Nawagami-san ha Shibararetai V1 EPS 2

N-Chan
0

Episode 2: Nawagami-san Tuanku yang Masokis


(POV Imashino)

 

Sehari setelah aku berhasil (secara meragukan) menyapa Nawagami-san. Saat tengah hari di hari Sabtu.

 

Aku datang ke rumah utama Keluarga Nawagami, di Shoutou, Shibuya.

 

...Jujur, tempat ini terlalu megah, dan entah kenapa membuatku semangat. Ada jalan setapak dari batu, pohon pinus kokoh yang tumbuh besar. Kawanan ikan koi berenang di kolam, dan yang terpenting, lahannya terlalu luas sampai-sampai aku bisa tersesat.

 

Setelah diantar melewati tempat yang megah itu. Di sebuah ruangan beralas tatami di rumah besar bergaya Jepang.

 

"Imashino Seishirou. Usia 16 tahun. Sedang bersekolah di SMA Akademi Tourin. Alamat saat ini, Nerima-ku, Tokyo—"

 

Suara yang rendah dan luwes membacakan informasi pribadiku.

 

"Dia sangat menyayangi adik perempuannya, Imashino Ritsu, seorang siswi SMP yang bercita-cita menjadi pianis. Dia terus membenahi dirinya agar dipuji 'keren' oleh adiknya, tetapi sudah lama tidak mendapat pujian itu. Dia terus merawat adiknya dengan alasan agar adiknya tidak terluka, tetapi belakangan ini, adiknya menganggap campur tangan berlebihan itu menjijikkan—"

 

"!! Anda tahu banyak sekali, tapi, tidak apa-apa. Saya melakukannya hanya karena saya ingin mengabdi, jadi pada dasarnya, saya tidak butuh imbalan apa pun. Hanya saja... satu hal yang mengganggu saya adalah, ketika adik saya mandiri nanti, apakah saya bisa menerima kekosongan hati itu dengan benar."

 

"Aku yang memulai topik ini, tapi aku tidak bertanya sejauh itu."

 

"Ah, ya. Maaf..."

 

Aku menyesali diriku yang tiba-tiba berapi-api, tapi di sisi lain aku berpikir, "Loh?"

 

"Ngomong-ngomong, apa saya pernah mengatakan detail sedetail itu?"

 

"Tidak. Aku hanya diam-diam meminta beberapa badan investigasi untuk melakukan pemeriksaan latar belakang."

 

Ah, begitu... Tidak, sama sekali tidak begitu! Aku takut karena mereka tahu terlalu banyak detail. Tapi yah, aku berusaha meyakinkan diri bahwa hal seperti ini wajar kalau bekerja di keluarga terpandang.

 

"Kalau begitu, aku akan mengulang kesimpulannya, Imashino. Aku tetap menunjukmu sebagai pelayan pribadi Seren."

 

Lalu, mata yang tadinya tertuju pada laptop di atas tatami, perlahan beralih menatapku.

 

"Ada keberatan?"

 

"Tidak, tidak ada. Justru saya yang mohon kerja samanya!"

 

Ketika aku menjawab, wanita di depanku yang mengenakan kimono indah itu hanya menjawab, "Ya."

 

Dia adalah putri tertua dari empat bersaudara Keluarga Nawagami, dan sudah menduduki posisi penting di perusahaan grup—Nawagami Sayuki—duduk tegak lurus, dan melanjutkan pembicaraan.

 

"Karena sudah dijelaskan berkali-kali sampai hari ini, aku akan melewati poin-poin kecil. Yang penting adalah—sebagai pelayan pribadi, kau harus mengabdi untuk Seren. Menjaga sandang, pangan, dan papan, memenuhi permintaannya, dan menyelesaikan insiden kecil dengan cepat. Di sisi lain, jika terjadi masalah yang sangat serius di luar kemampuanmu, kau juga memiliki kewajiban untuk segera menghubungi kami."

 

"Baik. Saya mengerti, dan saya berencana mendukung Seren-san dengan segala kemampuan yang saya miliki."




Mendengar jawabanku, Sayuki-san menyesap sedikit teh mahalnya dari cangkir.

 

"Seren sudah tidak ada di rumah utama. Dia sudah mulai tinggal di apartemen milik Keluarga Nawagami, dan kau juga akan tinggal di sana. Mulai hari ini. Tentu, kau tidak lupa, kan?"

 

"Tentu saja. Saya sudah melakukan berbagai persiapan dan tekad sejak kemarin."

 

"...Bagus. Kalau begitu, ada pertanyaan terakhir dari pihakmu?"

 

"Terima kasih atas perhatiannya. Tapi tidak ada. Semuanya sudah jelas, tidak ada masalah."

 

Karena sudah mendapat penjelasan yang cukup sampai hari ini, aku menjawab dengan cepat.

 

Namun, Sayuki-san tiba-tiba meletakkan tangannya di dagu—matanya menjadi semakin tajam.

 

"...Kau terlalu patuh."

 

"Eh?"

 

"Kalau tidak ada keluhan sama sekali, aku malah curiga."

 

Meskipun ekspresinya default sudah galak, wajah cemberut Sayuki-san mencapai puncaknya. Sebagai kakak beradik, wajahnya sedikit mirip dengan Nawagami-san yang sering kulihat di sekolah.

 

"Faktanya, seharusnya ada banyak pertanyaan, kan? Bukankah keberadaan pelayan pribadi itu sendiri asing, dan bukankah seharusnya itu diserahkan pada profesional? Kenapa harus kau, seorang pelajar, yang dipilih secara spesifik, bahkan melalui sekolah... Apa pendapatmu tentang itu?"

 

Itu benar. Bahkan dari sudut pandangku, pekerjaan ini datang tiba-tiba—Saat aku sedang mencari pekerjaan sampingan baru karena tempat kerja lamaku pindah ke kampung halaman pemiliknya.

 

Tiba-tiba aku dipanggil oleh Kepala Sekolah Tourin, dan hal pertama yang dia katakan adalah:

 

"Oh, Imashino. Ada tawaran part-time menarik datang untukmu."

 

"Eh. Dari mana?"

 

"Dari Keluarga Nawagami. Katanya suruh jadi pelayan."

 

"!?"

 

...Padahal aku tidak melamar di situs lowongan kerja mana pun. Awalnya kupikir ini bercanda.

 

"Bukannya tidak ada keluhan, tapi ada hal yang saya pikirkan..."

 

"Tidak apa-apa. Bisakah kau beritahu aku apa yang sedang kau pikirkan sekarang?"

 

Karena tiba-tiba diinterogasi, aku jadi sedikit ragu. Apa yang kupikirkan, ya...

 

Tak lama kemudian, terdengar bunyi kapong dari luar, suara lonceng air (shishi-odoshi), dan setelah itu, aku mulai bicara.

 

"Bukan sekarang saja, tapi sejak lama. Saya ingin menggunakan sumber daya saya sebanyak mungkin untuk adik saya. Saya tidak tahu apakah Anda sudah menyelidiki hal ini."

 

Aku pun menceritakannya dengan sangat sederhana dan tenang.

 

Ritsu, orang yang paling penting bagiku, dulu saat kecil sangat lemah dan sering sakit.


Karena itu, aku semakin ingin menjaga Ritsu. Aku ingin mendukung apa pun yang ingin dia lakukan, dan aku ingin memprioritaskan perasaannya.

 

"Adik saya sekarang bercita-cita menjadi pianis. Dan seperti yang Anda duga, impian itu membutuhkan biaya yang sesuai... Tapi saya tetap ingin mendukung impian itu bagaimanapun caranya."

 

"Jadi, pekerjaan pelayan pribadi yang asing ini, kau mau karena demi adikmu?"

 

"Ya—meskipun ada motivasi lain juga, semuanya campur aduk. Misalnya, agar pekerjaan part-time saya bisa mengurangi beban orang tua, atau karena saya ingin mendapat pengalaman sosial. Tapi, yang terbesar tetap demi adik saya."

 

"Adikmu sepenting itu?"

 

"Ya. Bukankah Sayuki-san juga begitu?"

 

"...Entahlah."

 

Aku bertanya balik, tapi jawabannya samar... Hmm, begitu ya.

 

Baiklah, karena sudah begini, aku berinisiatif bertanya, dari topik adikku.

 

"Ngomong-ngomong. Kenapa Seren-san memutuskan ingin tinggal sendiri?"

 

"............"

 

"Saya tahu mungkin ada hal yang tidak bisa Anda katakan, jadi kalau tidak keberatan."

 

Sayuki-san mengerutkan alisnya. Kalau ada alasan serius, aku minta maaf karena sudah bertanya...

 

"Berantem. Setelah adu mulut, dia bilang akan keluar dari rumah ini."


Ah, ternyata hanya pertengkaran biasa.

 

"Sikap pemberontak Seren bukan hal baru, tapi kali ini sangat parah. Dia mengamuk di seluruh rumah utama, merobek semua pintu geser (shoji), bahkan menyusup ke gudang dan memecahkan teko teh milik keluarga."

 

"Wah, kedengarannya dramatis sekali. Seperti monster di film, atau masa pemberontakan level 100..."

 

"Ini di luar topik, tapi teko teh yang dipecahkan itu bernilai XXX juta yen dengan harga sekarang."

 

"----"

 

A-astaga, Nawagami-san? Kalau ini bukan Keluarga Nawagami, rumah itu pasti sudah terbang hancur karena nominal itu, lho!

 

"Karena sudah ada kerugian nyata, kami memutuskan untuk memberikan jarak dengan membiarkannya tinggal sendiri, sesuai keinginannya. Tentu saja, aku tidak bisa menutup mata jika harta benda terus dihancurkan... Baiklah. Monobe!"

 

Mendengar suara Sayuki-san, pelayan senior (Monobe-san) datang dengan cepat.

 

"Setelah menyerahkan jas dan kartu pelayan, antarkan Imashino ke apartemen Seren. Selain itu, selama aku tidak di Jepang, kau yang harus menangani panggilan darurat dari Imashino. Izin dari Kepala Keluarga sudah kudapatkan."

 

"Baik, Nona. Saya mengerti." Monobe-san membungkuk, dan Sayuki-san pun bangkit.

 

Dia juga menatapku lagi sekilas. Meskipun dia menatap dari atas, sama sekali tidak ada nada meremehkan.

 

"Imashino."

 

"Ya."

 

"...Kalau begitu, aku mengandalkanmu."

 

Sret. Saat itu, Sayuki-san menatapku dengan mata yang datar untuk pertama kalinya. Tidak ada emosi yang jelas. Tidak terlihat kekhawatiran pada adik bungsunya, atau ketidakpercayaan yang tidak hilang padaku. Baik atau buruk, dia tenang dan mempertahankan sikapnya yang konsisten.

 

"...Saya akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Saya akan berusaha semaksimal mungkin, semuanya demi Seren-san."

 

Mendengar jawabanku, Sayuki-san mengangguk pelan, lalu pergi mendahului kami.

 

"Kalau begitu, Imashino-sama. Setelah selesai berganti pakaian, mari kita segera berangkat."

 

"Baik...!"

 

Dengan nada yang penuh keanggunan dan ketenangan, Monobe-san tersenyum lembut padaku.

 

Aku merasa lagi, orang seperti ini memang ideal sebagai pelayan...

 

"Ngomong-ngomong. Ada yang membuat saya sedikit penasaran, Imashino-sama. Tas yang itu?"

 

"Ah, ini barang Nona Muda yang tertinggal."

 

Wasabi tentu saja sudah kembali ke Kepala Sekolah—tapi yang ini, harus kuserahkan langsung.

 

 

☆ ★ ✮ ★ ☆

 

 

Setelah diantar dengan mobil, sampailah kami di Setagaya. Di lantai tiga puluh tujuh, tower apartment yang baru dibangun oleh Keluarga Nawagami.

 

Segera setelah menaruh barang-barangku di kamar sendiri, aku berdiri di depan kamera kamar sebelah, kamar Nawagami-san.

 

Setelah verifikasi wajah, dilanjutkan dengan verifikasi sidik jari, monitor menunjukkan pemberitahuan pembukaan kunci tanpa suara—Aku merahasiakan fakta bahwa aku sempat berpikir itu keren seperti markas rahasia.

 

Aku mengecek jam di ponselku sekali lagi.

 

Tepat lima menit lagi pukul dua siang. Karena kuncinya sudah dibuka, Nawagami-san pasti sudah tahu bahwa aku akan datang untuk sapaan pertama pada jam ini.

 

"...Tapi. Ya, memang begitu, tapi aku merasa pakaian ini tidak cocok untukku, ya."

 

Aku tanpa sengaja tersenyum pahit. Setidaknya, aku harus memastikan kerah jas pelayan dan dasiku tidak miring. Ya, sarung tangan hitam juga sudah kupakai... Oke. Semua persiapan sudah selesai.

 

Maka, terakhir—aku memikirkan Nawagami-san.

 

Aku bertekad untuk menjadi iblis penuh perhatian. Sebab, orang yang ingin keluar dari rumah dan tinggal sendiri, pasti tidak ingin menerima 'mata-mata' a.k.a orang menyusahkan yang disebut pelayan pribadi. Apalagi lawannya adalah cowok sekelas, sudah pasti aku akan ditolak.

 

Jadi, karena aku sudah menduga itu sebelumnya... reaksi kemarin benar-benar di luar dugaan.

 

Bukannya melontarkan makian, Nawagami-san malah terlihat positif, dan bahkan di akhir dia panik lalu kabur. Ngomong-ngomong, dia meninggalkan tasnya, apa dia baik-baik saja?

 

"............Yah, sudahlah. Ayo, berangkat."

 

Begitu waktu tiba, segala kekhawatiran aku simpan dalam hati.

 

Mungkin akan ada kesulitan, tapi karena sudah kuputuskan sendiri, aku akan berjuang keras.

 

Dengan tekad yang luar biasa, aku meraih gagang pintu, dan begitu masuk—

 

...Eh, Kotor Banget!

 

Aku hanya bisa berteriak dengan pikiran yang sangat jujur di dalam hati.

 

Karena kamarnya benar-benar berantakan. Seragam dan kaus kaki yang dilempar, kantong belanja, tentu saja, kardus paket menumpuk hampir setinggi langit-langit, dan struk belanja berserakan di lantai.

 

"Dan apa ini, ada kain seperti seprai yang jatuh... Whoa!?"

 

Saat kuambil kain yang tampak seperti sarung bantal itu, dan kulihat lebih dekat, ternyata ada karakter anime yang tercetak di sana.

 

Parahnya, dia hampir telanjang. Hanya memakai bikini yang hampir seperti tali, dan itu pun melorot.

 

............Tapi, ya, itu hobi orang lain, jadi tidak peduli lah? (Menghentikan pikiran)

 

Saat kulihat lagi, aku menyadari ada banyak merchandise game atau anime yang berserakan. Entah kenapa, figur juga dipajang di lantai—Mungkin Nawagami-san sama seperti Miran, dia cukup menyukai hal-hal ini. Meskipun tidak terduga, kalau begitu aku bisa menerimanya.

 

Lagipula, kalau mau memastikan, aku bisa langsung bertanya padanya.

 

"Ehem. Nona Muda? Saya Imashino, ada sedikit hal yang ingin saya tanyakan sebelum membersihkan."

Aku bertanya ke bagian dalam, ingin menghindari kasus membuang barang penting tanpa izin.

 

Tapi, tidak ada jawaban. Tidak terdengar langkah kaki, seolah-olah aku diabaikan sepenuhnya.

 

Karena aku sudah masuk, Nawagami-san seharusnya ada di dalam. Lagipula, karena kesannya aku masuk tanpa izin, aku lebih memilih dia menyambutku. Karena saat ini aku adalah iblis perhatian.

 

"...Tidak, sebaliknya, aku harus langsung menyapanya."

 

Aku berjalan menyusuri koridor, mengetuk pintu yang terhubung ke ruang tamu, lalu membukanya.

 

Aku berasumsi dia tidak menjawab karena sedang pakai earphone mendengarkan musik, atau menonton anime.

 

Saat itu, aku berpikir begitu.

 

"...Hnng... Haaah... Ugh... Kugh... Fuuuh... A, aah..."

 

Nawagami-san ada di sana. Di tengah ruangan yang masih berantakan tidak karuan.

 

Dan—kali ini, aku benar-benar tidak bisa menganggapnya hanya sebagai hobi, dan membereskannya begitu saja.

 

"Ah... Fuheee... ♥♥ Fuuh, fuuh... M-maafkan akuuu! ///"


..................? ???? ???

 

Tas milik Nawagami-san yang kubawa di tangan, jatuh gedebuk ke lantai.

 

Karena Nawagami-san yang ada di sana, jelas-jelas dalam kondisi yang abnormal.

 

Dia hanya mengenakan kamisol, matanya ditutup masker tidur, dan di telinganya terpasang earphone. Kedua tangannya... sepertinya diikat dengan handuk atau semacamnya di belakang, dan gerakannya terbatas.

 

Napasnya terengah-engah. Dia duduk meringkuk di sofa dengan lutut ditekuk dan kedua kaki terbuka lebar, dan yang terpenting, dia kesakitan dalam kenikmatan. Kondisinya sangat lemah, tidak seperti dirinya yang kulihat di sekolah.

 

Namun, meskipun lemah, mulutnya tersenyum puas, seolah dia merasa nyaman...

 

"............! ...Fuhhhhh!!"

 

Seketika, aku menutupi kedua mataku dengan telapak tangan, memproses informasi dengan kecepatan yang melebihi superkomputer dan AI.

 

Dia diperlakukan seperti itu oleh pihak ketiga? ...Tidak mungkin. Keamanan di sini katanya tidak akan membiarkan seekor nyamuk pun lewat, dan kalau iya, dia tidak akan terlihat sepuas itu.

 

Artinya, penampilannya saat ini, termasuk ikatan di pergelangan tangannya, adalah sesuatu yang diinginkan sendiri.

 

Aku lega karena tidak ada unsur kriminal... tapi di sisi lain, kecemasan lain menyerangku.

 

Lalu, kenapa dia melakukan hal seperti itu pada dirinya sendiri?

 

Pasti ada maknanya, dan hanya satu kemungkinan yang terlintas di pikiranku.

 

Hipotesis bahwa Nawagami-san adalah orang yang punya hobi hanyut dalam perlakuan semacam itu...

 

......................

Baiklah, aku akan pulang. Aku akan bilang aku telat, dan Nawagami-san akan marah padaku nanti. Ini yang paling aman, dan aku tidak melihat apa-apa sekarang. Ya, tidak melihat. Kalau diinterpretasikan secara filosofis, apa yang tidak kita sadari itu tidak ada, dan apa yang tidak kita mengerti harus didiamkan.

 

Dipikir-pikir, Nawagami-san memakai earphone dan masker tidur adalah keberuntungan di tengah kesialan. Dia pasti tidak menyadari kehadiranku, dan aku bisa kabur diam-diam. Syukurlah! Tidak, tidak syukurlah!

 

Pokoknya, aku berusaha membalikkan badan sebelum dia menyadariku—tapi terlambat satu langkah.

 

"Ya! Aku yang sebenarnya, seperti yang dibilang, adalah seorang me—♥♥ ...Uh?"

 

Mungkin karena terlalu asyik dengan permainan khayalan, masker tidur yang dia pakai melorot—dan seketika itu juga, mata Nawagami-san yang berkaca-kaca bertemu pandang denganku.

 

"————. N-N-Nyyah! Hah? Eh—!!"

 

Nawagami-san membelalakkan mata, seolah sama sekali tidak mengerti situasi saat ini.

 

Aku merasakan keringat dingin membasahi seluruh tubuhku seperti air terjun.

 

"K-kenapa... di sini... Imashino-kun, k-k-k—"

 

Dia mengulang suku kata yang sama, seolah terjadi error.

 

"...Konnichiwa, Nona Muda. Saya akan segera mulai bersih-bersih, jadi tolong jangan hiraukan saya."

 

"J-jangan hiraukan, mana mungkin aku bisaaa!"

 

Upaya terakhirku untuk bersikap seolah tidak melihat hancur berkeping-keping. Aku tahu itu mustahil!

 

Wajah Nawagami-san memerah padam, dia mulai berkaca-kaca, dan menggigit bibirnya keras-keras.

 

Mungkin ini akan membocorkan rahasianya... tapi sayangnya, aku punya satu tanggung jawab.

 

"...Nona Muda. Meskipun sulit dijawab, saya tetap harus bertanya."

 

Aku melanjutkan, sengaja memalingkan wajah dari Nawagami-san yang berpakaian sangat sensitif.

 

"Apakah kondisi itu (amplop tebal sekali) adalah sesuatu yang Anda inginkan sendiri?"

 

"T-tidak mungkin aku bilang, bodoh, jangan bercanda! Kenapa kamu menanyakan hal seperti i—!"

 

"Saya mengerti, tapi! Jika situasi ini disebabkan oleh pihak jahat, saya punya kewajiban untuk melapor. Tentu saja ini bukan demi Keluarga Nawagami, tapi demi keselamatan Anda!"

 

"Begitu... Jadi, aku harus mengatakannya...? Padahal ini sudah memalukan sekali."

 

Wajahnya pucat, seolah menerima seluruh keputusasaan dunia.

 

Hanya satu kata, itu sudah cukup. Kalau dia mengatakannya, aku tidak perlu melapor.

 

Tapi, itu berarti dia harus mengakui perbuatannya tanpa syarat.

 

Memang benar aku memintanya melakukan pengakuan yang sangat memalukan, tapi, meskipun begitu...

 

"............Aku yang."

 

"Maaf, bisakah Anda ulangi?"

 

"Aku bilang, situasi ini salahku! Ikatan di pergelangan tangan, pakaian ini, semuanya!"

 

"..............................Ng-ngomong-ngomong, untuk tujuan apa?"

 

"I-itu...... Ugh......."

 

Setelah pergumulan panjang lagi, Nawagami-san menjawab:

 

"............Karena, a-aku adalah wanita Dom-M dengan daya khayal yang tinggi..."

 

—Meskipun aku sudah samar-samar merasakannya, aku tetap terdiam.

 

Pikiranku macet, dan sebagai bagian dari pelarian, aku melihat alam semesta tanpa batas di benakku. Konon, struktur otak manusia mirip dengan alam semesta. Mungkin, kenyataan yang kulihat ini adalah sesuatu yang fana, seperti mimpi yang lahir dan hilang di kepala seseorang setiap hari.

 

...Alangkah mudahnya jika ini benar-benar mimpi!

 

"Berpakaian hampir telanjang, mengikat pergelangan tangan, dan menyukai hal itu... Saya tahu ada orang yang memiliki preferensi seperti itu, tetapi itu juga merupakan bukti seseorang adalah mesum yang luar biasa."

 

"Ya, benar, aku mesum yang luar biasa! Kenapa?! Mau cari masalah?!"

 

Kalau itu bisa membuat kami lega, aku mau saja... tapi itu mustahil!

 

"L-lagipula, kenapa Imashino-kun... Bukannya kamu seharusnya datang minggu depan?!"

 

"Hah? Tidak, jadwalku minggu ini..."

 

"Tidak mungkin... Eh, benarkah?"


"Lihat ini."

 

Aku menunjukkan tanggal hari ini di ponselku, dan juga jadwal yang kuterima dari Sayuki-san.

 

Nawagami-san tertegun.

 

"Jangan-jangan, aku yang salah tanggal?"

 

"Ya, begitulah."

 

"Imashino-kun tidak salah sama sekali, dan aku yang memamerkan kelakuan memalukan ini?"

 

"..."

 

Kulit putihnya yang bening kini diwarnai merah darah, bahkan lebih gelap dari sebelumnya, dan akhirnya:

 

"Uuuuhhh, WAAAAAHHH!! Aaaaaah, e-egh! Uuuhh!"

 

Dia menangis tersedu-sedu.

 

"K-kenapa, Imashino-kun... datang tepat waktu! Hiks... egh, WAAAHHH!"

 

Karakter Nawagami-san yang terisak-isak seperti anak kecil benar-benar hancur, dan karena merasa sangat tidak enak, aku mati-matian mencari cara untuk menghapus ingatanku... Tentu saja tidak ada.

 

Tamatlah aku.

 

"...Setidaknya, duga dong! Aku sedang mendengarkan ASMR, berkhayal sedang dilatih oleh kakak JD mesum yang lebih tua, kenapa kamu tidak tahu?!"

 

Mana mungkin aku tahu itu?!

 

"...Nona Muda. Saya tahu Anda bingung, tapi tolong jangan ucapkan hal-hal sensitif."

 

"Jangan mendiskriminasi! Lagipula, jangan tegur anak SMA karena bicara mesum! Padahal Imashino-kun juga pasti memikirkan hal-hal seperti itu sepanjang waktu!"

 

K-kontradiksi dalam satu kalimat... Tunggu, Nawagami-san orang yang seperti itu?

 

"Kenapa kamu tidak pura-pura tidak lihat... Kalau aku di posisi yang sama, dan tidak sengaja lihat Imashino-kun lagi masturbasi... Aku pasti akan diam-diam saja!"

 

Hei, jangan bilang begitu... Lagipula, mana mungkin ada situasi seburuk itu!

 

Lalu, apa yang harus kulakukan? Aduh, apa yang harus kulakukan...

 

Kami tidak punya kemampuan ignore yang kuat untuk menganggap insiden ini tidak pernah terjadi. Di sisi lain, aku tidak bisa mengusulkan kami putus hubungan agar tidak saling melukai lagi. Bolos di hari pertama kerja itu terlalu backstabber kelas kakap.

 

"...Nona Muda, dengarkan saya."

 

"Hiks... Ugh, uuuh............"

 

Satu-satunya kesimpulan yang muncul adalah—menghadapinya secara langsung.

 

"Saya datang ke sini sebagai pelayan pribadi Nona Muda. Seperti yang saya katakan kemarin, benarkan?"

 

"A-aku menyesal sudah mengizinkanmu... Kalau tahu akan jadi begini...!"

 

Jleb. Kata-kata pedas menusuk. Tapi terlepas dari itu, aku mengambil sapu tangan dan menyeka matanya—saat itu dia menurut.


"Jadi, ya, benar. Saya—"

 

Setelah selesai menyeka air matanya, aku menyampaikan perasaanku yang sebenarnya pada Nawagami-san.

 

"Meskipun Nona Muda adalah mesum Dom-M yang tak tertolong, saya bertekad untuk menerima semuanya!"

 

"............(Nawagami terdiam) (Keputusasaan besar) (Wajah seperti akhir dunia)"

 

Karena kata-kata yang jujur itu, dia tampaknya terpaksa menghadapi kenyataan.

 

Dia yang terus menunduk, menatapku dengan mata kosong.

 

"Pulang."

 

"T-tunggu sebentar."

 

"Jangan bohong... Kamu pasti jijik, kan...!"

 

Sayangnya, sama sekali tidak tersampaikan... Sebaliknya, dia sepertinya jatuh ke sisi gelap. Mata yang basah itu bercampur aduk antara kesedihan, keputusasaan, dan yang paling penting, kemarahan padaku.

 

"Aku yang salah... Aku tidak akan percaya siapa pun... Karena, semuanya sudah berakhir!"

 

"Nona Muda, setidaknya ikatan di pergelangan tangan, saya bantu lepaskan."

 

"Jangan sentuh!"

 

"...M-maafkan sa—"

 

"Terburuk, terburuk, terburuk! Aaaah!"

 

Setelah itu, Nawagami-san—seperti saat dia mengamuk di rumah utama, dia sangat brutal.

 

Karena tangannya terikat, dia menendang barang-barang dengan kakinya, menghentakkan kaki karena kesal, dan berakhir dengan menabrak dinding. Tidak ada celah bagiku untuk ikut campur.

 

Semuanya salahku. Dia benar, aku seharusnya tidak telat. Meskipun itu mustahil, tapi memikirkan rasa malunya, aku hanya bisa merasa bersalah.

 

Dia boleh memakiku sepuasnya. Itu memang pantas kudapatkan, dan aku akan menerima semuanya.

 

Seharusnya begitu, tapi—

 

"Lebih baik aku mati saja!"

 

Kata-kata itu entah kenapa membuat hatiku bergetar, dan aku tanpa sengaja melontarkan sanggahan yang seharusnya tidak kulakukan.

 

"Nona Muda. Tolong jangan katakan hal seperti itu."

 

"Hah...? Siapa yang menyebabkan aku dipermalukan seperti ini... Kalau kamu tidak ada, aku pasti bisa menjalani hidup dengan tenang...! Kalau saja lawanku bukan kamu...!"

 

Meskipun dia menatapku dengan pandangan paling membenci, aku menggelengkan kepala lebar-lebar.

 

"Tolong jangan bilang mati, meskipun hanya bercanda... Saya mohon, jangan katakan itu."

 

"Ugh." Ketika aku menatapnya dengan wajah serius, dia terlihat sedikit bersalah...

 

"...J-jangan ceramahi aku, dasar pelayan bayaran! Kamu pikir kamu siapa?!"

 

Tadinya dia melampiaskan pada benda, tapi target kemarahannya sepenuhnya bergeser padaku.

 

"Lagipula, peranmu itu kan hanya pekerjaan, kan? Jadi, kenapa kamu bersikap seolah-olah kamu peduli... Itu membuatku berharap, dan malah membuatku semakin marah!"

 

"Nona Muda..."

 

"Aneh, kenapa kamu bisa bicara setenang ini! Padahal kamu sudah lihat diriku yang seperti itu. Kamu pasti jijik dan menahan diri... Menyebalkan, marah, kesal... Aku benar-benar tidak ingin kamu melihatku dalam kondisi seperti ini...! Pulang saja!"

 

Kata-kata teguran itu menumpuk di wadah hatiku. Dituangkan tanpa ampun.

 

"Padahal Imashino-kun pasti menganggapku orang lain, dan tidak peduli, kan?! Kalau begitu, tunjukkan sikap itu! Jangan bersikap baik padaku!"

 

Tapi, aku bertekad untuk bertahan. Seberapa pun dia memakiku, itu salahku, dan aku punya jabatan. Sebagai pelayan pribadinya, aku tidak boleh menyerah pada emosi sesaat.

 

Seharusnya aku berpikir begitu...

 

"Tidak ada yang benar-benar peduli padaku... Bahkan keluargaku saja begitu, Imashino-kun juga sama! Kamu pasti tidak peduli padaku, kan!!"

 

Kata-katanya yang itu, tepat sekali—batas kesabaranku.

 

"Diam sebentar—"

 

"..................Eh?"

 

Aku melangkah maju menerobos kamar yang berantakan, dan duduk di sofa terdekat.

Nawagami-san, dengan penampilan yang tidak senonoh, terlihat tidak mengerti apa yang baru saja kukatakan.

 

"Jangan bersikap baik—jadi, aku harus bersikap dingin? Itu jawaban yang benar?"

 

"Imashino-kun...?"

 

"Katanya kau suka diperlakukan kasar—katakan lebih awal dong, terlambat!"

 

Aku tidak tahu seperti apa wajahku saat ini.

 

Lagipula, aku tidak seharusnya mengatakan ini... tapi emosiku meluap tak tertahankan.

 

"Lagipula—kenapa kau ketahuan mesum, itu jelas salahmu. Aku sudah menepati tanggal dan waktu, aku juga mengetuk pintu saat masuk ke ruang tamu. Apalagi yang harus kulakukan?"

 

Aku menggenggam dan membuka masker tidur yang kupegang tanpa sadar.

 

Dia yang tadinya marah besar padaku, sekarang diam tak bersuara. Mungkin dia terkejut. Katanya kalau orang lain lebih marah dari kita, kita akan mendadak tenang.

 

"Hei. Dalam situasi seperti ini, kenapa kau bisa berbalik menyalahkan? Itu aneh, kan—Dan bilang ingin mati? —Jangan bercanda! Hal seperti ini sama sekali tidak penting!"

 

Saat itu, secara tenggorokan dan mental, aku sudah kehabisan napas.

 

Meskipun begitu, aku memaksakan diri untuk mengatakan hal yang paling ingin kukatakan.

 

"Aku juga tidak menganggapmu orang lain. Aku dan kau memang orang lain, tapi bagiku, kau penting sebagai orang lain—Makanya, jangan pernah lagi bicara putus asa di depanku. Mengerti, kau paham—"


Aku menyelesaikan semua kalimat perintah yang tidak punya kekuatan memaksa sama sekali.

 

Semua yang ingin kukatakan sudah keluar, jadi kepalaku menjadi kosong—

 

Brak. Seperti tombol yang berpindah, aku tiba-tiba sadar.

 

"—...Ah... Nawagami-san."

 

"..."

 

"T-tidak, Nona... Ehem, tadi itu tidak sengaja."

 

Aku menutupi kepalaku dengan kedua tangan yang gemetar, dan teriakan tanpa kata-kata pun muncul.

 

..............A-apa yang baru saja kukatakan!!

 

Aku tidak seharusnya mengatakan hal-hal yang akan menyakiti perasaannya dengan nada seperti itu. Aku juga punya tanggung jawab sebagai pelayan pribadi, dan meluapkan emosi dengan omelan itu tidak baik sebagai manusia.

 

"A-aku keterlaluan... Aku mengatakan hal sekejam itu padamu... Maaf. Sungguh, maaf!"

 

Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Dan yang terpenting, aku tidak berpikir Nawagami-san akan memaafkanku. Mana mungkin dia mau mempertahankan orang yang langsung mengeluarkan kata-kata kasar di hari pertama.

 

"A-aku akan bilang pada Sayuki-san sendiri... Semuanya salahku...!"

 

Aku mencoba melarikan diri dari ruang tamu, memalingkan muka dari wajahnya dengan goyah...

 

"......Aduh, sakit!"

 

Tiba-tiba kakiku tersangkut dan aku jatuh.

 

Tentu saja, yang melakukannya adalah Nawagami-san yang duduk di lantai kayu.

 

"Ah... Ya, aku tahu, aku akan menebusnya. Kamu boleh menghajarku..."

 

Meskipun terbaring di lantai, aku sudah siap.

 

...Tapi, kesimpulannya, itu tidak terjadi.

 

Nawagami-san, yang tangannya masih terikat di belakang, merangkak mendekatiku.

 

"...Eh. A-anu, Nawagami-san...?"

 

"............"

 

Meskipun didera rasa bersalah, aku mengintip ekspresinya.

 

Nawagami-san saat ini, bagaimana ya... terlihat meleleh. Matanya merah karena menangis dan marah, tapi ekspresi dan bahunya sudah rileks. Suasananya agak berbeda dari tenang, tapi lebih seperti anak burung yang manja pada induknya, terlihat lemah tapi sangat ingin diperhatikan. Ya, seperti itulah.

 

"Imashino-kun..."

 

"Y-ya."

 

"Tidak... Tuanku... hnnng~~♥♥♥"

 

Aku diliputi kecemasan. Sementara Nawagami-san terlihat mempesona, dan dia berkata:

 

"Aku minta maaf karena tadi menyuruhmu pulang, lupakan saja ///"

 

"..."


"Jadi... mulai hari ini dan seterusnya, mohon bimbingannya. ♥♥"

 

".....................................S-sama-sama, mohon bimbingannya."

 

Kenapa aku langsung menjawab, ya, boleh? ...Aku sendiri tidak begitu yakin.

 

Ya, satu-satunya hal yang bisa kupahami di kepalaku yang kacau ini adalah.

 

Nawagami-san, yang dikenal berkarakter Dom-S, ternyata... sebenarnya adalah Dom-M.
















Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !