Koukouna Kanojo to, Kanojo no Heya de Shiteru Koto Volume 1 BAB 3

N-Chan
0

Episode 3

Nasihat


Pada suatu hari libur, Takumi dipanggil ke kamar Kotori.

 

“............”

 

“............”

 

Takumi dan Kotori duduk berhadapan tanpa bicara, dipisahkan oleh meja rendah yang polos dan fungsional.

 

Meskipun Kotori menjadi lebih menarik berkat ‘debut SMA’-nya, pakaian rumahan yang ia kenakan masihlah jersey jelek yang sama seperti sebelumnya. Rambutnya diikat, dan ia memakai kacamata.

 

Karena beberapa hari lalu Takumi sempat menyadari bahwa Kotori telah berubah menjadi manis, ia diam-diam merasa lega melihat Kotori berpakaian seperti biasa, yang tidak memancarkan daya tarik lawan jenis.

 

Nah, untuk apa ia dipanggil hari ini?

 

Kali ini tidak ada stiker kucing meregangkan badan, hanya pesan tertulis 《Tolong datang sebentar》. Sepertinya ini bukan untuk rutin yang biasa.

 

Meskipun Takumi dan Kotori saling kenal sejak kecil, mereka biasanya tidak bermain bersama, sehingga Takumi tidak tahu alasan ia dipanggil.

 

Selain untuk rutin, alasan ia pernah dipanggil sebelumnya adalah saat ia diminta membantu menyusun kata-kata untuk menelepon salon demi membuat janji untuk mengubah gaya rambutnya sebelum masuk SMA.

 

Berbicara tentang salon, itu adalah dunia yang tidak diketahui bagi Takumi. Ia hanya membayangkan itu sebagai tempat di mana ia dipaksa untuk terus diajak bicara oleh petugas.

Ia ingat betapa sulitnya menyusun kata-kata. Kebetulan, saat itu mereka sepakat dengan strategi sederhana: menyampaikan permintaan secara sepihak—menyebutkan nama dan tanggal yang diinginkan (tanggal yang agak jauh untuk memastikan bisa mendapatkan janji)—agar tidak terjadi percakapan.

 

Meskipun saat mencoba menelepon, Kotori menjadi sangat takut sehingga akhirnya mereka harus melakukan rutin.

 

Sementara itu, Kotori terlihat sangat gugup dan kaku.

 

Merasa tidak akan ada kemajuan jika terus seperti ini, Takumi menghela napas “fū” dan memulai pembicaraan.

 

“Jadi, ada apa hari ini?”

 

“J-jadwal piketku sudah dekat...”

 

“Piket... Ah, aku mengerti.”

 

Takumi mengerti alasan kegugupan Kotori.

 

Tugas piket tidak terlalu sulit: menghapus papan tulis, memimpin aba-aba di awal pelajaran, mengganti air vas bunga, membuat jurnal, dan terkadang membuka/menutup ruang kelas pindahan atau membawa peralatan.

 

Namun, fakta bahwa itu dilakukan berpasangan antara laki-laki dan perempuan adalah masalah besar bagi Takumi dan Kotori. Takumi sedikit trauma karena pernah membuat pasangan piket perempuannya menangis saat SMP.

 

Bagi Takumi, piket adalah event menyedihkan yang secara paksa mengingatkannya pada posisinya melalui pasangannya.

 

Saat Takumi memasang ekspresi pahit, Kotori membuka mata lebar-lebar, membungkuk ke depan, dan menyatakan dengan suara bergetar namun lantang.

 

“Piket kali ini, aku akan menyelesaikannya berdua dengan pasangan laki-lakiku!”

 

“Oohh...”

 

Takumi tanpa sadar mengeluarkan suara kagum.

 

Piket Kotori di masa lalu, pasangannya—laki-laki—akan menyebutnya suram, menyeramkan, atau merugikan, menyerahkan semua pekerjaan kepadanya, dan ia diam-diam menyelesaikannya tanpa diketahui siapa pun.

 

Namun, berkat perubahan penampilan, penilaian dari laki-laki kini berbeda.

 

Kotori mengeraskan matanya dengan sekuat tenaga, mengepalkan tinju seolah menyemangati dirinya sendiri.

 

“T-tujuanku adalah membuktikan diri kepada orang yang memberiku pengakuan palsu waktu itu...”

 

“Menjadi anak gaul, mencari teman dan pacar yang keren, dan menjalani masa muda yang gemerlap, kan?”

 

“Ya. Tapi aku belum menyelesaikan capaian, yaitu... berbicara dengan normal kepada laki-laki.”

 

“Memang benar.”

 

Secara spesifik, meskipun ada yang menyapanya, ia tidak tahu harus menjawab apa sehingga hanya menatap mereka, atau jika ia menjawab, jawabannya hanya berupa respons dingin seperti “Oh” atau “Ya.” Akibatnya, ia semakin dikenal sebagai “Putri Es yang menyendiri.”

 

“Melakukan piket tanpa bicara, itu sulit...”

 

“Aku mengerti, jadi ini konsultasi tentang bagaimana cara menyapa pasangan laki-lakimu sebelum piket, ya?”

“Ya...”

 

Takumi melipat tangan dan mengerang pelan.

 

Takumi, yang juga buruk dalam bergaul, tidak tahu harus berbuat apa.

 

Kotori tidak bisa menyembunyikan keraguan dirinya dan mengepalkan tinjunya yang gemetar, tetapi ia tetap mencoba menantang capaian yang sulit ini.

 

Karena Takumi tahu masa lalu Kotori, ia tidak bisa mengabaikan semangatnya.

 

“Ngomong-ngomong, pasangan laki-lakimu siapa?”

 

“Toba.”

 

“...Serius?”

 

Kali ini Takumi mendongak ke langit-langit.

 

Toba adalah siswa laki-laki yang termasuk dalam kelompok kasta atas, ceria namun agak urakan, dan merupakan pencipta suasana di kelas. Dia banyak bicara, sering mengobrol dengan teman sekelas, dan meramaikan suasana. Dia adalah kebalikan dari Kotori yang kesulitan berbicara.

 

Jika Kotori menjalani piket apa adanya, mudah dibayangkan Toba akan terus menyapa, tetapi Kotori tidak bisa membalas dengan baik, dan suasananya akan menjadi canggung.

 

Hal itu pasti juga disadari oleh Kotori. Itulah mengapa ia datang untuk berkonsultasi.

 

“............”

 

“............”

 

Suasana berat menyelimuti tempat itu.

Dua orang yang komyusho (sulit bersosialisasi) saling berhadapan untuk mencari solusi, tetapi tidak ada ide cemerlang yang muncul.

 

Lagipula, jika mereka tahu caranya, mereka tidak akan menjadi penyendiri sekarang.

 

Bagaimana caranya para pelajar di dunia ini mengatasi hal serumit ini?

 

Saat ia berpikir begitu, ia teringat pada tugas orang lain—dan tiba-tiba menyadari sesuatu.

 

“Tujuan kita kali ini kan menyelesaikan piket dengan Toba tanpa masalah, kan?”

 

“Ya. Karena selama ini aku selalu sendirian.”

 

“Menurutku, kita tidak harus selalu mengobrol, kan?”

 

“...Maksudmu?”

 

Kotori bertanya dengan ekspresi curiga.

 

Takumi menyeringai seperti orang jahat, memutar jari telunjuknya yang teracung, dan menyampaikan gagasannya.

 

“Hei, orang-orang yang piket biasanya tidak mengobrol akrab sambil bekerja, kan? Mereka hanya bicara tentang pembagian tugas, seperti Tolong hapus papan tulis untuk pelajaran berikutnya, Tolong kunci lab Biologi saat pulang, Boleh aku serahkan pembuatan jurnal padamu?—mereka hanya bicara tentang bagaimana menyelesaikan pekerjaan piket, kan?”

 

“Astaga! Benar! Kalau kita tentukan apa yang akan dibicarakan sebelumnya, kita tidak akan kesulitan dalam percakapan!”

 

Takumi mengangguk setuju pada Kotori yang tersenyum lebar, menepuk tangannya, dan berbicara cepat.

 

Kotori biasanya kesulitan bicara karena ia tidak tahu harus menjawab apa saat disapa. Oleh karena itu, tujuan mereka adalah menghilangkan masalah itu dengan menyiapkan dialog sebelumnya.

 

Untungnya, tugas piket tidak terlalu banyak.

 

Memikirkan respons untuk beberapa skenario yang mungkin adalah hal yang realistis.

 

Takumi tersenyum, melihat jalur menuju penyelesaian capaian.

 

Namun, Kotori tiba-tiba menyadari sesuatu, merendahkan nada suaranya, dan menunjukkan dengan ekspresi serius.

 

“Aku mencoba simulasi di kepala sebentar, kalau aku yang memulai pembicaraan, bukankah frekuensi percakapan bisa berkurang?”

 

“Ya, apalagi kalau Kotori yang meminta, Toba pasti sulit menolak, dan tujuan menyelesaikan piket juga akan lebih mudah tercapai.”

 

“Tapi, bagaimana caranya...”

 

“Ugh, itu...”

 

Takumi kehilangan kata-kata.

 

Jika ia bisa memulai percakapan sendiri, ia tidak akan menjadi penyendiri sejak awal.

 

Karena ia tahu betul betapa tingginya hambatan psikologis itu, ia tidak bisa berkata apa-apa.

 

Mereka berdua mengerti bahwa mereka hanya saling menghindar.

 

Suasana yang sulit terpecahkan mengalir.

 

Saat mereka terperangkap dalam jalan buntu pemikiran, Kotori tiba-tiba menatap Takumi dengan lekat, lalu bergumam dengan wajah aneh.

“Ngomong-ngomong, aku bisa bicara biasa dengan Takumi. Kenapa?”

 

“Itu... Karena kita sudah saling kenal lama dan sudah terbiasa, kan?”

 

Kotori secara alami mengatakan sesuatu yang tidak sopan kepada Takumi. Tetapi karena ini adalah hal yang biasa bagi mereka berdua, mereka tidak menyadarinya.

 

Melihat Takumi yang kembali menemui jalan buntu, Kotori menyatakan dengan raut wajah seolah baru menemukan jawabannya.

 

“Kalau begitu, aku hanya perlu membiasakan diri untuk menyapa Toba sebelum piket.”

 

“Kotori, itu...”

 

Kemudian Kotori berdiri, dan mengumumkan dengan suara lantang dan antusias.

 

“Aku akan bisa menyapa Toba sebelum piket!”

 

Maka dimulailah operasi untuk memastikan piket berjalan lancar: Kotori harus bisa menyapa Toba sebelum hari piket tiba. Harapannya, jika ia bisa menyapa, ia juga akan bisa mengucapkan kalimat standar untuk tugas piket.

 

Keesokan paginya, Takumi datang ke sekolah lebih awal dari biasanya.

 

Kotori belum datang, jadi ia duduk di kursinya dan mengeluarkan novel saku yang ia pinjam dari perpustakaan untuk dibaca.

 

Itu adalah sebuah light novel.

 

Isinya tentang tokoh utama siswa SMA yang memecahkan misteri kecil yang ada dalam kehidupan sehari-hari mereka, sambil perlahan-lahan terjadi kesalahpahaman di antara para tokoh, yang membuat hubungan mereka menjadi rumit. Ia masih di tengah cerita, tetapi tagline di sampulnya—Masa Muda x Misteri, Dianjurkan Membaca Dua Kali Setelah Mengetahui Semua Rahasia—tidak berbohong.

Meskipun kesalahpahaman dalam hubungan terasa menyebalkan, bagi Takumi, yang sering disalahpahami sebagai orang jahat, ada banyak hal yang membuatnya bersimpati, dan ia terhanyut. Ia tidak bisa berhenti membaca.

 

Awalnya ia melakukannya agar terlihat seperti karakter pecinta literatur, tetapi ia ternyata sangat menyukainya.

 

Karena tidak ada yang memperhatikannya, Takumi tenggelam dalam dunia buku.

 

Saat ia membaca dengan tegang adegan di mana pahlawan wanita, yang awalnya diisyaratkan tertarik pada tokoh utama, tiba-tiba menunjukkan minat pada guru dari sekolah lain, ia membalik halaman dan menyadari ada selembar catatan terselip di antaranya.

 

Ia mengambilnya penasaran dan membaca—dan ekspresi Takumi semakin mengerikan.

 

“...Cih.”

 

Takumi tanpa sadar mendecakkan lidah dengan keras.

 

Catatan itu tertulis 《Surat yang dibawa pahlawan wanita untuk guru dari sekolah lain adalah untuk mendukung cinta orang lain》. Ada juga catatan lain seperti 《Gadis gyaru selalu setia pada tokoh utama》 dan 《Pesawat kertas adalah sumber kesalahpahaman》.

 

Bagi Takumi yang sudah membaca sampai sejauh ini, ia langsung tahu bahwa itu semua adalah spoiler.

 

Kemungkinan besar, itu adalah barang yang ditinggalkan oleh orang yang meminjamnya sebelumnya saat ia membaca dua kali.

 

Meskipun kecelakaan seperti ini tidak terhindarkan karena buku itu dipinjamkan di perpustakaan, ia tidak bisa mengendalikan emosinya dan itu tercermin dalam sikapnya.

 

Namun, semua orang terkejut melihat Takumi yang tiba-tiba bad mood, dan suasana di kelas menjadi hening.

 

Suasana canggung menyelimuti sekitarnya.

 

Menyadari hal itu, Takumi memalingkan wajahnya dari semua orang, melihat ke luar jendela, dan menopang pipinya.

 

Saat ia tanpa sadar menghela napas, sebuah suara ceria terdengar, seolah menghilangkan suasana itu.

 

“Aku mimpi memasukkan susu ke teko teh dan jadi es krim, lho. Terus pas sarapan aku setengah sadar, malah beneran masukin susu ke teko teh, dan hasilnya mengerikan. Aku langsung sadar sepenuhnya deh.”

 

Mendengar itu, tawa dan kata-kata seperti “Ngapain sih,” “Memang Toba banget,” terdengar dari anak laki-laki di sekitarnya. Ketika Toba membalas, “Kalau hot milk mungkin masih bisa,” anak perempuan mulai angkat bicara, “Ada Hojicha Latte, kan,” “Bukankah ada teh yang direbus dengan susu?” dan percakapan meluas.

 

Suasana beku yang tadinya ada langsung hilang.

 

Tindakan Toba pasti karena dia membaca suasana. Pada dasarnya, dia adalah orang yang peka.

 

Mungkin, meskipun Kotori irit bicara dan bersikap dingin, Toba mungkin akan tetap menemaninya selama piket tanpa menyerah.

 

Saat Takumi menyipitkan mata memikirkan itu, pintu terbuka dan Kotori masuk.

 

“Nabacchi, oha~ Rambutku hari ini benar-benar berantakan!”

 

“Oh, Tori-chii, sudah kerjakan tugas Matematika?”

 

“Ya ampun, dengarkan, siaran yang kulihat kemarin itu—”

 

Kotori langsung dikelilingi oleh gadis-gadis A-list seperti biasa. Mereka melemparkan obrolan tanpa konteks, dan Kotori, yang sedikit panik, hanya menjawab dengan “Tidak” atau “Ya.”

 

Sampai di sini, pemandangan itu sama seperti biasanya.

 

Namun, Kotori tampaknya berniat segera mencoba menyapa Toba. Dia terlihat gelisah dan tidak fokus.

 

Akhirnya, Kotori menunggu saat percakapan terhenti, dan dengan gerakan meletakkan tas di kursinya, ia menuju ke tempat Toba.

 

Kotori, yang biasanya hanya bergaul dengan gadis-gadis A-list dan bersikap dingin kepada yang lain, tidak pernah secara aktif mendekati siapa pun.

 

Tindakan Kotori yang jelas-jelas mendekati Toba membuat tidak hanya Toba tetapi juga orang-orang di sekitarnya terkejut, dan suasana menjadi hening.

 

Di depan Toba, Kotori menyipitkan mata dengan pandangan cerdas dan mengepalkan tinju. Meskipun ekspresinya kaku, pipinya sedikit memerah. Ia tampak kesulitan mengeluarkan kata-kata karena gugup.

 

“Ehm, Nabata-san...?”

 

“!”

 

Toba, yang merasa aneh karena hanya ditatap, mencoba menyapa, tetapi Kotori hanya sedikit menggigil. Setelah sedikit ragu, ia pergi tanpa melakukan apa pun.

 

Tampaknya, menyapa laki-laki yang belum pernah diajak bicara sama sekali adalah hal yang terlalu sulit. Punggungnya terlihat sedikit putus asa di mata Takumi.

 

Namun, orang-orang di sekitarnya tampaknya melihatnya secara berbeda.

 

“Nabata-san, dia bukannya marah!?”

 

“Toba-kun, ada apa barusan!?”

 

“Kamu melakukan kesalahan apa!?”

 

“T-tidak, aku juga tidak tahu...”

 

Seketika itu juga, orang-orang di sekitar Toba mulai ribut dengan panik.

 

Kotori hanya mencoba menyapa, tetapi sikapnya yang biasa dingin dan ekspresi tegangnya terlihat seperti sedang menahan amarah, sehingga bagi orang luar, ia terlihat seperti akan mengeluh.

 

“Ahh,” Takumi menepuk dahinya.

 

Sementara itu, Kotori juga didekati oleh gadis-gadis A-list—“Ada apa!?” “Ayo cerita!?” Karena Kotori tidak pernah mengambil tindakan kepada siapa pun secara spesifik, mereka sangat tertarik kali ini.

 

Takumi merasa ada suasana yang tidak menyenangkan.

 

Kotori juga merasakan hal yang sama, dan menatap Takumi dengan ekspresi bingung.

 

Setelah itu, Kotori terus mencoba mendekati Toba, tetapi ia hanya bisa meliriknya sesekali. Namun, hal itu hanya semakin memperdalam kesalahpahaman Toba dan teman-teman sekelas lainnya yang menyadari tatapan Kotori.

 

Harus melakukan sesuatu.

 

Jika saja Kotori bisa menyapa dengan ceria, masalah ini akan segera selesai, tetapi jika ia bisa, ia tidak akan kesulitan sejak awal.

 

Tepat sebelum istirahat siang, ketika kepanikan memuncak, sebuah pesan masuk dari Kotori.

 

“!”

 

Yang ada di sana adalah stiker kucing meregangkan badan—permintaan rutin.

 

Takumi membelalakkan mata tidak percaya dan melihat ke arah Kotori, yang mengangguk meminta maaf.

 

Saat istirahat siang, Takumi mengunjungi salah satu ruang kelas kosong di gedung sekolah lama yang ditunjuk Kotori.

 

Meskipun disebut ruang kelas kosong, sebagian besar ruangan itu ditumpuk dengan meja dan kursi cadangan, kerucut lalu lintas, pita polisi, matras olahraga yang kotor, peti lompat yang rusak, dan banyak kardus lainnya. Itu berfungsi sebagai gudang peralatan yang tidak terpakai. Ada banyak tempat untuk bersembunyi. Benar-benar tempat yang ideal untuk pertemuan rahasia.

 

Ngomong-ngomong, pintu depan terkunci, tetapi pintu belakang tidak.

 

Takumi kagum bagaimana Kotori bisa tahu tempat seperti ini.

 

Tempat ini jauh dari gedung utama, koperasi, dan kantin. Suara keramaian makan siang terdengar sayup-sayup, seperti berasal dari dunia yang jauh secara fisik. Sambil tersenyum mengejek diri sendiri, ia mendengar suara pintu terbuka.

 

“S-sudah datang. Maaf, aku terlambat. Sulit untuk menyelinap keluar.”

 

“Tidak apa-apa, santai saja.”

 

Kotori terengah-engah. Dia pasti berlari.

 

Dia hanya menunggu dua atau tiga menit. Itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan, Takumi tersenyum masam dan menggeleng pelan.

 

Kotori kemudian tersenyum lega, dan perlahan memasukkan tangan ke sisi roknya.

 

“W-waktu terbatas, jadi tolong cepat.”

 

“Tunggu, tunggu, tunggu!”

 

“Hah?”

 

Takumi buru-buru menghentikan Kotori, yang dengan cepat sudah menarik celana dalamnya hingga ke paha.

 

Meskipun ia datang karena dipanggil, Takumi tidak berniat melakukan rutin di sekolah.

 

Ia tahu Kotori sedang kesulitan.

 

Namun, kenyataannya, ia memiliki keberatan keras untuk melakukannya di sekolah.

 

Kepada Kotori yang memiringkan kepala keheranan, Takumi berkata dengan nada membujuk.

 

“Bukannya aku tidak mau membantu rutin-mu, tapi, di sini, kita tidak tahu kapan ada orang yang datang.”

 

“Tidak apa-apa. Di sini, pintu bisa dikunci dari dalam. Dan ada aturan tidak tertulis kalau ada kunci berarti sedang dipakai.”

 

“Begitu ya, kamu detail sekali... Bukan itu! Emm, aku tidak bawa kondom juga.”

 

“Aku bawa.”

 

“Kenapa kamu membawanya ke sekolah?”

 

“Akhir-akhir ini, aku selalu menyimpannya di kantong pembalut. Baru-baru ini hampir ketahuan Ibu.”

 

“Ugh...”

 

Setiap masalah yang ditunjukkan Takumi mengenai rutin di tempat ini dipatahkan satu per satu dengan hati-hati. Takumi terdiam kaku.

 

Kotori mengeluarkan kondom yang sudah ia siapkan dan menyerahkannya, tetapi ia menyadari Takumi tidak antusias, jadi ia memasang ekspresi sedih dan bergumam dengan suara memelas.

 

“T-tolong, Takumi. Kalau begini terus, aku tidak akan bisa menyelesaikan piket...”

 

“Itu... tapi...”

 

“Makanya, rutin. Aku bisa melakukannya kalau mau!”

 

Sambil berkata begitu, Kotori menempatkan tubuh bagian atasnya di atas meja yang pas dan membelakangi Takumi. Posisi rutin yang sama seperti biasanya.

 

Biasanya, pada tahap ini, Kotori akan berhasil mendesak Takumi, dan Takumi akan melontarkan candaan ringan seperti ”Apa maksudmu ‘aku bisa melakukannya kalau mau’?” sambil menyerah.

 

“...”

 

“...Takumi?”

 

Karena Takumi tetap berdiri tanpa berbuat apa-apa, Kotori menoleh ke belakang dengan wajah hampir menangis.

 

Hati Takumi terasa sakit. Secara refleks, ia meraih pinggul Kotori, dan Kotori tersenyum lega.

 

Namun, Takumi semakin mengerutkan keningnya.

 

Ia tidak bermaksud jahat.

 

Sejujurnya, ia ingin membantu usaha keras Kotori.

 

Ia juga sudah membulatkan tekadnya.

Namun, Takumi merasa tidak bisa memenuhi permintaan Kotori, dan ia menghela napas panjang karena malu.

 

Dan dengan suara yang sangat kaku, ia membisikkan alasannya.

 

“Maaf, aku terlalu gugup di sini, sepertinya tidak bisa tegang...”

 

“..................Hah?”

 

Suara Kotori yang terkejut dan bodoh bergema di ruang kelas kosong.

 

Setelah itu, mereka mencoba melanjutkan rutin itu, tetapi milik Takumi tidak bisa berfungsi sama sekali. Ia mencoba menyemangati dirinya, tetapi tubuhnya malah bereaksi berlawanan dengan keinginannya dan semakin menyusut. Kotori hanya tersenyum masam dengan ekspresi yang sulit diartikan.

 

《K-karena ini mendadak, ya.》

 

《A-anak laki-laki juga butuh persiapan mental.》

 

《A-aku harap aku lebih menggugah kalau ditaruh di depan begitu...》

 

Takumi menerima kata-kata penghiburan seperti itu dari Kotori. Saat berpisah, ia juga berkata, 《Aku akan mencoba berusaha sendiri sedikit lebih keras.》 Padahal ia sendiri yang sedang membutuhkan bantuan karena sudah tidak berfungsi, Kotori malah mengkhawatirkannya.

 

Ini adalah pertama kalinya hal seperti ini terjadi, meskipun mereka sudah berkali-kali melakukan rutin.

 

Ia sendiri tidak menyangka bahwa hanya karena tempat yang berbeda dari biasanya, ia akan menjadi tidak berguna karena gugup.

 

Kepercayaan diri Takumi sebagai seorang pria hancur berantakan.

 

“............”

 

Istirahat siang masih berlanjut.

 

Namun, ia sama sekali tidak nafsu makan.

 

Seolah melarikan diri dari keramaian, ia berjalan tanpa tujuan di koridor.

 

Hatinya penuh dengan rasa malu, penyesalan pada diri sendiri, dan kebencian diri.

 

Untuk mengalihkan perhatian, ia mencoba mencari cara di ponsel tentang bagaimana orang yang pemalu dapat menyapa orang yang baru dikenal, setidaknya untuk membantu Kotori.

 

Namun, yang ia temukan hanyalah cara untuk mengembangkan percakapan: mencari topik umum seperti cuaca, menggunakan pertanyaan sebagai pemicu, bertanya tentang barang bawaan lawan bicara, dan lain-lain.

 

Ia tidak menemukan solusi untuk kasus parah komyusho seperti Kotori dan dirinya sendiri, yang kesulitan bahkan hanya untuk sekadar menyapa.

 

Ia tanpa sadar menghela napas, dengan perasaan yang rumit.

 

“Hah... ya?”

 

Tanpa disadari, ia sudah sampai di depan perpustakaan. Apakah ini karena kebiasaan baru-baru ini?

 

Ia menatap ponsel di tangannya. Hasil pencarian di internet semuanya serupa.

 

Namun, ia berpikir mungkin ada buku yang bisa dijadikan referensi di perpustakaan, jadi ia masuk ke dalam.

 

Meskipun saat istirahat siang, perpustakaan sepi.

 

Hanya ada beberapa orang yang membaca atau belajar. Tidak ada yang memperhatikannya. Itu juga salah satu hal yang ia sukai dari perpustakaan.

 

Nah, di mana buku yang ia cari? Karena ia biasanya hanya melihat bagian light novel, ia tidak tahu.

 

Ia mulai berkeliling melihat-lihat rak buku.

 

Ada berbagai ensiklopedia, buku-buku spesialis tentang astronomi dan sains, koleksi foto pegunungan dan bintang-bintang dunia, dan secara mengejutkan, juga ada majalah dan koran.

 

Ada juga esai dari tokoh terkenal, dan banyak koleksi novel saku dari orang-orang yang disebut sastrawan di masa lalu, yang membuatnya berpikir mungkin lain kali ia bisa meminjam dari bagian itu.

 

Namun, entah karena ia salah mencari, ia tidak menemukan buku yang tepat, bahkan genre yang menarik pun tidak.

 

Ia mungkin bisa bertanya kepada anggota komite perpustakaan atau guru pustakawan, tetapi Takumi sendiri kesulitan untuk menyapa. Selain itu, sepertinya tidak ada orang seperti itu di sana karena ini waktu istirahat siang.

 

Takumi berdiri di sana, melipat tangan dengan wajah serius, menatap rak-rak buku dengan masam. Saat ia menghela bahu dengan ekspresi pasrah, tiba-tiba punggungnya ditepuk keras.

 

“Hei, mencari sesuatu?”

 

“Astaga! ...Ikoma-senpai?”

 

Ia menoleh, dan ternyata ada Akira.

 

Meskipun ini sudah yang ketiga kalinya, keterkejutannya tidak seberapa, tetapi ia tetap merasa malu ketika seorang senior perempuan yang manis tersenyum lebar kepadanya.

Ia mengalihkan pandangan karena malu, dan menyadari bahwa Akira sedang mendorong rak buku kecil beroda.

 

Saat Takumi melihatnya dengan rasa ingin tahu, Akira menjelaskan dengan bangga.

 

“Ini namanya book truck. Kamu kadang melihatnya di toko buku, kan?”

 

“Oh, begitu ya. Saya tidak tahu. Ikoma-senpai sedang membantu komite perpustakaan?”

 

“Iya, aku mengembalikan buku yang dipinjam ke tempat asalnya.”

 

“Ikoma-senpai selalu membantu.”

 

“Tentu saja, karena aku di Klub Relawan. Aku akan pergi ke mana pun aku diminta~”

 

“Oh, jadi itu klub relawan.”

 

Saat Takumi bertanya tentang hal yang sempat ia bingungkan, Akira menjawab dengan membusungkan dada tipisnya.

 

Seperti biasa, percakapannya dengannya mengalir lancar. Julukan Malaikat Pelindung bukanlah isapan jempol.

 

Saat Takumi memahaminya, Akira memasang mata bulatnya dan bertanya.

 

“Jadi Hashio-kun, kalau kamu mencari sesuatu, biar aku bantu?”

 

“Ehm...”

 

Takumi ragu-ragu. Selain karena itu bukan urusannya, tetapi urusan Kotori, ia juga tidak terbiasa meminta bantuan dan berkonsultasi dengan orang lain.

 

Keheningan yang canggung mengalir. Namun, Akira tidak terburu-buru, ia tersenyum dan menunggunya mau berbicara.

Dia pasti menawarkan bantuan ini dengan niat baik.

 

Dan faktanya, ia sedang menemui jalan buntu. Ia memutuskan untuk menerima kebaikan Akira.

 

“Sebenarnya—”

 

Ia meminta maaf karena sulit menjelaskan, lalu ia menceritakan tentang seseorang—dengan samar-samar merujuk pada Kotori—yang menjadi gugup dan tidak bisa bicara ketika mencoba menyapa orang yang baru dikenal.

 

Setelah mendengarkan seluruh cerita, Akira meletakkan tangan di dagu, berpikir sejenak. Akhirnya, ia mengangguk kecil “Hmm,” lalu menyeringai dan mengacungkan jari telunjuk.

 

“Ya, kalau begitu aku punya cara jitu!”

 

“Benarkah, Ikoma-senpai!?”

 

“Tapi ada satu syarat.”

 

“Syarat...”

 

Takumi condong ke depan karena Akira punya ide cemerlang, tetapi ia menjadi takut ketika diminta imbalan.

 

Ia berpikir dengan ragu-ragu, satu-satunya hal yang bisa ia berikan adalah uang, dan ia mencoba mengingat berapa banyak uang yang ada di dompetnya. Tiba-tiba, Akira yang memasang ekspresi agak serius, menusuk ujung hidungnya dengan jari telunjuk.

 

“Jangan Ikoma, tapi Akira.”

 

“Aki... eh?”

 

“Itu, lho~ Panggil aku dengan namaku, Akira, bukan margaku! Lebih imut, dan aku juga suka namaku~”

 

Sambil berkata begitu, Akira mengedipkan mata dengan jenaka.

 

Takumi terkejut dengan syarat yang begitu mudah, ia membuka mulut dengan wajah bodoh.

 

“Hah... kalau begitu, Akira-senpai.”

 

“Ya, bagus.”

 

Ketika Takumi memanggil namanya, Akira memegang pinggul dan mengangguk puas.

 

Perasaan malu datang terlambat karena baru pertama kali memanggil nama gadis selain Kotori, tetapi ia berusaha keras untuk tidak menunjukkannya di wajahnya, lalu mengalihkan pembicaraan dan bertanya balik.

 

“Jadi, apa cara jitu itu?”

 

“Tepat sekali, tidak perlu bicara!”

 

“...Hah?”

 

Takumi membalas dengan suara aneh, terkejut dengan jawaban yang tak terduga.

 

Dia ingin menyapa, tetapi tidak perlu bicara.

 

Ia menatap Akira dengan curiga karena mengatakan hal yang terdengar seperti teka-teki Zen yang membingungkan. Akira menyeringai, membuat mulutnya berbentuk omega, dan mengangkat tangan kirinya.

 

Takumi mengerutkan kening karena ia tidak mengerti maksud Akira. Saat Takumi masih bingung, Akira berdiri berjinjit beberapa kali seolah mendesak. Sambil melambaikan tangan kanannya yang terangkat seolah memanggil, Takumi mengerti apa yang ia inginkan.

 

Takumi dengan hati-hati mengangkat tangan kanannya, dan Akira menyambutnya, menghasilkan suara keras pang saat mereka melakukan high five. Kemudian Akira berkata dengan wajah bangga.

 

“Nah, bukankah ini juga bisa dianggap sebagai sapaan?”

 

“Ah!”

 

“Menurutku, tersenyum pada lawan bicara dan melambaikan tangan kecil juga bisa, kan? Kalau begini, meskipun tidak bisa bicara, itu tetap sapaan, kan?”

 

“Ya, benar!”

 

“Sapaan pada dasarnya adalah komunikasi yang menunjukkan bahwa kamu tidak bermusuhan~ dan hanya ingin berteman~ kan? Kalau begitu, tidak harus selalu dengan kata-kata.”

 

Takumi merasa tercerahkan. Pagi tadi, meskipun Kotori tidak bisa bicara, ia sudah berjalan hingga ke samping Toba. Meskipun sulit untuk tersenyum lebar, melambaikan tangan kecil mungkin bisa dilakukan.

 

Jika itu bisa dilakukan, paling tidak ia tidak akan dianggap membenci Toba. Ia bahkan mungkin bisa mengharapkan reaksi dari Toba, dan itu akan lebih mudah dihubungkan ke sapaan verbal.

 

Akira membusungkan dada kecilnya, memegang pinggul.

 

Takumi memberikan pujian, tetapi dengan nada bertanya-tanya.

 

“Terima kasih, sepertinya ini akan berhasil! Tapi... Sejujurnya, aku terkejut mendengar cara seperti ini dari Akira-senpai, yang bisa bicara dengan siapa saja tanpa rasa takut.”

 

“Ahaha, aku juga kadang gentar dan tidak berani menyapa orang yang terlihat menakutkan, lho~ Tapi kalau harus menyapa, kamu harus menunjukkan bahwa kamu tidak bermusuhan~”

 

“Eh!?”

“Astaga!?”

 

Takumi berteriak kaget, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya kali ini, saat Akira mengangkat bahu. Takumi menatap Akira, yang terlonjak karena volume suaranya sendiri, lalu bertanya dengan hati-hati.

 

“Ehm, aku selama ini sering ditakuti orang dan jarang disapa...”

 

“Eh, benarkah? Aku hanya berpikir kamu terlihat agak nakal, begitu saja.”

 

“Nakal?”

 

“Soalnya, jika dibandingkan dengan orang yang benar-benar marah dan siap memukul, atau yang mungkin mengayunkan pisau, bukankah terlihat nakal itu tidak seberapa?”

 

“Itu, yah... memang benar.”

 

“Ada orang yang langsung bersikap agresif, jadi dibandingkan dengan mereka, kamu tidak ada apa-apanya.”

 

Meskipun Takumi tanpa sadar tertawa kecil mendengar ungkapan “nakal” yang lucu, penjelasan selanjutnya membuatnya mengerti banyak hal. Jika orang-orang bersikap seperti itu yang dijadikan perbandingan, ia pasti termasuk orang yang mudah disapa.

 

Dan sesuatu yang hangat perlahan menyebar di dadanya.

 

Takumi bergumam dengan tulus dan kagum.

 

“Klub Relawan kadang harus menghadapi orang-orang seperti itu, ya.”

 

“Yah, begitulah. Ups, aku harus mengembalikan buku, jadi sampai di sini dulu!”

 

Setelah mengatakan itu, Akira kembali membantu komite perpustakaan.

Setelah melihat kepergiannya, Takumi segera mengirimkan saran Akira kepada Kotori.

 

Kotori yang menerima saran Akira sangat tertarik, seolah berkata, “Ada cara seperti itu, ya.”

 

Ia berulang kali mengirim pesan 《Wow, jenius!》 《Kalau ini, aku pasti bisa!》 dengan penuh semangat.

 

Bel pendahuluan untuk mengakhiri istirahat siang berbunyi, menandakan waktu singkat sebelum pelajaran sore dimulai.

 

Kotori, yang kembali ke kelas dengan penuh motivasi, segera menuju tempat Toba, seolah ingin menempa besi selagi panas. Takumi mengawasinya dari kursinya sambil menahan napas.

 

Saat ini, Toba berpikir Kotori telah melakukan sesuatu yang membuatnya tidak disukai.

 

Ketika Kotori berjalan menuju kursi Toba, ketegangan menyebar di sekitarnya.

 

Seperti pagi tadi, ketika Kotori sampai di kursi Toba, Toba memasang ekspresi terkejut dan memaksakan senyum ceria seperti biasanya saat menyapa.

 

“Nabata-san...?”

 

“...”

 

Menanggapi itu, Kotori memasang senyum yang sedikit terpaksa dan canggung, dan mengangkat satu tangan sedikit, seolah berkata “Hai.”

 

Takumi diam-diam mengepalkan tangan di dalam hati, senang karena Kotori berhasil menyapa meskipun dengan canggung.

 

Namun, Toba tampaknya tidak mengerti maksudnya.

 

Dia berseru “Hah?” dengan suara bodoh dan bingung.

Mungkin karena reaksi Toba tidak terduga, Kotori menoleh ke arah Takumi, meminta bantuan dengan mata memohon. Takumi mengangguk dalam-dalam, menyuruhnya mencoba lagi.

 

Kotori menghela napas pendek “fū,” dan kembali mengangkat satu tangan dengan senyum canggung.

 

Kali ini, Toba juga mengangkat satu tangannya dengan ragu-ragu dan bergumam dengan nada bertanya.

 

“H-hai?”

 

“!”

 

Kotori mengangguk berulang kali, seolah berkata, Tepat sekali.

 

Melihat itu, Toba menghela napas lega, tersenyum lebar dengan berlebihan, dan berkata.

 

“Haha, syukurlah benar! Mungkinkah yang tadi pagi juga kamu hanya mencoba menyapa?”

 

“...Ya, benar.”

 

Dasar Toba, pria yang pandai membaca suasana. Takumi kagum dengan daya nalar Toba.

 

Kotori mengambil kesempatan itu untuk membenarkan, dan dari sekitarnya terdengar suara, “Oh, jadi begitu,” “Sulit dimengerti, tapi itu ciri khas Nabata-san,” dan suasana menjadi santai.

 

Kesalahpahaman itu entah bagaimana terurai, dan Takumi serta Kotori menghela napas lega.

 

Namun, Toba menjatuhkan bom yang tak terduga dengan sikap biasa saja.

 

“Jadi, ada keperluan apa denganku?”

“!” “!”

 

Kotori dan Takumi langsung membeku. Toba terlihat senang dan tersenyum.

 

Jika dipikir-pikir, Kotori yang biasanya tidak tertarik pada siapa pun, secara khusus menyapa Toba. Wajar jika Toba berpikir Kotori memiliki urusan dengannya.

 

Mereka terlalu optimis. Mereka terlalu fokus untuk menyapa, sehingga tidak memikirkan langkah selanjutnya.

 

Jika tidak ada apa-apa, itu akan menjadi terlalu ambigu.

 

Kotori menoleh ke arah Takumi, matanya berputar karena bingung, meminta bantuan.

 

Takumi yang panik, segera mengirim pesan ke ponsel Kotori yang hanya berisi 《Piket》.

 

Kotori, yang sedang kebingungan di depan Toba, segera mengeluarkan ponselnya saat melihat notifikasi, dan membaca pesan itu.

 

“《Piket》...”

 

“Piket! Oh iya, sebentar lagi kan? Kamu mau tukar kontak karena itu!?”

 

“Mm.”

 

Kotori mengangguk mengikuti alur. Meskipun terjadi kesalahpahaman aneh, alurnya terasa alami.

 

Melihat Toba berteriak dengan nada bercanda, “Aku berhasil dapat alamat Nabata-san!”, Takumi dan Kotori menghela napas lega.

 

Namun, mereka berdua terlalu lega karena berhasil lolos dari situasi itu, sehingga mereka tidak menyadari keributan di sekitar mereka.













Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !