Interlude
VI
Wanita
Cantik dan Wanita Cantik
(POV
Yuki)
Di kantin
sekolah.
Aku, Arisugawa
Yuki, sedang makan berdua dengan ketua OSIS.
Setelah selesai
makan, aku melirik ke arah ketua OSIS.
Aku dan ketua
OSIS sama-sama makan menu harian hari ini, beef stew hamburger, tapi ketua OSIS
makannya rapi sekali, menggunakan pisau dan garpu dengan sempurna.
Cara makannya
itu seperti orang dari keluarga kelas atas. Aku tahu karena aku juga diajari
tata krama yang ketat oleh ayahku sejak kecil.
Ngomong-ngomong,
kenapa aku bisa makan siang berdua dengan ketua OSIS ya?
Tadi pagi, saat
aku mengirim email kalau aku ingin curhat, ketua OSIS membalas, "Kalau
begitu, kita bicara saat jam makan siang di kantin."
Karena
penampilanku menarik perhatian, aku berusaha makan siang di kelas.
Kalau aku makan
sendirian di kantin, banyak cowok kelas atas yang menggodaku.
Tapi, karena ada
ketua OSIS hari ini, tidak ada yang berani menggangguku.
"Ehm,
kenapa kamu mengajakku makan siang? Padahal kita bisa bicara di ruang OSIS
sepulang sekolah..."
"Itu
karena... hnhnhn."
? Ada apa
dengannya?
Kulihat ketua
OSIS berusaha keras menahan tawa.
"Maaf ya.
Soalnya kalimatmu tadi persis seperti yang diucapkan Suzuhara-kun saat curhat
padaku, jadi aku geli..."
Eh. Apa dia juga
curhat pada ketua OSIS?
Aku jadi
penasaran apa yang mereka bicarakan, dan sedikit kesal karena dia curhat pada
ketua OSIS, bukan padaku.
"Apa yang
kalian bicarakan?"
Tanpa sadar aku
bertanya.
"Itu
rahasia. Rahasia antara aku dan dia."
Ketua OSIS
meletakkan jari di mulutnya. Untuk sesaat, ketua OSIS yang selalu dewasa
terlihat sedikit kekanak-kanakan.
"Lagipula,
kamu juga tidak mau orang lain tahu masalahmu hari ini kan?"
"Memang
sih..."
Aku hanya
mengira Niizuma-san yang menyukai Suzuhara-kun, tapi jangan-jangan ketua OSIS
juga...
Tapi, bukan itu
masalahnya. Hal yang lebih penting yang ingin kutanyakan padanya hari ini.
"Aku akan
bertanya langsung. Bagaimana caranya menjadi ketua OSIS?"
"................................."
Mendengar
pertanyaanku, ketua OSIS mengangguk kecil tanpa terlihat terkejut.
"Aku ingin
berusaha semaksimal mungkin mulai sekarang."
"Begitu ya.
Sebelum itu, boleh aku bertanya satu hal? Kenapa kamu ingin jadi ketua
OSIS?"
"Kenapa,
ya..."
"Kalau
alasannya hanya karena kamu tidak mau kalah dari Yuma-senpai... kakakmu, aku
tidak bisa membantumu. Aku ingin penggantiku nanti punya keyakinan."
Senyum lembut
ketua OSIS tadi menghilang dari wajahnya.
Keyakinan...
Alasan kenapa aku ingin jadi ketua OSIS...
Aku mengepalkan
tinjuku erat-erat, lalu menatap tajam mata ketua OSIS.
"Karena itu
perlu untuk mewujudkan impianku."
"Impian...
Jangan-jangan, perkumpulan alumni?"
"Iya. Apa
ketua sudah pernah ikut?"
"Iya. Aku
pertama kali ikut hari Minggu pekan lalu."
"La-lalu,
seperti apa?"
"Rasanya
seperti acara makan prasmanan. Karena banyak orang penting, aku gugup dan tidak
bisa menikmati makanannya."
Ketua OSIS
tersenyum pahit. Ketua OSIS saja sampai gugup, berarti acaranya penting
sekali...
"Aku juga
dapat banyak kartu nama, dan ada yang mengajakku bekerja di perusahaan mereka
setelah lulus. Kalau bisa ikut acara itu, pasti banyak pilihan setelah
lulus."
"Begitu
ya..."
Ternyata benar
kata ayah dan kakak. Perkumpulan alumni adalah tempat yang tepat untuk
membangun koneksi.
Ketua OSIS
menyesap tehnya, lalu meletakkan tangannya di atas meja.
"Aku ingin
bertanya satu hal lagi, kamu ingin jadi ketua OSIS yang seperti apa,
Arisugawa-san?"
"Itu..."
Ketua OSIS yang
seperti apa yang ideal bagiku...
Awalnya aku
ingin bilang, "Aku ingin jadi ketua OSIS seperti kamu."
Aku sudah
melihat cara kerjanya selama dua bulan, dan dia adalah ketua OSIS yang ideal
bagiku.
Tapi, tepat
sebelum aku mengatakannya, Suzuhara-kun yang membantuku di Festival Wakaba
muncul di benakku.
Meskipun aku
juga kagum pada ketua OSIS yang baik dan hebat, tapi hatiku tertarik pada—
"Aku...
ingin jadi 'ketua OSIS yang bisa mengubah orang'."
Saat Festival
Wakaba, Suzuhara-kun mengubahku yang hanya fokus pada tujuan di depan mata dan
berpikiran sempit.
Dia
menyelamatkanku dari pikiran yang kaku.
Aku tidak bisa
menjelaskan alasannya dengan kata-kata, tapi aku kagum padanya.
"Ma-maaf.
Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik..."
"Tidak,
tidak apa-apa. Aku mengerti kok."
Ketua OSIS
tersenyum.
"Artinya,
kamu ingin jadi orang seperti Suzuhara-kun ya."
Katanya.
"!?"
Sendok di
tanganku jatuh berdebam.
Eh. Kenapa dia
bisa tahu? Apa dia cenayang!?
"Bu-bukan
begitu! Dia sama sekali bukan tipe idealku!"
Sebenarnya
memang begitu sih. Tapi aku reflek menyangkal.
"Oh, begitu
ya? Sepertinya aku salah paham."
Ketua OSIS tidak
bertanya lebih lanjut. Tapi, dari ekspresinya, sepertinya dia tahu aku
berbohong.
"............"
Ketua OSIS
berpikir sejenak, lalu bergumam, "Mungkin ini waktu yang tepat."
"Kebetulan
semua anggota OSIS sudah lengkap, jadi aku sedang mempertimbangkan untuk
mengaktifkan kembali kotak saran. Arisugawa-san. Mau coba jadi ketua
proyeknya?"
"Kotak
saran?"
"Iya. Siswa
bisa mengirimkan saran, lalu OSIS akan menyelesaikannya. Tahun lalu dihapus,
tapi aku berencana mengaktifkannya kembali nanti. Menurutku ini pekerjaan yang
cocok untuk menjadi ketua OSIS yang bisa mengubah orang."
Memang benar.
Kalau aku menerima saran dari siswa, aku bisa mendapat pengalaman, dan itu juga
bisa berpengaruh pada suara saat pemilihan. Sekali dayung, dua pulau.
Aku mengangguk
tegas tanpa ragu.
"Baiklah.
Aku mau."



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.