Episode 4
Tugas Harian Kotori dan Kesalahpahaman
Sejak saat itu, setelah
Kotori berhasil mendapatkan pemicu dan menguasai kiat-kiat untuk menyapa, ia
bisa saling menyapa dengan Toba tanpa masalah.
Hubungannya dengan Toba
tampaknya berjalan baik.
Karena mereka sudah
bertukar kontak, ia sering menerima pesan-pesan biasa dengan gambar, seperti 《Aku berhasil mengambil
foto matahari terbenam yang sangat indah!》, 《Masakan super pedas
yang lagi viral di kedai gyudon dekat sekolah benar-benar pedas!》, 《Aku pinjam manga shojo
yang jadi sumber film viral dari adikku, dan aku nangis bombay!》. (Meskipun Kotori
bingung harus membalas apa, ia hanya membalas dingin seperti 《Oh ya?》 atau 《Begitu》, atau ia biarkan pesan
itu terbaca dan ditahan karena tidak tahu harus membalas apa.)
Selain itu, meskipun
baru sekali, Kotori berhasil menyapanya dengan mengucapkan ’Ohayo’ (selamat
pagi) tanpa melakukan rutin sebelumnya. Bagi Kotori, itu adalah pencapaian yang
luar biasa.
Takumi, yang melihat
Kotori telah menaiki satu anak tangga kedewasaan di depan matanya, merasa
bangga sekaligus dilanda kecemasan akan tertinggal.
Kebetulan, Kotori pada
hari itu, meskipun di luar bersikap seperti “Putri Es yang menyendiri” seperti
biasa, ia sering mengirim pesan genit selama pelajaran, seperti 《Aku sangat gugup!》, 《Aku mengatakannya
dengan benar, kan!?》,
《Aku
berhasil mengatakannya duluan!》. Dia pasti sangat senang. Sepulang
sekolah, mereka merayakan dengan kue keju yang dibeli di Kingyo Mall, di
kamarnya.
Dan tibalah pagi hari
piket.
Karena orang tua Kotori
sedang dinas luar kota sejak hari sebelumnya, Takumi sudah mengunjungi kamar
Kotori sejak pagi sekali. Tentu saja, untuk berjaga-jaga, mereka melakukan
rutin.
Setelah menyelesaikan
rutin yang memakan waktu lebih lama dari biasanya, suasana tegang menyelimuti
ruangan.
Saat mengenakan celana
dalamnya, Kotori dengan suara agak bingung dan hati-hati, melontarkan kata-kata
yang berbeda dari biasanya.
“Takumi... hari ini,
apa... tidak menyenangkan?”
“Hah?”
Takumi membelalakkan
mata ke arah Kotori, terkejut dengan pertanyaan yang tak terduga.
Kotori segera
mengalihkan pandangan, dan dengan bulu mata yang bergetar, ia menjelaskan
alasannya.
“Cara kamu bergerak,
berbeda dari biasanya, begitu...”
Kotori benar.
Sebenarnya, kali ini Takumi bergerak berbeda karena ada sesuatu yang ingin ia
coba.
Kepada Kotori yang
tampak bingung, Takumi bertanya dengan hati-hati, khawatir rencananya gagal.
“Itu... aku mencoba
mengubah caranya karena ada yang ingin kucoba hari ini... Apa, itu malah
menyakitkan, atau...?”
“T-tidak begitu.
Berbeda dari sebelumnya, rasanya terlalu menyenangkan, jadi aku kesulitan...
Ah.”
“...Oh, jadi
menyenangkan. Syukurlah kalau begitu.”
TLN: Ngw
macam apa ini cok?
Kali ini, dia tidak
hanya melakukannya dengan gerakan monoton dan kasar hanya untuk ejakulasi,
tetapi ia mencoba bermain dengan tempo, menambahkan gerakan memutar, dan
mengubah titik-titik rangsangan.
Karena itu adalah
pengetahuan dadakan yang ia cari di internet, ia merasa cemas, tetapi ia lega
karena berhasil membuat Kotori merasa senang, dan diam-diam ia juga merasa
percaya diri.
Bagi Kotori, tujuan
rutin hanyalah agar Takumi ejakulasi, sehingga reaksinya selalu biasa saja.
Oleh karena itu, Takumi tidak tahu apakah Kotori merasa senang atau tidak, dan
ia juga tidak pernah bertanya.
Namun, alasan ia ingin
membuat Kotori senang kali ini adalah karena ia tidak bisa memenuhi permintaan
rutin Kotori di sekolah beberapa hari yang lalu. Takumi ingin menghilangkan
rasa malu itu.
Sementara itu, Kotori
yang tanpa sengaja keceplosan, wajahnya memerah padam, berteriak tanpa suara
sambil melemparkan bantal yang biasanya ia gunakan untuk membenamkan wajah—yang
ada di dekatnya—ke arah Takumi.
“~~~~~~ Takumi, bodoh!”
“Ah, maafkan aku!”
Jika dilihat baik-baik,
pipi Kotori memerah dan ada butiran keringat di dahinya. Sepertinya itu adalah
bukti bahwa ia benar-benar menikmati. Mulut Takumi tanpa sadar menyeringai.
Takumi, yang merasa
telah membuat Kotori marah, mengangkat kedua tangan seolah menyerah dan
buru-buru meninggalkan kamar Kotori.
Takumi yang melarikan
diri dari kamar Kotori, langsung pergi ke sekolah lebih dulu.
Meskipun masih pagi,
separuh kursi kelas sudah terisi, dan terlihat teman-teman sekelas mengobrol
dalam kelompok masing-masing. By the way, karena Takumi dan Kotori kesulitan
mencari teman bicara dan kelebihan waktu, mereka biasanya datang menjelang bel masuk.
Ia meletakkan tasnya di
kursi dan melihat sekeliling, Toba tampaknya belum datang.
“............yo.”
Kotori datang ke kelas
sedikit kemudian, dan menggumamkan sapaan.
Gadis-gadis A-list yang
biasa bersamanya belum datang, jadi tidak ada yang membalas sapaan Kotori.
Meskipun ia kesulitan
jika diajak bicara ramai-ramai, ia pasti merasa sepi jika tidak ada. Kotori
memasang ekspresi yang sulit diartikan. Kemudian ia melihat sekeliling dan
menyadari Toba belum datang.
Kotori, yang datang
dengan semangat untuk piket hari itu, tetapi gagal di awal, menghela napas
kecil dengan kecewa.
Saat ia berjalan menuju
kursinya, ia mendengar suara ceria namun panik dari koridor.
“Sial, aku hampir
bangun kesiangan!”
Yang bergegas masuk ke
kelas adalah Toba sendiri.
Ketika ia merentangkan
kedua tangan dan berpose aman, terdengar komentar dan ejekan dari sekitarnya,
seperti “Ngapain sih,” “Padahal waktu masuknya masih sama kayak biasanya.” Toba
pun menggaruk kepalanya dengan malu-malu dan bergaya urakan.
Toba, yang menyadari
Kotori sedang meletakkan tasnya di kursi, menyeringai dan mendekatinya.
“Hai, Nabata!
Syukurlah, sepertinya kamu baru datang?”
“...”
Kotori mencoba
menjawab, tetapi kata-kata tidak keluar. Ia hanya mengangguk.
“Kalau begitu, air vas
bunga pasti belum diganti, kan. Aku akan lari ke sana dan menggantinya!”
“!”
Sambil berkata begitu,
Toba tersenyum lebar, melempar tasnya ke kursinya, menggulung lengan baju seolah
berkata “Serahkan padaku,” dan berjalan menuju belakang kelas.
Kemungkinan besar, ia
ingin membuat Kotori terkesan.
Namun, tujuan Kotori
adalah menyelesaikan piket bersama. Ia terkejut dan bingung dengan tindakan
Toba yang tidak terduga.
Takumi, yang juga
terkejut, melihat ke arah Kotori yang meminta bantuan.
Saat ini, Toba sudah
menyentuh vas bunga. Tidak ada waktu untuk ragu.
Takumi yang sadar,
segera mengetik instruksi kalimat yang harus diucapkan di ponselnya:《Bersama!》
Kotori yang segera
melihat ponselnya terkejut sesaat, lalu kembali menatap Takumi. Takumi
mengangguk dalam-dalam, mendorongnya untuk bertindak.
Setelah jeda sesaat,
Kotori melepaskan suara yang tidak seperti dirinya, berteriak ke arah Toba.
“B-bersama!”
“Hah?”
Toba berhenti,
terkejut. Kotori, dengan dorongan kata-kata yang baru saja terucap,
menghampirinya dan berbicara cepat, yang juga tidak seperti dirinya.
“Ayo, pergi bersama.”
“A, ah...”
Kotori, yang merasa
sangat gugup, berjalan cepat keluar kelas menuju tempat cuci tangan.
Toba, yang sempat
terkejut, restart dan buru-buru mengikuti Kotori.
Takumi, yang merasa
lega melihat mereka berdua menghilang, menghela napas panjang, “Haa~”
Meskipun ada insiden
yang tidak terduga, ini bisa dibilang awal yang sukses.
Namun, bukan hanya
Takumi yang menghela napas.
Dari berbagai sudut
kelas, terdengar desahan, diikuti suara-suara bernada penasaran seperti
“Ternyata benar, ya,” “Sudah pasti, lah.”
(............Eh?)
Takumi berseru bodoh
dalam hati.
Ia menguping, ternyata
mereka sedang bergosip tentang Kotori dan Toba.
Takumi kembali
mengerutkan wajahnya karena merasa ada kejadian tak terduga lagi.
Setelah itu, Kotori dan
Toba menyelesaikan tugas piket tanpa masalah.
Seperti yang telah
diputuskan sebelumnya, Kotori menawarkan bantuan dengan kalimat yang sudah
baku. Mereka membagi tugas menghapus papan tulis secara merata, dan mereka juga
bersama-sama membuka/menutup kunci saat pindah ke lab Fisika. Kotori sangat
serius ingin mencapai tujuan awalnya.
Meskipun ada beberapa
momen yang membuat Takumi khawatir, Kotori terlihat berusaha keras.
Namun, teman-teman
sekelas lainnya tampaknya melihatnya secara berbeda.
Setiap kali Kotori dan
Toba melakukan tugas piket bersama, terdengar suara, “Tuh kan, kali ini juga bareng,”
“Wow, tidak disangka,” “Sudah jelas kalau melihat Nabata-san akhir-akhir ini.”
Rupanya, semua orang
berpikir Kotori tertarik pada Toba.
Takumi mencoba
mengingat kejadian akhir-akhir ini seobjektif mungkin.
Memang benar, Kotori
yang biasanya tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun, tiba-tiba—sejak hari
itu—secara aktif mencoba mendekati laki-laki tertentu, yaitu Toba. Jika
dipikir-pikir, mengganti air vas bunga, menghapus papan tulis, dan bahkan kunci
kelas pindahan, tidak perlu dilakukan berdua. Salah satu dari mereka bisa
membagi tugas secara bergantian.
Meskipun demikian,
Kotori-lah yang menawarkan untuk melakukan tugas piket bersama. Pantas saja,
ini terlihat seperti Kotori sedang mendekati Toba.
Kotori pasti terlalu
fokus mencapai tujuannya sehingga tidak memikirkan apa yang dipikirkan Toba
atau orang-orang di sekitarnya.
Sementara itu, Toba
benar-benar dimabuk kepayang.
Jika diamati lebih
dekat, Toba, sambil berbicara dengan ceria, sesekali meletakkan tangan di bahu
atau lengan Kotori. Kadang-kadang ia bahkan mencoba merangkul pinggangnya.
Itu jelas jarak yang
hanya dilakukan kepada pacar atau orang yang sangat dekat.
Sebaliknya, Kotori
tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan, ia hanya melakukan tugas piket dengan
wajah datar seperti biasanya. Hal itu semakin membuat Toba bertindak lebih
berani dan membuatnya pamer di depan yang lain.
Takumi tahu bahwa
Kotori hanya berusaha keras untuk mencapai tujuan awalnya, tetapi orang-orang
di sekitarnya pasti tidak berpikir begitu.
Kali ini, Takumi merasa
khawatir dengan alasan yang berbeda.
Toba adalah orang yang
urakan dan memiliki inisiatif. Takumi tidak tahu apa yang akan dilakukan Toba
kepada Kotori yang salah paham.
Dan tibalah waktu
istirahat siang.
Tugas piket untuk
istirahat siang adalah mengembalikan model perkakas kehidupan dan alat berburu
seperti tembikar dari zaman Jomon, yang digunakan pada pelajaran Sejarah Jepang
sebelumnya, ke ruang materi.
“Nabata, ayo cepat kita
pergi.”
“Mm.”
Sambil berkata begitu,
Toba dengan ringan mengangkat kotak kayu berisi bahan ajar, dan mengajak
Kotori. Kotori mengangguk seperti biasa, dan bersama Toba yang tersenyum
ceroboh, mereka berjalan ke koridor.
Tentu saja, saat
istirahat siang, teman-teman sekelas lebih memprioritaskan makan daripada
memperhatikan Kotori dan Toba. Takumi khawatir apa yang akan terjadi tanpa
pengawasan orang banyak.
Takumi merasa gelisah,
ia meredam kehadirannya dan diam-diam mengikuti mereka.
◇◆◇
Kotori berjalan di
koridor di samping Toba dengan wajah tegang, melawan arus orang-orang yang
menuju kantin dan koperasi.
Ia memikirkan kembali
serangkaian tugas piket sejak pagi.
Meskipun sempat
tersandung pada tugas mengganti air vas bunga di awal, mereka berhasil
menyelesaikan menghapus papan tulis, membuka/menutup kunci kelas pindahan, dan
sekarang mengembalikan materi. Mengingat piket sebelumnya di mana ia sering
dibenci dan dipaksa menyelesaikan pekerjaan sendiri, ia merasa sejauh ini ia
sudah berhasil melakukannya dengan baik.
“Ngomong-ngomong, video
replika rumah lubang di pelajaran tadi, lucu banget yang membuatnya orang
berpakaian jas~”
“Iya.”
Meskipun isinya tidak
terlalu masuk ke kepalanya karena ia terlalu tegang, ia setidaknya sudah bisa
melakukan percakapan biasa di permukaan. Ia merasa ada kemajuan, dan rasa
senang mulai membuncah, ia mati-matian berusaha menguatkan diri.
Sejak pengakuan palsu
di masa lalu, Kotori bersumpah untuk terlahir kembali di SMA.
Ia sudah bertindak, dan
bisa dibilang ia mencapai hasil yang lumayan.
Ia juga bisa
melakukannya jika berusaha.
Ia juga punya sosok
ideal yang ingin ia capai.
Itu adalah Acchan, yang
dulu memasukkan dirinya yang pemalu dan irit bicara—tapi kesepian—ke dalam
lingkaran semua orang. Acchan menariknya ke lingkaran semua orang dan
menunjukkan dunia yang menyenangkan.
Bagi Kotori, Acchan
adalah penyelamat dan tujuannya.
Jika ia berhasil
menyelesaikan capaian “menyelesaikan piket dengan lancar” ini, ia mungkin bisa
selangkah lebih dekat dengan Acchan.
Ia juga berterima kasih
kepada Takumi.
Meskipun ia menggunakan
kata rutin, ia tahu bahwa ia memaksa seorang gadis yang seperti siput yang
bersembunyi di tempat penyimpanan alat kebersihan—tidak menarik—untuk
berhubungan seks sesuai keinginannya. Setiap kali melakukan rutin, Takumi
memberinya kepercayaan diri bahwa ia bisa menyenangkan lawan jenis, bahwa ia
berfungsi sebagai seorang wanita.
(Tapi, yang tadi pagi
agak, membuatku bingung...)
Pipi Kotori memanas
saat ia teringat bahwa ia untuk pertama kalinya dikuasai oleh kenikmatan.
Dalam rutin, yang
penting adalah apakah ia bisa membuat Takumi merasa senang.
Namun, ia merasa
bersalah karena ia sendiri juga merasa senang.
Lagipula, Takumi
dipaksa menemani rutin konyol ini. Karena itu, ia sedikit membenci Takumi,
berpikir, Kenapa Takumi tidak mengkhawatirkan perasaanku, dan hanya merasa
senang untuk dirinya sendiri.
“Nah, di sini.”
“Mm.”
Tepat saat itu, mereka
tiba di ruang materi. Kotori, dengan wajah masih merah, masuk bersama Toba.
Di sepanjang dinding
ruang materi, berjejer rak-rak berisi patung plester, map, dan kotak kayu yang
mirip dengan yang mereka bawa. Di sudut ruangan terlihat easel untuk seni,
torso untuk Tata Boga, dan tumpukan kardus.
Rak-rak diberi label
dan dibagi berdasarkan mata pelajaran. Mereka berdua mencari area bertuliskan
Sejarah Jepang dan mengembalikan kotak kayu ke ruang yang tersedia.
Selesai sudah tugas
mengembalikan materi.
Jika ia berhasil
melewati siang hari, misi selesai.
Saat ia berbalik untuk
kembali ke kelas dan makan siang, tiba-tiba Toba meraih lengannya.
“T-tunggu, Nabata.”
“...?”
Urusan mereka
seharusnya sudah selesai. Ada apa? Kotori berkedip.
Wajah Toba terlihat
sangat merah.
Suasana ceria dan
urakan yang biasa ia tunjukkan hilang, ekspresinya kaku, dan ketegangan terasa
dari lengan yang memegang Kotori.
“............”
“............”
Mulutnya, yang
seharusnya cerewet, terasa sangat berat.
Keheningan yang lama
berlanjut.
Kotori tidak mengerti
situasi ini dan merasa bingung.
Mungkinkah ia melakukan
kesalahan?
Tepat ketika kecemasan
mulai menyerangnya.
Toba, yang menguatkan
dirinya, berkata dengan malu-malu, mencoba bersikap santai seperti biasa,
tetapi mengucapkan sesuatu yang tidak mungkin diabaikan.
“Hei, bagaimana kalau
kita pacaran?”
“...Eh?”
TLN:
Beliau ini
Mendengar kata-kata
itu, otaknya langsung kosong. Kenangan pengakuan palsu di masa lalu menyerbu
dan memenuhi kesadarannya yang kosong.
《Berpikirlah secara logis, siapa yang
akan tertarik pada wanita sepertimu.》
Pandangan menghina dan
merendahkan dari dia dan teman-temannya, suara tawa yang mengejek, yang tidak
akan pernah ia lupakan.
Kotori membelalakkan
matanya selebar mungkin, menatap Toba.
Toba bukan dia.
Tapi, sama seperti dia,
itu terjadi begitu tiba-tiba.
Jantungnya berdebar
kencang seolah akan pecah.
—Apakah aku akan
direndahkan lagi seperti saat itu?
Traumanya terpicu, ia
diserang oleh perasaan seolah hatinya terkoyak, dan ia berdiri terpaku.
Kemudian Toba
meletakkan tangannya di bahu Kotori.
Kotori menggigil
ketakutan, dan secara refleks memejamkan mata.
“...”
“Ehm, itu, berarti itu
artinya...?”
Dunia di depannya
menjadi gelap secara fisik.
Ia hanya merasakan
kehadiran Toba mendekat.
(...Tidak, aku takut,
tolong, seseorang, bantu aku!)
Meskipun dalam keadaan
seperti ini, suaranya tidak keluar, ia hanya berteriak di dalam hati.
Tubuhnya kaku, tidak
bisa bergerak sedikit pun.
Meskipun ia sudah
berusaha keras, apakah ia tidak berubah sama sekali?
Tepat ketika Kotori
mulai putus asa pada dirinya sendiri, sebuah suara wanita yang terdengar
mengintimidasi bergema.
“Hei! Dia ketakutan!?”
“Eh... Sakit!?” “!?”
Kemudian, lengan dan
bahunya terlepas, diikuti oleh suara benturan keras di lantai.
Kotori membuka mata
dengan hati-hati, dan melihat seorang gadis yang lebih kecil dan lebih manis
darinya, baru saja melempar Toba yang lebih besar darinya, dan kini sedang
menendangnya.
Ia tidak mengerti apa
yang terjadi.
Saat Kotori berkedip
karena kebingungan, gadis itu tiba-tiba mengubah nada suaranya dan bertanya
dengan suara bening seperti lonceng, penuh keprihatinan.
“Kamu baik-baik saja?
Tidak ada yang aneh terjadi, kan?”
“Kotori! Akira-senpai!”
“Hashio-kun, lama
sekali!”
“...Ah.”
Dan pada saat yang
sama, Takumi, yang tampak sangat panik, bergegas masuk ke ruang materi sambil
memegang beberapa poster yang digulung.
Takumi, yang tiba di
sampingnya, membelalakkan mata dan bergumam sambil menatap Toba.
“Dia benar-benar
pusing... Ini, perbuatan Akira-senpai?”
“Ahahaha, jangan begitu
dong, apa mungkin gadis cantik sepertiku bisa melakukan itu? Lihat, dia tampak
seperti sedang memaksa seorang gadis, pasti dia mendapat karma dan
tergelincir.”
“B-benarkah...”
“Kenapa kamu menatapku
begitu!”
“...Tidak, tidak
apa-apa. Aku hanya bersyukur Kotori baik-baik saja.”
“Mmm.”
Kotori terheran-heran
melihat gadis itu berinteraksi santai dengan Takumi di depannya.
Ternyata, senior yang
bisa bicara biasa dengan Takumi adalah dia. Dia bukanlah senior imajiner
Takumi. Sungguh senior yang aneh, yang tidak takut pada Takumi.
Dan yang lebih aneh
lagi, kata-kata terima kasih keluar dari mulut Kotori dengan sangat alami.
“T-terima kasih sudah
menolongku. Ehm...”
“Aku Akira. Ikoma
Akira, kelas dua. Panggil aku Akira saja.”
“Baik, Akira-senpai.”
“Ya, ya, syukurlah
tidak terjadi apa-apa. Lalu, kamu siapa?”
“S-siswa kelas satu, Nabata
Kotori.”
“Begitu. Senang bertemu
denganmu, Kotori-chan.”
“!”
Sambil berkata begitu,
Akira tersenyum ramah dan mengulurkan tangan.
Kotori, yang melihat
senyum yang terasa familiar, membelalakkan matanya selebar mungkin karena tidak
percaya, meraih tangan itu, dan berteriak tanpa suara di dalam hatinya.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.