Bab 1
"Ada yang Salah dengan Tunanganku"
"Gawat
juga nih..."
Sambil
menatap Emma-chan yang tertidur pulas dan tampak nyaman di ranjang, aku
menggumamkan kata-kata itu sendirian.
Sudah
sebulan berlalu sejak Livy kembali ke Inggris――.
Aku dan
Char masih belum bisa melakukannya sejak hari Natal.
Bahkan
saat mengantar Livy pergi waktu itu pun Char sudah menunjukkan gelagat
menuntut, jadi fakta bahwa sudah sebulan lagi berlalu sejak saat itu
benar-benar gawat.
Tentu
saja, kalau bisa aku juga ingin meluangkan waktu berduaan saja dengan Char.
Akan
tetapi, sepertinya pekerjaan Sofia-san sedang sibuk-sibuknya, jadi sejak dia
pulang ke Inggris di akhir tahun, dia masih belum bisa kembali ke Jepang.
Karena
itu, Emma-chan pun akhirnya tinggal dan makan bersama kami, sehingga tidak ada
celah bagiku untuk berduaan saja dengan Char.
Char juga
mengerti bahwa ini adalah situasi yang tidak bisa dihindari, jadi dia sama
sekali tidak mengeluh.
Hanya
saja――sesekali, dia menatapku dengan sorot mata merajuk.
...Tidak,
lebih tepatnya, dia pernah menatapku seperti itu.
Akhir-akhir
ini, aku tidak lagi melihat Char bersikap merajuk.
Dan hal
itu justru membuatku takut.
Aku terus
membuatnya menahan diri, dan tidak mungkin dia tidak merasa tidak puas――jadi
dia pasti menahan rasa frustrasinya di dalam hati tanpa menunjukkannya di luar.
Setidaknya,
saat kami sedang bersama pun, aku bisa merasakan kejanggalan pada sikapnya yang
tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Atau
mungkin, dia sudah menyerah padaku.
Yang mana
pun itu, kenyataan bahwa ini adalah situasi yang sangat gawat tetap tidak
berubah.
Entah
perasaanku saja atau bukan, tapi belakangan ini waktu yang dia butuhkan untuk
kembali setelah keluar dari kamar kami sebelum tidur terasa makin lama, dan
frekuensinya pun makin sering.
Seharusnya
dia tidak mungkin pergi untuk mengeluh kepada Kanon-san dan yang lainnya,
kan――.
『............』
"Ah,
kau sudah kembali."
Saat aku
sedang melamun memikirkan hal itu, Char perlahan membuka pintu dan mengintip ke
arahku.
Seluruh
tubuhnya merona merah tipis, dan rasanya seperti ada uap panas yang mengepul
darinya.
Dia pasti
habis mandi menggunakan shower lagi.
Karena ini
sudah sering terjadi, aku jadi tidak terlalu memikirkannya lagi, tapi kalau
mempertimbangkan waktu kepergiannya dan fakta bahwa dia selalu kembali setelah
mandi, berarti dia sedang melakukan hal itu, kan... pikirku diam-diam.
Meski aku
sama sekali tidak berani menanyakannya langsung pada orangnya.
"Tadi
kau tidur duluan juga tidak apa-apa, lho?"
Apakah
Char mengira aku tidak menyadari hal itu? Dia memamerkan senyuman manisnya
seperti biasa padaku.
Dia lalu
berjalan mendekat ke ranjang, dan duduk dengan hati-hati agar tidak
membangunkan Emma-chan yang sedang tidur.
――Entah
kenapa, dengan posisi Emma-chan di tengah, seolah dia ingin sengaja menjaga
jarak dariku.
"Aku belum
mengantuk... Lagi pula, kenapa kau duduk di sebelah situ?"
Merasa
penasaran karena dia tiba-tiba menjaga jarak, aku bertanya sambil tersenyum,
berusaha menyembunyikan kegugupanku.
"Bukan
apa-apa... Habisnya Emma sudah terlanjur mengambil alih posisi di tengah
begini. Kasihan kalau dia sampai terbangun gara-gara aku pindahkan."
Char
memberikan alasannya sambil tersenyum canggung seolah merasa serba salah.
Akan
tetapi, aku menyadari bahwa itu adalah kebohongan, atau lebih tepatnya, hanya
alasan belaka.
Lagipula――ini
bukanlah pertama kalinya Emma-chan mengambil alih bagian tengah ranjang; hal
ini sudah sering terjadi.
Anak ini
memang sering bergerak saat tidur, jadi meskipun kami membaringkannya di tepi
ranjang, kadang-kadang dia sudah berada di tengah saat kami menyadarinya.
Di
saat-saat seperti itu, Char biasanya memindahkan Emma-chan ke arah dinding
tanpa pikir panjang.
Itu karena
kalau aku tidak tidur di tengah, Char tidak akan bisa tidur sambil menempel
padaku.
Meski
begitu, hari ini dia membiarkan Emma-chan di tempatnya dan malah menjaga jarak
dariku... Apa situasinya sudah benar-benar gawat...?
"Begitu
ya, kalau begitu hari ini kita tidur begini saja."
Meskipun
tingkah dan alasan Char mengganjal di pikiranku, namun rasa bersalah karena
terus membiarkannya menahan diri, serta keraguanku apakah aku pantas mengungkit
usahanya membuat alasan demi menjaga jarak dariku, membuatku membiarkan hal itu
berlalu begitu saja.
"Iya,
mari kita tidur."
"............"
Char yang
mengangguk menghela napas lega secara diam-diam saat aku memalingkan wajah.
Aku
memperhatikannya dari sudut mataku, tapi sepertinya dia tidak menyadari hal
itu.
Bisa-bisanya
dia merasa lega... Jujur saja, aku sedikit terkejut.
Jarak
fisik antara aku dan Char tercipta karena terhalang oleh Emma-chan, tapi aku
jadi berhalusinasi kalau jarak ini mungkin merupakan perwujudan jarak antara
hati kami berdua.
Tidak
mungkin aku bisa membiarkannya terus seperti ini... Alarm peringatan di
kepalaku mulai berdering nyaring.
◆
Keesokan
harinya――.
『Onii-chan,
ada suara ding-dong.』
Sepulang
dari sekolah, saat aku sedang bermain dengan Emma-chan, bel interkom berbunyi
dan Emma-chan langsung bereaksi dengan peka.
『Iya, aku
akan melihat siapa yang datang.』
Biasanya
Kaguya-san yang akan membukakan pintu, tapi sepertinya hari ini Kanon-san
sedang ada urusan, jadi dia pergi menemani Kanon-san dan sedang tidak ada di
rumah.
Char
kebetulan baru saja pergi ke kamar kecil, jadi meski aku merasa tidak enak pada
Emma-chan yang sedang asyik bermain denganku, sebaiknya aku saja yang ke depan.
『Nn...!』
Saat aku
menurunkan Emma-chan dari pangkuanku dan berdiri, Emma-chan ikut berdiri dengan
penuh semangat.
Lalu, dia
berjalan mengekor di belakangku dengan langkah kecilnya.
『Kamu
tunggu di sini saja tidak apa-apa, lho?』
Aku tidak
tahu siapa tamu yang datang, tapi karena Emma-chan tipe anak yang pemalu di
depan orang asing, kupikir lebih baik dia tidak ikut.
Namun,
Emma-chan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
『Emma juga,
ikut...!』
Sepertinya,
dia penasaran.
Atau lebih
tepatnya, dia mungkin hanya ingin ikut karena aku yang pergi.
Setelah
tersenyum lembut pada Emma-chan, aku berjalan ke arah pintu masuk dan
membukanya.
Di sana,
berdiri seorang pria dewasa berseragam kurir ekspedisi yang sedang memegang
sebuah kotak kardus berukuran lumayan besar.
"Permisi,
paket~. Tolong tanda tangannya di sebelah sini."
"Terima
kasih."
Aku
menggoreskan namaku dengan jari di layar ponsel cerdas yang disodorkannya, lalu
menerima kotak kardus tersebut.
Sepertinya
ini paket untuk Char.
『Onii-chan,
itu apa?』
Begitu aku
menutup pintu, Emma-chan memiringkan kepalanya dengan ekspresi kebingungan yang
imut.
『Kira-kira
apa ya?』
Kalau
bicara soal paket yang dikirim untuk Char, biasanya isinya manga atau doujinshi――tapi
mengingat ukuran kardusnya yang lumayan besar namun tidak begitu berat,
sepertinya isinya bukan buku?
Kalau
memang buku, harusnya terasa lebih berat dari ini――.
"Aaah,
A-kun!! Biar aku yang terima paketnya!!"
Saat aku
memiringkan kepala sambil menimbang-nimbang kardus itu ke atas dan ke bawah
karena penasaran dengan isinya, Char tiba-tiba melesat ke arahku dengan wajah
merah padam.
Lalu,
dengan kecepatan yang tak tertangkap mata, dia merebut kotak kardus itu dari
tanganku.
Kenapa dia
jadi panik begitu...?
『Lotty,
kasar...!』
Sepertinya
Emma-chan tidak menyukai tindakan Char, sehingga dia menggembungkan pipinya
karena marah.
Akan
tetapi, tanpa menyadari reaksi Emma-chan, Char malah bergegas menjauh, seolah
melarikan diri dari kami sambil mendekap kotak kardusnya.
Sepertinya
dia tidak menuju ke kamar kami, melainkan ke kamar kosong yang berada di bagian
terdalam dari kamar Kaguya-san...
『Muuu...!』
Meski
tidak disengaja, Emma-chan yang merasa diabaikan makin menggembungkan pipinya
yang sedari tadi sudah cemberut.
Saking
gembungnya, pipinya sampai terlihat bulat penuh layaknya ikan buntal yang
sedang mengintimidasi musuh.
Yah, wajar
saja, aku sendiri belum benar-benar mengerti situasinya, jadi tidak heran jika
Emma-chan sampai bereaksi seperti itu...
『Cup
cup, Emma-chan. Sepertinya Char sedang agak sibuk, ya.』
『Nn...』
Saat aku
mengelus kepalanya dengan lembut untuk menenangkannya seperti biasa, Emma-chan
memelukku sambil membenamkan wajahnya di perutku.
Sepertinya
dia marah, tapi sekaligus merasa syok.
Lagipula,
biasanya Char tidak pernah mengabaikan Emma-chan seperti tadi...
"――Kamu
tidak melihat isinya, kan...?"
Tak lama
setelah kami kembali ke ruang tengah dan Emma-chan mulai tidur karena ngambek,
Char yang rona merah di pipinya belum sepenuhnya menghilang, mengintip dari
balik pintu ruang tengah.
"Habis
kuterima, paketnya kan langsung kamu bawa pergi. Kardusnya juga belum sempat
dibuka, kan?"
Tentu saja
aku tidak akan membukanya tanpa izin Char, tapi lagipula di saat seperti tadi,
aku sama sekali tidak punya waktu untuk melihat isinya.
Memang
sih, karena dia membawanya lari dengan panik begitu, aku jadi makin penasaran
dengan isinya... tapi tebakanku, kalaupun aku bertanya, dia pasti tidak akan
memberitahuku.
"Begitu
ya... Anu, isinya bukan sesuatu yang penting kok, jadi tolong lupakan saja,
ya?"
Char
menautkan jari-jari di kedua tangannya dan memohon padaku sambil menatap dengan
tatapan memelas dari bawah yang sangat menggemaskan.
Ya, pasti
isinya sesuatu yang gawat kalau sampai ketahuan...
Aku jadi
makin penasaran, tapi tidak ada pilihan lain selain menahannya.
"Ngomong-ngomong,
apa Sofia-san atau Kanon-san tahu soal ini?"
"Ma-mana
mungkin aku bisa bilang...!? Ah...!?"
Seolah
baru sadar telah mengatakan 《Gawat!!》, Char langsung menutup mulut dengan tangannya.
Anak ini
benar-benar tidak bisa berbohong, ya.
Melihat
reaksinya, sudah pasti itu barang yang mencurigakan.
Hanya
saja, karena kurangnya pengetahuanku, aku sama sekali tidak bisa membayangkan
apa wujud pastinya...
"A-kun
jahat...!"
Sadar
bahwa aku baru saja memancingnya, Char secara tak biasa menggembungkan pipinya
dan menyipitkan mata, mengeluhkan ketidakpuasannya.
Tatapan
tajam alias wajah ngambeknya itu juga sangat imut. Pacarku――ah bukan,
tunanganku ini memang luar biasa.
"Maaf,
maaf."
Untuk
meredakan kekesalan Char, aku tertawa pelan sambil merentangkan kedua tanganku.
Seketika
itu juga, raut wajah Char melunak dan dia langsung menghambur ke dalam
pelukanku.
Aku
mendekapnya dengan lembut dan membawanya menuju sofa.
Lalu,
setelah aku duduk, aku mendudukkannya di pangkuanku.
"Nnn..."
Char, yang
sepertinya sangat menyukai pangkuanku, mulai bermanja-manja dengan
menggosok-gosokkan wajahnya ke leherku.
Geli
rasanya...
Tapi, bisa
dimanja seperti ini membuatku senang, dan momen ini terasa sangat
membahagiakan.
Meski aku
merasa bersalah pada Emma-chan yang sedang tidur ngambek, tapi saat siang hari
hampir tidak ada waktu bagiku dan Char untuk bersantai berduaan saja seperti
ini, jadi untuk sekarang, biarkan aku menikmatinya sepuasnya.
"............"
Saat aku
sedang memanjakannya dengan mengelus kepalanya, tiba-tiba Char menjauhkan
wajahnya dari leherku, lalu menatap lurus ke mataku dengan sorot mata yang
terasa panas.
Ah, ini...
"Cium..."
Baru saja
aku berpikir 'gawat', pacarku yang hobi mencium ini sudah meminta jatah
ciumannya.
Aku hampir
saja terbawa oleh godaan itu, tapi saat ini ada Emma-chan yang sedang tidur di
dekat kami.
Memang dia
tipe anak yang susah bangun kalau sudah tidur, tapi kadang-kadang dia bisa
terbangun juga, jadi aku tidak berani mengambil risiko.
"Maaf,
kalau sekarang tidak bisa."
Begitu aku
menolaknya, Char langsung terlihat murung.
Lalu, dia
menekan wajahnya kuat-kuat ke leherku, seolah memprotes penolakanku.
Sikapnya
yang seperti ini benar-benar mirip dengan Emma-chan.
Akhir-akhir
ini aku terus membiarkannya menahan diri. Kalau aku membiarkan Emma-chan tidur
di ruang tengah lalu kami kembali ke kamar, mungkin kami bisa berciuman...
"Mau
pergi ke kamar sebentar?"
"――Hah!?"
Saat aku
mengajaknya, Char dengan sigap menjauhkan wajahnya dan menatapku lagi.
Matanya
terbelalak kaget tapi sekaligus penuh harap. Kalau sekarang aku sampai bilang 《Kayaknya tidak jadi saja, deh》, dia pasti akan langsung menangis.
"Ayo
pergi."
"Kyaa!?"
Mumpung
dia sedang duduk di pangkuanku, aku langsung mengangkatnya dengan gaya ohimesama
dakko (gendongan ala tuan putri). Char memekik kaget sambil berpegangan
erat pada leherku.
Mungkin
seharusnya aku memberinya aba-aba dulu, tapi melihat wajah paniknya juga
terlihat imut.
Aku
melirik sekilas ke arah Emma-chan. Untungnya dia tidak bereaksi terhadap
jeritan kecil Char dan masih tertidur pulas.
Kalau
begini, bersantai sebentar di kamar sepertinya akan aman-aman saja.
"Mau
jalan pakai kakimu sendiri?"
"...Jahat."
Saat aku
secara tersirat bertanya 《Mau
kuturunkan?》, Char menggembungkan
pipinya sedikit.
Sepertinya
dia bermaksud bilang, sudah tahu jawabannya, jangan tanya lagi.
Aku
berjalan dengan hati-hati agar tidak menjatuhkan Char.
Sesampainya
di depan pintu, Char yang meraih kenop pintu karena kedua tanganku sedang
penuh.
Kami
membuka pintu sepelan mungkin agar tidak bersuara dan keluar dari ruang tengah,
lalu menutupnya kembali dengan sangat hati-hati.
Lalu,
setibanya di depan tangga――aku menurunkan Char ke lantai.
"............"
"Bukan
begitu, anu... meskipun kamu menatapku dengan tatapan sedih dan memelas begitu,
menggendongmu ala tuan putri sambil menaiki tangga itu terlalu
berbahaya..."
Menanggapi
protes diam-diam Char, aku tersenyum canggung sambil menjelaskan alasannya.
Secara
teknis, aku memang bisa menaiki tangga sambil menggendongnya, tapi kalau aku
terpeleset atau kehilangan keseimbangan, kami berdua bisa jatuh menghantam
lantai.
Kalau cuma
aku sih tidak apa-apa, tapi aku tidak boleh membiarkan tunanganku yang berharga
sampai terluka.
"Kalau
refleks olahraga A-kun pasti tidak masalah...!"
"Dari
mana datangnya kepercayaan misterius itu...?"
Melihat
Char berpose mengepalkan kedua tangan penuh semangat, aku kembali tersenyum
masam dan menyuruhnya naik duluan.
Sepertinya
Char juga tidak benar-benar serius mengatakannya, karena dia akhirnya menaiki
tangga dengan ogah-ogahan.
Namun――sesampainya
di atas, Char berhenti melangkah dan menatap wajahku, seolah menuntut sesuatu.
Aku
langsung tahu apa yang dia minta, sih...
"Hari
ini kamu manja sekali, ya?"
Seperti
halnya Emma-chan, Char pada dasarnya memang anak yang manja, tapi seingatku dia
belum pernah sampai minta digendong ala tuan putri hanya untuk perpindahan
jarak sedekat ini.
Sepertinya,
"tombol" di dalam dirinya sudah terlanjur menyala.
Bisa
dibilang, Emma-chan itu benar-benar cerminan dari anak ini.
Emma-chan
juga sering minta digendong hanya untuk pindah sedikit saja.
"A-kun
yang membuatku jadi seperti ini..."
Mungkin
karena malu, Char mulai menautkan jari telunjuknya sambil menggeliat kikuk.
Yah...
kalau dibilang begitu, aku juga tidak bisa menyangkalnya.
"Hati-hati
jangan sampai jatuh, ya."
"Ah...
iya ♪"
Saat aku
merangkulkan lenganku di punggung dan di bawah lipatan lututnya, dia dengan
gembira kembali melingkarkan lengannya di leherku.
Sikapnya
yang sedang ceria ini sangat menggemaskan, membuatku terdorong oleh keinginan
untuk segera memanjakannya di kamar.
Setengah
tak sadar langkahku jadi makin cepat, aku menuju kamar kami.
Begitu
sampai di kamar, aku duduk di tepi ranjang sambil masih menggendong Char, dan
saat itu juga――
"Nnn...
♪"
――Bibirku
tiba-tiba dibungkam oleh Char.
"Nnn!?"
"Amhh...
chuuh... nn..."
Mengabaikan
diriku yang terkejut, Char dengan agresif membelitkan lidahnya.
Bahkan,
saking agresifnya dia menekan tangan dan tubuhnya padaku, rasanya kalau aku
lengah sedikit saja aku bisa didorong rebah ke ranjang.
"――Puhah...
Char...?"
Saat
napasku mulai sesak, aku melepaskan tautan bibir kami dan mengamati wajah Char.
Dia
menatapku dengan pipi merona malu-malu, tapi matanya terlihat berkaca-kaca
seperti orang yang sedang demam.
Napas yang
terembus dari mulutnya terasa panas――ah, gawat.
Itulah
pikiran jujur yang terlintas di kepalaku.
"Hari
ini, kita cukupkan sampai di sini saja, ya?"
Kalau
diteruskan, dia tidak akan bisa menahan diri lagi (walau sepertinya sudah
terlambat, sih).
Berpikir
demikian, aku segera menjauhkan wajahku dan memiringkan kepalaku sambil
tersenyum.
"Nnnuuuuuuuu!"
Tiba-tiba,
seolah meluapkan kemarahannya――persis seperti anak kecil yang sedang merengek,
Char menggeram sambil menekan wajahnya kuat-kuat ke dadaku.
Tekanannya
jauh lebih kuat dibandingkan saat di ruang tengah tadi, dan sikapnya makin
mirip dengan Emma-chan.
Sepertinya
dia benar-benar kesal karena dibuat menggantung.
"Maaf,
aku cuma bercanda, kok."
Padahal
aku sengaja membawanya kembali ke kamar untuk melepaskan rasa frustrasinya
selama ini, tapi kalau aku malah membuat ketidakpuasannya bertambah, itu tidak
ada gunanya sama sekali, malah berakibat fatal.
Oleh
karena itu, aku segera tersenyum untuk memperbaiki suasana dan menangkup
pipinya.
Menyadari
niatku, Char menjauhkan wajahnya dari dadaku, menutup matanya, dan sedikit
mengangkat dagunya.
Aku
kembali menempelkan bibirku ke bibirnya――dan menciumnya berulang kali.
Dan tak
lama kemudian――
"Emma
sedang tidur... Kanon-oneesan dan yang lainnya juga sepertinya masih lama
pulangnya, kan...?"
――Situasi
yang kutakutkan pun terjadi.
Ruangan
yang hanya ada kami berdua.
Ditambah
lagi, selama ini aku sudah membiarkan Char menahan diri――jadi wajar saja kalau
Char yang 'tombolnya' sudah menyala akan mengusulkan hal ini.
"Emma-chan
bisa saja bangun, lagipula Kanon-oneesan dan yang lain tidak bilang kalau
mereka akan pulang terlambat, jadi tidak aneh kalau mereka tiba-tiba
pulang..."
Dengan
perasaan bersalah pada Char, aku menggelengkan kepala.
Kenyataannya,
tidak ada jaminan Emma-chan tidak akan terbangun, dan ini adalah situasi di
mana kami tidak tahu kapan Kanon-oneesan dan Kaguya-san akan kembali.
Selain
itu, suara Char saat melakukannya itu lumayan keras.
Orangnya
sendiri mungkin tidak sadar, tapi kalau kami sampai melakukannya di kamar
berdinding tipis ini, suaranya pasti akan tembus dan terdengar jelas sampai ke
ruangan lain.
Walaupun
dinding rumah ini tidak tipis sekalipun, tidak mungkin kami bisa melakukannya
saat ada orang lain di rumah.
Apalagi
sampai membiarkan Emma-chan yang masih kecil mendengarnya.
Kalau Char
yang biasanya, dia pasti akan mengerti tentang hal-hal seperti itu, tapi...
saat tombol 'manja' atau tombol 'dewasa'-nya sudah menyala, akal sehatnya
sepertinya sedikit terbang, dan dia jadi tidak mau menahan diri.
Kalau
sudah begini, aku harus mencari cara untuk menenangkannya...
"............"
Char
menggembungkan pipinya dan mulai menusuk-nusuk dadaku dengan jarinya sambil
menunduk.
Dia
mungkin berpikir, 《Selalu
saja begitu, alasan terus...》
"Lain
kali, aku pasti akan luangkan waktu yang layak untuk kita..."
"............"
Saat aku
mencoba membujuknya, Char mendongak dan menatapku dengan tatapan tajam.
Meskipun
tak diucapkan, aku merasa sedang dihakimi, 《Bicara
begitu, tapi lihat sudah berapa lama waktu berlalu sejak hari itu?》
Nyatanya,
memang sudah lebih dari sebulan berlalu, jadi aku sama sekali tidak bisa
membalas.
Tapi
setidaknya, masih ada secercah harapan.
Meski
belum ada jadwal pasti kapan Sofia-san akan kembali, ada sebuah event
yang sebentar lagi akan tiba.
Setidaknya
pada hari itu, kurasa tidak apa-apa kalau aku memprioritaskan Char daripada
Emma-chan dan menghabiskan waktu berdua dengannya.
Emma-chan
mungkin akan merajuk lagi, tapi dia pasti akan mengerti.
Dan karena
Kanon-oneesan dan yang lainnya bilang kapan saja aku boleh menitipkan Emma-chan
pada mereka, harusnya tidak akan masalah... harusnya, sih.
Kalau
sampai terjadi sesuatu dan rencanaku gagal, ekspektasi Char yang sudah
terlanjur tinggi malah akan membuatnya makin hancur dalam keputusasaan, makanya
aku belum bisa memberitahunya sekarang.
Kukira
Char juga pasti menaruh harapan pada hari itu, sih...
"Untuk
sekarang, bisa tolong bersabar dengan ini dulu?"
Hanya ada
satu cara untuk menenangkan dirinya yang sedang tak puas, yaitu dengan
memanjakan Char habis-habisan.
Karena
itu, aku mengelus kepalanya dengan lembut sambil terus menghujaninya dengan
ciuman.
Ada
kekhawatiran bahwa rentetan ciuman ini malah membuat tombolnya makin menyala
dan tak kunjung reda――tapi kalau tidak kulakukan, rasa frustrasinya pasti akan
makin menumpuk. Aku tidak punya pilihan lain.
Tak lama
setelah itu, suasana hati Char menjadi sangat baik――dan aku pun bisa bernapas
lega.
Kami sudah
menghabiskan waktu bermesraan, jadi setelah ini pasti akan baik-baik saja.
――Mungkin,
pikiran itulah yang menjadi kesalahanku.
Setelah
ini, aku akan dihadapkan pada kenyataan yang luar biasa mengejutkan dari mulut
Char.
◆
"Kanon-oneesan...
mulai hari ini dan seterusnya, saat tidur, bolehkah aku menggunakan kamar
kosong?"
Itu
terjadi pada malam hari, di hari yang sama saat aku dan Char bermesraan di
kamar.
Saat kami
berlima makan malam bersama Kaguya-san, tiba-tiba Char meminta Kanon-oneesan
untuk meminjamkan kamar kosong kepadanya.
Dan itu
tak lain adalah sebuah deklarasi bahwa dia akan tidur terpisah dariku.
"――Eh."
Kaguya-san,
yang duduk di sebelah Kanon-san, membelalakkan matanya.
Emma-chan
memiringkan kepalanya dengan bingung karena Char mengatakannya dalam bahasa
Jepang sehingga dia tidak bisa menangkap maksudnya.
Sedangkan
Kanon-oneesan――menatap lurus wajah Char, seolah berusaha membaca apa yang
sedang dipikirkannya.
Aku
melirik curi-curi pandang ke arah Char yang duduk di sebelahku.
Char sama
sekali tidak melirik ke arahku, ekspresinya tidak berubah sedikit pun, dan
membalas tatapan Kanon-oneesan dengan tenang.
Dia pasti
tahu aku akan kepikiran kalau dia bilang begitu, jadi mungkin dia memang
sengaja tidak menatapku.
Sebenarnya,
apa yang sedang dipikirkannya...?
"...Boleh
saja. Lagipula tidak ada yang memakai kamarnya, silakan gunakan sesukamu."
Kanon-oneesan
yang sedari tadi terdiam, akhirnya mengiyakan permintaan Char sambil tersenyum
lembut.
Yah,
mungkin dia juga tidak bisa menolak permintaan seperti itu...
"Apa
tidak masalah?"
Sama
sepertiku yang kebingungan, Kaguya-san yang tampaknya tidak menduga
Kanon-oneesan akan mengangguk, mencoba menggali niat sebenarnya dari tuannya
tersebut.
"Sekalipun
mereka sudah bertunangan, pasti ada malam-malam di mana dia ingin sendirian.
Menghargai perasaan Nona Charlotte itu penting."
Mendengar
kata-kata Kanon-oneesan, Kaguya-san memasang ekspresi agak tidak setuju. Namun
setelah menutup matanya sejenak dan menarik napas dalam-dalam, dia kembali
membuka matanya dengan ekspresi dingin seperti biasanya.
Meskipun
Kaguya-san memiliki pendapatnya sendiri, dia tidak mungkin menentang pendapat
tuannya, dan dia pasti telah menelan kembali perasaannya itu.
"...Maafkan
aku, A-kun. Tolong izinkan keegoisanku ini untuk sementara waktu."
Setelah
menghela napas lega dan mengelus dadanya, Char menatap wajahku dengan pandangan
penuh rasa bersalah.
"Tidak
apa-apa, jangan dipikirkan. Lagipula ini bukan sesuatu yang harus dipaksakan,
kan."
Karena tak
mengerti pikiran dan perasaan Char, aku hanya bisa menjawab demikian.
Aku merasa
bersalah karena terus membuatnya menahan diri, tapi lebih dari itu, sama
seperti Kanon-oneesan, aku ingin menghargai perasaan Char.
Jadi,
kurasa ini yang terbaik.
『Emma,
diasingkan, tidak boleh!』
Saat aku
memaksakan senyum di wajahku, Emma-chan yang sedari tadi diam
mendengarkan――atau lebih tepatnya, yang sedari tadi berusaha keras memahami
bahasa Jepang kami, mulai memukul-mukul kecil tangan Char dengan pipi
menggembung.
Meski
sedang belajar bahasa Jepang, kosa kata Emma-chan masih sangat terbatas.
Tentu saja
hal itu sangat dipahami oleh Char yang paling sering mengajarinya bahasa
Jepang. Tetapi, karena tiba-tiba Char mengobrol dalam bahasa Jepang, sepertinya
Emma-chan merasa bahwa hanya dialah yang sengaja dikucilkan dari pembicaraan.
Yah,
mungkin pemikirannya itu tidak sepenuhnya salah.
Aku dan
Kanon-oneesan mungkin bisa merespons dengan sikap orang dewasa, tapi anak kecil
seperti Emma-chan cenderung memprioritaskan perasaannya sendiri.
Char pasti
sengaja menggunakan bahasa Jepang karena khawatir anak ini akan memberontak
kalau tahu Char bilang mau tidur di kamar yang berbeda.
『Emma-chan,
ini daging. Aaa...』
Kalau
dibiarkan Char akan kerepotan, jadi aku mengarahkan sepotong daging ke mulut
Emma-chan untuk mengalihkan perhatiannya.
『Aaa...
hap.』
Emma-chan
yang cukup polos itu seketika lupa kalau dia sedang marah pada Char, lalu mulai
mengunyah dagingnya dengan riang gembira.
...Dia
benar-benar anak yang simpel.
Sambil
membiarkannya mengunyah, aku mengelus kepalanya dengan lembut agar dia tidak
teringat kembali pada amarahnya kepada Char.
Hanya
dengan begitu, Emma-chan mengendurkan pipinya dengan puas.
『Kalian
sudah benar-benar seperti orang tua dan anak yang sungguhan, ya.』
Melihat
interaksiku dan Emma-chan, Kanon-oneesan ikut tersenyum layaknya Emma-chan.
Sorot
matanya terasa hangat, menatap kami dengan penuh kelembutan.
『Kalau
disebut orang tua dan anak, rasanya agak kurang pas...』
Bagiku
Emma-chan adalah eksistensi yang sudah seperti adik perempuanku, dan Emma-chan
juga pasti memandangku layaknya kakak laki-lakinya.
Memang
jarak usia kami lumayan jauh, dan karena Emma-chan masih sangat kecil, aku
mengerti kenapa kami terlihat seperti ayah dan anak. Namun tetap saja, kalau
dibilang hubungan orang tua dan anak rasanya kurang tepat.
『Onii-chan
adalah, Papa Emma...!』
Akan
tetapi, tampaknya Emma-chan tidak sepemikiran denganku.
Padahal
kukira dia sedang asyik makan dan dielus kepalanya, tapi ternyata dia
mendengarkan percakapan kami dengan saksama dan malah menyebutku ayahnya.
Seingatku
percakapan seperti ini pernah terjadi sebelumnya...
Waktu itu
aku sudah membantahnya dengan jelas, tapi apa mungkin dia sebenarnya merasa
kesepian karena tidak memiliki sosok ayah?
Lagipula,
kalau tidak menghitungku, orang-orang di sekitarnya semuanya perempuan.
Saat aku
sedang memikirkan hal itu――.
『Bukan,
lho. Kalau begitu ceritanya, nanti A-kun malah jadi pacar Ibumu, kan? Ingat,
A-kun itu pacarku, lho.』
Tiba-tiba,
Char yang pipinya sedikit menggembung memberi tahu Emma-chan dengan tegas.
Tumben
sekali. Padahal, kalau Char yang beberapa waktu lalu, dia pasti hanya akan
tersenyum melihat interaksi kami... lagipula, bukannya dulu Char sendiri pernah
bilang kalau aku mirip seperti ayahnya Emma-chan...?
Bahkan,
Char malah pernah memintaku langsung untuk menjadi sosok pengganti ayah bagi
Emma-chan...
Yah,
setidaknya dia terlihat cemburu pada posisi Sofia-san, jadi kurasa ini bukan
berarti dia jadi membenciku...?
『Papa
Emma...!』
Di sisi
lain, Emma-chan yang bersikeras ingin menjadikanku ayahnya, menggembungkan
pipinya jauh lebih besar dari Char dan menggelengkan kepalanya dengan kuat.
Imut
banget.
Tapi kalau
dia meronta-ronta di pangkuanku begini, aku takut dia bisa jatuh.
Untuk
berjaga-jaga, aku melingkarkan lenganku di tubuh Emma-chan agar dia tidak
terjatuh.
Char
melirik sekilas ke arah lenganku, lalu kembali menatap wajah Emma-chan.
Raut wajah
Char terlihat tak puas, tapi aku tidak tahu kepada siapa persisnya
ketidakpuasan itu ditujukan.
『Kubilang
bukan. Bagi Emma, A-kun itu kakak laki-laki.』
『Onii-chan
sekaligus, Papa...!』
Char
mencoba membujuk Emma-chan, tapi seperti biasa, balita itu kembali terjebak di
dunianya sendiri.
Konsep
"Kakak Laki-Laki sekaligus Ayah" jelas-jelas sangat kontradiktif,
tapi anak ini tampaknya tidak menyadarinya.
Atau
mungkin dia sadar, tapi tidak peduli?
Kalau
dipikir-pikir bahwa kepolosan ini hanya akan ada saat dia masih sekecil ini,
hatiku jadi terasa hangat.
Yah――.
『Cukup
Onii-chan saja kan...!?』
『Tidaaak...!
Papa juga...!』
Tapi
melihat pertengkaran sepasang saudari ini di depan mataku, suasana hatiku
memanas dengan cara yang berbeda.
"――Tumben
sekali ya, Nona Charlotte sampai sebegitunya menanggapi Nona Emma..."
"Pasti
banyak hal yang sedang dipendamnya, mari kita biarkan saja mereka."
Dari
seberang meja, Kaguya-san dan Kanon-oneesan saling berbisik, lalu Kanon-oneesan
tersenyum seolah memaklumi keadaan.
Setelah
itu, Kanon-oneesan menatapku dengan tatapan penuh arti... Apakah ini semua
salahku?
Ya,
kurasa... akulah sumber perdebatan mereka...
『Muuu...!
Onii-chan, Lotty jahat!』
Saat aku
merasa canggung ditatap oleh Kanon-oneesan, Emma-chan yang pipinya sudah
menggembung seperti balon menangis sambil memelukku.
Biasanya,
setiap kali Emma-chan bertengkar dengan Char, dia memang selalu berusaha
menjadikanku sekutunya, jadi pemandangan ini sudah jadi hal yang biasa.
『Ah!?
Bersembunyi di balik A-kun itu curang, tahu! Kamu selalu saja menjadikanku si
penjahat...!』
Dan sudah
bisa ditebak, Char akan marah karena dia akan kesulitan kalau aku memihak
Emma-chan... tapi entah kenapa, sepertinya hari ini dia lebih marah dari
biasanya...?
Karena
Emma-chan menangis memelukku sudah jadi rutinitas, biasanya Char lebih sering
membiarkannya saja...
『Cup
cup, terserah Emma-chan saja mau anggap aku apa, ya?』
Dalam
situasi seperti ini, sangat sulit untuk memilih siapa yang harus kubela. Namun
Emma-chan masih sangat kecil, dan yang terpenting, dia merasa kesepian karena
tak punya sosok ayah.
Karena
itu, aku tidak tega mengatakan bahwa aku tidak bisa menjadi ayahnya.
Tentu
saja, Char menatapku seolah tak terima. Tapi soal yang satu ini aku tidak bisa
berbuat apa-apa. Setidaknya, hanya karena aku bertindak sebagai pengganti ayah
Emma-chan, bukan berarti aku menjadi pacar Sofia-san dan bukan pacarnya Char.
Lagipula aku sudah pernah berjanji akan menjadi figur ayah bagi anak ini, jadi
Char mau tak mau harus menerimanya.
Mungkin
ada baiknya aku mengingatkan Char soal janjiku itu nanti.
Soalnya,
Char yang sekarang tampaknya benar-benar sudah lupa soal itu.
『Yeay!
Onii-chan, Emma sayang banget!』
Merasa
senang karena aku memihaknya, Emma-chan memeluk leherku dengan erat.
Lalu, dia
menggosok-gosokkan wajahnya ke pipiku dengan sangat manja.
Dia
benar-benar anak yang imut dan paling pintar mencari perhatian.
『...Selalu
saja, Emma terus...』
Yah, tapi
pacarku yang berharga malah berakhir ngambek...
Jarak di
antara kami benar-benar makin melebar, ya...
Setelah
itu, Char menyantap makan malamnya dalam diam, membuat suasana berubah menjadi
canggung bagiku.
◆
『――Kalau
begitu, aku titip Emma padamu, ya.』
Beberapa
saat setelah makan malam berlalu――Char yang baru saja selesai mandi menyerahkan
Emma-chan kepadaku dengan ekspresi sedikit bersalah.
Sepertinya
suasana hatinya sudah membaik seiring berlalunya waktu, tapi ternyata dia
benar-benar berniat tidur sendiri...
『Lotty,
mau ke mana?』
Emma-chan
yang tidak tahu apa-apa menoleh ke belakang dalam gendonganku, menatap pintu
yang tertutup dengan heran.
『Sepertinya
dia mau belajar.』
Walaupun
Emma-chan sering membantah Char, sebenarnya dia anak yang sangat nempel dengan
kakak perempuannya itu, jadi kalau Char tidak ada, dia pasti kepikiran.
Terutama
karena mereka baru saja bertengkar saat makan malam tadi, jadi aku memberikan
alasan logis agar Emma-chan tidak terlalu memikirkannya.
『Nn!』
Sesuai
dugaanku, Emma-chan mengangguk puas dan menyandarkan wajahnya ke dadaku.
Waktu
tidur sudah dekat, jadi mungkin dia sudah bersiap-siap untuk tidur.
――Begitulah
pikirku, tapi ternyata.
『Onii-chan,
ayo main!』
Begitu
kubaringkan di kasur, Emma-chan bangkit duduk dan menatapku dengan mata
berbinar-binar penuh semangat.
Artinya,
dia bilang 《Main sama aku!》.
『Tidak
tidur?』
『Tidak
mengantuk...!』
Emma-chan
menggelengkan kepalanya dengan kuat menjawab pertanyaanku.
Padahal
tadi dia kelihatan seperti mau tidur... pasti karena Char tidak ada, dia sadar
tidak ada yang akan memarahinya kalau dia tidak tidur, kan?
『Kalau
begitu, mau ngobrol saja?』
Kalau aku
menuruti kemauannya bermain di sini, Emma-chan pasti akan jadi terlalu
bersemangat dan matanya bakal melek terus, sudah ketebak.
Sebaliknya,
kalau kami mengobrol santai dengan posisi dia berbaring di kasur, rasa kantuk
pasti akan segera menyerangnya.
Aku belum
mandi jadi aku tidak bisa ikut masuk ke dalam selimut, tapi aku cukup duduk di
tepi ranjang dan menemaninya mengobrol.
『Ngobrol?
Tentang sepak bola?』
Emma-chan
yang masih belum bosan dan masih terobsesi dengan sepak bola, memiringkan
kepalanya dengan riang, mengira aku akan membicarakan hal itu.
Sambil
membaringkan Emma-chan kembali ke kasur, aku menggelengkan kepala.
『Bukan,
aku ingin dengar cerita Emma-chan saat di preschool. Apa akhir-akhir ini
kamu rukun dengan teman-temanmu?』
Kalau aku
mengiyakan bicara soal sepak bola, sudah pasti anak ini tidak akan tidur.
Karena
itu, aku membelokkan topiknya ke arah kegiatan preschool.
Ngomong-ngomong,
akhir-akhir ini Emma-chan juga lumayan sering menonton video pemain sepak bola
wanita, dan sepertinya dia sudah punya satu pemain favorit.
Pemain itu
seumuran denganku, tapi Emma-chan sering bilang 'mirip Onii-chan', dan
menonton videonya dengan penuh semangat.
Bahkan aku
sendiri pun diam-diam merasa bahwa gaya permainanku sedikit mirip dengan anak
itu.
Yah, aku
tidak mengenalnya secara pribadi, dan mungkin aku merasa begitu hanya karena
posisi bermain kami sama.
...Sebagai
informasi tambahan, alasan kenapa Emma-chan bisa tahu gaya permainanku adalah
karena Kaguya-san masih menyimpan rekaman video pertandinganku yang dulu
direkamnya atas perintah Kanon-oneesan, dan diam-diam dia menunjukkannya kepada
Emma-chan.
Anak ini
juga selalu menonton videonya sambil duduk di pangkuanku, dan di saat-saat
seperti itu Char juga ikut duduk di sebelahnya untuk ikut menonton. Bikin aku
malu setengah mati saja.
『Emma
dan Claire-chan, sangat rukun...!』
Di saat
aku sedikit menyimpan dendam pada Kaguya-san, Emma-chan mengangkat tangan
kanannya sambil tersenyum lebar.
Mereka
berdua memang pernah bentrok sekali, tapi syukurlah kalau sekarang mereka bisa
rukun.
Fakta
bahwa hanya mereka berdua anak yang bisa berbahasa Inggris mungkin punya andil
besar, tapi terlepas dari itu, sepertinya memang ada beberapa hal yang membuat
mereka cocok.
Claire-chan
anak yang baik hati dan pendiam, sifatnya sedikit mirip dengan Char.
『Syukurlah.
Teman itu harus dijaga baik-baik, ya?』
Jujur
saja, aku tidak tahu sampai kapan Claire-chan akan menetap di Jepang.
Mungkin
dia akan terus tinggal di Jepang, atau mungkin dia akan kembali ke negara
asalnya dalam waktu dekat.
Aku sama
sekali tidak tahu urusan keluarga Claire-chan, tapi kuharap tidak akan terjadi
sesuatu yang bisa membuat Emma-chan bersedih.
『Nn...!
Claire-chan, Onii-chan, Lotty, semuanya berharga...!』
Setelah
mengangguk dengan wajah bangga, bidadari kecil ini mengucapkan kalimat layaknya
malaikat sejati sambil tersenyum cerah.
Ah bukan,
maksudku Emma-chan.
Aku
benar-benar takjub betapa pedulinya anak ini pada orang lain, dia anak yang
sangat luar biasa.
『Iya,
ya. Bagiku Emma-chan dan yang lain juga sangat berharga.』
『Ehehe...』
Saat aku
mengelus kepalanya dengan perasaan hangat, raut wajah Emma-chan melunak luluh.
Orang-orang
di sekitar bilang hubungan kami seperti ayah dan anak, tapi sejujurnya aku
sering berharap, alangkah baiknya kalau anak ini benar-benar putriku.
Sebesar
itulah rasa sayangku pada Emma-chan.
Kuharap
kelak, anak yang lahir antara aku dan Char juga tumbuh menjadi anak yang manis,
baik hati, dan peduli pada orang lain seperti Emma-chan.
――Mikirnya
terlalu kejauhan tidak, ya?
『Nn...』
Belaian di
kepalanya pasti membuatnya mengantuk.
Emma-chan
mulai mengerjap perlahan.
Kalau aku
bersuara sekarang, dia pasti akan memaksakan diri untuk tetap bangun, jadi aku
diam menunggu sampai dia menutup matanya.
Tak lama
kemudian, matanya tertutup rapat, dan kepalanya lunglai ke samping.
Terdengar
suara dengkuran halus dari bibir mungilnya, pertanda dia sudah benar-benar
terlelap.
『Selamat
tidur, Emma-chan.』
Aku
berbisik pelan pada gadis kecil imut yang sudah seperti adik perempuanku,
sekaligus seperti putriku ini.
◆
Keesokan
harinya, entah kenapa Kaguya-san terlihat sedikit lelah, pemandangan yang tak
biasa bagiku.
Bukan
karena kelelahannya belum hilang――tapi karena biasanya orang itu tidak pernah
menunjukkan tanda-tanda kelelahan, dan pagi ini dia terlihat jauh lebih lelah
daripada saat kami bertemu semalam.
Apa
terjadi sesuatu?
――Meski
aku bertanya-tanya, tapi ada hal yang lebih menyita perhatianku, yaitu Char
yang sedang berjalan ke sekolah bersamaku.
"Kelihatannya
suasana hatimu bagus banget, ada kejadian apa?"
Setelah
menitipkan Emma-chan di preschool dan kami tinggal berdua, aku mencoba
bertanya tentang hal yang mengganjal pikiranku di sela-sela obrolan kami.
"Eh?
Apa aku terlihat seceria itu?"
Char
menunjukkan ekspresi kebingungan, seolah dia sama sekali tidak merasa begitu.
"Ya...
gimana ya bilangnya, seperti awan mendung di wajahmu sudah menghilang dan kamu
kelihatan jauh lebih lega...?"
Awalnya
Char memang menunjukkan ketidakpuasannya di wajahnya, tapi lama-kelamaan dia
menyembunyikannya dari ekspresi maupun sikapnya.
Meski
begitu, aku tetap bisa merasakan sesuatu saat bersamanya.
Tapi
sekarang, aku sama sekali tidak merasakannya.
"Lega,
ya...? ――Hah!?"
Kali ini
dia sepertinya teringat akan sesuatu. Saat dia mendongak menatap langit,
wajahnya tiba-tiba merah padam, hampir seperti ada suara letupan kecil di
kepalanya.
Eh, kok
reaksinya begitu...?
"A-A-Apa
maksudmu!? Memangnya selama ini aku kelihatan marah!?"
Char
menjadi sangat panik―bahkan orang buta pun bisa melihat kepanikannya―dan
berusaha keras mengalihkan pembicaraan.
Aku tidak
tahu kenapa, apa pertanyaanku tadi sebegitu salahnya...?
"Bukan,
bukan begitu maksudku... soalnya sampai kemarin, rasanya seperti ada yang
mengganjal di pikiranmu..."
"Itu,
itu cuma perasaanmu saja! Ya, sudah pasti cuma perasaanmu saja! Karena ini
masih pagi, pasti A-kun masih mengigau!"
"............"
"――Ugh."
Char
berusaha mati-matian menutupi sesuatu, tapi alasan bahwa aku mengigau soal apa
yang kurasakan sampai kemarin sungguh tidak masuk akal, apalagi waktu
sudah berlalu cukup lama sejak kami bangun pagi ini.
Jadi tidak
mungkin baginya untuk menjadikan alasan 'mengigau' sebagai tameng.
Saat aku
menatapnya lekat-lekat dengan pikiran seperti itu, Char menahan napas dan
memalingkan pandangannya.
Yep, itu
adalah reaksi khas orang yang sedang menyembunyikan rasa bersalah.
"Char――"
"――Bisa
diam tidak? Membuat keributan di jalan begini itu sangat mengganggu."
Sebuah
suara tajam yang menghakimi tiba-tiba terdengar, memecah ruang di antara kami
berdua.
Saat aku
menoleh ke belakang, kulihat seorang gadis cantik bermata tajam yang sedang
memegangi rambut hitam berkilaunya yang tertiup angin dengan tangan kanannya.
Dia menatap kami dengan sinis.
"Umikawa-san..."
Saat aku
memanggil namanya, Umikawa-san makin menyipitkan matanya karena tidak senang.
Gadis ini
pasti sangat membenciku...
"Kenalanmu...?"
Char
tampaknya belum pernah bertemu dengan Umikawa-san, jadi dia bertanya dengan
suara pelan karena bingung.
Char
memang tipe yang punya relasi luas dengan sesama siswi perempuan, atau lebih
tepatnya banyak yang mengajaknya bicara, tapi tidak heran jika dia belum pernah
berinteraksi dengan Umikawa-san.
Sama
sepertiku sebelum bertemu Char, Umikawa-san tipe anak yang berusaha untuk tidak
terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain.
"Dia
Umikawa Akari-san dari kelas 2-A. Salah satu siswi dengan nilai paling
memuaskan di angkatan kita."
Sambil
memilih kata-kata agar tidak membuatnya marah, aku memperkenalkan Umikawa-san
kepada Char.
Namun――
"Mendengar
ucapan itu keluar dari mulutmu, entah kenapa malah terdengar seperti sebuah
sindiran, ya?"
――Entah
kenapa, dia malah jadi makin bete.
Selama ini
aku memang hampir tidak pernah berinteraksi dengannya, tapi aku benar-benar
canggung berhadapan dengan anak ini...
"Eetto...
maafkan kami karena sudah membuat keributan."
Saat aku
ditanggapi dengan dingin oleh Umikawa-san, Char sempat menunjukkan raut wajah
lega sesaat sebelum menundukkan kepalanya dalam-dalam kepadanya.
Mungkin
awalnya Char waspada karena mengira ini adalah kenalan perempuan baruku yang
tidak dia ketahui, tapi dia jadi lega setelah merasa tidak ada percikan asmara
di antara kami.
Syukurlah
aku tidak membuat Char cemas, walau perasaanku rasanya campur aduk...
"...Lain
kali hati-hati."
Mungkin
tidak menyangka akan langsung dimintai maaf dengan setulus itu, Umikawa-san
sempat bingung harus membalas apa sebelum akhirnya membiarkan kami pergi dengan
peringatan ringan.
"Aku
juga minta maaf, aku akan lebih berhati-hati."
"............"
Saat aku
ikut meminta maaf, dia menatapku dengan sorot mata penuh emosi negatif seolah
sedang melihat musuh bebuyutannya.
Ya ampun,
apa aku sebegitu dibencinya...?
Padahal
selama ini interaksi kami sangat minim, tidak seperti teman-teman sekelasku
yang lain, aku juga tidak pernah bersikap dingin padanya...
"――Apes
banget, ya."
Badai
telah berlalu――mungkin agak tidak sopan menyebutnya begitu, tapi tepat setelah
Umikawa-san berjalan mendahului kami dan sosoknya mengecil di kejauhan, sekali
lagi seseorang memanggil kami dari belakang.
Kali ini,
Char sepertinya langsung tahu siapa pemilik suara itu.
"Shimizu-san,
selamat pagi."
Tanpa
terpengaruh oleh teguran Umikawa-san tadi, Char menyapa Shimizu-san dengan
senyuman manisnya yang biasa.
Tidak,
mungkin ini adalah senyuman terbaiknya akhir-akhir ini.
"Oh?
Hmmm~?"
Melihat
senyuman Char, Shimizu-san menatapku dengan tatapan penuh arti.
Lalu, dia
mulai menyeringai bak iblis kecil yang usil.
Aku tidak
terlalu mengerti, tapi yang jelas senyuman Char itu telah memicu suatu
kesalahpahaman.
"Boleh
juga kamu."
"Eh,
ngomongin apa sih?"
Aku
bertanya dengan bingung kepada Shimizu-san yang sedang menyikut-nyikut bahuku.
Dia malah
memasang ekspresi kebingungan balik.
Wajahnya
seolah berkata, 『Masa kamu tidak
sadar?』, tapi sumpah aku
benar-benar tidak mengerti.
"Shi-Shimizu-san,
apa maksudmu dengan 'apes' tadi?"
Bahaya
kalau mereka berdua dibiarkan mengobrol begini!
Mungkin
memikirkan hal itu, Char mengalihkan pembicaraan dengan sedikit memaksa.
"Ah,
soal itu. Maksudku soal kalian yang baru saja diomeli Umikawa-san. Anak itu
memang kelewat kaku dan serius, makanya dia gampang banget menegur orang dengan
nada ngajak ribut begitu. Padahal cuma ribut kecil saat berangkat sekolah,
biasa aja kan harusnya?"
Kemungkinan
besar, Shimizu-san juga sudah beberapa kali bentrok dengan Umikawa-san.
Dia sampai
memanyunkan bibirnya karena kesal.
Yah...
sifat Umikawa-san yang kental akan aura ketua kelas yang kaku dan Shimizu-san
yang kental dengan aura gyaru yang bebas mungkin memang kombinasi yang
paling buruk.
"Entah
kenapa, perasaanku mengatakan Aoyagi-kun sedang memikirkan hal yang tidak sopan
tentangku."
"Itu
cuma perasaanmu saja. Daripada itu, apa yang dikatakan Umikawa-san ada benarnya
juga. Bukankah kasihan kalau kita memperlakukannya dengan sebegitu
ketusnya?"
Aku
mengalihkan pandanganku dari tatapan tajam Shimizu-san sambil mencoba membela
Umikawa-san.
Aku
mengerti apa yang ingin disampaikan Shimizu-san, tapi Umikawa-san hanya salah
di cara penyampaiannya saja yang kasar, apa yang dia katakan tidaklah salah.
Yah,
memang sering sih aku berpikir, 'Coba deh perbaiki cara bicaramu', tapi
tetap saja, dialah yang benar.
"A-kun
sedang membela gadis lain... Rasanya seperti ada flag baru yang mau
berdiri..."
"Aaah~,
Umikawa-san itu agak mirip dengan Aoyagi-kun yang dulu, ya~? Terutama di bagian
suka mukul pakai fakta tanpa mikirin perasaan orang lain. Yah, walau ada
bedanya sih, Aoyagi-kun melakukannya dengan sengaja sedangkan Umikawa-san itu
sifat aslinya, wajar aja kalau kamu jadi pengen belain dia~"
Tiba-tiba
Char menggembungkan pipinya, sementara Shimizu-san menatap wajahku dengan
senyuman meledek.
Kenapa
tiba-tiba aku yang jadi dipojokkan begini...!?
"A-aku
tidak ada maksud lain, lho...!?"
"Soalnya
A-kun itu sering melakukan tindakan berdosa tanpa sadar."
"Iya
iya, move tanpa sadarmu itu bener-bener tidak baik, ya~"
"Kayaknya
kelakuanku tidak separah itu loh!?"
Entah
kenapa mereka berdua seolah sudah janjian memojokkanku; Char dengan tatapan
tajamnya dan Shimizu-san dengan seringaiannya.
Orang yang
kusebut belakangan sudah pasti cuma sedang menikmati situasi ini.
"Kalau
bicara soal seberapa parahnya..."
"Yah,
sudah stadium akhir, kan?"
――Pikirku
begitu, tapi begitu mendengar kalimatku, Char dan Shimizu-san malah saling
bertatapan lalu tersenyum getir.
Ah, ini
teguran serius rupanya.
"Eh,
emangnya separah itu, ya...?"
Aku jadi
lumayan khawatir.
Perasaanku
sih aku tidak pernah melakukan hal yang bisa bikin cewek lain salah paham
sampai segitunya...
"Pokoknya,
karena pergerakan tanpa sadar Aoyagi-kun sudah tidak mungkin bisa sembuh
sekarang, mari kita singkirkan masalah itu dulu."
"Tanggapanmu
itu seakan membuangku ke pinggiran, ya..."
"Habisnya
itu fakta, kok."
Shimizu-san
merentangkan kedua tangannya selebar bahu, lalu menggerakkannya dari depan ke
sisi kiri seolah sedang memindahkan barang tak kasatmata. Saat aku memprotes
tindakannya itu, dia malah menyeringai usil padaku.
Akhir-akhir
ini, anak ini jadi kelewat santai kepadaku, ya...
Padahal
dulu dia benar-benar sangat membenciku.
Bahkan
kurasa dulu sikapnya jauh lebih parah daripada Umikawa-san.
Yah, dia
kan berteman baik dengan Char, jadi wajar saja sikapnya padaku melembut karena
aku ini pacarnya... atau lebih tepatnya tunangannya.
Selain
itu, mungkin karena aku berteman dengan Riku, sepupunya.
"Jadi,
kamu tadi mau ngomongin apa?"
"Ah,
iya, iya. Umikawa-san itu memang dasarnya rewel, tapi tadi dia tidak cuma ketus
sama Aoyagi-kun, tapi juga sama Charlotte-san, kan? Tahu tidak kenapa?"
Shimizu-san
menepuk kedua tangannya, lalu mengacungkan jari telunjuk dan memberikan
pertanyaan kepada kami.
"Ah...!"
Char, yang
seharusnya tak ada urusan dengan Umikawa-san, tiba-tiba berseru seakan
menyadari sesuatu.
"Oh,
udah tahu jawabannya?"
Mendengar
itu, Shimizu-san bertanya dengan nada kaget――
"Apa
karena aku sudah menjadi pacar A-kun, makanya dia menganggapku sebagai kucing
pencuri...!?"
――Jawaban
Char benar-benar meleset jauh dari sasaran.
Saking
melesetnya, Shimizu-san sampai nyaris terjungkal.
"...Salah,
ya?"
Sadar dari
reaksi Shimizu-san kalau jawabannya melenceng ke antah berantah, Char menatap
Shimizu-san dari bawah dengan kikuk seolah sedang membaca situasi.
"Ahaha...
yah, um. Jawabannya jauh melebihi ekspektasi gilaku, tapi karena ini
Charlotte-san, wajar aja keluar jawaban kayak gitu."
Shimizu-san
yang cukup sering menghabiskan waktu bersama Char di sekolah, menunjukkan
pemahamannya terhadap jalan pikiran Char.
Habisnya
anak ini sejak jadian denganku memang terus memusingkan hubunganku dengan
perempuan lain.
Tidak
heran kalau Shimizu-san bisa langsung memakluminya.
Yah,
jangankan dulu, sekarang saat rasa cemburunya seharusnya sudah sedikit mereda
saja dia masih bisa melontarkan jawaban seperti itu.
"Kalaupun
Umikawa-san suka sama Aoyagi-kun, dia tidak bakal bersikap begitu ke
Charlotte-san cuma gara-gara itu. Memang sih dia tipe yang tidak mau berurusan
sama orang lain duluan, tapi dia lumayan ramah sama cewek cantik, pendiam, dan
jadi representasi keanggunan kayak Charlotte-san, tahu."
Hebat
juga, Shimizu-san ini lumayan peka memperhatikan sekitarnya.
Bagiku
pun, kesan tentang Umikawa-san sama persis dengan yang dikatakan Shimizu-san.
Justru
karena itulah, aku lumayan terkejut saat Umikawa-san menggunakan kata-kata
tajam kepada Char tadi...
"Soal
aku yang menjadi representasi keanggunan, rasanya agak berlebihan..."
Sepertinya
Char lebih peduli pada fakta bahwa dirinya dipuji sebagai perwakilan gadis
anggun ketimbang sikap Umikawa-san.
Yah...
begitulah.
Anak ini
dari segi penampilan dan gerak-geriknya memang anggun, tapi dia punya
pengetahuan yang lumayan luas soal 'hal itu'...
Bahkan
saking tingginya nafsunya, dia bisa terus-terusan melakukannya semalaman
suntuk...
"Ahaha,
kalau Charlotte-san itu tidak anggun, berarti tidak ada lagi cewek anggun di
dunia ini!"
Shimizu-san
yang tentunya tidak tahu-menahu soal urusan ranjang Char, tertawa lepas dan
menepis ucapan Char.
Kalau
sampai tahu sisi lain Char, mungkin Shimizu-san sekalipun bakal terkejut
setengah mati...
"Ahaha..."
"Yah,
inti jawabannya adalah karena Charlotte-san berhasil menduduki peringkat dua
paralel di ujian sebelum liburan musim dingin."
Entah tak
menyadari Char yang tertawa garing sambil menatap kosong ke kejauhan, atau
sengaja membiarkannya, Shimizu-san langsung membeberkan alasan kenapa
Umikawa-san bersikap ketus pada Char.
Memang
sudah kuduga, itu alasannya.
Kalau
disuruh memikirkan kemungkinannya, dari awal firasatku memang tertuju ke situ.
"Hanya
karena aku meraih peringkat dua...? Memang sih, secara tidak langsung aku
membuat peringkat semua orang selain A-kun jadi turun..."
Char yang
kurang menangkap maksudnya, memiringkan kepalanya dengan heran.
Wajar
saja.
Karena
kami selalu bersama dari pagi sampai malam aku kadang suka lupa, tapi Char
belum ada setengah tahun berada di Jepang.
Tentu
saja, dibandingkan aku dan Shimizu-san, dia kurang paham soal seluk-beluk
urusan kompetisi peringkat di sekolah ini.
"Kamu
tahu kan kalau Aoyagi-kun selalu dapat peringkat satu berturut-turut sejak
masuk ke sekolah ini?"
"Iya,
itu sudah jadi rahasia umum, kan."
Char
mengangguk dengan sedikit bangga menanggapi pertanyaan Shimizu-san.
Bagiku
pribadi, aku tidak ingin hal itu terlalu dibesar-besarkan, tapi wali kelasku
Miyu-sensei dan wakil wali kelas sekaligus guru musikku, Sasagawa-sensei,
sepertinya suka memamerkan pencapaian itu...
Omong-omong,
aku baru sadar kalau dia itu wakil wali kelasku tempo hari, dan jujur aku
lumayan kaget.
Yah, guru
wakil wali kelas memang jarang masuk kelas――mereka baru akan turun tangan
menggantikan kalau wali kelas sedang sakit atau cuti. Masalahnya, Miyu-sensei
itu tidak pernah libur sama sekali.
Malahan,
orang itu sepertinya kebal sama yang namanya jatuh sakit.
――Tiba-tiba,
rasa dingin yang menusuk menjalari sekujur tubuhku.
"――Eh!?"
"A-kun?
Ada apa?"
Menyadari
tubuhku bergidik ngeri, Char mengintip wajahku dengan pandangan cemas.
"Tiba-tiba
aja aku merinding..."
"Palingan
di dalam hati kamu lagi jelek-jelekin Miyu-sensei, kan?"
Kok kamu
bisa tahu, Shimizu-san...!
Yah, walau
sebenarnya aku tidak sedang menjelek-jelekkannya juga sih...!
Malah
kurasa tadi itu semacam pujian...!
...Kayaknya.
"Aku tidak
punya nyali buat jelek-jelekin orang itu..."
"Sama
aja kayak cari mati, ya."
Saat aku
membeberkan isi hatiku yang sebenarnya, Shimizu-san mengangkat bahu seakan
bersimpati.
Walau ini
agak telat dipikirkan, tapi kurasa jarang ada guru yang diomongin
murid-muridnya sampai seperti ini.
Lagipula
bukan cuma di kalangan murid, guru-guru lain juga pada takut sama orang itu...
"Nah,
kembali ke topik, sebenarnya di balik Aoyagi-kun yang selalu rangking satu, ada
anak yang selalu mentok di peringkat dua seumur hidupnya. Anak malang yang
selalu kalah dari Aoyagi-kun dan cuma bisa jadi juara dua."
"Hei,
bisa tolong berhenti bicara seolah aku ini penjahatnya?"
Kalau dia
sampai disebut 'anak malang', bukannya itu bikin aku yang mengalahkannya
terkesan jadi orang jahat?
Yah... aku
bukannya tidak mengerti betapa nyeseknya selalu dapat juara dua, tapi orangnya
sendiri pasti benci kalau dikasihani seperti itu.
"Jangan-jangan,
orang yang selalu berada di peringkat dua itu..."
"Yap,
itu Umikawa-san."
Mendengar
jawaban Shimizu-san, Char akhirnya paham alasan kenapa dia diperlakukan dengan
ketus.
Tentu saja
karena aku sudah tahu peringkat Umikawa-san, aku bisa menebak jawabannya lebih
cepat dari Char.
"Karena
di ujian kemarin jangankan merebut posisi pertama, peringkatnya malah anjlok ke
urutan tiga, makanya dia jadi dendam padaku, ya..."
"Kalau
dibilang dendam rasanya kurang tepat sih... tapi dia itu selalu menjadikan
Aoyagi-kun musuh bebuyutannya. Saat dia lagi berambisi banget buat ngalahin
Aoyagi-kun, dia malah kalah saing sama Charlotte-san yang muncul tiba-tiba.
Jadi palingan dia cuma lagi melampiaskan kekesalannya aja. Yah, dan rasanya
fakta bahwa kamu itu 'Pacar Aoyagi-kun' bikin dia makin jengkel."
Setelah
mengatakannya, Shimizu-san melirik sekilas ke arahku.
Menangkap
apa maksud tatapannya, aku hanya bisa menghela napas pasrah.
"Shimizu-san
ini benar-benar niat banget pengen nyalahin aku, ya..."
"Tidak
kok, aku kan cuma menyampaikan fakta aja."
Saat aku
memprotesnya, Shimizu-san dengan gaya dibuat-buat memiringkan kepalanya.
Melihat
tingkah kami, Char tanpa sadar terkekeh pelan.
Sepertinya,
kecanggungan tadi sudah berhasil dicairkan.
"Intinya,
aku tidak tahu apa niat asli Umikawa-san, tapi kamu tidak perlu terlalu
memikirkannya. Char sama sekali tidak berbuat salah, lagipula anak itu bukan
tipe orang yang pendendam soal peringkat dan bakal sengaja menindas orang
lain."
Kalau dia
memang tipe orang yang suka menindas, aku pasti sudah jadi korban
perundungannya dari dulu.
Terlebih
lagi, seperti yang dibilang Shimizu-san, Umikawa-san itu anak yang lurus.
Dia sangat
membenci kecurangan, jadi sangat mustahil dia akan menggunakan taktik licik
untuk menjatuhkan peringkat Char.
"Benar
juga ya, dipikirkan juga tak ada gunanya... Lagipula target utamaku adalah
harus bisa mengalahkan A-kun."
"Aku
juga tidak akan membiarkan diriku kalah dari Char."
Karena aku
ini sering berolahraga, aku sangat mengerti rasanya jengkel setelah menelan
kekalahan.
Tapi,
selama kamu terus menyalahkan orang lain atas kekalahanmu, kamu tidak akan
pernah bisa berkembang. Kalau mau bersaing, lebih baik bersainglah dengan
suportif dan fair.
Dalam
artian itu, hubunganku dan Char sepertinya adalah yang paling ideal.
"――Iya
deh iya, dasar duo murid teladan, tolong jangan mesra-mesraan di tengah jalan
ya~"
Yah, walau
pada akhirnya kami tetap disoraki oleh Shimizu-san yang terlihat sewot.
◆
Beberapa
hari berlalu sejak kejadian itu, hubunganku dan Char di sekolah baik-baik saja.
Bahkan
setelah pulang ke rumah pun, hubungan kami tetap baik.
Tapi entah
kenapa――Char masih tetap enggan untuk tidur bersamaku.
Sekarang
pun, di kamarku dan Char, hanya ada aku dan Emma-chan yang sedang tidur di
ranjang.
Sepertinya
Char masih berniat untuk tidur di ruangan lain hari ini.
"Harusnya
aku memang tanya alasannya, ya...?"
Kalau cuma
pisah ranjang sehari atau dua hari sih aku bisa maklum... tapi ini sudah hari
keempat.
Kalau
dibiarkan, perasaanku mengatakan kami bakal tidur pisah ranjang selamanya.
Tapi kalau
aku menanyakannya sekarang, rasanya aku seakan mengekang ruang geraknya.
Walaupun
begitu, kami kan sudah berjanji untuk tidak saling merahasiakan sesuatu, kurasa
tidak ada salahnya kalau aku bertanya...
Selain
itu, ada hal lain yang mengganggu pikiranku selain soal Char.
Dari hari
ke hari, Kaguya-san terlihat makin loyo dan kurang tidur.
Melihat
auranya sepertinya dia tidak bisa tidur nyenyak, dan kalau aku tidak salah
ingat, Kaguya-san mulai bertingkah aneh sejak Char memutuskan untuk tidur
terpisah dariku.
Kamar yang
sekarang digunakan Char itu letaknya tepat di sebelah kamar Kaguya-san, apa
jangan-jangan Char melakukan sesuatu yang membuat Kaguya-san tak bisa tidur...?
...Etidak
mungkin, ding.
Char
sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya, tidak mungkin dia melakukan
sesuatu yang merepotkan Kaguya-san.
Kondisi
Kaguya-san pasti disebabkan oleh hal lain yang tak ada hubungannya dengan Char.
Intinya,
aku harus memikirkan jalan keluar untuk masalah Char――apa mending aku tanyakan
saja pada orang yang paling memahaminya?
Siapa tahu
Char menceritakan sesuatu padanya. Lagipula, kalau dihitung dengan perbedaan
waktu, saat ini masih siang hari di negaranya, jadi tidak akan mengganggunya.
Berpikir
demikian, aku pun memutuskan untuk meneleponnya.
Yah, tentu
saja aku mengirimi pesan obrolan terlebih dahulu untuk mengecek keadaannya.
Tak
berselang lama menatap layar ponsel, tanda 《Dibaca》 langsung muncul.
Tepat
ketika aku sedang menunggu balasannya, panggilan telepon mendadak masuk.
『Halo――』
《『Haiii, Akihito! Lama tak jumpa~! Tumben kamu tiba-tiba
mau nelepon, ada apa?』》
Begitu
panggilan tersambung, dia langsung mencerocos seolah memotong kata-kataku.
Seperti
biasa, dia selalu penuh semangat...
『Lama
tak jumpa, Livy. Apa kamu lagi senggang sekarang?』
Orang yang
kuajak bicara kali ini adalah Livy, sahabat lama Char.
Kalau Char
sedang punya masalah atau ganjalan, kemungkinan besar dia akan curhat pada
sahabatnya ini.
Kuharap
dia tahu sesuatu tentang keadaan Char...
《『Tentu saja, karena lagi senggang makanya aku yang nelepon
kamu!』》
Ya, saat
layar ponselku berkedip karena teleponnya masuk tadi, aku sudah menduga begitu.
Sifat Livy
yang to the point ini sungguh sangat membantu.
Di saat
aku sedang berpikir begitu――
《『Eh, apaan tuh!? Lagi nelepon siapa!?』》
《『Pacar!? Jangan bilang kamu lagi nelepon cowokmu, Livy!?』》
――Tiba-tiba,
dari seberang telepon terdengar suara melengking gadis-gadis yang tidak
kukenali.
Kemungkinan
besar, itu adalah teman-teman satu sekolah Livy dan Char di sana.
《『Bukanlah!! Ini fiancé (tunangan) Lotty!!』》
《『Kyaaaaaa!』》
Saat Livy
meneriakkan statusku kepada mereka, rentetan pekikan melengking khas remaja
putri kontan saja memekakkan telinga.
Firasatku
mengatakan ini bakalan jadi merepotkan...
《『Seriusan, tunangannya Charlotte!? Berarti cowok Jepang,
dong!?』》
《『Waktu aku dengar dari Livy kalau Charlotte udah punya
tunangan aku kira itu bohong, ternyata cowoknya beneran eksis!? Charlotte yang
itu!?』》
《『Padahal aku yakin banget itu cuma mimpi Livy doang waktu
dia ketiduran di pesawat pas pulang dari Jepang!!』》
《『Heh, kalian nganggap aku ini apaan, sih!?』》
Sepertinya
fakta bahwa Char berhasil memikat seorang laki-laki terdengar sangat tak masuk
akal di telinga mereka, sehingga mereka heboh bukan main.
Dan hal
itu memancing protes keras dari Livy.
Aku tidak
tahu ada berapa banyak gadis yang mengerubunginya di sana, tapi Livy pasti
sangat kewalahan meladeni mereka semua.
Kukira dia
sudah pulang sekolah, tapi mungkin saja dia sedang di perjalanan pulang bersama
teman-temannya atau malah lagi kumpul bareng mereka.
《『Eh, kasih kita ngobrol juga, dong!』》
《『Tidak mau ah, aku lagi asyik ngobrol tau! Kalau kalian
kubiarin ngoceh, bisa-bisa sampai matahari terbenam tidak bakal kelar!』》
《『Itu kan bukan cowokmu, masa kamu monopoli sendiri, curang
ah!』》
《『Ngomong-ngomong, Charlotte juga lagi bareng dia tidak!?』》
――Wah,
situasinya makin kacau.
Apa
mending kumatikan saja dulu lalu telepon lagi nanti?
Mengingat
aku menelepon Livy tanpa sepengetahuan Char, bisa-bisa ini menimbulkan
kesalahpahaman yang tak perlu.
...Omong-omong,
Char sepertinya harus kembali ke Inggris sebelum bulan April untuk mengurus
ulang izin belajarnya, tapi kalau melihat kelakuan teman-temannya, dia pasti
bakal repot banget pas pulang nanti...
《『――Hah... hah... ma-maaf ya... Maaf bikin kamu nunggu
lama, aku berhasil kabur dari mereka... Sekarang udah aman kok...』》
Setelah
kutunggu beberapa saat, terdengar suara napas Livy yang tersengal-sengal
setelah berhasil memisahkan diri dari gerombolan temannya.
『Padahal
kamu tidak perlu sampai kabur segala, lho... kamu tidak apa-apa?』
Aku bakal
merasa sangat bersalah kalau hubungannya dengan teman-temannya jadi renggang
karena aku...
《『Tenang aja... habis ini aku bakal nyusul mereka lagi
kok... Maaf, tolong kasih aku waktu sebentar... buat narik napas...』》
Sepertinya
dia baru saja melakukan lari maraton dadakan, dia meminta waktu kepadaku dengan
nada kelelahan.
『Santai
aja, aku tidak buru-buru kok.』
Aku
menenangkannya dengan lembut agar dia tidak terburu-buru, dan selagi menunggu
napasnya kembali teratur, aku mengelus kepala Emma-chan yang sedang tertidur
lelap di sisiku.
《『――Makasih udah nunggu. Terus, tadi mau ngomongin soal
apa?』》
Setelah
napasnya kembali normal, Livy mengembalikan topik obrolan seakan badai
teman-temannya tadi tidak pernah terjadi.
Dia
benar-benar jago ganti topik.
『Ini
soal Char――』
Sebagai
langkah masuk ke topik utama, aku pun menceritakan keluh kesahku mengenai Char
secara garis besar kepadanya.
Mendengar
ceritaku――
《『Ngapain sih si Lotty ini...!! Padahal udah aku bilang
jangan sampai Akihito lepas...!!』》
Livy
tiba-tiba saja langsung emosi.
Eh, apa
aku salah pilih tempat curhat...?
『Eh
bukan, ini salahku kok. Maksudku, gara-gara aku Char jadi merasa kesepian,
gitu.』
Aku tidak
mungkin mengatakan secara terang-terangan kalau 《Dia
mungkin lagi ngambek karena kita udah lama tidak berhubungan intim》, jadi aku memperhalusnya menjadi 《Aku bikin dia ngerasa kesepian》.
Tapi mau
bagaimanapun, akulah pihak yang bersalah di sini. Jadi aku bakal repot kalau
Livy malah memarahi Char...
《『Kalau gitu, harusnya dia jujur aja kalau mau dimanja...!』》
Tapi,
bukannya mereda, amarah Livy malah makin meledak.
Yah,
kurasa ini memang efek samping karena aku sengaja menutupi fakta aslinya.
Memang
benar, kalau dia merasa kesepian, harusnya dia bisa mengatakannya padaku secara
langsung. Kenyataannya, kalau cuma untuk minta diperhatikan, Char pasti sudah
menyampaikannya kepadaku.
Masalahnya,
akar permasalahannya sekarang adalah perkara "ranjang". Ditambah lagi
dia kan aslinya lumayan pemalu, mustahil seorang gadis terhormat seperti Char
bisa dengan mudah mengatakannya.
...Yah,
emang sih...
Beberapa
waktu yang lalu dia pernah menyindirku secara halus soal itu.
『Ini
semua gara-gara aku terlalu sibuk, dia juga sengaja tidak bilang biar tidak
nambah bebanku, kan...』
《『Tetep aja, kalau sampai ujung-ujungnya bikin Akihito
ngerasa cemas, itu tidak bener...!』》
Duh, harus
kubilang apa lagi, ya?
Kata-kata
Livy itu sangat logis, aku tak bisa membela Char lebih jauh lagi kalau aku
tidak membeberkan cerita aslinya.
Tapi
sumpah, aku tidak mungkin mengatakannya padanya...
《『Lagian ngapain pakai pisah kamar segala... kalau dia aja
gampang banget ambil jarak kayak gitu, terus gimana nasib pengorbananku yang
udah rela ngalah buat dia...』》
Di saat
aku sedang sibuk merangkai kata demi meredam amarah Livy... samar-samar
kudengar ia menggumamkan sesuatu dari ujung telepon.
『Maaf,
suaramu kurang jelas tadi... Kamu barusan ngomong apa?』
Karena
sedari tadi terlalu fokus mencari cara untuk berkelit, aku pun bertanya
sejujurnya kepadanya karena aku memang tidak bisa menangkap omongannya.
《『Aku bilang, kalaupun dia malu mau minta dimanja, ambil
jarak sama kamu tetep tidak bisa dibenarkan...!』》
Entah
kenapa, dia malah menjawab pertanyaanku dengan nada yang lebih tinggi dari
sebelumnya.
Bahkan
rasanya ada sedikit nuansa salah tingkah di balik nada bicaranya yang meninggi,
apa itu hanya perasaanku saja?
Ah, mana
mungkin. Dari awal tidak ada hal yang bisa bikin Livy salah tingkah, kan. Ini
pasti cuma perasaanku saja.
『Hmm,
jadi kamu juga tidak tahu apa yang dipikirkan Char, ya? Apa dia tidak pernah
curhat sama sekali ke kamu?』
《『Tidak tahu, dan dia juga tidak pernah bilang apa-apa...!
Lagian, bawaannya aku pengen langsung nelepon Lotty tau tidak!!』》
Waduh, ini
bahaya.
Kalau
sampai dia kena marah Livy padahal Char sendiri tidak tahu akar
permasalahannya, jangan-jangan nanti malah timbul ketidakpercayaan di antara
aku dan Char.
Lagipula
Char punya imajinasi yang terlalu liar, bisa-bisa nanti dia menyangka aku ini
selingkuh di belakangnya――pokoknya, ini harus kucegah dengan cara apa pun...
『Maaf,
tapi biar urusan ini kuselesaikan sendiri sama Char nanti, jadi... apa kamu
bisa tolong untuk tidak menelponnya dulu...?』
Kalau
tidak begitu, panggilan konsultasi ini bukannya mencari titik terang malah
menciptakan ladang masalah baru...
...Tapi
tentu saja kalimat itu hanya bisa kutelan dalam hati.
Toh, Livy
marah karena ingin membelaku, kan.
《『Kalau Akihito yang minta sih, aku nurut aja... Tapi tetep
aja rasanya kesel, uuuuggghhh...!』》
Mirip
seperti Char, Livy yang baik hati dan pengertian ini mau mengabulkan
permintaanku tanpa banyak protes.
Meski
begitu, ia tampaknya masih tak terima, terdengar suara geraman pelan layaknya
anak anjing dari bibirnya.
Mungkin ia
sedang berusaha keras menahan rasa dongkolnya...
『Sekali
lagi, aku minta maaf udah repotin kamu buat urusan kayak gini.』
《『Tidak, kok, jujur aku malah seneng! Itu tandanya kamu mau
mengandalkanku, kan!』》
Ketika aku
merangkum ucapan maafku untuk menyita waktunya sekaligus membuatnya khawatir,
nada suara Livy mendadak jadi jauh lebih ceria.
Rupanya
emosinya sudah mereda sepenuhnya.
Ditambah
lagi, aku merasa ada kemiripan pola pikir di antara kami berdua, dan jujur itu
lumayan menyenangkan.
『Mendengar
kamu bilang begitu bikin perasaanku jadi lega.』
《『Aku bilang begini beneran tulus lho, ya!? Bukan
semata-mata karena kamu itu cowoknya Lotty, bagiku Akihito adalah pahlawan
penyelamatku, dan karena kamulah aku makin semangat belajar bahasa Jepang. Jadi
intinya... yah... pokoknya aku pengen membalas budi kebaikanmu, tau...!』》
Di akhir
ucapannya kalimat Livy terdengar agak tersendat-sendat, tapi aku bisa merasakan
bahwa ia telah berusaha keras menyalurkan isi hatinya kepadaku.
Padahal
selama ini aku tidak pernah melakukan hal hebat untuknya. Terlebih lagi, yang
jadi guru bahasa Jepangnya selama ini kurasa Kaguya-san dan bukan aku atau
Char. Tapi, tetap saja hatiku menghangat mendengarnya.
『Makasih
banyak. Bisa ngobrol sama kamu sedikit ngurangin beban di hatiku.』
《『Beneran!? Kalau gitu, jangan sungkan buat nelepon aku
lagi, ya!』》
Nada suara
di ujung telepon mendadak cerah, menunjukkan bahwa Livy membuka pintunya
lebar-lebar menyambutku.
Yah, walau
aku juga tak mungkin terlalu sering meneleponnya karena pasti bakal bikin Char
risih, setidaknya kalau nanti aku punya masalah lagi, ia akan jadi tempat
pertama yang kupilih untuk curhat.
『Kamu
juga, kalau ada apa-apa telepon aja, tidak usah sungkan. Bisa sekalian buat
latihan ngobrol bahasa Jepang juga, kan.』
《『――Ah! Bener juga, akhir-akhir ini bahasa Jepangku udah
lumayan lancar, lho...! Nih, cobain deh denger――』 Ohayou,
gojaimashu. Konnichiwa. Konbanwa. Oyashuminyashai. Arigatou. Gomennyashai. 《『Gimana, salamku udah perfect, kan!』》
Seperti
anak balita yang membatidakan prestasinya sambil bilang 《Nih dengar! Dengar!》, Livy memamerkan kemampuan bahasa Jepangnya padaku.
Sejujurnya
pengucapannya sama sekali belum sempurna, tapi ketidaksempurnaannya itulah yang
membuatnya terdengar menggemaskan. Kerja kerasnya juga sangat terasa di balik
kata-katanya.
『Hebat,
kelihatan banget kalau kamu serius belajarnya.』
《『Iyalah! Terus ada lagi nih――』 Akihito
wa, Rorikon deshu! (Akihito itu seorang Lolicon!)》
『――Hah!?』
Eh,
barusan dia ngomong apa!?
Tiba-tiba
saja dilempar kalimat yang sangat luar biasa tidak masuk akal, seketika
pikiranku menjadi kosong melompong.
《『Kata ini dipakai buat nunjukin orang yang suka like sama
gadis kecil, kan? Soalnya Akihito itu sayang banget sama Emma, makanya! Aku
juga ngaku kalau aku ini Lolicon, kok!』》
Livy
terdengar polos tanpa niat buruk sedikit pun dan menjelaskannya dengan gembira
ria.
Sepertinya,
dia telah disesatkan soal makna asli dari kata itu.
Livy... suka
yang kau maksud itu maknanya jauh beda dengan kata like yang kau
pahami...
『Itu
jangan-jangan ajaran dari Kaguya-san...?』
《『Yap!!』》
Kaguya-saaaaann!!
Anda
ngajarin hal macam apa kepadanya!?
Jelas-jelas
ini kesalahpahaman kelas kakap, atau jangan-jangan Anda sengaja menyesatkan
otaknya, ya!?
Sambil
mengomel habis-habisan di dalam hati, aku meluruskan makna "Lolicon"
yang sebenarnya kepada Livy.
Gila aja
aku membiarkan dia menyebut-nyebut dirinya Lolicon, bahaya tingkat dewa.
《『――Kaguya ngerjain aku...』》
Begitu
mendengar kebenarannya, Livy kontan langsung tertunduk lemas.
Yah,
tebakanku Kaguya-san tak berniat mengerjainya dan sebatas meminjamnya untuk
mencela kelakuanku. Meski begitu, candaannya ini rasanya terlalu jauh.
Tapi siapa
sangka orang seserius itu bisa main-main hal beginian...
『Semoga
aja dia tidak ada ngajarin kata bahasa Jepang yang aneh-aneh lagi ke kamu...』
《『Menurutku... kayaknya aman...』》
Kedengerannya
kamu tidak yakin begitu, ya...
Biarpun
begitu, kalau dia sampai banyak-banyak mengajarkan kosa kata aneh kepadanya,
efek kerusakannya bakal tak terkendali dan bisa membuat kepercayaan Kanon-san
luntur. Jadi, dia pasti tak akan melanjutkan kenakalannya.
Kalaupun
dia sempat mengajarkan hal-hal lain yang nyeleneh, korbannya pasti aku lagi,
jadi seandainya nanti kejadian lagi, pasti akan terungkap saat Livy mengatakan
kata-katanya padaku seperti barusan.
『Tapi
ngeliat kemampuanmu udah sampai tahap segitu, kamu bisa datang ke Jepang lebih
cepat kayaknya?』
《『Pokoknya pas Akihito naik kelas tiga nanti aku pengen
banget nyusul ke sana...!』》
Itu
berarti sekitar dua bulan lagi, ya...
Agak
pesimis sih, tapi kalau disokong dengan bantuan dari Char dan aku, mungkin
masih bisa diakali.
『Semangat,
ya.』
《『Pasti! Buat Akihito juga semangat bujukin Lotty ya.
Pokoknya tebakanku dia tidak marah cuma perkara dicuekin kok. Kalau aku nilai,
kayaknya dia ambil jarak gitu biar dipancing biar dapat perhatianmu, lho? Eh,
tapi kalau dia sengaja cari suasana biar bisa sendirian pas malam hari,
jangan-jangan――――――!?』》
『Livy...?』
Mendengar
Livy yang tiba-tiba menghentikan dukungannya dan melepaskan jeritan kaget, aku
segera memanggilnya dengan sedikit cemas.
《『Ng-tidak ada apa-apa, kok! Pokoknya yah, intinya Lotty
bukan karena lagi ngambek...! Ce-cewek itu butuh waktu buat me time, tau
tidak? Jadi kayaknya dia cuma lagi pengen menyendiri aja? ...So-soalnya, Lotty
kan kuat banget...』》
Kalimat di
akhir terlalu lirih untuk bisa ditangkap telinga, tapi aku setuju dengan Livy
bahwa terkadang orang itu memang butuh waktu sendiri.
Tapi yang
bikin aku kepikiran, kenapa dia tiba-tiba gugup begitu...
《『Po-pokoknya gitu deh, kamu tidak usah pusing mikirin hal
itu...! Lotty tidak bakalan mungkin benci sama Akihito, tau...!』》
Sebatas
itu saja petuah dari Livy, dan seakan mau kabur dari interogasi lebih lanjut,
ia buru-buru mematikan ponselnya seraya memekik, 《Ya, cuma
itu aja yang bisa kukasih tau ke kamu...! Udah dulu ya, daaahh!》
◆
"Tidak
mungkin juga teman-temannya pada ngamuk gara-gara Livy tidak balik-balik ke
tongkrongan... Terus apa ya?"
Sekuat apa
pun aku merenungkannya, tentu saja tidak akan ada yang repot-repot memberiku
jawaban atas pertanyaan ini.
"Hmm...
Livy emang bilang begitu tadi, tapi instingku mengatakan kalau itu bukan
sekadar cuma mau 'waktu menyendiri' saja... Berarti memang sudah jalannya buat
bicara baik-baik ke Char, ya?"
Mumpung
Emma-chan juga tengah terlelap, dengan modal keyakinan tadi aku memutuskan
untuk segera angkat kaki dari kamarku.
Tujuanku
selanjutnya tentu saja adalah kamar di mana Char sedang beristirahat, namun――.
"Hmm...?
Seperti ada suara yang aneh..."
Begitu
langkah kakiku makin mendekati kamarnya, desir pelan dari dengungan mesin
menggelitik gendang telingaku.
Tidak,
sepertinya bukan cuma mesin belaka.
Samar-samar
tertangkap suara erangan juga dari dalam sana――
『――Aaahhn!
A-kun, di situ... jangan...! Terus-terusan menyiksa area situ itu jahat,
lho...! Padahal di situ kan titik lemahku, nnnnghhh...!』
"............"
Eh?
Heh?
HAHH!?
Wah, gila.
Situasi macam apa ini!?
Dari arah
kamar Char terdengar gema lolongan... yang mana itu adalah sahutan desahan
manja milik Char sepenuhnya. Otakku sama sekali tak bisa menampung apa yang
tengah berlangsung.
Ketimbang
dibilang tak bisa mencerna keadaan, sepertinya pemahamanku sedang mogok tak mau
menyinkronisasikannya.
『A-aku
udah keluar! Barusan udah keluar, Aahhh...! To-tolong, ampuni aku...! A-kun,
beneran, jangan lagi, kumohon...!』
Woi woi
woi woi!
Aku tidak
ngapa-ngapain dari tadi!
Sama
sekali tidak nyentuh loh ini!?
Terus juga
bunyi 'ngiiing-ngiiing' sama 'vrrrrtt-vrrrrtt' ini dari tadi
beneran apa, sih? Char ini aslinya lagi sibuk apa di dalam sana!?
Pemandangan
ini terlalu merusak akal sehatku, bikin sepasang kakiku membeku di hadapan
pintunya.
Omong-omong,
Charlotte-san yang terhormat!
Kenapa
delusinya ngarah ke penyiksaan fisik, heh!?
Aku emang
tahu kok seleramu itu yang sedikit dominan dan kuat, tapi sumpah, demi apa pun
aku tidak pernah main barbar sehabis kamu mencapai klimaks!
Dan itulah
uneg-uneg protes yang kulemparkan pada diriku sendiri untuk menyangkal kejadian
tak wajar di depan mataku.
Aku tahu
bakat aslinya itu emang agak masokis, tapi gila aja kalau sampai separah ini...
Plus, dia
terlalu menjiwai perannya!!
Untung
saja kamar ini jaraknya dipisahkan lumayan jauh sama lokasi kamar Kanon-san,
lokasi kamarku bareng Emma-chan――dan apalagi kamar milik Sofia-san yang
sekarang lagi kosong. Telinga mereka mustahil bisa menangkap sahut-sahutan
tersebut... tapi lain ceritanya sama Kaguya-san. Beliau ini kamarnya
deket-deket situ kan!?
Bentar...
Kaguya-san yang tadi pagi kurang tidur itu gara-gara dengerin konser ini,
kan...?
Terus apa
yang salah sama si Char ini? Sudah capek konser semalaman suntuk bukannya loyo
malah badannya makin bugar dan berseri-seri tiap pagi!?
Stamina
anak ini benar-benar tidak wajar...
Yah, apa
pun itu... intinya misteri kenapa Char pengen tidur sendiri sudah terpecahkan
hari ini.
Serta
alasan kenapa ini bisa terjadi, mau sekeras apa pun kutebak pastilah ini semua
salahku.
Selama
sebulan ini aku udah membuatnya menahan diri, alhasil inilah akumulasinya.
Tapi,
harus aku apakan konser ini...?
Kalau
dipikir dari sisi Kaguya-san dan Char, kuakhiri juga pastilah lebih
manusiawi... tapi bayangin bagaimana runtuhnya mental anak perawan ini kalau
sampai rahasia terdalamnya kupergoki telanjang bulat.
Terus apa
mending aku dobrak masuk terus pura-pura hilang kesadaran buat menerkam dia
gitu aja biar nafsunya mereda?
Ah, itu
bunuh diri namanya.
Insting
Char terlalu tajam, dia pasti bisa langsung sadar kalau niat asliku itu cuma
buat akting. Selain itu, seumpama Kaguya-san dengan segala mood buruk
akibat kurang tidurnya tadi mendadak dengar suaraku ikutan gabung acara ini,
wah... ini rumah bisa meledak hancur jadi abu diamuk olehnya.
Lagipula
mana mungkin Char rela berhenti kalau cuma sekali, dia pasti bakalan menuntutku
melakukannya semalaman suntuk...
Sumpah
demi apa pun ini jalan keluarnya lewat mana!?
Detik ini
pula desahan manja diselingi racauan adegan mabuk kepayang terus-menerus
membanjiri lorong dari kamar Char. Sialnya lagi, efek riakan basah dari dalam
sana seakan memprovokasi pikiranku... aku juga laki-laki normal, berada di
tempat ini sungguh sebuah siksaan.
Kontrol
diriku untuk mempertahankan akal sehat benar-benar sudah hampir mencapai
batasnya.
"...........Sssh...
Valentine Day kan sebentar lagi... kuurus pas hari itu aja..."
Kalau aku tidak
meredamnya di hari-H, aku bisa jamin Study Tour mendatang yang absen
dari kehadiran Emma-chan bakalan berubah menjadi tempat maksiat yang super
kacau karena meledaknya akal sehat Char.
Selain
alasan di atas, aku murni khawatir tidak akan kuat menghadapinya.
"Kaguya-san,
aku sungguh-sungguh minta maaf kepadamu..."
Sadar
penuh bahwa maafku tidak mungkin terdengar, aku menundukkan kepala kepada
korban jiwa yang paling terdampak, yakni Kaguya-san. Dan pada akhirnya, dengan
perasaan berat hati, kuseret langkah kakiku untuk perlahan menjauh dari kamar
Char.
――Bisa
kusimpulkan sekarang, paket di dalam kotak kardus waktu itu isinya adalah
mainan orang dewasa...



Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.