Kanojo wo deresareru houhou wo, Shorau kekkon suru oredake ga shitteiru V2 EPS 4

N-Chan
0

Episode 4

Sesi Belajar Biasanya Tidak Berjalan dengan Baik


(POV Masaomi)

 

"Uwa. Rambutnya rontok di mana-mana."

 

Hari belajar bersama.

 

Aku membersihkan lantai kamarku dengan rol (aku lupa nama resminya).

 

Untungnya, ayah sedang main golf dengan presiden perusahaan klien, ibu sedang liburan dengan perkumpulan ibu-ibu kompleks.

 

Jadi, hari ini aku sendirian di rumah sampai malam.

 

"Oke. Sudah bersih."

 

Aku berencana belajar bersama di ruang keluarga di lantai satu.

 

Ruang keluarga punya meja besar dan TV untuk istirahat.

 

Lalu kenapa aku membersihkan kamarku?

 

Karena ada Kaede. Aku tahu dia mungkin akan masuk ke kamarku.

 

Dulu waktu SD, kalau dia main ke rumah, kami bermain game di kamarku.

 

Yah, tidak mungkin cewek SMA akan seenaknya masuk kamar cowok...


"..........................."

 

Tidak, mungkin saja. Kalau Kaede.

 

Dia tipe orang yang akan masuk dan tiduran di kasur.

 

Sayangnya, kamarku tidak punya kunci. Tidak mungkin mencegahnya masuk.

 

Jadi, aku membersihkan kamar dengan asumsi dia akan masuk.

 

Lantai bersih dari debu dan kotoran, oke!

Isi tempat sampah, oke!

Password PC, oke!

Semprotkan Fabr*z di kasur, oke!

 

Aku melakukan pengecekan terakhir sambil berpose seperti kucing pekerja.

 

Benar. Aku harus ventilasi udara. Saat aku hendak membuka jendela.

 

Ding dong

 

Bel pintu berbunyi.

 

Cepat sekali. Ini jam 13:45. Janjinya jam 14:00.

 

Kaede tahu rumahku, tapi Yuki tidak. Jadi, mereka berdua janjian di stasiun, lalu datang ke rumahku bersama.

 

Aku menuruni tangga dan membuka kunci pintu depan.

 

Saat membuka pintu, dua gadis cantik berpakaian kasual berdiri berdampingan.

 

Yuki mengenakan pakaian yang sama seperti saat kencan sebelumnya. Bedanya, dia membawa tas sekolah, bukan pouch.


Kaede mengenakan celana pendek dan atasan yang memperlihatkan pusarnya.

 

Lalu dia bertelanjang kaki dan memakai sandal, pakaian yang cocok untuk pergi ke pantai.

 

"Permisi."

 

Kaede menyelinap melewati sebelahku seperti kucing dan masuk ke dalam.

 

Dia melepas sandalnya dan berjalan-jalan di lantai satu dengan bertelanjang kaki.

 

"Waa. Nostalgia sekali. Tidak berubah."

 

Dia berputar sambil merentangkan kedua tangannya.

 

Yuki berkata dengan suara pelan, "Pe-permisi," lalu masuk dengan ragu.

Seperti kucing yang baru dipelihara.

 

"Orang tuamu tidak ada...?"

 

"Ah. Mereka berdua ada urusan. Mungkin baru pulang malam."

 

"Oh, begitu..."

 

Begitu tahu orang tuaku tidak ada, Yuki kembali ke sikapnya yang biasa.

 

"Oke. Ini, titip untuk orang tuamu."

 

Dia menyerahkan kantong kertas di tangan kirinya ke dadaku.

 

"Apa ini?"

 

"Kue. Biasanya kan kalau bertamu ke rumah orang, bawa oleh-oleh."

Menurutku tidak ya. Setidaknya waktu kecil.

 

Atau mungkin ini hal biasa di kalangan kelas atas seperti Yuki?

 

"Terima kasih. Nanti kutitipkan."

 

"Hm. Ini kue yang cukup tahan lama, jadi bisa dimakan bareng-bareng. Enak banget lho."

 

Setelah aku menerima kantong kertas itu, Yuki mengangguk puas.

 

"Kalau begitu, mari kita langsung main!"

 

"Kita kan mau belajar dulu! Eh, kenapa kamu mau naik tangga! Ruang keluarganya di sini!"

 

Karena Kaede hendak naik tangga, aku buru-buru menghentikannya.

 

"Eh. Kita tidak belajar di kamar Masayan?"

 

"Tidak. Kita kan bukan anak SD lagi. Ruang keluarganya di sana."

 

"Eeeh."

 

Kaede menggembungkan pipinya dengan tidak puas.

 

"Aku mau main seperti dulu. Duduk di lantai main kartu. Main Smash Bros. sambil duduk di kasur!"

 

Itu semua sudah tidak ada. Kamu bicara soal zaman apa.

 

Aku hampir saja mengatakan itu, tapi mungkin game itu belum terlalu jadul di era ini.

 

"Hei. Kamu harus lebih hati-hati. Masuk kamar cowok itu tindakan yang cukup berisiko tahu?"


Meskipun kedengarannya seperti ceramah om-om, aku rasa lebih baik aku mengatakan ini.

 

Untuk jaga-jaga kalau suatu hari nanti dia main ke rumah teman cowok selain aku.

 

"Yah, aku juga waspada kalau masuk kamar cowok."

 

Kaede sedikit memerah dan tersenyum malu.

 

"Tapi aku percaya Masayan."

 

Katanya.

 

"Eh..."

 

Ekspresinya benar-benar seperti gadis yang sedang jatuh cinta, dan meskipun aku tahu itu akting, aku tetap berdebar.

 

Aktris itu hebat.

 

"Soalnya Masayan tidak punya nyali untuk menyerang cewek kan."

 

Ya. Ejekan ini bukan akting, tapi asli.

 

"Aku punya nyali untuk memukul cewek. Pukul wajah pakai tinju bisa kok."

 

"Waa! Kamu ini pria KDRT ya! Arisugawa-san, lebih baik kamu jangan menikah dengan Masayan!"

 

Kaede berkata sambil bersembunyi di belakang Yuki.

 

Sebenarnya kamu ini mau mendukungku atau menggangguku.

 

"Aah! Kalau kalian tidak berhenti bercanda, aku pulang!"


Mungkin karena sudah kesal dengan lelucon kami, amarah Yuki meledak.

 

 

* * *

 

 

Meja persegi panjang di ruang keluarga.

 

Yuki duduk bersimpuh di atas alas duduk. Kaede duduk bersila di atas alas duduk. Untung dia pakai celana pendek. Kalau rok, bisa terjadi insiden rok terangkat.

 

Yuki terlihat gelisah dan melihat sekeliling. Kaede terkejut dan berkata, "Wah. TV-nya sudah tipis."

 

"Apa ada barang yang tidak boleh disentuh?"

 

"Tidak ada sih. Ah, jangan sentuh PC ayahku saja."

 

Aku berdiri dan menuju kulkas.

 

"Kalian berdua mau teh barley?"

 

"Aku apa saja."

 

"Ada apa saja?"

 

"Susu, kopi, jus jeruk, lalu ada saus mi."

 

"Kalau begitu, aku mau saus mi pakai es!"

 

Jangan pesan seperti pesan wiski pakai es.

 

Aku menuangkan teh barley ke dalam dua gelas berisi es.

 

"Ini. Satu saus mi pakai es."

 

Aku meletakkannya di depan Kaede dan Yuki.

 

Kaede mengambil gelas berisi teh barley, mencium aromanya.

 

"Sepertinya tidak ada obat aneh di dalamnya."

 

"Eh? Apa aku sudah tidak bisa dipercaya?"

 

"Aku pernah baca alur yang mirip di komedi romantis. Dua gadis dibius, lalu cowoknya bebas melakukan hal mesum! Gitu."

 

Setsuko. Itu bukan komedi romantis. Itu manga dewasa.

 

"Jangan bercanda, ayo kita belajar yang benar."

 

Yuki menghela napas dan mengeluarkan buku pelajaran dan buku referensi di atas meja.

 

"Kita mulai dari mana?"

 

"Hmm... Sepertinya matematika yang paling susah."

 

"Kalau begitu, kita mulai dari matematika."

 

Kari kari kari, suara pensil dan suara kertas dibalik terdengar di ruangan yang sunyi.

 

Kami sedang mengerjakan soal ujian tengah semester tahun lalu.

 

Sepertinya ketua OSIS menyimpan kertas soal tahun lalu, dan dia dengan senang hati meminjamkannya pada kami.

 

Tentu saja soalnya tidak mungkin sama persis, tapi dengan ini, kami bisa memperkirakan soal seperti apa yang akan keluar.

 

"Fuuuh."

 

Setelah selesai mengerjakan semua soal, aku melirik ke arah mereka berdua.

 

Yuki sudah selesai mengerjakan soal lebih cepat dariku, dan sedang mengecek ulang apakah ada kesalahan. Kaede sepertinya kesulitan di beberapa soal, dan sedang berusaha keras.

 

Tetap saja, pemandangan ini aneh.

 

Ada dua gadis SMA cantik di rumahku.

 

Ini bukan mimpi kan?

 

Pii pi pi pi pi pi pi pi pi

 

Alarm yang kutel setel selama lima puluh menit berbunyi. Waktunya habis.

 

"Kalau begitu, mari kita koreksi."

 

Hasilnya, aku mendapat 91 poin. Yuki mendapat 98 poin. Kaede mendapat 73 poin.

 

"Hee... jelek sekali..."

 

Kaede peringkat tiga, jadi seharusnya kemampuan akademiknya hampir sama dengan kami.

 

"Dengan nilai ini, kamu tidak akan masuk peringkat tiga besar, bahkan seratus besar."

 

"Ugh..."

 

Kaede berkaca-kaca dan mengerucutkan bibirnya.

 

"Hmm. Tapi, kurasa ini masih ada harapan kan?"

 

Kalau diperhatikan baik-baik, nilainya hancur di bagian yang dipelajari selama cuti, tapi semua soal di bagian yang dipelajari setelah masuk sekolah lagi benar semua.

 

Bahkan, ada soal yang salah di bagian dasar, tapi benar di bagian terapan. Aneh. Bagaimana dia bisa mengerjakannya?

 

"Aku tidak paham cara mengerjakan soal ini."

 

"Ah. Soal yang dikerjakan akhir April ya. Ini, nilai sisi kanan dipindahkan ke sini..."

 

Aku mencoba menjelaskan pada Kaede yang duduk di seberang meja, tapi dia mengerutkan kening.

 

"Hmm. Agak susah dilihat dari sini."

 

Lalu, dia memutar kursinya dan duduk di sebelahku.

 

"Nah. Kalau begini lebih mudah dilihat."

 

Wajahnya tiba-tiba jadi dekat, dan aku menahan napas.

 

Yuki juga, tapi kenapa cewek itu wangi?

 

Yuki punya aroma manis seperti sabun yang lembut.

 

Sebaliknya, Kaede punya aroma asam manis seperti jeruk. Apa karena beda sampo?

 

"Eh..."

 

Aku melihat ke arah Yuki. Sekilas, dia terlihat tidak peduli, tapi jelas sekali dia sedang cemburu.


Buktinya, pensil yang dipegangnya berbunyi krek krek. Sebentar lagi patah itu.

 

Aku harus segera menyelesaikannya. Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke soal.

 

"Eh, eh, di sini, kita gunakan rumus yang dipakai di nomor tiga..."

 

Saat aku hendak menunjuk soal di kanan bawah dan menekuk sikuku.

 

Funyuh.

 

Siku kananku menyentuh dada kiri Kaede.

 

Aku bisa merasakannya meskipun di atas pakaian dan pakaian dalam. Lembut dan kenyal seperti marshmallow.

 

Kaede juga sepertinya sadar, dan dia menunduk.

 

"Oh..."

 

Dia membentuk mulutnya seperti segitiga dan terlihat sedikit terkejut.

 

"Ma-maaf... tidak sengaja."

 

"Ahaha. Tidak apa-apa kok. Tidak ada yang berkurang."

 

Kaede tertawa.

 

Lalu, dia condong ke depan untuk melihat kertas soal di depanku.

 

Dua buahnya bergoyang lembut.

 

"Le-lebih baik kamu agak menjauh. Nanti kena lagi..."

 

"? Aku sih tidak masalah."

 

Aku yang masalah! Dan istriku juga masalah!

 

"................................."

 

Mungkin karena sudah tidak tahan, akhirnya Yuki bergerak.

 

Dia meneguk teh barley-nya.

 

"Su-Suzuhara-kun. Boleh minta tambah tehnya?"

 

"Ah, iya, aku ambilkan."

 

Bantuan yang tepat waktu. Aku berdiri dan pergi ke dapur.

 

Saat aku menuangkan teh barley ke gelasnya, aku melihat Yuki yang memegangi dadanya dan tampak khawatir.

 

Tenang. Nanti dadamu juga besar kok.

 

 

* * *

 

 

Sudah sekitar satu jam lebih sedikit sejak kami mulai belajar bersama.

 

Kaede yang tadi bercanda, sekarang diam dan serius membaca buku referensi.

 

Dia memang mudah bosan, tapi kalau dia serius melakukan sesuatu, dia akan sangat fokus sampai tidak melihat sekeliling. Itu tidak berubah sejak dulu.

 

"Aku ke toilet dulu."

 

Kaede meletakkan pulpennya dan berdiri.

 

"Oke. Ingat kan di mana toiletnya?"

 

"Iya. Di ujung lorong sebelah kiri kan?"

 

Kaede pergi, dan aku berdua dengan Yuki.

 

"Tiba-tiba jadi sepi ya."

 

"Haha. Benar juga..."

 

Aku kira Yuki akan mengatakan sesuatu seperti, "Dengan begini, aku bisa fokus belajar," tapi ternyata tidak.

 

Dia terlihat gelisah dan memainkan rambut sampingnya, lalu berdiri seolah sudah mengambil keputusan, dan duduk di sebelahku.

 

"Nee, soal soal ini, kamu tahu caranya?"

 

Yuki menunjuk soal yang ada di kiri atas buku referensi.

 

"Hm. Mana?"

 

..........................

 

..........................

 

Hm. Kamu kan tadi sudah benar menjawab soal yang persis sama di kertas soal sebelumnya.

 

Ketahuan banget.

 

Dia mencoba melakukan hal yang sama seperti Kaede tadi.

 

Aduh, imutnya!

 

Tidak sopan rasanya kalau aku bilang, "Kamu kan sudah tahu cara mengerjakan soal ini."


"Emm, karena bilangan irasional tidak bisa dinyatakan dalam pecahan, jadi yang ini..."

 

Yuki mengangguk kecil sambil mendengarkan penjelasanku.

 

Eh? Jangan-jangan, dia mendekatiku? Pelan-pelan sekali, agar aku tidak sadar.

 

Chon.

 

Memang tidak sampai dadanya yang menyentuhku seperti Kaede, tapi siku kananku menyentuh lengan kiri Yuki.

 

"Eh..."

 

Lengan Yuki yang kecil dan lembut. Sepertinya, bagian lemah lengan kirinya yang tersentuh, dan dia mengeluarkan suara kecil.

 

Jangan bersuara aneh! Bikin deg-degan tahu!

 

Bahaya kalau dia mendekat lagi. Aku hendak mengatakan sesuatu pada Yuki, tapi saat aku menoleh,

 

"!" "!"

 

Mata kami bertemu.

 

Artinya, Yuki tidak melihat soal, tapi wajahku.

 

"Ke-kenapa kamu lihat wajahku, bukan soal?"

 

"Ka-kamu juga!"

 

Aku baru saja menoleh! Aku tidak bisa menjelaskan tanpa melihat soal!

 

"Ya sudah, aku sudah paham. Terima kasih."

 

Yuki berkata begitu dan buru-buru kembali ke alas duduknya.

 

Aduh. Aku jadi deg-degan seperti anak muda. Sepertinya aku perlu cuci muka.

 

Tidak, Kaede sedang di kamar mandi. Nanti saja kalau dia sudah kembali.

 

........................

 

Ngomong-ngomong, Kaede lama sekali.

 

"Kaede lama sekali ya?"

 

"Iya."

 

Sudah lebih dari sepuluh menit sejak dia bilang mau ke toilet.

 

Aku tidak seharusnya berkomentar soal lamanya cewek di toilet, tapi ini terlalu lama.

 

Tidak mungkin dia tersesat kan? Ini kan toilet rumahku...

 

........................

 

........................

 

"........................Jangan-jangan."

 

Gawat!

 

Aku buru-buru berdiri dan langsung menuju toilet.

 

Gacha!

 

Lalu, aku membuka pintu toilet yang mungkin Kaede ada di dalamnya dengan kasar.


"Hei! A-apa yang kalian lakukan!?"

 

Yuki yang mengikutiku berteriak kaget dan menutup mataku dari belakang.

 

"Yuki. Lihat baik-baik."

 

"Lihat baik-baik apanya... ini kan toilet cewek... eh?"

 

Tangan istriku yang tadi menutupi mataku kini turun. Benar dugaanku.

 

"Tidak ada...?"

 

Ya. Toilet itu kosong melompong. Di atas tutup toilet yang terangkat, tertempel selembar kertas bertuliskan:

 

"Kena tipu, ba-ka~"

 

beserta gambar wajah menjulurkan lidah.

 

"Aku dikerjai..."

 

Ya. Dia tahu letak kamarku.

 

"Lantai dua!"

 

Saat menaiki tangga, terdengar suara berderit-derit.

 

"Horeee!"

 

Setelah menaiki tangga, kubuka pintu kamarku.

 

Bayoeeng. Bayoeeng.

 

Di sana, Kaede sedang melonjak-lonjak di atas tempat tidurku sambil memeluk bantal.

 

"Ah! Curang... bukan. Sedang apa kamu!"

 

"Lagi main di kasurnya Masayan. Dulu sering duduk di sini, main game bareng~"

 

Dengan senyum polos, Kaede melompat dua tiga kali lagi, lalu menekan wajahnya ke kasur dan berkata,

 

"Ahahaha! Bau cowok!"

 

"Apa yang kamu lakukan, hah...?"

 

"Ehehe~. Tiba-tiba, badanku bergerak sendiri."

 

Kaede menjulurkan lidahnya sedikit di atas tempat tidur.

 

Ini pasti salah satu aktingnya sebagai gadis yang menyukaiku.

 

Meski akting, kok bisa-bisanya dia membenamkan wajahnya di kasur pria yang tidak disukainya? Dasar aktris hebat.

 

"Siapa bilang kamu boleh masuk seenaknya? Cepat keluar."

 

"Eh, itu tidak berlaku ya. Yang bilang boleh masuk kamar ini kan Masayan sendiri?"

 

"Aku?"

 

"Sebelum mulai belajar bersama, waktu aku tanya 'Ada barang yang tidak boleh disentuh?', Masayan bilang 'Tidak ada tuh'."

 

Kaede melipat tangannya di dada, berdiri tegak di atas tempat tidur, dan tersenyum mengejek.

 

"Jadi, pintu kamar Masayan, kasur ini juga, berarti boleh disentuh dong."

 

Aku tidak bilang boleh masuk! Lagipula, secara logika kan tidak boleh.

 

"Jangan cari-cari alasan! Cepat turun dari kasur!"

 

"Ahn~"

 

Saat aku menendang pinggang Kaede pelan, dia bergerak meliuk-liuk dan berguling ke lantai.

 

"Ini... kamarmu...?"

 

"Yah, begitulah."

 

"Hh, hmmm..."

 

Yuki masuk ke kamarku dan melihat sekeliling.

 

"Ternyata lumayan rapi ya."

 

"Kamu membayangkan kamarku lebih berantakan?"

 

"Iya. Lagipula, hampir sama dengan kamar cowok yang kukenal."

 

"Eh. Arisugawa, kamu pernah masuk kamar cowok!?"

 

"Ti-tidak ya! Aku cuma berpikir kamarmu mirip kamar Onii-chan."

 

Ah, kakak menyebalkan itu.

 

"Hee. Kamarnya seperti ini ya. Aku kira lebih banyak foto *gravure* yang ditempel di dinding."

 

"Katanya, 'Itu tidak disukai cewek'."

 

Ngomong-ngomong, kakak itu *playboy* yang sering membawa cewek ke kamar. Apa alat kelaminnya tidak meledak?


"Kasur, meja, rak buku... lalu, kulkas kecil. Dan ada alat latihan otot, sama seperti kamu..."

 

Yuki sedikit mengerutkan kening.

 

"Jangan-jangan, sejak SMP kamu sudah sering membawa cewek ke kamar..."

 

"Tidak tidak! Berhenti berpikir kalau alat latihan otot = *playboy*!"

 

Lagipula, aku mulai latihan otot karena kamu di masa depan bilang suka cowok berotot!

 

"Lagipula, ini pertama kalinya aku membawa cewek ke kamar."

 

"Oh... begitu..."

 

"Eh? Aku zaman dulu tidak dihitung?"

 

Kaede memasang ekspresi.

 

Tidak, zaman SD tidak dihitung kan.

 

"Jangan lihat-lihat terus. Aku jadi malu."

 

"Kita imbang, kan kamu sudah masuk kamarku sebelumnya."

 

Kamar Yuki? Ah, waktu aku menjenguknya dulu.

 

Sejujurnya, saat itu aku tidak kepikiran apa pun. Lagipula, aku tidak benar-benar masuk ke kamarnya kan?

 

"Oke, kalau begitu, mari kita mulai."

 

Kaede mematahkan jari-jarinya, dan memasang ekspresi bersemangat.

 

"Mulai apa?"


"Kalau sudah masuk kamar cowok, yang harus dilakukan cuma satu. Mencari buku dewasa kan?"

 

"Itu kan yang dilakukan cowok!"

 

"Cewek juga mau! Arisugawa-san juga mau kan? Ya kan?"

 

Hei. Jangan libatkan Yuki.

 

"A-aku tidak tertarik. Aku tidak mau ikut hal bodoh seperti itu."

 

Bagus. Apa cuma aku yang waras? Aku hampir saja berpikir begitu.

 

"Hmm..."

 

Kaede meletakkan jari telunjuk di mulutnya, lalu sedikit memiringkan kepalanya.

 

"Tapi... apa kalian tidak penasaran seperti apa selera Masayan? Apa dia suka cewek berdada besar, atau cewek yang lebih tua?"

 

"Eh..."

 

"Pasti penasaran kan? Mari kita bongkar rahasia Masayan bersama."

 

Dengan wajah nakal, Kaede mencoba mengintip wajah Yuki.

 

"A-aku tahu selera cowokmu itu seperti apa! Soalnya, waktu perkenalan diri di ruang OSIS, dia bilang padaku..."

 

Saat mengatakan itu, Yuki terdiam dan menggerak-gerakkan mulutnya.

 

Lalu, wajahnya memerah dan mengepulkan uap.

 

"Kamu tidak tahu apa-apa. Selera cowok itu gampang berubah."

 

Kaede memasang ekspresi "Kamu tidak mengerti cowok ya" dan menggelengkan kepalanya.

 

"Apa Arisugawa-san bisa menjamin kalau selera Masayan tidak berubah?"

 

"I-itu sih..."

 

Yuki terpojok. Hei sadar. Meskipun dia bicara dengan percaya diri, cewek di depanmu ini sama-sama belum berpengalaman soal cinta.

 

"Kamu kan tidak bisa menjaminnya? Makanya, kita harus cari tahu tipe cewek Masayan dari buku dewasanya!"

 

"Eh..."

 

Yuki terdiam, tidak bisa membantah.

 

Melihat itu, wajah Kaede seolah menampilkan tulisan "Skakmat". Jangan pasang wajah sombong.

 

Aku menghela napas.

 

"Terserah. Aku tidak punya buku dewasa kok."

 

Kataku sambil berkacak pinggang.

 

"Eeeh? Tidak mungkin cowok SMA tidak punya buku dewasa."

 

Kaede berkata begitu dan mulai mencari-cari di kamarku.

 

Bodoh. Aku sudah menyiapkan diri untuk ini.

 

Memang benar aku punya buku dewasa. Buku yang kubeli waktu SMP sebelum melakukan perjalanan waktu.

 

Tapi semuanya sudah kupindahkan ke kamar ayah.

"Oke, pertama-tama. Yos."

 

Kaede menggeser lemari kecil di samping kasurku.

 

Fufu. Di sana tidak ada apa-apa. Paling cuma koin sepuluh yen yang jatuh.

 

"Kalau tidak salah, di sekitar sini..."

 

Kaede mengetuk-ngetuk dinding di tempat lemari tadi. Hah? Apa yang dia lakukan?

 

"Ah. Ketemu."

 

Terdengar bunyi klik, lalu pintu rahasia berukuran sekitar lima puluh sentimeter terbuka dengan bunyi gii.

 

"Eh. A-apa itu..."

 

"? Apa kamu lupa? Ayahmu yang membuatkannya untukmu."

 

Ayah...?

 

Ah, aku ingat.

 

Dulu waktu SD, karena aku ingin punya markas rahasia, aku minta ayah membuatkannya.

 

Ayah bersemangat dan mencoba membuat ruang rahasia di sebelah kamarku, tapi ketahuan ibu di tengah jalan, jadi proyeknya dihentikan. Akibatnya, hanya tersisa ruangan yang cukup untuk satu orang dan pintu rahasia.

 

Setelah aku menaruh lemari yang kubeli waktu SMP, aku tidak pernah menggunakannya lagi, jadi aku benar-benar lupa.

 

Ga-gawat. Saat aku menaruh lemari, semua barang di ruang rahasia kan sudah kukeluarkan? Aku percaya padamu, aku di masa lalu!

 

"Oh. Ada sesuatu. Sepertinya kita menemukan harta karun."

 

Kaede memasukkan setengah badannya ke dalam. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu.

 

Bruk bruk bruk.

 

Tiga majalah usang jatuh ke lantai.

 

Itu majalah dewasa yang kutemukan di tepi sungai saat aku kelas satu SMP.

 

Itu barang lama, dan karena kena hujan, kondisinya buruk.

 

Sampulnya aneh dan berbau bondage.

 

Itu majalah dewasa yang dulu dijual di minimarket, yang sudah tidak ada lagi di masa depan.

 

"................................."

 

"Waa..."

 

Bahkan Kaede yang heboh pun terkejut, dan mengeluarkan suara seperti Chiikawa.

 

Mungkin karena majalahnya lebih parah dari yang dia kira, dia jadi bingung harus bereaksi seperti apa.

 

"Ma-Masayan... Kamu sudah berubah ya sejak kita tidak bertemu selama tiga tahun."

 

Katanya dengan suara gemetar.

 

Ini pertama kalinya aku melihatnya ketakutan seperti ini.

 

Bukan! Bondage atau sadomasokisme bukan seleraku sama sekali!

 

Lalu, kenapa aku dulu mengambilnya?

 

Karena dulu, barang dewasa itu langka.

 

Dulu, situs dewasa belum sebanyak sekarang. Sering kali kena virus kalau mengakses situs aneh.

 

Jadi, meskipun majalah dewasa yang kutemukan tidak sesuai seleraku, aku tetap mengambilnya karena "Ya sudahlah, isinya dewasa juga. Sayang kalau dibuang."

 

Sial. Aku yang berumur lima belas tahun. Kenapa kamu meninggalkan ranjau seperti ini?

 

"Bu-buku ini bukan punyaku! Aku yang SMP yang mengambilnya..."

 

"Apa Masayan SMP bukan Masayan?"

 

"Tidak, aku yang SMP itu seperti orang lain! Alter egoku!"

 

"Kamu ini Yu-Gi-Oh ya?"

 

Kaede berjongkok di dekat majalah dewasa yang jatuh di lantai.

 

"Ooh... Ini lumayan parah..."

 

Dia mulai membuka-buka sampulnya.

 

"Arisugawa-san juga lihat dong. Ini."

 

"Aku tidak mau lihat! Jangan arahkan ke sini!"

 

Yuki mundur ke sudut ruangan dan menutupi matanya dengan kedua tangan.

 

Tapi, celah di antara jari-jarinya sedikit terbuka. Eh. Kelihatan ya?

 

Aah... ini hukuman apa?

 

Aku memegangi kepala sambil mengutuk diriku yang dulu.

 

 

* * *

 

 

"................................."

 

Pencarian di kamarku selesai, dan kami kembali belajar.

 

Ruangannya sepi, tapi suasananya berbeda dari saat kami fokus belajar tadi.

 

Suasana suram menyelimuti kami bertiga.

 

Kaede yang biasanya ceria, juga terdiam dengan canggung. Rasanya seperti melakukan kenakalan ringan, tapi malah jadi heboh.

 

"................................."

 

Tolong bunuh aku.

 

Atau, tolong ada yang mengubah suasana suram ini.

 

Seolah doaku terkabul,

 

"Guk! Guk!"

 

Suara anjing menggonggong terdengar dari luar jendela besar ruang keluarga.

 

"Apa kamu memelihara anjing?"

 

"Tidak. Suara gonggongan ini pasti si Chocola."

 

Saat membuka gorden, terlihat seekor anjing dachshund berlarian di halaman rumahku.

 

Kalung merah dan bulu berwarna hitam dan cokelat. Begitu melihat kami, dia menjulurkan lidahnya lebar-lebar dan menepuk-nepuk kaca dengan cakarnya.

 

"Tidak ada pilihan. Mau camilan?"

 

Saat aku membuka jendela besar, dia masuk tanpa ragu.

 

"Wah..."

 

"Dia sudah terbiasa dengan manusia."

 

Tanpa ragu pada Yuki dan Kaede yang baru pertama kali bertemu, anjing dachshund itu mengibas-ngibaskan ekornya dan mulai berlarian di sekitar kami.

 

"Namanya Chocola, anjing pasangan Nakamura tetangga sebelah. Mereka memeliharanya di dalam rumah, tapi kadang-kadang dia kabur."

 

"Kabur... Agak tidak bertanggung jawab..."

 

"Yah, mereka berdua sudah tua... Lagipula, dia tidak pernah pergi jauh, jadi aman. Paling-paling dia datang ke tetangga untuk minta camilan."

 

"Oh. Pintar ya dia..."


Seolah bereaksi pada kata camilan, Chocola berhenti di antara aku dan Yuki, dan mulai mengibas-ngibaskan ekornya dengan sangat cepat.


Yuki mencoba mengelusnya, tapi dia menghentikan tangannya di tengah jalan.

 

"Apa dia tidak akan menggigit?"

 

Katanya dengan wajah khawatir.

 

"Tidak. Dia tidak akan menggigit."

 

Dia tidak peduli digigit atau dicakar kucing, tapi dia agak takut anjing.


Meskipun begitu, dia tidak berarti benci anjing. Setelah memastikan anjing itu tidak menggigit, Yuki perlahan-lahan mengulurkan tangan dari bawah dan mulai mengelus kepalanya.

 

"Hehehehehe."

 

Sepertinya Chocola merasa nyaman, dia berbaring dan menunjukkan perutnya, seolah menyuruh kami mengelusnya.

 

"Dia telentang!"

 

Yuki sepertinya lupa kalau kami ada di dekatnya, dan masuk ke mode melomelo seperti saat di kafe kucing.

 

Ngomong-ngomong, mudah untuk mengetahui apakah dia dalam mode melomelo atau tidak. Nadanya akan naik sekitar tiga oktaf.

 

"Nee, nee, Masayan, Masayan."

 

Kaede menarik-narik bajuku.

 

"Arisugawa-san, apa dia selalu seperti ini kalau di depan hewan?"

 

"Ah. Kupikir dia cuma begitu kalau di depan kucing, tapi ternyata anjing juga. Baru tahu aku."


"Hee. Imut ya. Orang yang biasanya dingin dan keren, menunjukkan sisi manis seperti ini."

 

"Iya kan?"

 

Ah, tapi sebaiknya aku menghentikannya.

 

Kalau diusap terlalu lama, bisa gawat.

 

"Arisugawa. Sebaiknya berhenti. Anjing itu tidak boleh diusap terlalu lama."

 

"Eh. Kenapa? Dia kan senang begini."

 

Chocola masih telentang dan menggeliat senang.

 

"Sebentar lagi ya! Aku merasa sebentar lagi dia akan menyukaiku."

 

Dia sudah menyukaimu. Ekornya mengibas-ngibas terus tuh.

 

"Kenapa tidak boleh diusap terlalu lama? Apa jantungnya tidak kuat?"

 

"Bukan, bukan karena itu."

 

Aku menggaruk kepala dan mengatakan yang sebenarnya.

 

"Dia punya kebiasaan kencing sembarangan kalau terlalu senang."

 

"Eh..."

 

Terdengar suara air memancar.

 

Terlambat.

 

Suara jeritan Yuki bergema di ruang keluarga.

 

 

* * *

(POV Yuki)

 

Syaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.

 

"Haaah..."

 

Aku, Arisugawa Yuki, menghela napas sambil mandi.

 

"Semoga sudah tidak bau lagi...?"

 

Sniff sniff. Aku sudah mencucinya berkali-kali, jadi seharusnya tidak apa-apa, tapi aku tetap memeriksanya.

 

Aku lega karena hanya tercium aroma sabun mandi.

 

"O'furo ga wakimashita. Kyuutoosen o shimete kudasai" (Air mandi sudah siap. Tutup keran air panas)

 

"Ehm, ini kan."

 

Setelah memastikan airnya berhenti, aku menutup keran air panas.

 

Air panas di bak mandi berbunyi byichon.

 

Sebenarnya aku cukup mandi saja, tapi aku tidak bisa keluar sekarang.


Karena aku tidak punya baju ganti.

 

Awalnya aku berniat meminjam baju Suzuhara-kun.

 

Tapi, aku baru sadar di ruang ganti. Bukan hanya bajuku, tapi pakaian dalamku juga kotor.

 

Sekarang, Niizuma-san sedang pergi ke department store terdekat untuk membelikanku pakaian dalam.


Sementara itu, Suzuhara-kun berbaik hati menyiapkan air panas agar aku tidak masuk angin.

 

"Ugh... Agak panas..."

 

Aku perlahan-lahan menurunkan tubuh ke dalam bak mandi. Butuh sekitar satu menit sampai aku bisa berendam sampai bahu.

 

"Fuuuh..."

 

Bak mandi di rumah ini sedikit lebih kecil dari rumahku. Tapi ukurannya pas untuk tubuhku yang kecil.

 

Sambil melirik sampo dan sabun mandi yang berjejer di samping bak mandi, aku berendam sampai leher.

 

Haa... Nyaman sekali.

 

Meskipun aku berusaha rileks, jantungku terus berdebar kencang.

 

"Di bak mandi ini, dia selalu mandi ya..."

 

Aku tidak pernah menyangka akan mandi di kamar mandi cowok.

 

Kepalaku rasanya mau pecah... Aku mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam...

 

"Arisugawa. Airnya pas?"

 

Aku diajak bicara dari luar ruang ganti, dan aku mengeluarkan suara aneh.

 

"A-agak panas, tapi tidak apa-apa."

 

"Oh. Kalau ada apa-apa, panggil saja."

 

"I-iya."


Kalau dipikir-pikir, situasi ini cukup berbahaya.

 

Aku berdua dengan cowok yang jelas-jelas menyukaiku.

 

Apalagi, ruang ganti dan kamar mandi ini tidak ada kuncinya. Kalau dia masuk ke sini sekarang, aku...

 

"Tidak tidak tidak."

 

Aku menggelengkan kepala dan mengusir pikiran aneh.

 

Dia memang sering menggoda, tapi dia tidak pernah melakukan hal yang benar-benar kubenci. Aku tahu itu.

 

........................

 

........................

 

Hal yang kubenci... ya.

 

Apa aku benar-benar benci kalau dia masuk ke sini...?

 

Sambil duduk bersimpuh di bak mandi, aku bertanya pada diri sendiri.

 

Memang sangat memalukan... tapi kalau ditanya apakah aku merasa jijik, aku tidak yakin.

 

"Aku... sebenarnya apa yang kupikirkan tentang dia..."

 

Aku tidak benci... Lalu apakah aku suka? Tapi suka yang seperti apa?


Percaya... hormat...

 

Apakah rasa suka ini seperti persahabatan, ataukah...

 

 

"..........................."


Padahal baru satu menit aku berendam, tapi aku sudah merasa pusing. Apa airnya terlalu panas...?

 

Aku tidak tahu apakah perasaan ini adalah cinta, karena aku belum pernah jatuh cinta.

 

Tapi, aku tahu pasti satu hal.

 

Aku tidak mau Suzuhara-kun direbut Niizuma-san!

 

Aku berdiri di dalam bak mandi dan melihat wajahku di cermin.

 

Semua orang bilang aku cantik, tapi apa benar begitu...?

 

Aku tahu wajahku lumayan, tapi tatapan mataku tajam.

 

Apalagi, Niizuma-san juga cantik sekali. Wajahnya mudah disukai semua orang, berbeda denganku.

 

"............ Begitu ya. Aku cemburu pada Niizuma-san..."

 

Akhirnya aku tahu kenapa aku merasa tidak enak sejak dia masuk sekolah.

 

Dia punya semua yang kuinginkan.

 

Sama seperti Onii-chan, dia serba bisa.

 

Dia bisa jujur pada perasaannya sendiri.

 

Dia punya kepribadian yang mudah dicintai semua orang...

 

"..........................."

 

Kata-kata Niizuma-san tadi.

 

"Apa Arisugawa-san bisa menjamin kalau selera Masayan tidak berubah?"

 

Saat kata-kata itu diucapkan, dadaku terasa sakit.

 

Suzuhara-kun menyatakan cinta padaku saat pertama kali kami bertemu di ruang OSIS.

 

Tapi, tidak ada jaminan perasaannya akan bertahan selamanya. Apalagi dia bilang suka pada gadis secantik itu.

 

Siapa tahu dia akan menyukai Niizuma-san, bukan aku...

 

"!"

 

Benar. Aku punya ide bagus.

 

Aku bisa berpacaran dengan Suzuhara-kun.

 

Tapi sebagai gantinya, aku tidak akan memberi tahu siapa pun sampai aku yakin dengan perasaanku. Aku akan meminta dia untuk bersikap seperti teman biasa, bukan seperti sepasang kekasih.

 

Kalau begitu, aku tidak akan direbut—

 

"... Aku ini jahat sekali..."

 

Aku merasa jijik dengan diriku sendiri yang memikirkan rencana licik seperti itu.

 

Niizuma-san dengan jujur mengatakan suka padanya, sedangkan aku mencoba mendapatkannya dengan berbohong.

 

Alasan kenapa aku tidak bisa melangkah dengan berani.

 

Itu karena ayah berencana menikahkan aku dengan calon presiden Alice Core.


Sekalipun itu dia, tidak mungkin dia bisa berbuat apa-apa.

 

Meskipun kami berpacaran, pasti akan tiba saatnya kami harus berpisah.

 

Berpacaran padahal tahu harus berpisah...

 

"Eh!"

 

Aku menampar pipiku.

 

Kenapa aku jadi lemah begini!

 

Aku sudah berjanji pada ayah sebelum ke sini. Kalau aku jadi presiden OSIS berikutnya, aku bisa bebas.

 

Untuk itu, aku akan jadi wakil presiden OSIS berikutnya, dan membangun koneksi di perkumpulan alumni!

 

Sementara itu, aku akan berusaha menahannya dengan caraku sendiri.

 

Aku tidak punya senyum ramah seperti Niizuma-san, dan aku juga tidak punya keberanian untuk jujur pada perasaanku.

 

Tapi, Suzuhara-kun bilang dia suka aku yang seperti ini.

 

Kalau begitu, pasti ada daya tarik yang hanya dia yang tahu dariku. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku hanya bisa percaya diri dan berusaha.

 

Dan, kalau aku bisa jadi ketua OSIS, aku akan jujur pada perasaanku.

 

Pasti saat itu, aku sudah tahu apakah perasaan ini adalah cinta atau bukan.

 

"Hachuuun!"

 

Apa aku masuk angin... Aku berendam lagi di bak mandi.

Untuk menjadi ketua OSIS, aku harus memenangkan pemilihan OSIS.

 

Selama masa kampanye pemilihan, aku hanya bisa menunjuk satu orang untuk memberikan pidato dukungan.

 

Aku sudah tahu siapa yang akan kuminta.

 

Pasti dia akan dengan senang hati menerimanya. Dan pasti dia akan dengan mudah melakukan pidato dukungan.

 

Tapi, itu bukan kekuatanku.

 

Makanya aku—

 

"Suzuhara-kun... apa kamu di sana...?"

 

Aku memberanikan diri untuk berbicara padanya yang ada di luar untuk mengajukan sebuah tawaran.

 

 

* * *

(POV Masaomi)

 

Suara air berhenti.

 

Apa sekarang Yuki sedang berendam di bak mandi?

 

"................................."

 

Gawat. Aku jadi sangat gugup.

 

Aku terguncang hanya karena gadis yang kusukai mandi di dekat sini. Aku pantas dibilang perjaka tua.

 

Tapi, aku jadi begini gara-gara dia di masa depan.

 

"Aduh... pusing..."

 

Entah kenapa, aku terus teringat hari pertama aku bertemu Yuki di masa depan.

 

Malam saat dia keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk dan menggodaku.

 

Kenangan itu meninggalkan dampak yang kuat dalam diriku. Sampai-sampai selera seksualku jadi aneh.

 

"Tenanglah aku... Yang sedang mandi itu ayah. Yang sedang mandi itu ayah."

 

Dengan mengatakan itu pada diri sendiri, akhirnya aku bisa tenang. Terima kasih ayah.

 

Ah. Ngomong-ngomong, aku belum memberitahunya cara mengatur suhu air...

 

Di rumahku, semua orang suka mandi air panas, jadi suhunya disetel tinggi. Mungkin terlalu panas untuk Yuki yang tidak suka air panas.

 

"Arisugawa. Airnya pas?"

 

"Hyaaa!"

 

Mungkin karena terkejut, Yuki menjerit imut dari dalam kamar mandi.

 

"A-agak panas, tapi tidak apa-apa."

 

"Oh. Kalau ada apa-apa, panggil saja."

 

"O-oke."

 

Vuuu.

 

Ponselku bergetar di saku.

 

Email dari Kaede.

 

Judul emailnya kosong, dan isinya hanya satu baris, 'Mana yang bagus?'

 

Mana yang bagus? Apa maksudnya? Saat aku memiringkan kepala, email lain masuk.

 

'Lupa ngasih gambar'

 

Email kali ini berisi satu foto.

 

Saat kubuka, foto itu menampilkan dua celana dalam.

 

Jangan bilang... dia mau Yuki pakai celana dalam ini?

 

Aku kaget karena celana dalam yang dipilihnya sangat seksi, model string dan thong.

 

Tidak mungkin Yuki mau pakai yang seperti ini.

 

'Jangan bercanda, beli yang lebih sederhana.'

 

Saat kukirim email itu,

 

'Berarti Masayan suka celana dalam yang sederhana ya (tertawa)'

 

Balasnya. Kenapa jadi begitu?

 

Kukirim balasan, 'Diam. Cepat beli celana dalam yang biasa (bunuh)'.

 

Lalu, sekitar satu menit kemudian, email lain dengan foto masuk.

 

'Kalau ini bagaimana?'

 

Kali ini lumayan wajar. Warnanya merah muda muda. Meskipun kainnya tipis dan agak minim, tapi jauh lebih biasa dari yang tadi.

 

'Yah, lumayan.'

 

Saat kukirim balasan itu,

 

'Oh ya. Ini celana dalam yang tadi kupakai lho'

 

"Bleh!"

 

Karena kaget, aku menjatuhkan ponselku. Untung ponselku bukan smartphone, kalau tidak layarnya bisa pecah.

 

Sialan, apa yang dia kirim! Saat aku hendak mengirim balasan marah, ponselku berbunyi lagi.

 

'Bohong! Ketipu ya!'

 

Email lain masuk.

 

"..................................."

 

Nanti kalau Kaede kembali, kupukul pakai koran atau apa.

 

Saat aku sedang membuat alat pemukul dari koran,

 

"Suzuhara-kun... apa kamu di sana...?"

 

Yuki berbicara dari dalam kamar mandi.

 

"Apa Niizuma-san masih lama?"

 

"Katanya sudah beli. Mungkin sekitar sepuluh menit lagi dia kembali."

 

"Oh."


Kami berbicara dipisahkan oleh pintu ruang ganti dan pintu kamar mandi. Rasanya aneh.

 

"Nee, bagaimana kalau kita taruhan di ujian tengah semester berikutnya?"

 

"Taruhan?"

 

"Iya. Siapa yang dapat peringkat satu di angkatan."

 

"Tidak perlu taruhan, hasilnya kan nanti diumumkan. Kita pasti tahu siapa yang menang."

 

"Bukan itu, aku mau taruhan..."

 

"Taruhan?"

 

"Seperti taruhanmu dengan Onii-chan waktu Festival Wakaba. Yang menang boleh memerintah apa saja."

 

Aku menahan napas.

 

Kenapa tiba-tiba dia bilang begitu?

 

Aku penasaran alasannya, tapi aku lebih penasaran perintah apa yang akan dia berikan kalau dia menang.

 

"Jujur, kali ini aku tidak yakin bisa menang. Seperti yang kubilang sebelumnya, aku bisa jadi nomor satu karena keberuntungan dan berusaha mati-matian..."

 

"Aku tahu. Makanya, aku akan memberitahumu perintahku sebelumnya. Lalu, kamu putuskan apa mau menerima taruhannya atau tidak."

 

"Perintahku... aku mau kamu jadi juru bicara kampanyeku di pemilihan ketua OSIS tahun depan."

 

Juru bicara kampanye?

 

Bukankah itu orang yang berpidato dan memberikan dukungan selama pemilihan?

 

"Aku pasti akan membantumu tanpa diperintah."

 

"Aku tahu kamu akan bilang begitu. Tapi, aku tidak puas kalau begitu."

 

Tidak puas?

 

Apa maksudnya?

 

Entah kenapa, Yuki aneh sejak tadi. Semua tindakannya sangat berbeda dari dirinya yang kukenal.

 

"Bagaimana...? Mau taruhan? Atau tidak?"

 

"................................."

 

Aku hampir tidak punya kerugian, menang atau kalah. Tidak ada alasan untuk menolak, tapi...

 

"Baiklah. Taruhan siapa yang jadi nomor satu di angkatan ya."

 

"Iya. Dan kamu harus serius. Aku akan marah kalau kamu main-main."

 

Ini suara Yuki yang bersemangat seperti di masa depan. Artinya, dia benar-benar ingin bertanding dan menang melawanku.

 

"Waktu ujian masuk, kamu bisa mengalahkan Onii-chan karena belajar mati-matian kan? Kalau begitu, kali ini kamu harus berusaha sekeras itu juga."

 

Kenapa sampai segitunya...

 

Saat aku hendak bertanya.


"Aku pulaaang! Ah! Masayan menguping di depan kamar mandi ya!"

 

Kaede yang baru pulang membuka pintu depan dan berteriak sambil menunjukku.

 

"Bukan... aku cuma lagi mengobrol!"

 

"Eeeh. Kenapa harus mengobrol di depan kamar mandi?"

 

Kaede menyipitkan mata dan sedikit memiringkan kepalanya, seolah curiga.

 

"Sudahlah. Aku tidak bisa masuk kalau kamu di sini. Masayan cepat pergi sana."

 

"Ah, oke."

 

Aku memutuskan untuk menunggu di kamarku sampai Yuki selesai ganti baju.

 

Saat aku naik tangga, Kaede masuk ke kamar mandi.

 

"Hei! Jangan tiba-tiba buka pintunya!"

 

"Ohoo. Kulit Arisugawa-san mulus. Dadanya juga lumayan..."

 

"Jangan bicara aneh-aneh, bodoh! Cepat tutup pintunya!"

 

Terdengar suara dua orang cewek yang panik.

 

Ugh... Aku ingin mengintip, tapi tahan, tahan. Aku naik tangga dan masuk ke kamarku.

 

"Eh. Celana dalam yang dibeli tadi, ini...?"

 

Sebelum menutup pintu kamar, aku mendengar suara bingung Yuki.


Sebenarnya celana dalam seperti apa yang dibeli? Aku membatin.


* * *

 

"Pada akhirnya, aku tidak sempat bertanya kenapa dia menantangku..."

 

Setelah Yuki dan Kaede pulang. Di kasur kamarku yang sedikit beraroma mereka berdua, aku menatap langit-langit.

 

Aku tidak berniat jadi juara umum di ujian tengah semester berikutnya.

 

Tapi, tawaran Yuki tadi. Kalau aku menang melawannya...

 

"Dia akan menuruti semua perintahku... ya."

 

Kalau aku tidak melakukan apa pun, aku akan kalah, dan harus menuruti perintahnya.

 

Tapi, perintahnya hanya memintaku untuk menjadi juru bicara kampanyenya tahun depan. Tawaran yang terlalu bagus untuk ditolak.

 

Namun, dia bilang, "Aku ingin kamu serius."

 

Apa dia sangat menyesal kalah dariku?

 

"Yuki di masa depan juga tidak mau kalah ya..."

 

Aku teringat saat dia kalah main game, dan selalu minta, "Sekali lagi!" dengan wajah kesal.

 

"Tunggu..."

 

Aku bangkit dan berpikir sambil melipat tangan.

 

Bagaimana kalau aku menang di ujian tengah semester, dan memerintahnya, "Izinkan aku jadi juru bicara kampanyemu tahun depan"?


"Keren juga ya..."

 

Aku melompat dari kasur dan menjentikkan jari.

 

Menang tapi tidak mempermalukan. Malah, aku menuruti permintaannya. Sikap jantan sekali.

 

Tidak salah lagi. Ini solusi terbaik.

 

"Masalahnya, apa aku bisa menang..."

 

Aku membeli banyak minuman energi di minimarket terdekat, lalu mengambil ikat kepala yang kupakai saat ujian masuk dari gudang, dan mengikatkannya di dahi.

 

"Baiklah, mari kita berusaha lagi setelah sekian lama."














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !