Nawagami-san ha Shibararetai V1 EPS 1

N-Chan
0

Episode 1: Nawagami-san Seorang Sadistic Penyendiri


Waktu sudah menunjukkan sore hari di bulan Mei. Begitu bel berbunyi, kelas langsung riuh rendah.

 

Di tengah suasana sore yang akrab itu, terdengar suara yang juga sama-sama akrab, yaitu suara Yuika.

 

"Nawagami~! Nawagami, Seren! ...Hehe. To the point aja, kamu masuk OSIS ya!"

 

Saat kulihat, ada seorang gadis—Atori Yuika—dengan rambut half-twin berwarna violet, gigi gingsul, dan energi yang jadi daya tariknya, berdiri berkacak pinggang sambil mengajak (merekomendasikan) seseorang secara tiba-tiba.

 

Ajakannya mendadak sekali, kali ini dia iseng mau apa lagi...? Tunggu sebentar.

 

Yuika tadi bicara pada siapa?

 

"Y-Yuika bodoh!" "Kenapa harus Nawagami-san?!" "Keberanian dan nekat itu beda lho..."

 

"Tenang, aku akan jelaskan dengan benar! Nah, aku baru tahu nih, ternyata mantan ketua OSIS di sekolah kita itu pada dasarnya dapat rekomendasi untuk masuk universitas tanpa tes. Jadi aku mikir, 'Kalau gak perlu belajar, aku seriusan harus ngejar itu!' Tapi kalau begitu, aku kan butuh prestasi, ya kan?"

 

"...Motifnya tidak murni!" "Anak kecil yang berpikir pendek!" "Tapi di situlah lucunya Yui-chan sih."

 

Berbeda dengan teman-teman di sekitar yang mulai berbisik dengan nada pedas, Yuika terus bicara dengan suara keras.




Parahnya, sejauh yang kudengar, inti pembicaraannya juga tidak jelas...?

 

"Terus, aku mikir. Kalau mau bikin prestasi yang jelas, kan tinggal mereformasi anak bermasalah yang gak ketolong kayak kamu, 'kan? Fufufu, gimana? Ide bagus, kan?"

 

"..." "..." "..."

 

Seperti meteorit yang menyebabkan zaman es, usulan itu membekukan seluruh kelas seketika.

 

Mungkin semua orang berpikir hal yang sama denganku—kenapa dia mengatakannya langsung seperti itu?

 

"Sering telat, tidur di kelas, tugas tidak dikerjakan. Sikapnya buruk, tidak ramah, kalau diajak bicara diacuhkan, bahkan bolos acara sekolah. Intinya, dia tipikal berandal yang langka belakangan ini... Tapi tenang. Kalau kamu berusaha bareng aku di OSIS, kamu pasti bisa keluar dari kondisi buruk itu! Mungkin!"

 

Masih berani bilang begitu! Kalau memang sesemangat itu, kenapa tidak bilang 'pasti' saja?

 

"Lagipula, kenapa sih kamu selalu terlihat cemberut? Makanya kamu tidak punya teman, kan? Padahal kamu cantik banget, kenapa tidak senyum sedikit? Nih, 'Niiiii'!"

 

Sepertinya kamus Yuika tidak punya halaman untuk basa-basi, dia terus melontarkan ucapan yang terlalu jujur. Sejujurnya, mentalitasnya yang gas pol itu kuharap dia gunakan di kesempatan lain.

 

"Oh, aku tahu. Gimana kalau aku jadi temanmu, dan sebagai gantinya Nawagami masuk OSIS? ...Wow, jangan-jangan aku jenius! Dengan begini, kita berdua untung, dan kalau sudah diputuskan..."

 

Krek. Terdengar bunyi kaki kursi diseret, dan setelah itu—

 

Nawagami Seren berdiri dengan ekspresi yang membeku, memancarkan aura tekanan yang luar biasa.

 

"Fufun. Sepertinya kamu setuju... K-fuuhin!"

 

Dia mengeluarkan suara seperti hewan kecil yang tertiup kipas angin. Itulah perumpamaan yang pas.

 

Kulihat, Nawagami-san menempelkan telapak tangan kanannya plak di atas kepala Yuika, dan dengan tangan kirinya, dia mencubit dan menarik... menggelayut di pipi Yuika.

 

"Mugugugu... k-kenafa tiba-tifa beginiii...!"

 

Dia mencengkeram pipi Yuika hingga kenyal, membungkamnya agar tidak bisa bicara lagi.

 

Giliran Nawagami yang bicara, suaranya yang indah dan kuat menggema.

 

"Semuanya menjengkelkan. Mau menjadikan perbaikan orang lain sebagai jasamu sendiri itu sangat rendahan, dan aku kesal karena kamu mengasihaniku sembarangan. Kamu pikir kamu siapa? Mau kuhajar?"

 

"Mumu-mu, mumu~... Fweuhn... (nangis)"

 

"Gadis bodoh sepertimu, aku yang akan mendidiknya... Lihat, hanya dengan sedikit perlawanan, kamu langsung menyerah, kan? Kamu hanyalah wanita yang kerdil, bodoh, dan kecil tapi suaranya besar. Pelajari itu. Tanamkan itu di tubuhmu."

 

"J-jangan bicala shayang keche... Lepaskan akuuu... (nangis)"

 

Karena perbedaan fisik, Yuika yang pipinya dimain-mainkan seperti adonan itu hampir tidak bisa melawan.

 

Melihat penderitaan Yuika, teman-teman sekelas mendekatiku.

 

"Giliranmu, Seishirou." "Selamatkan bawahanmu sebagai Ketua OSIS."


"Sebelum Atori 'dipahamkan' sampai ke tulang!"

 

"Padahal Yuika yang salah sih." "Kalau begitu terus, Yui-chan bisa 'dipahamkan' sampai ke sumsum tulang!"

 

"Siap, aku akan ke sana... Omong-omong, 'dipahamkan' itu maksudnya apa?"

 

Saat kutanya, mereka menjawab suruh cari tahu sendiri nanti. Mungkin itu istilah gaul atau semacamnya.

 

Bagaimanapun juga, aku memutuskan untuk ikut campur—meskipun itu lancang. Aku perlahan mendekati Nawagami-san dan Yuika yang sedang berkonflik, dan aku ditangkap oleh dua pasang mata: tatapan mengancam dan tatapan memohon.

 

"Nawagami-san. Bisakah Kamu memaafkannya sampai di sini?"

 

Sambil tetap menahan pipi Yuika dengan satu tangan, sikap Nawagami-san tetap tajam dan menusuk.

 

"Ada perlu apa? Seperti yang kau lihat, aku sedang sibuk menghukum... seperti ini, lho!"

 

"Hemumumu!"

 

"Fffft."

 

"Kamu ketawa?"

 

"T-tidak ketawa, tidak ketawa, perasaanmu saja!"

 

Untuk menutupi cengiran yang muncul karena timing-nya yang aneh, aku langsung ke intinya.

 

"Maaf, aku benar-benar tidak bisa mengabaikannya. Ya, aku tahu ini ikut campur."

 

"Oh ya? Kalau tahu ikut campur tapi tetap mengganggu, itu lebih buruk. Atau, apa kamu punya tujuan lain?"

 

Hah. Setelah tawa kering, kini Nawagami-san menyerangku dengan kata-kata sinis.

 

"Rencananya mau menyelamatkan gadis ini dariku, lalu membuatnya jatuh cinta padamu? Cih, match pump murahan. Orang yang paling serius dan murid teladan sepertimu, seharusnya bisa menang dengan cara jujur dengan mudah."

 

"Kalau itu benar, aku pasti sudah membuat Yuika jatuh cinta padaku seratus kali."

 

Baru kusadari, aku memang sering membantunya... Setelah itu, aku teringat tujuan awalku.

 

"Yuika itu... dia sangat polos. Mungkin ada cara lain untuk menyampaikannya, tapi dia terlalu jujur tentang kepentingannya sendiri... Maaf. Ini bukan urusan Nawagami-san."

 

"Ya, benar. Itu bukan urusanku."

 

"Ya. Jadi, tentu saja aku tidak bermaksud meminta Kamu memaafkannya secara gratis. Kemarahan yang Kamu rasakan, Kamu bisa melampiaskannya padaku sebanyak yang Kamu mau. Karena, kan, aku Ketua OSIS. Aku juga merasa sedikit bertanggung jawab atas kurangnya koordinasi informasi dengan Yuika."

 

"Sebagai gantinya, pipimu boleh dimainkan?"

 

"Kalau itu bisa meredakan perasaanmu, boleh saja."

 

Sambil mengatakannya, aku sendiri berpikir bahwa alasanku itu terlalu dibuat-buat.

 

"..." "Tolong, Nawagami-san." "...Haaah. Bodoh sekali, tidak penting."

 

Namun, setelah mendengar permintaanku, Nawagami-san terlihat sangat kesal, tapi dia menurunkan senjatanya.

 

"Fuhin!" Yuika dilepaskan dengan gerakan menyentak, jadi dia jatuh ke lantai.

 

"Hiks, Seishirou! ...Kamu lihat kan, dia jahat banget, tiba-tiba mencubit pipiku!"

 

"Aku dengarkan nanti, tunggu sebentar. Terima kasih, dan maaf sekali lagi."

 

Aku menyembunyikan Yuika yang ternyata masih cukup bersemangat di belakangku, lalu aku membungkuk dalam-dalam. Untuk memohon ampunan dari Nawagami-san, yang sadistis, kejam, dan selalu menyendiri.

 

"Kenapa," "...?" "Kenapa kamu... kalau milikku... kenapa, bukan aku yang kamu..."

 

Kemudian. Nawagami-san menatap lantai kelas, menggumamkan sesuatu.




"Kalau ada keluhan atau apa pun, katakan saja tanpa ragu... Ah."

 

Dia buru-buru mengambil tasnya, seolah tidak mau membuang waktu.

 

Namun. Saat dia melangkah melewatinya, dengan suara kecil seperti tadi, dia berkata:

 

"Pengkhianat."

 

Ekspresi yang dia tunjukkan terakhir kalinya tidak hanya menunjukkan ketidakpuasan dan kemarahan, tapi juga menyimpan makna tertentu.


Pokoknya, Nawagami-san berkata begitu lalu buru-buru meninggalkan kelas.

 

"Hiks, makasih Seishirou... Gara-gara mau jadi ketua OSIS, aku dapat masalah besar..."

 

"Niatnya sendiri sih, tidak masalah."

 

Mendengar kata-kata Yuika yang lemas, teman-teman sekelas yang lain ikut nimbrung.

 

"Keren, Ketua memang hebat." "Perdamaian dipertahankan berkat Imashino." "Aku sih untung, bisa lihat Nawagami yang sadis dari dekat..." "Kamu gila." "Jangan buka fetish di keramaian woi."

 

"Tapi jujur, ada keinginan buat 'dihajar' juga ya." "Aku juga!" "Loh, kok aku jadi minoritas?"

 

"Lagipula, kamu telat! Pertolongannya telat banget!"

 

...Eh?

 

"Yuika, padahal kamu sudah ditolong lho." "Padahal itu sudah terbilang cepat lho, Yui-chan..."

 

Yuika mengabaikan teguran dari kedua teman perempuannya, dan malah menyikut pinggangku. Jangan begitu dong.

"Imashino Seishirou yang biasanya, pasti sudah lebih cepat turun tangan! Lagipula, kamu tadi ketawa lihat aku dihajar... Aku tahu aku salah, tapi tetap saja keterlaluan!"

 

"M-maaf. Aku tidak menertawakanmu kok, cuma agak geli karena 'pipi manusia bisa melar sejauh itu...'"

 

"Sama aja, tetap ketawa!"

 

"Makanya jangan bikin masalah duluan." "Gimana coba kalau tidak ada Imashino?"

 

"...Tapi jujur, scene di mana Yuika dihukum sama Nawagami-san itu bagus banget. Benar tidak?"

 

"J-jangan minta persetujuanku!" "Wahai saudara sejiwa, aku mengerti perasaanmu." "Aku tidak tanya lu."

 

Mengabaikan orang-orang yang mulai heboh aneh, aku menyampaikan sedikit isi hatiku pada Yuika.

 

"Tapi... ya. Mungkin hari ini aku memang sedikit menahan diri secara perasaan."

 

"Tidak peduli! Sebagai hukuman... temani aku ke mesin penjual otomatis!"

 

"Iya, iya."

 

"Nanti aku traktir satu!"

 

"Lho, kalau begitu, itu bukan hukuman, tapi malah terima kasih, dong?"

 

Yuika menggembungkan pipinya yang tadi habis dimain-mainkan, tapi sejujurnya, dia tepat sasaran.

 

Biasanya, aku pasti sudah langsung ikut campur sebelum disuruh orang lain.

Alasan aku tidak melakukannya adalah... karena ada suatu hal yang membuatku tidak boleh merusak mood Nawagami-san.

 

 

 

 

Akademi Swasta Tourin, tempat kami bersekolah, di mata masyarakat termasuk sekolah bergengsi.

 

Meskipun sulit memberikan bukti langsung, isi Wiki sekolah ini sangat banyak. Di daftar alumni terkenal, berjejer nama-nama aktor, atlet, politisi, dan lain-lain.

 

Dan sejauh yang kuketahui, banyak sekali siswa dari keluarga terpandang atau kaya raya. Meskipun aku sendiri merasa begitu karena aku cenderung dari kalangan biasa.

 

Nah. Nawagami-san, yang pindah ke SMA ini, sangat menonjol dalam berbagai hal.

 

Yang paling jelas mungkin adalah penampilannya. Rok yang agak pendek, tindik, aksesori seperti choker, dan yang paling penting, tatapan tajam yang diarahkan kepada siapa saja tanpa pandang bulu.

 

Dia selalu memasang tameng gal yang terlihat menyeramkan, yang membuat komunikasi sekecil apa pun terasa tidak diizinkan.

 

Singkatnya. Ada aura yang jelas bahwa tidak boleh berbicara padanya tanpa hati-hati—

 

Sore hari setelah insiden itu. Lokasinya, ruang OSIS.

 

Begitu aku masuk, yang menyapaku adalah adik kelasku di OSIS yang sudah datang lebih dulu—Hachisuka Miran.

 

"Selamat sore, Seishirou-senpai. Hari ini Anda terlihat lebih segar dan cool dari biasanya, lho "


Rambut medium berwarna beige, ekspresi yang penuh keramahan, dan kesan anggun.

 

Karena dipuji secara blak-blakan olehnya, aku tanpa sadar bertanya:

 

"...Hei. Jangan-jangan, ada masalah di Miran juga?"

 

"Hah? Tidak ada, kok? Ah, tapi, ada hal yang ingin saya konsultasikan!"

 

Dia melanjutkan dengan gerakan imut ala adik kelas yang ada di buku pelajaran, menatapku dengan mata mendongak.

 

"Jujur saja, saya ingin pulang lebih awal hari ini~ Ah, tunggu, satu orang lagi mana?"

 

Miran berkedip-kedip. Aku duduk di kursiku sambil memegang sekotak susu kedelai yang tadi dibelikan Yuika.

 

"Kalau Yuika, dia izin hari ini. Dia diajak temannya yang dia temui di mesin otomatis tadi untuk makan Malatang, katanya. Aku yang menyuruhnya pergi, karena sayang kalau dilewatkan."

 

"Eh. Tapi, Atori-senpai belum menyelesaikan tugasnya, kan?"

 

"Itu hanya pembuatan dokumen biasa, aku saja yang mengerjakannya."

 

"................"

 

Keheningan yang tiba-tiba. Kulihat ke luar, jendela terbuka setengah, dan tirai bergoyang pelan.

 

"Cihhh!!"

 

...Sebuah decakan lidah yang sangat nyaring, seperti bisa dijadikan sound effect. Tapi kapan akan dipakai?

 

Miran, yang sepertinya rencananya gagal, memijat dahinya dan menghela napas yang berlebihan.


Suasana polos dan ingin dilindungi yang dia tunjukkan tadi benar-benar menghilang.

 

"Sungguh, kesopanan yang terlalu rapi dari Seishirou-senpai hari ini benar-benar menyebalkan..."




...Balik badanmu itu terlalu kentara, tahu tidak?

 

"Dan lagi. Saya tegaskan, anak nakal itu bersikap sembarangan karena Seishirou-senpai terlalu memanjakannya, ya? Demi kesehatan mental saya, tolong 'pahamkan' dia sekali saja dengan serius!"

 

"Orang lain juga bilang, tapi, 'memahamkan' itu intinya menyuruhku menceramahinya?"

 

"Jelas salah. Dan tolong, jangan minta adik kelas yang imut menjelaskan kata yang mesum itu!"

 

"Astaga, ternyata itu punya makna mesum?!" "Sebenarnya ada beberapa teori sih,"

 

Kepada diriku yang sedikit merasa dikhianati, Miran mulai bicara dengan nada aslinya yang lebih santai.

 

"Saya berencana pulang cepat hari ini, foto acrylic stand karakter favorit saya di collaboration cafe, lalu posting di SNS 'XX, lagi di collab cafe nih'... Tapi semuanya gagal total."

 

"Aku tidak begitu paham. Tapi kalau gitu, kamu boleh pulang kok. Saat ini kita sedang tidak sibuk."

 

"...Kalau saya pulang, Seishirou-senpai akan kerja sendirian, itu kan tidak enak dilihat."

 

"Tidak masalah kok. Mengerjakan sesuatu sendirian dalam diam juga tidak buruk."

 

"Meskipun Seishirou-senpai tidak masalah, saya yang masalah! Coba pikirkan, orang di sekitar lihat, mereka akan mikir, 'Kenapa cuma sendiri?' Kan bisa jadi berlanjut, 'Jangan-jangan Miran-chan bolos?' Dan akibatnya, 'wajah' yang susah payah saya bangun—yaitu 'gadis imut yang baik hati, rajin, bahkan punya pemahaman tentang otaku dan subculture'—bisa retak!"

 

Aku selalu heran, kenapa dia harus membuat 'topeng' yang begitu sulit dipertahankan...

 

"Padahal aku lebih nyaman ngobrol dengan Miran yang asli lho."

 

"Hah, terima kasih. Tapi percuma saja meyakinkanku. Saya akan terus bersembunyi di balik topeng, karena dengan begini saya dipuja-puja dan rasanya enak! Rasa percaya diri saya juga meledak-ledak!"

 

"O-oke... Ya. Kalau kamu sudah bicara sejauh itu, baiklah, aku minta kamu tetap di sini."

 

Miran, yang menutup pidatonya dengan bangga, menjatuhkan dirinya di kursi. Dia juga memakai kacamata blue light cut dan mulai menonton anime di ponselnya.

 

"Tapi saya tidak akan membantu pekerjaan, ya. Itu kan pekerjaan Atori-senpai."

 

"Hm, tentu saja."

 

"..." "..." "..."

 

"Nee, Miran."

 

"Ada apa?"

 

Baru mulai menyentuh komputer, aku iseng mengajukan topik yang sedang kupikirkan.

 

"Kenal Nawagami-san?"

 

"Ya kenal lah. Dia kan terkenal, dalam artian buruk."

 

"Ya, soal itu. Gimana caranya biar aku bisa akrab dengannya?"

 

...Saat bicara, aku sempat melihat reaksi Miran.

 

Dia—mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatapku dengan wajah seperti berkata, "Aku kecewa."

 

"Saya kecewa. Akhirnya Seishirou-senpai juga mulai genit."

 

"Ah, penjelasanku kurang. Bukan begitu, bukan soal itu."

 

"Ya, ya. Nawagami-senpai kan penampilannya bagus? Meskipun terkesan gyaru, tapi ada keanggunan misterius, dan selain itu, dada dan bokongnya besar."

 

Jangan abaikan yang lain dong. Lagipula, aku juga mau membela diri.

 

"Jadi, Anda memang suka wanita yang montok. Haaah, dasar cowok SMA di dunia nyata."

 

"Tergantung orangnya sih,"

 

"Kalau Seishirou-senpai?"

 

"Aku suka."

 

"Cihh!!"

 

Padahal aku jawab jujur!

 

"Ya sudah, kalau mau PDKT, pukulan saja dia dengan spec kebanggaan Anda! Selalu peringkat satu di ujian. Pernah diundang tim youth J-League, dan punya kartu nama perwakilan agensi artis ternama, kan? Hebat ya, pasti bisa! Semangat! (Nada datar)"

 

Untuk sekadar menyindir, kenapa dia tahu detailku sebanyak itu...? Aku sedikit penasaran.

 

"Aku mengerti, Miran. Kalau kamu ingat semua informasi pribadiku, kamu pasti ingat siapa orang yang paling penting bagiku, kan?"

 

"...Hah! M-maaf, benar juga, saya ingat! Sampai di situ saja!"


Untuk menyanggah lagi, aku mengambil ponselku dan menunjukkan wallpaper layar kuncinya

 

Di sana, ada seorang gadis yang anggun seperti bunga, mengenakan gaun sambil bermain piano.

 

Makhluk yang paling cantik, paling imut di dunia, dan yang tak tergantikan bagiku—

 

"Ya, Rittan lho. Imashino Ritsu, adikku yang manis seperti malaikat. Tidak mungkin dia tidak imut. Kalau diibaratkan masakan, dia itu sushi atau yakiniku, dan kalau diibaratkan kartu, dia adalah Joker bagi para miliarder—Aku bisa belajar keras juga karena Rittan, dan aku bersungguh-sungguh di sepak bola karena kupikir sebagai kakak, aku akan lebih dikagumi kalau aku jago olahraga. Sampai sini kamu mengerti? Aku masih punya tugas sebagai kakak. Jadi, setidaknya saat ini, pacar itu..."

 

Aku bicara dengan penuh semangat, dan saat sadar, sudah sekitar lima belas menit berlalu.

 

"...Bagaimana perasaan adik Anda tentang dijadikan wallpaper layar kunci?"

 

"Tentu saja dia bilang, 'Jijik banget, jangan sampai ada orang yang lihat!'"

 

"J-jadi dia mengizinkan... Tidak, pokoknya saya minta maaf. Seishirou-senpai yang sangat menyayangi adiknya, tentu saja tidak akan membuang waktu untuk pacaran..."

 

Miran yang entah kenapa terlihat lesu, mengoleskan lip balm ke bibirnya, lalu berkata:

 

"Tapi tetap saja, berteman baik dengan Nawagami-senpai itu mustahil."

 

"Sesulit itu?"

 

"Ya. Mustahil, sama seperti orang awam mencoba menang satu ronde dari atlet fighting game profesional."

 

Berarti benar-benar tidak mungkin dong...

 

Aku menunjukkan wajah bingung pada tingkat kesulitannya. Sementara itu, Miran mulai menganalisis Nawagami-san.

 

"Dia terlalu berlebihan. Padahal intinya wanita tipe seperti itu harus menunjukkan sisi lembut, tapi Nawagami-senpai salah porsi. Mau disebut tsundere, dia terlalu tidak dere. Mau disebut gyaru yang baik pada otaku, dia terlalu tidak baik. Astaga, dia ini karakter heroine dari generasi ke berapa sih. Seishirou-senpai mungkin tidak tahu, tapi sekarang heroine yang punya affection level tinggi pada protagonis sejak awal yang..."

 

Miran suka anime dan manga, jadi dia sering melontarkan istilah yang tidak kupahami tanpa peduli aku mengerti atau tidak. Ini mungkin salah satunya, dan dia tiba-tiba menunjukkan kemarahan yang tidak jelas.

 

"Intinya, dia terlalu menakutkan, itu maksudku."

 

"Ya, kisah heroiknya banyak sekali."

 

Ada rumor dia menghajar cowok dari sekolah lain, menampar anak kecil di stasiun... Rumor-rumor kekerasan.

 

"Kan? Lagipula, meskipun dia pribadi tidak bermasalah, asal-usul keluarganya gila."

 

Asal-usul—Keluarga Nawagami, keluarga Nawagami-san, adalah salah satu keluarga terkemuka di Jepang. Konon, awalnya mereka pedagang kecil di akhir periode Edo, tapi kini berkembang menjadi kelompok perusahaan super besar. Mereka juga punya koneksi kuat dengan dunia politik dan ekonomi. Ketika aku coba cari tahu sedikit, semua informasi yang muncul bikin merinding.

 

"Saya sendiri sih lumayan dianggap 'nona muda', tapi Nawagami beda dimensi. Dia ultra-kaya sampai-sampai aliansi orang kaya di sekolah ini pun tidak bisa menandinginya. Bahkan ada yang bilang, kalau kamu menyentuh 'sisik terbalik' Nawagami, kamu tidak akan bisa hidup di Jepang. Kalau diibaratkan, dia selevel dengan keluarga pembunuh di gunung, atau salah satu dari Tiga Keluarga Besar yang menguasai ilmu sihir!"

 

"T-tentu saja tidak sebrutal itu, Miran."

 

Aku kebetulan mengerti istilah yang dia sebutkan kali ini, dan sepertinya Miran memang sengaja membiarkanku mengerti.

 

"...Sudah mengerti betapa tingginya tingkat kesulitan Nawagami-senpai, kan?"

 

Mata Miran di balik kacamatanya menjadi sedikit lebih serius.

 

"Kalau bukan karena perasaan cinta, apa Anda ingin menolongnya karena dia menyendiri? ...Itu bukan hal yang harus dipikirkan Seishirou-senpai, jadi tidak perlu ikut campur, kan?"

 

"..."

 

"Sudah menyerah?"

 

"Mungkin ada satu hal yang kamu salah pahami."

 

Karena dia bicara begini, aku juga harus menjawab dengan sungguh-sungguh seperti Miran.

 

"Kali ini, aku yang ingin melakukannya. Aku ingin akrab dengan Nawagami-san."

 

"...Oh, begitu. Kalau gitu, coba saja. Aku tidak mau tahu lagi."

 

Miran menghela napas yang dibuat-buat, seolah berkata, ya ampun.

Sementara aku, sambil melihat data anggaran klub di layar komputer, menegaskan kembali tekadku.

Hanya sedikit saja. Demi masa depan kami berdua, aku ingin berteman baik dengannya—

 

"...Imashino-senpai!"

 

"Tolong kami!"

 

"Kalau begini terus, pasti akan terjadi hal yang buruk!"

 

Tiba-tiba pintu geser terbuka dan anak-anak SMP, terutama yang terlihat seperti kelas satu, berbondong-bondong masuk.

 

"Wah, kaget banget."

 

"Ah, maaf. Yuika-senpai pernah bilang kalau ketuk pintu itu tidak perlu."

 

"...Oh, begitu, saya mengerti (Tentu saja perlu! Bahkan untuk ke toilet saja perlu!)"

 

Aku merasa mendengar suara hatinya yang tertekan oleh topengnya. T-tidak, itu cuma perasaanku, kan?

 

"Lalu, ada masalah apa? Kalian terlihat sangat cemas."

 

Mendengar pertanyaan Miran, anak-anak SMP itu saling melirik diam-diam, lalu:

 

"I-itu, Wasabi..."

 

"Wasabi sedang diganggu oleh Nawagami-senpai!"

 

"..." "..." "Maaf, bisa tolong jagain ruangan sebentar?"

 

"Ya! Tentu saja, lagian hari ini saya lagi santai! "

 

Aku memberi isyarat 'maaf' dengan satu tangan pada Miran yang tersenyum seperti hasil copy-paste.

 

 

Wasabi adalah nama anjing milik Kepala Sekolah. Jenisnya Chow Chow, jantan. Dia sering diajak jalan-jalan di sekitar kampus dan cukup populer di kalangan beberapa siswa sebagai maskot.

 

"Nee, Wasabi~, dan Nawagami-san juga, kalau ada tolong jawab~!"

 

Tempat terakhir ia terlihat adalah di area sekolah, di sekitar taman kecil yang cocok untuk berjalan-jalan atau bersantai.

 

Saat aku berjalan berkeliling sambil memanggil, salah satunya langsung kutemukan.

 

"Baf!"

 

"Ah, itu dia. Kamu tidak apa-apa?"

 

"...?"

 

"Ya, kamu terlihat sehat."

 

""

 

Wasabi yang berjalan sendirian terlihat lebih energik dari biasanya. Ketika aku mengelus perutnya yang diselimuti bulu tebal berwarna cokelat muda, dia berputar-putar di sekitarku beberapa kali, lalu berjalan gontai menuju gazebo.

 

Karena harness-nya tidak terpasang tali, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Aku melangkah lebar di belakang Wasabi, mengikutinya—dan di sanalah, aku juga menemukan orang kedua yang kucari.

 

Nawagami-san, yang terlihat anehnya lelah, duduk lemas di dalam gazebo.

 

Saat dia menyadari Wasabi berlari ke arahnya, dia langsung mengangkat alisnya.

 

"Sialan, anjing bodoh ini berkeliaran ke mana saja... Eh?"

 

Namun, Nawagami-san tidak menyangka aku akan bersamanya. Arah keluhannya beralih padaku.

 

"Imashino-kun, kamu penguntit ya? Ternyata penampilan bisa menipu, aku kecewa."

 

"B-bukan, ada yang mau konsultasi ke OSIS. Mereka lihat Wasabi, jadi aku diminta melindunginya."

 

Meskipun aku menjelaskan intinya, ekspresi kesal Nawagami-san tidak berubah.

 

Tapi—mungkin dia ingin aku mendengarkan keluhannya, dia kembali membuka mulutnya.

 

"...Anjing Chow Chow yang terlihat bodoh ini, katanya milik Kepala Sekolah."

 

"Ch-Chow Chow kan memang sebagian besar wajahnya seperti ini?"

 

"Tidak, aku tahu. Yang satu ini sangat bodoh, tidak tahu satu pun trik, tapi punya kenakalan untuk terus meminta jalan-jalan... Apa dia meremehkanku?"

 

Tatapan sadistis yang ia tunjukkan pada Yuika kini menusuk Wasabi.

 

"Waf! Bau, wau... Grrr"

 

Tapi sama sekali tidak mempan. Wasabi malah ceria, hanya menginjak-injak di tempat. Imut.

 

"Dia jinak banget, sudah hampir seperti keluarga."

 

"Cih, gumpalan bulu ini... Haaah."

 

Nawagami-san yang tadinya marah, tiba-tiba mengendurkan bahunya.


"Tidak, maaf. Memang salahku karena tidak mengikat talinya, dan kehilangannya saat aku ke toilet. Pokoknya, syukurlah dia tidak terlibat kecelakaan..."

 

Nawagami-san berlutut dan mengelus kepala Wasabi. Dia lalu mulai bicara pelan.

 

"Ada siswa tim sepak bola yang ligamennya sakit, jadi Kepala Sekolah buru-buru mengantarnya ke rumah sakit. Aku yang entah kenapa dikunci untuk mengurusnya. Tidak bertanggung jawab, kan?"

 

"Mungkin karena terburu-buru, tapi. Memang Wasabi itu ramah dan tidak merepotkan... Hei. Kalau boleh, aku juga ikut menemanimu mengurusnya?"

 

"Sudah kuduga, kamu pasti akan bilang begitu. Kamu memang sangat ingin ikut campur."

 

Nawagami-san masih menyindir, tapi mungkin karena lelah, keluhannya berakhir di situ.

 

Di dalam gazebo sore itu, hanya ada aku, dia, dan Wasabi yang sedang mengunyah mainan tulangnya.

 

...Ada topik yang ingin kubicarakan, bahkan harus kubicarakan, tapi entah kenapa aku belum tega menyentuhnya. Aku mengalihkan pembicaraan dengan topik lain.

 

"Entah kenapa. Aku merasa orang yang disukai hewan itu, tidak ada yang jahat."

 

"Tiba-tiba apa?"

 

"Maksudku, Nawagami-san, kamu itu orang baik."

 

"Hah, hah...?"

 

Nawagami-san yang curiga, mencubit kulit di bawah choker-nya sambil mendengarkan.


"Itu kan cuma pandangan subjektifmu. Kalau kamu mau merayuku, caramu terlalu buruk."

 

"Bukan, aku benar-benar berpikir begitu tentang Nawagami-san, secara netral. Kalau kamu benar-benar orang jahat, Wasabi tidak akan jinak, dan kamu pasti tidak akan mau merawatnya hanya karena diminta."

 

"Cih, hentikan sindiranmu. Kamu pasti dengar reputasi burukku, kan? Gadis cantik yang tidak ramah, tidak rajin, dan keluarganya juga menyeramkan, tak berguna. Wajar kalau orang berpikir begitu, bahkan aku sendiri setuju."

 

Oh, jadi dia menganggap dirinya gadis cantik... Ya, punya kepercayaan diri itu bagus sih.

 

"Ya. Aku dengar rumornya, tapi aku juga tahu kebenarannya. Misalnya—saat festival budaya tahun lalu, kamu bertengkar dengan cowok dari sekolah lain, kan?"

 

Ketika aku mengangkat kisah yang paling terkenal dari 'aksi heroiknya', dia mendengus.

 

"Aku cuma memukulnya dengan botol plastik dan membuatnya diam. Hanya pelampiasan amarah saja."

 

"Di mata orang lain mungkin begitu, tapi alasan sebenarnya berbeda, kan?"

 

"Berbeda, apanya?"

 

"Kamu melakukannya untuk menolong gadis di sekolah kita yang diganggu terus-menerus."

 

...Dess. Kaki Nawagami-san yang tiba-tiba berdiri diendus-endus oleh Wasabi.

 

"K-kenapa Imashino-kun tahu soal itu?"

 

"Aku dengar langsung dari orang yang kamu tolong. Oh, dan kamu juga pernah mengantar anak yang tersesat di depan stasiun ke polisi, kan? Mungkin Nawagami-san bilang, 'Aku orang Tourin', ya? OSIS dapat kontak dari polisi setelahnya. Aku pikir kamu baik hati, dan juga..."

 

"CUKUP!" Nawagami-san menyela dengan nada seperti sudah kenyang.

 

"A-apa untungnya bagimu melakukan permainan detektif seperti itu..."

 

"Bukan untung, tapi... mungkin ada baiknya ada satu orang yang tahu kebenarannya."

 

"..."

 

"...Caraku licik. Aku hanya tidak memberitahukannya kepada orang lain."

 

Mengatakannya, aku bersiap untuk meminta maaf lagi. Dasar penguntit, menjijikkan, jangan pernah bicara padaku lagi—Aku sudah menduga kata-kata itu akan keluar, dan aku tidak punya kata-kata untuk membalas.

 

"Maaf, karena sepihak. Pokoknya, aku minta maaf sejak tadi sore..."

 

Aku menunjukkan wajah yang jelas-jelas merasa bersalah, dan dengan takut-takut, aku melihat ekspresinya.

 

"............T-terima kasih..."

 

Tapi. Aku sangat terkejut dengan jawaban pelan itu.

 

Sebab, alih-alih marah, Nawagami-san malah berterima kasih padaku.

 

"Itu, aku tidak peduli apa kata orang lain, tapi... tapi memang aku tidak suka dibilang macam-macam karena kesalahpahaman, jadi, ya..."

 

Kulit putihnya memerah, dan dia bicara padaku dengan ekspresi yang belum pernah kutunjukkan sebelumnya.


"Jadi jujur saja, aku senang... K-karena aku sudah berterima kasih, katakan sesuatu dong!"

 

"T-tidak, tidak usah dipikirkan. Ini kan aku yang tahu sendiri."

 

Reaksiku sedikit terlambat karena ini terlalu tak terduga. Dia juga tidak terlihat seperti sedang bercanda.

 

"Kurasa Kepala Sekolah tidak akan kembali dalam waktu dekat... K-karena ini salah Imashino-kun, kamu tidak akan tega meninggalkan aku dan anjing ini, kan?"

 

"Aku yang menawarkan, jadi aku akan menemani sampai akhir."

 

"...Hmph."

 

"Baf!"

 

Wasabi tetap gembira seperti biasa, dan kalau aku tidak salah, mood Nawagami-san juga terlihat baik—tidak, aku bahkan merasa mustahil melihatnya setenang ini. Jika ada yang ingin kusampaikan, mungkin sekarang waktu yang tepat.

 

...Aku akan mengatakannya. Meskipun sudah kubiarkan berlarut-larut, kesempatan seperti ini tidak akan datang lagi.

 

Maka, aku yang sudah bertekad, berdiri dan mendekati Nawagami-san.

 

"Eh... Apa? ...Jangan-jangan, eh, eh? Tunggu, aku belum siap..."

 

Berbeda dengan Nawagami-san yang terlihat lebih lembut, aku menjaga sikapku tetap kaku.

 

"Mungkin kamu sudah dengar, tapi aku—dipekerjakan oleh Keluarga Nawagami sebagai 'Pelayan Pribadimu'."

 

...Itu adalah pernyataan bom yang bisa membuat orang lain tertawa terbahak-bahak, tapi ini benar.

Karena Keluarga Nawagami—tepatnya, kakak perempuan Nawagami-san—yang memberiku pekerjaan itu.

 

"Ah, begitu, soal itu... Kupikir ini kesempatan untuk pengakuan penting lainnya."

 

"Memangnya ada hal yang lebih penting dari ini?"

 

"...Tidak ada, kok. Hmph!"

 

Nawagami-san yang entah kenapa sedikit merajuk, tapi setidaknya dia tidak terlalu terkejut. Itu berarti dia pada dasarnya menerima keberadaanku.

 

"Tentu saja aku punya pendapat, tapi karena sudah diputuskan, ya mau bagaimana lagi."

 

"Benarkah? Kamu tidak keberatan ada cowok sekelas yang terus berada di sisimu? Apalagi, tinggal di apartemen sebelah kamarmu... Itu pasti membuatmu stres, kan?"

 

Itu juga salah satu cerita yang sudah terjadi.

 

Ketika aku menatapnya dengan penuh rasa bersalah, Nawagami-san... tetap tidak marah.

 

Dia mempertimbangkan, kebalikan dari menolak, dan menggigit bibirnya dengan malu-malu.

 

"Y-ya, di manga ecchi yang sering kubaca, hal seperti ini sering terjadi. Lagipula, kalau lawannya cowok biasa, sih, tapi kalau kamu, ya tidak terlalu keberatan, kok. Ya, begitulah..."

 

Melihatnya bergumam, aku merasa dia sedang menguji ketulusanku.

 

"...Nawagami-san."

 

"Ada apa, serius banget."

 

"—Tidak. Nona Muda."

 

"............Eh!?"

 

Ketika aku memanggilnya, matanya langsung terbelalak. Tapi ini penting bagi kami berdua.

 

"Saya janji. Selama saya menjadi pelayan pribadi, saya akan memandang Anda bukan sebagai teman sekelas, tetapi sebagai satu-satunya Nona Muda yang harus dihormati. Anda boleh memberikan perintah apa pun, dan terkadang Anda boleh melampiaskan frustrasi Anda, saya sama sekali tidak keberatan."

 

"Saya tidak keberatan... itu seperti pendekar kungfu Tiongkok... Dan, N-Nona Muda?!"

 

Nawagami-san gemetar, tapi dia terlihat lebih bingung daripada marah.

 

"Nona Muda ya Nona Muda. Dengan membedakan atas dan bawah secara jelas, posisi kita akan menjadi terang. Saya adalah pihak yang melayani, dan Anda adalah pihak yang harus dihormati. Sangat sederhana."

 

"K-kamu serius? Kamu benar-benar akan terus begitu?! K-kalau begitu..."

 

"Saya minta maaf karena tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran Anda... Jadi. Saat ini, diizinkan untuk berada di sisi Anda saja sudah sangat saya syukuri, dan membuat saya senang."

 

"Gaya Imashino-kun sudah terbentuk! U-u-uuuuh..."

 

"Pokoknya, mulai sekarang, mohon bimbingannya—Nona Muda."

 

"~~~~!!"

 

Ketika aku menekankan hal itu untuk terakhir kalinya, Nawagami-san menundukkan kepalanya, lalu—


"...J-jangan panggil Nona Muda, minimal Ojou-sama saja... Dan yang terpenting, aku!"

 

Saat dia mengangkat wajahnya lagi. Wajahnya merah padam, penuh rasa malu.

 

"Aku lebih senang kalau aku yang memanggilmu Tuan Muda!!"

 

"!! N-Nona Muda! ...Tidak, Nawagami-san! Kok tiba-tiba lari, mau ke mana!"

 

Sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, Nawagami-san lari shubaba dari gazebo...

 

"Dia meninggalkan tasnya, pasti sebentar lagi kembali, kan?" "Baf, wauwau! "

 

Sambil melihat Wasabi menjulurkan lidah birunya, aku berpikir.

 

...Lebih senang memanggil apa?














Post a Comment

0 Comments

Tidak boleh adanya spoiler, hormati user lainya. Gunakan komentar dengan bijak sebagai tempat berdiskusi.

Post a Comment (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !