaku itu benar-benar kejutan yang nggak masuk akal. Semua gaya anak populerku ini kan hasil meniru kamu dan Reita!

 

Gayamu yang sesekali pakai bahasa formal yang sulit itu emang bau-bau anak kuper sih.

 

Jangan mentang-mentang tahu aku ini hasil debut SMA terus kamu cari-cari kesalahanku dong!?

 

Saat aku mulai berisik, Tatsuya menghela napas panjang yang dibuat-buat.

 

Kamu ini orang yang merepotkan ya.

 

Kamu yang lebih merepotkan tahu! Aku nggak mau dibilang begitu sama kamu! Gara-gara alasan sensitifmu itu, kamu malah bikin repot saja! Pokoknya balik sana! ——Semuanya menunggu.

 

Aku bicara sambil menatap matanya. Terlihat jelas keraguan di ekspresi Tatsuya. Karena itu, aku menegaskan sekali lagi. Sambil berpikir kalau dia memang orang yang sangat merepotkan.

 

Jangan lari, Tatsuya. Kalau kamu sesuka itu sama Uta, buktikan dengan merebutnya. Apa kamu nggak malu takut sama orang hasil "rakitan" sepertiku? Padahal akunya malah takut padamu tahu!?

 

Entah apa yang kubicarakan. Aku sendiri merasa kata-kataku aneh.


Aku bicara terlalu terbawa suasana. Tapi aku lanjut terus. Karena memang ini adalah kejutan kejujuranku.

 

Kalau kamu lari terus begini, Uta nggak akan melirikmu. Dengan begitu, kamu nggak akan bisa menang dariku, kan?

 

......Wah, sombong banget ya bicaranya, padahal cuma hasil debut SMA.

 

Kelihatannya begitu, ya? Iya sih...... emang bener. Maaf.

 

Emosimu nggak stabil ya!?

 

Berisik! Aku lagi bingung harus pakai karakter apa karena tiba-tiba membongkar jati diri!

 

......Kamu beneran jaga gengsi banget ya selama ini.

 

Iya lah! Nggak kayak kamu, kalau aku jadi diriku yang asli, aku nggak akan dihargai, makanya aku belajar macam-macam hal! Aku ini cuma orang yang selevel itu! Jauh dari kata sempurna! Jadi, berhenti melakukan hal payah kayak lari ketakutan dari orang sepertiku!

 

Aku berteriak padanya.

 

Orang yang seperti itu——bukanlah sosok yang kukagumi.

 

Angin berhembus di atap. Di depanku, rambut pendek Tatsuya bergoyang.

 

Tapi...... gimana aku menjelaskannya. Nggak mungkin aku tiba-tiba balik terus bilang 'aku sudah kembali' begitu saja.

 

Ya nggak ada pilihan lain selain jujur! Bilang saja: Sebenarnya aku suka banget sama Uta-chan sampai-sampai aku iri sama Natsuki-kun yang belakangan ini akrab dengannya, apalagi aku merasa nggak bisa menang darinya makanya aku lari karena aku ini laki-laki yang payah banget——begitu!

 

Nggak perlu sampai segitunya juga kali!?

 

Itu kan fakta!?

 

Meskipun begitu, mana mungkin aku bisa ngomong begitu! Iya sih, emang bener! Tapi kalau diomongin orang lain rasanya nggak terima! Lagian, aku nggak mau ketahuan sama Uta!

 

Cih, bener-bener laki-laki sensitif ya. Makanya kamu cinta bertepuk sebelah tangan bertahun-tahun. Aku kecewa.

 

Mulutmu kok jadi pedes banget sih!?

 

Soalnya tadi aku takut padamu. Sekarang, aku sadar kalau kamu nggak perlu ditakuti.

 

Aku mengedikkan bahu dan mulai berjalan kembali ke kelas.

 

Ayo, pergi.

 

Sudah hampir waktunya wali kelas masuk. Aku tidak berniat bolos demi orang seperti dia.

 

Sialan...... bener-bener berasa nggak puas......

 

Tatsuya menyusulku sambil menggerutu. Sepertinya sudah tidak perlu khawatir lagi. Aku penasaran bagaimana dia akan memberikan penjelasan nanti.

 

——Saat aku sedang menyeringai puas sambil membuka pintu atap,

 

Ah, t-tunggu!?

 

Eh, ee-ehh!?

 

Hikari!? Tunggu, jangan tarik-tarik——

 

Dosa-dosa-dosat! Tiga orang gadis jatuh tersungkur ke lantai dengan suara berdebum yang cukup keras.

 

Hah? Apa-apaan ini? Pikiranku mendadak buntu. Tiga orang yang jatuh itu jelas-jelas adalah Uta, Hoshimiya, dan Nanase. Eh, Nanase juga ikut?

 

Saat aku menoleh kembali ke arah pintu, Reita hanya bisa tersenyum kecut.

 

Yah, aku sudah mencoba menghentikan mereka, sih. Tapi karena mereka bilang ingin dengar apa pun yang terjadi—

 

Perlahan aku mulai memahami situasinya. Melihat cara mereka jatuh, sudah pasti ketiga orang ini tadi sedang menyandarkan seluruh berat tubuh mereka ke pintu. Lebih spesifiknya, mereka menempelkan telinga untuk mendengarkan suara dari atap dengan jelas. Jadi, begitulah ceritanya.

 

......Jadi, apa jangan-jangan, kalian dengar semua pembicaraannya?

 

A-ah......

 

Ketiganya memasang wajah yang sangat sulit untuk menjawab. Yang terlihat paling canggung adalah Uta. Saat aku menatap Tatsuya, wajahnya terlihat jauh lebih bengong daripada aku. Aku pernah dengar kalau seseorang akan merasa tenang saat melihat orang lain jauh lebih panik darinya, dan sepertinya itu benar.

 

E-eerr...... iya, kami dengar. Maaf ya sudah menguping tanpa izin.

 

Uta meminta maaf setelah sempat ragu harus bicara apa. Ini pertama kalinya aku melihat Uta bicara dengan tidak tegas. Mungkin karena ini masalah yang sangat sensitif. Mata Uta dan Tatsuya beradu. Wajah Uta sedikit memerah, lalu dia berkata:

 

Anu...... soal itu, maaf ya, Tatsu? Aku sepertinya cuma bisa menganggap Tatsu sebagai teman saja.

 

Eh, kok malah langsung dikasih serangan pamungkas begitu...... bahkan aku sendiri pun sampai merinding melihatnya. Kenapa harus sekarang banget!?

 

Saat aku melirik ke arah Tatsuya dengan was-was, dia terlihat seolah-olah akan hancur menjadi debu putih dan menghilang.

 

O-oi, Tatsuya! Sadarlah!

 

Aku mengguncang bahunya, dan kepalanya bergoyang-goyang lunglai. Dia benar-benar pasrah.

 

Ufufu...... aku sudah tidak peduli lagi akan jadi apa nanti......

 

Karakter macam apa itu!?

 

Aku menitipkan Tatsuya yang sedang linglung kepada Reita, lalu berbisik kepada Uta.

 

Apa yang kamu lakukan sih Uta, padahal aku sudah susah payah membujuknya......!?

 

A-ah, maaf! Aku terlalu panik, jadi malah kejujuranku yang keluar......!?

 

Suaramu terlalu keras!

 

Gara-gara suara Uta yang terlalu keras, Tatsuya malah terkena serangan tambahan.

 

Aaakh, maaf! Anu, maaf ya, Tatsu? Tapi, soal itu, gimana ya, aku sama sekali nggak menyangka, ini terlalu di luar dugaan, tapi aku senang kok dengan perasaanmu......

 

......Uta, tolong berhenti. Tatsuya sudah di batas kemampuannya.

 

Reita dengan wajah serius membungkam mulut Uta.

 

Tapi ngomong-ngomong, kupikir ada apa, ternyata cuma masalah yang sangat sepele ya.

 

Kata-kata yang dilontarkan bersamaan dengan helaan napas Nanase itu membuat punggung Tatsuya semakin membungkuk.

 

Yu-Yuino-chan, jangan bicara begitu dong......

 

Masa? Kalau aku jadi dia, aku malah lebih benci kalau orang-orang pura-pura tidak tahu dan menjaga jarak dariku.

 

Lalu Nanase menyeringai dan menatapku.

 

——Benar begitu kan, wahai Si Debut SMA?

 

Ah...... aku sudah tahu. Aku sudah tahu kok. Kalau pembicaraan tadi kedengaran, artinya ya bakal jadi begitu!

 

Y-yah, sejak awal aku bicara dengan Tatsuya, aku sudah siap kalau rahasia ini terbongkar!?

 

Entah kenapa aku melirik ke arah Hoshimiya, dan dia membalasnya dengan senyum canggung yang ambigu.

 

A-anu...... lebih baik jangan dibahas ya?

 

............Nggak apa-apa kok. Aku juga memang berniat menceritakannya kepada kalian suatu saat nanti.

 

Aku menjawab sambil menjatuhkan bahu karena pasrah. Lalu Nanase mendekat dengan senyum geli di wajahnya.

 

Kalau begitu, aku ingin lihat foto yang tadi kamu tunjukkan kepada Nagiura-kun.

 

Dia melirik ke ponselku.

 

Aku buru-buru menyembunyikannya di balik punggung. Benar-benar berat rasanya kalau penampilanku yang dulu dilihat orang lain. Aku bisa menunjukkannya kepada Tatsuya karena dia teman laki-laki, tapi kalau dilihat teman perempuan rasanya sesak sekali.

 

A-aku juga mau lihat lho—.

 

Hoshimiya bersiul sambil bicara dengan nada yang dibuat-buat. Pandangannya terus melirik-lirik ke arah ponselku.

 

Hoshimiya juga!?

 

Melihatnya dilihat oleh orang yang kusukai itu jauh lebih mustahil lagi.

 

Saat aku sedang sibuk melarikan diri dari mereka berdua, Tatsuya sepertinya sedikit pulih dan mulai berdiri sendiri.

 

Kukuku...... sekarang aku sudah tidak takut apa-apa lagi.

 

Dia benar-benar kehilangan jati diri karakternya. Walaupun kata-katanya terdengar berani, tapi ekspresi wajahnya masih terlihat menyedihkan.

 

Uta dan Reita menatap Tatsuya dengan rasa khawatir. Tatsuya melotot ke arahku.

 

Natsuki, aku tidak akan memaafkanmu!

 

Bukannya dari awal ini salahmu sendiri! Lagian kenapa aku jadi ikut terseret juga!?

 

Itu kan salahmu sendiri karena nggak hati-hati!

 

Harusnya aku yang bilang begitu, tahu!?

 

——Ya, ya, sudah sampai di situ. Sebentar lagi wali kelas benar-benar akan masuk.

 

Reita menengahi aku dan Tatsuya yang sedang saling melotot sambil bertepuk tangan.

 

Benar saja, saat melihat jam, waktu yang tersisa tinggal satu menit lagi. Semua orang mulai panik karena kalau tidak lari ke kelas, kami bisa dianggap terlambat. Sepertinya Nanase tidak mau menoleransi keterlambatan, dia langsung berlari dengan gagah. Reita menyusul di belakangnya. Uta pun hendak mengikuti mereka, tapi—

 

Uta.

 

Tatsuya memanggilnya. Aku dan Hoshimiya melihat mereka dari posisi paling belakang.

 

Hmm, apa?

 

Aku nggak akan menyerah ya.

 

Tatsuya menyatakan itu dengan wajah serius, lalu berjalan pergi begitu saja.

 

......Meski dia laki-laki sensitif yang memendam cinta selama bertahun-tahun, ternyata dia bisa juga bersikap keren ya.

 

Uta berdiri terpaku dengan wajah yang merah padam.

 

Hoshimiya bergumam Kyaa— dengan suara pelan sambil merona lebih merah daripada Uta. Lalu mata kami bertemu. Entah kenapa mata Hoshimiya terlihat berbinar-binar. Sepertinya dia tipe yang sangat tertarik dengan urusan asmara seperti ini.

 

Bagus ya. Terasa seperti masa remaja.

 

Mendengar Hoshimiya bicara dengan nada senang, aku pun setuju. Sambil menghela napas dan mengedikkan bahu.

 

——Iya, benar. Benar-benar terasa seperti masa remaja.

 

Masa remaja yang kini diwarnai oleh pelangi.

 

Pelangi yang muncul setelah hujan itu terlihat indah, dan sepertinya itu memang benar adanya.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !