Episode
4
Sesi
Belajar Biasanya Tidak Berjalan dengan Baik
(POV
Masaomi)
"Uwa.
Rambutnya rontok di mana-mana."
Hari belajar
bersama.
Aku membersihkan
lantai kamarku dengan rol (aku lupa nama resminya).
Untungnya, ayah
sedang main golf dengan presiden perusahaan klien, ibu sedang liburan dengan
perkumpulan ibu-ibu kompleks.
Jadi, hari ini
aku sendirian di rumah sampai malam.
"Oke. Sudah
bersih."
Aku berencana
belajar bersama di ruang keluarga di lantai satu.
Ruang keluarga
punya meja besar dan TV untuk istirahat.
Lalu kenapa aku
membersihkan kamarku?
Karena ada
Kaede. Aku tahu dia mungkin akan masuk ke kamarku.
Dulu waktu SD,
kalau dia main ke rumah, kami bermain game di kamarku.
Yah, tidak
mungkin cewek SMA akan seenaknya masuk kamar cowok...
"..........................."
Tidak, mungkin
saja. Kalau Kaede.
Dia tipe orang
yang akan masuk dan tiduran di kasur.
Sayangnya,
kamarku tidak punya kunci. Tidak mungkin mencegahnya masuk.
Jadi, aku
membersihkan kamar dengan asumsi dia akan masuk.
Lantai bersih
dari debu dan kotoran, oke!
Isi tempat
sampah, oke!
Password PC,
oke!
Semprotkan
Fabr*z di kasur, oke!
Aku melakukan
pengecekan terakhir sambil berpose seperti kucing pekerja.
Benar. Aku harus
ventilasi udara. Saat aku hendak membuka jendela.
Ding dong
Bel pintu
berbunyi.
Cepat sekali.
Ini jam 13:45. Janjinya jam 14:00.
Kaede tahu
rumahku, tapi Yuki tidak. Jadi, mereka berdua janjian di stasiun, lalu datang
ke rumahku bersama.
Aku menuruni
tangga dan membuka kunci pintu depan.
Saat membuka
pintu, dua gadis cantik berpakaian kasual berdiri berdampingan.
Yuki mengenakan
pakaian yang sama seperti saat kencan sebelumnya. Bedanya, dia membawa tas
sekolah, bukan pouch.
Kaede mengenakan
celana pendek dan atasan yang memperlihatkan pusarnya.
Lalu dia
bertelanjang kaki dan memakai sandal, pakaian yang cocok untuk pergi ke pantai.
"Permisi."
Kaede menyelinap
melewati sebelahku seperti kucing dan masuk ke dalam.
Dia melepas
sandalnya dan berjalan-jalan di lantai satu dengan bertelanjang kaki.
"Waa.
Nostalgia sekali. Tidak berubah."
Dia berputar
sambil merentangkan kedua tangannya.
Yuki berkata
dengan suara pelan, "Pe-permisi," lalu masuk dengan ragu.
Seperti kucing
yang baru dipelihara.
"Orang
tuamu tidak ada...?"
"Ah. Mereka
berdua ada urusan. Mungkin baru pulang malam."
"Oh,
begitu..."
Begitu tahu
orang tuaku tidak ada, Yuki kembali ke sikapnya yang biasa.
"Oke. Ini,
titip untuk orang tuamu."
Dia menyerahkan
kantong kertas di tangan kirinya ke dadaku.
"Apa
ini?"
"Kue.
Biasanya kan kalau bertamu ke rumah orang, bawa oleh-oleh."
Menurutku tidak
ya. Setidaknya waktu kecil.
Atau mungkin ini
hal biasa di kalangan kelas atas seperti Yuki?
"Terima
kasih. Nanti kutitipkan."
"Hm. Ini
kue yang cukup tahan lama, jadi bisa dimakan bareng-bareng. Enak banget
lho."
Setelah aku
menerima kantong kertas itu, Yuki mengangguk puas.
"Kalau
begitu, mari kita langsung main!"
"Kita kan
mau belajar dulu! Eh, kenapa kamu mau naik tangga! Ruang keluarganya di
sini!"
Karena Kaede
hendak naik tangga, aku buru-buru menghentikannya.
"Eh. Kita
tidak belajar di kamar Masayan?"
"Tidak.
Kita kan bukan anak SD lagi. Ruang keluarganya di sana."
"Eeeh."
Kaede menggembungkan
pipinya dengan tidak puas.
"Aku mau
main seperti dulu. Duduk di lantai main kartu. Main Smash Bros. sambil duduk di
kasur!"
Itu semua sudah
tidak ada. Kamu bicara soal zaman apa.
Aku hampir saja
mengatakan itu, tapi mungkin game itu belum terlalu jadul di era ini.
"Hei. Kamu
harus lebih hati-hati. Masuk kamar cowok itu tindakan yang cukup berisiko
tahu?"
Meskipun
kedengarannya seperti ceramah om-om, aku rasa lebih baik aku mengatakan ini.
Untuk jaga-jaga
kalau suatu hari nanti dia main ke rumah teman cowok selain aku.
"Yah, aku
juga waspada kalau masuk kamar cowok."
Kaede sedikit
memerah dan tersenyum malu.
"Tapi aku
percaya Masayan."
Katanya.
"Eh..."
Ekspresinya
benar-benar seperti gadis yang sedang jatuh cinta, dan meskipun aku tahu itu
akting, aku tetap berdebar.
Aktris itu
hebat.
"Soalnya
Masayan tidak punya nyali untuk menyerang cewek kan."
Ya. Ejekan ini
bukan akting, tapi asli.
"Aku punya
nyali untuk memukul cewek. Pukul wajah pakai tinju bisa kok."
"Waa! Kamu
ini pria KDRT ya! Arisugawa-san, lebih baik kamu jangan menikah dengan
Masayan!"
Kaede berkata
sambil bersembunyi di belakang Yuki.
Sebenarnya kamu
ini mau mendukungku atau menggangguku.
"Aah! Kalau
kalian tidak berhenti bercanda, aku pulang!"
Mungkin karena
sudah kesal dengan lelucon kami, amarah Yuki meledak.
* * *
Meja persegi
panjang di ruang keluarga.
Yuki duduk
bersimpuh di atas alas duduk. Kaede duduk bersila di atas alas duduk. Untung
dia pakai celana pendek. Kalau rok, bisa terjadi insiden rok terangkat.
Yuki terlihat
gelisah dan melihat sekeliling. Kaede terkejut dan berkata, "Wah. TV-nya
sudah tipis."
"Apa ada
barang yang tidak boleh disentuh?"
"Tidak ada
sih. Ah, jangan sentuh PC ayahku saja."
Aku berdiri dan menuju
kulkas.
"Kalian
berdua mau teh barley?"
"Aku apa
saja."
"Ada apa
saja?"
"Susu,
kopi, jus jeruk, lalu ada saus mi."
"Kalau
begitu, aku mau saus mi pakai es!"
Jangan pesan
seperti pesan wiski pakai es.
Aku menuangkan
teh barley ke dalam dua gelas berisi es.
"Ini. Satu
saus mi pakai es."
Aku
meletakkannya di depan Kaede dan Yuki.
Kaede mengambil
gelas berisi teh barley, mencium aromanya.
"Sepertinya
tidak ada obat aneh di dalamnya."
"Eh? Apa
aku sudah tidak bisa dipercaya?"
"Aku pernah
baca alur yang mirip di komedi romantis. Dua gadis dibius, lalu cowoknya bebas
melakukan hal mesum! Gitu."
Setsuko. Itu
bukan komedi romantis. Itu manga dewasa.
"Jangan
bercanda, ayo kita belajar yang benar."
Yuki menghela
napas dan mengeluarkan buku pelajaran dan buku referensi di atas meja.
"Kita mulai
dari mana?"
"Hmm...
Sepertinya matematika yang paling susah."
"Kalau
begitu, kita mulai dari matematika."
Kari kari kari,
suara pensil dan suara kertas dibalik terdengar di ruangan yang sunyi.
Kami sedang
mengerjakan soal ujian tengah semester tahun lalu.
Sepertinya ketua
OSIS menyimpan kertas soal tahun lalu, dan dia dengan senang hati
meminjamkannya pada kami.
Tentu saja
soalnya tidak mungkin sama persis, tapi dengan ini, kami bisa memperkirakan
soal seperti apa yang akan keluar.
"Fuuuh."
Setelah selesai
mengerjakan semua soal, aku melirik ke arah mereka berdua.
Yuki sudah
selesai mengerjakan soal lebih cepat dariku, dan sedang mengecek ulang apakah
ada kesalahan. Kaede sepertinya kesulitan di beberapa soal, dan sedang berusaha
keras.
Tetap saja,
pemandangan ini aneh.
Ada dua gadis
SMA cantik di rumahku.
Ini bukan mimpi
kan?
Pii pi pi pi pi
pi pi pi pi
Alarm yang kutel
setel selama lima puluh menit berbunyi. Waktunya habis.
"Kalau
begitu, mari kita koreksi."
Hasilnya, aku
mendapat 91 poin. Yuki mendapat 98 poin. Kaede mendapat 73 poin.
"Hee...
jelek sekali..."
Kaede peringkat
tiga, jadi seharusnya kemampuan akademiknya hampir sama dengan kami.
"Dengan
nilai ini, kamu tidak akan masuk peringkat tiga besar, bahkan seratus
besar."
"Ugh..."
Kaede
berkaca-kaca dan mengerucutkan bibirnya.
"Hmm. Tapi,
kurasa ini masih ada harapan kan?"
Kalau
diperhatikan baik-baik, nilainya hancur di bagian yang dipelajari selama cuti,
tapi semua soal di bagian yang dipelajari setelah masuk sekolah lagi benar
semua.
Bahkan, ada soal
yang salah di bagian dasar, tapi benar di bagian terapan. Aneh. Bagaimana dia
bisa mengerjakannya?
"Aku tidak
paham cara mengerjakan soal ini."
"Ah. Soal
yang dikerjakan akhir April ya. Ini, nilai sisi kanan dipindahkan ke
sini..."
Aku mencoba
menjelaskan pada Kaede yang duduk di seberang meja, tapi dia mengerutkan
kening.
"Hmm. Agak
susah dilihat dari sini."
Lalu, dia
memutar kursinya dan duduk di sebelahku.
"Nah. Kalau
begini lebih mudah dilihat."
Wajahnya
tiba-tiba jadi dekat, dan aku menahan napas.
Yuki juga, tapi
kenapa cewek itu wangi?
Yuki punya aroma
manis seperti sabun yang lembut.
Sebaliknya,
Kaede punya aroma asam manis seperti jeruk. Apa karena beda sampo?
"Eh..."
Aku melihat ke
arah Yuki. Sekilas, dia terlihat tidak peduli, tapi jelas sekali dia sedang
cemburu.
Buktinya, pensil
yang dipegangnya berbunyi krek krek. Sebentar lagi patah itu.
Aku harus segera
menyelesaikannya. Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke soal.
"Eh, eh, di
sini, kita gunakan rumus yang dipakai di nomor tiga..."
Saat aku hendak
menunjuk soal di kanan bawah dan menekuk sikuku.
Funyuh.
Siku kananku
menyentuh dada kiri Kaede.
Aku bisa
merasakannya meskipun di atas pakaian dan pakaian dalam. Lembut dan kenyal
seperti marshmallow.
Kaede juga
sepertinya sadar, dan dia menunduk.
"Oh..."
Dia membentuk
mulutnya seperti segitiga dan terlihat sedikit terkejut.
"Ma-maaf...
tidak sengaja."
"Ahaha.
Tidak apa-apa kok. Tidak ada yang berkurang."
Kaede tertawa.
Lalu, dia
condong ke depan untuk melihat kertas soal di depanku.
Dua buahnya
bergoyang lembut.
"Le-lebih
baik kamu agak menjauh. Nanti kena lagi..."
"? Aku sih
tidak masalah."
Aku yang
masalah! Dan istriku juga masalah!
"................................."
Mungkin karena
sudah tidak tahan, akhirnya Yuki bergerak.
Dia meneguk teh
barley-nya.
"Su-Suzuhara-kun.
Boleh minta tambah tehnya?"
"Ah, iya,
aku ambilkan."
Bantuan yang
tepat waktu. Aku berdiri dan pergi ke dapur.
Saat aku
menuangkan teh barley ke gelasnya, aku melihat Yuki yang memegangi dadanya dan
tampak khawatir.
Tenang. Nanti
dadamu juga besar kok.
* * *
Sudah sekitar
satu jam lebih sedikit sejak kami mulai belajar bersama.
Kaede yang tadi
bercanda, sekarang diam dan serius membaca buku referensi.
Dia memang mudah
bosan, tapi kalau dia serius melakukan sesuatu, dia akan sangat fokus sampai
tidak melihat sekeliling. Itu tidak berubah sejak dulu.
"Aku ke
toilet dulu."
Kaede meletakkan
pulpennya dan berdiri.
"Oke. Ingat
kan di mana toiletnya?"
"Iya. Di
ujung lorong sebelah kiri kan?"
Kaede pergi, dan
aku berdua dengan Yuki.
"Tiba-tiba
jadi sepi ya."
"Haha.
Benar juga..."
Aku kira Yuki
akan mengatakan sesuatu seperti, "Dengan begini, aku bisa fokus
belajar," tapi ternyata tidak.
Dia terlihat
gelisah dan memainkan rambut sampingnya, lalu berdiri seolah sudah mengambil
keputusan, dan duduk di sebelahku.
"Nee, soal soal
ini, kamu tahu caranya?"
Yuki menunjuk
soal yang ada di kiri atas buku referensi.
"Hm.
Mana?"
..........................
..........................
Hm. Kamu kan
tadi sudah benar menjawab soal yang persis sama di kertas soal sebelumnya.
Ketahuan banget.
Dia mencoba
melakukan hal yang sama seperti Kaede tadi.
Aduh, imutnya!
Tidak sopan
rasanya kalau aku bilang, "Kamu kan sudah tahu cara mengerjakan soal
ini."
"Emm,
karena bilangan irasional tidak bisa dinyatakan dalam pecahan, jadi yang
ini..."
Yuki mengangguk
kecil sambil mendengarkan penjelasanku.
Eh?
Jangan-jangan, dia mendekatiku? Pelan-pelan sekali, agar aku tidak sadar.
Chon.
Memang tidak
sampai dadanya yang menyentuhku seperti Kaede, tapi siku kananku menyentuh
lengan kiri Yuki.
"Eh..."
Lengan Yuki yang
kecil dan lembut. Sepertinya, bagian lemah lengan kirinya yang tersentuh, dan
dia mengeluarkan suara kecil.
Jangan bersuara
aneh! Bikin deg-degan tahu!
Bahaya kalau dia
mendekat lagi. Aku hendak mengatakan sesuatu pada Yuki, tapi saat aku menoleh,
"!"
"!"
Mata kami
bertemu.
Artinya, Yuki
tidak melihat soal, tapi wajahku.
"Ke-kenapa
kamu lihat wajahku, bukan soal?"
"Ka-kamu
juga!"
Aku baru saja
menoleh! Aku tidak bisa menjelaskan tanpa melihat soal!
"Ya sudah,
aku sudah paham. Terima kasih."
Yuki berkata
begitu dan buru-buru kembali ke alas duduknya.
Aduh. Aku jadi
deg-degan seperti anak muda. Sepertinya aku perlu cuci muka.
Tidak, Kaede
sedang di kamar mandi. Nanti saja kalau dia sudah kembali.
........................
Ngomong-ngomong,
Kaede lama sekali.
"Kaede lama
sekali ya?"
"Iya."
Sudah lebih dari
sepuluh menit sejak dia bilang mau ke toilet.
Aku tidak
seharusnya berkomentar soal lamanya cewek di toilet, tapi ini terlalu lama.
Tidak mungkin
dia tersesat kan? Ini kan toilet rumahku...
........................
........................
"........................Jangan-jangan."
Gawat!
Aku buru-buru
berdiri dan langsung menuju toilet.
Gacha!
Lalu, aku
membuka pintu toilet yang mungkin Kaede ada di dalamnya dengan kasar.
"Hei! A-apa
yang kalian lakukan!?"
Yuki yang
mengikutiku berteriak kaget dan menutup mataku dari belakang.
"Yuki.
Lihat baik-baik."
"Lihat
baik-baik apanya... ini kan toilet cewek... eh?"
Tangan istriku
yang tadi menutupi mataku kini turun. Benar dugaanku.
"Tidak
ada...?"
Ya. Toilet itu
kosong melompong. Di atas tutup toilet yang terangkat, tertempel selembar
kertas bertuliskan:
"Kena tipu,
ba-ka~"
beserta gambar
wajah menjulurkan lidah.
"Aku
dikerjai..."
Ya. Dia tahu
letak kamarku.
"Lantai
dua!"
Saat menaiki
tangga, terdengar suara berderit-derit.
"Horeee!"
Setelah menaiki
tangga, kubuka pintu kamarku.
Bayoeeng.
Bayoeeng.
Di sana, Kaede
sedang melonjak-lonjak di atas tempat tidurku sambil memeluk bantal.
"Ah!
Curang... bukan. Sedang apa kamu!"
"Lagi main
di kasurnya Masayan. Dulu sering duduk di sini, main game bareng~"
Dengan senyum
polos, Kaede melompat dua tiga kali lagi, lalu menekan wajahnya ke kasur dan
berkata,
"Ahahaha!
Bau cowok!"
"Apa yang
kamu lakukan, hah...?"
"Ehehe~.
Tiba-tiba, badanku bergerak sendiri."
Kaede
menjulurkan lidahnya sedikit di atas tempat tidur.
Ini pasti salah
satu aktingnya sebagai gadis yang menyukaiku.
Meski akting,
kok bisa-bisanya dia membenamkan wajahnya di kasur pria yang tidak disukainya?
Dasar aktris hebat.
"Siapa
bilang kamu boleh masuk seenaknya? Cepat keluar."
"Eh, itu
tidak berlaku ya. Yang bilang boleh masuk kamar ini kan Masayan sendiri?"
"Aku?"
"Sebelum
mulai belajar bersama, waktu aku tanya 'Ada barang yang tidak boleh disentuh?',
Masayan bilang 'Tidak ada tuh'."
Kaede melipat
tangannya di dada, berdiri tegak di atas tempat tidur, dan tersenyum mengejek.
"Jadi,
pintu kamar Masayan, kasur ini juga, berarti boleh disentuh dong."
Aku tidak bilang
boleh masuk! Lagipula, secara logika kan tidak boleh.
"Jangan
cari-cari alasan! Cepat turun dari kasur!"
"Ahn~"
Saat aku
menendang pinggang Kaede pelan, dia bergerak meliuk-liuk dan berguling ke
lantai.
"Ini...
kamarmu...?"
"Yah,
begitulah."
"Hh,
hmmm..."
Yuki masuk ke
kamarku dan melihat sekeliling.
"Ternyata
lumayan rapi ya."
"Kamu
membayangkan kamarku lebih berantakan?"
"Iya.
Lagipula, hampir sama dengan kamar cowok yang kukenal."
"Eh. Arisugawa,
kamu pernah masuk kamar cowok!?"
"Ti-tidak
ya! Aku cuma berpikir kamarmu mirip kamar Onii-chan."
Ah, kakak
menyebalkan itu.
"Hee.
Kamarnya seperti ini ya. Aku kira lebih banyak foto *gravure* yang ditempel di
dinding."
"Katanya,
'Itu tidak disukai cewek'."
Ngomong-ngomong,
kakak itu *playboy* yang sering membawa cewek ke kamar. Apa alat kelaminnya
tidak meledak?
"Kasur,
meja, rak buku... lalu, kulkas kecil. Dan ada alat latihan otot, sama seperti
kamu..."
Yuki sedikit
mengerutkan kening.
"Jangan-jangan,
sejak SMP kamu sudah sering membawa cewek ke kamar..."
"Tidak
tidak! Berhenti berpikir kalau alat latihan otot = *playboy*!"
Lagipula, aku
mulai latihan otot karena kamu di masa depan bilang suka cowok berotot!
"Lagipula,
ini pertama kalinya aku membawa cewek ke kamar."
"Oh...
begitu..."
"Eh? Aku
zaman dulu tidak dihitung?"
Kaede memasang
ekspresi.
Tidak, zaman SD
tidak dihitung kan.
"Jangan
lihat-lihat terus. Aku jadi malu."
"Kita
imbang, kan kamu sudah masuk kamarku sebelumnya."
Kamar Yuki? Ah,
waktu aku menjenguknya dulu.
Sejujurnya, saat
itu aku tidak kepikiran apa pun. Lagipula, aku tidak benar-benar masuk ke
kamarnya kan?
"Oke, kalau
begitu, mari kita mulai."
Kaede mematahkan
jari-jarinya, dan memasang ekspresi bersemangat.
"Mulai
apa?"
"Kalau
sudah masuk kamar cowok, yang harus dilakukan cuma satu. Mencari buku dewasa
kan?"
"Itu kan
yang dilakukan cowok!"
"Cewek juga
mau! Arisugawa-san juga mau kan? Ya kan?"
Hei. Jangan
libatkan Yuki.
"A-aku tidak
tertarik. Aku tidak mau ikut hal bodoh seperti itu."
Bagus. Apa cuma
aku yang waras? Aku hampir saja berpikir begitu.
"Hmm..."
Kaede meletakkan
jari telunjuk di mulutnya, lalu sedikit memiringkan kepalanya.
"Tapi...
apa kalian tidak penasaran seperti apa selera Masayan? Apa dia suka cewek
berdada besar, atau cewek yang lebih tua?"
"Eh..."
"Pasti
penasaran kan? Mari kita bongkar rahasia Masayan bersama."
Dengan wajah
nakal, Kaede mencoba mengintip wajah Yuki.
"A-aku tahu
selera cowokmu itu seperti apa! Soalnya, waktu perkenalan diri di ruang OSIS,
dia bilang padaku..."
Saat mengatakan
itu, Yuki terdiam dan menggerak-gerakkan mulutnya.
Lalu, wajahnya
memerah dan mengepulkan uap.
"Kamu tidak
tahu apa-apa. Selera cowok itu gampang berubah."
Kaede memasang
ekspresi "Kamu tidak mengerti cowok ya" dan menggelengkan kepalanya.
"Apa
Arisugawa-san bisa menjamin kalau selera Masayan tidak berubah?"
"I-itu
sih..."
Yuki terpojok.
Hei sadar. Meskipun dia bicara dengan percaya diri, cewek di depanmu ini
sama-sama belum berpengalaman soal cinta.
"Kamu kan
tidak bisa menjaminnya? Makanya, kita harus cari tahu tipe cewek Masayan dari
buku dewasanya!"
"Eh..."
Yuki terdiam,
tidak bisa membantah.
Melihat itu,
wajah Kaede seolah menampilkan tulisan "Skakmat". Jangan pasang wajah
sombong.
Aku menghela
napas.
"Terserah.
Aku tidak punya buku dewasa kok."
Kataku sambil
berkacak pinggang.
"Eeeh?
Tidak mungkin cowok SMA tidak punya buku dewasa."
Kaede berkata
begitu dan mulai mencari-cari di kamarku.
Bodoh. Aku sudah
menyiapkan diri untuk ini.
Memang benar aku
punya buku dewasa. Buku yang kubeli waktu SMP sebelum melakukan perjalanan
waktu.
Tapi semuanya
sudah kupindahkan ke kamar ayah.
"Oke,
pertama-tama. Yos."
Kaede menggeser
lemari kecil di samping kasurku.
Fufu. Di sana
tidak ada apa-apa. Paling cuma koin sepuluh yen yang jatuh.
"Kalau
tidak salah, di sekitar sini..."
Kaede
mengetuk-ngetuk dinding di tempat lemari tadi. Hah? Apa yang dia lakukan?
"Ah.
Ketemu."
Terdengar bunyi
klik, lalu pintu rahasia berukuran sekitar lima puluh sentimeter terbuka dengan
bunyi gii.
"Eh. A-apa
itu..."
"? Apa kamu
lupa? Ayahmu yang membuatkannya untukmu."
Ayah...?
Ah, aku ingat.
Dulu waktu SD,
karena aku ingin punya markas rahasia, aku minta ayah membuatkannya.
Ayah bersemangat
dan mencoba membuat ruang rahasia di sebelah kamarku, tapi ketahuan ibu di
tengah jalan, jadi proyeknya dihentikan. Akibatnya, hanya tersisa ruangan yang
cukup untuk satu orang dan pintu rahasia.
Setelah aku
menaruh lemari yang kubeli waktu SMP, aku tidak pernah menggunakannya lagi,
jadi aku benar-benar lupa.
Ga-gawat. Saat
aku menaruh lemari, semua barang di ruang rahasia kan sudah kukeluarkan? Aku
percaya padamu, aku di masa lalu!
"Oh. Ada
sesuatu. Sepertinya kita menemukan harta karun."
Kaede memasukkan
setengah badannya ke dalam. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu.
Bruk bruk bruk.
Tiga majalah
usang jatuh ke lantai.
Itu majalah
dewasa yang kutemukan di tepi sungai saat aku kelas satu SMP.
Itu barang lama,
dan karena kena hujan, kondisinya buruk.
Sampulnya aneh
dan berbau bondage.
Itu majalah
dewasa yang dulu dijual di minimarket, yang sudah tidak ada lagi di masa depan.
"................................."
"Waa..."
Bahkan Kaede
yang heboh pun terkejut, dan mengeluarkan suara seperti Chiikawa.
Mungkin karena
majalahnya lebih parah dari yang dia kira, dia jadi bingung harus bereaksi
seperti apa.
"Ma-Masayan...
Kamu sudah berubah ya sejak kita tidak bertemu selama tiga tahun."
Katanya dengan
suara gemetar.
Ini pertama
kalinya aku melihatnya ketakutan seperti ini.
Bukan! Bondage
atau sadomasokisme bukan seleraku sama sekali!
Lalu, kenapa aku
dulu mengambilnya?
Karena dulu,
barang dewasa itu langka.
Dulu, situs
dewasa belum sebanyak sekarang. Sering kali kena virus kalau mengakses situs
aneh.
Jadi, meskipun
majalah dewasa yang kutemukan tidak sesuai seleraku, aku tetap mengambilnya
karena "Ya sudahlah, isinya dewasa juga. Sayang kalau dibuang."
Sial. Aku yang
berumur lima belas tahun. Kenapa kamu meninggalkan ranjau seperti ini?
"Bu-buku
ini bukan punyaku! Aku yang SMP yang mengambilnya..."
"Apa
Masayan SMP bukan Masayan?"
"Tidak, aku
yang SMP itu seperti orang lain! Alter egoku!"
"Kamu ini
Yu-Gi-Oh ya?"
Kaede berjongkok
di dekat majalah dewasa yang jatuh di lantai.
"Ooh... Ini
lumayan parah..."
Dia mulai
membuka-buka sampulnya.
"Arisugawa-san
juga lihat dong. Ini."
"Aku tidak
mau lihat! Jangan arahkan ke sini!"
Yuki mundur ke
sudut ruangan dan menutupi matanya dengan kedua tangan.
Tapi, celah di
antara jari-jarinya sedikit terbuka. Eh. Kelihatan ya?
Aah... ini
hukuman apa?
Aku memegangi
kepala sambil mengutuk diriku yang dulu.
* * *
"................................."
Pencarian di
kamarku selesai, dan kami kembali belajar.
Ruangannya sepi,
tapi suasananya berbeda dari saat kami fokus belajar tadi.
Suasana suram
menyelimuti kami bertiga.
Kaede yang
biasanya ceria, juga terdiam dengan canggung. Rasanya seperti melakukan
kenakalan ringan, tapi malah jadi heboh.
"................................."
Tolong bunuh
aku.
Atau, tolong ada
yang mengubah suasana suram ini.
Seolah doaku
terkabul,
"Guk!
Guk!"
Suara anjing
menggonggong terdengar dari luar jendela besar ruang keluarga.
"Apa kamu
memelihara anjing?"
"Tidak.
Suara gonggongan ini pasti si Chocola."
Saat membuka
gorden, terlihat seekor anjing dachshund berlarian di halaman rumahku.
Kalung merah dan
bulu berwarna hitam dan cokelat. Begitu melihat kami, dia menjulurkan lidahnya
lebar-lebar dan menepuk-nepuk kaca dengan cakarnya.
"Tidak ada
pilihan. Mau camilan?"
Saat aku membuka
jendela besar, dia masuk tanpa ragu.
"Wah..."
"Dia sudah
terbiasa dengan manusia."
Tanpa ragu pada
Yuki dan Kaede yang baru pertama kali bertemu, anjing dachshund itu
mengibas-ngibaskan ekornya dan mulai berlarian di sekitar kami.
"Namanya
Chocola, anjing pasangan Nakamura tetangga sebelah. Mereka memeliharanya di
dalam rumah, tapi kadang-kadang dia kabur."
"Kabur...
Agak tidak bertanggung jawab..."
"Yah,
mereka berdua sudah tua... Lagipula, dia tidak pernah pergi jauh, jadi aman.
Paling-paling dia datang ke tetangga untuk minta camilan."
"Oh. Pintar
ya dia..."
Seolah bereaksi
pada kata camilan, Chocola berhenti di antara aku dan Yuki, dan mulai
mengibas-ngibaskan ekornya dengan sangat cepat.
Yuki mencoba
mengelusnya, tapi dia menghentikan tangannya di tengah jalan.
"Apa dia
tidak akan menggigit?"
Katanya dengan
wajah khawatir.
"Tidak. Dia
tidak akan menggigit."
Dia tidak peduli
digigit atau dicakar kucing, tapi dia agak takut anjing.
Meskipun begitu,
dia tidak berarti benci anjing. Setelah memastikan anjing itu tidak menggigit,
Yuki perlahan-lahan mengulurkan tangan dari bawah dan mulai mengelus kepalanya.
"Hehehehehe."
Sepertinya
Chocola merasa nyaman, dia berbaring dan menunjukkan perutnya, seolah menyuruh
kami mengelusnya.
"Dia
telentang!"
Yuki sepertinya
lupa kalau kami ada di dekatnya, dan masuk ke mode melomelo seperti saat di
kafe kucing.
Ngomong-ngomong,
mudah untuk mengetahui apakah dia dalam mode melomelo atau tidak. Nadanya akan
naik sekitar tiga oktaf.
"Nee, nee,
Masayan, Masayan."
Kaede
menarik-narik bajuku.
"Arisugawa-san,
apa dia selalu seperti ini kalau di depan hewan?"
"Ah.
Kupikir dia cuma begitu kalau di depan kucing, tapi ternyata anjing juga. Baru
tahu aku."
"Hee. Imut
ya. Orang yang biasanya dingin dan keren, menunjukkan sisi manis seperti
ini."
"Iya
kan?"
Ah, tapi
sebaiknya aku menghentikannya.
Kalau diusap
terlalu lama, bisa gawat.
"Arisugawa.
Sebaiknya berhenti. Anjing itu tidak boleh diusap terlalu lama."
"Eh.
Kenapa? Dia kan senang begini."
Chocola masih
telentang dan menggeliat senang.
"Sebentar
lagi ya! Aku merasa sebentar lagi dia akan menyukaiku."
Dia sudah
menyukaimu. Ekornya mengibas-ngibas terus tuh.
"Kenapa
tidak boleh diusap terlalu lama? Apa jantungnya tidak kuat?"
"Bukan,
bukan karena itu."
Aku menggaruk
kepala dan mengatakan yang sebenarnya.
"Dia punya
kebiasaan kencing sembarangan kalau terlalu senang."
"Eh..."
Terdengar suara
air memancar.
Terlambat.
Suara jeritan
Yuki bergema di ruang keluarga.
* * *
(POV Yuki)
Syaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.
"Haaah..."
Aku, Arisugawa Yuki, menghela napas sambil mandi.
"Semoga
sudah tidak bau lagi...?"
Sniff sniff. Aku
sudah mencucinya berkali-kali, jadi seharusnya tidak apa-apa, tapi aku tetap
memeriksanya.
Aku lega karena
hanya tercium aroma sabun mandi.
"O'furo ga
wakimashita. Kyuutoosen o shimete kudasai" (Air mandi sudah siap. Tutup
keran air panas)
"Ehm, ini
kan."
Setelah
memastikan airnya berhenti, aku menutup keran air panas.
Air panas di bak
mandi berbunyi byichon.
Sebenarnya aku
cukup mandi saja, tapi aku tidak bisa keluar sekarang.
Karena aku tidak
punya baju ganti.
Awalnya aku
berniat meminjam baju Suzuhara-kun.
Tapi, aku baru
sadar di ruang ganti. Bukan hanya bajuku, tapi pakaian dalamku juga kotor.
Sekarang,
Niizuma-san sedang pergi ke department store terdekat untuk membelikanku
pakaian dalam.
Sementara itu,
Suzuhara-kun berbaik hati menyiapkan air panas agar aku tidak masuk angin.
"Ugh...
Agak panas..."
Aku
perlahan-lahan menurunkan tubuh ke dalam bak mandi. Butuh sekitar satu menit
sampai aku bisa berendam sampai bahu.
"Fuuuh..."
Bak mandi di
rumah ini sedikit lebih kecil dari rumahku. Tapi ukurannya pas untuk tubuhku
yang kecil.
Sambil melirik
sampo dan sabun mandi yang berjejer di samping bak mandi, aku berendam sampai
leher.
Haa... Nyaman
sekali.
Meskipun aku
berusaha rileks, jantungku terus berdebar kencang.
"Di bak
mandi ini, dia selalu mandi ya..."
Aku tidak pernah
menyangka akan mandi di kamar mandi cowok.
Kepalaku rasanya
mau pecah... Aku mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam...
"Arisugawa.
Airnya pas?"
Aku diajak
bicara dari luar ruang ganti, dan aku mengeluarkan suara aneh.
"A-agak
panas, tapi tidak apa-apa."
"Oh. Kalau
ada apa-apa, panggil saja."
"I-iya."
Kalau
dipikir-pikir, situasi ini cukup berbahaya.
Aku berdua
dengan cowok yang jelas-jelas menyukaiku.
Apalagi, ruang
ganti dan kamar mandi ini tidak ada kuncinya. Kalau dia masuk ke sini sekarang,
aku...
"Tidak
tidak tidak."
Aku
menggelengkan kepala dan mengusir pikiran aneh.
Dia memang
sering menggoda, tapi dia tidak pernah melakukan hal yang benar-benar kubenci.
Aku tahu itu.
........................
........................
Hal yang
kubenci... ya.
Apa aku
benar-benar benci kalau dia masuk ke sini...?
Sambil duduk
bersimpuh di bak mandi, aku bertanya pada diri sendiri.
Memang sangat
memalukan... tapi kalau ditanya apakah aku merasa jijik, aku tidak yakin.
"Aku...
sebenarnya apa yang kupikirkan tentang dia..."
Aku tidak
benci... Lalu apakah aku suka? Tapi suka yang seperti apa?
Percaya...
hormat...
Apakah rasa suka
ini seperti persahabatan, ataukah...
"..........................."
Padahal baru
satu menit aku berendam, tapi aku sudah merasa pusing. Apa airnya terlalu
panas...?
Aku tidak tahu
apakah perasaan ini adalah cinta, karena aku belum pernah jatuh cinta.
Tapi, aku tahu
pasti satu hal.
Aku tidak mau
Suzuhara-kun direbut Niizuma-san!
Aku berdiri di
dalam bak mandi dan melihat wajahku di cermin.
Semua orang
bilang aku cantik, tapi apa benar begitu...?
Aku tahu wajahku
lumayan, tapi tatapan mataku tajam.
Apalagi,
Niizuma-san juga cantik sekali. Wajahnya mudah disukai semua orang, berbeda
denganku.
"............
Begitu ya. Aku cemburu pada Niizuma-san..."
Akhirnya aku
tahu kenapa aku merasa tidak enak sejak dia masuk sekolah.
Dia punya semua
yang kuinginkan.
Sama seperti Onii-chan,
dia serba bisa.
Dia bisa jujur
pada perasaannya sendiri.
Dia punya
kepribadian yang mudah dicintai semua orang...
"..........................."
Kata-kata
Niizuma-san tadi.
"Apa
Arisugawa-san bisa menjamin kalau selera Masayan tidak berubah?"
Saat kata-kata
itu diucapkan, dadaku terasa sakit.
Suzuhara-kun
menyatakan cinta padaku saat pertama kali kami bertemu di ruang OSIS.
Tapi, tidak ada
jaminan perasaannya akan bertahan selamanya. Apalagi dia bilang suka pada gadis
secantik itu.
Siapa tahu dia
akan menyukai Niizuma-san, bukan aku...
"!"
Benar. Aku punya
ide bagus.
Aku bisa
berpacaran dengan Suzuhara-kun.
Tapi sebagai
gantinya, aku tidak akan memberi tahu siapa pun sampai aku yakin dengan
perasaanku. Aku akan meminta dia untuk bersikap seperti teman biasa, bukan
seperti sepasang kekasih.
Kalau begitu,
aku tidak akan direbut—
"... Aku
ini jahat sekali..."
Aku merasa jijik
dengan diriku sendiri yang memikirkan rencana licik seperti itu.
Niizuma-san
dengan jujur mengatakan suka padanya, sedangkan aku mencoba mendapatkannya
dengan berbohong.
Alasan kenapa
aku tidak bisa melangkah dengan berani.
Itu karena ayah
berencana menikahkan aku dengan calon presiden Alice Core.
Sekalipun itu
dia, tidak mungkin dia bisa berbuat apa-apa.
Meskipun kami
berpacaran, pasti akan tiba saatnya kami harus berpisah.
Berpacaran
padahal tahu harus berpisah...
"Eh!"
Aku menampar
pipiku.
Kenapa aku jadi
lemah begini!
Aku sudah
berjanji pada ayah sebelum ke sini. Kalau aku jadi presiden OSIS berikutnya,
aku bisa bebas.
Untuk itu, aku
akan jadi wakil presiden OSIS berikutnya, dan membangun koneksi di perkumpulan
alumni!
Sementara itu,
aku akan berusaha menahannya dengan caraku sendiri.
Aku tidak punya
senyum ramah seperti Niizuma-san, dan aku juga tidak punya keberanian untuk
jujur pada perasaanku.
Tapi,
Suzuhara-kun bilang dia suka aku yang seperti ini.
Kalau begitu,
pasti ada daya tarik yang hanya dia yang tahu dariku. Aku tidak tahu apa itu,
tapi aku hanya bisa percaya diri dan berusaha.
Dan, kalau aku
bisa jadi ketua OSIS, aku akan jujur pada perasaanku.
Pasti saat itu,
aku sudah tahu apakah perasaan ini adalah cinta atau bukan.
"Hachuuun!"
Apa aku masuk
angin... Aku berendam lagi di bak mandi.
Untuk menjadi
ketua OSIS, aku harus memenangkan pemilihan OSIS.
Selama masa
kampanye pemilihan, aku hanya bisa menunjuk satu orang untuk memberikan pidato
dukungan.
Aku sudah tahu
siapa yang akan kuminta.
Pasti dia akan
dengan senang hati menerimanya. Dan pasti dia akan dengan mudah melakukan
pidato dukungan.
Tapi, itu bukan
kekuatanku.
Makanya aku—
"Suzuhara-kun...
apa kamu di sana...?"
Aku memberanikan
diri untuk berbicara padanya yang ada di luar untuk mengajukan sebuah tawaran.
* * *
(POV Masaomi)
Suara air
berhenti.
Apa sekarang
Yuki sedang berendam di bak mandi?
"................................."
Gawat. Aku jadi
sangat gugup.
Aku terguncang
hanya karena gadis yang kusukai mandi di dekat sini. Aku pantas dibilang perjaka
tua.
Tapi, aku jadi
begini gara-gara dia di masa depan.
"Aduh...
pusing..."
Entah kenapa,
aku terus teringat hari pertama aku bertemu Yuki di masa depan.
Malam saat dia
keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk dan menggodaku.
Kenangan itu
meninggalkan dampak yang kuat dalam diriku. Sampai-sampai selera seksualku jadi
aneh.
"Tenanglah
aku... Yang sedang mandi itu ayah. Yang sedang mandi itu ayah."
Dengan
mengatakan itu pada diri sendiri, akhirnya aku bisa tenang. Terima kasih ayah.
Ah.
Ngomong-ngomong, aku belum memberitahunya cara mengatur suhu air...
Di rumahku,
semua orang suka mandi air panas, jadi suhunya disetel tinggi. Mungkin terlalu
panas untuk Yuki yang tidak suka air panas.
"Arisugawa.
Airnya pas?"
"Hyaaa!"
Mungkin karena
terkejut, Yuki menjerit imut dari dalam kamar mandi.
"A-agak
panas, tapi tidak apa-apa."
"Oh. Kalau
ada apa-apa, panggil saja."
"O-oke."
Vuuu.
Ponselku
bergetar di saku.
Email dari
Kaede.
Judul emailnya
kosong, dan isinya hanya satu baris, 'Mana yang bagus?'
Mana yang bagus?
Apa maksudnya? Saat aku memiringkan kepala, email lain masuk.
'Lupa ngasih
gambar'
Email kali ini
berisi satu foto.
Saat kubuka,
foto itu menampilkan dua celana dalam.
Jangan bilang...
dia mau Yuki pakai celana dalam ini?
Aku kaget karena
celana dalam yang dipilihnya sangat seksi, model string dan thong.
Tidak mungkin
Yuki mau pakai yang seperti ini.
'Jangan
bercanda, beli yang lebih sederhana.'
Saat kukirim
email itu,
'Berarti Masayan
suka celana dalam yang sederhana ya (tertawa)'
Balasnya. Kenapa
jadi begitu?
Kukirim balasan,
'Diam. Cepat beli celana dalam yang biasa (bunuh)'.
Lalu, sekitar
satu menit kemudian, email lain dengan foto masuk.
'Kalau ini
bagaimana?'
Kali ini lumayan
wajar. Warnanya merah muda muda. Meskipun kainnya tipis dan agak minim, tapi
jauh lebih biasa dari yang tadi.
'Yah, lumayan.'
Saat kukirim
balasan itu,
'Oh ya. Ini
celana dalam yang tadi kupakai lho'
"Bleh!"
Karena kaget,
aku menjatuhkan ponselku. Untung ponselku bukan smartphone, kalau tidak
layarnya bisa pecah.
Sialan, apa yang
dia kirim! Saat aku hendak mengirim balasan marah, ponselku berbunyi lagi.
'Bohong! Ketipu
ya!'
Email lain
masuk.
"..................................."
Nanti kalau
Kaede kembali, kupukul pakai koran atau apa.
Saat aku sedang
membuat alat pemukul dari koran,
"Suzuhara-kun...
apa kamu di sana...?"
Yuki berbicara
dari dalam kamar mandi.
"Apa
Niizuma-san masih lama?"
"Katanya
sudah beli. Mungkin sekitar sepuluh menit lagi dia kembali."
"Oh."
Kami berbicara
dipisahkan oleh pintu ruang ganti dan pintu kamar mandi. Rasanya aneh.
"Nee,
bagaimana kalau kita taruhan di ujian tengah semester berikutnya?"
"Taruhan?"
"Iya. Siapa
yang dapat peringkat satu di angkatan."
"Tidak
perlu taruhan, hasilnya kan nanti diumumkan. Kita pasti tahu siapa yang
menang."
"Bukan itu,
aku mau taruhan..."
"Taruhan?"
"Seperti
taruhanmu dengan Onii-chan waktu Festival Wakaba. Yang menang boleh memerintah
apa saja."
Aku menahan
napas.
Kenapa tiba-tiba
dia bilang begitu?
Aku penasaran
alasannya, tapi aku lebih penasaran perintah apa yang akan dia berikan kalau
dia menang.
"Jujur,
kali ini aku tidak yakin bisa menang. Seperti yang kubilang sebelumnya, aku
bisa jadi nomor satu karena keberuntungan dan berusaha mati-matian..."
"Aku tahu.
Makanya, aku akan memberitahumu perintahku sebelumnya. Lalu, kamu putuskan apa
mau menerima taruhannya atau tidak."
"Perintahku...
aku mau kamu jadi juru bicara kampanyeku di pemilihan ketua OSIS tahun
depan."
Juru bicara
kampanye?
Bukankah itu
orang yang berpidato dan memberikan dukungan selama pemilihan?
"Aku pasti
akan membantumu tanpa diperintah."
"Aku tahu
kamu akan bilang begitu. Tapi, aku tidak puas kalau begitu."
Tidak puas?
Apa maksudnya?
Entah kenapa,
Yuki aneh sejak tadi. Semua tindakannya sangat berbeda dari dirinya yang
kukenal.
"Bagaimana...?
Mau taruhan? Atau tidak?"
"................................."
Aku hampir tidak
punya kerugian, menang atau kalah. Tidak ada alasan untuk menolak, tapi...
"Baiklah.
Taruhan siapa yang jadi nomor satu di angkatan ya."
"Iya. Dan
kamu harus serius. Aku akan marah kalau kamu main-main."
Ini suara Yuki
yang bersemangat seperti di masa depan. Artinya, dia benar-benar ingin
bertanding dan menang melawanku.
"Waktu
ujian masuk, kamu bisa mengalahkan Onii-chan karena belajar mati-matian kan?
Kalau begitu, kali ini kamu harus berusaha sekeras itu juga."
Kenapa sampai
segitunya...
Saat aku hendak
bertanya.
"Aku
pulaaang! Ah! Masayan menguping di depan kamar mandi ya!"
Kaede yang baru
pulang membuka pintu depan dan berteriak sambil menunjukku.
"Bukan...
aku cuma lagi mengobrol!"
"Eeeh.
Kenapa harus mengobrol di depan kamar mandi?"
Kaede
menyipitkan mata dan sedikit memiringkan kepalanya, seolah curiga.
"Sudahlah. Aku
tidak bisa masuk kalau kamu di sini. Masayan cepat pergi sana."
"Ah,
oke."
Aku memutuskan
untuk menunggu di kamarku sampai Yuki selesai ganti baju.
Saat aku naik
tangga, Kaede masuk ke kamar mandi.
"Hei!
Jangan tiba-tiba buka pintunya!"
"Ohoo.
Kulit Arisugawa-san mulus. Dadanya juga lumayan..."
"Jangan
bicara aneh-aneh, bodoh! Cepat tutup pintunya!"
Terdengar suara
dua orang cewek yang panik.
Ugh... Aku ingin
mengintip, tapi tahan, tahan. Aku naik tangga dan masuk ke kamarku.
"Eh. Celana
dalam yang dibeli tadi, ini...?"
Sebelum menutup
pintu kamar, aku mendengar suara bingung Yuki.
Sebenarnya
celana dalam seperti apa yang dibeli? Aku membatin.
* * *
"Pada
akhirnya, aku tidak sempat bertanya kenapa dia menantangku..."
Setelah Yuki dan
Kaede pulang. Di kasur kamarku yang sedikit beraroma mereka berdua, aku menatap
langit-langit.
Aku tidak
berniat jadi juara umum di ujian tengah semester berikutnya.
Tapi, tawaran
Yuki tadi. Kalau aku menang melawannya...
"Dia akan
menuruti semua perintahku... ya."
Kalau aku tidak
melakukan apa pun, aku akan kalah, dan harus menuruti perintahnya.
Tapi,
perintahnya hanya memintaku untuk menjadi juru bicara kampanyenya tahun depan.
Tawaran yang terlalu bagus untuk ditolak.
Namun, dia
bilang, "Aku ingin kamu serius."
Apa dia sangat
menyesal kalah dariku?
"Yuki di
masa depan juga tidak mau kalah ya..."
Aku teringat
saat dia kalah main game, dan selalu minta, "Sekali lagi!" dengan
wajah kesal.
"Tunggu..."
Aku bangkit dan
berpikir sambil melipat tangan.
Bagaimana kalau
aku menang di ujian tengah semester, dan memerintahnya, "Izinkan aku jadi
juru bicara kampanyemu tahun depan"?
"Keren juga
ya..."
Aku melompat
dari kasur dan menjentikkan jari.
Menang tapi
tidak mempermalukan. Malah, aku menuruti permintaannya. Sikap jantan sekali.
Tidak salah
lagi. Ini solusi terbaik.
"Masalahnya,
apa aku bisa menang..."
Aku membeli
banyak minuman energi di minimarket terdekat, lalu mengambil ikat kepala yang
kupakai saat ujian masuk dari gudang, dan mengikatkannya di dahi.
"Baiklah,
mari kita berusaha lagi setelah sekian lama."



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.