Bonus Edisi Buku Digital
『Waktunya
Mengobrol di Jam Makan Siang』
Jam istirahat makan siang. Kegiatan kami berenam biasanya tergantung pada hari itu.
Karena
Tatsuya dan Reita adalah tipe yang suka makan di kantin, belakangan ini aku pun
jadi sering ke sana. Terkadang Ibu membuatkan bekal untukku, tapi itu
benar-benar tergantung suasana hati beliau.
Sebenarnya
aku bisa saja membeli sesuatu di koperasi sekolah, tapi kalau begitu aku harus
makannya di kelas. Karena para gadis biasanya makan bekal di kelas, rasanya
agak canggung kalau aku jadi satu-satunya laki-laki yang bergabung di sana.
Hasilnya,
pergi ke kantin bersama Tatsuya dan yang lainnya adalah pilihan yang paling
aman. Namun, hari ini jarang-jarang para gadis juga ingin pergi ke kantin,
jadilah kami makan siang berenam.
“Aku
pikir sesekali makan di kantin seru juga—,”
Hoshimiya
mengatakannya dengan wajah yang terlihat sedikit bersemangat.
“Karena
Hikari yang mengajak, aku juga tidak membuat bekal hari ini.”
“Eh,
Nanase biasanya selalu buat bekal sendiri?”
Saat aku
bertanya, Nanase mengangguk pelan.
“Yah,
bukan sesuatu yang istimewa. Hanya memasukkan makanan beku seadanya.”
“Yui-yui,
mulutnya bilang begitu tapi biasanya selalu ada beberapa menu yang dibuat
dengan niat banget kan,”
Saat Uta
menyela, Nanase hanya bisa tersenyum kecut,
“Yah,
sedikit sih.”
“Kalau
aku biasanya dibuatkan oleh Ibu, tapi kupikir sesekali makan di kantin boleh
juga.”
“Lagipula,
makan bekal setiap hari itu membosankan ya! Meski aku selalu berterima kasih
pada Mama!”
Mendengar
kata-kata blak-blakan dari Uta, Hoshimiya memasang wajah yang seolah berkata
"yah sejujurnya itu ada benarnya juga". Karena Hoshimiya sangat
ekspresif, perasaannya jadi mudah sekali terbaca. Itu sangat manis, jadi tidak
ada masalah (?).
“Natsu
dan yang lain, biasanya makan apa?”
“Hmm,
kalau aku biasanya set menu harian. Alasannya simpel, karena murah.”
“Porsi
set harian itu agak kurang ya, kalau bisa ditambah porsi besar baru pas.”
Tatsuya
ikut menimpali. Sepertinya bagi Tatsuya yang setiap hari membakar kalori di
klub, porsi yang membuatku kenyang pun masih belum cukup baginya. Biasanya
Tatsuya memakan menu mangkuk nasi porsi besar.
“Rekomendasiku
adalah yakitori-don. Itu rasanya mantap.”
Reita
mengangguk-angguk sendirian. Aku paham. Selain itu, ramen kecap (shoyu)
juga rasanya enak dan aman.
“Aku mau
nasi kari katsu!”
Uta
menyatakan pilihannya lalu berlari menuju mesin penjual tiket makan.
Tak lama
kemudian, makanan semua orang sudah siap, dan saat kami mulai duduk di meja,
Nanase membuka suara.
“Hmm......
ternyata porsinya lebih banyak dari dugaanku ya.”
Set menu
daging tumis jahe (shogayaki) yang dipesan Nanase porsinya memang
tergolong cukup banyak.
“Yuino-chan
kan memang makannya sedikit.”
“Aku
tidak merasa makanku sesedikit itu sampai harus dibilang begitu oleh Hikari.”
“Kalian
berdua sama saja! Kalau bersama kalian, aku jadi khawatir apa aku ini termasuk
yang makannya banyak!”
“Nggak,
nggak ada hubungannya sama mereka pun, kamu emang makannya banyak kok.”
Tatsuya
bicara sambil menunjuk ke arah kari katsu di depan Uta.
Yah,
porsi kari katsu yang biasa saja sebenarnya sudah seukuran porsi besar sih.
Karena Uta memang tipe yang makannya cukup banyak, kurasa tidak ada masalah.
Meski masih menjadi misteri ke mana perginya semua makanan itu di dalam
tubuhnya yang mungil.
“Kantin
sekolah kita ini sepertinya berasumsi untuk laki-laki, jadi porsi biasa pun
tetap banyak ya.”
Sepertinya
itu alasan kenapa rasio laki-laki di sini mencapai 80 persen. Tapi aku
bersyukur sih.
“Aku
nggak mau dibilang begitu sama Tatsu!”
“Aku kan
nggak bermaksud menghina. Karena badanku besar, jadi butuh asupan yang banyak.”
“Apa
secara tidak langsung kamu mau bilang kalau karena aku kecil jadi nggak butuh
makan sebanyak ini?!”
“Wah,
kamu sadar juga ya. Tumben otakmu berputar cepat, Uta.”
“Apa
maksudmu dengan 'tumben' itu hah—!”
Sambil
menikmati hidanganku, aku menonton sandiwara komedi yang biasa dilakukan Uta
dan Tatsuya. Lalu, tiba-tiba pundakku ditepuk pelan. Saat aku menoleh, Nanase
sedang memasang wajah yang terlihat merasa bersalah.
“Anu......
kalau kamu tidak keberatan, apa kamu mau memakan ini.”
Pandangan
Nanase tertuju pada hidangan pendamping berupa bayam rebus (ohitashi).
“Kamu
tidak suka?” saat aku bertanya begitu, Nanase mengangguk pelan. Terlihat manis
sekali.
“Karena......
sayang kalau sisa.”
“Boleh
banget kok. Ternyata Nanase juga punya makanan yang tidak disukai ya.”
Saat aku
bicara begitu sambil tertawa kecil, Nanase sedikit memanyunkan bibirnya.
“......Memangnya kamu menganggapku sebagai orang yang seperti apa?”
Afterword
Sejujurnya,
saya pribadi tidak pernah merasa ingin mengulang kembali masa remaja saya.
Tentu
saja saya punya banyak sejarah kelam (black history), dan ada beberapa
kejadian yang kalau diingat-ingat lagi membuat saya ingin berguling-guling di
tempat tidur karena malu. Namun, jika dilihat secara keseluruhan, saya puas
dengan masa remaja yang telah saya lalui. Saya sudah berusaha sekuat tenaga
dengan cara saya sendiri, dan itu cukup menyenangkan.
Namun,
hal itu bisa terjadi karena saya diberkati oleh keluarga, teman, kekasih, dan
orang-orang di sekitar yang mau menerima saya yang masih belum dewasa ini. Saya
rasa, jika ada satu saja hal yang salah langkah, atau jika keberuntungan saya
sedikit saja lebih buruk, warna masa remaja itu pasti akan berubah. Jika masa
remaja saya berakhir dengan warna abu-abu, saya yakin saya pasti akan memohon
untuk "ingin mengulanginya sekali lagi". Demi menjalani masa remaja
yang berwarna pelangi kali ini.
Tema dari
karya ini lahir dari pemikiran tersebut.
Salam
kenal, atau mungkin sudah lama tidak bertemu. Saya Amamiya Kazuki.
Kali ini,
saya mendapatkan penghargaan bergengsi HJ Novel Award 2020, dan berkat
hal tersebut karya ini bisa diterbitkan. Judul aslinya, "Hai-iro
Shounen no Nijiiro Seishun Keikaku" (Rencana Masa Remaja Pelangi si
Bocah Abu-abu), telah diubah menjadi "Haibara-kun no Tsuyokute Seishun
New Game". Bukankah ini judul yang menarik dan bagus?
Yah,
sebenarnya bukan saya yang memikirkannya, melainkan editor yang bertanggung
jawab atas karya ini. Hidup Editor-san!
Nah,
begitulah awal mula terciptanya komedi romantis remaja bertema Tsuyokute New
Game ini. Bagaimana menurut Anda?
Jika Anda
merasa cerita ini menarik, silakan cuitkan kesan Anda di media sosial seperti
Twitter (X).
Penulis
yang pasti akan bekerja keras melakukan ego-search (mencari namanya
sendiri) selama beberapa saat setelah tanggal rilis akan merasa sangat senang. Atau,
silakan rekomendasikan kepada teman-teman Anda. Semakin banyak pembaca, maka
harapan untuk volume selanjutnya pun akan semakin besar.
Selanjutnya
adalah ucapan terima kasih. Pertama-tama, terima kasih kepada Bapak N selaku
editor yang telah menemukan karya ini. Terima kasih kepada ilustrator, Gin-san,
atas ilustrasinya yang luar biasa. Serta rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua orang yang terlibat dalam pembuatan buku ini.
Jika
karya ini bisa menyentuh hati Anda meski hanya sedikit, itu adalah kebahagiaan
terbesar bagi saya sebagai penulis.
Kalau
begitu, cukup sampai di sini untuk kali ini.
Saya
berharap kita bisa bertemu kembali di volume berikutnya atau di seri yang lain.
Jangan
lupa cek juga "Eiyuu to Majo no Tensei Love-Comedy" (Kodansha
Ranobe Bunko) yang rilis sebulan lalu, ya!



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.