Episode
6
Kotak
Saran
(POV
Masaomi)
"Apa
ini?"
Sepulang
sekolah. Setelah memastikan semua anggota OSIS berkumpul, ketua OSIS
mengeluarkan kotak persegi berukuran sekitar lima puluh sentimeter dari gudang
di sebelah.
"Ini kotak
saran OSIS. Siswa bisa menuliskan permintaan atau masalah mereka, lalu
memasukkannya ke dalam kotak ini."
"Memangnya
ada yang seperti ini? Apalagi kotaknya berdebu sekali."
"Kotak
saran ini ditutup oleh ketua OSIS sebelumnya."
Ketua OSIS
sebelumnya, Yuma ya. Wajahnya yang kutemui siang tadi terlintas di benakku.
Yah, memang
bukan tipe orang yang mau mendengarkan saran siswa.
"Dia bilang
'Repot banget, mau dihapus saja,' lalu langsung dibuang ke gudang sehari
setelah menjabat."
Sudah kuduga.
Yang dia
pedulikan hanya penilaian orang-orang di perkumpulan alumni.
Dia sepertinya
tidak terlalu peduli dengan penilaian siswa setelah menjabat.
"Tapi, ini
memang repot. Katanya dulu saat kotak saran ini aktif, banyak sekali saran yang
masuk karena siswa jadi mudah curhat. Saking banyaknya, ketua OSIS saat itu
sampai sakit karena terlalu banyak pekerjaan."
"Seriusan..."
Entah kenapa,
kotak persegi di depan mata kami tiba-tiba terlihat seperti benda terkutuk.
"Soal itu,
aku punya usul."
Yuki mengangkat
tangan.
"Bagaimana
kalau kita membedakan kertas saran berdasarkan tingkat keseriusan
masalahnya?"
Yuki
mengeluarkan tiga lembar kertas berwarna merah, kuning, dan biru dari tasnya.
"Kertas
biru untuk permintaan yang tidak terlalu penting.
Kertas kuning
untuk masalah umum. Misalnya masalah yang ingin kami bantu selesaikan.
Kertas merah
untuk masalah yang harus diselesaikan. Misalnya bullying atau masalah yang
mengganggu kehidupan sekolah."
"Begitu
ya... Jadi siswa yang menentukan tingkat keseriusan masalahnya."
"Iya. Aku
rasa alasan OSIS dulu gagal adalah karena mereka mencoba menyelesaikan semua
saran. Jadi, kalau kita hanya menyelesaikan saran yang serius, dan saran yang
kurang serius kita selesaikan kalau ada waktu luang, seharusnya bisa."
Yuki melirik ke
arah ketua OSIS.
"Ba-bagaimana...?"
Tanyanya dengan
gugup.
"............
Hmm. Ide yang menarik."
Ketua OSIS
berkata sambil mengangguk kecil.
Lalu, dia
menepuk bahu Yuki.
"Aku ingin
Arisugawa-san jadi ketua proyek kotak saran ini. Arisugawa-san. Apa kamu
bersedia?"
"Tentu! Aku
pasti akan menyukseskannya!"
Yuki berkata
dengan tegas sambil memperbaiki posturnya.
"Kalau
begitu, aku akan pergi mencetak kertas saran dulu."
Dia berjalan
cepat menuju ruang percetakan.
"............"
Ketua OSIS
menyebut ide Yuki sebagai "ide menarik", bukan "ide
bagus"...
Jangan-jangan,
ketua OSIS juga menyadari masalah dari ide Yuki.
Aku berbicara
dengan suara pelan.
"Ketua, apa
kamu menyadari masalah dari ide Yuki?"
"Yah,
begitulah. Tapi, ini juga bagian dari pembelajaran. Untuk menjadi ketua OSIS
yang hebat, pengalaman gagal juga penting."
Mungkin dia juga
pernah gagal seperti itu. Ketua OSIS tersenyum pahit dan menggaruk pipinya.
* * *
Seminggu
kemudian.
Kekhawatiran aku
dan ketua OSIS menjadi kenyataan.
"Kenapa
jadi begini..."
Yuki memegangi
kepalanya di depan tumpukan saran di atas meja.
Kesimpulannya,
rencana pembagian warna itu gagal total.
Hampir semua
kertas saran yang masuk berwarna merah dan kuning yang seharusnya untuk masalah
serius, dan hanya ada beberapa lembar kertas biru.
Segera setelah
kotak saran diletakkan, banyak siswa yang mengerumuninya.
Di sekolah
biasa, kotak saran seperti ini tidak akan banyak digunakan.
Karena
kebanyakan orang berpikir percuma saja mengadu, tidak mungkin masalahnya
diselesaikan.
Namun, sekolah
ini berbeda.
Sudah diketahui
luas bahwa OSIS sekolah ini sangat kuat, dan mereka punya beberapa prestasi
seperti memasang AC dan menambah anggaran klub.
Apalagi berkat
keberhasilan Yuki di Festival Wakaba sebelumnya, harapan pada anggota OSIS
periode ini sangat tinggi.
Tumpukan saran
ini adalah hasil dari harapan yang terwujud, tapi perwujudan ini menimbulkan masalah
baru.
"Ada banyak
sekali saran. Jangan-jangan masalahku tidak akan diperhatikan?"
Agar masalah
mereka diperhatikan, mereka harus meningkatkan tingkat keseriusan masalah.
Saran yang
seharusnya ditulis di kertas biru, ditulis di kertas kuning atau merah, dan
ditulis berlebihan agar terlihat serius.
Hasilnya adalah
situasi seperti ini.
"'Aku
kesulitan mencari pacar', aku tidak peduli! Kenapa ini ditulis di kertas
merah!?"
Yuki membanting
kertas saran ke lantai.
Yah, bagi siswa
SMA cowok, itu masalah serius sih.
"Seharusnya
tidak seperti ini..."
Yuki terlihat
sedih dan berkaca-kaca.
Aku mengerti
perasaannya. Rasanya menyebalkan saat ide yang kita keluarkan dengan percaya
diri tidak berhasil.
"Yah,
jumlah sarannya mungkin akan stabil nanti. Sekarang kita hanya bisa berusaha
keras."
Ketua OSIS
memberikan dukungan.
"Benar
juga... Kita harus mulai dari yang bisa kita lakukan."
Yuki mengangkat
wajahnya dan mulai merapikan kertas saran.
"Aku akan
menentukan tingkat kepentingan setiap saran. Suzuhara-kun tolong masukkan
daftar tugas ke Excel ya."
"Si-siap."
Oh. Dia sudah
bangkit kembali. Mentalnya sudah kuat.
Aku senang
melihatnya tumbuh dewasa, jadi aku menyalakan PC.
* * *
"Akhirnya
selesai..."
"Tidak
kusangka akan selama ini..."
Tepat sebelum
jam pulang sekolah berakhir. Aku dan Yuki berhasil mendata semua isi kotak
saran.
Karena hari ini
kita bisa menyelesaikannya, anggota OSIS lain sudah pulang duluan.
Sudah lama
rasanya ruang OSIS sesepi ini, karena biasanya selalu ada Kaede dan wakil ketua
OSIS.
"Kalau
sudah jadi data seperti ini, ternyata tidak sebanyak yang kukira."
"Iya ya.
Ternyata banyak juga saran yang bercanda."
Mungkin karena
bahunya pegal, Yuki memijat bahunya sendiri.
"Mau
kupijat?"
".....
Kalau kamu yang memijat, pasti mesum, jadi tidak mau."
Eh. Pijatanku
sangat populer di kalangan Yuki di masa depan lho.
"Aku haus.
Mau teh... oh iya, kita kan kehabisan teh. Arisugawa. Pulang nanti kita mampir
ke minimarket ya?"
"Ah, aku
juga mau."
Kami bersiap
pulang dan mengunci ruang OSIS.
Karena paling
dekat, kami pergi ke minimarket di dekat taman sekolah. Hanya suara langkah
kami yang terdengar di koridor sekolah yang sepi.
Entah kenapa,
aku merasa masa muda di momen-momen seperti ini. Dulu waktu SMA aku tidak berpikir
apa-apa, tapi sekarang setelah dewasa aku jadi paham.
"Besok
sepertinya akan sibuk."
"Iya ya.
Kita harus berusaha lebih keras lagi..."
Melihat ekspresi
serius Yuki, hatiku terasa gelisah.
"Tapi,
jangan terlalu..."
"Jangan
memaksakan diri ya...? Aku tahu kok."
Yuki
menggembungkan pipinya.
"Aku tidak
akan mengulangi kesalahan yang sama seperti waktu Festival Wakaba. Aku akan
tidur yang cukup."
"Oh,
begitu."
Ternyata, dia
sudah tumbuh dewasa.
Meskipun dia
masih punya kebiasaan terlalu bersemangat, tapi dia cepat bangkit saat sedih,
dan dia tidak mengulangi kesalahan yang sama dua kali.
Setelah sampai
di minimarket, aku membeli kopi kaleng, dan Yuki membeli teh hijau ukuran
kecil.
Kami duduk di
bangku, dan aku menyesap kopi kalengku.
Yuki duduk di
sebelahku, menjaga jarak satu orang.
"Sepi
ya..."
"Iya.
Sepertinya klub olahraga juga tidak ada yang latihan hari ini, jadi mungkin
cuma kita siswa di sekolah."
"Cuma
kita..."
Yuki bergumam
pelan sambil menggenggam erat botol teh hijaunya dengan kedua tangan.
Meskipun kami
berdua saja sejak tadi, dia terlihat gugup hanya karena tidak ada orang lain di
sekitar kami. Imut sekali.
Kami berdua diam
saja sambil minum.
Aku sudah
selesai minum, tapi Yuki belum.
Aku diam-diam
menunggu sampai dia selesai minum.
............
Lama sekali.
Botol teh kecil
itu lama sekali habisnya. Padahal dia tidak lambat minum atau makan...
Saat meliriknya,
kulihat dia minumnya sedikit demi sedikit, perlahan.
"Eh...!"
Seperti Yuki di
masa depan.
Dulu saat kencan
terakhir, dia punya kebiasaan minum perlahan seperti itu.
Saat kutanya
alasannya, dia bilang karena ingin lebih lama berdua.
Saat kubilang,
"Kita kan juga berdua di rumah, jadi tidak ada gunanya," dia
menggembungkan pipinya dan berkata,
"Aku mau
waktu kencan lebih lama. Kamu tidak mengerti hati wanita."
Dia melakukan
hal yang sama sekarang, artinya—
"................................."
Gawat. Entah
kenapa wajahku terasa panas.
Diiringi cahaya
matahari terbenam yang sebentar lagi tenggelam, rambutnya berkilau indah.
Saking
cantiknya, aku meneguk ludah.
"................................."
Apa aku harus
mencoba menyatakan cinta lagi di sini?
Saat pertama
kali menyatakan cinta, aku melakukannya karena dorongan hati. Itu juga di depan
semua anggota OSIS, dan aku sudah siap ditolak.
Tapi, sekarang
berbeda. Kami berdua saja, dan tingkat kesukaannya padaku jauh lebih tinggi
dari saat itu.
Siapa tahu aku
akan mendapat jawaban yang berbeda sekarang.
Saat aku
berpikir begitu.
Jepret.
"?"
Terdengar suara
dari belakang, dan aku menoleh. Sepertinya ada suara dari arah pagar yang
mengelilingi taman.
"Ada
apa?"
"Tidak,
tadi seperti ada suara kamera."
"Suara
kamera?"
Sepertinya Yuki
tidak mendengarnya. Kalau begitu, mungkin aku salah dengar?
"Hah!
Jangan-jangan, wartawan! Mereka mau mengambil foto kencan rahasiaku dengan
Arisugawa..."
"Kalau
sampai ada berita seperti itu, anggaran tahun depan klub wartawan akan kubuat
nol."
Kamu terlalu
kejam. Sambil melirik Yuki yang memasang ekspresi serius, aku tersenyum pahit.
Tidak mungkin
aku menyatakan cinta lagi dalam suasana seperti ini.
Lain kali saja.
Sambil berpikir begitu, aku membuang kaleng kopi yang sudah habis ke tempat
sampah.
* * *
"Kalau
permintaan soal AC, kita bahas bareng-bareng di rapat..."
"Tunggu.
Bukankah lebih baik kita cari tahu dulu berapa biayanya?"
Keesokan
harinya. Saat jam istirahat, saat aku dan Yuki sedang membahas cara menangani
isi kotak saran,
"Suzuhara-kun.
A-apa kamu ada waktu sebentar?"
Dua siswa cowok
bertubuh kecil berkacamata menyapaku. Kalau tidak salah, namanya Shijo dan
Yoshie?
Mereka berdua
teman sekelas, tapi aku baru bicara dengan mereka sekali atau dua kali. Kalau
tidak salah, mereka anggota klub fotografi.
"Kami
dengar OSIS menerima saran, apa benar?"
"Ah. Kalau
kalian masukkan ke kotak saran, salah satu anggota OSIS pasti akan
menanganinya."
"Emm, apa
kami boleh meminta siapa yang akan menanganinya?"
Shijo melirik ke
arah Yuki.
"Kami
sangat ingin Arisugawa-san yang melakukannya... atau lebih tepatnya, hanya
Arisugawa-san yang bisa."
"Hanya aku
yang bisa...?"
Ah. Sepertinya
kalimat ini masuk daftar kalimat yang ingin didengar Yuki.
Wajah Yuki
berbinar dan terlihat senang.
"Memangnya
masalahnya apa?"
"Emm, apa
kamu kenal Tsunada dari kelas sebelah? Dia satu klub dengan kami. Dia sudah
cuti sekolah sekitar seminggu."
"Sakit?"
"Bukan.
Sepertinya dia sehat-sehat saja."
Sehat?
"Sebelum
dia tidak masuk sekolah, dia sangat sedih. Saat kami tanya alasannya, ternyata
dia ditolak Arisugawa-san, dan kamu bilang 'Aku tidak tertarik'."
"Ah.
Begitu..."
Dia tertusuk
duri Putri Mawar Putih. Kasihan sekali.
"Eh. Apa
karena aku menolaknya?"
Yuki memasang
ekspresi terkejut, seolah bertanya, "Cuma karena itu?"
Hei, anak SMA
cowok itu perasa tahu.
"Tapi, apa
yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin pacaran dengannya."
"Tentu saja
tidak. Kami rasa wajar kalau Arisugawa-san menolak Tsunada. Tapi, kami ingin
alasan penolakannya sedikit lebih baik."
"Alasan
yang lebih baik?"
"Iya.
Misalnya, kamu bilang sudah punya pacar... Kalau ada alasan yang tidak bisa
dihindari, dia pasti bisa bangkit."
"Begitu
ya... Kalau cuma itu sih..."
Yuki sedikit
ragu, lalu mengangguk kecil.
"Kalau
begitu, aku yang jadi pacarmu."
"Tidak
perlu! Nanti ada rumor aneh lagi bagaimana!?"
"Eh. Apa
kamu mau berpura-pura pacaran dengan cowok lain selain aku..."
"Cukup
bilang kamu punya pacar di luar sekolah!"
Saat aku dan
Yuki sedang bercanda, Shijo terkejut.
"Jangan-jangan
kalian berdua memang diam-diam pacaran? Rumornya kan sempat heboh beberapa
waktu lalu."
"Kami tidak
pacaran!"
Yuki memerah dan
membantah dengan semangat.
* * *
Setelah
menyelesaikan pekerjaan OSIS lebih awal, kami diantar Shijo dan yang lain ke
rumah Tsunada.
Naik kereta sekitar
lima belas menit dari sekolah. Lalu jalan kaki sekitar lima menit dari stasiun.
Rumahnya di gedung tua.
Ada lift, tapi
ada tulisan "Rusak". Kami naik tangga, dan di lantai dua ada pintu
masuk bar era Showa.
Mungkin bar yang
sudah lama tutup. Papan nama bertuliskan "Bar Mio" di dekat pintu
masuk berdebu.
"Eh. Ini
rumah Tsunada?"
"U-uhm.
Katanya sih, rumahnya di sini. Dia numpang tinggal di tempat yang dulu dikelola
bibinya di Tochigi."
"Hee..."
Yah, sewa di
Tokyo memang mahal... Mungkin ada yang seperti itu.
"Aku punya
pacar rahasia... Aku punya pacar rahasia..."
Di belakangku,
Yuki berlatih mengucapkan kebohongan lembut untuk Tsunada.
Yuki ini
aktingnya payah. Ekspresinya selalu kaku, dan bicaranya jadi patah-patah.
Kalau begini,
lebih baik aku saja yang menjelaskan. Dengan begitu, Tsunada mungkin bisa sadar
siapa pacar rahasianya.
"Sudah
siap?"
"Ba-baiklah."
Melihat Yuki
mengangguk, Shijo membuka pintu bar dan masuk ke dalam.
Eh...?
Melihat tindakan
Shijo, aku merasa ada yang aneh.
Kenapa dia tidak
membunyikan bel pintu? Lagipula, pintunya kan terbuka?
Apa mereka sudah
menjelaskan kalau kami akan datang?
"Pe-permisi..."
Aku menarik bahu
Yuki yang hendak masuk setelah Shijo. Tubuhnya terlonjak kaget.
"A-apa yang
kamu lakukan!?"
"Sepertinya
Arisugawa harus menunggu di sini saja. Biar aku yang bicara dengan
Tsunada."
Ada yang aneh
dengan pintu yang tidak terkunci dan sikap Shijo dan yang lain.
Aku tidak bisa
menjelaskannya, tapi ada yang terasa janggal.
"Tidak
mungkin. Kalau bukan aku yang bilang langsung pada Tsunada, tidak ada gunanya.
Aku ke sini kan memang untuk itu."
"Tapi..."
"Lagipula,
masalah ini cocok dengan ketua OSIS yang kuinginkan."
"Ketua OSIS
yang kamu inginkan...?"
Saat aku
memiringkan kepala, dia buru-buru menutup mulutnya.
"B-bukan
apa-apa!"
Katanya, lalu
menepis tanganku dan masuk ke dalam.
"Sial..."
Aku buru-buru
mengejarnya.
Bar itu lebih
luas dari yang kukira. Ada jalan sempit seperti lorong sepanjang lima meter
dari pintu masuk, dan di ujungnya ada meja bar dan kursi bundar yang
dikumpulkan di satu tempat.
Apa benar ada
yang tinggal di tempat seperti ini? Rasanya terlalu tidak berpenghuni...
"Eh..."
Yuki yang
berjalan di depan tiba-tiba memasang ekspresi cemas dan berhenti.
Tatapannya
tertuju pada meja di samping meja bar.
Aku juga melihat
ke arah itu.
Di sana, Tsunada
duduk di meja.
Tapi, bukan
hanya Tsunada.
"Oh.
Akhirnya datang juga."
Empat orang pria
dan wanita duduk mengelilinginya sambil minum.
Semuanya berumur
sekitar dua puluh tahun. Mungkin mahasiswa.
Ada pria
berambut cokelat dengan tindik.
Pria bertopi
dengan janggut dan tatapan mata yang tajam.
Dua wanita
berambut cokelat yang mengenakan pakaian terbuka.
Tsunada duduk di
tempat yang seolah tidak bisa melarikan diri, dan tubuhnya meringkuk kecil.
Awalnya, aku
kira Tsunada diganggu orang-orang ini. Tapi, melihat reaksi Shijo dan Yoshie,
aku sadar kalau keempat orang ini kenalan mereka.
"Arisugawa!
Kita lari!"
"Eh?"
Aku meraih
tangan Yuki yang berdiri terpaku, dan berbalik menuju pintu keluar.
Tapi—
"Ups."
Dari luar,
seorang pria kekar berambut keriting masuk, seolah menghalangi jalan kami.
Waktunya terlalu
pas. Pasti dia sengaja bersembunyi di balik tangga agar kami tidak bisa kabur.
"Oke oke. Jangan
lari. Kalau kalian diam, tidak akan ada yang sakit kok..."
"..................................."
Dengan jumlah
orang sebanyak ini, percuma kalau kami melawan.
"Arisugawa...
kita ikuti saja kata mereka untuk sementara."
"..................................."
Sepertinya Yuki
masih belum mengerti situasinya. Aku menarik tangannya, dan kami kembali ke
tempat mereka.
"Reiji-san.
Kami sudah membawanya seperti janji."
Shijo yang dari
tadi diam akhirnya buka mulut.
Tatapannya
tertuju pada pria berambut cokelat dan bertindik. Pria yang dipanggil Reiji itu
melihat ke arahku dan Arisugawa bergantian, lalu
"Oh, kerja
bagus. Hee, ternyata imut juga."
Dia tersenyum
mesum.
"Eh.
Serius? Selera Reiji seperti ini?"
"Bodoh. Aku
tidak tertarik dengan yang lebih muda. Kalau Tanoe, mungkin seleranya."
"Benar
juga. Dia kan suka anak kecil."
"Gyahaha!"
Tawa kasar
bergema di dalam bar sempit itu.
"Shijo-kun...
sebenarnya apa yang terjadi...?"
Entah karena
cemas, Yuki menggenggam tanganku erat-erat dan bertanya pada Shijo.
"Tsunada
tidak masuk sekolah itu bohong. Kami hanya ingin kalian berdua ke sini. Benar
kan?"
"Ma-maaf.
Arisugawa-san, Suzuhara-kun."
Mereka berdua
mengangkat bahu dan mengangguk kecil sambil menunduk.
"Apa
orang-orang ini mengancam kalian?"
"Jangan
bicara seolah kami mengancam. Mereka berdua cuma menuruti permintaan
kami."
Reiji berdiri
dari kursinya, mengeluarkan selembar kertas dari saku dadanya, dan
melemparkannya ke arah kami.
"Kami cuma
menunjukkan ini pada mereka, lalu mereka mau membantu."
Kertas... bukan,
foto? Aku membalik foto yang jatuh di lantai.
"............
Begitu rupanya."
Foto itu
menampilkan Shijo dan yang lain sedang merokok.
Lokasinya
mungkin di karaoke atau tempat lain? Cara memegang rokoknya terlihat kaku,
seperti bukan perokok berpengalaman.
"Ka-kami
melakukannya karena penasaran. Kami sedikit tertarik, lalu ada yang menawari...
dan ya, cuma sekali..."
Yoshie bergumam
sambil menangis.
Begitu rupanya.
Aku mulai mengerti situasinya.
"Kalian
diancam akan disebarkan foto itu, lalu diminta uang kan?"
"Oh. Hebat,
ya. Murid SMA Shichibou memang pintar."
Reiji
membulatkan matanya dan bersiul.
"Ada apa...
ini..."
Genggaman tangan
Yuki di tanganku menguat.
"Apa kalian
tidak malu melakukan pemerasan pada siswa SMA?"
"................................."
Ekspresi Reiji
tiba-tiba berubah datar. Dia berjalan perlahan menuju Yuki, lalu menendang meja
di sampingnya.
Meja itu
tumbang, dan botol-botol kosong di atasnya jatuh ke lantai dengan suara keras.
"Hiks!"
Tubuh Yuki
menegang karena ketakutan. Melihat wajah Yuki yang ketakutan, Reiji tertawa
mengejek.
"Haha.
Jangan takut begitu. Aku tidak akan melakukan apa pun. Tapi, jaga cara
bicaramu. Oke?"
Katanya dengan
nada mengancam.
"Eh..........................."
Yuki memasang
ekspresi kesal, tapi tidak mengatakan apa pun lagi.
"Peduli apa
aku dengan rasa malu. Kalian kan sudah dijamin akan jadi orang sukses. Jadi,
ijinkan kami mengambil sedikit dari keuntungan kalian."
Orang-orang ini
payah. Aku menghela napas dalam hati.
Kalau dilihat,
mereka lebih dari berandalan, tapi kurang dari Yakuza.
Mereka ingin
uang untuk bersenang-senang, tapi malas kerja keras. Makanya, mereka memeras
siswa SMA.
"Aku sudah
tahu masalahnya dengan kalian. Lalu, kenapa kalian memanggil kami ke
sini?"
Aku maju,
melindungi Yuki yang masih terdiam.
"Ah. Kami
selama ini memeras uang dari mereka, tapi mereka bilang sudah tidak sanggup
lagi. Makanya kami tanya siapa yang bisa jadi korban pengganti. Lalu kami
dengar ada putri presiden yang pintar di sekolah."
Begitu ya,
mereka memanggil kami ke sini untuk menjadikan Yuki korban pemerasan
berikutnya.
"Ta-tapi,
itu kan kalau ada bahan untuk mengancam! Aku tidak pernah melakukan hal yang
mencurigakan..."
"Sepertinya
begitu. Orang-orang ini sudah mengawasi kalian, tapi mereka tidak menemukan apa
pun yang bisa mengancam. Makanya..."
Reiji
mengeluarkan selembar foto dari saku dadanya dan memberikannya pada Yuki.
"A-apa
ini..."
Melihat foto itu,
Yuki panik.
"Teknologi
edit foto sekarang hebat."
Foto itu
menampilkan aku dan Yuki sedang merokok.
Aku langsung
tahu kapan foto itu diambil.
Itu foto kami
saat mampir ke minimarket sebelum pulang sekolah. Minumannya diedit jadi rokok.
Ngomong-ngomong,
Shijo dan yang lain kan anggota klub fotografi...
Jangan-jangan,
suara kamera yang kudengar hari itu saat mereka mengambil foto ini.
"Tentu
saja, meskipun fotonya disobek, tidak ada gunanya. Data foto yang sudah diedit
ada di PC-ku. Coba saja adukan pada polisi. Foto ini akan kusebar ke seluruh
sekolah."
"Ja-jangan
bercanda, foto seperti ini kan langsung ketahuan editan!"
"Yah, kalau
diselidiki dengan benar, pasti ketahuan. Tapi, sebelum itu, rumor tentang
kenakalanmu pasti akan menyebar ke seluruh sekolah... bahkan mungkin ke luar
sekolah. Ini kan skandal anggota OSIS yang seharusnya jadi panutan."
"Sial..."
Mereka menyerang
titik lemah kami.
Kalau foto ini
tersebar, seperti yang mereka bilang, Yuki pasti akan dihujat. Apalagi kalau
menyangkut skandal siswi teladan seperti dia.
Dan meskipun
kesalahpahaman ini selesai, fakta bahwa Yuki berhubungan dengan kelompok
berandalan akan tetap ada.
Meskipun tidak
berpengaruh pada rencana setelah lulus, pasti akan berpengaruh pada pemilihan
ketua OSIS tahun depan.
Melihat kami
yang terdiam, Reiji menepuk bahu Yuki.
"Mulai
bulan depan, bawa lima puluh ribu setiap bulan. Kamu kan kaya?"
"Eh..........................."
Lalu, dia
menatapku.
"Kamu...
pacarnya dia? Kalau begitu, tiga puluh ribu. Kalau kamu mau
melindunginya."
Katanya.
"Suzuhara-kun...
Arisugawa-san... maafkan kami..."
Shijo dan yang
lain meringkuk dan terus meminta maaf.
Reiji melirik
mereka.
"Tsunada,
Shijo, Yoshie. Mulai bulan depan, kalian berdua bayar dua puluh ribu."
"Eh.
Ta-tunggu dulu! Bukankah janjinya kami dibebaskan kalau membawa
pengganti...?"
"Dulu kan
tiga puluh ribu. Bersyukurlah sudah dikurangi sepuluh ribu."
"Ta-tapi..."
"Benar
juga... Kalau kalian bawa korban lain, mungkin bisa dikurangi lagi? Kalian kan
kenal orang kaya lain."
"Eh................................."
Reiji menendang
pelan punggung Shijo dan yang lain yang terdiam.
"Ayo. Cepat
pulang. Batas waktu pertama dua minggu lagi. Kalian tahu kan apa yang akan
terjadi kalau telat?"
Katanya dengan
nada mengancam.
"Jangan
macam-macam ya? Kalau kalian mengadu pada siapa pun, bukan cuma kalian yang
celaka. Keluarga dan teman kalian juga tidak akan aman."
* * *
"Gawat
sekali..."
Setelah keluar
dari gedung, aku menyarankan untuk bicara di tempat yang lebih tenang.
Meskipun kami
masuk ke kafe terdekat, suasananya sangat buruk.
"Pertama-tama,
jelaskan hubungan kalian dengan orang-orang itu. Lalu, jelaskan kenapa foto itu
bisa diambil."
"Ba-baiklah..."
Shijo yang dari
tadi diam, saling bertatapan dengan Yoshie dan Tsunada, lalu mulai bicara
perlahan.
Katanya, awal
mula pertemuannya dengan orang-orang itu tidak sengaja.
Tsunada yang
sedang bermain di game center didekati salah satu dari lima orang itu, cewek
bernama Shion, dan salah paham mengira sedang digoda.
Setelah tahu dia
murid SMA Shichibou, cewek itu berkata, "Wah, pintar ya. Kalau begitu,
maukah kalian ikut kencan buta? Kenalkan aku pada temanmu yang sedang cari
pacar." Lalu Shijo dan Yoshie diperkenalkan.
Di kencan buta
itu, minuman mereka dicampur alkohol, dan dalam keadaan mabuk, mereka merokok.
Lalu foto mereka diambil dan mereka diancam.
"................................."
Rasanya aku
ingin bilang, "Bodoh sekali kalian," tapi kutahan.
Aku juga pernah
gagal di masa muda. Waktu kuliah, aku pernah mengikuti cewek yang mendekatiku,
ternyata dia mengajakku masuk sekte.
Anak SMA cowok
itu bodoh, meskipun kadarnya beda-beda. Mereka akan dewasa setelah melewati
berbagai kegagalan.
Hanya saja,
konsekuensi dari kegagalan mereka terlalu besar.
"Maafkan
kami... Kami sudah melibatkan kalian berdua... Tapi kami benar-benar sudah
tidak sanggup lagi..."
Sambil menangis,
mereka menempelkan dahi mereka ke meja seolah bersujud.
"..................................."
Jujur, aku tidak
bisa langsung memaafkan.
Aku sendiri
tidak masalah, tapi mereka sudah melibatkan Yuki dalam bahaya.
Tapi, memarahi
mereka tidak akan menyelesaikan masalah.
"Arisugawa.
Bagaimana?"
"Percuma memarahi
apa yang sudah terjadi. Mari kita pikirkan apa yang harus dilakukan
selanjutnya."
"Benar."
Aku merasa lega
karena Yuki sependapat denganku.
Dia berdiri.
"Untuk
sementara, hari ini sudah larut, jadi mari kita pulang. Besok kita kumpul lagi
dan tentukan bagaimana cara menghadapinya."
Katanya.
Eh...?
Aku merasa ada
yang aneh dengan tindakannya.
Baginya yang
menganut prinsip menyelesaikan masalah penting secepatnya, kenapa harus besok?
Meskipun sudah larut, tapi ini masih jam enam sore.
"Besok jam
makan siang, kita kumpul di ruang kelas kosong sebelah ruang OSIS. Sampai saat
itu, mari kita semua memikirkan solusi yang baik."
Setelah
mengatakan itu, Yuki mengambil nota dan pergi ke kasir.
* * *
Tiga puluh menit
setelah kami berpisah.
Saat hari sudah
benar-benar gelap, dan lampu jalan mulai menyala.
Yuki berdiri di
depan gedung tua tempat Bar Mio berada. Dia memasang ekspresi cemas dan
meletakkan tangan di dada.
Dia menutup
mata, menarik napas dalam-dalam beberapa kali, lalu mencoba berjalan menuju
tangga gedung.
"Tunggu."
Aku memanggilnya
dari belakang.
"Eh?"
Yuki berbalik,
dan matanya membelalak kaget melihatku.
"Kenapa
kamu di sini...? Bukannya kamu sudah pulang?"
"Aku
membuntutimu sejak kita berpisah di kafe."
Dia tidak naik
kereta untuk pulang, tapi malah masuk ke toko elektronik di depan stasiun.
Di sana dia
membeli perekam suara, lalu langsung kembali ke sini.
"Bukankah
kita sepakat untuk berdiskusi bersama besok?"
"................................."
Aku tahu.
Yuki punya
kebiasaan mengalihkan pandangan saat berbohong karena merasa bersalah.
Dan dia
melakukannya saat itu. Dia jelas-jelas mengalihkan pandangannya.
Makanya,
"Hari ini kita pulang, besok kita diskusikan lagi," itu bohong.
Dia berencana
menyelesaikannya sendiri.
"Kamu
berencana merekam bukti pemerasan menggunakan perekam suara kan."
"................................."
Mungkin karena
ketahuan, dia menunduk dengan wajah menyesal.
"...I-iya.
Tapi, itu rencana yang bagus kan? Kalau ada bukti, polisi pasti akan lebih
serius menanganinya..."
Memang benar,
itu rencana yang bagus.
Tapi—
"Itu hanya
bisa dilakukan kalau kamu bisa berakting tanpa ketahuan."
Yuki itu
aktingnya payah. Pasti langsung ketahuan.
"Apa yang
akan terjadi kalau kamu ketahuan. Kamu pasti tahu kan?"
"............"
Yuki bergumam
dengan ekspresi menyesal.
"Kenapa
kamu selalu mencoba memikul semuanya sendiri...? Bukankah waktu Festival Wakaba
kita sudah janji? Kita akan berusaha bersama."
"................................."
Yuki
berkaca-kaca dan terdiam.
Apa aku
keterlaluan?
"Maaf...
Kamu pasti kesal... diperlakukan semena-mena oleh orang-orang seperti
mereka."
Tapi, Yuki
menggelengkan kepalanya.
"Bukan
itu..."
"?"
"Alasan aku
merasa menyesal bukan karena aku tidak bisa mengatakan apa pun saat
itu..."
Dia mengepalkan
tangannya erat-erat, tubuhnya gemetar, dan berbicara dengan suara tegang.
"Aku tidak
bisa memaafkan diriku sendiri karena menyeretmu ke dalam hal ini..."
Air mata mulai
mengalir dari mata Yuki.
Dia tampaknya
menyadari air mata mengalir dari matanya dan segera menyekanya dengan lengan
bajunya.
"Masalah
ini juga, awalnya karena aku langsung percaya permintaan Shijo-kun dan yang
lain... Aku berpikir kalau aku bisa membuat Tsunada-kun kembali ke sekolah, aku
bisa jadi orang yang bisa mengubah orang sepertimu... Aku..."
"Arisugawa..."
"Aku, aku
benar-benar payah... Padahal aku ingin berubah. Tapi, pada akhirnya aku
merepotkanmu lagi..."
Dia meringkuk
dan gemetar kecil.
"Benar.
Atau lebih tepatnya, Yuki yang dulu pasti waspada. Kamu pasti mencoba berbicara
dengan Tsunada lewat telepon atau cara lain, tidak langsung bertemu
dengannya."
Mendengar
kata-kataku, wajah Yuki semakin sedih.
"Ja-jadi,
aku lebih baik yang dulu...?"
"Tapi, aku
lebih suka kamu yang sekarang."
"Eh!"
"Aku lebih
suka kamu yang mencoba berinteraksi dengan orang lain, mencoba membantu orang
lain, daripada kamu yang menolak orang lain."
Saat aku
meletakkan tanganku di kepalanya,
"...
Ja-jangan bicara aneh di saat seperti ini. Bodoh..."
Katanya sambil
menepis tanganku.
Entah karena
menangis atau malu, wajahnya merah.
"Baiklah..."
Aku membunyikan
buku-buku jariku, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Arisugawa.
Untuk sementara, bolehkah aku menangani semua saran yang lain? Sebagai
gantinya, serahkan masalah ini padaku sepenuhnya."
"Ti-tidak
mau. Aku juga bisa melakukan sesuatu..."
"Tidak.
Serahkan padaku."
Melihat
ekspresiku, dia menahan napas. Mungkin karena ini pertama kalinya dia melihat
ekspresi seperti itu.
"Maaf. Aku
tidak bermaksud menakutimu."
Kataku sambil
memainkan rambut depanku.
Setelah dewasa,
aku jadi jarang marah.
Sebanyak apa pun
hal yang tidak masuk akal terjadi, aku biasanya hanya tersenyum kecut.
Tapi, ada satu
hal yang bisa membuatku marah.
Berani-beraninya
mereka membuat Yuki menangis.
Aku menatap
gedung tempat para berandalan mahasiswa itu berada.
Aku pasti akan
membalas perbuatan mereka yang membuat istriku... eh, Yuki menangis.



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.