Kanojo wo deresareru houhou wo, Shorau kekkon suru oredake ga shitteiru V2 Interlude IV

N-Chan
0

Interlude IV

Seperti Dia


(POV Yuki)

 

Hari Minggu. Pagi hari sebelum belajar bersama.

 

Aku, Arisugawa Yuki, memiringkan kepala di depan wastafel kamar mandi.

 

Kemarin, karena penasaran, aku membeli majalah. Aku mencoba merias wajah sambil membuka majalah berjudul "Wajib Dibaca Siswi SMA. Teknik Rias Kekinian."

 

"Hmm. Apa aku benar-benar jadi lebih imut..."

 

Aku sudah mencobanya sesuai petunjuk di buku, tapi rasanya tidak banyak perubahan.

 

Di buku tertulis teknik rias agar mata terlihat lebih besar, atau tips foundation agar kulit terlihat lebih putih, tapi mataku memang sudah besar dan kulitku juga sudah putih sebelum pakai rias. Apa karena itu ya...

 

"Sepertinya aku rugi uang jajan..."

 

Aku menutup buku dan kembali ke kamarku. Lalu, aku menyembunyikan buku itu di bawah tempat tidur.

 

Aku tidak mau ketahuan ayah atau Oniichan kalau aku membeli buku seperti ini. Nanti diam-diam kubuang.

 

"Ah. Aku harus segera berangkat."


Setelah memastikan aku memasukkan alat tulis dan salinan soal ujian dari ketua OSIS ke dalam tas, aku menuju pintu masuk.

 

"Mau keluar?"

 

Saat aku hendak memakai sepatu, suara rendah terdengar dari belakang.

 

Aku terkejut dan menoleh, ternyata ayahku berdiri di sana dengan pakaian kasual.

 

"I-iya. Hari ini aku libur."

 

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, bukannya minggu depan ujian? Apa kamu punya waktu untuk main?"

 

Ayah berkata dengan suara dingin sambil melipat tangan.

 

"Aku tidak main. Aku mau belajar bersama teman di rumahnya."

 

"Belajar bersama?"

 

Ayah mengamati penampilanku, lalu meletakkan tangan di dagu.

 

"Kalau begitu, kenapa kamu berdandan seperti ini?"

 

"Ehーーーー!"

 

Aku baru sadar dan wajahku terasa panas.

 

"A-aku kan siswi SMA, wajar kalau aku mau tampil menarik."

 

"Begitu ya. Tapi, belajar bersama..."

 

Ayah mengerutkan kening.

 

"Kenapa? Tidak boleh?"

 

"Bukannya tidak boleh, tapi aku rasa itu tidak efisien. Belajar bersama itu cuma menguntungkan mereka yang nilainya jelek."

 

"..........................."

 

Aku setuju dengan itu. Tujuan belajar bersama hari ini adalah untuk mengajari Niizuma-san pelajaran yang ketinggalan karena cuti.

 

Makanya, kurasa tidak masalah kalau aku tidak ikut, kan ada Suzuhara-kun.

 

Tapi kalau begitu, mereka berdua akan berduaan...

 

"..........................."

 

Aku membayangkan kedua orang itu belajar bersama di ruangan yang sama.

 

Tidak! Tidak boleh!

 

Di OSIS sebelumnya, mereka bahkan menempel erat meskipun ada orang lain di sekitar. Apa yang akan terjadi kalau mereka berduaan?

 

Ya! Benar! Aku akan pergi sebagai anggota OSIS, untuk menjaga ketertiban. Bukan berarti aku penasaran dengan kamarnya atau apa!

 

Lagipula...

 

"Yang nilainya jelek saja yang diuntungkan. Kalau begitu, aku harus pergi."

 

"Apa?"

 

"Karena belajar bersama hari ini dengan orang yang peringkat satu."


Ya. Aku peringkat dua di ujian masuk. Jadi, untuk saat ini, dia yang lebih tinggi.

 

"............ Orang yang peringkat satu itu laki-laki?"

 

"I-iya, kenapa?"

 

"Karena kamu bilang mau belajar di rumah teman. Artinya, kamu mau pergi ke rumah laki-laki?"

 

"A-ada siswa peringkat tiga juga. Jadi, tidak mungkin kami berduaan."

 

"Begitu ya. Kalau begitu, tidak apa-apa."

 

Ayah hendak kembali ke ruang keluarga, lalu berbalik seolah teringat sesuatu.

 

"Tahun depan, apa kamu berencana mencalonkan diri dalam pemilihan OSIS? Kalau begitu, jadilah nomor satu sebelum tahun depan. Sekolah itu menjunjung tinggi akademik. Orang yang pintar itu hebat. Hanya itu yang bisa mengumpulkan suara."

 

"Seperti Onii-chan?"

 

"Yuma ya... Sebenarnya, Alice Core ingin Yuma yang meneruskan perusahaan."

 

"Kenapa dulu diizinkan kuliah di luar negeri?"

 

"Aku sudah berpikir untuk mengikatnya dan memaksanya meneruskan perusahaan. Tapi, aku tidak sanggup menghadapinya. Sudah jelas kalau aku akan dikhianati kalau aku paksa. Dia sangat ambisius dan suka wanita, semua sifat burukku ada padanya."

 

"..........................."

 

Meskipun mencela kakaknya, ayah terlihat sedikit bangga.


Aku baru sadar belakangan ini, Onii-chan memang membenci ayah, tapi ayah sepertinya tidak begitu.

 

Entah kenapa, ayah suka orang yang hebat.

 

Makanya, aku juga...

 

"Yuki. Kamu tidak perlu bersaing dengan dia."

 

Seolah membaca pikiranku, ayah berkata dengan suara datar.

 

"Kamu cukup semangat belajar dan masuk universitas bagus. Aku akan mencarikanmu calon suami yang baik agar kamu bahagia."

 

Calon suami yang baik...

 

Calon suamiku mungkin adalah orang yang akan menjadi presiden Alice Core berikutnya.

 

Sejak kecil, ayah sering berkata. Kebahagiaan wanita adalah lulus dari universitas bagus, menemukan pria baik, menikah, dan punya anak.

 

Meskipun pemikirannya kuno, aku tidak keberatan.

 

Aku tidak tertarik dengan cinta, dan semua pria di sekitarku terlihat kekanak-kanakan.

 

Aku tidak keberatan kalau calon suami kelak sedikit lebih tua, asalkan dia pria dewasa dan hebat.

 

Pokoknya, aku hanya menghabiskan hari-hari dengan perasaan tidak ingin kalah dari kakak dan ingin diakui ayah.

 

Tapi, belakangan ini, nilai-nilai itu mulai goyah.

 

Sejak aku masuk SMA Shichibou dan bertemu dengan dia.

 

Dan yang paling penting adalah hari aku pergi bersamanya.

 

"Apa impian Arisugawa?"

 

Soal impian masa depan yang kami bicarakan di kafe.

 

Impianku... Aku merenungkan baik-baik apa itu, dan menyadari perasaanku.

 

Aku ingin kebebasan.

 

Aku tidak ingin menikah dengan orang yang dipilihkan ayah, tapi ingin menikah dengan orang yang kusukai atas kemauanku sendiri.

 

Dan ada dua cara agar aku bisa bebas.

 

Pertama adalah melarikan diri dari rumah ini. Kalau aku melarikan diri dengan sengsara sampai ayah kecewa, aku pasti bisa bebas.

 

Aku rasa ayah juga tidak akan memaksa pernikahan kalau aku sampai sangat menolaknya.

 

Menentukan calon suami itu, bagaimanapun, adalah untuk memikirkan keuntungan bagi diriku dan ayah.

 

Dan jalan lain untuk bebas.

 

Bukan melarikan diri, tapi berjuang.

 

"Nee, kalau aku jadi ketua OSIS, bolehkah aku meneruskan Alice Core?"

 

Ini pertama kalinya aku mengatakan keinginan untuk meneruskan perusahaan pada ayah.

 

Ayah memasang ekspresi terkejut sejenak. Tapi lalu dia memasang wajah heran dan berkata,


"Tidak boleh. Apa kamu tahu betapa sulitnya seorang wanita berdiri di puncak perusahaan besar?"

 

Katanya dengan suara seperti membujuk anak kecil.

 

"Perusahaan kita ini meritokrasi. Beda dengan UKM yang dikelola keluarga."

 

"Tapi, Onii-chan.."

 

"Alasan kenapa aku ingin Yuma jadi presiden berikutnya, bukan karena dia anakku. Tapi karena aku melihat dia bisa jadi lebih hebat dari karyawan yang ada sekarang."

 

"Begitu ya... Kalau begitu..."

 

Aku menatap tajam mata ayah.

 

"Kalau aku bisa jadi lebih hebat dari Onii-chan, bolehkah aku meneruskan Alice Core?"

 

Kalau aku dipaksa menikah dengan calon presiden Alice Core, aku bisa jadi presidennya sendiri.

 

Kalau begitu, calon suami itu tidak akan ada.

 

Jujur, melarikan diri jauh lebih mudah. Pilihan untuk berjuang itu penuh ketidakpastian, jalan yang sangat sulit.

 

Tapi, aku ingin memilih jalan berjuang.

 

Aku sadar akan hal itu di Festival Wakaba sebelumnya.

 

Aku orang yang sangat tidak mau kalah, dan benci melarikan diri.

 

"..........................."

 

Ayah memasang ekspresi sedikit terkejut, lalu berkata,

 

"Begitu ya. Meskipun aku rasa itu tidak mungkin, tapi kalau itu terjadi, aku akan memikirkannya."

 

Oke! Aku sudah dapat persetujuannya. Aku mengepalkan tangan dalam hati.

 

Benar. Aku tidak akan lari. Aku akan berjuang, dan mendapatkan kebebasan.

 

Seperti dia.














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !